Hari Raya Israel dan Penggenapannya.
Hari Raya Israel dan Penggenapannya
Oleh: Irnawan Silitonga
Saat ini kita akan membahas mengenai hari-hari raya Israel
dan penggenapannya. Ada 7 hari raya Israel, dimana tiga diantaranya biasa
disebut hari raya yang utama. Tiga kali dalam setahun bangsa Israel harus
datang ke Yerusalem untuk merayakannya. Ulangan 16:16, menegaskan, “Tiga kali dalam setahun setiap laki-laki di
antaramu harus terlihat dihadapan YAHWEH, Elohimmu, ditempat yang akan Dia
pilih, yaitu pada hari raya Roti Tidak Beragi, dan pada hari raya Tujuh Pekan,
dan pada hari raya Sukkot….” (ILT).
Mari kita langsung melihat hari-hari raya ini. Pertama,
hari raya Paskah (Imamat 23:4-5). Kedua, hari raya Roti Tidak Beragi
(Imamat 23:6-8). Ketiga, hari raya Berkas Buah Sulung (Imamat 23:9-14, The feast
of the Sheaf of Firstfruit). Keempat, hari raya Pentakosta atau
Tujuh Pekan (Imamat 23:15-22). Kelima, hari raya Peniupan Nafiri
(Imamat 23:23-25). Keenam, hari raya Pendamaian (Imamat 23:26-32). Ketujuh,
hari raya Pondok Daun (Imamat 23:33-44). Hari raya Paskah terjadi dibulan
pertama, hari raya Pentakosta terjadi dibulan ketiga, dan hari raya Pondok Daun
terjadi dibulan ketujuh.
Demikianlah secara ringkas hari-hari raya Israel. Sebelum
kita lanjut, perlu kita tegaskan dahulu prinsip penafsiran seperti apa yang
kita gunakan untuk memaknai penggenapan hari-hari raya Israel ini. Ada beberapa
penafsir yang memaknai penggenapan hari-hari raya Israel ini sebagai suatu
PERISTIWA LUARAN yang akan dialami gereja. Sebagai contoh, berdasarkan prinsip
penafsiran ini maka gereja akan mengalami “pengangkatan
(rapture)” pada penggenapan hari raya tertentu. Juga, penggenapan hari raya
tertentu terkait dengan suatu konsep mengenai “kedatangan Yesus kedua kali”, dan sebagainya.
Tetapi kita akan memaknai penggenapan hari-hari raya Israel
ini sebagai PENGALAMAN BATINIAH orang percaya (gereja). Secara umum,
penggenapan hari-hari raya Israel ini menggenapi Roma 8:19-21, dan Galatia
2:20. Kita tidak mengutip kedua ayat ini, namun kedua ayat ini berbicara
mengenai pengalaman orang percaya, dimana ‘Kristus
didalam batin yang adalah hidup kita’ bertumbuh dan termanifestasi.
Tentu kita tidak berbicara pengalaman rohani seperti
terguncang-guncang, rebah, kejang2, atau loncat2 dan sebagainya, serta langsung
memaknainya sebagai pengalaman “kepenuhan Roh Kudus”. Pengalaman rohani sejati
pastilah memiliki dasar dalam Kitab Suci. Kita tahu bahwa semua perabot didalam Kemah Musa atau Bait Suci merupakan
simbol dari pengalaman2 rohani orang percaya. Kita jangan sampai menafsirkan setiap
pengalaman “super natural” sebagai pengalaman rohani sejati.
Tetapi juga, kita jangan sampai jatuh ke ekstrim yang lain,
dimana semua pengalaman2 “super natural” ditolak, dengan alasan, yang penting
adalah pemahaman Kitab Suci. Mari kita perhatikan perkataan Yesus kepada orang2
Saduki dalam Matius 22:29, demikian, “…Kamu
tersesat, karena tidak memahami kitab suci maupun kuasa Elohim” (ILT).
Jadi, seseorang tersesat jika ia tidak memahami Kitab Suci dan juga tidak
mempunyai pengalaman rohani sejati dengan kuasa Elohim.
Setiap pengalaman rohani sejati pastilah membuat seseorang
bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan rencanaNya. Bertumbuh dalam kasihnya
kepada Tuhan. Bertumbuh ‘Kristus didalam
batinnya’. Jadi, prinsip penafsiran kita terhadap penggenapan hari2 raya
Israel ini ‘bersifat batiniah’.
Telah kita tegaskan bahwa penggenapan hari-hari raya Israel
ini merupakan pengalaman batiniah orang percaya (gereja), dimana secara umum,
penggenapan hari-hari raya Israel ini menggenapi Roma 8:19-21, dan Galatia
2:20. Hal ini berarti bahwa ‘Kristus
didalam batin yang adalah hidup kita’ bertumbuh dan termanifestasi. Gereja
akan mengalami ‘pengalaman batiniah
didalam Kristus’ sebagai penggenapan hari-hari raya Israel.
Namun, sebagaimana kita ketahui, gereja telah jatuh dan pecah
menjadi ribuan denominasi. Kejatuhan gereja ini memang telah dinyatakan kepada
kita didalam kitab2 PB, terutama perkataan Paulus dalam Kis. 20:28-30, serta
pewahyuan yang diterima rasul Yohanes di Pulau Patmos mengenai kejatuhan gereja
(Wahyu 2-3). Serigala ganas telah menyerang para pemimpin gereja sedemikian
sehingga para pemimpin ini menarik para pengikut dengan ajaran palsu dan
mendirikan kerajaannya sendiri. Didalam Wahyu 2-3, dijelaskan trilogi ajaran
palsu, yaitu ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus, yang telah membuat kondisi
gereja menjadi seperti sekarang ini.
Dalam kondisi gereja yang telah jatuh ini, maka firman Tuhan
memanggil para pemenang dalam setiap tipe/zaman gereja (Wahyu 2-3). Didalam
tujuh gereja di Asia kecil yang menggambarkan gereja sepanjang zaman ini,
terdapat panggilan, “Barangsiapa menang…”.
Kemudian, setelah firman Tuhan memanggil para pemenang ini, maka dilanjutkan
dengan “bagian/upah” bagi para
pemenang. Bagian atau upah para pemenang ini merupakan suatu ‘pengalaman batiniah’ bersama Kristus,
dan merupakan penggenapan hari2 raya Israel.
Mari kita melihat lebih jauh mengenai para pemenang ini agar
kita tidak keliru terhadapnya, serta menganggap para pemenang ini adalah ‘orang-orang hebat dan terkenal’ dalam
dunia kekristenan. Lukas 12:32, menegaskan, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan
memberikan kamu Kerajaan itu”. Konteks ayat ini adalah perkataan Yesus
kepada murid2Nya agar jangan kuatir mengenai soal makanan dan minuman. Dan
Yesus memberi perintah supaya mencari Kerajaan Sorga lebih dahulu (ayat 31).
Tetapi selanjutnya, Yesus menyatakan keputusan Bapa bahwa Ia telah berkenan
memberikan Kerajaan Sorga itu.
Disini, murid2 Yesus, yang kepada mereka, Bapa berkenan
memberikan kerajaan sorga, disebut ‘kawanan
kecil’. Istilah Yunani ‘mikros’ yang diterjemahkan ‘kecil’
disini, bukan saja berarti kecil dalam jumlah atau kuantitas, tetapi juga
berarti kecil dalam ‘dignity’ (kemuliaan dan kehormatan).
Hal ini sangat bermakna sekali, sebab didalam dunia kekristenan dimana gereja
telah pecah menjadi ribuan denominasi, maka ‘ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih’. Sedikit
yang dipilih ini adalah orang2 “sederhana”
dalam dunia kekristenan.
Kita harus jelas mengenai hal ini sebelum kita menguraikan
penggenapan hari2 raya Israel. Para pemenang atau “orang2 kecil” dalam dunia kekristenan ini, semata-mata mendapatkan
‘kerajaan sorga’ hanya oleh keputusan
dan kedaulatan Bapa saja. Bukan karena ‘kawanan kecil’ ini hebat, terkenal,
memiliki karunia Roh yang banyak, atau “dipakai Tuhan luar biasa”, maka Bapa
berkenan memberikan kerajaan sorga. Tidak demikian. Jelas bahwa ‘kawanan kecil’
ini semata-mata mendapatkan kasih karunia dan diberikan kerajaan sorga secara
cuma-cuma oleh Bapa di sorga.
Kerajaan sorga itu telah diberikan Bapa kepada ‘kawanan
kecil’ SEKARANG, SAAT INI, dan DISINI, DIBUMI INI. ‘The Kingdom of God is within you’.
Kawanan kecil telah menikmati dan mengalami kerajaan sorga sekarang dibumi ini,
walaupun kerajaan sorga ini belum ditampilkan sepenuhnya di bumi. Sementara ‘kawanan besar’ dalam dunia kekristenan
menantikan “sorga nun jauh disana”, suatu tempat yang menyenangkan, yang konon
akan diterima setelah mati nanti, maka ‘kawanan kecil’, oleh kasih karunia
Bapa, telah menerima dan menikmatinya sekarang, walau tentu belum sepenuhnya
karena kerajaan sorga belum termanifestasi seluruhnya dimuka bumi ini.
Kita tahu bahwa ‘kawanan kecil’ ini mendapatkan kasih karunia
dan diberikan kerajaan sorga secara cuma-cuma oleh Bapa di sorga, semata-mata
hanya oleh keputusan dan kedaulatan Bapa saja. Walaupun diberikan dengan
cuma-cuma, Bapa di sorga membentuk dan memproses ‘kawanan kecil’ agar dapat
berfungsi sebagai raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek. Sebab, kerajaan
sorga seperti diuraikan Alkitab berbeda dengan konsep sorga yang telah
dipercaya oleh mayoritas orang kristen.
Konsep sorga yang sering diberitakan dimimbar-mimbar minggu
umumnya merupakan suatu tempat yang menyenangkan nun jauh disana, dimana orang
hanya menyanyi-nyanyi saja kerjanya. Orang kristen yang masuk sorga model
seperti ini memang tidak perlu dipersiapkan sama sekali. Bayi-bayi rohani,
ataupun siapa saja dapat dimasukkan kedalam sorga model seperti ini. Tetapi,
sorga yang diwahyukan Alkitab itu berbentuk kerajaan yang akan ditegakkan
dibumi, dimana ada tanggung jawab dan tugas besar yang harus diselesaikan
(Wahyu 4-5).
Didalam kitab Wahyu kita melihat bagaimana kerajaan sorga
ditegakkan dibumi, sehingga membuat bumi bergerak menuju Bumi dan Langit Baru
dimana tidak ada lagi maut, yang merupakan upah dosa. ‘Kawanan kecil’ yang
kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga haruslah dibentuk dan
diproses agar dapat berfungsi dengan baik. Perhatikan Wahyu 5:10, demikian, “dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja
dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi”
(ILT). ‘Kawanan kecil’, yang didalam Wahyu 4-5 disimbolkan dengan 4 makhluk dan
24 tua-tua ini perlu diproses agar dapat menjadi imam2 dan raja2 serta dapat
memerintah dibumi ini. Ada suatu tugas besar yang telah tertulis didalam kitab
yang dimeteraikan oleh 7 materai, dimana hanya Anak Domba yang berhak membuka
kitab ini. Dan kita tahu bahwa tugas besar ini adalah untuk memulihkan segala
sesuatunya agar kehendak Bapa semula digenapi.
Itu sebabnya, ‘kawanan kecil’ perlu mengalami pembentukkan
Bapa yang khusus, dan tentu tidak dialami oleh ‘kawanan besar’ dalam dunia
kekristenan. ‘Kawanan kecil’ mengalami proses yang pada prinsipnya sama seperti
Anak Domba, yaitu belajar taat dari penderitaan yang dialami (Ibrani 5:8). Bapa
di sorga menggunakan penderitaan yang kadang-kadang “aneh” agar ‘kawanan kecil’
menjadi taat, tidak berbantah, dan dapat mengikuti Anak Domba kemanapun Ia
pergi (Wahyu 14:4). Perihal ‘mengikuti
Anak Domba kemana saja Ia pergi’ tidak dapat dilakukan didalam sistem
(dunia) kekristenan, sebab orang yang didalam sistem kekristenan tidak bebas
lagi. ‘Kawanan kecil’ dibentuk oleh Bapa sehingga menjadi “orang bebas” namun juga menjadi ‘tawanan
Roh’. Demikianlah ‘kawanan kecil’ dapat mendengar suara Yesus, sang gembala
sejati, dan mengikutiNya kemana saja Ia pergi (Yohanes 10).
Proses pembentukan Bapa yang dialami ‘kawanan kecil’ akan
membuat mereka menempuh jalan yang berbeda dari yang umumnya dijalani orang
Kristen. Tuhan Yesus pernah berbicara mengenai pintu yang sesak dan jalan yang
sempit ketika Ia berkhotbah di bukit kepada murid2Nya (Matius 7:13-14).
‘Kawanan kecil’ dibentuk Bapa sedemikian sehingga mereka dimampukan melewati
pintu yang sesak serta jalan yang sempit, sebab lebarlah pintu dan luaslah
jalan menuju kebinasaan, dan banyak orang melaluinya.
Jadi, sekali lagi, sekalipun ‘kawanan kecil’ diberikan
kerajaan sorga oleh Bapa dengan cuma-cuma, namun ‘kawanan kecil’ perlu melalui
proses penderitaan agar dipersiapkan untuk suatu tanggung jawab yang besar
kelak.
Kita masih membicarakan sedikit lagi mengenai proses yang
harus dilalui ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa telah berkenan memberikan kerajaan
sorga itu. Kita akan melihat kasus Gideon dalam membahas proses, atau lebih
tepat ‘penyaringan’, bagi ‘kawanan
kecil’ ini. Kasus Gideon ini tertulis dalam Hakim-Hakim 6-8.
Kasus Gideon terjadi ketika Israel melakukan yang jahat
dihadapan Tuhan dan Tuhan menyerahkan mereka kedalam tangan orang Midian tujuh
tahun lamanya. Gideon terpilih untuk membebaskan orang Israel dari tangan orang
Midian, dan karenanya Gideon memanggil orang Israel untuk bertempur dengan
Midian. Gideon mengumpulkan sebanyak 32.000 orang Israel untuk berperang.
Tetapi, Tuhan berfirman kepada Gideon bahwa terlalu banyak rakyat yang
menyertainya. Kemudian Tuhan menyuruh Gideon agar berseru kepada rakyat
demikian, “…Siapa yang takut dan gentar,
biarlah ia pulang…” (Hak. 7:3). Ternyata, ada 22.000 orang yang takut dan
tinggallah 10.000 orang. Tetapi kemudian, Tuhan berfirman masih terlalu banyak
orang.
Selanjutnya, Tuhan menyaring rakyat yang tertinggal dengan
cara menyuruh mereka minum di sungai. Rakyat yang meminum seperti anjing
menjilat ada 9700 orang, tetapi yang meminum dengan membawa tangannya kemulut
hanya 300 orang. Dan Tuhan berfirman bahwa dengan ke-300 orang inilah akan
mulai penyelamatan bagi Israel.
Dari kasus Gideon ini kita mendapat satu prinsip bahwa ‘banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang
dipilih’. Yang dipanggil untuk berperang ada 32.000 orang Israel, tetapi
yang dipilih hanya 300 orang saja. Dalam kasus Gideon, proses yang dialami
ke-300 orang ini memang berupa suatu ‘penyaringan’.
Ke-300 orang ini dipilih karena mereka ternyata tidak takut, dan juga mereka
memiliki “penguasaan diri” sehingga
mereka tidak minum air sungai seperti anjing menjilat.
Sesungguhnya, ke-300 orang yang dipilih Tuhan ini bukanlah
karena mereka lebih baik dari yang lainnya. Jika kita memperhatikan keseluruhan
Alkitab, khususnya dalam ajaran pemilihan Tuhan, maka kita tahu bahwa pemilihan
Tuhan atas seseorang selalu didasarkan atas keputusan dan kasih karuniaNya
semata-mata. Bahkan mengenai pilihan Tuhan atas bangsa Israel, Ulangan 7:7,
menegaskan, “Bukan karena lebih banyak
jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih
kamu – bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa?”. Jadi,
sebenarnya, ke-300 orang yang akan menyertai Gideon, memang telah ditetapkan
dan dipilih Tuhan sebelumnya. Penyaringan yang telah kita bahas diatas hanyalah
cara Tuhan untuk mendapatkan yang ke-300 orang ini. Ke-300 orang ini telah
diproses Tuhan sebelumnya sehingga mereka tidak takut dan memiliki ‘penguasaan
diri’ seperti yang telah kita lihat.
Mari kita kembali melihat ‘kawanan kecil’ yang ditetapkan
Bapa untuk menerima kerajaan sorga. Sekali lagi kita tegaskan bahwa ‘kawanan
kecil’ ini dipilih bukan karena lebih baik dari ‘kawanan besar’ dalam dunia
kekristenan. Tetapi, karena proses pembentukan Bapa, memang ‘kawanan kecil’ ini
mempunyai perbedaan dengan ‘kawanan besar’ dalam dunia kekristenan.
Dunia kekristenan juga akan mengalami “penyaringan” kelak,
seperti contoh yang telah kita lihat dalam kasus Gideon.
Perumpamaan-perumpamaan perihal kerajaan sorga didalam kitab Matius menjelaskan
tentang “penyaringan” ini. Perumpamaan lalang diantara gandum, perumpamaan
tentang pukat, perumpamaan gadis bijaksana dan bodoh, perumpamaan talenta,
semua perumpamaan mengenai kerajaan sorga ini berbicara soal “penyaringan”.
Didalam kerajaan sorga, ada banyak yang dipanggil, tetapi kemudian terjadi
“penyaringan” dan hanya sedikit yang dipilih. Yang dipilih Tuhan adalah mereka
yang mendapat kasih karunia untuk diproses sedemikian sehingga mereka berbeda
dengan yang lainnya, serta dimampukan untuk ikut dalam peperangan rohani
bersama Anak Domba Elohim didalam kerajaanNya.
Saat ini kita masuk kepada hari raya Israel yang pertama,
yaitu hari raya Paskah. Mari kita perhatikan Keluaran 12:1-14, untuk memahami
hari raya ini. Disini kita akan mengutip beberapa bagian saja demikian, “…inilah akan menjadi permulaan segala bulan
bagimu… seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga… darahnya haruslah
diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas,
pada rumah-rumah dimana orang memakannya…janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari
daging itu sampai pagi… pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di
tanganmu; buru-burulah kamu memakannya”.
Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan disini. Pertama,
bulan dimana Paskah dirayakan menjadi bulan pertama bagi bangsa Israel. Hal ini
menjadi permulaan keselamatan Tuhan atas Israel. Keselamatan itu merupakan
suatu perjalanan, yaitu perjalanan menuju suatu warisan di Tanah Perjanjian. Kedua,
anak domba Paskah itu untuk tiap-tiap rumah tangga, karenanya keselamatan itu
dimulai pada tiap-tiap rumah tangga. Ketiga, darah anak domba ini harus
dibubuhkan pada “kusen pintu” tiap-tiap rumah. Darah ini terutama diperuntukkan
bagi Elohim. Ketika Elohim melihat darah pada tiap-tiap “kusen” rumah, maka
rumah itu akan diselamatkan dari malaikat maut yang akan membunuh anak2 sulung.
Keempat,
daging anak domba Paskah harus dimakan habis oleh rumah tangga itu. Kelima, daging anak domba itu harus
dimakan buru-buru, karena Israel akan pergi keluar dan meninggalkan Mesir.
Bagaimana kita menerapkan hari raya Paskah ini bagi kehidupan
rohani kita? Anak Domba Paskah kita jelas adalah Yesus Kristus. Ketika kita
percaya kepada pengorbananNya di kayu Salib, itulah ‘permulaan’ perjalanan
rohani kita. Percaya pada pengorbanan Yesus di kayu salib hanyalah permulaan
saja. Orang percaya perlu “berjalan terus” menuju warisannya di “tanah
Perjanjian”. Selanjutnya, daging anak domba Paskah harus dimakan habis. Yesus
berkata, “Barang siapa makan dagingKu dan
minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal…” (Yohanes 6:54). Istilah ‘hidup’
disini diterjemahkan dari istilah Yunani ‘zoe’, yang artinya jenis hidup yang
dijalani oleh Elohim. Keselamatan terjadi ketika orang percaya mulai makan ‘zoe’
melalui Roh dan iman. Orang percaya harus memakan habis “daging Kristus” agar ia dipersiapkan untuk perjalanan keselamatan
selanjutnya.
Selanjutnya, orang percaya harus bersiap-siap untuk
meninggalkan “Mesir” atau dunia agar ia dapat meraih warisannya. Baiklah kita
berbicara sedikit perihal “meninggalkan Mesir” ini. Mengapa generasi pertama
Israel yang keluar dari Mesir gagal meraih warisannya, kecuali keluarga Yosua
dan keluarga Kaleb? Yosua 5:9, memberikan jawabannya demikian, “…Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu
dari padamu…”. Ternyata, generasi pertama membawa ‘cela Mesir’, sehingga mereka cenderung ingin kembali ke Mesir jika
ada kesulitan didalam perjalanan. Generasi pertama telah meninggalkan Mesir,
tapi Mesir belum meninggalkan mereka. Fakta ini perlu kita renungkan baik-baik.
Kekristenan juga telah mejadi dunia (kosmos=sistem). Tidak heran Wahyu 18:4 berkata, “…pergilah kamu, hai umatKu, pergilah dari
padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya…”. Yang
dimaksud dari ayat ini, umat pilihanNya harus keluar dari gereja “dunia” yang
disimbolkan oleh perempuan pelacur (Wahyu 17:1). Pelacur disini disebabkan
gereja “dunia” tidak hanya menerima benih firman Tuhan saja melainkan juga
benih ajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus, sebagaimana pelacur menerima “benih”
dari banyak pria.
‘Kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa memberikan warisan
keselamatan, yaitu ‘kerajaan sorga
didalam batin’, telah diproses sedemikian sehingga tidak ada “cela Mesir”
lagi didalam batinnya. Karenanya, ‘kawanan kecil’ tidak mengambil bagian dalam
ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus, yang memang telah diterima secara luas
dalam dunia kekristenan. Kita tidak membahas disini mengenai ajaran Izebel,
Bileam dan Nikolaus.
Kita masih melanjutkan pembahasan kita mengenai hari raya
Israel yang pertama, yaitu hari raya Paskah. Telah kita tegaskan bahwa
penggenapan hari-hari raya Israel berkaitan dengan pengalaman ‘batiniah’ kita sebagai umat pilihanNya.
Saat ini kita akan melihat “upah”
atau pengalaman ‘batiniah’ para pemenang dizaman gereja, yang merupakan
penggenapan hari2 raya Israel. Ada tujuh gereja dalam kitab Wahyu 2-3, dan
masing2 bersesuaian dengan penggenapan dari tujuh hari raya Israel.
Pengalaman ‘batiniah’ para pemenang pada gereja pertama
(gereja di Efesus) bersesuaian dengan penggenapan hari raya Israel yang
pertama, yaitu Paskah. Wahyu 2:7, menegaskan, “… Bagi
dia yang menang, Aku akan memberikan kepadanya makan dari pohon kehidupan yang
ada di tengah-tengah firdaus Elohim” (ILT). Pohon Kehidupan merupakan
simbol dari Yesus Kristus sebagai hayat (zoe) kita. Itu sebabnya Yesus
berkata, “… Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya,
kamu tidak mempunyai hidup (zoe)
didalam dirimu”. Jadi, kepada para pemenang, Bapa memberikan kasih
karuniaNya sehingga kita bisa ‘makan
hayat Kristus’ yang ada didalam batin kita.
‘Makan hayat Kristus’
setiap hari akan membuat seluruh kebutuhan rohani kita tercukupi. Itu sebabnya
rasul Yohanes menegaskan, “Sebab di dalam
diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu
tidak perlu kamu diajar oleh orang lain…” (I Yohanes 2:27). Rasul Yohanes
mengatakan ini karena ada orang2 yang berusaha menyesatkan umat pilihan Tuhan
(ayat 26). Dalam dunia kekristenan dimana gereja telah pecah menjadi ribuan
denominasi, ada banyak guru2 palsu, nabi2 palsu, pengajar2 curang, dan gembala2
palsu yang berusaha menyesatkan dan ambil keuntungan dari umat Tuhan. Tetapi,
Yesus menegaskan bahwa domba2Ku mendengarkan suaraKu dan mengikut Aku (Yohanes
10:27). Dimana suara Yesus terdengar? Didalam batin umat pilihanNya karena ‘makan hayat Kristus’ setiap hari.
Domba2 Yesus tidak mengikuti pemimpin ini atau itu untuk
memenuhi kebutuhan rohaninya. Semua kebutuhan rohani kita terpenuhi semata-mata
karena kita ‘makan hayat Kristus’ yang ada didalam batin kita, setiap hari. Rasul
Yohanes tegas berkata, “… tidak perlu
kamu diajar oleh orang lain”. Maksudnya, bukan tidak belajar dari orang
lain, karena rasul Yohanes juga menuliskan surat2nya agar umat pilihanNya
belajar sesuatu darinya. Tetapi maksudnya, umat pilihanNya semata-mata
mendengar dan mengikut Yesus, dan tidak dapat “dicuri” oleh pemimpin manapun (Yohanes 10:28).
Para pemenang didalam gereja pertama (Efesus) tidak ambil
bagian dengan “…perbuatan
pengikut-pengikut Nikolaus…” (Wahyu 2:6). ‘Nikolaus’ berasal dari
dua istilah Latin, yaitu ‘niko’ artinya ‘menaklukkan’ dan ‘laos’
yang artinya ‘kaum awam’ (laity). Jadi, ‘nikolaus’ berarti ‘menaklukkan kaum
awam’. Dalam dunia kekristenan, gereja telah terbelah menjadi dua karena para
pemimpin menaklukkan kaum awam. Didalam Katolik, para imam “menaklukkan” umat, dan didalam
Protestan, para pendeta “menaklukkan”
jemaat. Yang dirusak oleh perilaku ‘nikolaus’
ini adalah keimaman orang percaya (I Petrus 2:19). Tetapi, umat pilihanNya,
karena makan hayat Kristus, dapat belajar menjadi imam-imam menurut aturan
Melkisedek dalam kehidupannya sehari-hari, dan tidak mengikuti “imam” atau
“pendeta” manapun.
Jadi, ketika bangsa Israel makan domba Paskah, kita makan
‘Anak Domba Paskah’ sejati, yaitu Yesus Kristus, dan menikmati ‘fellowship’ denganNya setiap hari.
Saat ini kita masuk kedalam hari raya Israel yang kedua,
yaitu hari raya roti tidak beragi (Imamat 23:6-8). Hari raya ini berlangsung
selama 7 hari setelah hari raya Paskah. Selama 7 hari bangsa Israel harus makan
roti tidak beragi. Keluaran 12:15, menegaskan, “Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari
pertama pun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang
makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu
harus dilenyapkan dari antara Israel”. Jadi, pada saat merayakan Paskah dan
akan keluar dari Mesir, orang Israel sudah harus makan roti tidak beragi, dan
membawa keluar adonan roti yang tidak beragi serta memakannya selama tujuh
hari.
Mengapa Israel harus memakan roti yang tidak beragi ketika
keluar dari Mesir? Melambangkan apakah ‘ragi’ itu dalam konteks PB, yaitu
gereja? Paulus tegas menjelaskannya dalam I Korintus 5:6-8, demikian, “…sedikit ragi mengkhamiri adonan…buanglah
ragi yang lama itu, supaya kamu (GEREJA) menjadi adonan yang baru… kamu (GEREJA) memang tidak beragi…marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama,
bukan pula dengan RAGI KEBURUKAN dan
KEJAHATAN, tetapi dengan roti yang tidak
beragi, yaitu KEMURNIAN dan
KEBENARAN”. Jelaslah sudah bahwa ragi itu melambangkan sesuatu yang buruk dan
jahat. Gereja seharusnya tidak beragi.
Kemudian, dengan lebih rinci, Yesus menjelaskan apa itu ragi.
Matius 16:6,12, menjelaskan, “…Berjaga-jagalah
dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.... terhadap AJARAN orang Farisi dan Saduki”. Jadi, ‘ragi’ melambangkan ‘ajaran sesat para pemimpin’ yang dalam
konteks Yesus adalah orang Farisi dan Saduki. Jadi, diseluruh PB, ragi selalu
melambangkan sesuatu yang buruk dan jahat.
Mari kita perhatikan perumpamaan2 mengenai kerajaan sorga
dalam kitab Matius. Matius 13:33, “…Hal
Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan
kedalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya”. Siapakah
‘perempuan’ dalam perumpamaan ini? Alkitab selalu konsisten menegaskan bahwa
perempuan selalu merupakan simbol gereja, baik Hawa (Kejadian) sampai Mempelai
Anak Domba (Wahyu). Jadi, perempuan dalam perumpamaan diatas adalah gereja, dan
secara khusus para pemimpinnya. Para pemimpin gereja telah memasukkan “ragi”
kedalam adonan. Didalam Wahyu 2-3, dijelaskan tiga ajaran sesat, yaitu Izebel,
Bileam, dan Nikolaus. Gereja mula-mula telah pecah menjadi puluhan ribu
denominasi dan menjadi dunia kekristenan seperti yang kita kenal sekarang,
karena “ragi” yang dimasukkan para
pemimpinnya.
Itu sebabnya, dalam kitab Matius terdapat banyak perumpamaan
tentang kerajaan sorga yang intinya adalah ‘penyaringan’.
Perumpamaan ‘lalang diantara gandum’, ‘pukat’, ‘perjamuan kawin’, ‘hamba yang
setia dan jahat’, ‘gadis bijaksana dan bodoh’, ‘talenta’, ‘domba dan kambing’.
Mengapa terjadi penyaringan? Penjelasannya demikian. Gereja itu sesuatu yang
kelihatan, karena gereja itu orang2 yang percaya. Tetapi, kerajaan sorga adalah
sesuatu yang ada didalam batin orang percaya. The Kingdom of God is within you.
Tidak semua orang gereja akan diterima kelak didalam kerajaan sorga, karena
gereja telah jatuh menjadi dunia kekristenan seperti sekarang ini, oleh sebab
ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus.
Kerajaan sorga diberikan oleh Bapa di sorga kepada ‘kawanan
kecil’ dari dunia kekristenan yang ‘besar’ ini (Lukas 12:32). Kita tahu bahwa
‘ragi’ membuat adonan menjadi ‘berkembang besar’, dan tentu menjadi mudah
dicerna. Kita harus hati-hati terhadap ajaran para pemimpin yang “memudahkan” orang banyak untuk menerima
dan mencernanya. Ajaran yang “beragi”
pasti diterima dan disambut oleh orang banyak dalam dunia kekristenan.
Tetapi, oleh karena pilihan dan kasih karuniaNya, Bapa
membentuk ‘kawanan kecil’ sehingga menjadi ‘adonan tanpa ragi’. Batin ‘kawanan
kecil’ diproses Bapa sedemikian sehingga murni tanpa campuran.
Telah kita lihat bahwa ada tujuh gereja dalam kitab Wahyu
2-3, dan masing2 bersesuaian dengan penggenapan dari tujuh hari raya Israel.
Kita sudah masuk pada hari raya Israel yang kedua, yaitu hari raya roti tidak
beragi, dimana penggenapannya adalah proses Bapa disorga kepada ‘kawanan kecil’
sehingga batin ‘kawanan kecil’ menjadi “adonan yang tidak beragi”, yaitu
‘murni’. Kita masih berbicara sedikit lagi mengenai ‘kemurnian’ ini sebelum
kita lanjut kepada upah para pemenang dalam gereja kedua, yaitu gereja di
Smirna. Karena proses Bapa di sorga, “kawanan kecil’ menjadi murni dalam
pengabdian dan pelayanannya kepada Elohim. Murni artinya bukan sempurna, tetapi
‘tidak campur aduk’. Setelah diproses Bapa di sorga, maka motivasi ‘kawanan
kecil’ dalam melayani menjadi murni, dan tidak cari untung dalam pelayanannya.
Didalam dunia kekristenan dimana “ajaran beragi”, yaitu ajaran Izebel, Nikolaus, dan Bileam telah
merajalela dan diterima sebagai “kebenaran”,
maka para pemimpin, umumnya, mendapat “kemudahan”
untuk cari untung dalam pelayanannya. Para pemimpin dalam dunia kekristenan
sudah dibenarkan dan dimudahkan untuk mendapatkan uang, jabatan, dan kemuliaan
manusia, dimana semua ini tidak didapatkan oleh Petrus, Paulus, Yohanes, serta
para pemimpin lainnya dalam gereja mula-mula. Sesungguhnya, ajaran “beragi”
Izebel, Nikolaus, dan Bileamlah yang membuat gereja pecah menjadi puluhan ribu
denominasi, dan para pemimpinnya dimudahkan untuk cari untung dari pelayanan.
‘Kemurnian’ sudah menjadi barang langka didalam dunia
kekristenan. Para pemimpin bukan saja memperlengkapi murid2 Tuhan (Efesus
4:11-12), tetapi juga menarik murid2 kepada diri mereka sendiri atau alirannya
atau denominasinya (Kis. 20:28-30). Bukan saja murid2 Tuhan yang ditarik,
tetapi juga uang murid2 Tuhan ditarik melalui berbagai ajaran “beragi”, seperti
persepuluhan, buah sulung, janji iman, dan yang lainnya. Perilaku para pemimpin
yang seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Petrus, Paulus, Yohanes, maupun
para pemimpin gereja mula-mula lainnya.
Telah kita lihat juga, melalui berberapa perumpamaan mengenai
kerajaan sorga, bahwa tidak semua ‘orang didalam gereja’ akan diterima didalam
kerajaan sorga. Dalam dunia kekristenan sudah umum diberitakan ungkapan seperti
‘percaya Yesus, masuk sorga’. Tetapi,
jika kita meneliti seluruh kitab2 Perjanjian Baru, maka tidak ada satu ayatpun
yang mendukung konsep sedemikian. Yang benar adalah ‘percaya Yesus, mendapatkan benih hidup Kristus (zoe)’,
dan konsep ini terutama dinyatakan berulang-ulang dalam injil Yohanes. Benih
hidup Kristus (zoe) didalam batin orang percaya perlu bertumbuh. Pertumbuhan ‘benih Kristus’ inilah yang kelak akan
membuat seseorang diterima didalam kerajaan sorga, atau tidak.
Mari kita perhatikan lagi perumpamaan2 mengenai kerajaan
sorga didalam kitab Matius, dimana pengajaran tentang ‘kerajaan sorga’ menjadi
tema utama didalam kitab ini. Perumpamaan ‘lalang diantara gandum’, ‘pukat’,
‘perjamuan kawin’, ‘hamba yang setia dan jahat’, ‘gadis bijaksana dan bodoh’,
‘talenta’, ‘domba dan kambing’. Yang dibicarakan disini adalah murid2 Tuhan
semua.
Sebagai contoh, jika kita menafsirkan gadis bijaksana adalah
murid Tuhan, maka gadis bodoh juga adalah murid Tuhan, sebab kedua kelompok ini
sama-sama “gadis”. Bukan yang satu gadis dan yang lain janda, misalnya.
Perbedaannya adalah yang satu bijaksana, dan yang lain bodoh. Demikian juga
lalang dan gandum, semuanya adalah murid2 Tuhan, karena mereka semua ada di
ladang Tuhan (Matius 13:24). Hanya dalam perjalanan waktu, maka akan terlihat
kelak, mana lalang dan mana gandum. Selanjutnya ‘hamba’ dalam perumpamaan
Talenta, dan ‘ikan’ dalam perumpamaan Pukat, semua ‘ikan’ maupun ‘hamba’ adalah
sama-sama murid Tuhan, dan sama-sama sudah terpanggil.
Dalam perumpamaan penabur juga kita lihat ada benih yang
bertumbuh dan berbuah, tetapi ada juga yang tidak. Kita jangan cepat2
menafsirkan bahwa “orang2 terkenal” dalam dunia kekristenan, itulah yang
berbuah. Karena Matius 7:21-23, menegaskan, dihari terakhir, Yesus akan
berterus terang menyatakan mana yang melakukan kehendak Bapa, dan mana yang
tidak. Yang tidak melakukan kehendak Bapa itu, umumnya, justru “orang2
terkenal”, karena mereka telah banyak melakukan mujizat, bernubuat dalam nama
Tuhan, serta mengusir setan2 dalam pelayanannya.
Sekali lagi, ‘kawanan kecil’ didalam dunia kekristenan,
mendapat kerajaan sorga semata-mata karena pilihan Bapa di sorga (Lukas 12:32).
‘Kawanan kecil’ bukan saja terpanggil, tetapi juga terpilih oleh kedaulatan dan
kasih karuniaNya. Tetapi, Bapa mempersiapkan dan membentuk ‘kawanan kecil’
untuk menjadi layak melayani didalam kerajaan sorga kelak. Bapa memproses
‘kawanan’ kecil sedemikan sehingga menjadi ‘murni’, dan tidak terlibat dalam
ajaran “beragi” Izebel, Bileam, dan Nikolaus.
Saat ini kita akan membahas janji Tuhan (upah) kepada para
pemenang gereja di Smirna, yang bersesuaian dengan penggenapan hari raya Israel
yang kedua, yaitu hari raya roti tidak beragi. Mari kita melihat Wahyu 2:11, “…
Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita
apa-apa oleh kematian yang kedua”. Ayat ini tidak mengatakan bahwa para
pemenang tidak mengalami ‘kematian kedua’, melainkan tidak akan menderita
apa-apa oleh ‘kematian kedua’.
Baiklah kita memahami apa maksud ‘kematian kedua’ yang
dikatakan dalam kitab Wahyu ini agar jangan kita menafsirkan maknanya menurut
pengertian kita sendiri. Kita tahu bahwa kitab Wahyu adalah pewahyuan Yesus
Kristus yang dinyatakan kepada rasul Yohanes, dan dinyatakan melalui bahasa
‘simbol’ (Wahyu 1:1; ‘menyatakannya’ berasal dari istilah
Yunani, ‘semaino’ yang artinya, ‘simbol atau tanda’).
Pengertian dari ‘kematian kedua’ tertulis dalam Wahyu 20:14,
demikian, “Lalu maut dan kerajaan maut
itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api”.
Ayat ini jelas mendefinisikan ‘kematian kedua’ sebagai ‘lautan api’, dimana
maut dan kerajaan maut itu dilemparkan. Maut (kematian) adalah upah dosa (Roma
6:23). Ketika Adam jatuh kedalam dosa dan mendapat akibat maut (kematian), maka
seluruh keturunannya juga mengalami maut (kematian).
Perhatikan Roma 5:18, “Sebab
itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman,
demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran
untuk hidup”. Jadi, ketika Adam pertama melakukan pelanggaran, maka semua
orang mendapat upah maut (kematian pertama), dan melalui ‘kematian kedua’ oleh
Adam kedua, yaitu Yesus Kristus yang menanggung dosa, maka semua orang beroleh
pembenaran untuk hidup.
Mari kita kembali kepada pengertian ‘kematian kedua’ diatas.
‘Kematian kedua’ adalah lautan api, dimana maut dan kerajaannya (kematian
pertama) dilemparkan. Dengan kata lain, ‘kematian pertama’ (maut) dilemparkan
kedalam ‘kematian kedua’ (lautan api). Mengapa para pemenang tidak menderita
apa-apa oleh ‘kematian kedua’? Bukan karena para pemenang tidak mengalami
kematian kedua, tetapi ‘kematian kedua’ para pemenang TELAH DIWAKILI DAN
DIJALANKAN OLEH YESUS KRISTUS DI KAYU SALIB.
Sekarang kita masuk kepada pengertian ‘lautan api’ yang
adalah ‘kematian kedua’. Banyak orang menafsirkan ‘lautan api’ sebagai neraka
kekal selama-lamanya. Jadi, menurut banyak orang, ‘maut dan kerajaan maut’
adalah neraka kekal, dan kemudian neraka kekal ini dilemparkan kedalam lautan
api, yang menurut mereka neraka kekal juga. Artinya, neraka kekal dilempar
kedalam neraka kekal, dan hasilnya neraka kekal juga. Inilah doktrin neraka
kekal sebagaimana dipahami oleh mayoritas orang didalam dunia kekristenan.
Pengajar Alkitab yang memberitakan hal ini sedang malakukan ‘tafsir sendiri’, dan melanggar prinsip
hermeneutika yaitu ‘Alkitab harus
menafsirkan Alkitab’. Semua makna dari ‘kematian pertama’, kematian kedua’,
maupun ‘lautan api’ harus ditafsirkan Alkitab sendiri.
Sekarang kita masuk kedalam pengertian ‘lautan api’. Ingat
bahwa kitab Wahyu itu menggunakan bahasa simbol. Pengertian ‘lautan api’ itu
bukan lautan api jasmani seperti yang kita kenal didunia ini. ‘Lautan api’
adalah simbol.
Pengajaran mengenai ‘lautan api’ hanya terdapat didalam kitab
Wahyu, yaitu didalam Wahyu 14:10-11; 19:20; 20:10; 20:13-15 dan 21:8. Baiklah
kita mengutip tulisan Charles Pridgeon mengenai makna api, dan juga belerang
yang terdapat didalam Wahyu 14:10-11, demikian “…istilah Yunani THEION yang
diterjemahkan belerang adalah kata yang sama yang berarti Ilahi…Kata kerja yang
diturunkan dari THEION adalah THEIOO yang berarti menyucikan atau menjadikan
Ilahi…. lautan api dan belerang berarti lautan pemurnian Ilahi… Pemurnian Ilahi
dan pengudusan Ilahi adalah arti yang gamblang dalam bahasa Yunani kuno…”. Jadi,
jika kita memahami ‘lautan api’ sebagai simbol, maka maknanya adalah pemurnian
Ilahi.
Berdasarkan pengertian ini, kita akan memahami mengapa para
pemenang tidak menderita apa-apa oleh kematian kedua, yaitu lautan api. Sebab,
karena pilihan dan kasih karunia Bapa, para pemenang atau ‘kawanan kecil’ telah
lebih dahulu dimurnikan melalui suatu proses dalam kehidupan sehari-hari.
Memang proses pemurnian Ilahi ini menyakitkan, tetapi pada akhirnya ‘kawanan
kecil’ menjadi murni seperti ‘adonan yang tidak beragi’.
Saat ini kita akan masuk kepada hari raya Israel yang ketiga,
yaitu hari raya berkas buah sulung (Imamat 23:9-14). Ayat 10-11, menegaskan, “…kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari
penuaianmu kepada imam….Imam harus mengunjukkannya pada hari sesudah sabat itu”.
Hari raya berkas buah sulung terjadi pada hari sesudah sabat, dan ini
bertepatan dengan kebangkitan Yesus yang terjadi sesudah hari sabat. Jadi,
kematian dan kebangkitan Yesus telah menggenapi hari raya Paskah dan hari raya
berkas buah sulung.
I Korintus 15:22-23 menegaskan, “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam,
demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan
Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung;
sesudah itu mereka yang menjadi milikNya pada waktu kedatanganNya”. Bagian
firman Tuhan ini menjelaskan kepada kita mengenai ‘buah sulung kebangkitan’.
Yesus Kristus sebagai ‘buah sulung kebangkitan’, karena Ia yang pertama bangkit
dari antara orang mati. Selanjutnya, pada waktu kedatanganNya, maka ‘mereka
yang menjadi milikNya’ juga dibangkitkan, dan mendapat tubuh kebangkitan.
Tetapi, kebangkitan masih terus berlangsung sampai musuh yang terakhir
ditaklukkan, yaitu maut (I Korintus 15:26), yang merupakan upah dosa (Roma
6:23). Ketika tidak ada lagi musuh didalam ciptaanNya, maka Bapa dapat menjadi
semua didalam semua (I Korintus 15:28).
Mari kita terapkan perihal ‘buah sulung’ ini kedalam gereja.
Yakobus 1:18, menyatakan, “yang telah
menentukan, agar kita menjadi suatu buah sulung dari ciptaanNya; Dia telah
melahirkan kita melalui firman kebenaran” (ILT). Yakobus menyatakan bahwa
kita menjadi ‘buah sulung’ dari ciptaanNya. Dalam hal ‘buah sulung’ yang
terkait kebangkitan, maka Yesus adalah ‘buah sulung kebangkitan’.
Tetapi terkait gereja, maka ‘kita’ ditentukan Bapa menjadi buah sulung.
Setiap petani di Palestina mengetahui bahwa buah sulung itu
suatu ‘tuaian’ yang lebih dahulu matang,
dimana tuaian2 berikutnya menyusul.
Tetapi kita tahu bahwa karena serangan serigala ganas, maka gereja telah
pecah menjadi ribuan denominasi, dimana sebagian murid2 Tuhan mengikuti
pemimpin ini, dan sebagian lagi mengikuti pemimpin itu. Dan didalam 7 tipe/zaman
gereja dalam Wahyu 2-3, terdapat panggilan para pemenang, dimana hal ini jelas
menunjukkan bahwa hanya sebagian saja yang menang. Jadi, pemahaman ‘buah sulung’ yang dimaksud Yakobus 1:18 diatas,
bukanlah seluruh murid2 Tuhan atau seluruh anggota gereja sepanjang zaman.
Perihal ‘buah sulung’ didalam gereja akan menjadi jelas, jika
kita melihat Wahyu 14:4, demikian, “Mereka
ini adalah orang-orang yang tidak mencemarkan diri dengan wanita-wanita, karena
mereka adalah perjaka. Mereka ini adalah orang-orang yang megikuti Anak Domba
kemana pun Dia pergi. Mereka ini sudah ditebus dari antara manusia, sebagai
buah sulung di hadapan Elohim dan Anak Domba” (ILT). Mereka yang menjadi
buah sulung disini adalah mereka yang tidak mencemarkan diri dengan perempuan2,
dan yang mengikuti Anak Domba kemana saja Dia pergi.
Kita harus tetap mengingat sifat dasar kitab Wahyu yang
menggunakan bahasa simbol. Perempuan2 disini bukanlah perempuan2 jasmani,
tetapi perempuan2 yang dinyatakan dalam Wahyu 17:5, yaitu perempuan2 (gereja)
pelacur. Buah sulung tidak mencemarkan diri dengan “perempuan2 pelacur”, dalam
arti gereja yang menerima benih Kristus, tetapi juga menerima benih ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Buah sulung juga hanya mengikuti Anak Domba kemana saja
Dia pergi, dan bukan mengikuti pemimpin itu atau itu seperti yang terdapat
dalam dunia kekristenan.
Sekali lagi kita tegaskan bahwa menjadi para pemenang atau
menjadi buah sulung gereja, bukanlah karena buah sulung itu lebih baik dari
anggota2 gereja lainnya. Tetapi, karena keputusan
Bapa di sorga, maka kita ditetapkan menjadi buah sulung. Bapa disorga
memproses kita sedemikian sehingga kita tidak mengikuti pemimpin ini atau itu,
juga tidak mencemarkan diri dengan ajaran Izebel,
Bileam, Nikolaus, tetapi hanya mendengar suara Gembala Sejati dan mengikuti
Anak Domba kemana saja Dia pergi.
Kita sudah membahas hari raya Israel yang ketiga, yaitu hari
raya berkas buah sulung. Juga telah kita lihat ‘buah sulung’ kebangkitan yaitu
Yesus Kristus, dan ‘buah sulung’ didalam gereja, yaitu, mereka yang mendapat
kasih karunia dihadapan Bapa untuk menjadi “yang pertama dituai” atau ‘para
pemenang’ disetiap zaman gereja. Dalam
dunia kekristenan ada banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih.
Juga dalam dunia kekristenan ada ‘kawanan
kecil’ yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga itu. Jadi,
dunia kekristenan belumlah dapat dituai seluruhnya sebagai ‘buah sulung’
ciptaan.
Telah kita ketahui bahwa penggenapan hari2 raya Israel itu
adalah ‘pengalaman batiniah’ dari
para pemenang disetiap zaman gereja. Sekarang kita akan melihat para pemenang
gereja ketiga (gereja di Pergamus), sebagai penggenapan hari raya ketiga Israel
(berkas buah sulung). Wahyu 2:17, menegaskan, “… Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang
tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang diatasnya
tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang
menerimanya”.
Pada umumnya, dalam dunia kekristenan, para pengkhotbah
mengajarkan bahwa kelak kita akan masuk sorga setelah mati jasmani nanti.
Tetapi, bagi ‘kawanan kecil’, saat
ini juga mereka sudah didalam kerajaan sorga, karena memang kerajaan sorga ada
didalam batin kita, walaupun tentu belum mengalaminya secara penuh, sebab
kerajaan sorga belum termanifestasi sepenuhnya di bumi.
Jadi, seluruh ‘upah
atau bagian’ bagi para pemenang pada ayat kita diatas, telah dapat kita
alami saat ini sebagai ‘pengalaman
batiniah’. Baiklah kita masuk kepada yang pertama, yaitu mendapatkan ‘manna
yang tersembunyi’. Manna yang tersembunyi ini bukanlah manna yang dimakan oleh
generasi pertama Israel di Padang Gurun. Mereka semua tidak mendapatkan warisan
mereka, yaitu tanah Perjanjian, kecuali keluarga Yosua dan keluarga Kaleb.
Manna yang tersembunyi ini tersimpan didalam ‘Tabut Perjanjian di Ruang Maha
Kudus Kemah Musa’. Para pemenang ini diproses oleh Bapa sedemikian sehingga
dapat menikmati ‘manna yang tersembunyi’ ini hari lepas hari. Manna yang
tersembunyi ini tidak lain adalah ‘Hayat
Kristus didalam batin’.
Kita makan manna ini setiap hari sehingga seluruh kebutuhan
rohani kita terpenuhi, karenanya genaplah perkataan Yohanes bahwa, “…tidak perlu kamu diajar oleh orang lain”
(I Yohanes 2:27). Kita tentu belajar dari setiap orang, tetapi tidak akan menjadi
pengikut pemimpin manapun, atau berada didalam denominasi manapun untuk
pertumbuhan rohani kita, juga tentu saja tidak akan membangun denominasi.
Inilah ciri utama jika kita makan ‘manna yang tersembunyi’ setiap hari.
Selanjutnya, kita diberikan ‘batu putih yang tertulis nama
baru’. Pada dasarnya kita adalah “tanah liat” yang mudah hancur,
bersungut-sungut, kecewa, dan putus asa. Tetapi Bapa menjadikan kita seperti
“batu”, yang walaupun dihempaskan, namun tidak binasa (II Korintus 4:9). Bapa
disorga justru akan membawa kita mengalami hempasan, kesusahan, konflik, supaya
membuktikan bahwa kita adalah “batu”. Warna putih menunjukkan perkenanan Bapa.
Kita juga diberi ‘nama baru’. Nama menunjukkan karakter,
pekerjaan dan reputasi seseorang. Karena perbuatan Bapa dalam membentuk kita,
maka nama Elohim termeterai didalam batin kita, dimana tidak seorangpun
mengetahuinya, sebab memang ini adalah perbuatan Bapa secara pribadi kepada
kita masing-masing. Kita tidak akan menjaga nama baik kita sendiri, karena kita
mempunyai ‘nama baru’ yang ditempa oleh Bapa kedalam diri kita. Demikianlah
penggenapan hari raya berkas buah sulung sudah terjadi didalam kita sebagai
pengalaman batiniah saat ini.
Saat ini kita akan masuk kepada hari raya Israel yang
keempat, yaitu hari raya ‘Pentakosta’ (Imamat 23:9-14). Beberapa nama lain juga
disebut untuk hari raya ‘Pentakosta’. Diantaranya, hari raya ‘Menuai’ (Keluaran
23:16). Juga hari raya ‘Tujuh Minggu’ (Keluaran 34:22). Dan juga hari raya
‘hasil buah sulung’ (Keluaran 34:22, “Dan
engkau harus merayakan hari raya Tujuh Pekan bagimu, ‘hasil pertama’ panen
gandum…” ILT).
Jadi, didalam sejarah gereja, penggenapan hari raya
‘Pentakosta’ adalah saat dimana terjadi ‘tuaian
buah sulung’, yaitu pencurahan Roh Kudus dimana para Rasul dan orang
percaya berkumpul disuatu tempat berjumlah kira-kira 120 orang (Kis. 1:15).
Tetapi ‘tuaian buah sulung’ ini tidak berhenti disitu saja, karena pada
penggenapan hari raya ‘Tabernakel’ akan ada ‘pengumpulan hasil’ seperti tertulis pada ayat kita diatas (Keluaran
34:22). Kita tidak membicarakan hari raya ‘Tabernakel’ sekarang, tetapi yang
perlu kita pahami bahwa baik hari raya ‘Pentakosta’ maupun hari raya
‘Tabernakel’ merupakan suatu saat dimana terjadi ‘penuaian buah sulung’.
Mari kita melihat pengalaman para murid ketika terjadi
pencurahan Roh Kudus pada hari ‘Pentakosta’. Sesungguhnya, para murid telah
menerima Roh Kudus, ketika setelah kebangkitanNya, Yesus menampakkan Diri serta
mengembusi mereka dan berkata ‘Terimalah Roh Kudus’ (Yohanes 20:22). Walaupun
demikian, setelah empat puluh hari berulang-ulang menampakkan Diri, Yesus tegas
memberi perintah agar murid2 menantikan janji Bapa, yaitu “…kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”
(Kis. 1:5). Dari kedua kasus ini, kita dapat melihat bahwa para murid mengalami
‘pengalaman dengan Roh Kudus’ dua kali. Yang pertama, setelah kebangkitan
Yesus, dan yang kedua pada hari raya ‘Pentakosta’.
Dari kasus diatas, ada beberapa aliran dalam dunia
kekristenan yang menyatakan bahwa ada dua pengalaman dengan Roh Kudus. Pertama,
ketika seseorang percaya Yesus dan lahir baru (menerima benih Hayat Kristus).
Kedua, ketika seseorang menerima ‘baptisan Roh Kudus’. Bahkan beberapa
denominasi Pentakosta menyatakan bahwa tanda seseorang itu dibaptis Roh Kudus
adalah ‘berbahasa lidah’. Kita tidak membahas ‘tanda2 luaran’ dari pengalaman
dengan Roh Kudus ini, karena kita telah tegas menyatakan bahwa penggenapan
hari2 raya Israel itu bersifat ‘batiniah’, yaitu suatu pengalaman bersama Roh
Kudus didalam batin kita.
Yang perlu kita tegaskan disini adalah pengalaman ‘dibaptis
Roh Kudus’ itu memang suatu pengalaman ‘batiniah’ yang nyata, artinya orang
percaya pasti memahami bahwa ia telah mengalami pengalaman dibaptis Roh Kudus.
Apakah orang percaya yang dibaptis Roh Kudus itu akan ‘berbahasa lidah’ atau
tidak, atau apakah ‘bahasa lidah’ seseorang itu asli atau palsu, kita tidak
membahasnya dalam tulisan singkat ini.
Tetapi, barangkali, kita perlu mengambil satu contoh ‘tanda
luaran’ setelah seseorang menerima Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus. Mari kita
membaca Kis. 4:31, demikian, “…mereka
semua dipenuhi dengan Roh Kudus, dan mereka memperkatakan firman Elohim dengan
keberanian” (ILT). Kita lihat disini satu ‘tanda luaran’ ketika seseorang
menerima Roh Kudus, yaitu berani memberitakan firman Tuhan. Konteksnya disini
bukan memberitakan firman Tuhan di “mimbar”, tetapi berani memberitakan firman
Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari, karena demikianlah gaya hidup gereja
mula-mula.
Kita masih melanjutkan pembahasan kita mengenai hari raya
‘Pentakosta’. Pengertian istilah ‘Pentakosta’ sebenarnya adalah ‘kelima-puluh’.
Baiklah kita perhatikan apa yang terjadi kepada bangsa Israel pada hari
‘Pentakosta’ ini. Israel keluar dari Mesir pada hari raya Paskah dibulan
pertama (Abib atau Nisan). Setelah berjalan selama 50 hari, mereka sampai di
gunung Sinai pada bulan ketiga (Sivan) dan merayakan ‘Pentakosta’ (keluaran 19
dan 20).
Di gunung Sinai ini mereka diberikan 2 loh batu (sepuluh
hukum), peraturan Kemah Suci, sistem keimamatan Harun dan segala aturan korban.
Disini bangsa Israel ditetapkan sebagai ‘sidang jemaah di Padang Gurun’ (Kis.
7:38). Saat dimana Yahweh turun ke gunung Sinai pada hari ketiga (Keluaran
19:16-20), dirayakan oleh bangsa Israel sebagai ‘Hari raya pemberian Hukum
Taurat’ atau ‘Kelahiran Yudaisme’, karena pada hari ‘kelima-puluh’ inilah
Yahweh menulis dengan jariNya kesepuluh firman pada dua loh batu.
Mari kita aplikasikan peristiwa pemberian Hukum Taurat kepada
bangsa Israel ini kedalam konteks kita. Perbedaan PL dan PB jelas tertulis
dalam Yeremia 31:31-34, demikian, “…Aku
akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda… Aku akan
menaruh TauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka…”.
Jadi, jika dalam konteks PL, Hukum Taurat tertulis dalam dua loh batu, maka
dalam konteks PB, Hukum Taurat tertulis didalam batin. Penulis surat Ibrani
juga menjelaskan hal ini (Ibrani 8).
Penulisan Hukum Taurat kedalam batin orang percaya terlihat
dalam kasus dimana Yesus dihadapkan dengan perempuan yang kedapatan berzinah
(Yohanes 8). Para ahli Taurat dan orang Farisi berkata bahwa menurut Hukum
Taurat maka perempuan ini harus dirajam, karena memang demikianlah yang
diperintahkan Musa. Tetapi Yesus tidak menjawab dan hanya menulis dengan
jariNya di tanah. Alkitab tidak menjelaskan apa yang Yesus tulis, karena memang
itu tidak penting. Yang penting adalah memahami apa makna perbuatan Yesus
menulis ditanah. Perbuatan Yesus menulis ditanah jelas menunjukkan bahwa hukum
Taurat (khususnya hukum rajam) akan ditulis Yesus kedalam batin (“tanah”) orang
percaya.
Dan ketika didesak, maka Yesus memberikan maknanya jika hukum
rajam ditulis dibatin orang percaya, yaitu, pertama, siapa yang tidak berdosa,
dia yang pertama harus melempar batu kepada perempuan ini. Kedua, Yesus, yang
tidak berdosa, mengampuni perbuatan perempuan ini dan tidak menghukumnya.
Ketiga, Yesus memperingati perempuan ini agar jangan berbuat dosa lagi. Inilah
makna hukum rajam yang ditulis dalam batin.
Tetapi, harus diingat, Yesus datang bukan untuk meniadakan
Hukum Taurat. Kedatangan Yesus adalah menggenapi Hukum Taurat. Itu sebabnya di
kayu salib, Yesus berkata, ‘sudah selesai’. MaksudNya yang utama adalah semua
yang tertulis dalam Hukum Turat telah digenapi. Karenanya, ketika Yesus
meneguhkan Perjanjian Baru dengan murid2Nya dimalam terakhir, Ia berkata, “Aku
memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi…”
(Yohanes 13:34). Jadi, dalam PL, hukumnya Taurat, dan dalam PB, hukumnya adalah
kasih.
Didalam dunia kekristenan, pada umumnya, para pemimpin
denominasi, berkata kamu harus memberi persepuluhan, kamu harus memberi buah
sulung, harus memberi janji iman, harus datang kegedung tertentu pada hari tertentu,
harus berbuat ini dan itu supaya bertumbuh dan diberkati Tuhan… maka
sesungguhnya inilah prinsip Hukum Taurat yang tertulis didalam loh batu, yaitu
harus…harus….harus… supaya…supaya…supaya…. Tetapi, prinsip Hukum Taurat yang
tertulis dalam batin adalah prinsip kasih. Segala sesuatu harus dilakukan dalam
kasih dan dipimpin Roh didalam batin. Tidak ada paksaan harus ini dan harus
itu.
Telah kita ketahui bahwa penggenapan hari2 raya Israel itu
adalah ‘pengalaman batiniah’ dari para pemenang disetiap zaman gereja. Sekarang
kita akan melihat para pemenang gereja keempat (gereja di Tiatira), sebagai
penggenapan hari raya keempat Israel, yaitu hari raya ‘Pentakosta’.
Mari kita perhatikan firman kepada gereja di Tiatira dalam
Wahyu 2:26-27, demikian, “Dan barangsiapa
menang dan melakukan pekerjaanKu sampai kesudahannya, kepadanya akan
Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan
tongkat besi... ”. Kepada para pemenang gereja di Tiatira yang bersesuaian
dengan penggenapan hari raya Pentakosta, diberikan suatu ‘kuasa atas
bangsa-bangsa’. ‘Kuasa’ atau istilah Yunani ‘exousia’ berarti suatu
kemampuan (otoritas rohani) atau hak untuk mengatur bangsa-bangsa. Tetapi kita
jangan berpikir bahwa hak atau otoritas ini dijalankan oleh para pemenang
dengan “tongkat besi” dalam arti dengan paksa, kasar dan otoriter, serta demi
keuntungan sendiri. “Tongkat otoritas” ini dijalankan oleh para pemenang untuk melayani
sebagai hamba, dalam arti yang sebenarnya (bnd. I Petrus 5:3).
Telah kita tegaskan selalu bahwa para pemenang tiap zaman
gereja bukanlah mereka yang “hebat dan terkenal”, tetapi para pemenang adalah
orang2 sederhana yang tidak ambil bagian dalam kemerosotan/dosa pada gereja
dizamannya. Dizaman ‘gereja Tiatira’ terdapat orang-orang yang mengaku nabiah,
dan mengajar ‘ajaran Izebel’ yang menyesatkan hamba2 Tuhan (Wahyu 2:20). Apa
itu ajaran Izebel? Izebel disini tentu adalah simbol, karena demikianlah bahasa
kitab Wahyu (1:1). Dalam sejarah, Izebel adalah seorang yang merampas otoritas
suaminya, Ahab, dalam kasus kebun anggur Nabot. Walaupun maksud Izebel
mendukung keinginan suaminya, tetapi tetaplah Izebel telah merampas otoritas
dengan, ‘menulis surat atas nama Ahab, dan memeteraikannya dengan materai raja’
(I Raja-Raja 21:8). Jadi, ajaran Izebel adalah ajaran yang membenarkan
perampasan otoritas “suami gereja” yaitu otoritas Yesus.
Yesus tegas telah berkata kepada murid2Nya dalam Matius
23:1-12, dimana konteksnya adalah “tongkat Musa”, yaitu agar murid2Nya jangan
disebut pemimpin, rabi atau bapa rohani. Maksud Yesus, sesuai konteks, adalah
jangan murid2 merampas otoritas (“tongkat Musa”) didalam gereja. Sesungguhnya,
perampasan otoritas gereja oleh para pemimpinnya telah dinyatakan oleh Paulus
dalam Kis. 20:28-30. Beberapa pemimpin gereja dengan ajaran palsu (khususnya
ajaran Izebel) MENARIK MURID-MURID KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI. Inilah perampasan otoritas Yesus atas
gereja yang dilakukan oleh para pemimpin. Tadinya, murid2 berada dijalan yang
benar, dalam arti mendengar suara Yesus, mengikuti pimpinan Roh dalam batin,
dan tunduk kepada otoritas Hayat atas Tubuh Kristus. Tetapi sekarang, sebagian
murid mengikuti pemimpin ini, sebagian lagi mengikuti pemimpin itu.
Namun, dalam dunia kekristenan, hal ini sudah dibenarkan.
Denominasi-denominasi itu adalah kelompok dimana sebagian murid Tuhan mengikuti
pemimpin ini, dan sebagian lagi mengikuti pemimpin itu. Tetapi saat ini,
denominasi itu sudah disebut gereja, walaupun sebenarnya denominasi itu adalah
HASIL PERAMPASAN OTORITAS YESUS OLEH PARA PEMIMPIN. Ajaran ‘visible
and invisible church’ yang dimulai oleh Martin Luther sebenarnya adalah ajaran Izebel, yaitu ajaran yang
membenarkan perampasan otoritas Yesus atas gereja.
Tetapi para pemenang atau ‘kawanan kecil’ dalam dunia
kekristenan tidak ambil bagian dalam perampasan otoritas Yesus atas gereja.
‘Kawanan kecil’ saat ini menjalankan otoritas Yesus ‘untuk mengatur batinnya sendiri’. Otoritas Yesus saat ini
dijalankan oleh ‘kawanan kecil’ untuk mengatur pikiran, perasaan dan keinginan
sendiri. ‘Kawanan kecil’ tidak merampas otoritas Yesus atas gerejaNya dengan
menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri, serta membangun denominasi.
Pada waktunya, ketika Yesus berterus terang, maka Ia akan
memberikan otoritasNya atas bangsa-bangsa kepada sebagian murid2, dan menolak
sebagian murid2 Tuhan yang melakukan kejahatan (anomia=illegality), yaitu mereka yang saat ini
menjalankan ‘otoritas ilegal’ atas gereja (Matius 7:21-23).
Saat ini kita masuk kepada hari raya Israel yang kelima,
yaitu hari raya ‘Peniupan Nafiri’ (Imamat 23:23-25). Kita akan langsung melihat
perlunya peniupan nafiri ini bagi bangsa Israel. Bilangan 10:2, menegaskan, “Buatlah dua nafiri dari perak. Dari perak
tempaan harus kaubuat itu, supaya digunakan untuk memanggil umat Israel dan
untuk menyuruh laskar-laskarnya berangkat”. Pada ayat2 selanjutnya, kita
dapat melihat perlunya Israel mendengar suara nafiri ini dengan baik, sebab
suara nafiri tertentu memiliki maksud tertentu juga.
Pertama, ayat diatas menegaskan tujuan peniupan nafiri, yaitu
memanggil umat Israel. Kedua, Ayat 3-6, menyatakan
panggilan untuk berkumpul didepan Kemah Pertemuan. Peniupan nafiri ini berbeda2
sesuai maksudnya. Ada panggilan kepada para pemimpin saja, ada panggilan kepada
laskar-laskar yang berkemah disebelah timur, ada panggilan kepada laskar-laskar
yang berkemah disebelah selatan, ada juga untuk memanggil seluruh umat. Ketiga,
ayat 9 menegaskan tujuan peniupan nafiri, yaitu panggilan untuk berperang, agar
Yahweh mengingat dan menyelamatkan Israel dari musuh. Keempat, ayat 10
menyatakan panggilan untuk merayakan hari2 raya agar Israel diingat dihadapan
Tuhan. Demikianlah tujuan nafiri ditiup bagi bangsa Israel. Jadi, inti dari
peniupan nafiri adalah untuk ‘memanggil’ bangsa Israel. Sekali lagi, Israel
harus memahami bunyi yang berbeda-beda, dan maksud2nya. Disini kita melihat
bahwa bangsa Israel harus belajar ‘mendengar
dan memahami’ tiupan nafiri.
Mari kita langsung terapkan perihal peniupan nafiri ini
kepada gereja. Sesungguhnya, makna peniupan nafiri ini bagi gereja adalah
mendengar suara Tuhan dan memahami perintah2 Tuhan. Suara Tuhan dan perintah2
Tuhan ini berbeda bagi setiap anggota Tubuh Kristus, sebagaimana kita lihat
diatas bagi bangsa Israel. Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan disini. Pertama,
“suara nafiri” ini haruslah dari satu sumber. Artinya, jika ada suara nafiri dari
berbagai sumber, hal ini akan menimbulkan kekacauan, sebab gereja menjadi
bingung mana yang harus didengarkan. Kedua, karena “suara nafiri” tidak
boleh dari berbagai sumber, maka berarti harus ada satu orang saja yang meniup
nafiri. Siapa yang harus meniup nafiri bagi gereja? Tentu saja kita semua
sepakat bahwa Tuhan Yesuslah sebagai pemimpin gereja yang harus meniupnya.
Mari kita lihat kondisi dunia kekristenan saat ini. Bukankah
ada banyak “para peniup nafiri” saat ini, sebanyak puluhan ribu denominasi yang
ada? Dan semakin lama “para peniup nafiri” ini semakin bertambah, sesuai
bertambahnya perpecahan gereja dalam dunia kekristenan. Seperti yang sudah
sering kita tegaskan bahwa sebagian murid2 Tuhan mendengar “tiupan nafiri” dari
pemimpin ini, sebagian lagi mendengar “tiupan nafiri” dari pemimpin itu. Tentu
saja para “peniup nafiri” ini menganggap tiupan nafiri-nyalah yang paling
Alkitabiah. Persoalannya, para “peniup nafiri” ini menarik murid2 Tuhan kepada
diri mereka sendiri (Kis. 20:28-30), dan membangun kelompok dimana para murid
ini, pada akhirnya, hanya dapat dan mau mendengar tiupan nafirinya saja. Bahkan
para peniup nafiri ini suka berdebat untuk membuktikan bahwa tiupan
nafirinyalah yang paling benar.
Meskipun kita berkata seperti ini, bukan berarti para
pemimpin jangan “meniup nafiri”. Paulus tegas berkata, beritakanlah firman,
baik atau tidak baik waktunya. Jadi, setiap pemimpin harus “meniup nafiri”,
tetapi jangan ‘menarik’ murid2 Tuhan kepada dirinya, apalagi tarik uang murid2
dengan berbagai cara/ajaran.
Jadi, bagaimana seharusnya para pemimpin ini berlaku didalam
Tubuh Kristus. Kolose 2:19, mengajarkan kepada kita bahwa para pemimpin
haruslah berlaku seperti “urat2 dan
sendi2” didalam Tubuh, dan membiarkan otoritas Hayat (satu suara nafiri)
saja yang mengatur pergerakkan Tubuh. Para peniup nafiri ini hanya boleh
‘memperlengkapi’ gereja saja (Efesus 4:11-12). Dengan demikian, gereja
bertumbuh dalam Kristus, yang adalah Hayat gereja.
Tetapi, oleh kasih karuniaNya, ‘kawanan kecil’ diproses oleh
Bapa di sorga sedemikian, sehingga dapat mendengar suara Tuhan Yesus ‘didalam
batinnya’, dan mengikuti Anak Domba kemana saja Dia pergi (Yohanes 10:27; Wahyu
14:4).
Kita masih membahas hari raya Israel yang kelima, yaitu hari
raya ‘Peniupan Nafiri’ (Imamat 23:23-25). Mari kita perhatikan lagi Bilangan
10:2, yang menegaskan, “Buatlah dua
nafiri dari perak. Dari perak tempaan harus kaubuat itu…”. Dinyatakan
diayat ini bahwa nafiri itu harus dibuat dari perak. Didalam Alkitab, ‘perak’
melambangkan ‘penebusan’. Dan angka 2 itu berbicara perihal ‘saksi’. Angka 2
juga berbicara perihal Kristus dalam kesatuan dengan umatNya, sebagai manusia
baru yang diciptakan didalam Dia. Roma 8:16, berkata, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita…”. Juga Roma 9:1,
menyatakan, “…Suara hatiku bersaksi dalam
Roh Kudus”. Karenanya, peniupan 2 nafiri perak berbicara perihal
kesempurnaan penebusan Kristus yang dikhabarkan oleh umat pilihanNya dalam
kuasa Roh Kudus. Didalam ‘batin’ umat pilihanNya, ada suatu ‘kesaksian’ bahwa
penebusan Kristus baginya telah sempurna.
Baiklah kita bandingkan pengalaman batiniah umat pilihanNya
dengan para pemenangNya dari gereja kelima (gereja di Sardis), yang bersesuaian
dengan hari raya kelima ‘Peniupan Nafiri’. Wahyu 3:5, berbicara kepada para
pemenang gereja di Sardis, demikian, “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan
pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab
kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan BapaKu dan di hadapan
para malaikatNya”. Diayat ini Yesus tegas berkata kepada para pemenang untuk
memberikan ‘pakaian putih’, dan tidak akan menghapus namanya dari kitab
kehidupan, serta akan mengaku namanya dihadapan Bapa.
Didalam dunia kekristenan, beberapa pengajar secara keliru
menekankan iman sebagai ‘penentu’ keselamatan atau penebusan Kristus. Konsep
seperti ini menyebabkan banyak orang berkata, ‘tergantung imanmu’, atau
‘tergantung responmu’, seolah-olah manusia menjadi ‘penentu akhir’ dari
keselamatan. Tetapi, siapa sebenarnya yang menciptakan iman dan membawa iman
orang kudus kepada kesempurnaannya, jika bukan Yesus (Ibrani 12:2).
Sesungguhnya, keselamatan itu soal OTORITAS YESUS. Setelah
kebangkitanNya, Yesus tegas berkata bahwa segala otoritas di sorga, dan di
bumi, sudah ditanganNya. Itu sebabnya Yesus berkata domba2Ku mendengarkan
suaraKu, mengikut Aku, serta tidak seorangpun yang dapat merebut domba2 Yesus
dari tanganNya (Yohanes 10:27-28). Bukankah ayat2 ini berbicara soal otoritas
Yesus?
Demikian juga Lukas 12:32, berkata, “Janganlah takut, hai
kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”.
Kita lihat disini dengan jelas bahwa apakah seseorang itu mendapatkan kerajaan
sorga atau tidak, semata-mata tergantung kehendak Bapa. Dan, Bapa berkenan
memberikan kerajaan sorga itu kepada ‘kawanan kecil’, karena dalam dunia
kekristenan, ada banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. Adalah
kedaulatan Bapa untuk memberi kasih karunia bagi seseorang untuk ‘dipanggil’
(gereja itu artinya kumpulan orang yang dipanggil). Tetapi, kita tahu gereja
telah jatuh dan pecah menjadi puluhan ribu denominasi, karenanya, dari antara
yang dipanggil, Bapa memilih sedikit orang, yang disebut ‘kawanan kecil’ pada
ayat kita diatas. ‘Kawanan kecil’ ini akan diproses Bapa sehingga menjadi
orang2 yang setia, sehingga genaplah Wahyu 17:14, yang menegaskan bahwa para
pemenang itu adalah orang2 yang dipanggil, dipilih dan setia.
‘Kawanan kecil’ menjadi para pemenang semata-mata oleh
keputusan Bapa dan otoritas Yesus yang menjamin kepastian keselamatannya.
Karenanya, kepada ‘kawanan kecil’ akan diberikan ‘pakaian putih’, yaitu
perbuatan2 yang benar dari orang2 kudus (Wahyu 19:8). Dalam konteks 7 gereja di
Wahyu 2-3, maka perbuatan atau pelayanan ‘kawanan kecil’ tidak dicemarkan oleh
tiga ajaran palsu, yaitu ajaran Bileam, Izebel dan Nikolaus.
Semua bagian para pemenang di gereja Sardis ini telah dialami
didalam batin ‘kawanan kecil’ saat ini. Didalam batin ‘kawanan kecil’ ada suatu
kesaksian yang diteguhkan oleh Roh Kudus, bahwa namanya tidak akan dihapus dari
kitab kehidupan, dan bahwa Yesus akan mengakuinya dihadapan Bapa.
Saat ini kita akan masuk kepada hari raya Israel yang keenam,
yaitu hari raya ‘Pendamaian’ (Imamat 23:26-32). Pada hari raya ini, yang
dirayakan sekali setahun pada bulan ketujuh, Imam Besar mempersembahkan korban
bakaran dan masuk kedalam ruang ‘Maha Kudus’ untuk memercikkan darah korban
penebusan keatas ‘tutup pendamaian’ (Imamat 16). Hal ini dilakukan oleh Imam
Besar untuk mengadakan pendamaian baginya sendiri, bagi keluarganya, dan bagi
seluruh Jemaah Israel (16:17).
Yesus telah menggenapi hari raya ‘Pendamaian’ melalui korban
DiriNya diatas kayu salib. Ibrani pasal 8 sampai 10, menjelaskan dengan rinci
bagaimana Yesus, sebagai Imam Besar menurut aturan Melkisedek, masuk kedalam
sorga menghadap hadirat Elohim guna kepentingan kita. Dan Yesus bukan masuk
berulang-ulang menghadap hadirat Elohim, sebagaimana Imam Besar aturan Harun
melakukannya, karena imam2 besar aturan Harun hanyalah simbol, atau bayangan
saja (Ibrani 10:24-26). Jadi, Yesus hanya satu kali saja mempersembahkan
darahNya kehadirat Elohim, dan kemudian duduk disebelah kanan Elohim, dan
menjadi perintis bagi kita (Ibrani 6:20).
Mari kita perhatikan istilah Yunani untuk ‘perintis’ ini,
yaitu ‘prodromos’, yang artinya ‘forerunner’. Istilah ini muncul hanya
satu kali didalam PB. Didalam buku ‘Word
Studies in the New Testament’ (volume IV, hal. 453), Marvin Vincent
menjelaskan makna istilah ini dengan sangat baik. Dijelaskannya bahwa istilah
ini mengungkapkan ide yang baru, dan sama sekali diluar pengertian sistem
imamat aturan Harun. Imam Besar aturan Harun bukan masuk keruang maha kudus
sebagai ‘perintis’, dan karenanya, umat Israel tidak boleh mengikuti Imam Besar
untuk masuk kedalam ruang maha kudus. Tetapi, Yesus masuk kedalam ruang maha
kudus sebagai ‘perintis’ dalam arti seluruh anggota gereja harus mengikuti
jejakNya. Sebab, seluruh gereja itu adalah imam2 menurut aturan Melkisedek, dan
harus mengikuti jejak Yesus untuk masuk kedalam “ruang maha kudus”.
Apa artinya masuk kedalam ruang maha kudus, seperti Yesus.
Ini bukan berarti kita juga harus ikut mempersembahkan darah kita untuk
mengadakan ‘pendamaian’ dihadapan Elohim. Karena pendamaian atau penebusan itu
sudah sempurna dilakukan Yesus, seorang diri. Tetapi, maksud masuk ke ruang
maha kudus, seperti Yesus, adalah mengalami ‘persekutuan’ dengan Elohim dalam
‘tingkat yang berbeda’ dengan ‘dipelataran Bait Suci’ atau ‘diruang kudus Bait
Suci’.
Kita ambil satu contoh dalam PL untuk menjelaskan hal ini,
yaitu dalam kasus Yosua dan Kaleb (Bilangan 14). Mengapa Kaleb dan Yosua dapat
mewarisi ‘tanah Perjanjian’ dijelaskan dalam ayat 24, demikian, “…Kaleb, karena lain jiwa (roh=batin) yang ada
padanya dan ia mengikuti Aku dengan sepenuhnya…”. Batin Kaleb dan Yosua
berbeda dari batin bangsa Israel secara keseluruhan. Secara ‘lahiriah’ Israel
memang telah keluar dari Mesir, tetapi secara ‘batiniah’ Mesir belum keluar
dari bangsa Israel. Itu sebabnya, di padang gurun, bangsa Israel selalu
bersungut-sungut, tidak percaya, dan memberontak kepada Tuhan, serta cenderung
ingin kembali ke Mesir.
Baiklah kita aplikasikan perihal ini kedalam dunia
kekristenan. Secara umum, dunia kekristenan telah membelah gereja menjadi dua
bagian menurut ‘ajaran Nikolaus’ (Niko=menaklukkan, dan Laos=kaum awam).
Didalam ‘Katolik’ dibedakan antara ‘imam’ dan ‘umat’, sedangkan didalam
Protestan, dibedakan antara ‘para pendeta’ atau pelayan “full time” atau apapun
namanya, dengan ‘jemaat’. Jadi, secara umum, dunia kekristenan tidak mungkin
mengikuti jejak Yesus sebagai Imam Besar menurut aturan Melkisedek untuk masuk
kedalam ruang ‘maha kudus’.
Tetapi, ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa berkenan
memberikan kerajaan sorga, akan dibentuk sedemikian sehingga mengikuti Yesus
kemanapun Dia pergi, termasuk mengikutiNya untuk masuk kedalam “ruang maha
kudus” (Wahyu 14:4). Karena pembentukkan oleh Bapa, maka batin ‘kawanan kecil’
berbeda dengan batin mayoritas dunia kekristenan.
Telah kita bahas hari raya Israel yang keenam, yaitu hari
raya ‘Pendamaian’, dimana Yesus telah menggenapinya dengan masuk kedalam sorga
menghadap Elohim sebagai ‘perintis’ bagi kita. Juga telah kita lihat bahwa
‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga akan
mengalami ‘tingkat persekutuan’ di “ruang maha kudus”. Semua ini dapat terjadi
kepada ‘kawanan kecil’ karena Yesus telah membuat kita menjadi “…raja-raja dan imam-imam bagi Elohim dan
BapaNya…” (Wahyu 1:6). Tentu yang dimaksud disini adalah imam-imam menurut
aturan Melkisedek, karena Yesus adalah Imam Besar menurut aturan Melkisedek.
Agar lebih jelas mengenai pengalaman batiniah ‘kawanan kecil’
ini, mari kita lihat ‘gereja keenam’ di Kitab Wahyu (Filadelfia) yang
bersesuaian dengan hari raya Israel keenam, yaitu hari raya ‘Pendamaian’. Wahyu
3:12, menegaskan, “Siapa yang menang, Aku
akan menjadikannya tiang di tempat kudus ElohimKu, dan dia sekali-kali tidak
akan pernah keluar lagi, dan Aku akan menuliskan Nama ElohimKu padanya, dan
nama kota ElohimKu, Yerusalem yang baru yang turun dari sorga dari ElohimKu,
dan NamaKu yang baru” (ILT).
Ada dua hal yang perlu kita bahas dari ayat ini. Pertama,
kita dibentuk Yesus sedemikian sehingga menjadi “tiang” di Bait Suci. Ini
adalah proses yang terjadi didalam batin kita. Kita yang tadinya “tanah liat”,
dibentuk menjadi “tiang” Bait Suci. Dan bukan hanya itu saja, tetapi ditegaskan
bahwa kita tidak akan pernah keluar lagi. Ini berarti ada suatu ‘kepastian
batiniah’ bahwa kita sudah ada didalam kerajaan sorga, dan bahwa kerajaan sorga
sudah ada didalam batin kita. Kepastian batiniah ini berbeda dengan kepastian
masuk sorga yang sering kita dengar dalam dunia kekristenan, yaitu ‘percaya
Yesus, pasti masuk sorga’. Yang dimaksud “masuk sorga” itu nanti setelah kita
mati jasmani, dan masuk suatu “tempat yang menyenangkan”, bahkan konon masih
ada anjing didalamnya.
Kalau kita teliti didalam kitab2 PB, tidak ada satu ayatpun
yang berbicara ‘konsep masuk sorga’ seperti yang umum diberitakan dalam dunia
kekristenan. Yang diberitakan Alkitab adalah ‘percaya Yesus, maka mendapat
hidup kekal (mendapat hayat Kristus=zoe)’. Dan ‘zoe’ ini adalah suatu jenis
hidup yang dijalani Elohim, dan diberikan kepada orang percaya sebagai ‘BENIH’.
Perlu pertumbuhan, sebagaimana semua ‘benih’ perlu bertumbuh. Itu sebabnya,
didalam kitab Matius yang memiliki tema utama ‘kerajaan sorga’, terdapat banyak
perumpamaan, sebagai contoh, perumpamaan ‘penabur’, ‘lalang diantara gandum’,
‘pukat’, ‘hamba yang setia dan hamba yang jahat’, ‘gadis bijaksana dan bodoh’,
dan ‘talenta’. Semua perumpamaan ini berbicara mengenai orang percaya yang
telah mendapat benih ‘hayat=zoe’. Tetapi, tidak semua bertumbuh,
sebab dalam dunia kekristenan ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang
dipilih. Jadi, kepada ‘kawanan kecil’ diberikan ‘kepastian batiniah’ sekarang
dan saat ini tanpa perlu mati jasmani dulu. Sebab, kepada ‘kawanan kecil’
diberikan kasih karunia untuk ‘dipanggil dan dipilih’.
Kedua, Yesus akan menuliskan Nama Elohim, Nama Kota Elohim, dan
Nama Yesus yang baru. ‘Nama’ yang dituliskan kedalam batin kita, bukanlah suatu
nama yang terdiri dari huruf2 tertentu, karena ‘Nama’ disini berarti karakter,
reputasi, dan karya dari Elohim sendiri. Yesus menuliskan nama Elohim kedalam
batin kita itu sama seperti yang dimaksud Ibrani 8:10, ketika menguraikan
Perjanjian Baru. Akibat dari ‘penulisan Nama Elohim’ kedalam batin kita, maka
kita mengalami pengenalan yang benar akan Elohim. Oleh kasih karuniaNya,
‘kawanan kecil’ mengalami proses penulisan batiniah ini sedemikian sehingga dapat
mengenal rencana, jalan2, karya, dan karakter Elohim
Saat ini kita masuk kepada hari raya Israel yang ketujuh dan
terakhir, yaitu hari raya Tabernakel (Imamat 23:33-44). Hari raya Tabernakel
juga disebut hari raya ‘pengumpulan hasil’ (Keluaran 23:16). Juga disebut hari
raya ‘bulan yang ketujuh’, dimana angka tujuh berbicara soal ‘kepenuhan atau
kesempurnaan’ (Nehemia 8:14). Jika kita
perhatikan tiga hari raya utama Israel, yaitu Paskah, Pentakosta, dan
Tabernakel, maka hari2 raya utama ini terkait dengan ‘tuaian’. Dalam Paskah,
kita mempunyai hanya ‘berkas buah sulung’, dalam Pentakosta, kita mendapati
‘tuaian buah sulung’, dalam Tabernakel, kita mendapat ‘tuaian buah sulung dalam
arti kepenuhannya’.
Telah kita bahas bahwa didalam sejarah gereja, penggenapan
hari raya ‘Pentakosta’ adalah saat dimana terjadi ‘tuaian buah sulung’, yaitu
pencurahan Roh Kudus dimana para Rasul dan orang percaya berkumpul disuatu
tempat yang berjumlah kira-kira 120 orang (Kis. 1:15). Tetapi, karena Roh Kudus
terus bekerja sepanjang zaman gereja, maka sesungguhnya, Elohim mempunyai ‘buah
sulung’ gereja disepanjang zaman. Jadi, hari raya Tabernakel, sesungguhnya,
adalah hari raya pengumpulan ‘buah sulung’ sepanjang zaman gereja.
Bagaimana hari raya Tabernakel ini tergenapi didalam gereja.
Kita tahu bahwa pencurahan Roh Kudus yang terjadi pada 120 orang murid
merupakan pencurahan Roh Kudus “sebagian” sebagai panjar atau jaminan. Efesus
1:14 menegaskan demikian, “…kamu yang
percaya telah dimeteraikan dengan Roh perjanjian yang kudus, yang merupakan
jaminan pusaka…(ARRABON= panjar, jaminan, atau down payment)” (ILT). Karenanya, pada penggenapan hari raya
Tabernakel, ‘buah sulung’ gereja akan mengalami pencurahan Roh Kudus dalam
kepenuhannya. Dan karena hari raya Tabernakel disebut hari raya ‘pengumpulan
hasil’, maka seluruh ‘buah sulung’ gereja pada setiap zaman akan dikumpulkan
dan mengalami pencurahan Roh Kudus sepenuhnya.
Peristiwa ‘pencurahan Roh Kudus sepenuhnya’ ini tidak sama
dengan pengertian yang umumnya dipahami dalam dunia kekristenan sebagai
“penuaian jiwa besar2an”, seperti diberitakan akan terjadi kebangunan rohani
akhir zaman. Sebab, peristiwa ‘pencurahan Roh Kudus sepenuhnya’ ini merupakan
tuaian ‘buah sulung’ gereja disepanjang zaman. Jadi, tidak semua anggota gereja
sepanjang zaman akan mengalami pencurahan Roh Kudus sepenuhnya. ‘Buah sulung
gereja’ itu adalah anggota gereja yang telah ‘matang lebih dahulu’, sesuai
dengan pengertian ‘buah sulung’. Yakobus 1:18, menegaskan, “yang telah menentukan, agar kita menjadi
suatu buah sulung dari ciptaanNya…” (ILT). Ayat ini juga menegaskan bahwa
menjadi ‘buah sulung’ itu adalah keputusan dan penentuan Bapa.
Pencurahan Roh Kudus sepenuhnya itu adalah sesuatu yang
Paulus sebut sebagai ‘pemuliaan oleh iman’ atau ‘glorification by faith’ (Roma 8). Didalam surat Roma, Paulus
menjelaskan keselamatan dengan tiga ungkapan, yaitu pembenaran oleh iman (justificatian
by faith), pengudusan oleh iman (sanctification by faith), dan
pemuliaan oleh iman (glorification by faith). Pemuliaan
oleh iman adalah sesuatu yang sangat dinantikan oleh seluruh makhluk (Roma
8:19-21). Ketika ‘pencurahan Roh Kudus seluruhnya’ terjadi, maka ‘buah sulung’
gereja akan ditampilkan (dimanifestasikan) kepada seluruh makhluk. Roma
8:19-21, menegaskan tujuan ditampilkannya ‘buah sulung’ gereja, yaitu untuk
membebaskan ciptaan.
Tidak kebetulan Yakobus menggunakan ungkapan ‘buah sulung’
CIPTAAN, karena yang akan dibebaskan oleh ‘buah sulung’ gereja adalah SELURUH
CIPTAAN.
Kita masih meneruskan pembahasan kita mengenai hari raya
Israel yang ketujuh, yaitu hari raya Tabernakel. Telah kita lihat bahwa penggenapan
hari raya Tabernakel itu adalah pengumpulan hasil ‘buah sulung’ gereja. Dan,
pengumpulan hasil ‘buah sulung’ ini terjadi ketika pencurahan Roh Kudus
‘sepenuhnya’ tiba. Memang saat ini pencurahan Roh Kudus ‘sepenuhnya’ itu belum
dialami oleh ‘buah sulung’ gereja, tetapi penggenapan hari raya Tabernakel itu
telah dialami ‘secara batiniah’ oleh ‘buah sulung’ gereja. Sesungguhnya, ‘buah
sulung’ gereja itu adalah ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa disorga berkenan
memberikan kerajaan sorga itu (Lukas 12:32).
Kita akan membahas ‘para pemenang’ gereja ketujuh (Laodikia)
yang bersesuaian dengan penggenapan hari raya ketujuh Israel, yaitu Tabernakel.
Wahyu 3:21, menegaskan, “Barangsiapa
menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhtaKu, sebagaimana
Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan BapaKu di atas takhta-Nya”.
Sesungguhnya, ‘kawanan kecil’ sebagai ‘buah sulung’ gereja, saat ini, telah
mengalami pengalaman ‘batiniah’ didudukkan bersama-sama Tuhan Yesus diatas
takhtaNya.
Kita akan menjelaskan pengalaman ‘batiniah’ ini melalui surat
Efesus. Watchman Nee, dalam bukunya, ‘sit, walk, stand’ dengan jelas
menguraikan pengalaman ini. Efesus 2:6, menjelaskan demikian, “dan Dia telah membangkitkan kita bersama,
dan mendudukkan kita bersama di alam semesta di dalam Kristus Yesus” (ILT).
Istilah Yunani ‘epouranios’ yang diterjemahkan ‘alam semesta’ diayat ini
sebenarnya berarti ‘in the heavenly sphere’, yaitu suatu DIMENSI dimana Elohim
menegakkan takhtaNya. Sorga itu bukan suatu TEMPAT yang menyenangkan “nun jauh
disana” di alam semesta ini, sebagaimana sering dipahami dalam dunia
kekristenan. Sorga itu suatu ‘dimensi sorgawi’ dimana takhta/kerajaan sorga
berada. Dan, sesungguhnya, ‘dimensi sorgawi’ ini berada dibatin kita.
Yesus berkata kepada orang2 Farisi bahwa ‘kerajaan sorga itu
ada didalam kamu’ (Lukas 17:21, Yunani ‘entos’ disini harus diterjemahkan ‘didalam’).
Jadi, kerajaan sorga itu ada dalam dimensi ‘batiniah’ kita. Tetapi, bagi orang2
Farisi, kerajaan sorga tidak akan mereka alami, juga mereka tidak akan masuk
kedalamnya, sebab mereka menolak Yesus sebagai Mesias. Tetapi, bagi ‘kawanan
kecil’ yang mendapat kasih karunia dihadapan Bapa, maka kerajaan sorga
merupakan realita saat ini. ‘Kawanan kecil’ sudah berada dalam kerajaan sorga, dan
kerajaan sorga sudah dialami saat ini.
Pengalaman ‘batiniah’ didudukkan bersama-sama Yesus di
takhtaNya memang merupakan pengalaman ‘para pemenang’ di gereja Laodikia. Dalam
dunia kekristenan, umumnya, konsep tentang ‘masuk sorga’ itu nanti terjadi ketika
seseorang mati secara jasmani. Sesungguhnya, jika orang kristen tidak mengalami
pengalaman ‘batiniah’ duduk bersama Yesus di sorga saat ini, maka ketika mati
jasmanipun mereka tidak akan masuk kerajaan sorga. Kematian jasmani tidak
menambahkan apa-apa kepada kondisi ‘batiniah’ seseorang. Kematian jasmani
justru akan membongkar keadaan ‘batiniah’ seseorang yang sesungguhnya. Jadi,
jika saat ini tidak masuk sorga, maka setelah matipun tidak akan masuk sorga.
Kita akan meneruskan dan menutup tulisan singkat ini dengan
melanjutkan pembahasan kita mengenai ‘pengalaman batiniah’ kawanan kecil
sebagai penggenapan hari raya Tabernakel. Telah kita lihat bahwa saat ini
‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga itu
telah mengalami pengalaman batiniah ‘didudukkan’ bersama Kristus di takhtaNya.
Secara ‘batiniah’ kawanan kecil telah masuk kedalam kerajaan sorga, dan
kerajaan sorga telah ada didalam mereka. Kita akan melihat pengalaman ‘kawanan
kecil’ berikutnya didalam kitab Efesus, yaitu pengalaman ‘berjalan’ (walk).
Efesus 4:1, mengatakan, “…supaya
hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan
itu”. Istilah Yunani ‘peripateo’, yang diterjemahkan ‘hidupmu’,
sebenarnya berarti ‘jalan’ (kata kerja). Maksud ayat diatas adalah supaya
‘jalan hidupmu’ sesuai/berpadanan dengan panggilanmu. Jalan hidup yang dimaksud
disini adalah cara hidup sehari-hari, baik dalam berkeluarga, berbisnis, dan
dalam hal apapun. Pengertian ayat ini sama sekali tidak bermaksud menyatakan
cara atau ritual, atau bentuk ibadah tertentu.
Contoh kehidupan Yesus dan Yohanes Pembaptis dapat
menjelaskan makna ‘jalan’ yang dimaksud. Yesus maupun Yohanes Pembaptis, tidak
“berjalan” didalam dunia keagamaan yang ada pada waktu itu (Yudaisme). Yesus
dan Yohanes Pembaptis “berjalan” sehari-hari diluar Yudaisme. Hal ini bukan
karena Yesus dan Yohanes Pembaptis bukan berasal dari suku Lewi, tetapi ada
kebenaran tertentu mengapa Yesus dan Yohanes Pembaptis tidak “berjalan” didalam
Yudaisme.
Sesungguhnya, ada “anggur baru” (pewahyuan baru) yang tidak
dapat ditampung oleh “kirbat lama” (struktur lama), artinya, Yesus dan Yohanes
Pembaptis membawa pewahyuan baru mengenai ‘kerajaan sorga’ yang tidak dapat
diterima oleh Yudaisme. Itu sebabnya, baik Yesus maupun Yohanes Pembaptis
memberitakan, ‘bertobatlah, sebab kerajaan sorga sudah dekat’. Mengapa harus
bertobat? Karena Yudaisme harus merubah pemikiran mereka tentang ‘kerajaan sorga’.
Demikian juga, ‘kawanan kecil’ tidak dapat berjalan didalam
dunia keagamaan yang ada. ‘Kawanan kecil’ berjalan dalam kehidupan sehari-hari
diluar struktur dunia kekristenan. ‘Kawanan kecil’ berjalan dalam kehidupan
sehari-hari sesuai dengan nilai2 dan pimpinan kerajaan sorga yang didalam
batinnya. Dunia kekristenan telah penuh aturan2 agamawi ‘harus ini harus itu’
supaya dapat masuk sorga. Tetapi,
‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa telah berkenan memberikan kerajaan sorga,
sedang belajar dan terus belajar mengekspresikan ‘kerajaan sorga’ dibumi, dalam
kehidupannya sehari-hari.
Pengalaman selanjutnya ‘kawanan kecil’ adalah “berdiri” (stand).
Efesus 6:11, menyatakan, “…supaya kamu
dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis”. Istilah Yunani ‘histemi’
yang diterjemahkan ‘bertahan’, sebenarnya berarti ‘berdiri’ atau ‘tetap
tinggal’. Maksudnya, kita tidak merebut sesuatu, tetapi hanya mempertahankannya
terhadap serangan2 iblis. Kita hanya mempertahankan dan tetap tinggal didalam
‘kemenangan Kristus’ saja. Kita sudah ada
didalam kerajaan sorga, dan tinggal berdiri mempertahankannya dari tipuan2
iblis. ‘Kawanan kecil’ tidak berbuat ini dan itu supaya masuk sorga, tetapi
hanya
mempertahankan kerajaan sorga yang memang telah diberikan Bapa di sorga.
Sebagai kesimpulan dari tema kita ini adalah ketujuh hari
raya Israel telah digenapi oleh Yesus, dan demikian juga telah digenapi ‘secara
batiniah’ bagi ‘kawanan kecil’. Kita tinggal
menunggu penggenapan hari raya Tabernakel, dalam arti pencurahan Roh Kudus ‘sepenuhnya’,
sehingga kerajaan sorga yang didalam batin kita tertampil (termanifestasi) di
bumi ini, dan kita melayani dibumi ini dalam tubuh kemuliaan. Amin.
Comments
Post a Comment