Hari Raya Israel dan Penggenapannya.

 

Hari Raya Israel dan Penggenapannya

Oleh: Irnawan Silitonga

Saat ini kita akan membahas mengenai hari-hari raya Israel dan penggenapannya. Ada 7 hari raya Israel, dimana tiga diantaranya biasa disebut hari raya yang utama. Tiga kali dalam setahun bangsa Israel harus datang ke Yerusalem untuk merayakannya. Ulangan 16:16, menegaskan, “Tiga kali dalam setahun setiap laki-laki di antaramu harus terlihat dihadapan YAHWEH, Elohimmu, ditempat yang akan Dia pilih, yaitu pada hari raya Roti Tidak Beragi, dan pada hari raya Tujuh Pekan, dan pada hari raya Sukkot….” (ILT).

Mari kita langsung melihat hari-hari raya ini. Pertama, hari raya Paskah (Imamat 23:4-5). Kedua, hari raya Roti Tidak Beragi (Imamat 23:6-8). Ketiga, hari raya Berkas Buah Sulung (Imamat 23:9-14, The feast of the Sheaf of Firstfruit). Keempat, hari raya Pentakosta atau Tujuh Pekan (Imamat 23:15-22). Kelima, hari raya Peniupan Nafiri (Imamat 23:23-25). Keenam, hari raya Pendamaian (Imamat 23:26-32). Ketujuh, hari raya Pondok Daun (Imamat 23:33-44). Hari raya Paskah terjadi dibulan pertama, hari raya Pentakosta terjadi dibulan ketiga, dan hari raya Pondok Daun terjadi dibulan ketujuh.

Demikianlah secara ringkas hari-hari raya Israel. Sebelum kita lanjut, perlu kita tegaskan dahulu prinsip penafsiran seperti apa yang kita gunakan untuk memaknai penggenapan hari-hari raya Israel ini. Ada beberapa penafsir yang memaknai penggenapan hari-hari raya Israel ini sebagai suatu PERISTIWA LUARAN yang akan dialami gereja. Sebagai contoh, berdasarkan prinsip penafsiran ini maka gereja akan mengalami “pengangkatan (rapture)” pada penggenapan hari raya tertentu. Juga, penggenapan hari raya tertentu terkait dengan suatu konsep mengenai “kedatangan Yesus kedua kali”, dan sebagainya.

Tetapi kita akan memaknai penggenapan hari-hari raya Israel ini sebagai PENGALAMAN BATINIAH orang percaya (gereja). Secara umum, penggenapan hari-hari raya Israel ini menggenapi Roma 8:19-21, dan Galatia 2:20. Kita tidak mengutip kedua ayat ini, namun kedua ayat ini berbicara mengenai pengalaman orang percaya, dimana ‘Kristus didalam batin yang adalah hidup kita’ bertumbuh dan termanifestasi.

Tentu kita tidak berbicara pengalaman rohani seperti terguncang-guncang, rebah, kejang2, atau loncat2 dan sebagainya, serta langsung memaknainya sebagai pengalaman “kepenuhan Roh Kudus”. Pengalaman rohani sejati pastilah memiliki dasar dalam Kitab Suci. Kita tahu bahwa semua perabot  didalam Kemah Musa atau Bait Suci merupakan simbol dari pengalaman2 rohani orang percaya. Kita jangan sampai menafsirkan setiap pengalaman “super natural” sebagai pengalaman rohani sejati.

Tetapi juga, kita jangan sampai jatuh ke ekstrim yang lain, dimana semua pengalaman2 “super natural” ditolak, dengan alasan, yang penting adalah pemahaman Kitab Suci. Mari kita perhatikan perkataan Yesus kepada orang2 Saduki dalam Matius 22:29, demikian, “…Kamu tersesat, karena tidak memahami kitab suci maupun kuasa Elohim” (ILT). Jadi, seseorang tersesat jika ia tidak memahami Kitab Suci dan juga tidak mempunyai pengalaman rohani sejati dengan kuasa Elohim.

Setiap pengalaman rohani sejati pastilah membuat seseorang bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan rencanaNya. Bertumbuh dalam kasihnya kepada Tuhan. Bertumbuh ‘Kristus didalam batinnya’. Jadi, prinsip penafsiran kita terhadap penggenapan hari2 raya Israel ini ‘bersifat batiniah’.

Telah kita tegaskan bahwa penggenapan hari-hari raya Israel ini merupakan pengalaman batiniah orang percaya (gereja), dimana secara umum, penggenapan hari-hari raya Israel ini menggenapi Roma 8:19-21, dan Galatia 2:20. Hal ini berarti bahwa ‘Kristus didalam batin yang adalah hidup kita’ bertumbuh dan termanifestasi. Gereja akan mengalami ‘pengalaman batiniah didalam Kristus’ sebagai penggenapan hari-hari raya Israel.

Namun, sebagaimana kita ketahui, gereja telah jatuh dan pecah menjadi ribuan denominasi. Kejatuhan gereja ini memang telah dinyatakan kepada kita didalam kitab2 PB, terutama perkataan Paulus dalam Kis. 20:28-30, serta pewahyuan yang diterima rasul Yohanes di Pulau Patmos mengenai kejatuhan gereja (Wahyu 2-3). Serigala ganas telah menyerang para pemimpin gereja sedemikian sehingga para pemimpin ini menarik para pengikut dengan ajaran palsu dan mendirikan kerajaannya sendiri. Didalam Wahyu 2-3, dijelaskan trilogi ajaran palsu, yaitu ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus, yang telah membuat kondisi gereja menjadi seperti sekarang ini.

Dalam kondisi gereja yang telah jatuh ini, maka firman Tuhan memanggil para pemenang dalam setiap tipe/zaman gereja (Wahyu 2-3). Didalam tujuh gereja di Asia kecil yang menggambarkan gereja sepanjang zaman ini, terdapat panggilan, “Barangsiapa menang…”. Kemudian, setelah firman Tuhan memanggil para pemenang ini, maka dilanjutkan dengan “bagian/upah” bagi para pemenang. Bagian atau upah para pemenang ini merupakan suatu ‘pengalaman batiniah’ bersama Kristus, dan merupakan penggenapan hari2 raya Israel.

Mari kita melihat lebih jauh mengenai para pemenang ini agar kita tidak keliru terhadapnya, serta menganggap para pemenang ini adalah ‘orang-orang hebat dan terkenal’ dalam dunia kekristenan. Lukas 12:32, menegaskan, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”. Konteks ayat ini adalah perkataan Yesus kepada murid2Nya agar jangan kuatir mengenai soal makanan dan minuman. Dan Yesus memberi perintah supaya mencari Kerajaan Sorga lebih dahulu (ayat 31). Tetapi selanjutnya, Yesus menyatakan keputusan Bapa bahwa Ia telah berkenan memberikan Kerajaan Sorga itu.

Disini, murid2 Yesus, yang kepada mereka, Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga, disebut ‘kawanan kecil’. Istilah Yunani mikros yang diterjemahkan ‘kecil’ disini, bukan saja berarti kecil dalam jumlah atau kuantitas, tetapi juga berarti kecil dalam ‘dignity’ (kemuliaan dan kehormatan). Hal ini sangat bermakna sekali, sebab didalam dunia kekristenan dimana gereja telah pecah menjadi ribuan denominasi, maka ‘ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih’. Sedikit yang dipilih ini adalah orang2 “sederhana” dalam dunia kekristenan. 

Kita harus jelas mengenai hal ini sebelum kita menguraikan penggenapan hari2 raya Israel. Para pemenang atau “orang2 kecil” dalam dunia kekristenan ini, semata-mata mendapatkan ‘kerajaan sorga’ hanya oleh keputusan dan kedaulatan Bapa saja. Bukan karena ‘kawanan kecil’ ini hebat, terkenal, memiliki karunia Roh yang banyak, atau “dipakai Tuhan luar biasa”, maka Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga. Tidak demikian. Jelas bahwa ‘kawanan kecil’ ini semata-mata mendapatkan kasih karunia dan diberikan kerajaan sorga secara cuma-cuma oleh Bapa di sorga.

Kerajaan sorga itu telah diberikan Bapa kepada ‘kawanan kecil’ SEKARANG, SAAT INI, dan DISINI, DIBUMI INI. ‘The Kingdom of God is within you’. Kawanan kecil telah menikmati dan mengalami kerajaan sorga sekarang dibumi ini, walaupun kerajaan sorga ini belum ditampilkan sepenuhnya di bumi. Sementara ‘kawanan besar’ dalam dunia kekristenan menantikan “sorga nun jauh disana”, suatu tempat yang menyenangkan, yang konon akan diterima setelah mati nanti, maka ‘kawanan kecil’, oleh kasih karunia Bapa, telah menerima dan menikmatinya sekarang, walau tentu belum sepenuhnya karena kerajaan sorga belum termanifestasi seluruhnya dimuka bumi ini.  

Kita tahu bahwa ‘kawanan kecil’ ini mendapatkan kasih karunia dan diberikan kerajaan sorga secara cuma-cuma oleh Bapa di sorga, semata-mata hanya oleh keputusan dan kedaulatan Bapa saja. Walaupun diberikan dengan cuma-cuma, Bapa di sorga membentuk dan memproses ‘kawanan kecil’ agar dapat berfungsi sebagai raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek. Sebab, kerajaan sorga seperti diuraikan Alkitab berbeda dengan konsep sorga yang telah dipercaya oleh mayoritas orang kristen.

Konsep sorga yang sering diberitakan dimimbar-mimbar minggu umumnya merupakan suatu tempat yang menyenangkan nun jauh disana, dimana orang hanya menyanyi-nyanyi saja kerjanya. Orang kristen yang masuk sorga model seperti ini memang tidak perlu dipersiapkan sama sekali. Bayi-bayi rohani, ataupun siapa saja dapat dimasukkan kedalam sorga model seperti ini. Tetapi, sorga yang diwahyukan Alkitab itu berbentuk kerajaan yang akan ditegakkan dibumi, dimana ada tanggung jawab dan tugas besar yang harus diselesaikan (Wahyu 4-5).

Didalam kitab Wahyu kita melihat bagaimana kerajaan sorga ditegakkan dibumi, sehingga membuat bumi bergerak menuju Bumi dan Langit Baru dimana tidak ada lagi maut, yang merupakan upah dosa. ‘Kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga haruslah dibentuk dan diproses agar dapat berfungsi dengan baik. Perhatikan Wahyu 5:10, demikian, “dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi” (ILT). ‘Kawanan kecil’, yang didalam Wahyu 4-5 disimbolkan dengan 4 makhluk dan 24 tua-tua ini perlu diproses agar dapat menjadi imam2 dan raja2 serta dapat memerintah dibumi ini. Ada suatu tugas besar yang telah tertulis didalam kitab yang dimeteraikan oleh 7 materai, dimana hanya Anak Domba yang berhak membuka kitab ini. Dan kita tahu bahwa tugas besar ini adalah untuk memulihkan segala sesuatunya agar kehendak Bapa semula digenapi.

Itu sebabnya, ‘kawanan kecil’ perlu mengalami pembentukkan Bapa yang khusus, dan tentu tidak dialami oleh ‘kawanan besar’ dalam dunia kekristenan. ‘Kawanan kecil’ mengalami proses yang pada prinsipnya sama seperti Anak Domba, yaitu belajar taat dari penderitaan yang dialami (Ibrani 5:8). Bapa di sorga menggunakan penderitaan yang kadang-kadang “aneh” agar ‘kawanan kecil’ menjadi taat, tidak berbantah, dan dapat mengikuti Anak Domba kemanapun Ia pergi (Wahyu 14:4). Perihal ‘mengikuti Anak Domba kemana saja Ia pergi’ tidak dapat dilakukan didalam sistem (dunia) kekristenan, sebab orang yang didalam sistem kekristenan tidak bebas lagi. ‘Kawanan kecil’ dibentuk oleh Bapa sehingga menjadi “orang bebas” namun juga menjadi ‘tawanan Roh’. Demikianlah ‘kawanan kecil’ dapat mendengar suara Yesus, sang gembala sejati, dan mengikutiNya kemana saja Ia pergi (Yohanes 10).

Proses pembentukan Bapa yang dialami ‘kawanan kecil’ akan membuat mereka menempuh jalan yang berbeda dari yang umumnya dijalani orang Kristen. Tuhan Yesus pernah berbicara mengenai pintu yang sesak dan jalan yang sempit ketika Ia berkhotbah di bukit kepada murid2Nya (Matius 7:13-14). ‘Kawanan kecil’ dibentuk Bapa sedemikian sehingga mereka dimampukan melewati pintu yang sesak serta jalan yang sempit, sebab lebarlah pintu dan luaslah jalan menuju kebinasaan, dan banyak orang melaluinya.

Jadi, sekali lagi, sekalipun ‘kawanan kecil’ diberikan kerajaan sorga oleh Bapa dengan cuma-cuma, namun ‘kawanan kecil’ perlu melalui proses penderitaan agar dipersiapkan untuk suatu tanggung jawab yang besar kelak.

Kita masih membicarakan sedikit lagi mengenai proses yang harus dilalui ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa telah berkenan memberikan kerajaan sorga itu. Kita akan melihat kasus Gideon dalam membahas proses, atau lebih tepat ‘penyaringan’, bagi ‘kawanan kecil’ ini. Kasus Gideon ini tertulis dalam Hakim-Hakim 6-8.

Kasus Gideon terjadi ketika Israel melakukan yang jahat dihadapan Tuhan dan Tuhan menyerahkan mereka kedalam tangan orang Midian tujuh tahun lamanya. Gideon terpilih untuk membebaskan orang Israel dari tangan orang Midian, dan karenanya Gideon memanggil orang Israel untuk bertempur dengan Midian. Gideon mengumpulkan sebanyak 32.000 orang Israel untuk berperang. Tetapi, Tuhan berfirman kepada Gideon bahwa terlalu banyak rakyat yang menyertainya. Kemudian Tuhan menyuruh Gideon agar berseru kepada rakyat demikian, “…Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang…” (Hak. 7:3). Ternyata, ada 22.000 orang yang takut dan tinggallah 10.000 orang. Tetapi kemudian, Tuhan berfirman masih terlalu banyak orang.

Selanjutnya, Tuhan menyaring rakyat yang tertinggal dengan cara menyuruh mereka minum di sungai. Rakyat yang meminum seperti anjing menjilat ada 9700 orang, tetapi yang meminum dengan membawa tangannya kemulut hanya 300 orang. Dan Tuhan berfirman bahwa dengan ke-300 orang inilah akan mulai penyelamatan bagi Israel.

Dari kasus Gideon ini kita mendapat satu prinsip bahwa ‘banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih’. Yang dipanggil untuk berperang ada 32.000 orang Israel, tetapi yang dipilih hanya 300 orang saja. Dalam kasus Gideon, proses yang dialami ke-300 orang ini memang berupa suatu ‘penyaringan’. Ke-300 orang ini dipilih karena mereka ternyata tidak takut, dan juga mereka memiliki “penguasaan diri” sehingga mereka tidak minum air sungai seperti anjing menjilat.

Sesungguhnya, ke-300 orang yang dipilih Tuhan ini bukanlah karena mereka lebih baik dari yang lainnya. Jika kita memperhatikan keseluruhan Alkitab, khususnya dalam ajaran pemilihan Tuhan, maka kita tahu bahwa pemilihan Tuhan atas seseorang selalu didasarkan atas keputusan dan kasih karuniaNya semata-mata. Bahkan mengenai pilihan Tuhan atas bangsa Israel, Ulangan 7:7, menegaskan, “Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu – bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa?”. Jadi, sebenarnya, ke-300 orang yang akan menyertai Gideon, memang telah ditetapkan dan dipilih Tuhan sebelumnya. Penyaringan yang telah kita bahas diatas hanyalah cara Tuhan untuk mendapatkan yang ke-300 orang ini. Ke-300 orang ini telah diproses Tuhan sebelumnya sehingga mereka tidak takut dan memiliki ‘penguasaan diri’ seperti yang telah kita lihat.

Mari kita kembali melihat ‘kawanan kecil’ yang ditetapkan Bapa untuk menerima kerajaan sorga. Sekali lagi kita tegaskan bahwa ‘kawanan kecil’ ini dipilih bukan karena lebih baik dari ‘kawanan besar’ dalam dunia kekristenan. Tetapi, karena proses pembentukan Bapa, memang ‘kawanan kecil’ ini mempunyai perbedaan dengan ‘kawanan besar’ dalam dunia kekristenan.

Dunia kekristenan juga akan mengalami “penyaringan” kelak, seperti contoh yang telah kita lihat dalam kasus Gideon. Perumpamaan-perumpamaan perihal kerajaan sorga didalam kitab Matius menjelaskan tentang “penyaringan” ini. Perumpamaan lalang diantara gandum, perumpamaan tentang pukat, perumpamaan gadis bijaksana dan bodoh, perumpamaan talenta, semua perumpamaan mengenai kerajaan sorga ini berbicara soal “penyaringan”. Didalam kerajaan sorga, ada banyak yang dipanggil, tetapi kemudian terjadi “penyaringan” dan hanya sedikit yang dipilih. Yang dipilih Tuhan adalah mereka yang mendapat kasih karunia untuk diproses sedemikian sehingga mereka berbeda dengan yang lainnya, serta dimampukan untuk ikut dalam peperangan rohani bersama Anak Domba Elohim didalam kerajaanNya.

Saat ini kita masuk kepada hari raya Israel yang pertama, yaitu hari raya Paskah. Mari kita perhatikan Keluaran 12:1-14, untuk memahami hari raya ini. Disini kita akan mengutip beberapa bagian saja demikian, “…inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu… seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga… darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah dimana orang memakannya…janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi… pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya”.

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan disini. Pertama, bulan dimana Paskah dirayakan menjadi bulan pertama bagi bangsa Israel. Hal ini menjadi permulaan keselamatan Tuhan atas Israel. Keselamatan itu merupakan suatu perjalanan, yaitu perjalanan menuju suatu warisan di Tanah Perjanjian. Kedua, anak domba Paskah itu untuk tiap-tiap rumah tangga, karenanya keselamatan itu dimulai pada tiap-tiap rumah tangga. Ketiga, darah anak domba ini harus dibubuhkan pada “kusen pintu” tiap-tiap rumah. Darah ini terutama diperuntukkan bagi Elohim. Ketika Elohim melihat darah pada tiap-tiap “kusen” rumah, maka rumah itu akan diselamatkan dari malaikat maut yang akan membunuh anak2 sulung. Keempat, daging anak domba Paskah harus dimakan habis oleh rumah tangga itu. Kelima, daging anak domba itu harus dimakan buru-buru, karena Israel akan pergi keluar dan meninggalkan Mesir.

Bagaimana kita menerapkan hari raya Paskah ini bagi kehidupan rohani kita? Anak Domba Paskah kita jelas adalah Yesus Kristus. Ketika kita percaya kepada pengorbananNya di kayu Salib, itulah ‘permulaan’ perjalanan rohani kita. Percaya pada pengorbanan Yesus di kayu salib hanyalah permulaan saja. Orang percaya perlu “berjalan terus” menuju warisannya di “tanah Perjanjian”. Selanjutnya, daging anak domba Paskah harus dimakan habis. Yesus berkata, “Barang siapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal…” (Yohanes 6:54). Istilah ‘hidup’ disini diterjemahkan dari istilah Yunani ‘zoe’, yang artinya jenis hidup yang dijalani oleh Elohim. Keselamatan terjadi ketika orang percaya mulai makan ‘zoe’ melalui Roh dan iman. Orang percaya harus memakan habis “daging Kristus” agar ia dipersiapkan untuk perjalanan keselamatan selanjutnya.

Selanjutnya, orang percaya harus bersiap-siap untuk meninggalkan “Mesir” atau dunia agar ia dapat meraih warisannya. Baiklah kita berbicara sedikit perihal “meninggalkan Mesir” ini. Mengapa generasi pertama Israel yang keluar dari Mesir gagal meraih warisannya, kecuali keluarga Yosua dan keluarga Kaleb? Yosua 5:9, memberikan jawabannya demikian, “…Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu…”. Ternyata, generasi pertama membawa ‘cela Mesir’, sehingga mereka cenderung ingin kembali ke Mesir jika ada kesulitan didalam perjalanan. Generasi pertama telah meninggalkan Mesir, tapi Mesir belum meninggalkan mereka. Fakta ini perlu kita renungkan baik-baik.

Kekristenan juga telah mejadi dunia (kosmos=sistem). Tidak heran Wahyu 18:4 berkata, “…pergilah kamu, hai umatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya…”. Yang dimaksud dari ayat ini, umat pilihanNya harus keluar dari gereja “dunia” yang disimbolkan oleh perempuan pelacur (Wahyu 17:1). Pelacur disini disebabkan gereja “dunia” tidak hanya menerima benih firman Tuhan saja melainkan juga benih ajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus, sebagaimana pelacur menerima “benih” dari banyak pria.

‘Kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa memberikan warisan keselamatan, yaitu ‘kerajaan sorga didalam batin’, telah diproses sedemikian sehingga tidak ada “cela Mesir” lagi didalam batinnya. Karenanya, ‘kawanan kecil’ tidak mengambil bagian dalam ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus, yang memang telah diterima secara luas dalam dunia kekristenan. Kita tidak membahas disini mengenai ajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus.

Kita masih melanjutkan pembahasan kita mengenai hari raya Israel yang pertama, yaitu hari raya Paskah. Telah kita tegaskan bahwa penggenapan hari-hari raya Israel berkaitan dengan pengalaman ‘batiniah’ kita sebagai umat pilihanNya. Saat ini kita akan melihat “upah” atau pengalaman ‘batiniah’ para pemenang dizaman gereja, yang merupakan penggenapan hari2 raya Israel. Ada tujuh gereja dalam kitab Wahyu 2-3, dan masing2 bersesuaian dengan penggenapan dari tujuh hari raya Israel.

Pengalaman ‘batiniah’ para pemenang pada gereja pertama (gereja di Efesus) bersesuaian dengan penggenapan hari raya Israel yang pertama, yaitu Paskah. Wahyu 2:7, menegaskan, “…  Bagi dia yang menang, Aku akan memberikan kepadanya makan dari pohon kehidupan yang ada di tengah-tengah firdaus Elohim” (ILT). Pohon Kehidupan merupakan simbol dari Yesus Kristus sebagai hayat (zoe) kita. Itu sebabnya Yesus berkata, “… Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup (zoe) didalam dirimu”. Jadi, kepada para pemenang, Bapa memberikan kasih karuniaNya sehingga kita bisa ‘makan hayat Kristus’ yang ada didalam batin kita.

Makan hayat Kristus’ setiap hari akan membuat seluruh kebutuhan rohani kita tercukupi. Itu sebabnya rasul Yohanes menegaskan, “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain…” (I Yohanes 2:27). Rasul Yohanes mengatakan ini karena ada orang2 yang berusaha menyesatkan umat pilihan Tuhan (ayat 26). Dalam dunia kekristenan dimana gereja telah pecah menjadi ribuan denominasi, ada banyak guru2 palsu, nabi2 palsu, pengajar2 curang, dan gembala2 palsu yang berusaha menyesatkan dan ambil keuntungan dari umat Tuhan. Tetapi, Yesus menegaskan bahwa domba2Ku mendengarkan suaraKu dan mengikut Aku (Yohanes 10:27). Dimana suara Yesus terdengar? Didalam batin umat pilihanNya karena ‘makan hayat Kristus’ setiap hari.

Domba2 Yesus tidak mengikuti pemimpin ini atau itu untuk memenuhi kebutuhan rohaninya. Semua kebutuhan rohani kita terpenuhi semata-mata karena kita ‘makan hayat Kristus’ yang ada didalam batin kita, setiap hari. Rasul Yohanes tegas berkata, “… tidak perlu kamu diajar oleh orang lain”. Maksudnya, bukan tidak belajar dari orang lain, karena rasul Yohanes juga menuliskan surat2nya agar umat pilihanNya belajar sesuatu darinya. Tetapi maksudnya, umat pilihanNya semata-mata mendengar dan mengikut Yesus, dan tidak dapat “dicuri” oleh pemimpin manapun (Yohanes 10:28).

Para pemenang didalam gereja pertama (Efesus) tidak ambil bagian dengan “…perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus…” (Wahyu 2:6). ‘Nikolaus’ berasal dari dua istilah Latin, yaitu ‘niko’ artinya ‘menaklukkan’ dan ‘laos’ yang artinya ‘kaum awam’ (laity). Jadi, ‘nikolaus’ berarti ‘menaklukkan kaum awam’. Dalam dunia kekristenan, gereja telah terbelah menjadi dua karena para pemimpin menaklukkan kaum awam. Didalam Katolik, para imam “menaklukkan” umat, dan didalam Protestan, para pendeta “menaklukkan” jemaat. Yang dirusak oleh perilaku ‘nikolaus’ ini adalah keimaman orang percaya (I Petrus 2:19). Tetapi, umat pilihanNya, karena makan hayat Kristus, dapat belajar menjadi imam-imam menurut aturan Melkisedek dalam kehidupannya sehari-hari, dan tidak mengikuti “imam” atau “pendeta” manapun. 

Jadi, ketika bangsa Israel makan domba Paskah, kita makan ‘Anak Domba Paskah’ sejati, yaitu Yesus Kristus, dan menikmati ‘fellowship’ denganNya setiap hari.

Saat ini kita masuk kedalam hari raya Israel yang kedua, yaitu hari raya roti tidak beragi (Imamat 23:6-8). Hari raya ini berlangsung selama 7 hari setelah hari raya Paskah. Selama 7 hari bangsa Israel harus makan roti tidak beragi. Keluaran 12:15, menegaskan, “Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertama pun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel”. Jadi, pada saat merayakan Paskah dan akan keluar dari Mesir, orang Israel sudah harus makan roti tidak beragi, dan membawa keluar adonan roti yang tidak beragi serta memakannya selama tujuh hari.

Mengapa Israel harus memakan roti yang tidak beragi ketika keluar dari Mesir? Melambangkan apakah ‘ragi’ itu dalam konteks PB, yaitu gereja? Paulus tegas menjelaskannya dalam I Korintus 5:6-8, demikian, “…sedikit ragi mengkhamiri adonan…buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu (GEREJA) menjadi adonan yang baru… kamu (GEREJA) memang tidak beragi…marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan RAGI KEBURUKAN dan KEJAHATAN, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu KEMURNIAN dan KEBENARAN”. Jelaslah sudah bahwa ragi itu melambangkan sesuatu yang buruk dan jahat. Gereja seharusnya tidak beragi.

Kemudian, dengan lebih rinci, Yesus menjelaskan apa itu ragi. Matius 16:6,12, menjelaskan, “…Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.... terhadap AJARAN orang Farisi dan Saduki”. Jadi, ‘ragi’ melambangkan ‘ajaran sesat para pemimpin’ yang dalam konteks Yesus adalah orang Farisi dan Saduki. Jadi, diseluruh PB, ragi selalu melambangkan sesuatu yang buruk dan jahat.

Mari kita perhatikan perumpamaan2 mengenai kerajaan sorga dalam kitab Matius. Matius 13:33, “…Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan kedalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya”. Siapakah ‘perempuan’ dalam perumpamaan ini? Alkitab selalu konsisten menegaskan bahwa perempuan selalu merupakan simbol gereja, baik Hawa (Kejadian) sampai Mempelai Anak Domba (Wahyu). Jadi, perempuan dalam perumpamaan diatas adalah gereja, dan secara khusus para pemimpinnya. Para pemimpin gereja telah memasukkan “ragi” kedalam adonan. Didalam Wahyu 2-3, dijelaskan tiga ajaran sesat, yaitu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Gereja mula-mula telah pecah menjadi puluhan ribu denominasi dan menjadi dunia kekristenan seperti yang kita kenal sekarang, karena “ragi” yang dimasukkan para pemimpinnya.    

Itu sebabnya, dalam kitab Matius terdapat banyak perumpamaan tentang kerajaan sorga yang intinya adalah ‘penyaringan’. Perumpamaan ‘lalang diantara gandum’, ‘pukat’, ‘perjamuan kawin’, ‘hamba yang setia dan jahat’, ‘gadis bijaksana dan bodoh’, ‘talenta’, ‘domba dan kambing’. Mengapa terjadi penyaringan? Penjelasannya demikian. Gereja itu sesuatu yang kelihatan, karena gereja itu orang2 yang percaya. Tetapi, kerajaan sorga adalah sesuatu yang ada didalam batin orang percaya. The Kingdom of God is within you. Tidak semua orang gereja akan diterima kelak didalam kerajaan sorga, karena gereja telah jatuh menjadi dunia kekristenan seperti sekarang ini, oleh sebab ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus.

Kerajaan sorga diberikan oleh Bapa di sorga kepada ‘kawanan kecil’ dari dunia kekristenan yang ‘besar’ ini (Lukas 12:32). Kita tahu bahwa ‘ragi’ membuat adonan menjadi ‘berkembang besar’, dan tentu menjadi mudah dicerna. Kita harus hati-hati terhadap ajaran para pemimpin yang “memudahkan” orang banyak untuk menerima dan mencernanya. Ajaran yang “beragi” pasti diterima dan disambut oleh orang banyak dalam dunia kekristenan.

Tetapi, oleh karena pilihan dan kasih karuniaNya, Bapa membentuk ‘kawanan kecil’ sehingga menjadi ‘adonan tanpa ragi’. Batin ‘kawanan kecil’ diproses Bapa sedemikian sehingga murni tanpa campuran.

Telah kita lihat bahwa ada tujuh gereja dalam kitab Wahyu 2-3, dan masing2 bersesuaian dengan penggenapan dari tujuh hari raya Israel. Kita sudah masuk pada hari raya Israel yang kedua, yaitu hari raya roti tidak beragi, dimana penggenapannya adalah proses Bapa disorga kepada ‘kawanan kecil’ sehingga batin ‘kawanan kecil’ menjadi “adonan yang tidak beragi”, yaitu ‘murni’. Kita masih berbicara sedikit lagi mengenai ‘kemurnian’ ini sebelum kita lanjut kepada upah para pemenang dalam gereja kedua, yaitu gereja di Smirna. Karena proses Bapa di sorga, “kawanan kecil’ menjadi murni dalam pengabdian dan pelayanannya kepada Elohim. Murni artinya bukan sempurna, tetapi ‘tidak campur aduk’. Setelah diproses Bapa di sorga, maka motivasi ‘kawanan kecil’ dalam melayani menjadi murni, dan tidak cari untung dalam pelayanannya.

Didalam dunia kekristenan dimana “ajaran beragi”, yaitu ajaran Izebel, Nikolaus, dan Bileam telah merajalela dan diterima sebagai “kebenaran”, maka para pemimpin, umumnya, mendapat “kemudahan” untuk cari untung dalam pelayanannya. Para pemimpin dalam dunia kekristenan sudah dibenarkan dan dimudahkan untuk mendapatkan uang, jabatan, dan kemuliaan manusia, dimana semua ini tidak didapatkan oleh Petrus, Paulus, Yohanes, serta para pemimpin lainnya dalam gereja mula-mula. Sesungguhnya, ajaran “beragi” Izebel, Nikolaus, dan Bileamlah yang membuat gereja pecah menjadi puluhan ribu denominasi, dan para pemimpinnya dimudahkan untuk cari untung dari pelayanan.

‘Kemurnian’ sudah menjadi barang langka didalam dunia kekristenan. Para pemimpin bukan saja memperlengkapi murid2 Tuhan (Efesus 4:11-12), tetapi juga menarik murid2 kepada diri mereka sendiri atau alirannya atau denominasinya (Kis. 20:28-30). Bukan saja murid2 Tuhan yang ditarik, tetapi juga uang murid2 Tuhan ditarik melalui berbagai ajaran “beragi”, seperti persepuluhan, buah sulung, janji iman, dan yang lainnya. Perilaku para pemimpin yang seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Petrus, Paulus, Yohanes, maupun para pemimpin gereja mula-mula lainnya.

Telah kita lihat juga, melalui berberapa perumpamaan mengenai kerajaan sorga, bahwa tidak semua ‘orang didalam gereja’ akan diterima didalam kerajaan sorga. Dalam dunia kekristenan sudah umum diberitakan ungkapan seperti ‘percaya Yesus, masuk sorga’. Tetapi, jika kita meneliti seluruh kitab2 Perjanjian Baru, maka tidak ada satu ayatpun yang mendukung konsep sedemikian. Yang benar adalah ‘percaya Yesus, mendapatkan benih hidup Kristus (zoe)’, dan konsep ini terutama dinyatakan berulang-ulang dalam injil Yohanes. Benih hidup Kristus (zoe) didalam batin orang percaya perlu bertumbuh. Pertumbuhan ‘benih Kristus’ inilah yang kelak akan membuat seseorang diterima didalam kerajaan sorga, atau tidak.

Mari kita perhatikan lagi perumpamaan2 mengenai kerajaan sorga didalam kitab Matius, dimana pengajaran tentang ‘kerajaan sorga’ menjadi tema utama didalam kitab ini. Perumpamaan ‘lalang diantara gandum’, ‘pukat’, ‘perjamuan kawin’, ‘hamba yang setia dan jahat’, ‘gadis bijaksana dan bodoh’, ‘talenta’, ‘domba dan kambing’. Yang dibicarakan disini adalah murid2 Tuhan semua.

Sebagai contoh, jika kita menafsirkan gadis bijaksana adalah murid Tuhan, maka gadis bodoh juga adalah murid Tuhan, sebab kedua kelompok ini sama-sama “gadis”. Bukan yang satu gadis dan yang lain janda, misalnya. Perbedaannya adalah yang satu bijaksana, dan yang lain bodoh. Demikian juga lalang dan gandum, semuanya adalah murid2 Tuhan, karena mereka semua ada di ladang Tuhan (Matius 13:24). Hanya dalam perjalanan waktu, maka akan terlihat kelak, mana lalang dan mana gandum. Selanjutnya ‘hamba’ dalam perumpamaan Talenta, dan ‘ikan’ dalam perumpamaan Pukat, semua ‘ikan’ maupun ‘hamba’ adalah sama-sama murid Tuhan, dan sama-sama sudah terpanggil.

Dalam perumpamaan penabur juga kita lihat ada benih yang bertumbuh dan berbuah, tetapi ada juga yang tidak. Kita jangan cepat2 menafsirkan bahwa “orang2 terkenal” dalam dunia kekristenan, itulah yang berbuah. Karena Matius 7:21-23, menegaskan, dihari terakhir, Yesus akan berterus terang menyatakan mana yang melakukan kehendak Bapa, dan mana yang tidak. Yang tidak melakukan kehendak Bapa itu, umumnya, justru “orang2 terkenal”, karena mereka telah banyak melakukan mujizat, bernubuat dalam nama Tuhan, serta mengusir setan2 dalam pelayanannya.

Sekali lagi, ‘kawanan kecil’ didalam dunia kekristenan, mendapat kerajaan sorga semata-mata karena pilihan Bapa di sorga (Lukas 12:32). ‘Kawanan kecil’ bukan saja terpanggil, tetapi juga terpilih oleh kedaulatan dan kasih karuniaNya. Tetapi, Bapa mempersiapkan dan membentuk ‘kawanan kecil’ untuk menjadi layak melayani didalam kerajaan sorga kelak. Bapa memproses ‘kawanan’ kecil sedemikan sehingga menjadi ‘murni’, dan tidak terlibat dalam ajaran “beragi” Izebel, Bileam, dan Nikolaus.

Saat ini kita akan membahas janji Tuhan (upah) kepada para pemenang gereja di Smirna, yang bersesuaian dengan penggenapan hari raya Israel yang kedua, yaitu hari raya roti tidak beragi. Mari kita melihat Wahyu 2:11, “… Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua”. Ayat ini tidak mengatakan bahwa para pemenang tidak mengalami ‘kematian kedua’, melainkan tidak akan menderita apa-apa oleh ‘kematian kedua’.

Baiklah kita memahami apa maksud ‘kematian kedua’ yang dikatakan dalam kitab Wahyu ini agar jangan kita menafsirkan maknanya menurut pengertian kita sendiri. Kita tahu bahwa kitab Wahyu adalah pewahyuan Yesus Kristus yang dinyatakan kepada rasul Yohanes, dan dinyatakan melalui bahasa ‘simbol’ (Wahyu 1:1; ‘menyatakannya’ berasal dari istilah Yunani, ‘semaino’ yang artinya, ‘simbol atau tanda’).

Pengertian dari ‘kematian kedua’ tertulis dalam Wahyu 20:14, demikian, “Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api”. Ayat ini jelas mendefinisikan ‘kematian kedua’ sebagai ‘lautan api’, dimana maut dan kerajaan maut itu dilemparkan. Maut (kematian) adalah upah dosa (Roma 6:23). Ketika Adam jatuh kedalam dosa dan mendapat akibat maut (kematian), maka seluruh keturunannya juga mengalami maut (kematian).

Perhatikan Roma 5:18, “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup”. Jadi, ketika Adam pertama melakukan pelanggaran, maka semua orang mendapat upah maut (kematian pertama), dan melalui ‘kematian kedua’ oleh Adam kedua, yaitu Yesus Kristus yang menanggung dosa, maka semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.

Mari kita kembali kepada pengertian ‘kematian kedua’ diatas. ‘Kematian kedua’ adalah lautan api, dimana maut dan kerajaannya (kematian pertama) dilemparkan. Dengan kata lain, ‘kematian pertama’ (maut) dilemparkan kedalam ‘kematian kedua’ (lautan api). Mengapa para pemenang tidak menderita apa-apa oleh ‘kematian kedua’? Bukan karena para pemenang tidak mengalami kematian kedua, tetapi ‘kematian kedua’ para pemenang TELAH DIWAKILI DAN DIJALANKAN OLEH YESUS KRISTUS DI KAYU SALIB.

Sekarang kita masuk kepada pengertian ‘lautan api’ yang adalah ‘kematian kedua’. Banyak orang menafsirkan ‘lautan api’ sebagai neraka kekal selama-lamanya. Jadi, menurut banyak orang, ‘maut dan kerajaan maut’ adalah neraka kekal, dan kemudian neraka kekal ini dilemparkan kedalam lautan api, yang menurut mereka neraka kekal juga. Artinya, neraka kekal dilempar kedalam neraka kekal, dan hasilnya neraka kekal juga. Inilah doktrin neraka kekal sebagaimana dipahami oleh mayoritas orang didalam dunia kekristenan. Pengajar Alkitab yang memberitakan hal ini sedang malakukan ‘tafsir sendiri’, dan melanggar prinsip hermeneutika yaitu ‘Alkitab harus menafsirkan Alkitab’. Semua makna dari ‘kematian pertama’, kematian kedua’, maupun ‘lautan api’ harus ditafsirkan Alkitab sendiri.

Sekarang kita masuk kedalam pengertian ‘lautan api’. Ingat bahwa kitab Wahyu itu menggunakan bahasa simbol. Pengertian ‘lautan api’ itu bukan lautan api jasmani seperti yang kita kenal didunia ini. ‘Lautan api’ adalah simbol.

Pengajaran mengenai ‘lautan api’ hanya terdapat didalam kitab Wahyu, yaitu didalam Wahyu 14:10-11; 19:20; 20:10; 20:13-15 dan 21:8. Baiklah kita mengutip tulisan Charles Pridgeon mengenai makna api, dan juga belerang yang terdapat didalam Wahyu 14:10-11, demikian “…istilah Yunani THEION yang diterjemahkan belerang adalah kata yang sama yang berarti Ilahi…Kata kerja yang diturunkan dari THEION adalah THEIOO yang berarti menyucikan atau menjadikan Ilahi…. lautan api dan belerang berarti lautan pemurnian Ilahi… Pemurnian Ilahi dan pengudusan Ilahi adalah arti yang gamblang dalam bahasa Yunani kuno…”. Jadi, jika kita memahami ‘lautan api’ sebagai simbol, maka maknanya adalah pemurnian Ilahi.

Berdasarkan pengertian ini, kita akan memahami mengapa para pemenang tidak menderita apa-apa oleh kematian kedua, yaitu lautan api. Sebab, karena pilihan dan kasih karunia Bapa, para pemenang atau ‘kawanan kecil’ telah lebih dahulu dimurnikan melalui suatu proses dalam kehidupan sehari-hari. Memang proses pemurnian Ilahi ini menyakitkan, tetapi pada akhirnya ‘kawanan kecil’ menjadi murni seperti ‘adonan yang tidak beragi’.

Saat ini kita akan masuk kepada hari raya Israel yang ketiga, yaitu hari raya berkas buah sulung (Imamat 23:9-14). Ayat 10-11, menegaskan, “…kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam….Imam harus mengunjukkannya pada hari sesudah sabat itu”. Hari raya berkas buah sulung terjadi pada hari sesudah sabat, dan ini bertepatan dengan kebangkitan Yesus yang terjadi sesudah hari sabat. Jadi, kematian dan kebangkitan Yesus telah menggenapi hari raya Paskah dan hari raya berkas buah sulung.

I Korintus 15:22-23 menegaskan, “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milikNya pada waktu kedatanganNya”. Bagian firman Tuhan ini menjelaskan kepada kita mengenai ‘buah sulung kebangkitan’. Yesus Kristus sebagai ‘buah sulung kebangkitan’, karena Ia yang pertama bangkit dari antara orang mati. Selanjutnya, pada waktu kedatanganNya, maka ‘mereka yang menjadi milikNya’ juga dibangkitkan, dan mendapat tubuh kebangkitan. Tetapi, kebangkitan masih terus berlangsung sampai musuh yang terakhir ditaklukkan, yaitu maut (I Korintus 15:26), yang merupakan upah dosa (Roma 6:23). Ketika tidak ada lagi musuh didalam ciptaanNya, maka Bapa dapat menjadi semua didalam semua (I Korintus 15:28).

Mari kita terapkan perihal ‘buah sulung’ ini kedalam gereja. Yakobus 1:18, menyatakan, “yang telah menentukan, agar kita menjadi suatu buah sulung dari ciptaanNya; Dia telah melahirkan kita melalui firman kebenaran” (ILT). Yakobus menyatakan bahwa kita menjadi ‘buah sulung’ dari ciptaanNya. Dalam hal ‘buah sulung’ yang terkait kebangkitan, maka Yesus adalah ‘buah sulung kebangkitan’. Tetapi terkait gereja, maka ‘kita’ ditentukan Bapa menjadi buah sulung.

Setiap petani di Palestina mengetahui bahwa buah sulung itu suatu ‘tuaian’ yang lebih dahulu matang, dimana tuaian2 berikutnya menyusul.  Tetapi kita tahu bahwa karena serangan serigala ganas, maka gereja telah pecah menjadi ribuan denominasi, dimana sebagian murid2 Tuhan mengikuti pemimpin ini, dan sebagian lagi mengikuti pemimpin itu. Dan didalam 7 tipe/zaman gereja dalam Wahyu 2-3, terdapat panggilan para pemenang, dimana hal ini jelas menunjukkan bahwa hanya sebagian saja yang menang. Jadi, pemahaman ‘buah sulung’ yang dimaksud Yakobus 1:18 diatas, bukanlah seluruh murid2 Tuhan atau seluruh anggota gereja sepanjang zaman.

Perihal ‘buah sulung’ didalam gereja akan menjadi jelas, jika kita melihat Wahyu 14:4, demikian, “Mereka ini adalah orang-orang yang tidak mencemarkan diri dengan wanita-wanita, karena mereka adalah perjaka. Mereka ini adalah orang-orang yang megikuti Anak Domba kemana pun Dia pergi. Mereka ini sudah ditebus dari antara manusia, sebagai buah sulung di hadapan Elohim dan Anak Domba” (ILT). Mereka yang menjadi buah sulung disini adalah mereka yang tidak mencemarkan diri dengan perempuan2, dan yang mengikuti Anak Domba kemana saja Dia pergi.

Kita harus tetap mengingat sifat dasar kitab Wahyu yang menggunakan bahasa simbol. Perempuan2 disini bukanlah perempuan2 jasmani, tetapi perempuan2 yang dinyatakan dalam Wahyu 17:5, yaitu perempuan2 (gereja) pelacur. Buah sulung tidak mencemarkan diri dengan “perempuan2 pelacur”, dalam arti gereja yang menerima benih Kristus, tetapi juga menerima benih ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Buah sulung juga hanya mengikuti Anak Domba kemana saja Dia pergi, dan bukan mengikuti pemimpin itu atau itu seperti yang terdapat dalam dunia kekristenan.

Sekali lagi kita tegaskan bahwa menjadi para pemenang atau menjadi buah sulung gereja, bukanlah karena buah sulung itu lebih baik dari anggota2 gereja lainnya. Tetapi, karena keputusan Bapa di sorga, maka kita ditetapkan menjadi buah sulung. Bapa disorga memproses kita sedemikian sehingga kita tidak mengikuti pemimpin ini atau itu, juga tidak mencemarkan diri dengan ajaran Izebel, Bileam, Nikolaus, tetapi hanya mendengar suara Gembala Sejati dan mengikuti Anak Domba kemana saja Dia pergi.

Kita sudah membahas hari raya Israel yang ketiga, yaitu hari raya berkas buah sulung. Juga telah kita lihat ‘buah sulung’ kebangkitan yaitu Yesus Kristus, dan ‘buah sulung’ didalam gereja, yaitu, mereka yang mendapat kasih karunia dihadapan Bapa untuk menjadi “yang pertama dituai” atau ‘para pemenang’ disetiap zaman gereja. Dalam dunia kekristenan ada banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. Juga dalam dunia kekristenan ada ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga itu. Jadi, dunia kekristenan belumlah dapat dituai seluruhnya sebagai ‘buah sulung’ ciptaan.

Telah kita ketahui bahwa penggenapan hari2 raya Israel itu adalah ‘pengalaman batiniah’ dari para pemenang disetiap zaman gereja. Sekarang kita akan melihat para pemenang gereja ketiga (gereja di Pergamus), sebagai penggenapan hari raya ketiga Israel (berkas buah sulung). Wahyu 2:17, menegaskan, “… Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang diatasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya”.

Pada umumnya, dalam dunia kekristenan, para pengkhotbah mengajarkan bahwa kelak kita akan masuk sorga setelah mati jasmani nanti. Tetapi, bagi ‘kawanan kecil’, saat ini juga mereka sudah didalam kerajaan sorga, karena memang kerajaan sorga ada didalam batin kita, walaupun tentu belum mengalaminya secara penuh, sebab kerajaan sorga belum termanifestasi sepenuhnya di bumi.

Jadi, seluruh ‘upah atau bagian’ bagi para pemenang pada ayat kita diatas, telah dapat kita alami saat ini sebagai ‘pengalaman batiniah’. Baiklah kita masuk kepada yang pertama, yaitu mendapatkan ‘manna yang tersembunyi’. Manna yang tersembunyi ini bukanlah manna yang dimakan oleh generasi pertama Israel di Padang Gurun. Mereka semua tidak mendapatkan warisan mereka, yaitu tanah Perjanjian, kecuali keluarga Yosua dan keluarga Kaleb. Manna yang tersembunyi ini tersimpan didalam ‘Tabut Perjanjian di Ruang Maha Kudus Kemah Musa’. Para pemenang ini diproses oleh Bapa sedemikian sehingga dapat menikmati ‘manna yang tersembunyi’ ini hari lepas hari. Manna yang tersembunyi ini tidak lain adalah ‘Hayat Kristus didalam batin’.

Kita makan manna ini setiap hari sehingga seluruh kebutuhan rohani kita terpenuhi, karenanya genaplah perkataan Yohanes bahwa, “…tidak perlu kamu diajar oleh orang lain” (I Yohanes 2:27). Kita tentu belajar dari setiap orang, tetapi tidak akan menjadi pengikut pemimpin manapun, atau berada didalam denominasi manapun untuk pertumbuhan rohani kita, juga tentu saja tidak akan membangun denominasi. Inilah ciri utama jika kita makan ‘manna yang tersembunyi’ setiap hari.

Selanjutnya, kita diberikan ‘batu putih yang tertulis nama baru’. Pada dasarnya kita adalah “tanah liat” yang mudah hancur, bersungut-sungut, kecewa, dan putus asa. Tetapi Bapa menjadikan kita seperti “batu”, yang walaupun dihempaskan, namun tidak binasa (II Korintus 4:9). Bapa disorga justru akan membawa kita mengalami hempasan, kesusahan, konflik, supaya membuktikan bahwa kita adalah “batu”. Warna putih menunjukkan perkenanan Bapa.

Kita juga diberi ‘nama baru’. Nama menunjukkan karakter, pekerjaan dan reputasi seseorang. Karena perbuatan Bapa dalam membentuk kita, maka nama Elohim termeterai didalam batin kita, dimana tidak seorangpun mengetahuinya, sebab memang ini adalah perbuatan Bapa secara pribadi kepada kita masing-masing. Kita tidak akan menjaga nama baik kita sendiri, karena kita mempunyai ‘nama baru’ yang ditempa oleh Bapa kedalam diri kita. Demikianlah penggenapan hari raya berkas buah sulung sudah terjadi didalam kita sebagai pengalaman batiniah saat ini.

Saat ini kita akan masuk kepada hari raya Israel yang keempat, yaitu hari raya ‘Pentakosta’ (Imamat 23:9-14). Beberapa nama lain juga disebut untuk hari raya ‘Pentakosta’. Diantaranya, hari raya ‘Menuai’ (Keluaran 23:16). Juga hari raya ‘Tujuh Minggu’ (Keluaran 34:22). Dan juga hari raya ‘hasil buah sulung’ (Keluaran 34:22, “Dan engkau harus merayakan hari raya Tujuh Pekan bagimu, ‘hasil pertama’ panen gandum…” ILT).

Jadi, didalam sejarah gereja, penggenapan hari raya ‘Pentakosta’ adalah saat dimana terjadi ‘tuaian buah sulung’, yaitu pencurahan Roh Kudus dimana para Rasul dan orang percaya berkumpul disuatu tempat berjumlah kira-kira 120 orang (Kis. 1:15). Tetapi ‘tuaian buah sulung’ ini tidak berhenti disitu saja, karena pada penggenapan hari raya ‘Tabernakel’ akan ada ‘pengumpulan hasil’ seperti tertulis pada ayat kita diatas (Keluaran 34:22). Kita tidak membicarakan hari raya ‘Tabernakel’ sekarang, tetapi yang perlu kita pahami bahwa baik hari raya ‘Pentakosta’ maupun hari raya ‘Tabernakel’ merupakan suatu saat dimana terjadi ‘penuaian buah sulung’.

Mari kita melihat pengalaman para murid ketika terjadi pencurahan Roh Kudus pada hari ‘Pentakosta’. Sesungguhnya, para murid telah menerima Roh Kudus, ketika setelah kebangkitanNya, Yesus menampakkan Diri serta mengembusi mereka dan berkata ‘Terimalah Roh Kudus’ (Yohanes 20:22). Walaupun demikian, setelah empat puluh hari berulang-ulang menampakkan Diri, Yesus tegas memberi perintah agar murid2 menantikan janji Bapa, yaitu “…kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis. 1:5). Dari kedua kasus ini, kita dapat melihat bahwa para murid mengalami ‘pengalaman dengan Roh Kudus’ dua kali. Yang pertama, setelah kebangkitan Yesus, dan yang kedua pada hari raya ‘Pentakosta’.

Dari kasus diatas, ada beberapa aliran dalam dunia kekristenan yang menyatakan bahwa ada dua pengalaman dengan Roh Kudus. Pertama, ketika seseorang percaya Yesus dan lahir baru (menerima benih Hayat Kristus). Kedua, ketika seseorang menerima ‘baptisan Roh Kudus’. Bahkan beberapa denominasi Pentakosta menyatakan bahwa tanda seseorang itu dibaptis Roh Kudus adalah ‘berbahasa lidah’. Kita tidak membahas ‘tanda2 luaran’ dari pengalaman dengan Roh Kudus ini, karena kita telah tegas menyatakan bahwa penggenapan hari2 raya Israel itu bersifat ‘batiniah’, yaitu suatu pengalaman bersama Roh Kudus didalam batin kita.

Yang perlu kita tegaskan disini adalah pengalaman ‘dibaptis Roh Kudus’ itu memang suatu pengalaman ‘batiniah’ yang nyata, artinya orang percaya pasti memahami bahwa ia telah mengalami pengalaman dibaptis Roh Kudus. Apakah orang percaya yang dibaptis Roh Kudus itu akan ‘berbahasa lidah’ atau tidak, atau apakah ‘bahasa lidah’ seseorang itu asli atau palsu, kita tidak membahasnya dalam tulisan singkat ini.

Tetapi, barangkali, kita perlu mengambil satu contoh ‘tanda luaran’ setelah seseorang menerima Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus. Mari kita membaca Kis. 4:31, demikian, “…mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus, dan mereka memperkatakan firman Elohim dengan keberanian” (ILT). Kita lihat disini satu ‘tanda luaran’ ketika seseorang menerima Roh Kudus, yaitu berani memberitakan firman Tuhan. Konteksnya disini bukan memberitakan firman Tuhan di “mimbar”, tetapi berani memberitakan firman Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari, karena demikianlah gaya hidup gereja mula-mula.

Kita masih melanjutkan pembahasan kita mengenai hari raya ‘Pentakosta’. Pengertian istilah ‘Pentakosta’ sebenarnya adalah ‘kelima-puluh’. Baiklah kita perhatikan apa yang terjadi kepada bangsa Israel pada hari ‘Pentakosta’ ini. Israel keluar dari Mesir pada hari raya Paskah dibulan pertama (Abib atau Nisan). Setelah berjalan selama 50 hari, mereka sampai di gunung Sinai pada bulan ketiga (Sivan) dan merayakan ‘Pentakosta’ (keluaran 19 dan 20).

Di gunung Sinai ini mereka diberikan 2 loh batu (sepuluh hukum), peraturan Kemah Suci, sistem keimamatan Harun dan segala aturan korban. Disini bangsa Israel ditetapkan sebagai ‘sidang jemaah di Padang Gurun’ (Kis. 7:38). Saat dimana Yahweh turun ke gunung Sinai pada hari ketiga (Keluaran 19:16-20), dirayakan oleh bangsa Israel sebagai ‘Hari raya pemberian Hukum Taurat’ atau ‘Kelahiran Yudaisme’, karena pada hari ‘kelima-puluh’ inilah Yahweh menulis dengan jariNya kesepuluh firman pada dua loh batu.

Mari kita aplikasikan peristiwa pemberian Hukum Taurat kepada bangsa Israel ini kedalam konteks kita. Perbedaan PL dan PB jelas tertulis dalam Yeremia 31:31-34, demikian, “…Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda… Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka…”. Jadi, jika dalam konteks PL, Hukum Taurat tertulis dalam dua loh batu, maka dalam konteks PB, Hukum Taurat tertulis didalam batin. Penulis surat Ibrani juga menjelaskan hal ini (Ibrani 8).

Penulisan Hukum Taurat kedalam batin orang percaya terlihat dalam kasus dimana Yesus dihadapkan dengan perempuan yang kedapatan berzinah (Yohanes 8). Para ahli Taurat dan orang Farisi berkata bahwa menurut Hukum Taurat maka perempuan ini harus dirajam, karena memang demikianlah yang diperintahkan Musa. Tetapi Yesus tidak menjawab dan hanya menulis dengan jariNya di tanah. Alkitab tidak menjelaskan apa yang Yesus tulis, karena memang itu tidak penting. Yang penting adalah memahami apa makna perbuatan Yesus menulis ditanah. Perbuatan Yesus menulis ditanah jelas menunjukkan bahwa hukum Taurat (khususnya hukum rajam) akan ditulis Yesus kedalam batin (“tanah”) orang percaya.

Dan ketika didesak, maka Yesus memberikan maknanya jika hukum rajam ditulis dibatin orang percaya, yaitu, pertama, siapa yang tidak berdosa, dia yang pertama harus melempar batu kepada perempuan ini. Kedua, Yesus, yang tidak berdosa, mengampuni perbuatan perempuan ini dan tidak menghukumnya. Ketiga, Yesus memperingati perempuan ini agar jangan berbuat dosa lagi. Inilah makna hukum rajam yang ditulis dalam batin.

Tetapi, harus diingat, Yesus datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat. Kedatangan Yesus adalah menggenapi Hukum Taurat. Itu sebabnya di kayu salib, Yesus berkata, ‘sudah selesai’. MaksudNya yang utama adalah semua yang tertulis dalam Hukum Turat telah digenapi. Karenanya, ketika Yesus meneguhkan Perjanjian Baru dengan murid2Nya dimalam terakhir, Ia berkata, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi…” (Yohanes 13:34). Jadi, dalam PL, hukumnya Taurat, dan dalam PB, hukumnya adalah kasih.

Didalam dunia kekristenan, pada umumnya, para pemimpin denominasi, berkata kamu harus memberi persepuluhan, kamu harus memberi buah sulung, harus memberi janji iman, harus datang kegedung tertentu pada hari tertentu, harus berbuat ini dan itu supaya bertumbuh dan diberkati Tuhan… maka sesungguhnya inilah prinsip Hukum Taurat yang tertulis didalam loh batu, yaitu harus…harus….harus… supaya…supaya…supaya…. Tetapi, prinsip Hukum Taurat yang tertulis dalam batin adalah prinsip kasih. Segala sesuatu harus dilakukan dalam kasih dan dipimpin Roh didalam batin. Tidak ada paksaan harus ini dan harus itu. 

Telah kita ketahui bahwa penggenapan hari2 raya Israel itu adalah ‘pengalaman batiniah’ dari para pemenang disetiap zaman gereja. Sekarang kita akan melihat para pemenang gereja keempat (gereja di Tiatira), sebagai penggenapan hari raya keempat Israel, yaitu hari raya ‘Pentakosta’.

Mari kita perhatikan firman kepada gereja di Tiatira dalam Wahyu 2:26-27, demikian, “Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaanKu sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi... ”. Kepada para pemenang gereja di Tiatira yang bersesuaian dengan penggenapan hari raya Pentakosta, diberikan suatu ‘kuasa atas bangsa-bangsa’. ‘Kuasa’ atau istilah Yunani ‘exousia’ berarti suatu kemampuan (otoritas rohani) atau hak untuk mengatur bangsa-bangsa. Tetapi kita jangan berpikir bahwa hak atau otoritas ini dijalankan oleh para pemenang dengan “tongkat besi” dalam arti dengan paksa, kasar dan otoriter, serta demi keuntungan sendiri. “Tongkat otoritas” ini dijalankan oleh para pemenang untuk melayani sebagai hamba, dalam arti yang sebenarnya (bnd. I Petrus 5:3).

Telah kita tegaskan selalu bahwa para pemenang tiap zaman gereja bukanlah mereka yang “hebat dan terkenal”, tetapi para pemenang adalah orang2 sederhana yang tidak ambil bagian dalam kemerosotan/dosa pada gereja dizamannya. Dizaman ‘gereja Tiatira’ terdapat orang-orang yang mengaku nabiah, dan mengajar ‘ajaran Izebel’ yang menyesatkan hamba2 Tuhan (Wahyu 2:20). Apa itu ajaran Izebel? Izebel disini tentu adalah simbol, karena demikianlah bahasa kitab Wahyu (1:1). Dalam sejarah, Izebel adalah seorang yang merampas otoritas suaminya, Ahab, dalam kasus kebun anggur Nabot. Walaupun maksud Izebel mendukung keinginan suaminya, tetapi tetaplah Izebel telah merampas otoritas dengan, ‘menulis surat atas nama Ahab, dan memeteraikannya dengan materai raja’ (I Raja-Raja 21:8). Jadi, ajaran Izebel adalah ajaran yang membenarkan perampasan otoritas “suami gereja” yaitu otoritas Yesus.

Yesus tegas telah berkata kepada murid2Nya dalam Matius 23:1-12, dimana konteksnya adalah “tongkat Musa”, yaitu agar murid2Nya jangan disebut pemimpin, rabi atau bapa rohani. Maksud Yesus, sesuai konteks, adalah jangan murid2 merampas otoritas (“tongkat Musa”) didalam gereja. Sesungguhnya, perampasan otoritas gereja oleh para pemimpinnya telah dinyatakan oleh Paulus dalam Kis. 20:28-30. Beberapa pemimpin gereja dengan ajaran palsu (khususnya ajaran Izebel) MENARIK MURID-MURID KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI. Inilah perampasan otoritas Yesus atas gereja yang dilakukan oleh para pemimpin. Tadinya, murid2 berada dijalan yang benar, dalam arti mendengar suara Yesus, mengikuti pimpinan Roh dalam batin, dan tunduk kepada otoritas Hayat atas Tubuh Kristus. Tetapi sekarang, sebagian murid mengikuti pemimpin ini, sebagian lagi mengikuti pemimpin itu.

Namun, dalam dunia kekristenan, hal ini sudah dibenarkan. Denominasi-denominasi itu adalah kelompok dimana sebagian murid Tuhan mengikuti pemimpin ini, dan sebagian lagi mengikuti pemimpin itu. Tetapi saat ini, denominasi itu sudah disebut gereja, walaupun sebenarnya denominasi itu adalah HASIL PERAMPASAN OTORITAS YESUS OLEH PARA PEMIMPIN. Ajaran ‘visible and invisible church’ yang dimulai oleh Martin Luther sebenarnya adalah ajaran Izebel, yaitu ajaran yang membenarkan perampasan otoritas Yesus atas gereja.

Tetapi para pemenang atau ‘kawanan kecil’ dalam dunia kekristenan tidak ambil bagian dalam perampasan otoritas Yesus atas gereja. ‘Kawanan kecil’ saat ini menjalankan otoritas Yesus ‘untuk mengatur batinnya sendiri’. Otoritas Yesus saat ini dijalankan oleh ‘kawanan kecil’ untuk mengatur pikiran, perasaan dan keinginan sendiri. ‘Kawanan kecil’ tidak merampas otoritas Yesus atas gerejaNya dengan menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri, serta membangun denominasi.

Pada waktunya, ketika Yesus berterus terang, maka Ia akan memberikan otoritasNya atas bangsa-bangsa kepada sebagian murid2, dan menolak sebagian murid2 Tuhan yang melakukan kejahatan (anomia=illegality), yaitu mereka yang saat ini menjalankan ‘otoritas ilegal’ atas gereja (Matius 7:21-23).

Saat ini kita masuk kepada hari raya Israel yang kelima, yaitu hari raya ‘Peniupan Nafiri’ (Imamat 23:23-25). Kita akan langsung melihat perlunya peniupan nafiri ini bagi bangsa Israel. Bilangan 10:2, menegaskan, “Buatlah dua nafiri dari perak. Dari perak tempaan harus kaubuat itu, supaya digunakan untuk memanggil umat Israel dan untuk menyuruh laskar-laskarnya berangkat”. Pada ayat2 selanjutnya, kita dapat melihat perlunya Israel mendengar suara nafiri ini dengan baik, sebab suara nafiri tertentu memiliki maksud tertentu juga.

Pertama, ayat diatas menegaskan tujuan peniupan nafiri, yaitu memanggil umat Israel. Kedua, Ayat 3-6, menyatakan panggilan untuk berkumpul didepan Kemah Pertemuan. Peniupan nafiri ini berbeda2 sesuai maksudnya. Ada panggilan kepada para pemimpin saja, ada panggilan kepada laskar-laskar yang berkemah disebelah timur, ada panggilan kepada laskar-laskar yang berkemah disebelah selatan, ada juga untuk memanggil seluruh umat. Ketiga, ayat 9 menegaskan tujuan peniupan nafiri, yaitu panggilan untuk berperang, agar Yahweh mengingat dan menyelamatkan Israel dari musuh. Keempat, ayat 10 menyatakan panggilan untuk merayakan hari2 raya agar Israel diingat dihadapan Tuhan. Demikianlah tujuan nafiri ditiup bagi bangsa Israel. Jadi, inti dari peniupan nafiri adalah untuk ‘memanggil’ bangsa Israel. Sekali lagi, Israel harus memahami bunyi yang berbeda-beda, dan maksud2nya. Disini kita melihat bahwa bangsa Israel harus belajar ‘mendengar dan memahami’ tiupan nafiri.

Mari kita langsung terapkan perihal peniupan nafiri ini kepada gereja. Sesungguhnya, makna peniupan nafiri ini bagi gereja adalah mendengar suara Tuhan dan memahami perintah2 Tuhan. Suara Tuhan dan perintah2 Tuhan ini berbeda bagi setiap anggota Tubuh Kristus, sebagaimana kita lihat diatas bagi bangsa Israel. Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan disini. Pertama, “suara nafiri” ini haruslah dari satu sumber. Artinya, jika ada suara nafiri dari berbagai sumber, hal ini akan menimbulkan kekacauan, sebab gereja menjadi bingung mana yang harus didengarkan. Kedua, karena “suara nafiri” tidak boleh dari berbagai sumber, maka berarti harus ada satu orang saja yang meniup nafiri. Siapa yang harus meniup nafiri bagi gereja? Tentu saja kita semua sepakat bahwa Tuhan Yesuslah sebagai pemimpin gereja yang harus meniupnya.

Mari kita lihat kondisi dunia kekristenan saat ini. Bukankah ada banyak “para peniup nafiri” saat ini, sebanyak puluhan ribu denominasi yang ada? Dan semakin lama “para peniup nafiri” ini semakin bertambah, sesuai bertambahnya perpecahan gereja dalam dunia kekristenan. Seperti yang sudah sering kita tegaskan bahwa sebagian murid2 Tuhan mendengar “tiupan nafiri” dari pemimpin ini, sebagian lagi mendengar “tiupan nafiri” dari pemimpin itu. Tentu saja para “peniup nafiri” ini menganggap tiupan nafiri-nyalah yang paling Alkitabiah. Persoalannya, para “peniup nafiri” ini menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri (Kis. 20:28-30), dan membangun kelompok dimana para murid ini, pada akhirnya, hanya dapat dan mau mendengar tiupan nafirinya saja. Bahkan para peniup nafiri ini suka berdebat untuk membuktikan bahwa tiupan nafirinyalah yang paling benar.

Meskipun kita berkata seperti ini, bukan berarti para pemimpin jangan “meniup nafiri”. Paulus tegas berkata, beritakanlah firman, baik atau tidak baik waktunya. Jadi, setiap pemimpin harus “meniup nafiri”, tetapi jangan ‘menarik’ murid2 Tuhan kepada dirinya, apalagi tarik uang murid2 dengan berbagai cara/ajaran.

Jadi, bagaimana seharusnya para pemimpin ini berlaku didalam Tubuh Kristus. Kolose 2:19, mengajarkan kepada kita bahwa para pemimpin haruslah berlaku seperti “urat2 dan sendi2” didalam Tubuh, dan membiarkan otoritas Hayat (satu suara nafiri) saja yang mengatur pergerakkan Tubuh. Para peniup nafiri ini hanya boleh ‘memperlengkapi’ gereja saja (Efesus 4:11-12). Dengan demikian, gereja bertumbuh dalam Kristus, yang adalah Hayat gereja.

Tetapi, oleh kasih karuniaNya, ‘kawanan kecil’ diproses oleh Bapa di sorga sedemikian, sehingga dapat mendengar suara Tuhan Yesus ‘didalam batinnya’, dan mengikuti Anak Domba kemana saja Dia pergi (Yohanes 10:27; Wahyu 14:4).

Kita masih membahas hari raya Israel yang kelima, yaitu hari raya ‘Peniupan Nafiri’ (Imamat 23:23-25). Mari kita perhatikan lagi Bilangan 10:2, yang menegaskan, “Buatlah dua nafiri dari perak. Dari perak tempaan harus kaubuat itu…”. Dinyatakan diayat ini bahwa nafiri itu harus dibuat dari perak. Didalam Alkitab, ‘perak’ melambangkan ‘penebusan’. Dan angka 2 itu berbicara perihal ‘saksi’. Angka 2 juga berbicara perihal Kristus dalam kesatuan dengan umatNya, sebagai manusia baru yang diciptakan didalam Dia. Roma 8:16, berkata, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita…”. Juga Roma 9:1, menyatakan, “…Suara hatiku bersaksi dalam Roh Kudus”. Karenanya, peniupan 2 nafiri perak berbicara perihal kesempurnaan penebusan Kristus yang dikhabarkan oleh umat pilihanNya dalam kuasa Roh Kudus. Didalam ‘batin’ umat pilihanNya, ada suatu ‘kesaksian’ bahwa penebusan Kristus baginya telah sempurna.

Baiklah kita bandingkan pengalaman batiniah umat pilihanNya dengan para pemenangNya dari gereja kelima (gereja di Sardis), yang bersesuaian dengan hari raya kelima ‘Peniupan Nafiri’. Wahyu 3:5, berbicara kepada para pemenang gereja di Sardis, demikian, “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan BapaKu dan di hadapan para malaikatNya”. Diayat ini Yesus tegas berkata kepada para pemenang untuk memberikan ‘pakaian putih’, dan tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, serta akan mengaku namanya dihadapan Bapa.

Didalam dunia kekristenan, beberapa pengajar secara keliru menekankan iman sebagai ‘penentu’ keselamatan atau penebusan Kristus. Konsep seperti ini menyebabkan banyak orang berkata, ‘tergantung imanmu’, atau ‘tergantung responmu’, seolah-olah manusia menjadi ‘penentu akhir’ dari keselamatan. Tetapi, siapa sebenarnya yang menciptakan iman dan membawa iman orang kudus kepada kesempurnaannya, jika bukan Yesus (Ibrani 12:2).

Sesungguhnya, keselamatan itu soal OTORITAS YESUS. Setelah kebangkitanNya, Yesus tegas berkata bahwa segala otoritas di sorga, dan di bumi, sudah ditanganNya. Itu sebabnya Yesus berkata domba2Ku mendengarkan suaraKu, mengikut Aku, serta tidak seorangpun yang dapat merebut domba2 Yesus dari tanganNya (Yohanes 10:27-28). Bukankah ayat2 ini berbicara soal otoritas Yesus?

Demikian juga Lukas 12:32, berkata, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”. Kita lihat disini dengan jelas bahwa apakah seseorang itu mendapatkan kerajaan sorga atau tidak, semata-mata tergantung kehendak Bapa. Dan, Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga itu kepada ‘kawanan kecil’, karena dalam dunia kekristenan, ada banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. Adalah kedaulatan Bapa untuk memberi kasih karunia bagi seseorang untuk ‘dipanggil’ (gereja itu artinya kumpulan orang yang dipanggil). Tetapi, kita tahu gereja telah jatuh dan pecah menjadi puluhan ribu denominasi, karenanya, dari antara yang dipanggil, Bapa memilih sedikit orang, yang disebut ‘kawanan kecil’ pada ayat kita diatas. ‘Kawanan kecil’ ini akan diproses Bapa sehingga menjadi orang2 yang setia, sehingga genaplah Wahyu 17:14, yang menegaskan bahwa para pemenang itu adalah orang2 yang dipanggil, dipilih dan setia.

‘Kawanan kecil’ menjadi para pemenang semata-mata oleh keputusan Bapa dan otoritas Yesus yang menjamin kepastian keselamatannya. Karenanya, kepada ‘kawanan kecil’ akan diberikan ‘pakaian putih’, yaitu perbuatan2 yang benar dari orang2 kudus (Wahyu 19:8). Dalam konteks 7 gereja di Wahyu 2-3, maka perbuatan atau pelayanan ‘kawanan kecil’ tidak dicemarkan oleh tiga ajaran palsu, yaitu ajaran Bileam, Izebel dan Nikolaus.

Semua bagian para pemenang di gereja Sardis ini telah dialami didalam batin ‘kawanan kecil’ saat ini. Didalam batin ‘kawanan kecil’ ada suatu kesaksian yang diteguhkan oleh Roh Kudus, bahwa namanya tidak akan dihapus dari kitab kehidupan, dan bahwa Yesus akan mengakuinya dihadapan Bapa.

Saat ini kita akan masuk kepada hari raya Israel yang keenam, yaitu hari raya ‘Pendamaian’ (Imamat 23:26-32). Pada hari raya ini, yang dirayakan sekali setahun pada bulan ketujuh, Imam Besar mempersembahkan korban bakaran dan masuk kedalam ruang ‘Maha Kudus’ untuk memercikkan darah korban penebusan keatas ‘tutup pendamaian’ (Imamat 16). Hal ini dilakukan oleh Imam Besar untuk mengadakan pendamaian baginya sendiri, bagi keluarganya, dan bagi seluruh Jemaah Israel (16:17).

Yesus telah menggenapi hari raya ‘Pendamaian’ melalui korban DiriNya diatas kayu salib. Ibrani pasal 8 sampai 10, menjelaskan dengan rinci bagaimana Yesus, sebagai Imam Besar menurut aturan Melkisedek, masuk kedalam sorga menghadap hadirat Elohim guna kepentingan kita. Dan Yesus bukan masuk berulang-ulang menghadap hadirat Elohim, sebagaimana Imam Besar aturan Harun melakukannya, karena imam2 besar aturan Harun hanyalah simbol, atau bayangan saja (Ibrani 10:24-26). Jadi, Yesus hanya satu kali saja mempersembahkan darahNya kehadirat Elohim, dan kemudian duduk disebelah kanan Elohim, dan menjadi perintis bagi kita (Ibrani 6:20).

Mari kita perhatikan istilah Yunani untuk ‘perintis’ ini, yaitu ‘prodromos’, yang artinya ‘forerunner’. Istilah ini muncul hanya satu kali didalam PB. Didalam buku ‘Word Studies in the New Testament’ (volume IV, hal. 453), Marvin Vincent menjelaskan makna istilah ini dengan sangat baik. Dijelaskannya bahwa istilah ini mengungkapkan ide yang baru, dan sama sekali diluar pengertian sistem imamat aturan Harun. Imam Besar aturan Harun bukan masuk keruang maha kudus sebagai ‘perintis’, dan karenanya, umat Israel tidak boleh mengikuti Imam Besar untuk masuk kedalam ruang maha kudus. Tetapi, Yesus masuk kedalam ruang maha kudus sebagai ‘perintis’ dalam arti seluruh anggota gereja harus mengikuti jejakNya. Sebab, seluruh gereja itu adalah imam2 menurut aturan Melkisedek, dan harus mengikuti jejak Yesus untuk masuk kedalam “ruang maha kudus”.

Apa artinya masuk kedalam ruang maha kudus, seperti Yesus. Ini bukan berarti kita juga harus ikut mempersembahkan darah kita untuk mengadakan ‘pendamaian’ dihadapan Elohim. Karena pendamaian atau penebusan itu sudah sempurna dilakukan Yesus, seorang diri. Tetapi, maksud masuk ke ruang maha kudus, seperti Yesus, adalah mengalami ‘persekutuan’ dengan Elohim dalam ‘tingkat yang berbeda’ dengan ‘dipelataran Bait Suci’ atau ‘diruang kudus Bait Suci’. 

Kita ambil satu contoh dalam PL untuk menjelaskan hal ini, yaitu dalam kasus Yosua dan Kaleb (Bilangan 14). Mengapa Kaleb dan Yosua dapat mewarisi ‘tanah Perjanjian’ dijelaskan dalam ayat 24, demikian, “…Kaleb, karena lain jiwa (roh=batin) yang ada padanya dan ia mengikuti Aku dengan sepenuhnya…”. Batin Kaleb dan Yosua berbeda dari batin bangsa Israel secara keseluruhan. Secara ‘lahiriah’ Israel memang telah keluar dari Mesir, tetapi secara ‘batiniah’ Mesir belum keluar dari bangsa Israel. Itu sebabnya, di padang gurun, bangsa Israel selalu bersungut-sungut, tidak percaya, dan memberontak kepada Tuhan, serta cenderung ingin kembali ke Mesir. 

Baiklah kita aplikasikan perihal ini kedalam dunia kekristenan. Secara umum, dunia kekristenan telah membelah gereja menjadi dua bagian menurut ‘ajaran Nikolaus’ (Niko=menaklukkan, dan Laos=kaum awam). Didalam ‘Katolik’ dibedakan antara ‘imam’ dan ‘umat’, sedangkan didalam Protestan, dibedakan antara ‘para pendeta’ atau pelayan “full time” atau apapun namanya, dengan ‘jemaat’. Jadi, secara umum, dunia kekristenan tidak mungkin mengikuti jejak Yesus sebagai Imam Besar menurut aturan Melkisedek untuk masuk kedalam ruang ‘maha kudus’.

Tetapi, ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga, akan dibentuk sedemikian sehingga mengikuti Yesus kemanapun Dia pergi, termasuk mengikutiNya untuk masuk kedalam “ruang maha kudus” (Wahyu 14:4). Karena pembentukkan oleh Bapa, maka batin ‘kawanan kecil’ berbeda dengan batin mayoritas dunia kekristenan.

Telah kita bahas hari raya Israel yang keenam, yaitu hari raya ‘Pendamaian’, dimana Yesus telah menggenapinya dengan masuk kedalam sorga menghadap Elohim sebagai ‘perintis’ bagi kita. Juga telah kita lihat bahwa ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga akan mengalami ‘tingkat persekutuan’ di “ruang maha kudus”. Semua ini dapat terjadi kepada ‘kawanan kecil’ karena Yesus telah membuat kita menjadi “…raja-raja dan imam-imam bagi Elohim dan BapaNya…” (Wahyu 1:6). Tentu yang dimaksud disini adalah imam-imam menurut aturan Melkisedek, karena Yesus adalah Imam Besar menurut aturan Melkisedek.

Agar lebih jelas mengenai pengalaman batiniah ‘kawanan kecil’ ini, mari kita lihat ‘gereja keenam’ di Kitab Wahyu (Filadelfia) yang bersesuaian dengan hari raya Israel keenam, yaitu hari raya ‘Pendamaian’. Wahyu 3:12, menegaskan, “Siapa yang menang, Aku akan menjadikannya tiang di tempat kudus ElohimKu, dan dia sekali-kali tidak akan pernah keluar lagi, dan Aku akan menuliskan Nama ElohimKu padanya, dan nama kota ElohimKu, Yerusalem yang baru yang turun dari sorga dari ElohimKu, dan NamaKu yang baru” (ILT).

Ada dua hal yang perlu kita bahas dari ayat ini. Pertama, kita dibentuk Yesus sedemikian sehingga menjadi “tiang” di Bait Suci. Ini adalah proses yang terjadi didalam batin kita. Kita yang tadinya “tanah liat”, dibentuk menjadi “tiang” Bait Suci. Dan bukan hanya itu saja, tetapi ditegaskan bahwa kita tidak akan pernah keluar lagi. Ini berarti ada suatu ‘kepastian batiniah’ bahwa kita sudah ada didalam kerajaan sorga, dan bahwa kerajaan sorga sudah ada didalam batin kita. Kepastian batiniah ini berbeda dengan kepastian masuk sorga yang sering kita dengar dalam dunia kekristenan, yaitu ‘percaya Yesus, pasti masuk sorga’. Yang dimaksud “masuk sorga” itu nanti setelah kita mati jasmani, dan masuk suatu “tempat yang menyenangkan”, bahkan konon masih ada anjing didalamnya.

Kalau kita teliti didalam kitab2 PB, tidak ada satu ayatpun yang berbicara ‘konsep masuk sorga’ seperti yang umum diberitakan dalam dunia kekristenan. Yang diberitakan Alkitab adalah ‘percaya Yesus, maka mendapat hidup kekal (mendapat hayat Kristus=zoe)’. Dan ‘zoe’ ini adalah suatu jenis hidup yang dijalani Elohim, dan diberikan kepada orang percaya sebagai ‘BENIH’. Perlu pertumbuhan, sebagaimana semua ‘benih’ perlu bertumbuh. Itu sebabnya, didalam kitab Matius yang memiliki tema utama ‘kerajaan sorga’, terdapat banyak perumpamaan, sebagai contoh, perumpamaan ‘penabur’, ‘lalang diantara gandum’, ‘pukat’, ‘hamba yang setia dan hamba yang jahat’, ‘gadis bijaksana dan bodoh’, dan ‘talenta’. Semua perumpamaan ini berbicara mengenai orang percaya yang telah mendapat benih ‘hayat=zoe’. Tetapi, tidak semua bertumbuh, sebab dalam dunia kekristenan ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Jadi, kepada ‘kawanan kecil’ diberikan ‘kepastian batiniah’ sekarang dan saat ini tanpa perlu mati jasmani dulu. Sebab, kepada ‘kawanan kecil’ diberikan kasih karunia untuk ‘dipanggil dan dipilih’. 

Kedua, Yesus akan menuliskan Nama Elohim, Nama Kota Elohim, dan Nama Yesus yang baru. ‘Nama’ yang dituliskan kedalam batin kita, bukanlah suatu nama yang terdiri dari huruf2 tertentu, karena ‘Nama’ disini berarti karakter, reputasi, dan karya dari Elohim sendiri. Yesus menuliskan nama Elohim kedalam batin kita itu sama seperti yang dimaksud Ibrani 8:10, ketika menguraikan Perjanjian Baru. Akibat dari ‘penulisan Nama Elohim’ kedalam batin kita, maka kita mengalami pengenalan yang benar akan Elohim. Oleh kasih karuniaNya, ‘kawanan kecil’ mengalami proses penulisan batiniah ini sedemikian sehingga dapat mengenal rencana, jalan2, karya, dan karakter Elohim

Saat ini kita masuk kepada hari raya Israel yang ketujuh dan terakhir, yaitu hari raya Tabernakel (Imamat 23:33-44). Hari raya Tabernakel juga disebut hari raya ‘pengumpulan hasil’ (Keluaran 23:16). Juga disebut hari raya ‘bulan yang ketujuh’, dimana angka tujuh berbicara soal ‘kepenuhan atau kesempurnaan’ (Nehemia 8:14).  Jika kita perhatikan tiga hari raya utama Israel, yaitu Paskah, Pentakosta, dan Tabernakel, maka hari2 raya utama ini terkait dengan ‘tuaian’. Dalam Paskah, kita mempunyai hanya ‘berkas buah sulung’, dalam Pentakosta, kita mendapati ‘tuaian buah sulung’, dalam Tabernakel, kita mendapat ‘tuaian buah sulung dalam arti kepenuhannya’.

Telah kita bahas bahwa didalam sejarah gereja, penggenapan hari raya ‘Pentakosta’ adalah saat dimana terjadi ‘tuaian buah sulung’, yaitu pencurahan Roh Kudus dimana para Rasul dan orang percaya berkumpul disuatu tempat yang berjumlah kira-kira 120 orang (Kis. 1:15). Tetapi, karena Roh Kudus terus bekerja sepanjang zaman gereja, maka sesungguhnya, Elohim mempunyai ‘buah sulung’ gereja disepanjang zaman. Jadi, hari raya Tabernakel, sesungguhnya, adalah hari raya pengumpulan ‘buah sulung’ sepanjang zaman gereja.

Bagaimana hari raya Tabernakel ini tergenapi didalam gereja. Kita tahu bahwa pencurahan Roh Kudus yang terjadi pada 120 orang murid merupakan pencurahan Roh Kudus “sebagian” sebagai panjar atau jaminan. Efesus 1:14 menegaskan demikian, “…kamu yang percaya telah dimeteraikan dengan Roh perjanjian yang kudus, yang merupakan jaminan pusaka…(ARRABON= panjar, jaminan, atau down payment)” (ILT). Karenanya, pada penggenapan hari raya Tabernakel, ‘buah sulung’ gereja akan mengalami pencurahan Roh Kudus dalam kepenuhannya. Dan karena hari raya Tabernakel disebut hari raya ‘pengumpulan hasil’, maka seluruh ‘buah sulung’ gereja pada setiap zaman akan dikumpulkan dan mengalami pencurahan Roh Kudus sepenuhnya.

Peristiwa ‘pencurahan Roh Kudus sepenuhnya’ ini tidak sama dengan pengertian yang umumnya dipahami dalam dunia kekristenan sebagai “penuaian jiwa besar2an”, seperti diberitakan akan terjadi kebangunan rohani akhir zaman. Sebab, peristiwa ‘pencurahan Roh Kudus sepenuhnya’ ini merupakan tuaian ‘buah sulung’ gereja disepanjang zaman. Jadi, tidak semua anggota gereja sepanjang zaman akan mengalami pencurahan Roh Kudus sepenuhnya. ‘Buah sulung gereja’ itu adalah anggota gereja yang telah ‘matang lebih dahulu’, sesuai dengan pengertian ‘buah sulung’. Yakobus 1:18, menegaskan, “yang telah menentukan, agar kita menjadi suatu buah sulung dari ciptaanNya…” (ILT). Ayat ini juga menegaskan bahwa menjadi ‘buah sulung’ itu adalah keputusan dan penentuan Bapa.

Pencurahan Roh Kudus sepenuhnya itu adalah sesuatu yang Paulus sebut sebagai ‘pemuliaan oleh iman’ atau ‘glorification by faith’ (Roma 8). Didalam surat Roma, Paulus menjelaskan keselamatan dengan tiga ungkapan, yaitu pembenaran oleh iman (justificatian by faith), pengudusan oleh iman (sanctification by faith), dan pemuliaan oleh iman (glorification by faith). Pemuliaan oleh iman adalah sesuatu yang sangat dinantikan oleh seluruh makhluk (Roma 8:19-21). Ketika ‘pencurahan Roh Kudus seluruhnya’ terjadi, maka ‘buah sulung’ gereja akan ditampilkan (dimanifestasikan) kepada seluruh makhluk. Roma 8:19-21, menegaskan tujuan ditampilkannya ‘buah sulung’ gereja, yaitu untuk membebaskan ciptaan.

Tidak kebetulan Yakobus menggunakan ungkapan ‘buah sulung’ CIPTAAN, karena yang akan dibebaskan oleh ‘buah sulung’ gereja adalah SELURUH CIPTAAN.

Kita masih meneruskan pembahasan kita mengenai hari raya Israel yang ketujuh, yaitu hari raya Tabernakel. Telah kita lihat bahwa penggenapan hari raya Tabernakel itu adalah pengumpulan hasil ‘buah sulung’ gereja. Dan, pengumpulan hasil ‘buah sulung’ ini terjadi ketika pencurahan Roh Kudus ‘sepenuhnya’ tiba. Memang saat ini pencurahan Roh Kudus ‘sepenuhnya’ itu belum dialami oleh ‘buah sulung’ gereja, tetapi penggenapan hari raya Tabernakel itu telah dialami ‘secara batiniah’ oleh ‘buah sulung’ gereja. Sesungguhnya, ‘buah sulung’ gereja itu adalah ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa disorga berkenan memberikan kerajaan sorga itu (Lukas 12:32).

Kita akan membahas ‘para pemenang’ gereja ketujuh (Laodikia) yang bersesuaian dengan penggenapan hari raya ketujuh Israel, yaitu Tabernakel. Wahyu 3:21, menegaskan, “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhtaKu, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan BapaKu di atas takhta-Nya”. Sesungguhnya, ‘kawanan kecil’ sebagai ‘buah sulung’ gereja, saat ini, telah mengalami pengalaman ‘batiniah’ didudukkan bersama-sama Tuhan Yesus diatas takhtaNya. 

Kita akan menjelaskan pengalaman ‘batiniah’ ini melalui surat Efesus. Watchman Nee, dalam bukunya, ‘sit, walk, stand’ dengan jelas menguraikan pengalaman ini. Efesus 2:6, menjelaskan demikian, “dan Dia telah membangkitkan kita bersama, dan mendudukkan kita bersama di alam semesta di dalam Kristus Yesus” (ILT). Istilah Yunani ‘epouranios’ yang diterjemahkan ‘alam semesta’ diayat ini sebenarnya berarti ‘in the heavenly sphere’, yaitu suatu DIMENSI dimana Elohim menegakkan takhtaNya. Sorga itu bukan suatu TEMPAT yang menyenangkan “nun jauh disana” di alam semesta ini, sebagaimana sering dipahami dalam dunia kekristenan. Sorga itu suatu ‘dimensi sorgawi’ dimana takhta/kerajaan sorga berada. Dan, sesungguhnya, ‘dimensi sorgawi’ ini berada dibatin kita.

Yesus berkata kepada orang2 Farisi bahwa ‘kerajaan sorga itu ada didalam kamu’ (Lukas 17:21, Yunani ‘entos’ disini harus diterjemahkan ‘didalam’). Jadi, kerajaan sorga itu ada dalam dimensi ‘batiniah’ kita. Tetapi, bagi orang2 Farisi, kerajaan sorga tidak akan mereka alami, juga mereka tidak akan masuk kedalamnya, sebab mereka menolak Yesus sebagai Mesias. Tetapi, bagi ‘kawanan kecil’ yang mendapat kasih karunia dihadapan Bapa, maka kerajaan sorga merupakan realita saat ini. ‘Kawanan kecil’ sudah berada dalam kerajaan sorga, dan kerajaan sorga sudah dialami saat ini.

Pengalaman ‘batiniah’ didudukkan bersama-sama Yesus di takhtaNya memang merupakan pengalaman ‘para pemenang’ di gereja Laodikia. Dalam dunia kekristenan, umumnya, konsep tentang ‘masuk sorga’ itu nanti terjadi ketika seseorang mati secara jasmani. Sesungguhnya, jika orang kristen tidak mengalami pengalaman ‘batiniah’ duduk bersama Yesus di sorga saat ini, maka ketika mati jasmanipun mereka tidak akan masuk kerajaan sorga. Kematian jasmani tidak menambahkan apa-apa kepada kondisi ‘batiniah’ seseorang. Kematian jasmani justru akan membongkar keadaan ‘batiniah’ seseorang yang sesungguhnya. Jadi, jika saat ini tidak masuk sorga, maka setelah matipun tidak akan masuk sorga.

Kita akan meneruskan dan menutup tulisan singkat ini dengan melanjutkan pembahasan kita mengenai ‘pengalaman batiniah’ kawanan kecil sebagai penggenapan hari raya Tabernakel. Telah kita lihat bahwa saat ini ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga itu telah mengalami pengalaman batiniah ‘didudukkan’ bersama Kristus di takhtaNya. Secara ‘batiniah’ kawanan kecil telah masuk kedalam kerajaan sorga, dan kerajaan sorga telah ada didalam mereka. Kita akan melihat pengalaman ‘kawanan kecil’ berikutnya didalam kitab Efesus, yaitu pengalaman ‘berjalan’ (walk).

Efesus 4:1, mengatakan, “…supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu”. Istilah Yunani ‘peripateo, yang diterjemahkan ‘hidupmu’, sebenarnya berarti ‘jalan’ (kata kerja). Maksud ayat diatas adalah supaya ‘jalan hidupmu’ sesuai/berpadanan dengan panggilanmu. Jalan hidup yang dimaksud disini adalah cara hidup sehari-hari, baik dalam berkeluarga, berbisnis, dan dalam hal apapun. Pengertian ayat ini sama sekali tidak bermaksud menyatakan cara atau ritual, atau bentuk ibadah tertentu.

Contoh kehidupan Yesus dan Yohanes Pembaptis dapat menjelaskan makna ‘jalan’ yang dimaksud. Yesus maupun Yohanes Pembaptis, tidak “berjalan” didalam dunia keagamaan yang ada pada waktu itu (Yudaisme). Yesus dan Yohanes Pembaptis “berjalan” sehari-hari diluar Yudaisme. Hal ini bukan karena Yesus dan Yohanes Pembaptis bukan berasal dari suku Lewi, tetapi ada kebenaran tertentu mengapa Yesus dan Yohanes Pembaptis tidak “berjalan” didalam Yudaisme. 

Sesungguhnya, ada “anggur baru” (pewahyuan baru) yang tidak dapat ditampung oleh “kirbat lama” (struktur lama), artinya, Yesus dan Yohanes Pembaptis membawa pewahyuan baru mengenai ‘kerajaan sorga’ yang tidak dapat diterima oleh Yudaisme. Itu sebabnya, baik Yesus maupun Yohanes Pembaptis memberitakan, ‘bertobatlah, sebab kerajaan sorga sudah dekat’. Mengapa harus bertobat? Karena Yudaisme harus merubah pemikiran mereka tentang ‘kerajaan sorga’.

Demikian juga, ‘kawanan kecil’ tidak dapat berjalan didalam dunia keagamaan yang ada. ‘Kawanan kecil’ berjalan dalam kehidupan sehari-hari diluar struktur dunia kekristenan. ‘Kawanan kecil’ berjalan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan nilai2 dan pimpinan kerajaan sorga yang didalam batinnya. Dunia kekristenan telah penuh aturan2 agamawi ‘harus ini harus itu’ supaya dapat masuk sorga. Tetapi, ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa telah berkenan memberikan kerajaan sorga, sedang belajar dan terus belajar mengekspresikan ‘kerajaan sorga’ dibumi, dalam kehidupannya sehari-hari.

Pengalaman selanjutnya ‘kawanan kecil’ adalah “berdiri” (stand). Efesus 6:11, menyatakan, “…supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis”. Istilah Yunani ‘histemi’ yang diterjemahkan ‘bertahan’, sebenarnya berarti ‘berdiri’ atau ‘tetap tinggal’. Maksudnya, kita tidak merebut sesuatu, tetapi hanya mempertahankannya terhadap serangan2 iblis. Kita hanya mempertahankan dan tetap tinggal didalam ‘kemenangan Kristus’ saja. Kita sudah ada didalam kerajaan sorga, dan tinggal berdiri mempertahankannya dari tipuan2 iblis. ‘Kawanan kecil’ tidak berbuat ini dan itu supaya masuk sorga, tetapi hanya mempertahankan kerajaan sorga yang memang telah diberikan Bapa di sorga.

Sebagai kesimpulan dari tema kita ini adalah ketujuh hari raya Israel telah digenapi oleh Yesus, dan demikian juga telah digenapi ‘secara batiniah’ bagi ‘kawanan kecil’. Kita tinggal menunggu penggenapan hari raya Tabernakel, dalam arti pencurahan Roh Kudus ‘sepenuhnya’, sehingga kerajaan sorga yang didalam batin kita tertampil (termanifestasi) di bumi ini, dan kita melayani dibumi ini dalam tubuh kemuliaan. Amin.

 

 

 

 

  

    

 

 

 

 

 

      

 

 

 

 

 

 

   

  

  

  

 

 

  

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

 

Comments