Kerajaan Sorga Menurut Kitab Wahyu.

 

Kerajaan Sorga Didalam Kitab Wahyu (gabungan)

Oleh: Irnawan Silitonga

Kita masuk kedalam tema baru yaitu, ‘Kerajaan Sorga Didalam Kitab Wahyu’. Artinya, kita akan membahas tema kerajaan sorga sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Wahyu. Ini tidak berarti kita hanya melihat kitab Wahyu saja tanpa mengutip atau memperhatikan kitab2 lain dalam Alkitab. Sebab prinsip Hermeneutik menegaskan bahwa hanya Alkitab yang harus menafsirkan Alkitab. Jadi, kita tetap akan melihat seluruh ‘jalan pikiran’ Alkitab dalam memahami kitab Wahyu.

Ada beberapa hal yang perlu kita tegaskan sebelum masuk kedalam kitab Wahyu. Pertama, kitab Wahyu adalah suatu pewahyuan yang disampaikan dalam ‘bahasa simbol’. Wahyu 1:1, menyatakan, “Wahyu YESUS Kristus yang telah Elohim berikan kepadaNya… Dia memberitahukan kepada hambaNya, Yohanes” (ILT). Istilah ‘memberitahukan’ disini diterjemahkan dari istilah Yunani, ‘semaino’, berasal dari akar kata ‘sema’ yang berarti ‘tanda/simbol’. Karenanya, kita harus berhati-hati agar jangan menafsirkan kitab Wahyu secara ‘harfiah’.

Kedua, kitab Wahyu adalah suatu kitab yang bersifat ‘positif’ dalam arti bersifat ‘pemulihan’. Karena kitab Wahyu adalah kitab yang mewahyukan PRIBADI YESUS KRISTUS, seperti ayat kita diatas. Jadi, setiap malapetaka, wabah, atau “kehancuran” apapun juga hanyalah suatu cara/kejadian, dengan maksud untuk mewahyukan pribadi Yesus. Kita harus fokus kepada pewahyuan pribadi Yesus, dan bukan kepada “cerita2 mengerikan” yang tertulis dalam kitab ini. Cerita2 dan ungkapan2 “mengerikan” itu harus ditafsirkan secara ‘simbolik’, sesuai dengan ‘bahasa’ kitab Wahyu yang bersifat ‘simbolik’. Yohanes 3:17, menegaskan, “Sebab Elohim mengutus PutraNya ke dunia tidak untuk menghakimi dunia, sebaliknya supaya dunia dapat diselamatkan oleh-Nya” (ILT).

Ketiga, penggenapan kitab Wahyu bersifat ‘batiniah’, karena kitab ini mewahyukan suatu ‘pribadi’, yaitu pribadi Yesus Kristus. Dalam sejarah penafsiran, ada dua golongan penafsiran kitab ini, yaitu penafsiran bersifat ‘historical’, dan bersifat ‘futuristic’. Penafsiran ‘historical’ sangat dominan sebelum tahun 1800 Masehi. Martin Luther menafsirkan ‘anti Kristus’ adalah ‘Paus’ dalam gereja Katolik. Sementara itu, Penafsiran ‘futuristic’ mulai muncul dari tahun 1800an sampai 1995. Penafsiran ‘futuristic’ ini menyebabkan adanya ajaran ‘rapture’, ‘kedatangan Yesus kedua kali’, ‘lautan api literal’ dalam arti neraka literal, dan sebagainya. Kita tidak menolak seluruhnya cara penafsiran ‘historical’ maupun ‘futuristic’, tetapi penafsiran ‘batiniah’ kita terutama didasarkan pada Galatia 2:20, dan Roma 8:19-21.

Keempat, karena pewahyuan kitab Wahyu adalah pewahyuan pribadi Yesus Kristus, maka tentu juga merupakan pewahyuan gereja, sebagai Tubuh Kristus, dan pewahyuan tentang kerajaan sorga, karena itulah tujuan Yesus datang kedunia, yaitu untuk menegakkan kerajaanNya dibumi. Ada dua simbol didalam kitab Wahyu yang harus kita perhatikan, yaitu ‘kaki dian dari emas’ (pasal 1), dan ‘takhta’, yaitu takhta Elohim, takhta Anak Domba,  dan juga takhta2 (pasal 20-22). Kita tahu bahwa ‘kaki dian emas’ merupakan simbol gereja, dan ‘takhta’ tentu merupakan simbol kerajaan. Jadi, secara garis besar, kitab Wahyu mewahyukan kepada kita mengenai suatu “perjalanan” dari gereja menuju kerajaan, dari ‘kaki dian menuju takhta’.

Telah kita tegaskan bahwa kitab Wahyu adalah kitab yang mewahyukan pribadi Yesus Kristus, gerejaNya, dan tentu kerajaanNya. Mari kita perhatikan Wahyu 1:9, untuk mendapatkan pemahaman terkait ‘kerajaan’. Wahyu 1:9, menegaskan, “Aku, Yohanes, yang juga saudara dan teman sekutu dalam kesukaran dan dalam kerajaan serta ketabahan YESUS Kristus, berada di pulau yang disebut Patmos berkenaan dengan firman Elohim dan berkenaan dengan kesaksian YESUS Kristus” (ILT).

Diayat ini Rasul Yohanes menyebut penerima suratnya sebagai ‘teman sekutu’. Teman sekutu disini memiliki makna sama dengan adanya ‘persekutuan’ (fellowship=’koinonia’), yang merupakan tema utama dalam surat2 Yohanes. Tetapi, dalam I Yohanes 1:3, Rasul Yohanes menulis kepada penerima suratnya ‘justru supaya’ para penerima suratnya dapat beroleh persekutuan dengannya. Artinya, jika para penerima suratnya menerima firman yang disampaikannya, maka barulah akan ada persekutuan dengan Rasul Yohanes. Jika mereka menolaknya, maka tidak akan ada persekutuan. Disini ada fakta menarik yang perlu kita perhatikan.

Surat I Yohanes adalah surat umum yang ditulis kepada gereja2 di Asia kecil (7 gereja dalam Wahyu 2 dan 3). Kita tahu bahwa 7 gereja di Asia kecil telah jatuh karena tiga ajaran palsu, yaitu ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Itu sebabnya Tuhan memanggil para pemenang pada setiap tujuh gereja itu. Jadi, dalam surat I Yohanes, rasul Yohanes menulis suratnya kepada gereja2 yang telah jatuh. Itu sebabnya, Yohanes memberitakan firman Tuhan agar supaya ada persekutuan diantara mereka.

Hal ini berbeda dengan penerima kitab Wahyu, dimana rasul Yohanes menyebut penerima kitab Wahyu sebagai ‘teman sekutu’. Secara khusus, rasul Yohanes menyebut ‘teman sekutu dalam kerajaan’. Hal ini berarti kitab Wahyu, secara khusus, ditujukan kepada anggota gereja yang memang telah menerima pemberitaan firman Rasul Yohanes dan memiliki persekutuan dengannya selama ini. Penerima kitab Wahyu ini adalah ‘teman sekutu’ rasul Yohanes. Rasul Yohanes memberitakan penglihatannya di pulau Patmos bukan supaya ada persekutuan diantara mereka, seperti yang terjadi pada surat I Yohanes kepada gereja2 yang telah jatuh. Jadi, baik rasul Yohanes maupun penerima kitab Wahyu, semua ada ‘dalam persekutuan’, dan semua ada ‘dalam kerajaan’. Karenanya, ada perbedaan antara ‘ada didalam gereja (menjadi anggota gereja) dan ‘ada didalam kerajaan’ seperti yang dimaksud ayat kita diatas.

Umumnya, pengertian seperti ini sulit dipahami dalam dunia kekristenan. Setidaknya, ada beberapa hal yang menyebabkan kesulitan ini. Pertama, hampir tidak pernah diberitakan bahwa gereja telah jatuh oleh tiga ajaran palsu, dan bahwa Tuhan selalu memanggil para pemenangNya disetiap zaman gereja. Kedua, ketika kedatangan Tuhan Yesus, akan ada “penyaringan” seperti ditegaskan dalam perumpamaan2 kerajaan sorga. Penyaringan yang dimaksud artinya ada anggota gereja yang diterima dalam kerajaan sorga, tetapi ada juga yang tidak. Ketiga, adanya ungkapan2 seperti ‘percaya Yesus, masuk sorga’, yang sudah sangat dipercaya dalam dunia kekristenan. Sorga dalam arti suatu tempat yang menyenangkan. Sebenarnya, Alkitab berkata ‘percaya Yesus, maka mendapat hidup kekal (zoe)’. Apakah orang Kristen bertumbuh dalam hayat (zoe) atau tidak, merupakan persoalan yang lain. Intinya, dalam dunia kekristenan, orang menyamakan saja pengertian ‘ada didalam gereja’ (menjadi anggota gereja) dan ‘ada didalam kerajaan’, sementara rasul Yohanes tidak menyamakannya.

Kita teruskan pembahasan kita mengenai Wahyu 1:9, kali ini tentang ungkapan, ‘berkenaan dengan firman Elohim’. Baiklah kita kutip sekali lagi Wahyu 1:9, yang menegaskan, “Aku, Yohanes, yang juga saudara dan teman sekutu dalam kesukaran dan dalam kerajaan serta ketabahan YESUS Kristus, berada di pulau yang disebut Patmos berkenaan dengan firman Elohim dan berkenaan dengan kesaksian YESUS Kristus” (ILT).

Diayat ini rasul Yohanes menyebutkan alasan ia berada di pulau Patmos, dimana ia dibuang atau dikucilkan. Umumnya, orang berpendapat bahwa rasul Yohanes dibuang ke pulau Patmos oleh kaisar Roma, tetapi Irenaeus yang dipandang bapa gereja awal, dan seorang muda yang dibimbing oleh Polikarpus (60-155 M.), menyatakan bahwa penulisan kitab Wahyu terjadi ketika kaisar Domitian berkuasa (81-96 M.). Dan kaisar Domitian ini tidak menganiaya kekristenan secara luas.

Namun, baiklah kita melihat semua tulisan Yohanes untuk memahami ungkapan, ‘berkenaan dengan firman Elohim’. Mari kita melihat fakta bahwa semua tulisan Yohanes mempunyai ‘tema besar’ penolakan dunia keagamaan (khususnya para pemimpin) terhadap Yesus dan murid2Nya. Pertama, pembukaan injil Yohanes sudah menyatakan bahwa Yesus ditolak oleh milik kepunyaanNya sendiri (Yohanes 1:11). Kedua, analisis injil Yohanes dapat dibuat berdasarkan penolakan para pemimpin Yudaisme (“Bait Suci”). Pasal 1-8, adalah pelayanan Yesus selama Ia berada ‘di Bait Suci’ dan kemudian meninggalkannya (8:59). Pasal 9-12, adalah pelayanan Yesus selama Ia ‘diluar Bait Suci’ sebelum meninggalkan orang banyak (12:36). Setelah evaluasi mengapa Yesus ditolak oleh Yudaisme (12:37-43), maka pasal 13-21, adalah pelayanan Yesus kepada murid2Nya, serta kematianNya dikayu salib. Jadi, seluruh injil Yohanes memiliki tema penolakan Yesus dan juga murid2Nya dari dunia keagamaan. Yohanes 15:18-25, menegaskan bahwa dunia membenci Yesus dan murid2Nya. Dunia disini adalah dunia keagamaan karena mereka memiliki Taurat (15:25).

Ketiga, surat I Yohanes ditulis kepada gereja2 yang telah jatuh (dunia keagamaan saat itu), supaya ada persekutuan dengan rasul Yohanes. Artinya, secara umum, sudah tidak ada lagi persekutuan. Keempat, III Yohanes 1:9, mencatat seorang bernama Diotrefes, yang berambisi untuk menjadi terkemuka dalam gereja, tidak menerima rasul Yohanes dan timnya. Maka, berdasarkan fakta2 ini, sudah sewajarnya kita menafsirkan bahwa rasul Yohanes berada di pulau Patmos terutama KARENA DIKUCILKAN OLEH DUNIA KEAGAMAAN YANG TELAH MEROSOT. Jadi, makna ungkapan, ‘berkenaan dengan firman Elohim’ adalah rasul Yohanes berada di pulau Patmos, terutama karena firman Elohim yang disampaikannya tidak diterima oleh gereja2 yang telah jatuh pada waktu itu, walaupun bisa jadi, memang kaisar Domitian yang membuang Yohanes ke pulau Patmos. 

Mari kita terapkan kedalam konteks kita saat ini. Umat pilihanNya tentu memahami dengan jelas bahwa gereja telah jatuh dan pecah menjadi puluhan ribu denominasi. Dengan kondisi dunia kekristenan saat ini, tentu mayoritas atau orang banyak akan menolak firman Elohim, khususnya mengenai kerajaan sorga, karenanya, kitab Wahyu menjadi kitab yang “tersembunyi” bagi orang banyak.

Kita lanjutkan pembahasan kita dengan melihat Wahyu 1:6, demikian, “serta menjadikan kita raja-raja dan imam-imam bagi Elohim dan BapaNya; bagi Dia kemuliaan dan kekuasaan untuk selama-lamanya, Amin” (ILT). Ayat ini menegaskan bahwa Yesus Kristus menjadikan kita raja-raja dan imam-imam, setelah Ia membasuh dosa-dosa kita dengan darahNya (ayat 5).

Kematian, kebangkitan dan kenaikanNya ke sorga bertujuan menjadikan kita raja-raja dan imam-imam. Pertanyaannya bagi kita sekarang adalah apakah Yesus Kristus bisa gagal dalam menjadikan kita raja2 dan imam2? Mari kita lihat kasus Petrus dan Andreas saudaranya, ketika Yesus berkata, ‘kamu akan Kujadikan penjala manusia’ (Matius 4:19). Apakah Petrus dan Andreas gagal menjadi penjala manusia? Memang Petrus pernah gagal, tentu Andreas sebagai manusia juga pernah gagal, tetapi Yesus tidak pernah gagal. Pada hari Pentakosta, dalam sekali khotbah, Petrus dan murid2 lainnya telah “menjala” 3000 jiwa. Kegagalan Petrus dan murid2 lainnya merupakan bagian dari proses yang dilakukan Yesus untuk menjadikan mereka ‘penjala manusia’.

Mari kita lihat satu kasus lagi dalam Kejadian 1:26-28. Disini Elohim bermaksud menciptakan manusia dalam rupa dan gambarNya. Banyak orang berpandangan bahwa ketika Adam dan Hawa berada di Taman Eden, mereka sudah serupa dan segambar denganNya. Faktanya, Adam dan Hawa masih dalam kondisi ‘murni’ (innocence), belum berdosa, dan juga belum kudus, dalam arti belum mengambil bagian dalam kodrat Elohim. Adam dan Hawa sedang diproses dalam Taman Eden oleh adanya dua pohon, yaitu pohon pengetahuan (simbol jenis hidup ‘maut), dan pohon kehidupan (simbol jenis hidup Elohim=zoe). Dan bahwa “kejatuhan” adalah bagian dari proses yang Elohim lakukan agar manusia dapat menjadi serupa dan segambar denganNya. Yang merancang “kejatuhan” dan membuat semua manusia masuk kedalam alam ‘maut’ bukanlah keinginan manusia, tetapi kehendak Elohim sendiri (Roma 8:20-21). Tetapi, pada akhirnya, semua makhluk akan dimerdekakan dan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan anak2 Elohim. Rencana dan kehendak Bapa menjadikan semua manusia yang serupa dan segambar denganNya tidaklah gagal.

Gereja, menurut surat Petrus adalah ‘imamat yang rajani’, artinya, semua anggota gereja adalah imam2 dan raja2 (I Petrus 2:9). Jika kita melihat dunia kekristenan, terdapat “pembelahan” golongan anggota gereja menjadi imam-umat (Katolik), dan pendeta-jemaat (Protestan). Urusan “rohani” dikerjakan oleh Imam atau pendeta, sedangkan urusan “sekuler” dikerjakan umat atau jemaat. Pembelahan gereja menjadi dua golongan seperti ini bukanlah perkara sederhana, karena hal ini terjadi oleh ajaran palsu, yang dalam kitab Wahyu disebut ajaran ‘Nikolaus’. Istilah Latin untuk ‘niko’ adalah menaklukkan, sedangkan istilah ‘laos’ itu kaum awam (laity). Dengan ajaran palsu ‘nikolaus’ ini hierarki atau jenjang/sistem pemerintahan manusia masuk kedalam gereja. Gereja bukan lagi Tubuh Kristus (organisme), tetapi sudah menjadi “Tubuh Kristus” yang diatur oleh pemerintahan manusia. Otoritas gereja yang tadinya otoritas Hayat (zoe), sekarang terjadi percampuran antara otoritas Hayat dan otoritas pemimpin denominasi. Dalam kondisi sedemikian, tidak mungkin lagi anggota gereja berfungsi sebagai imam2 dan raja2.

Tetapi, apakah Yesus telah gagal menjadikan kita raja2 dan imam2? Tentu tidak gagal, karena Yesus mempunyai anggota2 gerejaNya yang berada diluar sistem pemerintahan manusia, dan hanya mengikuti Yesus kemana saja Ia pergi (Wahyu 14:4).

Telah kita bahas bahwa Yesus sedang menjadikan kita raja2 dan imam2, setelah Ia menghapus dosa kita oleh darahNya (Wahyu 1:5-6). Perlu kita ingat bahwa kitab Wahyu adalah pewahyuan pribadi Yesus Kristus didalam gerejaNya, didalam kerajaanNya, dan juga didalam para pemenangNya. Sesungguhnya, menjadikan gerejaNya agar dapat berfungsi sebagai imam2 dan raja2 merupakan tema sentral dan utama dalam kitab Wahyu. Melaui bahasa simbol, kita lihat disepanjang kitab Wahyu bagaimana langit dan bumi lama “dihancurkan” sehingga menjadi langit dan bumi baru. Kita tahu bahwa ‘langit dan bumi baru’ adalah simbol manusia yang telah dipulihkan, secara khusus para pemenangNya.

Saat ini kita akan membahas tujuan dari Yesus Kristus dalam membentuk kita agar menjadi raja2 dan imam2. Mari kita perhatikan Wahyu 5:8-10, “…keempat makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua itu tersungkur di depan Anak Domba itu… dan mereka menyanyikan nyanyian baru sambil berkata… Engkau sudah membeli kami bagi Elohim, dari setiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa, dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi” (ILT). Jelas terlihat dari ayat ini bahwa “keempat makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua” itu merupakan simbol dari raja2 dan imam2. Karena ditegaskan dalam ayat diatas bahwa Yesus Kristus telah membeli mereka, dan menjadikannya raja2 dan imam2, bahkan dijelaskan juga tujuan menjadikan mereka dijadikan raja2 dan imam2, yaitu untuk memerintah dibumi. Hal ini digenapi ketika Tuhan Yesus datang ‘didalam dan melalui’ para pemenangNya, serta menegakkan kerajaanNya selama 1000 Tahun (Wahyu 20:4).

Baiklah kita lihat kitab Roma untuk membandingkan maksud kedatangan Tuhan Yesus ‘didalam dan melalui’ para pemenangNya. Keselamatan dalam kitab Roma (pasal 1 s/d 8) dijelaskan Paulus secara sistematis dengan tiga ungkapan, yaitu justification by faith (pembenaran oleh iman), sanctification by faith (pengudusan oleh iman), dan glorification by faith (pemuliaan oleh iman). Dalam dunia kekristenan, peristiwa ‘pemuliaan oleh iman’ (Roma 8:19-21) hampir tidak pernah diberitakan. Tetapi, justru peristiwa ini merupakan puncak keselamatan.

Jika ‘pemuliaan oleh iman’ ini tidak diberitakan dan dipahami, maka akan timbul konsep2 keliru mengenai kedatangan Tuhan Yesus. Sudah umum diterima bahwa Tuhan Yesus akan “mengangkat” kita kesorga, kesuatu tempat menyenangkan dimana orang hanya nyanyi2 saja kerjanya, dan membiarkan bumi dan orang2 didalamnya masuk keneraka selama-lamanya. Konsep seperti ini muncul karena tidak memahami karya keselamatan oleh Tuhan Yesus.

Perhatikan Roma 8:19-21, ditegaskan disini bahwa seluruh makhluk menantikan saat penyingkapan putera2 Elohim (gereja pemenang), dimana pada akhirnya, seluruh makhluk akan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan putera2 Elohim. Jadi, gereja pemenang akan berfungsi sebagai raja2 dan imam2 serta memerintah dibumi dengan tubuh kemuliaan untuk membebaskan seluruh makhluk.

Mari kita coba terapkan dahulu perihal menjadi ‘raja2 dan imam2’ dalam dunia kekristenan. Dalam dunia kekristenan, denominasi2 itu adalah kerajaan para pemimpinnya, bahkan beberapa diantaranya berkata “kami ini seperti suku Lewi”, dan berhak menerima persepuluhan dari jemaat (keimaman aturan Harun). Sementara Yesus menjadikan para pemenangNya untuk berfungsi sebagai imam2 menurut aturan Melkisedek, sebagaimana Yesus imam besar menurut aturan Melkisedek (Ibrani 7).

Mengenai raja2, Yesus tegas berkata jangan seorangpun diantara kamu disebut pemimpin (Matius 23:8-12). Para pemenangNya hanya memperlengkapi murid2 Tuhan sebagaimana para pemimpin gereja mula2, tanpa menarik mereka kepada diri sendiri (Kis. 20:29-30; Efesus 4:11-12), apalagi menarik uang murid2 Tuhan dengan berbagai2 ajaran seperti persepuluhan, buah sulung, dan janji iman. Para pemenangNya tidak memiliki otoritas apapun atas murid2 Tuhan, sebagaimana para pemimpin denominasi. Para pemenangNya dibentuk Yesus agar menjadi raja atas hatinya sendiri. Mereka sedang dilatih untuk menguasai pikiran, perasaan dan kemauan sendiri. Tetapi pada waktuNya, para pemenangNya akan menjadi raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek, dan membebaskan ciptaan dari perbudakkan dosa.

Kita lanjutkan kepada kedatangan Tuhan Yesus yang tercatat didalam Wahyu 1:7, demikian, “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin”. Kita tahu bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali untuk menegakkan kerajaanNya di bumi. Ada suatu ungkapan yang akan kita bahas sekarang, yaitu ‘Ia datang dengan awan-awan’.

Untuk memahami ungkapan diatas, kita perlu memiliki pengertian yang benar mengenai kedatangan Tuhan, sebab dalam dunia kekristenan sudah biasa orang menyebut ‘kedatangan Tuhan Yesus kedua kali’. Sesungguhnya, didalam Alkitab, tidak ada ungkapan ‘kedatangan Tuhan kedua kali’. Dibalik ungkapan ‘kedua kali’ ini terdapat pengertian seolah-olah Yesus Kristus akan datang lagi dalam bentuk tubuh seorang laki-laki, sebagaimana kedatangan Yesus yang ‘pertama kali’. 

Baiklah kita melihat dengan cepat enam istilah Yunani terkait kedatangan Tuhan. Keenam istilah Yunani itu adalah, pertama, PAROUSIA. Istilah ini muncul 24 kali dalam PB dan ia berasal dari kata kerja PAREMI, yang berarti ‘to be present’ (hadir). Kata bendanya berarti kehadiran (presence). PAROUSIA tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya seseorang, tetapi menunjukkan kehadiran seseorang yang sudah datang. Penggunaan istilah PAROUSIA didalam PB juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan secara fisik. Jadi, istilah Parousia berarti kehadiran. Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaNya, disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA.

Istilah Yunani kedua, APOKALUPSIS. Istilah ini berasal dari kata kerja APOKALUPTO yang berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya terselubung.

Istilah Yunani ketiga adalah EPIPHANEIA. Istilah ini muncul sebanyak 6 kali dalam PB. Istilah ini berasal dari kata kerja yang berarti ‘membawa kepada terang’ atau ‘tersingkap’. Kata bendanya berarti ‘manifestasi’. Istilah ini digunakan untuk mengungkapkan kemuliaan dan kemegahan yang termanifestasi oleh kedatangan Tuhan.

Istilah Yunani keempat, PHANEROO. Istilah ini berarti membuat nyata atau menjadi nampak. Namun bukan berarti kehadiran yang terlihat mata, tetapi suatu persepsi.  

Istilah Yunani yang kelima adalah ERCHOMAI. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan tindakan actual dari suatu kedatangan. Istilah ini tidak sama artinya dengan PAROUSIA yang berarti kehadiran seseorang yang telah datang. ERCHOMAI digunakan dalam ayat kita diatas, yaitu, Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang (SUATU TINDAKAN DATANG) dengan awan-awan…”.

Istilah Yunani keenam adalah HEKO. Kata ini menekankan kedatangan pada suatu tempat tertentu. Kata ini terdapat dalam Wahyu 2:25, “Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku DATANG”.

Dari keenam istilah Yunani yang diterjemahkan ‘kedatangan’, kita dapat memahami bahwa kedatangan Tuhan tidaklah harus berbentuk kedatangan fisik, sebagaimana tersirat dari ungkapan ‘kedatangan Tuhan kedua kali’. Sesungguhnya, kedatangan Tuhan terjadi pada hari raya Pentakosta (pencurahan Roh Kudus). Sebab, Yesus berjanji kepada murid2Nya, bahwa, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (Yohanes 14:18). Janji Yesus untuk datang kembali ini diucapkanNya kepada murid2 pada malam terakhir. Jika Yesus datang nanti “kedua kali”, maka janjiNya kepada murid2 sudah tidak ditepati, karena semua murid2Nya sudah meninggal. Tetapi, yang benar adalah Yesus datang kembali kepada murid2 dalam pribadi Roh Kudus pada hari raya Pentakosta. Demikianlah janji Yesus untuk datang kembali digenapi.

Selanjutnya, diseluruh Alkitab, istilah ‘awan’ jika berbentuk tunggal, selalu menunjuk kepada ‘awan kemuliaan Tuhan’ atau pribadi Tuhan sendiri. Tetapi jika berbentuk jamak (awan-awan), maka ini menunjuk kepada ‘saksi2 Tuhan’ (orang2 kudus). Karenanya, ungkapan ‘Ia datang dengan awan-awan’ berarti Yesus Kristus akan datang ‘didalam dan melalui’ saksi2Nya. Inilah peristiwa ‘pemuliaan anak2 Elohim’ yang diuraikan dalam Roma 8:19-21.

Kita masih merenungkan Wahyu 1:9, untuk mendapatkan pemahaman mengenai ‘persekutuan’ dengan rasul Yohanes. Wahyu 1:9, menegaskan, “Aku, Yohanes, yang juga saudara dan teman sekutu dalam kesukaran dan dalam kerajaan serta ketabahan YESUS Kristus, berada di pulau yang disebut Patmos berkenaan dengan firman Elohim dan berkenaan dengan kesaksian YESUS Kristus” (ILT).

Telah kita ketahui bahwa kitab Wahyu ditujukan kepada umat yang memiliki ‘persekutuan’ dengan rasul Yohanes. Sebab, ketika ia mengirim surat I Yohanes kepada tujuh gereja yang telah jatuh karena tiga ajaran palsu Izebel, Bileam dan Nikolaus, ia tidak menyapa penerimanya dengan sebutan ‘saudara dan teman sekutunya’. Tetapi, ia justru menulis surat I Yohanes agar siapa yang menerima pemberitaannya dapat beroleh persekutuan dengannya (I Yohanes 1:3).

Mari kita perhatikan tiga hal dari ayat diatas mengenai ‘persekutuan’ dengan rasul Yohanes. Pertama, kita bersekutu dengan rasul Yohanes ‘dalam kesukaran’. Kedua, kita bersekutu dengan rasul Yohanes ‘dalam kerajaan’. Ketiga, kita bersekutu dengan rasul Yohanes dalam ‘ketabahan Yesus Kristus’.

Perlu kita pahami disini bahwa yang dimaksud rasul Yohanes dengan ‘kesukaran’ bukanlah sejenis kesukaran yang dialami oleh semua manusia yang telah jatuh dalam dosa. Tetapi, maksud rasul Yohanes adalah ‘kesukaran dalam kerajaan’ dan juga ‘kesukaran yang hanya dapat ditanggung oleh ‘ketabahan Yesus Kristus’. Artinya, suatu kesukaran yang disebabkan kita sedang diproses untuk ambil bagian didalam kerajaan sorga.

Kita perlu mengalami ‘kesukaran’ untuk mengambil bagian dalam kerajaan sorga. Kisah para Rasul 14:22, demikian, “… seharusnyalah kita masuk kedalam kerajaan Elohim melalui banyak kesukaran’ (ILT). Kesukaran untuk masuk kedalam kerajaan sorga bisa berupa kesukaran dalam rumah tangga, pekerjaan, penyakit, atau kesukaran2 lainnya. Bahkan, jika kita perhatikan Wahyu 1:9 diatas, maka akan ada juga kesukaran karena kita menerima firman tentang kerajaan sorga, suatu kesukaran karena “terkucil” dari dunia kekristenan secara umum.

Tetapi, kita harus jelas bahwa untuk masuk kedalam kerajaan sorga itu GRATIS. Kita tidak membayar harga apapun untuk ambil bagian dalam kerajaan sorga. Penyebab utama dan satu-satunya kita masuk kedalam kerajaan sorga adalah, “…Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu” (Lukas 12:32). Tetapi, Bapa disorga perlu mempersiapkan kita untuk masuk kedalam kerajaan sorga. Persiapan atau proses yang diperlukan untuk masuk kedalam kerajaan sorga adalah SEPENUHNYA TANGGUNG JAWAB BAPA. Ketika Yesus berkata kepada Petrus dan Andreas bahwa ‘Aku akan menjadikan kamu penjala manusia’, maka apakah Petrus dan Andreas akan menjadi ‘penjala manusia’ atau tidak, ADALAH SEPENUHNYA TANGGUNG JAWAB YESUS.

Dengan mengalami kesukaran yang merupakan proses Bapa agar kita dipersiapkan untuk menerima kerajaan sorga, maka kita mengalami suatu  jenis ‘persekutuan’ dengan rasul Yohanes, bahkan suatu ‘persekutuan’ dengan umat pilihanNya sepanjang ‘zaman gereja’. Inilah sesungguhnya suatu ‘persekutuan’ dengan umat yang dipanggil dan yang juga dipilih,  yaitu, umat pemenang karena dipanggil, dipilih, dan setia (Wahyu 17:14). Persekutuan dengan rasul Yohanes bukanlah persekutuan dengan gereja yang sudah jatuh karena ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus (Wahyu 2-3).

Kita masih berbicara mengenai perihal ‘persekutuan’. Perlu kita tegaskan lagi bahwa rasul Yohanes menulis kitab Wahyu kepada ‘teman sekutunya’, dan bukan seperti dalam suratnya ketika ia menulis kepada tujuh gereja di Asia kecil, dimana ia bertujuan agar ada persekutuan dengannya (I Yohanes 1:3). 

Kitab Wahyu adalah tulisan rasul Yohanes mengenai apa yang ia lihat (Wahyu 1:19). Sewajarnya, jika kita bersekutu dengan seorang teman, maka apa yang kita “lihat” juga tidak berbeda dari yang dilihatnya. Jika seseorang, ketika ia membaca kitab Wahyu, dan ia melihat ‘anti Kristus’, ‘malapetaka2’, ‘iblis’, ‘tanda 666’, ‘lautan api’ dalam arti neraka kekal, dan perkara2 “mengerikan” lainnya, maka tentu “persekutuannya” dengan rasul Yohanes bermasalah. Memang dalam kitab Wahyu ada tertulis mengenai anti Kristus, 666, iblis, lautan api, malapetaka2, tetapi semua itu muncul kepermukaan karena Yesus Kristus mewahyukan DiriNya kepada rasul Yohanes. Rasul Yohanes melihat Yesus Kristus, kerajaanNya, dan tentu gerejaNya termasuk para pemenangNya.

Saat ini kita akan membahas apa yang dilihat rasul Yohanes dalam Wahyu 1:20, demikian tertulis, “Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tanganKu dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat”. Pertama, rasul Yohanes melihat ketujuh bintang, dimana ketujuh bintang ini adalah malaikat ketujuh jemaat. Pengertian ‘malaikat’ disini tidak harus berarti makhluk sorgawi yang bersayap. Paulus berkata bahwa jemaat Galatia menyambutnya seperti menyambut malaikat Elohim (Galatia 4:14). Istilah ‘malaikat’ itu berarti ‘utusan’, dan seringkali yang dimaksud adalah manusia. Jadi, tujuh bintang itu adalah tujuh utusan jemaat (orang). Selanjutnya, Yesus menyebut DiriNya ‘bintang timur’, dan juga kepada para pemenangNya, Yesus akan mengaruniakan ‘bintang timur’. Karenanya, bintang merupakan simbol dari putera2 Elohim. Ketujuh bintang itu merupakan simbol dari ketujuh putera2 Elohim.

Kedua, rasul Yohanes melihat tujuh kaki dian emas yang adalah tujuh gereja. Tetapi, kita jangan cepat2 menafsirkan bahwa tujuh gereja itu adalah tujuh gereja di Asia Kecil, yang kepada mereka Yohanes mengirim kitab Wahyu ini. Untuk menjelaskan hal ini, mari kita perhatikan Wahyu 1:13, demikian, “Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia…”. Teks asli disini tidak dapat diterjemahkan ‘like to the son of man’, seolah-olah hanya menunjuk kepada Yesus Kristus. Tetapi, harus diterjemahkan, ‘like to a son of man’ (seperti wujud seorang manusia), yang artinya, menunjuk kepada Yesus Kristus (Kristus Kepala), dan putera2 Elohim (Kristus Tubuh). Jadi, ditengah-tengah kaki dian (gereja) ada Tuhan Yesus dan putera2 Elohim.

Baiklah kita bandingkan fakta diatas dengan Wahyu 3:20, dimana Yesus berada diluar pintu gereja di Laodikia (gereja di Asia Kecil). Yesus dan putera2 Elohim berada ditengah-tengah gereja sejati, tetapi Yesus berada diluar pintu gereja yang telah merosot di Asia Kecil. Jadi, tujuh kaki dian emas yang dilihat oleh rasul Yohanes adalah gereja sejati, dan gereja sejati ini bukan tujuh gereja di Asia Kecil. Itu sebabnya, pada tiap tujuh gereja di Asia Kecil selalu ada panggilan bagi para pemenangNya, sebab tujuh gereja di Asia Kecil telah merosot. Dari kenyataan ini, kita dapat memahami bahwa ‘yang dilihat oleh rasul Yohanes adalah Yesus dan para pemenangNya, dimana mereka berada ditengah-tengah gereja sejati’.

Dalam dunia kekristenan, sudah umum orang Kristen menyebut gereja itu denominasi. Ini membuktikan dunia kekristenan tidak melihat gereja sejati itu. Nampaknya, dunia kekristenan bermasalah dalam “persekutuannya” dengan rasul Yohanes. Oleh kasih karuniaNya, kita beroleh persekutuan dengan rasul Yohanes, dan dapat melihat sebagaimana ia melihat.

Telah kita bahas penglihatan rasul Yohanes dalam Wahyu 1:20, dimana kaki dian emas itu adalah gereja sejati, dan tujuh bintang itu adalah para pemenangNya, yang merupakan utusan jemaat. Kita akan masuk kedalam pembahasan mengenai ketujuh gereja di Asia kecil ini, tetapi karena tema kita tentang ‘kerajaan sorga’, maka kita harus menegaskan perbedaan ‘umat kerajaan sorga’ dan para anggota gereja, khususnya, gereja di Asia kecil yang telah merosot ini.

Didalam Wahyu 1:9, yang telah kita bahas, dinyatakan bahwa rasul Yohanes menulis suratnya sebagai ‘teman sekutu’. Jelas bahwa ‘teman sekutu’ rasul Yohanes bukanlah semua anggota gereja2 di Asia Kecil yang telah merosot. Surat I Yohanes merupakan ‘surat umum’ kepada gereja2 di Asia Kecil, dengan tujuan agar ada persekutuan bagi mereka yang menerima pemberitaannya (I Yohanes 1:3). Dan, persekutuan dengan rasul Yohanes adalah ‘persekutuan dalam kerajaan’ (Wahyu 1:9). Jadi, hanya orang2 yang ada dalam persekutuan dengan rasul Yohaneslah yang kita sebut ‘umat kerajaan’. Sekali lagi, kita tidak dapat menyebut semua anggota gereja di Asia kecil adalah ‘umat kerajaan’, karena ‘umat kerajaan’ adalah anggota2 gereja yang memiliki persekutuan dengan rasul Yohanes.

Diharapkan perkara ini semakin jelas sementara kita membahas gereja di Asia Kecil satu persatu. Sesungguhnya, firman Tuhan bagi tujuh gereja di Asia Kecil ditujukan kepada utusan jemaat, yang disimbolkan sebagai tujuh bintang. Kemudian, para utusan jemaat ini menyampaikan firman Tuhan kepada jemaat, dan barangsiapa bertelinga tentu akan mendengarkan firman Tuhan. Jadi, kita harus jelas bahwa tidak semua anggota gereja akan mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan para utusan jemaat ini. Mereka yang mendapat kasih karunia untuk mendengar, merekalah yang menerima firman yang disampaikan para utusan jemaat, dan disebut para pemenang.

Barangkali akan menjadi lebih jelas jika kita langsung menerapkan perkara ini kedalam dunia kekristenan. Kita tahu bahwa dunia kekristenan bukanlah gereja sejati, karena gereja sejati yang dilahirkan pada hari Pentakosta telah pecah menjadi puluhan ribu denominasi, yang menjadi dunia kekristenan seperti yang kita kenal sekarang. Dalam dunia kekristenan terdapat banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Kepada sedikit orang yang dipilih inilah Bapa di sorga berkenan memberikan kerajaan sorga itu (Lukas 12:32). Orang2 yang mendapat kasih karunia untuk dipilih ini disebut dalam injil Lukas sebagai ‘kawanan kecil’, sebagai lawan dari ‘kawanan besar’ dalam dunia kekristenan. Sesungguhnya, ‘kawanan kecil’ inilah yang kita sebut diatas sebagai ‘umat kerajaan’.

Kita jangan langsung menilai bahwa ‘kawanan kecil’ adalah orang2 terkenal atau “yang dipakai Tuhan luar biasa” dalam dunia kekristenan. Kita akan memahami hal ini lebih jelas setelah kita membahas satu persatu dari tujuh gereja di Asia Kecil ini, dan juga membahas hal-hal yang menyebabkan jemaat2 ini merosot. Barangkali, ‘kawanan kecil’ ini adalah orang2 sederhana saja, tetapi mereka mendapat kasih karunia untuk mendengarkan firman yang disampaikan para utusan jemaat. Semuanya memang semata-mata karena kasih karuniaNya. Tidak ada seorangpun yang dapat bermegah karena alasan apapun.

Sebelum kita membahas tujuh gereja di Asia Kecil ini, kita perlu melihat dengan jelas ‘kondisi’ tujuh gereja ini. Gereja2 yang dikirimi surat oleh rasul Yohanes sangat berbeda ‘kondisinya’ dibanding dengan gereja2 yang dikirimi surat oleh rasul Paulus maupun oleh rasul Petrus. Untuk melihat perbedaan ‘kondisi’ gereja2 ini, kita akan menggunakan satu prinsip dalam memahami semua tulisan2 dalam PB, yaitu prinsip ‘Trilogi’.

Prinsip Trilogi ini tertulis dalam Amsal 22:20-21, demikian, “Bukankah aku telah menuliskannya kepadamu TIGA KALI dengan nasihat dan pengetahuan? Untuk membuat engkau mengetahui kebenaran…” (ILT). Prinsip ‘berbicara tiga kali’ adalah prinsip Tuhan dalam berbicara agar kita mengenal kebenaran. Sesungguhnya, semua tulisan dalam PB adalah cara Tuhan berbicara ‘tiga kali’ kepada kita melalui ketiga hambaNya, yaitu Petrus, Paulus dan Yohanes. Semua kitab dalam PB dapat dikelompokkan kedalam tiga bagian, yaitu kelompok Petrus, Paulus dan Yohanes. Kita tidak membahas hal ini lebih jauh, karena telah ada tulisan kita mengenai hal ini.

Yang perlu ditegaskan sekarang adalah gereja2 yang dikirimi surat oleh Petrus dan Paulus ADALAH GEREJA-GEREJA SEJATI. Gereja sejati disini bukan berarti gereja2 ini tidak mempunyai masalah, ataupun kekeliruan teologi. Tetapi, gereja2 ini kita sebut sejati karena mereka MEMILIKI PERSEKUTUAN DENGAN PETRUS DAN PAULUS. Tetapi, tujuh gereja di Asia Kecil TIDAK MEMILIKI PERSEKUTUAN DENGAN RASUL YOHANES. Justru, rasul Yohanes menulis surat umum kepada tujuh gereja ini agar ada persekutuan dengannya (I Yohanes 1:3).

Mengapa tujuh gereja di Asia Kecil tidak memiliki persekutuan dengan rasul Yohanes? Semua ini dimulai dengan adanya ‘serangan serigala ganas’, seperti yang telah dikatakan Paulus (Kis. 20:29-30). Serigala ganas ini menyerang para pemimpin gereja sehingga dengan ajaran palsu, para pemimpin ini menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri. Inilah yang menyebabkan gereja sejati pecah menjadi puluhan ribu denominasi seperti saat ini. Bahkan, diakhir hidupnya Paulus sendiri sudah ditinggalkan oleh semua mereka yang di Asia Kecil (II Timotius 1:15). Ketika Petrus dan Paulus telah mati martir, dan rasul Yohanes mulai melayani tujuh gereja di Asia Kecil, ‘perilaku’ para pemimpin yang menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri ini telah dibenarkan dan menjadi suatu ‘ajaran’, yaitu ajaran palsu Nikolaus, Bileam, dan Izebel, seperti yang akan kita lihat nanti. Jadi, karena serangan serigala ganas terhadap para pemimpin gereja inilah yang menjadi sebab rasul Yohanes tidak memiliki persekutuan dengan gereja2 di Asia kecil. Terdapat “Diotrefes-Diotrefes” dalam gereja yang merosot, yang terang-terangan menolak seorang rasul.

Dengan memahami ‘kondisi’ sesungguhnya tujuh gereja di Asia kecil, maka kita siap untuk mengenal kebenaran gereja sejati, kebenaran kerajaan sorga, dan pribadi Yesus Kristus sendiri yang adalah kebenaran. Jika seseorang tidak melihat ‘kondisi’ sebenarnya dari tujuh gereja di Asia Kecil, maka ia tidak siap untuk memahami kebenaran. Jika seseorang tidak melihat ‘kondisi’ sebenarnya dunia kekristenan, maka ia juga tidak siap untuk memahami kebenaran kerajaan sorga, seperti diwahyukan kepada rasul Yohanes.

Telah kita tegaskan bahwa gereja2 yang dikirimi surat oleh Petrus dan Paulus adalah gereja2 sejati. Gereja sejati dalam pengertian tetap ada ‘persekutuan’ dengan para rasul, sekalipun tentu ada masalah dan kekeliruan teologi disana-sini. Tetapi, tujuh gereja di Asia kecil, bukan lagi gereja sejati karena tidak ada ‘persekutuan’ (koinonia) dengan rasul Yohanes, dan bahkan beberapa pemimpinnya menolak rasul Yohanes.

Mari kita mulai dengan gereja pertama yang disebut dalam Wahyu 2-3, yaitu gereja di Efesus. Tentu kita tidak membahas semua poin yang dikatakan kepada gereja di Efesus, tetapi beberapa saja yang terkait dengan pengertian ‘kerajaan sorga’ yang dinyatakan dalam kitab Wahyu. Poin penting disini terdapat dalam Wahyu 2:6, sebagai berikut, “Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci”.

Karena kitab Wahyu menggunakan bahasa simbol, maka ‘Nikolaus’ yang berasal dari bahasa Yunani ‘Nicolait’ mempunyai arti ‘menaklukkan kaum awam’ (Nikao=menaklukkan, dan Laos=kaum awam). Jadi, ‘Nikolaus’ adalah perbuatan para pemimpin yang menaklukkan anggota gereja, sehingga gereja terbelah menjadi dua golongan, yaitu golongan ‘para penakluk’, dan golongan ‘orang2 yang ditaklukkan’. Pembelahan gereja menjadi dua golongan ini kemudian berlanjut, dan dalam gereja Katolik, ‘para penakluk’ disebut golongan Imam, dan ‘orang2 yang ditaklukkan’ adalah golongan Umat. Dalam gereja2 Protestan, dua golongan ini biasa disebut golongan para ‘Pendeta’, dan golongan ‘jemaat’.

Didalam gereja di Efesus, ‘Nikolaus’ ini baru sebagai ‘praktek’ yang dilakukan beberapa pemimpin, tetapi kemudian berkembang menjadi ‘ajaran/doktrin’ (Yun, ‘didache’) dalam gereja di Pergamus (Wahyu 2:15). Menarik untuk diperhatikan disini bahwa istilah ‘Pergamus’ atau Yunani ‘Pergamos’, berarti ‘perkawinan’ atau ‘union’. Didalam gereja yang telah “kawin” dengan dunia, ‘Nikolaus’ telah menjadi suatu ajaran. Bagi orang yang mempelajari sejarah gereja, maka jelas bahwa gereja telah ‘kawin’ dengan ‘dunia’, dimana pada waktu itu Kaisar Roma Constantine menerima kekristenan sehingga menjadi ‘agama negara’. Dunia tidak lagi menganiaya gereja, tetapi telah “kawin” dan menyatu. Memang gereja menjadi “besar”, tetapi Tuhan membenci ajaran maupun para pengikut ‘Nikolaus’ ini.  

Jadi, didalam “gereja dunia”, Nikolaus ini telah menjadi suatu ajaran dan diterima secara umum. Sesungguhnya, kerusakan yang ditimbulkan ajaran ‘Nikolaus’ ini adalah keimaman semua orang percaya (I Petrus 2:9), dan pada akhirnya juga ‘otoritas gereja’ (Matius 23:1-8). Didalam “gereja dunia” para penakluk kaum awam ini mengajarkan ajaran2 mengenai kepemimpinan, yang pada dasarnya memasukkan ‘hierarki’ dan ‘sistem pemerintahan manusia’. Otoritas gereja tidak lagi otoritas Hayat, karena gereja adalah organisme, tetapi dalam ‘gereja dunia’ otoritas gereja berada didalam tangan para pemimpin.

Tetapi, ‘umat kerajaan’ tidak mengambil bagian dalam ajaran ‘Nikolaus’. Semua anggota umat kerajaan, yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan itu, dibentuk menjadi ‘raja2 dan imam2’ (Wahyu 1:6). Umat kerajaan tidak menaklukkan, dan juga tidak ditaklukkan oleh para pemimpin.

Kita masuk kedalam gereja kedua, yaitu gereja di Smirna. Mari kita perhatikan kondisi gereja di Smirna, demikian, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu – namun engkau kaya – dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis” (Wahyu 2:9). Istilah ‘Smirna’ dalam bahasa Yunani berarti ‘mur’, dan ‘mur’ merupakan simbol dari ‘penderitaan’. Jadi gereja di Smirna adalah gereja yang mengalami penderitaan.

Ada dua penyebab gereja di Smirna menderita. Pertama, penderitaan oleh kekaisaran Roma pada waktu itu. Tetapi, sekalipun gereja di Smirna ini teraniaya dan menjadi miskin secara harta benda, namun Tuhan berkata bahwa mereka kaya secara rohani. Kedua, mereka menderita karena mengalami ‘fitnah’ (Yun: ‘blasphemia’=hujatan, perkataan jahat) yang berasal dari orang2 yang mengaku Yahudi, tetapi bukan. Kita harus paham bahwa yang dimaksud orang2 Yahudi disini adalah mereka yang ada didalam gereja di Smirna. Jadi, penderitaan gereja di Smirna berasal dari luar (kekaisaran Roma), dan juga dari dalam (orang2 yang mengaku Yahudi).

Kita akan membahas penderitaan yang berasal dari dalam gereja, karena penderitaan atau tantangan dari luar biasanya lebih mudah dihadapi. Untuk memahami tantangan dari dalam, kita perlu mengetahui perbedaan ibadah Yudaisme dan ibadah gereja sejati. Ada 4 hal yang menjadi fokus Ibadah Yudaisme, yaitu, Bait Suci, Hukum Taurat, sistem keimaman, dan janji2 Yahweh. Bangsa Yahudi harus beribadah di Bait Suci Yerusalem, mentaati Hukum yang tertulis “di loh batu”, mentaati keimaman menurut aturan Harun, dan mendapat janji2 seperti tanah Palestina, dan berkat2 jasmani lainnya. Jika kita perhatikan dengan baik, maka inti dari ibadah Yudaisme itu bersifat “lahiriah”, dengan berkat2nya yang bersifat jasmani.

Tetapi, ibadah gereja sejati itu bersifat rohani. Yesus berkata kepada perempuan Samaria demikian, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran…” (Yohanes 4:23). Ibadah ‘dalam roh’ artinya ibadah yang mengikuti ‘pimpinan Roh Kudus’ dalam batin. Dan ibadah ‘dalam kebenaran’ (Yun: ‘aletheia’=truth atau reality), artinya, ibadah dalam realita, bukan ibadah dalam “simbol” atau “bentuk luaran” seperti Yudaisme. Ibadah Yudaisme memang merupakan ibadah “simbol” atau “bentuk luaran”, tetapi ketika Yesus datang menggenapi Hukum Taurat, maka ibadah gereja sejati haruslah ibadah “esensi” atau ibadah “batiniah”.

Mari kita langsung menerapkan pemahaman dalam ibadah ini kedalam dunia kekristenan. Apakah dunia kekristenan beribadah dalam roh dan kebenaran? Kita dapat menjawab ini dengan mudah. Perhatikan saja sistem keimaman dalam dunia kekristenan. Oleh ajaran ‘Nikolaus’ yang sudah kita bahas, maka jelaslah bahwa sistem keimaman dalam dunia kekristenan tidak menuruti aturan Harun (Yudaisme), maupun aturan Melkisedek (gereja sejati). Jika, sistem keimamannya sudah campur aduk, maka dengan mudah setiap pemimpin agama dalam tiap denominasi membuat aturan2 “tertulis” masing-masing. Harus datang ke gedung ini atau itu, harus membayar persepuluhan, buah sulung dan ini-itu. Harus…Harus …dan Harus… Ibadah dalam dunia kekristenan menjadi sangat “jasmani” seperti Yudaisme.

Tetapi, ibadah umat kerajaan adalah, “…mengikuti Anak Domba itu kemana saja Ia pergi…” (Wahyu 14:4). Umat kerajaan dapat mengikuti Yesus kemana saja Ia pergi, karena ada pengurapan dalam batin yang memampukannya untuk mendengar suara Yesus (I Yohanes 2:20,26; Yohanes 10:27).

Kita masuk kepada gereja ketiga, yaitu gereja di Pergamus (Wahyu 2:12-17).  Telah kita bahas bahwa istilah ‘Pergamus’ atau Yunani ‘Pergamos’, berarti ‘perkawinan’ atau ‘union’. Disini kita lihat bahwa didalam gereja yang telah “kawin” dengan dunia, bukan saja ‘Nikolaus’ telah menjadi suatu ajaran, tetapi juga ‘Bileam’. Ajaran ‘Bileam’ adalah suatu ajaran yang membenarkan praktek ‘menggunakan karunia2 Tuhan untuk mendapat upah’. Dalam II Petrus 2:15, ditegaskan suatu ‘jalan Bileam’ yang suka menerima upah untuk perbuatan2 yang jahat. Surat Yudas juga menegaskan, “…oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam…” (ayat 11).

Karena kitab Wahyu adalah kitab nubuat, maka kita tahu bahwa penggenapan tipe ‘gereja di Pergamus’ ini terjadi ketika kaisar Roma, Konstantin, menerima kekristenan sebagai negara agama. Pada zaman itu, setiap orang yang melayani Tuhan akan mendapat upah dari perbendaharaan negara. Praktek melayani Tuhan dan mendapat upah seperti ini tidak dikenal pada zaman gereja mula2, yaitu ketika gereja sejati belum jatuh dan merosot seperti gereja2 di Asia kecil.

Tetapi, ‘Bileam’ ini telah menjadi suatu ajaran, artinya, sudah diterima secara luas dan dipandang benar pada zaman gereja di Pergamus. Tentu saja ada ayat2 dalam PB yang berbicara bahwa ‘seorang pekerja patut mendapat upahnya’ atau seperti yang Paulus katakan agar ‘jangan memberangus mulut lembu yang sedang mengirik’. Jika seseorang sudah menjadi penganut ‘ajaran Bileam’ tentu akan banyak ayat2 dan bukti2 yang mereka temukan bahwa Alkitab untuk mendukung ‘ajaran Bileam’. Tetapi, jika seseorang mendapat kasih karunia dihadapanNya, maka ia akan dapat melihat dengan jelas perbedaan antara gereja mula2 dimana tidak ada ajaran ‘Bileam’, dan gereja2 yang sudah menerima ajaran ‘Bileam’. Jadi, persoalannya disini adalah apakah kita mendapat kasih karunia dihadapanNya untuk melihat atau tidak.

Mari kita perhatikan dunia kekristenan saat ini. Apakah ‘ajaran Bileam’ sudah diterima secara luas didalam dunia kekristenan? Sekali lagi, ini adalah persoalan apakah seseorang itu “melihat” atau tidak. Karena ketika Yesus belum datang ke Bait Suci Yudaisme, semua ‘pelayanan’ imam2, orang2 Farisi dan ahli Taurat, tidak menjadi masalah atau tidak ada seorangpun yang mempermasalahkannya. Tetapi, karena Yesus “melihat” bahwa terjadi perdagangan dalam Bait Suci, dan para pemimpin Yudaisme mencari untung dari pelayanannya, maka mulailah terjadi “keributan”. Jika Yesus “datang kedua kali” kedalam dunia kekristenan, maka tentu akan terjadi juga “keributan”.

Mari kita perhatikan seorang saksi yang setia di gereja Pergamus, yaitu Antipas (ayat 13). Didalam sejarah gereja, tidak didapati seorang pemimpin bernama ‘Antipas’. Karena kitab Wahyu menggunakan bahasa simbol, maka pengertian ‘Antipas’ dalam bahasa Yunani adalah ‘Anti’=berlawanan, dan ‘Pas’= semua. Artinya, saksi yang setia ini ‘berlawanan dengan semua’. Saksi yang setia ini berlawanan dengan gereja di Pergamus bukan karena ia mencari-cari masalah. Saksi yang setia ini berlawanan dengan gereja di Pergamus, karena ia berpegang kepada nama Tuhan dan tidak menyangkal imannya.

Demikian juga saat ini, umat kerajaan ‘berlawanan’ dengan dunia kekristenan, bukan karena mencari-cari masalah, tetapi karena tidak mau ambil bagian dalam ajaran Bileam dan Nikolaus yang sudah diterima secara luas.

Kita masuk kepada gereja di Tiatira (Wahyu 2:18-29). Perlu kita tegaskan disini bahwa kitab Wahyu adalah kitab nubuat, dan karenanya, ketujuh gereja di Asia Kecil menggambarkan gereja2 yang akan muncul dalam duna kekristenan didalam sepanjang sejarahnya. Jika kita perhatikan ketiga gereja pertama, yaitu, gereja di Efesus, Smirna, dan Pergamus, tidak ada janji Tuhan mengenai kedatanganNya. Tetapi, untuk keempat gereja selanjutnya, kita menemukan janji Tuhan mengenai kedatanganNya. Untuk gereja di Tiatira (Wahyu 2:25), gereja di Sardis (Wahyu 3:3), gereja di Filadelfia (Wahyu 3:11), dan gereja di Laodikia sebagai tipe gereja terakhir, tentu akan ada sampai kedatangan Tuhan.

Jadi, penggenapan atau tipe gereja di Efesus, Smirna, dan Pergamus telah digenapi dalam sejarah kekristenan, dan tidak muncul lagi karena tidak mendapat janji Tuhan mengenai kedatanganNya. Tetapi, keempat gereja selanjutnya, yaitu tipe gereja di Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia, akan tetap ada sampai kedatangan Tuhan. Banyak orang Kristen percaya bahwa keempat gereja terakhir juga sudah digenapi dalam dunia kekristenan. Karenanya, jika kita perhatikan dunia kekristenan saat ini, maka kita akan melihat beberapa ciri/karakteristik dari keempat gereja terakhir ini. Dengan menyatakan bahwa tipe gereja di Efesus, Smirna, dan Pergamus telah digenapi dan tidak muncul lagi dalam sejarah kekristenan, hal ini tidak berarti bahwa ajaran palsu seperti Nikolaus dan Bileam, tidak ada lagi dalam dunia kekristenan. Kita melihat bahwa ketiga ajaran palsu Nikolaus, Bileam, dan Izebel ini sangat mewarnai dunia kekristenan sekarang.

Mari kita membahas ajaran Izebel yang terdapat dalam gereja di Tiatira. Wahyu 2:20, menegaskan, “Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hambaKu supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala”. Istilah ‘Izebel’ disini tentu simbol sesuai dengan sifat dasar kitab Wahyu, dan untuk memahami makna dari simbol ‘Izebel’, kita perlu melihat sejarah dari Izebel ini.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan tentang Izebel ini dalam sejarah Israel. Pertama, Izebel ini isteri raja Ahab yang menyembah Baal, dan dalam kasus kebun anggur Nabot, ia merampas otoritas suaminya (I Raja-Raja 21:7-8). Jadi, “Izebel” didalam gereja adalah para pemimpin yang merampas otoritas Yesus (otoritas Hayat) dengan cara memasukkan hierarki (sistem pemerintahan manusia) kedalam gereja. Kedua, Izebel adalah seorang yang mempunyai kekuatan kemauan (‘strong will’) sehingga ia mampu ‘membujuk’ bukan saja bangsa Israel, tetapi suaminya juga untuk menyembah Baal (I Raja-Raja 21:25). Jadi, “Izebel” dalam gereja adalah para pemimpin yang mempunyai ‘daya tarik atau karisma’ sehingga dapat menarik murid2 Tuhan untuk mengikuti keinginannya. Ketiga, Izebel mampu melenyapkan nabi-nabi Tuhan, dan memelihara nabi-nabi palsu karena ia memberi makan dari meja istananya (I Raja-Raja 18:4,19). Jadi, “Izebel” dalam gereja adalah para pemimpin yang “membungkam” suara nabi2 sejati, dan memberi jalan/upah kepada nabi2 palsu untuk bersuara/mengajar.  

Banyak orang percaya bahwa karakteristik gereja di Tiatira ini sangat menyolok dalam gereja Katolik. Kekayaan yang dimiliki gereja Katolik dan otoritas Paus sangat jelas terungkap dalam simbol ‘Izebel’. Tetapi, kita jangan menganggap ‘Izebel” tidak ada dalam denominasi2 lainnya, karena setiap denominasi tentu memiliki “Izebelnya”.

Dalam kondisi gereja yang sedemikian, Tuhan mempunyai umat kerajaan yang digambarkan oleh komunitas “Elia” dan 7000 orang pilihanNya.

Saat ini kita akan membahas tipe gereja di Sardis (Wahyu 3:1-6). Mari kita perhatikan perkataan Roh kepada gereja ini, demikian, “…Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati… Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah…” (3:1-3). Untuk memahami perkataan Roh kepada gereja di Sardis ini, kita perlu melihat kembali kepada gereja di Tiatira yang mendahuluinya.

Telah kita tegaskan bahwa karakteristik gereja di Tiatira ini telah tergenapi didalam gereja Katolik, dan para ahli sejarah gereja umumnya menyebut zaman gereja Katolik itu sebagai zaman ‘kegelapan gereja’. Zaman kegelapan gereja ini berlangsung kurang lebih 1000 tahun lamanya dimulai dari abad 6 sampai kedatangan Martin Luther tahun 1517. Kemudian, setelah zaman gereja di Tiatira ini, Tuhan bangkitkan tipe gereja di Sardis yang kita sebut gereja2 Protestan sebagai respon terhadap zaman kegelapan gereja.

Semua kita mengakui bahwa Martin Luther adalah seorang yang dipakai Tuhan dan bahwa reformasi itu berasal dari Tuhan. Ada beberapa kebenaran pokok yang dipulihkan pada waktu itu, yaitu sola fide, sola gratia, dan sola scriptura (hanya karena iman, hanya karena kasih karunia, dan hanya Alkitab). Tidak dapat disangkal bahwa reformasi oleh Martin Luther ini menyebabkan ribuan orang kembali kepada iman semula dan Alkitab mulai terbuka dan dipelajari kembali. Tetapi setelah sejangka waktu, nampaknya, gerakan reformasi ini ditunggangi oleh kepentingan2 politik. Beberapa negara ingin melepaskan diri dari kekuasaan Roma. Bahkan dibeberapa negara seperti Inggris, jerman, dan lainnya, gereja menjadi satu dengan negara.

Tetapi Tuhan terus me-reformasi gerejanya sehingga timbul gerakan2 lain setelah Martin Luther, seperti Baptis, Presbiterian, Holiness, dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa tipe gereja di Sardis ini diwarnai oleh kebangunan rohani demi kebangunan rohani. Tetapi karena kepentingan2 manusia, kebangunan rohani yang awalnya murni berasal dari Tuhan ini, kemudian merosot, dan bahkan menentang kegerakan Tuhan selanjutnya. Demikianlah sejarah kebangunan rohani selalu mempunyai pola yang sama. Pertama, lawatan Tuhan yang menghasilkan spontanitas dan persaudaraan yang sejati. Kemudian, kepentingan manusia menyusup kedalam, maka timbul apa yang disebut ‘proses melembaga’, dimana lembaga ini akan menolak gerakan Tuhan selanjutnya.

Kita ambil satu contoh kebangunan rohani yang masih termasuk kedalam tipe gereja di Sardis, yaitu kebangunan rohani di Amerika tahun 1901, yang dikenal sebagai gerakan Pentakosta. Kita akan mengutip gerakan Pentakosta ini dari buku ‘Pentecostalism’, 1966, oleh John T. Nichol pada halaman 85, sebagai berikut: “Saudara Seymour diakui sebagai pemimpin nominal. Tetapi kami tidak mempunyai Paus atau hierarki. Kami adalah saudara. Kami tidak mempunyai program manusia. Tuhan sendiri yang memimpin. Kami tidak mempunyai golongan imam, juga tidak ada jabatan imam. Semua perkara-perkara ini datang kemudian, dengan adanya penyimpangan dari gerakan (Pentakosta)….Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan datang, apa yang Tuhan akan kerjakan, semuanya serba spontan, diatur oleh Roh…Kami tidak harus mendapat petunjuk/isyarat-isyarat dari para pemimpin … Pertemuan-pertemuan dikontrol oleh Roh, dari Takhta” (akhir kutipan).

Dengan memperhatikan pola kebangunan rohani gereja di Sardis, maka kita dapat memahami mengapa Roh Kudus berkata, “engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati”. Pada awalnya ada kehidupan karena lawatan Tuhan, kemudian karena kepentingan manusia, maka kematianpun tejadi.

Tetapi umat kerajaan didalam tipe gereja di Sardis dinyatakan sebagai berikut, “Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih karena mereka adalah layak untuk itu” (Wahyu 3:4).

Kita lanjutkan terus pembahasan kita mengenai ‘kerajaan sorga’ dan saat ini kita masuk kedalam gereja di Filadelfia (Wahyu 3:7-13). Telah kita bahas bahwa tipe gereja di Sardis adalah tipe ‘kebangunan rohani demi kebangunan rohani’, yang dimulai dari gerakan Martin Luther dan selanjutnya. Didalam Gereja di Filadelfia juga terjadi reformasi dan kebangunan rohani, tetapi tipe kebangunan rohani dalam gereja di Filadelfia tidak sama dengan gereja di Sardis. Dari ketujuh gereja di Asia Kecil ini hanya gereja di Filadelfia dan gereja di Smirna yang tidak ditegor oleh Roh Kudus.

Namun, sekalipun tidak ada tegoran Roh untuk gereja di Smirna dan Filadelfia, Tuhan tetap memanggil para pemenangNya didalam kedua gereja ini. Panggilan bagi para pemenangNya ini jelas membuktikan bahwa gereja di Smirna maupun gereja di Filadelfia masuk dalam kategori ‘gereja yang sudah jatuh’. Kita harus jelas memahami bahwa ketujuh gereja di Asia Kecil pada zaman rasul Yohanes tidak dapat disamakan dengan gereja2 pada zaman rasul Petrus dan Paulus. Tidak ada panggilan bagi para pemenang kepada gereja2 dizaman Petrus dan Paulus seperti yang kita lihat pada ketujuh gereja di Asia Kecil ini.

Mari kita perhatikan makna istilah ‘Filadelfia’ ini. Istilah ‘Filadelfia’ dalam bahasa Yunani terdiri dari dua kata dimana kata pertama berarti ‘kasih’, dan kata kedua berarti ‘saudara’. Jadi, pengertian ‘Filadelfia’ adalah ‘kasih persaudaraan’. Apa makna ‘kasih persaudaraan’ ini? Telah kita bahas karakteristik gereja di Tiatira yaitu ‘hierarki’ dalam arti otoritas manusiawi, dimana karakteristik ini tergenapi dalam gereja Katolik. Sementara karakteristik gereja di Sardis ada ‘kebangunan rohani’ yang pada akhirnya menjadi merosot karena kepentingan2 manusiawi. Dan kita tahu bahwa karakteristik seperti ini tergenapi dalam gereja2 Protestan. Tetapi, karakteristik gereja di Filadelfia adalah ‘kasih persaudaraan’ dimana semua anggota gereja adalah saudara, dan ini menggenapi perkataan Tuhan Yesus kepada gerejaNya, yaitu ‘kamu semua adalah saudara’ (Matius 23:8). Makna dari ‘kamu semua adalah saudara’, yaitu tidak ada ‘hierarki’ dalam gereja, dan karenanya, tidak ada ajaran ‘Nikolaus’.

Baik gereja Katolik, maupun gereja2 Protestan membelah anggotanya menjadi dua bagian, yaitu golongan para Imam, dan golongan para pendeta. Tetapi, didalam tipe gereja di Filadelfia tidak ada pembelahan sedemikian, karena semua anggota gereja adalah saudara. Didalam sejarah kekristenan, hal ini tergenapi ketika pada tahun 1825, di Dublin (ibu kota Irlandia) beberapa saudara berkumpul diatas kebenaran ‘kasih persaudaraan’. Gerakan ini kemudian dikenal sebagai ‘The Brethren” dimana tokoh utamanya adalah John Nelson Darby. Kemudian pada tahun 1926, di China, terjadi juga gerakan ‘kasih persaudaraan’ atau biasa disebut ‘The Little Flock’ dimana tokoh utamanya adalah Watchman Nee. Didalam kedua gerakan ini tidak ada jabatan atau gelar2 agamawi apapun juga.

Kalau kita perhatikan mengapa gereja di Filadelfia tidak menerima tegoran Roh, sekalipun juga termasuk gereja yang jatuh, maka dapatlah kita pahami penyebab utamanya yaitu gereja di Filadelfia tidak menjalankan atau mengajarkan ajaran Nikolaus yang Tuhan Yesus benci (Wahyu 2:6). Umat kerajaan tentu tidak mempraktekkan ‘perilaku Nikolaus’, apalagi mengajarkan ‘ajaran Nikolaus’ ini. Umat kerajaan adalah orang2 sederhana dalam dunia kekristenan yang telah menanggalkan semua jabatan, atau gelar2 agamawi apapun.

Kita sampai kepada gereja terakhir, yaitu gereja di Laodikia (Wahyu 3:14-22). Mari kita lihat beberapa karakteristik gereja di Laodikia ini. Pertama, suam-suam kuku (ayat 16). Suam-suam kuku ini berarti tidak panas, juga tidak dingin. Gereja ini tetap menjalankan pekerjaan pelayanannya, tetapi jika mereka tidak bertobat, Tuhan akan memuntahkannya (ayat 15). Kedua, kesombongan. Ayat 17, menegaskan, “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang”. Disini Tuhan memberikan solusinya, yaitu membeli “emas” dari Tuhan (karakter Ilahi), mengenakan “pakaian putih” (kebenaran orang2 kudus), serta “minyak” (Roh Kudus) untuk melumas mata agar dapat melihat. Ketiga, Tuhan, yang sudah ada diluar “pintu” gereja ini, memanggil untuk “makan” (bersekutu) denganNya (ayat 20).

Demikianlah ciri2 dari gereja di Laodikia ini. Karena kitab Wahyu ini merupakan nubuat, maka bagaimana penggenapannya? Kita harus paham bahwa pergerakan 4 tipe gereja yang akan ada sampai kedatangan Tuhan bersifat ‘berurut-urutan’. Artinya, tipe gereja di Sardis lahir dari tipe gereja di Tiatira. Tipe gereja di Filadelfia lahir dari tipe gereja di Sardis, dan tipe gereja di Laodikia lahir dari tipe gereja di Filadelfia. Gerakan Protestan (“Sardis”) lahir dari “Tiatira” (Katolik). Gerakan ‘the Brethren’ dan ‘The Little flock’ (“Filadelfia”) lahir dari “Sardis” (Protestan). Demikian juga, gereja tipe “Laodikia” lahir dari tipe “Filadelfia”. Dengan melihat ciri2 gereja tipe Laodikia diatas, maka kita dapat mengerti bahwa gereja “Laodikia” lahir karena kemerosotan gereja “Filadelfia”.

Karakteristik utama gereja di Laodikia ini adalah kesombongannya. Tentu gereja ini sombong karena ada hal-hal yang dibanggakannya dimasa lalu. Kita tahu bahwa gereja di Filadelfia sama sekali tidak ditegor Tuhan. Jika kita melihat sejarah pergerakan gereja tipe “Filadelfia” ini, maka kita tahu betapa Tuhan telah membuka pintu baginya (Wahyu 3:7). Sesungguhnya, gerakan ini lebih hebat dari pada gerakan Reformasi. Ribuan buku diterbitkan dari gerakan “Filadelfia” ini yang membuka pengertian kita tentang Alkitab, dimana belum pernah diungkapkan oleh gerakan2 sebelumnya. Namun, ketika ‘kasih’ yang menjadi ciri “Filadelfia” merosot, maka tentu ‘kesombonganlah’ yang muncul. Jadi, kesombongan “Laodikia” adalah kesombongan ‘korporat’ (kesombongan gereja), dan bukan kesombongan2 pribadi yang bisa saja muncul dalam diri orang Kristen.

Kita telah melihat bahwa ketujuh gereja di Asia Kecil ini masuk kedalam kategori ‘gereja yang telah jatuh/merosot’, karena kepada ketujuh gereja ini Tuhan selalu memanggil para pemenangNya. Kita akan menutup pembahasan kita mengenai ketujuh gereja ini dengan memperhatikan perbedaan antara ‘orde’ gereja dan ‘orde’ kerajaan. Yang dimaksud ‘orde’ gereja adalah para pemimpinnya disebut Rasul, Nabi, pemberita injil, gembala, dan pengajar (Efesus 4:11). Tetapi, ‘orde’ kerajaan adalah ‘raja2 dan imam2’.

Tuhan membentuk umat kerajaan menjadi ‘raja2 dan imam2’ (Wahyu 1:6). Umat kerajaan adalah orang2 yang mendapat kasih karunia agar dapat berfungsi sebagai raja2 dan imam2 dizaman berikutnya setelah zaman gereja selesai oleh kedatangan Tuhan Yesus. Umat kerajaan akan memerintah bersama Tuhan Yesus dibumi dengan tubuh kemuliaan (Wahyu 5:10; 20:4).

Setelah kita melihat kondisi ketujuh gereja di Asia kecil (pasal 2-3) yang sudah jatuh/merosot, dalam arti tidak memiliki persekutuan (‘koinonia’) dengan rasul Yohanes, dan karenanya Tuhan memanggil para pemenangNya, maka penglihatan selanjutnya yang diberikan kepada rasul Yohanes adalah mengenai sorga (Wahyu 4:1-2). Mari kita perhatikan Wahyu 4:1-2, demikian, “Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga… Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini. Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang”.

Ada beberapa hal yang dinyatakan dalam ayat2 diatas. Pertama, rasul Yohanes melihat ‘pintu terbuka di sorga’. Pengertiannya disini adalah rasul Yohanes melihat ‘pembukaan pintu sorga’ sedemikian sehingga ia mulai melihat sorga itu seperti apa. Kedua, tetapi untuk melihat sorga itu seperti apa, rasul Yohanes harus mendengar perintah, ‘naiklah kemari’. Dan, karena rasul Yohanes mendengar perintah, ‘naiklah kemari’, maka ‘segera ia dikuasai oleh Roh’. Jadi, makna ‘naik kemari’ adalah ‘dikuasai oleh Roh’. Artinya, rasul Yohanes bukan naik secara jasmani kesuatu “tempat” tertentu yang disebut “sorga”, tetapi ia masuk kedalam SUATU DIMENSI SORGAWI. Baiklah kita berbicara sedikit mengenai ‘dimensi’. Elohim itu diam dalam ‘dimensi kekal’, dan Ia menciptakan tiga dimensi, yaitu dimensi sorgawi, dimensi bumi (ruang dan waktu), dan dimensi bawah bumi (Wahyu 5:3; 10:6). I Timotius 6:16, menjelaskan ‘dimensi kekal’, demikian, “… bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia…”.

Ketiga, setelah rasul Yohanes dikuasai oleh Roh, maka ia melihat, ‘sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang’. Jadi, Elohim yang berdiam dalam dimensi kekal, meletakkan takhtaNya dalam dimensi ‘sorgawi’. Elohim sendiri tidak berdiam dalam sorga, tetapi sorgalah yang berdiam dalam Elohim, karena Elohim “lebih besar” dari sorga, yang diciptakanNya. Tetapi, Ia meletakkan takhtaNya disorga. Takhta disini tentu bukan takhta jasmani yang sering dibuat manusia dibumi ini. Takhta disini melambangkan ‘otoritas suatu kerajaan’, dan juga suatu ‘otoritas untuk menghakimi’. Jadi, sorga itu berbentuk KERAJAAN. Ketika Tuhan Yesus dibumi, Ia mengajarkan murid2Nya supaya berdoa agar kerajaan dalam dimensi sorgawi (kerajaan sorga) turun ke dimensi bumi, agar kehendakNya terjadi jadi dibumi sama seperti terjadi di sorga (Matius 6:10).

Sampai disini kita melihat betapa berbedanya “sorga” seperti yang sering diberitakan dalam dunia kekristenan dengan sorga yang dilihat rasul Yohanes. “Sorga” yang umumnya diberitakan dalam dunia kekristenan seperti “tempat” yang menyenangkan, dimana jalannya dari emas, banyak tempat tinggal yang bagus2 dan dipahami sebagai “Rumah Bapa”, bahkan ada yang berpendapat masih ada anjing disitu, dan orang kerjanya hanya nyanyi2 saja memuji Tuhan. Sementara orang hanya perlu percaya Yesus, maka ia akan masuk sorga seperti itu, yang sudah dipercaya oleh mayoritas orang dalam dunia kekristenan.

Sesungguhnya, didalam PB, tidak ada satu ungkapanpun seperti ‘percaya Yesus masuk sorga’. Didalam PB, khususnya dalam injil Yohanes, terdapat banyak ungkapan ‘percaya Yesus mendapat hidup kekal’. Hidup kekal (zoe) adalah jenis hidup Elohim yang masuk kedalam dimensi bumi (ruang dan waktu), dan karenanya perlu bertumbuh. Dan kita tahu, dalam dunia kekristenan, sebagaimana gereja di Asia Kecil yang sudah jatuh, Tuhan memanggil para pemenangNya.

Dalam dunia kekristenan ada banyak yang dipanggil dan mendapat hidup ‘zoe’, tetapi hanya sedikit yang dipilih, yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga (Lukas 12:32). Semakin kita melihat sorga yang diwahyukan kepada rasul Yohanes, maka akan semakin kita lihat betapa berbedanya “sorga” yang sering diberitakan dan dipercaya dalam dunia kekristenan.

Kita membahas sedikit lagi perihal ‘dimensi’ sebelum lanjut untuk melihat ‘sorga’ seperti yang dilihat rasul Yohanes (Wahyu 4-5). Telah kita ketahui bahwa Elohim berdiam didalam dimensi ‘kekal’. Perlu dipahami bahwa ‘kekal’ itu bukan ‘waktu’ yang panjang tanpa akhir seperti yang sering dipahami oleh orang Kristen, sebab dimensi ‘kekal’ berbeda dengan dimensi ‘waktu’. Dimensi ‘kekal’ itu dimensinya Elohim dan tidak diciptakan, sedangkan ‘waktu’ adalah sesuatu yang diciptakan, dan mempunyai awal serta akhir. Selanjutnya, Elohim menciptakan tiga dimensi lagi, yaitu, dimensi sorgawi, dimana Ia meletakkan takhtaNya, kemudian dimensi bumi (ruang dan waktu), serta dimensi bawah bumi atau alam maut yang disimbolkan oleh Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat di Taman Eden. 

Mari kita melihat lebih jauh lagi mengenai tiga dimensi yang diciptakan Elohim, yaitu dimensi sorgawi, dimensi bumi, dan dimensi bawah bumi. Lukas 17:21, menegaskan demikian, “…Sebab lihatlah, kerajaan Elohim ada di antara kamu” (ILT). Perkataan ini diucapkan Yesus ketika Ia ditanya oleh orang2 Farisi mengenai kapan kerajaan Elohim datang (17:20). Disini, terjemahan ILT, maupun LAI menerjemahkan istilah Yunani ‘entos’ dengan ‘ada diantara’. Sebenarnya, istilah ‘entos’ berarti ‘didalam’. Kita tahu bahwa makna suatu istilah ditentukan oleh bagaimana istilah itu digunakan dalam kalimat. Istilah Yunani ‘entos’ hanya terdapat 2x saja didalam PB, dimana satu lagi terdapat dalam Matius 23:26, demikian, “Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam (entos) cawan itu…”. Disini ‘entos’ diterjemahkan ‘dalam’ atau ‘didalam’, karena memang sudah sesuai dengan penggunaannya dalam kalimat ini. Tidak mungkin orang menerjemahkan ‘entos’ itu ‘diantara’. Jadi, makna yang pasti dari ‘entos’ adalah ‘dalam’ atau ‘didalam’. Karenanya, Lukas 17:21, harus diterjemahkan, “…kerajaan Elohim ada didalam kamu”.    

Jadi kerajaan Elohim ada didalam kita. Apakah kerajaan Elohim hanya ada didalam orang2 percaya saja? Kita harus ingat bahwa Lukas 17:21, adalah perkataan Yesus kepada orang2 Farisi yang menentangNya. Sesungguhnya, kerajaan Elohim ada didalam orang2 Farisi, sekalipun mereka menentang dan tidak mengakui Yesus sebagai Mesias. Tetapi, karena orang2 Farisi tidak mengakui Yesus, maka kerajaan Elohim yang didalam mereka itu tidak memberi pengaruh apapun dalam kehidupan mereka.

Kalau demikian, apa artinya ‘kerajaan Elohim ada didalam kamu’? Tentu ini bukan berarti kerajaan Elohim ada didalam tubuh jasmani kita. Tetapi, hal ini berarti dimensi sorga MEMERINTAH dimensi bumi, karena dimensi ‘sorga’ lebih tinggi dari dimensi ‘bumi’. SORGA MEMERINTAH BUMI. Inilah maknanya ‘kerajaan sorga ada didalam kamu’. Sesungguhnya, kerajaan sorga ADA DIDALAM SEMUA MANUSIA, tetapi bagi mereka yang tidak mengakui Yesus sebagai Raja, maka kerajaan sorga yang ada didalam mereka sama sekali tidak memberi pengaruh apapun.

Mari kita lihat makna dimensi ‘bawah bumi’ atau dimensi ‘alam maut’. Kita tahu bahwa upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Ketika Adam makan buah Pohon Pengetahuan, maka ia langsung jatuh kedalam dimensi ‘alam maut’, yang terputus dengan jenis hidup Elohim (zoe) yang dilambangkan oleh Pohon Kehidupan. Upah dosa itu bukan neraka kekal, dalam arti neraka selama-lamanya, karena pandangan ini mengacaukan makna ‘Kekal’ dan makna “Waktu’. Orang Kristen yang berpandangan seperti ini tidak memahami apa itu ‘dimensi’, walaupun pandangan neraka kekal sudah diterima secara umum dalam dunia kekristenan. Diharapkan, melalui penjelasan mengenai ‘dimensi’ ini, kita lebih dapat memahami pengertian ‘sorga’ seperti yang dilihat rasul Yohanes.

Mari kita membahas lebih jauh lagi mengenai dimensi. Telah kita tegaskan bahwa kerajaan sorga yang ada dalam dimensi sorgawi itu ‘ada didalam’ kita. Ini berarti ‘kerajaan sorga’ MEMERINTAH DARI DALAM BATIN KITA. Bagaimana caranya kerajaan sorga memerintah dari dalam batin kita? Ketika Yesus datang kedunia, Ia datang supaya kita memperoleh HayatNya (Yohanes 10:10, ‘hidup’=’zoe’). Yesus adalah hidup ‘zoe’ itu (Yohanes 14:6), dan melalui pertumbuhan hidup ‘zoe’, maka Yesus memerintah DARI DALAM BATIN KITA. Itu sebabnya, I Yohanes 2:27, menegaskan, “Sebab didalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu TIDAK PERLU KAMU DIAJAR OLEH ORANG LAIN…”. Mengapa tidak perlu diajar oleh orang lain? Ini bukan berarti gereja jangan belajar dari orang lain. Yesus sendiri yang memberikan kepada gereja, para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar untuk memperlengkapi gereja (Efesus 4:11-12). Tetapi makna ‘tidak perlu diajar orang lain’ adalah karena YESUS SENDIRI YANG AKAN LANGSUNG MEMERINTAH DARI DALAM BATIN KITA. Para pemimpin tidak punya otoritas apapun atas gereja, karena gereja langsung dipimpin Yesus. Inilah makna ‘kerajaan sorga ada didalam kamu’. The kingdom of God is within you.

Kita harus membedakan dengan jelas perihal kerajaan sorga yang memerintah dari dalam batin, dengan kedaulatan Bapa yang mengatur segala sesuatunya. Burung jatuhpun tidak ada yang terjadi diluar kehendak Bapa (Matius 10:29). Atau, didalam Mazmur 139:16, tertulis, “mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya”. Inilah kedaulatan Bapa yang mengatur segala sesuatunya. Tetapi saat ini, kerajaan Yesus sedang dalam proses menaklukkan segala sesuatu MELALUI BATIN UMAT PILIHANNYA, dan ketika semuanya telah genap, maka Yesus akan menyerahkan kerajaanNya kepada Bapa, sehingga Bapa menjadi semua didalam semua (I Korintus 15:22-28). Bapa dapat mengekspresikan kemuliaanNya didalam dan melalui SEMUA CIPTAANNYA. Tidak ada lagi maut yang merupakan upah dosa. 

Selanjutnya, mari kita lihat lebih jauh lagi mengenai dimensi ‘bawah bumi’. Ketika Adam makan buah Pohon Pengetahuan yang Baik dan Jahat di Taman Eden, maka Tuhan berkata, “engkau pasti mati” (Kejadian 2:17). Ungkapan ‘pasti mati’ diayat ini diterjemahkan dari bahasa Ibrani ‘mut tamut’. Ungkapan ‘mut tamut’ disini tidak dapat diterjemahkan ‘mati’ saja, sebagaimana banyak versi Alkitab. Tetapi, ‘Young’s Literal Translation’, menerjemahkannya dengan tepat, yaitu ‘dying thou dost die’. Artinya, pada hari Adam makan buah Pohon Pengetahuan, maka ia langsung mendapat JENIS HIDUP yang disebut MAUT, dimana kemudian akan berproses kepada KEMATIAN FISIK. Jenis hidup maut ini dikuasai oleh Iblis (Ibrani 2:14). Tetapi, Yesus telah mengalami maut dan menaklukkannya BAGI SEMUA MANUSIA (Ibrani 2:9).

Kalau demikian, apa makna dari dimensi ‘bawah bumi’? Yakobus 2:26, menegaskan, “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati…”. Inilah artinya ‘mati jasmani’, dan karenanya, dimensi ‘bawah bumi’ adalah suatu JENIS KEHIDUPAN yang dijalani oleh roh orang2 yang telah meninggalkan tubuh jasmaninya. Tentu yang dimaksud disini adalah orang2 yang belum percaya Yesus.

Setelah kita memahami dimensi2 yang diciptakan Bapa, yang diam dalam dimensiNya sendiri, yaitu dimensi kekal, maka kita akan melihat betapa anehnya orang2 yang mengajarkan neraka kekal, dalam arti neraka selama-lamanya. Sayangnya, ajaran neraka kekal seperti ini telah diterima secara luas dalam dunia kekristenan. Namun, semua ini terjadi agar genap firmanNya bagi dunia kekristenan, yaitu, ‘banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih’.

Kita teruskan penglihatan rasul Yohanes mengenai sorga (Wahyu 4-5). Rasul Yohanes melihat takhta di sorga dimana ada Seorang duduk disitu. Kita tahu bahwa takhta itu simbol dari suatu kerajaan yang mempunyai otoritas. Jadi, sorga yang dilihat oleh rasul Yohanes berbentuk kerajaan yang berotoritas.

Kemudian, rasul Yohanes melihat ada 24 tua-tua yang memakai ‘pakaian putih’ dan duduk diatas takhta-takhta, serta mempunyai mahkota emas diatas kepala mereka (Wahyu 4:4). Pakaian putih ini diberikan kepada para pemenang gereja (Wahyu 3:18), dan merupakan simbol dari perbuatan-perbuatan yang benar dari orang2 kudus (Wahyu 19:8). Ke-24 tua-tua ini juga mempunyai takhta dan mahkota emas dikepalanya. Takhta disini simbol dari otoritas, sedangkan mahkota emas, berarti otoritas yang diberikan kepada ke-24 tua-tua ini bersifat Ilahi, karena emas merupakan simbol karakter/sifat dasar Ilahi. Jadi, ke-24 tua-tua ini adalah raja-raja didalam kerajaan sorga.

Selanjutnya, rasul Yohanes melihat 4 makhluk penuh dengan mata, dimana ke-4 makhluk ini seperti singa, anak lembu, muka manusia, dan burung rajawali yang sedang terbang (Wahyu 4:6-7). Siapakah 4 makhluk ini? Kitab Wahyu menafsirkan sendiri siapa 4 makhluk ini. Perhatikan Wahyu 5:8-10, “…keempat makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua itu tersungkur di depan Anak Domba itu… dan mereka menyanyikan nyanyian baru sambil berkata… Engkau sudah membeli kami bagi Elohim, dari setiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa, dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi” (ILT). Jelas terlihat dari ayat2 ini bahwa “keempat makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua” itu merupakan simbol dari raja2 dan imam2. Karena ditegaskan dalam ayat diatas bahwa Yesus Kristus telah membeli mereka, dan menjadikannya raja2 dan imam2, bahkan dijelaskan juga tujuan menjadikan mereka raja2 dan imam2, yaitu untuk memerintah dibumi. Jadi 24 tua-tua dan 4 makhluk ini merupakan simbol orang2 kudus dari segala bangsa, yang telah diproses Tuhan menjadi raja2 dan imam2.

Selanjutnya, rasul Yohanes melihat 7 Roh dari Elohim (Wahyu 4:5). Ini bukan berarti Roh Tuhan ada tujuh. Angka tujuh merupakan simbol dari kesempurnaan atau lengkap. Kilat dan bunyi guruh yang menderu diayat ini merupakan aktifitas Roh Tuhan yang demikian sempurna dan lengkap di bumi. Kita tentu tidak akan menguraikan semua yang dilihat rasul Yohanes mengenai sorga, tetapi kita akan menutup dengan penglihatan rasul Yohanes mengenai sebuah kitab yang hanya dapat dibuka oleh Anak Domba (pasal 5). Kitab ini bukanlah sembarang kitab saja, karena kitab ini hanya dapat dibuka oleh Yesus Kristus sebagai Anak Domba yang telah disembelih. Cerita dalam kitab ini merupakan cerita tentang penebusan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus sebagai Anak Domba, yang pada akhirnya mewahyukan pribadi Yesus Kristus sendiri. Kita akan melihat dipasal-pasal selanjutnya bagaimana pewahyuan Yesus Kristus ini dinyatakan kepada segala makhluk, baik yang di sorga, bumi, maupun bawah bumi.

Sampai disini kita dapat memahami kebenaran mengenai sorga, yang begitu jauh berbeda dari cerita2 yang selama ini kita dengar. Secara umum, dunia kekristenan telah memberitakan “sorga dongeng”, yang sama sekali lain dari yang dilihat oleh rasul Yohanes.

Sebelum kita melanjutkan penglihatan rasul Yohanes mengenai kitab yang hanya dapat dibuka oleh Anak Domba Elohim, baiklah kita berbicara sedikit lagi mengenai 24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup disekeliling takhta Elohim yang akan memerintah dibumi (Wahyu 4-5). Ada yang berpendapat bahwa 24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup ini adalah para malaikat dan makhluk sorgawi lainnya, dan bukan orang2 kudus yang telah ditebus dan dipilih dari segala suku, bangsa, kaum, dan bahasa. 

Kita perlu menanggapi pandangan ini, sebab pandangan ini akan membuat pengertian kita akan kitab Wahyu dan rencana Bapa semula menjadi kabur. Ada beberapa hal yang akan kita kemukakan disini. Pertama, Kejadian 1:26-28, jelas menyatakan bahwa rencana Bapa semula bagi manusia adalah untuk menaklukkan dan berkuasa atas seluruh bumi. Jadi, fokus rencana Bapa adalah bumi. Kedua, rencana Bapa memilih bangsa Israel adalah agar seluruh suku Israel menjadi ‘kerajaan imam’, yaitu menjadi raja2 dan imam2 bagi segala bangsa (Keluaran 19:5-6). Hanya kemudian, Israel jatuh kedalam penyembahan ‘anak lembu emas’, dan ketika Musa bertanya siapa yang memihak Tuhan, maka oleh pengaturanNya, hanya suku Lewi yang datang kepadanya (Keluaran 32:26). Selanjutnya, Tuhan hanya memilih suku Lewi untuk menjadi imam2, mewakili semua suku yang lain. Tetapi, rencana Bapa semula bagi Israel adalah menjadikan semua suku2 Israel, raja2 dan imam2 bagi bangsa lain. Ketiga, rencana Bapa dalam konteks PB bagi semua orang2 kudus adalah menjadikan seluruh anggota gereja ‘imamat yang rajani’ (I Petrus 2:9). Tetapi kemudian, oleh ajaran palsu ‘Nikolaus’, maka gereja terbelah menjadi golongan imam dan kaum awam, atau para pendeta dan jemaat. Namun, Bapa memilih ‘kawanan kecil’ dalam dunia kekristenan, dan dibentuk menjadi raja2 dan imam2 (Lukas 12:32; Wahyu 1:6). Jadi jelaslah bahwa rencana Bapa adalah membentuk umat manusia agar dapat memerintah dan menaklukkan seluruh bumi, dan semua ini dimulai dari umat pilihanNya.

Karenanya, pandangan bahwa 24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup itu adalah para malaikat dan makhluk sorgawi lainnya, dan bukan manusia, akan membuat rencana Bapa semula menjadi kabur. Bahkan pandangan ini membuat seluruh fokus kitab Wahyu menjadi tidak jelas juga. Mengapa demikian? Kita tahu bahwa kitab Wahyu adalah kitab yang mewahyukan pribadi Yesus Kristus. Dan, ada 4 tahap pewahyuan Yesus Kristus kepada gerejaNya. Pertama, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya KEPADA kita. Kita mengenal Yesus Kristus sebagai pribadi yang diluar kita. Kita mengenal apa yang diperbuatNya, apa yang dikatakanNya, dan sebagainya. Kedua, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya DIDALAM kita. Secara pengalaman, kita memahami bahwa Yesus Kristus tidak berada diluar kita, tetapi didalam kita. Ketiga, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya SEBAGAI kita. Apa yang Paulus katakan dalam Galatia 2:20 bahwa aku telah disalib bersama Kristus, dan bahwa aku hidup, tetapi bukan aku melainkan Kristus. Dari fakta ini kita melihat bahwa Kristus hidup ‘sebagai’ Paulus. Keempat, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya MELALUI kita. Yesus Kristus mengekspresikan DiriNya melalui orang2 pilihanNya dibumi ini. Sesungguhnya, kedatangan Yesus Kristus “kedua kali” itu berarti Yesus Kristus menampilkan DiriNya kepada ciptaan melalui putera2 Elohim (Roma 8: 19-21). 

Jadi, kitab Wahyu itu memang merupakan pewahyuan pribadi Yesus Kristus, tetapi kedatanganNya MELALUI umat pilihanNya merupakan ‘sentral’ pewahyuan kitab Wahyu, dan saat ini, umat pilihanNya sedang dibentuk menjadi raja2 dan imam2. Bukan malaikat2 dan makhluk2 sorgawi yang menjadi raja2 dan imam2, tetapi orang2 kudus. Sebab, bagaimana Yesus dapat datang sebagai Raja diatas segala raja, jika orang2 kudus merupakan “bayi-bayi rohani”? Bagaimana Yesus Kristus dapat datang sebagai Imam Besar, jika orang2 kudus masih membutuhkan “pendeta” atau “para imam” untuk memenuhi kebutuhan rohaninya? Karenanya, 24 tua-tua dan 4 makhluk itu merupakan simbol dari umat pilihanNya, yang telah dibentuk menjadi raja2 dan imam2.

Mari kita melanjutkan penglihatan rasul Yohanes tentang sorga (pasal 4-5). Dipasal 5 ada sebuah kitab yang hanya dapat dibuka oleh Anak Domba. Kitab ini bukanlah sembarang kitab saja, karena kitab ini hanya dapat dibuka oleh Yesus Kristus sebagai Anak Domba yang telah disembelih. Perhatikan pujian dari 24 tua-tua dan 4 makhluk ini, yang merupakan simbol dari raja-raja dan imam-imam, setelah Anak Domba menerima gulungan kitab dalam Wahyu 5:9-10, demikian, “…Layaklah Engkau untuk mengambil kitab itu dan membuka meterai-meterainya, sebab Engkau sudah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau sudah membeli kami bagi Elohim…dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja dan imam-imam…” (ILT).

Ditegaskan dalam ayat diatas bahwa Anak Domba layak mengambil kitab dan membuka meterai-meterainya karena Ia sudah membeli suatu umat kerajaan (raja2 dan imam2). Penggambaran seperti ini sesuai dengan adat istiadat kuno bangsa Ibrani berkenaan dengan pembelian properti. Bila properti telah dibeli, akte untuk pemilik baru dibuat rangkap dua, yaitu salinan yang terbuka dan salinan yang dimeterai. Salinan terbuka untuk kepentingan semua orang, sedangkan salinan termeterai hanya menjadi milik si pemilik properti. Apabila ahli waris baru ingin mengambil alih tanah, atau apabila terjadi sengketa soal kepemilikan, maka si pemilik sah yang berhak mengambil dan membuka materainya serta membaca isinya untuk mengambil alih miliknya yang telah dibeli. 

Demikianlah kasus nabi Yeremia ketika membeli tanah di Anatot milik Hanameel, anak Salum, pamannya (Yer. 32:9-15). Tindakan Yeremia ini sebagai bukti bahwa tanah, ladang, rumah, kebun anggur di negeri Israel akan dibeli pula setelah “terjual” ketangan bangsa asing. Jadi, salinan yang termeterai ini sama dengan gulungan kitab termeterai yang diambil oleh Anak Domba dari tangan Bapa di sorga. Gulungan kitab termeterai ini adalah ‘bukti pembelian’, atau ‘kitab pembelian’, sebab memang Anak Domba telah membeli/menebus umat kerajaan. Umat kerajaan adalah umat tebusan karena telah dibeli oleh darah Anak Domba.

Pertanyaannya bagi kita sekarang adalah apakah Anak Domba hanya membeli umat kerajaan (umat pilihanNya) saja dengan darahNya, ataukah Ia membeli semua manusia dengan darahNya? Dengan kata lain, apakah penebusan itu terbatas hanya untuk umat pilihanNya, atau penebusan oleh darah Yesus itu untuk semua manusia? Disini kita akan melihat beberapa ayat saja untuk membuktikan bahwa darah Yesus tercurah untuk menebus semua manusia. Yohanes 1:29, menegaskan, “…Lihatlah, Anak Domba Elohim yang menghapus dosa dunia!” (ILT). I Yohanes 2:2, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia”. Juga Ibrani 2:9, menegaskan bahwa, “…Dia dapat merasakan kematian (maut) ganti semua orang” (ILT). Jadi, Yesus mengalahkan maut yang merupakan upah dosa BAGI SEMUA ORANG. Itu sebabnya, tidak heran ketika semua makhluk yang disorga, yang dibumi, dan yang dibawah bumi, bahkan yang dilaut memuji Anak Domba ketika Ia mengambil gulungan kitab termeterai itu (Wahyu 5:13). 

Kita akan melihat dipasal2 selanjutnya bagaimana Anak Domba membuka materai demi materai mengenai bagaimana proses yang akan kita alami sebagai umat kerajaan, agar kita sepenuhnya menjadi milikNya.

Telah kita lihat bahwa Anak Domba Elohim sudah membeli/menebus ‘semua manusia’ oleh darahNya. Tetapi, dizaman ini, Ia hanya memilih sebagian orang saja untuk diproses dan dibentuk menjadi ‘raja2 dan imam menurut aturan Melkisedek’. TujuanNya adalah agar melalui umat pilihanNya, Ia dapat mewahyukan DIRINYA. Demikianlah sesungguhnya kitab Wahyu, yaitu pewahyuan Yesus Kristus MELALUI dan DIDALAM umat pilihanNya, dan pewahyuan ini dilakukan dengan bahasa simbol. Itu sebabnya, jika seseorang menafsirkan kitab Wahyu ‘secara harfiah’, dan ‘terutama’, sebagai nubuat tentang kejadian2 luaran yang akan menimpa bumi ini, maka ia telah gagal memahami sifat dasar kitab Wahyu. Ini bukan berarti kita sama sekali menolak perkara2 luaran yang akan terjadi kemudian, khususnya tentang gerejaNya. Tetapi bahwa penafsiran kita terutama bersifat ‘batiniah’, dan didasarkan pada Galatia 2:20, dan Roma 8:19-21, seperti telah kita tegaskan diawal tulisan ini.

Mari kita meneruskan penglihatan rasul Yohanes mengenai ‘kitab termeterai’, dimana meterainya dibuka satu persatu oleh Anak Domba. Pembukaan meterai2 oleh Anak Domba ini merupakan wahyu berlanjut Yesus Kristus didalam dan melalui umat pilihanNya. Setelah meterai demi meterai dibuka, maka rasul Yohanes melihat ada 4 kuda, yang masing2 berwarna putih, merah, hitam, dan hijau kuning (Wahyu 6).

Didalam Alkitab, kuda digunakan bukan untuk tujuan pertanian, melainkan digunakan untuk tujuan berperang (Amsal 21:31). Jadi, keempat kuda yang dilihat rasul Yohanes adalah kuda perang. Penting untuk dipahami bahwa istilah ‘penebusan’ dalam bahasa Yunani juga berarti ‘pelepasan’. Karenanya, keempat kuda perang ini menjalankan pelayanannya didalam “kebumian” kita untuk melepaskan kita dari perbudakan2 musuh, yaitu kedagingan kita, keduniawian kita dan penguasaan iblis atas diri kita. Kita harus paham bahwa musuh kita tidak berada diluar diri kita. Musuh kita adalah diri kita sendiri. Pikiran2, perasaan2, dan kemauan2 daging yang bercokol dalam jiwa kita yang menyebabkan iblis mendapat kesempatan untuk mengikat serta menjerat kita kedalam belenggunya. Melalui pelayanan keempat kuda ini, umat pilihanNya ditebus dan dilepaskan dari jerat iblis, sehingga Yesus Kristus dapat mengekspresikan DiriNya melalui dan didalam diri kita. 

Baiklah kita mulai dengan kuda putih. Wahyu 6:2, menegaskan, “Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya… Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan”. Warna putih merupakan simbol dari KEMURNIAN, yang tentunya terjadi karena ditempa dalam api. Kepada gereja di Laodikia dinasihatkan agar, “…engkau membeli dari padaKu… pakaian putih…” (Wahyu 3:18). Dalam Wahyu 19:8, ditegaskan bahwa lenan halus yang putih bersih adalah perbuatan2 yang benar dari orang2 kudus. Disini jelas kita lihat bahwa warna putih terkait dengan perbuatan2 yang murni dari orang2 kudus.

Namun, kita harus ingat bahwa kemurnian ini bukan terjadi karena kita berjuang untuk menjadi murni. Tetapi, kemurnian ini terjadi karena KRISTUS BERJUANG DAN BERPERANG DIDALAM DIRI KITA. Sebagai umat pilihanNya, Kristus yang didalam kita terus berperang dan berjuang sampai kita menjadi murni.

Pada umumnya, orang yang melayani dalam dunia kekristenan, dimana ajaran palsu Izebel, Bileam dan Nikolaus telah diterima luas, maka kemurnian menjadi barang langka. Kemurnian dalam arti melayani tanpa cari untung, baik berupa uang, jabatan, dan kemuliaan manusia. Tetapi, Tuhan mempunyai orang2 pilihanNya yang diproses bukan supaya menjadi BESAR, tetapi supaya menjadi KUDUS (terpisah) dan murni.

Kita lanjutkan pembahasan kita kepada kuda merah yang tertulis dalam Wahyu 6:4, demikian, “…seekor kuda merah padam dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi…”. Telah kita lihat bahwa ‘kitab termeterai’ ini adalah kitab ‘penebusan’ atau ‘pelepasan’. Artinya, Kristus yang didalam kita “menunggangi” kuda merah dan berperang dalam “kebumian” kita untuk menebus dan melepaskan kita dari musuh2 didalam kita.

‘Kristus didalam kita’ itu memang pengharapan akan kemuliaan (Kolose 1:27). Tetapi, kita jangan salah menilai bahwa Kristus akan “berlaku manis” dan tidak akan mengambil damai sejahtera “kebumian” kita. Sesungguhnya, kerajaan Kristus yang didalam kita akan terus berperang sampai kita dilepaskan dari musuh2 kita, sekalipun karenanya kita kehilangan damai sejahtera. Sekali waktu Yesus pernah berkata, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Matius 10:34). Ketika Yesus belum hadir dalam kehidupan kita, semua “berjalan lancar” dan damai2 saja, karena kita melakukan apapun yang kita suka. Tetapi, ketika Kristus menyerbu kebumian kita, maka terjadi peperangan antara daging dan roh. Dimanapun juga, peperangan tidak pernah menimbulkan damai sejahtera. Demikianlah, Kristus yang didalam kita akan terus berperang sampai kita sepenuhnya takluk dan menyerah total kepadaNya.

Selanjutnya, kuda yang dipakai Kristus untuk berperang didalam kita berwarna ‘merah’. Istilah Yunani untuk ‘merah’ disini adalah ‘purrhos’, yang artinya ‘warna api’. ‘Purrhos’ berasal dari akar kata ‘pur’ (api). Menarik diperhatikan bahwa turunan istilah Yunani ‘pur’ adalah ‘pyra’ atau ‘pure’=murni. Didalam Alkitab, api melambangkan dua perkara, yaitu penghakiman dan pembersihan. Jadi, pelayanan Kristus didalam diri kita sebagai ‘kuda merah’ adalah untuk menghakimi/membersihkan supaya murni (pure).  

Elohim kita bukan saja adalah kasih, tetapi juga ‘api yang menghanguskan’. Kedua kodrat Elohim ini bersifat kekal. Elohim kita bukanlah kadang2 bersifat ‘kasih’, dan dilain waktu seperti ‘api yang menghanguskan’. Tetapi, Elohim kita sekaligus adalah kasih dan api yang menghanguskan. Artinya, karena Elohim adalah kasih, maka Ia menghanguskan dosa2, kegelapan, kedagingan apapun juga yang merintangi kasihNya.

Banyak orang salah mengerti mengenai manifestasi Elohim sebagai ‘api’. Mari kita lihat Wahyu 21:8, demikian, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji,… mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua”. Baiklah kita kutip tulisan Charles Pridgeon tentang lautan api dan belerang ini. “Kata Yunani THEION yang diterjemahkan menjadi belerang adalah kata THEION yang sama yang berarti Ilahi…Kata kerja yang diturunkan dari THEION adalah THEIOO, yang berarti menguduskan, meng-ilahikan… Bagi orang Yunani atau orang yang terdidik dalam bahasa Yunani, ‘Lautan api dan belerang’ berarti LAUTAN PEMURNIAN ILAHI” (akhir kutipan). Karenanya, pengertian ‘Lautan api dan belerang’ ini adalah PANAS DAN TERANG ILAHI YANG MENGHASILKAN PERUBAHAN. Jadi, Wahyu 21:8 diatas berbicara bagaimana orang2 penakut, tidak percaya, keji dan sebagainya, dirubah menjadi sebagaimana yang Elohim kehendaki, oleh apiNya dan kasihNya.

Demikianlah pelayanan Kristus yang didalam kita sebagai kuda merah. Ia akan terus berperang didalam kita sampai kita menjadi murni, bersih, dan layak bagi kerajaanNya.

Kita lanjutkan dengan melihat bagaimana pelayanan ‘kuda hitam’, dalam Wahyu 6:5-6, demikian, “…aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya… Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu”.

Seperti kita ketahui bahwa “kuda hitam” adalah pelayanan Kristus didalam batin kita yang menyerbu “kebumian kita”. Untuk memahami apa yang disimbolkan oleh warna hitam, kita perlu melihat bagaimana kondisi bumi pada awalnya. Kejadian 1:2, menegaskan, “Bumi dalam keadaan tidak berbentuk dan kosong, dan kegelapan menutupi samudera raya, dan Roh Elohim bergetar melingkup di atas permukaan air” (ILT). Sebelum Roh Elohim ‘bergetar melingkup’ (mengerami) bumi, maka kondisi bumi tidak berbentuk, kosong, dan gelap. Demikian juga kondisi “kebumian” kita kosong dan gelap, sebelum Roh Elohim mengeraminya. Tetapi persoalannya, sebelum Elohim bekerja memberi terang, memisahkan air dari darat, menciptakan benda2 penerang, dan sebagainya, kita sama sekali tidak tahu bahwa sebelumnya kondisi bumi itu tidak berbentuk, kosong dan gelap. Setelah Elohim mengerami dan berkarya terhadap bumi, barulah kita melihat bagaimana kondisi bumi itu sebelumnya.

Demikian juga kondisi kita sebelum Elohim “mengerami” dan berkarya didalam kebumian kita, tentu kita sama sekali tidak memahami bagaimana kondisi diri kita ini sebenarnya. Hal ini sama seperti yang terjadi kepada nabi Yesaya, demikian, “…aku melihat Tuhan….Lalu kataku: celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat sang Raja…” (Yesaya 6:5). Setelah Yesaya melihat Tuhan, barulah ia tahu bahwa ia najis bibir, dan juga tinggal ditengah2 bangsa yang najis bibir. Tetapi kemudian, kesalahan Yesaya dihapus, dan ia siap untuk diutus Tuhan.

Pelayanan Kristus sebagai “kuda hitam” yang menyerbu kebumian kita, sesungguhnya membuat kita memahami betapa hitam dan gelap diri kita ini. Sebelum kuda hitam datang kedalam kebumian kita, tentu kita tidak merasa begitu “hitam” diri kita sesungguhnya. Pemazmur berseru demikian, “… didalam terang-Mu kami melihat terang” (Mazmur 36:9). Maksud pemazmur adalah setelah ia masuk kedalam Terang Tuhan, maka ia melihat terang dan kondisi dirinya sesungguhnya. Manusia tidak dapat mengenal kondisi dirinya sebenarnya sebelum datang terang Tuhan, sebab bagaimana seseorang mengenal dirinya didalam kegelapan. Setelah terang Tuhan datang, barulah ia memahami dirinya, dan juga kondisi “bangsa” dimana ia tinggal, seperti kasus nabi Yesaya.

Tetapi, puji Tuhan, pelayanan “kuda hitam” ini bukan saja menyoroti kondisi kita, tetapi ia membawa “timbangan”, dalam arti ada keseimbangan antara membongkar kondisi kita, dan juga memulihkannya sehingga kita layak bagi Tuhan. Demikianlah umat pilihanNya akan mengalami terang Tuhan sedemikian sehingga ia menyadari kondisi dirinya, dan juga “bangsanya”, tetapi kemudian ada pemulihan baginya.

Dalam dunia kekristenan, ada banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. Umat yang mendapat kasih karunia untuk dipilih Tuhan, tentu akan menyadari kondisinya, dan juga kondisi “bangsanya” (dunia kekristenan). Memang, barangkali, ada orang2 kristen yang berbicara dan membongkar kondisi sesungguhnya dunia kekristenan, karena ia iri hati dan kurang mendapat “jatah” uang, jabatan, dan kemuliaan manusia. Namun, umat pilihanNya akan berbicara karena mengalami Terang Tuhan.

Kita lanjutkan pelayanan ‘kuda hitam’ didalam batin kita, khususnya simbol2 “gandum dan jelai”, karena kitab Wahyu menggunakan bahasa simbol (Wahyu 1:1). Wahyu 6:5-6, menyatakan, “…aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya… Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu”.

Mari kita perhatikan apa yang dimaksud dari ungkapan, “secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar”. Banyak penafsir dan pengajar Alkitab dalam dunia kekristenan menyatakan bahwa ungkapan ini berarti akan terjadi kelaparan ‘makanan jasmani’ yang melanda dunia. Penafsiran yang bersifat ‘jasmani’ ini disebabkan mereka tidak memperhatikan sifat dasar kitab Wahyu seperti telah kita tegaskan sebelumnya dalam tulisan ini.

Untuk memahami ungkapan diatas, mari kita lihat kasus kelaparan yang terjadi di Samaria pada zaman nabi Elisa (II Raja-Raja 7: 1-19). Ketika Samaria dikepung oleh raja Aram sehingga terjadi kelaparan, maka Elisa bernubuat bahwa, “…Besok kira-kira waktu ini sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria”. Maksud nubuat Elisa ini bahwa akan terjadi kelimpahan makanan karena lawatan Tuhan atas Samaria melalui keempat orang yang berpenyakit kusta. Karena orang2 Aram mengalami ketakutan yang dari Tuhan dan meninggalkan makanan berlimpah-limpah yang ditemukan oleh keempat orang berpenyakit kusta. Jadi, ketika Tuhan melawat umatNya, maka pasti akan terjadi ‘kelimpahan makanan’.

Demikian juga dalam kasus lawatan Tuhan/pelayanan kuda hitam diatas, maka ungkapan “Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar”, justru menyatakan adanya kelimpahan makanan. Kunci pengertiannya adalah bahwa lawatan Tuhan selalu membuat kelimpahan makanan. Tetapi kembali, yang harus kita perhatikan ialah sifat dasar kitab Wahyu. Kitab Wahyu adalah pewahyuan PRIBADI TUHAN YESUS, dan tentu bersifat rohani. Jadi, kelimpahan makanan yang dimaksud disini adalah KELIMPAHAN MAKANAN ROHANI. Kelimpahan makanan rohani yang membuat kita mengenal Tuhan Yesus dalam arti yang sesungguhnya. Hal ini bukan berarti Tuhan tidak perduli dengan kebutuhan jasmani kita. Tetapi bahwa, “…kerajaan Elohim bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi kebenaran dan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Roma 14:17, ILT).

Menarik untuk diperhatikan dalam kasus nabi Elisa adalah bahwa Tuhan memakai empat orang kusta untuk mendatangkan kelimpahan makanan kepada kota Samaria. Kita tahu bahwa orang2 kusta dizaman itu tidak diperbolehkan diam ditengah-tengah umat Tuhan, karena mereka najis. Tetapi, justru ada kelimpahan makanan “diluar perkemahan” umat Tuhan, dan keempat orang kusta yang dikucilkan dari antara umat Tuhan ini yang dipakai Tuhan menemukan kelimpahan makanan “diluar perkemahan”.

Saat ini, gereja2 telah jatuh dan pecah menjadi puluhan ribu denominasi. Kita percaya bahwa nubuat Amos 8:11 telah terjadi, yang menyatakan, “…Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman TUHAN”. Sesungguhnya, ada kelimpahan makanan rohani diluar “perkemahan” dunia kekristenan. Tetapi, sebagaimana dizaman Elisa bahwa kelimpahan makanan ini ditemukan oleh keempat orang kusta yang dikucilkan, demikian juga saat ini, kelimpahan makanan rohani akan ditemukan oleh umat pilihanNya yang “terkucil” dari perkemahan gereja2 yang telah jatuh.

Kita masih melanjutkan pelayanan ‘kuda hitam’ didalam batin kita dengan memperhatikan simbol2, yaitu, “gandum dan jelai, serta minyak juga anggur”. Wahyu 6:5-6, menyatakan, “…aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya… Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu”.

Mari kita lihat apa yang disimbolkan oleh gandum dan jelai. Jelai adalah sejenis tanaman padi-padian yang dapat dimakan, dan jelai menjadi dewasa/matang lebih cepat dari pada gandum. Di negeri Israel, orang menabur jelai di bulan Oktober-Nopember, sesudah hujan awal mulai turun dan tanah dapat dibajak. Karena jelai lebih cepat matang dari pada gandum, maka pada bulan Maret-April, tuaian jelai sudah dapat dimulai pada awal musim semi. Awal tuaian jelai terkait dengan masa Paskah, dimana berkas yang dilambai-lambaikan oleh imam dihari keenam belas bulan Nisan (Maret-April), adalah buah sulung jelai. Jadi, jelai terkait dengan tuaian buah sulung.  

I Korintus 15:20, menegaskan, “…Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal”. Yesus adalah buah sulung kebangkitan. Karenanya, aspek Kristus yang dilambangkan oleh jelai adalah KRISTUS YANG TELAH DIBANGKITKAN.

Sementara itu, aspek Kristus yang dilambangkan oleh gandum, tertulis dalam Yohanes 12:24, demikian, “…sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Aspek Kristus yang dilambangkan oleh biji gandum adalah Kristus yang berinkarnasi menjadi manusia dengan segala keterbatasanNya, bahkan yang mati dikayu salib.

Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika Kristus membuat mujizat 5 roti dan 2 ikan yang dapat memberi makan 5000 orang lebih, Ia melakukannya dengan roti ‘jelai’, bukan roti ‘gandum’ (Yohanes 6:9). Mengapa? Kita tahu bahwa setiap perbuatan Yesus itu bersifat profetik. Ia tidak berbuat sesuatu secara sembarangan. Jelai melambangkan Kristus yang telah dibangkitkan, dan karenanya Ia tidak dibatasi oleh keterbatasan-keterbatasan kemanusiaanNya. Ia dapat memberi makan 5000 orang lebih hanya dengan 5 roti jelai dan 2 ikan.

Oleh pelayanan ‘kuda hitam’ kedalam kebumian kita, maka kita akan mengalami proses dimana aspek Kristus sebagai biji gandum, dan aspek Kristus sebagai jelai terjadi dalam kehidupan kita. Kita akan mengalami ‘kematian bersama Kristus’ dan juga ‘kebangkitan bersama Kristus’.

Sebagai penutup dalam pelayanan ‘kuda hitam’ terdapat ungkapan, “janganlah rusakkan minyak dan anggur itu”. Minyak dan anggur merupakan simbol dari ‘Roh dan wahyu’. Sebagai umat pilihanNya, kita diperingati agar jangan salah menggunakan ‘Roh dan wahyu’ yang sudah diberikan Tuhan. Kesalahan yang dimaksud disini adalah “memperdagangkan” atau ‘cari untung’ dari pekerjaan Roh dan pewahyuan yang kita terima.

Dalam dunia kekristenan, perihal melayani Tuhan sudah menjadi sebuah profesi. Didalam dunia kerja/profesi, orang2 menjual barang atau jasa untuk memperoleh keuntungan materi. Hal ini memang dibenarkan dalam dunia kerja. Setiap orang dalam dunia kerja pasti “menjual” sesuatu, entah itu barang atau keahlian/jasa, untuk mendapat uang. Tetapi, didalam gereja tidak boleh ada perdagangan seperti itu. Petrus, Paulus dan Yohanes, serta para pelayan di gereja mula-mula tidak melakukan perdagangan. Mereka melayani Tuhan, dan bukan “menjual” sesuatu seperti yang terjadi dalam dunia kerja/profesi.

Tetapi kita tahu, salah satu penyebab gereja jatuh mulai dari zaman rasul Yohanes adalah ajaran Bileam. Ajaran Bileam dalam dunia kekristenan ini membenarkan perbuatan “menjual” anugerah ‘Roh dan wahyu’ untuk mendapat uang.

Kita sampai pada kuda keempat, yaitu kuda hijau kuning. Wahyu 6:8, menegaskan, “… ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut (HADES=NERAKA) mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan…sampar (THANATOS=DEATH=MAUT) … yang dibumi”. Kita tahu bahwa kuda ini adalah kuda perang, dimana Kristus menungganginya serta berperang menaklukkan “kebumian” kita. Ditegaskan diayat ini bahwa kuda hijau kuning ini diberi kuasa/otoritas atas ‘seperempat dari bumi’. Maksudnya, ‘tiga perempat’ dari “kebumian” kita telah tuntas diselesaikan melalui pelayanan tiga kuda sebelumnya, dan sekarang tinggal ‘seperempat’ lagi yang akan diselesaikan oleh pelayanan kuda keempat ini.

Perhatikan baik2 ayat kita diatas, dimana kepada kuda hijau kuning ini diberi kuasa untuk MEMBUNUH NERAKA DENGAN MAUT. Apa artinya membunuh neraka dengan maut? Kita harus jelas bahwa upah dosa itu maut, bukan neraka kekal, dalam arti neraka selama-lamanya. Roma 6:23, tegaskan, “Sebab upah dosa ialah maut…”. Juga, Kejadian 2:17, menegaskan, “… pada hari engkau memakannya, pastilah engkau MATI”. Istilah Ibrani yang diterjemahkan MATI adalah MUT TAMUT, artinya ‘dying thou dost die’ (Young’ Literal Translation). Maksudnya, ketika Adam melanggar perintah Elohim, maka ia langsung mengalami maut (suatu JENIS HIDUP yang dikuasai Setan, Ibrani 2:14). Tetapi kemudian setelah Adam menjalani MAUT, maka ia akan MATI secara fisik. Inilah makna MUT TAMUT. Inilah upah dosa, dan seluruh keturunan Adam mendapat juga jenis hidup MAUT, karenanya, semua manusia menjalani JENIS HIDUP MAUT dan akhirnya akan mati secara jasmani. Tetapi, Kristus telah mengalami maut BAGI SEMUA MANUSIA (Ibrani 2:9), dan mendapat otoritas atas maut dan kerajaan maut (Wahyu 1:18, KLEIS=KUNCI dalam pengertian figurative, yaitu OTORITAS).

Yesus berotoritas atas maut dan kerajaan maut (neraka), karenanya, Kristus yang menunggangi kuda hijau kuning akan membunuh NERAKA DENGAN MAUT, artinya, neraka akan tidak ada lagi dan semua manusia dibebaskan. Inilah pengertian ‘membunuh neraka dengan maut’. Inilah juga pengertian maut dan kerajaan maut dilemparkan kedalam LAUTAN API=kematian kedua (Wahyu 20:14). Jadi, maut dan kerajaan maut dibunuh oleh kematian kedua, yaitu lautan api.

Saya akan menutup bagian ini dengan suatu kesaksian pribadi. Saya pernah berdiskusi dengan seorang pemimpin jemaat tentang makna ‘Lautan Api’. Beliau katakan bahwa lautan api itu neraka kedua, artinya orang2 yang didalam neraka pertama dilempar lagi kedalam neraka kedua selama-lamanya. Saya dapat memahami pengertian beliau karena demikianlah umumnya pengertian para pemimpin denominasi dalam dunia kekristenan, yang biasa disebut DOKTRIN NERAKA KEKAL. Saya juga pernah menjadi pemberita ajaran neraka kekal.

Saya mengusulkan kepada para pemimpin denominasi untuk mengkaji ulang ajaran neraka kekal ini, sebab ajaran ini sangat menghina otoritas Tuhan Yesus, dan juga sangat merendahkan Bapa di Sorga yang penuh kasih, sehingga menggambarkan Bapa disorga seperti monster yang mengerikan karena menyiksa orang selama-lamanya di neraka. Saya usul bagi para pemimpin yang mau, untuk mulai mencari di internet, video2 maupun tulisan2 (ada ratusan video dan ribuan halaman tulisan), yang mengkaji ulang ajaran neraka kekal ini. Sebaiknya mulai dari Louis Abbott, Preston Eby, Charles Weller, Ray Prinzing, dan yang lainnya. Saya sendiri dikirimi puluhan buku dari Amerika, dan itu semua gratis, sebab Umat pilihanNya tidak menjual apapun.

Saya dapat memahami jika pemimpin jemaat yang saya sebut diatas tadi tidak mau mengkaji ulang ajarannya tentang neraka kekal. Masalahnya bukan soal Teologis saja, tetapi lebih kepada soal “perut”, sebab ia hidup dari jemaatnya, mendapat uang, jabatan, dan kemuliaan manusia. Juga, dalam dunia kekristenan, orang yang tidak mengajarkan ajaran neraka kekal tentu akan disingkirkan. Tetapi, bagi orang2 yang mendapat kasih karuniaNya, perihal diatas tidak menjadi masalah.

Mari kita mengingat prinsip penafsiran kita terhadap kitab Wahyu sebelum kita membahas pembukaan materai kelima oleh Anak Domba (Wahyu 6:9-11). Perlu kita ingat kembali bahwa penggenapan kitab Wahyu bersifat ‘batiniah’, karena kitab ini mewahyukan suatu ‘pribadi’, yaitu pribadi Yesus Kristus. Tentu kita tidak menolak seluruhnya penafsiran yang bersifat “luaran”, yaitu bersifat ‘historical’ (sudah terjadi dalam sejarah), dan ‘futuristic’ (akan terjadi dimasa yang akan datang). Namun, prinsip penafsiran kita bersifat ‘batiniah’, dalam arti SUDAH, SEDANG, dan AKAN TERJADI didalam batin kita, karena pewahyuan pribadi Yesus Kristus dalam batin kita bersifat PROGRESIF (berkemajuan).

Baiklah kita melihat Wahyu 6:9-11, mengenai apa yang terjadi ketika materai kelima dibuka, “…aku melihat dibawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh berkenaan dengan firman Elohim dan berkenaan dengan kesaksian yang mereka miliki. Dan mereka berseru…’Sampai kapan, ya Tuhan yang kudus dan yang benar, Engkau tidak menghakimi dan membalaskan darah kami terhadap mereka yang tinggal di bumi?’ … beristirahat sedikit waktu lagi…”(ILT).

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dari ayat2 diatas ini. Pertama, siapa jiwa-jiwa mereka yang dibunuh berkenaan dengan firman Elohim dan kesaksian mereka ini? Tentu saja ini berbicara tentang para martir Kristen, tetapi bukan saja mereka yang telah mati secara fisik dan meninggalkan dunia ini. Sekarangpun, orang-orang benar “tersiksa” jiwanya sebagaimana dalam kasus Lot (II Petrus 2:7-8). Kalau kita perhatikan seluruh ayat2 dalam II Petrus ini, maka jelas terlihat bahwa Petrus sedang berbicara mengenai guru2 palsu yang muncul ditengah-tengah umat Tuhan (ayat 1), dimana salah satu cirinya adalah mengikuti jalan Bileam (ayat 15). Petrus tegas menyatakan bahwa Tuhan akan menghakimi guru2 palsu ini, dan menyelamatkan umat pilihanNya. Dalam konteks seperti inilah Petrus menyamakan umat pilihanNya dengan kasus Lot. Jadi, jiwa2 yang “tersiksa” berkenaan dengan firman Elohim adalah umat pilihanNya yang berada ditengah-tengah guru2 palsu, dimana salah satu cirinya adalah mengikuti jalan Bileam (melayani untuk upah).

Kedua, umat pilihanNya berseru meminta agar Tuhan menghakimi. Apakah ini membuktikan bahwa umat pilihanNya memiliki ‘rasa dendam’ didalam batinnya? Baiklah kita lihat makna penghakiman dalam Yesaya 26:9, demikian, “… sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”. Jadi, umat pilihanNya meminta penghakiman Tuhan agar orang2 belajar apa yang benar. Justru karena umat pilihanNya mencintai kebenaran, maka mereka berseru meminta penghakiman Tuhan. Sebab, hanya penghakiman Tuhan yang dapat mengungkapkan kebenaran.

Ketiga, ditegaskan dalam ayat diatas bahwa umat pilihanNya harus ‘beristirahat sedikit waktu lagi’. Ada waktu Tuhan untuk menghakimi bumi, dan dalam konteks gereja, tentu termasuk menghakimi guru2 palsu yang ada ditengah-tengah umat Tuhan, yang mengikuti jalan Bileam. Kapan Tuhan datang menghakimi bumi? Dalam II Timotius 4:8, Paulus menegaskan bahwa Tuhan akan datang sebagai hakim yang adil pada hariNya, yaitu pada waktu kedatanganNya (biasa disebut kedatangan Tuhan “kedua kali”). Bahkan diayat ini Paulus menyatakan bahwa Tuhan akan memberikan ‘mahkota kebenaran’ kepada mereka yang merindukan kedatangan Tuhan Yesus sebagai hakim yang adil.  

Jadi, makna pembukaan materai kelima adalah suatu karakter Kristus yang terus bertumbuh didalam batin umat pilihanNya yang semakin mencintai kebenaran, dan merindukan kedatangan Tuhan sebagai hakim yang adil.

Saat ini kita akan melihat makna pembukaan materai keenam, yang tentunya berkaitan dengan kerajaan sorga. Wahyu 6:12-17, menyatakan, “… membuka materai keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam…bulan menjadi merah…Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi… Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu…”.

Pembukaan materai keenam ini berkaitan dengan murka Anak Domba yang menyebabkan terjadinya gempa bumi (kegoncangan) yang dahsyat, bahkan sampai bintang-bintang dilangit berjatuhan kebumi. Jika kita menafsirkannya secara harfiah, maka sudah pasti bumi dan semua makhluk diatasnya hancur binasa. Tetapi, pasal-pasal selanjutnya dalam kitab Wahyu menegaskan bahwa bumi masih tetap ada. Jadi, kegoncangan yang dahsyat di alam semesta ini tidak dapat ditafsirkan secara harfiah.

Kalau demikian, bagaimana kita memahami kegoncangan yang dahsyat di alam semesta ini. Telah kita tegaskan bahwa penggenapan kitab Wahyu ini terjadi didalam batin umat pilihanNya. Kita harus paham bahwa didalam kitab Wahyu, segala sesuatu yang lama “dihancurkan” agar datang segala sesuatu yang baru. Tuhan sendiri menyatakan bahwa, “…Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru…” (Wahyu 21:5). Karenanya, bumi yang lama ini “dihancurkan” agar bergerak menuju bumi yang baru, dan tentu langit yang baru juga. “Langit dan bumi” dalam diri kitalah yang dihancurkan agar kita menjadi ”langit dan bumi baru”. II Korintus 5:17, menegaskan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”. Segala yang kita andalkan dalam diri kita, “matahari2” kita, “bintang2” kita, dan yang lainnya hancur, sehingga kita berkata, bagiku hidup adalah Kristus. Inilah penggenapan materai keenam dalam batin kita.

Tetapi, penggenapan materai keenam juga terkait dengan gereja, sebagai mempelai Kristus. Bagaimana penggenapannya? Dapat kita katakan bahwa kegoncangan yang terjadi ini sebagai ‘akhir dunia’. Tetapi, ‘dunia’ dalam tulisan2 Yohanes tidaklah seperti ‘dunia’ yang umumnya dipahami. Mari kita bahas sedikit mengenai istilah ‘dunia’ (KOSMOS) dalam tulisan rasul Yohanes agar kita dapat memahami kehancuran dunia pada pembukaan materai keenam. Istilah ‘Kosmos’ dalam PB muncul sebanyak 186 kali, dimana 78 kali ada didalam Injil Yohanes dan 24 kali dalam surat2nya, sehingga lebih dari separuhnya muncul didalam tulisan2 Rasul Yohanes. Istilah ‘kosmos’ ini diterjemahkan dengan istilah ‘Dunia’ dalam berbagai versi Bahasa Indonesia.

Seringnya istilah ini muncul dalam tulisan2 rasul Yohanes tentu memiliki makna khusus dalam teologi Yohanes. Telah kita ketahui bahwa makna suatu istilah ditentukan oleh bagaimana istilah itu digunakan dalam suatu kalimat. Jika istilah ‘Dunia’ muncul dalam Yohanes 3:16 yang berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (LAI), tentu kita paham bahwa makna istilah ‘Dunia’ disini adalah semua manusia di muka bumi ini. Tetapi jika istilah ‘dunia’ ini muncul dalam I Yohanes 2:15 yang berkata, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada didalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada didalam orang itu”, maka tentu makna ‘Dunia” disini bukanlah semua manusia dibumi ini. Dunia disini adalah suatu sistem, dimana nilai2 yang berlaku didalamnya bertentangan dengan nilai2 Tuhan, dan juga nilai2 kerajaan sorga.

Mari kita melihat Yohanes 15:18-25. Perikop ini didalam versi LAI diberi judul ‘Dunia membenci Yesus dan murid2Nya’. Kalau kita baca seluruh perikop ini, maka kita dapat mengetahui siapa yang dimaksud ‘Dunia’ disini. Ayat 25 dalam perikop ini berkata, “Tetapi firman yang ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi: mereka membenci Aku tanpa alasan”. Jelas bahwa ‘Dunia’ disini adalah sistem keagamaan Yahudi atau Yudaisme, yaitu ajaran agama Yahudi dengan kitab Taurat mereka. Merekalah yang membunuh Yesus dan membenci serta menganiaya pengikut2 Yesus. Kalau kita perhatikan Yohanes 12:31, “Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan keluar”. Juga Wahyu 12:9, “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah…”. Maka, dapatlah kita ketahui bahwa iblis adalah penguasa dunia, dalam arti sistem keagamaan, dan iblis juga yang menyesatkan dunia keagamaan.

Bagi orang yang dapat melihat, maka ia akan tahu bahwa gereja mula-mula telah jatuh menjadi sistem keagamaan, yang disebut dunia kekristenan. Penggenapan dari pembukaan materai keenam adalah hancurnya dunia kekristenan, dan diganti dengan sistem yang baru. Didalam kitab Wahyu, sistem (ordo) yang baru ini adalah ordo kerajaan sorga dimana umat pilihanNya berfungsi sebagai raja2 dan imam2 yang akan memerintah dibumi.

Kita masih melanjutkan sedikit lagi pembahasan kita mengenai pembukaan materai keenam. Wahyu 6:12-17, menyatakan, “… membuka materai keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam…bulan menjadi merah…Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi… Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu…sebab sudah tiba hari besar murka…”.

Kita akan berbicara mengenai ‘murka Anak Domba’. istilah Yunani ‘orge’ yang diterjemahkan ‘murka’, juga dapat berarti ‘passion’, yaitu ‘a very strong feeling of love’ (perasaan kasih yang kuat). Jadi, makna ‘murka’ disini bukanlah kemarahan yang menghancurkan, tetapi suatu kemarahan yang justru disebabkan perasaan kasih yang kuat. Ini bukanlah ‘murka’ seekor singa, sebagaimana Yesus juga digambarkan sebagai ‘singa dari suku Yehuda’. Ini adalah ‘murka’ ANAK DOMBA. Kita tahu bahwa domba bukanlah hewan yang suka menyerang dan melukai musuhnya. Karenanya, makna ‘murka’ Anak Domba dikitab Wahyu ini sesuai dengan penjelasan mengenai kuda putih yang ‘menghakimi dan berperang dengan adil’ (Wahyu 6:2; 19:11).

Banyak orang menggambarkan Yesus hanya dari satu sisi saja, yaitu sebagai Anak Domba yang dikorbankan dan menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). Tetapi melupakan sisi lainnya, yaitu murkaNya yang akan terjadi pada HARI BESAR seperti ditegaskan pada ayat kita diatas. Saat ini Yesus sudah ‘berperang dan menghakimi’ didalam batin umat pilihanNya, tetapi pada saatNya, Ia akan berperang dan menghakimi SEGALA BANGSA BERSAMA UMAT PILIHANNYA, seperti ditegaskan dalam Wahyu 19:11-16. Yang tetap harus kita ingat adalah makna ‘menghakimi’, yaitu supaya penduduk dunia belajar apa yang benar (Yesaya 26:9).

Alkitab menegaskan kedatangan Yesus yang pertama sebagai Anak Domba Elohim yang dikorbankan dan menghapus dosa dunia. Tetapi, pada kedatanganNya yang berikut (biasa disebut “kedatanganNya kedua kali”), Dia datang sebagai hakim yang adil (II Timotius 4:8). Dan yang pertama-tama dihakimi adalah umat Tuhan atau dunia kekristenan (I Petrus 4:17). Jadi, jika kita terapkan pembukaan materai keenam ini kedalam dunia kekristenan yang telah ada selama 20 abad ini, maka pada kedatanganNya “yang kedua”, dunia kekristenan akan dihakimi serta berakhir, dan diganti dengan sistem baru/ordo baru, yaitu ordo kerajaan, dimana umat pilihanNya akan berfungsi sebagai raja2 dan imam2 dimuka bumi ini.

Kita masuk kepada Wahyu pasal 7, dimana versi LAI membaginya menjadi 2 perikop, dan memberi judul berturut-turut sebagai berikut: Pertama, ‘Orang-orang yang dimeteraikan dari bangsa Israel’, dan kedua, ‘Orang banyak yang tidak terhitung banyaknya’. Banyak penafsir menganggap pasal 7 sebagai sisipan, karena pembukaan materai 6 (selesai di Wahyu pasal 6), dan pembukaan materai 7 (langsung di Wahyu pasal 8), sehingga pasal 7 dipandang sebagai sisipan. Sebenarnya tidak demikian, sebab kitab Wahyu mewahyukan kepada kita pribadi Yesus Kristus dan gerejaNya secara progresif (berkemajuan). Jadi, secara garis besar, kitab Wahyu mewahyukan kepada kita mengenai suatu “perjalanan” (proses berkemajuan) dari ‘gereja menuju kerajaan’, atau dari ‘kaki dian (simbol gereja) menuju takhta (simbol kerajaan)’, seperti telah kita tegaskan diawal tulisan ini. Karenanya, pasal 7 adalah HASIL atau AKIBAT dari proses pembukaan materai 1 sampai 6.

Ada 2 hasil/akibat dari proses pembukaan 6 materai yang sudah kita bahas secara ringkas, yaitu, pertama, orang2 yang dimeteraikan dari bangsa Israel, dan kedua, orang banyak yang tak terhitung banyaknya. Saat ini kita akan membahas mengenai orang2 yang dimeteraikan dari bangsa Israel.

Orang-orang yang dimeteraikan dan berjumlah 144 000 itu adalah ‘buah sulung’ (Wahyu 14:1,4). Wahyu 14:4, menjelaskan siapa mereka, “…Mereka ini sudah ditebus dari antara MANUSIA (ANTHROPOS), sebagai buah sulung di hadapan Elohim dan Anak Domba” (ILT). Jadi, ke-144 000 orang ini bukan bangsa Israel saja, tetapi gereja pemenang yang dipilih dari antara manusia. Yakobus 1:18, menegaskan, “yang telah menentukan, agar kita menjadi suatu buah sulung dari ciptaanNya… (ILT). Demikian juga Galatia 3:7, menyatakan, “… mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham”. Karenanya, ke-144 000 bangsa Israel yang dimeteraikan adalah simbol dari GEREJA PEMENANG (sebagai buah sulung), yang tidak saja berasal dari bangsa Israel secara jasmani, tetapi juga dari bangsa2 lain.

Mari kita perhatikan urutan suku-suku Israel yang dimeteraikan (Wahyu 7:5-8). Kita lihat urutan pertama yang disebut adalah suku Yehuda, walaupun Yehuda bukanlah anak Yakub yang sulung. Penjelasannya demikian. Sesungguhnya ‘Israel’ itu bukan “nama pribadi” dari Yakub. Israel, yang berarti ‘PANGERAN ELOHIM, adalah nama yang diberikan Elohim kepadanya, setelah ia bergumul dan “menang” melawan Elohim (Kejadian 32:28). Jadi, Israel tidaklah berarti hanya Yakub saja, tetapi siapa2 yang telah bergumul dengan Elohim dan “menang”, akan mendapat “nama” Israel juga. Sesungguhnya, ke-144 000 orang ini (gereja pemenang) adalah ISRAEL juga, yaitu Pengeran Elohim.

Yehuda disebut yang pertama, karena Yesus berasal dari suku Yehuda, dan Yesus adalah yang pertama bergumul dan “menang”, sehingga suku Yehuda disebut yang pertama. Kita langsung masuk kepada suku terakhir yang disebut, yaitu suku Benyamin (Wahyu 7:8). Yakub memberi nama Benyamin kepada anaknya ini yang berarti ‘the son of the right hand’ (Anak Tangan Kanan). Maksudnya, gereja pemenang ini seperti Anak laki-laki yang, “…dibawa kepada Elohim dan takhtaNya” (Wahyu 12:5, ILT). Karenanya, gereja pemenang dimulai dari Yesus, sebagai yang pertama menang, kemudian akan berakhir di takhta Elohim. Demikianlah makna 144 000 bangsa Israel yang dimeteraikan dan karakteristiknya.  

Kita lanjutkan pembahasan Wahyu pasal 7, dimana versi LAI membaginya menjadi 2 perikop, dan memberi judul berturut-turut sebagai berikut: Pertama, ‘Orang-orang yang dimeteraikan dari bangsa Israel’, dan kedua, ‘Orang banyak yang tidak terhitung banyaknya’. Telah kita bahas ‘Orang-orang yang dimeteraikan dari bangsa Israel’, bahwa mereka adalah ‘buah sulung’ atau gereja pemenang.

Saat ini kita akan mengidentifikasi siapakah ‘orang banyak’ dalam pasal 7 ini. Perhatikan Wahyu 7:14, demikian, “… Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba”. Orang banyak ini adalah orang2 yang keluar dari kesusahan besar, dan telah mencuci jubah mereka sehingga menjadi putih. Ungkapan ‘kesusahan (THLIPSIS) besar (MEGAS)’ hanya muncul 2 x didalam kitab Wahyu, dan semuanya terkait dengan orang2 kudus. Wahyu 2:22, yang terkait dengan gereja di Laodikia, tertulis demikian, “…mereka yang berbuat zinah dengan dia (WANITA IZEBEL) akan Kulemparkan ke dalam kesukaran (THLIPSIS) besar (MEGAS), jika mereka tidak bertobat…”. Kitab Wahyu menjelaskan sendiri siapa ‘orang banyak’ ini, yaitu para pengikut ‘Izebel’, yang melalui ‘kesusahan besar’, dan karenanya bertobat serta membasuh jubah mereka menjadi putih. 

Siapakah Izebel ini, yang mempunyai para pengikut? Kita harus ingat bahwa Izebel dalam I Raja-Raja 16:31, adalah wanita SEJARAH yang merupakan isteri raja Ahab. Tetapi, Izebel dalam kitab Wahyu adalah suatu SIMBOL yang terkait dengan gereja. Apakah makna SIMBOL Izebel ini? Perhatikan kasus kebun anggur Nabot (I Raja-Raja 21:1-16). Disini jelas terlihat Izebel adalah seorang yang ‘merampas otoritas’ raja Ahab dengan menulis surat atas nama Ahab dan memeteraikannya dengan meterai raja (ayat 8). Dan, karena Izebel ini diterapkan kepada gereja, maka “Izebel-Izebel” yang merupakan SIMBOL adalah orang2 dalam gereja yang menpunyai pengikut, serta MERAMPAS OTORITAS YESUS SEBAGAI “SUAMI” GEREJA. Jadi, “Izebel” dalam gereja tidak harus perempuan, tetapi karena ia mempunyai pengikut, maka “Izebel-Izebel” ini adalah para pemimpin gereja (baik laki2 maupun perempuan) YANG MERAMPAS OTORITAS YESUS.

Bagaimana caranya para “Izebel” ini merampas otoritas Yesus? Perhatikan perkataan Yesus dalam Matius 23:1-12. Disini Yesus berbicara kepada dua kelompok orang (ayat 1), yaitu para ahli Taurat dan orang Farisi, serta para muridNya. Ayat 1-7, Yesus berbicara kepada kelompok pertama, yaitu agar orang banyak (bangsa Israel) jangan memberontak kepada para pemimpin mereka (ahli Taurat dan Farisi), karena mereka mempunyai “Kursi Musa” (otoritas). Tetapi, mulai ayat 8 sampai ayat 12, Yesus berbicara kepada murid2Nya. DitegaskanNya, bahwa jangan kamu (murid2Nya) disebut pemimpin, rabi, dan bapa, sebab kalian semua (murid2Nya) adalah saudara. Apa maksud perkataan Yesus disini? Sesuai konteksnya, yaitu konteks “kursi Musa”, maka artinya, diantara murid2 Yesus tidak boleh ada “kursi Musa” (Otoritas yang satu kepada yang lainnya). Semua anggota gereja adalah saudara. OTORITAS GEREJA MUTLAK DITANGAN YESUS. Yesus tidak pernah mendelegasikan otoritasNya kepada para pemimpin. Otoritas terdelegasi (delegated authority) hanya berlaku didalam sistem pemerintahan manusia. Gereja adalah organisme, dan yang berotoritas dalam organisme adalah hayat organisme itu, yaitu Yesus sebagai hayat (zoe) gereja (I am the zoe).

Tetapi, kita tahu bahwa kemudian karena serangan serigala ganas, beberapa pemimpin gereja menarik murid2 supaya mengikuti mereka (Kis. 20:28-30). Seharusnya, mereka hanya boleh memperlengkapi murid2 saja, dan tidak boleh menarik murid2 kepada diri mereka sendiri (Ef. 4:11-12). Perilaku menarik murid2 ini sama dengan perilaku Izebel yang merampas otoritas raja Ahab. Karenanya, para “Izebel” dalam gereja adalah para pemimpin yang menyebabkan gereja pecah menjadi puluhan ribu denominasi. Para pemimpin ini memiliki “kursi Musa” (otoritas manusiawi) atas murid2 Yesus yang ditariknya. Tiap denominasi/aliran mempunyai para pemimpin dan pengikutnya sendiri. Inilah ‘orang banyak’ yang disebut dalam Wahyu 7:9-17.

Kita masih melanjutkan sedikit lagi pembahasan Wahyu pasal 7, mengenai kelompok kedua, yaitu, ‘Orang banyak yang tidak terhitung banyaknya’. Telah kita tegaskan bahwa ‘orang banyak’ ini adalah para pengikut “Izebel” dalam gereja, dan tentu para “Izebel” juga, yang dilemparkan Tuhan kedalam ‘kesukaran besar’ (Wahyu 2:22). Tetapi, setelah melalui ‘kesukaran besar’, mereka, “…mencuci jubah mereka dan membuatnya putih didalam darah Anak Domba” (Wahyu 7:14).

Telah kita lihat juga siapa para “Izebel” dalam gereja ini, yaitu para pemimpin yang merampas otoritas Yesus atas gereja dengan menarik murid2 kepada diri mereka sendiri. Para “Izebel” ini memiliki otoritas yang tidak sah atau melanggar hukum (illegal authority) atas murid2 Tuhan. Karenanya, Tuhan menghakimi mereka. Kapan Tuhan menghakimi (atau lebih tepat ‘berterus terang’) kepada para “Izebel” dan pengikutnya ini? Mari kita perhatikan Matius 7:21-23, demikian, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam kerajaan sorga…Pada hari terakhir… Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka… kamu sekalian pembuat kejahatan”. Ungkapan PEMBUAT KEJAHATAN berasal dari istilah Yunani, ANOMIA yang artinya pelanggaran hukum atau ‘lawlessness’. Hukum apa yang dilanggar oleh mereka yang menyebut Yesus sebagai Tuhan ini? Tentu saja hukum kerajaan sorga, karenanya mereka tidak masuk kedalam kerajaan sorga. Tetapi, Yesus berterus terang menyatakan ini PADA HARI TERAKHIR, yaitu pada waktu kedatanganNya (biasa disebut kedatangan “kedua”).

Yesus akan datang “kedua kali” sebagai hakim yang adil, dan yang pertama-tama dihakimi adalah umat Tuhan (I Petrus 4:17). Didalam dunia kekristenan kebenaran seperti ini “tersembunyi”. Mengapa demikian? Selain memang Yesus akan berterus terang nanti pada waktu kedatanganNya, tetapi juga sudah biasa disampaikan oleh para “Izebel” ini bahwa ‘menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, pasti masuk sorga’. Tentu saja pada akhirnya, pasti masuk kerajaan sorga, tetapi perlu mengalami ‘banyak sengsara’ seperti ditegaskan Paulus dalam Kis. 14:22. Itu sebabnya, pada hari penghakiman, Tuhan melemparkan mereka kedalam ‘kesusahan besar’, dengan maksud agar mereka mencuci jubah mereka dengan darah Anak Domba sehingga menjadi putih.

Satu hal lagi yang perlu kita pahami terkait dengan ‘orang banyak’ ini, yaitu para “Izebel” dan pengikutnya. Tuhan menegaskan kepada ‘orang banyak’ ini bahwa, “…Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya” (Wahyu 2:23). Pada ayat ini kita lihat bahwa penilaian Tuhan terutama kepada batin dan hati orang. Bukan Tuhan tidak melihat perbuatan orang, tetapi perbuatan orang akan Tuhan lihat dari batinnya dan hatinya.

Ditegaskan diatas bahwa ‘orang banyak’ ini mencuci jubah mereka sehingga menjadi putih melalui ‘kesusahan besar’ yang mereka alami. “Jubah putih” dalam kitab Wahyu melambangkan ‘perbuatan2 yang benar dari orang2 kudus’ (Wahyu 19:8). Jadi, batin dan hati ‘orang banyak’ ini diproses melalui kesusahan besar, sehingga perbuatan mereka menjadi benar dihadapan Tuhan.

Hanya Tuhan yang mengetahui siapa2 yang termasuk kategori ‘orang banyak’ (para “Izebel” dan pengikutnya) ini didalam dunia kekristenan. Mereka sudah dijamah oleh Roh Tuhan dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Bahkan kalau kita melihat Matius 7:21-23 diatas, mereka justru banyak berbuat mujizat, mengusir setan, dan bernubuat demi namaNya. Tetapi, sekali lagi, Tuhan melihat batin dan hati orang.

Kita masuk kepada pembukaan ‘materai ketujuh’ dari gulungan kitab yang termeterai (Wahyu 8:1). Telah kita ketahui bahwa kitab termeterai ini adalah kitab mengenai penebusan oleh Yesus Kristus. Ketika meterai terakhir (ke-7) dibuka oleh Anak Domba, sesungguhnya, misteri penebusan telah sempurna dan selesai, sebab angka 7 melambangkan kesempurnaan. Kita akan melihat kelak bahwa pasal2 selanjutnya didalam kitab Wahyu merupakan pewahyuan mengenai ‘kesempurnaan penebusan’ yang telah dikerjakan oleh Anak Domba.

Mari kita melihat Wahyu 8:1-3, demikian, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga… lalu aku melihat ketujuh malaikat… kepada mereka diberikan tujuh sangkakala. Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas dihadapan takhta itu”.

Ada beberapa kebenaran yang perlu kita perhatikan dari ayat2 diatas. Pertama, ketika materai ketujuh dibuka, maka sorga menjadi sunyi senyap seolah-olah sorga “berhenti beraktifitas”, dan semua penghuni sorga “berdiam diri” menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Hal ini disebabkan pembukaan materai ketujuh merupakan saat dimana misteri Elohim mengenai ‘kesempurnaan penebusan oleh Anak Domba’ telah dibukakan. 

Kedua, pembukaan materai ketujuh ADALAH pewahyuan dari ketujuh malaikat yang akan meniup sangkakalanya. Dan, ketika malaikat ketujuh meniup sangkakalanya, maka, “…rahasia Elohim harus digenapi sebagaimana Dia telah memberitakannya kepada para hambaNya sendiri, yaitu para nabi” (Wahyu 10:7, ILT). Apakah ‘rahasia Elohim’ yang harus digenapi? Wahyu 11:15, menyatakannya, “Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya… Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapiNya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya”. Terjemahan LAI menggunakan huruf besar ‘Dia’ yang sebenarnya harus menggunakan huruf kecil ‘dia yang diurapiNya’, yang menunjuk kepada gereja pemenang seperti akan kita lihat nanti. 

Ketiga, ada seorang ‘malaikat lain’ dalam Wahyu 8:1-3 diatas, dimana malaikat ini menjalankan fungsi keimaman. Kita akan membahasnya kelak, karena fungsi keimaman ini sangat penting untuk memahami ‘kesempurnaan penebusan oleh Anak Domba’.

Kita akan melihat di pasal2 selanjutnya dalam kitab Wahyu bagaimana ‘kesempurnaan penebusan oleh Anak Domba’ ini akan membuat bumi dan langit pertama bergerak menuju bumi dan langit baru. Semua manusia pada akhirnya diselamatkan. Tidak ada lagi maut yang merupakan upah dosa. Tetapi sangat disayangkan, pada umumnya, didalam dunia kekristenan kebenaran bahwa semua manusia pasti akan diselamatkan dicap sebagai ajaran sesat ‘universalisme’. Pandangan ini disebabkan tidak memahami PROSEDUR atau PROSES MENUJU pemulihan segala sesuatu, yang diwahyukan oleh pembukaan meterai ketujuh. Tetapi, bagi ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga akan sangat bersukacita karena DILIBATKAN DALAM PROSES MENUJU PEMULIHAN SEGALA SESUATU.

Kita teruskan pembahasan kita mengenai pembukaan meterai ketujuh yang tertulis dalam Wahyu 8:1-3, demikian, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga… lalu aku melihat ketujuh malaikat… kepada mereka diberikan tujuh sangkakala. Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas dihadapan takhta itu”.

Saat ini kita akan melihat seorang ‘malaikat lain’ dalam Wahyu 8:1-3 diatas, dimana malaikat ini menjalankan fungsi keimaman, dalam rangka ‘kesempurnaan penebusan oleh Anak Domba’. Simbol2 dalam pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ diatas tentu bersesuaian dengan pelayanan keimamatan Harun (PL). Mari kita lihat pelayanan keimaman Harun ini.

Apa yang dilakukan ‘malaikat lain’ ini tidak lain adalah suatu pelayanan dari Imam Besar. Mezbah dengan pedupaan emas diletakkan dalam ruang kudus (kemah Musa), tepat didepan tabut perjanjian di ruang maha kudus. Imam Besar akan masuk keruang Maha Kudus sekali setahun pada hari ke-10 bulan ke-7 untuk mengadakan penebusan untuk semua orang Israel. Imam Besar akan membawa pedupaan emas (wadah dimana kemenyan dibakar) dari ruang kudus kedalam ruang Maha Kudus serta meletakkannya dilantai, dan akan memercikkan darah korban sebanyak 7 kali kepada Tabut Perjanjian (mercy seat). Namun, ‘malaikat lain’ yang disebutkan diatas tidak hanya mempersembahkan banyak kemenyan, tetapi juga ditambahkan dengan ‘doa semua orang kudus’. Selanjutnya, ‘malaikat lain’ ini menaruh api kedalam pedupaan dan melemparkannya kebumi, sehingga meledaklah bunyi guruh, halilintar, dan gempa bumi (Wahyu 8:5). 

Siapakah yang disimbolkan oleh ‘malaikat lain’ ini? Tentu saja Tuhan Yesus Kristus sebagai Imam Besar. Tetapi, Yesus Kristus bukanlah Imam Besar menurut aturan Harun, melainkan Imam Besar menurut aturan Melkisedek. Saat ini kita tidak membahas perbedaan Imam Besar menurut aturan Harun (PL), dan Imam Besar menurut aturan Melkisedek (PB). Kitab Ibrani menjelaskannya secara rinci.

Yang akan kita bahas sekarang adalah tindakan ‘malaikat lain’ ini yang menaruh api kedalam pedupaan dan melemparkannya kebumi, sehingga meledaklah bunyi guruh, halilintar, dan gempa bumi (Wahyu 8:5). Tindakan ‘malaikat lain’ ini tentu bersifat simbolik. Kita akan menjelaskannya seperti ini. Tuhan Yesus itu memiliki banyak ‘gelar’. Pertama, Ia disebut Imam Besar, yang artinya Ia adalah Imam tertinggi DIANTARA IMAM-IMAM. Kedua, Yesus disebut Raja diatas segala raja, yang artinya Ia adalah Raja tertinggi DIANTARA RAJA-RAJA. Ketiga, Yesus juga disebut Juruselamat dunia, yang artinya Ia akan menyelamatkan seluruh dunia, sebab tidak layak Ia disebut Juruselamat dunia jika Ia tidak menyelamatkan dunia.

Perhatikan Lukas 12:49-50, dimana Yesus berkata ‘Aku datang untuk melemparkan api kebumi’, dan selanjutnya dikatakan Ia harus menerima baptisan. MaksudNya adalah Yesus akan “melemparkan” api Roh Kudus kebumi, setelah Ia mengalami baptisan, dalam arti mati, bangkit dan duduk disebelah kanan Bapa, sebagai Imam Besar dan Raja diatas segala raja. Yesus akan datang kebumi didalam Roh KudusNya sebagai Imam Besar DIDALAM DAN MELALUI IMAM-IMAM. Yesus juga akan datang kebumi dalam Roh KudusNya DIDALAM DAN MELALUI RAJA-RAJA. Untuk apa Yesus datang kebumi? Untuk menegakkan kerajaanNya dibumi sehingga bumi bergerak menuju bumi baru, dan langit baru juga.

Mari kita terapkan kebenaran Wahyu 8:1-5 kedalam dunia kekristenan sebelum kita menutup bagian ini. Dalam dunia kekristenan telah umum dipercaya bahwa Yesus akan datang kembali dan membawa umatNya kesuatu tempat yang menyenangkan nun jauh disana, yang disebut sorga. Tidak demikian saudaraku…. Sebagai Imam Besar dan Raja diatas segala raja, Yesus datang kebumi tidak untuk membawa “bayi2 rohani” kesorga. Ia akan datang kebumi didalam dan melalui umat pilihanNya, yang telah dibentuk menjadi ‘raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek’. Itu sebabnya ditegaskan dalam Wahyu 1:6; 5:10, bahwa umat pilihanNya dibentuk menjadi raja2 dan imam2 serta akan memerintah dibumi.

Kita masih membahas sedikit lagi mengenai pelayanan Imam Besar, yaitu Yesus, yang disimbolkan oleh ‘malaikat lain’ dalam Wahyu 8:1-3. Mari kita perhatikan ayat 3 dari Wahyu 8:1-3 ini, “…Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas dihadapan takhta itu “. Perhatikan tindakan simbolik ‘malaikat lain’ ini dimana ia tidak hanya mempersembahkan banyak kemenyan, tetapi juga dengan doa semua orang kudus. Apakah makna dari tindakan simbolik ‘malaikat lain’ ini?

Kita harus melihat beberapa ayat dalam PB terkait fungsi Yesus sebagai Imam Besar kita. Yohanes 17:9 menegaskan, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milik-Mu”. Doa yang dipanjatkan Yesus ini terjadi dimalam terakhir ketika Ia berkumpul bersama para muridNya, dan Yudas yang mengkhianati Dia, tidak bersamaNya lagi. Perhatikan bahwa Yesus berdoa hanya untuk murid2Nya, yaitu orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya. Disini Yesus tegas berkata bahwa Ia tidak berdoa untuk dunia. Siapakah ‘dunia’ yang dimaksud Yesus disini.

Kita harus memberi makna yang tepat kepada istilah ‘dunia’ sesuai konteksnya dalam tulisan2 rasul Yohanes. Jika istilah ‘dunia’ muncul dalam Yohanes 3:16, maka kita tahu bahwa dunia disini berarti semua manusia, yaitu semua orang yang dikasihi Bapa. Jika istilah ‘dunia’ muncul dalam I Yohanes 2:15-16, dimana kita dilarang mengasihi dunia, maka dunia yang dimaksud disini adalah sistem keagamaan. Perhatikan seluruh konteks percakapan Yesus dimalam terakhir bersama para muridNya. Ketika Yesus berkata bahwa dunia membenci Yesus dan murid2Nya, maka yang dimaksud adalah dunia keagamaan, yaitu Yudaisme yang memiliki kitab Taurat (Yohanes 15:25). Jadi, jika kita memperhatikan seluruh konteks percakapan Yesus dimalam terakhir, maka kita tahu bahwa istilah ‘dunia’ yang dimaksud Yesus dalam doaNya adalah dunia keagamaan, yaitu Yudaisme. Karenanya, kita tahu maksud Yesus dalam doaNya diatas bahwa Ia tidak berdoa untuk dunia, yaitu dunia keagamaan (Yudaisme), yang membunuhnya dan membenci murid2Nya.

Hal ini bukan berarti Yesus, sebagai Imam Besar, tidak akan menyelamatkan dunia keagamaan, atau dunia dalam arti semua manusia. Sebab dalam Yohanes 12:32, Yesus tegas berkata bahwa Ia akan menarik SEMUA ORANG datang kepadaNya. Tetapi bahwa, pekerjaan Elohim itu mempunyai tahap-tahapannya atau urut2annya sendiri, sesuai juga seperti yang tertulis dalam I Korintus 15:23-28. Jadi, pada akhirnya Yesus akan menyelamatkan seluruh dunia sebagaimana Ia diberi ‘gelar’ Juruselamat dunia.

Tetapi, dizaman ini, sebagai Imam Besar, Yesus hanya berdoa dan membentuk orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya. Sebagai Imam Besar menurut aturan Melkisedek, Yesus membentuk orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya agar menjadi imam2 juga menurut aturan Melkisedek. Demikianlah pada waktu kedatanganNya, Yesus dapat menjadi Imam Besar menurut aturan Melkisedek diantara para imam, yaitu orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya.

Perhatikan doa Yesus selanjutnya dalam Yohanes 17:21, demikian, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, didalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga didalam Kita, SUPAYA DUNIA PERCAYA, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”. Ketika pada kedatanganNya, umat pilihanNya telah dibentuk menjadi imam2 dan raja2, dan Yesus telah menjadi Imam Besar menurut aturan Melkisedek diantara para imam, dan menjadi Raja diatas segala raja, maka tibalah urutan dimana seluruh dunia akan diselamatkan.

Jadi, tindakan simbolik ‘malaikat lain’ mempersembahkan kemenyan dan doa segala orang kudus (imam2 dan raja2) ini adalah mempersembahkan doa yang ‘harum’ kehadapan Bapa untuk penyelamatan dunia. Doa umat pilihanNya (raja2 dan imam2) dilibatkan dalam persembahan “kemenyan” yang berbau harum kehadapan Bapa, oleh Yesus Kristus sebagai Imam Besar.

Telah kita nyatakan bahwa pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ dalam Wahyu 8:3-5, merupakan simbol dari pelayanan Yesus sebagai Imam Besar. Tetapi, kita tahu, bahwa pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ ini menurut aturan Harun, sedangkan Yesus merupakan Imam Besar menurut aturan Melkisedek. Karenanya, saat ini kita akan membahas beberapa hal yang menjadi perbedaan dasar antara keimaman menurut aturan Harun dan keimaman menurut aturan Melkisedek.

Pertama, keimaman menurut aturan Harun terkait dengan suatu perjanjian, yaitu Perjanjian Lama. Perjanjian Lama adalah perjanjian antara Yahweh dengan bangsa Israel yang diperantarai oleh Musa. Berdasarkan Perjanjian Musa ini, tidak ada seorangpun yang boleh berfungsi sebagai imam kecuali bangsa Israel. Demikian juga pelayanan Harun dan keturunannya, haruslah dari suku Lewi, serta harus melayani di Bait Suci Yerusalem. Bahkan, Yesus sendiri tidak dapat menjadi Imam Besar menurut aturan Harun karena Yesus berasal dari suku Yehuda. Kedua, pelayanan Harun dan keturunannya haruslah sesuai Hukum yang berlaku, yaitu Hukum Taurat. Pelayanan keimaman ini bukanlah perkara remeh dihadapan Yahweh, sebab jika seorang Imam ‘mempersembahkan api yang asing’ (tidak sesuai aturan), maka dapat berakibat kematian seperti dalam kasus Nadab dan Abihu, anak2 Harun.

Ketiga, Ibrani 7:12, menegaskan, “Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula Hukum Taurat itu”. Teks asli tidak mengatakan ‘Hukum Taurat’ tetapi ‘Hukum’ saja. Artinya, Hukum atau aturan yang berlaku akan diganti/berubah, jika keimaman berubah. Karenanya, Hukum yang berlaku untuk keimaman Yesus bukanlah Hukum Taurat, melainkan Hukum Hayat (’zoe’). Ibrani 7:15-16, menegaskan bahwa keimaman menurut aturan Melkisedek, tidak menuruti Hukum Taurat, melainkan Hukum Hayat (hidup atau hayat yang tidak binasa).

Keempat, pelayanan Yesus sebagai Imam Besar adalah pelayanan dari seorang ‘perintis’ (Ibrani 6:20). Hal ini sangat berbeda dengan pelayanan Imam Besar menurut aturan Harun. Para imam, selain Imam Besar, menurut aturan Harun tidak boleh memasuki ruang Maha Kudus (simbol penyatuan dengan Yahweh, dan pelayanan pendamaian untuk seluruh bangsa), sebagaimana pelayanan Imam Besar sekali setahun. Tetapi, pelayanan Yesus sebagai Imam Besar akan membawa para imam aturan Melkisedek lainnya untuk ambil bagian dalam pelayanan ruang “Maha Kudus”.

Dari keempat hal diatas, kita dapat melihat betapa kacaunya pelayanan keimaman dalam dunia kekristenan. Pelayanan keimaman dalam dunia kekristenan, umumnya, tidak mengikuti Hukum Taurat, juga tidak mengikuti Hukum Hayat. Hal ini terjadi karena dua ajaran palsu Izebel dan Nikolaus (Wahyu 2-3). Para “Izebel” ini menarik murid2 Tuhan dan menaklukkannya dengan berbagai-bagai aturan. Aturan2 ini, barangkali, sebagian dari Hukum Taurat yang terkait uang, misalnya, persepuluhan, buah sulung dan yang lainnya. Atau, peraturan2 lain seperti penundukkan diri yang palsu (ajaran Nikolaus), ataupun aturan2 organisasi lainnya.

Dalam kondisi sedemikian, umat pilihanNya yang akan dibentuk menjadi imam2 menurut aturan Melkisedek, tentu tidak dapat berada didalam sistem keimaman yang campur baur seperti itu. Umat pilihanNya akan dibentuk Yesus menjadi imam2 menurut aturan Melkisedek diluar sistem kekristenan yang ada.

Kita masih berbicara pembukaan materai ke-7, dimana ketika meterai ini dibuka oleh Anak Domba, maka terdapat 7 malaikat dengan 7 sangkakala, dan juga ‘malaikat lain’ yang menjalankan pelayanan keimaman yang merupakan simbol dari pelayanan Yesus Kristus sebagai Imam Besar menurut aturan Melkisedek. Saat ini kita akan berbicara secara garis besar mengenai pelayanan 7 malaikat dengan 7 sangkakala.

Untuk memahami pelayanan 7 malaikat dengan 7 sangkakala ini, kita harus memahami dengan jelas bahwa pelayanan mereka ini ‘menjalankan’ pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ yang sudah kita bahas sebelumnya. Mari kita perhatikan secara khusus pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ ini dalam Wahyu 8:5, demikian, “Lalu malaikat itu mengambil  pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya kebumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi”. Dari ayat ini kita lihat bahwa pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ ini DIARAHKAN KEBUMI. Bumi menjadi fokus pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ ini.

Kita tahu bahwa ‘api’ yang dilemparkan kebumi ini merupakan simbol dari Roh Kristus yang bekerja dibumi. Ditegaskan bahwa setelah api dilemparkan kebumi, maka terdapat bunyi guruh, halilintar, dan gempa bumi. Tentu semua ini adalah simbol2 yang disebabkan pekerjaan Roh Kristus dibumi. Kita tidak perlu membahas dengan rinci mengenai simbol2 ini, juga kita tidak akan membahas dengan rinci simbol2 yang terjadi oleh pelayanan keimaman 7 malaikat dengan 7 sangkakala pada ayat2 dan pasal2 selanjutnya. Yang perlu kita pahami adalah bahwa simbol2 yang dinyatakan terjadi dibumi MERUPAKAN AKIBAT PELAYANAN KEIMAMAN DAN JUGA DOA-DOA ORANG KUDUS. Karenanya, kehancuran atau kerusakan atau apapun yang terjadi dibumi sesungguhnya merupakan pemulihan segala sesuatu sehingga BUMI YANG LAMA BERGERAK MENUJU BUMI YANG BARU.

Orang Kristen yang menafsirkan setiap kejadian dibumi yang disebabkan oleh pekerjaan ke-7 malaikat dengan 7 sangkakala ‘secara harfiah’, maka akan menganggap kitab Wahyu sungguh merupakan kitab yang mengerikan sekali. Kita tahu bahwa kitab Wahyu bukanlah kitab yang mengerikan seperti itu, tetapi kitab Wahyu merupakan kitab yang sangat positif dalam arti merupakan kitab pemulihan segala sesuatu. Melalui pelayanan keimaman 7 malaikat dengan 7 sangkakala, maka bumi lama bergerak menuju bumi baru. Sesungguhnya, bumi lama dan langit lama itu merupakan simbol dari manusia yang sudah jatuh dalam dosa, sebab manusia itu memiliki aspek “kebumian” (tubuh jasmani), dan juga aspek “langit” (roh manusia). Karenanya, kehancuran bumi dan langit lama merupakan pemulihan bagi seluruh manusia, sehingga manusia menjadi “langit dan bumi baru”. 

Saat ini mari kita langsung melihat apa yang terjadi ketika malaikat ke-7 akan meniup sangkakalanya. Wahyu 10:7, menegaskan, “Namun pada hari-hari suara malaikat yang ketujuh akan segera meniup sangkakalanya, maka rahasia Elohim harus digenapi sebagaimana Dia telah memberitakannya kepada para hambaNya sendiri, yaitu para nabi” (ILT). Kita tahu bahwa angka 7 merupakan simbol dari kesempurnaan (complete), sehingga ketika malaikat ke-7 ini meniup sangkakalanya, maka pelayanan keimaman dari 7 malaikat ini selesai/sempurna/complete. Ditegaskan dalam ayat ini bahwa ‘rahasia Elohim’ digenapi ketika malaikat ke-7 meniup sangkakalanya.

Saat ini, mari kita melihat beberapa simbol dalam pelayanan 7 malaikat dengan 7 sangkakala, pada pembukaan meterai ke-7 (Wahyu 8:1-2). Tentu kita tidak memahami seluruh simbol2 ini dengan rinci. Yang perlu kita ingat, seperti telah kita tegaskan sebelumnya, bahwa pelayanan 7 malaikat dengan 7 sangkakala ini merupakan ‘pelayanan pemulihan bumi’, sehingga bumi bergerak menuju bumi yang baru. Karenanya, kehancuran ‘bumi yang lama’ merupakan tindakan pemulihan agar datang ‘bumi yang baru’.

Mari kita mulai dengan sangkakala pertama, “Lalu malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah hujan es, dan api, bercampur darah; dan semuanya itu dilemparkan ke bumi; maka terbakarlah sepertiga dari bumi dan sepertiga dari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau” (Wahyu 8:7). Simbol “pohon” disini adalah ‘manusia terhormat’ sedangkan “rumput” merupakan manusia pada umumnya. Yesaya 40:6,8, menegaskan, “…semua manusia adalah rumput, dan semua kemuliaannya seperti bunga di padang… Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Elohim kita akan tegak untuk selamanya” (ILT). Jadi, pesan dari ‘sangkakala pertama’ adalah kehancuran dari kemuliaan manusia pasti terjadi. Tetapi, tidak sampai disini saja, karena Yesaya 40:5, menegaskan demikian, “Dan akan disingkapkan kemuliaan YAHWEH, dan semua manusia akan melihat bersama-sama…” (ILT). Karenanya, pesan dari ‘sangkakala pertama’ merupakan khabar baik bahwa pada akhirnya SEMUA MANUSIA akan melihat kehancuran kemuliaan manusiawi, dan melihat kemuliaan Elohim.

Kita tahu bahwa akibat dosa, semua manusia kehilangan/kekurangan kemuliaan Tuhan (Roma 3:23). Ketika Adam dan Hawa berbuat dosa, mereka langsung kehilangan kemuliaan Tuhan, dan akibatnya mereka merasa malu dengan kondisinya yang ‘telanjang’. Sebenarnya, ketelanjangan mereka tidak menimbulkan rasa malu sepanjang mereka dipenuhi kemuliaan Tuhan. Tetapi, ketika dosa masuk dan kemuliaan Tuhan hilang, maka mereka merasa malu. Sayangnya, Adam dan Hawa mencoba menutupi rasa malunya dengan usaha sendiri, yaitu membuat cawat dari daun pohon ara (Kejadian 3:7). Tuhan tidak berkenan dengan cara ini, dan kemudian membuat pakaian dari kulit binatang untuk menusia. Kulit binatang ini adalah simbol dari Kristus yang sudah dikorbankan, dan menjadi kemuliaan Elohim bagi mereka yang mengenakanNya.

Tindakan Adam dan Hawa membuat cawat untuk menutupi rasa malunya, sesungguhnya merupakan tindakan semua manusia keturunannya juga. Bahkan, kejatuhan dunia kekristenan, sesungguhnya adalah menukar kemuliaan Tuhan dengan kemuliaan manusia. Dalam dunia kekristenan, pada umumnya, baik uang, jabatan, dan perkenan manusia sudah menjadi ‘kemuliaan’ bagi para “pelayan Tuhan”. Hal ini merupakan fakta dalam dunia kekristenan walaupun barangkali tidak dinyatakan secara terbuka. Para “pelayan” Tuhan yang berhasil menarik murid2 kepada dirinya sendiri, menarik uang murid2 dengan berbagai ajaran, serta membangun gedung2 (baca:membangun kerajaan sendiri) sudah merupakan ukuran kesuksesan dalam pelayanan. Persoalannya, perbuatan seperti ini tidak pernah dilakukan oleh para rasul dan murid2 Tuhan dalam gereja mula-mula.  Umat pilihanNya tentu tidak mencari kemuliaan manusia, sebab kemuliaannya adalah Kristus dalam batin. Christ in you, the hope of glory.

Mari kita kembali kepada pesan dari malaikat pertama ini. Pada waktuNya, kemuliaan manusia akan runtuh, dan kemuliaan Elohim akan ditegakkan. Bumi yang penuh dengan kemuliaan manusia akan dipulihkan menjadi bumi baru yang dipenuhi kemuliaan Tuhan. Pesan ‘malaikat pertama’ ini merupakan khabar baik bagi umat pilihanNya yang mencari kemuliaan Tuhan, tetapi tentu “khabar buruk” bagi orang2 yang mencari kemuliaan manusiawi.

Mari kita lanjutkan dengan ‘sangkakala kedua’, demikian, “Lalu malaikat yang kedua meniup sangkakalanya dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api, dilemparkan kedalam laut. Dan sepertiga dari laut itu menjadi darah, dan matilah sepertiga dari segala makhluk yang bernyawa di dalam laut dan binasalah sepertiga dari semua kapal” (Wahyu 8:8-9).

Didalam PL, gunung2 berbicara mengenai kerajaan2 manusia. Pemazmur pernah berkata, “Aku melayangkan mataku kegunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN…” (Mazmur 121:1-2). Disini pemazmur sedang mencari pertolongan, dan ia melihat kegunung-gunung, yaitu simbol dari kerajaan2 manusia yang dibangun dengan segala kekuatan, kepintaran, dan kepemimpinan manusiawi. Tetapi pada akhirnya ia menegaskan bahwa pertolongannya ialah dari Tuhan. Kerajaan Tuhan didalam PL sering disebut sebagai gunung batu. 

Didalam pesan dari sangkakala kedua disebutkan bahwa ada gunung besar yang menyala-nyala oleh api dan dilemparkan kedalam laut, tentu yang dimaksud adalah lautan manusia. Gunung besar yang menyala-nyala oleh api adalah kerajaan Tuhan. Hal ini ditegaskan dalam mimpi Nebukadnezar yang ditafsirkan nabi Daniel demikian, bahwa batu yang menimpa dan menghancurkan kerajaan2 manusia, akan menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi (Daniel 2:34-35). Gunung besar disini adalah kerajaan Tuhan yang akan memenuhi seluruh bumi.

Akibat dari ditegakkannya kerajaan Tuhan ini, maka, dinyatakan bahwa sepertiga dari segala makhluk dan kapal2 binasa. Kapal2 berbicara mengenai sistem perdagangan yang terorganisir. Puji Tuhan bahwa ada saatnya ketika kedatangan kerajaan Tuhan dibumi, maka sistem perdagangan manusiawi akan dihancurkan dan diganti dengan “sistem ekonomi Kerajaan Tuhan” (Kingdom Economics).

Ada satu hal yang perlu kita perhatikan mengenai sistem perdagangan didunia ini. Didalam dunia, secara umum, manusia menjual jasa atau barang untuk mendapatkan keuntungan (uang), dan hal ini memang dibenarkan. Masalahnya, didalam Bait Suci (gereja), sistem perdagangan dunia juga telah masuk kedalam pelayanan. Ketika Yesus masuk kedalam Bait Suci Yudaisme, Ia mengusir “para pedagang” yang menjual hewan2 korban dan jasa pelayanan untuk mendapatkan keuntungan. “Para pedagang” Bait Suci ini tentulah para pemimpin, yaitu Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin).

Kita tahu bahwa salah satu kejatuhan gereja menjadi dunia (kosmos=sistem) kekristenan adalah ajaran Bileam. Bileam ini adalah seorang nabi yang memperdagangkan nubuatnya. Didalam dunia kekristenan, pada umumnya, para “pelayan Tuhan” juga memperdagangkan “perkara2 rohani”, seperti karunia2 Roh Kudus, pengetahuan firman, kemampuan2 berkhotbah, barang2 “rohani”, dan lain sebagainya. Tetapi, sistem perdagangan ini telah dibenarkan dalam dunia kekristenan karena “Bileam” telah menjadi AJARAN, dan bukan hanya PRAKTEK yang dilakukan oleh beberapa orang saja.

Tetapi harus kita tegaskan disini bahwa perdagangan dalam Bait Suci hanya dapat dilihat oleh Yesus. Sebelum Yesus datang kedalam Bait Suci, tidak ada orang yang mempermasalahkannya. “Para pedagang” dalam dunia kekristenan tidak pernah mempersoalkan hal ini, bukan karena mereka tidak berdagang dalam pelayanannya, tetapi karena mereka tidak melihat sebagaimana Yesus melihat. Tetapi, umat pilihanNya mendapat kasih karunia untuk melihat dan menjauhi hal ini.

Kita teruskan dengan ‘sangkakala ketiga’ demikian, “Lalu malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar, menyala-nyala seperti obor, dan ia menimpa sepertiga dari sungai-sungai dan mata-mata air. Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit” (Wahyu 8:10-11).

Mari kita melihat beberapa ayat dari tulisan Yohanes untuk memahami apa makna dari simbol ‘sungai-sungai’ ini. Yohanes 7:38, menegaskan, “Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup”. Yang dimaksud ayat ini adalah ‘sungai-sungai’ yang keluar dari batin seseorang akan mengalirkan air yang menghidupkan. Kalau kita bandingkan hal ini dengan apa yang ditegaskan rasul Yohanes dalam I Yohanes 2:27, demikian, “sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain…”. Maka dapat kita simpulkan bahwa makna dari simbol ‘sungai-sungai’ ini berbicara soal ajaran2. 

Karena kitab Wahyu adalah kitab pewahyuan Yesus Kristus dan merupakan suatu pemulihan, maka pesan yang disampaikan oleh ‘sangkakala ketiga’ ini merupakan suatu pemulihan dari ajaran2 palsu dibumi ini, tentu secara khusus yang menyerang gereja. Bagaimana pemulihan ini terjadi? Ditegaskan bahwa ada bintang bernama Apsintus yang membuat air menjadi ‘pahit’ dan mematikan banyak orang. Mematikan banyak orang dibumi berarti menghancurkan “bumi lama” atau menghancurkan ajaran2 palsu sedemikian sehingga menghadirkan “bumi baru”, dimana, “…bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut” (Habakuk 2:14). Demikianlah pesan pemulihan dari ‘sangkakala ketiga’.

Baiklah kita berbicara mengenai ajaran2 dalam gereja mula-mula. Gereja mula-mula bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (Kis. 2:42). Tetapi hal ini bukan berarti tidak ada ajaran2 palsu dalam gereja mula-mula. Baik Petrus, Paulus, maupun Yohanes sudah berbicara dan menghadapi ajaran2 palsu yang diajarkan oleh guru2 palsu. Paulus juga sudah memperingati datangnya serangan “serigala ganas” yang membuat beberapa pemimpin gereja menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri dengan ajaran palsu (Kis. 20:28-30).

Kita tahu bahwa gereja mula-mula bergerak dan menjadi dunia kekristenan seperti yang kita lihat sekarang adalah karena ajaran2 palsu. Kitab Wahyu pasal 2 dan 3 sudah menjelaskan kepada kita mengenai ajaran palsu Izebel, Bileam dan Nikolaus, dan kita tidak membahasnya sekarang. Saat ini kita akan perhatikan satu istilah yang muncul dalam pesan sangkakala ketiga, yaitu ‘pahit’. Rasa ‘pahit’ inilah sebenarnya yang memulihkan bumi, dan juga gereja dari ajaran2 palsu.

Ajaran palsu itu memang “manis”, dan orang banyak tentu menyukainya. Surat Yudas menegaskan ciri guru2 palsu, yaitu menyelewengkan kasih karunia Tuhan kearah rangsangan badani atau perkara2 jasmani (ayat 4). Guru palsu dalam dunia kekristenan itu umumnya akan membuat pesan2 yang “manis” dengan mengarahkan kasih karunia Tuhan kepada perkara2 jasmani. Orang banyak umumnya, baik dizaman Yesus, maupun dalam dunia kekristenan, tentu mencari “roti” (Yohanes 6:25-66). Bukan berarti guru2 palsu tidak memberitakan “roti hidup”, tetapi tekanannya digeser kepada “roti jasmani”, sehingga menimbulkan rasa “manis” yang disukai orang banyak.

Kita teruskan dengan ‘sangkakala keempat’, demikian, “Lalu malaikat yang keempat meniup sangkakalanya dan terpukullah sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan dan sepertiga dari bintang-bintang, sehingga sepertiga dari padanya menjadi gelap dan sepertiga dari siang hari tidak terang dan demikian juga malam hari” (Wahyu 8:12).

Apakah makna dari simbol matahari, bulan dan bintang2 pada ayat kita diatas? Ketika Yesus berbicara perihal kedatanganNya, maka Ia berkata, “…matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang” (Matius 24:29). Didalam Kejadian 1:14, ketika Elohim menciptakan matahari, bulan dan bintang2, ditegaskan, “…semuanya itu menjadi penerang pada cakrawala di langit untuk memberi penerangan di atas bumi…” (ILT). Langit memberi penerangan bagi bumi. Langit juga memiliki kuasa atas bumi. Matahari, bulan, dan bintang2 merupakan benda2 yang memiliki kuasa untuk memberi penerangan atas bumi. Karenanya, matahari, bulan, dan bintang2 berbicara mengenai kepemimpinan Langit atas Bumi.

Tetapi ditegaskan oleh Yesus bahwa ketika kedatanganNya, maka kepemimpinan “yang lama” akan goncang dan diganti dengan “yang baru”. Pesan dari ‘sangkakala keempat’ ini merupakan suatu pemulihan/pergantian kepemimpinan, dimana kepemimpinan “yang lama” (orde lama) diganti dengan kepemimpinan “yang baru” (orde baru).

Mari kita terapkan pesan ‘sangkakala keempat’ ini kepada 2 jenis kepemimpinan yang ada saat ini. Pertama, kepada kepemimpinan dunia (kerajaan2/pemerintahan2 didunia). Kedua, kepada kepemimpinan gereja. Kita akan melihat yang pertama, yaitu bagaimana pergantian kepemimpinan dunia ini. Wahyu 11:15, menegaskan, “…Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapiNya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya”. Alkitab versi LAI menggunakan huruf besar ‘Dia’ pada ayat diatas, tetapi seharusnya menggunakan huruf kecil ‘dia’, yang menunjuk kepada gereja pemenang. Daniel 7:18, meneguhkan bahwa orang2 kudus akan menerima pemerintahan dunia ini, demikian tertulis, “sesudah itu orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi akan menerima pemerintahan…”. Jadi, pada saat kedatanganNya, pemerintahan2 didunia ini akan diserahkan kepada Kristus, yaitu Tuhan Yesus dan orang2 yang diurapiNya.

Selanjutnya, bagaimana dengan kepemimpinan gereja? Jika kita bandingkan antara gereja mula-mula dengan denominasi2 yang ada saat ini dalam dunia kekristenan, maka kita tahu bahwa telah terjadi kejatuhan dalam hal kepemimpinannya. Peringatan Paulus diakhir pelayanannya sebelum gereja jatuh ditujukan kepada para pemimpin (Kis. 20:28-30). Demikian juga kejatuhan gereja di Asia kecil yang dilihat rasul Yohanes terjadi karena ajaran Izebel dan Nikolaus, dimana ajaran Izebel membenarkan perampasan oleh para pemimpin atas otoritas Yesus yang langsung kepada setiap anggota gereja, dan juga ajaran Nikolaus yang membenarkan perilaku para pemimpin yang “menaklukkan” kaum awam. Kedua ajaran palsu ini telah membuat gereja kehilangan keimaman semua orang percaya. Kepemimpinan gereja yang dijalankan oleh rasul2, nabi2, penginjil2, pengajar2 dan gembala2 ini seharusnya hanya memperlengkapi umat Tuhan saja, dan bukan menariknya sehingga gereja pecah menjadi ribuan denominasi. Inilah “orde lama” kepemimpinan gereja yang akan segera berlalu ketika tiba saat kedatanganNya.

Orde yang baru adalah ‘orde kerajaan’, dimana umat pilihanNya dibentuk menjadi raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek. Pada saat kedatanganNya, umat pilihanNya akan menggantikan orde gereja (orde lama), dan menjadi raja2 dan imam2 untuk memerintah dibumi dengan tubuh kemuliaan.

Kita masuk kedalam ‘sangkakala kelima’ yang terdapat didalam Wahyu 9:1-12. Tentu kita tidak membahas dengan rinci semua yang terjadi ketika ‘sangkakala kelima’ ditiup. Tetapi inti dari pesan ‘sangkakala kelima’ ini adalah “penyiksaan” yang dijalankan oleh “belalang-belalang” atas manusia yang tidak memakai meterai Elohim didahinya. Ayat 4-5, menegaskan, “dan kepada mereka dikatakan supaya mereka jangan merusak… kecuali hanya orang-orang yang tidak memiliki meterai Elohim di dahinya…agar disiksa selama lima bulan…” (ILT). 

Kita sudah membahas mengenai orang2 yang dimeteraikan pada Wahyu 7:1-8, dimana mereka adalah ‘buah sulung’ atau gereja pemenang. Orang-orang yang terpilih, yaitu ‘buah sulung’ bukanlah orang2 yang tidak mengalami “siksaan” atau pembentukkan Tuhan. Tetapi, “buah sulung” adalah orang2 yang telah ‘lebih dahulu’ mengalami pembentukkan dan proses Ilahi sehingga mereka hanya mengikuti, “…Anak Domba itu kemana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung…” (Wahyu 14:4). Kita akan membahas hal ini kelak ketika kita sampai kepada Wahyu 14. Untuk saat ini kita akan membahas ‘manusia’ yang akan mengalami siksaan belalang-belalang selama 5 bulan.

Siapakah ‘manusia’ yang akan mengalami ‘siksaan’ belalang-belalang ini? Kita tetap harus ingat bahwa ‘sangkakala kelima’ adalah tindakan pemulihan Tuhan, karena demikianlah kitab Wahyu, yaitu pewahyuan pribadi Tuhan Yesus kepada manusia, khususnya umat pilihanNya. Jika kita memperhatikan urut2an manusia yang akan mengalami pemulihan Tuhan, maka kita tahu bahwa manusia yang secara khusus disebut dalam Wahyu 9:1-12, adalah dunia kekristenan secara umum. Mengapa demikian? Telah kita bahas sebelumnya mengenai “orang banyak” dalam Wahyu 7, bahwa mereka adalah “para Izebel dan pengikutnya” yang dilemparkan Tuhan kedalam “kesusahan besar” (Wahyu 2:22). Perlu kita tegaskan lagi bahwa “para Izebel dan pengikutnya” ADALAH ORANG-ORANG GEREJA, secara khusus tipe gereja di Laodikia. Walaupun kita tahu bahwa ajaran Izebel telah merembes kedalam dunia kekristenan secara umum. Jadi, manusia yang akan mengalami siksaan belalang2 ini adalah para Izebel dan pengikutnya. Pembentukkan Tuhan atau “siksaan belalang ini” akan membuat dunia kekristenan hanya mengikuti Tuhan Yesus saja, dan tidak mengikuti “para Izebel”.

Baiklah kita perhatikan Yesaya 26:9, mengenai tujuan penghakiman Tuhan agar memahami “siksaan belalang selama 5 bulan” ini, demikian tertulis, “… sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”. Jadi jelas bahwa tujuan penghakiman Tuhan bukanlah sejenis hukuman selama-lamanya (neraka kekal) seperti yang umumnya dipercaya dalam dunia kekristenan. Tetapi, penghakiman Tuhan, atau “siksaan belalang” ini hanyalah berlangsung sejangka waktu saja, yang dalam ayat kita disebut selama “5 bulan”. Penghakiman Tuhan atau “siksaan belalang” ini bertujuan agar dunia kekristenan mengenal ‘apa yang benar’.

Sebagai penutup bagian ini, baiklah kita menyatakan satu dusta yang umumnya dikhotbahkan oleh “para Izebel” ini dimimbar-mimbar, yaitu ‘percaya Yesus masuk sorga’. Umumnya, yang dimaksud adalah adalah ‘tempat yang menyenangkan’, dimana jalan2nya dari emas, ada rumah2 bagus (“rumah Bapa”), orang hanya memuji-muji Tuhan saja disana, dan bahkan ada yang berpendapat masih ada anjing nanti. Dan, konon orang yang percaya Yesus ini akan masuk ketempat itu kelak setelah mati jasmani. Jika kita medapat kasih karunia dihadapanNya, maka kita tahu bahwa tidak ada satu ayatpun dalam PB yang mengungkapkan konsep masuk sorga seperti itu. Namun, memang dalam dunia kekristenan, ada banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. Semua ditentukan oleh kedaulatan Bapa.

Saat ini kita masuk kedalam ‘sangkakala keenam’ yang tertulis dalam Wahyu 9:13, demikian, “Dan malaikat yang keenam meniup sangkakala. Dan aku mendengar suatu suara dari keempat tanduk mezbah emas di hadapan Elohim” (ILT). Kita tidak akan membahas dengan rinci simbol2 yang digunakan ketika malaikat keenam meniup sangkakalanya. Yang perlu kita perhatikan disini adalah ‘sumber suara’ yang didengar oleh rasul Yohanes, yaitu suara yang bersumber dari keempat tanduk mezbah emas. Jelas bahwa ini bukan suara yang berasal dari kegelapan, dari dunia atau dari iblis. Suara ini bersumber dari mezbah dihadapan Elohim. Karenanya, suara ini adalah suara pemulihan.

Mari kita kembali mengingat sifat dasar kitab Wahyu yang merupakan pewahyuan pribadi Tuhan Yesus, dan bersifat positif (pemulihan), tetapi diwahyukan dengan bahasa simbol. Simbol yang sangat perlu kita pahami adalah ‘Langit dan Bumi Lama/pertama’ merupakan simbol dari semua manusia yang telah jatuh kedalam dosa. Karenanya, simbol dari ‘Langit dan Bumi Baru’ adalah semua manusia yang telah dipulihkan.  

Didalam kitab Wahyu, segala sesuatu yang lama ‘dihancurkan’ supaya menghadirkan segala sesuatu yang baru. Itu sebabnya, diakhir kitab ini Tuhan yang berdiam di takhtaNya berkata, “…Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!...” (Wahyu 21:5). Kita harus ingat bahwa pemulihan itu terkait dengan takhtaNya. Takhta disini tentu merupakan simbol dari otoritasNya dan KerajaanNya. Dan salah satu fungsi dari suatu takhta adalah menghakimi. Itu sebabnya, salah satu fungsi seorang raja Israel adalah menghakimi. Tetapi kita harus ingat bahwa penghakiman Elohim itu bersifat mengoreksi, disiplin, dan memulihkan. Perhatikan Yesaya 26:9, “…sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”. Jadi, penghakiman Elohim itu bersifat memulihkan agar manusia dapat belajar apa yang benar. Demikian juga ‘penghancuran’ sesuatu yang lama adalah tindakan pemulihan agar datang yang baru.

Baiklah kita perhatikan apa yang terjadi ketika sangkakala keenam dibunyikan (Wahyu 9:13-21). Kita lihat terjadi peperangan yang menyebabkan sepertiga manusia terbunuh (ayat 18). Namun, manusia lain yang tidak terbunuh tidak bertobat juga (ayat 20-21). Jelaslah terlihat disini bahwa tujuan “pembunuhan manusia” disini terkait dengan pertobatan. Manusia lama perlu dimatikan agar terjadi pertobatan yang pada gilirannya menghadirkan manusia baru. Inilah pekerjaan pemulihan yang dilakukan sangkakala keenam.

Mari kita bahas sedikit mengenai ‘pertobatan’. Banyak orang Kristen berpikir bahwa pertobatan itu terkait hanya dengan perilaku dan pemikiran yang berdosa saja. Tetapi, jika kita perhatikan pemberitaan Yohanes Pembaptis dan juga Yesus, maka kita lihat bahwa manusia harus bertobat karena KERAJAAN SORGA SUDAH DEKAT. Orang harus bertobat agar dapat menerima kerajaan sorga. Pemberitaan Yohanes Pembaptis dan Yesus justru terutama ditujukan kepada para pemimpin bangsa Israel, yaitu para ahli Taurat dan orang2 Farisi. Orang2 yang ‘beragama’ inilah yang paling harus bertobat agar dapat menerima kerajaan sorga.

Pada akhirnya, kita lihat bahwa para agamawan ini tidak bertobat (‘metanoeo’=merubah pikiran). Mereka tidak merubah konsep mereka tentang Mesias. Mereka berpikir karena Mesias anak Daud, maka kerajaan Mesias harus sama dengan kerajaan Daud yang jasmani itu. Sementara Yesus menegaskan bahwa kerajaanNya bukanlah dari dunia ini, tetapi ada dalam dimensi sorgawi. Para pemimpin agama Yahudi ini tidak bertobat dan karenanya membunuh Yesus serta menganggap Ia sebagai penyesat. Sesungguhnya, pesan dari ‘sangkakala keenam’ sangat perlu bagi orang2 beragama (termasuk beragama Kristen) agar dapat menerima kerajaan sorga.

Kita masuk kepada ‘sangkakala ketujuh’, demikian tertulis, “Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: ‘Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya”. Ada beberapa hal penting yang dicatat dalam pasal 10 dan 11 kitab Wahyu sebelum malaikat ketujuh meniup sangkakalanya. Baiklah kita membahasnya.

Pertama, Dalam Wahyu 10:6-7, ada tertulis demikian, “… bahwa waktunya tidak akan lama lagi….rahasia Elohim harus digenapi…” (ILT). Beberapa versi Alkitab menterjemahkan ‘tidak ada penundaan lagi’ atau ‘waktunya tidak akan lama lagi’ seperti versi ILT diatas. Sebenarnya, ungkapan Yunani, ‘chronos ouketi eimi’ harus diterjemahkan ‘tidak ada waktu lagi’.  Maksudnya disini adalah ketika malaikat ketujuh meniup sangkakalanya, maka rahasia Elohim genap, dan TIDAK ADA WAKTU LAGI.

Apa makna tidak ada waktu lagi? Waktu adalah sesuatu yang diciptakan Elohim sebagaimana langit, bumi, hewan, manusia, dan ciptaan2 Elohim lainnya. Waktu itu ada awalnya dan ada akhirnya. Dan akan ada saatnya dimana waktu akan berhenti, dan tidak ada lagi. Didalam kota Yerusalem Baru, ditegaskan bahwa, “…kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan…” (Wahyu 21:23). Matahari dan bulan diciptakan Tuhan sebagai pengatur waktu (Kejadian 1:14). Dalam kota Yerusalem Baru (mempelai Anak Domba) tidak diperlukan lagi matahari dan bulan, karena tidak ada lagi waktu yang perlu diatur. Jadi, didalam dispensasi Langit dan Bumi Baru, TIDAK ADA LAGI WAKTU. Juga tidak ada lagi maut yang merupakan upah dosa (Wahyu 21:4).

Kita sudah pernah berbicara mengenai pengertian ‘dimensi’, dan sekarang perlu kita tegaskan lagi. Elohim berdiam didalam ‘dimensi kekal’, dan Ia menciptakan tiga dimensi lagi, yaitu ‘dimensi sorga’, dimana Ia meletakkan TakhtaNya, ‘dimensi bumi’ (ruang dan waktu), serta ‘dimensi bawah bumi’ (alam maut), dimana orang2 yang telah menanggalkan tubuh jasmaninya berada.

Ketika Elohim menciptakan ‘waktu’, maka segala sesuatu yang berada dalam ‘waktu’ harus mengalami proses pertumbuhan. Tidak ada sesuatu yang ‘instan’ dalam konteks ‘waktu’. Bahkan jenis hidup yang dijalani oleh Elohim (Yunani: ZOE), perlu bertumbuh ketika masuk kedalam konteks ‘waktu’. Inilah pengertian orang yang percaya Yesus itu mendapat hidup kekal, dalam arti HIDUP ZOE YANG MASUK KEDALAM KONTEKS WAKTU DAN PERLU BERTUMBUH. Banyak orang Kristen mempunyai pengertian bahwa kekal adalah waktu yang selama-lamanya tanpa akhir. Dari pengertian inilah muncul doktrin neraka kekal, dalam arti neraka selama-lamanya tanpa akhir, dan juga orang yang percaya Yesus mendapat hidup kekal, dalam arti hidup disorga nun jauh disana selama-lamanya. Pengertian ini sangat kacau sekali.

Mari kita ambil satu contoh dari Injil Yohanes mengenai makna hidup kekal yang diberikan kepada orang yang percaya Yesus. Yohanes 3:36, menegaskan, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal…”. Ungkapan Yunani yang diterjemahkan ‘hidup yang kekal’ adalah ‘zoe aionios’. Istilah Yunani ‘aion’ adalah zaman atau waktu, yang ada awalnya dan ada akhirnya. Jadi, makna ‘hidup yang kekal’ (‘zoe aionios’) adalah HIDUP JENIS ELOHIM (ZOE) YANG MASUK KEDALAM KONTEKS WAKTU. Dan, hidup zoe ini perlu bertumbuh. Pada kenyataannya, tidak semua orang Kristen (lahir baru) mengalami pertumbuhan yang seharusnya.

Kalau demikian, apa makna ‘tidak ada lagi waktu’ yang terjadi ketika malaikat ketujuh meniup sangkakalanya. Artinya, umat pilihanNya, yang didalamnya ada hidup zoe (hidup jenis Elohim), bertumbuh sedemikian dan mencapai kesempurnaannya. Pada saat sangkakala ketujuh dibunyikan, rahasia Elohim genap, tidak ada lagi waktu, dan UMAT PILIHANNYA MENGENAL ELOHIM DENGAN SEMPURNA KARENA HIDUP ZOE YANG SUDAH BERTUMBUH SEMPURNA. Yesus menegaskan tujuan Elohim memberikan hidup kekal itu, yaitu untuk mengenal Bapa, satu-satunya Elohim yang benar, dan mengenal Yesus yang telah diutusNya (Yohanes 17:3). Inilah rahasia/misteri Elohim yaitu mengenal Dia dengan benar, dan bukan hidup disorga nun jauh disana serta nyanyi selama-lamanya, seperti yang umum dipercaya dalam dunia kekristenan.

Kita masih berbicara mengenai hal2 penting yang terjadi sebelum malaikat ketujuh meniup sangkakalanya. Sebelumnya, kita sudah berbicara mengenai makna ‘tidak ada waktu lagi’ (Wahyu 10:6-7). Berikutnya, yang kedua, kita akan membahas beberapa hal yang terjadi pada pasal 10. Mari kita perhatikan beberapa ayat dalam pasal 10 ini, demikian, “Dan aku melihat seorang malaikat lain yang kuat turun dari sorga… Dalam tangannya ia memegang sebuah gulungan kitab kecil yang terbuka… Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh…genaplah keputusan rahasia Allah…katanya kepadaku: Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu… Maka ia berkata kepadaku: ‘Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja” (Wahyu 10:1-11, LAI).

Yang disimbolkan oleh ‘malaikat lain yang kuat’ disini tentu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Ditegaskan bahwa malaikat ini berselubung awan (bentuk tunggal). Diseluruh Alkitab, jika istilah awan muncul dalam bentuk tunggal, maka itu menunjuk kepada awan kemuliaan Tuhan, dan jika bentuk jamak, maka itu berarti saksi2. Selanjutnya, diatas kepalanya ada ‘pelangi’, yang menyatakan bahwa malaikat ini berpegang teguh kepada ‘perjanjian’. Kemudian, wajahnya seperti matahari, dimana Tuhan adalah matahari kebenaran (Maleakhi 4:2). Sementara kakinya bagaikan tiang api yang menginjak kebumi dan laut, dimana ini berarti ia mempunyai otoritas atas segalanya, serta akan menyucikan (“api”) segala sesuatunya. Dan akhirnya, ia memegang sebuah gulungan kitab kecil yang terbuka. Tentu, ‘kitab kecil yang terbuka’ ini tidak lain adalah kitab yang hanya dapat dibuka oleh Anak Domba yang berisi pewahyuan pribadiNya serta karya penebusanNya atas segala sesuatu.

Ditegaskan pada ayat2 kita diatas bahwa ketika malaikat ketujuh meniup sangkakalanya, maka rahasia/misteri Elohim genap. Paulus menjelaskan perihal rahasia Elohim ini demikian, “dengan mengungkapkan kepada kita rahasia kehendakNya… untuk merangkum segala sesuatu di dalam Kristus, baik hal-hal yang didalam surga maupun hal-hal yang diatas bumi…” (Efesus 1:9-10, ILT). Merangkum segala sesuatu dalam Kristus disini adalah pemulihan seluruh ciptaan. Inilah rahasia Elohim yang pasti genap ketika malaikat ketujuh meniup sangkakalanya.

Hal terakhir yang ditegaskan dalam pasal 10 adalah suatu perintah untuk memakan ‘kitab yang terbuka’ dan untuk bernubuat kepada banyak bangsa, kaum, bahasa, dan raja. Memakan kitab disini tentu berarti harus mencerna ‘pewahyuan pribadi Kristus dan karyaNya’ sedemikian sehingga kita tidak hanya memiliki ‘pengetahuan akal’ saja, tetapi telah “menyatu” dengan pribadi Kristus serta karya penebusanNya. Penyatuan ini memang manis “dimulut kita”, tetapi menjadi pahit “diperut kita”. Artinya, pewahyuan kemenangan salib Kristus memang terasa manis bagi kita, namun ketika dijalankan dalam kehidupan kita, maka salib Kristus bekerja menghancurkan segala sesuatu yang lama dalam diri kita, dan membangun segala sesuatu yang baru. Pengalaman ini akan terasa pahit bagi kita. Tetapi oleh kasih karuniaNya, kita harus mengalaminya dahulu, baru kemudian kita bernubuat kepada banyak orang.

‘Pengetahuan akal’ itu ada tempatnya dalam kehidupan kerohanian seseorang, tetapi jika hanya ‘pengetahuan akal’ saja, maka orang menjadi sombong seperti ditegaskan Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus. Bahkan pada umumnya, dalam dunia kekristenan, ‘pengetahuan akal’ dapat diperjual-belikan melalui lembaga2 resmi, buku2, atau hal2 lainnya. Tetapi, umat pilihanNya akan bernubuat setelah mengalaminya tanpa memperjual-belikan pewahyuan Kristus.

Kita langsung masuk kedalam Wahyu 11:1, untuk membahas ‘pengukuran’ Bait Suci (tempat kudus), demikian, “Dan kepadaku diberikan sebatang buluh serupa tongkat pengukur dan malaikat itu berdiri sambil berkata, ‘Bangunlah dan ukurlah tempat kudus Elohim, dan mezbah-Nya, dan mereka yang menyembah di dalamnya.” (ILT).

Disini kita lihat bahwa rasul Yohanes diperintahkan untuk mengukur Tempat Kudus Elohim, mezbah, dan orang2 yang menyembah didalamnya, tetapi harus dengan ‘tongkat pengukur’ yang diberikan malaikat kepadanya. Makna ‘mengukur’ berarti menilai atau membandingkan dengan suatu tolok ukur (standard tertentu). Jika seseorang berkata panjang suatu tali itu 2 meter, maka hal ini berarti ia telah membandingkan panjang tali itu dengan suatu ‘tolok ukur tertentu’ yang sehari-hari biasa kita sebut ‘meter-an standard’. Rasul Yohanes tidak boleh mengukur Tempat Kudus (Bait Suci) dengan ukurannya sendiri atau dengan suatu ukuran lain yang bukan diberikan kepadanya oleh malaikat.

Keluaran 25:8, menegaskan, “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam ditengah-tengah mereka”. Elohim yang adalah ‘Keluarga Sejati’ (Bapa, Anak dan Roh) itu selalu mencari “tempat tinggal atau rumah”, dimana Ia akan berdiam didalamnya. Tetapi, rumahNya haruslah sesuai dengan standard yang ditetapkan oleh Elohim sendiri. Didalam konteks PL, rumah Elohim itu merupakan bangunan fisik yang disebut Bait Suci. Tetapi dalam konteks PB, rumah Tuhan adalah gereja, yaitu orang2 percaya dimana Roh Elohim berdiam didalam batin umatNya (Efesus 2:20-22). Baik Bait Suci PL sebagai simbol, maupun gereja sebagai realita kediaman Elohim harus dibangun SESUAI STANDARD ELOHIM. Tidak boleh seseorang membangun Bait Suci (simbol), maupun gereja (realita), menurut standardnya sendiri, atau menurut ukurannya sendiri.

Perkara membangun rumah Tuhan, baik Bait Suci sebagai simbol, maupun gereja sebagai realitanya, bukanlah soal yang remeh. Karena pada waktuNya, Tuhan akan mengukur apakah rumahNya dibangun sesuai standard yang ditetapkan, atau dibangun sesuai dengan standard lain. I Petrus 4:17, menegaskan, “Sebab inilah saatnya untuk memulai penghakiman dari bait Elohim, dan jika pertama-tama dari kita…” (ILT). ‘Menghakimi’ sama maknanya dengan ‘mengukur’, yaitu menilai dan membandingkannya dengan suatu standard tertentu. Dan, yang pertama-tama Tuhan ukur adalah rumahNya sendiri.

Sebelum kita lanjutkan, mari kita menutup bagian ini dengan suatu pertanyaan yang terkait dengan kondisi dalam dunia kekristenan. Dalam dunia kekristenan, sudah biasa orang menyamakan denominasi itu dengan gereja. Kalaupun beberapa pemimpin mengetahui bahwa denominasi itu bukan gereja, namun umumnya, mereka seolah-olah mengabaikannya. Mereka terus membangun suatu denominasi, seolah-olah Tuhan tidak akan pernah ‘mengukur’ rumahNya kelak.

Apakah tolok ukur (standard) dari rumahNya? Sesungguhnya, tolok ukur dari rumahNya adalah pribadi Yesus Kristus, karena Yesus Kristus adalah Bait Suci Elohim. Tetapi, gereja mula-mula yang dilahirkan pada hari raya Pentakosta, juga merupakan ‘tolok ukur’ bagi mereka yang terlibat dalam pembangunan gereja. Oleh kasih karuniaNya, umat pilihan Tuhan tentu tidak membangun gereja menurut ‘tolok ukurnya sendiri’, tetapi menurut ‘tolok ukur’ yang diberikan Tuhan kepadanya, sama seperti yang terjadi pada rasul Yohanes.

Kita teruskan pembahasan kita dari Wahyu 11:1, dan saat ini kita akan membahas mengenai ‘mezbah Tuhan’ yang juga harus diukur. Wahyu 11:1, tertulis demikian, “Dan kepadaku diberikan sebatang buluh serupa tongkat pengukur dan malaikat itu berdiri sambil berkata, ‘Bangunlah dan ukurlah tempat kudus Elohim, dan mezbah-Nya, dan mereka yang menyembah di dalamnya.” (ILT).

‘Mezbah Tuhan’ adalah tempat seseorang untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Pada waktuNya, Ia akan mengukur ‘mezbahNya’ sesuai dengan standardNya (tolok ukurNya). Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa sejak dari zaman Kain dan Habel, telah ada 2 ‘mezbah’. Kita tahu bahwa Tuhan “mengukur” dua mezbah ini. Setelah Tuhan “mengukurnya”, maka ‘mezbah Kain’ ditolak, dan ‘mezbah Habel’ diterima. Kita tidak membahas hal ini lebih jauh karena telah ada tulisan dengan judul ‘Pelayanan Diluar Perkemahan’. Bagi sdr/i yang berminat dapat kami kirimkan bentuk pdf-nya.

Kita langsung masuk kepada zaman Musa dimana terjadi penyembahan ‘Anak Lembu Emas’ ketika Israel berada di gunung Sinai (Keluaran 32-33). Setelah kasus ini, maka Musa mengambil kemah dan membentangkannya diluar perkemahan, disebut ‘Kemah Pertemuan’, dan setiap orang yang mau mencari Tuhan harus keluar dari perkemahan Israel menuju ‘Kemah Pertemuan’ (Keluaran 33:7).

Dalam dunia kekristenan juga ada dua ‘mezbah’, yang satu ada didalam dunia kekristenan, dimana mayoritas umat Tuhan mempersembahkan korban, dan yang kedua, ada diluar dunia (sistem) kekristenan. Ibrani 13:10-13, menegaskan, “Kita mempunyai suatu mezbah… itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang… Karena itu, marilah kita pergi kepadaNya di luar perkemahan dan menanggung kehinaanNya”. Pada waktu kedatangan Yesus (biasa disebut ’kedatangan kedua’), maka Yesus akan “mengukur” kedua ‘mezbah’ ini.

Untuk memahami “dua mezbah” ini, perlu kita tegaskan perbedaan DIKASIHI Bapa disorga, dan BERKENAN kepada Bapa disorga, sebab dalam dunia kekristenan, umumnya, diberkati Tuhan itu merupakan BUKTI bahwa seseorang berkenan kepadaNya. Matius 3:17, menegaskan perbedaan ini, “…Inilah Anak-Ku yang KUKASIHI, kepada-Nyalah Aku BERKENAN”. Apakah Bapa disorga hanya mengasihi Yesus, AnakNya yang tunggal? Yohanes 3:16 menegaskan bahwa Bapa disorga mengasihi dunia ini (seluruh manusia), yang berarti Bapa disorga telah memberkati semua orang. Sebab, tidak mungkin Bapa disorga mengasihi orang namun mengutuknya juga. Jika didalam dunia ini ada penyakit, kelaparan, dan kematian, itu bukan disebabkan Bapa tidak mengasihi dunia, tetapi disebabkan dunia telah jatuh kedalam dosa. Jadi Bapa disorga mengasihi dan memberkati semua orang, tetapi Ia tidak berkenan kepada jalan semua orang. Bapa disorga berkenan kepada Yesus Kristus karena Yesus adalah tolok ukurNya, seperti telah kita tegaskan sebelumnya Jadi, perihal berkenan kepada Bapa atau tidak DITENTUKAN OLEH SUATU TOLOK UKUR.

Ketika Musa memukul batu, maka terjadilah mujizat luar biasa, dimana air keluar begitu berlimpah sehingga bangsa Israel mendapatkan air. Tetapi, Bapa disorga tidak BERKENAN kepada Musa pada waktu itu, sehingga Musa tidak dapat masuk tanah Perjanjian. Apakah Bapa tidak mengasihi Musa? Tentu Bapa sangat mengasihi dan memberkati pelayanan Musa, serta memakainya luar biasa, tetapi Bapa tidak berkenan ketika Musa memukul batu, karena tidak sesuai “tolok ukurNya”.

Dunia kekristenan juga sangat dikasihi dan diberkati Bapa, tetapi apakah Bapa berkenan atau tidak kepada “mezbah” dunia kekristenan, akan ditentukan kelak pada kedatangan Yesus. Didalam Matius 7:21-23, ada banyak orang bernubuat, mengusir setan, mengadakan banyak mujizat DEMI NAMA TUHAN (tentu semua ini orang Kristen), tetapi Yesus tidak berkenan. Mengapa? Ayat 23 menegaskan penyebabnya, yaitu mereka melakukan pelanggaran aturan main kerajaan sorga (‘anomia’=Lawlessness=hukum kerajaan). Jadi, yang menentukan kelak adalah hukum atau ‘tolok ukur’ kerajaan sorga.

Kita masih membahas Wahyu 11:1, dan saat ini kita akan membahas mengenai ‘mereka yang menyembah didalam Bait Suci’. Wahyu 11:1, tertulis demikian, “Dan kepadaku diberikan sebatang buluh serupa tongkat pengukur dan malaikat itu berdiri sambil berkata, ‘Bangunlah dan ukurlah tempat kudus Elohim, dan mezbah-Nya, dan mereka yang menyembah di dalamnya.” (ILT).

Perhatikan ayat kita diatas bahwa yang akan “diukur” adalah orang2 yang menyembah di Bait Suci, dan bukan bentuk2, ritual2, atau jenis2 korban bakarannya. Banyak orang berpendapat ketika Kain dan Habel mempersembahkan korban, maka Elohim berkenan kepada Habel karena Habel mempersembahkan korban berupa anak sulung kambing domba yang melambangkan pengorbanan Kristus, sementara Kain mempersembahkan hasil tanah. Tetapi, Ibrani 11:4, menegaskan, “Dengan iman Habel telah mempersembahkan kepada Elohim kurban yang lebih baik daripada Kain…”. Jadi, iman Habel yang menjadikan Elohim berkenan kepadanya, dan bukan jenis korbannya. Demikian juga dalam zaman Musa dimana Yahweh selalu melihat apakah ada iman didalam pelayan2Nya yang melakukan ritual2, korban2 dan aturan2 Taurat. Jika ada iman, maka Yahweh berkenan, sebaliknya jika tidak ada iman dan orang2 hanya menjalankan ritual2 korban saja, maka tentu Yahweh tidak berkenan.

Dalam konteks Perjanjian Baru, Elohim berkenan dengan penyembah2 yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23). Makna menyembah dalam roh adalah mengikuti pimpinan Roh Kudus didalam batin kita dalam kehidupan sehari-hari. Sementara makna menyembah dalam kebenaran atau realita, artinya menyembah tidak dalam bentuk2 luaran, aturan2 luaran, simbol2, atau lambang2. Realita dari semua simbol/bayangan dalam Perjanjian Lama adalah Kristus (Kolose 2:17), karenanya, menyembah dalam realita adalah menyembah dalam Kristus yang adalah kebenaran.

Sebagai penutup bagian ini, kita perlu memperhatikan nubuat Paulus mengenai orang2 yang beribadah dihari-hari terakhir, demikian, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya…” (II Timotius 3:5). Alkitab versi ILT menerjemahkan demikian, “sambil mengenakan suatu bentuk kesalehan tetapi telah memungkiri kuasanya…”. Ayat ini berbicara mengenai orang2 yang menjalankan ibadah mereka dengan rutin, setia, dan tekun, tetapi hanya merupakan bentuk kesalehan luaran saja, dan tidak bersifat batiniah. Dalam dunia kekristenan, bentuk kesalehan luaran sudah menjadi perkara yang biasa, sebab demikianlah memang dunia keagamaan itu. Agama selalu memperhatikan perkara2 luaran, tetapi Tuhan selalu memperhatikan perkara2 batiniah.

Gereja di Laodikia jatuh kedalam bentuk2 kesalehan luaran sehingga mereka menilai (mengukur) diri sendiri sebagai orang yang kaya, memperkayakan diri, dan tidak kekurangan apa-apa. Namun, ketika Tuhan menilai (mengukur) mereka, maka didapatilah mereka sebagai orang yang melarat, malang, miskin, buta, dan telanjang. Demikianlah yang terjadi jika seseorang menjalankan ibadahnya secara luaran. Pada waktuNya, semua orang yang menyembah didalam Bait Suci akan diukurNya.

Kita masuk kedalam Wahyu 11:2, demikian, “Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya”.

Kita sudah membahas bagaimana Elohim memerintahkan rasul Yohanes untuk mengukur Bait Suci, mezbah, dan orang2 yang beribadah didalamnya dengan suatu tolok ukurNya sendiri. Kita juga sudah tegaskan bahwa tolok ukurNya adalah Yesus Kristus, dan juga Alkitab, khususnya firman mengenai gereja mula-mula. Ada satu hal lagi yang merupakan tolok ukurNya, yaitu hukum kerajaan sorga (Matius 7:21-23). Orang2 yang melayani Tuhan, bahkan dengan bernubuat, mengusir setan dan melakukan banyak mujizat demi namaNya, pada kedatanganNya tetap harus “diukur” oleh hukum kerajaan sorga.

Saat ini kita akan membahas mengenai ‘pelataran Bait Suci’ yang ternyata tidak perlu diukur karena telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain untuk diinjak-injak. Mengapa tidak perlu diukur lagi sebagaimana Bait Suci, mezbah, dan orang2 yang beribadah didalamnya. Menarik untuk diperhatikan bahwa Bait Suci terdiri dari tiga bagian, yaitu pelataran luar (halaman Bait Suci), ruang Kudus, dan ruang Maha Kudus. Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus inilah yang disebut Bait Suci, sementara pelataran (halaman) Bait Suci tidak disebut Bait Suci, walaupun ia termasuk bagian dari Bait Suci secara keseluruhan. Pada pelataran atau halaman Bait Suci inilah Yesus mendapati orang2 berjualan hewan2 korban, karena memang dipelataran inilah korban dipersembahkan diatas mezbah tembaga (Matius 11:12; Markus 11:15).

Kita dapat melihat mengapa pelataran Bait Suci tidak perlu diukur lagi karena di pelataran inilah terjadi ‘perdagangan’, dimana Yesus mengatakan bahwa Bait Suci sudah menjadi ‘sarang penyamun’. Jika Bait Suci sudah menjadi sarang penyamun, dan Yesus juga sudah langsung bertindak dengan mengusir para pedagang dihalaman Bait Suci, maka tidak heran jika pelataran Bait Suci tidak perlu diukur lagi. Kerusakan yang diakibatkan perdagangan didalam Bait Suci sudah langsung merubah sifat dasar Bait Suci yang awalnya adalah rumah doa menjadi sarang penyamun. Itu sebabnya, pelataran Bait Suci diserahkan kepada bangsa-bangsa lain untuk diinjak-injak.

Baiklah kita ingat bahwa Bait Suci PL dan peralatannya merupakan simbol dari pengalaman2 rohani umat Perjanjian Baru (gereja). Secara garis besar pengalaman rohani gereja dapat dibagi menjadi tiga. Pengalaman keselamatan-lahir baru (Mezbah Tembaga dan Bejana Pembasuhan). Pengalaman hidup dalam pengabdian dan kepenuhan Roh (Kaki pelita emas, Meja roti sajian, Mezbah dupa). Pengalaman penyatuan dengan Elohim (Tabut perjanjian). Perdagangan dalam Bait Suci hanya dapat dilakukan dipelataran Bait Suci, dan tidak mungkin terjadi diruang Kudus apalagi di ruang Maha Kudus.

Pada umumnya, orang-orang Kristen yang jatuh kedalam perdagangan dalam pelayanannya, ia masih dalam tingkat pengalaman keselamatan, walaupun tidak menutup kemungkinan orang2 di tingkat yang lebih tinggi juga melakukan perdagangan di Bait Suci. Bahkan, jika kita melihat salah satu ajaran sesat dalam Wahyu 2-3, yaitu ajaran Bileam, maka kita tahu bahwa perdagangan didalam gereja justru dilakukan oleh para pemimpin, yang barangkali mempunyai pengalaman rohani yang lebih daripada orang Kristen umumnya. Kita tidak membahas lebih jauh ajaran Bileam, karena sudah membahasnya ditempat lain. Jadi, orang2 kristen yang melakukan perdagangan dalam pelayanannya tidak perlu “diukur” lagi, tetapi bukan berarti tidak dihakimi, melainkan telah dihakimi dengan menyerahkannya kepada “bangsa-bangsa lain untuk diinjak-injak”.

Kita masuk kedalam Wahyu 11:2-3, dimana kita akan fokus kepada ayat 3, karena ayat 2 telah kita bahas sebelumnya, demikian tertulis, ayat (2) “Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya. (3) Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya”.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dari kedua ayat diatas. Pertama, gereja, dalam arti “pelataran Bait Suci” yang penuh dengan perdagangan (ajaran Bileam), telah diserahkan untuk diinjak-injak selama 42 bulan (3.5 tahun), yang biasa disebut masa Kesusahan Besar. Karena adanya perdagangan yang membuat gereja kehilangan “rasa asinnya” sebagai garam, maka dibuang dan diinjak orang (Matius 5:13).

Kedua, ayat 3 dimulai dengan istilah Yunani ‘kai’ (conjunction), yang menghubungkan kalimat pada ayat 2 dan ayat 3, karenanya pada masa Kesusahan Besar inilah Elohim memberi tugas kepada dua saksiNya. Rentang waktu kedua saksiNya bernubuat juga kurang-lebih sama dengan rentang waktu gereja “pelataran Bait Suci” diinjak-injak orang, yaitu 3.5 tahun, jika kita mengambil 1 bulan sama dengan 30 hari. 

Ketiga, siapakah simbol dari “dua saksi” yang dimaksud disini? Angka 2 dalam Alkitab berbicara mengenai saksi2 Tuhan, sehingga kita jangan menafsirkan “dua saksi” ini sama dengan 2 orang saja. Ayat 4 menegaskan bahwa 2 saksi ini juga disebut 2 kaki dian, dimana kaki dian merupakan simbol gereja (banyak orang). Jadi, kedua saksi ini adalah komunitas (kelompok) yang diberi tugas oleh Elohim dimasa Kesusahan Besar.

Keempat, kelompok saksi Tuhan ini memiliki kuasa pelayanan yang serupa dengan kuasa pelayanan yang dimiliki Musa dan Elia. Kuasa pelayanan Elia adalah menutup langit sehingga tidak turun hujan, dan kuasa pelayanan Musa adalah mengubah air menjadi darah ketika di Mesir (11:6). Pelayanan Musa membawa umat Tuhan keluar dari Mesir (dunia), dan pelayanan Elia membawa umat Tuhan dibebaskan dari penyembahan berhala.

Kelima, jika kita perhatikan ayat2 dalam Maleakhi 4:6; Matius 17:10-13, dan ayat2 lainnya, maka kita tahu bahwa Yohanes Pembaptis memiliki kuasa Elia untuk memulihkan segala sesuatu, dan memberi jalan kepada kedatangan Yesus. Jadi, kelompok saksi Tuhan dalam Wahyu 11 adalah kelompok yang memulihkan segala sesuatu, dan memberi jalan untuk kedatangan hari Tuhan yang besar itu.

Keenam, Ketika Yesus melayani dibumi ini sebagai “biji gandum” yang jatuh ketanah, maka kelak akan datang ‘banyak buah’ yang juga melayani seperti Yesus dibumi ini (Yohanes 12:24). Dan, sebagaimana satu orang Yohanes Pembaptis memberi jalan kepada kedatangan satu orang Yesus (Putera Elohim), karenanya kedua saksi Tuhan (kelompok) juga akan menghadirkan datangnya putera2 Elohim dibumi, dalam Wahyu 12 yang kelak akan kita bahas. 

Ketujuh, perhatikan bahwa kelompok saksi2 Tuhan ini akan dibunuh setelah selesai bernubuat (Wahyu 11:7). Dan, sebagaimana Yesus juga dibunuh dan bangkit, demikian juga kelompok saksi2 Tuhan ini akan dibunuh dan bangkit lagi (Wahyu 11:11). Kelompok saksi2 Tuhan ini dapat dibunuh karena mereka masih mengenakan tubuh jasmani, demikianlah makna Wahyu 11:3, “…bernubuat sambil berkabung…”. Alkitab versi ILT menterjemahkannya, “…mengenakan pakaian kabung”.

Sebagai kesimpulan bagian ini kita lihat bahwa ketika gereja yang penuh perdagangan dinjak-injak oleh bangsa2 lain pada masa Kesusahan Besar, maka Tuhan mengutus kelompok saksi2Nya untuk bernubuat, dan bahkan akan menghadirkan tampilnya putera2 Elohim, seperti diuraikan dalam Wahyu pasal 12.

Kita masuk kepada malaikat ketujuh yang meniup sangkakalanya, dimana rahasia Elohim akan digenapi (Wahyu 11:15-19; 10:7). Kita akan mengutip beberapa ayat saja terkait sangkakala ketujuh ini yang tertulis dalam Wahyu 11:15-19, demikian, “Dan malaikat yang ketujuh meniup sangkakala… ‘Kerajaan-kerajaan di dunia ini menjadi milik Tuhan kita dan Mesias-Nya dan Dia akan memerintah sampai selama-lamanya. Dan kedua puluh empat tua-tua yang sedang duduk di takhtanya… menyembah Elohim… saatnya orang-orang mati dihakimi, dan memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, para nabi… dan menghancurkan mereka yang menghancurkan bumi” (ILT). Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan ketika sangkakala ketujuh ini ditiup.

Pertama, ayat 15 jelas menegaskan bahwa rahasia Elohim adalah mengambil alih kerajaan2 dibumi (alam semesta) serta menegakkan kerajaanNya selama-lamanya. Ungkapan ‘selama-lamanya’ diterjemahkan dari ungkapan Yunani, ‘tous aionas ton aionon’, yang seharusnya diterjemahkan ‘zaman dari segala zaman’, sebab ‘aion’ itu adalah zaman (waktu). Telah kita bahas dalam tulisan ini bahwa ketika sangkakala ketujuh ditiup, maka akan ada saat dimana tidak ada lagi waktu (Wahyu 10:6). Artinya, ketika kerajaan Yesus dan yang diurapiNya (gereja pemenang) telah menaklukkan maut (musuh terakhir), maka Yesus akan menyerahkan kerajaanNya kepada Bapa sehingga Bapa menjadi semua didalam semua (I Korintus 15:21-28). Puncak dari segala zaman atau zaman dari segala zaman dimana tidak ada lagi waktu, digenapi dalam zaman Langit dan Bumi Baru (Wahyu 21:23).

Kedua, ditegaskan dalam ayat2 kita diatas bahwa ketika sangkakala ketujuh ditiup, maka kedua puluh empat tua-tua menyembah. Telah kita bahas juga tentang ke-24 tua-tua dan 4 makhluk, bahwa mereka adalah raja2 dan imam2 yang akan memerintah dibumi (Wahyu 5:10). Gereja pemenang akan berfungsi sebagai raja2 dan imam2 untuk memerintah bersama Yesus dibumi dengan maksud menaklukkan segala sesuatu, termasuk musuh terakhir, yaitu maut sebagai upah dosa, sehingga di alam semesta ini tidak ada lagi bekas2 dosa. Karenanya, Bapa dapat mengekspresikan kemuliaanNya didalam semua dan melalui semua ciptaanNya. Inilah makna Bapa menjadi semua didalam semua.

Ketiga, ketika sangkakala ketujuh ditiup, maka saatnya orang2 mati dihakimi. Kerajaan Yesus dan para pemenangNya akan menjalankan penghakiman Elohim dengan tujuan agar penduduk bumi mengenal kebenaran (Yesaya 26:9). Demikian juga para nabi dan hamba2Nya akan mendapat upah.

Keempat, Pada saat sangkakala ketujuh ditiup, maka mereka yang menghancurkan bumi akan dihancurkan. Siapakah mereka yang menghancurkan bumi? Wahyu 19:2, menjelaskan kepada kita siapakah mereka yang menghancurkan bumi, demikian tertulis, “sebab benar dan adil segala penghakimanNya karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hambaNya atas pelacur itu”. Ditegaskan dalam ayat ini bahwa pelacur besar itulah yang merusakkan bumi. Saat ini kita tidak menjelaskan dengan rinci siapa ‘pelacur besar’ itu, karena kita belum sampai pada pasal 19. Tetapi dalam pasal 17-18, jelas diuraikan bahwa pelacur besar itu adalah “gereja/perempuan pelacur” (Babel) yang memerintah dibumi.

Kita sudah membahas dengan ringkas bagaimana rahasia Elohim digenapi ketika sangkakala ketujuh ditiup, dimana pemerintahan dunia ini diserahkan kepada Yesus dan para pemenangNya (Wahyu 11:15). Pasal-pasal selanjutnya (12 s/d 22) merupakan penjelasan2 dan detail/rincian dari apa yang terjadi ketika sangkakala ketujuh ditiup. Sebagai contoh, ketika sangkakala ketujuh ditiup, maka tidak ada lagi waktu, dan hal ini dijelaskan dengan rinci dalam zaman Langit dan Bumi Baru (Wahyu 21:23).

Kita akan masuk kedalam Wahyu 12:1, demikian, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya”. Untuk memahami ayat kita diatas, kita harus kembali mengingat sifat dasar kitab Wahyu, yaitu pewahyuan pribadi Yesus Kristus dan gerejaNya dengan bahasa simbol. Menggambarkan siapakah simbol/tanda ‘perempuan’ ini?

Diseluruh Alkitab, ‘perempuan’ selalu menjadi simbol bagi gereja atau mempelai Kristus, tetapi dengan karakteristik berbeda. Kita tahu bahwa Adam merupakan gambaran Yesus Kristus (Roma 5:14). Karenanya, Hawa merupakan gambaran gereja sebagai mempelai Kristus. Hawa merupakan gambaran gereja yang ‘berasal’ dari Kristus, karena Hawa diciptakan dari Adam. Demikian juga Asnat anak Potifera yang menjadi isteri Yusuf merupakan gambaran dari gereja yang berasal dari dunia (“Mesir”). Abigail juga merupakan gereja sebagai prajurit Kristus, karena Daud adalah seorang pahlawan (man of war). Demikianlah setiap perempuan dalam Alkitab merupakan lambang/gambaran dari gereja dengan karakteristik tertentu.

Dalam kitab Wahyu ada tiga perempuan yang juga menjadi simbol dari gereja dengan karakteristiknya masing-masing. Yang pertama, perempuan pada ayat kita diatas. Kedua, perempuan pelacur yang diuraikan dalam Wahyu 17-18. Selanjutnya, perempuan yang disebut mempelai Anak Domba (Wahyu 21). Semua perempuan ini menggambarkan gereja dengan berbagai karakteristiknya.

Kita tidak membahas ‘perempuan pelacur’ dan ‘mempelai Anak Domba’ saat ini, tetapi untuk memperjelas perempuan Wahyu 12 diatas, kita akan membandingkan dua ciri tertentu saja dengan perempuan pelacur dalam Wahyu 17-18. Pertama, perempuan Wahyu 12 ada di “langit”, sementara perempuan pelacur “duduk diatas seekor binatang” (Wahyu 17:3). Sekalipun perempuan Wahyu 12 ada dibumi, namun ia tidak dapat dilihat mata jasmani, sebab ia berada di “alam sorgawi”, dan hanya Tuhan yang melihatnya. Sementara itu, perempuan Wahyu 17 ditopang oleh “binatang” yang didalam kitab Wahyu merupakan simbol pemerintahan manusia. Jadi, perempuan pelacur ini adalah gereja yang ditopang oleh sistem pemerintahan manusia. Itu sebabnya, perempuan pelacur ini juga mendapat simbol “kota besar” Babel, dimana ada seorang “Nimrod” yang mendirikan dan mengatur gereja ini (Wahyu 17:18; 18:2).

Sebagai perbandingan, Yerusalem Baru (mempelai Anak Domba) itu adalah “kota kudus”, sementara perempuan pelacur itu “kota besar”. Memang perempuan pelacur ini merupakan gereja mayoritas (besar) karena ia juga “duduk ditempat yang banyak airnya” (Wahyu 17:1). Kita tahu bahwa air yang banyak itu adalah lautan (manusia). Dalam dunia kekristenan, perempuan pelacur ini adalah gereja ‘besar’ dan merupakan mayoritas.  

Kedua, seperti perawan Maria yang melahirkan Yesus, Putera Elohim, demikian juga perempuan Wahyu 12 melahirkan putera2 Elohim yang akan menggembalakan semua bangsa (Wahyu 12:5). Sementara itu perempuan Wahyu 17 disebut pelacur, karena menerima pemerintahan Ilahi dan juga menerima pemerintahan manusia; menerima “benih” ajaran Kristus, tetapi juga menerima “benih” ajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus, sebagaimana juga pelacur yang menerima “benih” dari banyak pria. Tidak kebetulan bahwa perempuan pelacur ini mendapat simbol Babel, karena makna istilah Babel adalah kacau atau campur aduk.

Kita masih membahas simbol ‘perempuan’ dalam Wahyu 12:1,5 demikian, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya… Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi…”.

Mari kita memberi makna terhadap simbol matahari, bulan dan bintang, yang dikaitkan dengan seorang perempuan (gereja). Ditegaskan bahwa perempuan ini ‘berselubung’ matahari, yang artinya perempuan ini dikuasai sepenuhnya oleh ‘matahari’. Dalam Maleakhi 4:2, menyatakan, “Tetapi bagi kamu yang takut akan Nama-Ku, surya kebenaran akan terbit…” (ILT). Ayat ini berbicara bagi umat yang takut akan nama Tuhan, surya kebenaran (matahari kebenaran) akan terbit baginya. Surya kebenaran sejati tentulah berbicara tentang Kristus. Karenanya, perempuan (gereja) yang takut akan nama Tuhan akan “diselubungi” oleh Kristus. Gereja (umat) yang takut akan nama Tuhan dikuasai oleh Kristus, dipimpin, dan mengikuti Kristus sepenuhnya.

Selanjutnya, dinyatakan bahwa perempuan ini menginjak ‘bulan’. Kita tahu bahwa ‘bulan’ tidak memiliki terang dari dirinya sendiri dan hanya ‘memantulkan’ terang matahari. Perempuan ini sudah hidup oleh terang sejati, dan sudah menginjak (menaklukkan) terang pantulan. Sesungguhnya, Kristus merupakan ‘esensi’ dari seluruh aturan2 Perjanjian Lama (Kolose 2:17). “Bulan” itu hanyalah aturan2 PL yang menjadi pantulan dari Kristus sebagai esensi. Dan perempuan (gereja) ini sudah menaklukkan/menginjak aturan2 PL yang merupakan pantulan saja dari Kristus sebagai esensinya. Ibadah gereja ini ada dalam roh dan kebenaran/realita (Yohanes 4). Umat yang takut akan namaNya semata-mata hanya mengikuti pimpinan Kristus dalam batin, dan tidak lagi dikuasai/diperbudak oleh aturan2 agamawi.

Kemudian, perempuan ini dimahkotai oleh 12 bintang. Angka 12 merupakan simbol dari kepemimpinan, dan “bintang” didalam kitab Wahyu adalah putera2 Elohim. Jadi, sekalipun setiap anggota gereja ini semata-mata mengikuti pimpinan Kristus dalam batin, namun tetap dipimpin oleh suatu tim kepemimpinan Ilahi. Tidak ada satu “bintang”pun yang lebih besar dari bintang lainnya. Kedua belas bintang ini membentuk suatu mahkota untuk memimpin. Ini adalah kepemimpinan bersama dalam arti yang sesungguhnya. Atau lebih tepat dikatakan ini adalah kepemimpinan tubuh (gereja sebagai organisme), dan bukan kepemimpinan organisasi gereja dimana harus ada satu orang tertinggi (senior pastor) sebagai ‘penguasa tunggal’. 

Gereja (perempuan) seperti inilah yang akan melahirkan ‘seorang Anak laki-laki’ seperti ayat kita diatas (versi LAI). Versi LAI menggunakan huruf besar A, sehingga menimbulkan kesan bahwa Anak laki-laki ini adalah Yesus Kristus, dan tentunya perempuan ini adalah Maria. Pemahaman seperti ini keliru. Kitab Wahyu menggunakan bahasa simbol, dan simbol ‘perempuan’ itu jelas merujuk kepada gereja, dan bukan Maria. Karenanya, ‘anak laki-laki’ ini merujuk kepada putera2 Elohim yang akan menggembalakan semua bangsa.

Seperti yang sudah kita bahas dalam tulisan ini bahwa para pemenang gereja akan memerintah sebagai raja2 dan imam2 kelak ketika kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Jadi, “anak laki-laki” yang dilahirkan perempuan ini adalah para pemenang gereja yang akan memerintah dizaman berikut ketika kedatangan Tuhan.

Kita sudah membahas simbol ‘perempuan’ dengan ringkas dalam Wahyu 12, dan saat ini kita akan membahas simbol ‘naga’ dipasal ini, karena ternyata anak laki-laki yang dilahirkan ‘perempuan’ inilah yang mengalahkan ‘naga’. Wahyu 12:3, menegaskan, “Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan diatas kepalanya ada tujuh mahkota”.

Banyak dari simbol di kitab Wahyu ini yang langsung diartikan maknanya. Salah satu contoh ialah ‘naga’ yang disebut ‘ular tua’ atau iblis (Wahyu 12:9). Tetapi, iblis ini dinyatakan “berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh”, dan jika kita perhatikan simbol ‘binatang yang keluar dari dalam laut’ itu juga bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh (Wahyu 13:1). Kita tahu bahwa makna dari simbol ‘binatang’ adalah kerajaan manusia atau sistem pemerintahan manusia. Jadi, iblis ini ‘termanifestasi’/’tampil’ didalam dan melalui kerajaan manusia atau sistem pemerintahan manusia.

Banyak orang kristen berpendapat bahwa iblis itu berada “diluar manusia”, dan barangkali ada dikuburan2 atau mungkin bergantungan dipohon2 besar. Mari kita pahami dimana sesungguhnya iblis berada, sebab kita tidak dapat mengalahkan musuh jika kita tidak tahu dimana ia berada. Perhatikan Wahyu 12:9 diatas, dimana dinyatakan bahwa iblis adalah ‘ular tua’. Istilah ‘tua’ disini diterjemahkan dari istilah ‘archaios’, yang berarti ‘original’ atau ‘ancient’. Artinya, ular tua itu adalah ular yang mula-mula atau yang dahulu kala. Kejadian 3 menjelaskan kepada kita ‘ular’ yang mula2 atau yang dahulu kala ini. Ular dalam Kejadian 3 bukanlah ular jasmani, karena ular jasmani tentu tidak bisa berbicara, dan juga ular jasmani tidak makan ‘debu’ (Kejadian 3:14).

Ular dalam Kejadian pasal 3 adalah iblis yang mencobai Adam dan Hawa. Iblis ini dikutuk Tuhan sehingga ia makan “debu” seumur hidupnya. Debu disini juga tentu bukan debu jasmani (tanah), karena ditegaskan dalam Kejadian 3:19, demikian, “…sebab engkau debu…”. Artinya, manusia adalah “debu”, dan manusia menjadi “makanan” iblis seumur hidupnya. Kita tahu bahwa orang akan menjadi seperti apa yang dimakannya. Jika prinsip ini diterapkan kepada ‘iblis’, maka iblis akan “termanifestasi” atau tertampil” didalam dan melalui manusia yang “dimakannya”.

Paulus dalam surat Roma menjelaskan manifestasi iblis dalam diri manusia dengan istilah ‘dosa’ dalam bentuk tunggal. Dalam surat Roma, jika Paulus menggunakan istilah ‘dosa’ dalam bentuk jamak, maka yang dimaksudkannya adalah perbuatan2 dosa. Tetapi, jika ia menggunakan istilah ‘dosa’ dalam bentuk tunggal, maka yang dimaksudkannya adalah ‘kuasa dosa’ yang membuat manusia berbuat sesuatu yang tidak dikehendakinya. Dalam Roma 7, Paulus menjelaskan kuasa dosa dalam dirinya yang mendorong ia melakukan perbuatan2 dosa (ayat 17). Karenanya, istilah ‘dosa’ (tunggal) yang dipakai Paulus berarti suatu penjelmaan (manifestasi) iblis didalam diri manusia.

Kita harus jelas dahulu mengenai dimana iblis berada atau bermanifestasi atau menjelma, dan menjalankan menjalankan kuasanya. Sesungguhnya, iblis bermanifestasi didalam manusia lama kita atau kedagingan kita. Dan dalam Wahyu 12:3 diatas, iblis menjelma atau termanifestasi didalam dan melalui suatu kerajaan manusia atau sistem pemerintahan manusia.

Kita sudah membahas simbol ‘naga’ dalam Wahyu pasal 12, dan saat ini kita akan membahas bagaimana kelompok ‘anak laki-laki’ atau kelompok ‘dia yang diurapiNya’ atau ‘buah sulung’ ini mengalahkan ‘naga’ atau iblis. Wahyu 12: 11 menegaskan, “Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut”.

Ada tiga hal yang dinyatakan ayat diatas sebagai penyebab kemenangan kelompok ‘anak laki-laki’ yang dilahirkan gereja “Wahyu 12”. Mari kita perhatikan satu persatu. Pertama, mereka mengalahkan iblis oleh darah Anak Domba. Imamat 17:11 menegaskan, “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya…”. Karenanya, darah Anak Domba berbicara mengenai Hayat Anak Domba, atau Hayat Kristus (‘zoe’). Inilah yang menjadi tujuan kedatangan Yesus, yaitu untuk memberikan HayatNya (Yohanes 10:10; ‘hidup=zoe’). Makna “mempunyainya dalam segala kelimpahan” dalam ayat ini sama sekali tidak berbicara soal materi atau jasmani, melainkan soal pertumbuhan Hayat Kristus (‘zoe’). Hayat Kristus bertumbuh sedemikian dan “menelan” hayat lama manusia (maut). I Korintus 15:54 mengatakan, “… Maut telah ditelan dalam kemenangan”. Artinya, maut (hayat lama) sebagai upah dosa, dihancurkan atau “ditelan” oleh kemenangan Hayat Kristus.

I Korintus 15:45 menegaskan bahwa Adam akhir (Yesus) menjadi Roh pemberi Hayat (‘pneuma zoopoieo’=life giving Spirit). Melalui kematian dan kebangkitanNya, Yesus menjadi Roh pemberi Hayat. Roh Kristus yang berdiam didalam batin umat pilihanNya inilah yang terus bekerja membagikan Hayat Kristus. Kemenangan umat pilihanNya atau kelompok ‘anak laki-laki’ semata-mata adalah kasih karunia. Pertumbuhan Hayat Kristus didalam batin kita adalah pekerjaan Roh Kudus, dan jika kita melihat perumpamaan2 tentang kerajaan sorga (khususnya injil Matius), maka kita temukan bahwa ada umat Tuhan yang bertumbuh hidup ‘zoe’-nya, dan ada juga yang tidak. Ada yang diterima dalam kerajaan sorga pada kedatangan Yesus, juga ada yang ditolak. Semua ini adalah kedaulatan Bapa yang mau memberikan kerajaan itu kepada ‘kawanan kecil’ (Lukas 12:32).

Kedua, mereka mengalahkan iblis oleh perkataan kesaksian mereka. Istilah ‘perkataan’ disini adalah ‘Logos’, artinya ini bukan sekedar perkataan2 ‘baik’, tetapi perkataan2 yang mengandung pikiran, perasaan, dan kehendak Elohim. Mereka berbicara hal2 mengenai tujuan, rencana, dan kehendak Elohim. Hayat manusia yang lama, dilambangkan oleh pohon pengetahuan yang baik dan jahat di Taman Eden, juga menghasilkan perkataan2 baik, karena manusia memakan buah pohon pengetahuan jahat dan BAIK.

Jika kita memperhatikan perkataan ‘Logos’ yang diucapkan para pemenangNya ini, maka semua ini disebabkan para pemenangNya menjalankan Hayat ‘zoe’. Jenis hayat tertentu akan mengeluarkan jenis perkataan tertentu juga. Contohnya, anjing menggonggong, kucing mengeong, disebabkan karena mereka memiliki “jenis hidup” berbeda. Karenanya, para pemenang dapat mengucapkan perkataan2 ‘Logos’ disebabkan oleh Roh Kristus yang memberi pertumbuhan Hayat. INI SEMATA-MATA PEKERJAAN ROH HAYAT, INI ADALAH KASIH KARUNIA.

Ketiga, mereka mengalahkan iblis karena mereka tidak mengasihi nyawa (hayat lama) mereka. Para pemenangNya merelakan diri untuk dihancurkan atau “ditelan” hayat lamanya oleh Hayat ‘zoe’. Hayat ‘zoe’ pasti “menelan” hayat lama, sama seperti terang “menelan” gelap. Ini juga merupakan kasih karunia. Karenanya, kemenangan ‘anak laki-laki’ ini adalah semata-mata kasih karunia dan semata-mata kedaulatan Bapa yang mau memberikan kerajaan itu.

Kita masuk kedalam Wahyu pasal 13 yang berbicara mengenai binatang yang keluar dari laut dan dari dalam bumi. Wahyu 13:1-18, menegaskan, “Lalu aku melihat seekor binatang keluar dari dalam laut, bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh; diatas tanduk-tanduknya terdapat sepuluh mahkota dan pada kepalanya tertulis nama-nama hujat… Dan aku melihat seekor binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domba dan ia berbicara seperti seekor naga…”.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan sebelum kita dapat memahami Wahyu pasal 13 ini. Pertama, binatang didalam kitab Wahyu merupakan simbol dari sistem pemerintahan manusia. Kedua, istilah langit, bumi, dan laut merupakan simbol dari realitas2 (alam), dimana ‘langit’ merupakan realitas/alam sorgawi, ‘laut’ merupakan alam/realitas yang paling rendah, dan ‘bumi’ merupakan alam/realitas yang lebih rendah dari alam sorgawi, tetapi yang lebih tinggi dari alam/realitas ‘laut’.

Binatang yang keluar dari dalam ‘laut’ ini terlihat ‘buas’ karena seperti macan tutul, dimana kakinya seperti kaki beruang, dan mulutnya seperti mulut singa (ayat 2). Tetapi, binatang yang keluar dari dalam ‘bumi’ seperti anak domba. Kita tahu bahwa domba bukanlah binatang ‘buas’ dan membahayakan. Sekalipun demikian, jika ‘anak domba’ ini berbicara, maka ia berbicara seperti seekor naga. Kita tahu bahwa ‘naga’ ini merupakan simbol dari iblis. Siapakah sebenarnya binatang yang keluar dari dalam bumi ini? Wahyu 19:20, dan Wahyu 20:10, menegaskan bahwa binatang yang keluar dari dalam bumi adalah nabi palsu.

Selanjutnya, kita perhatikan bahwa kedua binatang ini mempunyai ‘tanduk’ yang merupakan simbol dari ‘kekuasaan’ (power). Jadi, binatang yang keluar dari dalam laut memiliki kekuasaan sebagai sistem pemerintahan manusia dalam dunia ini (kerajaan2 dunia). Sementara itu, binatang yang keluar dari dalam bumi memiliki kekuasaan sebagai sistem pemerintahan manusia dalam ‘dunia kekristenan’. Kita tidak perlu heran jika kitab Wahyu mendeskripsikan dunia kekristenan sebagai ‘nabi palsu’. Sebab, dunia kekristenan lahir karena gereja telah jatuh dan pecah menjadi puluhan ribu denominasi. Dan perpecahan gereja disebabkan para pemimpin yang menegakkan otoritasnya sendiri serta menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka (Kis. 20:28-30). Dunia kekristenan terdiri dari kerajaan2 para pemimpinnya, dan ini bukanlah gereja seperti yang Yesus dirikan. Sebab, didalam gereja yang Yesus dirikan tidak boleh ada pemimpin, dalam arti orang yang berotoritas atas gereja selain Tuhan Yesus sendiri (Matius 23:1-12). Didalam gereja yang Yesus dirikan tidak boleh ada sistem pemerintahan manusia. Tidak boleh ada ‘hierarki’ karena gereja adalah organisme yang dipimpin langsung oleh otoritas Hayat Kristus. Karenanya, tidak heran jika Wahyu 13 menegaskan bahwa dunia kekristenan sebagai ‘binatang yang keluar dari dalam bumi’, dan sebagai nabi palsu.  

Selanjutnya, ada hal yang umumnya menjadi perhatian orang2 kristen, yaitu mengenai tanda atau nama binatang yang dikenakan pada tangan atau dahi seseorang, dan bilangan binatang itu adalah 666 (ayat 16-17). Kunci untuk memahami bilangan binatang ini adalah hikmat Kristus (ayat 18). Tanpa hikmat Kristus tidak mungkin orang memahami makna bilangan 666, karena angka 666 bukanlah angka matematis, tetapi angka simbolik. Jika kita mendapat kasih karunia dihadapanNya, maka kita akan mengerti bahwa tanda atau nama binatang ini tidak lain adalah sifat dasar manusia lama kita (‘beastly nature’). Kita tidak perlu bersusah-payah untuk menemukan tanda 666 pada diri seseorang. Jika seseorang hidup/digerakkan oleh manusia lamanya, maka kita sudah melihat tanda 666 itu. Atau, jika kita melihat orang Kristen melayani dengan kekuatan manusia lamanya (kedagingannya), kita juga sudah melihat tanda 666 itu dalam dirinya.

Angka 6 adalah angka manusia, dan manusia bekerja selama enam hari. Karenanya, angka 666 sesungguhnya angka simbolik untuk gereja2 yang telah jatuh (false churches), dimana segala aktifitasnya digerakkan oleh kedagingan, ambisi manusiawi, cari untung, cari uang dan jabatan, selalu sibuk dengan program2 agamawi tetapi tidak pernah ada dalam pemerintahan Ilahi dan pikiran Kristus.

Sebelum masuk kedalam pasal 14 kitab Wahyu ini, kita perlu mengingat bahwa dengan ditiupnya sangkakala ketujuh, maka rahasia Elohim digenapi, yaitu kerajaan2 dunia, termasuk kerajaan2 manusiawi (denominasi2) dalam dunia kekristenan, diambil alih dan diserahkan kepada Tuhan Yesus dan umat pilihanNya (buah sulung) yang akan berfungsi sebagai raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek, serta memerintah dibumi pada zaman2 berikutnya (Wahyu 11:15). Pasal2 selanjutnya dalam kitab Wahyu menjelaskan detail2 (rincian) dari penggenapan rahasia Elohim. Puncak dari penggenapan rahasia Elohim tergenapi dalam zaman Langit dan Bumi Baru, dimana tidak ada lagi maut yang merupakan upah dosa, serta Bapa dapat menjadi semua dalam semua (Wahyu 21-22).

Kita sudah membahas dengan ringkas rincian dari tampilnya putera2 Elohim (Wahyu 12), dan sistem pemerintahan manusia, baik dalam dunia ini maupun dalam dunia kekristenan (Wahyu 13). Saat ini kita masuk kedalam Wahyu 14, dimana tema utama dalam pasal ini adalah mengenai tuaian. Wahyu 14:1-5 membahas tentang buah sulung (para pemenangNya) yang akan ikut menuai bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kemudian, Wahyu 14:6-13 membahas tentang tiga pemberitaan atau firman penghakiman. Selanjutnya, Wahyu 14:14-20 membahas mengenai tuaian dibumi.

Mari kita perhatikan Wahyu 14:1-3, demikian, “Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis namaNya dan nama BapaNya… Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu”.

Bukit Sion adalah bukit tertinggi di Yerusalem. Dalam Mazmur 48:1-3, Sion disebut sebagai kota Raja Besar, dan juga sebagai gunung Elohim, atau kerajaan Elohim. Yesus sebagai Raja diatas segala raja digambarkan sebagai Anak Domba yang berdiri di bukit Sion. Yesus sebagai pemenang tetap digambarkan sebagai Anak Domba yang taat sepenuhnya kepada Bapa untuk menjadi korban penebusan dosa. Tetapi, Yesus tidak berdiri sendiri dibukit Sion, melainkan bersama dengan 144.000 orang yang didahinya tertulis nama Tuhan Yesus dan nama Bapa disorga.

Kita tahu bahwa angka 144.000 adalah angka simbolik, dimana 12 adalah angka pemerintahan Ilahi, dan angka 12 dikali 12 dikali 1000, berarti pemerintahan Ilahi yang dibawa kedalam kesempurnaan dan kepenuhannya. Dari bukit Sion, Yesus bersama para pemenangNya akan menjalankan pemerintahan Ilahi dalam segala kesempurnaan dan kepenuhannya.

Ditegaskan diatas bahwa di dahi para pemenangNya tertulis nama Bapa. Kita tahu bahwa nama menggambarkan karya, reputasi, kemuliaan, karakter, serta sifat dasar seseorang, Karenanya, para pemenangNya tidak memiliki reputasi, kemuliaan atau sifat dasar Ilahi dari diri mereka sendiri, melainkan semuanya berasal dari Bapa. Hal ini berbeda dengan mereka yang mengenakan tanda 666 didahi atau tangan mereka. Mereka ini berjuang mencapai reputasi, kemuliaan, dan karya mereka dengan kekuatan sendiri, dan untuk diri mereka sendiri.

Selanjutnya, para pemenangNya dapat menyanyikan nyanyian yang tidak dapat dipelajari oleh yang lainnya. Nyanyian adalah ekspresi atau respon dari orang yang mengalami perbuatan2 atau karya Bapa disorga. Oleh kasih karuniaNya, para pemenang mengalami jamahan atau perbuatan2 Bapa dalam kehidupannya. Bapa disorga mau berbuat ini kepada para pemenangNya semata-mata karena Bapa, “…telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu” (Lukas 12:32).

Kita lanjutkan uraian mengenai para pemenang (buah sulung) dalam pasal 14 ini. Wahyu 14:4-5, tertulis, “Mereka ini adalah orang-orang yang tidak mencemarkan diri dengan wanita-wanita, karena mereka adalah perjaka. Mereka ini adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba kemanapun Dia pergi. Mereka ini sudah ditebus dari antara manusia, sebagai buah sulung di hadapan Elohim dan Anak Domba. Dan didalam mulut mereka tidak didapati tipu muslihat, karena mereka itu tanpa cacat dihadapan takhta Elohim” (ILT).

Ada beberapa hal terkait para pemenangNya yang disebutkan dalam ayat kita diatas. Pertama, ditegaskan bahwa mereka adalah orang2 yang tidak mencemarkan diri dengan wanita2 (perempuan), karena mereka perjaka. Hal ini tidak berbicara perempuan2 jasmani, karena perempuan dalam kitab Wahyu adalah simbol gereja. Siapakah “perempuan2” yang dimaksud disini, dimana para pemenangNya tidak mencemarkan diri?

Tentu bukan “perempuan” yang diuraikan dalam Wahyu 12, dimana “perempuan” ini melahirkan putera2 Elohim. Tetapi, perempuan yang tertulis dalam Wahyu 17:5-6, demikian, “…Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur… perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus”. Saat ini kita tidak membahas dengan rinci ibu dan anak2nya (perempuan2) yang diuraikan disini. Namun, bagi mereka yang dapat melihat ‘Dunia Kekristenan’ sebagaimana firman Tuhan melihatnya, akan dapat memahami bahwa perempuan2 yang dimaksud Wahyu 14:4 diatas adalah “Dunia Kekristenan’ yang merupakan pecahan dari gereja mula-mula.

Ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus telah merembes dan diterima secara luas dalam dunia kekristenan (Wahyu 2-3). Oleh kasih karuniaNya, para pemenang tidak ambil bagian didalamnya. Para pemenangNya tidak mencemarkan diri dalam “permainan” uang, jabatan, dan kemuliaan/hormat manusia, yang merajalela dalam dunia kekristenan. Inilah makna “tidak mencemarkan diri dengan wanita-wanita, karena mereka adalah perjaka” sebagaimana ditegaskan dalam Wahyu 14:4 diatas.

Kedua, para pemenangNya adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba kemanapun Dia pergi. Yesus menegaskan bahwa domba2Nya pasti dapat mendengar suaraNya (Yohanes 10:27). Para pemenangNya tidak “mendengarkan”, atau menjadi pengikut pemimpin manapun, atau aliran manapun dalam dunia kekristenan. Bukan karena para pemenang tidak belajar dari para pemimpin, tetapi karena pengurapan dalam batinnya yang membuat, “…tidak perlu kamu diajar oleh orang lain” (I Yohanes 2:27). 

Ketiga, didalam mulut para pemenang tidak didapati tipu muslihat, karena mereka itu tanpa cacat dihadapan takhta Elohim. Istilah ‘tipu muslihat’ diterjemahkan dari istilah Yunani ‘pseudos’ yang berarti falsehood, untruth, false religion. Tentu alasan utama para pemenangNya tidak melakukan ‘tipu muslihat’ adalah karena dijamah oleh “bara api mezbah”, sebagaimana Yesaya sebelum diutus Tuhan (Yesaya 6:7). Tetapi juga dalam pelayanannya, para pemenang tidak mempunyai kepentingan apapun, atau mau cari untung apapun, baik uang, jabatan atau kemuliaan manusia. Oleh kasih karuniaNya, para pemenang dapat berbicara kebenaran firman Tuhan apa adanya, dihadapan siapapun, tanpa perlu “berhati2”, atau melakukan ‘tipu muslihat’ karena berharap keuntungan dari pemberitaannya. 

Demikianlah beberapa ciri dari ‘buah sulung’ yang oleh kedaulatan Bapa, dipilih dari antara manusia dan diproses olehNya. Yakobus 1:17-18, menegaskan, “…Bapa segala terang…yang telah menentukan, agar kita menjadi suatu buah sulung dari ciptaan-Nya…” (ILT).

Setelah kita membahas buah sulung (Wahyu 14:1-5), saat ini kita masuk kedalam tiga pemberitaan firman yang tertulis dalam Wahyu 14:6-13. Mari kita mulai dengan pemberitaan pertama (Wahyu 14:6-7), demikian, “Dan aku melihat malaikat yang lain yang terbang di tengah langit, yang mempunyai Injil kekal untuk menginjili mereka yang tinggal di bumi… Takutlah akan Elohim dan berilah kemuliaan kepada-Nya, karena waktu penghakimanNya telah tiba…” (ILT).

Kita tetap harus mengingat prinsip penafsiran untuk kitab Wahyu. Kitab Wahyu adalah pewahyuan pribadi Yesus Kristus dan gerejaNya dengan bahasa simbol (Wahyu 1:1). Ayat kita diatas jangan ditafsirkan secara harfiah, sehingga kita berpikir bahwa pada akhir zaman ada malaikat dengan sayapnya yang terbang mengelilingi bumi untuk memberitakan injil kekal. Jika demikian penafsiran kita, maka kitab Wahyu bukanlah khabar baik, melainkan berita yang menakutkan tentang peperangan, bencana, malapetaka, serta neraka selama-lamanya.

Ada beberapa hal yang harus kita pahami agar dapat melihat betapa indahnya tiga pemberitaan firman diatas. Pertama, malaikat atau utusan yang memberitakan injil kekal adalah orang2 yang diutus Tuhan, bahkan ungkapan ‘malaikat yang memberitakan injil kekal’ adalah pewahyuan firman atau pewahyuan injil kekal itu sendiri. Jika kita melihat seluruh konteks Wahyu 14 ini yang berbicara tentang ‘tuaian’, maka kita tahu bahwa pemberitaan/pewahyuan injil ini dijalankan oleh Tuhan Yesus dan “buah sulung” yang telah kita bahas (ayat 1-5).

Kedua, ungkapan ‘injil kekal’ berasal dari bahasa Yunani, ‘euaggelion aionios’, yang berarti ‘khabar baik dari zaman-zaman’ atau ‘the good news of the ages’. Apa maksud khabar baik dari zaman-zaman? Efesus 1:9-10, menegaskan demikian, “dengan mengungkapkan kepada kita rahasia kehendakNya… sebagai penatalayanan dari penggenapan saat-saat untuk merangkum segala sesuatu di dalam Kristus, baik hal-hal yang didalam surga maupun hal-hal yang diatas bumi…”(ILT). Artinya, rahasia kehendak Bapa adalah merangkum segala sesuatu didalam Kristus, dan ini terjadi pada dispensasi kegenapan waktu (the dispensation of the fullness of the times, versi Young’s Literal). Jadi, Bapa di sorga mempunyai rencana (rahasia kehendakNya), yaitu berkerja berzaman-zaman (dispensasi-dispensasi) untuk mempersatukan segala sesuatu didalam Kristus.

Kita sudah banyak membahas istilah Yunani ‘aion’, yang dalam banyak versi Alkitab diterjemahkan ‘kekal’ atau ‘eternal’, dalam arti waktu yang panjang tanpa kesudahan atau selama-lamanya. Pemahaman seperti ini membuat orang Kristen tidak mengerti rencana Bapa atau rahasia kehendakNya. Alkitab mewahyukan kepada kita rencana Bapa berzaman2 (dispensasi2) untuk menegakkan kerajaan AnakNya, sehingga segala sesuatu dirangkum dalam Kristus. Alkitab hampir tidak berbicara mengenai ‘kekekalan’, yang merupakan dimensinya Elohim. Alkitab berbicara mengenai RENCANA BAPA DIDALAM DIMENSI WAKTU. Karenanya, ‘khabar baik dari zaman-zaman’ atau ‘the good news of the ages’, berarti khabar baik bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan dirangkum (disatukan) didalam Kristus. Hal ini berbicara pemulihan total segala sesuatu.

Ketiga, bagaimana caranya segala sesuatu dapat dirangkum dalam Kristus? Ayat kita diatas tegas menyatakannya, yaitu melalui penghakiman Elohim. Tetapi, kita harus paham maksud penghakiman Elohim, yaitu, “…apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar” (Yesaya 26:9). Penghakiman Elohim bukan berarti melemparkan manusia selama-lamanya di neraka (hukuman neraka kekal). Khabar ‘neraka kekal’ itu sama sekali bukan khabar baik. Ini bukan injil yang diwahyukan Alkitab, walaupun sudah diterima luas dalam dunia kekristenan.

Kita akan masuk kedalam pemberitaan malaikat kedua yang tertulis dalam Wahyu 14:8, demikian, “Dan seorang malaikat lain, malaikat kedua, menyusul dia dan berkata: Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya”.

Kita harus tetap mengingat konteks seluruh Wahyu 14, yaitu tentang penuaian dibumi (ayat 16). Istilah ‘bumi’ disini merupakan simbol dari dunia kekristenan, dimana telah kita bahas mengenai “binatang yang keluar dari dalam bumi”, yang adalah nabi palsu (Wahyu 13:11-18). Ketika Tuhan Yesus datang (biasa disebut kedatangan kedua kali), maka Ia akan datang sebagai hakim atas umatNya, dan orang2 yang dipilihNya (buah sulung) akan dipermuliakan, dalam arti mendapat tubuh kemuliaan serta memerintah dibumi. Peristiwa ini disebut Paulus dalam surat Roma pasal 8 sebagai ‘glorification by faith’, atau peristiwa ‘kebangkitan tubuh’ seperti diuraikan dalam I Korintus 15. Tuhan Yesus datang bukan untuk membawa seluruh dunia kekristenan (umatNya) ke sorga nun jauh disana, walaupun konsep seperti ini, umumnya, dipercaya dan diberitakan dalam dunia kekristenan. Kita tahu bahwa dalam dunia kekristenan ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (buah sulung), atau dalam Lukas 12:32 disebut ‘kawanan kecil’, yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan itu. Jadi, pada kedatanganNya, Yesus dan “buah sulung” akan memerintah dibumi dengan tubuh kemuliaan, dan akan menuai dunia kekristenan.

Mari kita melihat pemberitaan kedua ini dalam konteks penuaian dunia kekristenan. Ayat kita diatas tegas menyatakan, ‘sudah rubuh, sudah rubuh Babel’. Melambangkan apakah ‘Babel’ itu? Wahyu 17:18, tegas menyatakan bahwa perempuan pelacur yang dilihat Yohanes adalah Babel, kota besar. Mengapa dunia kekristenan disimbolkan ‘Babel’ atau kota besar. Baiklah kita perhatikan fakta ini. Babel dalam Kejadian 10-11, adalah kota jasmani (bukan simbol) yang dibangun Nimrod. Nimrod adalah orang pertama dibumi ini yang berotoritas dan membangun suatu kerajaan. Nimrod disebut ‘pemburu yang gagah perkasa dihadapan Tuhan’, yang berarti Nimrod seorang pemberontak yang mengumpulkan orang2 untuk memberontak juga terhadap Tuhan. Nama ‘Nimrod’ bermakna ‘dia yang mengajak orang2 lain memberontak’.

Kalau demikian, mengapa perempuan pelacur (dunia kekristenan) disimbolkan ‘Babel’, kota besar’? Kota dalam kitab Wahyu merupakan simbol dari sistem pemerintahan. Kota Yerusalem Baru adalah simbol dari sistem pemerintahan Ilahi, itu sebabnya disebut kota kudus (Holy City). Tetapi, Babel, disebut kota besar, adalah karena manusialah yang memerintah didalamnya. Sejak, kaisar Roma, Konstantin menerima kekristenan, maka sistem pemerintahan manusia mulai sangat merajalela dalam dunia kekristenan. Kekristenan memang menjadi “besar”, tetapi tidak “kudus”. Sebenarnya, dalam Kis. 20:28-30, Paulus sudah memperingati para pemimpin gereja bahwa akan tiba saatnya dimana para pemimpin gereja menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri, serta membangun kerajaan sendiri dengan ajaran palsu (ajaran Izebel, Bileam, Nikolaus). Perilaku para pemimpin inilah yang menyebabkan gereja pecah menjadi puluhan ribu denominasi seperti yang kita lihat dalam dunia kekristenan. Dalam tiap denominasi pasti ada seorang “Nimrod” yang memiliki otoritas atas umat Tuhan. Itulah sebabnya, dunia kekristenan disimbolkan Babel.

Pesan malaikat kedua ini jelas bahwa Babel akan dirubuhkan. Dunia kekristenan, yang terdiri dari kerajaan2 manusiawi (denominasi) pasti rubuh ketika kedatangan Yesus. Tetapi, pada akhirnya, dunia kekristenan akan dituai (diselamatkan) oleh pelayanan Yesus dan “buah sulung”.

Saat ini kita masuk kedalam pemberitaan malaikat ketiga yang tertulis dalam Wahyu 14:9-11, demikian, “… Jika seseorang menyembah binatang buas itu dan ikonnya dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya, maka dia pun akan minum dari anggur amarah Elohim… dia akan disiksa dengan api dan belerang…” (ILT). Telah kita tegaskan bahwa tanda atau nama binatang ini tidak lain adalah sifat dasar manusia lama kita (‘beastly nature’). Semua manusia mewarisi sifat dasar ini, karena semua manusia adalah keturunan Adam. 

Sebelum kita membahas ayat2 diatas, mari kita mengingat bahwa pemberitaan ketiga malaikat dalam Wahyu pasal 14 ini terutama ditujukan kepada dunia kekristenan (“bumi”), karena setelah ketiga pemberitaan ini, maka “bumi” akan dituai (14:14-20). Barangkali, banyak orang Kristen berpikir bahwa setelah seseorang lahir baru (menjadi Kristen), beribadah dan melayani dalam dunia kekristenan, maka tidak mungkin ia “menerima tanda/nama binatang ditangan atau dahinya”. Kita akan menjelaskan hal ini seperti berikut.

Dua pohon di Taman Eden, sesungguhnya, melambangkan dua jenis hidup (hayat). Pohon pengetahuan yang baik dan jahat melambangkan jenis hidup ‘maut’ yang dikuasai iblis. Sebab, Roma 6:23 tegaskan bahwa upah dosa adalah maut, dan iblis berkuasa atas maut (Ibrani 2:14). Maut bukan saja berarti mati secara fisik. Ketika Adam memakan buah pohon ‘maut’, maka ia langsung mendapat jenis hidup ‘maut’, yang pada gilirannya berujung kepada kematian fisik. Inilah makna dari ungkapan Ibrani ‘mut tamut’ yang terdapat dalam Kejadian 2:17.

Pohon pengetahuan baik dan jahat (pohon ‘maut’), akan membuat semua manusia keturunan Adam memiliki kerinduan yang kuat untuk beragama. Mari kita perhatikan apa yang Yesus katakan kepada orang2 Farisi/ahli2 Taurat, yaitu orang2 beragama dizamanNya. Yohanes 8:44, menegaskan, “iblislah yang menjadi bapamu…”. Perkataan Yesus ini tidak bermaksud menghina, tetapi mengungkapkan suatu kebenaran penting. Orang2 beragama dizamanNya yang melakukan berbagai ritual/peraturan2 keagamaan tanpa iman, sesungguhnya sedang menjalankan jenis hidup ‘maut’ yang dikuasai iblis. Sekalipun orang2 Farisi/ahli2 Taurat sangat beragama, namun mereka menjalankan jenis hidup ‘maut’ yang dikuasai iblis. Itu sebabnya, Yesus berkata bahwa iblislah yang menjadi bapamu. Bukan berarti iblis mempunyai anak2 seperti orang2 Farisi/ahli2 Taurat, tetapi iblis adalah “bapa” dari jenis hidup ‘maut’. Siapapun yang menjalani jenis hidup ‘maut’, maka iblislah yang menjadi bapanya.

Tetapi, Yesus datang supaya kita mendapat hidup (Yohanes 10:10), yaitu hidup Kristus (‘zoe’). Sejalan dengan bertumbuhnya iman orang Kristen, maka hidup Kristus “menelan” hidup ‘maut’. Paulus menegaskan bahwa hidupnya bukanlah dia lagi, melainkan Kristus. Baiklah kita memperhatikan fakta2 mengenai dunia kekristenan. Wahyu 2-3 menegaskan bahwa gereja telah jatuh oleh ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Jika kita mendapat kasih karunia dihadapanNya, maka kita mengerti bahwa ketiga ajaran palsu inilah yang membuat dunia kekristenan menjadi suatu agama, yaitu agama Kristen. Dalam kondisi sedemikian, tentu banyak anak2 Tuhan yang beribadah dan melayani dalam konteks beragama, sebagaimana orang2 Farisi dan ahli2 Taurat. Karenanya, “tanda/nama binatang” ini sangat merajalela dalam diri orang2 yang beragama.

Orang2 yang beragama dan menjalankan jenis hidup ‘maut’ ini akan minum dari anggur amarah Elohim, dan akan disiksa dengan api dan belerang. Api dan belerang merupakan simbol ‘penyucian’. Kita akan membahasnya kelak ketika kita sampai pada Wahyu 20:14, mengenai kematian kedua dan lautan api. Yang jelas api dan belerang ini bukan api jasmani, atau belerang jasmani. Juga bukan berarti neraka selama-lamanya seperti umum dipercaya dalam dunia kekristenan.

Setelah pemberitaan ketiga malaikat (Wahyu 14:6-13) mengenai penghakiman atas dunia kekristenan (“bumi”), maka sekarang kita tiba pada penuaian di”bumi” (Wahyu 14:14-20). Perlu kita tegaskan lagi tentang tujuan penghakiman Elohim, yaitu “… apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar” (Yesaya 26:9). Jadi, meskipun penghakiman melibatkan murka Elohim didalamnya, namun bertujuan agar orang mengenal apa yang benar.

Mari kita melihat beberapa poin dalam penuaian dunia kekristenan, seperti tertulis dalam Wahyu 14:14-20, demikian, “Dan aku melihat… serupa Anak Manusia yang mempunyai mahkota emas di kepalaNya dan sabit tajam di tanganNya… Ayunkanlah sabit-Mu dan tuailah, karena waktu-Mu telah tiba untuk menuai sebab tuaian di bumi sudah matang… Ayunkanlah sabitmu yang tajam dan kumpulkanlah tandan-tandan anggur dari bumi, karena anggurnya telah masak… dan darah mengalir dari pemerasan anggur itu sampai setinggi kekang kuda, sejauh seribu enam ratus stadia” (ILT).

Pertama, Anak Manusia adalah Tuhan Yesus yang akan menuai dunia kekristenan melalui penghakimanNya, sebab demikianlah maksud kedatanganNya, yaitu untuk menghakimi umatNya.

Kedua, Tuhan Yesus menggunakan ‘sabit’ untuk menuai umatNya. Sabit disini bukanlah sabit jasmani, tetapi ‘para pemenangNya’ atau ‘buah sulung’ seperti tertulis pada Wahyu 14:1-5, yang telah kita bahas. Demikianlah genap yang tertulis dalam Lukas 10:2, “KataNya kepada mereka: ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”. Pekerja-pekerja inilah buah sulung ciptaan (Yakobus 1:18). Jadi, “buah sulung” akan dipakai Tuhan Yesus untuk menuai “bumi” atau dunia kekristenan yang telah jatuh ini, tetapi yang telah siap dituai karena ketiga pemberitaan yang telah kita bahas sebelumnya. 

Ketiga, ayat kita diatas memakai simbol “kumpulkanlah tandan-tandan anggur dari bumi, karena anggurnya telah masak… dan darah mengalir dari pemerasan anggur itu sampai setinggi kekang kuda, sejauh seribu enam ratus stadia”, untuk menjelaskan penuaian dibumi. Sekali lagi, prinsip penafsiran kita janganlah ‘harfiah’, karena disini dijelaskan bahwa “darah mengalir dari pemerasan anggur”. Demikian juga, darah yang mengalir, “setinggi kekang kuda, sejauh seribu enam ratus stadia”, bukan berbicara darah manusia karena terjadi peperangan akhir zaman, seperti beberapa penafsir memahaminya.

Kalau demikian apa makna simbol diatas? Tandan2 anggur dibumi yang sudah masak tentu berbicara orang2 kristen yang telah mengenal kebenaran oleh penghakiman Elohim. Darah yang mengalir sejauh seribu enam ratus stadia berbicara darah Yesus yang membersihkan umatNya. Perhatikan jarak seribu enam ratus ‘stadia’ adalah kurang lebih 321 km, karena satu stadia sama dengan 201,16 m. Jarak 321 km itu sama dengan jarak antara kota Dan dan Bersyeba di Israel (dari ujung ke ujung wilayah Israel) Artinya, seluruh umat Tuhan dibasuh oleh darah Yesus. Demikianlah kita harus memahami simbol ini. Ingat juga bahwa konteks seluruh Wahyu 14, bukanlah berbicara peperangan, melainkan penuaian.

Dari kebenaran firman Tuhan dalam Wahyu 14 ini tentang penuaian dibumi, betapa aneh jika selalu diberitakan dalam dunia kekristenan bahwa ‘percaya Yesus masuk sorga’. Tetapi yang benar adalah ‘percaya Yesus mendapat hayat ‘zoe’, dan akan dihakimi oleh Yesus pada saat kedatanganNya. Setelah mengenal kebenaran dan menjadi matang barulah dituai, dan para penuainya adalah “buah sulung” yang telah matang lebih dahulu.

Kita sudah membahas pasal 14 mengenai penuaian, dan saat ini kita masuk kedalam pasal 15 dan 16, mengenai simbol lain yang dilihat rasul Yohanes dilangit, demikian, “Dan aku melihat suatu tanda lain di langit, yang besar dan ajaib: Tujuh malaikat yang memegang tujuh bencana yang terakhir, karena kemarahan Elohim telah digenapi di dalamnya” (Wahyu 15:1, ILT). Ada banyak simbol (tanda) yang telah dilihat Yohanes, diantaranya, kaki dian emas, tujuh bintang, takhta dengan 4 makhluk dan 24 tua-tua, pembukaan 7 materai, ketujuh sangkakala, perempuan dan naga, binatang yang keluar dari laut dan bumi, Anak Domba di bukit Sion dengan 144.000 pengikutNya… dan saat ini Yohanes melihat simbol lain, yaitu tujuh malaikat dengan tujuh bencana yang terakhir.

Sekalipun kitab Wahyu memperlihatkan banyak tanda atau simbol kepada rasul Yohanes, tetapi pewahyuan yang disampaikan melalui simbol2 itu tetaplah sama, yaitu pewahyuan Yesus Kristus dan gerejaNya, serta tentu juga kerajaanNya. Simbol ‘tujuh malaikat dengan tujuh bencana’ melibatkan kemarahan dan penghakiman Elohim didalamnya. Terutama, kepada siapakah penghakiman dan kemarahan Elohim ini tertuju? Perhatikan Wahyu 16:1, demikian, “Dan aku mendengar suatu suara nyaring dari tempat kudus, yang berkata kepada ketujuh malaikat itu, pergilah dan tumpahkanlah cawan-cawan amarah Elohim ke bumi” (ILT). Telah kita lihat bahwa simbol ‘bumi’ disini adalah dunia kekristenan. Karenanya, ketujuh malaikat dengan tujuh bencana, terutama ditujukan kepada dunia kekristenan. Penghakiman ‘tujuh malaikat dengan tujuh bencana’ ini bertujuan agar dunia kekristenan mengenal apa yang benar.

Dan, sebelum penghakiman dimulai, Yohanes melihat, “…aku melihat sesuatu seperti laut kaca yang dicampur dengan api, dan mereka yang menang atas binatang buas itu dan atas ikonnya dan atas tandanya dan atas bilangan namanya…” (Wahyu 15:2, ILT). Disini, rasul Yohanes kembali melihat para pemenangNya atau buah sulung ciptaanNya. Para pemenangNya ini menyanyikan nyanyian Musa, dan nyanyian Anak Domba. Nyanyian Musa berbicara mengenai pembebasan dari Mesir, dimana para pemenangNya memuji, “Besar dan ajaiblah karya-karyaMu…” (15:3). Sementara nyanyian Anak Domba, sang penebus dosa, berbicara mengenai pembebasan atau penebusan semua manusia, “…karena segala bangsa akan datang dan menyembah dihadapan Engkau…” (15:4).   

Setelah semua yang dilihat rasul Yohanes ini, maka, “…tampaklah, tempat suci tabernakel kesaksian di surga telah terbuka. Dan keluarlah ketujuh malaikat yang memiliki tujuh bencana dari tempat kudus itu dengan berpakaian linen yang bersih dan cemerlang dan dengan dililiti sabuk emas sekeliling dadanya” (Wahyu 15:5-6, ILT). Dari dalam BaitNya, yaitu gereja pemenangNya, keluarlah suatu pelayanan penghakiman yang disimbolkan oleh ‘tujuh malaikat dengan tujuh bencana’. Kita lihat disini bahwa para pemenangNya menjalankan penghakiman Elohim, dan hal ini menggenapi apa yang dikatakan Paulus kepada orang2 kudus di Korintus bahwa ‘kamu akan menghakimi dunia’ (I Korintus 6:2).

Para pemenangNya akan menjalankan penghakiman Elohim kepada dunia kekristenan, agar dunia kekristenan mengenal pewahyuan Tuhan Yesus dan gerejaNya, serta kerajaanNya.

Kita meneruskan simbol ‘Tujuh malaikat yang memegang tujuh bencana (malapetaka) yang terakhir’ dimana ministri ini ditujukan kepada dunia kekristenan, agar umat Tuhan mengenal apa yang benar. Telah kita lihat bahwa ministri ini dijalankan oleh ‘buah sulung’ atau para pemenangNya. Para pemenangNya (buah sulung) bukannya tidak mengalami semua “bencana atau malapetaka” yang diuraikan dalam pasal 16 ini, melainkan telah lebih dahulu mengalaminya. Sebab ‘buah sulung’ artinya kelompok yang lebih dahulu matang untuk dituai.

Kita tidak membahas dengan rinci ministri “ketujuh malaikat” dengan simbol2nya, tetapi kita akan membahas secara khusus ministri “malaikat ketujuh” dimana ministri ini ditujukan kepada ‘Babel’, kota besar (Wahyu 16:17-21). Namun demikian, kita akan mengutip tulisan J. Preston Eby terkait sebagian dari makna simbol2 ministri ketujuh malaikat ini, sebagai berikut:

Simbol ‘bumi’ bermakna alam keagamaan jiwani/manusiawi. Simbol ‘laut’ bermakna alam kedagingan terkait tubuh. Simbol ‘mata-mata air’ bermakna sumber2 ide, konsep, tradisi2, ajaran2, doktrin2, dan hikmat duniawi, sedangkan simbol ‘sungai-sungai’ merupakan “aliran-aliran” dimana semua ide, konsep, doktrin, tradisi ini diajarkan, dan dipromosikan oleh institusi2 agamawi. Simbol ‘matahari’ merupakan “terang luaran”, yaitu aturan2, otoritas2, hierarki2, dari langit dan bumi lama. Simbol ‘takhta binatang dan kerajaannya’ bermakna ‘hati manusia’ yang licik, dimana segala kejahatan berasal, termasuk kejahatan2 “rohani’ atau kejahatan2 “agamawi”. Simbol ‘sungai Efrat’ bermakna kekuasaan yang menahan umat Tuhan tetap diperbudak dalam keagamaan “Babel”. Simbol ‘sungai Efrat’ berbicara tentang pemisahan antara kerajaan keagamaan Babel dan Tanah Perjanjian kita dari warisan dalam Kristus. Simbol ‘angkasa’ berbicara tentang atmosfir yang diciptakan oleh program2 manusia, promosi2 manusiawi, alam pengertian2 agamawi. Demikianlah kurang-lebih makna dari simbol2, dimana ketujuh malaikat menumpahkan cawan murka Elohim kepada dunia kekristenan, sehingga dunia kekristenan mengenal apa yang benar.   

Sebagai penutup bagian ini, kita akan langsung masuk kedalam ministri malaikat ketujuh yang menumpahkan cawannya ke angkasa (Wahyu 16:17-21). Wahyu 16:19, menegaskan, “… Dan Babilon yang yang besar itu diingat dihadapan Elohim, untuk memberikan kepadanya cawan anggur kemarahan murka-Nya” (ILT). Telah kita tegaskan bahwa ‘Babel’ adalah simbol yang dikenakan pada dahi dari “perempuan pelacur dan anak2nya” (Wahyu 17:5). Sebagaimana telah kita ketahui bahwa simbol ‘perempuan’ selalu merujuk kepada gereja, namun disini disebut gereja “pelacur”. Dunia kekristenan adalah gereja mula-mula yang telah jatuh dan pecah menjadi puluhan ribu denominasi, dan kejatuhan ini dijelaskan dalam Wahyu 2-3 karena adanya tiga ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Dunia kekristenan bukannya tidak menerima firman Tuhan yang murni, tetapi selain menerima firman Tuhan yang murni juga menerima firman ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Sebagaimana pelacur menerima banyak ‘benih’ dari banyak laki2, demikianlah secara umum, dunia kekristenan menerima ‘benih’ firman Tuhan yang murni dan benih firman ketiga ajaran palsu diatas.

Tentu, didalam dunia kekristenan telah umum diberitakan dan diajarkan bahwa denominasi itu adalah gereja. Tetapi, pada waktuNya, sifat dasar dari “gereja-gereja” dalam dunia kekristenan akan dibukakan. Alkitab tegas menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang tertutup yang tidak akan dibukakan. Salah satu yang akan dibukakan pada hari penghakimanNya adalah sifat dasar “gereja2” dalam dunia kekristenan.

Kita melanjutkan ministri malaikat ketujuh yang menumpahkan cawannya ke angkasa (Wahyu 16:17-21), dimana ministri ini terkait penghakiman ‘Babel”. Sesungguhnya, penjelasan ministri malaikat ketujuh terkait ‘Babel’ ini terus berlanjut sampai pasal 18, dan ditutup oleh ‘nyanyian kemenangan di sorga’ dalam Wahyu 19:1-5. Mengapa demikian panjang? Sebab, setelah penghakiman ‘Babel’ selesai, maka ‘pernikahan Anak Domba’ dapat terlaksana. Mempelai Kristus sejati perlu dipersiapkan, dan dinyatakan. (19:7). Karena, setelah terjadi ‘pernikahan Anak Domba’, maka kerajaan Kristus (kepala dan Tubuh) mulai menghakimi dan berperang dalam kebenaran untuk memulihkan segala sesuatu (19:11-16). Ministri kerajaan Kristus inilah yang akhirnya menghadirkan Langit dan Bumi Baru, dimana tidak ada lagi ‘maut’ yang merupakan upah dosa (21:4).

Mari kita masuk kedalam ‘penghakiman Babel’ ini. Wahyu 17:1, menegaskan, “Dan datanglah satu dari ketujuh malaikat yang membawa ketujuh cawan itu dan dia berbicara denganku, seraya mengatakan kepadaku, Marilah, aku akan menunjukkan kepadamu penghakiman atas pelacur besar yang duduk di atas air yang banyak” (ILT). Siapakah ‘pelacur besar’ yang akan dihakimi? Wahyu 17:18, menegaskan bahwa perempuan yang dilihat oleh rasul Yohanes adalah ‘kota besar’, dan ‘kota besar’ itu adalah ‘Babel’ (18:2). Jadi, ‘perempuan pelacur’ itu ADALAH ‘kota besar’, yaitu Babel.

Kita harus tetap mengingat bahwa kota Babel yang dijelaskan dalam Kejadian 10-11, adalah kota jasmani yang memang benar2 ada dalam sejarah. Sementara, ‘kota Babel’ yang tertulis dalam kitab Wahyu adalah ‘simbol’. Kita dapat mengetahui makna dari suatu simbol itu dengan memperhatikan sejarahnya. Babel adalah salah satu dari kota kerajaan yang dibangun Nimrod (Kejadian 10:8-10). Nimrod adalah orang yang pertama kali berkuasa dibumi dan, “ia seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN…” (Kejadian 10:9). 

Banyak orang mengira bahwa Nimrod ini seorang yang melayani dan hidup DIHADAPAN Tuhan (Kej. 10:9). Tetapi kita telah tahu bahwa Strong’s Concordance mengungkapkan fakta mengenai istilah Ibrani PANIM yang diterjemahkan DIHADAPAN mempunyai arti yang sangat bervariasi. Dalam Kej.10:9 seperti misalnya Bil. 16:2, istilah Ibrani PANIM yang diterjemahkan DIHADAPAN juga memiliki arti literal MEMBERONTAK. Dan didalam Jewish Encyclopedia, nama Nimrod berarti ia yang membuat semua orang memberontak melawan Tuhan. Terjemahan Alkitab ILT (Indonesian Literal Translation) membuat catatan kaki untuk terjemahan DIHADAPAN, yaitu TEGAR MENENTANG. Dapat disimpulkan bahwa Nimrod ini adalah seorang yang memberontak dan tegar menentang Tuhan, dan Nimrod mendirikan kerajaan sendiri dimana salah satunya adalah Babel.

Perempuan pelacur dan kota Babel yang dilihat rasul Yohanes memiliki makna yang sama. Kedua simbol ini sama-sama merujuk kepada gereja, tetapi gereja yang akan dihakimi. Gereja yang mendapat simbol ‘perempuan pelacur’ atau ‘kota Babel’ ini dihakimi, agar mempelai sejati Anak Domba dapat tampil.

Mari kita teruskan pembahasan kita mengenai penghakiman ‘Babel’ atau penghakiman ‘perempuan pelacur’ (Wahyu 17:1). Telah kita bahas bahwa ‘Babel’ adalah kota kerajaan yang dibangun Nimrod. Nimrod adalah seorang pemimpin yang berkuasa, dan bukan saja ia menggerakkan orang2 untuk membangun kota (Babel), tetapi juga sebuah menara (Kejadian 11:1-9). Motivasi Nimrod membangun kota dan menara jelas tertulis, yaitu cari nama supaya jangan terserak (11:4). Nama merupakan ekspresi dari reputasi, kemuliaan, karya2, dan juga karakter seseorang. Nimrod bertujuan agar melalui reputasi, kemuliaan, karya2 dan karakternya, ia dapat menarik orang2 kepada dirinya dan tidak terserak. Demikianlah memang maksud Nimrod dalam membangun kerajaannya.

Kerajaan yang dibangun Nimrod langsung mendapat penghakiman Elohim. Dengan mengacau-balaukan bahasa mereka sehingga mereka tidak dapat berkomunikasi, maka usaha Nimrod dan para pengikutnya langsung gagal dan hancur. Karena memang melalui kekuatan sebagai pemimpin dan kekuatan komunikasinya-lah, maka Nimrod berhasil menggerakkan orang banyak untuk memiliki satu tujuan, misi, dan visi bersama untuk membangun suatu kerajaan.

Baiklah kita kembali kedalam penghakiman ‘perempuan pelacur’ atau ‘Babel’ dalam kitab Wahyu. Mengapa gereja (perempuan pelacur) yang mendapat simbol ‘Babel’ dihakimi oleh Elohim sehingga rubuh, dan ‘Babel’ tidak akan ditemukan lagi (Wahyu 18:21). Penjelasannya demikian. Kita perlu memahami makna gereja yang mendapat simbol ‘Babel’ didahinya seperti tertulis dalam Wahyu 17:5, demikian, “Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi”. Sesungguhnya, gereja mendapat simbol ‘Babel’ disebabkan ada “Nimrod-Nimrod” yang membangun kerajaannya sendiri. Dengan demikian, gereja dikuasai sistem pemerintahan manusia (hierarki), atau dengan kata lain, didalam gereja terdapat otoritas “Nimrod”. Dan Tuhan Yesus tidak menghendaki didalam gerejaNya terdapat otoritas “Nimrod”.

Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan perkataan Yesus dalam Matius 23:1-12. Bagian firman Tuhan ini merupakan semacam ‘pendahuluan’ sebelum Yesus menegor para pemimpin agama dizamanNya dengan ucapan, ‘celakalah’ (Matius 23:13-36). Dalam Matius 23:1-12, Yesus berbicara kepada dua kelompok orang, yaitu ‘orang banyak’ dan ‘murid2Nya’ (ayat 1). Dan, konteks bagian ini adalah ‘kursi Musa’ yang merupakan simbol dari suatu otoritas. Yesus tegas mengajarkan agar ‘orang banyak’ jangan memberontak kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, karena mereka telah menduduki ‘kursi Musa’, dalam arti karena mereka memiliki suatu otoritas. Tetapi kepada murid2Nya, Yesus berkata agar jangan seorangpun disebut rabi, pemimpin, atau bapa (ayat 8-10). Maksud Yesus bukan berarti didalam gerejaNya tidak boleh ada para pemimpin, pengajar atau bapa2 rohani. Tetapi, maksud Yesus, sesuai konteks “kursi Musa”, bahwa DIDALAM GEREJANYA TIDAK BOLEH ADA SEORANGPUN YANG BEROTORITAS SELAIN YESUS. Artinya, didalam gerejaNya hanya ada otoritas Hayat, karena Yesus adalah Hayat, dan Ia juga datang untuk memberi Hayat (Yohanes 10:10). GerejaNya adalah organisme dimana hanya berlaku otoritas dari Hayat organisme itu, yaitu Yesus sang Hayat. 

Paulus menjelaskan kejatuhan gereja dengan jelas, yaitu karena para pemimpin MENARIK murid2 kepada diri mereka sendiri (Kis. 20:28-30). Para pemimpin gereja seharusnya hanya MEMPERLENGKAPI umat Tuhan (Efesus 4:11-12). Perilaku para pemimpin gereja yang menarik murid2 Tuhan SAMA PERSIS dengan perilaku Nimrod dalam membangun kerajaannya, yaitu Babel. Itu sebabnya, gereja “pelacur” mendapat simbol ‘Babel”.

Mengapa juga gereja mendapat simbol ‘perempuan pelacur’? Kita tahu bahwa pelacur menerima banyak “benih” dari banyak pria. Didalam gereja mula2 tidak ada benih “otoritas Nimrod”, selain benih Hayat. Paulus, Petrus, dan Yohanes sama sekali tidak mempunyai otoritas atas gerejaNya. Mereka hanya memperlengkapi murid2 Tuhan saja. Mereka tidak pernah menarik uang dari murid2 Tuhan untuk kehidupan pribadinya, ataupun untuk membangun pelayanannya. Mereka tentu menerima sesekali pemberian jemaat atau orang2 tertentu sesuai kerelaan mereka, tetapi mereka tidak menarik murid2 Tuhan, apalagi uangnya untuk diri mereka sendiri, serta membangun kerajaannya sendiri.

Dunia kekristenan telah dipenuhi dengan “otoritas Nimrod”. Dalam setiap denominasi tentu ada “Nimrodnya”. Bukan saja “otoritas Nimrod” yang masuk kedalam dunia kekristenan, secara umum, tetapi juga “benih2” ajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus (Wahyu 2-3). Itu sebabnya, kita tahu, bahwa dunia kekristenan mendapat simbol ‘Babel’ dan ‘perempuan pelacur’, serta akan dihakimi pada saat kedatangan Yesus, dan tidak akan ada lagi.

Telah kita bahas mengapa gereja yang mendapat simbol ‘Babel’ akan dihakimi pada kedatanganNya, sedemikian sehingga hancur dan tidak ditemukan lagi (Wahyu 18:21). Saat ini, kita akan membahas seruan dari sorga yang berkata, “…Pergilah kamu, hai umatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya” (Wahyu 18:4). Maksudnya, didalam gereja ber-simbol ‘Babel’ terdapat dosa2 yang mendatangkan penghakiman Elohim, dan umat Tuhan diperintahkan agar jangan mengambil bagian dalam dosa-dosa itu.

Ungkapan ‘mengambil bagian’ pada Wahyu 18:4, diterjemahkan dari ungkapan Yunani, ‘me sugkoinoneo’, yang artinya, ‘tidak bersekutu atau tidak berfellowship’. Hal ini mengingatkan kita kepada surat I Yohanes 1:3, yang berkata demikian, “… supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami…”. Rasul Yohanes mengirim suratnya kepada gereja2 di Asia Kecil (7 gereja), supaya anggota2 gereja yang menerima firman yang diberitakannya dapat memiliki persekutuan dengan rasul Yohanes dan timnya. Rasul Yohanes dan timnya tidak mempunyai ‘persekutuan’ dengan ketujuh gereja di Asia Kecil, karena gereja2 itu telah jatuh oleh ketiga ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus (Wahyu 2-3). Rasul Yohanes bukannya tidak menyampaikan pesan2 firman Tuhan atau melayani gereja2 ini, tetapi ia tidak dapat bersekutu dengan gereja2 ini karena dosa2 oleh ketiga ajaran palsu tersebut. Rasul Yohanes dan timnya tidak ambil bagian dalam dosa2 ketujuh gereja ini.

Didalam Wahyu 14:4, yang telah kita bahas, ditegaskan bahwa “buah sulung” tidak mencemarkan dirinya dengan “perempuan-perempuan”. Umat pilihanNya telah diproses Tuhan sedemikian sehingga tidak ‘mencemarkan diri’ dengan gereja2 yang sudah jatuh. Sekali lagi perlu kita ingat bahwa “buah sulung” bukanlah anggota2 gereja yang spesial, dalam arti ‘lebih baik’ dari anggota2 gereja lainnya. Hal ini semata-mata kehendak Bapa untuk menjadikan dan menentukan kita sebagai “buah sulung” ciptaanNya (Yakobus 1:18).  

Mari kita mengambil contoh dari kasus Israel yang keluar dari Mesir, agar dapat lebih memahami perkara ini. Bangsa Israel yang keluar dari Mesir sangat banyak, barangkali hampir 2 juta orang, tetapi yang sampai di Tanah Perjanjian hanya dua keluarga saja, yaitu keluarga Yosua dan Kaleb. Hal ini disebabkan mayoritas bangsa Israel telah keluar dari Mesir, tetapi “Mesir” belum keluar dari mereka. Itu sebabnya, jika ada kesulitan, maka Israel selalu cenderung ingin kembali ke Mesir. Akar masalahnya, didalam hati mereka masih terdapat kerinduan akan ‘kenikmatan2 Mesir’, seperti yang mereka sendiri katakan (Bilangan 11:5). Tetapi, oleh kasih karuniaNya, Kaleb mempunyai ‘jiwa yang berbeda’ dan ia mengikut Tuhan sepenuh hati (Bilangan 14:24).

Baiklah kita menerapkan kebenaran ini kedalam kehidupan kita sekarang. Kita tahu bahwa dunia kekristenan adalah gereja2 yang mendapat simbol ‘Babel’, dimana ajaran Izebel, Bileam, serta Nikolaus telah diterima secara luas. Oleh kasih karuniaNya, “buah sulung” dapat dengan mudah mentaati perintah dalam Wahyu 18:4 diatas, agar ‘keluar dan jangan ambil bagian didalamnya’. Mengapa? Karena, oleh penentuan dan proses dari Bapa disorga, maka bukan saja “buah sulung” telah keluar dari “Babel”, tetapi “Babel” juga telah keluar dari dalam hatinya. Tidak ada lagi kerinduan2 didalam hati “buah sulung” akan kenikmatan “Babel”, seperti uang, jabatan, atau kemuliaan manusia yang ditawarkan bagi seseorang yang “melayani” dalam dunia kekristenan.

Setelah uraian yang panjang, dari Wahyu 16:17 sampai Wahyu 18, mengenai malaikat ketujuh yang mencurahkan cawan murka Elohim keatas gereja2 yang mendapat simbol ‘Babel’, maka kita masuk kedalam pasal 19 mengenai ‘nyanyian kemenangan di sorga’, demikian, “Dan setelah hal-hal ini, aku mendengar suara yang nyaring dari kerumunan orang banyak di dalam surga, yang mengatakan, Halelu-YAH! Keselamatan dan kemuliaan dan hormat dan kuasa ada pada YAHWEH, Elohim kita, sebab benar dan adil penghakiman-Nya karena Dia telah mengadili pelacur besar itu, yang terus menerus merusak bumi dengan percabulannya. Dan Dia telah menuntut balas darah para hamba-Nya dari tangannya” (Wahyu 19:1-2, ILT).

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dari ayat2 kita diatas. Pertama, sekalipun ‘kerumunan orang banyak di surga’ memuji Yahweh karena penghakimanNya, namun mereka berseru bahwa ‘keselamatan’ ada pada Yahweh, Elohim kita. Penghakiman Elohim memang bertujuan agar orang mengenal apa yang benar (Yesaya 26:9). Tanpa penghakiman Elohim, tidak mungkin orang dapat mengenal apa yang benar. Itu sebabnya, Yesus berkata, “…Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi…” (Yohanes 9:39). Yesus datang kedunia bukan saja untuk memberikan HayatNya (Yohanes 10:10), tetapi juga untuk menghakimi. Tanpa penghakiman Elohim, tidak mungkin benih Hayat Kristus (‘zoe’) dalam diri umatNya dapat bertumbuh, dalam arti umatNya memperoleh ‘zoe’ dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10).

Kedua, kerumunan orang banyak di surga’ memuji Yahweh karena Dia telah menghakimi ‘pelacur besar’. Identitas ‘pelacur besar’ ini memang tersembunyi bagi banyak orang dalam dunia kekristenan, karena ‘pelacur besar’ ini merupakan suatu ‘rahasia’ atau ‘misteri’ (Wahyu 17:5). Rahasia atau misteri adalah suatu kebenaran tersembunyi yang memerlukan pewahyuan Elohim untuk memahaminya. Namun, bagi para pemenangNya, identitas ‘pelacur besar’ ini tidak lagi merupakan rahasia. Seperti yang sudah kita tegaskan dalam tulisan ini bahwa ‘pelacur besar’ ini tidak lain adalah sistem (‘kosmos’) kekristenan atau dunia kekristenan, atau gereja2 yang mendapat simbol ‘Babel’.

Ketiga, penghakiman Elohim atas dunia kekristenan ini terkait perihal, “menuntut balas darah para hamba-Nya dari tangannya”. Apakah mungkin dunia kekristenan “mencurahkan” darah para hamba Tuhan atau orang2 yang diutus Tuhan kepadanya? Yesus berkata dalam Matius 23:35, demikian, “supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah”. Pada ayat ini, Yesus sedang berbicara kepada para pemimpin agama dizamanNya, yang terikat dengan Perjanjian Musa. Para pemimpin agama ini, atau Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin), adalah umat Tuhan, yang bahkan Yesus katakan mereka telah menduduki ‘kursi Musa’ (Matius 23:2). 

Sesungguhnya, Yesus sendiri dibunuh oleh Mahkamah Agama Yahudi, dimana Imam Besar Kayafas memimpin ketujuh puluh anggotanya. Pontius Pilatus hanyalah “alat” ditangan Mahkamah Agama Yahudi, karena pada saat itu Kekaisaran Roma berkuasa atas bangsa Israel. Sebenarnya, Pontius Pilatus sudah ingin membebaskan Yesus, tetapi oleh hasutan orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, maka orang banyak berteriak agar Yesus disalibkan, dan mereka memilih Barabas (Matius 27:20).

Sayangnya, dalam dunia kekristenan, ada tertulis dalam ‘pengakuan iman’ yang telah diterima luas, bahwa Yesus ‘menderita dibawah pemerintahan Pontius Pilatus’, seolah-olah Pilatuslah yang menjadi pelaku utamanya. Tetapi yang benar bahwa tercurahnya darah Yesus dilakukan oleh dunia keagamaan dizamanNya.

Pada saat kedatanganNya, Yesus akan berterus terang kepada dunia kekristenan (Matius 7:21-23). Saat ini kita belum tahu, mana hamba Tuhan dan mana hamba Mamon. Tetapi, Paulus tegas menyatakan bahwa jika ia mencoba berkenan kepada manusia, maka ia bukanlah hamba Kristus (Galatia 1:10). Biarlah Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan pada hariNya, siapa2 yang menjadi hambaNya, dan siapa yang bukan.

Kita teruskan pembahasan kita dalam pasal 19 mengenai ‘nyanyian kemenangan di sorga’ terkait ke-24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup. Wahyu 19:4-6, menegaskan, “Dan, kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk hidup itu bersungkur dan mereka menyembah kepada Elohim yang duduk di atas takhta, seraya berkata, ‘Amin! Halelu-YAH!’ Dan keluarlah suatu suara dari takhta itu sambil berkata, ‘Pujilah Elohim kita, kamu semua para hambaNya, dan kamu yang takut akan Dia, dan kamu yang kecil, dan kamu yang besar… Halelu-YAH! Sebab YAHWEH, Elohim Penguasa Semesta, memerintah” (ILT).

Setelah ‘nyanyian kemenangan di sorga’ terkait penghakiman atas ‘pelacur besar’ (dunia kekristenan) itu terjadi, maka ‘nyanyian kemenangan di sorga’ berlanjut kepada penyembahan dari ke-24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup, seperti tertulis pada ayat kita diatas. Telah kita bahas bahwa ke-24 tua-tua dan 4 makhluk ini merupakan simbol orang2 kudus dari segala bangsa, yang telah diproses Tuhan menjadi raja2 dan imam2, serta akan memerintah dibumi (Wahyu 5:9-10). Selanjutnya, keluarlah suatu suara dari takhta agar ‘kamu semua para hambaNya, dan kamu yang takut akan Dia, dan kamu yang kecil, dan kamu yang besar’ untuk memuji Elohim kita, sebab Elohim penguasa semesta, memerintah.

Kita tahu bahwa penghakiman atas dunia (‘kosmos’) kekristenan, bukanlah berarti menolak umat Tuhan yang berada didalamnya. Gereja-gereja yang mendapat simbol ‘Babel’ tetaplah umat Tuhan yang telah dipanggil (‘ekklesia’). Tuhan menghakimi umatNya dalam dunia kekristenan agar terbebas dari ‘perbudakan sistem Babel’. Sebagaimana Israel sebagai umat Tuhan dibuang kedalam perbudakan Babel karena penyembahan berhala mereka, demikianlah umat Tuhan dalam dunia kekristenan jatuh kedalam perbudakan sistem Babel karena adanya “penyembahan berhala” melalui ajaran2 palsu Izebel, Bileam, Nikolaus dari para pemimpinnya Tetapi, pada akhirnya, umat Tuhan dalam dunia kekristenan akan dibebaskan dari perbudakan sistem Babel, dan selanjutnya, dari takhtaNya keluar suara agar semuanya memuji Elohim, baik yang kecil maupun yang besar.

Perintah atau suara dari takhta Elohim agar semuanya memuji Dia, terkait dengan akan datangnya pemerintahan Elohim dibumi ini. Inilah kebenaran yang umumnya tersembunyi dalam dunia kekristenan. Banyak orang Kristen memiliki konsep bahwa fokus rencana Tuhan adalah sorga. Memuji Tuhan selama-lamanya di sorga. Tetapi, sesungguhnya, kekeliruan ini disebabkan perbudakan sistem Babel, dimana umumnya selalu diberitakan bahwa ‘percaya Yesus masuk sorga’. Tetapi, sebenarnya fokus rencara Tuhan adalah bumi. Ia akan memerintah dibumi ini melalui ‘ke-24 tua-tua dan 4 makhluk’ sebagai raja2 dan imam2.

Sistem lama dalam dunia kekristenan dimana gereja diperlengkapi oleh rasul2, nabi2, penginjil2, pengajar2 dan gembala2, telah runtuh dan jatuh dalam perbudakan. Sekalipun, puji2an selalu dinaikan dalam dunia kekristenan, tetapi hal ini seperti ketika Israel berada ditepi sungai2 Babel, dan berseru, “Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing?” (Mazmur 137:4). Tetapi kelak, melalui penghakiman Elohim, umat Tuhan dalam dunia kekristenan akan terbebas, dan memuji Dia semata-mata karena Elohim akan memerintah dibumi.

Mari kita lanjutkan pasal 19 mengenai ‘nyanyian kemenangan di sorga’, terkait ‘perkawinan Anak Domba’. Wahyu 19:7-9, menyatakan demikian, “Marilah kita bersukacita dan marilah kita bersukaria dan marilah kita memberikan kemuliaan kepadaNya! Sebab pesta perkawinan Anak Domba telah tiba, dan mempelai wanitaNya telah mempersiapkan dirinya…. Berbahagialah dia yang dipanggil ke dalam perjamuan pesta perkawinan Anak Domba…” (ILT). Siapakah mempelai wanita dari Anak Domba, dan siapakah mereka yang dipanggil kedalam perjamuan pesta perkawinan ini? Inilah yang akan kita bahas dalam bagian ini.

Kita akan menjelaskan identitas ‘mempelai wanita’ Anak Domba ini dari sifat dasar Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru. Mengenai sifat dasar PL, Yeremia 31:32, menegaskan demikian, “bukan seperti perjanjian yang telah Aku ikat dengan leluhur mereka (PL)… mereka telah melanggarnya, walaupun Aku telah menjadi suami bagi mereka” (ILT). Jelas terlihat disini bahwa sifat dasar PL adalah suatu perjanjian antara suami-isteri. Yahweh sebagai suami, dan Israel sebagai isteriNya. Sementara itu, PB bersifat seperti perjanjian bapa-anak. Yesus mengajarkan murid2Nya untuk menyebut ‘Bapa’ dalam doa2 mereka. Paulus juga mengajarkan bahwa kita yang terikat dengan Elohim melalui PB adalah ahli2 waris. Sebagai seorang anak, tentu kita akan menerima warisan dari Bapa di sorga.

Karenanya, ‘mempelai Anak Domba’ secara khusus, berasal dari bangsa Israel sebagai isteri Yahweh. Tetapi, sebagaimana yang telah kita bahas mengenai ke-144.000 orang yang dimeteraikan dari suku2 Israel adalah “buah sulung” atau gereja pemenang, maka ‘mempelai Anak Domba’ juga berasal dari gereja pemenang.  Kita tahu bahwa Galatia 3:7, menyatakan, “… mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham”. Jadi, ‘mempelai Anak Domba’ berasal dari bangsa Israel, dan juga dari bangsa2 lain yang merupakan ‘gereja pemenang’.

Tetapi harus kita tegaskan bahwa ‘mempelai Anak Domba’ adalah gereja “perawan” yang diuraikan dalam Wahyu pasal 12, dan bukan berasal gereja “pelacur” yang diuraikan dalam Wahyu pasal 17. Justru, perkawinan Anak Domba terjadi setelah jelas siapakah mempelai wanitaNya. Saat ini belum jelas, atau belum dipersiapkan siapa yang adalah mempelai wanitaNya. Namun, pada waktu kedatanganNya, ketika Ia menghakimi umatNya, barulah jelas dan akan tampil ‘mempelai wanitaNya’.

Satu poin lagi perlu kita ingat mengenai gereja “perawan” yang diuraikan dalam Wahyu pasal 12. Dalam Wahyu 12, dijelaskan bahwa gereja “perawan” (feminin) melahirkan putera2 Elohim (maskulin) yang akan menggembalakan segala bangsa dengan tongkat besi (12:5). Sesungguhnya, sebagaimana ‘mempelai wanita Anak Domba’ itu bersifat korporat (banyak orang), demikian juga mempelai prianya bersifat korporat. Jadi, pada peristiwa perkawinan Anak Domba, Yesus dan putera2 Elohim (maskulin) akan bersatu dengan mempelai wanita, yaitu gereja “perawan”.

Sekarang, siapakah mereka yang diundang atau dipanggil untuk ikut dalam perjamuan kawin Anak Domba? Tentu mereka ini bukanlah ‘mempelai wanita’ Anak Domba itu. Kita teringat kepada perumpamaan 5 gadis bijaksana dan 5 gadis bodoh (Matius 25:1-13). Bisa jadi, 5 gadis bijaksana ini berasal dari gereja “pelacur” yang telah dihakimi sehingga mengenal apa yang benar. Mereka ambil bagian dalam menaikkan puji2an yang diperintahkan oleh suara dari takhta (Wahyu 19:5).

Sebagai penutup bagian ini, kita jangan berpikir bahwa ‘perjamuan kawin Anak Domba’ adalah perjamuan kawin ‘jasmani’, sebagaimana yang kita kenal didunia ini. Perkawinan itu merupakan simbol dari ‘penyatuan’. I Korintus 6:17, menegaskan, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia”. Perjamuan kawin Anak Domba adalah penyatuan Tuhan dengan umatNya dalam roh.

Telah kita bahas dalam pasal 19 mengenai ‘nyanyian kemenangan di sorga’ terkait penghakiman pelacur besar, penyembahan ke-24 tua-tua dan 4 makhluk, serta perkawinan Anak Domba, maka selanjutnya sorga terbuka dan kita diperlihatkan pewahyuan Yesus Kristus berikutnya terkait ‘kuda putih’. Wahyu 19:11-15, menegaskan, “Dan aku melihat surga yang terbuka, dan lihatlah, seekor kuda putih dan Dia yang duduk diatasnya yang disebut Setia dan Benar, dan Dia menghakimi dan berperang dalam kebenaran… yang mempunyai suatu nama yang telah tertulis, yang tidak seorangpun mengetahui, kecuali Dia sendiri… Dan bala tentara di surga mengikuti Dia di atas kuda-kuda putih dengan mengenakan linen halus yang putih dan bersih. Dan dari mulutNya keluar sebilah pedang tajam supaya dengannya Dia dapat memukul bangsa-bangsa. Dan Dia akan menggembalakan mereka dengan tongkat besi…” (ILT). 

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam ayat2 diatas. Pertama, Yesus Kristus yang duduk diatas seekor kuda putih. Telah kita bahas mengenai seorang yang menunggang kuda putih pada pembukaan meterai pertama dalam Wahyu 6:1-2. Disini Yesus Kristus berperang seorang diri untuk menaklukkan. Tetapi dalam pasal 19 ini, Yesus Kristus berperang bersama bala tentara surga untuk menaklukkan.

Bala tentara sorga ini bukanlah para malaikat ‘bersayap’, karena ditegaskan bahwa mereka memakai ‘linen halus yang putih bersih’ yang merupakan simbol dari perbuatan2 yang benar dari orang2 kudus (Wahyu 19:8). Jadi, Yesus Kristus dengan orang2 kudusNya akan berperang dan menaklukkan segala sesuatu. Hal ini menggenapi nubuat Henokh dalam Yudas 14-15, demikian, “Lihatlah, YAHWEH datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya untuk melakukan penghakiman terhadap semua orang…” (ILT).

Kedua, Yesus Kristus mempunyai nama yang tidak diketahui seorangpun kecuali Dia. Nama berbicara mengenai karakter, kemuliaan, reputasi, dan karya2 seseorang. Jadi, disini Yesus Kristus memiliki karya, kemuliaan, reputasi yang tidak diketahui orang. Tetapi kepada para pemenangNya akan dituliskan nama Elohim, BapaNya (Wahyu 3:12; 14:1). Bagi banyak orang Kristen, Yesus Kristus dikenal sebagai Tuhan dan Juruselamat. Siapa yang percaya kepadaNya masuk sorga, dan yang tidak percaya akan dilemparkan kedalam neraka selama-lamanya. Orang Kristen yang memiliki konsep neraka kekal selama-lamanya, jelas tidak mengenal nama Yesus sesungguhnya. Setelah Yesus Kristus dan para pemenangNya menaklukkan segala sesuatu, termasuk ‘maut’ (upah dosa) yang merupakan musuh terakhir, maka barulah semua orang akan mengenal nama Yesus.

Ketiga, ayat diatas menegaskan bahwa Yesus Kristus akan memukul bangsa-bangsa dengan ‘pedang tajam yang keluar dari mulutNya’. Bagi para penafsir ‘jasmani atau ‘harfiah’, maka dipahami bahwa Yesus akan menghukum bangsa2 dan membinasakannya pada saat kedatanganNya. Para penafsir ini tidak memahami ‘Bahasa simbol’ dari kitab Wahyu (Wahyu 1:1). Bahkan ungkapan ‘lautan api’ dalam kitab Wahyu dipahami sebagai neraka kekal selama-lamanya. Kita akan membahasnya kelak.

Tetapi sesungguhnya, maksud ayat2 diatas adalah Yesus Kristus bersama para pemenangNya akan menghakimi dan menggembalakan bangsa2 dengan firman Elohim, sedemikian sehingga bangsa2 mengenal apa yang benar. Kerajaan Mesias, yaitu Yesus dan para pemenangNya, akan datang dan termanifestasi sepenuhnya di bumi bukan untuk membinasakan bumi, melainkan menggembalakan bangsa2 dengan firman Elohim sehingga bumi bergerak menuju Bumi Baru dan Langit Baru dimana terdapat kebenaran.

Saat ini kita masuk kedalam pasal 20, setelah pewahyuan Yesus Kristus dibukakan dalam pasal 19, bahwa Yesus dengan para pemenangNya akan berperang untuk menaklukkan segala sesuatu. Kita akan bahas Wahyu 20:1-3, demikian, “Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya”.

Kita lihat disini bahwa Iblis dilemparkan kedalam ‘jurang maut’ agar tidak menyesatkan bangsa-bangsa. Ungkapan ‘jurang maut’ diterjemahkan dari istilah Yunani, ‘abussos’, yang artinya, ‘bottomless pit’ atau ‘lubang tak berdasar’. Karena lubang ini tidak mempunyai ‘dasar’, maka Iblis tidak mendapat ‘pijakan/pondasi/ground’ untuk beraktifitas. Itu sebabnya ia tidak dapat menyesatkan bangsa-bangsa.

Mari kita ambil contoh bagaimana Iblis tidak dapat beraktifitas atau berbuat sesuatu, karena tidak mendapat ‘pijakan/pondasi/ground’ dalam kehidupan Yesus. Yohanes 14:30, menegaskan demikian, “… penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diriKu”. Sekalipun memang iblis bekerja melalui Yudas, Mahkamah Agama Yahudi, dan banyak orang lainnya yang ambil bagian dalam penyaliban Yesus, namun terhadap Yesus sendiri, Iblis tidak dapat berbuat apa-apa. Mengapa? Karena didalam Diri Yesus, Iblis tidak mendapat ‘pijakan’ untuk menyerangNya.

Didalam Diri Yesus tidak terdapat sedikitpun ‘celah’ atau dosa apapun yang menyebabkan Iblis mendapat ‘pijakan’ untuk berbuat sesuatu. Hal ini berbeda dalam kasus Ayub. Perhatikan Ayub 3:25, demikian, “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku”. Disini kita melihat bahwa dalam diri Ayub terdapat ketakutan dan kecemasan akan perkara2 yang pada akhirnya menimpa dirinya. Ketakutan dan kecemasan Ayub menjadi suatu ‘pijakan’ atau ‘ground’ yang menyebabkan Iblis dapat menyerangnya.  

Tetapi, kita jangan cepat2 menyimpulkan bahwa Iblis memiliki kebebasan untuk menyerang siapapun yang dikehendakinya. Iblis dapat menyerang Ayub dan keluarganya karena memang Bapa disorga memiliki rancangan bagi Ayub, yaitu agar Ayub mengenal Dia dengan benar (Ayub 42:5). Iblis hanyalah ‘budak’ atau ‘alat’ saja ditangan Bapa disorga untuk memproses Ayub. Iblis tidak bebas menyerang Ayub kecuali sudah diizinkan Bapa disorga (Ayub 1:12; 2:6).

Pada ayat kita diatas, Iblis hanya diikat selama seribu tahun. Kemudian, ia dibebaskan untuk sedikit waktu lamanya, karena Bapa disorga memiliki rencana tertentu baginya. Iblis diikat selama seribu tahun karena pada masa seribu tahun ini Kristus dan para pemenangNya akan memerintah sebagai raja2 dan imam2 dibumi (Wahyu 20:4).

Kita lihat bahwa terhadap Kristus dan para pemenangNya, Iblis tidak dapat berbuat apa-apa selama seribu tahun. Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini? Apakah Iblis dapat berbuat sesuatu untuk menyerang kehidupan kita sekarang? Oleh kasih karuniaNya, saat ini juga, kita dapat berkata seperti Yesus, bahwa Iblis tidak dapat berbuat apa-apa dalam kehidupan kita. Yang dapat terjadi atas hidup kita sekarang hanyalah kehendak dan rancanganNya. Bagi kita, IBLIS SEOLAH-OLAH TIDAK ADA. Semua yang terjadi atas hidup kita adalah kehendak Bapa, itu sebabnya semua baik, amin.

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang ‘kerajaan seribu tahun’ dengan melihat Wahyu 20:4-5, demikian, “Dan aku melihat takhta-takhta dan mereka yang duduk di atasnya –dan penghakiman telah diberikan kepada mereka- dan jiwa-jiwa mereka yang dipenggal karena kesaksian YESUS dan karena firman Elohim, serta siapapun yang tidak menyembah binatang… tidak menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya. Dan mereka hidup dan memerintah bersama Kristus selama seribu tahun… Inilah kebangkitan pertama” (ILT).

Ada beberapa hal kita lihat dari ayat2 ini. Pertama, kepada para pemenangNya, didalam kerajaan seribu tahun, diberikan anugerah untuk menghakimi dibumi (Wahyu 5:10). Tujuan dari penghakiman Elohim yang diserahkan kepada mereka adalah, “… apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar” (Yesaya 26:9). Jadi, penghakiman mereka bersifat ‘mengoreksi’, dan bukan saja ‘penghukuman’, karena memang apa yang ditabur oarng, itu juga yang akan dituainya.

Kedua, ditegaskan disini bahwa para pemenangNya ‘dipenggal karena kesaksian Yesus’. Ini bukan berarti para pemenangNya adalah orang2 yang kepala ‘jasmaninya’ dipenggal. Pemenggalan disini adalah simbol yang berbicara soal mengganti ‘pikiran kedagingan’ dengan ‘pikiran Kristus’. Selanjutnya, para pemenangNya tidak menyembah binatang atau menerima tanda binatang itu, karena di-dahi para pemenangNya tertulis nama Anak Domba dan nama Bapa disorga. Artinya, para pemenangnya memiliki pikiran Kristus.

Ketiga, Para pemenangNya memerintah 1000 tahun bersama Kristus, karena mengalami ‘kebangkitan pertama’. I Korintus 15 menjelaskan kepada kita mengenai kebangkitan. Tentu kita tidak membahas seluruhnya melainkan beberapa fakta saja. Fakta pertama, semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian juga semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Fakta kedua, tiap-tiap orang akan dibangkitkan menurut urutannya (ayat 23). Fakta ketiga, Kristus Yesus sebagai ‘buah sulung’, dalam arti sebagai yang pertama dibangkitkan (ayat 23). Fakta keempat, pada saat kedatanganNya, kelompok pemenangNya akan dibangkitkan (ayat 23). Dalam Wahyu 14:4, kelompok pemenangNya juga disebut ‘buah sulung’. Artinya, para pemenangNya ‘lebih dahulu’ mengambil bagian dalam kebangkitan Kristus. Fakta kelima, sesuai konteks I Koritus 15, maka pada pada akhirnya SEMUA orang akan dibangkitkan dalam Kristus, sehingga Bapa dapat menjadi SEMUA dalam SEMUA (ayat 28).

Paulus juga menjelaskan perihal ‘kebangkitan’ ini dalam surat Roma. Dalam surat ini Paulus menjelaskan keselamatan dengan tiga ungkapan berturut-turut. Justification by faith (pembenaran oleh iman), Sanctification by faith (pengudusan oleh iman), dan glorification by faith (pemuliaan oleh iman). Pemuliaan oleh iman hampir tidak dibicarakan dalam dunia kekristenan, tetapi justru inilah puncak keselamatan itu. Roma 8:18-30, menjelaskannya demikian. Pemuliaan oleh iman sama dengan pengangkatan sebagai anak dan pembebasan tubuh jasmani kita (ayat 23). Anak-anak Elohim akan ditampilkan dibumi dengan tubuh kemuliaan untuk membebaskan ciptaan (Roma 8:19-21).

Saat kerajaan seribu tahun ditegakkan dibumi ini merupakan saat anak2 Elohim sebagai ‘buah sulung’ dimuliakan (ditampilkan) kepada seluruh makhluk. Ini juga berarti datangnya (manifestasi penuh) kerajaan sorga dibumi.  

Kita lanjutkan pembahasan mengenai ‘kerajaan seribu tahun’ terkait dengan ‘kematian kedua’. Apakah makna dari ungkapan kematian kedua? Wahyu 20:6, menegaskan demikian, “Berbahagialah dan kuduslah dia yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama. Kematian kedua tidak mempunyai wewenang atas mereka. Namun mereka akan menjadi imam-imam Elohim dan Kristus, dan mereka akan memerintah bersama-Nya selama seribu tahun” (ILT). Pandangan umum dalam dunia kekristenan menganggap ‘kematian kedua’ sebagai ‘kematian pertama’ (kejatuhan Adam dan seluruh manusia kedalam dosa), kemudian bagi orang yang tidak percaya Yesus akan dilempar lagi kedalam ‘kematian kedua’, dan biasa disebut ‘neraka kekal’ selama-lamanya. Benarkan demikian?

Untuk memahami makna ‘kematian kedua’, kita harus tahu apa makna ‘kematian pertama’. Kejadian 2:17, mengatakan bahwa pada hari engkau (Adam) memakannya, engkau akan mati. Istilah ‘mati’ diterjemahkan dari ungkapan Ibrani, ‘mut tamut’, yang berarti pada saat engkau memakannya, maka engkau langsung mendapatkan jenis hidup ‘maut’ (karena upah dosa adalah maut), dan kemudian akan berproses menuju kematian fisik. Inilah makna ‘kematian pertama’.

Istilah ‘maut’ yang sering digunakan Alkitab tidak harus berarti kematian fisik. Paulus menegaskan seseorang (janda) yang ‘hidup mewah dan berlebih-lebihan’ sudah mati selagi hidup (I Timotius 5:6). Maksudnya, seseorang yang menjalani jenis hidup ‘maut’, dia sudah mati secara ‘rohani’, walaupun fisiknya masih hidup dibumi.

Sesungguhnya, mati itu adalah suatu ‘transisi’. Suatu ‘perpindahan’ dari alam tertentu menuju ke-alam yang lain. Ketika Adam jatuh dalam dosa, ia sebenarnya pindah dari alam ‘Taman Eden’ (alam sorgawi) menuju ke ‘alam maut dibumi’. Adam tetap hidup dibumi sampai pada akhirnya ia mati fisik.

Perhatikan I Korintus 15, dimana seluruh konteks pasal ini berbicara tentang ‘kebangkitan’ semua orang, dan kita telah menyinggungnya sedikit. Ayat 45-47, menegaskan, “…Manusia pertama, Adam…tetapi Adam yang akhir…Manusia pertama berasal dari debu tanah…manusia kedua berasal dari sorga”. Istilah ‘manusia’ dan ungkapan ‘Adam yang akhir’ yang digunakan Paulus disini sangat penting sekali. Adam di Taman Eden disebut MANUSIA PERTAMA, artinya Adam adalah KEPALA dari seluruh manusia (ras manusia), karenanya kejatuhan Adam berarti kejatuhan semua manusia. Yesus disebut ADAM AKHIR, artinya melalui kematianNya dikayu salib sebagai ADAM AKHIR, Yesus menghapus (“mematikan”) semua akibat2 dari kematian Adam di Taman Eden. Yesus juga disebut MANUSIA KEDUA, artinya Yesus adalah KEPALA ras manusia yang baru. Jika kita memahami kebenaran yang sangat penting ini, maka kita akan paham mengapa Paulus berbicara dalam Roma 5:18-19, bahwa oleh satu pelanggaran, semua orang beroleh penghukuman, dan oleh satu perbuatan kebenaran, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.

Jadi, makna ‘kematian kedua’ bukanlah neraka kekal seperti umumnya dipahami dalam dunia kekristenan. TETAPI KEMATIAN KEDUA ADALAH KEMATIAN YANG MENGHAPUS SELURUH AKIBAT DARI KEMATIAN PERTAMA.

Kita telah membahas makna ‘kematian kedua’ sebagai kematian yang menghapus seluruh akibat ‘kematian pertama’. Baiklah kita berbicara sedikit lagi tentang ‘kematian kedua’. Telah kita tegaskan bahwa ‘kematian’ berarti suatu transisi (perpindahan) dari suatu alam tertentu kepada alam tertentu lainnya. Jadi, sesungguhnya, seseorang yang mengalami ‘kematian kedua’ bersama Kristus, ia berpindah dari alam ‘maut’ menuju alam ‘hidup’, berpindah dari alam ‘kematian’ menuju alam ‘kebangkitan’. Berpindah dari alam ‘pikiran duniawi’ menuju alam pikiran ‘Kristus’.

Paulus mengungkapkan kerinduannya untuk berpindah dari alam ‘kematian’ menuju alam ‘kebangkitan’, demikian, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Filipi 3:10-11). Disini Paulus berbicara mengenai kematian dan kebangkitan BERSAMA YESUS. Paulus rindu mengenal ‘persekutuan dalam penderitaanNya’ agar ia dapat mengenal ‘kebangkitan bersama Yesus’.

Proses bersekutu dalam kematianNya dan kebangkitanNya, pasti dialami SEMUA MANUSIA. Mengapa demikian? Perhatikan Ibrani 2:9, demikian, “Namun kita melihat YESUS… dalam anugerah Elohim Dia dapat merasakan kematian ganti semua orang” (ILT). Sesungguhnya, kematian Yesus sebagai ADAM AKHIR adalah KEMATIAN KEDUA. Dan semua orang telah mengalami ‘kematian kedua’ bersama Yesus, tetapi kebangkitan semua orang bersama Yesus ditentukan urut2an masing2 orang (I Korintus 15).

Perhatikan Wahyu 2:11, demikian, “…barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua”. Para pemenang atau “buah sulung” adalah orang yang dipanggil dan dipilih oleh kedaulatan Bapa sendiri. Para pemenang bukannya tidak mengalami ‘persekutuan dalam penderitaanNya’, tetapi oleh anugerah dan proses dari Bapa disorga, mereka telah mengalaminya ‘lebih dahulu’, sehingga mengalami kebangkitan untuk memerintah bersama Kristus seribu tahun lamanya.

Sebagaimana telah kita ketahui, didalam dunia kekristenan, ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Orang2 yang dipanggil ini adalah sungguh2 orang Kristen yang telah lahir baru. Mari kita lihat ayat berikut ini, dimana orang2 kristen yang telah dipanggil, menderita atau terluka oleh proses kematian kedua. Matius 25:30, demikian, “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu kedalam kegelapan yang paling gelap. Disanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi”.

Konteks Matius 25 adalah mengenai kerajaan sorga, khususnya saat kedatangan Yesus, biasa disebut kedatangan kedua kali. Baik perumpamaan Talenta maupun gadis bijaksana dan bodoh, semua berbicara mengenai orang Kristen. Tetapi, sebagian diterima untuk memerintah bersama Kristus seribu tahun lamanya, sebagian lagi tidak. Orang2 kristen yang tidak mengambil bagian dalam kerajaan seribu tahun mengalami “ratap dan kertak gigi”, dalam arti terluka oleh proses ‘kematian kedua’. Kita perlu tahu bahwa kedatangan Tuhan Yesus kedunia ini bukan untuk mengevakuasi/mengangkat orang Kristen kesorga nun jauh disana. Tetapi kedatangan Tuhan adalah menghakimi umatNya, dimana orang2 yang dipilih akan memerintah bersama Yesus dibumi seribu tahun lamanya, sedangkan yang tidak, akan mengalami proses ‘kematian kedua’. Demikianlah makna proses ‘kematian kedua’ yang harus dialami semua orang.

Kita telah membahas ‘kerajaan seribu tahun’, dan juga tentang ‘kematian kedua’. Saat ini kita masuk kedalam Wahyu 20:11-12, demikian, “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya…. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka…”.

Mari kita melihat beberapa takhta yang tertulis dalam Alkitab. Dalam Wahyu 4:2, tertulis, “…sebuah takhta terdiri di sorga…”. Wahyu 3:21, demikian, “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhtaKu, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhtaNya”. Wahyu 20:4, “Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang2 yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi…”. Wahyu 22:1, “…takhta Anak Domba…”. Dan Matius 19:28, “…akan duduk juga di atas dua belas untuk menghakimi kedua belas suku Israel”. Wahyu 4:4, “…dua puluh empat takhta…”.

Kita melihat disini ada beberapa takhta, yaitu takhta putih yang besar, takhta disorga, takhta2 dalam kerajaan seribu tahun, takhta Anak Domba, 12 takhta, dan 24 takhta. Apakah takhta2 ini berbeda satu dengan lainnya? Sesungguhnya, Elohim hanya memiliki satu takhta. Takhta2 yang bermacam-macam itu hanyalah berbicara mengenai berbagai aspek atau sifat dasar dari satu takhta, yaitu Takhta Elohim. Yang jelas, takhta merupakan ‘simbol’ dari otoritas untuk menghakimi, dan tentu juga berbicara tentang kerajaan. 

Mari kita perhatikan ‘takhta putih yang besar’ pada ayat kita diatas. ‘Putih’ merupakan simbol dari kemurnian dan kebenaran. Kita akan melihat beberapa ayat berikut ini. Amsal 16:12, berkata, “…takhta menjadi kokoh oleh kebenaran”. Mazmur 89:15, “Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhtaMu, kasih dan kesetiaan berjalan didepanMu”. Amsal 20:28, menegaskan, “…dengan kasih ia menopang takhtanya”. Dari ayat2 ini kita lihat bahwa pondasi (tumpuan) dari takhta Elohim adalah KEADILAN dan HUKUM. Tiang penopang dari takhtaNya adalah KASIH. Jadi, penghakiman Elohim (takhta) tidak melanggar keadilan dan hukum, tetapi juga tidak melanggar prinsip kasih.

Itu sebabnya, Yesaya 26:9, berkata, “…sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”. Penghakiman Elohim bertujuan untuk mengoreksi agar orang mengenal kebenaran, bukan menghukum dan melemparkan orang Selama-lamanya dineraka. Jadi, orang2 mati yang dihakimi pada ayat kita diatas bertujuan agar orang2 mati dapat mengenal kebenaran.

Baiklah kita menutup bagian ini dengan melihat kasus dimana Yesus dihadapkan oleh para pemimpin agama kepada perempuan yang kedapatan berzinah (Yohanes 8). Maksud para pemimpin agama ini adalah untuk menyalahkan Yesus (ayat 6). Jawaban atau penghakiman Yesus terhadap perempuan ini adalah pengampunan, dan nasihat agar jangan berbuat dosa lagi. Yesus bukan mengabaikan dosa, tetapi penebusanNya memang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29; I Yohanes 2:2). Nasihat Yesus agar jangan berbuat dosa lagi agar perempuan ini belajar apa yang benar. Jadi, penghakiman Yesus tidak melanggar prinsip KEADILAN (dosa harus diselesaikan di kayu Salib untuk semua orang), tetapi juga tidak melanggar prinsip KASIH (pengampunan). 

Dalam dunia kekristenan, umumnya para pemimpin agama mengajarkan ajaran ‘neraka kekal’. Pengajaran ini tidak memahami sifat dasar takhta Elohim, yang adalah kasih dan keadilan. Bagaimana Elohim dapat menyerahkan atau mempercayai para pemimpin agama ini untuk menjalankan penghakiman Elohim, atau duduk bersama di takhtaNya? Tidak heran jika Yesus berkata kepada para pemimpin agama dizamanNya bahwa para pemungut cukai dan perempuan2 sundal masuk kerajaan sorga lebih dahulu (Matius 21:31).

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang penghakiman ‘Takhta Putih’ yang besar. Wahyu 20:13-15, menyatakan demikian, “Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada didalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada didalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis didalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan kedalam lautan api itu”. Ayat2 ini sangat penting untuk dipahami dengan benar bagi kita, karena setelah penghakiman ‘Takhta Putih’ yang besar, maka rasul Yohanes melihat ‘Langit yang baru dan Bumi yang baru’.

Ada dua hal yang harus kita perhatikan agar memahami penghakiman ‘Takhta Putih’ ini, yaitu lautan api dan kematian kedua. Kita telah membahas makna ‘kematian kedua’ terkait kematian pertama, yaitu sebagai kematian yang menghapus seluruh akibat ‘kematian pertama’. Saat ini kita akan membahas ‘kematian kedua’ terkait dengan ‘lautan api’. Perhatikan ayat kita diatas yang mendefinisikan ‘kematian kedua’ dengan sangat jelas. KEMATIAN KEDUA ADALAH MAUT DAN KERAJAAN MAUT YANG DILEMPARKAN KEDALAM LAUTAN API. Kita jangan sembarangan mendefinisikan ‘kematian kedua’ sebagai neraka kekal selama-lamanya, seperti yang umum dipahami dalam dunia kekristenan.

Pengajaran tentang ‘lautan api’ tidak terdapat dalam Alkitab, kecuali didalam kitab Wahyu (Wahyu 14:10-11; 19:20; 20:10; 20:13-15 dan 21:8). Karenanya, ‘lautan api’ adalah simbol, sesuai dengan sifat dasar kitab Wahyu, yang menggunakan bahasa simbol (Wahyu 1:1). Mari kita pahami dengan baik makna ‘lautan api’, dimana dalam bagian2 lain kitab Wahyu disebut sebagai ‘Lautan api dan Belerang’ (Wahyu 14:10; 19:20; 21:8).  

Baiklah kita mengutip tulisan J. Preston Eby mengenai topik ini, demikian, “Lautan Api dan Belerang menunjuk pada api yang menyala beserta belerang. Kata ‘belerang’ atau sulfur mendefinisikan sifat api. Kata Yunani THEION yang diterjemahkan menjadi ‘belerang’ adalah kata yang sama yang berarti ‘Ilahi’. Sulfur adalah sesuatu yang keramat (suci) bagi dewa-dewa diantara orang-orang Yunani kuno, dan digunakan untuk mengasapi, memurnikan, membersihkan dan menguduskan bagi dewa-dewa. Untuk maksud inilah belerang dibakar didalam ukupan mereka…. Kata kerja yang diturunkan dari THEION adalah THEIOO, yang berarti ‘menyucikan’, ‘menjadikan Ilahi’ atau ‘mempersembahkan kepada allah’ (Lihat Greek-English Lexicon, karangan Liddell and Scott, edisi 1987). Bagi orang Yunani, atau bagi mereka yang terlatih dalam bahasa Yunani, ‘lautan api dan belerang’ berarti ‘lautan pemurnian ilahi’. Pengertian penghakiman tidak perlu dikesampingkan. Pemurnian ilahi dan pengudusan ilahi adalah arti yang gamblang dalam bahasa Yunani kuno. Tetapi dalam pengertian sehari-hari dalam bahasa kita, arti mendasar dari kata tersebut ditiadakan dan dikaitkan dengan siksaan kekal” (akhir kutipan).

Perhatikan kembali definisi ‘kematian kedua’ diatas, yaitu maut dan kerajaan maut yang dilemparkan kedalam lautan api. Kita tahu bahwa upah dosa adalah maut, bukan neraka kekal (Roma 6:23). Orang2 yang ada didalam ‘maut dan kerajaan maut’ dinyatakan dengan jelas dalam Wahyu 21:7-8, demikian, “Siapa yang menang, dia akan mewarisi segala sesuatu dan Aku akan menjadi Elohim baginya dan dia akan menjadi anak bagiKu. Namun bagi yang pengecut, juga bagi yang tidak percaya, dan yang merusak, dan bagi para pembunuh, dan bagi para pezina, dan bagi para penyihir, dan bagi para penyembah berhala, dan bagi semua orang yang berdusta, bagian mereka ada dalam lautan yang dinyalakan oleh api dan belerang, yang adalah kematian kedua” (ILT).

Hanya orang2 yang ditetapkan Bapa untuk menjadi pemenang dan mewarisi kerajaan sorga (Lukas 12:32), merekalah yang tidak mengalami penghakiman ‘lautan api dan belerang’. Tetapi semua orang yang lain akan mengalami ‘pemurnian ilahi’ melalui penghakiman ‘Takhta Putih’ yang besar. Demikianlah makna ‘kematian kedua’ yang terkait dengan ‘lautan api’.

Telah kita bahas makna ‘kematian kedua’, baik yang terkait dengan kematian pertama, maupun yang terkait dengan ‘lautan api’. Kita tahu bahwa ‘kematian kedua’ telah dijalankan oleh Yesus dikayu salib sebagai Adam akhir (I Korintus 15). Kematian Yesus telah menghapus seluruh akibat kematian Adam. Tetapi, penghapusan seluruh akibat kematian Adam atas seluruh manusia, tidak terjadi tanpa suatu proses. Proses penghapusan seluruh akibat dosa2 Adam adalah melalui ‘lautan api’ yang telah kita bahas.

Setelah proses pemurnian ilahi oleh ‘lautan api’, kemudian rasul Yohanes melihat langit yang baru dan bumi yang baru. Perhatikan Wahyu 21:1, demikian, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi”. Saat ini kita akan membahas tentang langit yang baru dan bumi yang baru.

Yesaya 65:17-18, menegaskan, “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru… sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorak…”. Penciptaan Elohim atas langit yang baru dan bumi yang baru disini bukanlah seperti Ia menciptakan langit yang pertama dan bumi yang pertama. PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI BARU TERJADI KARENA PENEBUSAN OLEH YESUS KRISTUS. Langit dan bumi baru yang diciptakan Elohim bukanlah sama sekali ‘tidak terkait’ dengan langit dan bumi pertama. Istilah ‘baru’ dalam kitab Wahyu 21:1 disini diterjemahkan dari istilah Yunani, ‘kainos’, dan bukan ‘neos’. Pengertian ‘kainos’ itu baru dalam arti segar, belum pernah digunakan, dan SANGAT KONTRAS dengan yang pertama. Sementara ‘neos’ itu baru terkait dengan usia (masih muda). Jadi, langit dan bumi baru itu diciptakan Elohim dalam arti telah terjadi ‘perubahan yang sangat radikal’ atas langit dan bumi pertama. Perubahan yang sangat radikal ini terjadi karena penebusan Kristus.

II Petrus 3:12-13, menegaskan, “… Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru dimana terdapat kebenaran”. Disini Petrus menegaskan bahwa langit dan unsur2 dunia akan binasa dan hancur oleh api yang bernyala. Ada proses yang terjadi oleh api yang bernyala untuk menghadirkan langit dan bumi baru dimana terdapat kebenaran.

Mari kita perhatikan II Korintus 5:17, demikian, “Jadi siapa yang ada didalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”. Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘baru’ disini juga adalah ‘kainos’. Ketika orang percaya diciptakan baru dalam Kristus, bukankah kepribadiannya, dan juga kesadarannya tetap ada? Paulus berkata hidupku bukannya aku lagi tetapi Kristus yang hidup didalam aku. Tentu tidak berarti kepribadian Paulus menjadi hilang dan Elohim menciptakan ‘Paulus’ yang lain sama sekali. Jadi tegasnya, langit dan bumi baru dihadirkan/diciptakan Elohim karena proses perubahan radikal, dan proses perubahan radikal ini terjadi karena penebusan Kristus.

Dalam dunia kekristenan sudah umum orang berharap Yesus datang untuk mengangkatnya kesuatu “tempat” yang disebut sorga. Sesungguhnya, Yesus sama sekali tidak pernah menjanjikan akan membawa kita ke suatu “tempat” yang disebut sorga. Bahkan dalam percakapanNya dimalam terakhir bersama murid2Nya (Yohanes 13-17), Yesus hanya satu kali menyebut istilah ‘sorga’, itupun dalam rangka doaNya kepada Bapa. Jadi, Yesus sama sekali tidak berbicara tentang ‘sorga’ kepada murid2Nya dimalam terakhir itu. Yesus datang untuk memberikan kita hidup baru (‘zoe’), dan hidup ‘zoe’ ini terus bertumbuh sedemikian, sehingga pada saat kedatanganNya, Yesus bersama para pemenangNya akan memulihkan segala sesuatu (langit dan bumi pertama), sehingga menjadi langit dan bumi baru. 

Kita meneruskan pembahasan kita mengenai langit dan bumi baru. Telah kita lihat bahwa penciptaan langit dan bumi baru terjadi oleh penebusan Kristus. Sesungguhnya, langit dan bumi baru adalah simbol dari manusia baru, manusia yang diciptakan baru didalam Kristus. Elohim menegaskan bahwa Ia menjadikan segala sesuatu baru (Wahyu 21:5).

Mari kita perhatikan lagi II Petrus 3:12-13, yang menegaskan, “… Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru dimana terdapat kebenaran”. Istilah ‘unsur-unsur’ pada ayat ini diterjemahkan dari istilah Yunani ‘stoicheion’, yang bermakna ‘prinsip dasar’ (basic principles). Istilah Yunani ‘stoicheion’ digunakan sebanyak 7 kali dalam PB. Paulus menggunakan istilah ini untuk menunjukkan orang kristen yang belum ‘akil balik’ dan takluk kepada prinsip dasar dunia ini (Galatia 4:3; 4:9; Kolose 2:8; 2:20). Orang Kristen, walaupun ia ahli waris, tetapi jika belum ‘akil balik’, maka ia tidak berbeda dengan seorang hamba (Galatia 4:1).

Elohim memang menggunakan ‘prinsip2 dasar’ dunia ini untuk mendidik anak2Nya pada tahap awal. Tetapi, Elohim mengutus Yesus, AnakNya kedalam dunia ini, justru untuk menebus kita dan membawa kita kedalam tingkat (orde, prinsip) yang lebih tinggi, dan memberikan hidupNya (‘zoe’) dimana kita ditempatkan sebagai anak2Nya, dan mengambil bagian sebagai ahli waris bersamaNya.

Perhatikan peringatan Paulus kepada jemaat di Kolose, demikian, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun temurun dan roh-roh (stoicheion=prinsip dasar) dunia, tetapi tidak menurut Kristus” (Kolose 2:8). Jemaat Kolose cenderung menaklukkan diri kepada rupa2 peraturan seperti aturan makanan, minuman, hari raya, bulan baru, hari sabat, dimana semuanya ini hanyalah bayangan saja, sedangkan realitanya atau wujudnya atau penggenapannya adalah Kristus (Kolose 2:16-17).

Jika kita memahami maksud Elohim dalam memberikan PL dan PB kepada umatNya, maka kita tahu bahwa PL hanyalah ‘tahap awal’ saja untuk menuntun umatNya kepada kebenaran. Tetapi tiba saatnya, dimana Elohim menghancurkan ‘prinsip dasar’ (stoicheion) dengan “api yang menyala” seperti tertulis dalam surat Petrus diatas, agar menghadirkan langit dan bumi baru dimana terdapat kebenaran.

Nampaknya, umat Tuhan memang memiliki kecenderungan untuk “mundur kembali” sebagaimana jemaat Kristen Ibrani. Penulis surat Ibrani menasihati agar jemaat melihat kedepan kepada apa yang Elohim telah lakukan. Kita dapat menjelaskan kecenderungan umat Tuhan untuk “mundur kembali” dengan mengingat bahwa manusia memang suka ber-agama. Orang Kristen, umumnya, merasa “nyaman” jika diikat oleh aturan2 agamawi seperti harus pergi kegedung tertentu pada hari tertentu, harus memberi persepuluhan, harus ini dan itu, dan sebagainya.

Sebenarnya, kecenderungan “mundur kembali” itu justru membuat umat Tuhan masuk kedalam perbudakan agamawi. Istilah ‘agama’ itu sendiri berasal dari istilah Latin ‘Religare’, dimana ‘re’ berarti diulang, dan ‘ligare’ berarti diikat. Jadi orang Kristen yang beragama atau yang tunduk pada aturan2 agamawi, sama dengan diikat ulang, dan masuk kedalam perbudakan agamawi. Tetapi pada zaman langit dan bumi baru, umat Tuhan dibebaskan dari perbudakan agamawi melalui “api yang menyala”.

Kita masih membahas Wahyu 21:1, demikian, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi”. Telah kita lihat penciptaan Elohim atas langit dan bumi baru, bukanlah langit dan bumi pertama sama sekali dihapuskan, seolah-olah langit dan bumi baru sama sekali tidak terkait dengan langit dan bumi pertama. Tetapi, Elohim menghadirkan atau menciptakan langit dan bumi baru melalui suatu ‘proses perubahan radikal’ karena karya penebusan Kristus. Surat Petrus dan kitab Wahyu menyebut proses perubahan radikal ini melalui “api yang menyala” atau “lautan api” yang telah kita bahas.

Saat ini kita akan berbicara mengenai langit dan bumi baru dimana, “lautpun tidak ada lagi”. Tentu ‘laut’ disini adalah simbol. Dalam Wahyu 13, kita melihat binatang yang keluar dari ‘laut’, yang merupakan simbol dari sistem pemerintahan duniawi (manusia yang belum diperbaharui). ‘Laut’ dapat bermakna ‘kumpulan orang banyak’, atau dalam arti pribadi, dapat merupakan simbol dari gejolak atau hawa nafsu manusiawi. Jadi, dalam orde/zaman langit dan bumi baru, tidak ada lagi sistem pemerintahan manusiawi, dan tidak ada lagi gejolak hawa nafsu manusiawi. Semua telah diperbaharui oleh karya penebusan Kristus.

Agar lebih memahami langit dan bumi baru dimana tidak ada lagi ‘laut’, kita perlu membahas sedikit mengenai zaman dan dispensasi. Istilah Ibrani ‘olam’ dan istilah Yunani ‘aion’ haruslah diterjemahkan sebagai ‘zaman’ atau waktu, dimana ada awalnya dan ada akhirnya. Sementara itu istilah ‘dispensasi’ diterjemahkan dari istilah Yunani ‘oikonomia’. Diharapkan, pemahaman akan ‘zaman’ dan ‘dispensasi’ akan membuat kita mengerti bahwa langit dan bumi pertama bukannya ditiadakan sama sekali, tetapi masih “nyambung” dengan langit dan bumi baru yang tidak ada lagi “laut”.

Alkitab membedakan antara zaman (Yunani: Aion) dan Dispensasi (Yunani: Oikonomia). Didalam Alkitab setidaknya ada 4 zaman, yaitu Zaman pertama yang tertulis didalam 2 Petrus 2:5 (zaman purba = Ancient World). Yang kedua, terdapat didalam Galatia 1:4 dan II Korintus 4:4 (zaman jahat sekarang ini=Present Wicked Eon). Yang ketiga tertulis dalam Markus 10:30. (zaman yang akan datang=in the coming Eon), dan yang keempat, tertulis dalam Efesus 3:21 dan Ibrani 1:8 (Eon of the Eons=The age of the ages).

Sedangkan istilah Dispensasi (Oikonomia) tertulis didalam 1 Timotius 1:4, yang didalam Alkitab versi ILT diterjemahkan menjadi ‘penatalayanan Elohim’. Istilah Yunani ‘Oikonomia’ terdiri dari 2 kata, yaitu ‘Oikos’ (rumah) dan ‘nomos’ (pengaturan/penyaluran hukum-hukum, berkat makanan, dll). Jadi pengertian Oikonomia adalah pengaturan atau penyaluran hukum-hukum/berkat-berkat kerumah-tanggaan. Terjemahan ILT cukup tepat, yaitu ‘penatalayanan Elohim’. Karenanya, istilah Dispensasi yang kita maksud adalah cara Elohim menata atau mengelola atau memperlakukan manusia dalam suatu periode tertentu. Kita membuat 7 dispensasi berikut ini, pertama, dispensasi Adam (dari Taman Eden sampai air bah), kedua, dispensasi Nuh (dari air bah sampai menara Babel), ketiga, dispensasi Abraham (dari menara Babel sampai perbudakan Israel di Mesir), keempat, dispensasi Musa (dari perbudakan Mesir sampai kedatangan Yesus), kelima, dispensasi para pemenang (pencurahan Roh Kudus sampai kedatangan Yesus “kedua kali”), keenam, dispensasi kerajaan 1000 tahun, dan ketujuh, dispensasi Langit dan Bumi baru. 

Dalam tiap dispensasi, Elohim memperlakukan manusia dengan suatu cara tertentu. Selanjutnya, kita akan membahas apa yang terjadi, dan apa saja yang ada dalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’. Efesus 1:10, dalam Young’s Literal Translation, menyebutkan, “in regard to the dispensation of the fullness of the times, to bring into one the whole in the Christ, both the things in the heavens, and the things upon the earth-in him”. Dispensasi kegenapan/kepenuhan waktu tidak lain adalah dispensasi Langit dan Bumi Baru, dimana segala sesuatu, baik yang dibumi maupun yang disorga, akan dibawa menjadi satu didalam Kristus.

Umumnya, dalam dunia kekristenan, kita diajarkan bahwa kasih karunia Tuhan berhenti setelah kedatangan Yesus kedua kali. Tetapi, justru didalam dispensasi Langit dan Bumi Baru, kita lihat nanti, bahwa air kehidupan ditawarkan secara cuma-cuma kepada barangsiapa yang haus (Wahyu 22:17).

Kita masih berbicara tentang dispensasi Langit dan Bumi Baru. Wahyu 21:2, menegaskan, “Dan aku, Yohanes, melihat kota yang kudus, Yerusalem Baru, yang turun dari Elohim, dari langit, yang telah dipersiapkan bagaikan pengantin wanita yang dihias bagi suaminya” (ILT). Kita lihat disini dalam dispensasi Langit dan Bumi Baru ada suatu kota kudus yang disebut Yerusalem Baru. Ini tentu suatu simbol, sebagaimana sifat dasar kitab Wahyu. Menggambarkan siapakah kota Yerusalem Baru ini?

Perhatikan Wahyu 21:9-10, demikian, “Dan datanglah kepadaku satu dari ketujuh malaikat yang memegang tujuh cawan yang penuh dengan tujuh bencana yang terakhir, dan dia berbicara dengan aku seraya mengatakan, ‘kemarilah, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin wanita, mempelai Anak Domba itu. Dan dia membawa aku dalam Roh keatas gunung yang besar dan tinggi, dan dia menunjukkan kepadaku kota yang besar, Yerusalem suci, yang turun dari surga, dari Elohim” (ILT). Jelas dari ayat2 ini bahwa Yerusalem Baru itu adalah mempelai Anak Domba, karena ketika malaikat akan menunjukkan mempelai Anak Domba, maka ia menunjukkan kota Yerusalem Baru. Kalau demikian, siapakah mempelai Anak Domba?

Kita harus paham bahwa ada dua perempuan yang dinyatakan dalam kitab Wahyu, yang pertama dipasal 12, dan selanjutnya dipasal 17. Kedua perempuan ini memiliki sifat dasar yang sangat berbeda. Perempuan dipasal 12 adalah seorang perawan yang melahirkan putera2 Elohim, sebagaimana Maria melahirkan Yesus, putera Elohim. Tetapi, perempuan dipasal 17 adalah pelacur (17:5). Perempuan pelacur ini juga disebut Babel besar atau kota besar (18:2).

Ada tiga fakta yang perlu kita bahas untuk memahami siapakah mempelai Anak Domba ini. Pertama, yang datang kepada Yohanes untuk menunjukkan mempelai Anak Domba adalah satu dari malaikat yang memegang tujuh cawan murka Elohim (Wahyu 15:5-7). Malaikat ini bukanlah makhluk bersayap, melainkan utusan Elohim, dan utusan ini keluar dari Bait Suci, yang merupakan simbol gereja. Demikian juga malaikat ini memakai lenan yang putih bersih, yang merupakan simbol dari perbuatan2 yang benar dari orang2 kudus (19:8). Kalau kita perhatikan urutan pewahyuan yang diterima Yohanes, maka kita tahu bahwa gereja ini adalah para pemenang (pasal 2-3), atau putera2 Elohim (pasal 12), atau buah sulung (pasal 14) atau mereka yang diserahkan kuasa untuk menghakimi (20:4). 

Kedua, kita tahu bahwa cawan murka Elohim ini ditumpahkan kebumi, sebagai lawan ‘laut’, yang merupakan simbol dari orang2 dunia (16:1). Selanjutnya, cawan ketujuh, khusus dicurahkan kepada kota besar, yaitu Babel, yang adalah perempuan pelacur (16:17-19). Jadi, penghakiman Elohim yang dijalankan oleh para pemenangNya (buah sulung) ditujukan kepada “perempuan pelacur”, atau gereja “pelacur”.

Ketiga, perhatikan kembali Wahyu 21:9-10, diatas. Setelah ketujuh malaikat selesai menjalankan penghakiman Elohim terhadap gereja “pelacur”, maka kemudian salah satu dari malaikat ini memperkenalkan mempelai Anak Domba kepada rasul Yohanes. Tidakkah kita melihat fakta menarik disini? SESUNGGUHNYA, MEMPELAI ANAK DOMBA ADALAH ORANG-ORANG KRISTEN HASIL DARI PELAYANAN PENGHAKIMAN ELOHIM YANG DIJALANKAN OLEH PARA PEMENANG.

Sebagai penutup bagian ini, mari kita melihat lagi makna ‘pelacur’ yang menerima banyak benih dari banyak pria. Dari pesan2 kepada 7 gereja di kitab Wahyu pasal 2 dan 3, kita tahu bahwa para pemenangNya adalah orang2 kristen, yang oleh kasih karuniaNya, tidak mengambil bagian dalam tiga ajaran palsu, yaitu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Secara ringkas, ajaran Izebel adalah ajaran palsu yang membenarkan perampasan otoritas ‘Ahab’ (para pemimpin gereja yang merampas otoritas “suami” gereja yaitu Anak Domba). Ajaran Bileam, suatu ajaran palsu yang membenarkan perdagangan dalam gereja. Ajaran Nikolaus, suatu ajaran palsu yang menarik murid2 Tuhan untuk membangun kerajaan sendiri, serta tentu memperlengkapinya dengan firman Tuhan. Ajaran Nikolaus ini yang menghancurkan keimaman semua orang percaya, sehingga gereja terbelah menjadi dua golongan, yaitu golongan pendeta-jemaat (Protestan), dan golongan imam-umat (Katolik). Yang aslinya adalah para rasul, nabi, penginjil, gembala, pengajar hanyalah memperlengkapi orang2 kudus, dan tidak menarik murid2 Tuhan untuk membangun denominasi atau kerajaan sendiri, atau membelah gereja menjadi 2 golongan. Sampai disini tentu kita tahu bahwa ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus telah diterima luas dalam dunia kekristenan.

Kita teruskan pembahasan kita mengenai dispensasi Langit dan Bumi Baru. Wahyu 21:3, menegaskan, “Dan aku mendengar suatu suara nyaring dari surga yang mengatakan, ‘Lihatlah, tabernakel Elohim ada bersama manusia. Dan Dia akan berdiam bersama mereka, dan mereka akan menjadi umatNya dan Elohim sendiri akan ada bersama mereka sebagai Elohimnya” (ILT).

Saat ini kita akan membahas ‘tabernakel Elohim’ atau ‘Rumah Elohim’, dimana Ia berdiam. Kita perlu memahami ‘pengertian2 dasar’ mengenai ‘Rumah Elohim’ dari kitab2 PL. Perbedaan menyolok antara PL dan PB, adalah PL itu simbol, bayangan, dan nubuat saja, sedangkan realitanya ada didalam PB.

Kita akan melihat pengertian2 dasar tentang ‘Rumah Elohim’ dari PL dengan ringkas, yaitu dalam kasus mimpi Yakub di Betel, karena dalam kasus inilah pertama kali ungkapan ‘Rumah Elohim’ itu muncul. Pengertian dasar pertama, Elohim mau membangun RumahNya di bumi dengan cara menyatukan sorga dan bumi melalui suatu “tangga”, dimana “tangga” ini adalah Yesus, sebagai Anak Manusia. Kedua, Elohim membuat suatu perjanjian dan memberikan hukumNya kepada orang atau komunitas yang akan dipakaiNya membangun ‘Rumah Elohim’. Perjanjian dan hukumNya berbeda dalam setiap dispensasi (zaman).

Ketiga, Rumah Elohim terdiri dari “batu2 hidup” yang dituang Roh Kudus, dan disusun rapih sedemikian sehingga menjadi suatu “tugu”, untuk mengingat karya Elohim dibumi. Batu yang dipakai Yakub sebagai alas kepala adalah “Batu penjuru” yaitu Yesus, dimana batu2 lainnya dibangun diatasNya. Inilah ketiga pengertian dasar ‘Rumah Elohim’ dimana pengertian2 lainnya dibangun diatasnya, sesuai prinsip yang biasa dikenal sebagai ‘first mention principle’ (prinsip penyebutan pertama kali).

Pengertian selanjutnya adalah dalam kasus kemah Musa, yaitu Elohim akan memberikan pengalaman rohani kepada umat yang dipilihNya, dan semua pengalaman rohani ini disimbolkan oleh perabot2 kemah Musa. Kemudian, seluruh umat pilihanNya harus mengikuti ‘awan kemuliaan Tuhan’ saja.  Berikutnya, dalam kasus kemah Daud. Dalam membangun RumahNya, Elohim akan membentuk orang2 pilihanNya menjadi raja2 dan imam2. Kemudian, dalam kasus Zerubabel, yang disebut ‘Rumah Elohim’ haruslah yang dibangun ditempat yang dipilihNya.

Kita langsung masuk kedalam pengertian ‘Rumah Elohim’ yang adalah ‘realita’, bukan simbol, bayangan atau nubuat. Realita ‘Rumah Elohim’ adalah tubuh jasmani Yesus, dan melalui kematian serta kebangkitanNya, “diperluas” menjadi tubuh jasmani umatNya, dimana Elohim yang adalah ‘Keluarga Sejati’ (Bapa, Anak, dan Roh yg bersifat feminim) berdiam didalam batin umatNya. Inilah ‘realita’ dari rumah Elohim atau ‘tabernakel Elohim’ dimana Ia berdiam.

Ayat kita diatas menjelaskan realita ‘rumah Elohim’ atau ‘tabernakel Elohim’ dalam dispensasi Langit dan Bumi Baru. Wahyu 21:22, menegaskan, “Dan aku tidak melihat tempat kudus di dalamnya, karena YAHWEH, Elohim Penguasa Semesta, adalah tempat kudusNya, juga Anak Domba” (ILT). Segala simbol2, aturan2 lahiriah, bangunan2, tempat2 tertentu, apapun juga yang bersifat simbol, tidak terlihat lagi didalam dispensasi Langit dan Bumi Baru. Genaplah perkataan Yesus kepada perempuan Samaria didalam Yohanes 4:23, demikian, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (realita)…”.

Kita teruskan pembahasan kita mengenai dispensasi Langit dan Bumi Baru. Wahyu 21:3, menegaskan, “Dan aku mendengar suatu suara nyaring dari surga yang mengatakan, ‘Lihatlah, tabernakel Elohim ada bersama manusia. Dan Dia akan berdiam bersama mereka, dan mereka akan menjadi umatNya dan Elohim sendiri akan ada bersama mereka sebagai Elohimnya” (ILT).

Saat ini kita akan membahas ‘tabernakel Elohim’ atau ‘Rumah Elohim’, dimana Ia berdiam. Kita perlu memahami ‘pengertian2 dasar’ mengenai ‘Rumah Elohim’ dari kitab2 PL. Perbedaan menyolok antara PL dan PB, adalah PL itu simbol, bayangan, dan nubuat saja, sedangkan realitanya ada didalam PB.

Kita akan melihat pengertian2 dasar tentang ‘Rumah Elohim’ dari PL dengan ringkas, yaitu dalam kasus mimpi Yakub di Betel, karena dalam kasus inilah pertama kali ungkapan ‘Rumah Elohim’ itu muncul. Pengertian dasar pertama, Elohim mau membangun RumahNya di bumi dengan cara menyatukan sorga dan bumi melalui suatu “tangga”, dimana “tangga” ini adalah Yesus, sebagai Anak Manusia. Kedua, Elohim membuat suatu perjanjian dan memberikan hukumNya kepada orang atau komunitas yang akan dipakaiNya membangun ‘Rumah Elohim’. Perjanjian dan hukumNya berbeda dalam setiap dispensasi (zaman).

Ketiga, Rumah Elohim terdiri dari “batu2 hidup” yang dituang Roh Kudus, dan disusun rapih sedemikian sehingga menjadi suatu “tugu”, untuk mengingat karya Elohim dibumi. Batu yang dipakai Yakub sebagai alas kepala adalah “Batu penjuru” yaitu Yesus, dimana batu2 lainnya dibangun diatasNya. Inilah ketiga pengertian dasar ‘Rumah Elohim’ dimana pengertian2 lainnya dibangun diatasnya, sesuai prinsip yang biasa dikenal sebagai ‘first mention principle’ (prinsip penyebutan pertama kali).

Pengertian selanjutnya adalah dalam kasus kemah Musa, yaitu Elohim akan memberikan pengalaman rohani kepada umat yang dipilihNya, dan semua pengalaman rohani ini disimbolkan oleh perabot2 kemah Musa. Kemudian, seluruh umat pilihanNya harus mengikuti ‘awan kemuliaan Tuhan’ saja.  Berikutnya, dalam kasus kemah Daud. Dalam membangun RumahNya, Elohim akan membentuk orang2 pilihanNya menjadi raja2 dan imam2. Kemudian, dalam kasus Zerubabel, yang disebut ‘Rumah Elohim’ haruslah yang dibangun ditempat yang dipilihNya.

Kita langsung masuk kedalam pengertian ‘Rumah Elohim’ yang adalah ‘realita’, bukan simbol, bayangan atau nubuat. Realita ‘Rumah Elohim’ adalah tubuh jasmani Yesus, dan melalui kematian serta kebangkitanNya, “diperluas” menjadi tubuh jasmani umatNya, dimana Elohim yang adalah ‘Keluarga Sejati’ (Bapa, Anak, dan Roh yg bersifat feminim) berdiam didalam batin umatNya. Inilah ‘realita’ dari rumah Elohim atau ‘tabernakel Elohim’ dimana Ia berdiam.

Ayat kita diatas menjelaskan realita ‘rumah Elohim’ atau ‘tabernakel Elohim’ dalam dispensasi Langit dan Bumi Baru. Wahyu 21:22, menegaskan, “Dan aku tidak melihat tempat kudus di dalamnya, karena YAHWEH, Elohim Penguasa Semesta, adalah tempat kudusNya, juga Anak Domba” (ILT). Segala simbol2, aturan2 lahiriah, bangunan2, tempat2 tertentu, apapun juga yang bersifat simbol, tidak terlihat lagi didalam dispensasi Langit dan Bumi Baru. Genaplah perkataan Yesus kepada perempuan Samaria didalam Yohanes 4:23, demikian, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (realita)…”.

Kita teruskan pembahasan kita mengenai dispensasi Langit dan Bumi Baru. Efesus 3:21, menegaskan, “bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan didalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya. Amin”. Ungkapan Yunani yang diterjemahkan ‘selama-lamanya’ adalah ‘aion ho aion’. Kita tahu ‘aion’ itu adalah waktu, dimana ada awalnya dan ada akhirnya. Ungkapan Yunani ‘aion (tunggal) ho aion (jamak)’, tidak dapat diterjemahkan ‘selama-lamanya’, dalam arti tidak ada akhirnya, ataupun diterjemahkan ‘kekal’ dalam arti tiada akhirnya. Ungkapan Yunani ini harus diterjemahkan ‘zaman dari zaman-zaman’, dalam arti “puncak” dari suatu zaman yang berbeda dari zaman2 sebelumnya. Karenanya, dispensasi Langit dan Bumi Baru merupakan “puncak” dari segala zaman sebelumnya.

Konteks Efesus 3:21 diatas, merupakan doa Paulus bagi jemaat (Ef. 3:14-21), bukan saja supaya jemaat mengenal Bapa, tetapi juga supaya jemaat memahami ‘maksud abadi’ atau tujuan dari zaman2, sesuai makna teks Yunani dari Efesus 3:11, yaitu supaya melalui jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Elohim kepada pemerintah dan penguasa2 dalam alam sorgawi (Ef. 3:10).

Agar jemaat mengerti apa makna ‘memberitahukan pelbagai ragam hikmat Elohim kepada penguasa2 di alam sorgawi’, mari kita melihat apa yang terjadi dalam zaman “puncak” ini, yaitu zaman Langit dan Bumi Baru. Banyak orang Kristen berpendapat bahwa dalam zaman Langit dan Bumi Baru (biasa dipahami sebagai “sorga”), maka jemaat tidak ada kerjanya selain nyanyi dan memuji2 Tuhan terus-menerus selama-lamanya. Tetapi, justru akan kita lihat nanti, di zaman “puncak” ini, jemaat (mempelai Anak Domba) akan memerintah, dan menawarkan “air kehidupan” dengan cuma-cuma kepada barangsiapa yang haus (Wahyu 22:17). 

Mari kita mulai melihat apa yang terjadi atau kondisi dari zaman “puncak” Langit dan Bumi Baru, sebagai hasil dari pelayanan mempelai Anak Domba (jemaat). Wahyu 21:4, menegaskan, “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu”. Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada lagi maut, dan juga segala sesuatu yang lama telah berlalu. Maut itu adalah upah dosa (Roma 3:23). Dan jika tidak ada lagi maut, maka tidak ada lagi segala sesuatu yang merupakan akibat dari dosa. Oleh pelayanan Mempelai Anak Domba, maka ‘maut’ sebagai upah dosa, akan ditaklukkan.

Sayangnya, didalam dunia kekristenan, mayoritas orang kristen percaya bahwa sebagian orang masuk “sorga” dan nyanyi selama-lamanya disana, sementara yang tidak percaya Yesus akan dilempar kedalam neraka selama-lamanya juga. Doktrin neraka kekal yang sudah begitu dipercaya membuat orang Kristen tidak mengenal Bapa, juga tidak mengenal ‘maksud abadi’ atau tujuan dari zaman2, padahal justru inilah yang didoakan oleh Paulus bagi jemaat pada ayat2 kita diatas. 

Memang dunia kekristenan harus mengalami penghakiman Elohim pada kedatangan Yesus kelak, sebagaimana telah kita bahas. Penghakiman ini akan membuat dunia kekristenan mengenal Bapa dan tujuanNya dalam menciptakan zaman2 (Ibrani 1:2; Efesus 3:11).

Kita lanjutkan pembahasan kita untuk melihat apa yang terjadi, atau bagaimana kondisi dari zaman “puncak” Langit dan Bumi Baru, sebagai hasil dari pelayanan mempelai Anak Domba (jemaat). Wahyu 22:3-4, menegaskan demikian, “Dan setiap kutuk tidak akan ada lagi. Dan takhta Elohim dan Anak Domba akan ada di dalamnya, dan para hambaNya akan beribadah kepadaNya. Dan mereka akan melihat wajahNya, dan NamaNya ada pada dahi mereka” (ILT).

Pertama, kita melihat bahwa tidak akan ada kutuk lagi. Kutuk yang dijatuhkan di Taman Eden ketika Adam jatuh dalam dosa tidak akan ada lagi, karena Elohim ‘menjadikan semuanya baru’. Ia adalah Alfa dan Omega, yang awal dan yang akhir. Elohim ber-otoritas untuk mengawali segala sesuatu, dan mengakhiri segala sesuatu sebagaimana yang Ia kehendaki. Roma 11:36, menegaskan, “Sebab dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dialah segala sesuatu…” (ILT).

Banyak orang Kristen berpikir bahwa kejatuhan Adam-Hawa di Taman Eden disebabkan manusia memiliki ‘kehendak bebas’, dan karenanya Elohimpun tidak dapat berbuat apa-apa ketika Adam-Hawa dicobai setan. Mari kita tinggalkan pendapat manusia, siapapun juga dia, dan perhatikan Roma 8:20, demikian, “karena makhluk ciptaan telah ditundukkan kepada kesia-siaan, bukan karena kehendaknya sendiri tetapi KARENA DIA YANG TELAH MENUNDUKKANNYA ATAS DASAR PENGHARAPAN” (ILT). Ditundukkan kepada kesia-siaan artinya ditundukkan kedalam alam maut, yang merupakan upah dosa.

Siapa yang berkehendak menundukkan makhluk ciptaan kedalam alam maut? BUKAN ADAM TETAPI ELOHIM. Jadi, kejatuhan Adam dan seluruh makhluk kedalam alam maut MERUPAKAN BAGIAN DARI RANCANGANNYA. Elohim memang berkehendak dan merancang kejatuhan Adam dengan suatu maksud. DijatuhkanNya seluruh makhluk kedalam alam kesia-siaan (alam maut), bukan tanpa alasan, melainkan ATAS DASAR PENGHARAPAN. Apa pengharapannya? Perhatikan ayat selanjutnya, Roma 8:21, demikian, “bahwa makhluk ciptaan itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim” (ILT). Pengharapannya jelas, yaitu bahwa seluruh makhluk pada akhirnya akan dimerdekakan oleh pelayanan anak-anak Elohim. Seluruh makhluk pada akhirnya akan masuk kedalam kemuliaan anak-anak Elohim, dimana anak-anak Elohim adalah buah sulung ciptaan (Yakobus 1:18).

Jadi, Elohim adalah ‘Alfa’. Dialah yang memulai dan merancang segala sesuatu. KehendakNya berkuasa dan menentukan segala sesuatu. Tidak ada kehendak bebas, sekalipun hal ini telah dipercaya oleh mayoritas orang Kristen. Kita sebagai pribadi, tentu mempunyai kehendak, tetapi kehendak kita DIATUR dan DIARAHKAN oleh KEHENDAKNYA. Amsal 21:1, menegaskan, “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini”. Roma 9 juga menjelaskan kedaulatan Elohim dalam menentukan segala hal. Kalau Elohim menentukan segalanya, mengapa manusia harus bertanggung jawab atas perbuatannya? Jawabnya, karena memang Elohim sudah menetapkan hukum tabur-tuai yang berlaku bagi manusia.  

Selanjutnya, Dia juga adalah Omega. Dia ber-otoritas membawa segala sesuatu kembali kepadaNya. Kutuk atas seluruh makhluk karena kejatuhan Adam dalam Taman Eden akan berakhir didalam kemuliaan anak-anak Elohim. Yesus Kristuslah yang menanggung kutuk segala makhluk akibat dosa. Dan Yesus Kristus bersama anak-anak Elohim (buah sulung) akan membawa seluruh makhluk masuk kedalam kemuliaanNya, dimana tidak ada lagi kutuk.

Kita teruskan pembahasan kita mengenai kondisi ‘Langit dan Bumi Baru’ dalam Wahyu 22:3-4, demikian, “Dan setiap kutuk tidak akan ada lagi. Dan takhta Elohim dan Anak Domba akan ada di dalamnya, dan para hambaNya akan beribadah kepadaNya. Dan mereka akan melihat wajahNya, dan NamaNya ada pada dahi mereka” (ILT). Telah kita bahas bahwa tidak ada lagi kutuk didalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’, kita akan membahas hal selanjutnya.

Kedua, dari ayat2 diatas terlihat bahwa berakhirnya kutuk disebabkan adanya takhta Elohim dan takhta Anak Domba. Telah kita tegaskan sebelumnya bahwa Elohim hanya mempunyai satu takhta. Jika Alkitab menyebut ada banyak takhta, maka takhta2 ini hanyalah menjelaskan aspek2 dari satu takhta Elohim itu. Justru ada kebenaran penting yang terungkap dengan adanya takhta Elohim dan takhta Anak Domba pada ayat kita diatas.

Takhta Elohim pada ayat diatas berbicara tentang kedaulatan atau otoritas Elohim dalam menentukan segala sesuatu. Matius 10:29, menegaskan, “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu”. Ayat ini berbicara soal kedaulatan Elohim yang menentukan segala sesuatu. Selanjutnya, Mazmur 139:16, menegaskan, “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya”. Ayat ini berbicara bahwa semua hari2 setiap manusia sudah ditentukan sebelumnya oleh Elohim. Ini juga berbicara soal kedaulatan Elohim yang menentukan jalan hidup setiap manusia. Itu sebabnya, telah kita tegaskan bahwa manusia, sekalipun memiliki kehendak sebagai seorang pribadi, namun tidak memiliki kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya. Yeremia 10:23, juga menegaskan demikian, “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya”.

Kemudian, takhta Anak Domba pada ayat diatas tentu berbicara mengenai kerajaan Mesias. Bagaimana Yesus membangun kerajaanNya? Melalui kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya kesorga, maka Yesus dapat memberikan hidupNya (‘zoe’) kedalam batin orang percaya, sebab jika ‘biji gandum’ tidak jatuh ketanah dan mati, maka ia tetap satu biji saja (Yohanes 12:24). Yesus, sebagai Putera Elohim, yang segambar dan serupa Bapa, melalui kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya, “me-reproduksi” banyak putera Elohim yang juga serupa dan segambar dengan Bapa. Kerajaan Mesias (Yesus dan putera2 Elohim) inilah yang akan memerintah dan menaklukkan segala sesuatu. Tentu, setelah kerajaan Mesias menaklukkan segala sesuatu, maka Yesus akan menyerahkan kerajaanNya kepada Bapa, sehingga Bapa menjadi semua didalam semua (I Korintus 15:24,28).

Karenanya, takhta Elohim berbicara soal kedaulatan Bapa dalam menentukan segala sesuatu, tetapi takhta Anak Domba berbicara soal Elohim yang memerintah segala sesuatu MELALUI DAN DIDALAM UMAT PILIHANNYA. Kutuk maupun maut sebagai upah dosa tidak akan ada lagi jika takhta Anak Domba telah termanifestasi sepenuhnya dibumi. Itu sebabnya, mengapa Yesus mengajarkan murid2Nya agar kerajaan sorga datang dan termanifestasi sepenuhnya dibumi.

Dalam dunia kekristenan, banyak orang berharap kelak masuk sorga, dan meninggalkan bumi, bahkan meninggalkan orang2 yang belum percaya Yesus dineraka selama-lamanya. Tentu, konsep seperti ini sangat aneh dan asing, dan sama sekali tidak ditemukan dalam kitab Wahyu. Tetapi, umat pilihanNya akan terus berdoa dan berharap kedatangan kerajaan sorga dibumi.

Kita teruskan pembahasan kita mengenai kondisi ‘Langit dan Bumi Baru’ dalam Wahyu 22:3-4, demikian, “Dan setiap kutuk tidak akan ada lagi. Dan takhta Elohim dan Anak Domba akan ada di dalamnya, dan para hambaNya akan beribadah kepadaNya. Dan mereka akan melihat wajahNya, dan NamaNya ada pada dahi mereka” (ILT). Kita telah membahas mengenai ‘kutuk’, dan ‘takhta Elohim serta takhta Anak Domba’. Kita akan membahas hal selanjutnya dari ayat2 diatas.

Ketiga, ditegaskan bahwa para hambaNya akan beribadah kepadaNya. Kata kerja Yunani ‘latreuo’, yang diterjemahkan ‘beribadah’ pada ayat diatas, dapat juga diterjemahkan ‘menyembah’. Tetapi, kita harus ingat bahwa didalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’, tidak ada lagi Bait Suci didalamnya, seperti ditegaskan dalam Wahyu 21:22, demikian, “Dan aku tidak melihat tempat kudus di dalamnya, karena YAHWEH, Elohim Penguasa Semesta, adalah tempat kudusNya, juga Anak Domba” (ILT). Jadi, pengertian ‘menyembah’ disini sama sekali tidak terkait dengan ritual, aturan2, atau apapun yang berhubungan dengan Bait Suci.

Mari kita melihat kedalam PL untuk memahami makna ‘menyembah’ Elohim itu. Kita akan menggunakan prinsip ‘penyebutan pertama kali’ atau biasa dikenal ‘first mention principle’. Kita menggunakan prinsip ini untuk mendapatkan ‘pengertian dasar’ dari makna menyembah itu. Artinya, pengertian2 lain yang kita temukan pada kemunculan2 berikutnya haruslah ‘bertumpu’ diatas ‘pengertian dasar’ itu. Pengertian dasar dari ‘menyembah’ itu jangan sampai diabaikan atau dihapus oleh pengertian2 berikutnya.

Baiklah kita perhatikan istilah Ibrani ‘shachah’ yang diterjemahkan ‘menyembah’, dimana pertama kali muncul dalam kasus Abraham mempersembahkan Ishak dalam Kejadian 22:5, demikian, “… aku beserta anak ini akan pergi kesana; kami akan sembahyang (shachah)…”. Perhatikan bahwa Abraham tidak melakukan apapun, baik itu puji2an, atau ritual2 lain dalam menyembah Elohim, kecuali mempersembahkan Ishak sesuai yang Tuhan minta. Dari kasus ini, kita mengerti bahwa ‘menyembah’ Elohim itu tidak lain dari pada “mempersembahkan Ishak kita” sesuai pimpinan Tuhan. Menyembah Elohim melibatkan suatu pengorbanan. Ada harga yang harus dibayar, tetapi semua ini harus sesuai dengan pimpinan Tuhan. Inilah makna dasar atau pengertian dasar dari ‘menyembah’ Elohim. Pengertian2 selanjutnya, kita lihat, dalam hal Daud yang menambahkan unsur nyanyian dan musik kedalam penyembahan. Tetapi, sekali lagi, kita tidak boleh menghapus pengertian dasar dari ‘menyembah’ Elohim ini.

Menarik untuk diperhatikan dalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’ ini, yaitu Pribadi Yahweh dan Anak Domba itulah yang menjadi Bait Sucinya, seperti ditegaskan dalam Wahyu 21:22 diatas. Penyembahan dalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’ terfokus kepada Pribadi Elohim sendiri. Perhatikan percakapan Yesus dengan murid2Nya dimalam terakhir sebelum Yesus disalib (Yohanes 13-17). Kita tahu bahwa percakapan terakhir sebelum seseorang meninggal tentu sangatlah penting. Tetapi, Yesus sama sekali tidak berbicara soal sorga kepada murid2Nya, dimana sorga ini umumnya menjadi tujuan hidup orang Kristen. Bahkan istilah ‘sorga’ hanya muncul satu kali saja dalam Yohanes 17:1, itupun dalam doa Yesus kepada Bapa. Jadi, Yesus tidak berbicara sedikitpun tentang sorga kepada murid2Nya.

Namun, dimalam terakhir itu, Yesus banyak berbicara soal ‘hubungan pribadi’ (relationship). Yesus banyak berbicara soal hubungan murid2 dengan Roh Kudus, dengan Bapa, dengan Yesus, dengan dunia (sistem keagamaan yang membenci Yesus), dan juga hubungan diantara murid2 agar saling mengasihi. Tujuan hidup orang Kristen itu adalah Pribadi Bapa, dan jalan menuju tujuan itu juga adalah Pribadi Tuhan Yesus. Yohanes 14:6, menegaskan, “… Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa (pribadi), kalau tidak melalui Aku (pribadi Yesus)”.

Karenanya, penyembahan kepada Elohim dalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’ terfokus kepada PRIBADI BAPA DAN ANAK DOMBA. Pribadi Bapa dan Anak Domba adalah Bait Sucinya. Para hambaNya akan melihat wajahNya, dan namaNya tertera didahi para hambaNya.

Kita teruskan pembahasan kita tentang dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’, dimana kota Yerusalem Baru berada, yaitu mempelai Anak Domba. Kita akan membahas bagaimana pelayanan mempelai Anak Domba dalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’. Perhatikan Wahyu 22:17, demikian, ”Roh dan pengantin perempuan itu berkata: ‘Marilah’ Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma”.

Kita lihat pada ayat diatas bahwa Roh Elohim dan mempelai Anak Domba sama-sama berseru marilah. Tetapi, dalam pasal 2-3, hanya Roh Elohim yang berseru kepada gereja2. Kita lihat disini bahwa gereja2 yang disebut dalam pasal 2-3, yang memang telah dicemari oleh ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus, tidak dapat berseru bersama-sama Roh Elohim untuk menawarkan air kehidupan. Namun, setelah gereja mengalami penghakiman Elohim, seperti yang telah kita bahas, maka Roh Elohim dan gereja dapat bersama-sama berseru ‘marilah’.

Bahkan, dalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’, bukan saja Roh Elohim dan gereja yang berseru ‘marilah’, tetapi barangsiapa yang mendengarnya, juga diperintahkan untuk ikut berseru menawarkan air kehidupan. Pada akhirnya, ‘air kehidupan’ yang terus menerus ditawarkan dalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’ akan “menelan” maut, sehingga tidak ada lagi maut (Wahyu 21:4). Genaplah yang tertulis II Korintus 5:4, demikian, “…supaya yang fana itu ditelan oleh hidup”.

Selanjutnya, perhatikan Wahyu 22:1-2, demikian, “Dan dia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan yang murni, jernih seperti kristal, yang keluar dari takhta Elohim dan Anak Domba, ditengah-tengah jalan rayanya. Dan di sisi sini juga di sisi sana sungai itu, ada pohon kehidupan…. Dan daun-daun pohon itu untuk penyembuhan bangsa-bangsa” (ILT). Perhatikan bahwa sungai air hidup ini keluar dari takhta Elohim. Takhta berbicara soal kerajaan, dan juga otoritas untuk menghakimi. Tetapi, justru ‘air kehidupan’ (kasih karunia) mengalir dari takhta.

Kita harus paham bahwa keselamatan itu bukanlah soal ‘respon manusia’, tetapi soal otoritas Elohim. Yesus berkata dalam Yohanes 12:32, demikian, “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu”. Kemudian, setelah Yesus “ditinggikan” dalam arti mati, bangkit, serta duduk disebelah kanan Bapa, maka Yesus berkata segala otoritas disorga dan dibumi telah diberikan kepadaKu (Matius 28:18). Dengan otoritasNyalah, Yesus akan menarik semua orang datang kepadaNya. Jadi, air kehidupan yang mengalir keluar dari takhta, dan yang ditawarkan kepada barangsiapa yang haus, tidak dapat ditolak siapapun. Mengapa? Karena otoritas ada ditangan Yesus. Semua orang, pada akhirnya, akan menerima air kehidupan bagi keselamatan mereka. Juga, ditegaskan bahwa ada pohon kehidupan dimana daun-daunnya untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.

Inilah pelayanan mempelai Anak Domba, yang pada akhirnya akan membuat semua orang datang kepada Yesus. Setiap lutut bertelut dan lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan (‘kurios’=penguasa tunggal). Dalam dunia kekristenan, sudah umum dipercaya, bahwa zaman sekarang adalah zaman kasih karunia, dan setelah kedatangan Tuhan, tidak ada lagi kasih karunia. Tetapi, kita lihat dalam Alkitab bahwa kasih karunia tetap berlaku dan diberikan, bahkan sampai zaman ‘Langit dan Bumi Baru’.

Kita akan membahas kedatangan Tuhan Yesus sebagaimana tertulis dalam Wahyu 22:20, demikian, “Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: ‘Ya, Aku datang segera’ Amin, datanglah, Tuhan Yesus”. Kita akan membahas apa makna ‘kedatangan Tuhan Yesus’ khususnya dalam kitab Wahyu ini. Dalam dunia kekristenan, umumnya, dipercaya bahwa Yesus akan datang ‘secara fisik’, bahkan banyak dipercaya juga bahwa Ia akan mengangkat (rapture) orang2 kudus menuju sorga. Juga dipercaya bahwa Tuhan Yesus datang dua kali saja, itu sebabnya ada ungkapan ‘kedatangan Tuhan KEDUA KALI, walaupun didalam PB tidak pernah ada ungkapan KEDATANGAN TUHAN KEDUA KALI.

Untuk mendapat pemahaman yang tepat mengenai ‘kedatangan Tuhan Yesus’ kita perlu memeriksa 6 istilah Yunani yang biasanya diterjemahkan ‘kedatangan’. Mari kita mengulang sejenak keenam istilah Yunani itu. Pertama, PAROUSIA. Istilah ini muncul 24 kali dalam PB dan ia berasal dari kata kerja PAREMI, yang berarti ‘to be present’ (hadir). Kata bendanya berarti kehadiran (presence). PAROUSIA tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya seseorang, tetapi menunjukkan ‘kehadiran seseorang yang sudah datang’. Penggunaan istilah PAROUSIA didalam PB juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan ‘secara fisik’. Jadi, istilah PAROUSIA berarti kehadiran. Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaNya, disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA.

Istilah Yunani kedua, APOKALUPSIS. Wahyu 1:1, menggunakan istilah ini. Istilah ini berasal dari kata kerja APOKALUPTO yang berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya terselubung. Jadi, APOKALUPSIS Tuhan Yesus merupakan suatu penyingkapan Pribadi Tuhan Yesus, yang dalam konteks kitab Wahyu adalah penebusanNya sebagai Anak Domba Elohim, dimana sebelumnya penebusanNya masih terselubung.

Istilah Yunani ketiga adalah EPIPHANEIA. Istilah ini muncul sebanyak 6 kali dalam PB. Istilah ini berasal dari kata kerja yang berarti ‘membawa kepada terang’ atau ‘tersingkap’. Kata bendanya berarti ‘manifestasi’. Istilah ini digunakan untuk mengungkapkan kemuliaan dan kemegahan yang termanifestasi oleh kedatangan Tuhan.

Istilah Yunani keempat, PHANEROO. Istilah ini berarti membuat nyata atau menjadi nampak. Namun bukan berarti kehadiran yang terlihat mata, tetapi suatu persepsi.  

Istilah Yunani berikutnya adalah ERCHOMAI. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan tindakan actual dari suatu kedatangan. Istilah ini tidak sama artinya dengan PAROUSIA yang berarti kehadiran seseorang yang telah datang. ERCHOMAI digunakan dalam Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang (SUATU TINDAKAN DATANG) dengan awan-awan…”. Istilah ERCHOMAI ini juga digunakan pada ayat kita diatas (Wahyu 22:20).

Istilah Yunani keenam adalah HEKO. Kata ini menekankan kedatangan pada suatu tempat tertentu. Kata ini terdapat dalam Wahyu 2:25, “Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku DATANG”.

Sudah tentu bahwa keenam istilah Yunani ini bukan berarti ada enam jenis berbeda dari kedatangan Tuhan, tetapi penggunaan yang berbeda dari istilah ini membuat kita memahami makna yang dimaksud suatu teks yang berbicara tentang kedatangan Tuhan. Kita tidak membahas dengan rinci setiap penggunaan istilah2 ini, tetapi untuk saat ini cukuplah kita pahami bahwa kedatangan Tuhan itu TIDAKLAH HARUS BERBENTUK KEDATANGAN SECARA FISIK.

Didalam Perjanjian Baru, Kristus dinyatakan datang ‘dengan awan-awan’, datang sebagai ‘kilat’, datang sebagai ‘pencuri’, datang sebagai ‘suara malaikat’, datang dengan ‘sangkakala Elohim’, datang sebagai ‘mempelai laki-laki’, datang sebagai ‘Raja’, datang sebagai ‘bintang fajar’, datang sebagai ‘hakim’, datang sebagai ‘juru-selamat’, datang kedalam ‘BaitNya’, datang ‘ke bukit Zaitun’, datang mengendarai ‘kuda putih’, datang sebagai ‘gembala yang baik’, datang didalam ‘kerajaanNya’, datang ‘dalam kemuliaan’, datang ‘diatas takhtaNya’, datang bersama ‘malaikat-malaikatNya’, datang bersama ‘orang-orang kudusNya’, datang kepada ‘orang-orang kudusNya’, datang didalam ‘orang-orang kudusNya’, dan seterusnya, dan seterusnya. Semua kedatanganNya yang telah kita sebutkan ini TIDAK MENUNJUK KEPADA KEDATANGAN KEDUA KALINYA. Pemahaman kita tentang kedatanganNya ini akan menjadi sangat kacau jika kita memahami kedatanganNya hanya dua kali saja, pertama kedatanganNya 2000 tahun yang lalu, kemudian kedatanganNya “yang kedua kali” di masa yang akan datang. Sesungguhnya, Alkitab menegaskan bahwa Tuhan sudah datang, sedang datang, dan akan datang. Ia datang secara berkelanjutan, dan Ia secara progresif menyatakan diriNya sampai seluruh rencanaNya genap.

Karenanya, makna kedatangan Tuhan Yesus dalam kitab Wahyu merupakan ‘kedatangan’ suatu pewahyuan mengenai pribadiNya dan penebusanNya yang bersifat progresif.

Kita melanjutkan pembahasan kita mengenai kedatangan Tuhan Yesus serta akan menutup tulisan singkat ini. Mari kita perhatikan kembali Wahyu 22:20, demikian, “Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: ‘Ya, Aku datang segera’ Amin, datanglah, Tuhan Yesus”. Telah kita bahas bahwa kedatangan Tuhan bersifat progresif dan terus berkelanjutan sampai seluruh kehendak dan rencana Bapa disorga tergenapi. Dalam konteks kitab Wahyu, kedatangan Tuhan merupakan ‘kedatangan’ dari pewahyuan PRIBADI TUHAN YESUS dan PENEBUSANNYA.

Baiklah kita perhatikan apa sebenarnya rencana dan kehendak Bapa ketika Ia menciptakan manusia. Pemahaman ini perlu agar kita memahami dengan benar maksud kedatangan Tuhan Yesus. Kejadian 1:26-28, menegaskan demikian, “Dan Elohim berfirman, Marilah Kita membuat manusia dalam citra Kita, menurut rupa Kita, dan biarlah mereka berkuasa…atas seluruh bumi….. penuhilah bumi dan taklukkanlah itu…” (ILT). Istilah Ibrani yang diterjemahkan ‘taklukkanlah’ pada ayat ini adalah ‘kabash’, yang berarti ‘bring into bondage’ atau ‘menginjak’. Jelas bahwa Bapa disorga berkehendak dan mempunyai rencana untuk menciptakan manusia yang serupa dan segambar denganNya agar dapat memerintah dan berkuasa atas seluruh bumi, dalam arti menginjak dan membawa segala sesuatu kedalam perbudakkan. Artinya, ada musuh2 yang harus ditaklukkan oleh manusia dibumi ini.

Karenanya, kedatangan Tuhan Yesus tidak pernah bermaksud untuk membawa umatNya menuju sorga, seperti banyak dipercaya oleh orang Kristen. Setelah Tuhan Yesus mempersiapkan mempelaiNya, maka Ia akan datang untuk menaklukkan segala sesuatu dibumi sebagaimana rencana Bapa. Tuhan Yesus bersama mempelaiNya akan menghadirkan kerajaan sorga dibumi. Bumi tetaplah menjadi fokus rencana Bapa, dan Tuhan Yesus bersama mempelaiNya akan menggenapinya. Tuhan Yesus bersama mempelaiNya akan menaklukkan segala sesuatu sehingga ‘Bumi dan Langit pertama’ bergerak menuju ‘Bumi dan Langit Baru’.

Didalam kitab Wahyu ada tertulis mengenai kedatanganNya, yaitu dalam Wahyu 1:7, demikian, “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia… Dan semua bangsa dibumi akan meratapi Dia, Ya amin”. Kedatangan Tuhan Yesus dengan “awan-awan” adalah kedatanganNya DIDALAM DAN MELALUI UMATNYA, sebab awan2 (jamak) merupakan simbol dari saksi-saksi Tuhan. Inilah juga yang dimaksud oleh Roma 8:19-21, dimana Tuhan Yesus datang didalam dan melalui putera2 Elohim untuk membebaskan ciptaan dari perbudakkan kebinasaan.  

Rasul Yohanes berseru pada ayat kita diatas, ‘Amin, datanglah, Tuhan Yesus’. Setiap putera2 Elohim pasti merindukan kedatangan Tuhan Yesus kebumi, bukan supaya “diangkat” kesorga, tetapi supaya dapat menaklukkan segala sesuatu dibumi, sehingga bumi ini bergerak menuju bumi baru, dan tentu langit baru juga.

Konteks dari Roma 8:19-21 diatas adalah glorification by faith (pemuliaan oleh iman). Paulus menjelaskan keselamatan oleh penebusan Kristus dalam surat Roma dengan tiga ungkapan penting, yaitu justification by faith, sanctification by faith, dan glorification by faith. Sebagaimana justification by faith dan sanctification by faith dialami oleh orang2 kudus dibumi, maka glorification by faith juga dialami oleh orang2 kudus dibumi ini. Sesungguhnya, ‘glorification by faith’ adalah kedatangan Tuhan Yesus kebumi didalam dan melalui umat pilihanNya. Haleluyah…kerajaan sorga akan ditegakkan dibumi, dan umat pilihanNya bersama Tuhan Yesus akan menaklukkan segala sesuatu serta menghadirkan Bumi dan Langit Baru. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

    

             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       

 

    

 

 

   

 

  

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

      

 

   

 

  

 

  

 

 

 

  

  

 

 

 

 

   

 

    

 

 

 

 

 

 

      

  

 

 

 

  

 

 

 

     

 

 

 

 

 

    

    

 

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

  

 

    

 

 

 

 

  

 

   

 

 

  

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Jabatan Dalam Gereja