Jabatan Dalam Gereja
Jabatan Dalam Gereja
Oleh: Irnawan silitonga
Jika kita berbicara mengenai jabatan dalam gereja, maka
banyak orang Kristen langsung berpikir mengenai jabatan gembala sidang, ketua
sinode, atau jabatan2 lainnya dalam konteks organisasi. Semua ini tidak ada didalam
Kitab Kisah Para Rasul. Tetapi kebanyakan orang Kristen, bahkan mereka yang
disebut pengajar Alkitab, juga mengabaikan kebenaran yang dengan jelas
terungkap didalam Kitab Kisah Para Rasul.
Ada 70 kali istilah yang terkait dengan Roh Kudus didalam Kitab
Kisah Para Rasul, seperti ‘berkatalah Roh’, ‘Roh Kudus melarang’, ‘penuh Roh’,
‘bisikan Roh’ dan seterusnya. Fakta ini jelas menunjukkan bahwa gereja mutlak
dipimpin langsung oleh Roh Kudus. Rasul Petrus, Rasul Paulus, Filipus pemberita
injil, Stefanus, Ananias dan semua saksi Tuhan langsung dipimpin Roh. Tidak ada
seorang “manajer” yang memimpin gereja serta membuat perencanaan,
pengorganisasian, memimpin dan membuat sistem kontrol. Pergerakan gereja serta
perluasannya mutlak diatur Roh Kudus. Fakta ini dengan mudah kita dapatkan
didalam Kitab Kisah Para Rasul, bahkan hanya dengan satu kali baca saja.
Sekalipun ada para pemimpin seperti Petrus, Yohanes, Paulus
dan para penatua, mereka tidak memiliki otoritas atas gereja. Mereka menjadi
para pelayan dalam arti yang sebenarnya. Mereka menjadi contoh bagaimana
menjadi seorang pelayan dan bagaimana mengikuti kepemimpinan Roh Kudus. Jabatan
kepemimpinan mereka bukanlah seperti jabatan dalam konteks organisasi.
Mari kita melihat istilah Yunani EPISKOPE, yang muncul hanya
satu kali didalam Kisah Para Rasul 1:20 (didalam PB muncul 4x), yang
diterjemahkan JABATAN dalam berbagai versi Bahasa Indonesia. Dalam beberapa
versi Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai oversight,
place of leadership, Office. Tetapi jika kita melihat ayat2 selanjutnya,
maka dapatlah kita memahami makna istilah EPISKOPE, yaitu suatu tanggung jawab
pelayanan sebagai saksi kebangkitan Kristus (ayat 22). Jadi, EPISKOPE merupakan
fungsi atau tanggung jawab pelayanan dan bukan posisi atau jabatan seperti
posisi atau jabatan dalam suatu organisasi.
Selanjutnya, mari kita melihat istilah dalam Bahasa Indonesia
penilik, atau penatua. Istilah ini diterjemahkan dari dua istilah Yunani, yaitu
PRESBUTEROS dan EPISKOPOS. Kedua istilah Yunani ini dipakai bergantian dalam
PB, sebagai contoh Titus 1:5-7. Hal ini berarti PRESBUTEROS maupun EPISKOPOS
adalah satu orang yang sama, dimana PRESBUTEROS adalah orang yang dewasa (tua,
berpengalaman), sedangkan EPISKOPOS adalah fungsinya sebagai ‘yang melihat dari atas’, yang mengawasi
jemaat agar terhindar dari serangan2 si-jahat.
Sekali lagi kita melihat bahwa penatua atau penilik jemaat, bukanlah
jabatan dengan suatu otoritas seperti dalam organisasi. Penatua atau penilik
adalah suatu fungsi dalam pelayanan. Fungsi pelayanan untuk menggembalakan jemaat.
Jadi, kita melihat bahwa gereja mula2 seperti yang
diungkapkan dalam Kitab Kisah Para rasul sama sekali tidak menyebut jabatan
dalam arti suatu posisi dengan otoritas tertentu, seperti terdapat dalam
suatu organisasi. Kalau demikian, mengapa dalam dunia kekristenan terdapat
jabatan gembala sidang, ketua sinode, dan jabatan2 lainnya dengan otoritas
tertentu? Banyak orang Kristen berpikir apa salahnya dengan jabatan gembala
sidang, ketua sinode dan sebagainya. Apa salahnya mengorganisasikan gereja?
Gereja memang organisme, tapi perlu diorganisasikan. Bukankah organisasi
hanyalah alat saja. Demikian argumentasi2 yang biasa kita dengar.
Untuk dapat melihat persoalan ini dengan tepat, kita harus
melihat bagaimana gereja yang diuraikan didalam Kitab Kisah Para Rasul,
kemudian menjadi “gereja” seperti yang ada didalam dunia kekristenan saat ini. Hal
ini dimulai oleh beberapa penatua yang dengan ajaran palsu menarik murid2
kepada diri mereka sendiri (Kisah Para Rasul 20:28-30). Murid2 yang awalnya
mengikuti pimpinan Roh Kudus, kemudian ditarik oleh beberapa pemimpin sehingga
tidak sepenuhnya mengikuti pimpinan Roh. Para pemimpin telah “mencuri” otoritas
Roh Kudus atas murid2 Tuhan. Gereja yang tadinya satu, kemudian terpecah-pecah
menjadi ribuan kelompok karena murid2 sebagian mengikuti pemimpin ini, sebagian
lagi mengikuti pemimpin itu. Gereja sekarang telah menjadi 5000 kelompok besar
seperti Presbiterian, Baptis, Metodis, Pentakosta, dst. Dunia kekristenanpun
menyebut kelompok2 ini sebagai Denominasi, dan bukan gereja, walaupun ada
banyak orang menyamakan saja gereja dengan Denominasi.
Mari kita melihat sedikit sejarah kejatuhan gereja. Sejarah
mencatat seorang bernama Ignatius (tahun 117 M.) dipandang sebagai yang pertama
mengajarkan perbedaan antara para penatua (PRESBUTEROS) dan bishop (EPISKOPOS).
Ignatius ini seorang pemimpin gereja di Antiokhia (Siria) mati martir dibawah
kaisar Trajan. Ia menulis surat-surat dalam perjalanannya ke Roma untuk mati
martir disana. Saya akan mengutip bagian-bagian dari suratnya yang
mengungkapkan sesuatu yang sangat tersembunyi didalam kedagingan manusia yaitu keinginan untuk berkuasa. Saya akan
mengutip bahasa Inggrisnya, agar saudara mendapat arti yang lebih jelas,
didalam buku The Apostolic Fathers
(1956) oleh J.B Lightfoot.
- Plainly therefore we ought to regard the bishop as the Lord
himself (karenanya kita harus menganggap bishop sebagai Tuhan sendiri – hal
65).
- Therefore as the Lord did nothing without the Father,
(being united with him), either by himself or by the Apostles, so neither do ye
anything without the bishop and the presbyters (karena itu sama seperti Tuhan
tidak berbuat apapun tanpa Bapa - dalam kesatuan denganNya - baik dari diriNya
sendiri atau oleh para rasul, demikian juga engkau jangan berbuat apapun tanpa
bishop dan para penatua – hal 70).
- … submitting yourselves to your bishop and presbytery, ye
may be sanctified in all things (tundukkan dirimu pada para penatua dan
bishopmu, engkau akan dikuduskan dalam segala sesuatu – hal 64).
- Be obedient to the bishop … (taatlah pada bishop – hal 72).
- … he that doeth aught without the bishop and presbytery and
deacons, this man is not clean in his conscience (ia yang melakukan segala
sesuatu tanpa bishop dan penatua dan para diaken, orang ini tidak bersih hati
nuraninya – hal 74).
- Do ye all follow your bishop, as Jesus Christ followed the
Father, and the presbytery as the Apostles (kamu semua ikuti bishopmu, sama
seperti Yesus Kristus mengikuti Bapa, dan penatua seperti rasul-rasul – hal
84).
- … he that doeth aught without the knowledge of the bishop
rendereth service to the devil (ia yang melakukan segala sesuatu tanpa
sepengetahuan bishop memberikan pelayanan kepada iblis – hal 84).
Ignatius adalah seorang pemimpin yang mengikut Tuhan sampai
mati martir di Roma, tetapi melalui pengajarannya ini Tubuh Kristus jatuh
kedalam pemerintahan manusia dengan
segala hierarki dan organisasinya. Ketika para Bishop bertarung satu dengan
lainnya, maka timbul jabatan Bishop Agung. Ketika para Bishop Agung bertarung
untuk mendapat posisi tertinggi, maka timbul jabatan Kardinal. Dan ketika para
Kardinal bertarung, maka timbul jabatan Paus. Struktur pemerintahan manusia
didalam gereja sudah mapan pada abad ke-6. Kemudian gereja masuk kedalam zaman
kegelapannya…
Demikianlah saat ini, gereja telah jatuh kedalam sistem
pemerintahan manusia, yang dibangun oleh para pemimpinnya. Dan karena sudah
hampir 2000 tahun kondisi dunia kekristenan seperti saat ini, maka umat Tuhan
sudah terbiasa dan menerima saja jabatan2 didalam Denominasi sebagai sesuatu
yang normal. Mulai dari jabatan gembala sidang sampai ketua sinode , dianggap
normal saja, sementara Kisah Para Rasul 20:28-30 menyebutnya sebagai serangan
serigala ganas terhadap para pemimpin.
Tetapi umat pilihan Tuhan tidak akan mengambil bagian dalam
kejatuhan gereja. Umat pilihan Tuhan tetap melayani sebagai hamba, dengan tidak
menarik murid2 kepada diri mereka sendiri, apalagi menarik uang dengan ajaran2
perpuluhan atau buah sulung atau lainnya. Puji Tuhan, haleluyah… Amin
Comments
Post a Comment