TRILOGI

 

T R I L O G I

 

Sinopsis

 

Tulisan ini mengungkapkan bahwa Elohim telah berbicara tiga kali kepada gerejaNya, yaitu melalui pelayanan Petrus, Paulus, dan Yohanes. Untuk menjelaskan ketiga pelayanan ini, akan dipakai suatu istilah yaitu trilogi. Trilogi adalah suatu kelompok pelayanan, yang terdiri dari tiga, yaitu pelayanan Petrus, pelayanan Paulus dan pelayanan Yohanes, dimana pelayanan ini terjadi secara berturut-turut, mulai dari pelayanan Petrus, selanjutnya Paulus, dan akhirnya Yohanes. Masing-masing dari ketiga pelayanan ini sempurna adanya, namun semua pelayanan ini mempunyai tema atau pokok bersama. Tema atau pokok bersama dari ketiga pelayanan mereka adalah KERAJAAN SORGA atau KERAJAAN ELOHIM, dimana Yesus Kristus sebagai Raja diatas segala raja, dan umat pilihanNya adalah raja-raja.     

 

Pelayanan Petrus adalah suatu pelayanan yang ditujukan kepada bangsa Yahudi. Perjanjian Baru, yang disahkan oleh darah Yesus, ditawarkan pada bangsa Israel melalui pelayanan Petrus.

 

Pelayanan Paulus, yang terutama ditujukan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, memulai dispensasi baru, yaitu dispensasi misteri. Misteri adalah suatu kebenaran tersembunyi, namun telah diwahyukan kepada hamba-hambaNya. Ada beberapa misteri yang disampaikan kepada gerejaNya melalui pelayanan Paulus, diantaranya misteri kehendakNya, misteri Kristus, misteri besar, dan misteri Injil.

 

Pelayanan Yohanes termasuk dalam dispensasi misteri. Melalui pelayanan Yohanes, Elohim mewahyukan kepada Umat pilihanNya tiga misteri, yaitu misteri babel, misteri ketujuh kaki dian emas dan ketujuh bintang, serta berakhirnya misteri Elohim. Pelayanan Yohanes adalah suatu pewahyuan kepada Umat pilihanNya yang berada “di luar perkemahan” kekristenan yang telah jatuh.

 

Kesimpulan umum dari tulisan ini menegaskan bahwa seseorang perlu mendengarkan FirmanNya melalui ketiga pelayanan yang telah disebut diatas, sebelum ia dapat berjalan bersama Elohim untuk menggenapi rencanaNya.     

 

 

 

 

 

I. PENDAHULUAN

 

Tulisan ini akan mengungkapkan bahwa Elohim telah berbicara tiga kali kepada kita gerejaNya, yaitu melalui pelayanan Petrus, pelayanan Paulus, dan pelayanan Yohanes. Kitab-kitab dalam Perjanjian Baru, dapat dikelompokkan kedalam tiga jenis pelayanan mereka. Yang dimaksud dengan pelayanan Petrus adalah suatu jenis pelayanan yang dipimpin oleh Petrus. Jenis pelayanan Petrus adalah suatu pelayanan kepada orang-orang Yahudi, sebagaimana kelak akan diuraikan dalam tulisan ini. Jadi, kitab-kitab yang termasuk dalam pelayanan Petrus, selain tulisan-tulisan Petrus, adalah Injil Matius, Ibrani (sekalipun kitab ini ditulis oleh Paulus, tetapi kitab ini ditujukan kepada orang-orang Ibrani), surat Yakobus, surat Yudas, dan kitab Kisah Para Rasul pasal 1 sampai 12, yang membicarakan pelayanan Petrus.

 

Kitab-kitab yang termasuk dalam pelayanan Paulus adalah semua surat-surat Paulus, Injil Lukas, dan kitab Kisah Para Rasul pasal 13 sampai 28. Sedangkan kitab-kitab yang termasuk dalam pelayanan Yohanes adalah semua tulisan Yohanes, yaitu Injil Yohanes, ketiga surat Yohanes, dan kitab Wahyu. Injil Markus, dapat dikelompokkan kedalam pelayanan Petrus, karena pengaruhnya atas Markus, maupun Paulus, karena Injil ini ditujukan kepada pembaca non Yahudi. Tetapi, mungkin lebih tepat kalau kitab ini dikelompokkan kedalam pelayanan Paulus, karena Markus ikut dalam tim misi Paulus. 

 

Sebelum kita membicarakan lebih jauh mengenai trilogi ini, perlu ditegaskan disini bahwa kami sangat percaya akan ketidakbersalahan Alkitab. Kami percaya sepenuhnya bahwa Alkitab adalah tulisan yang diilhamkan Elohim dan tidak bersalah. Terjemahan-terjemahan dari bahasa aslinya, tentu memiliki kesalahan-kesalahan, karena masalah bahasa dan faktor-faktor manusiawi lainnya. Tetapi Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah benar-benar tulisan yang diilhamkan Elohim, sehingga tidak ada kesalahan didalamnya.     

 

Mari kita bahas lebih dahulu istilah trilogi. Didalam kamus, trilogi (Inggris, trilogy) bermakna group of three plays, novels, operas, etc, to be performed, read, etc, in succession, each complete in itself but having a common subject. Jadi, trilogi berarti suatu kelompok dari tiga permainan, cerita-cerita, sandiwara-sandiwara, dan sebagainya, yang dimainkan, atau dibaca, dan sebagainya, secara berturut-turut, namun masing-masingnya telah sempurna, tetapi mempunyai tema / pokok bersama. Kalau istilah ini kita terapkan pada pokok bahasan kita mengenai pelayanan Petrus, Paulus, dan Yohanes, maka pengertian trilogi adalah suatu kelompok pelayanan, yang terdiri dari tiga, yaitu pelayanan Petrus, pelayanan Paulus dan pelayanan Yohanes, dimana pelayanan ini terjadi secara berturut-turut, mulai dari pelayanan Petrus, selanjutnya Paulus, dan akhirnya Yohanes. Masing-masing dari ketiga pelayanan ini sempurna adanya, namun semua pelayanan ini mempunyai tema atau pokok bersama. Apakah tema atau pokok bersama dari ketiga pelayanan mereka? Seperti yang akan kita lihat nanti, tema pelayanan ketiganya adalah KERAJAAN SORGA atau KERAJAAN ELOHIM, dimana Yesus Kristus sebagai Raja diatas segala raja, dan umat pilihanNya adalah raja-raja.     

 

Apakah konsep trilogi ada didalam Alkitab? Sekalipun istilah trilogi, tidak tertulis didalam Alkitab, namun konsep trilogi sangat banyak terdapat didalam Alkitab. Mari kita lihat dahulu Amsal 22:20, demikian tertulis, “Bukankah aku telah menulisnya kepadamu dulu dengan nasihat dan pengetahuan”. Kita akan bandingkan terjemahan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Dari King James Version tertulis, “Have not I written to thee excellent things in counsel and knowledge”. Dari Young’s Literal Translation tertulis, “Have I not written to thee three times…”. Dari The Jerusalem Bible tertulis, “Have I not written for you thirty chapter…”. Kata excellent things, dalam Amsal 22:20, berasal dari kata Ibrani shalosh, yang artinya, menurut kamus Ibrani Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible ( # 7991, 7969 ),  adalah a triple, atau a triangle, atau a three-fold, atau the third rank atau three.  Sebenarnya, akar kata shalosh berarti tiga. Perubahan huruf hidup sedikit dari kata Ibrani ini, membuatnya berarti tiga puluh, seperti terjemahan The Jerusalem Bible. Tetapi terjemahan Young’s Literal Translation, lebih tepat sesuai dengan pengertian akar kata Ibrani ini. Dan kalau kita gabungkan terjemahan versi Young dan versi King James, maka berarti bahwa perihal berbicara tiga kali dalam nasihat dan pengetahuan, adalah perkara yang baik sekali (Excellent). Jadi, konsep trilogi, terungkap secara langsung dalam Amsal 22:20.

 

Kami akan kutip konsep trilogi ini dalam bahasa Inggris dari seorang teman, sebagai berikut:

  1. Jesus – Christ – The Lord.
  2. Son – Spirit – Father.
  3. Passover – Pentecost – Tabernacles.
  4. Outer Court – Holy PlaceMost Holy Place.
  5. Body – Soul – Spirit.
  6. The Way – The Life – The Truth.
  7. Faith – Hope – Love.
  8. Children – Youth – Father.
  9. Babes – Carnal – Spiritual.
  10. Milk – Bread – Meat.
  11. Blood – Oil – Wine.
  12. Water Baptism – Spirit Baptism – Fire Baptism.
  13. Baptized in Sea – Baptized in Cloud – Baptized in Jordan.
  14. Out of Egypt – Wilderness – Promise Land.
  15. The Land – The City – The Temple.
  16. IsraelJerusalemZion.
  17. Justification – Sanctification – Glorification.
  18. 30 Fold – 60 Fold – 100 Fold.
  19. Ask – Seek – Knock.
  20. Good – Acceptable – Perfect.
  21. Good – Better – Best.
  22. Gift – Reward – Inheritance.
  23. First Heaven – Second Heaven – Third Heaven.
  24. First Day – Second Day – Third Day.
  25. First Anointing – Second Anointing – Third Anointing.
  26. Silver – Precious Stone – Gold.
  27. Command – Will – Mystery.
  28. Call – Chosen – Faithful.
  29. The Word – The Letter – The Book of Life.
  30. Priest – Prophet – King.
  31. Servant – Disciple – Friend.
  32. Gnosis – Epignosis – Oida.
  33. Knowledge – Revelation – Perfect Knowledge.
  34. Star – Moon – Sun
  35. Red – Yellow – Blue.
  36. El Shaday – Yehovah – El Elyon.
  37. Yesterday – Today – Forever.
  38. Outer Circle – Inner CircleInnermost Circle.
  39. Salvation – Anointing – Adoption.
  40. Deliverance – Training – Overcomer.

 

Trilogi, bukan hanya berarti Tuhan berbicara tiga kali atau Tuhan mewahyukan firmanNya tiga kali. Tetapi, karena pewahyuan Elohim bersifat progresif, maka trilogi berarti bahwa pewahyuan Tuhan berikutnya, lebih dalam dan menyeluruh. Jadi, perkataan Tuhan yang kedua dan ketiga, semakin dalam dan semakin menyeluruh, dibanding yang pertama. Ini berarti pewahyuan yang tertuang dalam pelayanan Yohanes, lebih dalam dan menyeluruh dibanding pewahyuan yang tertuang dalam pelayanan Paulus maupun Petrus. Sekali lagi, ini bukan berarti pewahyuan yang tertuang dalam pelayanan Petrus, tidak sempurna atau bercacat cela. Tetapi, pewahyuan yang diterima Petrus tentang gerejaNya, memang belum lengkap dan menyeluruh. Itu sebabnya Paulus, ketika berbicara mengenai pelayanannya, berkata dalam Kolose 1:25 sebagai berikut, “to complete (melengkapkan) the word of God”.  

 

Ketika Tuhan berbicara dan mewahyukan firmanNya kepada para hambaNya, maka otomatis semua ini akan menghasilkan pengalaman tertentu. Kami tidak berbicara pengalaman rohani yang tanpa dasar firman Tuhan. Artinya, jika seseorang mengalami pengalaman rohani yang sejati, pastilah ini disebabkan adanya pewahyuan firman Tuhan tertentu, yang terjadi dalam hidupnya. Kalau kita menghubungkan pengalaman rohani dengan konsep trilogi yang sedang kita bicarakan, maka ini berarti seseorang akan mengalami pengalaman rohani pertama, kedua dan ketiga di dalam hidupnya, sepanjang ia bertumbuh dalam pengenalan akan Elohim dan rencanaNya.

 

Hal yang sangat perlu dipahami mengenai konsep trilogi ini yaitu bahwa pewahyuan yang diterima oleh Petrus, Paulus maupun Yohanes, sama sekali tidak bertentangan. Karena sesungguhnya semua ini adalah satu, yaitu pewahyuan Yesus Kristus kepada gerejaNya. Tetapi Yesus Kristus berbicara kepada gerejaNya, melalui Petrus, Paulus dan Yohanes. Maksudnya, jika seseorang telah hidup di “alam pewahyuan Yohanes”, bukan berarti pewahyuan Petrus maupun Paulus sudah tidak berlaku lagi didalam hidupnya. Sama seperti seseorang yang sudah ada di tingkat SLTP, bukan berarti pelajaran-pelajaran di tingkat SD tidak berlaku baginya, atau salah. Jadi, pewahyuan Tuhan adalah satu, dan tidak terbagi-bagi. Tetapi kita harus mengakui bahwa Tuhan berbicara tiga kali melalui hamba-hambaNya, yaitu Petrus, Paulus dan Yohanes. Karenanya, seseorang yang telah hidup di “alam pewahyuan Yohanes”, maka ia juga hidup di “alam pewahyuan Petrus maupun Paulus”. Tetapi, seseorang yang hidup di “alam pewahyuan Paulus”, maka tentu saja ia belum hidup di “alam pewahyuan Yohanes”. Perkara ini diharapkan akan semakin jelas seturut dengan pembahasan kita selanjutnya.     

 

Sebelum kita membahas pelayanan Petrus, akan dijelaskan secara singkat mengenai dispensasi dalam kaitannya dengan trilogi. Kata dispensasi (Inggris, Dispensation), berasal dari bahasa Latin, yang mana merupakan terjemahan kata Yunani Perjanjian Baru oikonomia. Kata oikonomia adalah gabungan dari kata oikos (rumah), dan kata nemo (menyalurkan atau memberikan makanan atau aturan-aturan / hukum-hukum). Jadi, arti kata dispensation adalah pengelolaan (management) dari suatu rumah tangga atau keluarga.

 

Jika kata ini dikaitkan dengan rencana Elohim yang berzaman-zaman, maka dispensasi berarti cara Elohim mengelola atau memperlakukan manusia pada suatu dispensasi (periode) tertentu. Jadi, dalam suatu periode tertentu, Elohim mewahyukan hukum-hukum dan jalan-jalanNya kepada manusia agar manusia mengungkapkan imannya sesuai dengan hukum-hukum dan jalan-jalan yang telah dinyatakan. Ini tidak berarti bahwa perlakuan Elohim kepada manusia selalu berubah-ubah pada setiap dispensasi. Elohim tetap sama dan tidak berubah, sesuai firmanNya. Tetapi, dalam pengelolaanNya dan dalam rencanaNya yang berzaman-zaman, Elohim menghendaki manusia mengungkapkan imannya sesuai dengan hukum-hukum dan aturan-aturan tertentu yang telah dinyatakan.

 

Yang harus kita ingat disini adalah bahwa dalam setiap dispensasi, Elohim selalu menuntut iman dari manusia. Tetapi cara manusia mengungkapkan imannya kepada Elohim akan berbeda-beda pada setiap dispensasi, tergantung dari hukum-hukum Elohim yang dinyatakan pada dispensasi itu. Pada dispensasi Musa, sebagai contoh, orang-orang beriman mengungkapkan imannya dengan menuruti hukum Musa, dan melakukan berbagai macam ritual sesuai dengan peraturan yang ada. Tetapi pada dispensasi setelah Yesus disalibkan, orang beriman mengungkapkan imannya dengan cara yang lain lagi. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa Elohim selalu menuntut iman dari pihak manusia, pada setiap dispensasi.

   

Alkitab membedakan antara zaman (Yunani:Aion) dan Dispensasi (Yunani:Oikonomia). Didalam Alkitab setidaknya ada 4 zaman, yang didalam bagan kita disebut zaman 1, zaman 2, zaman 3 dan zaman 4 (setelah halaman 6).

           Zaman 1 tertulis didalam 2 Petrus 2:5 (zaman purba = Ancient World)

           Zaman 2 terdapat didalam Galatia 1:4 dan II Korintus 4:4 (zaman jahat sekarang ini = Present Wicked Eon)

           Zaman 3 tertulis dalam Markus 10:30. (zaman yang akan datang = in the coming Eon)

           Zaman 4 tertulis dalam Efesus 3:21 dan Ibrani 1:8 (Eon of the Eons = The age of the ages).

Sedangkan istilah Dispensasi (Oikonomia) tertulis didalam 1 Timotius 1:4, yang didalam Alkitab versi ILT diterjemahkan penatalayanan Elohim. Istilah Yunani Oikonomia terdiri dari 2 kata, yaitu Oikos (rumah) dan Nomos (pengaturan/penyaluran hukum-hukum, berkat makanan, dll). Jadi pengertian Oikonomia adalah pengaturan atau penyaluran hukum-hukum/berkat-berkat kerumah-tanggaan. Terjemahan ILT cukup tepat, yaitu penatalayanan Elohim. Karenanya, istilah Dispensasi yang kita maksud adalah cara Elohim menata atau mengelola atau memperlakukan manusia dalam suatu periode tertentu. Kita membuat 7 Dispensasi seperti terlihat dalam bagan kita. Hal ini sesuai dengan yang terungkap didalam Alkitab.

 

Mari kita melihat contoh dispensasi Adam, dan dispensasi Nuh, juga dispensasi Abraham. Pada dispensasi2 ini, Elohim memperlakukan manusia secara keluarga demi keluarga, dimana fungsi bapa dalam suatu keluarga adalah sebagai imam, nabi dan raja. Sebagai contoh, kita lihat kehidupan Ayub yang hidup sebelum Abraham. Ayub berfungsi sebagai imam, nabi dan raja bagi anak-anaknya. Fungsi keimaman Ayub bagi anak-anaknya sangat jelas terlihat ketika ia mempersembahkan korban bakaran setiap kali anak-anaknya selesai berpesta (Ayub 1:5). Sementara itu, kita lihat fungsi kenabian seorang bapa, terlihat jelas dalam kehidupan Yakub. Ketika Yakub hampir meninggal, ia memanggil anak-anaknya serta berkata, “Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami dikemudian hari” (Kejadian 49:1). Jadi, pada dispensasi Adam, dispensasi Nuh, dispensasi Abraham, Elohim berurusan dan memberkati manusia melalui keluarga demi keluarga, dimana bapa sebagai kepala keluarga.

 

Selanjutnya, mari kita lihat apa yang kita sebut sebagai dispensasi Musa (hukum Taurat). Dalam dispensasi ini, Elohim memilih suatu bangsa yaitu Israel, serta mengadakan perjanjian dengannya, yang kita kenal sebagai Perjanjian Lama. Maksud Elohim dalam memilih bangsa Israel terungkap dalam Keluaran 19:6 sebagai berikut, “Kamu akan menjadi bagiKu kerajaan imam dan bangsa yang kudus…”. Artinya, sepanjang bangsa Israel menguduskan dirinya, maka Elohim akan memakai Israel sebagai imam-imam bagi bangsa-bangsa lainnya untuk memberkati. Jadi, dalam dispensasi hukum Taurat, Elohim memberkati dan berurusan dengan seluruh manusia melalui Umat pilihanNya yaitu Israel. Elohim akan memakai bangsa Israel sebagai terang bagi bangsa-bangsa lain.   

 

Tetapi, sebagaimana kita ketahui, bangsa Israel tidak setia memegang Perjanjian Lama, yaitu Perjanjian yang Elohim buat dengan Israel ketika Ia memimpin Bangsa ini keluar dari perbudakan Mesir. Ketidaksetiaan Israel memegang Perjanjian Lama ini tertulis dalam Ibrani 8:8-10 sebagai berikut, “…Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman Tuhan, ‘Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir, sebab mereka tidak setia kepada perjanjian-Ku, dan Aku menolak mereka, maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu’, demikianlah firman Tuhan.Aku akan menaruh hukumKu dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka…”.

 

Dan Perjanjian Baru ini disahkan ketika Yesus mencurahkan darahNya di kayu salib, sebagaimana tertulis dalam Matius 26:28, “Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa”. Tetapi kita harus ingat bahwa Perjanjian Baru ini, terutama adalah suatu Perjanjian yang diadakan Elohim dengan kaum Israel, karena Perjanjian yang pertama (Perjanjian Lama) telah dilanggar.     

 

Pelayanan Perjanjian Baru, yang Elohim adakan dengan kaum Israel ini, dijalankan oleh Petrus dan timnya, yang dalam trilogi ini kita sebut sebagai Pelayanan Petrus. Sekalipun Petrus juga melayani bangsa-bangsa lain, tetapi Pelayanan Petrus adalah suatu pelayanan kepada bangsa Yahudi, yaitu suatu pelayanan yang menawarkan Perjanjian Baru kepada kaum Israel. Jadi, Pelayanan Petrus tidak memulai dispensasi baru, sebab Pelayanan Petrus sebenarnya adalah meneruskan atau lebih tepat kita sebut memulihkan Perjanjian Lama yang telah dilanggar oleh bangsa Israel. Pelayanan Petrus adalah pelayanan pemulihan Perjanjian, yaitu Perjanjian antara Elohim dengan bangsa Israel. Oleh karena itu, Pelayanan Petrus termasuk dalam dispensasi Musa (hukum Taurat), karena dispensasi hukum Taurat adalah dispensasi dimana Elohim mengadakan Perjanjian dengan bangsa Israel.

 

Hal ini berbeda dengan Pelayanan Paulus, dimana Paulus membuka suatu dispensasi baru, yaitu suatu dispensasi dimana Elohim memberkati seluruh manusia melalui Tubuh Kristus, yaitu suatu Umat (jemaat) dimana tidak ada perbedaan antara Yahudi dan bukan Yahudi. Alkitab menyebut dispensasi dimana Pelayanan Paulus berada, adalah dispensasi misteri. Ada beberapa misteri yang Elohim ungkapkan melalui pelayanan Paulus, diantaranya adalah misteri Kristus, misteri Elohim, misteri kehendakNya dan seterusnya.

 

Sementara itu, Pelayanan Yohanes adalah suatu pelayanan yang termasuk dalam dispensasi misteri, tetapi mengungkapkannya lebih jauh lagi. Pelayanan Yohanes mengungkapkan misteri Babel, misteri ketujuh kaki dian emas dan ketujuh bintang, serta berakhirnya misteri Elohim. Selanjutnya, kita akan lihat lebih jelas lagi perihal trilogi ini, dengan memulai uraian tentang Pelayanan Petrus. 

 

 

II. PELAYANAN  PETRUS

 

Pelayanan Petrus adalah suatu pelayanan yang ditujukan kepada bangsa Yahudi. Untuk dapat memahami pelayanan Petrus dengan baik, kita perlu mengetahui dengan pasti janji Elohim kepada Israel. Apakah sebenarnya isi dari Perjanjian antara Elohim dengan Israel, yang telah kita ketahui sebagai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu ?

 

Perjanjian Lama adalah Perjanjian antara Elohim dengan Israel yang terjadi, “pada waktu Aku (Elohim) memegang tangan mereka ( Israel ) untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir…” [ Ibrani 8:9 ]. Ketika Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, maka Tuhan sendiri menampakkan diri di gunung Sinai serta mengucapkan firmanNya sebagai berikut, “Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firmanKu dan berpegang pada perjanjianKu, maka kamu akan menjadi harta kesayanganKu sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagiKu kerajaan imam dan bangsa yang kudus…” (Keluaran 19:5-6). Selanjutnya di gunung Sinai inilah Tuhan mengucapkan kesepuluh firman, serta berbagai peraturan, dan juga memberi perintah untuk mendirikan kemah suci.

 

Pada intinya, Perjanjian antara Elohim atau Yahweh dengan Israel yang terjadi di gunung Sinai adalah suatu perjanjian bahwa Allah akan menguduskan Israel sebagai suatu bangsa dan menjadikannya imam ditengah bangsa-bangsa lain, agar melalui Israel sebagai Imam, Elohim dapat memberkati bangsa-bangsa lainnya juga. Tetapi, agar Israel dapat menjadi bangsa yang kudus serta berfungsi sebagai Imam bagi bangsa-bangsa lain, maka Israel harus memelihara perintah Tuhan sebagaimana yang diucapkanNya di gunung Sinai.

 

Tetapi, sebagaimana kita ketahui, bangsa Israel telah gagal mentaati Hukum Tuhan di gunung Sinai. Karena, ketika bangsa itu melihat bahwa Musa berlambat-lambat untuk turun dari gunung Sinai, maka mereka meminta Harun untuk membuat anak lembu emas sebagai allah yang mereka akui telah menuntun mereka keluar dari tanah Mesir (Kel. 32:1-6). Perbuatan mereka ini merupakan dosa besar dihadapan Elohim. Dan Musa berkata kepada bangsa itu, “Siapa yang memihak kepada Tuhan datanglah kepadaku!”. Dan ternyata seluruh bani Lewi datang berkumpul kepada Musa (Kel. 32:26). Oleh sebab itu, untuk selanjutnya fungsi keimaman bangsa Israel dijalankan oleh suku Lewi. Pada mulanya, seluruh bangsa diharapkan berfungsi sebagai imam dihadapan Allah bagi bangsa-bangsa lainnya, tetapi sejak peristiwa anak lembu emas, bangsa Israel sendiri memerlukan imam bagi diri mereka. Ini merupakan kegagalan awal mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan.

 

Kegagalan Israel sebagai Umat Pilihan Tuhan terus berlanjut. Setelah peristiwa anak lembu emas, Israel terus bersungut-sungut selama dalam perjalanan di padang gurun, dan tidak sepenuhnya mempercayai Tuhan. Puncaknya terjadi di Kadesy, ketika bangsa itu telah dekat tanah Kanaan dan mengirimkan 12 pengintai untuk mengamat-amati negeri yang dijanjikan Tuhan kepada mereka (Bilangan 13-14). Pada waktu Israel melihat tantangan yang harus mereka hadapi, maka mereka menjadi takut dan tidak mempercayai Tuhan serta memutuskan untuk kembali ke Mesir. Sikap tidak percaya dan pemberontakan Israel ini membuat Tuhan memberikan disiplinNya, sehingga seluruh generasi pertama bangsa Israel yang keluar dari tanah Mesir, mati di padang gurun.

 

Selanjutnya, setelah generasi-generasi yang berikut diam di tanah Kanaan, kembali mereka tidak setia kepada Tuhan dan melakukan penyembahan berhala dengan mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa kafir yang tinggal disitu. Bahkan Israel meminta seorang raja sama seperti yang terdapat pada bangsa-bangsa lain disekitarnya (I Samuel 8). Permintaan Israel akan seorang raja manusia untuk memerintahnya, secara tidak langsung telah menolak Elohim menjadi Raja atas mereka. Kedua dosa Israel ini, yaitu penyembahan berhala dan penolakan Elohim sebagai satu-satunya Raja mereka, membuat Elohim menilai bahwa Israel tidak memelihara perjanjian yang diikatNya ketika di gunung Sinai. Maka, sesuai dengan Ibrani 8:8-10 yang telah kita kutip diatas, Elohim menolak Israel namun berjanji akan membuat suatu Perjanjian yang baru dengan Israel. Perjanjian Baru ini disahkan melalui darah Yesus, dan ditawarkan kepada Israel melalui Pelayanan Petrus. Demikianlah beberapa hal yang perlu diketahui untuk dapat memahami Pelayanan Petrus. 

 

Jadi, Pelayanan Petrus adalah suatu pelayanan yang menawarkan Perjanjian Baru kepada Israel, dimana Perjanjian ini disahkan oleh darah Yesus. Didalam Perjanjian Baru yang Elohim tawarkan kepada Israel, sudah tercakup seluruh janji-janji Elohim yang diucapkanNya melalui nabi-nabiNya pada masa Perjanjian Lama. Hanya, yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana dan kapan penggenapan janji-janji Elohim kepada kepada Israel ini akan terjadi.  

 

Pada prinsipnya, Perjanjian Baru yang Allah tawarkan pada Israel ini bersifat spiritual. Perjanjian yang pertama (Lama), penuh dengan hal-hal yang bersifat jasmani dan lahiriah serta merupakan perlambang/gambaran/nubuat saja, tetapi Perjanjian Baru merupakan penggenapan perlambang/nubuat tersebut, dan terjadi didalam hati orang yang percaya. Sebagai contoh, Perjanjian yang pertama tertulis pada loh batu, tetapi Perjanjian Baru tertulis pada hati orang Israel yang percaya (Ibrani 8:10). Kerajaan Israel pada masa Perjanjian Lama adalah kerajaan jasmani yang dipimpin oleh seorang raja manusia, tetapi Perjanjian Baru menawarkan kerajaan sorga kepada Israel, dimana kerajaan sorga ini akan berdiam dan berkuasa didalam hati orang yang percaya. Penyembahan pada masa Perjanjian Lama haruslah di Yerusalem atau suatu tempat jasmani tertentu, tetapi pada masa Perjanjian Baru, penyembahan haruslah didalam roh. Ini hanya beberapa contoh saja untuk menjelaskan adanya pergeseran pengertian antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama bersifat jasmani, Perjanjian Baru bersifat spiritual. Prinsip spiritual ini perlu dipahami dan dipegang dengan sungguh-sungguh.

 

Tetapi, prinsip spiritual ini bukan berarti meniadakan sama sekali bentuk atau manifestasi jasmani dari penggenapan janji-janji Allah kepada Israel. Kita ambil contoh janji Allah kepada Israel untuk menghadirkan Kerajaan Mesias. Apakah Kerajaan Mesias ini akan sama persis dengan Kerajaan Daud, dimana, sebagaimana Daud duduk diatas takhta jasmani, demikian juga Mesias akan duduk diatas takhta jasmani? Seandainya, Mesias hanya keturunan jasmani dari Daud, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa Kerajaan Mesias akan sama persis dengan Kerajaan Daud, sebagaimana Kerajaan Salomo sama persis secara jasmani dengan Kerajaan Daud. Tetapi, Mesias bukan hanya keturunan jasmani dari Daud, tetapi Mesias juga adalah tuannya Daud (Matius 22:43). Itu sebabnya kita percaya bahwa Kerajaan Mesias tidak sama persis dengan Kerajaan jasmani Daud. Sesungguhnya, Kerajaan Mesias adalah Kerajaan Sorga, sebagaimana yang Yesus tawarkan kepada orang-orang Yahudi. Tetapi harus kita ingat bahwa Kerajaan Sorga juga termanifestasi secara jasmani, hanya saja manifestasi jasmani dari Kerajaan Sorga tidak sama persis dengan Kerajaan jasmani Daud. Jadi, kita percaya bahwa penggenapan janji-janji Elohim kepada Israel yang diucapkanNya pada masa Perjanjian Lama, contohnya Kerajaan Mesias, akan termanifestasi secara jasmani juga namun tidak sama persis dengan Kerajaan Daud, sebagaimana yang dipercayai banyak orang. Sesungguhnya, manifestasi awal Kerajaan Mesias terjadi pada gereja mula-mula yaitu komunitas orang-orang Yahudi yang percaya pada pemberitaan Petrus dan timnya.

 

Selanjutnya, kita akan menjelaskan Pelayanan Petrus ini dengan menguraikan kitab-kitab yang termasuk kedalam Pelayanan Petrus. Seperti telah disebutkan terdahulu, kitab-kitab yang termasuk kedalam Pelayanan Petrus ini adalah surat I dan II Petrus, Injil Matius, Ibrani, Yakobus, Yudas, dan kitab Kisah Para Rasul pasal 1 sampai 12 yang menceritakan pelayanan yang dipimpin Petrus. Kita akan mulai menjelaskan Pelayanan Petrus ini dengan menguraikan kitab Kisah Para Rasul pasal 1-12.

 

Kisah Para Rasul 1-12

 

Didalam kitab ini, dijelaskan bahwa pelayanan Petrus dan timnya adalah menjadi saksi bagi Yesus di Yerusalem, Yudea dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8). Petrus dan timnya menjalankan pelayanan ini dengan baik. Mula-mula mereka menjadi saksi tentang kebangkitan dan kenaikan Yesus ke sorga di Yerusalem. Sebagian Umat Israel menerima kesaksian mereka, walaupun Mahkamah Agama (Sanhedrin) menolaknya. Petrus dan kawan-kawannya bersaksi dua kali kepada Mahkamah Agama (Kis. 4:8-12 dan 5:29-32), dan kesaksian ketiga adalah melalui Stefanus (Kis. 7). Tiga kali Petrus dan timnya bersaksi kepada Mahkamah Agama, namun mereka tetap menolaknya. Bahkan pada kesaksian ketiga melalui Stefanus, Mahkamah Agama bukan saja menolak kesaksian Stefanus namun juga membunuhnya.

 

Setelah Mahkamah Agama menolak kesaksian Petrus dan timnya, maka mulailah terjadi penganiayaan terhadap orang-orang yang menerima kesaksian Petrus dan timnya yaitu gereja di Yerusalem (Kis. 8:1). Tuhan memakai penganiayaan ini sehingga Petrus dan timnya menjadi saksi di Yudea dan Samaria (Kis. 8:1 sampai 12:17). Pada waktu ini, Petrus menggunakan kunci Kerajaan Sorga dan membukanya bagi bangsa-bangsa lain (Kornelius dan seisi rumahnya).

 

Setelah Herodes membunuh Yakobus, maka ia juga menahan Petrus dan merencanakan untuk membunuhnya. Tetapi Jemaat dengan tekun mendoakannya, sehingga Petrus dilepaskan secara mujizat. Setelah Petrus dilepaskan secara mujizat, maka ia berkata, “Beritahukanlah hal ini kepada Yakobus dan saudara-saudara kita. Lalu ia keluar dan pergi ke tempat lain (Kis. 12:17). Perkataan Petrus ini penuh arti. Apabila kita baca pasal-pasal selanjutnya, dapatlah kita ketahui bahwa Petrus pergi ke tempat lain dan menjadi saksi bagi Yesus sampai ke ujung bumi, sementara itu kepemimpinan gereja di Yerusalem diteruskan oleh Yakobus. Di akhir pelayanannya, Petrus menulis suratnya dari Roma, yang dapat kita artikan sebagai “ujung bumi”. Demikianlah Petrus dan timnya menggenapkan perkataan Yesus bahwa mereka akan menjadi saksi bagiNya mulai dari Yerusalem, Yudea dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi.

 

Apakah pesan-pesan yang disampaikan Petrus dan timnya, yang tertulis dalam kitab ini? Pada intinya, Petrus dan timnya mengkhotbahkan bahwa Yesus yang telah mati itu, dibangkitkan Elohim kembali serta menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36). Dan barangsiapa yang bertobat dan dibaptis dalam nama Yesus Kristus, akan menerima pengampunan dosa serta menerima Roh Kudus (Kis. 2:38). Petrus juga mengingatkan bahwa berkat ini terutama diuntukkan bagi bangsa Israel berdasarkan perjanjianNya dengan Abraham (Kis. 2:39; 3:25-26). Tetapi ini bukan berarti bahwa bangsa-bangsa lain diabaikan, karena sebagaimana telah kita lihat bahwa pelayanan Petrus juga menjangkau bangsa-bangsa lain. Hanya, memang pelayanan Petrus terutama adalah bagi bangsa Yahudi.

 

Orang-orang yang menerima perkataan Petrus dan timnya, disebut gereja (2:47) atau murid (6:1). Murid-murid ini dipimpin oleh ke 12 rasul, yang kemudian juga dibantu oleh tujuh orang yang melayani meja, namun satu hal yang pasti adalah mereka semua dipimpin oleh Roh Kudus. Kepemimpinan Roh Kudus sangat nyata dalam kehidupan komunitas ini. Mereka berdoa dengan spontan sesuai pimpinan Roh (4:24-31), dan bersaksi sesuai pimpinan Roh.

 

Surat I dan II Petrus      

 

Petrus menulis kedua suratnya dari Roma kira-kira tahun 63-64M, sebelum penganiayaan atas orang-orang Kristen oleh Kaisar Nero pada tahun 64M. Dan menurut tradisi, Petrus mati disalib dengan kepala dibawah, sebelum kematian Kaisar Nero pada tahun 68M.

 

Petrus menulis suratnya kepada orang-orang Kristen yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia kecil, dan Bitinia. Nampaknya, setelah kepemimpinan gereja di Yerusalem diteruskan oleh Yakobus, maka Petrus berjalan keliling beserta isterinya ke daerah-daerah dimana kedua suratnya dialamatkan. Pelayanan Petrus ini menggenapi panggilan Tuhan agar menjadi saksi bagi Yesus sampai ke ujung bumi. Kedua surat Petrus ini ditujukan terutama untuk orang-orang percaya dari bangsa Yahudi.

 

Isi dari Perjanjian Baru, yaitu suatu Perjanjian yang disahkan oleh darah Yesus yang Elohim tawarkan bagi bangsa Yahudi, didalam kedua surat Petrus ini adalah sebagai berikut. Pertama, perihal dilahirkan kembali (I Petrus 1:3,23). Tujuan dari berkat dilahirkan kembali adalah agar orang-orang percaya mendapat warisan atau suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tersimpan di sorga (I Petrus 1:4). Selanjutnya juga, agar melalui pertumbuhan iman yang terus menerus, maka orang-orang percaya akan menerima berkat keselamatan jiwa di dunia ini (I Petrus 1:9).    

 

Kedua, perihal menerima Kuasa Ilahi (II Petrus 1:3). Apabila orang-orang percaya menerima Kuasa IlahiNya, maka mereka akan diperlengkapi dengan segala sesuatu yang berguna untuk dapat hidup saleh. Berkat ini luar biasa, karena tidak mungkin orang dapat hidup kudus jika tidak menerima Kuasa Ilahi. Ketiga, perihal hak penuh untuk memasuki Kerajaan Yesus Kristus (II Petrus 1:11). Apabila orang percaya telah sungguh-sungguh memasuki Kerajaan Yesus Kristus, maka hidupnya di dunia ini diperintah oleh Yesus Kristus, dan sebagai akibatnya ia mengalami damai sejahtera terus menerus karena Yesus adalah Raja damai.

 

Selain Petrus menjelaskan berkat-berkat Perjanjian Baru kepada orang-orang percaya, ia juga memperingati akan datangnya penganiayaan karena mengikut Tuhan. Petrus juga mengingatkan bahwa penganiayaan ini adalah sesuatu hal yang biasa, dan orang-orang percaya tidak perlu merasa heran (I Petrus 4:12). Juga Petrus mengingatkan akan bahaya guru-guru palsu (II Petrus 2:1). Demikianlah pesan-pesan yang disampaikan melalui pelayanan Petrus, yang tertulis didalam kedua suratnya ini.

 

Injil Matius 

 

Sebelum menguraikan pelayanan Petrus yang terungkap di dalam Injil Matius, kita akan menjelaskan apa sebenarnya yang disampaikan dan ditawarkan Yesus kepada bangsa Yahudi dan mengapa mereka menolaknya.

 

Ketika Yesus memulai pelayananNya di Galilea, Ia mulai memberitakan, “…Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat. 4:17). Kerajaan Sorga adalah sesuatu yang Yesus khotbahkan dan tawarkan kepada bangsa Yahudi. Kerajaan Sorga yang dimaksud disini adalah suatu Kerajaan di Sorga dimana Yesus adalah Raja diatas segala raja. Kerajaan yang dipimpin oleh seorang Mesias yang dinantikan bangsa Yahudi, sesungguhnya adalah Kerajaan Sorga yang Yesus tawarkan. Dengan kata lain, Yesus menegaskan bahwa DiriNyalah Mesias, Putra Elohim dan Raja yang dinantikan oleh bangsa Yahudi.

 

Tetapi Yesus menegaskan bahwa untuk dapat memahami dan menerima Kerajaan Sorga, maka seseorang haruslah mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh. Pertobatan disini bukan hanya berarti meninggalkan kehidupan penuh dosa, tetapi adalah suatu perubahan pikiran secara radikal. Agar dapat menerima Kerajaan Sorga dan juga menerima Yesus sebagai Raja, maka bangsa Yahudi harus berubah pikiran secara radikal. Mengapa demikian?

 

Bangsa Yahudi mempunyai pengertian bahwa Mesias adalah anak Daud (Mat. 22:42). Oleh sebab itu, dalam pikiran bangsa Yahudi, Kerajaan Mesias akan sama dengan kerajaan Daud. Bangsa Yahudi menantikan seorang Mesias, yang walaupun manusia biasa namun disertai Elohim, sebagaimana Daud, sehingga dapat memimpin bangsa Yahudi, baik dalam perang maupun perkara-perkara lainnya. Tetapi, ketika Yesus datang dan menyatakan bahwa DiriNya adalah Mesias dan Putra Elohim, maka bukan saja bangsa Yahudi menolakNya tetapi juga menyatakan bahwa Ia menghujat Elohim (Mat. 26:63-65).

 

Bangsa Yahudi tidak bertobat dan berubah pikirannya tentang Mesias. Mereka membayangkan Kerajaan Mesias sama dengan kerajaan jasmani Daud. Itu sebabnya mereka tidak dapat menerima Yesus sebagai Mesias dan Raja, ataupun Yesus sebagai Putra Elohim. Sebenarnya Yesus telah mencoba merubah pengertian mereka tentang Mesias, ketika Ia bertanya pada orang-orang Farisi, “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?” (Mat. 22:42). Ketika orang Farisi menjawab bahwa Mesias adalah anak Daud, maka Yesus menegaskan bahwa Mesias sesungguhnya adalah tuannya Daud. Itu sebabnya Kerajaan Mesias tidak sama dengan kerajaan jasmani Daud. Kerajaan Daud hanyalah perlambang saja, sedangkan Kerajaan Mesias adalah realitanya. Tetapi para pemimpin Yahudi tidak memahami hal seperti ini, dan mereka menolak Yesus.   

 

Setelah pelayananNya selama kurang lebih tiga setengah tahun, akhirnya Yesus ditolak oleh para pemimpin bangsa Yahudi dan diserahkan kepada bangsa Roma untuk disalibkan. Pada malam terakhir sebelum Yesus disalibkan, Ia mengadakan perjamuan Paskah bersama murid-muridNya. Ketika mereka sedang merayakan Paskah, Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya dan berkata, “…Ambillah, makanlah, inilah tubuhKu. Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Matius 26:26-28). Pada malam terakhir sebelum Yesus disalibkan, Ia membuat suatu Perjanjian yang disahkan oleh darahNya. Perjanjian ini terutama diuntukkan bagi bangsa Yahudi, tetapi juga bagi banyak orang, yaitu sebanyak yang akan dipanggil Tuhan sesuai kasih karuniaNya.                     

 

Perjanjian yang dibuat Yesus pada malam sebelum Ia disalibkan, kita kenal sebagai Perjanjian Baru. Perjanjian ini disebut Perjanjian Baru, karena menggantikan yang lama yang telah dilanggar oleh bangsa Yahudi. Jadi, Perjanjian Baru adalah suatu Perjanjian yang Elohim adakan dengan bangsa Yahudi, sesuai dengan firman yang telah diucapkan para nabi. Perjanjian Baru inilah yang ditawarkan oleh Petrus dan timnya kepada bangsa Yahudi. Tetapi, kembali para pemimpin bangsa Yahudi menolak pelayanan Petrus. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Petrus dan timnya bersaksi tiga kali kepada Mahkamah Agama Yahudi, namun mereka menolak kesaksian Petrus dan timnya. Maka, 40 tahun setelah Yesus disalibkan, Elohim memakai bangsa Roma untuk menghancurkan Bait Suci dan kota Yerusalem. Peristiwa ini terjadi sebagai disiplin Elohim bagi Umat PilihanNya, karena mereka menolak PerjanjianNya. 

 

Sebenarnya, pelayanan Petrus dan timnya memberi kesempatan sekali lagi kepada bangsa Yahudi untuk menerima Yesus, yang adalah Tuhan dan Kristus. Tetapi ketika Mahkamah Agama Yahudi menolak kesaksian Petrus dan timnya sampai tiga kali, maka penghakiman Elohim jatuh atas bangsa Yahudi. Pada tahun 70 M, empat puluh tahun setelah Yesus disalib, Bait Suci dan Yerusalem dihancurkan.

 

Apakah pelayanan Petrus terhenti karena bangsa Yahudi menolak Yesus?  Pelayanan Petrus terus berlangsung, karena sekalipun pelayanan Petrus terutama ditujukan bagi bangsa Yahudi, tetapi Petrus dan timnya juga harus menjadikan semua bangsa muridNya (Matius 28:18-20). Selain itu, seluruh Israel akan menerima Yesus dan diselamatkan pada waktunya, sebagaimana tertulis dalam Roma 11:26, “Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis ‘Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub”.

 

SuratYakobus                    

 

Setelah Petrus dilepaskan secara mujizat dari tangan Herodes, maka Petrus mengatakan supaya perkara ini disampaikan kepada Yakobus dan kemudian ia pergi ke tempat lain (Kis. 12:7). Dengan perkataan Petrus ini, maka berarti kepemimpinan jemaat di Yerusalem diteruskan oleh Yakobus sementara Petrus menggenapkan panggilan Tuhan untuk menjadi saksi bagi Yesus sampai ke-ujung bumi. Yakobus inilah, sebagai pemimpin gereja di Yerusalem, menulis surat kepada kedua belas suku di perantauan, yaitu kepada bangsa Yahudi yang percaya kepada Tuhan Yesus, yang tersebar di daerah-daerah diluar Yerusalem. (Yakobus 1:1). Apa yang ditulis Yakobus termasuk kedalam pelayanan Petrus, karena surat Yakobus ditujukan bagi bangsa Yahudi.  

 

 

Pada intinya, surat Yakobus menguraikan iman, dan ekspresinya. Karena bangsa Yahudi terikat oleh suatu Perjanjian dengan Elohim, yang kita kenal sebagai Perjanjian Lama, dimana melaluinya Elohim memberikan Hukum Taurat dengan segala peraturannya, maka bagi bangsa Yahudi yang beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus haruslah mengungkapkan imannya dengan mentaati Hukum Taurat dan segala peraturannya. Hanya saja, karena Tuhan Yesus telah menggenapi Hukum Taurat, maka upacara-upacara korban hewan yang merupakan perlambang, tidak dijalankan lagi.

 

Didalam surat ini, Yakobus mengingatkan orang percaya dari bangsa Yahudi agar mengekspresikan imannya dengan menuruti Hukum. Sebab, jika iman tidak diekspresikan dengan perbuatan menuruti Hukum, maka iman sedemikian ini adalah iman yang mati.

 

Selanjutnya, Yakobus juga mengatakan bahwa iman kepada Tuhan Yesus, harus diungkapkan melalui perbuatan yang tidak memandang muka (Yak. 2:1), pengendalian lidah (3:1-12), membuang segala sesuatu yang kotor (1:21), pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja (1:22), mengunjungi yatim piatu dan janda-janda (1:27), dikuasai hikmat yang dari atas (3:13-18), tunduk kepada Elohim dan tidak bersahabat dengan dunia (4:4-10), tidak memfitnah dan menghakimi (4:11-12), berdoa dengan sungguh-sungguh serta bersabar sampai kedatangan Tuhan (Yak. 5).

 

Jadi, Yakobus mengingatkan bangsa Yahudi yang percaya Tuhan Yesus, agar mengekspresikan imannya dalam ibadah yang benar dan sesuai Hukum. Surat Yakobus tidak bertentangan dengan surat-surat Paulus yang menekankan kebenaran karena iman, melainkan saling melengkapi. Demikianlah pelayanan Petrus yang terungkap melalui surat Yakobus.

 

Surat Ibrani

 

Berdasarkan kesaksian Petrus dalam II Petrus 3:15, bahwa Paulus telah menulis surat kepada bangsa Yahudi yang percaya, maka kita dapat meyakini bahwa surat Ibrani ditulis oleh Rasul Paulus. Tetapi mengapa Paulus tidak menyebutkan namanya, sebagaimana yang biasa ia lakukan dalam semua suratnya? Ini disebabkan Surat Ibrani termasuk kedalam Pelayanan Petrus, karena surat Ibrani ditujukan kepada bangsa Yahudi yang telah percaya kepada Tuhan Yesus. Sekalipun Paulus juga melayani dan bersaksi kepada bangsa Yahudi, tetapi karena pelayanannya terutama kepada orang-orang yang tidak bersunat (Gal. 2:9), maka Surat Ibrani dapat dipandang sebagai bantuan Paulus terhadap Pelayanan Petrus. Karena itu, Paulus tidak menyebutkan namanya didalam surat Ibrani, agar apa yang kita sebut Pelayanan Paulus tidak bercampur-aduk dengan apa yang kita sebut Pelayanan Petrus.   

 

Surat Ibrani bertujuan agar bangsa Yahudi yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, bergerak maju menuju, “…perkembangannya yang penuh…” (6:1). Juga, surat ini menegaskan agar bangsa Yahudi yang telah percaya, tidak melepaskan kepercayaannya karena besar upah yang menantinya, sekalipun pada masa yang lalu mereka banyak mengalami penderitaan (10:32-35). Surat Ibrani mendorong agar bangsa Yahudi yang telah percaya, tidak mengundurkan diri dan kembali kepada Yudaisme. 

 

Surat ini mulai dengan menjelaskan bagaimana Elohim pada waktu yang lampau berfirman melalui nabi-nabi dan saat ini berfirman melalui AnakNya. Ditegaskan juga bahwa AnakNya, Yesus, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, yang melaluinya Elohim juga pernah berfirman.

 

Selanjutnya, Ibrani 2:5-18 menguraikan bahwa dunia atau zaman yang akan datang ditaklukkan bukan kepada malaikat tetapi kepada manusia, atau secara khusus kepada keturunan Abraham. Tetapi karena manusia telah jatuh kedalam dosa, maka Yesus sebagai Imam Besar, memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan. Dengan jalan ini maka Elohim membawa banyak orang kepada kemuliaan (2:10).

 

Pasal-pasal selanjutnya menguraikan bagaimana Yesus, sebagai Rasul, melampaui Musa, dan sebagai Imam besar melampaui Harun. Demikian juga, Perjanjian Baru yang disahkan oleh darah Yesus, melampaui Perjanjian pertama yang bercacat karena pelanggaran-pelanggaran. Kata kunci dalam pasal 3 sampai pasal 10 adalah lebih baik, karena didalam pasal-pasal ini keimaman Yesus yang menurut peraturan Melkisedek, dibandingkan dengan keimaman Lewi yang menurut peraturan Harun.  

 

Kemudian, karena surat Ibrani menjelaskan bagaimana Elohim telah berfirman melalui nabi-nabi, malaikat-malaikat, dan melalui AnakNya, dan bahwa iman timbul karena pendengaran akan firman Allah, maka pasal 11 menguraikan apakah iman itu dan bagaimana iman bekerja didalam orang-orang yang percaya. Selanjutnya surat ini ditutup dengan nasihat-nasihat praktis pada pasal 12 dan pasal13.

 

Demikianlah surat Ibrani, yang termasuk kedalam Pelayanan Petrus ini, mengingatkan bangsa Yahudi yang telah percaya kepada Tuhan Yesus agar bertumbuh menuju kesempurnaan serta meninggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus.

 

Surat Yudas

 

Surat ini ditulis oleh Yudas, saudara Yakobus, yang adalah pemimpin kunci gereja di Yerusalem. Jadi, Yudas adalah saudara Tuhan Yesus secara jasmani, dan surat ini terutama ditujukan kepada orang percaya dari bangsa Yahudi.

 

Karena surat ini tidak dialamatkan dengan jelas ke suatu daerah tertentu, maka kemungkinan surat Yudas ditujukan kepada bangsa Yahudi yang tersebar di propinsi-propinsi dimana surat Petrus dialamatkan. Alasannya adalah karena surat Yudas memiliki kesamaan dengan surat Petrus, terutama uraiannya mengenai guru-guru palsu (II Petrus 2).

 

Surat Yudas mengajak orang percaya dari bangsa Yahudi untuk, “…mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus“ (ay.3). Iman ini perlu dipertahankan karena ada guru-guru palsu yang menyusup kedalam, dan menyebarkan pengajaran yang menyalahgunakan kasih karunia Elohim untuk melampiaskan hawa nafsu mereka dan menyangkal satu-satunya Penguasa yaitu Tuhan Yesus Kristus (ay. 4).

 

Setelah Yudas mengingatkan bahwa penghakiman Elohim akan jatuh atas guru-guru palsu ini, maka Yudas mendorong orang percaya agar membangun diri sendiri diatas dasar iman yang paling suci dan berdoa dalam Roh Kudus.

 

Surat Yudas ini termasuk kedalam Pelayanan Petrus, selain karena isinya yang mirip dengan surat Petrus namun juga surat ini terutama ditujukan kepada orang Yahudi yang percaya Tuhan Yesus.      

 

 III. PELAYANAN  PAULUS

 

Sebagaimana telah kita lihat bahwa pelayanan Petrus meneruskan dispensasi sebelumnya yaitu dispensasi Hukum Taurat, tetapi Pelayanan Paulus memulai suatu dispensasi baru, yaitu dispensasi misteri ( Efesus 3:9 ). Kata misteri (Yunani: mysterion), didalam Perjanjian Baru terdapat sebanyak 27 kali, dan 20 diantaranya ada didalam surat-surat Paulus. Didalam kitab Injil ada 3 kata misteri digunakan sehubungan dengan perumpamaan mengenai kerajaan sorga, dan selebihnya didalam kitab Wahyu, karena pelayanan Yohanes juga berada didalam dispensasi misteri sebagaimana akan kita lihat kelak.

 

Ketika Paulus menggunakan kata misteri, maka yang dimaksudkannya adalah suatu kebenaran yang tersembunyi pada dispensasi-dispensasi yang lalu, namun yang saat ini dinyatakan Allah melalui pewahyuan kepada hamba-hambaNya. Perlu diperhatikan disini istilah pewahyuan, sebab tanpa pewahyuan seseorang tidak dapat memahami kebenaran tersembunyi yang dimaksud Paulus. Misteri, yang dimaksud Paulus, bukanlah suatu kebenaran tersembunyi yang belum diungkapkan. Tetapi suatu kebenaran tersembunyi yang telah Elohim nyatakan kepada hamba-hambaNya melalui pewahyuan. Namun bagi mereka yang belum menerima pewahyuan Elohim, maka misteri adalah suatu kebenaran yang tetap tersembunyi.

 

Misteri yang dimaksudkan Paulus diantaranya adalah misteri Kristus, misteri kehendakNya, misteri Injil dan sebagainya. Kita akan mempelajari pelayanan Paulus ini dengan melihat semua tulisan-tulisan yang termasuk kedalam pelayanan Paulus.

 

Surat Efesus

 

Didalam surat Efesus, ada 5 hal yang berkaitan dengan kata misteri, yaitu misteri  (rahasia) kehendakNya (1:9), misteri Kristus (3:4), dispensasi misteri (3:9, “tugas penyelenggaraan rahasia = fellowship / stewardship / dispensation of the mystery), rahasia (misteri) besar (5:30-32), misteri Injil (6:19). Masing-masing dari kelima hal tersebut diatas memiliki makna penting yang harus dipahami, jika kita ingin mengetahui pelayanan Paulus.

 

Kita akan menguraikan dengan singkat kelima hal diatas berikut ini, sebagaimana yang diungkapkan dalam surat Efesus. Pertama, misteri kehendakNya. Disini Paulus mengungkapkan bahwa Elohim yang adalah keluarga, mengadopsi kita sebagai anak-anakNya melalui Tuhan Yesus (1:5). Mengadopsi disini bukan berarti kita adalah anak-anak angkat, sebagaimana orang tua asuh mengangkat anak. Tetapi kita benar-benar dilahirkan oleh Roh, atau lahir dari atas, dan dengan demikian kita sesungguhnya adalah anak-anak Elohim. Agar rencana Bapa mengadopsi kita sebagai anak-anakNya ini tercapai, maka Tuhan Yesus perlu mengalami kematian dikayu salib dan dibangkitkan serta didudukkan disebelah kanan Bapa. Maka setelah Tuhan Yesus dipermuliakan, Roh Kudus dapat melahirkan kita kembali sebagai anak-anak Elohim.

 

Bukan saja kita dilahirkan oleh Roh, tetapi Roh itu sendiri adalah jaminan atau garansi/panjar bagi kita, sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu menjadi anak-anak Elohim yang termanifestasi. Semua ini terjadi agar pada dispensasi kegenapan waktu (the dispensation of the fullness of the times, 1:10, Young’s Literal), Ia dapat mempersatukan segala sesuatu didalam Kristus, baik yang ada disorga maupun yang di bumi. Inilah misteri kehendakNya. 

 

Kedua, misteri Kristus. Efesus 3:3-4, “…seperti yang telah kutulis diatas dengan singkat…pengertianku akan rahasia Kristus “. Apa yang Paulus tulis dengan singkat pada pasal sebelumnya adalah mengenai diciptakannya satu manusia baru didalam Dia, yang berasal dari orang-orang percaya bangsa Yahudi dan orang-orang percaya dari bangsa-bangsa lain. Semua ini dapat terjadi melalui kematian Yesus Kristus diatas kayu salib, yang mana telah merubuhkan tembok pemisah yaitu Hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya (2:15).

 

Pada bagian sebelumnya, Paulus juga menguraikan bagaimana kondisi kita sebelum dihidupkan bersama-sama dengan Kristus (2:1-3). Tetapi, oleh karena kasihNya, kita telah dibangkitkan, bahkan didudukkan bersama-sama dengan Kristus Yesus di sorga  (2:6). Karenanya, posisi orang percaya didalam Kristus adalah, “jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut…” (1:21). Bahkan, Kristus Yesus sebagai Kepala atas segala sesuatu, telah diberikanNya kepada kita, yang adalah tubuhNya (1:22-23). Inilah misteri Kristus itu. 

  

Ketiga, dispensasi misteri. Efesus 3:2 menegaskan, “…tugas penyelenggaraan (dispensasi) kasih karunia Elohim, yang dipercayakan kepadaku karena kamu”. Disini Paulus menyatakan bahwa ia dipercayakan Elohim untuk menjalankan dispensasi kasih karunia Elohim, demi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Didalam dispensasi kasih karunia Elohim ini, Paulus menerima pewahyuan yang berupa suatu misteri (3:3). Karena didalam dispensasi kasih karunia Elohim ini, Paulus menerima pewahyuan berupa suatu misteri, maka dispensasi kasih karunia Elohim ini selanjutnya disebut dispensasi misteri (3:9). Jadi, pelayanan Paulus ada didalam dispensasi misteri, karena ada banyak misteri yang diwahyukan Elohim kepada Paulus.

 

Keempat, rahasia (misteri) besar. Yang dimaksud misteri besar disini adalah hubungan antara Kristus dan gerejaNya (5:30-32). Kita adalah anggota dari tubuhNya, dagingNya, dan tulangNya (5:30). Maka sebagaimana seorang laki-laki meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, demikian juga Kristus. Kesatuan antara Kristus dan gerejaNya adalah suatu misteri.

 

Kelima, misteri Injil (6:19). Injil, bukan hanya kabar baik, tetapi injil adalah kekuatan Elohim yang menyelamatkan orang yang percaya. Injil adalah suatu misteri. Seseorang perlu menerima pewahyuan Elohim agar dapat menerima Injil dan diselamatkan.

 

Demikianlah kelima hal yang berkaitan dengan kata misteri didalam surat Efesus. Selanjutnya Paulus menguraikan didalam surat ini hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari orang percaya. Juga Paulus menjelaskan bahwa Elohim memberikan rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi suatu pembangunan tubuh Kristus, yang adalah bagian dari misteri Kristus. Surat ini ditutup dengan uraian tentang peperangan rohani.

 

Kisah Para Rasul 13-28.           

 

Pelayanan Paulus yang khusus didalam Kitab Kisah Para Rasul dimulai pada pasal 13 ayat 2, ketika Roh Kudus berkata, “…Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka “. Tugas khusus yang dijalankan oleh Paulus dan Barnabas pada pasal-pasal berikutnya adalah mendirikan gereja-gereja serta menetapkan para penatua disetiap kota, dimana gereja itu berada. Karena Paulus dan Barnabas diutus oleh Roh Kudus, maka mereka disebut rasul-rasul, sebab rasul artinya adalah orang yang diutus.

 

Firman Elohim yang dipercayakan Tuhan kepada Paulus, haruslah lebih dahulu diberitakan kepada orang-orang Yahudi (13:46). Itu sebabnya dalam perjalanan Paulus, ia selalu memberitakan firman di sinagoge-sinagoge tempat orang-orang Yahudi berkumpul serta menjalankan ibadahnya. Tetapi jika orang-orang Yahudi menolak berita yang disampaikan Paulus, maka ia berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Ini bukan berarti Paulus diutus hanya kepada bangsa Yahudi saja, melainkan Paulus diutus kepada bangsa Yahudi dan juga non Yahudi.

 

Berita yang disampaikan Paulus, yang tercatat didalam kitab ini, pada intinya adalah mengenai pertobatan dan pengampunan dosa (13:38), Yesus adalah Kristus dan bahwa Kristus harus menderita serta bangkit kembali (17:3), dan Kerajaan Sorga (19:8, 20:25, 28:31).    

 

Didalam pelayanannya, Paulus banyak mengalami tantangan dari orang-orang Yahudi yang menolak beritanya. Hal ini disebabkan mereka iri hati karena bangsa-bangsa lain mengikuti Paulus. Diakhir pelayanannya, sebagaimana tercatat dalam Kitab ini, kita lihat bagaimana Mahkamah Agama (Sanhedrin), yang juga telah menyerahkan Yesus kepada bangsa Roma untuk disalibkan, juga menentang Paulus serta berusaha membunuhnya. Sebaliknya, disepanjang Kitab ini, tercatat bagaimana Elohim telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain, sehingga bangsa-bangsa lain menerima berita yang disampaikan Paulus.

 

Pasal 15 mencatat diskusi yang terjadi antara orang Yahudi yang ada dibawah pelayanan Petrus, dan bangsa-bangsa lain yang berada dibawah pelayanan Paulus, berkenaan dengan penerapan Hukum Taurat. Sebagian orang Yahudi yang telah percaya mengatakan bahwa bangsa-bangsa lain wajib disunat dan mentaati Hukum Musa. Petrus sendiri mengatakan bahwa bangsa-bangsa lain yang telah percaya, tidak diwajibkan menuruti Hukum Musa (ayat 10). Tetapi akhirnya Yakobus mengambil “jalan tengah”, dengan mengatakan bahwa bangsa-bangsa lain diharuskan menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik, dan dari darah (ayat 20). Mengapa kita katakan “jalan tengah”?  Karena keputusan yang diambil adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami (ayat 28). Selanjutnya, sebagaimana akan kita lihat kelak didalam surat-surat Paulus, ada prinsip lainnya berkenaan dengan soal makanan. Demikianlah pelayanan Paulus yang terungkap dalam Kitab ini.            

 

Surat Roma      

 

Didalam surat ini Paulus menjelaskan Kebenaran Elohim yang dinyatakan melalui iman dalam Yesus Kristus. Inilah yang menjadi inti surat Roma. Inilah juga Injil yang Paulus beritakan. Inti dari berita yang disampaikan Paulus tertulis dalam Roma 1:16-17 sebagai berikut, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab didalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman’ “.

 

Sebelum kita melihat lebih jauh bagaimana Paulus menguraikan Kebenaran Elohim yang dinyatakan melalui iman ini, perlu kita pahami apa yang dimaksud dengan Kebenaran Elohim. Istilah Ibrani sedeq dan istilah Yunani dikaiosyne yang diterjemahkan sebagai kebenaran ( Righteousness ), memiliki makna yang sama, yaitu kesesuaian dengan suatu norma yang berlaku. Orang disebut benar, jika ia berkelakuan sesuai dengan norma yang ada. Kata sedeq dan dikaiosyne, juga mengandung makna relationship (suatu hubungan). Jadi, seseorang disebut orang benar, jika ia mempunyai hubungan yang benar dengan Elohim.

 

Elohim disebut sebagai Elohim yang benar, karena Ia sendiri adalah standard kebenaran itu. Segala tindakan Elohim adalah benar, karena segala tindakan Elohim bersesuaian dengan karakter Elohim yang merupakan standard kebenaran. Tindakan Elohim yang menyelamatkan oang berdosa karena iman, juga adalah tindakan yang benar. Sesungguhnya, kebenaran Elohim adalah Elohim itu sendiri. Kebenaran Elohim bukan saja suatu norma, tetapi juga pribadi Elohim sendiri.

 

Didalam Perjanjian Lama, standard atau norma yang ditetapkan Elohim tercermin melalui Hukum Taurat dengan segala peraturannya. Tetapi harus diingat bahwa kebenaran Elohim bukan saja berkaitan dengan norma dan aturan-aturan yang ada, tetapi juga berkaitan dengan hubungan antara elohim dan manusia (relationship). Dan hubungan antara Elohim dan manusia adalah hubungan melalui iman. Itu sebabnya, orang-orang benar didalam PL, bukan saja orang yang berkelakuan sesuai Hukum, tetapi juga mereka yang mempunyai iman kepada Elohim.

 

Para pengajar bangsa Yahudi di zaman Tuhan Yesus, selalu menekankan kelakuan yang sesuai dengan Hukum saja, tanpa melihat hubungan antara Elohim dan manusia yang dibangun berdasarkan iman. Penekanan yang hanya terpusat pada kelakuan yang sesuai Hukum saja, menghasilkan “kebenaran” orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, dan bukan kebenaran Elohim. Itu sebabnya Yesus berkata dalam Matius 5:20 sebagai berikut, “…Jika hidup keagamaanmu (kebenaranmu) tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk kedalam Kerajaan Sorga”. Artinya, jika kita hanya menekankan kelakuan lahiriah saja dan mengabaikan hubungan dengan Elohim atas dasar iman, maka kita tidak dapat masuk kedalam Kerajaan Sorga. Alasan ini jugalah yang menyebabkan ajaran Yesus dalam khotbah di Bukit (Matius 5-7) selalu menekankan kondisi hati seseorang yang didalam.

 

Demikianlah makna Kebenaran Elohim, yang mana merupakan tema utama dalam surat Roma ini. Selanjutnya, dari pasal 1 sampai 3, Paulus menguraikan bahwa semua manusia telah jatuh kedalam dosa, dan bahwa murka Elohim nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman (1:18). Tidak ada seorangpun yang benar, baik Yahudi maupun bukan Yahudi. Ditegaskan juga bahwa tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Elohim oleh karena melakukan Hukum Taurat (3:20).

 

Jadi, jika semua orang, baik Yahudi maupun bukan Yahudi, telah berada dibawah kuasa dosa, dan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan dihadapan Elohim oleh karena melakukan Hukum Taurat, maka bagaimanakah seseorang dapat dibenarkan dihadapan Elohim? Disinilah Paulus mengungkapkan Injil, yang adalah khabar baik itu, bahwa kebenaran Elohim dapat diterima dan dialami oleh semua orang yang percaya pada penebusan Kristus.

 

Kebenaran Elohim yang diterima berdasarkan iman ini adalah merupakan kasih karunia  (4:16). Berbeda dengan Kebenaran Elohim yang dinyatakan melalui Hukum Taurat. Seandainya ada orang yang oleh kekuatannya sendiri, dapat menuruti Hukum Taurat dengan sempurna, maka kebenaran Elohim yang diterimanya adalah berdasarkan perbuatannya, dan itu bukan merupakan kasih karunia, melainkan memang haknya. Tetapi Paulus menjelaskan bahwa melalui pekerjaan-pekerjaan Hukum Taurat, orang tidak dapat dibenarkan Elohim, bahkan melalui Hukum Taurat, orang mengenal dosa. Ini bukan berarti Hukum Taurat mempunyai cacat cela, tetapi karena manusia telah berada dibawah kuasa dosa. Jadi, Hukum Taurat diberikan bukan supaya manusia dibenarkan oleh pekerjaan-pekerjaan Hukum Taurat, melainkan agar melalui Hukum Taurat, manusia dapat mengenal keadaannya yang dibawah kuasa dosa, dan dengan demikian datang kepada Elohim untuk dibenarkan berdasarkan iman. Demikianlah manusia diselamatkan oleh kasih karunia, karena kebenaran berdasarkan iman adalah merupakan kasih karunia.

 

Selanjutnya, Paulus menegaskan bahwa baik Abraham maupun Daud, keduanya menegaskan bahwa manusia dibenarkan bukan berdasarkan perbuatannya, melainkan berdasarkan iman.

 

Pasal 5:1-11, menguraikan akibat-akibat karena dibenarkan berdasarkan iman. Pertama, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Elohim (5:1). Kedua, kita beroleh jalan masuk kepada kasih karunia ini (5:2). Ketiga, kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Elohim. Keempat, kita bahkan bermegah dalam kesengsaraan karena kesengsaraan menghasilkan ketekunan, tahan uji, dan pengharapan. Kelima, kepastian diselamatkan dari murka Elohim (5:9).

Setelah Paulus menjelaskan akibat-akibat dibenarkan Elohim berdasarkan iman, maka ia masuk kepada suatu uraian mengenai kondisi batiniah dari orang yang dibenarkan berdasarkan iman. Pada bagian ini, yaitu dari pasal 5:12 sampai 8:13, Paulus menjelaskan bagaimana seseorang yang berada dibawah hukum dosa dan maut, dapat dilepaskan oleh hukum Roh yang memberi hidup.  

 

Pada bagian pertama uraiannya, yaitu mengenai dibenarkan Elohim berdasarkan iman, Paulus menegaskan bahwa Kristus telah mati untuk kita (5:8). Pada bagian kedua uraiannya, yaitu mengenai kelepasan dari hukum dosa dan maut, Paulus menyatakan bahwa kita mati bersama-sama dengan Kristus (6:8). Perbedaan ini sangat perlu kita perhatikan. Dan kita perlu meresponi dengan iman atas kedua fakta firman Tuhan ini, yaitu KRISTUS TELAH MATI UNTUK KITA dan KITA MATI BERSAMA-SAMA DENGAN KRISTUS.

 

Agar dapat memahami penjelasan Paulus pada bagian kedua ini (5:12 – 8:13), kita perlu memahami kondisi manusia sebagaimana dinyatakannya. Manusia didalam Adam, yaitu manusia lama yang telah jatuh, berada dibawah kuasa dosa. Dosa yang dimaksud disini bukanlah perbuatan-perbuatan, melainkan suatu kuasa yang bekerja didalam anggota-anggota tubuh. Jika seseorang belum mengimani fakta bahwa kita telah mati bersama-sama dengan Kristus, sekalipun ia telah mengalami pembenaran oleh iman, maka ia akan menggunakan kekuatannya sendiri untuk mengikuti perintah-perintah Tuhan. Dan semua ini akan berakhir dengan kegagalan, karena ada kuasa dosa didalam anggota-anggota tubuhnya yang menarik dia kearah yang berlawanan.

 

Tetapi jika seseorang mengimani fakta bahwa kita telah mati bersama-sama dengan Kristus, maka akan ada kelepasan dari kuasa dosa yang bekerja didalam anggota-anggota tubuh kita. Roma 6:6 menegaskan, “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa”.

 

Kelepasan dari kuasa dosa, juga sejalan dengan kelepasan dari Hukum Taurat. Orang yang berada dibawah Hukum Taurat, harus melakukan tuntutan-tuntutan Hukum Taurat. Tetapi disinilah masalahnya. Karena seseorang berada dibawah kuasa dosa, maka ketika datang Hukum Taurat yang kudus dan suci itu, dosa mendapat kesempatan untuk menampilkan diri serta membunuh orang yang berada dibawah Hukum Taurat itu. Jadi, Hukum Taurat tidak dapat melepaskan seseorang dari kuasa dosa, melainkan hanya Kristus saja. Bagaimana caranya? Dengan mengimani bahwa kita telah mati bersama-sama dengan Kristus, maka kita dilepaskan dari kondisi dibawah Hukum Taurat, dan kita ditaruh dalam kondisi dibawah kasih karunia. Karena Hukum Taurat hanya berkuasa atas seseorang, selama orang itu hidup. Jika orang itu telah mati bersama-sama dengan Kristus, maka ia telah bebas darinya.

 

Jadi, jika seseorang telah benar-benar percaya bahwa ia telah mati bersama-sama dengan Kristus, maka ia dibebaskan dari kondisi hamba dosa, serta menjadi hamba Kebenaran. Karena ia hamba Kebenaran, maka ia dipimpin Roh agar menjadi anak-anak Elohim.

 

Pada waktunya, anak-anak Elohim ini akan dinyatakan (8:19). Inilah kemuliaan kita sebagai ahli warisNya. Kita akan dibebaskan dari tubuh yang fana ini. Kita akan menjadi serupa dengan Dia, dan Dia menjadi yang sulung diantara banyak anak-anak Elohim (8:29).    

 

Selanjutnya, Paulus mengungkapkan kesedihannya mengenai bangsa Israel, karena sekalipun mereka Umat pilihan Tuhan, tetapi mereka tidak mengenal Kebenaran Elohim. Mereka memang sungguh-sungguh giat untuk Elohim, tetapi tidak memiliki pengertian yang benar (10:2). Sekalipun mereka mengejar Hukum yang akan mendatangkan Kebenaran, mereka tidak mendapatinya. Ini disebabkan karena mereka mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan (9:31-32).

 

Yang menyebabkan Paulus bersedih hati, bahkan sampai mau terkutuk dan terpisah dari Kristus adalah karena kepada mereka telah dipercayakan firman Elohim, Hukum Taurat, Ibadah, janji-janji, bahkan telah diangkat menjadi anak dan menerima kemuliaan (9:1-5), tetapi ketika Kebenaran Elohim yang berdasarkan iman diberitakan, mereka tidak menerimanya.

 

Tetapi, penyebab semua ini adalah karena tidak semua orang Israel adalah orang Israel. Yang disebut Israel adalah mereka yang dipilih Tuhan berdasarkan kasih karunia, kedaulatan, dan kehendak Tuhan. Paulus menguraikan semua ini dalam pasal 9-11. Tetapi ia menegaskan juga bahwa pada akhirnya seluruh Israel akan diselamatkan (11:26). Inilah suatu misteri (rahasia) yang diwahyukan Tuhan kepada Paulus (11:25).

 

Didalam surat ini, Paulus menyatakan dirinya sebagai rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Pelayanan Paulus dimaksudkan agar bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Elohim sebagai persembahan yang berkenan kepadaNya (15:16). Paulus menutup surat ini dengan nasihat-nasihat praktis agar dapat hidup bersama dalam damai sejahtera Kristus.    

 

Surat I Korintus

 

Didalam surat ini Paulus mengungkapkan beberapa hal yang menjadi masalah didalam jemaat di Korintus. Setidaknya ada 11 perkara didalam jemaat ini yang harus diselesaikan. Walaupun jemaat ini memiliki cukup banyak masalah, tetapi Paulus menegaskan bahwa kesaksian Kristus telah diteguhkan didalam jemaat ini (1:6). Kesaksian Kristus disini bukan hanya merupakan ajaran-ajaran tentang Kristus. Tetapi, karena Paulus memberitakan Kristus yang disalib, yang adalah hikmat dan kuasa Elohim, maka kesaksian Kristus disini adalah suatu pengalaman rohani sejati yang dialami jemaat ini didalam Kristus. Sekalipun jemaat ini belum dewasa didalam Kristus, tetapi Paulus bersyukur atas kasih karunia Elohim yang dianugerahkanNya kepada jemaat ini (1:4). Bahkan Paulus menyatakan keyakinannya bahwa Elohim akan meneguhkan jemaat ini sampai kesudahannya sehingga tak bercacat pada hari Tuhan Yesus Kristus (1:8).

 

Selanjutnya, kita akan melihat satu per satu masalah yang dihadapi jemaat ini dan bagaimana Paulus menyelesaikannya. Pertama, mengenai masalah perpecahan didalam jemaat. Perpecahan yang dimaksud disini adalah bahwa masing-masing dari anggota jemaat berkata, “…Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus “ (1:12). Penyebab dari perpecahan ini adalah sikap bermegah dalam manusia (3:21). Artinya, beberapa anggota jemaat mungkin memegahkan diri atas pengetahuan dan kefasihan berbicara yang mereka miliki, dan mereka memanfaatkan Apolos untuk memegahkan diri, karena Apolos seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal kitab suci (Kis. 18:24). Beberapa anggota jemaat mungkin memegahkan diri atas mujizat-mujizat, dan mereka memanfaatkan Kefas, karena melalui Kefas, Tuhan melakukan banyak mujizat. Demikian seterusnya, mereka memanfaatkan Paulus, bahkan Kristus, untuk memegahkan diri mereka sendiri.

 

Menghadapi semua ini Paulus menegaskan bahwa pemberitaannya tidak mengandalkan hikmat perkataan, maupun tanda mujizat, melainkan kekuatan Roh. Meskipun demikian, Paulus juga memberitakan hikmat yang bukan dari dunia ini, kepada mereka yang telah matang. Juga, Paulus menjelaskan bahwa pelayanannya adalah meletakkan dasar, sementara orang lain membangun terus diatasnya, dan bahwa bagi jemaat Korintus, Paulus adalah seorang bapa karena Injil yang disampaikannya, sementara pelayan Tuhan lainnya adalah pengajar. Selanjutnya, Paulus berkata kepada jemaat Korintus bahwa segala sesuatu adalah milikmu, karena itu ia menasihati agar jangan ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia (3:21).

 

Kedua, masalah percabulan yang dilakukan oleh seorang anggota jemaat (5:1). Menghadapi orang seperti ini, Paulus menasihati jemaat agar menyerahkan dia kepada Iblis sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan (5:5). Bahkan Paulus menasihati agar jangan bergaul dengan orang yang sekalipun menyebut saudara, tetapi adalah orang cabul.

 

Ketiga, mencari keadilan pada orang yang tidak percaya. Paulus mengingatkan bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia. Dan jika demikian, maka seharusnyalah mereka dapat menyelesaikan perkara-perkara yang ada di dalam jemaat dengan adil, dan tidak menyerahkannya pada orang yang tidak percaya.

 

Keempat, penyalahgunaan kebebasan dalam hal makan dan tubuh (6:12-20). Disini Paulus menegaskan bahwa ia tidak membiarkan dirinya diperhamba oleh apapun. Karena tubuh kita adalah anggota Kristus, maka tubuh juga bukan untuk percabulan melainkan untuk Tuhan.   

 

Kelima, mengenai kehidupan pernikahan. Jemaat Korintus menulis surat kepada Paulus dan bertanya apakah baik bagi seorang laki-laki untuk tidak menikah (7:1). Paulus menjawab semua hal ini dalam pasal 7.

 

Keenam, tentang makan daging yang telah dipersembahkan kepada berhala. Sebenarnya bagi orang percaya, hanya ada satu Elohim dan Tuhan saja, serta tidak ada berhala dan Elohim lainnya. Tetapi ada beberapa orang yang hati nuraninya lemah, dan masih terikat dengan berhala-berhala (8:7). Oleh karena itu, orang yang kuat dan memiliki kebebasan, agar jangan mempergunakannya sedemikian sehingga menjadi batu sandungan bagi saudara yang lemah (8:9,13). Paulus memberi contoh bahwa ia tidak mempergunakan hak dan kebebasannya, agar tidak membangun rintangan bagi pemberitaan Injil (9:12). Sekalipun ia orang bebas, namun menjadi hamba bagi semuanya (9:19). Selanjutnya, ia memberi contoh tentang bangsa Israel (10:6).

 

Paulus juga menasihati orang-orang yang hati nuraninya masih lemah agar menjauhi penyembahan berhala (10:14-22). Sebagai kesimpulan, Paulus menasihati agar masing-masing orang bertindak demi keuntungan orang lain untuk membangunnya, dan melakukan sesuatu untuk kemuliaan Elohim (10:23-11:1).

 

Ketujuh, masalah penudungan kepala. Yang dipermasalahkan disini adalah apakah seorang perempuan harus memakai penudung kepala, jika ia berdoa atau bernubuat dalam pertemuan jemaat. Paulus mengungkapkan bahwa, “…Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah”. (11:3). Karena itu, perempuan seharusnya mengenakan tanda otoritas di kepalanya. Permasalahan ini ditutup dengan perkataan, “Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami (Jemaat-jemaat hasil pelayanan Paulus) maupun jemaat-jemaat Allah (jemaat hasil pelayanan Petrus) tidak mempunyai kebiasaan demikian”. (11:16).

 

Kedelapan, masalah makan perjamuan Tuhan. Karena tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, maka yang seorang lapar dan yang lain mabuk. Oleh sebab itu Paulus menasihati jika mereka berkumpul untuk makan, supaya mereka saling menantikan satu dengan yang lainnya (11:33). Juga, jika makan roti dan minum cawan Tuhan dengan tanpa mengakui tubuh Tuhan, maka hal ini mendatangkan hukuman (11:29).

 

Kesembilan, mengenai hal-hal spiritual. Disini Paulus menjelaskan bahwa kepada tiap-tiap anggota tubuh diberikan penyataan Roh demi kepentingan bersama (12:7). Sekalipun tiap anggota mempunyai karunia yang berbeda, hendaklah semuanya itu digunakan untuk saling membangun. Setelah Paulus menguraikan tentang karunia-karunia, ia menunjukkan jalan yang utama yaitu kasih. Selanjutnya, Paulus menasihati agar jemaat mengejar kasih itu, namun mengusahakan agar memperoleh karunia-karunia terutama karunia bernubuat.

 

Kesepuluh, mengenai kebangkitan. Ada beberapa anggota jemaat yang mengatakan tidak ada kebangkitan orang mati (15:12). Tetapi Paulus menegaskan bahwa Kristus telah dibangkitkan. Dan semua orang akan dibangkitkan, namun masing-masing orang menurut urutannya (15:23). Pada akhirnya, musuh yang terakhir akan dibinasakan yaitu maut, sehingga Elohim akan menjadi semua didalam semua (15:28). Perlu kita ingat bahwa upah dosa adalah maut, bukan neraka kekal. Jadi, jika maut telah dikalahkan, maka segala bekas dosa tidak ada lagi. Itu sebabnya, Elohim dapat menjadi semua dalam semua, Elohim dapat mengekspresikan DiriNya didalam semua orang dan melalui semua orang. Juga Paulus menjelaskan bahwa Elohim akan memberikan suatu tubuh kepada tiap orang yang dibangkitkan.

 

Kesebelas, tentang pengumpulan uang. Jemaat Korintus memutuskan untuk memberikan bantuan kepada jemaat di Yerusalem. Dan Paulus menasihati agar pada hari pertama dari tiap-tiap minggu diadakan pengumpulan uang, supaya ketika Paulus datang, bantuan itu telah terkumpul.

 

Sebagai kesimpulan, Paulus menutup surat ini dengan perkataan, “Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (16:13-14).

 

Surat II Korintus  

 

Tema utama seluruh surat II Korintus, kecuali pasal 8 dan 9 yang membicarakan bantuan bagi orang-orang kudus, adalah penjelasan dan pembelaan Paulus atas tuduhan-tuduhan yang dikenakan pada dirinya dan pelayanannya. Melalui surat II Korintus ini, kita dapat mengenal Paulus dan pelayanannya. Ada beberapa masalah didalam jemaat ini, yang memaksa Paulus untuk menjelaskan tentang dirinya dan pelayanannya. Berikut ini kita akan melihat beberapa permasalahan yang ada.

 

Didalam jemaat Korintus, ada saudara yang bertindak sedemikian dan menimbulkan kesedihan bagi yang lainnya (2:5). Paulus menjelaskan bahwa bukan dirinya yang disedihkan, tetapi sebagian jemaat. Selanjutnya, Paulus menasihati agar jemaat mengampuni dan menghibur dia, setelah dia ditegor oleh sebagian besar jemaat, agar dia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat.

 

Tetapi, barangkali masalah paling berat yang dihadapi jemaat ini adalah datangnya beberapa “pelayan Tuhan” yang memberitakan Yesus yang lain, mengabarkan Injil yang lain, dan memberikan roh yang lain, namun jemaat Korintus menerima para “pelayan Tuhan” ini dengan sabar (11:4). Para “pelayan Tuhan” ini suka bermegah karena hal-hal lahiriah dan bukan batiniah. Dan Paulus berusaha meyakinkan jemaat agar dapat melihat kemuliaan batiniah Paulus dan timnya, supaya jemaat dapat menghadapi orang-orang yang bermegah karena hal-hal lahiriah (5:12).

 

Masalah yang mungkin menjadi penyebab dari masalah-masalah lainnya adalah, jemaat Korintus hanya memberi tempat yang sempit bagi Paulus dan timnya di hati mereka (6:12). Oleh sebab itu Paulus menasihati jemaat agar membuka hati mereka selebar-lebarnya, supaya ada keseimbangan (6:13).

 

Jemaat Korintus juga menuduh Paulus dengan mengatakan bahwa, “... surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti “ (10:10). Juga beberapa orang menuduh Paulus hidup secara duniawi (10:2). Selanjutnya, beberapa orang juga meragukan otoritas kerasulan Paulus (12:12), dan meragukan apakah Kristus berbicara melalui Paulus (13:3). Semua ini memaksa Paulus membela dirinya serta pelayanannya, dengan maksud agar membangun iman jemaat Korintus (12:19).

 

Paulus menjelaskan bahwa ia tidak mencari keuntungan dari firman Elohim, seperti yang dilakukan para “pelayan Tuhan” itu (2:17). Paulus juga berkata bahwa, “… kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorangpun, tidak seorangpun yang kami rugikan, dan tidak dari seorangpun kami cari untung “ (7:2). Sebagai pelayan-pelayan Perjanjian Baru, Paulus berkata bahwa ia bertindak dengan penuh keberanian, “tidak seperti Musa yang menyelubungi mukanya…” (3:13).

 

Selain Paulus menceritakan penderitaannya sebagai rasul Kristus, ia juga menceritakan pewahyuan yang diterimanya dari Elohim, yaitu bagaimana ia (entah diluar tubuh atau didalam tubuh) diangkat ke Firdaus dan mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia (12:4). Semua ini dilakukan Paulus karena tuduhan-tuduhan yang tidak benar tentang dirinya serta pelayanannya, namun motivasi semuanya adalah untuk membangun iman jemaat.

 

Melalui surat ini, kita dapat melihat betapa murni dan tulus hati Paulus didalam melayani Tuhan dan jemaat. Paulus tidak mau menerima bantuan keuangan sedikitpun dari jemaat Korintus, bukan karena ia tidak layak atau tidak mengasihi jemaat Korintus, melainkan ia mau mencegah para “pelayan Tuhan” yang mencari kesempatan guna menyatakan bahwa mereka sama dengan Paulus, dalam hal yang dapat dimegahkan (11:12). Demikianlah kita lihat Paulus sebagai pelayan Perjanjian Baru, sebagai pelayan Tuhan, yang bertindak sedemikian supaya pelayanannya jangan sampai dicela (6:3).

 

Surat Galatia     

 

Paulus menulis surat ini karena jemaat di Galatia telah, “…berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan injil “(1:6). Jemaat ini mau hidup dibawah hukum Taurat, dan mulai disunat serta dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun (4:10,21; 5:2). Jemaat ini telah mulai dengan iman, namun mencoba menjadi sempurna dengan pekerjaan-pekerjaan Hukum Taurat.

 

Nampaknya, ada beberapa saudara palsu yang berlatar-belakang Yahudi, datang ke Galatia serta mengajar jemaat agar hidup dibawah Hukum Taurat (1:7). Saudara-saudara palsu ini mengaku mengikut Kristus, tetapi tidak mau dianiaya karena salib Kristus (6:12). Saudara palsu ini juga suka menonjolkan diri, dan senang bermegah atas keadaaan jemaat yang lahiriah (6:13). Dan yang paling menyedihkan adalah saudara palsu ini dengan giat berusaha untuk menarik jemaat agar mengikuti mereka (4:17). Saudara palsu ini telah memutar-balikkan Injil Kristus, dan memberitakan Injil yang berbeda dengan yang telah diberitakan oleh Paulus. 

 

Menghadapi semua ini, Paulus mulai dengan penjelasan bahwa Injil yang diberitakannya berasal dari pewahyuan Tuhan Yesus, dan bukan berasal dari manusia (1:11-12). Untuk membuktikan hal ini, Paulus menegaskan bahwa setelah ia bertobat, ia tidak meminta pertimbangan dari manusia dan ia juga tidak pergi ke Yerusalem menemui mereka yang telah menjadi rasul sebelum Paulus, tetapi pergi ke tanah Arab (1:16-17).

 

Bahkan, Paulus telah membentangkan Injil yang diberitakannya kepada para pemimpin gereja di Yerusalem, dan setelah mereka mendengarnya, mereka mengakui bahwa kepada Paulus telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat (2:7-9). Jadi, Injil yang Paulus beritakan, bukan diajarkan kepadanya oleh manusia, dan selain itu Injil yang Paulus beritakan telah diakui oleh para pemimpin gereja di Yerusalem.

 

Selanjutnya, Paulus menjelaskan bahwa seseorang hanya dapat dibenarkan Elohim melalui iman dalam Kristus Yesus (2:16). Tidak ada seorangpun yang dibenarkan Elohim, karena melakukan Hukum Taurat. Kebenaran diperhitungkan kepada Abraham, juga karena iman. Bangsa-bangsa lain juga akan menerima berkat Abraham dan dibenarkan Elohim, juga karena iman (3:9). Hukum Taurat diberikan hanya sebagai penuntun saja sampai Kristus datang (3:24). Karena Kristus telah datang, maka kita dibenarkan oleh iman.

 

Dalam membela kebenaran Injil yang diberitakannya, Paulus juga melakukan pendekatan pribadi kepada jemaat Galatia (4:12-20). Paulus berkata bahwa, “…Belum pernah kualami sesuatu yang tidak baik dari padamu “. Bahkan, “…jika mungkin, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepadaku “. Kalau demikian halnya, “Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu “. Paulus berkata terus terang bahwa, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata didalam kamu “.

 

Terakhir, Paulus menegaskan bahwa kita telah merdeka dalam Kristus (5:1). Tetapi supaya kita menggunakannya untuk melayani sesama dalam kasih, karena seluruh Hukum Taurat tercakup dalam satu firman yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (5:14). Paulus juga menasihati supaya jemaat hidup dalam Roh, dan tidak menuruti keinginan daging.  

 

Melalui surat ini, kita dapat melihat bahwa didalam pelayanannya, Paulus sering menghadapi masalah yang berasal dari saudara-saudara palsu. Demi kebenaran Injil, Paulus dengan tegas menjelaskan segala sesuatunya. Ia bahkan harus menegur Petrus dengan terus terang, demi kebenaran Injil. Segala sesuatu Paulus lakukan agar Injil yang murni itu diberitakan dan Nama Tuhan dipermuliakan. Demikianlah Paulus, kita lihat, sebagai hamba Kristus, senantiasa hanya menyenangkan Tuhan yang dilayaninya.   

 

Surat Filipi

 

Paulus menulis surat ini dari dalam penjara, namun surat ini penuh dengan nada sukacita. Alasan apakah yang menyebabkan Paulus bersukacita? Pertama, sukacita Paulus disebabkan karena persekutuan jemaat di Filipi dalam Berita Injil (1:4). Jemaat di Filipi menerima pemberitaan Injil Paulus sedemikian sehingga Paulus yakin bahwa Ia yang telah memulai pekerjaan baik ditengah-tengah jemaat ini, akan meneruskannya sampai kepada akhirnya (1:6). Keterbukaan jemaat ini terhadap berita Injil, telah membuat Paulus sangat bersukacita.

 

Kedua, sukacita Paulus juga disebabkan karena Kristus diberitakan, sekalipun ada yang melakukannya dengan maksud palsu (1:18). Bagi Paulus, yang penting adalah kemajuan Injil. Itu sebabnya ia tetap bersuka-cita sekalipun ia dipenjara, karena pemenjaraannya telah menyebabkan kemajuan Injil (1:12). Ketiga, sukacita Paulus juga adalah karena keberadaan jemaat di Filipi. Jemaat di Filipi itu sendiri adalah sukacitanya (4:1). Selanjutnya, Paulus menasihati jemaat agar bersukacita dalam Tuhan, bukan dalam kesenangan atau keberuntungan, tetapi semata-mata dalam Tuhan (4:4). Inilah yang menjadi alasan mengapa Paulus tetap dapat bersukacita dalam segala keadaan.

 

Didalam surat ini juga terlihat motivasi dan tujuan Paulus dalam hidup dan pelayanannya. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia, demikian kata Paulus (3:10). Bahkan segala sesuatu dianggapnya sampah, demi pengenalan akan Kristus Yesus. Inilah yang seharusnya menjadi tujuan dari setiap orang yang melayaniNya.

 

Selain Paulus berterima-kasih atas bantuan jemaat Filipi, ia juga menasihati jemaat agar menjadi rendah hati dan memelihara kesehatian. Demikianlah Paulus dan pelayanannya yang terungkap dalam surat ini.   

 

Surat Kolose  

 

Jemaat di Kolose mendengar Injil melalui pemberitaan Epafras, yang mana merupakan anggota tim pelayanan yang dipimpin Paulus (1:7). Selain mengabarkan kasih jemaat ini dalam Roh, nampaknya Epafras juga memberitahukan beberapa hal yang menjadi masalah didalam jemaat. Sebagai respon atas semua itu, Paulus menulis surat ini ketika ia sedang dalam penjara di Roma pada tahun 61.

 

Didalam surat ini, Paulus menjelaskan siapa Kristus Yesus itu dan apa yang telah dilakukanNya (1:15-20). Paulus menegaskan bahwa Kristus Yesus adalah, “…gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan “ (ayat 15). Dan melalui pekerjaan Kristus Yesus, Elohim Bapa telah memperdamaikan segala sesuatu dengan DiriNya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga (ayat 20).

 

Selanjutnya, Paulus menjelaskan bahwa pelayanannya adalah, “…to fulfill the word of God (menggenapkan atau melengkapkan firman Tuhan) “ (1:25) Artinya, firman Elohim melalui pelayanan Petrus belumlah lengkap, dalam arti Tuhan masih akan berbicara lagi kepada gerejaNya. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa Tuhan juga berbicara kepada gerejaNya melalui pelayanan Yohanes, jadi ketika Tuhan telah berbicara tiga kali kepada gerejaNya, maka lengkaplah dan sempurna firman Tuhan kepada gerejaNya.

 

Demikian juga Paulus menjelaskan bahwa penderitaannya adalah untuk melengkapkan penderitaan Kristus Yesus untuk tubuhNya (1:24). Maksudnya, bukan penderitaan Kristus Yesus untuk penebusan dan pendamaian segala sesuatu, karena tidak ada seorangpun yang dapat dan layak untuk melengkapkannya. Jadi, untuk pembangunan Tubuh Kristus, memang dibutuhkan penderitaan dari pelayan-pelayan Kristus yang sejati. Inilah yang dimaksud Paulus.

 

Juga, Paulus menjelaskan bahwa firman yang dipercayakan Tuhan kepadanya itu adalah suatu misteri yang tersembunyi dari dispensasi ke dispensasi, tetapi saat ini diwahyukan kepada orang-orang kudusNya (1:26). Misteri yang penuh kemuliaan ini adalah Kristus ada didalam orang-orang percaya dari bangsa-bangsa bukan Yahudi. Kristus yang adalah pengharapan kita, untuk menerima kemuliaan Elohim. Jadi, Paulus hanya memberitakan Kristus, dengan tujuan agar setiap orang mencapai kesempurnaan dalam Kristus (1:28).

 

Selanjutnya, Paulus memberi nasihat-nasihat praktis kepada jemaat ini, dengan mengingatkan bahwa mereka telah mati dan bangkit bersama-sama dengan Kristus. Nasihat-nasihat Paulus cukup panjang yaitu dari pasal 2:4 sampai pasal 4:6. Demikianlah pelayanan Paulus yang terungkap melalui surat ini.

 

Surat I Tesalonika 

 

Ditinjau dari satu sudut, surat ini dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, dari pasal 1 sampai 3, membicarakan pelayanan dan sikap Paulus terhadap jemaat, pada waktu Paulus berada ditengah mereka. Bagian kedua, dari pasal 4 sampai 5, menguraikan nasihat-nasihat Paulus agar jemaat lebih bersungguh-sungguh lagi di masa yang akan datang.

 

Pada bagian pertama, Paulus menegaskan bahwa ia telah berlaku saleh, adil dan tidak bercacat terhadap Jemaat (2:10). Bahkan Paulus telah menjadi seperti bapa dan ibu bagi Jemaat, yang mana mengasuh dan merawat anaknya dengan kasih sayang. Pelayanan Paulus benar-benar didasarkan atas motivasi yang murni semata-mata untuk menyukakan Elohim, dan tidak pernah mencari pujian dari manusia (2:4-6). Semua ini dilakukannya karena Paulus menyadari bahwa jemaat di Tesalonika adalah kemuliaan dan sukacitanya, bahkan mahkota kemegahannya dihadapan Yesus pada waktu kedatanganNya (2:19-20).

 

Pada bagian selanjutnya, Paulus menasihati jemaat agar hidup kudus dalam arti menjauhi percabulan (4:3). Juga Paulus menasihati agar jemaat tidak berdukacita atas mereka yang telah meninggal, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mempunyai pengharapan.

 

Pada tiap pasal dalam surat ini, Paulus menyinggung tentang kedatangan Tuhan. Yang terutama perlu dipahami dalam menantikan kedatangan Tuhan adalah supaya jemaat sadar dan berjaga-jaga, serta bekerja dan melayani dengan sungguh-sungguh. Juga agar roh, jiwa dan tubuh kita terpelihara sempurna pada saat kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Demikianlah pelayanan Paulus yang terungkap dalam surat ini.

 

Surat II Tesalonika

 

Pelayanan Paulus dalam Jemaat di Tesalonika terus berkembang dan firman Tuhan makin dimuliakan diantara jemaat. Karena semua ini, Paulus mengucap syukur kepada Elohim (1:3). Meskipun demikian, didalam jemaat ada beberapa saudara yang tidak mengikuti ajaran Kristus dan yang tidak bekerja dengan rajin, sehingga Paulus menasihati agar jemaat menjauhi orang-orang yang sedemikian itu (3:6). Didalam pelayanannya, Paulus telah menjadi model atau contoh agar diikuti oleh jemaat, khususnya dalam hal bekerja. Di Tesalonika, Paulus bekerja sebagai pembuat tenda sambil memberitakan Injil Elohim. Hal ini dilakukan bukan karena Paulus tidak berhak menerima pemberian materi dari jemaat, namun ia ingin menjadikan dirinya sebagai teladan atau model atau contoh bagi jemaat.

 

Paulus juga memperingati jemaat agar tidak disesatkan orang berkenaan dengan kedatangan Tuhan (2:1-3). Sebab sebelum hari Tuhan tiba, akan ada kedurhakaan (Lawlessness = ke-tiada hukum-an). Lawlessness adalah suatu kondisi dimana manusia hidup tanpa hukum Kristus. Manusia bahkan menyatakan diri sebagai Elohim (2:4). Lawlessness adalah suatu misteri, yaitu suatu kebenaran yang tersembunyi namun telah diwahyukan Tuhan kepada orang-orang kudusNya.  Sesungguhnya lawlessness telah mulai bekerja, namun masih ada yang menahannya, tetapi ia akan menyatakan diri pada waktunya (2:6-7).  

 

Demikianlah pelayanan Paulus ditengah-tengah jemaat di Tesalonika. Dalam pelayanannya, Paulus telah memberi diri sebagai model dan teladan bagi jemaat. Dan tujuan pelayanan Paulus adalah agar firman Tuhan dimuliakan diantara jemaat (3:1).

 

Surat I Timotius    

 

Didalam I Timotius 1:3-4 tertulis, “…aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman “. Istilah tertib hidup keselamatan dalam Alkitab bahasa Indonesia ini, diterjemahkan dari kata Yunani oikonomia. Dalam Concordant Literal dan Alkitab NASB, kata Yunani ini diterjemahkan administration. Dalam terjemahan Recovery version, dispensation. Terjemahan Interlinear Alfred Marshall, stewardship.  Sebenarnya, oikonomia mempunyai arti pengelolaan kerumahtanggaan (the household management). Jadi, I Timotius 1:3-4, mengungkapkan bahwa didalam Rumah TanggaNya atau KeluargaNya, Elohim memiliki administrasiNya atau dispensasiNya atau kepengurusanNya atau pengelolaanNya sendiri. Dengan kata lain, Elohim memiliki manajemenNya sendiri, yaitu manajemen Elohim. Paulus mendesak Timotius agar menasihati orang-orang tertentu di Efesus agar tidak mengajarkan ajaran lain, yang menyimpang dari manajemen Elohim. Inilah yang menjadi tema utama surat I Timotius.

 

Didalam pasal-pasal selanjutnya, Paulus menasihati jemaat dan juga Timotius agar hidup secara layak sebagai keluarga Elohim (3:15). Paulus menguraikan dengan cukup rinci nasihat-nasihatnya yang ditujukan baik kepada para penatua, diaken, laki-laki, perempuan, janda-janda, orang-orang kaya, dan juga secara khusus kepada Timotius sebagai teman sekerjanya. Inti dari semuanya adalah bagaimana orang harus hidup sebagai anggota dari keluarga Elohim.

 

Jadi, pelayanan Paulus mengungkapkan dispensasi atau manajemen Elohim. Didalam pelayanannya, Paulus tetap setia karena Tuhan senantiasa menguatkannya (1:12).

 

Surat II Timotius    

 

II Timotius adalah surat Paulus yang terakhir, sebelum ia mati martir di penjara Roma. Ada beberapa alasan bagi kita untuk mempercayai bahwa Paulus dilepaskan dari tahanan rumah, sebagaimana tertulis dalam Kis. 28:30. Artinya, penahanan Paulus yang pertama di Roma (tahanan rumah) selama 2 tahun (AD. 60-62) berakhir dengan dilepaskannya Paulus, dan kemudian ia melayani kembali di Asia bahkan mungkin sampai ke Spanyol, sebagaimana yang pernah direncanakannya (Roma 15:24). Tetapi kemudian, setelah peristiwa terbakarnya kota Roma pada zaman Kaisar Nero (64 AD), Paulus kembali ditahan dalam penjara Roma dimana akhirnya ia mati martir.

 

Beberapa alasan yang dimaksud adalah pertama, sangat sulit mencocokkan pergerakan pelayanan Paulus dalam Titus, I dan II Timotius, kedalam peristiwa-peristiwa di Kisah Para Rasul. Kedua, dapat dipercaya bahwa rencana Paulus ke Spanyol adalah dari Roh Kudus, sehingga ini digenapi. Ketiga, tradisi mula-mula mempercayai bahwa Paulus dibebaskan dari penahanan Roma yang pertama. Keempat, perintah Kaisar Nero mengeksekusi Paulus hampir tidak mungkin terjadi pada tahun 62 AD, karena penganiayaan terhadap orang-orang Kristen terjadi setelah peristiwa terbakarnya kota Roma pada tahun 64 AD. Mungkin Paulus dieksekusi pada tahun 66 atau 67 AD.

 

Ada perbedaan menyolok mengenai pesan-pesan Paulus kepada Timotius dalam surat I dan II Timotius ini. Dalam I Timotius, Paulus berpesan kepada Timotius agar Timotius mengatur kehidupan berjemaat agar sesuai dengan manajemen Elohim. Sekalipun suratnya ditujukan pada Timotius, namun fokusnya kepada jemaat. Tetapi dalam surat II Timotius ini, fokus Paulus adalah Timotius sendiri. Setidaknya, ini disebabkan oleh 2 hal. Pertama, karena hampir seluruh jemaat-jemaat di Asia berpaling dan meninggalkan Paulus. Kedua, karena Paulus merasa bahwa ia akan segera mengakhiri hidupnya, dan bahwa akan ada masa-masa yang sulit seperti diuraikannya dalam pasal 3, maka Timotius harus diteguhkan untuk menghadapi semuanya.

 

Barangkali inti dari pesan-pesan terakhir Paulus kepada Timotius adalah agar Timotius menjadi kuat oleh kasih karunia Kristus (2:1). Dalam surat terakhirnya ini, Paulus mendeklarasikan keyakinannya bahwa ia telah mengakhiri pertandingan yang baik, memelihara iman dan mencapai garis akhir (4:7-8). Paulus yakin bahwa Tuhan telah menyediakan mahkota kebenaran baginya.                              

 

Surat Titus

 

Surat kepada Titus ditulis oleh Paulus, pada masa ketika ia telah dibebaskan dari penahanan Roma yang pertama, mungkin sekitar tahun 63/64 AD. Inti pesan Paulus kepada Titus, dapat dibagi dua, yaitu penetapan penatua-penatua dan mengatur apa yang masih perlu diatur (1:5).

 

Paulus menguraikan dengan jelas syarat-syarat kepenatuaan (1:5-9). Demikian juga dengan hal-hal yang masih perlu diatur, semua diuraikan dengan cukup rinci (1:10 – 3:11). Terutama mengenai ajaran yang menyimpang dari kebenaran yang disebarluaskan oleh mereka yang berpegang pada hukum sunat, Paulus memperingati Titus agar menegur mereka dengan tegas (1:10-14).

Dalam pelayanannya, Paulus memiliki teman-teman sekerja yang disebut sebagai anaknya, diantaranya Timotius dan Titus. Hubungan bapa-anak seperti ini sangat indah didalam Tuhan. Di akhir pelayanannya, Paulus tidak memiliki banyak teman sekerja, bahkan Demas meninggalkannya. Tetapi anak-anak dalam Tuhan ini, dengan setia tetap mendukung pelayanan Paulus.

 

Surat Filemon

 

Surat Filemon ditulis oleh Paulus dari penjara Roma pada penahanan pertamanya. Filemon adalah orang yang dibawa kepada Kristus melalui Paulus, yang juga teman sekerja Paulus serta tinggal di Kolose. Surat ini berisi permohonan Paulus kepada Filemon mengenai Onesimus, hamba dari Filemon yang melarikan diri namun dibimbing Paulus kepada Kristus. Nampaknya Onesimus telah merugikan Filemon, tetapi Paulus berjanji untuk menggantikannya (ay. 18). Didalam surat ini, Paulus mengungkapkan kerinduannya untuk dibebaskan dan kembali melayani bersama Filemon (ay. 22).

 

Injil Lukas

 

Lukas, yang adalah anggota tim pelayanan Paulus, menulis dua buah kitab yaitu Kisah Para Rasul dan Injil Lukas. Injil Lukas ditujukan kepada para pembaca non Yahudi. Itu sebabnya, berbeda dengan Injil Matius yang menggunakan istilah Kerajaan Sorga, Injil Lukas menggunakan istilah Kerajaan Elohim. Didalam Injil Matius, yang mana ditujukan untuk bangsa Yahudi, istilah Kerajaan Sorga merupakan hal yang biasa dipakai oleh para pemimpin agama Yahudi, karena kecenderungan mereka yang tidak mau menggunakan langsung istilah Elohim. Dalam Injil Lukas, istilah Kerajaan Elohim muncul sebanyak kurang lebih 39 kali. Sebenarnya Kerajaan Elohim mempunyai makna yang sama dengan Kerajaan Sorga. Kerajaan Elohim adalah Kerajaan milik Elohim, sedangkan Kerajaan Sorga adalah Kerajaan milik Elohim yang ada di Sorga. Jadi, kedua istilah ini memiliki makna yang sama.

 

Didalam Injil Lukas ditegaskan bahwa maksud Bapa mengutus Yesus adalah untuk memberitakan Injil Kerajaan Sorga (4:43, 8:1). Murid-murid juga diutus untuk memberitakan bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat (10:1-12). Seluruh Injil Lukas mengungkapkan pengajaran mengenai Kerajaan Sorga. Walaupun demikian, Kerajaan Sorga adalah suatu misteri (8:10). Hanya mereka yang menerima pewahyuan Kerajaan Sorga yang dapat memahaminya.

 

Lukas menguraikan pelayanan Yesus, mulai dari Galilea (4:14 – 9:50), kemudian perjalanan dari Galilea ke Yerusalem (9:51 – 19:27), dan berakhir di Yerusalem dimana Yesus disalibkan, mati dan dibangkitkan. Semua pelayanan dan pekerjaan yang Yesus lakukan adalah untuk menggenapi apa yang tertulis dalam Taurat Musa, kitab nabi-nabi dan Mazmur (24:44). Ditegaskan bahwa Mesias harus menderita, dan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa, “…dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem “ (24:47).

 

Penekanan pengajaran Kerajaan Elohim dalam Injil Lukas adalah sebagai berikut. Pertama, pengampunan dosa. Pelayanan Yohanes Pembaptis, yang mana mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus, bertujuan untuk memberikan pengertian kepada Umat Tuhan akan keselamatan yang berdasarkan atas pengampunan dosa (1:77; 3:3). Dalam pelayananNya, Tuhan Yesus menegaskan bahwa DiriNya sebagai Anak Manusia, berkuasa mengampuni dosa (5:24; 7:36-50). Pengampunan dosa merupakan hal yang utama dalam pengajaran tentang Kerajaan Elohim. Sekalipun memang ada harga yang harus dibayar oleh anak-anak Tuhan untuk masuk kedalam Kerajaan Elohim, namun dasar seseorang diterima Elohim adalah pengampunan dosa.

 

Kedua, penderitaan. Sesuai dengan Kitab Suci, maka Mesias harus menderita, mati dan dibangkitkan pada hari ketiga (9:22,44; 17:25; 18:31-34; 22:15; 24:26). Karena Mesias harus menderita untuk masuk kedalam KemuliaanNya, maka para pengikutNya juga harus belajar memikul salib dan mengalami penderitaan agar dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Penderitaan merupakan hal yang wajar, dan harus dilalui oleh murid-murid Tuhan. Bahkan Firman Tuhan menegaskan dalam Kis.14:22 bahwa, “…untuk masuk kedalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara “. Jadi, penderitaan merupakan pengajaran penting dalam Kerajaan Elohim.

 

Ketiga, misi kepada Yahudi dan bukan Yahudi. Berulangkali dalam Injil Lukas ditekankan bahwa misi Tuhan Yesus bukan kepada bangsa Yahudi saja, melainkan juga kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi (7:1-10; 9:54-55; 10:33; 13:29; 17:17). Kerajaan Elohim mencakup bangsa Yahudi dan non Yahudi.

 

Keempat, kaya dan miskin. Kerajaan Elohim menaruh perhatian yang khusus kepada orang-orang miskin dan yang tertindas (1:53; 6:20-21,24; 12:16; 16:19; 18:24; 19:1-10).     

 

Selain hal-hal diatas, pengajaran Kerajaan Elohim yang berikutnya adalah tentang doa (11:1-13; 18:1-8), kawanan kecil (10:21-22; 12:32), dan kesembuhan Ilahi (9:6; 10:9). Demikianlah penekanan utama pengajaran Kerajaan Elohim dalam Injil Lukas.

 

Kita lihat bahwa pengajaran Paulus sejalan dengan pesan-pesan Kerajaan Elohim dalam Injil Lukas. Dalam pelayanannya, Paulus memberitakan dan mengajarkan Kerajaan Elohim yang sesuai dengan Injil Lukas.

 

Injil Markus

 

Injil Markus berbicara mengenai Kerajaan Elohim dan Yesus sebagai Putra Elohim, yang memiliki otoritas atas kuasa-kuasa setan, penyakit, dan atas alam jasmani. Berkali-kali Markus menjelaskan otoritas Yesus atas kuasa-kuasa kegelapan (misalnya, 1:27; 3:15; 5:13; 6:7). Juga otoritas Yesus atas segala penyakit (misalnya, 2:1; 5:30). Selanjutnya, juga otoritas Yesus atas alam jasmani, dengan berjalan diatas air dan memberi makan ribuan orang dengan beberapa roti saja. Demikian juga otoritas Yesus dalam hal pengampunan dosa (2:10). 

 

Sekalipun Yesus sebagai Putra Elohim, telah menunjukkan otoritasNya atas segala sesuatu, namun para pemimpin agama Yahudi tidak percaya dan mempertanyakan otoritas Yesus (11:28). Untuk menggenapi segala yang tertulis dalam Kitab Suci bahwa Mesias harus menderita, mati dan dibangkitkan, maka Yesus menyerahkan DiriNya kedalam kehendak Bapa, dan membiarkan para pemimpin agama Yahudi menolakNya serta menyerahkanNya kepada Pontius Pilatus untuk disalibkan. Sebelum terangkat ke Sorga dan duduk disebelah kanan Bapa, Yesus berpesan agar Injil diberitakan kepada segala makhluk, dan siapa yang percaya dan dibaptis, akan diselamatkan (16:15-18).

 

Injil Markus ditujukan kepada para pembaca non Yahudi, dan Injil ini termasuk kedalam pelayanan Paulus. Melalui pelayanan Paulus, otoritas Yesus atas kuasa setan, penyakit, dan alam jasmani, dimanifestasikan.      

 

 

 

IV. PELAYANAN YOHANES

 

Pelayanan Yohanes adalah suatu pelayanan yang termasuk dalam dispensasi misteri, sebagaimana Pelayanan Paulus, tetapi mengungkapkannya lebih jauh lagi. Pelayanan Yohanes mengungkapkan misteri Babel, misteri ketujuh kaki dian emas dan ketujuh bintang, serta berakhirnya misteri Elohim.

 

Untuk dapat memahami Pelayanan Yohanes, kita perlu melihat bahwa gereja telah mulai jatuh pada saat Paulus akan mengakhiri pelayanannya. Gereja mulai menuju kejatuhannya, ketika Paulus bernubuat kepada para penatua gereja di Efesus dalam Kis. 20:29-30 sebagai berikut, “Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka “. Didalam ayat ini Paulus dengan tegas mengatakan bahwa, “Aku tahu “. Jadi, Paulus bukan menerka-nerka, tetapi oleh pewahyuan Roh Kudus, ia jelas mengetahui. Yang diketahui Paulus adalah bahwa dari antara para pemimpin gereja di Efesus, akan ada beberapa orang yang dengan ajaran palsu menarik murid-murid supaya mengikut mereka. Pada awalnya, murid-murid mengikut Tuhan, dan para pemimpin membimbing murid-murid agar bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Tetapi kemudian, para pemimpin menyebarkan ajarannya sendiri dengan maksud menarik murid-murid agar mengikuti mereka. Para pemimpin telah mencuri domba-domba milik Tuhan Yesus. Untuk apa mencuri domba-domba Tuhan Yesus? Untuk keuntungan materi dan untuk kemuliaan diri sendiri. Disinilah awal mula kejatuhan gereja.

 

Kalau kita ingin tahu mengapa gereja pecah menjadi ribuan denominasi, maka jawabnya sangat sederhana, yaitu para pemimpin ingin mengambil keuntungan materi dan keuntungan bagi kemuliaan diri mereka sendiri, dari domba-domba Tuhan Yesus, dengan cara mencurinya melalui ajaran-ajaran palsu. Ajaran palsu disini bukan berarti suatu ajaran yang sangat menyimpang dari aslinya, tetapi sangat mirip dengan aslinya. Ajaran palsu yang sangat popular sekarang ini adalah ajaran perpuluhan dan buah sulung. Ajaran ini asli Perjanjian Lama, tetapi dipalsukan kedalam konteks Perjanjian Baru. Hanya orang-orang yang telah mendapat anugerah Tuhan untuk melihat yang asli, barulah ia dapat mengenali yang palsu. Para pemimpin ini mengambil keuntungan dengan cara melakukan perdagangan didalam gereja, sebagaimana akan kita lihat kelak.  

 

Jadi, jika seseorang telah mulai melihat kejatuhan gereja dan juga tentu saja tidak melibatkan diri didalamnya, barulah ia mulai memahami Pelayanan Yohanes. Orang-orang yang telah melihat kejatuhan gereja dan tidak melibatkan diri didalamnya adalah orang-orang yang berada “diluar perkemahan”.  Yesus dan Yohanes Pembaptis adalah orang-orang yang berada “diluar perkemahan” Yudaisme. Yesus maupun Yohanes Pembaptis tidak mempunyai dan mendapat mimbar/tempat didalam Yudaisme. Jadi, jika kita mau mengikut Tuhan kemana saja Ia memimpin, maka, “… marilah kita pergi kepadaNya di luar perkemahan dan menanggung kehinaanNya “ (Ibrani 13:13).    

 

Di akhir pelayanan Paulus, karena gereja telah mulai jatuh, ia ditinggalkan oleh semua mereka yang di daerah Asia Kecil, termasuk kota Efesus dimana ia telah bernubuat sebelumnya (II Timotius 1:15). Gereja yang tadinya adalah Rumah Elohim dengan segala perabotnya yang mulia, telah menjadi “rumah yang besar” dimana bukan saja terdapat perabot dari emas dan perak, tetapi juga dari kayu dan tanah liat (II Timotius 2:20-21). Jika seseorang menyucikan dirinya, barulah ia menjadi perabot dari emas dan perak. Mengapa demikian? Karena gereja telah jatuh.  

 

Hal dan peristiwa penting yang perlu diketahui selanjutnya untuk dapat mengenal Pelayanan Yohanes adalah, dimana dan kapan Yohanes menjalankan pelayanannya. Setelah peristiwa dimana Paulus maupun Petrus mati martir pada sekitar tahun 67 AD, dan Yerusalem serta Bait Suci dihancurkan tentara Roma pada 70 AD, barulah Yohanes memulai pelayanannya. Dan Yohanes melayani suatu daerah yang kita kenal sebagai Asia Kecil, dimana menurut tradisi ia tinggal dikota Efesus, setelah kembali dari pengucilan dan pembuangan oleh gereja yang telah jatuh di Asia Kecil. Efesus adalah kota dimana Paulus pernah bernubuat akan kejatuhan gereja.

 

Hal dan peristiwa yang kita sebut diatas adalah suatu kenyataan sejarah, namun mempunyai makna rohaninya. Makna rohaninya adalah yang pertama, pewahyuan Yohanes adalah pewahyuan yang terakhir setelah Petrus dan Paulus. Artinya, seseorang baru dapat memahami pewahyuan Yohanes setelah ia memahami pewahyuan Petrus dan Paulus, khususnya pewahyuan Paulus tentang kejatuhan gereja. Kedua, pewahyuan Yohanes ditujukan bagi gereja yang telah jatuh untuk memanggil para pemenang, sebagaimana tertulis dalam Kitab Wahyu 2-3. Ketiga, para pemenang adalah orang-orang yang berada “diluar perkemahan” gereja yang telah jatuh. Para pemenang adalah orang-orang yang dikucilkan oleh gereja yang telah jatuh. Sebagaimana Yesus dan Yohanes Pembaptis tidak mendapat “mimbar” dalam Yudaisme, demikian juga para pemenang tidak mempunyai “mimbar” dalam sistem gereja yang telah jatuh. Inilah hal yang perlu dipahami.

 

Jadi, Pelayanan Yohanes adalah pewahyuan yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang tidak turut ambil bagian dan ambil keuntungan dari sistem gereja yang telah jatuh. Pewahyuan ini dikhususkan bagi orang-orang yang berada “diluar perkemahan”. Pewahyuan ini, pada intinya, adalah misteri Babel, misteri ketujuh kaki dian emas dan ketujuh bintang, serta berakhirnya misteri Allah. Selanjutnya, kita akan melihat Pelayanan Yohanes ini melalui Injilnya, surat-suratnya, dan Kitab Wahyu.

 

Injil Yohanes

 

Injil Yohanes tidak dapat dibandingkan dengan ketiga Injil lainnya. Ketiga Injil lainnya membicarakan pelayanan Yesus mulai dari Galilea, kemudian menuju Yerusalem, dan berakhir dengan kematian dan kebangkitanNya. Tetapi Injil Yohanes menguraikan pelayanan Yesus yang terfokus pada Bait Suci dan percakapan dengan para pemimpin agama Yahudi. Itu sebabnya dalam ketiga Injil lainnya, Yesus seolah-olah hanya satu kali berkunjung ke Yerusalem, sedangkan dalam Injil Yohanes terjadi berkali-kali. Demikian juga cerita mengenai Yesus menyucikan Bait Suci, dalam ketiga Injil lainnya, dijelaskan diakhir pelayanan Yesus, sedangkan dalam Injil Yohanes justru pada awal pelayanan Yesus (Yoh. 2:13-22).

 

Semua ini adalah karena fokus Injil Yohanes adalah pelayanan Yesus di Bait Suci dan juga percakapan Yesus dengan para pemimpin. Ini terjadi karena pelayanan Yohanes adalah pewahyuan Tuhan bagi Umat pilihanNya pada saat gereja telah jatuh, dan ketika Umat pilihanNya telah dikucilkan oleh gereja yang telah jatuh. Kalau kita membuat analoginya, maka persoalannya menjadi sebagai berikut. Bait Suci di zaman Yesus adalah Gereja di zaman Yohanes. Para pemimpin agama Yahudi (Orang-orang Farisi, Saduki dan ahli-ahli Taurat) adalah para pemimpin gereja yang telah jatuh. Para murid di zaman Yesus adalah Umat pilihan Tuhan di zaman Yohanes. Demikianlah analoginya, jika kita membandingkan kondisi di zaman Yesus dan kondisi di zaman Yohanes. 

 

Selain menguraikan pengajaran Yesus di Bait Suci, dan percakapan Yesus dengan para pemimpin agama Yahudi, Injil Yohanes juga terfokus pada uraian siapa Yesus itu sebenarnya. Yesus adalah Firman menjadi manusia, yaitu Elohim menjadi manusia (1:14). Yesus juga adalah Roti Hidup (6:35), Terang Dunia (8:12), Pintu (10:9), Gembala yang baik (10:11), Kebangkitan dan Hidup (11:25), Jalan, Kebenaran dan Hidup (14:6), dan Pokok Anggur (15:5). Semua uraian mengenai siapa Yesus, dan juga mujizat-mujizat yang dilakukanNya, tertulis dalam Injil Yohanes dengan maksud agar Umat pilihan Tuhan percaya bahwa Yesuslah Mesias, Putra Elohim, dan supaya oleh iman, Umat pilihanNya memperoleh Hidup dalam namaNya (20:31). 

 

Injil Yohanes menjelaskan hubungan Yesus dengan Bapa di Sorga sebagai hubungan Bapa dan Anak. Berkali-kali Yesus menegaskan bahwa Ia sebagai Anak, hanya mengerjakan apa yang diperintahkan Bapa kepadaNya, karena Bapalah yang mengutus Anak kedalam dunia. Bagi para pemimpin agama Yahudi, pernyataan Yesus ini membuat Yesus menyamakan DiriNya dengan Elohim. Inilah salah satu alasan mengapa para pemimpin agama Yahudi ingin membunuh Tuhan Yesus (5:18). 

 

Setelah menegaskan bahwa Yesus adalah Firman yang menjadi manusia, maka Injil Yohanes mulai dengan uraian tentang pelayanan Yohanes Pembaptis dan pertemuan Yesus dengan murid-murid yang pertama, serta tanda pertama yang dibuat Yesus didepan murid-muridNya. Setelah semua peristiwa ini, Injil Yohanes langsung masuk kepada cerita mengenai Yesus menyucikan Bait Suci di Yerusalem (2:13-22). Dan uraian selanjutnya banyak berbicara tentang pengajaran Yesus di Bait Suci (7:14,28; 8:2,20,59; 10:23), percakapan Yesus dengan para pemimpin agama Yahudi, dan pelayanan Yesus di Yerusalem. Semua uraian ini berakhir dengan kalimat, “…Sesudah berkata demikian, Yesus pergi bersembunyi dari antara mereka” (12:36).

 

Jelas bahwa Injil Yohanes terfokus pada perbuatan dan perkataan Yesus diseputar Bait Suci di Yerusalem dan para pemimpin agama Yahudi. Hal ini disebabkan Yohanes, oleh pimpinan Roh, hendak menyampaikan pesan-pesannya kepada umat pilihan Tuhan yang ada dalam situasi dimana gereja telah jatuh. Sesungguhnya “Bait Suci” atau gereja pada zaman Yohanes menulis Injilnya ( sekitar 90 AD. di Efesus ) telah jatuh. Nubuat Paulus kepada para penatua gereja di Efesus telah digenapi. Beberapa pemimpin gereja di Efesus, bahkan di wilayah Asia Kecil, telah mulai menarik murid-murid dari Kristus dengan ajaran palsu mereka. Kita akan melihat kelak ajaran-ajaran palsu yang disebar-luaskan para pemimpin dengan maksud mencari pengikut dan menarik murid-murid dari jalan yang benar.

 

Setelah Yesus selesai dengan pengajaranNya di seputar Bait Suci dan percakapanNya dengan para pemimpin agama Yahudi, maka Ia, “…pergi bersembunyi dari antara mereka”. Mengapa Yesus pergi bersembunyi? Yesus pergi bersembunyi karena para pemimpin Yahudi menolak, baik pengajaranNya maupun DiriNya sebagai Mesias. Pasal 12:37-43, merupakan kesimpulan dari semua pelayanan Yesus kepada para pemimpin Yahudi. Ayat 37 menegaskan bahwa, “…meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka (khususnya para pemimpin Yahudi), namun mereka tidak percaya kepadaNya “. Semua ini terjadi agar firman Tuhan melalui nabi Yesaya digenapi.

 

Namun Yohanes juga mencatat bahwa banyak dari para pemimpin yang percaya kepada Yesus (12:42). Tetapi mereka tidak mengakuinya terus terang karena takut dikucilkan. Penyebab takut dikucilkan adalah karena lebih menyukai kemuliaan atau kehormatan manusia, dari pada kemuliaan atau kehormatan Elohim. Artinya, para pemimpin agama Yahudi lebih suka dihormati dan dihargai manusia, dari pada dihormati dan dihargai oleh Elohim sendiri.

 

Perihal dikucilkan ini banyak disinggung dalam Injil Yohanes (9:22, 34-35; 12:42; 16:2; 19:38). Kesembuhan orang yang buta sejak lahirnya merupakan yang pertama kalinya, dimana perihal dikucilkan ini disinggung dalam Injil Yohanes (pasal 9). Kesaksian orang buta yang telah disembuhkan Yesus kepada para pemimpin, membuat ia dikucilkan atau diusir keluar (ayat 34). Ketika Yesus mendengar hal ini, Ia justru datang kepadanya dan memberikan penglihatan rohani. Demikianlah sesungguhnya, bagi Umat pilihan Tuhan yang telah dikucilkan oleh gereja yang telah jatuh, maka Yesus akan datang dan memberikan penglihatan rohani kepada mereka. Yesus sendiri juga memperingati bahwa Umat pilihanNya akan dikucilkan (16:2). Maksud Yesus terutama bukan dikucilkan oleh orang dunia, melainkan oleh gereja yang telah jatuh.

 

Selanjutnya, Injil Yohanes menguraikan percakapan Yesus, dan juga doa Yesus bagi murid-muridNya di malam terakhir pelayananNya (pasal 13 – 17). Ini merupakan pesan-pesan terakhir Yesus kepada orang-orang yang dipilihNya. Didalam ketiga Injil lainnya, peristiwa ini tidak dicatat. Sekali lagi, hal ini mempertegas bahwa Injil Yohanes ditujukan terutama bagi Umat pilihanNya, dalam arti seperti yang telah diuraikan sebelumnya.

 

Setelah kematian dan kebangkitanNya, Injil ini ditutup oleh cerita mengenai penampakkan Yesus yang telah bangkit kepada murid-muridNya. Dan juga kesaksian Yohanes sendiri bahwa apa yang telah ditulisnya adalah benar.

 

Disepanjang Injilnya, Yohanes banyak mengungkapkan perihal percaya dan memperoleh Hidup dalam NamaNya. Tetapi karena Injil ini banyak menceritakan percakapan Yesus dengan para pemimpin agama Yahudi, maka didalam Injil ini terungkap beberapa alasan mengapa pemimpin agama Yahudi tidak percaya kepada Yesus. Hal ini perlu kita bahas karena secara analogi, seperti yang telah disebut sebelumnya, bahwa para pemimpin agama Yahudi pada zaman Yesus adalah para pemimpin gereja yang telah jatuh disepanjang sejarah gereja yang gelap.

 

Alasan pertama mengapa para pemimpin tidak percaya Yesus adalah karena tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa (5:44). Kedua, ajaran yang menyimpang dan palsu (khusus mengenai hari Sabat, 5:16; 9:16). Ketiga, tidak termasuk domba-domba Yesus yang sesungguhnya (10:26). Keempat, menggenapi nubuat Yesaya (12:38-40; 43). Kelima, tidak dipilih Bapa (6:37). Demikianlah beberapa alasan mengapa para pemimpin, baik pemimpin Yahudi maupun pemimpin gereja yang telah jatuh, tidak dapat sungguh-sungguh percaya kepada Yesus. 

 

Tetapi satu hal perlu kita ingat didalam Injil Yohanes ini yaitu bahwa Tuhan Yesus akan menarik SEMUA ORANG apabila Ia telah ditinggikan, dalam arti disalib, dibangkitkan dan duduk disebelah kanan Bapa (Yohanes 12:32).

 

Surat Yohanes.

 

Yohanes menulis suratnya dari Efesus sekitar tahun 90 M, dimana ia melayani setelah kehancuran Yerusalem dan Bait Suci. Yohanes menulis suratnya kepada orang-orang Kristen di sekitar kota Efesus. Ketiga surat Yohanes memiliki tema dan pokok pikiran yang sama, yaitu fellowship atau persekutuan. Persekutuan adalah terjemahan kata Yunani koinonia. Koinonia mempunyai makna yang lebih dalam dari sekedar kebersamaan atau partnership, karena koinonia berarti saling berbagi hidup dan memiliki segala sesuatu secara bersama-sama, sebagaimana yang terjadi pada jemaat mula-mula di Yerusalem. Jika kata koinonia diterapkan pada hubungan antara Kristus dan jemaat, maka ini berarti adanya kesatuan Hidup antara keduanya, seperti pokok anggur dan ranting-rantingnya. Makna yang dalam seperti inilah yang digunakan Yohanes dalam surat-suratnya.

 

Ketika Yohanes menulis suratnya, gereja telah mulai jatuh karena adanya “Diotrefes-Diotrefes” di dalam gereja, dan adanya ajaran sesat dari para pengajar palsu. Ajaran sesat yang dimaksud adalah Gnostic, berasal dari gnosis, artinya pengetahuan. Para penganutnya menganggap diri lebih tinggi dari orang Kristen biasa, karena mereka memiliki “pengetahuan tersembunyi” yang tidak dimiliki oleh orang Kristen lainnya. Menurut Cerinthus (akhir abad Pertama), salah satu pengajar Gnostic, menyatakan bahwa keberadaan Ilahi tidak dapat menyatu dengan keberadaan Zat (matter), karena matter adalah sesuatu yang jahat. Jadi, Yesus sebagai manusia biasa (matter) tidak dapat menyatu dengan Kristus, yang adalah keberadaan Ilahi. Oleh sebab itu, menurut Cerinthus, Kristus datang pada Yesus pada saat pembaptisanNya, dan kemudian meninggalkanNya sesaat sebelum penyalibanNya. Ajaran ini otomatis membuat penebusan menjadi tidak ada artinya. Darah Yesus, dosa, pertobatan, kelahiran dari seorang perawan, benar-salah, hukum tabur-tuai, menjadi tidak berarti sama sekali. Inilah anti-Kristus itu.

 

Apakah ajaran-ajaran Gnostic masih ada saat ini?  Tentu saja, sebab tidak ada sesuatu yang dapat dikatakan baru di muka bumi ini. Akar-akar dari ajaran yang terkandung dalam gerakan New Age (Zaman Baru), berasal dari ajaran Gnostic. Gerakan New Age ini telah menyerbu kekristenan. Hampir di setiap toko-toko buku Kristen terdapat buku-buku New Age. Para penulis “Kristen” ini suka juga menggunakan istilah-istilah yang telah biasa dipakai dalam kekristenan, seperti lahir baru, lahir dari atas, Kristus dsb, namun memberi makna yang lain terhadapnya. Bagi penulis “Kristen” ini, tidak ada darah Yesus, tidak ada pertobatan melainkan hanya merubah kesadaran diri saja yang perlu. Tanpa menekankan pertobatan sejati, dan tanpa darah Yesus, para penulis “Kristen” ini mengatakan bahwa didalam diri setiap orang ada Kristus, ada Elohim, dan ada potensi yang luar biasa. Tinggal merubah kesadaran kita saja maka, menurut mereka, kita akan menjadi manusia Elohim, persis seperti janji Iblis dalam Kejadian 3:5, “…kamu akan menjadi seperti Allah”. Inilah anti-Kristus itu.                    

 

I Yohanes

 

Surat I Yohanes memiliki tema pokok koinonia atau persekutuan. Yohanes menegaskan bahwa persekutuannya adalah dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus (1:3). Dan Yohanes memberitakan pesan-pesannya agar orang-orang Kristen, khususnya di sekitar Efesus, memperoleh persekutuan juga dengannya.

 

Mengapa Yohanes menekankan persekutuan dengannya, dan juga menekankan bahwa persekutuannya adalah dengan Bapa dan dengan AnakNya, seolah-olah orang-orang Kristen disekitar Efesus tidak mempunyai persekutuan dengannya, dengan Bapa dan juga dengan AnakNya?  Semua ini disebabkan karena gereja telah diracuni oleh “Diotrefes-Diotrefes” dan ajaran-ajaran Gnostic, yang bagi Yohanes adalah anti-Kristus. Itu sebabnya Yohanes perlu memberitakan pesan-pesannya agar ditaati oleh orang-orang Kristen di sekitar Efesus, sehingga mereka mempunyai persekutuan dengannya. Bagi Yohanes, jika seseorang tidak tetap didalam ajaran Kristus, maka ia tidak memiliki lagi persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus.

 

Pesan-pesan Yohanes pada intinya ialah Elohim adalah Terang, karena itu haruslah kita hidup dalam Terang. Demikian juga Elohim adalah Kasih, karena itu haruslah kita saling mengasihi. Yohanes juga menegaskan bahwa Yesus adalah Kristus, sebagai bantahan terhadap ajaran Gnostic. Demikian juga bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, yang membantah para pengikut Docetic (ajaran yang mengatakan bahwa tubuh Tuhan Yesus hanya kelihatannya saja berbentuk materi ). Jadi, jika seseorang menuruti pesan-pesan yang disampaikan Rasul Yohanes, maka ia beroleh persekutuan dengannya, dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus.

 

II Yohanes    

 

Sekalipun kata koinonia tidak terdapat dalam II Yohanes, namun ide dan spirit persekutuan (koinonia) terdapat didalamnya. Setelah Yohanes mengingatkan bahwa kita harus saling mengasihi, maka ia menegaskan bahwa kita jangan menerima orang yang menganut ajaran sesat (Gnostic) di rumah kita. Jangan menerima seseorang di rumah kita, sama artinya dengan jangan bersekutu dengannya atau jangan memiliki koinonia dengannya. Mengapa? Karena ia adalah anti-Kristus.

 

III Yohanes

 

Surat III Yohanes juga berbicara mengenai koinonia. Disini Yohanes memuji perbuatan Gayus yang menerima dan menolong saudara-saudara dalam Tuhan, dan ini merupakan buah dari koinonia diantara orang-orang kudus. Tetapi Yohanes juga mengingatkan kita atas perbuatan Diotrefes yang mencoba untuk menghancurkan koinonia dalam jemaat karena sifatnya yang ingin menjadi orang terkemuka. Diotrefes ini tidak mau menerima Yohanes dan saudara-saudara dalam Kristus lainnya. Bahkan ia mengucilkan orang-orang yang mau menerima mereka. Semangat Diotrefes inilah yang mendasari timbulnya begitu banyak denominasi di dalam kekristenan saat ini. Para “Diotrefes” zaman ini juga mengucilkan orang-orang yang memiliki koinonia dengan Rasul Yohanes, dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus. Itu sebabnya kita tegaskan bahwa Rasul Yohanes beserta dengan orang-orang kudus sepanjang zaman adalah orang-orang yang berada diluar “perkemahan”.  

 

Kitab Wahyu  

 

Yohanes menulis kitab Wahyu dari pulau yang bernama Patmos, yaitu suatu pulau kecil (memiliki panjang sekitar 12 km, lebar 7 km) dan berjarak sekitar 55 km dari Asia Kecil. Yohanes berada di pulau ini ketika ia dikucilkan dan dibuang karena firman Allah (1:9). Keberadaan Yohanes sebagai orang yang dikucilkan di pulau Patmos ini bersesuaian dengan keberadaannya secara spiritual. Yohanes adalah seorang yang berada “di luar perkemahan” gereja-gereja di Asia kecil yang telah jatuh. Kita mengetahui bahwa gereja-gereja di Asia Kecil telah jatuh, karena didalam Wahyu 2-3, Yohanes memanggil para pemenang dan menantang jemaat yang memiliki telinga agar mendengarkan firman Elohim. Jika memang semua anggota jemaat adalah para pemenang, dan memiliki telinga untuk mendengarkan firman Elohim, maka tentu Yohanes tidak memanggil para pemenang untuk bangkit dan tidak menantang anggota jemaat yang memiliki telinga untuk mendengarkan firman Elohim. Justru karena gereja telah jatuh maka Yohanes memanggil para pemenang. Dan jika beberapa anggota jemaat mendengarkan firman Tuhan serta bangkit sebagai pemenang, maka ia juga akan memperoleh koinonia (persekutuan) dengan Rasul Yohanes, dan akan berada “di luar perkemahan” gereja gereja yang telah jatuh. Di sepanjang sejarah gereja, garis para pemenang tidak pernah putus. Artinya, Tuhan selalu mempunyai orang-orangNya yang berada “di luar perkemahan” gereja yang telah jatuh di zaman mereka.

 

Kitab Wahyu mengungkapkan atau mewahyukan Yesus Kristus. Artinya, kitab ini bukan mewahyukan kejadian-kejadian yang akan menimpa dunia ini, tetapi mewahyukan suatu Pribadi, yaitu Yesus Kristus, kepada Umat pilihanNya. Karena Yesus Kristus adalah Kepala gereja, maka pewahyuan Yesus Kristus juga otomatis akan mewahyukan gereja, sebagai TubuhNya.

 

Kita akan membandingkan beberapa ayat yang sering muncul dalam kitab ini, agar kita dapat menarik kesimpulan untuk mengetahui sifat dasar kitab Wahyu. Wahyu 1:1 menegaskan, “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepadaNya supaya ditunjukkanNya kepada hamba-hambaNya apa yang harus segera terjadi”. Kalimat “apa yang harus segera terjadi” juga ada didalam Wahyu 1:19, 4:1, dan pasal terakhir yaitu, 22:6. Sekarang kita lihat Wahyu 1:7, demikian tertulis, “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan…”. Kalimat yang berbicara tentang kedatangan Tuhan, muncul 3 kali pada pasal terakhir, yaitu 22: 7, 12 dan ayat 20. Bahkan Yohanes memberi respon dengan berkata, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus “. Jika kita bandingkan kedua ide yang berulang-ulang muncul ini, yaitu tentang apa yang harus segera terjadi dan tentang kedatangan Tuhan, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa apa yang harus segera terjadi ADALAH kedatangan Tuhan. Tetapi karena Kitab Wahyu ditujukan bagi hamba-hambaNya (1:1), maka apa yang harus segera terjadi adalah kedatangan Tuhan DIDALAM dan MELALUI hamba-hambaNya. Inilah sifat dasar kitab Wahyu. Kitab Wahyu mengungkapkan atau mewahyukan tentang kedatangan Tuhan Yesus Kristus didalam dan melalui hamba-hambaNya.        

 

Banyak orang menyangka kedatangan Tuhan Yesus akan terjadi secara jasmani dan luaran. Artinya, Tuhan Yesus akan datang dengan tubuh jasmani sebagaimana Ia pernah datang dan lahir kedalam dunia ini 2000 tahun yang lalu. Jika seperti ini pengertian kita tentang kedatangan Tuhan, maka kita akan melakukan kesalahan yang sama dengan yang dilakukan para pemimpin agama Yahudi pada masa dimana Tuhan Yesus dilahirkan oleh seorang gadis kedalam dunia ini. Sebab para pemimpin Yahudi pada masa itu memiliki pengertian tentang kedatangan Mesias sebagai Raja Agung, dalam arti seorang pemimpin karismatik yang mempunyai kuasa dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan. Karena para pemimpin Yahudi berharap kedatangan Mesias sebagai cara Elohim untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penindasan bangsa Roma, dan sebagai penggenapan nubuat-nubuat PL secara jasmani. Ketika Mesias datang sebagai Yesus dari Nazaret, mereka menolakNya. Penolakan para pemimpin Yahudi ini, disebabkan pemahaman mereka tentang kedatangan Mesias tidak sama dengan pengertian firman Elohim. Mungkin banyak orang Kristen saat ini yang “menolak” kedatangan Yesus, karena mereka memiliki konsep kedatangan Tuhan yang berbeda dengan yang dimaksud oleh firman Tuhan.

 

Kedatangan Tuhan Yesus tidak terjadi secara jasmani dalam bentuk seorang laki-laki dewasa. Yohanes mengungkapkan pada kita, pengertian tentang kedatangan Tuhan sebagai berikut. Dalam Injilnya, Yohanes menulis ucapan Tuhan Yesus pada malam terakhir sebelum Ia disalibkan bahwa, “Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku “ (Yohanes 16: 16). Maksud Yesus disini adalah tinggal sesaat saja murid-murid tidak melihat Yesus, karena Ia akan mati dikayu salib keesokan harinya. Tetapi murid-murid akan melihatNya lagi ketika Roh Kudus datang pada hari Pentakosta. Karenanya, kedatangan Tuhan terjadi ketika Roh Kudus turun dan mendiami murid-murid. Ketika itulah murid-murid melihat Tuhan kembali. Jadi Yesus datang kepada murid-muridNya, didalam dan melalui RohNya. Inilah makna kedatangan Tuhan.

 

Tuhan Yesus datang berulang kali kepada hamba-hambaNya, ketika Ia mewahyukan DiriNya kepada mereka DIDALAM dan MELALUI ROHNYA. Itu sebabnya, didalam Alkitab tidak ada istilah “kedatangan Tuhan yang kedua kali”. Mengapa muncul istilah “kedatangan kedua kali“, sekalipun istilah ini tidak ada didalam Alkitab, dan firman Tuhan tidak pernah mewahyukan konsep  “kedatangan Tuhan kedua kali” ? Istilah ini muncul karena konsep yang keliru tentang kedatangan Tuhan, seolah-olah Tuhan akan datang secara jasmani seperti kedatanganNya yang pertama kali. Jadi, sebenarnya, Tuhan datang berulang kali kepada hamba-hambaNya melalui pewahyuan DiriNya, sampai genap rencana Bapa. Kedatangan Tuhan dengan pengertian seperti inilah yang diungkapkan dalam kitab Wahyu.  

 

Kedatangan Tuhan Yesus tidak hanya terjadi DIDALAM hamba-hambaNya, tetapi juga MELALUI hamba-hambaNya. Roma 8:19 menjelaskan kedatangan Tuhan MELALUI hamba-hambaNya yang terjadi saat anak-anak Elohim dinyatakan. Kitab Wahyu mengungkapkannya dengan istilah “datang dengan awan-awan“ (Wahyu 1:7). Awan-awan adalah saksi-saksi Tuhan (Ibrani 12:1). Jadi, Tuhan datang melalui hamba-hambaNya.

 

Hal yang perlu kita perhatikan selanjutnya adalah bahwa Kitab Wahyu berbicara kepada kita dengan bahasa simbol. Wahyu 1:1 menegaskan, “…Ia telah menyatakannya (signified) kepada hambaNya Yohanes “. Kata menyatakannya berasal dari akar kata Yunani sema, yang artinya tanda (suatu simbol). Dalam bahasa Inggris, signified berasal dari sign (tanda). Maka maksud Wahyu 1:1 yang kita kutip diatas ialah bahwa Tuhan Yesus menyampaikan wahyuNya kepada Yohanes dengan suatu TANDA atau SIMBOL.  Jadi, bahasa dalam kitab Wahyu tidak dapat diartikan secara harfiah. Sebagai contoh, kita lihat Wahyu 12:1 dimana tertulis, “…Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang diatas kepalanya “. Perempuan disini tentu bukan perempuan dalam arti harfiah, karena tidak mungkin seorang perempuan dapat demikian dekat dengan matahari tanpa menjadi hangus, dan juga tidak mungkin seorang perempuan bermahkota dari bintang-bintang. Perempuan disini adalah simbol, demikian juga matahari, bulan dan bintang, semuanya adalah simbol. Hampir seluruh istilah dalam kitab Wahyu adalah simbol, dan tidak dapat diartikan secara harfiah. Jika kita mengartikan istilah-istilah dalam kitab Wahyu secara harfiah, maka kitab ini menjadi kitab yang sangat negatif, bahkan menakutkan. Padahal kitab Wahyu sangat positif, dan merupakan tindakan pemulihan Elohim terhadap ciptaan yang telah jatuh. Tuhan bertindak sedemikian terhadap “bumi” dan “laut”, sehingga menjadi “langit” dan “bumi” yang baru, dimana tidak ada lagi “laut” (21:1). “Bumi” dan “laut” adalah simbol untuk ciptaan yang telah jatuh, dan Tuhan memulihkan sedemikian sehingga menjadi baru. Kitab Wahyu dapat disebut sebagai kitab pemulihan Tuhan karena, “…Aku menjadikan segala sesuatu baru…” (21:5).   

 

Namun Tuhan memulihkan ciptaan lama melalui hamba-hambaNya. Didalam kitab Wahyu, hamba-hamba Tuhan yang dipakai menjadi alatNya disebut sebagai raja-raja dan imam-imam (1:6; 5:10; 20:4,6; 22:5). Hamba-hamba Tuhan ini perlu diproses sedemikian sehingga menjadi raja-raja dan imam-imam. Hamba-hamba Tuhan ini memerintah sebagai raja dan berfungsi sebagai imam, bukan untuk meninggikan diri sendiri, melainkan demi PEMULIHAN TUHAN ATAS SEGALA SESUATU. Hamba-hamba Tuhan ini adalah para pemenang di setiap zaman gereja.

 

Telah ditegaskan sebelumnya bahwa Pelayanan Yohanes adalah suatu pelayanan yang termasuk dalam dispensasi misteri seperti juga Pelayanan Paulus, tetapi mengungkapkannya lebih jauh lagi. Pelayanan Yohanes mengungkapkan misteri Babel, misteri ketujuh kaki dian emas dan ketujuh bintang, serta berakhirnya misteri Elohim. Semua misteri-misteri ini diungkapkan dalam kitab Wahyu.

 

Sebagaimana telah ditegaskan sebelumnya bahwa kitab Wahyu mengungkapkan tentang Tuhan Yesus, maka otomatis juga mewahyukan tentang TubuhNya. Dalam tulisan ini, kita secara khusus akan melihat misteri Babel karena misteri ini mewahyukan pada kita mengenai Tubuh Kristus yang dilambangkan oleh dua perempuan. Yang pertama, perempuan di pasal 12, dan yang kedua perempuan di pasal 17-18. Kita patut merenungkan kedua perempuan yang melambangkan Tubuh Kristus ini, karena kedua perempuan ini memiliki beberapa perbedaan mendasar sekalipun keduanya melambangkan hal yang sama. Perempuan di pasal 12 nampaknya sama dengan Maria yang mengandung bayi Yesus, sekalipun masih perawan. Tetapi perempuan di pasal 17 adalah pelacur. Perempuan di pasal 12 melahirkan anak laki-laki yang akan menggembalakan semua bangsa, tetapi perempuan di pasal 17 justru akan mengalami kehancuran total pada waktunya. Perempuan di pasal 12 bermahkota dua belas bintang, yang melambangkan pemerintahan Ilahi, tetapi perempuan di pasal 17 ditopang oleh binatang, yang melambangkan pemerintahan manusia. Perempuan di pasal 12 berselubungkan matahari, yang melambangkan Roh Kristus, tetapi perempuan di pasal 17 menjadi tempat kediaman roh-roh jahat (18:2).

 

Perbedaan-perbedaan mendasar yang telah diuraikan diatas mungkin akan lebih banyak lagi, jika harus disebutkan satu per satu. Tetapi yang harus diperhatikan oleh Umat pilihanNya adalah perintah dari Sorga yang berkata, “…pergilah kamu, hai umatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. “ (18:4). Didalam kedua perempuan ini terdapat anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh telah lahir baru. Tetapi bagi Umat pilihanNya yang masih berada didalam perempuan pasal 17, perintah dari Sorga tegas agar meninggalkannya.

 

Satu ciri lain dari perempuan pasal 17-18 yang patut kita perhatikan adalah adanya perdagangan didalamnya (18:11-15). Ini mengingatkan kita pada kejadian dimana Yesus mengusir para pedagang di Bait Suci. Para pemimpin agama Yahudi pada waktu itu telah membuat Bait Suci menjadi tempat berjualan. Jika mata kita tercelik, kita juga dapat melihat begitu banyaknya perdagangan didalam dunia kekristenan saat ini. Sejarah kekristenan memang sangat menyedihkan. Ketika sampai di Yunani, kekristenan telah menjadi semacam filsafat saja (Origen, Augustine, dll). Ketika sampai di Roma, maka kekristenan menjadi suatu lembaga keagamaan (Gereja Katolik Roma). Setelah sampai di Eropa, kekristenan menjadi suatu kebudayaan (the British Christian culture). Dan, ketika sampai di Amerika, kekristenan telah menjadi barang dagangan. Jutaan dolar dihabiskan setiap tahunnya untuk memperdagangkan kekristenan. Tetapi semua ini terjadi untuk menggenapi penglihatan yang telah dilihat Rasul Yohanes.

 

Umat pilihanNya yang berada “di luar perkemahan” dunia kekristenan, tentu tidak melakukan perdagangan dalam pelayanannya. Sementara banyak orang menganggap jika seseorang melayani dan menjadi kaya karena pelayanannya, maka itu tanda ia diberkati Tuhan, namun Umat pilihanNya justru belajar seperti Yesus yang membagikan firman secara cuma-cuma dan juga roti kepada orang-orang yang dilayani.

 

Misteri lain yang diungkapkan dalam pelayanan Yohanes adalah misteri ketujuh bintang dan ketujuh kaki dian emas, serta berakhirnya misteri Elohim. Kita tidak akan menguraikan misteri ketujuh bintang dan ketujuh kaki dian, saat ini. Tetapi kita akan melihat sedikit mengenai misteri Elohim dari kitab Wahyu 10:7, “Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti yang telah Ia beritakan kepada hamba-hambaNya, yaitu para nabi”. Ketika sangkakala ketujuh ditiup, maka pemerintahan dunia ini dipegang oleh Tuhan dan gerejaNya, yaitu para pemenang yang diurapi Tuhan (Wahyu 11:15). Dan kalau kita baca pasal-pasal selanjutnya kitab Wahyu, maka para pemenang ini akan memerintah dizaman2 berikutnya sampai Bapa menjadi semua dalam semua, sampai Langit dan Bumi yang baru, sampai maut dikalahkan dan sampai semua manusia diselamatkan (Wahyu 21:1-5).

 

 

V. KESIMPULAN

 

Amos 3:3 menegaskan, “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji? “. Berjanji disini artinya bersepakat, satu tujuan dan bersehati. Jika kita rindu berjalan bersama dengan Elohim, maka tidak ada jalan lain kecuali kita harus bersepakat, bersehati dan memiliki satu tujuan denganNya.

 

Bagaimana kita dapat satu tujuan dan bersepakat denganNya?  Kita perlu mendengarkan firmanNya dengan sungguh-sungguh. Banyak orang rindu melayani Tuhan. Tetapi sadarkah kita bahwa melayani Tuhan artinya MELAKUKAN  KEHENDAKNYA?  Dan kita tidak mungkin melakukan kehendakNya, jika kita tidak mengetahui kehendakNya. Dan kita tidak mungkin mengetahui kehendakNya, jika kita TIDAK MENDENGARKAN FIRMANNYA ?  Bagaimana kita dapat mendengarkan firmanNya, jika kita tidak sadar bahwa Tuhan telah berbicara TIGA KALI kepada gerejaNya?

 

Kesimpulan kita kali ini adalah suatu pandangan atau keyakinan sebagai hasil dari seluruh uraian kita mengenai trilogi. Pandangan dan keyakinan kami adalah bahwa tidak mungkin seseorang melayani Tuhan, jika ia tidak memahami firmanNya yang telah diucapkanNya tiga kali kepada gerejaNya. Juga tidak mungkin seseorang dapat berjalan bersamaNya sampai kepada akhirnya. Semoga Umat PilihanNya mendengarkan firmanNya, AMIN.   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yayasan Suara dari patmos

 

 

Jln. Jaha No. 5

Cilandak Timur

Jakarta, 12560

 

komunitaspatmos@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    

 

      

               

                    

 

 

 

 

 

   

    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments