Kerajaan Sorga Menurut Kitab Wahyu.
Kerajaan Sorga Didalam Kitab Wahyu
(gabungan)
Oleh: Irnawan Silitonga
Kita masuk kedalam tema baru yaitu, ‘Kerajaan Sorga Didalam Kitab Wahyu’. Artinya, kita akan membahas
tema kerajaan sorga sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Wahyu. Ini tidak berarti
kita hanya melihat kitab Wahyu saja tanpa mengutip atau memperhatikan kitab2
lain dalam Alkitab. Sebab prinsip Hermeneutik menegaskan bahwa hanya Alkitab
yang harus menafsirkan Alkitab. Jadi, kita tetap akan melihat seluruh ‘jalan pikiran’ Alkitab dalam memahami
kitab Wahyu.
Ada beberapa hal yang perlu kita tegaskan sebelum masuk
kedalam kitab Wahyu. Pertama, kitab Wahyu adalah suatu
pewahyuan yang disampaikan dalam ‘bahasa
simbol’. Wahyu 1:1, menyatakan, “Wahyu
YESUS Kristus yang telah Elohim berikan kepadaNya… Dia memberitahukan kepada
hambaNya, Yohanes” (ILT). Istilah ‘memberitahukan’
disini diterjemahkan dari istilah Yunani, ‘semaino’,
berasal dari akar kata ‘sema’ yang
berarti ‘tanda/simbol’. Karenanya,
kita harus berhati-hati agar jangan menafsirkan kitab Wahyu secara ‘harfiah’.
Kedua, kitab Wahyu adalah suatu kitab yang bersifat ‘positif’ dalam arti bersifat ‘pemulihan’.
Karena kitab Wahyu adalah kitab yang mewahyukan PRIBADI YESUS KRISTUS, seperti
ayat kita diatas. Jadi, setiap malapetaka, wabah, atau “kehancuran” apapun juga
hanyalah suatu cara/kejadian, dengan maksud untuk mewahyukan pribadi Yesus.
Kita harus fokus kepada pewahyuan pribadi Yesus, dan bukan
kepada “cerita2 mengerikan” yang tertulis dalam kitab ini. Cerita2 dan
ungkapan2 “mengerikan” itu harus ditafsirkan secara ‘simbolik’, sesuai dengan ‘bahasa’ kitab Wahyu yang bersifat
‘simbolik’. Yohanes 3:17, menegaskan, “Sebab
Elohim mengutus PutraNya ke dunia tidak untuk menghakimi dunia, sebaliknya
supaya dunia dapat diselamatkan oleh-Nya” (ILT).
Ketiga, penggenapan kitab Wahyu bersifat ‘batiniah’, karena kitab ini mewahyukan suatu ‘pribadi’, yaitu
pribadi Yesus Kristus. Dalam sejarah penafsiran, ada dua golongan penafsiran
kitab ini, yaitu penafsiran bersifat ‘historical’,
dan bersifat ‘futuristic’. Penafsiran
‘historical’ sangat dominan sebelum
tahun 1800 Masehi. Martin Luther menafsirkan ‘anti Kristus’ adalah ‘Paus’ dalam
gereja Katolik. Sementara itu, Penafsiran ‘futuristic’
mulai muncul dari tahun 1800an sampai 1995. Penafsiran ‘futuristic’ ini menyebabkan adanya ajaran ‘rapture’, ‘kedatangan Yesus
kedua kali’, ‘lautan api literal’
dalam arti neraka literal, dan sebagainya. Kita tidak menolak seluruhnya cara
penafsiran ‘historical’ maupun ‘futuristic’, tetapi penafsiran ‘batiniah’ kita terutama didasarkan pada
Galatia 2:20, dan Roma 8:19-21.
Keempat, karena pewahyuan kitab Wahyu adalah pewahyuan pribadi Yesus
Kristus, maka tentu juga merupakan pewahyuan gereja, sebagai Tubuh Kristus, dan
pewahyuan tentang kerajaan sorga, karena itulah tujuan Yesus datang kedunia,
yaitu untuk menegakkan kerajaanNya dibumi. Ada dua simbol didalam kitab Wahyu
yang harus kita perhatikan, yaitu ‘kaki dian dari emas’ (pasal 1), dan
‘takhta’, yaitu takhta Elohim, takhta Anak
Domba, dan juga takhta2 (pasal 20-22).
Kita tahu bahwa ‘kaki dian emas’
merupakan simbol gereja, dan ‘takhta’
tentu merupakan simbol kerajaan. Jadi, secara garis besar, kitab Wahyu
mewahyukan kepada kita mengenai suatu “perjalanan” dari gereja menuju kerajaan, dari ‘kaki
dian menuju takhta’.
Telah kita tegaskan bahwa kitab Wahyu adalah kitab yang
mewahyukan pribadi Yesus Kristus, gerejaNya, dan tentu kerajaanNya. Mari kita
perhatikan Wahyu 1:9, untuk mendapatkan pemahaman terkait ‘kerajaan’. Wahyu
1:9, menegaskan, “Aku, Yohanes, yang juga
saudara dan teman sekutu dalam kesukaran dan dalam kerajaan serta ketabahan
YESUS Kristus, berada di pulau yang disebut Patmos berkenaan dengan firman
Elohim dan berkenaan dengan kesaksian YESUS Kristus” (ILT).
Diayat ini Rasul Yohanes menyebut penerima suratnya sebagai
‘teman sekutu’. Teman sekutu disini memiliki makna sama dengan adanya
‘persekutuan’ (fellowship=’koinonia’), yang merupakan tema
utama dalam surat2 Yohanes. Tetapi, dalam I Yohanes 1:3, Rasul Yohanes menulis
kepada penerima suratnya ‘justru supaya’ para penerima suratnya dapat beroleh
persekutuan dengannya. Artinya, jika para penerima suratnya menerima firman
yang disampaikannya, maka barulah akan ada persekutuan dengan Rasul Yohanes.
Jika mereka menolaknya, maka tidak akan ada persekutuan. Disini ada fakta
menarik yang perlu kita perhatikan.
Surat I Yohanes adalah surat umum yang ditulis kepada gereja2
di Asia kecil (7 gereja dalam Wahyu 2 dan 3). Kita tahu bahwa 7 gereja di Asia
kecil telah jatuh karena tiga ajaran palsu, yaitu ajaran Izebel, Bileam, dan
Nikolaus. Itu sebabnya Tuhan memanggil para pemenang pada setiap tujuh gereja
itu. Jadi, dalam surat I Yohanes, rasul Yohanes menulis suratnya kepada gereja2
yang telah jatuh. Itu sebabnya, Yohanes memberitakan firman Tuhan agar supaya
ada persekutuan diantara mereka.
Hal ini berbeda dengan penerima kitab Wahyu, dimana rasul
Yohanes menyebut penerima kitab Wahyu sebagai ‘teman sekutu’. Secara khusus,
rasul Yohanes menyebut ‘teman sekutu dalam kerajaan’. Hal ini berarti kitab Wahyu,
secara khusus, ditujukan kepada anggota gereja yang memang telah menerima
pemberitaan firman Rasul Yohanes dan memiliki persekutuan dengannya selama ini.
Penerima kitab Wahyu ini adalah ‘teman sekutu’ rasul Yohanes. Rasul Yohanes
memberitakan penglihatannya di pulau Patmos bukan supaya ada persekutuan
diantara mereka, seperti yang terjadi pada surat I Yohanes kepada gereja2 yang
telah jatuh. Jadi, baik rasul Yohanes maupun penerima kitab Wahyu, semua ada
‘dalam persekutuan’, dan semua ada ‘dalam kerajaan’. Karenanya, ada perbedaan
antara ‘ada didalam gereja (menjadi anggota gereja) dan ‘ada didalam kerajaan’
seperti yang dimaksud ayat kita diatas.
Umumnya, pengertian seperti ini sulit dipahami dalam dunia
kekristenan. Setidaknya, ada beberapa hal yang menyebabkan kesulitan ini.
Pertama, hampir tidak pernah diberitakan bahwa gereja telah jatuh oleh tiga
ajaran palsu, dan bahwa Tuhan selalu memanggil para pemenangNya disetiap zaman
gereja. Kedua, ketika kedatangan Tuhan Yesus, akan ada “penyaringan” seperti
ditegaskan dalam perumpamaan2 kerajaan sorga. Penyaringan yang dimaksud artinya
ada anggota gereja yang diterima dalam kerajaan sorga, tetapi ada juga yang
tidak. Ketiga, adanya ungkapan2 seperti ‘percaya Yesus, masuk sorga’, yang
sudah sangat dipercaya dalam dunia kekristenan. Sorga dalam arti suatu tempat
yang menyenangkan. Sebenarnya, Alkitab berkata ‘percaya Yesus, maka mendapat
hidup kekal (zoe)’. Apakah orang Kristen bertumbuh dalam hayat (zoe)
atau tidak, merupakan persoalan yang lain. Intinya, dalam dunia kekristenan,
orang menyamakan saja pengertian ‘ada didalam gereja’ (menjadi anggota gereja)
dan ‘ada didalam kerajaan’, sementara rasul Yohanes tidak menyamakannya.
Kita teruskan pembahasan kita mengenai Wahyu 1:9, kali ini
tentang ungkapan, ‘berkenaan dengan firman Elohim’. Baiklah kita kutip sekali
lagi Wahyu 1:9, yang menegaskan, “Aku,
Yohanes, yang juga saudara dan teman sekutu dalam kesukaran dan dalam kerajaan
serta ketabahan YESUS Kristus, berada di pulau yang disebut Patmos berkenaan
dengan firman Elohim dan berkenaan dengan kesaksian YESUS Kristus” (ILT).
Diayat ini rasul Yohanes menyebutkan alasan ia berada di
pulau Patmos, dimana ia dibuang atau dikucilkan. Umumnya, orang berpendapat
bahwa rasul Yohanes dibuang ke pulau Patmos oleh kaisar Roma, tetapi Irenaeus
yang dipandang bapa gereja awal, dan seorang muda yang dibimbing oleh
Polikarpus (60-155 M.), menyatakan bahwa penulisan kitab Wahyu terjadi ketika
kaisar Domitian berkuasa (81-96 M.). Dan kaisar Domitian ini tidak menganiaya
kekristenan secara luas.
Namun, baiklah kita melihat semua tulisan Yohanes untuk
memahami ungkapan, ‘berkenaan dengan firman Elohim’. Mari kita melihat fakta
bahwa semua tulisan Yohanes mempunyai ‘tema besar’ penolakan dunia keagamaan
(khususnya para pemimpin) terhadap Yesus dan murid2Nya. Pertama, pembukaan
injil Yohanes sudah menyatakan bahwa Yesus ditolak oleh milik kepunyaanNya
sendiri (Yohanes 1:11). Kedua, analisis injil Yohanes dapat dibuat berdasarkan
penolakan para pemimpin Yudaisme (“Bait Suci”). Pasal 1-8, adalah pelayanan
Yesus selama Ia berada ‘di Bait Suci’ dan kemudian meninggalkannya (8:59).
Pasal 9-12, adalah pelayanan Yesus selama Ia ‘diluar Bait Suci’ sebelum
meninggalkan orang banyak (12:36). Setelah evaluasi mengapa Yesus ditolak oleh
Yudaisme (12:37-43), maka pasal 13-21, adalah pelayanan Yesus kepada murid2Nya,
serta kematianNya dikayu salib. Jadi, seluruh injil Yohanes memiliki tema
penolakan Yesus dan juga murid2Nya dari dunia keagamaan. Yohanes 15:18-25,
menegaskan bahwa dunia membenci Yesus dan murid2Nya. Dunia disini adalah dunia
keagamaan karena mereka memiliki Taurat (15:25).
Ketiga, surat I Yohanes ditulis kepada gereja2 yang telah
jatuh (dunia keagamaan saat itu), supaya ada persekutuan dengan rasul Yohanes.
Artinya, secara umum, sudah tidak ada lagi persekutuan. Keempat, III Yohanes
1:9, mencatat seorang bernama Diotrefes, yang berambisi untuk menjadi terkemuka
dalam gereja, tidak menerima rasul Yohanes dan timnya. Maka, berdasarkan fakta2
ini, sudah sewajarnya kita menafsirkan bahwa rasul Yohanes berada di pulau
Patmos terutama KARENA DIKUCILKAN OLEH DUNIA KEAGAMAAN YANG TELAH MEROSOT.
Jadi, makna ungkapan, ‘berkenaan dengan firman Elohim’ adalah rasul Yohanes
berada di pulau Patmos, terutama karena firman Elohim yang disampaikannya tidak
diterima oleh gereja2 yang telah jatuh pada waktu itu, walaupun bisa jadi,
memang kaisar Domitian yang membuang Yohanes ke pulau Patmos.
Mari kita terapkan kedalam konteks kita saat ini. Umat
pilihanNya tentu memahami dengan jelas bahwa gereja telah jatuh dan pecah
menjadi puluhan ribu denominasi. Dengan kondisi dunia kekristenan saat ini,
tentu mayoritas atau orang banyak akan menolak firman Elohim, khususnya
mengenai kerajaan sorga, karenanya, kitab Wahyu menjadi kitab yang
“tersembunyi” bagi orang banyak.
Kita lanjutkan pembahasan kita dengan melihat Wahyu 1:6, demikian,
“serta menjadikan kita raja-raja dan
imam-imam bagi Elohim dan BapaNya; bagi Dia kemuliaan dan kekuasaan untuk
selama-lamanya, Amin” (ILT). Ayat ini menegaskan bahwa Yesus Kristus
menjadikan kita raja-raja dan imam-imam, setelah Ia membasuh dosa-dosa kita
dengan darahNya (ayat 5).
Kematian, kebangkitan dan kenaikanNya ke sorga bertujuan
menjadikan kita raja-raja dan imam-imam. Pertanyaannya bagi kita sekarang
adalah apakah Yesus Kristus bisa gagal dalam menjadikan kita raja2 dan imam2?
Mari kita lihat kasus Petrus dan Andreas saudaranya, ketika Yesus berkata,
‘kamu akan Kujadikan penjala manusia’ (Matius 4:19). Apakah Petrus dan Andreas
gagal menjadi penjala manusia? Memang Petrus pernah gagal, tentu Andreas
sebagai manusia juga pernah gagal, tetapi Yesus tidak pernah gagal. Pada hari
Pentakosta, dalam sekali khotbah, Petrus dan murid2 lainnya telah “menjala”
3000 jiwa. Kegagalan Petrus dan murid2 lainnya merupakan bagian dari proses
yang dilakukan Yesus untuk menjadikan mereka ‘penjala manusia’.
Mari kita lihat satu kasus lagi dalam Kejadian 1:26-28.
Disini Elohim bermaksud menciptakan manusia dalam rupa dan gambarNya. Banyak
orang berpandangan bahwa ketika Adam dan Hawa berada di Taman Eden, mereka
sudah serupa dan segambar denganNya. Faktanya, Adam dan Hawa masih dalam
kondisi ‘murni’ (innocence), belum berdosa, dan juga belum kudus, dalam arti
belum mengambil bagian dalam kodrat Elohim. Adam dan Hawa sedang diproses dalam
Taman Eden oleh adanya dua pohon, yaitu pohon pengetahuan (simbol jenis hidup
‘maut), dan pohon kehidupan (simbol jenis hidup Elohim=zoe). Dan bahwa
“kejatuhan” adalah bagian dari proses yang Elohim lakukan agar manusia dapat
menjadi serupa dan segambar denganNya. Yang merancang “kejatuhan” dan membuat
semua manusia masuk kedalam alam ‘maut’ bukanlah keinginan manusia, tetapi
kehendak Elohim sendiri (Roma 8:20-21). Tetapi, pada akhirnya, semua makhluk
akan dimerdekakan dan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan anak2 Elohim. Rencana
dan kehendak Bapa menjadikan semua manusia yang serupa dan segambar denganNya
tidaklah gagal.
Gereja, menurut surat Petrus adalah ‘imamat yang rajani’,
artinya, semua anggota gereja adalah imam2 dan raja2 (I Petrus 2:9). Jika kita
melihat dunia kekristenan, terdapat “pembelahan” golongan anggota gereja menjadi
imam-umat (Katolik), dan pendeta-jemaat (Protestan). Urusan “rohani” dikerjakan
oleh Imam atau pendeta, sedangkan urusan “sekuler” dikerjakan umat atau jemaat.
Pembelahan gereja menjadi dua golongan seperti ini bukanlah perkara sederhana,
karena hal ini terjadi oleh ajaran palsu, yang dalam kitab Wahyu disebut ajaran
‘Nikolaus’. Istilah Latin untuk ‘niko’ adalah menaklukkan, sedangkan istilah
‘laos’ itu kaum awam (laity). Dengan ajaran palsu ‘nikolaus’ ini hierarki atau
jenjang/sistem pemerintahan manusia masuk kedalam gereja. Gereja bukan lagi
Tubuh Kristus (organisme), tetapi sudah menjadi “Tubuh Kristus” yang diatur
oleh pemerintahan manusia. Otoritas gereja yang tadinya otoritas Hayat (zoe),
sekarang terjadi percampuran antara otoritas Hayat dan otoritas pemimpin
denominasi. Dalam kondisi sedemikian, tidak mungkin lagi anggota gereja
berfungsi sebagai imam2 dan raja2.
Tetapi, apakah Yesus telah gagal menjadikan kita raja2 dan
imam2? Tentu tidak gagal, karena Yesus mempunyai anggota2 gerejaNya yang berada
diluar sistem pemerintahan manusia, dan hanya mengikuti Yesus kemana saja Ia
pergi (Wahyu 14:4).
Telah kita bahas bahwa Yesus sedang menjadikan kita raja2 dan
imam2, setelah Ia menghapus dosa kita oleh darahNya (Wahyu 1:5-6). Perlu kita
ingat bahwa kitab Wahyu adalah pewahyuan pribadi Yesus Kristus didalam
gerejaNya, didalam kerajaanNya, dan juga didalam para pemenangNya.
Sesungguhnya, menjadikan gerejaNya agar dapat berfungsi sebagai imam2 dan raja2
merupakan tema sentral dan utama dalam kitab Wahyu. Melaui bahasa simbol, kita
lihat disepanjang kitab Wahyu bagaimana langit dan bumi lama “dihancurkan”
sehingga menjadi langit dan bumi baru. Kita tahu bahwa ‘langit dan bumi baru’
adalah simbol manusia yang telah dipulihkan, secara khusus para pemenangNya.
Saat ini kita akan membahas tujuan dari Yesus Kristus dalam
membentuk kita agar menjadi raja2 dan imam2. Mari kita perhatikan Wahyu 5:8-10,
“…keempat makhluk hidup dan kedua puluh
empat tua-tua itu tersungkur di depan Anak Domba itu… dan mereka menyanyikan
nyanyian baru sambil berkata… Engkau sudah membeli kami bagi Elohim, dari
setiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa, dan Engkau telah menjadikan kami
raja-raja dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi”
(ILT). Jelas terlihat dari ayat ini bahwa “keempat makhluk hidup dan kedua
puluh empat tua-tua” itu merupakan simbol dari raja2 dan imam2. Karena
ditegaskan dalam ayat diatas bahwa Yesus Kristus telah membeli mereka, dan
menjadikannya raja2 dan imam2, bahkan dijelaskan juga tujuan menjadikan mereka
dijadikan raja2 dan imam2, yaitu untuk memerintah dibumi. Hal ini digenapi
ketika Tuhan Yesus datang ‘didalam dan melalui’ para pemenangNya, serta
menegakkan kerajaanNya selama 1000 Tahun (Wahyu 20:4).
Baiklah kita lihat kitab Roma untuk membandingkan maksud
kedatangan Tuhan Yesus ‘didalam dan melalui’ para pemenangNya. Keselamatan
dalam kitab Roma (pasal 1 s/d 8) dijelaskan Paulus secara sistematis dengan
tiga ungkapan, yaitu justification by faith (pembenaran
oleh iman), sanctification by faith (pengudusan oleh iman), dan glorification
by faith (pemuliaan oleh iman). Dalam dunia kekristenan, peristiwa
‘pemuliaan oleh iman’ (Roma 8:19-21) hampir tidak pernah diberitakan. Tetapi,
justru peristiwa ini merupakan puncak keselamatan.
Jika ‘pemuliaan oleh iman’ ini tidak diberitakan dan
dipahami, maka akan timbul konsep2 keliru mengenai kedatangan Tuhan Yesus.
Sudah umum diterima bahwa Tuhan Yesus akan “mengangkat” kita kesorga, kesuatu
tempat menyenangkan dimana orang hanya nyanyi2 saja kerjanya, dan membiarkan
bumi dan orang2 didalamnya masuk keneraka selama-lamanya. Konsep seperti ini
muncul karena tidak memahami karya keselamatan oleh Tuhan Yesus.
Perhatikan Roma 8:19-21, ditegaskan disini bahwa seluruh makhluk
menantikan saat penyingkapan putera2 Elohim (gereja pemenang), dimana pada
akhirnya, seluruh makhluk akan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan putera2
Elohim. Jadi, gereja pemenang akan berfungsi sebagai raja2 dan imam2 serta
memerintah dibumi dengan tubuh kemuliaan untuk membebaskan seluruh makhluk.
Mari kita coba terapkan dahulu perihal menjadi ‘raja2 dan
imam2’ dalam dunia kekristenan. Dalam dunia kekristenan, denominasi2 itu adalah
kerajaan para pemimpinnya, bahkan beberapa diantaranya berkata “kami ini
seperti suku Lewi”, dan berhak menerima persepuluhan dari jemaat (keimaman
aturan Harun). Sementara Yesus menjadikan para pemenangNya untuk berfungsi
sebagai imam2 menurut aturan Melkisedek, sebagaimana Yesus imam besar menurut
aturan Melkisedek (Ibrani 7).
Mengenai raja2, Yesus tegas berkata jangan seorangpun
diantara kamu disebut pemimpin (Matius 23:8-12). Para pemenangNya hanya
memperlengkapi murid2 Tuhan sebagaimana para pemimpin gereja mula2, tanpa
menarik mereka kepada diri sendiri (Kis. 20:29-30; Efesus 4:11-12), apalagi
menarik uang murid2 Tuhan dengan berbagai2 ajaran seperti persepuluhan, buah
sulung, dan janji iman. Para pemenangNya tidak memiliki otoritas apapun atas
murid2 Tuhan, sebagaimana para pemimpin denominasi. Para pemenangNya dibentuk
Yesus agar menjadi raja atas hatinya sendiri. Mereka sedang dilatih untuk
menguasai pikiran, perasaan dan kemauan sendiri. Tetapi pada waktuNya, para
pemenangNya akan menjadi raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek, dan
membebaskan ciptaan dari perbudakkan dosa.
Kita lanjutkan kepada kedatangan Tuhan Yesus yang tercatat
didalam Wahyu 1:7, demikian, “Lihatlah,
Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang
telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin”.
Kita tahu bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali untuk menegakkan kerajaanNya di
bumi. Ada suatu ungkapan yang akan kita bahas sekarang, yaitu ‘Ia datang dengan
awan-awan’.
Untuk memahami ungkapan diatas, kita perlu memiliki
pengertian yang benar mengenai kedatangan Tuhan, sebab dalam dunia kekristenan
sudah biasa orang menyebut ‘kedatangan Tuhan Yesus kedua kali’. Sesungguhnya,
didalam Alkitab, tidak ada ungkapan ‘kedatangan Tuhan kedua kali’. Dibalik
ungkapan ‘kedua kali’ ini terdapat pengertian seolah-olah Yesus Kristus akan
datang lagi dalam bentuk tubuh seorang laki-laki, sebagaimana kedatangan Yesus
yang ‘pertama kali’.
Baiklah kita melihat dengan cepat enam istilah Yunani terkait
kedatangan Tuhan. Keenam istilah Yunani itu adalah, pertama, PAROUSIA. Istilah
ini muncul 24 kali dalam PB dan ia berasal dari kata kerja PAREMI, yang berarti
‘to be present’ (hadir). Kata bendanya berarti kehadiran (presence). PAROUSIA
tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya seseorang, tetapi menunjukkan
kehadiran seseorang yang sudah datang. Penggunaan istilah PAROUSIA didalam PB
juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan secara fisik. Jadi, istilah
Parousia berarti kehadiran. Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaNya,
disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA.
Istilah Yunani kedua, APOKALUPSIS. Istilah ini berasal dari
kata kerja APOKALUPTO yang berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya
suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya
terselubung.
Istilah Yunani ketiga adalah EPIPHANEIA. Istilah ini muncul
sebanyak 6 kali dalam PB. Istilah ini berasal dari kata kerja yang berarti
‘membawa kepada terang’ atau ‘tersingkap’. Kata bendanya berarti ‘manifestasi’.
Istilah ini digunakan untuk mengungkapkan kemuliaan dan kemegahan yang
termanifestasi oleh kedatangan Tuhan.
Istilah Yunani keempat, PHANEROO. Istilah ini berarti membuat
nyata atau menjadi nampak. Namun bukan berarti kehadiran yang terlihat mata,
tetapi suatu persepsi.
Istilah Yunani yang kelima adalah ERCHOMAI. Istilah ini
digunakan untuk menunjukkan tindakan actual dari suatu kedatangan. Istilah ini
tidak sama artinya dengan PAROUSIA yang berarti kehadiran seseorang yang telah
datang. ERCHOMAI digunakan dalam ayat kita diatas, yaitu, Wahyu 1:7, “Lihatlah,
Ia datang (SUATU TINDAKAN DATANG) dengan awan-awan…”.
Istilah Yunani keenam adalah HEKO. Kata ini menekankan
kedatangan pada suatu tempat tertentu. Kata ini terdapat dalam Wahyu 2:25,
“Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku DATANG”.
Dari keenam istilah Yunani yang diterjemahkan ‘kedatangan’,
kita dapat memahami bahwa kedatangan Tuhan tidaklah harus berbentuk kedatangan
fisik, sebagaimana tersirat dari ungkapan ‘kedatangan Tuhan kedua kali’.
Sesungguhnya, kedatangan Tuhan terjadi pada hari raya Pentakosta (pencurahan
Roh Kudus). Sebab, Yesus berjanji kepada murid2Nya, bahwa, “Aku tidak akan
meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (Yohanes
14:18). Janji Yesus untuk datang kembali ini diucapkanNya kepada murid2 pada
malam terakhir. Jika Yesus datang nanti “kedua kali”, maka janjiNya kepada
murid2 sudah tidak ditepati, karena semua murid2Nya sudah meninggal. Tetapi,
yang benar adalah Yesus datang kembali kepada murid2 dalam pribadi Roh Kudus pada
hari raya Pentakosta. Demikianlah janji Yesus untuk datang kembali digenapi.
Selanjutnya, diseluruh Alkitab, istilah ‘awan’ jika berbentuk
tunggal, selalu menunjuk kepada ‘awan kemuliaan Tuhan’ atau pribadi Tuhan
sendiri. Tetapi jika berbentuk jamak (awan-awan), maka ini menunjuk kepada
‘saksi2 Tuhan’ (orang2 kudus). Karenanya, ungkapan ‘Ia datang dengan awan-awan’
berarti Yesus Kristus akan datang ‘didalam dan melalui’ saksi2Nya. Inilah
peristiwa ‘pemuliaan anak2 Elohim’ yang diuraikan dalam Roma 8:19-21.
Kita masih merenungkan Wahyu 1:9, untuk mendapatkan pemahaman
mengenai ‘persekutuan’ dengan rasul Yohanes. Wahyu 1:9, menegaskan, “Aku, Yohanes, yang juga saudara dan teman
sekutu dalam kesukaran dan dalam kerajaan serta ketabahan YESUS Kristus, berada
di pulau yang disebut Patmos berkenaan dengan firman Elohim dan berkenaan
dengan kesaksian YESUS Kristus” (ILT).
Telah kita ketahui bahwa kitab Wahyu ditujukan kepada umat
yang memiliki ‘persekutuan’ dengan rasul Yohanes. Sebab, ketika ia mengirim surat
I Yohanes kepada tujuh gereja yang telah jatuh karena tiga ajaran palsu Izebel,
Bileam dan Nikolaus, ia tidak menyapa penerimanya dengan sebutan ‘saudara dan
teman sekutunya’. Tetapi, ia justru menulis surat I Yohanes agar siapa yang
menerima pemberitaannya dapat beroleh persekutuan dengannya (I Yohanes 1:3).
Mari kita perhatikan tiga hal dari ayat diatas mengenai
‘persekutuan’ dengan rasul Yohanes. Pertama, kita bersekutu dengan rasul
Yohanes ‘dalam kesukaran’. Kedua, kita bersekutu dengan rasul Yohanes ‘dalam
kerajaan’. Ketiga, kita bersekutu dengan rasul Yohanes dalam ‘ketabahan Yesus
Kristus’.
Perlu kita pahami disini bahwa yang dimaksud rasul Yohanes
dengan ‘kesukaran’ bukanlah sejenis kesukaran yang dialami oleh semua manusia
yang telah jatuh dalam dosa. Tetapi, maksud rasul Yohanes adalah ‘kesukaran
dalam kerajaan’ dan juga ‘kesukaran yang hanya dapat ditanggung oleh ‘ketabahan
Yesus Kristus’. Artinya, suatu kesukaran yang disebabkan kita sedang diproses
untuk ambil bagian didalam kerajaan sorga.
Kita perlu mengalami ‘kesukaran’ untuk mengambil bagian dalam
kerajaan sorga. Kisah para Rasul 14:22, demikian, “… seharusnyalah kita masuk
kedalam kerajaan Elohim melalui banyak kesukaran’ (ILT). Kesukaran untuk masuk
kedalam kerajaan sorga bisa berupa kesukaran dalam rumah tangga, pekerjaan,
penyakit, atau kesukaran2 lainnya. Bahkan, jika kita perhatikan Wahyu 1:9
diatas, maka akan ada juga kesukaran karena kita menerima firman tentang
kerajaan sorga, suatu kesukaran karena “terkucil” dari dunia kekristenan secara
umum.
Tetapi, kita harus jelas bahwa untuk masuk kedalam kerajaan
sorga itu GRATIS. Kita tidak membayar harga apapun untuk ambil bagian dalam
kerajaan sorga. Penyebab utama dan satu-satunya kita masuk kedalam kerajaan
sorga adalah, “…Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”
(Lukas 12:32). Tetapi, Bapa disorga perlu mempersiapkan kita untuk masuk
kedalam kerajaan sorga. Persiapan atau proses yang diperlukan untuk masuk
kedalam kerajaan sorga adalah SEPENUHNYA TANGGUNG JAWAB BAPA. Ketika Yesus
berkata kepada Petrus dan Andreas bahwa ‘Aku akan menjadikan kamu penjala
manusia’, maka apakah Petrus dan Andreas akan menjadi ‘penjala manusia’ atau
tidak, ADALAH SEPENUHNYA TANGGUNG JAWAB YESUS.
Dengan mengalami kesukaran yang merupakan proses Bapa agar
kita dipersiapkan untuk menerima kerajaan sorga, maka kita mengalami suatu jenis ‘persekutuan’ dengan rasul Yohanes,
bahkan suatu ‘persekutuan’ dengan umat pilihanNya sepanjang ‘zaman gereja’.
Inilah sesungguhnya suatu ‘persekutuan’ dengan umat yang dipanggil dan yang
juga dipilih, yaitu, umat pemenang
karena dipanggil, dipilih, dan setia (Wahyu 17:14). Persekutuan dengan rasul
Yohanes bukanlah persekutuan dengan gereja yang sudah jatuh karena ajaran
Izebel, Bileam, dan Nikolaus (Wahyu 2-3).
Kita masih berbicara mengenai perihal ‘persekutuan’. Perlu
kita tegaskan lagi bahwa rasul Yohanes menulis kitab Wahyu kepada ‘teman
sekutunya’, dan bukan seperti dalam suratnya ketika ia menulis kepada tujuh
gereja di Asia kecil, dimana ia bertujuan agar ada persekutuan dengannya (I
Yohanes 1:3).
Kitab Wahyu adalah tulisan rasul Yohanes mengenai apa yang ia
lihat (Wahyu 1:19). Sewajarnya, jika kita bersekutu dengan seorang teman, maka
apa yang kita “lihat” juga tidak berbeda dari yang dilihatnya. Jika seseorang,
ketika ia membaca kitab Wahyu, dan ia melihat ‘anti Kristus’, ‘malapetaka2’,
‘iblis’, ‘tanda 666’, ‘lautan api’ dalam arti neraka kekal, dan perkara2
“mengerikan” lainnya, maka tentu “persekutuannya” dengan rasul Yohanes
bermasalah. Memang dalam kitab Wahyu ada tertulis mengenai anti Kristus, 666,
iblis, lautan api, malapetaka2, tetapi semua itu muncul kepermukaan karena
Yesus Kristus mewahyukan DiriNya kepada rasul Yohanes. Rasul Yohanes melihat
Yesus Kristus, kerajaanNya, dan tentu gerejaNya termasuk para pemenangNya.
Saat ini kita akan membahas apa yang dilihat rasul Yohanes
dalam Wahyu 1:20, demikian tertulis, “Dan rahasia ketujuh bintang yang telah
kaulihat pada tanganKu dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu
ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat”.
Pertama, rasul Yohanes melihat ketujuh bintang, dimana ketujuh bintang ini
adalah malaikat ketujuh jemaat. Pengertian ‘malaikat’ disini tidak harus
berarti makhluk sorgawi yang bersayap. Paulus berkata bahwa jemaat Galatia
menyambutnya seperti menyambut malaikat Elohim (Galatia 4:14). Istilah
‘malaikat’ itu berarti ‘utusan’, dan seringkali yang dimaksud adalah manusia.
Jadi, tujuh bintang itu adalah tujuh utusan jemaat (orang). Selanjutnya, Yesus menyebut
DiriNya ‘bintang timur’, dan juga kepada para pemenangNya, Yesus akan
mengaruniakan ‘bintang timur’. Karenanya, bintang merupakan simbol dari putera2
Elohim. Ketujuh bintang itu merupakan simbol dari ketujuh putera2 Elohim.
Kedua, rasul Yohanes melihat tujuh kaki dian emas yang adalah
tujuh gereja. Tetapi, kita jangan cepat2 menafsirkan bahwa tujuh gereja itu
adalah tujuh gereja di Asia Kecil, yang kepada mereka Yohanes mengirim kitab
Wahyu ini. Untuk menjelaskan hal ini, mari kita perhatikan Wahyu 1:13,
demikian, “Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak
Manusia…”. Teks asli disini tidak dapat diterjemahkan ‘like to the son of man’,
seolah-olah hanya menunjuk kepada Yesus Kristus. Tetapi, harus diterjemahkan,
‘like to a son of man’ (seperti wujud seorang manusia), yang artinya, menunjuk
kepada Yesus Kristus (Kristus Kepala), dan putera2 Elohim (Kristus Tubuh).
Jadi, ditengah-tengah kaki dian (gereja) ada Tuhan Yesus dan putera2 Elohim.
Baiklah kita bandingkan fakta diatas dengan Wahyu 3:20,
dimana Yesus berada diluar pintu gereja di Laodikia (gereja di Asia Kecil).
Yesus dan putera2 Elohim berada ditengah-tengah gereja sejati, tetapi Yesus
berada diluar pintu gereja yang telah merosot di Asia Kecil. Jadi, tujuh kaki
dian emas yang dilihat oleh rasul Yohanes adalah gereja sejati, dan gereja
sejati ini bukan tujuh gereja di Asia Kecil. Itu sebabnya, pada tiap tujuh
gereja di Asia Kecil selalu ada panggilan bagi para pemenangNya, sebab tujuh
gereja di Asia Kecil telah merosot. Dari kenyataan ini, kita dapat memahami
bahwa ‘yang dilihat oleh rasul Yohanes adalah Yesus dan para pemenangNya,
dimana mereka berada ditengah-tengah gereja sejati’.
Dalam dunia kekristenan, sudah umum orang Kristen menyebut
gereja itu denominasi. Ini membuktikan dunia kekristenan tidak melihat gereja
sejati itu. Nampaknya, dunia kekristenan bermasalah dalam “persekutuannya”
dengan rasul Yohanes. Oleh kasih karuniaNya, kita beroleh persekutuan dengan
rasul Yohanes, dan dapat melihat sebagaimana ia melihat.
Telah kita bahas penglihatan rasul Yohanes dalam Wahyu 1:20,
dimana kaki dian emas itu adalah gereja sejati, dan tujuh bintang itu adalah
para pemenangNya, yang merupakan utusan jemaat. Kita akan masuk kedalam pembahasan
mengenai ketujuh gereja di Asia kecil ini, tetapi karena tema kita tentang
‘kerajaan sorga’, maka kita harus menegaskan perbedaan ‘umat kerajaan sorga’
dan para anggota gereja, khususnya, gereja di Asia kecil yang telah merosot
ini.
Didalam Wahyu 1:9, yang telah kita bahas, dinyatakan bahwa
rasul Yohanes menulis suratnya sebagai ‘teman sekutu’. Jelas bahwa ‘teman
sekutu’ rasul Yohanes bukanlah semua anggota gereja2 di Asia Kecil yang telah
merosot. Surat I Yohanes merupakan ‘surat umum’ kepada gereja2 di Asia Kecil,
dengan tujuan agar ada persekutuan bagi mereka yang menerima pemberitaannya (I
Yohanes 1:3). Dan, persekutuan dengan rasul Yohanes adalah ‘persekutuan dalam
kerajaan’ (Wahyu 1:9). Jadi, hanya orang2 yang ada dalam persekutuan dengan
rasul Yohaneslah yang kita sebut ‘umat kerajaan’. Sekali lagi, kita tidak dapat
menyebut semua anggota gereja di Asia kecil adalah ‘umat kerajaan’, karena
‘umat kerajaan’ adalah anggota2 gereja yang memiliki persekutuan dengan rasul
Yohanes.
Diharapkan perkara ini semakin jelas sementara kita membahas
gereja di Asia Kecil satu persatu. Sesungguhnya, firman Tuhan bagi tujuh gereja
di Asia Kecil ditujukan kepada utusan jemaat, yang disimbolkan sebagai tujuh
bintang. Kemudian, para utusan jemaat ini menyampaikan firman Tuhan kepada
jemaat, dan barangsiapa bertelinga tentu akan mendengarkan firman Tuhan. Jadi,
kita harus jelas bahwa tidak semua anggota gereja akan mendengarkan firman
Tuhan yang disampaikan para utusan jemaat ini. Mereka yang mendapat kasih
karunia untuk mendengar, merekalah yang menerima firman yang disampaikan para
utusan jemaat, dan disebut para pemenang.
Barangkali akan menjadi lebih jelas jika kita langsung
menerapkan perkara ini kedalam dunia kekristenan. Kita tahu bahwa dunia
kekristenan bukanlah gereja sejati, karena gereja sejati yang dilahirkan pada
hari Pentakosta telah pecah menjadi puluhan ribu denominasi, yang menjadi dunia
kekristenan seperti yang kita kenal sekarang. Dalam dunia kekristenan terdapat
banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Kepada sedikit orang yang
dipilih inilah Bapa di sorga berkenan memberikan kerajaan sorga itu (Lukas
12:32). Orang2 yang mendapat kasih karunia untuk dipilih ini disebut dalam
injil Lukas sebagai ‘kawanan kecil’, sebagai lawan dari ‘kawanan besar’ dalam
dunia kekristenan. Sesungguhnya, ‘kawanan kecil’ inilah yang kita sebut diatas
sebagai ‘umat kerajaan’.
Kita jangan langsung menilai bahwa ‘kawanan kecil’ adalah
orang2 terkenal atau “yang dipakai Tuhan luar biasa” dalam dunia kekristenan.
Kita akan memahami hal ini lebih jelas setelah kita membahas satu persatu dari
tujuh gereja di Asia Kecil ini, dan juga membahas hal-hal yang menyebabkan
jemaat2 ini merosot. Barangkali, ‘kawanan kecil’ ini adalah orang2 sederhana
saja, tetapi mereka mendapat kasih karunia untuk mendengarkan firman yang
disampaikan para utusan jemaat. Semuanya memang semata-mata karena kasih
karuniaNya. Tidak ada seorangpun yang dapat bermegah karena alasan apapun.
Sebelum kita membahas tujuh gereja di Asia Kecil ini, kita
perlu melihat dengan jelas ‘kondisi’ tujuh gereja ini. Gereja2 yang dikirimi
surat oleh rasul Yohanes sangat berbeda ‘kondisinya’ dibanding dengan gereja2
yang dikirimi surat oleh rasul Paulus maupun oleh rasul Petrus. Untuk melihat
perbedaan ‘kondisi’ gereja2 ini, kita akan menggunakan satu prinsip dalam
memahami semua tulisan2 dalam PB, yaitu prinsip ‘Trilogi’.
Prinsip Trilogi ini tertulis dalam Amsal 22:20-21, demikian,
“Bukankah aku telah menuliskannya
kepadamu TIGA KALI dengan nasihat dan pengetahuan? Untuk membuat engkau
mengetahui kebenaran…” (ILT). Prinsip ‘berbicara tiga kali’ adalah prinsip
Tuhan dalam berbicara agar kita mengenal kebenaran. Sesungguhnya, semua tulisan
dalam PB adalah cara Tuhan berbicara ‘tiga kali’ kepada kita melalui ketiga hambaNya,
yaitu Petrus, Paulus dan Yohanes. Semua kitab dalam PB dapat dikelompokkan
kedalam tiga bagian, yaitu kelompok Petrus, Paulus dan Yohanes. Kita tidak
membahas hal ini lebih jauh, karena telah ada tulisan kita mengenai hal ini.
Yang perlu ditegaskan sekarang adalah gereja2 yang dikirimi
surat oleh Petrus dan Paulus ADALAH GEREJA-GEREJA SEJATI. Gereja sejati disini
bukan berarti gereja2 ini tidak mempunyai masalah, ataupun kekeliruan teologi.
Tetapi, gereja2 ini kita sebut sejati karena mereka MEMILIKI PERSEKUTUAN DENGAN
PETRUS DAN PAULUS. Tetapi, tujuh gereja di Asia Kecil TIDAK MEMILIKI
PERSEKUTUAN DENGAN RASUL YOHANES. Justru, rasul Yohanes menulis surat umum
kepada tujuh gereja ini agar ada persekutuan dengannya (I Yohanes 1:3).
Mengapa tujuh gereja di Asia Kecil tidak memiliki persekutuan
dengan rasul Yohanes? Semua ini dimulai dengan adanya ‘serangan serigala
ganas’, seperti yang telah dikatakan Paulus (Kis. 20:29-30). Serigala ganas ini
menyerang para pemimpin gereja sehingga dengan ajaran palsu, para pemimpin ini
menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri. Inilah yang menyebabkan gereja
sejati pecah menjadi puluhan ribu denominasi seperti saat ini. Bahkan, diakhir
hidupnya Paulus sendiri sudah ditinggalkan oleh semua mereka yang di Asia Kecil
(II Timotius 1:15). Ketika Petrus dan Paulus telah mati martir, dan rasul
Yohanes mulai melayani tujuh gereja di Asia Kecil, ‘perilaku’ para pemimpin
yang menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri ini telah dibenarkan dan
menjadi suatu ‘ajaran’, yaitu ajaran palsu Nikolaus, Bileam, dan Izebel,
seperti yang akan kita lihat nanti. Jadi, karena serangan serigala ganas
terhadap para pemimpin gereja inilah yang menjadi sebab rasul Yohanes tidak
memiliki persekutuan dengan gereja2 di Asia kecil. Terdapat
“Diotrefes-Diotrefes” dalam gereja yang merosot, yang terang-terangan menolak
seorang rasul.
Dengan memahami ‘kondisi’ sesungguhnya tujuh gereja di Asia
kecil, maka kita siap untuk mengenal kebenaran gereja sejati, kebenaran
kerajaan sorga, dan pribadi Yesus Kristus sendiri yang adalah kebenaran. Jika
seseorang tidak melihat ‘kondisi’ sebenarnya dari tujuh gereja di Asia Kecil,
maka ia tidak siap untuk memahami kebenaran. Jika seseorang tidak melihat
‘kondisi’ sebenarnya dunia kekristenan, maka ia juga tidak siap untuk memahami
kebenaran kerajaan sorga, seperti diwahyukan kepada rasul Yohanes.
Telah kita tegaskan bahwa gereja2 yang dikirimi surat oleh
Petrus dan Paulus adalah gereja2 sejati. Gereja sejati dalam pengertian tetap
ada ‘persekutuan’ dengan para rasul, sekalipun tentu ada masalah dan kekeliruan
teologi disana-sini. Tetapi, tujuh gereja di Asia kecil, bukan lagi gereja
sejati karena tidak ada ‘persekutuan’ (koinonia) dengan rasul Yohanes, dan
bahkan beberapa pemimpinnya menolak rasul Yohanes.
Mari kita mulai dengan gereja pertama yang disebut dalam
Wahyu 2-3, yaitu gereja di Efesus. Tentu kita tidak membahas semua poin yang
dikatakan kepada gereja di Efesus, tetapi beberapa saja yang terkait dengan
pengertian ‘kerajaan sorga’ yang dinyatakan dalam kitab Wahyu. Poin penting
disini terdapat dalam Wahyu 2:6, sebagai berikut, “Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan
pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci”.
Karena kitab Wahyu menggunakan bahasa simbol, maka ‘Nikolaus’
yang berasal dari bahasa Yunani ‘Nicolait’ mempunyai arti ‘menaklukkan kaum
awam’ (Nikao=menaklukkan, dan Laos=kaum awam). Jadi, ‘Nikolaus’ adalah
perbuatan para pemimpin yang menaklukkan anggota gereja, sehingga gereja
terbelah menjadi dua golongan, yaitu golongan ‘para penakluk’, dan golongan
‘orang2 yang ditaklukkan’. Pembelahan gereja menjadi dua golongan ini kemudian
berlanjut, dan dalam gereja Katolik, ‘para penakluk’ disebut golongan Imam, dan
‘orang2 yang ditaklukkan’ adalah golongan Umat. Dalam gereja2 Protestan, dua
golongan ini biasa disebut golongan para ‘Pendeta’, dan golongan ‘jemaat’.
Didalam gereja di Efesus, ‘Nikolaus’ ini baru sebagai
‘praktek’ yang dilakukan beberapa pemimpin, tetapi kemudian berkembang menjadi
‘ajaran/doktrin’ (Yun, ‘didache’) dalam gereja di Pergamus (Wahyu 2:15).
Menarik untuk diperhatikan disini bahwa istilah ‘Pergamus’ atau Yunani
‘Pergamos’, berarti ‘perkawinan’ atau ‘union’. Didalam gereja yang telah
“kawin” dengan dunia, ‘Nikolaus’ telah menjadi suatu ajaran. Bagi orang yang
mempelajari sejarah gereja, maka jelas bahwa gereja telah ‘kawin’ dengan
‘dunia’, dimana pada waktu itu Kaisar Roma Constantine menerima kekristenan
sehingga menjadi ‘agama negara’. Dunia tidak lagi menganiaya gereja, tetapi
telah “kawin” dan menyatu. Memang gereja menjadi “besar”, tetapi Tuhan membenci
ajaran maupun para pengikut ‘Nikolaus’ ini.
Jadi, didalam “gereja dunia”, Nikolaus ini telah menjadi
suatu ajaran dan diterima secara umum. Sesungguhnya, kerusakan yang ditimbulkan
ajaran ‘Nikolaus’ ini adalah keimaman semua orang percaya (I Petrus 2:9), dan
pada akhirnya juga ‘otoritas gereja’ (Matius 23:1-8). Didalam “gereja dunia”
para penakluk kaum awam ini mengajarkan ajaran2 mengenai kepemimpinan, yang
pada dasarnya memasukkan ‘hierarki’ dan ‘sistem pemerintahan manusia’. Otoritas
gereja tidak lagi otoritas Hayat, karena gereja adalah organisme, tetapi dalam
‘gereja dunia’ otoritas gereja berada didalam tangan para pemimpin.
Tetapi, ‘umat kerajaan’ tidak mengambil bagian dalam ajaran
‘Nikolaus’. Semua anggota umat kerajaan, yang kepadanya Bapa berkenan
memberikan kerajaan itu, dibentuk menjadi ‘raja2 dan imam2’ (Wahyu 1:6). Umat
kerajaan tidak menaklukkan, dan juga tidak ditaklukkan oleh para pemimpin.
Kita masuk kedalam gereja kedua, yaitu gereja di Smirna. Mari
kita perhatikan kondisi gereja di Smirna, demikian, “Aku tahu kesusahanmu dan
kemiskinanmu – namun engkau kaya – dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya
orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah
jemaah Iblis” (Wahyu 2:9). Istilah ‘Smirna’ dalam bahasa Yunani berarti ‘mur’,
dan ‘mur’ merupakan simbol dari ‘penderitaan’. Jadi gereja di Smirna adalah
gereja yang mengalami penderitaan.
Ada dua penyebab gereja di Smirna menderita. Pertama,
penderitaan oleh kekaisaran Roma pada waktu itu. Tetapi, sekalipun gereja di
Smirna ini teraniaya dan menjadi miskin secara harta benda, namun Tuhan berkata
bahwa mereka kaya secara rohani. Kedua, mereka menderita karena mengalami
‘fitnah’ (Yun: ‘blasphemia’=hujatan, perkataan jahat) yang berasal dari orang2
yang mengaku Yahudi, tetapi bukan. Kita harus paham bahwa yang dimaksud orang2
Yahudi disini adalah mereka yang ada didalam gereja di Smirna. Jadi,
penderitaan gereja di Smirna berasal dari luar (kekaisaran Roma), dan juga dari
dalam (orang2 yang mengaku Yahudi).
Kita akan membahas penderitaan yang berasal dari dalam
gereja, karena penderitaan atau tantangan dari luar biasanya lebih mudah
dihadapi. Untuk memahami tantangan dari dalam, kita perlu mengetahui perbedaan
ibadah Yudaisme dan ibadah gereja sejati. Ada 4 hal yang menjadi fokus Ibadah
Yudaisme, yaitu, Bait Suci, Hukum Taurat, sistem keimaman, dan janji2 Yahweh.
Bangsa Yahudi harus beribadah di Bait Suci Yerusalem, mentaati Hukum yang
tertulis “di loh batu”, mentaati keimaman menurut aturan Harun, dan mendapat
janji2 seperti tanah Palestina, dan berkat2 jasmani lainnya. Jika kita
perhatikan dengan baik, maka inti dari ibadah Yudaisme itu bersifat “lahiriah”,
dengan berkat2nya yang bersifat jasmani.
Tetapi, ibadah gereja sejati itu bersifat rohani. Yesus
berkata kepada perempuan Samaria demikian, “Tetapi saatnya akan datang dan
sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam
roh dan kebenaran…” (Yohanes 4:23). Ibadah ‘dalam roh’ artinya ibadah yang
mengikuti ‘pimpinan Roh Kudus’ dalam batin. Dan ibadah ‘dalam kebenaran’ (Yun:
‘aletheia’=truth atau reality), artinya, ibadah dalam realita, bukan ibadah
dalam “simbol” atau “bentuk luaran” seperti Yudaisme. Ibadah Yudaisme memang merupakan
ibadah “simbol” atau “bentuk luaran”, tetapi ketika Yesus datang menggenapi
Hukum Taurat, maka ibadah gereja sejati haruslah ibadah “esensi” atau ibadah
“batiniah”.
Mari kita langsung menerapkan pemahaman dalam ibadah ini
kedalam dunia kekristenan. Apakah dunia kekristenan beribadah dalam roh dan
kebenaran? Kita dapat menjawab ini dengan mudah. Perhatikan saja sistem
keimaman dalam dunia kekristenan. Oleh ajaran ‘Nikolaus’ yang sudah kita bahas,
maka jelaslah bahwa sistem keimaman dalam dunia kekristenan tidak menuruti
aturan Harun (Yudaisme), maupun aturan Melkisedek (gereja sejati). Jika, sistem
keimamannya sudah campur aduk, maka dengan mudah setiap pemimpin agama dalam
tiap denominasi membuat aturan2 “tertulis” masing-masing. Harus datang ke gedung
ini atau itu, harus membayar persepuluhan, buah sulung dan ini-itu. Harus…Harus
…dan Harus… Ibadah dalam dunia kekristenan menjadi sangat “jasmani” seperti
Yudaisme.
Tetapi, ibadah umat kerajaan adalah, “…mengikuti Anak Domba itu kemana saja Ia pergi…” (Wahyu 14:4). Umat
kerajaan dapat mengikuti Yesus kemana saja Ia pergi, karena ada pengurapan
dalam batin yang memampukannya untuk mendengar suara Yesus (I Yohanes 2:20,26;
Yohanes 10:27).
Kita masuk kepada gereja ketiga, yaitu gereja di Pergamus
(Wahyu 2:12-17). Telah kita bahas bahwa
istilah ‘Pergamus’ atau Yunani ‘Pergamos’, berarti ‘perkawinan’ atau ‘union’.
Disini kita lihat bahwa didalam gereja yang telah “kawin” dengan dunia, bukan
saja ‘Nikolaus’ telah menjadi suatu ajaran, tetapi juga ‘Bileam’. Ajaran
‘Bileam’ adalah suatu ajaran yang membenarkan praktek ‘menggunakan karunia2
Tuhan untuk mendapat upah’. Dalam II Petrus 2:15, ditegaskan suatu ‘jalan
Bileam’ yang suka menerima upah untuk perbuatan2 yang jahat. Surat Yudas juga
menegaskan, “…oleh sebab upah,
menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam…” (ayat 11).
Karena kitab Wahyu adalah kitab nubuat, maka kita tahu bahwa
penggenapan tipe ‘gereja di Pergamus’ ini terjadi ketika kaisar Roma,
Konstantin, menerima kekristenan sebagai negara agama. Pada zaman itu, setiap
orang yang melayani Tuhan akan mendapat upah dari perbendaharaan negara.
Praktek melayani Tuhan dan mendapat upah seperti ini tidak dikenal pada zaman
gereja mula2, yaitu ketika gereja sejati belum jatuh dan merosot seperti
gereja2 di Asia kecil.
Tetapi, ‘Bileam’ ini telah menjadi suatu ajaran, artinya,
sudah diterima secara luas dan dipandang benar pada zaman gereja di Pergamus.
Tentu saja ada ayat2 dalam PB yang berbicara bahwa ‘seorang pekerja patut
mendapat upahnya’ atau seperti yang Paulus katakan agar ‘jangan memberangus
mulut lembu yang sedang mengirik’. Jika seseorang sudah menjadi penganut
‘ajaran Bileam’ tentu akan banyak ayat2 dan bukti2 yang mereka temukan bahwa
Alkitab untuk mendukung ‘ajaran Bileam’. Tetapi, jika seseorang mendapat kasih
karunia dihadapanNya, maka ia akan dapat melihat dengan jelas perbedaan antara
gereja mula2 dimana tidak ada ajaran ‘Bileam’, dan gereja2 yang sudah menerima
ajaran ‘Bileam’. Jadi, persoalannya disini adalah apakah kita mendapat kasih
karunia dihadapanNya untuk melihat atau tidak.
Mari kita perhatikan dunia kekristenan saat ini. Apakah
‘ajaran Bileam’ sudah diterima secara luas didalam dunia kekristenan? Sekali
lagi, ini adalah persoalan apakah seseorang itu “melihat” atau tidak. Karena
ketika Yesus belum datang ke Bait Suci Yudaisme, semua ‘pelayanan’ imam2,
orang2 Farisi dan ahli Taurat, tidak menjadi masalah atau tidak ada seorangpun
yang mempermasalahkannya. Tetapi, karena Yesus “melihat” bahwa terjadi
perdagangan dalam Bait Suci, dan para pemimpin Yudaisme mencari untung dari
pelayanannya, maka mulailah terjadi “keributan”. Jika Yesus “datang kedua kali”
kedalam dunia kekristenan, maka tentu akan terjadi juga “keributan”.
Mari kita perhatikan seorang saksi yang setia di gereja
Pergamus, yaitu Antipas (ayat 13). Didalam sejarah gereja, tidak didapati
seorang pemimpin bernama ‘Antipas’. Karena kitab Wahyu menggunakan bahasa
simbol, maka pengertian ‘Antipas’ dalam bahasa Yunani adalah ‘Anti’=berlawanan,
dan ‘Pas’= semua. Artinya, saksi yang setia ini ‘berlawanan dengan semua’.
Saksi yang setia ini berlawanan dengan gereja di Pergamus bukan karena ia
mencari-cari masalah. Saksi yang setia ini berlawanan dengan gereja di
Pergamus, karena ia berpegang kepada nama Tuhan dan tidak menyangkal imannya.
Demikian juga saat ini, umat kerajaan ‘berlawanan’ dengan
dunia kekristenan, bukan karena mencari-cari masalah, tetapi karena tidak mau
ambil bagian dalam ajaran Bileam dan Nikolaus yang sudah diterima secara luas.
Kita masuk kepada gereja di Tiatira (Wahyu 2:18-29). Perlu
kita tegaskan disini bahwa kitab Wahyu adalah kitab nubuat, dan karenanya,
ketujuh gereja di Asia Kecil menggambarkan gereja2 yang akan muncul dalam duna
kekristenan didalam sepanjang sejarahnya. Jika kita perhatikan ketiga gereja
pertama, yaitu, gereja di Efesus, Smirna, dan Pergamus, tidak ada janji Tuhan
mengenai kedatanganNya. Tetapi, untuk keempat gereja selanjutnya, kita
menemukan janji Tuhan mengenai kedatanganNya. Untuk gereja di Tiatira (Wahyu
2:25), gereja di Sardis (Wahyu 3:3), gereja di Filadelfia (Wahyu 3:11), dan
gereja di Laodikia sebagai tipe gereja terakhir, tentu akan ada sampai
kedatangan Tuhan.
Jadi, penggenapan atau tipe gereja di Efesus, Smirna, dan
Pergamus telah digenapi dalam sejarah kekristenan, dan tidak muncul lagi karena
tidak mendapat janji Tuhan mengenai kedatanganNya. Tetapi, keempat gereja
selanjutnya, yaitu tipe gereja di Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia,
akan tetap ada sampai kedatangan Tuhan. Banyak orang Kristen percaya bahwa
keempat gereja terakhir juga sudah digenapi dalam dunia kekristenan. Karenanya,
jika kita perhatikan dunia kekristenan saat ini, maka kita akan melihat
beberapa ciri/karakteristik dari keempat gereja terakhir ini. Dengan menyatakan
bahwa tipe gereja di Efesus, Smirna, dan Pergamus telah digenapi dan tidak
muncul lagi dalam sejarah kekristenan, hal ini tidak berarti bahwa ajaran palsu
seperti Nikolaus dan Bileam, tidak ada lagi dalam dunia kekristenan. Kita
melihat bahwa ketiga ajaran palsu Nikolaus, Bileam, dan Izebel ini sangat
mewarnai dunia kekristenan sekarang.
Mari kita membahas ajaran Izebel yang terdapat dalam gereja
di Tiatira. Wahyu 2:20, menegaskan, “Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau
membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan
hamba-hambaKu supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala”.
Istilah ‘Izebel’ disini tentu simbol sesuai dengan sifat dasar kitab Wahyu, dan
untuk memahami makna dari simbol ‘Izebel’, kita perlu melihat sejarah dari
Izebel ini.
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan tentang Izebel
ini dalam sejarah Israel. Pertama, Izebel ini isteri raja Ahab yang menyembah
Baal, dan dalam kasus kebun anggur Nabot, ia merampas otoritas suaminya (I
Raja-Raja 21:7-8). Jadi, “Izebel” didalam gereja adalah para pemimpin yang
merampas otoritas Yesus (otoritas Hayat) dengan cara memasukkan hierarki
(sistem pemerintahan manusia) kedalam gereja. Kedua, Izebel adalah seorang yang
mempunyai kekuatan kemauan (‘strong will’) sehingga ia mampu ‘membujuk’ bukan
saja bangsa Israel, tetapi suaminya juga untuk menyembah Baal (I Raja-Raja
21:25). Jadi, “Izebel” dalam gereja adalah para pemimpin yang mempunyai ‘daya
tarik atau karisma’ sehingga dapat menarik murid2 Tuhan untuk mengikuti
keinginannya. Ketiga, Izebel mampu melenyapkan nabi-nabi Tuhan, dan memelihara
nabi-nabi palsu karena ia memberi makan dari meja istananya (I Raja-Raja
18:4,19). Jadi, “Izebel” dalam gereja adalah para pemimpin yang “membungkam”
suara nabi2 sejati, dan memberi jalan/upah kepada nabi2 palsu untuk
bersuara/mengajar.
Banyak orang percaya bahwa karakteristik gereja di Tiatira
ini sangat menyolok dalam gereja Katolik. Kekayaan yang dimiliki gereja Katolik
dan otoritas Paus sangat jelas terungkap dalam simbol ‘Izebel’. Tetapi, kita
jangan menganggap ‘Izebel” tidak ada dalam denominasi2 lainnya, karena setiap
denominasi tentu memiliki “Izebelnya”.
Dalam kondisi gereja yang sedemikian, Tuhan mempunyai umat
kerajaan yang digambarkan oleh komunitas “Elia” dan 7000 orang pilihanNya.
Saat ini kita akan membahas tipe gereja di Sardis (Wahyu
3:1-6). Mari kita perhatikan perkataan Roh kepada gereja ini, demikian, “…Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau
dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih
tinggal yang sudah hampir mati… Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah
menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah…” (3:1-3). Untuk
memahami perkataan Roh kepada gereja di Sardis ini, kita perlu melihat kembali
kepada gereja di Tiatira yang mendahuluinya.
Telah kita tegaskan bahwa karakteristik gereja di Tiatira ini
telah tergenapi didalam gereja Katolik, dan para ahli sejarah gereja umumnya
menyebut zaman gereja Katolik itu sebagai zaman ‘kegelapan gereja’. Zaman
kegelapan gereja ini berlangsung kurang lebih 1000 tahun lamanya dimulai dari
abad 6 sampai kedatangan Martin Luther tahun 1517. Kemudian, setelah zaman
gereja di Tiatira ini, Tuhan bangkitkan tipe gereja di Sardis yang kita sebut
gereja2 Protestan sebagai respon terhadap zaman kegelapan gereja.
Semua kita mengakui bahwa Martin Luther adalah seorang yang
dipakai Tuhan dan bahwa reformasi itu berasal dari Tuhan. Ada beberapa
kebenaran pokok yang dipulihkan pada waktu itu, yaitu sola fide, sola gratia,
dan sola scriptura (hanya karena iman, hanya karena kasih karunia, dan hanya
Alkitab). Tidak dapat disangkal bahwa reformasi oleh Martin Luther ini
menyebabkan ribuan orang kembali kepada iman semula dan Alkitab mulai terbuka
dan dipelajari kembali. Tetapi setelah sejangka waktu, nampaknya, gerakan reformasi
ini ditunggangi oleh kepentingan2 politik. Beberapa negara ingin melepaskan
diri dari kekuasaan Roma. Bahkan dibeberapa negara seperti Inggris, jerman, dan
lainnya, gereja menjadi satu dengan negara.
Tetapi Tuhan terus me-reformasi gerejanya sehingga timbul
gerakan2 lain setelah Martin Luther, seperti Baptis, Presbiterian, Holiness,
dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa tipe gereja di Sardis ini diwarnai oleh
kebangunan rohani demi kebangunan rohani. Tetapi karena kepentingan2 manusia,
kebangunan rohani yang awalnya murni berasal dari Tuhan ini, kemudian merosot,
dan bahkan menentang kegerakan Tuhan selanjutnya. Demikianlah sejarah
kebangunan rohani selalu mempunyai pola yang sama. Pertama, lawatan Tuhan yang
menghasilkan spontanitas dan persaudaraan yang sejati. Kemudian, kepentingan
manusia menyusup kedalam, maka timbul apa yang disebut ‘proses melembaga’,
dimana lembaga ini akan menolak gerakan Tuhan selanjutnya.
Kita ambil satu contoh kebangunan rohani yang masih termasuk
kedalam tipe gereja di Sardis, yaitu kebangunan rohani di Amerika tahun 1901,
yang dikenal sebagai gerakan Pentakosta. Kita akan mengutip gerakan Pentakosta
ini dari buku ‘Pentecostalism’, 1966, oleh John T. Nichol pada halaman 85,
sebagai berikut: “Saudara Seymour diakui sebagai pemimpin nominal. Tetapi kami
tidak mempunyai Paus atau hierarki. Kami adalah saudara. Kami tidak mempunyai
program manusia. Tuhan sendiri yang memimpin. Kami tidak mempunyai golongan
imam, juga tidak ada jabatan imam. Semua perkara-perkara ini datang kemudian,
dengan adanya penyimpangan dari gerakan (Pentakosta)….Tidak ada seorangpun yang
tahu apa yang akan datang, apa yang Tuhan akan kerjakan, semuanya serba
spontan, diatur oleh Roh…Kami tidak harus mendapat petunjuk/isyarat-isyarat
dari para pemimpin … Pertemuan-pertemuan dikontrol oleh Roh, dari Takhta”
(akhir kutipan).
Dengan memperhatikan pola kebangunan rohani gereja di Sardis,
maka kita dapat memahami mengapa Roh Kudus berkata, “engkau dikatakan hidup,
padahal engkau mati”. Pada awalnya ada kehidupan karena lawatan Tuhan, kemudian
karena kepentingan manusia, maka kematianpun tejadi.
Tetapi umat kerajaan didalam tipe gereja di Sardis dinyatakan
sebagai berikut, “Tetapi di Sardis ada
beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan
Aku dalam pakaian putih karena mereka adalah layak untuk itu” (Wahyu 3:4).
Kita lanjutkan terus pembahasan kita mengenai ‘kerajaan
sorga’ dan saat ini kita masuk kedalam gereja di Filadelfia (Wahyu 3:7-13).
Telah kita bahas bahwa tipe gereja di Sardis adalah tipe ‘kebangunan rohani
demi kebangunan rohani’, yang dimulai dari gerakan Martin Luther dan
selanjutnya. Didalam Gereja di Filadelfia juga terjadi reformasi dan kebangunan
rohani, tetapi tipe kebangunan rohani dalam gereja di Filadelfia tidak sama
dengan gereja di Sardis. Dari ketujuh gereja di Asia Kecil ini hanya gereja di
Filadelfia dan gereja di Smirna yang tidak ditegor oleh Roh Kudus.
Namun, sekalipun tidak ada tegoran Roh untuk gereja di Smirna
dan Filadelfia, Tuhan tetap memanggil para pemenangNya didalam kedua gereja
ini. Panggilan bagi para pemenangNya ini jelas membuktikan bahwa gereja di
Smirna maupun gereja di Filadelfia masuk dalam kategori ‘gereja yang sudah
jatuh’. Kita harus jelas memahami bahwa ketujuh gereja di Asia Kecil pada zaman
rasul Yohanes tidak dapat disamakan dengan gereja2 pada zaman rasul Petrus dan
Paulus. Tidak ada panggilan bagi para pemenang kepada gereja2 dizaman Petrus
dan Paulus seperti yang kita lihat pada ketujuh gereja di Asia Kecil ini.
Mari kita perhatikan makna istilah ‘Filadelfia’ ini. Istilah
‘Filadelfia’ dalam bahasa Yunani terdiri dari dua kata dimana kata pertama
berarti ‘kasih’, dan kata kedua berarti ‘saudara’. Jadi, pengertian
‘Filadelfia’ adalah ‘kasih persaudaraan’. Apa makna ‘kasih persaudaraan’ ini?
Telah kita bahas karakteristik gereja di Tiatira yaitu ‘hierarki’ dalam arti
otoritas manusiawi, dimana karakteristik ini tergenapi dalam gereja Katolik.
Sementara karakteristik gereja di Sardis ada ‘kebangunan rohani’ yang pada
akhirnya menjadi merosot karena kepentingan2 manusiawi. Dan kita tahu bahwa
karakteristik seperti ini tergenapi dalam gereja2 Protestan. Tetapi,
karakteristik gereja di Filadelfia adalah ‘kasih persaudaraan’ dimana semua
anggota gereja adalah saudara, dan ini menggenapi perkataan Tuhan Yesus kepada
gerejaNya, yaitu ‘kamu semua adalah saudara’ (Matius 23:8). Makna dari ‘kamu
semua adalah saudara’, yaitu tidak ada ‘hierarki’ dalam gereja, dan karenanya,
tidak ada ajaran ‘Nikolaus’.
Baik gereja Katolik, maupun gereja2 Protestan membelah
anggotanya menjadi dua bagian, yaitu golongan para Imam, dan golongan para
pendeta. Tetapi, didalam tipe gereja di Filadelfia tidak ada pembelahan
sedemikian, karena semua anggota gereja adalah saudara. Didalam sejarah
kekristenan, hal ini tergenapi ketika pada tahun 1825, di Dublin (ibu kota
Irlandia) beberapa saudara berkumpul diatas kebenaran ‘kasih persaudaraan’.
Gerakan ini kemudian dikenal sebagai ‘The Brethren” dimana tokoh utamanya
adalah John Nelson Darby. Kemudian pada tahun 1926, di China, terjadi juga
gerakan ‘kasih persaudaraan’ atau biasa disebut ‘The Little Flock’ dimana tokoh
utamanya adalah Watchman Nee. Didalam kedua gerakan ini tidak ada jabatan atau
gelar2 agamawi apapun juga.
Kalau kita perhatikan mengapa gereja di Filadelfia tidak
menerima tegoran Roh, sekalipun juga termasuk gereja yang jatuh, maka dapatlah
kita pahami penyebab utamanya yaitu gereja di Filadelfia tidak menjalankan atau
mengajarkan ajaran Nikolaus yang Tuhan Yesus benci (Wahyu 2:6). Umat kerajaan
tentu tidak mempraktekkan ‘perilaku Nikolaus’, apalagi mengajarkan ‘ajaran
Nikolaus’ ini. Umat kerajaan adalah orang2 sederhana dalam dunia kekristenan
yang telah menanggalkan semua jabatan, atau gelar2 agamawi apapun.
Kita sampai kepada gereja terakhir, yaitu gereja di Laodikia
(Wahyu 3:14-22). Mari kita lihat beberapa karakteristik gereja di Laodikia ini.
Pertama, suam-suam kuku (ayat 16). Suam-suam kuku ini berarti tidak panas, juga
tidak dingin. Gereja ini tetap menjalankan pekerjaan pelayanannya, tetapi jika
mereka tidak bertobat, Tuhan akan memuntahkannya (ayat 15). Kedua, kesombongan.
Ayat 17, menegaskan, “Karena engkau
berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan
apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang,
miskin, buta dan telanjang”. Disini Tuhan memberikan solusinya, yaitu
membeli “emas” dari Tuhan (karakter Ilahi), mengenakan “pakaian putih”
(kebenaran orang2 kudus), serta “minyak” (Roh Kudus) untuk melumas mata agar
dapat melihat. Ketiga, Tuhan, yang sudah ada diluar “pintu” gereja ini,
memanggil untuk “makan” (bersekutu) denganNya (ayat 20).
Demikianlah ciri2 dari gereja di Laodikia ini. Karena kitab
Wahyu ini merupakan nubuat, maka bagaimana penggenapannya? Kita harus paham
bahwa pergerakan 4 tipe gereja yang akan ada sampai kedatangan Tuhan bersifat
‘berurut-urutan’. Artinya, tipe gereja di Sardis lahir dari tipe gereja di
Tiatira. Tipe gereja di Filadelfia lahir dari tipe gereja di Sardis, dan tipe
gereja di Laodikia lahir dari tipe gereja di Filadelfia. Gerakan Protestan (“Sardis”)
lahir dari “Tiatira” (Katolik). Gerakan ‘the Brethren’ dan ‘The Little flock’
(“Filadelfia”) lahir dari “Sardis” (Protestan). Demikian juga, gereja tipe
“Laodikia” lahir dari tipe “Filadelfia”. Dengan melihat ciri2 gereja tipe
Laodikia diatas, maka kita dapat mengerti bahwa gereja “Laodikia” lahir karena
kemerosotan gereja “Filadelfia”.
Karakteristik utama gereja di Laodikia ini adalah
kesombongannya. Tentu gereja ini sombong karena ada hal-hal yang dibanggakannya
dimasa lalu. Kita tahu bahwa gereja di Filadelfia sama sekali tidak ditegor
Tuhan. Jika kita melihat sejarah pergerakan gereja tipe “Filadelfia” ini, maka
kita tahu betapa Tuhan telah membuka pintu baginya (Wahyu 3:7). Sesungguhnya,
gerakan ini lebih hebat dari pada gerakan Reformasi. Ribuan buku diterbitkan
dari gerakan “Filadelfia” ini yang membuka pengertian kita tentang Alkitab,
dimana belum pernah diungkapkan oleh gerakan2 sebelumnya. Namun, ketika ‘kasih’
yang menjadi ciri “Filadelfia” merosot, maka tentu ‘kesombonganlah’ yang muncul.
Jadi, kesombongan “Laodikia” adalah kesombongan ‘korporat’ (kesombongan
gereja), dan bukan kesombongan2 pribadi yang bisa saja muncul dalam diri orang
Kristen.
Kita telah melihat bahwa ketujuh gereja di Asia Kecil ini
masuk kedalam kategori ‘gereja yang telah jatuh/merosot’, karena kepada ketujuh
gereja ini Tuhan selalu memanggil para pemenangNya. Kita akan menutup
pembahasan kita mengenai ketujuh gereja ini dengan memperhatikan perbedaan
antara ‘orde’ gereja dan ‘orde’ kerajaan. Yang dimaksud ‘orde’ gereja adalah
para pemimpinnya disebut Rasul, Nabi, pemberita injil, gembala, dan pengajar
(Efesus 4:11). Tetapi, ‘orde’ kerajaan adalah ‘raja2 dan imam2’.
Tuhan membentuk umat kerajaan menjadi ‘raja2 dan imam2’
(Wahyu 1:6). Umat kerajaan adalah orang2 yang mendapat kasih karunia agar dapat
berfungsi sebagai raja2 dan imam2 dizaman berikutnya setelah zaman gereja
selesai oleh kedatangan Tuhan Yesus. Umat kerajaan akan memerintah bersama
Tuhan Yesus dibumi dengan tubuh kemuliaan (Wahyu 5:10; 20:4).
Setelah kita melihat kondisi ketujuh gereja di Asia kecil
(pasal 2-3) yang sudah jatuh/merosot, dalam arti tidak memiliki persekutuan
(‘koinonia’) dengan rasul Yohanes, dan karenanya Tuhan memanggil para
pemenangNya, maka penglihatan selanjutnya yang diberikan kepada rasul Yohanes
adalah mengenai sorga (Wahyu 4:1-2). Mari kita perhatikan Wahyu 4:1-2,
demikian, “Kemudian dari pada itu aku
melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga… Naiklah ke mari dan Aku
akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini. Segera aku
dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta
itu duduk Seorang”.
Ada beberapa hal yang dinyatakan dalam ayat2 diatas. Pertama,
rasul Yohanes melihat ‘pintu terbuka di sorga’. Pengertiannya disini adalah rasul
Yohanes melihat ‘pembukaan pintu sorga’ sedemikian sehingga ia mulai melihat
sorga itu seperti apa. Kedua, tetapi untuk melihat sorga itu seperti apa, rasul
Yohanes harus mendengar perintah, ‘naiklah kemari’. Dan, karena rasul Yohanes
mendengar perintah, ‘naiklah kemari’, maka ‘segera ia dikuasai oleh Roh’. Jadi,
makna ‘naik kemari’ adalah ‘dikuasai oleh Roh’. Artinya, rasul Yohanes bukan
naik secara jasmani kesuatu “tempat” tertentu yang disebut “sorga”, tetapi ia
masuk kedalam SUATU DIMENSI SORGAWI. Baiklah kita berbicara sedikit mengenai
‘dimensi’. Elohim itu diam dalam ‘dimensi kekal’, dan Ia menciptakan tiga
dimensi, yaitu dimensi sorgawi, dimensi bumi (ruang dan waktu), dan dimensi
bawah bumi (Wahyu 5:3; 10:6). I Timotius 6:16, menjelaskan ‘dimensi kekal’,
demikian, “… bersemayam dalam terang yang
tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia…”.
Ketiga, setelah rasul Yohanes dikuasai oleh Roh, maka ia
melihat, ‘sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang’.
Jadi, Elohim yang berdiam dalam dimensi kekal, meletakkan takhtaNya dalam
dimensi ‘sorgawi’. Elohim sendiri tidak berdiam dalam sorga, tetapi sorgalah
yang berdiam dalam Elohim, karena Elohim “lebih besar” dari sorga, yang
diciptakanNya. Tetapi, Ia meletakkan takhtaNya disorga. Takhta disini tentu
bukan takhta jasmani yang sering dibuat manusia dibumi ini. Takhta disini
melambangkan ‘otoritas suatu kerajaan’, dan juga suatu ‘otoritas untuk
menghakimi’. Jadi, sorga itu berbentuk KERAJAAN. Ketika Tuhan Yesus dibumi, Ia
mengajarkan murid2Nya supaya berdoa agar kerajaan dalam dimensi sorgawi
(kerajaan sorga) turun ke dimensi bumi, agar kehendakNya terjadi jadi dibumi
sama seperti terjadi di sorga (Matius 6:10).
Sampai disini kita melihat betapa berbedanya “sorga” seperti
yang sering diberitakan dalam dunia kekristenan dengan sorga yang dilihat rasul
Yohanes. “Sorga” yang umumnya diberitakan dalam dunia kekristenan seperti
“tempat” yang menyenangkan, dimana jalannya dari emas, banyak tempat tinggal
yang bagus2 dan dipahami sebagai “Rumah Bapa”, bahkan ada yang berpendapat
masih ada anjing disitu, dan orang kerjanya hanya nyanyi2 saja memuji Tuhan.
Sementara orang hanya perlu percaya Yesus, maka ia akan masuk sorga seperti
itu, yang sudah dipercaya oleh mayoritas orang dalam dunia kekristenan.
Sesungguhnya, didalam PB, tidak ada satu ungkapanpun seperti
‘percaya Yesus masuk sorga’. Didalam PB, khususnya dalam injil Yohanes,
terdapat banyak ungkapan ‘percaya Yesus mendapat hidup kekal’. Hidup kekal
(zoe) adalah jenis hidup Elohim yang masuk kedalam dimensi bumi (ruang dan
waktu), dan karenanya perlu bertumbuh. Dan kita tahu, dalam dunia kekristenan,
sebagaimana gereja di Asia Kecil yang sudah jatuh, Tuhan memanggil para
pemenangNya.
Dalam dunia kekristenan ada banyak yang dipanggil dan
mendapat hidup ‘zoe’, tetapi hanya sedikit yang dipilih, yang kepadanya Bapa
berkenan memberikan kerajaan sorga (Lukas 12:32). Semakin kita melihat sorga
yang diwahyukan kepada rasul Yohanes, maka akan semakin kita lihat betapa
berbedanya “sorga” yang sering diberitakan dan dipercaya dalam dunia
kekristenan.
Kita membahas sedikit lagi perihal ‘dimensi’ sebelum lanjut
untuk melihat ‘sorga’ seperti yang dilihat rasul Yohanes (Wahyu 4-5). Telah
kita ketahui bahwa Elohim berdiam didalam dimensi ‘kekal’. Perlu dipahami bahwa
‘kekal’ itu bukan ‘waktu’ yang panjang tanpa akhir seperti yang sering dipahami
oleh orang Kristen, sebab dimensi ‘kekal’ berbeda dengan dimensi ‘waktu’.
Dimensi ‘kekal’ itu dimensinya Elohim dan tidak diciptakan, sedangkan ‘waktu’
adalah sesuatu yang diciptakan, dan mempunyai awal serta akhir. Selanjutnya,
Elohim menciptakan tiga dimensi lagi, yaitu, dimensi sorgawi, dimana Ia
meletakkan takhtaNya, kemudian dimensi bumi (ruang dan waktu), serta dimensi
bawah bumi atau alam maut yang disimbolkan oleh Pohon Pengetahuan Baik dan
Jahat di Taman Eden.
Mari kita melihat lebih jauh lagi mengenai tiga dimensi yang
diciptakan Elohim, yaitu dimensi sorgawi, dimensi bumi, dan dimensi bawah bumi.
Lukas 17:21, menegaskan demikian, “…Sebab lihatlah, kerajaan Elohim ada di
antara kamu” (ILT). Perkataan ini diucapkan Yesus ketika Ia ditanya oleh orang2
Farisi mengenai kapan kerajaan Elohim datang (17:20). Disini, terjemahan ILT,
maupun LAI menerjemahkan istilah Yunani ‘entos’ dengan ‘ada diantara’. Sebenarnya,
istilah ‘entos’ berarti ‘didalam’. Kita tahu bahwa makna suatu istilah
ditentukan oleh bagaimana istilah itu digunakan dalam kalimat. Istilah Yunani
‘entos’ hanya terdapat 2x saja didalam PB, dimana satu lagi terdapat dalam
Matius 23:26, demikian, “Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu
sebelah dalam (entos) cawan itu…”. Disini ‘entos’ diterjemahkan ‘dalam’ atau
‘didalam’, karena memang sudah sesuai dengan penggunaannya dalam kalimat ini.
Tidak mungkin orang menerjemahkan ‘entos’ itu ‘diantara’. Jadi, makna yang
pasti dari ‘entos’ adalah ‘dalam’ atau ‘didalam’. Karenanya, Lukas 17:21, harus
diterjemahkan, “…kerajaan Elohim ada didalam kamu”.
Jadi kerajaan Elohim ada didalam kita. Apakah kerajaan Elohim
hanya ada didalam orang2 percaya saja? Kita harus ingat bahwa Lukas 17:21,
adalah perkataan Yesus kepada orang2 Farisi yang menentangNya. Sesungguhnya,
kerajaan Elohim ada didalam orang2 Farisi, sekalipun mereka menentang dan tidak
mengakui Yesus sebagai Mesias. Tetapi, karena orang2 Farisi tidak mengakui
Yesus, maka kerajaan Elohim yang didalam mereka itu tidak memberi pengaruh
apapun dalam kehidupan mereka.
Kalau demikian, apa artinya ‘kerajaan Elohim ada didalam
kamu’? Tentu ini bukan berarti kerajaan Elohim ada didalam tubuh jasmani kita. Tetapi,
hal ini berarti dimensi sorga MEMERINTAH dimensi bumi, karena dimensi ‘sorga’
lebih tinggi dari dimensi ‘bumi’. SORGA MEMERINTAH BUMI. Inilah maknanya
‘kerajaan sorga ada didalam kamu’. Sesungguhnya, kerajaan sorga ADA DIDALAM
SEMUA MANUSIA, tetapi bagi mereka yang tidak mengakui Yesus sebagai Raja, maka
kerajaan sorga yang ada didalam mereka sama sekali tidak memberi pengaruh
apapun.
Mari kita lihat makna dimensi ‘bawah bumi’ atau dimensi ‘alam
maut’. Kita tahu bahwa upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Ketika Adam makan
buah Pohon Pengetahuan, maka ia langsung jatuh kedalam dimensi ‘alam maut’,
yang terputus dengan jenis hidup Elohim (zoe) yang dilambangkan oleh Pohon
Kehidupan. Upah dosa itu bukan neraka kekal, dalam arti neraka selama-lamanya,
karena pandangan ini mengacaukan makna ‘Kekal’ dan makna “Waktu’. Orang Kristen
yang berpandangan seperti ini tidak memahami apa itu ‘dimensi’, walaupun
pandangan neraka kekal sudah diterima secara umum dalam dunia kekristenan.
Diharapkan, melalui penjelasan mengenai ‘dimensi’ ini, kita lebih dapat
memahami pengertian ‘sorga’ seperti yang dilihat rasul Yohanes.
Mari kita membahas lebih jauh lagi mengenai dimensi. Telah
kita tegaskan bahwa kerajaan sorga yang ada dalam dimensi sorgawi itu ‘ada
didalam’ kita. Ini berarti ‘kerajaan sorga’ MEMERINTAH DARI DALAM BATIN KITA.
Bagaimana caranya kerajaan sorga memerintah dari dalam batin kita? Ketika Yesus
datang kedunia, Ia datang supaya kita memperoleh HayatNya (Yohanes 10:10,
‘hidup’=’zoe’). Yesus adalah hidup ‘zoe’ itu (Yohanes 14:6), dan melalui
pertumbuhan hidup ‘zoe’, maka Yesus memerintah DARI DALAM BATIN KITA. Itu
sebabnya, I Yohanes 2:27, menegaskan, “Sebab
didalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya.
Karena itu TIDAK PERLU KAMU DIAJAR OLEH ORANG LAIN…”. Mengapa tidak perlu
diajar oleh orang lain? Ini bukan berarti gereja jangan belajar dari orang
lain. Yesus sendiri yang memberikan kepada gereja, para rasul, nabi, penginjil,
gembala dan pengajar untuk memperlengkapi gereja (Efesus 4:11-12). Tetapi makna
‘tidak perlu diajar orang lain’ adalah karena YESUS SENDIRI YANG AKAN LANGSUNG
MEMERINTAH DARI DALAM BATIN KITA. Para pemimpin tidak punya otoritas apapun
atas gereja, karena gereja langsung dipimpin Yesus. Inilah makna ‘kerajaan sorga
ada didalam kamu’. The kingdom of God is within you.
Kita harus membedakan dengan jelas perihal kerajaan sorga
yang memerintah dari dalam batin, dengan kedaulatan Bapa yang mengatur segala
sesuatunya. Burung jatuhpun tidak ada yang terjadi diluar kehendak Bapa (Matius
10:29). Atau, didalam Mazmur 139:16, tertulis, “mata-Mu melihat selagi aku
bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk,
sebelum ada satu pun dari padanya”. Inilah kedaulatan Bapa yang mengatur segala
sesuatunya. Tetapi saat ini, kerajaan Yesus sedang dalam proses menaklukkan
segala sesuatu MELALUI BATIN UMAT PILIHANNYA, dan ketika semuanya telah genap,
maka Yesus akan menyerahkan kerajaanNya kepada Bapa, sehingga Bapa menjadi
semua didalam semua (I Korintus 15:22-28). Bapa dapat mengekspresikan
kemuliaanNya didalam dan melalui SEMUA CIPTAANNYA. Tidak ada lagi maut yang
merupakan upah dosa.
Selanjutnya, mari kita lihat lebih jauh lagi mengenai dimensi
‘bawah bumi’. Ketika Adam makan buah Pohon Pengetahuan yang Baik dan Jahat di
Taman Eden, maka Tuhan berkata, “engkau
pasti mati” (Kejadian 2:17). Ungkapan ‘pasti mati’ diayat ini diterjemahkan
dari bahasa Ibrani ‘mut tamut’. Ungkapan ‘mut tamut’ disini tidak dapat
diterjemahkan ‘mati’ saja, sebagaimana banyak versi Alkitab. Tetapi, ‘Young’s
Literal Translation’, menerjemahkannya dengan tepat, yaitu ‘dying thou dost die’. Artinya, pada hari
Adam makan buah Pohon Pengetahuan, maka ia langsung mendapat JENIS HIDUP yang
disebut MAUT, dimana kemudian akan berproses kepada KEMATIAN FISIK. Jenis hidup
maut ini dikuasai oleh Iblis (Ibrani 2:14). Tetapi, Yesus telah mengalami maut
dan menaklukkannya BAGI SEMUA MANUSIA (Ibrani 2:9).
Kalau demikian, apa makna dari dimensi ‘bawah bumi’? Yakobus
2:26, menegaskan, “Sebab seperti tubuh
tanpa roh adalah mati…”. Inilah artinya ‘mati jasmani’, dan karenanya,
dimensi ‘bawah bumi’ adalah suatu JENIS KEHIDUPAN yang dijalani oleh roh orang2
yang telah meninggalkan tubuh jasmaninya. Tentu yang dimaksud disini adalah
orang2 yang belum percaya Yesus.
Setelah kita memahami dimensi2 yang diciptakan Bapa, yang
diam dalam dimensiNya sendiri, yaitu dimensi kekal, maka kita akan melihat
betapa anehnya orang2 yang mengajarkan neraka kekal, dalam arti neraka
selama-lamanya. Sayangnya, ajaran neraka kekal seperti ini telah diterima
secara luas dalam dunia kekristenan. Namun, semua ini terjadi agar genap
firmanNya bagi dunia kekristenan, yaitu, ‘banyak yang dipanggil, tetapi sedikit
yang dipilih’.
Kita teruskan penglihatan rasul Yohanes mengenai sorga (Wahyu
4-5). Rasul Yohanes melihat takhta di sorga dimana ada Seorang duduk disitu.
Kita tahu bahwa takhta itu simbol dari suatu kerajaan yang mempunyai otoritas.
Jadi, sorga yang dilihat oleh rasul Yohanes berbentuk kerajaan yang
berotoritas.
Kemudian, rasul Yohanes melihat ada 24 tua-tua yang memakai
‘pakaian putih’ dan duduk diatas takhta-takhta, serta mempunyai mahkota emas
diatas kepala mereka (Wahyu 4:4). Pakaian putih ini diberikan kepada para
pemenang gereja (Wahyu 3:18), dan merupakan simbol dari perbuatan-perbuatan
yang benar dari orang2 kudus (Wahyu 19:8). Ke-24 tua-tua ini juga mempunyai
takhta dan mahkota emas dikepalanya. Takhta disini simbol dari otoritas,
sedangkan mahkota emas, berarti otoritas yang diberikan kepada ke-24 tua-tua ini
bersifat Ilahi, karena emas merupakan simbol karakter/sifat dasar Ilahi. Jadi,
ke-24 tua-tua ini adalah raja-raja didalam kerajaan sorga.
Selanjutnya, rasul Yohanes melihat 4 makhluk penuh dengan
mata, dimana ke-4 makhluk ini seperti singa, anak lembu, muka manusia, dan
burung rajawali yang sedang terbang (Wahyu 4:6-7). Siapakah 4 makhluk ini?
Kitab Wahyu menafsirkan sendiri siapa 4 makhluk ini. Perhatikan Wahyu 5:8-10,
“…keempat makhluk hidup dan kedua puluh
empat tua-tua itu tersungkur di depan Anak Domba itu… dan mereka menyanyikan
nyanyian baru sambil berkata… Engkau sudah membeli kami bagi Elohim, dari
setiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa, dan Engkau telah menjadikan kami
raja-raja dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi”
(ILT). Jelas terlihat dari ayat2 ini bahwa “keempat makhluk hidup dan kedua
puluh empat tua-tua” itu merupakan simbol dari raja2 dan imam2. Karena
ditegaskan dalam ayat diatas bahwa Yesus Kristus telah membeli mereka, dan
menjadikannya raja2 dan imam2, bahkan dijelaskan juga tujuan menjadikan mereka
raja2 dan imam2, yaitu untuk memerintah dibumi. Jadi 24 tua-tua dan 4 makhluk
ini merupakan simbol orang2 kudus dari segala bangsa, yang telah diproses Tuhan
menjadi raja2 dan imam2.
Selanjutnya, rasul Yohanes melihat 7 Roh dari Elohim (Wahyu
4:5). Ini bukan berarti Roh Tuhan ada tujuh. Angka tujuh merupakan simbol dari
kesempurnaan atau lengkap. Kilat dan bunyi guruh yang menderu diayat ini
merupakan aktifitas Roh Tuhan yang demikian sempurna dan lengkap di bumi. Kita
tentu tidak akan menguraikan semua yang dilihat rasul Yohanes mengenai sorga,
tetapi kita akan menutup dengan penglihatan rasul Yohanes mengenai sebuah kitab
yang hanya dapat dibuka oleh Anak Domba (pasal 5). Kitab ini bukanlah sembarang
kitab saja, karena kitab ini hanya dapat dibuka oleh Yesus Kristus sebagai Anak
Domba yang telah disembelih. Cerita dalam kitab ini merupakan cerita tentang
penebusan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus sebagai Anak Domba, yang pada
akhirnya mewahyukan pribadi Yesus Kristus sendiri. Kita akan melihat
dipasal-pasal selanjutnya bagaimana pewahyuan Yesus Kristus ini dinyatakan
kepada segala makhluk, baik yang di sorga, bumi, maupun bawah bumi.
Sampai disini kita dapat memahami kebenaran mengenai sorga,
yang begitu jauh berbeda dari cerita2 yang selama ini kita dengar. Secara umum,
dunia kekristenan telah memberitakan “sorga dongeng”, yang sama sekali lain
dari yang dilihat oleh rasul Yohanes.
Sebelum kita melanjutkan penglihatan rasul Yohanes mengenai
kitab yang hanya dapat dibuka oleh Anak Domba Elohim, baiklah kita berbicara
sedikit lagi mengenai 24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup disekeliling takhta
Elohim yang akan memerintah dibumi (Wahyu 4-5). Ada yang berpendapat bahwa 24
tua-tua dan ke-4 makhluk hidup ini adalah para malaikat dan makhluk sorgawi
lainnya, dan bukan orang2 kudus yang telah ditebus dan dipilih dari segala
suku, bangsa, kaum, dan bahasa.
Kita perlu menanggapi pandangan ini, sebab pandangan ini akan
membuat pengertian kita akan kitab Wahyu dan rencana Bapa semula menjadi kabur.
Ada beberapa hal yang akan kita kemukakan disini. Pertama, Kejadian 1:26-28,
jelas menyatakan bahwa rencana Bapa semula bagi manusia adalah untuk
menaklukkan dan berkuasa atas seluruh bumi. Jadi, fokus rencana Bapa adalah
bumi. Kedua, rencana Bapa memilih bangsa Israel adalah agar seluruh suku Israel
menjadi ‘kerajaan imam’, yaitu menjadi raja2 dan imam2 bagi segala bangsa
(Keluaran 19:5-6). Hanya kemudian, Israel jatuh kedalam penyembahan ‘anak lembu
emas’, dan ketika Musa bertanya siapa yang memihak Tuhan, maka oleh
pengaturanNya, hanya suku Lewi yang datang kepadanya (Keluaran 32:26).
Selanjutnya, Tuhan hanya memilih suku Lewi untuk menjadi imam2, mewakili semua
suku yang lain. Tetapi, rencana Bapa semula bagi Israel adalah menjadikan semua
suku2 Israel, raja2 dan imam2 bagi bangsa lain. Ketiga, rencana Bapa dalam
konteks PB bagi semua orang2 kudus adalah menjadikan seluruh anggota gereja
‘imamat yang rajani’ (I Petrus 2:9). Tetapi kemudian, oleh ajaran palsu
‘Nikolaus’, maka gereja terbelah menjadi golongan imam dan kaum awam, atau para
pendeta dan jemaat. Namun, Bapa memilih ‘kawanan kecil’ dalam dunia kekristenan,
dan dibentuk menjadi raja2 dan imam2 (Lukas 12:32; Wahyu 1:6). Jadi jelaslah
bahwa rencana Bapa adalah membentuk umat manusia agar dapat memerintah dan
menaklukkan seluruh bumi, dan semua ini dimulai dari umat pilihanNya.
Karenanya, pandangan bahwa 24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup
itu adalah para malaikat dan makhluk sorgawi lainnya, dan bukan manusia, akan
membuat rencana Bapa semula menjadi kabur. Bahkan pandangan ini membuat seluruh
fokus kitab Wahyu menjadi tidak jelas juga. Mengapa demikian? Kita tahu bahwa
kitab Wahyu adalah kitab yang mewahyukan pribadi Yesus Kristus. Dan, ada 4
tahap pewahyuan Yesus Kristus kepada gerejaNya. Pertama, Yesus Kristus
mewahyukan DiriNya KEPADA kita. Kita mengenal Yesus Kristus sebagai pribadi
yang diluar kita. Kita mengenal apa yang diperbuatNya, apa yang dikatakanNya,
dan sebagainya. Kedua, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya DIDALAM kita. Secara
pengalaman, kita memahami bahwa Yesus Kristus tidak berada diluar kita, tetapi
didalam kita. Ketiga, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya SEBAGAI kita. Apa yang
Paulus katakan dalam Galatia 2:20 bahwa aku telah disalib bersama Kristus, dan
bahwa aku hidup, tetapi bukan aku melainkan Kristus. Dari fakta ini kita
melihat bahwa Kristus hidup ‘sebagai’ Paulus. Keempat, Yesus Kristus mewahyukan
DiriNya MELALUI kita. Yesus Kristus mengekspresikan DiriNya melalui orang2
pilihanNya dibumi ini. Sesungguhnya, kedatangan Yesus Kristus “kedua kali” itu
berarti Yesus Kristus menampilkan DiriNya kepada ciptaan melalui putera2 Elohim
(Roma 8: 19-21).
Jadi, kitab Wahyu itu memang merupakan pewahyuan pribadi
Yesus Kristus, tetapi kedatanganNya MELALUI umat pilihanNya merupakan ‘sentral’
pewahyuan kitab Wahyu, dan saat ini, umat pilihanNya sedang dibentuk menjadi
raja2 dan imam2. Bukan malaikat2 dan makhluk2 sorgawi yang menjadi raja2 dan
imam2, tetapi orang2 kudus. Sebab, bagaimana Yesus dapat datang sebagai Raja
diatas segala raja, jika orang2 kudus merupakan “bayi-bayi rohani”? Bagaimana
Yesus Kristus dapat datang sebagai Imam Besar, jika orang2 kudus masih
membutuhkan “pendeta” atau “para imam” untuk memenuhi kebutuhan rohaninya?
Karenanya, 24 tua-tua dan 4 makhluk itu merupakan simbol dari umat pilihanNya,
yang telah dibentuk menjadi raja2 dan imam2.
Mari kita melanjutkan penglihatan rasul Yohanes tentang sorga
(pasal 4-5). Dipasal 5 ada sebuah kitab yang hanya dapat dibuka oleh Anak
Domba. Kitab ini bukanlah sembarang kitab saja, karena kitab ini hanya dapat
dibuka oleh Yesus Kristus sebagai Anak Domba yang telah disembelih. Perhatikan
pujian dari 24 tua-tua dan 4 makhluk ini, yang merupakan simbol dari raja-raja
dan imam-imam, setelah Anak Domba menerima gulungan kitab dalam Wahyu 5:9-10,
demikian, “…Layaklah Engkau untuk
mengambil kitab itu dan membuka meterai-meterainya, sebab Engkau sudah disembelih
dan dengan darah-Mu Engkau sudah membeli kami bagi Elohim…dan Engkau telah
menjadikan kami raja-raja dan imam-imam…” (ILT).
Ditegaskan dalam ayat diatas bahwa Anak Domba layak mengambil
kitab dan membuka meterai-meterainya karena Ia sudah membeli suatu umat
kerajaan (raja2 dan imam2). Penggambaran seperti ini sesuai dengan adat
istiadat kuno bangsa Ibrani berkenaan dengan pembelian properti. Bila properti
telah dibeli, akte untuk pemilik baru dibuat rangkap dua, yaitu salinan yang
terbuka dan salinan yang dimeterai. Salinan terbuka untuk kepentingan semua
orang, sedangkan salinan termeterai hanya menjadi milik si pemilik properti.
Apabila ahli waris baru ingin mengambil alih tanah, atau apabila terjadi
sengketa soal kepemilikan, maka si pemilik sah yang berhak mengambil dan
membuka materainya serta membaca isinya untuk mengambil alih miliknya yang
telah dibeli.
Demikianlah kasus nabi Yeremia ketika membeli tanah di Anatot
milik Hanameel, anak Salum, pamannya (Yer. 32:9-15). Tindakan Yeremia ini
sebagai bukti bahwa tanah, ladang, rumah, kebun anggur di negeri Israel akan
dibeli pula setelah “terjual” ketangan bangsa asing. Jadi, salinan yang
termeterai ini sama dengan gulungan kitab termeterai yang diambil oleh Anak
Domba dari tangan Bapa di sorga. Gulungan kitab termeterai ini adalah ‘bukti
pembelian’, atau ‘kitab pembelian’, sebab memang Anak Domba telah
membeli/menebus umat kerajaan. Umat kerajaan adalah umat tebusan karena telah
dibeli oleh darah Anak Domba.
Pertanyaannya bagi kita sekarang adalah apakah Anak Domba
hanya membeli umat kerajaan (umat pilihanNya) saja dengan darahNya, ataukah Ia
membeli semua manusia dengan darahNya? Dengan kata lain, apakah penebusan itu
terbatas hanya untuk umat pilihanNya, atau penebusan oleh darah Yesus itu untuk
semua manusia? Disini kita akan melihat beberapa ayat saja untuk membuktikan
bahwa darah Yesus tercurah untuk menebus semua manusia. Yohanes 1:29,
menegaskan, “…Lihatlah, Anak Domba Elohim yang menghapus dosa dunia!” (ILT). I
Yohanes 2:2, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk
dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia”. Juga Ibrani 2:9,
menegaskan bahwa, “…Dia dapat merasakan
kematian (maut) ganti semua orang” (ILT). Jadi, Yesus mengalahkan maut yang
merupakan upah dosa BAGI SEMUA ORANG. Itu sebabnya, tidak heran ketika semua
makhluk yang disorga, yang dibumi, dan yang dibawah bumi, bahkan yang dilaut
memuji Anak Domba ketika Ia mengambil gulungan kitab termeterai itu (Wahyu
5:13).
Kita akan melihat dipasal2 selanjutnya bagaimana Anak Domba
membuka materai demi materai mengenai bagaimana proses yang akan kita alami
sebagai umat kerajaan, agar kita sepenuhnya menjadi milikNya.
Telah kita lihat bahwa Anak Domba Elohim sudah
membeli/menebus ‘semua manusia’ oleh darahNya. Tetapi, dizaman ini, Ia hanya
memilih sebagian orang saja untuk diproses dan dibentuk menjadi ‘raja2 dan imam
menurut aturan Melkisedek’. TujuanNya adalah agar melalui umat pilihanNya, Ia
dapat mewahyukan DIRINYA. Demikianlah sesungguhnya kitab Wahyu, yaitu pewahyuan
Yesus Kristus MELALUI dan DIDALAM umat pilihanNya, dan pewahyuan ini dilakukan
dengan bahasa simbol. Itu sebabnya, jika seseorang menafsirkan kitab Wahyu
‘secara harfiah’, dan ‘terutama’, sebagai nubuat tentang kejadian2 luaran yang
akan menimpa bumi ini, maka ia telah gagal memahami sifat dasar kitab Wahyu.
Ini bukan berarti kita sama sekali menolak perkara2 luaran yang akan terjadi
kemudian, khususnya tentang gerejaNya. Tetapi bahwa penafsiran kita terutama
bersifat ‘batiniah’, dan didasarkan pada Galatia 2:20, dan Roma 8:19-21,
seperti telah kita tegaskan diawal tulisan ini.
Mari kita meneruskan penglihatan rasul Yohanes mengenai
‘kitab termeterai’, dimana meterainya dibuka satu persatu oleh Anak Domba.
Pembukaan meterai2 oleh Anak Domba ini merupakan wahyu berlanjut Yesus Kristus
didalam dan melalui umat pilihanNya. Setelah meterai demi meterai dibuka, maka
rasul Yohanes melihat ada 4 kuda, yang masing2 berwarna putih, merah, hitam,
dan hijau kuning (Wahyu 6).
Didalam Alkitab, kuda digunakan bukan untuk tujuan pertanian,
melainkan digunakan untuk tujuan berperang (Amsal 21:31). Jadi, keempat kuda
yang dilihat rasul Yohanes adalah kuda perang. Penting untuk dipahami bahwa
istilah ‘penebusan’ dalam bahasa Yunani juga berarti ‘pelepasan’. Karenanya,
keempat kuda perang ini menjalankan pelayanannya didalam “kebumian” kita untuk
melepaskan kita dari perbudakan2 musuh, yaitu kedagingan kita, keduniawian kita
dan penguasaan iblis atas diri kita. Kita harus paham bahwa musuh kita tidak
berada diluar diri kita. Musuh kita adalah diri kita sendiri. Pikiran2,
perasaan2, dan kemauan2 daging yang bercokol dalam jiwa kita yang menyebabkan
iblis mendapat kesempatan untuk mengikat serta menjerat kita kedalam
belenggunya. Melalui pelayanan keempat kuda ini, umat pilihanNya ditebus dan
dilepaskan dari jerat iblis, sehingga Yesus Kristus dapat mengekspresikan
DiriNya melalui dan didalam diri kita.
Baiklah kita mulai dengan kuda putih. Wahyu 6:2, menegaskan,
“Dan aku melihat: sesungguhnya, ada
seekor kuda putih dan orang yang menungganginya… Lalu ia maju sebagai pemenang
untuk merebut kemenangan”. Warna putih merupakan simbol dari KEMURNIAN, yang
tentunya terjadi karena ditempa dalam api. Kepada gereja di Laodikia
dinasihatkan agar, “…engkau membeli dari
padaKu… pakaian putih…” (Wahyu 3:18). Dalam Wahyu 19:8, ditegaskan bahwa
lenan halus yang putih bersih adalah perbuatan2 yang benar dari orang2 kudus.
Disini jelas kita lihat bahwa warna putih terkait dengan perbuatan2 yang murni
dari orang2 kudus.
Namun, kita harus ingat bahwa kemurnian ini bukan terjadi
karena kita berjuang untuk menjadi murni. Tetapi, kemurnian ini terjadi karena
KRISTUS BERJUANG DAN BERPERANG DIDALAM DIRI KITA. Sebagai umat pilihanNya,
Kristus yang didalam kita terus berperang dan berjuang sampai kita menjadi
murni.
Pada umumnya, orang yang melayani dalam dunia kekristenan,
dimana ajaran palsu Izebel, Bileam dan Nikolaus telah diterima luas, maka
kemurnian menjadi barang langka. Kemurnian dalam arti melayani tanpa cari
untung, baik berupa uang, jabatan, dan kemuliaan manusia. Tetapi, Tuhan
mempunyai orang2 pilihanNya yang diproses bukan supaya menjadi BESAR, tetapi
supaya menjadi KUDUS (terpisah) dan murni.
Kita lanjutkan pembahasan kita kepada kuda merah yang
tertulis dalam Wahyu 6:4, demikian, “…seekor
kuda merah padam dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk
mengambil damai sejahtera dari atas bumi…”. Telah kita lihat bahwa ‘kitab
termeterai’ ini adalah kitab ‘penebusan’ atau ‘pelepasan’. Artinya, Kristus
yang didalam kita “menunggangi” kuda merah dan berperang dalam “kebumian” kita
untuk menebus dan melepaskan kita dari musuh2 didalam kita.
‘Kristus didalam kita’ itu memang pengharapan akan kemuliaan
(Kolose 1:27). Tetapi, kita jangan salah menilai bahwa Kristus akan “berlaku
manis” dan tidak akan mengambil damai sejahtera “kebumian” kita. Sesungguhnya,
kerajaan Kristus yang didalam kita akan terus berperang sampai kita dilepaskan
dari musuh2 kita, sekalipun karenanya kita kehilangan damai sejahtera. Sekali
waktu Yesus pernah berkata, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk
membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang”
(Matius 10:34). Ketika Yesus belum hadir dalam kehidupan kita, semua “berjalan
lancar” dan damai2 saja, karena kita melakukan apapun yang kita suka. Tetapi,
ketika Kristus menyerbu kebumian kita, maka terjadi peperangan antara daging
dan roh. Dimanapun juga, peperangan tidak pernah menimbulkan damai sejahtera.
Demikianlah, Kristus yang didalam kita akan terus berperang sampai kita
sepenuhnya takluk dan menyerah total kepadaNya.
Selanjutnya, kuda yang dipakai Kristus untuk berperang
didalam kita berwarna ‘merah’. Istilah Yunani untuk ‘merah’ disini adalah
‘purrhos’, yang artinya ‘warna api’. ‘Purrhos’ berasal dari akar kata ‘pur’
(api). Menarik diperhatikan bahwa turunan istilah Yunani ‘pur’ adalah ‘pyra’
atau ‘pure’=murni. Didalam Alkitab, api melambangkan dua perkara, yaitu
penghakiman dan pembersihan. Jadi, pelayanan Kristus didalam diri kita sebagai
‘kuda merah’ adalah untuk menghakimi/membersihkan supaya murni (pure).
Elohim kita bukan saja adalah kasih, tetapi juga ‘api yang
menghanguskan’. Kedua kodrat Elohim ini bersifat kekal. Elohim kita bukanlah
kadang2 bersifat ‘kasih’, dan dilain waktu seperti ‘api yang menghanguskan’.
Tetapi, Elohim kita sekaligus adalah kasih dan api yang menghanguskan. Artinya,
karena Elohim adalah kasih, maka Ia menghanguskan dosa2, kegelapan, kedagingan
apapun juga yang merintangi kasihNya.
Banyak orang salah mengerti mengenai manifestasi Elohim
sebagai ‘api’. Mari kita lihat Wahyu 21:8, demikian, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang
keji,… mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala
oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua”. Baiklah kita kutip
tulisan Charles Pridgeon tentang lautan api dan belerang ini. “Kata Yunani
THEION yang diterjemahkan menjadi belerang adalah kata THEION yang sama yang
berarti Ilahi…Kata kerja yang diturunkan dari THEION adalah THEIOO, yang
berarti menguduskan, meng-ilahikan… Bagi orang Yunani atau orang yang terdidik
dalam bahasa Yunani, ‘Lautan api dan belerang’ berarti LAUTAN PEMURNIAN ILAHI”
(akhir kutipan). Karenanya, pengertian ‘Lautan api dan belerang’ ini adalah
PANAS DAN TERANG ILAHI YANG MENGHASILKAN PERUBAHAN. Jadi, Wahyu 21:8 diatas
berbicara bagaimana orang2 penakut, tidak percaya, keji dan sebagainya, dirubah
menjadi sebagaimana yang Elohim kehendaki, oleh apiNya dan kasihNya.
Demikianlah pelayanan Kristus yang didalam kita sebagai kuda
merah. Ia akan terus berperang didalam kita sampai kita menjadi murni, bersih,
dan layak bagi kerajaanNya.
Kita lanjutkan dengan melihat bagaimana pelayanan ‘kuda
hitam’, dalam Wahyu 6:5-6, demikian, “…aku
melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya
memegang sebuah timbangan di tangannya… Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak
jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu”.
Seperti kita ketahui bahwa “kuda hitam” adalah pelayanan
Kristus didalam batin kita yang menyerbu “kebumian kita”. Untuk memahami apa
yang disimbolkan oleh warna hitam, kita perlu melihat bagaimana kondisi bumi
pada awalnya. Kejadian 1:2, menegaskan, “Bumi
dalam keadaan tidak berbentuk dan kosong, dan kegelapan menutupi samudera raya,
dan Roh Elohim bergetar melingkup di atas permukaan air” (ILT). Sebelum Roh
Elohim ‘bergetar melingkup’ (mengerami) bumi, maka kondisi bumi tidak
berbentuk, kosong, dan gelap. Demikian juga kondisi “kebumian” kita kosong dan
gelap, sebelum Roh Elohim mengeraminya. Tetapi persoalannya, sebelum Elohim
bekerja memberi terang, memisahkan air dari darat, menciptakan benda2 penerang,
dan sebagainya, kita sama sekali tidak tahu bahwa sebelumnya kondisi bumi itu
tidak berbentuk, kosong dan gelap. Setelah Elohim mengerami dan berkarya
terhadap bumi, barulah kita melihat bagaimana kondisi bumi itu sebelumnya.
Demikian juga kondisi kita sebelum Elohim “mengerami” dan
berkarya didalam kebumian kita, tentu kita sama sekali tidak memahami bagaimana
kondisi diri kita ini sebenarnya. Hal ini sama seperti yang terjadi kepada nabi
Yesaya, demikian, “…aku melihat
Tuhan….Lalu kataku: celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis
bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku
telah melihat sang Raja…” (Yesaya 6:5). Setelah Yesaya melihat Tuhan,
barulah ia tahu bahwa ia najis bibir, dan juga tinggal ditengah2 bangsa yang
najis bibir. Tetapi kemudian, kesalahan Yesaya dihapus, dan ia siap untuk
diutus Tuhan.
Pelayanan Kristus sebagai “kuda hitam” yang menyerbu kebumian
kita, sesungguhnya membuat kita memahami betapa hitam dan gelap diri kita ini.
Sebelum kuda hitam datang kedalam kebumian kita, tentu kita tidak merasa begitu
“hitam” diri kita sesungguhnya. Pemazmur berseru demikian, “… didalam terang-Mu kami melihat terang”
(Mazmur 36:9). Maksud pemazmur adalah setelah ia masuk kedalam Terang Tuhan,
maka ia melihat terang dan kondisi dirinya sesungguhnya. Manusia tidak dapat
mengenal kondisi dirinya sebenarnya sebelum datang terang Tuhan, sebab
bagaimana seseorang mengenal dirinya didalam kegelapan. Setelah terang Tuhan
datang, barulah ia memahami dirinya, dan juga kondisi “bangsa” dimana ia
tinggal, seperti kasus nabi Yesaya.
Tetapi, puji Tuhan, pelayanan “kuda hitam” ini bukan saja
menyoroti kondisi kita, tetapi ia membawa “timbangan”, dalam arti ada
keseimbangan antara membongkar kondisi kita, dan juga memulihkannya sehingga
kita layak bagi Tuhan. Demikianlah umat pilihanNya akan mengalami terang Tuhan
sedemikian sehingga ia menyadari kondisi dirinya, dan juga “bangsanya”, tetapi
kemudian ada pemulihan baginya.
Dalam dunia kekristenan, ada banyak yang dipanggil tetapi sedikit
yang dipilih. Umat yang mendapat kasih karunia untuk dipilih Tuhan, tentu akan
menyadari kondisinya, dan juga kondisi “bangsanya” (dunia kekristenan). Memang,
barangkali, ada orang2 kristen yang berbicara dan membongkar kondisi
sesungguhnya dunia kekristenan, karena ia iri hati dan kurang mendapat “jatah”
uang, jabatan, dan kemuliaan manusia. Namun, umat pilihanNya akan berbicara
karena mengalami Terang Tuhan.
Kita lanjutkan pelayanan ‘kuda hitam’ didalam batin kita,
khususnya simbol2 “gandum dan jelai”, karena kitab Wahyu menggunakan bahasa
simbol (Wahyu 1:1). Wahyu 6:5-6, menyatakan, “…aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang
menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya… Secupak gandum sedinar,
dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu”.
Mari kita perhatikan apa yang dimaksud dari ungkapan,
“secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar”. Banyak penafsir dan
pengajar Alkitab dalam dunia kekristenan menyatakan bahwa ungkapan ini berarti
akan terjadi kelaparan ‘makanan jasmani’ yang melanda dunia. Penafsiran yang
bersifat ‘jasmani’ ini disebabkan mereka tidak memperhatikan sifat dasar kitab
Wahyu seperti telah kita tegaskan sebelumnya dalam tulisan ini.
Untuk memahami ungkapan diatas, mari kita lihat kasus
kelaparan yang terjadi di Samaria pada zaman nabi Elisa (II Raja-Raja 7: 1-19).
Ketika Samaria dikepung oleh raja Aram sehingga terjadi kelaparan, maka Elisa
bernubuat bahwa, “…Besok kira-kira waktu
ini sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan
berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria”. Maksud nubuat Elisa ini bahwa
akan terjadi kelimpahan makanan karena lawatan Tuhan atas Samaria melalui
keempat orang yang berpenyakit kusta. Karena orang2 Aram mengalami ketakutan
yang dari Tuhan dan meninggalkan makanan berlimpah-limpah yang ditemukan oleh
keempat orang berpenyakit kusta. Jadi, ketika Tuhan melawat umatNya, maka pasti
akan terjadi ‘kelimpahan makanan’.
Demikian juga dalam kasus lawatan Tuhan/pelayanan kuda hitam
diatas, maka ungkapan “Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar”,
justru menyatakan adanya kelimpahan makanan. Kunci pengertiannya adalah bahwa
lawatan Tuhan selalu membuat kelimpahan makanan. Tetapi kembali, yang harus kita
perhatikan ialah sifat dasar kitab Wahyu. Kitab Wahyu adalah pewahyuan PRIBADI
TUHAN YESUS, dan tentu bersifat rohani. Jadi, kelimpahan makanan yang dimaksud
disini adalah KELIMPAHAN MAKANAN ROHANI. Kelimpahan makanan rohani yang membuat
kita mengenal Tuhan Yesus dalam arti yang sesungguhnya. Hal ini bukan berarti
Tuhan tidak perduli dengan kebutuhan jasmani kita. Tetapi bahwa, “…kerajaan Elohim bukanlah soal makanan dan
minuman, tetapi kebenaran dan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus”
(Roma 14:17, ILT).
Menarik untuk diperhatikan dalam kasus nabi Elisa adalah
bahwa Tuhan memakai empat orang kusta untuk mendatangkan kelimpahan makanan
kepada kota Samaria. Kita tahu bahwa orang2 kusta dizaman itu tidak
diperbolehkan diam ditengah-tengah umat Tuhan, karena mereka najis. Tetapi,
justru ada kelimpahan makanan “diluar perkemahan” umat Tuhan, dan keempat orang
kusta yang dikucilkan dari antara umat Tuhan ini yang dipakai Tuhan menemukan
kelimpahan makanan “diluar perkemahan”.
Saat ini, gereja2 telah jatuh dan pecah menjadi puluhan ribu
denominasi. Kita percaya bahwa nubuat Amos 8:11 telah terjadi, yang menyatakan,
“…Aku akan mengirimkan kelaparan ke
negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan
akan mendengarkan firman TUHAN”. Sesungguhnya, ada kelimpahan makanan
rohani diluar “perkemahan” dunia kekristenan. Tetapi, sebagaimana dizaman Elisa
bahwa kelimpahan makanan ini ditemukan oleh keempat orang kusta yang
dikucilkan, demikian juga saat ini, kelimpahan makanan rohani akan ditemukan
oleh umat pilihanNya yang “terkucil” dari perkemahan gereja2 yang telah jatuh.
Kita masih melanjutkan pelayanan ‘kuda hitam’ didalam batin
kita dengan memperhatikan simbol2, yaitu, “gandum dan jelai, serta minyak juga
anggur”. Wahyu 6:5-6, menyatakan, “…aku
melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya
memegang sebuah timbangan di tangannya… Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak
jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu”.
Mari kita lihat apa yang disimbolkan oleh gandum dan jelai.
Jelai adalah sejenis tanaman padi-padian yang dapat dimakan, dan jelai menjadi
dewasa/matang lebih cepat dari pada gandum. Di negeri Israel, orang menabur
jelai di bulan Oktober-Nopember, sesudah hujan awal mulai turun dan tanah dapat
dibajak. Karena jelai lebih cepat matang dari pada gandum, maka pada bulan
Maret-April, tuaian jelai sudah dapat dimulai pada awal musim semi. Awal tuaian
jelai terkait dengan masa Paskah, dimana berkas yang dilambai-lambaikan oleh imam
dihari keenam belas bulan Nisan (Maret-April), adalah buah sulung jelai. Jadi,
jelai terkait dengan tuaian buah sulung.
I Korintus 15:20, menegaskan, “…Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung
dari orang-orang yang telah meninggal”. Yesus adalah buah sulung
kebangkitan. Karenanya, aspek Kristus yang dilambangkan oleh jelai adalah
KRISTUS YANG TELAH DIBANGKITKAN.
Sementara itu, aspek Kristus yang dilambangkan oleh gandum,
tertulis dalam Yohanes 12:24, demikian, “…sesungguhnya
jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji
saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Aspek Kristus
yang dilambangkan oleh biji gandum adalah Kristus yang berinkarnasi menjadi
manusia dengan segala keterbatasanNya, bahkan yang mati dikayu salib.
Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika Kristus membuat
mujizat 5 roti dan 2 ikan yang dapat memberi makan 5000 orang lebih, Ia
melakukannya dengan roti ‘jelai’, bukan roti ‘gandum’ (Yohanes 6:9). Mengapa?
Kita tahu bahwa setiap perbuatan Yesus itu bersifat profetik. Ia tidak berbuat
sesuatu secara sembarangan. Jelai melambangkan Kristus yang telah dibangkitkan,
dan karenanya Ia tidak dibatasi oleh keterbatasan-keterbatasan kemanusiaanNya.
Ia dapat memberi makan 5000 orang lebih hanya dengan 5 roti jelai dan 2 ikan.
Oleh pelayanan ‘kuda hitam’ kedalam kebumian kita, maka kita
akan mengalami proses dimana aspek Kristus sebagai biji gandum, dan aspek
Kristus sebagai jelai terjadi dalam kehidupan kita. Kita akan mengalami
‘kematian bersama Kristus’ dan juga ‘kebangkitan bersama Kristus’.
Sebagai penutup dalam pelayanan ‘kuda hitam’ terdapat
ungkapan, “janganlah rusakkan minyak dan anggur itu”. Minyak dan anggur
merupakan simbol dari ‘Roh dan wahyu’. Sebagai umat pilihanNya, kita
diperingati agar jangan salah menggunakan ‘Roh dan wahyu’ yang sudah diberikan
Tuhan. Kesalahan yang dimaksud disini adalah “memperdagangkan” atau ‘cari
untung’ dari pekerjaan Roh dan pewahyuan yang kita terima.
Dalam dunia kekristenan, perihal melayani Tuhan sudah menjadi
sebuah profesi. Didalam dunia kerja/profesi, orang2 menjual barang atau jasa
untuk memperoleh keuntungan materi. Hal ini memang dibenarkan dalam dunia
kerja. Setiap orang dalam dunia kerja pasti “menjual” sesuatu, entah itu barang
atau keahlian/jasa, untuk mendapat uang. Tetapi, didalam gereja tidak boleh ada
perdagangan seperti itu. Petrus, Paulus dan Yohanes, serta para pelayan di
gereja mula-mula tidak melakukan perdagangan. Mereka melayani Tuhan, dan bukan
“menjual” sesuatu seperti yang terjadi dalam dunia kerja/profesi.
Tetapi kita tahu, salah satu penyebab gereja jatuh mulai dari
zaman rasul Yohanes adalah ajaran Bileam. Ajaran Bileam dalam dunia kekristenan
ini membenarkan perbuatan “menjual” anugerah ‘Roh dan wahyu’ untuk mendapat
uang.
Kita sampai pada kuda keempat, yaitu kuda hijau kuning. Wahyu
6:8, menegaskan, “… ada seekor kuda hijau
kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut
(HADES=NERAKA) mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat
dari bumi untuk membunuh dengan…sampar (THANATOS=DEATH=MAUT) … yang dibumi”.
Kita tahu bahwa kuda ini adalah kuda perang, dimana Kristus menungganginya
serta berperang menaklukkan “kebumian” kita. Ditegaskan diayat ini bahwa kuda
hijau kuning ini diberi kuasa/otoritas atas ‘seperempat dari bumi’. Maksudnya,
‘tiga perempat’ dari “kebumian” kita telah tuntas diselesaikan melalui
pelayanan tiga kuda sebelumnya, dan sekarang tinggal ‘seperempat’ lagi yang
akan diselesaikan oleh pelayanan kuda keempat ini.
Perhatikan baik2 ayat kita diatas, dimana kepada kuda hijau
kuning ini diberi kuasa untuk MEMBUNUH NERAKA DENGAN MAUT. Apa artinya membunuh
neraka dengan maut? Kita harus jelas bahwa upah dosa itu maut, bukan neraka
kekal, dalam arti neraka selama-lamanya. Roma 6:23, tegaskan, “Sebab upah dosa
ialah maut…”. Juga, Kejadian 2:17, menegaskan, “… pada hari engkau memakannya, pastilah engkau MATI”. Istilah Ibrani
yang diterjemahkan MATI adalah MUT TAMUT, artinya ‘dying thou dost die’ (Young’
Literal Translation). Maksudnya, ketika Adam melanggar perintah Elohim,
maka ia langsung mengalami maut (suatu JENIS HIDUP yang dikuasai Setan, Ibrani
2:14). Tetapi kemudian setelah Adam menjalani MAUT, maka ia akan MATI secara
fisik. Inilah makna MUT TAMUT. Inilah upah dosa, dan seluruh keturunan Adam
mendapat juga jenis hidup MAUT, karenanya, semua manusia menjalani JENIS HIDUP
MAUT dan akhirnya akan mati secara jasmani. Tetapi, Kristus telah mengalami
maut BAGI SEMUA MANUSIA (Ibrani 2:9), dan mendapat otoritas atas maut dan
kerajaan maut (Wahyu 1:18, KLEIS=KUNCI dalam pengertian figurative, yaitu
OTORITAS).
Yesus berotoritas atas maut dan kerajaan maut (neraka),
karenanya, Kristus yang menunggangi kuda hijau kuning akan membunuh NERAKA
DENGAN MAUT, artinya, neraka akan tidak ada lagi dan semua manusia dibebaskan.
Inilah pengertian ‘membunuh neraka dengan maut’. Inilah juga pengertian maut
dan kerajaan maut dilemparkan kedalam LAUTAN API=kematian kedua (Wahyu 20:14).
Jadi, maut dan kerajaan maut dibunuh oleh kematian kedua, yaitu lautan api.
Saya akan menutup bagian ini dengan suatu kesaksian pribadi.
Saya pernah berdiskusi dengan seorang pemimpin jemaat tentang makna ‘Lautan
Api’. Beliau katakan bahwa lautan api itu neraka kedua, artinya orang2 yang
didalam neraka pertama dilempar lagi kedalam neraka kedua selama-lamanya. Saya
dapat memahami pengertian beliau karena demikianlah umumnya pengertian para
pemimpin denominasi dalam dunia kekristenan, yang biasa disebut DOKTRIN NERAKA
KEKAL. Saya juga pernah menjadi pemberita ajaran neraka kekal.
Saya mengusulkan kepada para pemimpin denominasi untuk
mengkaji ulang ajaran neraka kekal ini, sebab ajaran ini sangat menghina
otoritas Tuhan Yesus, dan juga sangat merendahkan Bapa di Sorga yang penuh
kasih, sehingga menggambarkan Bapa disorga seperti monster yang mengerikan
karena menyiksa orang selama-lamanya di neraka. Saya usul bagi para pemimpin
yang mau, untuk mulai mencari di internet, video2 maupun tulisan2 (ada ratusan
video dan ribuan halaman tulisan), yang mengkaji ulang ajaran neraka kekal ini.
Sebaiknya mulai dari Louis Abbott, Preston Eby, Charles Weller, Ray Prinzing,
dan yang lainnya. Saya sendiri dikirimi puluhan buku dari Amerika, dan itu
semua gratis, sebab Umat pilihanNya tidak menjual apapun.
Saya dapat memahami jika pemimpin jemaat yang saya sebut
diatas tadi tidak mau mengkaji ulang ajarannya tentang neraka kekal. Masalahnya
bukan soal Teologis saja, tetapi lebih kepada soal “perut”, sebab ia hidup dari
jemaatnya, mendapat uang, jabatan, dan kemuliaan manusia. Juga, dalam dunia
kekristenan, orang yang tidak mengajarkan ajaran neraka kekal tentu akan
disingkirkan. Tetapi, bagi orang2 yang mendapat kasih karuniaNya, perihal
diatas tidak menjadi masalah.
Mari kita mengingat prinsip penafsiran kita terhadap kitab
Wahyu sebelum kita membahas pembukaan materai kelima oleh Anak Domba (Wahyu
6:9-11). Perlu kita ingat kembali bahwa penggenapan kitab Wahyu bersifat
‘batiniah’, karena kitab ini mewahyukan suatu ‘pribadi’, yaitu pribadi Yesus
Kristus. Tentu kita tidak menolak seluruhnya penafsiran yang bersifat “luaran”,
yaitu bersifat ‘historical’ (sudah terjadi dalam sejarah), dan ‘futuristic’
(akan terjadi dimasa yang akan datang). Namun, prinsip penafsiran kita bersifat
‘batiniah’, dalam arti SUDAH, SEDANG, dan AKAN TERJADI didalam batin kita,
karena pewahyuan pribadi Yesus Kristus dalam batin kita bersifat PROGRESIF
(berkemajuan).
Baiklah kita melihat Wahyu 6:9-11, mengenai apa yang terjadi
ketika materai kelima dibuka, “…aku
melihat dibawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh berkenaan dengan
firman Elohim dan berkenaan dengan kesaksian yang mereka miliki. Dan mereka
berseru…’Sampai kapan, ya Tuhan yang kudus dan yang benar, Engkau tidak
menghakimi dan membalaskan darah kami terhadap mereka yang tinggal di bumi?’ …
beristirahat sedikit waktu lagi…”(ILT).
Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dari ayat2 diatas
ini. Pertama, siapa jiwa-jiwa mereka yang dibunuh berkenaan dengan firman
Elohim dan kesaksian mereka ini? Tentu saja ini berbicara tentang para martir
Kristen, tetapi bukan saja mereka yang telah mati secara fisik dan meninggalkan
dunia ini. Sekarangpun, orang-orang benar “tersiksa” jiwanya sebagaimana dalam
kasus Lot (II Petrus 2:7-8). Kalau kita perhatikan seluruh ayat2 dalam II
Petrus ini, maka jelas terlihat bahwa Petrus sedang berbicara mengenai guru2
palsu yang muncul ditengah-tengah umat Tuhan (ayat 1), dimana salah satu
cirinya adalah mengikuti jalan Bileam (ayat 15). Petrus tegas menyatakan bahwa
Tuhan akan menghakimi guru2 palsu ini, dan menyelamatkan umat pilihanNya. Dalam
konteks seperti inilah Petrus menyamakan umat pilihanNya dengan kasus Lot.
Jadi, jiwa2 yang “tersiksa” berkenaan dengan firman Elohim adalah umat
pilihanNya yang berada ditengah-tengah guru2 palsu, dimana salah satu cirinya
adalah mengikuti jalan Bileam (melayani untuk upah).
Kedua, umat pilihanNya berseru meminta agar Tuhan menghakimi.
Apakah ini membuktikan bahwa umat pilihanNya memiliki ‘rasa dendam’ didalam
batinnya? Baiklah kita lihat makna penghakiman dalam Yesaya 26:9, demikian, “…
sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar
apa yang benar”. Jadi, umat pilihanNya meminta penghakiman Tuhan agar orang2
belajar apa yang benar. Justru karena umat pilihanNya mencintai kebenaran, maka
mereka berseru meminta penghakiman Tuhan. Sebab, hanya penghakiman Tuhan yang
dapat mengungkapkan kebenaran.
Ketiga, ditegaskan dalam ayat diatas bahwa umat pilihanNya
harus ‘beristirahat sedikit waktu lagi’. Ada waktu Tuhan untuk menghakimi bumi,
dan dalam konteks gereja, tentu termasuk menghakimi guru2 palsu yang ada
ditengah-tengah umat Tuhan, yang mengikuti jalan Bileam. Kapan Tuhan datang
menghakimi bumi? Dalam II Timotius 4:8, Paulus menegaskan bahwa Tuhan akan
datang sebagai hakim yang adil pada hariNya, yaitu pada waktu kedatanganNya
(biasa disebut kedatangan Tuhan “kedua kali”). Bahkan diayat ini Paulus menyatakan
bahwa Tuhan akan memberikan ‘mahkota kebenaran’ kepada mereka yang merindukan
kedatangan Tuhan Yesus sebagai hakim yang adil.
Jadi, makna pembukaan materai kelima adalah suatu karakter
Kristus yang terus bertumbuh didalam batin umat pilihanNya yang semakin
mencintai kebenaran, dan merindukan kedatangan Tuhan sebagai hakim yang adil.
Saat ini kita akan melihat makna pembukaan materai keenam,
yang tentunya berkaitan dengan kerajaan sorga. Wahyu 6:12-17, menyatakan, “… membuka materai keenam, sesungguhnya
terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam…bulan menjadi
merah…Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi… Runtuhlah menimpa
kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan
terhadap murka Anak Domba itu…”.
Pembukaan materai keenam ini berkaitan dengan murka Anak
Domba yang menyebabkan terjadinya gempa bumi (kegoncangan) yang dahsyat, bahkan
sampai bintang-bintang dilangit berjatuhan kebumi. Jika kita menafsirkannya
secara harfiah, maka sudah pasti bumi dan semua makhluk diatasnya hancur
binasa. Tetapi, pasal-pasal selanjutnya dalam kitab Wahyu menegaskan bahwa bumi
masih tetap ada. Jadi, kegoncangan yang dahsyat di alam semesta ini tidak dapat
ditafsirkan secara harfiah.
Kalau demikian, bagaimana kita memahami kegoncangan yang
dahsyat di alam semesta ini. Telah kita tegaskan bahwa penggenapan kitab Wahyu
ini terjadi didalam batin umat pilihanNya. Kita harus paham bahwa didalam kitab
Wahyu, segala sesuatu yang lama “dihancurkan” agar datang segala sesuatu yang
baru. Tuhan sendiri menyatakan bahwa, “…Lihatlah,
Aku menjadikan segala sesuatu baru…” (Wahyu 21:5). Karenanya, bumi yang
lama ini “dihancurkan” agar bergerak menuju bumi yang baru, dan tentu langit
yang baru juga. “Langit dan bumi” dalam diri kitalah yang dihancurkan agar kita
menjadi ”langit dan bumi baru”. II Korintus 5:17, menegaskan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia
adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah
datang”. Segala yang kita andalkan dalam diri kita, “matahari2” kita,
“bintang2” kita, dan yang lainnya hancur, sehingga kita berkata, bagiku hidup
adalah Kristus. Inilah penggenapan materai keenam dalam batin kita.
Tetapi, penggenapan materai keenam juga terkait dengan
gereja, sebagai mempelai Kristus. Bagaimana penggenapannya? Dapat kita katakan
bahwa kegoncangan yang terjadi ini sebagai ‘akhir dunia’. Tetapi, ‘dunia’ dalam
tulisan2 Yohanes tidaklah seperti ‘dunia’ yang umumnya dipahami. Mari kita
bahas sedikit mengenai istilah ‘dunia’ (KOSMOS) dalam tulisan rasul Yohanes
agar kita dapat memahami kehancuran dunia pada pembukaan materai keenam.
Istilah ‘Kosmos’ dalam PB muncul sebanyak 186 kali, dimana 78 kali ada didalam
Injil Yohanes dan 24 kali dalam surat2nya, sehingga lebih dari separuhnya
muncul didalam tulisan2 Rasul Yohanes. Istilah ‘kosmos’ ini diterjemahkan
dengan istilah ‘Dunia’ dalam berbagai versi Bahasa Indonesia.
Seringnya istilah ini muncul dalam tulisan2 rasul Yohanes
tentu memiliki makna khusus dalam teologi Yohanes. Telah kita ketahui bahwa
makna suatu istilah ditentukan oleh bagaimana istilah itu digunakan dalam suatu
kalimat. Jika istilah ‘Dunia’ muncul dalam Yohanes 3:16 yang berkata, “Karena
begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya
yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal” (LAI), tentu kita paham bahwa makna istilah
‘Dunia’ disini adalah semua manusia di muka bumi ini. Tetapi jika istilah
‘dunia’ ini muncul dalam I Yohanes 2:15 yang berkata, “Janganlah kamu mengasihi
dunia dan apa yang ada didalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih
akan Bapa tidak ada didalam orang itu”, maka tentu makna ‘Dunia” disini
bukanlah semua manusia dibumi ini. Dunia disini adalah suatu sistem, dimana
nilai2 yang berlaku didalamnya bertentangan dengan nilai2 Tuhan, dan juga
nilai2 kerajaan sorga.
Mari kita melihat Yohanes 15:18-25. Perikop ini didalam versi
LAI diberi judul ‘Dunia membenci Yesus dan murid2Nya’. Kalau kita baca seluruh
perikop ini, maka kita dapat mengetahui siapa yang dimaksud ‘Dunia’ disini.
Ayat 25 dalam perikop ini berkata, “Tetapi firman yang ada tertulis dalam kitab
Taurat mereka harus digenapi: mereka membenci Aku tanpa alasan”. Jelas bahwa
‘Dunia’ disini adalah sistem keagamaan Yahudi atau Yudaisme, yaitu ajaran agama
Yahudi dengan kitab Taurat mereka. Merekalah yang membunuh Yesus dan membenci
serta menganiaya pengikut2 Yesus. Kalau kita perhatikan Yohanes 12:31,
“Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia
ini akan dilemparkan keluar”. Juga Wahyu 12:9, “Dan naga besar itu, si ular
tua, yang disebut iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan
ke bawah…”. Maka, dapatlah kita ketahui bahwa iblis adalah penguasa dunia,
dalam arti sistem keagamaan, dan iblis juga yang menyesatkan dunia keagamaan.
Bagi orang yang dapat melihat, maka ia akan tahu bahwa gereja
mula-mula telah jatuh menjadi sistem keagamaan, yang disebut dunia kekristenan.
Penggenapan dari pembukaan materai keenam adalah hancurnya dunia kekristenan,
dan diganti dengan sistem yang baru. Didalam kitab Wahyu, sistem (ordo) yang
baru ini adalah ordo kerajaan sorga dimana umat pilihanNya berfungsi sebagai
raja2 dan imam2 yang akan memerintah dibumi.
Kita masih melanjutkan sedikit lagi pembahasan kita mengenai
pembukaan materai keenam. Wahyu 6:12-17, menyatakan, “… membuka materai keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat
dan matahari menjadi hitam…bulan menjadi merah…Dan bintang-bintang di langit berjatuhan
ke atas bumi… Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang
duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu…sebab sudah tiba hari
besar murka…”.
Kita akan berbicara mengenai ‘murka Anak Domba’. istilah
Yunani ‘orge’ yang diterjemahkan ‘murka’, juga dapat berarti ‘passion’, yaitu ‘a very strong feeling of love’ (perasaan kasih yang kuat). Jadi,
makna ‘murka’ disini bukanlah kemarahan yang menghancurkan, tetapi suatu
kemarahan yang justru disebabkan perasaan kasih yang kuat. Ini bukanlah ‘murka’
seekor singa, sebagaimana Yesus juga digambarkan sebagai ‘singa dari suku
Yehuda’. Ini adalah ‘murka’ ANAK DOMBA. Kita tahu bahwa domba bukanlah hewan
yang suka menyerang dan melukai musuhnya. Karenanya, makna ‘murka’ Anak Domba dikitab
Wahyu ini sesuai dengan penjelasan mengenai kuda putih yang ‘menghakimi dan
berperang dengan adil’ (Wahyu 6:2; 19:11).
Banyak orang menggambarkan Yesus hanya dari satu sisi saja,
yaitu sebagai Anak Domba yang dikorbankan dan menghapus dosa dunia (Yohanes
1:29). Tetapi melupakan sisi lainnya, yaitu murkaNya yang akan terjadi pada
HARI BESAR seperti ditegaskan pada ayat kita diatas. Saat ini Yesus sudah
‘berperang dan menghakimi’ didalam batin umat pilihanNya, tetapi pada saatNya,
Ia akan berperang dan menghakimi SEGALA BANGSA BERSAMA UMAT PILIHANNYA, seperti
ditegaskan dalam Wahyu 19:11-16. Yang tetap harus kita ingat adalah makna
‘menghakimi’, yaitu supaya penduduk dunia belajar apa yang benar (Yesaya 26:9).
Alkitab menegaskan kedatangan Yesus yang pertama sebagai Anak
Domba Elohim yang dikorbankan dan menghapus dosa dunia. Tetapi, pada
kedatanganNya yang berikut (biasa disebut “kedatanganNya kedua kali”), Dia
datang sebagai hakim yang adil (II Timotius 4:8). Dan yang pertama-tama
dihakimi adalah umat Tuhan atau dunia kekristenan (I Petrus 4:17). Jadi, jika
kita terapkan pembukaan materai keenam ini kedalam dunia kekristenan yang telah
ada selama 20 abad ini, maka pada kedatanganNya “yang kedua”, dunia kekristenan
akan dihakimi serta berakhir, dan diganti dengan sistem baru/ordo baru, yaitu
ordo kerajaan, dimana umat pilihanNya akan berfungsi sebagai raja2 dan imam2
dimuka bumi ini.
Kita masuk kepada Wahyu pasal 7, dimana versi LAI membaginya
menjadi 2 perikop, dan memberi judul berturut-turut sebagai berikut: Pertama,
‘Orang-orang yang dimeteraikan dari bangsa Israel’, dan kedua, ‘Orang banyak
yang tidak terhitung banyaknya’. Banyak penafsir menganggap pasal 7 sebagai
sisipan, karena pembukaan materai 6 (selesai di Wahyu pasal 6), dan pembukaan
materai 7 (langsung di Wahyu pasal 8), sehingga pasal 7 dipandang sebagai
sisipan. Sebenarnya tidak demikian, sebab kitab Wahyu mewahyukan kepada kita
pribadi Yesus Kristus dan gerejaNya secara progresif (berkemajuan). Jadi,
secara garis besar, kitab Wahyu mewahyukan kepada kita mengenai suatu
“perjalanan” (proses berkemajuan) dari ‘gereja menuju kerajaan’, atau dari
‘kaki dian (simbol gereja) menuju takhta (simbol kerajaan)’, seperti telah kita
tegaskan diawal tulisan ini. Karenanya, pasal 7 adalah HASIL atau AKIBAT dari
proses pembukaan materai 1 sampai 6.
Ada 2 hasil/akibat dari proses pembukaan 6 materai yang sudah
kita bahas secara ringkas, yaitu, pertama, orang2 yang dimeteraikan dari bangsa
Israel, dan kedua, orang banyak yang tak terhitung banyaknya. Saat ini kita
akan membahas mengenai orang2 yang dimeteraikan dari bangsa Israel.
Orang-orang yang dimeteraikan dan berjumlah 144 000 itu
adalah ‘buah sulung’ (Wahyu 14:1,4). Wahyu 14:4, menjelaskan siapa mereka, “…Mereka ini sudah ditebus dari antara MANUSIA
(ANTHROPOS), sebagai buah sulung di hadapan Elohim dan Anak Domba” (ILT).
Jadi, ke-144 000 orang ini bukan bangsa Israel saja, tetapi gereja pemenang
yang dipilih dari antara manusia. Yakobus 1:18, menegaskan, “yang telah menentukan, agar kita menjadi suatu
buah sulung dari ciptaanNya… (ILT). Demikian juga Galatia 3:7, menyatakan,
“… mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham”. Karenanya,
ke-144 000 bangsa Israel yang dimeteraikan adalah simbol dari GEREJA PEMENANG
(sebagai buah sulung), yang tidak saja berasal dari bangsa Israel secara
jasmani, tetapi juga dari bangsa2 lain.
Mari kita perhatikan urutan suku-suku Israel yang
dimeteraikan (Wahyu 7:5-8). Kita lihat urutan pertama yang disebut adalah suku
Yehuda, walaupun Yehuda bukanlah anak Yakub yang sulung. Penjelasannya
demikian. Sesungguhnya ‘Israel’ itu bukan “nama pribadi” dari Yakub. Israel,
yang berarti ‘PANGERAN ELOHIM, adalah nama yang diberikan Elohim kepadanya,
setelah ia bergumul dan “menang” melawan Elohim (Kejadian 32:28). Jadi, Israel
tidaklah berarti hanya Yakub saja, tetapi siapa2 yang telah bergumul dengan
Elohim dan “menang”, akan mendapat “nama” Israel juga. Sesungguhnya, ke-144 000
orang ini (gereja pemenang) adalah ISRAEL juga, yaitu Pengeran Elohim.
Yehuda disebut yang pertama, karena Yesus berasal dari suku
Yehuda, dan Yesus adalah yang pertama bergumul dan “menang”, sehingga suku
Yehuda disebut yang pertama. Kita langsung masuk kepada suku terakhir yang
disebut, yaitu suku Benyamin (Wahyu 7:8). Yakub memberi nama Benyamin kepada
anaknya ini yang berarti ‘the son of the right hand’ (Anak Tangan Kanan).
Maksudnya, gereja pemenang ini seperti Anak laki-laki yang, “…dibawa kepada Elohim dan takhtaNya”
(Wahyu 12:5, ILT). Karenanya, gereja pemenang dimulai dari Yesus, sebagai yang
pertama menang, kemudian akan berakhir di takhta Elohim. Demikianlah makna 144
000 bangsa Israel yang dimeteraikan dan karakteristiknya.
Kita lanjutkan pembahasan Wahyu pasal 7, dimana versi LAI
membaginya menjadi 2 perikop, dan memberi judul berturut-turut sebagai berikut:
Pertama, ‘Orang-orang yang dimeteraikan dari bangsa Israel’, dan kedua, ‘Orang
banyak yang tidak terhitung banyaknya’. Telah kita bahas ‘Orang-orang yang
dimeteraikan dari bangsa Israel’, bahwa mereka adalah ‘buah sulung’ atau gereja
pemenang.
Saat ini kita akan mengidentifikasi siapakah ‘orang banyak’
dalam pasal 7 ini. Perhatikan Wahyu 7:14, demikian, “… Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan besar; dan
mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak
Domba”. Orang banyak ini adalah orang2 yang keluar dari kesusahan besar,
dan telah mencuci jubah mereka sehingga menjadi putih. Ungkapan ‘kesusahan
(THLIPSIS) besar (MEGAS)’ hanya muncul 2 x didalam kitab Wahyu, dan semuanya
terkait dengan orang2 kudus. Wahyu 2:22, yang terkait dengan gereja di
Laodikia, tertulis demikian, “…mereka
yang berbuat zinah dengan dia (WANITA IZEBEL) akan Kulemparkan ke dalam
kesukaran (THLIPSIS) besar (MEGAS), jika mereka tidak bertobat…”. Kitab
Wahyu menjelaskan sendiri siapa ‘orang banyak’ ini, yaitu para pengikut
‘Izebel’, yang melalui ‘kesusahan besar’, dan karenanya bertobat serta membasuh
jubah mereka menjadi putih.
Siapakah Izebel ini, yang mempunyai para pengikut? Kita harus
ingat bahwa Izebel dalam I Raja-Raja 16:31, adalah wanita SEJARAH yang
merupakan isteri raja Ahab. Tetapi, Izebel dalam kitab Wahyu adalah suatu
SIMBOL yang terkait dengan gereja. Apakah makna SIMBOL Izebel ini? Perhatikan
kasus kebun anggur Nabot (I Raja-Raja 21:1-16). Disini jelas terlihat Izebel
adalah seorang yang ‘merampas otoritas’ raja Ahab dengan menulis surat atas
nama Ahab dan memeteraikannya dengan meterai raja (ayat 8). Dan, karena Izebel
ini diterapkan kepada gereja, maka “Izebel-Izebel” yang merupakan SIMBOL adalah
orang2 dalam gereja yang menpunyai pengikut, serta MERAMPAS OTORITAS YESUS
SEBAGAI “SUAMI” GEREJA. Jadi, “Izebel” dalam gereja tidak harus perempuan,
tetapi karena ia mempunyai pengikut, maka “Izebel-Izebel” ini adalah para
pemimpin gereja (baik laki2 maupun perempuan) YANG MERAMPAS OTORITAS YESUS.
Bagaimana caranya para “Izebel” ini merampas otoritas Yesus?
Perhatikan perkataan Yesus dalam Matius 23:1-12. Disini Yesus berbicara kepada
dua kelompok orang (ayat 1), yaitu para ahli Taurat dan orang Farisi, serta
para muridNya. Ayat 1-7, Yesus berbicara kepada kelompok pertama, yaitu agar
orang banyak (bangsa Israel) jangan memberontak kepada para pemimpin mereka
(ahli Taurat dan Farisi), karena mereka mempunyai “Kursi Musa” (otoritas).
Tetapi, mulai ayat 8 sampai ayat 12, Yesus berbicara kepada murid2Nya.
DitegaskanNya, bahwa jangan kamu (murid2Nya) disebut pemimpin, rabi, dan bapa,
sebab kalian semua (murid2Nya) adalah saudara. Apa maksud perkataan Yesus
disini? Sesuai konteksnya, yaitu konteks “kursi Musa”, maka artinya, diantara
murid2 Yesus tidak boleh ada “kursi Musa” (Otoritas yang satu kepada yang
lainnya). Semua anggota gereja adalah saudara. OTORITAS GEREJA MUTLAK DITANGAN
YESUS. Yesus tidak pernah mendelegasikan otoritasNya kepada para pemimpin.
Otoritas terdelegasi (delegated authority) hanya berlaku didalam sistem
pemerintahan manusia. Gereja adalah organisme, dan yang berotoritas dalam
organisme adalah hayat organisme itu, yaitu Yesus sebagai hayat (zoe) gereja (I
am the zoe).
Tetapi, kita tahu bahwa kemudian karena serangan serigala
ganas, beberapa pemimpin gereja menarik murid2 supaya mengikuti mereka (Kis.
20:28-30). Seharusnya, mereka hanya boleh memperlengkapi murid2 saja, dan tidak
boleh menarik murid2 kepada diri mereka sendiri (Ef. 4:11-12). Perilaku menarik
murid2 ini sama dengan perilaku Izebel yang merampas otoritas raja Ahab.
Karenanya, para “Izebel” dalam gereja adalah para pemimpin yang menyebabkan
gereja pecah menjadi puluhan ribu denominasi. Para pemimpin ini memiliki “kursi
Musa” (otoritas manusiawi) atas murid2 Yesus yang ditariknya. Tiap
denominasi/aliran mempunyai para pemimpin dan pengikutnya sendiri. Inilah
‘orang banyak’ yang disebut dalam Wahyu 7:9-17.
Kita masih melanjutkan sedikit lagi pembahasan Wahyu pasal 7,
mengenai kelompok kedua, yaitu, ‘Orang banyak yang tidak terhitung banyaknya’.
Telah kita tegaskan bahwa ‘orang banyak’ ini adalah para pengikut “Izebel”
dalam gereja, dan tentu para “Izebel” juga, yang dilemparkan Tuhan kedalam
‘kesukaran besar’ (Wahyu 2:22). Tetapi, setelah melalui ‘kesukaran besar’,
mereka, “…mencuci jubah mereka dan
membuatnya putih didalam darah Anak Domba” (Wahyu 7:14).
Telah kita lihat juga siapa para “Izebel” dalam gereja ini,
yaitu para pemimpin yang merampas otoritas Yesus atas gereja dengan menarik
murid2 kepada diri mereka sendiri. Para “Izebel” ini memiliki otoritas yang
tidak sah atau melanggar hukum (illegal authority) atas murid2 Tuhan.
Karenanya, Tuhan menghakimi mereka. Kapan Tuhan menghakimi (atau lebih tepat
‘berterus terang’) kepada para “Izebel” dan pengikutnya ini? Mari kita
perhatikan Matius 7:21-23, demikian, “Bukan
setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam kerajaan
sorga…Pada hari terakhir… Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada
mereka… kamu sekalian pembuat kejahatan”. Ungkapan PEMBUAT KEJAHATAN
berasal dari istilah Yunani, ANOMIA yang artinya pelanggaran hukum atau
‘lawlessness’. Hukum apa yang dilanggar oleh mereka yang menyebut Yesus sebagai
Tuhan ini? Tentu saja hukum kerajaan sorga, karenanya mereka tidak masuk
kedalam kerajaan sorga. Tetapi, Yesus berterus terang menyatakan ini PADA HARI
TERAKHIR, yaitu pada waktu kedatanganNya (biasa disebut kedatangan “kedua”).
Yesus akan datang “kedua kali” sebagai hakim yang adil, dan
yang pertama-tama dihakimi adalah umat Tuhan (I Petrus 4:17). Didalam dunia
kekristenan kebenaran seperti ini “tersembunyi”. Mengapa demikian? Selain
memang Yesus akan berterus terang nanti pada waktu kedatanganNya, tetapi juga
sudah biasa disampaikan oleh para “Izebel” ini bahwa ‘menerima Yesus sebagai
Tuhan dan juruselamat, pasti masuk sorga’. Tentu saja pada akhirnya, pasti
masuk kerajaan sorga, tetapi perlu mengalami ‘banyak sengsara’ seperti
ditegaskan Paulus dalam Kis. 14:22. Itu sebabnya, pada hari penghakiman, Tuhan
melemparkan mereka kedalam ‘kesusahan besar’, dengan maksud agar mereka mencuci
jubah mereka dengan darah Anak Domba sehingga menjadi putih.
Satu hal lagi yang perlu kita pahami terkait dengan ‘orang
banyak’ ini, yaitu para “Izebel” dan pengikutnya. Tuhan menegaskan kepada
‘orang banyak’ ini bahwa, “…Akulah yang
menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap
orang menurut perbuatannya” (Wahyu 2:23). Pada ayat ini kita lihat bahwa
penilaian Tuhan terutama kepada batin dan hati orang. Bukan Tuhan tidak melihat
perbuatan orang, tetapi perbuatan orang akan Tuhan lihat dari batinnya dan
hatinya.
Ditegaskan diatas bahwa ‘orang banyak’ ini mencuci jubah
mereka sehingga menjadi putih melalui ‘kesusahan besar’ yang mereka alami.
“Jubah putih” dalam kitab Wahyu melambangkan ‘perbuatan2 yang benar dari orang2
kudus’ (Wahyu 19:8). Jadi, batin dan hati ‘orang banyak’ ini diproses melalui
kesusahan besar, sehingga perbuatan mereka menjadi benar dihadapan Tuhan.
Hanya Tuhan yang mengetahui siapa2 yang termasuk kategori
‘orang banyak’ (para “Izebel” dan pengikutnya) ini didalam dunia kekristenan.
Mereka sudah dijamah oleh Roh Tuhan dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat mereka. Bahkan kalau kita melihat Matius 7:21-23 diatas, mereka
justru banyak berbuat mujizat, mengusir setan, dan bernubuat demi namaNya.
Tetapi, sekali lagi, Tuhan melihat batin dan hati orang.
Kita masuk kepada pembukaan ‘materai ketujuh’ dari gulungan
kitab yang termeterai (Wahyu 8:1). Telah kita ketahui bahwa kitab termeterai
ini adalah kitab mengenai penebusan oleh Yesus Kristus. Ketika meterai terakhir
(ke-7) dibuka oleh Anak Domba, sesungguhnya, misteri penebusan telah sempurna
dan selesai, sebab angka 7 melambangkan kesempurnaan. Kita akan melihat kelak
bahwa pasal2 selanjutnya didalam kitab Wahyu merupakan pewahyuan mengenai
‘kesempurnaan penebusan’ yang telah dikerjakan oleh Anak Domba.
Mari kita melihat Wahyu 8:1-3, demikian, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai
yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga… lalu aku melihat ketujuh malaikat…
kepada mereka diberikan tujuh sangkakala. Maka datanglah seorang malaikat lain,
dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya
diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua
orang kudus di atas mezbah emas dihadapan takhta itu”.
Ada beberapa kebenaran yang perlu kita perhatikan dari ayat2
diatas. Pertama, ketika materai ketujuh dibuka, maka sorga menjadi sunyi senyap
seolah-olah sorga “berhenti beraktifitas”, dan semua penghuni sorga “berdiam
diri” menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Hal ini disebabkan
pembukaan materai ketujuh merupakan saat dimana misteri Elohim mengenai
‘kesempurnaan penebusan oleh Anak Domba’ telah dibukakan.
Kedua, pembukaan materai ketujuh ADALAH pewahyuan dari
ketujuh malaikat yang akan meniup sangkakalanya. Dan, ketika malaikat ketujuh
meniup sangkakalanya, maka, “…rahasia
Elohim harus digenapi sebagaimana Dia telah memberitakannya kepada para
hambaNya sendiri, yaitu para nabi” (Wahyu 10:7, ILT). Apakah ‘rahasia
Elohim’ yang harus digenapi? Wahyu 11:15, menyatakannya, “Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya… Pemerintahan atas
dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapiNya, dan Ia akan memerintah
sebagai raja sampai selama-lamanya”. Terjemahan LAI menggunakan huruf besar
‘Dia’ yang sebenarnya harus menggunakan huruf kecil ‘dia yang diurapiNya’, yang
menunjuk kepada gereja pemenang seperti akan kita lihat nanti.
Ketiga, ada seorang ‘malaikat lain’ dalam Wahyu 8:1-3 diatas,
dimana malaikat ini menjalankan fungsi keimaman. Kita akan membahasnya kelak,
karena fungsi keimaman ini sangat penting untuk memahami ‘kesempurnaan
penebusan oleh Anak Domba’.
Kita akan melihat di pasal2 selanjutnya dalam kitab Wahyu
bagaimana ‘kesempurnaan penebusan oleh Anak Domba’ ini akan membuat bumi dan
langit pertama bergerak menuju bumi dan langit baru. Semua manusia pada
akhirnya diselamatkan. Tidak ada lagi maut yang merupakan upah dosa. Tetapi
sangat disayangkan, pada umumnya, didalam dunia kekristenan kebenaran bahwa
semua manusia pasti akan diselamatkan dicap sebagai ajaran sesat
‘universalisme’. Pandangan ini disebabkan tidak memahami PROSEDUR atau PROSES
MENUJU pemulihan segala sesuatu, yang diwahyukan oleh pembukaan meterai
ketujuh. Tetapi, bagi ‘kawanan kecil’ yang kepadanya Bapa berkenan memberikan
kerajaan sorga akan sangat bersukacita karena DILIBATKAN DALAM PROSES MENUJU
PEMULIHAN SEGALA SESUATU.
Kita teruskan pembahasan kita mengenai pembukaan meterai
ketujuh yang tertulis dalam Wahyu 8:1-3, demikian, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi
senyaplah di sorga… lalu aku melihat ketujuh malaikat… kepada mereka diberikan
tujuh sangkakala. Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri
dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak
kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di
atas mezbah emas dihadapan takhta itu”.
Saat ini kita akan melihat seorang ‘malaikat lain’ dalam
Wahyu 8:1-3 diatas, dimana malaikat ini menjalankan fungsi keimaman, dalam
rangka ‘kesempurnaan penebusan oleh Anak Domba’. Simbol2 dalam pelayanan
keimaman ‘malaikat lain’ diatas tentu bersesuaian dengan pelayanan keimamatan
Harun (PL). Mari kita lihat pelayanan keimaman Harun ini.
Apa yang dilakukan ‘malaikat lain’ ini tidak lain adalah
suatu pelayanan dari Imam Besar. Mezbah dengan pedupaan emas diletakkan dalam
ruang kudus (kemah Musa), tepat didepan tabut perjanjian di ruang maha kudus.
Imam Besar akan masuk keruang Maha Kudus sekali setahun pada hari ke-10 bulan
ke-7 untuk mengadakan penebusan untuk semua orang Israel. Imam Besar akan
membawa pedupaan emas (wadah dimana kemenyan dibakar) dari ruang kudus kedalam
ruang Maha Kudus serta meletakkannya dilantai, dan akan memercikkan darah
korban sebanyak 7 kali kepada Tabut Perjanjian (mercy seat). Namun, ‘malaikat
lain’ yang disebutkan diatas tidak hanya mempersembahkan banyak kemenyan,
tetapi juga ditambahkan dengan ‘doa semua orang kudus’. Selanjutnya, ‘malaikat
lain’ ini menaruh api kedalam pedupaan dan melemparkannya kebumi, sehingga
meledaklah bunyi guruh, halilintar, dan gempa bumi (Wahyu 8:5).
Siapakah yang disimbolkan oleh ‘malaikat lain’ ini? Tentu
saja Tuhan Yesus Kristus sebagai Imam Besar. Tetapi, Yesus Kristus bukanlah
Imam Besar menurut aturan Harun, melainkan Imam Besar menurut aturan
Melkisedek. Saat ini kita tidak membahas perbedaan Imam Besar menurut aturan
Harun (PL), dan Imam Besar menurut aturan Melkisedek (PB). Kitab Ibrani menjelaskannya
secara rinci.
Yang akan kita bahas sekarang adalah tindakan ‘malaikat lain’
ini yang menaruh api kedalam pedupaan dan melemparkannya kebumi, sehingga
meledaklah bunyi guruh, halilintar, dan gempa bumi (Wahyu 8:5). Tindakan
‘malaikat lain’ ini tentu bersifat simbolik. Kita akan menjelaskannya seperti
ini. Tuhan Yesus itu memiliki banyak ‘gelar’. Pertama, Ia disebut Imam Besar,
yang artinya Ia adalah Imam tertinggi DIANTARA IMAM-IMAM. Kedua, Yesus disebut
Raja diatas segala raja, yang artinya Ia adalah Raja tertinggi DIANTARA
RAJA-RAJA. Ketiga, Yesus juga disebut Juruselamat dunia, yang artinya Ia akan
menyelamatkan seluruh dunia, sebab tidak layak Ia disebut Juruselamat dunia
jika Ia tidak menyelamatkan dunia.
Perhatikan Lukas 12:49-50, dimana Yesus berkata ‘Aku datang
untuk melemparkan api kebumi’, dan selanjutnya dikatakan Ia harus menerima
baptisan. MaksudNya adalah Yesus akan “melemparkan” api Roh Kudus kebumi,
setelah Ia mengalami baptisan, dalam arti mati, bangkit dan duduk disebelah
kanan Bapa, sebagai Imam Besar dan Raja diatas segala raja. Yesus akan datang
kebumi didalam Roh KudusNya sebagai Imam Besar DIDALAM DAN MELALUI IMAM-IMAM.
Yesus juga akan datang kebumi dalam Roh KudusNya DIDALAM DAN MELALUI RAJA-RAJA.
Untuk apa Yesus datang kebumi? Untuk menegakkan kerajaanNya dibumi sehingga
bumi bergerak menuju bumi baru, dan langit baru juga.
Mari kita terapkan kebenaran Wahyu 8:1-5 kedalam dunia
kekristenan sebelum kita menutup bagian ini. Dalam dunia kekristenan telah umum
dipercaya bahwa Yesus akan datang kembali dan membawa umatNya kesuatu tempat
yang menyenangkan nun jauh disana, yang disebut sorga. Tidak demikian
saudaraku…. Sebagai Imam Besar dan Raja diatas segala raja, Yesus datang kebumi
tidak untuk membawa “bayi2 rohani” kesorga. Ia akan datang kebumi didalam dan
melalui umat pilihanNya, yang telah dibentuk menjadi ‘raja2 dan imam2 menurut
aturan Melkisedek’. Itu sebabnya ditegaskan dalam Wahyu 1:6; 5:10, bahwa umat
pilihanNya dibentuk menjadi raja2 dan imam2 serta akan memerintah dibumi.
Kita masih membahas sedikit lagi mengenai pelayanan Imam
Besar, yaitu Yesus, yang disimbolkan oleh ‘malaikat lain’ dalam Wahyu 8:1-3.
Mari kita perhatikan ayat 3 dari Wahyu 8:1-3 ini, “…Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama
dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas dihadapan takhta itu “.
Perhatikan tindakan simbolik ‘malaikat lain’ ini dimana ia tidak hanya
mempersembahkan banyak kemenyan, tetapi juga dengan doa semua orang kudus.
Apakah makna dari tindakan simbolik ‘malaikat lain’ ini?
Kita harus melihat beberapa ayat dalam PB terkait fungsi
Yesus sebagai Imam Besar kita. Yohanes 17:9 menegaskan, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk
mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milik-Mu”.
Doa yang dipanjatkan Yesus ini terjadi dimalam terakhir ketika Ia berkumpul
bersama para muridNya, dan Yudas yang mengkhianati Dia, tidak bersamaNya lagi.
Perhatikan bahwa Yesus berdoa hanya untuk murid2Nya, yaitu orang2 yang
diberikan Bapa kepadaNya. Disini Yesus tegas berkata bahwa Ia tidak berdoa
untuk dunia. Siapakah ‘dunia’ yang dimaksud Yesus disini.
Kita harus memberi makna yang tepat kepada istilah ‘dunia’
sesuai konteksnya dalam tulisan2 rasul Yohanes. Jika istilah ‘dunia’ muncul
dalam Yohanes 3:16, maka kita tahu bahwa dunia disini berarti semua manusia,
yaitu semua orang yang dikasihi Bapa. Jika istilah ‘dunia’ muncul dalam I
Yohanes 2:15-16, dimana kita dilarang mengasihi dunia, maka dunia yang dimaksud
disini adalah sistem keagamaan. Perhatikan seluruh konteks percakapan Yesus
dimalam terakhir bersama para muridNya. Ketika Yesus berkata bahwa dunia
membenci Yesus dan murid2Nya, maka yang dimaksud adalah dunia keagamaan, yaitu
Yudaisme yang memiliki kitab Taurat (Yohanes 15:25). Jadi, jika kita
memperhatikan seluruh konteks percakapan Yesus dimalam terakhir, maka kita tahu
bahwa istilah ‘dunia’ yang dimaksud Yesus dalam doaNya adalah dunia keagamaan,
yaitu Yudaisme. Karenanya, kita tahu maksud Yesus dalam doaNya diatas bahwa Ia
tidak berdoa untuk dunia, yaitu dunia keagamaan (Yudaisme), yang membunuhnya
dan membenci murid2Nya.
Hal ini bukan berarti Yesus, sebagai Imam Besar, tidak akan
menyelamatkan dunia keagamaan, atau dunia dalam arti semua manusia. Sebab dalam
Yohanes 12:32, Yesus tegas berkata bahwa Ia akan menarik SEMUA ORANG datang
kepadaNya. Tetapi bahwa, pekerjaan Elohim itu mempunyai tahap-tahapannya atau
urut2annya sendiri, sesuai juga seperti yang tertulis dalam I Korintus
15:23-28. Jadi, pada akhirnya Yesus akan menyelamatkan seluruh dunia
sebagaimana Ia diberi ‘gelar’ Juruselamat dunia.
Tetapi, dizaman ini, sebagai Imam Besar, Yesus hanya berdoa
dan membentuk orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya. Sebagai Imam Besar menurut
aturan Melkisedek, Yesus membentuk orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya agar
menjadi imam2 juga menurut aturan Melkisedek. Demikianlah pada waktu
kedatanganNya, Yesus dapat menjadi Imam Besar menurut aturan Melkisedek
diantara para imam, yaitu orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya.
Perhatikan doa Yesus selanjutnya dalam Yohanes 17:21,
demikian, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa,
didalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga didalam Kita, SUPAYA
DUNIA PERCAYA, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”. Ketika pada
kedatanganNya, umat pilihanNya telah dibentuk menjadi imam2 dan raja2, dan
Yesus telah menjadi Imam Besar menurut aturan Melkisedek diantara para imam,
dan menjadi Raja diatas segala raja, maka tibalah urutan dimana seluruh dunia
akan diselamatkan.
Jadi, tindakan simbolik ‘malaikat lain’ mempersembahkan
kemenyan dan doa segala orang kudus (imam2 dan raja2) ini adalah
mempersembahkan doa yang ‘harum’ kehadapan Bapa untuk penyelamatan dunia. Doa
umat pilihanNya (raja2 dan imam2) dilibatkan dalam persembahan “kemenyan” yang
berbau harum kehadapan Bapa, oleh Yesus Kristus sebagai Imam Besar.
Telah kita nyatakan bahwa pelayanan keimaman ‘malaikat lain’
dalam Wahyu 8:3-5, merupakan simbol dari pelayanan Yesus sebagai Imam Besar.
Tetapi, kita tahu, bahwa pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ ini menurut aturan
Harun, sedangkan Yesus merupakan Imam Besar menurut aturan Melkisedek.
Karenanya, saat ini kita akan membahas beberapa hal yang menjadi perbedaan
dasar antara keimaman menurut aturan Harun dan keimaman menurut aturan
Melkisedek.
Pertama, keimaman menurut aturan Harun terkait dengan suatu
perjanjian, yaitu Perjanjian Lama. Perjanjian Lama adalah perjanjian antara
Yahweh dengan bangsa Israel yang diperantarai oleh Musa. Berdasarkan Perjanjian
Musa ini, tidak ada seorangpun yang boleh berfungsi sebagai imam kecuali bangsa
Israel. Demikian juga pelayanan Harun dan keturunannya, haruslah dari suku
Lewi, serta harus melayani di Bait Suci Yerusalem. Bahkan, Yesus sendiri tidak
dapat menjadi Imam Besar menurut aturan Harun karena Yesus berasal dari suku
Yehuda. Kedua, pelayanan Harun dan keturunannya haruslah sesuai Hukum yang
berlaku, yaitu Hukum Taurat. Pelayanan keimaman ini bukanlah perkara remeh
dihadapan Yahweh, sebab jika seorang Imam ‘mempersembahkan api yang asing’
(tidak sesuai aturan), maka dapat berakibat kematian seperti dalam kasus Nadab
dan Abihu, anak2 Harun.
Ketiga, Ibrani 7:12, menegaskan, “Sebab, jikalau imamat
berubah, dengan sendirinya akan berubah pula Hukum Taurat itu”. Teks asli tidak
mengatakan ‘Hukum Taurat’ tetapi ‘Hukum’ saja. Artinya, Hukum atau aturan yang
berlaku akan diganti/berubah, jika keimaman berubah. Karenanya, Hukum yang
berlaku untuk keimaman Yesus bukanlah Hukum Taurat, melainkan Hukum Hayat
(’zoe’). Ibrani 7:15-16, menegaskan bahwa keimaman menurut aturan Melkisedek,
tidak menuruti Hukum Taurat, melainkan Hukum Hayat (hidup atau hayat yang tidak
binasa).
Keempat, pelayanan Yesus sebagai Imam Besar adalah pelayanan
dari seorang ‘perintis’ (Ibrani 6:20). Hal ini sangat berbeda dengan pelayanan
Imam Besar menurut aturan Harun. Para imam, selain Imam Besar, menurut aturan
Harun tidak boleh memasuki ruang Maha Kudus (simbol penyatuan dengan Yahweh,
dan pelayanan pendamaian untuk seluruh bangsa), sebagaimana pelayanan Imam Besar
sekali setahun. Tetapi, pelayanan Yesus sebagai Imam Besar akan membawa para
imam aturan Melkisedek lainnya untuk ambil bagian dalam pelayanan ruang “Maha
Kudus”.
Dari keempat hal diatas, kita dapat melihat betapa kacaunya
pelayanan keimaman dalam dunia kekristenan. Pelayanan keimaman dalam dunia
kekristenan, umumnya, tidak mengikuti Hukum Taurat, juga tidak mengikuti Hukum
Hayat. Hal ini terjadi karena dua ajaran palsu Izebel dan Nikolaus (Wahyu 2-3).
Para “Izebel” ini menarik murid2 Tuhan dan menaklukkannya dengan berbagai-bagai
aturan. Aturan2 ini, barangkali, sebagian dari Hukum Taurat yang terkait uang,
misalnya, persepuluhan, buah sulung dan yang lainnya. Atau, peraturan2 lain
seperti penundukkan diri yang palsu (ajaran Nikolaus), ataupun aturan2 organisasi
lainnya.
Dalam kondisi sedemikian, umat pilihanNya yang akan dibentuk
menjadi imam2 menurut aturan Melkisedek, tentu tidak dapat berada didalam
sistem keimaman yang campur baur seperti itu. Umat pilihanNya akan dibentuk
Yesus menjadi imam2 menurut aturan Melkisedek diluar sistem kekristenan yang
ada.
Kita masih berbicara pembukaan materai ke-7, dimana ketika
meterai ini dibuka oleh Anak Domba, maka terdapat 7 malaikat dengan 7
sangkakala, dan juga ‘malaikat lain’ yang menjalankan pelayanan keimaman yang
merupakan simbol dari pelayanan Yesus Kristus sebagai Imam Besar menurut aturan
Melkisedek. Saat ini kita akan berbicara secara garis besar mengenai pelayanan
7 malaikat dengan 7 sangkakala.
Untuk memahami pelayanan 7 malaikat dengan 7 sangkakala ini,
kita harus memahami dengan jelas bahwa pelayanan mereka ini ‘menjalankan’
pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ yang sudah kita bahas sebelumnya. Mari kita
perhatikan secara khusus pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ ini dalam Wahyu
8:5, demikian, “Lalu malaikat itu mengambil
pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya
kebumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi”. Dari
ayat ini kita lihat bahwa pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ ini DIARAHKAN
KEBUMI. Bumi menjadi fokus pelayanan keimaman ‘malaikat lain’ ini.
Kita tahu bahwa ‘api’ yang dilemparkan kebumi ini merupakan
simbol dari Roh Kristus yang bekerja dibumi. Ditegaskan bahwa setelah api
dilemparkan kebumi, maka terdapat bunyi guruh, halilintar, dan gempa bumi.
Tentu semua ini adalah simbol2 yang disebabkan pekerjaan Roh Kristus dibumi.
Kita tidak perlu membahas dengan rinci mengenai simbol2 ini, juga kita tidak
akan membahas dengan rinci simbol2 yang terjadi oleh pelayanan keimaman 7
malaikat dengan 7 sangkakala pada ayat2 dan pasal2 selanjutnya. Yang perlu kita
pahami adalah bahwa simbol2 yang dinyatakan terjadi dibumi MERUPAKAN AKIBAT
PELAYANAN KEIMAMAN DAN JUGA DOA-DOA ORANG KUDUS. Karenanya, kehancuran atau
kerusakan atau apapun yang terjadi dibumi sesungguhnya merupakan pemulihan
segala sesuatu sehingga BUMI YANG LAMA BERGERAK MENUJU BUMI YANG BARU.
Orang Kristen yang menafsirkan setiap kejadian dibumi yang
disebabkan oleh pekerjaan ke-7 malaikat dengan 7 sangkakala ‘secara harfiah’,
maka akan menganggap kitab Wahyu sungguh merupakan kitab yang mengerikan
sekali. Kita tahu bahwa kitab Wahyu bukanlah kitab yang mengerikan seperti itu,
tetapi kitab Wahyu merupakan kitab yang sangat positif dalam arti merupakan
kitab pemulihan segala sesuatu. Melalui pelayanan keimaman 7 malaikat dengan 7
sangkakala, maka bumi lama bergerak menuju bumi baru. Sesungguhnya, bumi lama
dan langit lama itu merupakan simbol dari manusia yang sudah jatuh dalam dosa,
sebab manusia itu memiliki aspek “kebumian” (tubuh jasmani), dan juga aspek
“langit” (roh manusia). Karenanya, kehancuran bumi dan langit lama merupakan
pemulihan bagi seluruh manusia, sehingga manusia menjadi “langit dan bumi
baru”.
Saat ini mari kita langsung melihat apa yang terjadi ketika
malaikat ke-7 akan meniup sangkakalanya. Wahyu 10:7, menegaskan, “Namun pada hari-hari suara malaikat yang
ketujuh akan segera meniup sangkakalanya, maka rahasia Elohim harus digenapi
sebagaimana Dia telah memberitakannya kepada para hambaNya sendiri, yaitu para
nabi” (ILT). Kita tahu bahwa angka 7 merupakan simbol dari kesempurnaan
(complete), sehingga ketika malaikat ke-7 ini meniup sangkakalanya, maka
pelayanan keimaman dari 7 malaikat ini selesai/sempurna/complete. Ditegaskan
dalam ayat ini bahwa ‘rahasia Elohim’ digenapi ketika malaikat ke-7 meniup
sangkakalanya.
Saat ini, mari kita melihat beberapa simbol dalam pelayanan 7
malaikat dengan 7 sangkakala, pada pembukaan meterai ke-7 (Wahyu 8:1-2). Tentu
kita tidak memahami seluruh simbol2 ini dengan rinci. Yang perlu kita ingat,
seperti telah kita tegaskan sebelumnya, bahwa pelayanan 7 malaikat dengan 7
sangkakala ini merupakan ‘pelayanan pemulihan bumi’, sehingga bumi bergerak
menuju bumi yang baru. Karenanya, kehancuran ‘bumi yang lama’ merupakan
tindakan pemulihan agar datang ‘bumi yang baru’.
Mari kita mulai dengan sangkakala pertama, “Lalu malaikat
yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah hujan es, dan api, bercampur
darah; dan semuanya itu dilemparkan ke bumi; maka terbakarlah sepertiga dari
bumi dan sepertiga dari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan
hijau” (Wahyu 8:7). Simbol “pohon” disini adalah ‘manusia terhormat’ sedangkan
“rumput” merupakan manusia pada umumnya. Yesaya 40:6,8, menegaskan, “…semua
manusia adalah rumput, dan semua kemuliaannya seperti bunga di padang… Rumput
menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Elohim kita akan tegak untuk
selamanya” (ILT). Jadi, pesan dari ‘sangkakala pertama’ adalah kehancuran dari
kemuliaan manusia pasti terjadi. Tetapi, tidak sampai disini saja, karena
Yesaya 40:5, menegaskan demikian, “Dan
akan disingkapkan kemuliaan YAHWEH, dan semua manusia akan melihat bersama-sama…”
(ILT). Karenanya, pesan dari ‘sangkakala pertama’ merupakan khabar baik bahwa
pada akhirnya SEMUA MANUSIA akan melihat kehancuran kemuliaan manusiawi, dan
melihat kemuliaan Elohim.
Kita tahu bahwa akibat dosa, semua manusia
kehilangan/kekurangan kemuliaan Tuhan (Roma 3:23). Ketika Adam dan Hawa berbuat
dosa, mereka langsung kehilangan kemuliaan Tuhan, dan akibatnya mereka merasa
malu dengan kondisinya yang ‘telanjang’. Sebenarnya, ketelanjangan mereka tidak
menimbulkan rasa malu sepanjang mereka dipenuhi kemuliaan Tuhan. Tetapi, ketika
dosa masuk dan kemuliaan Tuhan hilang, maka mereka merasa malu. Sayangnya, Adam
dan Hawa mencoba menutupi rasa malunya dengan usaha sendiri, yaitu membuat
cawat dari daun pohon ara (Kejadian 3:7). Tuhan tidak berkenan dengan cara ini,
dan kemudian membuat pakaian dari kulit binatang untuk menusia. Kulit binatang
ini adalah simbol dari Kristus yang sudah dikorbankan, dan menjadi kemuliaan
Elohim bagi mereka yang mengenakanNya.
Tindakan Adam dan Hawa membuat cawat untuk menutupi rasa
malunya, sesungguhnya merupakan tindakan semua manusia keturunannya juga.
Bahkan, kejatuhan dunia kekristenan, sesungguhnya adalah menukar kemuliaan
Tuhan dengan kemuliaan manusia. Dalam dunia kekristenan, pada umumnya, baik
uang, jabatan, dan perkenan manusia sudah menjadi ‘kemuliaan’ bagi para
“pelayan Tuhan”. Hal ini merupakan fakta dalam dunia kekristenan walaupun
barangkali tidak dinyatakan secara terbuka. Para “pelayan” Tuhan yang berhasil
menarik murid2 kepada dirinya sendiri, menarik uang murid2 dengan berbagai
ajaran, serta membangun gedung2 (baca:membangun kerajaan sendiri) sudah
merupakan ukuran kesuksesan dalam pelayanan. Persoalannya, perbuatan seperti
ini tidak pernah dilakukan oleh para rasul dan murid2 Tuhan dalam gereja
mula-mula. Umat pilihanNya tentu tidak
mencari kemuliaan manusia, sebab kemuliaannya adalah Kristus dalam batin. Christ
in you, the hope of glory.
Mari kita kembali kepada pesan dari malaikat pertama ini.
Pada waktuNya, kemuliaan manusia akan runtuh, dan kemuliaan Elohim akan
ditegakkan. Bumi yang penuh dengan kemuliaan manusia akan dipulihkan menjadi
bumi baru yang dipenuhi kemuliaan Tuhan. Pesan ‘malaikat pertama’ ini merupakan
khabar baik bagi umat pilihanNya yang mencari kemuliaan Tuhan, tetapi tentu
“khabar buruk” bagi orang2 yang mencari kemuliaan manusiawi.
Mari kita lanjutkan dengan ‘sangkakala kedua’, demikian, “Lalu malaikat yang kedua meniup
sangkakalanya dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh
api, dilemparkan kedalam laut. Dan sepertiga dari laut itu menjadi darah, dan
matilah sepertiga dari segala makhluk yang bernyawa di dalam laut dan binasalah
sepertiga dari semua kapal” (Wahyu 8:8-9).
Didalam PL, gunung2 berbicara mengenai kerajaan2 manusia.
Pemazmur pernah berkata, “Aku melayangkan
mataku kegunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku
ialah dari TUHAN…” (Mazmur 121:1-2). Disini pemazmur sedang mencari
pertolongan, dan ia melihat kegunung-gunung, yaitu simbol dari kerajaan2
manusia yang dibangun dengan segala kekuatan, kepintaran, dan kepemimpinan
manusiawi. Tetapi pada akhirnya ia menegaskan bahwa pertolongannya ialah dari
Tuhan. Kerajaan Tuhan didalam PL sering disebut sebagai gunung batu.
Didalam pesan dari sangkakala kedua disebutkan bahwa ada
gunung besar yang menyala-nyala oleh api dan dilemparkan kedalam laut, tentu
yang dimaksud adalah lautan manusia. Gunung besar yang menyala-nyala oleh api
adalah kerajaan Tuhan. Hal ini ditegaskan dalam mimpi Nebukadnezar yang
ditafsirkan nabi Daniel demikian, bahwa batu yang menimpa dan menghancurkan
kerajaan2 manusia, akan menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi (Daniel
2:34-35). Gunung besar disini adalah kerajaan Tuhan yang akan memenuhi seluruh
bumi.
Akibat dari ditegakkannya kerajaan Tuhan ini, maka,
dinyatakan bahwa sepertiga dari segala makhluk dan kapal2 binasa. Kapal2
berbicara mengenai sistem perdagangan yang terorganisir. Puji Tuhan bahwa ada
saatnya ketika kedatangan kerajaan Tuhan dibumi, maka sistem perdagangan
manusiawi akan dihancurkan dan diganti dengan “sistem ekonomi Kerajaan Tuhan”
(Kingdom Economics).
Ada satu hal yang perlu kita perhatikan mengenai sistem
perdagangan didunia ini. Didalam dunia, secara umum, manusia menjual jasa atau
barang untuk mendapatkan keuntungan (uang), dan hal ini memang dibenarkan.
Masalahnya, didalam Bait Suci (gereja), sistem perdagangan dunia juga telah
masuk kedalam pelayanan. Ketika Yesus masuk kedalam Bait Suci Yudaisme, Ia
mengusir “para pedagang” yang menjual hewan2 korban dan jasa pelayanan untuk
mendapatkan keuntungan. “Para pedagang” Bait Suci ini tentulah para pemimpin,
yaitu Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin).
Kita tahu bahwa salah satu kejatuhan gereja menjadi dunia
(kosmos=sistem) kekristenan adalah ajaran Bileam. Bileam ini adalah seorang
nabi yang memperdagangkan nubuatnya. Didalam dunia kekristenan, pada umumnya,
para “pelayan Tuhan” juga memperdagangkan “perkara2 rohani”, seperti karunia2
Roh Kudus, pengetahuan firman, kemampuan2 berkhotbah, barang2 “rohani”, dan
lain sebagainya. Tetapi, sistem perdagangan ini telah dibenarkan dalam dunia
kekristenan karena “Bileam” telah menjadi AJARAN, dan bukan hanya PRAKTEK yang
dilakukan oleh beberapa orang saja.
Tetapi harus kita tegaskan disini bahwa perdagangan dalam
Bait Suci hanya dapat dilihat oleh Yesus. Sebelum Yesus datang kedalam Bait
Suci, tidak ada orang yang mempermasalahkannya. “Para pedagang” dalam dunia
kekristenan tidak pernah mempersoalkan hal ini, bukan karena mereka tidak
berdagang dalam pelayanannya, tetapi karena mereka tidak melihat sebagaimana
Yesus melihat. Tetapi, umat pilihanNya mendapat kasih karunia untuk melihat dan
menjauhi hal ini.
Kita teruskan dengan ‘sangkakala ketiga’ demikian, “Lalu
malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya dan jatuhlah dari langit sebuah
bintang besar, menyala-nyala seperti obor, dan ia menimpa sepertiga dari
sungai-sungai dan mata-mata air. Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga
dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab
sudah menjadi pahit” (Wahyu 8:10-11).
Mari kita melihat beberapa ayat dari tulisan Yohanes untuk
memahami apa makna dari simbol ‘sungai-sungai’ ini. Yohanes 7:38, menegaskan, “Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang
dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air
hidup”. Yang dimaksud ayat ini adalah ‘sungai-sungai’ yang keluar dari
batin seseorang akan mengalirkan air yang menghidupkan. Kalau kita bandingkan
hal ini dengan apa yang ditegaskan rasul Yohanes dalam I Yohanes 2:27,
demikian, “sebab di dalam diri kamu tetap
ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu tidak perlu kamu
diajar oleh orang lain…”. Maka dapat kita simpulkan bahwa makna dari simbol
‘sungai-sungai’ ini berbicara soal ajaran2.
Karena kitab Wahyu adalah kitab pewahyuan Yesus Kristus dan
merupakan suatu pemulihan, maka pesan yang disampaikan oleh ‘sangkakala ketiga’
ini merupakan suatu pemulihan dari ajaran2 palsu dibumi ini, tentu secara
khusus yang menyerang gereja. Bagaimana pemulihan ini terjadi? Ditegaskan bahwa
ada bintang bernama Apsintus yang membuat air menjadi ‘pahit’ dan mematikan
banyak orang. Mematikan banyak orang dibumi berarti menghancurkan “bumi lama”
atau menghancurkan ajaran2 palsu sedemikian sehingga menghadirkan “bumi baru”,
dimana, “…bumi akan penuh dengan
pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut”
(Habakuk 2:14). Demikianlah pesan pemulihan dari ‘sangkakala ketiga’.
Baiklah kita berbicara mengenai ajaran2 dalam gereja
mula-mula. Gereja mula-mula bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (Kis. 2:42).
Tetapi hal ini bukan berarti tidak ada ajaran2 palsu dalam gereja mula-mula.
Baik Petrus, Paulus, maupun Yohanes sudah berbicara dan menghadapi ajaran2
palsu yang diajarkan oleh guru2 palsu. Paulus juga sudah memperingati datangnya
serangan “serigala ganas” yang membuat beberapa pemimpin gereja menarik murid2
Tuhan kepada diri mereka sendiri dengan ajaran palsu (Kis. 20:28-30).
Kita tahu bahwa gereja mula-mula bergerak dan menjadi dunia
kekristenan seperti yang kita lihat sekarang adalah karena ajaran2 palsu. Kitab
Wahyu pasal 2 dan 3 sudah menjelaskan kepada kita mengenai ajaran palsu Izebel,
Bileam dan Nikolaus, dan kita tidak membahasnya sekarang. Saat ini kita akan
perhatikan satu istilah yang muncul dalam pesan sangkakala ketiga, yaitu
‘pahit’. Rasa ‘pahit’ inilah sebenarnya yang memulihkan bumi, dan juga gereja
dari ajaran2 palsu.
Ajaran palsu itu memang “manis”, dan orang banyak tentu
menyukainya. Surat Yudas menegaskan ciri guru2 palsu, yaitu menyelewengkan
kasih karunia Tuhan kearah rangsangan badani atau perkara2 jasmani (ayat 4).
Guru palsu dalam dunia kekristenan itu umumnya akan membuat pesan2 yang “manis”
dengan mengarahkan kasih karunia Tuhan kepada perkara2 jasmani. Orang banyak
umumnya, baik dizaman Yesus, maupun dalam dunia kekristenan, tentu mencari
“roti” (Yohanes 6:25-66). Bukan berarti guru2 palsu tidak memberitakan “roti
hidup”, tetapi tekanannya digeser kepada “roti jasmani”, sehingga menimbulkan
rasa “manis” yang disukai orang banyak.
Kita teruskan dengan ‘sangkakala keempat’, demikian, “Lalu malaikat yang keempat meniup
sangkakalanya dan terpukullah sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan
dan sepertiga dari bintang-bintang, sehingga sepertiga dari padanya menjadi
gelap dan sepertiga dari siang hari tidak terang dan demikian juga malam hari”
(Wahyu 8:12).
Apakah makna dari simbol matahari, bulan dan bintang2 pada
ayat kita diatas? Ketika Yesus berbicara perihal kedatanganNya, maka Ia
berkata, “…matahari akan menjadi gelap
dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan
kuasa-kuasa langit akan goncang” (Matius 24:29). Didalam Kejadian 1:14,
ketika Elohim menciptakan matahari, bulan dan bintang2, ditegaskan, “…semuanya itu menjadi penerang pada cakrawala
di langit untuk memberi penerangan di atas bumi…” (ILT). Langit memberi
penerangan bagi bumi. Langit juga memiliki kuasa atas bumi. Matahari, bulan,
dan bintang2 merupakan benda2 yang memiliki kuasa untuk memberi penerangan atas
bumi. Karenanya, matahari, bulan, dan bintang2 berbicara mengenai kepemimpinan
Langit atas Bumi.
Tetapi ditegaskan oleh Yesus bahwa ketika kedatanganNya, maka
kepemimpinan “yang lama” akan goncang dan diganti dengan “yang baru”. Pesan
dari ‘sangkakala keempat’ ini merupakan suatu pemulihan/pergantian
kepemimpinan, dimana kepemimpinan “yang lama” (orde lama) diganti dengan
kepemimpinan “yang baru” (orde baru).
Mari kita terapkan pesan ‘sangkakala keempat’ ini kepada 2
jenis kepemimpinan yang ada saat ini. Pertama, kepada kepemimpinan dunia
(kerajaan2/pemerintahan2 didunia). Kedua, kepada kepemimpinan gereja. Kita akan
melihat yang pertama, yaitu bagaimana pergantian kepemimpinan dunia ini. Wahyu
11:15, menegaskan, “…Pemerintahan atas
dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapiNya, dan Ia akan memerintah
sebagai raja sampai selama-lamanya”. Alkitab versi LAI menggunakan huruf
besar ‘Dia’ pada ayat diatas, tetapi seharusnya menggunakan huruf kecil ‘dia’,
yang menunjuk kepada gereja pemenang. Daniel 7:18, meneguhkan bahwa orang2
kudus akan menerima pemerintahan dunia ini, demikian tertulis, “sesudah itu
orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi akan menerima pemerintahan…”. Jadi,
pada saat kedatanganNya, pemerintahan2 didunia ini akan diserahkan kepada
Kristus, yaitu Tuhan Yesus dan orang2 yang diurapiNya.
Selanjutnya, bagaimana dengan kepemimpinan gereja? Jika kita
bandingkan antara gereja mula-mula dengan denominasi2 yang ada saat ini dalam
dunia kekristenan, maka kita tahu bahwa telah terjadi kejatuhan dalam hal
kepemimpinannya. Peringatan Paulus diakhir pelayanannya sebelum gereja jatuh
ditujukan kepada para pemimpin (Kis. 20:28-30). Demikian juga kejatuhan gereja
di Asia kecil yang dilihat rasul Yohanes terjadi karena ajaran Izebel dan
Nikolaus, dimana ajaran Izebel membenarkan perampasan oleh para pemimpin atas
otoritas Yesus yang langsung kepada setiap anggota gereja, dan juga ajaran
Nikolaus yang membenarkan perilaku para pemimpin yang “menaklukkan” kaum awam.
Kedua ajaran palsu ini telah membuat gereja kehilangan keimaman semua orang
percaya. Kepemimpinan gereja yang dijalankan oleh rasul2, nabi2, penginjil2,
pengajar2 dan gembala2 ini seharusnya hanya memperlengkapi umat Tuhan saja, dan
bukan menariknya sehingga gereja pecah menjadi ribuan denominasi. Inilah “orde
lama” kepemimpinan gereja yang akan segera berlalu ketika tiba saat
kedatanganNya.
Orde yang baru adalah ‘orde kerajaan’, dimana umat pilihanNya
dibentuk menjadi raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek. Pada saat
kedatanganNya, umat pilihanNya akan menggantikan orde gereja (orde lama), dan
menjadi raja2 dan imam2 untuk memerintah dibumi dengan tubuh kemuliaan.
Kita masuk kedalam ‘sangkakala kelima’ yang terdapat didalam
Wahyu 9:1-12. Tentu kita tidak membahas dengan rinci semua yang terjadi ketika
‘sangkakala kelima’ ditiup. Tetapi inti dari pesan ‘sangkakala kelima’ ini
adalah “penyiksaan” yang dijalankan oleh “belalang-belalang” atas manusia yang
tidak memakai meterai Elohim didahinya. Ayat 4-5, menegaskan, “dan kepada mereka dikatakan supaya mereka
jangan merusak… kecuali hanya orang-orang yang tidak memiliki meterai Elohim di
dahinya…agar disiksa selama lima bulan…” (ILT).
Kita sudah membahas mengenai orang2 yang dimeteraikan pada
Wahyu 7:1-8, dimana mereka adalah ‘buah sulung’ atau gereja pemenang.
Orang-orang yang terpilih, yaitu ‘buah sulung’ bukanlah orang2 yang tidak
mengalami “siksaan” atau pembentukkan Tuhan. Tetapi, “buah sulung” adalah
orang2 yang telah ‘lebih dahulu’ mengalami pembentukkan dan proses Ilahi
sehingga mereka hanya mengikuti, “…Anak
Domba itu kemana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban
sulung…” (Wahyu 14:4). Kita akan membahas hal ini kelak ketika kita sampai
kepada Wahyu 14. Untuk saat ini kita akan membahas ‘manusia’ yang akan
mengalami siksaan belalang-belalang selama 5 bulan.
Siapakah ‘manusia’ yang akan mengalami ‘siksaan’
belalang-belalang ini? Kita tetap harus ingat bahwa ‘sangkakala kelima’ adalah
tindakan pemulihan Tuhan, karena demikianlah kitab Wahyu, yaitu pewahyuan
pribadi Tuhan Yesus kepada manusia, khususnya umat pilihanNya. Jika kita
memperhatikan urut2an manusia yang akan mengalami pemulihan Tuhan, maka kita
tahu bahwa manusia yang secara khusus disebut dalam Wahyu 9:1-12, adalah dunia
kekristenan secara umum. Mengapa demikian? Telah kita bahas sebelumnya mengenai
“orang banyak” dalam Wahyu 7, bahwa mereka adalah “para Izebel dan pengikutnya”
yang dilemparkan Tuhan kedalam “kesusahan besar” (Wahyu 2:22). Perlu kita
tegaskan lagi bahwa “para Izebel dan pengikutnya” ADALAH ORANG-ORANG GEREJA,
secara khusus tipe gereja di Laodikia. Walaupun kita tahu bahwa ajaran Izebel
telah merembes kedalam dunia kekristenan secara umum. Jadi, manusia yang akan
mengalami siksaan belalang2 ini adalah para Izebel dan pengikutnya.
Pembentukkan Tuhan atau “siksaan belalang ini” akan membuat dunia kekristenan
hanya mengikuti Tuhan Yesus saja, dan tidak mengikuti “para Izebel”.
Baiklah kita perhatikan Yesaya 26:9, mengenai tujuan
penghakiman Tuhan agar memahami “siksaan belalang selama 5 bulan” ini, demikian
tertulis, “… sebab apabila Engkau datang
menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”. Jadi
jelas bahwa tujuan penghakiman Tuhan bukanlah sejenis hukuman selama-lamanya
(neraka kekal) seperti yang umumnya dipercaya dalam dunia kekristenan. Tetapi,
penghakiman Tuhan, atau “siksaan belalang” ini hanyalah berlangsung sejangka
waktu saja, yang dalam ayat kita disebut selama “5 bulan”. Penghakiman Tuhan
atau “siksaan belalang” ini bertujuan agar dunia kekristenan mengenal ‘apa yang
benar’.
Sebagai penutup bagian ini, baiklah kita menyatakan satu
dusta yang umumnya dikhotbahkan oleh “para Izebel” ini dimimbar-mimbar, yaitu
‘percaya Yesus masuk sorga’. Umumnya, yang dimaksud adalah adalah ‘tempat yang
menyenangkan’, dimana jalan2nya dari emas, ada rumah2 bagus (“rumah Bapa”),
orang hanya memuji-muji Tuhan saja disana, dan bahkan ada yang berpendapat
masih ada anjing nanti. Dan, konon orang yang percaya Yesus ini akan masuk
ketempat itu kelak setelah mati jasmani. Jika kita medapat kasih karunia
dihadapanNya, maka kita tahu bahwa tidak ada satu ayatpun dalam PB yang mengungkapkan
konsep masuk sorga seperti itu. Namun, memang dalam dunia kekristenan, ada
banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. Semua ditentukan oleh
kedaulatan Bapa.
Saat ini kita masuk kedalam ‘sangkakala keenam’ yang tertulis
dalam Wahyu 9:13, demikian, “Dan malaikat
yang keenam meniup sangkakala. Dan aku mendengar suatu suara dari keempat
tanduk mezbah emas di hadapan Elohim” (ILT). Kita tidak akan membahas
dengan rinci simbol2 yang digunakan ketika malaikat keenam meniup
sangkakalanya. Yang perlu kita perhatikan disini adalah ‘sumber suara’ yang
didengar oleh rasul Yohanes, yaitu suara yang bersumber dari keempat tanduk
mezbah emas. Jelas bahwa ini bukan suara yang berasal dari kegelapan, dari
dunia atau dari iblis. Suara ini bersumber dari mezbah dihadapan Elohim.
Karenanya, suara ini adalah suara pemulihan.
Mari kita kembali mengingat sifat dasar kitab Wahyu yang
merupakan pewahyuan pribadi Tuhan Yesus, dan bersifat positif (pemulihan),
tetapi diwahyukan dengan bahasa simbol. Simbol yang sangat perlu kita pahami
adalah ‘Langit dan Bumi Lama/pertama’ merupakan simbol dari semua manusia yang
telah jatuh kedalam dosa. Karenanya, simbol dari ‘Langit dan Bumi Baru’ adalah
semua manusia yang telah dipulihkan.
Didalam kitab Wahyu, segala sesuatu yang lama ‘dihancurkan’
supaya menghadirkan segala sesuatu yang baru. Itu sebabnya, diakhir kitab ini
Tuhan yang berdiam di takhtaNya berkata, “…Lihatlah,
Aku menjadikan segala sesuatu baru!...” (Wahyu 21:5). Kita harus ingat
bahwa pemulihan itu terkait dengan takhtaNya. Takhta disini tentu merupakan
simbol dari otoritasNya dan KerajaanNya. Dan salah satu fungsi dari suatu
takhta adalah menghakimi. Itu sebabnya, salah satu fungsi seorang raja Israel
adalah menghakimi. Tetapi kita harus ingat bahwa penghakiman Elohim itu
bersifat mengoreksi, disiplin, dan memulihkan. Perhatikan Yesaya 26:9, “…sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi,
maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”. Jadi, penghakiman Elohim
itu bersifat memulihkan agar manusia dapat belajar apa yang benar. Demikian
juga ‘penghancuran’ sesuatu yang lama adalah tindakan pemulihan agar datang
yang baru.
Baiklah kita perhatikan apa yang terjadi ketika sangkakala
keenam dibunyikan (Wahyu 9:13-21). Kita lihat terjadi peperangan yang
menyebabkan sepertiga manusia terbunuh (ayat 18). Namun, manusia lain yang
tidak terbunuh tidak bertobat juga (ayat 20-21). Jelaslah terlihat disini bahwa
tujuan “pembunuhan manusia” disini terkait dengan pertobatan. Manusia lama
perlu dimatikan agar terjadi pertobatan yang pada gilirannya menghadirkan
manusia baru. Inilah pekerjaan pemulihan yang dilakukan sangkakala keenam.
Mari kita bahas sedikit mengenai ‘pertobatan’. Banyak orang
Kristen berpikir bahwa pertobatan itu terkait hanya dengan perilaku dan
pemikiran yang berdosa saja. Tetapi, jika kita perhatikan pemberitaan Yohanes
Pembaptis dan juga Yesus, maka kita lihat bahwa manusia harus bertobat karena
KERAJAAN SORGA SUDAH DEKAT. Orang harus bertobat agar dapat menerima kerajaan
sorga. Pemberitaan Yohanes Pembaptis dan Yesus justru terutama ditujukan kepada
para pemimpin bangsa Israel, yaitu para ahli Taurat dan orang2 Farisi. Orang2
yang ‘beragama’ inilah yang paling harus bertobat agar dapat menerima kerajaan
sorga.
Pada akhirnya, kita lihat bahwa para agamawan ini tidak
bertobat (‘metanoeo’=merubah pikiran). Mereka tidak merubah konsep mereka
tentang Mesias. Mereka berpikir karena Mesias anak Daud, maka kerajaan Mesias
harus sama dengan kerajaan Daud yang jasmani itu. Sementara Yesus menegaskan
bahwa kerajaanNya bukanlah dari dunia ini, tetapi ada dalam dimensi sorgawi.
Para pemimpin agama Yahudi ini tidak bertobat dan karenanya membunuh Yesus
serta menganggap Ia sebagai penyesat. Sesungguhnya, pesan dari ‘sangkakala
keenam’ sangat perlu bagi orang2 beragama (termasuk beragama Kristen) agar
dapat menerima kerajaan sorga.
Kita masuk kepada ‘sangkakala ketujuh’, demikian tertulis, “Lalu malaikat yang ketujuh meniup
sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya:
‘Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan
Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya”. Ada beberapa hal
penting yang dicatat dalam pasal 10 dan 11 kitab Wahyu sebelum malaikat ketujuh
meniup sangkakalanya. Baiklah kita membahasnya.
Pertama, Dalam Wahyu 10:6-7, ada tertulis demikian, “… bahwa waktunya tidak akan lama lagi….rahasia
Elohim harus digenapi…” (ILT). Beberapa versi Alkitab menterjemahkan ‘tidak
ada penundaan lagi’ atau ‘waktunya tidak akan lama lagi’ seperti versi ILT
diatas. Sebenarnya, ungkapan Yunani, ‘chronos ouketi eimi’ harus
diterjemahkan ‘tidak ada waktu lagi’.
Maksudnya disini adalah ketika malaikat ketujuh meniup sangkakalanya,
maka rahasia Elohim genap, dan TIDAK ADA WAKTU LAGI.
Apa makna tidak ada waktu lagi? Waktu adalah sesuatu yang
diciptakan Elohim sebagaimana langit, bumi, hewan, manusia, dan ciptaan2 Elohim
lainnya. Waktu itu ada awalnya dan ada akhirnya. Dan akan ada saatnya dimana
waktu akan berhenti, dan tidak ada lagi. Didalam kota Yerusalem Baru, ditegaskan
bahwa, “…kota itu tidak memerlukan
matahari dan bulan…” (Wahyu 21:23). Matahari dan bulan diciptakan Tuhan
sebagai pengatur waktu (Kejadian 1:14). Dalam kota Yerusalem Baru (mempelai
Anak Domba) tidak diperlukan lagi matahari dan bulan, karena tidak ada lagi
waktu yang perlu diatur. Jadi, didalam dispensasi Langit dan Bumi Baru, TIDAK
ADA LAGI WAKTU. Juga tidak ada lagi maut yang merupakan upah dosa (Wahyu 21:4).
Kita sudah pernah berbicara mengenai pengertian ‘dimensi’,
dan sekarang perlu kita tegaskan lagi. Elohim berdiam didalam ‘dimensi kekal’,
dan Ia menciptakan tiga dimensi lagi, yaitu ‘dimensi sorga’, dimana Ia
meletakkan TakhtaNya, ‘dimensi bumi’ (ruang dan waktu), serta ‘dimensi bawah
bumi’ (alam maut), dimana orang2 yang telah menanggalkan tubuh jasmaninya
berada.
Ketika Elohim menciptakan ‘waktu’, maka segala sesuatu yang
berada dalam ‘waktu’ harus mengalami proses pertumbuhan. Tidak ada sesuatu yang
‘instan’ dalam konteks ‘waktu’. Bahkan jenis hidup yang dijalani oleh Elohim
(Yunani: ZOE), perlu bertumbuh ketika masuk kedalam konteks ‘waktu’. Inilah
pengertian orang yang percaya Yesus itu mendapat hidup kekal, dalam arti HIDUP
ZOE YANG MASUK KEDALAM KONTEKS WAKTU DAN PERLU BERTUMBUH. Banyak orang Kristen
mempunyai pengertian bahwa kekal adalah waktu yang selama-lamanya tanpa akhir.
Dari pengertian inilah muncul doktrin neraka kekal, dalam arti neraka
selama-lamanya tanpa akhir, dan juga orang yang percaya Yesus mendapat hidup
kekal, dalam arti hidup disorga nun jauh disana selama-lamanya. Pengertian ini
sangat kacau sekali.
Mari kita ambil satu contoh dari Injil Yohanes mengenai makna
hidup kekal yang diberikan kepada orang yang percaya Yesus. Yohanes 3:36,
menegaskan, “Barangsiapa percaya kepada
Anak, ia beroleh hidup yang kekal…”. Ungkapan Yunani yang diterjemahkan
‘hidup yang kekal’ adalah ‘zoe aionios’. Istilah Yunani ‘aion’
adalah zaman atau waktu, yang ada awalnya dan ada akhirnya. Jadi, makna ‘hidup
yang kekal’ (‘zoe aionios’) adalah HIDUP JENIS ELOHIM (ZOE) YANG MASUK
KEDALAM KONTEKS WAKTU. Dan, hidup zoe ini perlu bertumbuh. Pada kenyataannya,
tidak semua orang Kristen (lahir baru) mengalami pertumbuhan yang seharusnya.
Kalau demikian, apa makna ‘tidak ada lagi waktu’ yang terjadi
ketika malaikat ketujuh meniup sangkakalanya. Artinya, umat pilihanNya, yang
didalamnya ada hidup zoe (hidup jenis Elohim), bertumbuh sedemikian dan
mencapai kesempurnaannya. Pada saat sangkakala ketujuh dibunyikan, rahasia
Elohim genap, tidak ada lagi waktu, dan UMAT PILIHANNYA MENGENAL ELOHIM DENGAN
SEMPURNA KARENA HIDUP ZOE YANG SUDAH BERTUMBUH SEMPURNA. Yesus menegaskan
tujuan Elohim memberikan hidup kekal itu, yaitu untuk mengenal Bapa,
satu-satunya Elohim yang benar, dan mengenal Yesus yang telah diutusNya
(Yohanes 17:3). Inilah rahasia/misteri Elohim yaitu mengenal Dia dengan benar,
dan bukan hidup disorga nun jauh disana serta nyanyi selama-lamanya, seperti
yang umum dipercaya dalam dunia kekristenan.
Kita masih berbicara mengenai hal2 penting yang terjadi
sebelum malaikat ketujuh meniup sangkakalanya. Sebelumnya, kita sudah berbicara
mengenai makna ‘tidak ada waktu lagi’ (Wahyu 10:6-7). Berikutnya, yang kedua,
kita akan membahas beberapa hal yang terjadi pada pasal 10. Mari kita
perhatikan beberapa ayat dalam pasal 10 ini, demikian, “Dan aku melihat seorang malaikat lain yang kuat turun dari sorga… Dalam
tangannya ia memegang sebuah gulungan kitab kecil yang terbuka… Tetapi pada
waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh…genaplah keputusan rahasia
Allah…katanya kepadaku: Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu
terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu… Maka
ia berkata kepadaku: ‘Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum
dan bahasa dan raja” (Wahyu 10:1-11, LAI).
Yang disimbolkan oleh ‘malaikat lain yang kuat’ disini tentu
adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Ditegaskan bahwa malaikat ini berselubung
awan (bentuk tunggal). Diseluruh Alkitab, jika istilah awan muncul dalam bentuk
tunggal, maka itu menunjuk kepada awan kemuliaan Tuhan, dan jika bentuk jamak,
maka itu berarti saksi2. Selanjutnya, diatas kepalanya ada ‘pelangi’, yang
menyatakan bahwa malaikat ini berpegang teguh kepada ‘perjanjian’. Kemudian,
wajahnya seperti matahari, dimana Tuhan adalah matahari kebenaran (Maleakhi
4:2). Sementara kakinya bagaikan tiang api yang menginjak kebumi dan laut,
dimana ini berarti ia mempunyai otoritas atas segalanya, serta akan menyucikan
(“api”) segala sesuatunya. Dan akhirnya, ia memegang sebuah gulungan kitab
kecil yang terbuka. Tentu, ‘kitab kecil yang terbuka’ ini tidak lain adalah
kitab yang hanya dapat dibuka oleh Anak Domba yang berisi pewahyuan pribadiNya
serta karya penebusanNya atas segala sesuatu.
Ditegaskan pada ayat2 kita diatas bahwa ketika malaikat
ketujuh meniup sangkakalanya, maka rahasia/misteri Elohim genap. Paulus
menjelaskan perihal rahasia Elohim ini demikian, “dengan mengungkapkan kepada kita rahasia kehendakNya… untuk merangkum
segala sesuatu di dalam Kristus, baik hal-hal yang didalam surga maupun hal-hal
yang diatas bumi…” (Efesus 1:9-10, ILT). Merangkum segala sesuatu dalam
Kristus disini adalah pemulihan seluruh ciptaan. Inilah rahasia Elohim yang
pasti genap ketika malaikat ketujuh meniup sangkakalanya.
Hal terakhir yang ditegaskan dalam pasal 10 adalah suatu
perintah untuk memakan ‘kitab yang terbuka’ dan untuk bernubuat kepada banyak
bangsa, kaum, bahasa, dan raja. Memakan kitab disini tentu berarti harus
mencerna ‘pewahyuan pribadi Kristus dan karyaNya’ sedemikian sehingga kita
tidak hanya memiliki ‘pengetahuan akal’ saja, tetapi telah “menyatu” dengan
pribadi Kristus serta karya penebusanNya. Penyatuan ini memang manis “dimulut
kita”, tetapi menjadi pahit “diperut kita”. Artinya, pewahyuan kemenangan salib
Kristus memang terasa manis bagi kita, namun ketika dijalankan dalam kehidupan
kita, maka salib Kristus bekerja menghancurkan segala sesuatu yang lama dalam
diri kita, dan membangun segala sesuatu yang baru. Pengalaman ini akan terasa
pahit bagi kita. Tetapi oleh kasih karuniaNya, kita harus mengalaminya dahulu,
baru kemudian kita bernubuat kepada banyak orang.
‘Pengetahuan akal’ itu ada tempatnya dalam kehidupan
kerohanian seseorang, tetapi jika hanya ‘pengetahuan akal’ saja, maka orang
menjadi sombong seperti ditegaskan Paulus dalam suratnya kepada jemaat
Korintus. Bahkan pada umumnya, dalam dunia kekristenan, ‘pengetahuan akal’
dapat diperjual-belikan melalui lembaga2 resmi, buku2, atau hal2 lainnya.
Tetapi, umat pilihanNya akan bernubuat setelah mengalaminya tanpa
memperjual-belikan pewahyuan Kristus.
Kita langsung masuk kedalam Wahyu 11:1, untuk membahas
‘pengukuran’ Bait Suci (tempat kudus), demikian, “Dan kepadaku diberikan sebatang buluh serupa tongkat pengukur dan
malaikat itu berdiri sambil berkata, ‘Bangunlah dan ukurlah tempat kudus
Elohim, dan mezbah-Nya, dan mereka yang menyembah di dalamnya.” (ILT).
Disini kita lihat bahwa rasul Yohanes diperintahkan untuk
mengukur Tempat Kudus Elohim, mezbah, dan orang2 yang menyembah didalamnya,
tetapi harus dengan ‘tongkat pengukur’ yang diberikan malaikat kepadanya. Makna
‘mengukur’ berarti menilai atau membandingkan dengan suatu tolok ukur (standard
tertentu). Jika seseorang berkata panjang suatu tali itu 2 meter, maka hal ini
berarti ia telah membandingkan panjang tali itu dengan suatu ‘tolok ukur
tertentu’ yang sehari-hari biasa kita sebut ‘meter-an standard’. Rasul Yohanes
tidak boleh mengukur Tempat Kudus (Bait Suci) dengan ukurannya sendiri atau
dengan suatu ukuran lain yang bukan diberikan kepadanya oleh malaikat.
Keluaran 25:8, menegaskan, “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam
ditengah-tengah mereka”. Elohim yang adalah ‘Keluarga Sejati’ (Bapa, Anak
dan Roh) itu selalu mencari “tempat tinggal atau rumah”, dimana Ia akan berdiam
didalamnya. Tetapi, rumahNya haruslah sesuai dengan standard yang ditetapkan
oleh Elohim sendiri. Didalam konteks PL, rumah Elohim itu merupakan bangunan
fisik yang disebut Bait Suci. Tetapi dalam konteks PB, rumah Tuhan adalah
gereja, yaitu orang2 percaya dimana Roh Elohim berdiam didalam batin umatNya (Efesus
2:20-22). Baik Bait Suci PL sebagai simbol, maupun gereja sebagai realita
kediaman Elohim harus dibangun SESUAI STANDARD ELOHIM. Tidak boleh seseorang
membangun Bait Suci (simbol), maupun gereja (realita), menurut standardnya
sendiri, atau menurut ukurannya sendiri.
Perkara membangun rumah Tuhan, baik Bait Suci sebagai simbol,
maupun gereja sebagai realitanya, bukanlah soal yang remeh. Karena pada
waktuNya, Tuhan akan mengukur apakah rumahNya dibangun sesuai standard yang
ditetapkan, atau dibangun sesuai dengan standard lain. I Petrus 4:17,
menegaskan, “Sebab inilah saatnya untuk
memulai penghakiman dari bait Elohim, dan jika pertama-tama dari kita…”
(ILT). ‘Menghakimi’ sama maknanya dengan ‘mengukur’, yaitu menilai dan
membandingkannya dengan suatu standard tertentu. Dan, yang pertama-tama Tuhan
ukur adalah rumahNya sendiri.
Sebelum kita lanjutkan, mari kita menutup bagian ini dengan
suatu pertanyaan yang terkait dengan kondisi dalam dunia kekristenan. Dalam
dunia kekristenan, sudah biasa orang menyamakan denominasi itu dengan gereja.
Kalaupun beberapa pemimpin mengetahui bahwa denominasi itu bukan gereja, namun
umumnya, mereka seolah-olah mengabaikannya. Mereka terus membangun suatu
denominasi, seolah-olah Tuhan tidak akan pernah ‘mengukur’ rumahNya kelak.
Apakah tolok ukur (standard) dari rumahNya? Sesungguhnya,
tolok ukur dari rumahNya adalah pribadi Yesus Kristus, karena Yesus Kristus
adalah Bait Suci Elohim. Tetapi, gereja mula-mula yang dilahirkan pada hari
raya Pentakosta, juga merupakan ‘tolok ukur’ bagi mereka yang terlibat dalam
pembangunan gereja. Oleh kasih karuniaNya, umat pilihan Tuhan tentu tidak
membangun gereja menurut ‘tolok ukurnya sendiri’, tetapi menurut ‘tolok ukur’
yang diberikan Tuhan kepadanya, sama seperti yang terjadi pada rasul Yohanes.
Kita teruskan pembahasan kita dari Wahyu 11:1, dan saat ini
kita akan membahas mengenai ‘mezbah Tuhan’ yang juga harus diukur. Wahyu 11:1,
tertulis demikian, “Dan kepadaku
diberikan sebatang buluh serupa tongkat pengukur dan malaikat itu berdiri sambil
berkata, ‘Bangunlah dan ukurlah tempat kudus Elohim, dan mezbah-Nya, dan mereka
yang menyembah di dalamnya.” (ILT).
‘Mezbah Tuhan’ adalah tempat seseorang untuk mempersembahkan
korban kepada Tuhan. Pada waktuNya, Ia akan mengukur ‘mezbahNya’ sesuai dengan
standardNya (tolok ukurNya). Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa sejak
dari zaman Kain dan Habel, telah ada 2 ‘mezbah’. Kita tahu bahwa Tuhan
“mengukur” dua mezbah ini. Setelah Tuhan “mengukurnya”, maka ‘mezbah Kain’
ditolak, dan ‘mezbah Habel’ diterima. Kita tidak membahas hal ini lebih jauh
karena telah ada tulisan dengan judul ‘Pelayanan Diluar Perkemahan’. Bagi sdr/i
yang berminat dapat kami kirimkan bentuk pdf-nya.
Kita langsung masuk kepada zaman Musa dimana terjadi
penyembahan ‘Anak Lembu Emas’ ketika Israel berada di gunung Sinai (Keluaran
32-33). Setelah kasus ini, maka Musa mengambil kemah dan membentangkannya
diluar perkemahan, disebut ‘Kemah Pertemuan’, dan setiap orang yang mau mencari
Tuhan harus keluar dari perkemahan Israel menuju ‘Kemah Pertemuan’ (Keluaran
33:7).
Dalam dunia kekristenan juga ada dua ‘mezbah’, yang satu ada
didalam dunia kekristenan, dimana mayoritas umat Tuhan mempersembahkan korban,
dan yang kedua, ada diluar dunia (sistem) kekristenan. Ibrani 13:10-13, menegaskan,
“Kita mempunyai suatu mezbah… itu jugalah
sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang… Karena itu, marilah kita
pergi kepadaNya di luar perkemahan dan menanggung kehinaanNya”. Pada waktu
kedatangan Yesus (biasa disebut ’kedatangan kedua’), maka Yesus akan “mengukur”
kedua ‘mezbah’ ini.
Untuk memahami “dua mezbah” ini, perlu kita tegaskan
perbedaan DIKASIHI Bapa disorga, dan BERKENAN kepada Bapa disorga, sebab dalam
dunia kekristenan, umumnya, diberkati Tuhan itu merupakan BUKTI bahwa seseorang
berkenan kepadaNya. Matius 3:17, menegaskan perbedaan ini, “…Inilah Anak-Ku
yang KUKASIHI, kepada-Nyalah Aku BERKENAN”. Apakah Bapa disorga hanya mengasihi
Yesus, AnakNya yang tunggal? Yohanes 3:16 menegaskan bahwa Bapa disorga
mengasihi dunia ini (seluruh manusia), yang berarti Bapa disorga telah
memberkati semua orang. Sebab, tidak mungkin Bapa disorga mengasihi orang namun
mengutuknya juga. Jika didalam dunia ini ada penyakit, kelaparan, dan kematian,
itu bukan disebabkan Bapa tidak mengasihi dunia, tetapi disebabkan dunia telah
jatuh kedalam dosa. Jadi Bapa disorga mengasihi dan memberkati semua orang,
tetapi Ia tidak berkenan kepada jalan semua orang. Bapa disorga berkenan kepada
Yesus Kristus karena Yesus adalah tolok ukurNya, seperti telah kita tegaskan
sebelumnya Jadi, perihal berkenan kepada Bapa atau tidak DITENTUKAN OLEH SUATU
TOLOK UKUR.
Ketika Musa memukul batu, maka terjadilah mujizat luar biasa,
dimana air keluar begitu berlimpah sehingga bangsa Israel mendapatkan air.
Tetapi, Bapa disorga tidak BERKENAN kepada Musa pada waktu itu, sehingga Musa
tidak dapat masuk tanah Perjanjian. Apakah Bapa tidak mengasihi Musa? Tentu
Bapa sangat mengasihi dan memberkati pelayanan Musa, serta memakainya luar
biasa, tetapi Bapa tidak berkenan ketika Musa memukul batu, karena tidak sesuai
“tolok ukurNya”.
Dunia kekristenan juga sangat dikasihi dan diberkati Bapa,
tetapi apakah Bapa berkenan atau tidak kepada “mezbah” dunia kekristenan, akan
ditentukan kelak pada kedatangan Yesus. Didalam Matius 7:21-23, ada banyak
orang bernubuat, mengusir setan, mengadakan banyak mujizat DEMI NAMA TUHAN
(tentu semua ini orang Kristen), tetapi Yesus tidak berkenan. Mengapa? Ayat 23
menegaskan penyebabnya, yaitu mereka melakukan pelanggaran aturan main kerajaan
sorga (‘anomia’=Lawlessness=hukum
kerajaan). Jadi, yang menentukan kelak adalah hukum atau ‘tolok ukur’
kerajaan sorga.
Kita masih membahas Wahyu 11:1, dan saat ini kita akan
membahas mengenai ‘mereka yang menyembah didalam Bait Suci’. Wahyu 11:1,
tertulis demikian, “Dan kepadaku
diberikan sebatang buluh serupa tongkat pengukur dan malaikat itu berdiri
sambil berkata, ‘Bangunlah dan ukurlah tempat kudus Elohim, dan mezbah-Nya, dan
mereka yang menyembah di dalamnya.” (ILT).
Perhatikan ayat kita diatas bahwa yang akan “diukur” adalah
orang2 yang menyembah di Bait Suci, dan bukan bentuk2, ritual2, atau jenis2
korban bakarannya. Banyak orang berpendapat ketika Kain dan Habel
mempersembahkan korban, maka Elohim berkenan kepada Habel karena Habel
mempersembahkan korban berupa anak sulung kambing domba yang melambangkan
pengorbanan Kristus, sementara Kain mempersembahkan hasil tanah. Tetapi, Ibrani
11:4, menegaskan, “Dengan iman Habel
telah mempersembahkan kepada Elohim kurban yang lebih baik daripada Kain…”.
Jadi, iman Habel yang menjadikan Elohim berkenan kepadanya, dan bukan jenis
korbannya. Demikian juga dalam zaman Musa dimana Yahweh selalu melihat apakah
ada iman didalam pelayan2Nya yang melakukan ritual2, korban2 dan aturan2
Taurat. Jika ada iman, maka Yahweh berkenan, sebaliknya jika tidak ada iman dan
orang2 hanya menjalankan ritual2 korban saja, maka tentu Yahweh tidak berkenan.
Dalam konteks Perjanjian Baru, Elohim berkenan dengan
penyembah2 yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23). Makna
menyembah dalam roh adalah mengikuti pimpinan Roh Kudus didalam batin kita
dalam kehidupan sehari-hari. Sementara makna menyembah dalam kebenaran atau
realita, artinya menyembah tidak dalam bentuk2 luaran, aturan2 luaran, simbol2,
atau lambang2. Realita dari semua simbol/bayangan dalam Perjanjian Lama adalah
Kristus (Kolose 2:17), karenanya, menyembah dalam realita adalah menyembah
dalam Kristus yang adalah kebenaran.
Sebagai penutup bagian ini, kita perlu memperhatikan nubuat
Paulus mengenai orang2 yang beribadah dihari-hari terakhir, demikian, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah
mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya…” (II Timotius
3:5). Alkitab versi ILT menerjemahkan demikian, “sambil mengenakan suatu bentuk
kesalehan tetapi telah memungkiri kuasanya…”. Ayat ini berbicara mengenai
orang2 yang menjalankan ibadah mereka dengan rutin, setia, dan tekun, tetapi
hanya merupakan bentuk kesalehan luaran saja, dan tidak bersifat batiniah.
Dalam dunia kekristenan, bentuk kesalehan luaran sudah menjadi perkara yang
biasa, sebab demikianlah memang dunia keagamaan itu. Agama selalu memperhatikan
perkara2 luaran, tetapi Tuhan selalu memperhatikan perkara2 batiniah.
Gereja di Laodikia jatuh kedalam bentuk2 kesalehan luaran
sehingga mereka menilai (mengukur) diri sendiri sebagai orang yang kaya,
memperkayakan diri, dan tidak kekurangan apa-apa. Namun, ketika Tuhan menilai
(mengukur) mereka, maka didapatilah mereka sebagai orang yang melarat, malang,
miskin, buta, dan telanjang. Demikianlah yang terjadi jika seseorang
menjalankan ibadahnya secara luaran. Pada waktuNya, semua orang yang menyembah
didalam Bait Suci akan diukurNya.
Kita masuk kedalam Wahyu 11:2, demikian, “Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang
di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada
bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua
bulan lamanya”.
Kita sudah membahas bagaimana Elohim memerintahkan rasul
Yohanes untuk mengukur Bait Suci, mezbah, dan orang2 yang beribadah didalamnya
dengan suatu tolok ukurNya sendiri. Kita juga sudah tegaskan bahwa tolok
ukurNya adalah Yesus Kristus, dan juga Alkitab, khususnya firman mengenai
gereja mula-mula. Ada satu hal lagi yang merupakan tolok ukurNya, yaitu hukum
kerajaan sorga (Matius 7:21-23). Orang2 yang melayani Tuhan, bahkan dengan
bernubuat, mengusir setan dan melakukan banyak mujizat demi namaNya, pada
kedatanganNya tetap harus “diukur” oleh hukum kerajaan sorga.
Saat ini kita akan membahas mengenai ‘pelataran Bait Suci’
yang ternyata tidak perlu diukur karena telah diberikan kepada bangsa-bangsa
lain untuk diinjak-injak. Mengapa tidak perlu diukur lagi sebagaimana Bait
Suci, mezbah, dan orang2 yang beribadah didalamnya. Menarik untuk diperhatikan
bahwa Bait Suci terdiri dari tiga bagian, yaitu pelataran luar (halaman Bait
Suci), ruang Kudus, dan ruang Maha Kudus. Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus
inilah yang disebut Bait Suci, sementara pelataran (halaman) Bait Suci tidak
disebut Bait Suci, walaupun ia termasuk bagian dari Bait Suci secara
keseluruhan. Pada pelataran atau halaman Bait Suci inilah Yesus mendapati
orang2 berjualan hewan2 korban, karena memang dipelataran inilah korban
dipersembahkan diatas mezbah tembaga (Matius 11:12; Markus 11:15).
Kita dapat melihat mengapa pelataran Bait Suci tidak perlu
diukur lagi karena di pelataran inilah terjadi ‘perdagangan’, dimana Yesus
mengatakan bahwa Bait Suci sudah menjadi ‘sarang penyamun’. Jika Bait Suci
sudah menjadi sarang penyamun, dan Yesus juga sudah langsung bertindak dengan
mengusir para pedagang dihalaman Bait Suci, maka tidak heran jika pelataran
Bait Suci tidak perlu diukur lagi. Kerusakan yang diakibatkan perdagangan
didalam Bait Suci sudah langsung merubah sifat dasar Bait Suci yang awalnya
adalah rumah doa menjadi sarang penyamun. Itu sebabnya, pelataran Bait Suci
diserahkan kepada bangsa-bangsa lain untuk diinjak-injak.
Baiklah kita ingat bahwa Bait Suci PL dan peralatannya
merupakan simbol dari pengalaman2 rohani umat Perjanjian Baru (gereja). Secara
garis besar pengalaman rohani gereja dapat dibagi menjadi tiga. Pengalaman
keselamatan-lahir baru (Mezbah Tembaga dan Bejana Pembasuhan). Pengalaman hidup
dalam pengabdian dan kepenuhan Roh (Kaki pelita emas, Meja roti sajian, Mezbah
dupa). Pengalaman penyatuan dengan Elohim (Tabut perjanjian). Perdagangan dalam
Bait Suci hanya dapat dilakukan dipelataran Bait Suci, dan tidak mungkin
terjadi diruang Kudus apalagi di ruang Maha Kudus.
Pada umumnya, orang-orang Kristen yang jatuh kedalam
perdagangan dalam pelayanannya, ia masih dalam tingkat pengalaman keselamatan,
walaupun tidak menutup kemungkinan orang2 di tingkat yang lebih tinggi juga
melakukan perdagangan di Bait Suci. Bahkan, jika kita melihat salah satu ajaran
sesat dalam Wahyu 2-3, yaitu ajaran Bileam, maka kita tahu bahwa perdagangan
didalam gereja justru dilakukan oleh para pemimpin, yang barangkali mempunyai
pengalaman rohani yang lebih daripada orang Kristen umumnya. Kita tidak
membahas lebih jauh ajaran Bileam, karena sudah membahasnya ditempat lain.
Jadi, orang2 kristen yang melakukan perdagangan dalam pelayanannya tidak perlu
“diukur” lagi, tetapi bukan berarti tidak dihakimi, melainkan telah dihakimi
dengan menyerahkannya kepada “bangsa-bangsa lain untuk diinjak-injak”.
Kita masuk kedalam Wahyu 11:2-3, dimana kita akan fokus
kepada ayat 3, karena ayat 2 telah kita bahas sebelumnya, demikian tertulis,
ayat (2) “Tetapi kecualikan pelataran
Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah
diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci
empat puluh dua bulan lamanya. (3) Dan Aku akan memberi tugas kepada dua
saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh
hari lamanya”.
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dari kedua ayat
diatas. Pertama, gereja, dalam arti “pelataran Bait Suci” yang penuh dengan
perdagangan (ajaran Bileam), telah diserahkan untuk diinjak-injak selama 42
bulan (3.5 tahun), yang biasa disebut masa Kesusahan Besar. Karena adanya
perdagangan yang membuat gereja kehilangan “rasa asinnya” sebagai garam, maka
dibuang dan diinjak orang (Matius 5:13).
Kedua, ayat 3 dimulai dengan istilah Yunani ‘kai’
(conjunction), yang menghubungkan kalimat pada ayat 2 dan ayat 3, karenanya
pada masa Kesusahan Besar inilah Elohim memberi tugas kepada dua saksiNya.
Rentang waktu kedua saksiNya bernubuat juga kurang-lebih sama dengan rentang
waktu gereja “pelataran Bait Suci” diinjak-injak orang, yaitu 3.5 tahun, jika
kita mengambil 1 bulan sama dengan 30 hari.
Ketiga, siapakah simbol dari “dua saksi” yang dimaksud
disini? Angka 2 dalam Alkitab berbicara mengenai saksi2 Tuhan, sehingga kita
jangan menafsirkan “dua saksi” ini sama dengan 2 orang saja. Ayat 4 menegaskan
bahwa 2 saksi ini juga disebut 2 kaki dian, dimana kaki dian merupakan simbol
gereja (banyak orang). Jadi, kedua saksi ini adalah komunitas (kelompok) yang
diberi tugas oleh Elohim dimasa Kesusahan Besar.
Keempat, kelompok saksi Tuhan ini memiliki kuasa pelayanan
yang serupa dengan kuasa pelayanan yang dimiliki Musa dan Elia. Kuasa pelayanan
Elia adalah menutup langit sehingga tidak turun hujan, dan kuasa pelayanan Musa
adalah mengubah air menjadi darah ketika di Mesir (11:6). Pelayanan Musa
membawa umat Tuhan keluar dari Mesir (dunia), dan pelayanan Elia membawa umat
Tuhan dibebaskan dari penyembahan berhala.
Kelima, jika kita perhatikan ayat2 dalam Maleakhi 4:6; Matius
17:10-13, dan ayat2 lainnya, maka kita tahu bahwa Yohanes Pembaptis memiliki
kuasa Elia untuk memulihkan segala sesuatu, dan memberi jalan kepada kedatangan
Yesus. Jadi, kelompok saksi Tuhan dalam Wahyu 11 adalah kelompok yang
memulihkan segala sesuatu, dan memberi jalan untuk kedatangan hari Tuhan yang
besar itu.
Keenam, Ketika Yesus melayani dibumi ini sebagai “biji
gandum” yang jatuh ketanah, maka kelak akan datang ‘banyak buah’ yang juga
melayani seperti Yesus dibumi ini (Yohanes 12:24). Dan, sebagaimana satu orang
Yohanes Pembaptis memberi jalan kepada kedatangan satu orang Yesus (Putera
Elohim), karenanya kedua saksi Tuhan (kelompok) juga akan menghadirkan
datangnya putera2 Elohim dibumi, dalam Wahyu 12 yang kelak akan kita
bahas.
Ketujuh, perhatikan bahwa kelompok saksi2 Tuhan ini akan
dibunuh setelah selesai bernubuat (Wahyu 11:7). Dan, sebagaimana Yesus juga
dibunuh dan bangkit, demikian juga kelompok saksi2 Tuhan ini akan dibunuh dan
bangkit lagi (Wahyu 11:11). Kelompok saksi2 Tuhan ini dapat dibunuh karena
mereka masih mengenakan tubuh jasmani, demikianlah makna Wahyu 11:3, “…bernubuat sambil berkabung…”. Alkitab
versi ILT menterjemahkannya, “…mengenakan pakaian kabung”.
Sebagai kesimpulan bagian ini kita lihat bahwa ketika gereja
yang penuh perdagangan dinjak-injak oleh bangsa2 lain pada masa Kesusahan
Besar, maka Tuhan mengutus kelompok saksi2Nya untuk bernubuat, dan bahkan akan
menghadirkan tampilnya putera2 Elohim, seperti diuraikan dalam Wahyu pasal 12.
Kita masuk kepada malaikat ketujuh yang meniup sangkakalanya,
dimana rahasia Elohim akan digenapi (Wahyu 11:15-19; 10:7). Kita akan mengutip
beberapa ayat saja terkait sangkakala ketujuh ini yang tertulis dalam Wahyu
11:15-19, demikian, “Dan malaikat yang
ketujuh meniup sangkakala… ‘Kerajaan-kerajaan di dunia ini menjadi milik Tuhan
kita dan Mesias-Nya dan Dia akan memerintah sampai selama-lamanya. Dan kedua
puluh empat tua-tua yang sedang duduk di takhtanya… menyembah Elohim… saatnya
orang-orang mati dihakimi, dan memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, para nabi…
dan menghancurkan mereka yang menghancurkan bumi” (ILT). Ada beberapa hal
yang perlu kita perhatikan ketika sangkakala ketujuh ini ditiup.
Pertama, ayat 15 jelas menegaskan bahwa rahasia Elohim adalah
mengambil alih kerajaan2 dibumi (alam semesta) serta menegakkan kerajaanNya
selama-lamanya. Ungkapan ‘selama-lamanya’ diterjemahkan dari ungkapan Yunani, ‘tous
aionas ton aionon’, yang seharusnya diterjemahkan ‘zaman dari segala zaman’,
sebab ‘aion’ itu adalah zaman (waktu). Telah kita bahas dalam tulisan
ini bahwa ketika sangkakala ketujuh ditiup, maka akan ada saat dimana tidak ada
lagi waktu (Wahyu 10:6). Artinya, ketika kerajaan Yesus dan yang diurapiNya
(gereja pemenang) telah menaklukkan maut (musuh terakhir), maka Yesus akan
menyerahkan kerajaanNya kepada Bapa sehingga Bapa menjadi semua didalam semua
(I Korintus 15:21-28). Puncak dari segala zaman atau zaman dari segala zaman dimana
tidak ada lagi waktu, digenapi dalam zaman Langit dan Bumi Baru (Wahyu 21:23).
Kedua, ditegaskan dalam ayat2 kita diatas bahwa ketika
sangkakala ketujuh ditiup, maka kedua puluh empat tua-tua menyembah. Telah kita
bahas juga tentang ke-24 tua-tua dan 4 makhluk, bahwa mereka adalah raja2 dan
imam2 yang akan memerintah dibumi (Wahyu 5:10). Gereja pemenang akan berfungsi
sebagai raja2 dan imam2 untuk memerintah bersama Yesus dibumi dengan maksud
menaklukkan segala sesuatu, termasuk musuh terakhir, yaitu maut sebagai upah
dosa, sehingga di alam semesta ini tidak ada lagi bekas2 dosa. Karenanya, Bapa
dapat mengekspresikan kemuliaanNya didalam semua dan melalui semua ciptaanNya.
Inilah makna Bapa menjadi semua didalam semua.
Ketiga, ketika sangkakala ketujuh ditiup, maka saatnya orang2
mati dihakimi. Kerajaan Yesus dan para pemenangNya akan menjalankan penghakiman
Elohim dengan tujuan agar penduduk bumi mengenal kebenaran (Yesaya 26:9).
Demikian juga para nabi dan hamba2Nya akan mendapat upah.
Keempat, Pada saat sangkakala ketujuh ditiup, maka mereka
yang menghancurkan bumi akan dihancurkan. Siapakah mereka yang menghancurkan
bumi? Wahyu 19:2, menjelaskan kepada kita siapakah mereka yang menghancurkan
bumi, demikian tertulis, “sebab benar dan adil segala penghakimanNya karena
Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan
percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hambaNya atas
pelacur itu”. Ditegaskan dalam ayat ini bahwa pelacur besar itulah yang
merusakkan bumi. Saat ini kita tidak menjelaskan dengan rinci siapa ‘pelacur
besar’ itu, karena kita belum sampai pada pasal 19. Tetapi dalam pasal 17-18,
jelas diuraikan bahwa pelacur besar itu adalah “gereja/perempuan pelacur” (Babel)
yang memerintah dibumi.
Kita sudah membahas dengan ringkas bagaimana rahasia Elohim
digenapi ketika sangkakala ketujuh ditiup, dimana pemerintahan dunia ini
diserahkan kepada Yesus dan para pemenangNya (Wahyu 11:15). Pasal-pasal
selanjutnya (12 s/d 22) merupakan penjelasan2 dan detail/rincian dari apa yang
terjadi ketika sangkakala ketujuh ditiup. Sebagai contoh, ketika sangkakala
ketujuh ditiup, maka tidak ada lagi waktu, dan hal ini dijelaskan dengan rinci
dalam zaman Langit dan Bumi Baru (Wahyu 21:23).
Kita akan masuk kedalam Wahyu 12:1, demikian, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit:
Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan
sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya”. Untuk memahami
ayat kita diatas, kita harus kembali mengingat sifat dasar kitab Wahyu, yaitu
pewahyuan pribadi Yesus Kristus dan gerejaNya dengan bahasa simbol.
Menggambarkan siapakah simbol/tanda ‘perempuan’ ini?
Diseluruh Alkitab, ‘perempuan’ selalu menjadi simbol bagi
gereja atau mempelai Kristus, tetapi dengan karakteristik berbeda. Kita tahu
bahwa Adam merupakan gambaran Yesus Kristus (Roma 5:14). Karenanya, Hawa
merupakan gambaran gereja sebagai mempelai Kristus. Hawa merupakan gambaran
gereja yang ‘berasal’ dari Kristus, karena Hawa diciptakan dari Adam. Demikian
juga Asnat anak Potifera yang menjadi isteri Yusuf merupakan gambaran dari
gereja yang berasal dari dunia (“Mesir”). Abigail juga merupakan gereja sebagai
prajurit Kristus, karena Daud adalah seorang pahlawan (man of war). Demikianlah
setiap perempuan dalam Alkitab merupakan lambang/gambaran dari gereja dengan
karakteristik tertentu.
Dalam kitab Wahyu ada tiga perempuan yang juga menjadi simbol
dari gereja dengan karakteristiknya masing-masing. Yang pertama, perempuan pada
ayat kita diatas. Kedua, perempuan pelacur yang diuraikan dalam Wahyu 17-18.
Selanjutnya, perempuan yang disebut mempelai Anak Domba (Wahyu 21). Semua
perempuan ini menggambarkan gereja dengan berbagai karakteristiknya.
Kita tidak membahas ‘perempuan pelacur’ dan ‘mempelai Anak
Domba’ saat ini, tetapi untuk memperjelas perempuan Wahyu 12 diatas, kita akan
membandingkan dua ciri tertentu saja dengan perempuan pelacur dalam Wahyu
17-18. Pertama, perempuan Wahyu 12 ada di “langit”, sementara perempuan pelacur
“duduk diatas seekor binatang” (Wahyu 17:3). Sekalipun perempuan Wahyu 12 ada
dibumi, namun ia tidak dapat dilihat mata jasmani, sebab ia berada di “alam
sorgawi”, dan hanya Tuhan yang melihatnya. Sementara itu, perempuan Wahyu 17
ditopang oleh “binatang” yang didalam kitab Wahyu merupakan simbol pemerintahan
manusia. Jadi, perempuan pelacur ini adalah gereja yang ditopang oleh sistem
pemerintahan manusia. Itu sebabnya, perempuan pelacur ini juga mendapat simbol
“kota besar” Babel, dimana ada seorang “Nimrod” yang mendirikan dan mengatur
gereja ini (Wahyu 17:18; 18:2).
Sebagai perbandingan, Yerusalem Baru (mempelai Anak Domba)
itu adalah “kota kudus”, sementara perempuan pelacur itu “kota besar”. Memang
perempuan pelacur ini merupakan gereja mayoritas (besar) karena ia juga “duduk
ditempat yang banyak airnya” (Wahyu 17:1). Kita tahu bahwa air yang banyak itu
adalah lautan (manusia). Dalam dunia kekristenan, perempuan pelacur ini adalah
gereja ‘besar’ dan merupakan mayoritas.
Kedua, seperti perawan Maria yang melahirkan Yesus, Putera
Elohim, demikian juga perempuan Wahyu 12 melahirkan putera2 Elohim yang akan
menggembalakan semua bangsa (Wahyu 12:5). Sementara itu perempuan Wahyu 17
disebut pelacur, karena menerima pemerintahan Ilahi dan juga menerima
pemerintahan manusia; menerima “benih” ajaran Kristus, tetapi juga menerima
“benih” ajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus, sebagaimana juga pelacur yang
menerima “benih” dari banyak pria. Tidak kebetulan bahwa perempuan pelacur ini
mendapat simbol Babel, karena makna istilah Babel adalah kacau atau campur
aduk.
Kita masih membahas simbol ‘perempuan’ dalam Wahyu 12:1,5
demikian, “Maka tampaklah suatu tanda
besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan
dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya…
Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua
bangsa dengan gada besi…”.
Mari kita memberi makna terhadap simbol matahari, bulan dan
bintang, yang dikaitkan dengan seorang perempuan (gereja). Ditegaskan bahwa
perempuan ini ‘berselubung’ matahari, yang artinya perempuan ini dikuasai
sepenuhnya oleh ‘matahari’. Dalam Maleakhi 4:2, menyatakan, “Tetapi bagi kamu yang takut akan Nama-Ku,
surya kebenaran akan terbit…” (ILT). Ayat ini berbicara bagi umat yang
takut akan nama Tuhan, surya kebenaran (matahari kebenaran) akan terbit
baginya. Surya kebenaran sejati tentulah berbicara tentang Kristus. Karenanya,
perempuan (gereja) yang takut akan nama Tuhan akan “diselubungi” oleh Kristus.
Gereja (umat) yang takut akan nama Tuhan dikuasai oleh Kristus, dipimpin, dan mengikuti
Kristus sepenuhnya.
Selanjutnya, dinyatakan bahwa perempuan ini menginjak
‘bulan’. Kita tahu bahwa ‘bulan’ tidak memiliki terang dari dirinya sendiri dan
hanya ‘memantulkan’ terang matahari. Perempuan ini sudah hidup oleh terang
sejati, dan sudah menginjak (menaklukkan) terang pantulan. Sesungguhnya,
Kristus merupakan ‘esensi’ dari seluruh aturan2 Perjanjian Lama (Kolose 2:17).
“Bulan” itu hanyalah aturan2 PL yang menjadi pantulan dari Kristus sebagai
esensi. Dan perempuan (gereja) ini sudah menaklukkan/menginjak aturan2 PL yang
merupakan pantulan saja dari Kristus sebagai esensinya. Ibadah gereja ini ada
dalam roh dan kebenaran/realita (Yohanes 4). Umat yang takut akan namaNya
semata-mata hanya mengikuti pimpinan Kristus dalam batin, dan tidak lagi
dikuasai/diperbudak oleh aturan2 agamawi.
Kemudian, perempuan ini dimahkotai oleh 12 bintang. Angka 12
merupakan simbol dari kepemimpinan, dan “bintang” didalam kitab Wahyu adalah
putera2 Elohim. Jadi, sekalipun setiap anggota gereja ini semata-mata mengikuti
pimpinan Kristus dalam batin, namun tetap dipimpin oleh suatu tim kepemimpinan
Ilahi. Tidak ada satu “bintang”pun yang lebih besar dari bintang lainnya. Kedua
belas bintang ini membentuk suatu mahkota untuk memimpin. Ini adalah
kepemimpinan bersama dalam arti yang sesungguhnya. Atau lebih tepat dikatakan
ini adalah kepemimpinan tubuh (gereja sebagai organisme), dan bukan
kepemimpinan organisasi gereja dimana harus ada satu orang tertinggi (senior
pastor) sebagai ‘penguasa tunggal’.
Gereja (perempuan) seperti inilah yang akan melahirkan
‘seorang Anak laki-laki’ seperti ayat kita diatas (versi LAI). Versi LAI
menggunakan huruf besar A, sehingga menimbulkan kesan bahwa Anak laki-laki ini
adalah Yesus Kristus, dan tentunya perempuan ini adalah Maria. Pemahaman
seperti ini keliru. Kitab Wahyu menggunakan bahasa simbol, dan simbol
‘perempuan’ itu jelas merujuk kepada gereja, dan bukan Maria. Karenanya, ‘anak
laki-laki’ ini merujuk kepada putera2 Elohim yang akan menggembalakan semua
bangsa.
Seperti yang sudah kita bahas dalam tulisan ini bahwa para
pemenang gereja akan memerintah sebagai raja2 dan imam2 kelak ketika kedatangan
Tuhan Yesus Kristus. Jadi, “anak laki-laki” yang dilahirkan perempuan ini
adalah para pemenang gereja yang akan memerintah dizaman berikut ketika
kedatangan Tuhan.
Kita sudah membahas simbol ‘perempuan’ dengan ringkas dalam
Wahyu 12, dan saat ini kita akan membahas simbol ‘naga’ dipasal ini, karena
ternyata anak laki-laki yang dilahirkan ‘perempuan’ inilah yang mengalahkan
‘naga’. Wahyu 12:3, menegaskan, “Maka
tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah
padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan diatas kepalanya
ada tujuh mahkota”.
Banyak dari simbol di kitab Wahyu ini yang langsung diartikan
maknanya. Salah satu contoh ialah ‘naga’ yang disebut ‘ular tua’ atau iblis
(Wahyu 12:9). Tetapi, iblis ini dinyatakan “berkepala tujuh dan bertanduk
sepuluh”, dan jika kita perhatikan simbol ‘binatang yang keluar dari dalam
laut’ itu juga bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh (Wahyu 13:1). Kita tahu
bahwa makna dari simbol ‘binatang’ adalah kerajaan manusia atau sistem
pemerintahan manusia. Jadi, iblis ini ‘termanifestasi’/’tampil’ didalam dan
melalui kerajaan manusia atau sistem pemerintahan manusia.
Banyak orang kristen berpendapat bahwa iblis itu berada
“diluar manusia”, dan barangkali ada dikuburan2 atau mungkin bergantungan
dipohon2 besar. Mari kita pahami dimana sesungguhnya iblis berada, sebab kita
tidak dapat mengalahkan musuh jika kita tidak tahu dimana ia berada. Perhatikan
Wahyu 12:9 diatas, dimana dinyatakan bahwa iblis adalah ‘ular tua’. Istilah
‘tua’ disini diterjemahkan dari istilah ‘archaios’, yang berarti ‘original’
atau ‘ancient’. Artinya, ular tua itu adalah ular yang mula-mula atau yang
dahulu kala. Kejadian 3 menjelaskan kepada kita ‘ular’ yang mula2 atau yang
dahulu kala ini. Ular dalam Kejadian 3 bukanlah ular jasmani, karena ular
jasmani tentu tidak bisa berbicara, dan juga ular jasmani tidak makan ‘debu’
(Kejadian 3:14).
Ular dalam Kejadian pasal 3 adalah iblis yang mencobai Adam
dan Hawa. Iblis ini dikutuk Tuhan sehingga ia makan “debu” seumur hidupnya.
Debu disini juga tentu bukan debu jasmani (tanah), karena ditegaskan dalam
Kejadian 3:19, demikian, “…sebab engkau
debu…”. Artinya, manusia adalah “debu”, dan manusia menjadi “makanan” iblis
seumur hidupnya. Kita tahu bahwa orang akan menjadi seperti apa yang
dimakannya. Jika prinsip ini diterapkan kepada ‘iblis’, maka iblis akan
“termanifestasi” atau tertampil” didalam dan melalui manusia yang “dimakannya”.
Paulus dalam surat Roma menjelaskan manifestasi iblis dalam
diri manusia dengan istilah ‘dosa’ dalam bentuk tunggal. Dalam surat Roma, jika
Paulus menggunakan istilah ‘dosa’ dalam bentuk jamak, maka yang dimaksudkannya
adalah perbuatan2 dosa. Tetapi, jika ia menggunakan istilah ‘dosa’ dalam bentuk
tunggal, maka yang dimaksudkannya adalah ‘kuasa dosa’ yang membuat manusia
berbuat sesuatu yang tidak dikehendakinya. Dalam Roma 7, Paulus menjelaskan
kuasa dosa dalam dirinya yang mendorong ia melakukan perbuatan2 dosa (ayat 17).
Karenanya, istilah ‘dosa’ (tunggal) yang dipakai Paulus berarti suatu
penjelmaan (manifestasi) iblis didalam diri manusia.
Kita harus jelas dahulu mengenai dimana iblis berada atau
bermanifestasi atau menjelma, dan menjalankan menjalankan kuasanya.
Sesungguhnya, iblis bermanifestasi didalam manusia lama kita atau kedagingan
kita. Dan dalam Wahyu 12:3 diatas, iblis menjelma atau termanifestasi didalam
dan melalui suatu kerajaan manusia atau sistem pemerintahan manusia.
Kita sudah membahas simbol ‘naga’ dalam Wahyu pasal 12, dan
saat ini kita akan membahas bagaimana kelompok ‘anak laki-laki’ atau kelompok
‘dia yang diurapiNya’ atau ‘buah sulung’ ini mengalahkan ‘naga’ atau iblis.
Wahyu 12: 11 menegaskan, “Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan
oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka
sampai ke dalam maut”.
Ada tiga hal yang dinyatakan ayat diatas sebagai penyebab
kemenangan kelompok ‘anak laki-laki’ yang dilahirkan gereja “Wahyu 12”. Mari
kita perhatikan satu persatu. Pertama, mereka mengalahkan iblis oleh darah Anak
Domba. Imamat 17:11 menegaskan, “Karena
nyawa makhluk ada di dalam darahnya…”. Karenanya, darah Anak Domba
berbicara mengenai Hayat Anak Domba, atau Hayat Kristus (‘zoe’). Inilah yang
menjadi tujuan kedatangan Yesus, yaitu untuk memberikan HayatNya (Yohanes
10:10; ‘hidup=zoe’). Makna “mempunyainya dalam segala kelimpahan” dalam ayat
ini sama sekali tidak berbicara soal materi atau jasmani, melainkan soal
pertumbuhan Hayat Kristus (‘zoe’). Hayat Kristus bertumbuh
sedemikian dan “menelan” hayat lama manusia (maut). I Korintus 15:54
mengatakan, “… Maut telah ditelan dalam
kemenangan”. Artinya, maut (hayat lama) sebagai upah dosa, dihancurkan atau
“ditelan” oleh kemenangan Hayat Kristus.
I Korintus 15:45 menegaskan bahwa Adam akhir (Yesus) menjadi
Roh pemberi Hayat (‘pneuma zoopoieo’=life giving Spirit). Melalui kematian dan
kebangkitanNya, Yesus menjadi Roh pemberi Hayat. Roh Kristus yang berdiam
didalam batin umat pilihanNya inilah yang terus bekerja membagikan Hayat
Kristus. Kemenangan umat pilihanNya atau kelompok ‘anak laki-laki’ semata-mata
adalah kasih karunia. Pertumbuhan Hayat Kristus didalam batin kita adalah
pekerjaan Roh Kudus, dan jika kita melihat perumpamaan2 tentang kerajaan sorga
(khususnya injil Matius), maka kita temukan bahwa ada umat Tuhan yang bertumbuh
hidup ‘zoe’-nya, dan ada juga yang tidak. Ada yang diterima dalam kerajaan
sorga pada kedatangan Yesus, juga ada yang ditolak. Semua ini adalah kedaulatan
Bapa yang mau memberikan kerajaan itu kepada ‘kawanan kecil’ (Lukas 12:32).
Kedua, mereka mengalahkan iblis oleh perkataan kesaksian
mereka. Istilah ‘perkataan’ disini adalah ‘Logos’, artinya ini bukan sekedar
perkataan2 ‘baik’, tetapi perkataan2 yang mengandung pikiran, perasaan, dan
kehendak Elohim. Mereka berbicara hal2 mengenai tujuan, rencana, dan kehendak
Elohim. Hayat manusia yang lama, dilambangkan oleh pohon pengetahuan yang baik
dan jahat di Taman Eden, juga menghasilkan perkataan2 baik, karena manusia
memakan buah pohon pengetahuan jahat dan BAIK.
Jika kita memperhatikan perkataan ‘Logos’ yang diucapkan para
pemenangNya ini, maka semua ini disebabkan para pemenangNya menjalankan Hayat ‘zoe’.
Jenis hayat tertentu akan mengeluarkan jenis perkataan tertentu juga.
Contohnya, anjing menggonggong, kucing mengeong, disebabkan karena mereka
memiliki “jenis hidup” berbeda. Karenanya, para pemenang dapat mengucapkan
perkataan2 ‘Logos’ disebabkan oleh Roh Kristus yang memberi pertumbuhan Hayat.
INI SEMATA-MATA PEKERJAAN ROH HAYAT, INI ADALAH KASIH KARUNIA.
Ketiga, mereka mengalahkan iblis karena mereka tidak
mengasihi nyawa (hayat lama) mereka. Para pemenangNya merelakan diri untuk
dihancurkan atau “ditelan” hayat lamanya oleh Hayat ‘zoe’. Hayat ‘zoe’ pasti
“menelan” hayat lama, sama seperti terang “menelan” gelap. Ini juga merupakan
kasih karunia. Karenanya, kemenangan ‘anak laki-laki’ ini adalah semata-mata
kasih karunia dan semata-mata kedaulatan Bapa yang mau memberikan kerajaan itu.
Kita masuk kedalam Wahyu pasal 13 yang berbicara mengenai
binatang yang keluar dari laut dan dari dalam bumi. Wahyu 13:1-18, menegaskan,
“Lalu aku melihat seekor binatang keluar
dari dalam laut, bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh; diatas tanduk-tanduknya
terdapat sepuluh mahkota dan pada kepalanya tertulis nama-nama hujat… Dan aku
melihat seekor binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama
seperti anak domba dan ia berbicara seperti seekor naga…”.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan sebelum kita dapat
memahami Wahyu pasal 13 ini. Pertama, binatang didalam kitab Wahyu merupakan
simbol dari sistem pemerintahan manusia. Kedua, istilah langit, bumi, dan laut
merupakan simbol dari realitas2 (alam), dimana ‘langit’ merupakan realitas/alam
sorgawi, ‘laut’ merupakan alam/realitas yang paling rendah, dan ‘bumi’
merupakan alam/realitas yang lebih rendah dari alam sorgawi, tetapi yang lebih
tinggi dari alam/realitas ‘laut’.
Binatang yang keluar dari dalam ‘laut’ ini terlihat ‘buas’
karena seperti macan tutul, dimana kakinya seperti kaki beruang, dan mulutnya
seperti mulut singa (ayat 2). Tetapi, binatang yang keluar dari dalam ‘bumi’
seperti anak domba. Kita tahu bahwa domba bukanlah binatang ‘buas’ dan membahayakan.
Sekalipun demikian, jika ‘anak domba’ ini berbicara, maka ia berbicara seperti
seekor naga. Kita tahu bahwa ‘naga’ ini merupakan simbol dari iblis. Siapakah
sebenarnya binatang yang keluar dari dalam bumi ini? Wahyu 19:20, dan Wahyu
20:10, menegaskan bahwa binatang yang keluar dari dalam bumi adalah nabi palsu.
Selanjutnya, kita perhatikan bahwa kedua binatang ini
mempunyai ‘tanduk’ yang merupakan simbol dari ‘kekuasaan’ (power). Jadi,
binatang yang keluar dari dalam laut memiliki kekuasaan sebagai sistem
pemerintahan manusia dalam dunia ini (kerajaan2 dunia). Sementara itu, binatang
yang keluar dari dalam bumi memiliki kekuasaan sebagai sistem pemerintahan
manusia dalam ‘dunia kekristenan’. Kita tidak perlu heran jika kitab Wahyu
mendeskripsikan dunia kekristenan sebagai ‘nabi palsu’. Sebab, dunia
kekristenan lahir karena gereja telah jatuh dan pecah menjadi puluhan ribu
denominasi. Dan perpecahan gereja disebabkan para pemimpin yang menegakkan
otoritasnya sendiri serta menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka (Kis.
20:28-30). Dunia kekristenan terdiri dari kerajaan2 para pemimpinnya, dan ini
bukanlah gereja seperti yang Yesus dirikan. Sebab, didalam gereja yang Yesus
dirikan tidak boleh ada pemimpin, dalam arti orang yang berotoritas atas gereja
selain Tuhan Yesus sendiri (Matius 23:1-12). Didalam gereja yang Yesus dirikan
tidak boleh ada sistem pemerintahan manusia. Tidak boleh ada ‘hierarki’ karena
gereja adalah organisme yang dipimpin langsung oleh otoritas Hayat Kristus.
Karenanya, tidak heran jika Wahyu 13 menegaskan bahwa dunia kekristenan sebagai
‘binatang yang keluar dari dalam bumi’, dan sebagai nabi palsu.
Selanjutnya, ada hal yang umumnya menjadi perhatian orang2
kristen, yaitu mengenai tanda atau nama binatang yang dikenakan pada tangan atau
dahi seseorang, dan bilangan binatang itu adalah 666 (ayat 16-17). Kunci untuk
memahami bilangan binatang ini adalah hikmat Kristus (ayat 18). Tanpa hikmat
Kristus tidak mungkin orang memahami makna bilangan 666, karena angka 666
bukanlah angka matematis, tetapi angka simbolik. Jika kita mendapat kasih
karunia dihadapanNya, maka kita akan mengerti bahwa tanda atau nama binatang
ini tidak lain adalah sifat dasar manusia lama kita (‘beastly nature’). Kita
tidak perlu bersusah-payah untuk menemukan tanda 666 pada diri seseorang. Jika
seseorang hidup/digerakkan oleh manusia lamanya, maka kita sudah melihat tanda
666 itu. Atau, jika kita melihat orang Kristen melayani dengan kekuatan manusia
lamanya (kedagingannya), kita juga sudah melihat tanda 666 itu dalam dirinya.
Angka 6 adalah angka manusia, dan manusia bekerja selama enam
hari. Karenanya, angka 666 sesungguhnya angka simbolik untuk gereja2 yang telah
jatuh (false churches), dimana segala
aktifitasnya digerakkan oleh kedagingan, ambisi manusiawi, cari untung, cari
uang dan jabatan, selalu sibuk dengan program2 agamawi tetapi tidak pernah ada
dalam pemerintahan Ilahi dan pikiran Kristus.
Sebelum masuk kedalam pasal 14 kitab Wahyu ini, kita perlu
mengingat bahwa dengan ditiupnya sangkakala ketujuh, maka rahasia Elohim
digenapi, yaitu kerajaan2 dunia, termasuk kerajaan2 manusiawi (denominasi2)
dalam dunia kekristenan, diambil alih dan diserahkan kepada Tuhan Yesus dan
umat pilihanNya (buah sulung) yang akan berfungsi sebagai raja2 dan imam2
menurut aturan Melkisedek, serta memerintah dibumi pada zaman2 berikutnya
(Wahyu 11:15). Pasal2 selanjutnya dalam kitab Wahyu menjelaskan detail2
(rincian) dari penggenapan rahasia Elohim. Puncak dari penggenapan rahasia
Elohim tergenapi dalam zaman Langit dan Bumi Baru, dimana tidak ada lagi maut
yang merupakan upah dosa, serta Bapa dapat menjadi semua dalam semua (Wahyu
21-22).
Kita sudah membahas dengan ringkas rincian dari tampilnya
putera2 Elohim (Wahyu 12), dan sistem pemerintahan manusia, baik dalam dunia
ini maupun dalam dunia kekristenan (Wahyu 13). Saat ini kita masuk kedalam
Wahyu 14, dimana tema utama dalam pasal ini adalah mengenai tuaian. Wahyu
14:1-5 membahas tentang buah sulung (para pemenangNya) yang akan ikut menuai
bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kemudian, Wahyu 14:6-13 membahas tentang tiga
pemberitaan atau firman penghakiman. Selanjutnya, Wahyu 14:14-20 membahas
mengenai tuaian dibumi.
Mari kita perhatikan Wahyu 14:1-3, demikian, “Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba
berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat
ribu orang dan di dahi mereka tertulis namaNya dan nama BapaNya… Mereka
menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk
dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu
selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari
bumi itu”.
Bukit Sion adalah bukit tertinggi di Yerusalem. Dalam Mazmur
48:1-3, Sion disebut sebagai kota Raja Besar, dan juga sebagai gunung Elohim,
atau kerajaan Elohim. Yesus sebagai Raja diatas segala raja digambarkan sebagai
Anak Domba yang berdiri di bukit Sion. Yesus sebagai pemenang tetap digambarkan
sebagai Anak Domba yang taat sepenuhnya kepada Bapa untuk menjadi korban
penebusan dosa. Tetapi, Yesus tidak berdiri sendiri dibukit Sion, melainkan
bersama dengan 144.000 orang yang didahinya tertulis nama Tuhan Yesus dan nama
Bapa disorga.
Kita tahu bahwa angka 144.000 adalah angka simbolik, dimana
12 adalah angka pemerintahan Ilahi, dan angka 12 dikali 12 dikali 1000, berarti
pemerintahan Ilahi yang dibawa kedalam kesempurnaan dan kepenuhannya. Dari
bukit Sion, Yesus bersama para pemenangNya akan menjalankan pemerintahan Ilahi
dalam segala kesempurnaan dan kepenuhannya.
Ditegaskan diatas bahwa di dahi para pemenangNya tertulis
nama Bapa. Kita tahu bahwa nama menggambarkan karya, reputasi, kemuliaan,
karakter, serta sifat dasar seseorang, Karenanya, para pemenangNya tidak
memiliki reputasi, kemuliaan atau sifat dasar Ilahi dari diri mereka sendiri,
melainkan semuanya berasal dari Bapa. Hal ini berbeda dengan mereka yang
mengenakan tanda 666 didahi atau tangan mereka. Mereka ini berjuang mencapai
reputasi, kemuliaan, dan karya mereka dengan kekuatan sendiri, dan untuk diri
mereka sendiri.
Selanjutnya, para pemenangNya dapat menyanyikan nyanyian yang
tidak dapat dipelajari oleh yang lainnya. Nyanyian adalah ekspresi atau respon
dari orang yang mengalami perbuatan2 atau karya Bapa disorga. Oleh kasih
karuniaNya, para pemenang mengalami jamahan atau perbuatan2 Bapa dalam
kehidupannya. Bapa disorga mau berbuat ini kepada para pemenangNya semata-mata
karena Bapa, “…telah berkenan memberikan
kamu Kerajaan itu” (Lukas 12:32).
Kita lanjutkan uraian mengenai para pemenang (buah sulung)
dalam pasal 14 ini. Wahyu 14:4-5, tertulis, “Mereka ini adalah orang-orang yang tidak mencemarkan diri dengan
wanita-wanita, karena mereka adalah perjaka. Mereka ini adalah orang-orang yang
mengikuti Anak Domba kemanapun Dia pergi. Mereka ini sudah ditebus dari antara
manusia, sebagai buah sulung di hadapan Elohim dan Anak Domba. Dan didalam
mulut mereka tidak didapati tipu muslihat, karena mereka itu tanpa cacat
dihadapan takhta Elohim” (ILT).
Ada beberapa hal terkait para pemenangNya yang disebutkan
dalam ayat kita diatas. Pertama, ditegaskan bahwa mereka adalah orang2 yang
tidak mencemarkan diri dengan wanita2 (perempuan), karena mereka perjaka. Hal
ini tidak berbicara perempuan2 jasmani, karena perempuan dalam kitab Wahyu
adalah simbol gereja. Siapakah “perempuan2” yang dimaksud disini, dimana para
pemenangNya tidak mencemarkan diri?
Tentu bukan “perempuan” yang diuraikan dalam Wahyu 12, dimana
“perempuan” ini melahirkan putera2 Elohim. Tetapi, perempuan yang tertulis
dalam Wahyu 17:5-6, demikian, “…Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur…
perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus”.
Saat ini kita tidak membahas dengan rinci ibu dan anak2nya (perempuan2) yang
diuraikan disini. Namun, bagi mereka yang dapat melihat ‘Dunia Kekristenan’
sebagaimana firman Tuhan melihatnya, akan dapat memahami bahwa perempuan2 yang
dimaksud Wahyu 14:4 diatas adalah “Dunia Kekristenan’ yang merupakan pecahan
dari gereja mula-mula.
Ajaran Izebel, Bileam, dan Nikolaus telah merembes dan
diterima secara luas dalam dunia kekristenan (Wahyu 2-3). Oleh kasih
karuniaNya, para pemenang tidak ambil bagian didalamnya. Para pemenangNya tidak
mencemarkan diri dalam “permainan” uang, jabatan, dan kemuliaan/hormat manusia,
yang merajalela dalam dunia kekristenan. Inilah makna “tidak mencemarkan diri
dengan wanita-wanita, karena mereka adalah perjaka” sebagaimana ditegaskan
dalam Wahyu 14:4 diatas.
Kedua, para pemenangNya adalah orang-orang yang mengikuti
Anak Domba kemanapun Dia pergi. Yesus menegaskan bahwa domba2Nya pasti dapat
mendengar suaraNya (Yohanes 10:27). Para pemenangNya tidak “mendengarkan”, atau
menjadi pengikut pemimpin manapun, atau aliran manapun dalam dunia kekristenan.
Bukan karena para pemenang tidak belajar dari para pemimpin, tetapi karena
pengurapan dalam batinnya yang membuat, “…tidak perlu kamu diajar oleh orang
lain” (I Yohanes 2:27).
Ketiga, didalam mulut para pemenang tidak didapati tipu
muslihat, karena mereka itu tanpa cacat dihadapan takhta Elohim. Istilah ‘tipu
muslihat’ diterjemahkan dari istilah Yunani ‘pseudos’ yang berarti falsehood,
untruth, false religion. Tentu alasan utama para pemenangNya tidak melakukan
‘tipu muslihat’ adalah karena dijamah oleh “bara api mezbah”, sebagaimana
Yesaya sebelum diutus Tuhan (Yesaya 6:7). Tetapi juga dalam pelayanannya, para
pemenang tidak mempunyai kepentingan apapun, atau mau cari untung apapun, baik
uang, jabatan atau kemuliaan manusia. Oleh kasih karuniaNya, para pemenang
dapat berbicara kebenaran firman Tuhan apa adanya, dihadapan siapapun, tanpa
perlu “berhati2”, atau melakukan ‘tipu muslihat’ karena berharap keuntungan
dari pemberitaannya.
Demikianlah beberapa ciri dari ‘buah sulung’ yang oleh
kedaulatan Bapa, dipilih dari antara manusia dan diproses olehNya. Yakobus
1:17-18, menegaskan, “…Bapa segala
terang…yang telah menentukan, agar kita menjadi suatu buah sulung dari
ciptaan-Nya…” (ILT).
Setelah kita membahas buah sulung (Wahyu 14:1-5), saat ini
kita masuk kedalam tiga pemberitaan firman yang tertulis dalam Wahyu 14:6-13.
Mari kita mulai dengan pemberitaan pertama (Wahyu 14:6-7), demikian, “Dan aku melihat malaikat yang lain yang
terbang di tengah langit, yang mempunyai Injil kekal untuk menginjili mereka
yang tinggal di bumi… Takutlah akan Elohim dan berilah kemuliaan kepada-Nya,
karena waktu penghakimanNya telah tiba…” (ILT).
Kita tetap harus mengingat prinsip penafsiran untuk kitab
Wahyu. Kitab Wahyu adalah pewahyuan pribadi Yesus Kristus dan gerejaNya dengan
bahasa simbol (Wahyu 1:1). Ayat kita diatas jangan ditafsirkan secara harfiah,
sehingga kita berpikir bahwa pada akhir zaman ada malaikat dengan sayapnya yang
terbang mengelilingi bumi untuk memberitakan injil kekal. Jika demikian
penafsiran kita, maka kitab Wahyu bukanlah khabar baik, melainkan berita yang
menakutkan tentang peperangan, bencana, malapetaka, serta neraka
selama-lamanya.
Ada beberapa hal yang harus kita pahami agar dapat melihat
betapa indahnya tiga pemberitaan firman diatas. Pertama, malaikat atau utusan
yang memberitakan injil kekal adalah orang2 yang diutus Tuhan, bahkan ungkapan
‘malaikat yang memberitakan injil kekal’ adalah pewahyuan firman atau pewahyuan
injil kekal itu sendiri. Jika kita melihat seluruh konteks Wahyu 14 ini yang
berbicara tentang ‘tuaian’, maka kita tahu bahwa pemberitaan/pewahyuan injil
ini dijalankan oleh Tuhan Yesus dan “buah sulung” yang telah kita bahas (ayat
1-5).
Kedua, ungkapan ‘injil kekal’ berasal dari bahasa Yunani, ‘euaggelion
aionios’, yang berarti ‘khabar baik dari zaman-zaman’ atau ‘the good
news of the ages’. Apa maksud khabar baik dari zaman-zaman? Efesus 1:9-10,
menegaskan demikian, “dengan
mengungkapkan kepada kita rahasia kehendakNya… sebagai penatalayanan dari
penggenapan saat-saat untuk merangkum segala sesuatu di dalam Kristus, baik
hal-hal yang didalam surga maupun hal-hal yang diatas bumi…”(ILT). Artinya,
rahasia kehendak Bapa adalah merangkum segala sesuatu didalam Kristus, dan ini
terjadi pada dispensasi kegenapan waktu (the
dispensation of the fullness of the times, versi Young’s Literal). Jadi,
Bapa di sorga mempunyai rencana (rahasia kehendakNya), yaitu berkerja
berzaman-zaman (dispensasi-dispensasi) untuk mempersatukan segala sesuatu
didalam Kristus.
Kita sudah banyak membahas istilah Yunani ‘aion’,
yang dalam banyak versi Alkitab diterjemahkan ‘kekal’ atau ‘eternal’, dalam
arti waktu yang panjang tanpa kesudahan atau selama-lamanya. Pemahaman seperti
ini membuat orang Kristen tidak mengerti rencana Bapa atau rahasia kehendakNya.
Alkitab mewahyukan kepada kita rencana Bapa berzaman2 (dispensasi2) untuk
menegakkan kerajaan AnakNya, sehingga segala sesuatu dirangkum dalam Kristus.
Alkitab hampir tidak berbicara mengenai ‘kekekalan’, yang merupakan dimensinya
Elohim. Alkitab berbicara mengenai RENCANA BAPA DIDALAM DIMENSI WAKTU.
Karenanya, ‘khabar baik dari zaman-zaman’ atau ‘the good news of the ages’,
berarti khabar baik bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan dirangkum
(disatukan) didalam Kristus. Hal ini berbicara pemulihan total segala sesuatu.
Ketiga, bagaimana caranya segala sesuatu dapat dirangkum
dalam Kristus? Ayat kita diatas tegas menyatakannya, yaitu melalui penghakiman
Elohim. Tetapi, kita harus paham maksud penghakiman Elohim, yaitu, “…apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka
penduduk dunia akan belajar apa yang benar” (Yesaya 26:9). Penghakiman
Elohim bukan berarti melemparkan manusia selama-lamanya di neraka (hukuman
neraka kekal). Khabar ‘neraka kekal’ itu sama sekali bukan khabar baik. Ini
bukan injil yang diwahyukan Alkitab, walaupun sudah diterima luas dalam dunia
kekristenan.
Kita akan masuk kedalam pemberitaan malaikat kedua yang
tertulis dalam Wahyu 14:8, demikian, “Dan
seorang malaikat lain, malaikat kedua, menyusul dia dan berkata: Sudah rubuh,
sudah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan
anggur hawa nafsu cabulnya”.
Kita harus tetap mengingat konteks seluruh Wahyu 14, yaitu
tentang penuaian dibumi (ayat 16). Istilah ‘bumi’ disini merupakan simbol dari
dunia kekristenan, dimana telah kita bahas mengenai “binatang yang keluar dari
dalam bumi”, yang adalah nabi palsu (Wahyu 13:11-18). Ketika Tuhan Yesus datang
(biasa disebut kedatangan kedua kali), maka Ia akan datang sebagai hakim atas
umatNya, dan orang2 yang dipilihNya (buah sulung) akan dipermuliakan, dalam
arti mendapat tubuh kemuliaan serta memerintah dibumi. Peristiwa ini disebut Paulus
dalam surat Roma pasal 8 sebagai ‘glorification by faith’, atau peristiwa
‘kebangkitan tubuh’ seperti diuraikan dalam I Korintus 15. Tuhan Yesus datang
bukan untuk membawa seluruh dunia kekristenan (umatNya) ke sorga nun jauh
disana, walaupun konsep seperti ini, umumnya, dipercaya dan diberitakan dalam
dunia kekristenan. Kita tahu bahwa dalam dunia kekristenan ada banyak yang
dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (buah sulung), atau dalam Lukas 12:32
disebut ‘kawanan kecil’, yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan itu.
Jadi, pada kedatanganNya, Yesus dan “buah sulung” akan memerintah dibumi dengan
tubuh kemuliaan, dan akan menuai dunia kekristenan.
Mari kita melihat pemberitaan kedua ini dalam konteks
penuaian dunia kekristenan. Ayat kita diatas tegas menyatakan, ‘sudah rubuh,
sudah rubuh Babel’. Melambangkan apakah ‘Babel’ itu? Wahyu 17:18, tegas
menyatakan bahwa perempuan pelacur yang dilihat Yohanes adalah Babel, kota
besar. Mengapa dunia kekristenan disimbolkan ‘Babel’ atau kota besar. Baiklah
kita perhatikan fakta ini. Babel dalam Kejadian 10-11, adalah kota jasmani
(bukan simbol) yang dibangun Nimrod. Nimrod adalah orang pertama dibumi ini
yang berotoritas dan membangun suatu kerajaan. Nimrod disebut ‘pemburu yang
gagah perkasa dihadapan Tuhan’, yang berarti Nimrod seorang pemberontak yang
mengumpulkan orang2 untuk memberontak juga terhadap Tuhan. Nama ‘Nimrod’
bermakna ‘dia yang mengajak orang2 lain memberontak’.
Kalau demikian, mengapa perempuan pelacur (dunia kekristenan)
disimbolkan ‘Babel’, kota besar’? Kota dalam kitab Wahyu merupakan simbol dari
sistem pemerintahan. Kota Yerusalem Baru adalah simbol dari sistem pemerintahan
Ilahi, itu sebabnya disebut kota kudus (Holy City). Tetapi, Babel, disebut kota
besar, adalah karena manusialah yang memerintah didalamnya. Sejak, kaisar Roma,
Konstantin menerima kekristenan, maka sistem pemerintahan manusia mulai sangat
merajalela dalam dunia kekristenan. Kekristenan memang menjadi “besar”, tetapi
tidak “kudus”. Sebenarnya, dalam Kis. 20:28-30, Paulus sudah memperingati para
pemimpin gereja bahwa akan tiba saatnya dimana para pemimpin gereja menarik
murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri, serta membangun kerajaan sendiri
dengan ajaran palsu (ajaran Izebel, Bileam, Nikolaus). Perilaku para pemimpin
inilah yang menyebabkan gereja pecah menjadi puluhan ribu denominasi seperti
yang kita lihat dalam dunia kekristenan. Dalam tiap denominasi pasti ada
seorang “Nimrod” yang memiliki otoritas atas umat Tuhan. Itulah sebabnya, dunia
kekristenan disimbolkan Babel.
Pesan malaikat kedua ini jelas bahwa Babel akan dirubuhkan.
Dunia kekristenan, yang terdiri dari kerajaan2 manusiawi (denominasi) pasti
rubuh ketika kedatangan Yesus. Tetapi, pada akhirnya, dunia kekristenan akan
dituai (diselamatkan) oleh pelayanan Yesus dan “buah sulung”.
Saat ini kita masuk kedalam pemberitaan malaikat ketiga yang
tertulis dalam Wahyu 14:9-11, demikian, “… Jika
seseorang menyembah binatang buas itu dan ikonnya dan menerima tanda pada
dahinya atau pada tangannya, maka dia pun akan minum dari anggur amarah Elohim…
dia akan disiksa dengan api dan belerang…” (ILT). Telah kita tegaskan bahwa
tanda atau nama binatang ini tidak lain adalah sifat dasar manusia lama kita
(‘beastly nature’). Semua manusia mewarisi sifat dasar ini, karena semua
manusia adalah keturunan Adam.
Sebelum kita membahas ayat2 diatas, mari kita mengingat bahwa
pemberitaan ketiga malaikat dalam Wahyu pasal 14 ini terutama ditujukan kepada
dunia kekristenan (“bumi”), karena setelah ketiga pemberitaan ini, maka “bumi”
akan dituai (14:14-20). Barangkali, banyak orang Kristen berpikir bahwa setelah
seseorang lahir baru (menjadi Kristen), beribadah dan melayani dalam dunia
kekristenan, maka tidak mungkin ia “menerima tanda/nama binatang ditangan atau
dahinya”. Kita akan menjelaskan hal ini seperti berikut.
Dua pohon di Taman Eden, sesungguhnya, melambangkan dua jenis
hidup (hayat). Pohon pengetahuan yang baik dan jahat melambangkan jenis hidup
‘maut’ yang dikuasai iblis. Sebab, Roma 6:23 tegaskan bahwa upah dosa adalah
maut, dan iblis berkuasa atas maut (Ibrani 2:14). Maut bukan saja berarti mati
secara fisik. Ketika Adam memakan buah pohon ‘maut’, maka ia langsung mendapat
jenis hidup ‘maut’, yang pada gilirannya berujung kepada kematian fisik. Inilah
makna dari ungkapan Ibrani ‘mut tamut’ yang terdapat dalam Kejadian 2:17.
Pohon pengetahuan baik dan jahat (pohon ‘maut’), akan membuat
semua manusia keturunan Adam memiliki kerinduan yang kuat untuk beragama. Mari
kita perhatikan apa yang Yesus katakan kepada orang2 Farisi/ahli2 Taurat, yaitu
orang2 beragama dizamanNya. Yohanes 8:44, menegaskan, “iblislah yang menjadi bapamu…”. Perkataan Yesus ini tidak bermaksud
menghina, tetapi mengungkapkan suatu kebenaran penting. Orang2 beragama
dizamanNya yang melakukan berbagai ritual/peraturan2 keagamaan tanpa iman,
sesungguhnya sedang menjalankan jenis hidup ‘maut’ yang dikuasai iblis.
Sekalipun orang2 Farisi/ahli2 Taurat sangat beragama, namun mereka menjalankan
jenis hidup ‘maut’ yang dikuasai iblis. Itu sebabnya, Yesus berkata bahwa
iblislah yang menjadi bapamu. Bukan berarti iblis mempunyai anak2 seperti
orang2 Farisi/ahli2 Taurat, tetapi iblis adalah “bapa” dari jenis hidup ‘maut’.
Siapapun yang menjalani jenis hidup ‘maut’, maka iblislah yang menjadi bapanya.
Tetapi, Yesus datang supaya kita mendapat hidup (Yohanes
10:10), yaitu hidup Kristus (‘zoe’). Sejalan dengan bertumbuhnya iman orang
Kristen, maka hidup Kristus “menelan” hidup ‘maut’. Paulus menegaskan bahwa
hidupnya bukanlah dia lagi, melainkan Kristus. Baiklah kita memperhatikan
fakta2 mengenai dunia kekristenan. Wahyu 2-3 menegaskan bahwa gereja telah
jatuh oleh ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Jika kita mendapat kasih
karunia dihadapanNya, maka kita mengerti bahwa ketiga ajaran palsu inilah yang
membuat dunia kekristenan menjadi suatu agama, yaitu agama Kristen. Dalam
kondisi sedemikian, tentu banyak anak2 Tuhan yang beribadah dan melayani dalam
konteks beragama, sebagaimana orang2 Farisi dan ahli2 Taurat. Karenanya,
“tanda/nama binatang” ini sangat merajalela dalam diri orang2 yang beragama.
Orang2 yang beragama dan menjalankan jenis hidup ‘maut’ ini
akan minum dari anggur amarah Elohim, dan akan disiksa dengan api dan belerang.
Api dan belerang merupakan simbol ‘penyucian’. Kita akan membahasnya kelak ketika
kita sampai pada Wahyu 20:14, mengenai kematian kedua dan lautan api. Yang
jelas api dan belerang ini bukan api jasmani, atau belerang jasmani. Juga bukan
berarti neraka selama-lamanya seperti umum dipercaya dalam dunia kekristenan.
Setelah pemberitaan ketiga malaikat (Wahyu 14:6-13) mengenai
penghakiman atas dunia kekristenan (“bumi”), maka sekarang kita tiba pada
penuaian di”bumi” (Wahyu 14:14-20). Perlu kita tegaskan lagi tentang tujuan
penghakiman Elohim, yaitu “… apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka
penduduk dunia akan belajar apa yang benar” (Yesaya 26:9). Jadi, meskipun
penghakiman melibatkan murka Elohim didalamnya, namun bertujuan agar orang
mengenal apa yang benar.
Mari kita melihat beberapa poin dalam penuaian dunia
kekristenan, seperti tertulis dalam Wahyu 14:14-20, demikian, “Dan aku melihat… serupa Anak Manusia yang
mempunyai mahkota emas di kepalaNya dan sabit tajam di tanganNya… Ayunkanlah
sabit-Mu dan tuailah, karena waktu-Mu telah tiba untuk menuai sebab tuaian di
bumi sudah matang… Ayunkanlah sabitmu yang tajam dan kumpulkanlah tandan-tandan
anggur dari bumi, karena anggurnya telah masak… dan darah mengalir dari
pemerasan anggur itu sampai setinggi kekang kuda, sejauh seribu enam ratus
stadia” (ILT).
Pertama, Anak Manusia adalah Tuhan Yesus yang akan menuai
dunia kekristenan melalui penghakimanNya, sebab demikianlah maksud
kedatanganNya, yaitu untuk menghakimi umatNya.
Kedua, Tuhan Yesus menggunakan ‘sabit’ untuk menuai umatNya.
Sabit disini bukanlah sabit jasmani, tetapi ‘para pemenangNya’ atau ‘buah
sulung’ seperti tertulis pada Wahyu 14:1-5, yang telah kita bahas. Demikianlah
genap yang tertulis dalam Lukas 10:2, “KataNya kepada mereka: ‘Tuaian memang
banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian,
supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”. Pekerja-pekerja inilah
buah sulung ciptaan (Yakobus 1:18). Jadi, “buah sulung” akan dipakai Tuhan
Yesus untuk menuai “bumi” atau dunia kekristenan yang telah jatuh ini, tetapi
yang telah siap dituai karena ketiga pemberitaan yang telah kita bahas
sebelumnya.
Ketiga, ayat kita diatas memakai simbol “kumpulkanlah
tandan-tandan anggur dari bumi, karena anggurnya telah masak… dan darah
mengalir dari pemerasan anggur itu sampai setinggi kekang kuda, sejauh seribu
enam ratus stadia”, untuk menjelaskan penuaian dibumi. Sekali lagi, prinsip
penafsiran kita janganlah ‘harfiah’, karena disini dijelaskan bahwa “darah
mengalir dari pemerasan anggur”. Demikian juga, darah yang mengalir, “setinggi
kekang kuda, sejauh seribu enam ratus stadia”, bukan berbicara darah manusia
karena terjadi peperangan akhir zaman, seperti beberapa penafsir memahaminya.
Kalau demikian apa makna simbol diatas? Tandan2 anggur dibumi
yang sudah masak tentu berbicara orang2 kristen yang telah mengenal kebenaran
oleh penghakiman Elohim. Darah yang mengalir sejauh seribu enam ratus stadia
berbicara darah Yesus yang membersihkan umatNya. Perhatikan jarak seribu enam
ratus ‘stadia’ adalah kurang lebih 321 km, karena satu stadia sama dengan
201,16 m. Jarak 321 km itu sama dengan jarak antara kota Dan dan Bersyeba di
Israel (dari ujung ke ujung wilayah Israel) Artinya, seluruh umat Tuhan dibasuh
oleh darah Yesus. Demikianlah kita harus memahami simbol ini. Ingat juga bahwa
konteks seluruh Wahyu 14, bukanlah berbicara peperangan, melainkan penuaian.
Dari kebenaran firman Tuhan dalam Wahyu 14 ini tentang
penuaian dibumi, betapa aneh jika selalu diberitakan dalam dunia kekristenan
bahwa ‘percaya Yesus masuk sorga’. Tetapi yang benar adalah ‘percaya Yesus
mendapat hayat ‘zoe’, dan akan dihakimi oleh Yesus pada saat kedatanganNya.
Setelah mengenal kebenaran dan menjadi matang barulah dituai, dan para
penuainya adalah “buah sulung” yang telah matang lebih dahulu.
Kita sudah membahas pasal 14 mengenai penuaian, dan saat ini
kita masuk kedalam pasal 15 dan 16, mengenai simbol lain yang dilihat rasul
Yohanes dilangit, demikian, “Dan aku
melihat suatu tanda lain di langit, yang besar dan ajaib: Tujuh malaikat yang
memegang tujuh bencana yang terakhir, karena kemarahan Elohim telah digenapi di
dalamnya” (Wahyu 15:1, ILT). Ada banyak simbol (tanda) yang telah dilihat
Yohanes, diantaranya, kaki dian emas, tujuh bintang, takhta dengan 4 makhluk
dan 24 tua-tua, pembukaan 7 materai, ketujuh sangkakala, perempuan dan naga,
binatang yang keluar dari laut dan bumi, Anak Domba di bukit Sion dengan
144.000 pengikutNya… dan saat ini Yohanes melihat simbol lain, yaitu tujuh
malaikat dengan tujuh bencana yang terakhir.
Sekalipun kitab Wahyu memperlihatkan banyak tanda atau simbol
kepada rasul Yohanes, tetapi pewahyuan yang disampaikan melalui simbol2 itu
tetaplah sama, yaitu pewahyuan Yesus Kristus dan gerejaNya, serta tentu juga
kerajaanNya. Simbol ‘tujuh malaikat dengan tujuh bencana’ melibatkan kemarahan
dan penghakiman Elohim didalamnya. Terutama, kepada siapakah penghakiman dan
kemarahan Elohim ini tertuju? Perhatikan Wahyu 16:1, demikian, “Dan aku
mendengar suatu suara nyaring dari tempat kudus, yang berkata kepada ketujuh
malaikat itu, pergilah dan tumpahkanlah cawan-cawan amarah Elohim ke bumi”
(ILT). Telah kita lihat bahwa simbol ‘bumi’ disini adalah dunia kekristenan.
Karenanya, ketujuh malaikat dengan tujuh bencana, terutama ditujukan kepada
dunia kekristenan. Penghakiman ‘tujuh malaikat dengan tujuh bencana’ ini
bertujuan agar dunia kekristenan mengenal apa yang benar.
Dan, sebelum penghakiman dimulai, Yohanes melihat, “…aku melihat sesuatu seperti laut kaca yang
dicampur dengan api, dan mereka yang menang atas binatang buas itu dan atas
ikonnya dan atas tandanya dan atas bilangan namanya…” (Wahyu 15:2, ILT).
Disini, rasul Yohanes kembali melihat para pemenangNya atau buah sulung
ciptaanNya. Para pemenangNya ini menyanyikan nyanyian Musa, dan nyanyian Anak
Domba. Nyanyian Musa berbicara mengenai pembebasan dari Mesir, dimana para
pemenangNya memuji, “Besar dan ajaiblah
karya-karyaMu…” (15:3). Sementara nyanyian Anak Domba, sang penebus dosa,
berbicara mengenai pembebasan atau penebusan semua manusia, “…karena segala bangsa akan datang dan
menyembah dihadapan Engkau…” (15:4).
Setelah semua yang dilihat rasul Yohanes ini, maka, “…tampaklah, tempat suci tabernakel kesaksian
di surga telah terbuka. Dan keluarlah ketujuh malaikat yang memiliki tujuh
bencana dari tempat kudus itu dengan berpakaian linen yang bersih dan cemerlang
dan dengan dililiti sabuk emas sekeliling dadanya” (Wahyu 15:5-6, ILT).
Dari dalam BaitNya, yaitu gereja pemenangNya, keluarlah suatu pelayanan
penghakiman yang disimbolkan oleh ‘tujuh malaikat dengan tujuh bencana’. Kita
lihat disini bahwa para pemenangNya menjalankan penghakiman Elohim, dan hal ini
menggenapi apa yang dikatakan Paulus kepada orang2 kudus di Korintus bahwa
‘kamu akan menghakimi dunia’ (I Korintus 6:2).
Para pemenangNya akan menjalankan penghakiman Elohim kepada
dunia kekristenan, agar dunia kekristenan mengenal pewahyuan Tuhan Yesus dan
gerejaNya, serta kerajaanNya.
Kita meneruskan simbol ‘Tujuh malaikat yang memegang tujuh
bencana (malapetaka) yang terakhir’ dimana ministri ini ditujukan kepada dunia
kekristenan, agar umat Tuhan mengenal apa yang benar. Telah kita lihat bahwa
ministri ini dijalankan oleh ‘buah sulung’ atau para pemenangNya. Para
pemenangNya (buah sulung) bukannya tidak mengalami semua “bencana atau
malapetaka” yang diuraikan dalam pasal 16 ini, melainkan telah lebih dahulu
mengalaminya. Sebab ‘buah sulung’ artinya kelompok yang lebih dahulu matang
untuk dituai.
Kita tidak membahas dengan rinci ministri “ketujuh malaikat”
dengan simbol2nya, tetapi kita akan membahas secara khusus ministri “malaikat
ketujuh” dimana ministri ini ditujukan kepada ‘Babel’, kota besar (Wahyu
16:17-21). Namun demikian, kita akan mengutip tulisan J. Preston Eby terkait
sebagian dari makna simbol2 ministri ketujuh malaikat ini, sebagai berikut:
Simbol ‘bumi’ bermakna alam keagamaan jiwani/manusiawi.
Simbol ‘laut’ bermakna alam kedagingan terkait tubuh. Simbol ‘mata-mata air’
bermakna sumber2 ide, konsep, tradisi2, ajaran2, doktrin2, dan hikmat duniawi,
sedangkan simbol ‘sungai-sungai’ merupakan “aliran-aliran” dimana semua ide, konsep,
doktrin, tradisi ini diajarkan, dan dipromosikan oleh institusi2 agamawi.
Simbol ‘matahari’ merupakan “terang luaran”, yaitu aturan2, otoritas2,
hierarki2, dari langit dan bumi lama. Simbol ‘takhta binatang dan kerajaannya’
bermakna ‘hati manusia’ yang licik, dimana segala kejahatan berasal, termasuk
kejahatan2 “rohani’ atau kejahatan2 “agamawi”. Simbol ‘sungai Efrat’ bermakna
kekuasaan yang menahan umat Tuhan tetap diperbudak dalam keagamaan “Babel”.
Simbol ‘sungai Efrat’ berbicara tentang pemisahan antara kerajaan keagamaan
Babel dan Tanah Perjanjian kita dari warisan dalam Kristus. Simbol ‘angkasa’
berbicara tentang atmosfir yang diciptakan oleh program2 manusia, promosi2
manusiawi, alam pengertian2 agamawi. Demikianlah kurang-lebih makna dari simbol2,
dimana ketujuh malaikat menumpahkan cawan murka Elohim kepada dunia
kekristenan, sehingga dunia kekristenan mengenal apa yang benar.
Sebagai penutup bagian ini, kita akan langsung masuk kedalam
ministri malaikat ketujuh yang menumpahkan cawannya ke angkasa (Wahyu
16:17-21). Wahyu 16:19, menegaskan, “… Dan Babilon yang yang besar itu diingat
dihadapan Elohim, untuk memberikan kepadanya cawan anggur kemarahan murka-Nya”
(ILT). Telah kita tegaskan bahwa ‘Babel’ adalah simbol yang dikenakan pada dahi
dari “perempuan pelacur dan anak2nya” (Wahyu 17:5). Sebagaimana telah kita
ketahui bahwa simbol ‘perempuan’ selalu merujuk kepada gereja, namun disini
disebut gereja “pelacur”. Dunia kekristenan adalah gereja mula-mula yang telah
jatuh dan pecah menjadi puluhan ribu denominasi, dan kejatuhan ini dijelaskan
dalam Wahyu 2-3 karena adanya tiga ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus.
Dunia kekristenan bukannya tidak menerima firman Tuhan yang murni, tetapi
selain menerima firman Tuhan yang murni juga menerima firman ajaran palsu
Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Sebagaimana pelacur menerima banyak ‘benih’ dari
banyak laki2, demikianlah secara umum, dunia kekristenan menerima ‘benih’
firman Tuhan yang murni dan benih firman ketiga ajaran palsu diatas.
Tentu, didalam dunia kekristenan telah umum diberitakan dan
diajarkan bahwa denominasi itu adalah gereja. Tetapi, pada waktuNya, sifat
dasar dari “gereja-gereja” dalam dunia kekristenan akan dibukakan. Alkitab
tegas menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang tertutup yang tidak akan
dibukakan. Salah satu yang akan dibukakan pada hari penghakimanNya adalah sifat
dasar “gereja2” dalam dunia kekristenan.
Kita melanjutkan ministri malaikat ketujuh yang menumpahkan
cawannya ke angkasa (Wahyu 16:17-21), dimana ministri ini terkait penghakiman
‘Babel”. Sesungguhnya, penjelasan ministri malaikat ketujuh terkait ‘Babel’ ini
terus berlanjut sampai pasal 18, dan ditutup oleh ‘nyanyian kemenangan di
sorga’ dalam Wahyu 19:1-5. Mengapa demikian panjang? Sebab, setelah penghakiman
‘Babel’ selesai, maka ‘pernikahan Anak Domba’ dapat terlaksana. Mempelai
Kristus sejati perlu dipersiapkan, dan dinyatakan. (19:7). Karena, setelah
terjadi ‘pernikahan Anak Domba’, maka kerajaan Kristus (kepala dan Tubuh) mulai
menghakimi dan berperang dalam kebenaran untuk memulihkan segala sesuatu
(19:11-16). Ministri kerajaan Kristus inilah yang akhirnya menghadirkan Langit
dan Bumi Baru, dimana tidak ada lagi ‘maut’ yang merupakan upah dosa (21:4).
Mari kita masuk kedalam ‘penghakiman Babel’ ini. Wahyu 17:1,
menegaskan, “Dan datanglah satu dari
ketujuh malaikat yang membawa ketujuh cawan itu dan dia berbicara denganku,
seraya mengatakan kepadaku, Marilah, aku akan menunjukkan kepadamu penghakiman
atas pelacur besar yang duduk di atas air yang banyak” (ILT). Siapakah
‘pelacur besar’ yang akan dihakimi? Wahyu 17:18, menegaskan bahwa perempuan
yang dilihat oleh rasul Yohanes adalah ‘kota besar’, dan ‘kota besar’ itu
adalah ‘Babel’ (18:2). Jadi, ‘perempuan pelacur’ itu ADALAH ‘kota besar’, yaitu
Babel.
Kita harus tetap mengingat bahwa kota Babel yang dijelaskan
dalam Kejadian 10-11, adalah kota jasmani yang memang benar2 ada dalam sejarah.
Sementara, ‘kota Babel’ yang tertulis dalam kitab Wahyu adalah ‘simbol’. Kita
dapat mengetahui makna dari suatu simbol itu dengan memperhatikan sejarahnya.
Babel adalah salah satu dari kota kerajaan yang dibangun Nimrod (Kejadian
10:8-10). Nimrod adalah orang yang pertama kali berkuasa dibumi dan, “ia seorang pemburu yang gagah perkasa di
hadapan TUHAN…” (Kejadian 10:9).
Banyak orang mengira bahwa Nimrod ini seorang yang melayani
dan hidup DIHADAPAN Tuhan (Kej. 10:9). Tetapi kita telah tahu bahwa Strong’s Concordance
mengungkapkan fakta mengenai istilah Ibrani PANIM yang diterjemahkan DIHADAPAN
mempunyai arti yang sangat bervariasi. Dalam Kej.10:9 seperti misalnya Bil.
16:2, istilah Ibrani PANIM yang diterjemahkan DIHADAPAN juga memiliki arti
literal MEMBERONTAK. Dan didalam Jewish Encyclopedia, nama Nimrod berarti ia
yang membuat semua orang memberontak melawan Tuhan. Terjemahan Alkitab ILT
(Indonesian Literal Translation) membuat catatan kaki untuk terjemahan
DIHADAPAN, yaitu TEGAR MENENTANG. Dapat disimpulkan bahwa Nimrod ini adalah
seorang yang memberontak dan tegar menentang Tuhan, dan Nimrod mendirikan
kerajaan sendiri dimana salah satunya adalah Babel.
Perempuan pelacur dan kota Babel yang dilihat rasul Yohanes
memiliki makna yang sama. Kedua simbol ini sama-sama merujuk kepada gereja,
tetapi gereja yang akan dihakimi. Gereja yang mendapat simbol ‘perempuan
pelacur’ atau ‘kota Babel’ ini dihakimi, agar mempelai sejati Anak Domba dapat
tampil.
Mari kita teruskan pembahasan kita mengenai penghakiman ‘Babel’
atau penghakiman ‘perempuan pelacur’ (Wahyu 17:1). Telah kita bahas bahwa
‘Babel’ adalah kota kerajaan yang dibangun Nimrod. Nimrod adalah seorang
pemimpin yang berkuasa, dan bukan saja ia menggerakkan orang2 untuk membangun
kota (Babel), tetapi juga sebuah menara (Kejadian 11:1-9). Motivasi Nimrod
membangun kota dan menara jelas tertulis, yaitu cari nama supaya jangan
terserak (11:4). Nama merupakan ekspresi dari reputasi, kemuliaan, karya2, dan
juga karakter seseorang. Nimrod bertujuan agar melalui reputasi, kemuliaan,
karya2 dan karakternya, ia dapat menarik orang2 kepada dirinya dan tidak
terserak. Demikianlah memang maksud Nimrod dalam membangun kerajaannya.
Kerajaan yang dibangun Nimrod langsung mendapat penghakiman
Elohim. Dengan mengacau-balaukan bahasa mereka sehingga mereka tidak dapat
berkomunikasi, maka usaha Nimrod dan para pengikutnya langsung gagal dan
hancur. Karena memang melalui kekuatan sebagai pemimpin dan kekuatan
komunikasinya-lah, maka Nimrod berhasil menggerakkan orang banyak untuk
memiliki satu tujuan, misi, dan visi bersama untuk membangun suatu kerajaan.
Baiklah kita kembali kedalam penghakiman ‘perempuan pelacur’
atau ‘Babel’ dalam kitab Wahyu. Mengapa gereja (perempuan pelacur) yang
mendapat simbol ‘Babel’ dihakimi oleh Elohim sehingga rubuh, dan ‘Babel’ tidak
akan ditemukan lagi (Wahyu 18:21). Penjelasannya demikian. Kita perlu memahami
makna gereja yang mendapat simbol ‘Babel’ didahinya seperti tertulis dalam
Wahyu 17:5, demikian, “Dan pada dahinya
tertulis suatu nama, suatu rahasia: Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur
dan dari kekejian bumi”. Sesungguhnya, gereja mendapat simbol ‘Babel’
disebabkan ada “Nimrod-Nimrod” yang membangun kerajaannya sendiri. Dengan
demikian, gereja dikuasai sistem pemerintahan manusia (hierarki), atau dengan
kata lain, didalam gereja terdapat otoritas “Nimrod”. Dan Tuhan Yesus tidak
menghendaki didalam gerejaNya terdapat otoritas “Nimrod”.
Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan perkataan Yesus
dalam Matius 23:1-12. Bagian firman Tuhan ini merupakan semacam ‘pendahuluan’
sebelum Yesus menegor para pemimpin agama dizamanNya dengan ucapan, ‘celakalah’
(Matius 23:13-36). Dalam Matius 23:1-12, Yesus berbicara kepada dua kelompok
orang, yaitu ‘orang banyak’ dan ‘murid2Nya’ (ayat 1). Dan, konteks bagian ini
adalah ‘kursi Musa’ yang merupakan simbol dari suatu otoritas. Yesus tegas
mengajarkan agar ‘orang banyak’ jangan memberontak kepada orang2 Farisi dan
ahli2 Taurat, karena mereka telah menduduki ‘kursi Musa’, dalam arti karena
mereka memiliki suatu otoritas. Tetapi kepada murid2Nya, Yesus berkata agar
jangan seorangpun disebut rabi, pemimpin, atau bapa (ayat 8-10). Maksud Yesus
bukan berarti didalam gerejaNya tidak boleh ada para pemimpin, pengajar atau
bapa2 rohani. Tetapi, maksud Yesus, sesuai konteks “kursi Musa”, bahwa DIDALAM
GEREJANYA TIDAK BOLEH ADA SEORANGPUN YANG BEROTORITAS SELAIN YESUS. Artinya,
didalam gerejaNya hanya ada otoritas Hayat, karena Yesus adalah Hayat, dan Ia
juga datang untuk memberi Hayat (Yohanes 10:10). GerejaNya adalah organisme
dimana hanya berlaku otoritas dari Hayat organisme itu, yaitu Yesus sang
Hayat.
Paulus menjelaskan kejatuhan gereja dengan jelas, yaitu
karena para pemimpin MENARIK murid2 kepada diri mereka sendiri (Kis. 20:28-30).
Para pemimpin gereja seharusnya hanya MEMPERLENGKAPI umat Tuhan (Efesus
4:11-12). Perilaku para pemimpin gereja yang menarik murid2 Tuhan SAMA PERSIS
dengan perilaku Nimrod dalam membangun kerajaannya, yaitu Babel. Itu sebabnya,
gereja “pelacur” mendapat simbol ‘Babel”.
Mengapa juga gereja mendapat simbol ‘perempuan pelacur’? Kita
tahu bahwa pelacur menerima banyak “benih” dari banyak pria. Didalam gereja
mula2 tidak ada benih “otoritas Nimrod”, selain benih Hayat. Paulus, Petrus,
dan Yohanes sama sekali tidak mempunyai otoritas atas gerejaNya. Mereka hanya
memperlengkapi murid2 Tuhan saja. Mereka tidak pernah menarik uang dari murid2
Tuhan untuk kehidupan pribadinya, ataupun untuk membangun pelayanannya. Mereka
tentu menerima sesekali pemberian jemaat atau orang2 tertentu sesuai kerelaan
mereka, tetapi mereka tidak menarik murid2 Tuhan, apalagi uangnya untuk diri
mereka sendiri, serta membangun kerajaannya sendiri.
Dunia kekristenan telah dipenuhi dengan “otoritas Nimrod”.
Dalam setiap denominasi tentu ada “Nimrodnya”. Bukan saja “otoritas Nimrod”
yang masuk kedalam dunia kekristenan, secara umum, tetapi juga “benih2” ajaran
Izebel, Bileam dan Nikolaus (Wahyu 2-3). Itu sebabnya, kita tahu, bahwa dunia
kekristenan mendapat simbol ‘Babel’ dan ‘perempuan pelacur’, serta akan dihakimi
pada saat kedatangan Yesus, dan tidak akan ada lagi.
Telah kita bahas mengapa gereja yang mendapat simbol ‘Babel’
akan dihakimi pada kedatanganNya, sedemikian sehingga hancur dan tidak
ditemukan lagi (Wahyu 18:21). Saat ini, kita akan membahas seruan dari sorga
yang berkata, “…Pergilah kamu, hai
umatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam
dosa-dosanya dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya”
(Wahyu 18:4). Maksudnya, didalam gereja ber-simbol ‘Babel’ terdapat dosa2 yang
mendatangkan penghakiman Elohim, dan umat Tuhan diperintahkan agar jangan
mengambil bagian dalam dosa-dosa itu.
Ungkapan ‘mengambil
bagian’ pada Wahyu 18:4, diterjemahkan dari ungkapan Yunani, ‘me
sugkoinoneo’, yang artinya, ‘tidak
bersekutu atau tidak berfellowship’. Hal ini mengingatkan kita kepada surat
I Yohanes 1:3, yang berkata demikian, “… supaya
kamu pun beroleh persekutuan dengan kami…”. Rasul Yohanes mengirim suratnya
kepada gereja2 di Asia Kecil (7 gereja), supaya anggota2 gereja yang menerima
firman yang diberitakannya dapat memiliki persekutuan dengan rasul Yohanes dan
timnya. Rasul Yohanes dan timnya tidak mempunyai ‘persekutuan’ dengan ketujuh
gereja di Asia Kecil, karena gereja2 itu telah jatuh oleh ketiga ajaran palsu
Izebel, Bileam, dan Nikolaus (Wahyu 2-3). Rasul Yohanes bukannya tidak
menyampaikan pesan2 firman Tuhan atau melayani gereja2 ini, tetapi ia tidak
dapat bersekutu dengan gereja2 ini karena dosa2 oleh ketiga ajaran palsu
tersebut. Rasul Yohanes dan timnya tidak ambil bagian dalam dosa2 ketujuh
gereja ini.
Didalam Wahyu 14:4, yang telah kita bahas, ditegaskan bahwa
“buah sulung” tidak mencemarkan dirinya dengan “perempuan-perempuan”. Umat
pilihanNya telah diproses Tuhan sedemikian sehingga tidak ‘mencemarkan diri’
dengan gereja2 yang sudah jatuh. Sekali lagi perlu kita ingat bahwa “buah
sulung” bukanlah anggota2 gereja yang spesial, dalam arti ‘lebih baik’ dari
anggota2 gereja lainnya. Hal ini semata-mata kehendak Bapa untuk menjadikan dan
menentukan kita sebagai “buah sulung” ciptaanNya (Yakobus 1:18).
Mari kita mengambil contoh dari kasus Israel yang keluar dari
Mesir, agar dapat lebih memahami perkara ini. Bangsa Israel yang keluar dari
Mesir sangat banyak, barangkali hampir 2 juta orang, tetapi yang sampai di Tanah
Perjanjian hanya dua keluarga saja, yaitu keluarga Yosua dan Kaleb. Hal ini
disebabkan mayoritas bangsa Israel telah keluar dari Mesir, tetapi “Mesir”
belum keluar dari mereka. Itu sebabnya, jika ada kesulitan, maka Israel selalu
cenderung ingin kembali ke Mesir. Akar masalahnya, didalam hati mereka masih
terdapat kerinduan akan ‘kenikmatan2 Mesir’, seperti yang mereka sendiri
katakan (Bilangan 11:5). Tetapi, oleh kasih karuniaNya, Kaleb mempunyai ‘jiwa
yang berbeda’ dan ia mengikut Tuhan sepenuh hati (Bilangan 14:24).
Baiklah kita menerapkan kebenaran ini kedalam kehidupan kita
sekarang. Kita tahu bahwa dunia kekristenan adalah gereja2 yang mendapat simbol
‘Babel’, dimana ajaran Izebel, Bileam, serta Nikolaus telah diterima secara
luas. Oleh kasih karuniaNya, “buah sulung” dapat dengan mudah mentaati perintah
dalam Wahyu 18:4 diatas, agar ‘keluar dan jangan ambil bagian didalamnya’.
Mengapa? Karena, oleh penentuan dan proses dari Bapa disorga, maka bukan saja
“buah sulung” telah keluar dari “Babel”, tetapi “Babel” juga telah keluar dari
dalam hatinya. Tidak ada lagi kerinduan2 didalam hati “buah sulung” akan
kenikmatan “Babel”, seperti uang, jabatan, atau kemuliaan manusia yang
ditawarkan bagi seseorang yang “melayani” dalam dunia kekristenan.
Setelah uraian yang panjang, dari Wahyu 16:17 sampai Wahyu
18, mengenai malaikat ketujuh yang mencurahkan cawan murka Elohim keatas
gereja2 yang mendapat simbol ‘Babel’, maka kita masuk kedalam pasal 19 mengenai
‘nyanyian kemenangan di sorga’, demikian, “Dan
setelah hal-hal ini, aku mendengar suara yang nyaring dari kerumunan orang
banyak di dalam surga, yang mengatakan, Halelu-YAH! Keselamatan dan kemuliaan
dan hormat dan kuasa ada pada YAHWEH, Elohim kita, sebab benar dan adil
penghakiman-Nya karena Dia telah mengadili pelacur besar itu, yang terus
menerus merusak bumi dengan percabulannya. Dan Dia telah menuntut balas darah
para hamba-Nya dari tangannya” (Wahyu 19:1-2, ILT).
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dari ayat2 kita
diatas. Pertama, sekalipun ‘kerumunan orang banyak di surga’ memuji Yahweh
karena penghakimanNya, namun mereka berseru bahwa ‘keselamatan’ ada pada
Yahweh, Elohim kita. Penghakiman Elohim memang bertujuan agar orang mengenal
apa yang benar (Yesaya 26:9). Tanpa penghakiman Elohim, tidak mungkin orang
dapat mengenal apa yang benar. Itu sebabnya, Yesus berkata, “…Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi…”
(Yohanes 9:39). Yesus datang kedunia bukan saja untuk memberikan HayatNya
(Yohanes 10:10), tetapi juga untuk menghakimi. Tanpa penghakiman Elohim, tidak
mungkin benih Hayat Kristus (‘zoe’) dalam diri umatNya dapat bertumbuh, dalam
arti umatNya memperoleh ‘zoe’ dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10).
Kedua, kerumunan orang banyak di surga’ memuji Yahweh karena
Dia telah menghakimi ‘pelacur besar’. Identitas ‘pelacur besar’ ini memang
tersembunyi bagi banyak orang dalam dunia kekristenan, karena ‘pelacur besar’
ini merupakan suatu ‘rahasia’ atau ‘misteri’ (Wahyu 17:5). Rahasia atau misteri
adalah suatu kebenaran tersembunyi yang memerlukan pewahyuan Elohim untuk
memahaminya. Namun, bagi para pemenangNya, identitas ‘pelacur besar’ ini tidak
lagi merupakan rahasia. Seperti yang sudah kita tegaskan dalam tulisan ini
bahwa ‘pelacur besar’ ini tidak lain adalah sistem (‘kosmos’) kekristenan atau
dunia kekristenan, atau gereja2 yang mendapat simbol ‘Babel’.
Ketiga, penghakiman Elohim atas dunia kekristenan ini terkait
perihal, “menuntut balas darah para hamba-Nya dari tangannya”. Apakah mungkin
dunia kekristenan “mencurahkan” darah para hamba Tuhan atau orang2 yang diutus
Tuhan kepadanya? Yesus berkata dalam Matius 23:35, demikian, “supaya kamu
menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel,
orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara
tempat kudus dan mezbah”. Pada ayat ini, Yesus sedang berbicara kepada para
pemimpin agama dizamanNya, yang terikat dengan Perjanjian Musa. Para pemimpin
agama ini, atau Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin), adalah umat Tuhan, yang
bahkan Yesus katakan mereka telah menduduki ‘kursi Musa’ (Matius 23:2).
Sesungguhnya, Yesus sendiri dibunuh oleh Mahkamah Agama
Yahudi, dimana Imam Besar Kayafas memimpin ketujuh puluh anggotanya. Pontius
Pilatus hanyalah “alat” ditangan Mahkamah Agama Yahudi, karena pada saat itu
Kekaisaran Roma berkuasa atas bangsa Israel. Sebenarnya, Pontius Pilatus sudah
ingin membebaskan Yesus, tetapi oleh hasutan orang2 Farisi dan ahli2 Taurat,
maka orang banyak berteriak agar Yesus disalibkan, dan mereka memilih Barabas
(Matius 27:20).
Sayangnya, dalam dunia kekristenan, ada tertulis dalam
‘pengakuan iman’ yang telah diterima luas, bahwa Yesus ‘menderita dibawah
pemerintahan Pontius Pilatus’, seolah-olah Pilatuslah yang menjadi pelaku
utamanya. Tetapi yang benar bahwa tercurahnya darah Yesus dilakukan oleh dunia
keagamaan dizamanNya.
Pada saat kedatanganNya, Yesus akan berterus terang kepada
dunia kekristenan (Matius 7:21-23). Saat ini kita belum tahu, mana hamba Tuhan
dan mana hamba Mamon. Tetapi, Paulus tegas menyatakan bahwa jika ia mencoba
berkenan kepada manusia, maka ia bukanlah hamba Kristus (Galatia 1:10). Biarlah
Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan pada hariNya, siapa2 yang menjadi hambaNya,
dan siapa yang bukan.
Kita teruskan pembahasan kita dalam pasal 19 mengenai
‘nyanyian kemenangan di sorga’ terkait ke-24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup.
Wahyu 19:4-6, menegaskan, “Dan, kedua
puluh empat tua-tua dan keempat makhluk hidup itu bersungkur dan mereka
menyembah kepada Elohim yang duduk di atas takhta, seraya berkata, ‘Amin!
Halelu-YAH!’ Dan keluarlah suatu suara dari takhta itu sambil berkata, ‘Pujilah
Elohim kita, kamu semua para hambaNya, dan kamu yang takut akan Dia, dan kamu
yang kecil, dan kamu yang besar… Halelu-YAH! Sebab YAHWEH, Elohim Penguasa
Semesta, memerintah” (ILT).
Setelah ‘nyanyian kemenangan di sorga’ terkait penghakiman
atas ‘pelacur besar’ (dunia kekristenan) itu terjadi, maka ‘nyanyian kemenangan
di sorga’ berlanjut kepada penyembahan dari ke-24 tua-tua dan ke-4 makhluk
hidup, seperti tertulis pada ayat kita diatas. Telah kita bahas bahwa ke-24
tua-tua dan 4 makhluk ini merupakan simbol orang2 kudus dari segala bangsa,
yang telah diproses Tuhan menjadi raja2 dan imam2, serta akan memerintah dibumi
(Wahyu 5:9-10). Selanjutnya, keluarlah suatu suara dari takhta agar ‘kamu semua
para hambaNya, dan kamu yang takut akan Dia, dan kamu yang kecil, dan kamu yang
besar’ untuk memuji Elohim kita, sebab Elohim penguasa semesta, memerintah.
Kita tahu bahwa penghakiman atas dunia (‘kosmos’)
kekristenan, bukanlah berarti menolak umat Tuhan yang berada didalamnya.
Gereja-gereja yang mendapat simbol ‘Babel’ tetaplah umat Tuhan yang telah
dipanggil (‘ekklesia’). Tuhan menghakimi umatNya dalam dunia kekristenan agar
terbebas dari ‘perbudakan sistem Babel’. Sebagaimana Israel sebagai umat Tuhan
dibuang kedalam perbudakan Babel karena penyembahan berhala mereka, demikianlah
umat Tuhan dalam dunia kekristenan jatuh kedalam perbudakan sistem Babel karena
adanya “penyembahan berhala” melalui ajaran2 palsu Izebel, Bileam, Nikolaus
dari para pemimpinnya Tetapi, pada akhirnya, umat Tuhan dalam dunia kekristenan
akan dibebaskan dari perbudakan sistem Babel, dan selanjutnya, dari takhtaNya
keluar suara agar semuanya memuji Elohim, baik yang kecil maupun yang besar.
Perintah atau suara dari takhta Elohim agar semuanya memuji
Dia, terkait dengan akan datangnya pemerintahan Elohim dibumi ini. Inilah
kebenaran yang umumnya tersembunyi dalam dunia kekristenan. Banyak orang
Kristen memiliki konsep bahwa fokus rencana Tuhan adalah sorga. Memuji Tuhan
selama-lamanya di sorga. Tetapi, sesungguhnya, kekeliruan ini disebabkan
perbudakan sistem Babel, dimana umumnya selalu diberitakan bahwa ‘percaya Yesus
masuk sorga’. Tetapi, sebenarnya fokus rencara Tuhan adalah bumi. Ia akan
memerintah dibumi ini melalui ‘ke-24 tua-tua dan 4 makhluk’ sebagai raja2 dan
imam2.
Sistem lama dalam dunia kekristenan dimana gereja
diperlengkapi oleh rasul2, nabi2, penginjil2, pengajar2 dan gembala2, telah
runtuh dan jatuh dalam perbudakan. Sekalipun, puji2an selalu dinaikan dalam
dunia kekristenan, tetapi hal ini seperti ketika Israel berada ditepi sungai2
Babel, dan berseru, “Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri
asing?” (Mazmur 137:4). Tetapi kelak, melalui penghakiman Elohim, umat Tuhan
dalam dunia kekristenan akan terbebas, dan memuji Dia semata-mata karena Elohim
akan memerintah dibumi.
Mari kita lanjutkan pasal 19 mengenai ‘nyanyian kemenangan di
sorga’, terkait ‘perkawinan Anak Domba’. Wahyu 19:7-9, menyatakan demikian, “Marilah kita bersukacita dan marilah kita
bersukaria dan marilah kita memberikan kemuliaan kepadaNya! Sebab pesta
perkawinan Anak Domba telah tiba, dan mempelai wanitaNya telah mempersiapkan
dirinya…. Berbahagialah dia yang dipanggil ke dalam perjamuan pesta perkawinan
Anak Domba…” (ILT). Siapakah mempelai wanita dari Anak Domba, dan siapakah
mereka yang dipanggil kedalam perjamuan pesta perkawinan ini? Inilah yang akan
kita bahas dalam bagian ini.
Kita akan menjelaskan identitas ‘mempelai wanita’ Anak Domba
ini dari sifat dasar Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru. Mengenai sifat
dasar PL, Yeremia 31:32, menegaskan demikian, “bukan seperti perjanjian yang
telah Aku ikat dengan leluhur mereka (PL)… mereka telah melanggarnya, walaupun
Aku telah menjadi suami bagi mereka” (ILT). Jelas terlihat disini bahwa sifat
dasar PL adalah suatu perjanjian antara suami-isteri. Yahweh sebagai suami, dan
Israel sebagai isteriNya. Sementara itu, PB bersifat seperti perjanjian
bapa-anak. Yesus mengajarkan murid2Nya untuk menyebut ‘Bapa’ dalam doa2 mereka.
Paulus juga mengajarkan bahwa kita yang terikat dengan Elohim melalui PB adalah
ahli2 waris. Sebagai seorang anak, tentu kita akan menerima warisan dari Bapa
di sorga.
Karenanya, ‘mempelai Anak Domba’ secara khusus, berasal dari
bangsa Israel sebagai isteri Yahweh. Tetapi, sebagaimana yang telah kita bahas
mengenai ke-144.000 orang yang dimeteraikan dari suku2 Israel adalah “buah
sulung” atau gereja pemenang, maka ‘mempelai Anak Domba’ juga berasal dari
gereja pemenang. Kita tahu bahwa Galatia
3:7, menyatakan, “… mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak
Abraham”. Jadi, ‘mempelai Anak Domba’ berasal dari bangsa Israel, dan juga dari
bangsa2 lain yang merupakan ‘gereja pemenang’.
Tetapi harus kita tegaskan bahwa ‘mempelai Anak Domba’ adalah
gereja “perawan” yang diuraikan dalam Wahyu pasal 12, dan bukan berasal gereja
“pelacur” yang diuraikan dalam Wahyu pasal 17. Justru, perkawinan Anak Domba
terjadi setelah jelas siapakah mempelai wanitaNya. Saat ini belum jelas, atau
belum dipersiapkan siapa yang adalah mempelai wanitaNya. Namun, pada waktu
kedatanganNya, ketika Ia menghakimi umatNya, barulah jelas dan akan tampil
‘mempelai wanitaNya’.
Satu poin lagi perlu kita ingat mengenai gereja “perawan”
yang diuraikan dalam Wahyu pasal 12. Dalam Wahyu 12, dijelaskan bahwa gereja
“perawan” (feminin) melahirkan putera2 Elohim (maskulin) yang akan
menggembalakan segala bangsa dengan tongkat besi (12:5). Sesungguhnya, sebagaimana
‘mempelai wanita Anak Domba’ itu bersifat korporat (banyak orang), demikian
juga mempelai prianya bersifat korporat. Jadi, pada peristiwa perkawinan Anak
Domba, Yesus dan putera2 Elohim (maskulin) akan bersatu dengan mempelai wanita,
yaitu gereja “perawan”.
Sekarang, siapakah mereka yang diundang atau dipanggil untuk
ikut dalam perjamuan kawin Anak Domba? Tentu mereka ini bukanlah ‘mempelai
wanita’ Anak Domba itu. Kita teringat kepada perumpamaan 5 gadis bijaksana dan
5 gadis bodoh (Matius 25:1-13). Bisa jadi, 5 gadis bijaksana ini berasal dari
gereja “pelacur” yang telah dihakimi sehingga mengenal apa yang benar. Mereka
ambil bagian dalam menaikkan puji2an yang diperintahkan oleh suara dari takhta
(Wahyu 19:5).
Sebagai penutup bagian ini, kita jangan berpikir bahwa
‘perjamuan kawin Anak Domba’ adalah perjamuan kawin ‘jasmani’, sebagaimana yang
kita kenal didunia ini. Perkawinan itu merupakan simbol dari ‘penyatuan’. I
Korintus 6:17, menegaskan, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan,
menjadi satu roh dengan Dia”. Perjamuan kawin Anak Domba adalah penyatuan Tuhan
dengan umatNya dalam roh.
Telah kita bahas dalam pasal 19 mengenai ‘nyanyian kemenangan
di sorga’ terkait penghakiman pelacur besar, penyembahan ke-24 tua-tua dan 4
makhluk, serta perkawinan Anak Domba, maka selanjutnya sorga terbuka dan kita
diperlihatkan pewahyuan Yesus Kristus berikutnya terkait ‘kuda putih’. Wahyu
19:11-15, menegaskan, “Dan aku melihat
surga yang terbuka, dan lihatlah, seekor kuda putih dan Dia yang duduk
diatasnya yang disebut Setia dan Benar, dan Dia menghakimi dan berperang dalam
kebenaran… yang mempunyai suatu nama yang telah tertulis, yang tidak seorangpun
mengetahui, kecuali Dia sendiri… Dan bala tentara di surga mengikuti Dia di
atas kuda-kuda putih dengan mengenakan linen halus yang putih dan bersih. Dan
dari mulutNya keluar sebilah pedang tajam supaya dengannya Dia dapat memukul
bangsa-bangsa. Dan Dia akan menggembalakan mereka dengan tongkat besi…”
(ILT).
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam ayat2
diatas. Pertama, Yesus Kristus yang duduk diatas seekor kuda putih. Telah kita
bahas mengenai seorang yang menunggang kuda putih pada pembukaan meterai
pertama dalam Wahyu 6:1-2. Disini Yesus Kristus berperang seorang diri untuk
menaklukkan. Tetapi dalam pasal 19 ini, Yesus Kristus berperang bersama bala
tentara surga untuk menaklukkan.
Bala tentara sorga ini bukanlah para malaikat ‘bersayap’,
karena ditegaskan bahwa mereka memakai ‘linen halus yang putih bersih’ yang
merupakan simbol dari perbuatan2 yang benar dari orang2 kudus (Wahyu 19:8).
Jadi, Yesus Kristus dengan orang2 kudusNya akan berperang dan menaklukkan
segala sesuatu. Hal ini menggenapi nubuat Henokh dalam Yudas 14-15, demikian, “Lihatlah, YAHWEH datang dengan beribu-ribu
orang kudus-Nya untuk melakukan penghakiman terhadap semua orang…” (ILT).
Kedua, Yesus Kristus mempunyai nama yang tidak diketahui
seorangpun kecuali Dia. Nama berbicara mengenai karakter, kemuliaan, reputasi,
dan karya2 seseorang. Jadi, disini Yesus Kristus memiliki karya, kemuliaan,
reputasi yang tidak diketahui orang. Tetapi kepada para pemenangNya akan
dituliskan nama Elohim, BapaNya (Wahyu 3:12; 14:1). Bagi banyak orang Kristen,
Yesus Kristus dikenal sebagai Tuhan dan Juruselamat. Siapa yang percaya
kepadaNya masuk sorga, dan yang tidak percaya akan dilemparkan kedalam neraka
selama-lamanya. Orang Kristen yang memiliki konsep neraka kekal selama-lamanya,
jelas tidak mengenal nama Yesus sesungguhnya. Setelah Yesus Kristus dan para
pemenangNya menaklukkan segala sesuatu, termasuk ‘maut’ (upah dosa) yang
merupakan musuh terakhir, maka barulah semua orang akan mengenal nama Yesus.
Ketiga, ayat diatas menegaskan bahwa Yesus Kristus akan
memukul bangsa-bangsa dengan ‘pedang tajam yang keluar dari mulutNya’. Bagi
para penafsir ‘jasmani atau ‘harfiah’, maka dipahami bahwa Yesus akan menghukum
bangsa2 dan membinasakannya pada saat kedatanganNya. Para penafsir ini tidak
memahami ‘Bahasa simbol’ dari kitab Wahyu (Wahyu 1:1). Bahkan ungkapan ‘lautan
api’ dalam kitab Wahyu dipahami sebagai neraka kekal selama-lamanya. Kita akan
membahasnya kelak.
Tetapi sesungguhnya, maksud ayat2 diatas adalah Yesus Kristus
bersama para pemenangNya akan menghakimi dan menggembalakan bangsa2 dengan
firman Elohim, sedemikian sehingga bangsa2 mengenal apa yang benar. Kerajaan
Mesias, yaitu Yesus dan para pemenangNya, akan datang dan termanifestasi
sepenuhnya di bumi bukan untuk membinasakan bumi, melainkan menggembalakan
bangsa2 dengan firman Elohim sehingga bumi bergerak menuju Bumi Baru dan Langit
Baru dimana terdapat kebenaran.
Saat ini kita masuk kedalam pasal 20, setelah pewahyuan Yesus
Kristus dibukakan dalam pasal 19, bahwa Yesus dengan para pemenangNya akan
berperang untuk menaklukkan segala sesuatu. Kita akan bahas Wahyu 20:1-3,
demikian, “Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak
kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; ia menangkap naga, si
ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya,
lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan
memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa,
sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan
dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya”.
Kita lihat disini bahwa Iblis dilemparkan kedalam ‘jurang
maut’ agar tidak menyesatkan bangsa-bangsa. Ungkapan ‘jurang maut’
diterjemahkan dari istilah Yunani, ‘abussos’, yang artinya, ‘bottomless pit’ atau ‘lubang tak
berdasar’. Karena lubang ini tidak mempunyai ‘dasar’, maka Iblis tidak mendapat
‘pijakan/pondasi/ground’ untuk beraktifitas. Itu sebabnya ia tidak dapat
menyesatkan bangsa-bangsa.
Mari kita ambil contoh bagaimana Iblis tidak dapat
beraktifitas atau berbuat sesuatu, karena tidak mendapat
‘pijakan/pondasi/ground’ dalam kehidupan Yesus. Yohanes 14:30, menegaskan
demikian, “… penguasa dunia ini datang
dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diriKu”. Sekalipun memang iblis
bekerja melalui Yudas, Mahkamah Agama Yahudi, dan banyak orang lainnya yang
ambil bagian dalam penyaliban Yesus, namun terhadap Yesus sendiri, Iblis tidak
dapat berbuat apa-apa. Mengapa? Karena didalam Diri Yesus, Iblis tidak mendapat
‘pijakan’ untuk menyerangNya.
Didalam Diri Yesus tidak terdapat sedikitpun ‘celah’ atau
dosa apapun yang menyebabkan Iblis mendapat ‘pijakan’ untuk berbuat sesuatu.
Hal ini berbeda dalam kasus Ayub. Perhatikan Ayub 3:25, demikian, “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa
aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku”. Disini kita melihat
bahwa dalam diri Ayub terdapat ketakutan dan kecemasan akan perkara2 yang pada
akhirnya menimpa dirinya. Ketakutan dan kecemasan Ayub menjadi suatu ‘pijakan’
atau ‘ground’ yang menyebabkan Iblis dapat menyerangnya.
Tetapi, kita jangan cepat2 menyimpulkan bahwa Iblis memiliki
kebebasan untuk menyerang siapapun yang dikehendakinya. Iblis dapat menyerang
Ayub dan keluarganya karena memang Bapa disorga memiliki rancangan bagi Ayub,
yaitu agar Ayub mengenal Dia dengan benar (Ayub 42:5). Iblis hanyalah ‘budak’
atau ‘alat’ saja ditangan Bapa disorga untuk memproses Ayub. Iblis tidak bebas
menyerang Ayub kecuali sudah diizinkan Bapa disorga (Ayub 1:12; 2:6).
Pada ayat kita diatas, Iblis hanya diikat selama seribu
tahun. Kemudian, ia dibebaskan untuk sedikit waktu lamanya, karena Bapa disorga
memiliki rencana tertentu baginya. Iblis diikat selama seribu tahun karena pada
masa seribu tahun ini Kristus dan para pemenangNya akan memerintah sebagai
raja2 dan imam2 dibumi (Wahyu 20:4).
Kita lihat bahwa terhadap Kristus dan para pemenangNya, Iblis
tidak dapat berbuat apa-apa selama seribu tahun. Bagaimana dengan kehidupan
kita saat ini? Apakah Iblis dapat berbuat sesuatu untuk menyerang kehidupan
kita sekarang? Oleh kasih karuniaNya, saat ini juga, kita dapat berkata seperti
Yesus, bahwa Iblis tidak dapat berbuat apa-apa dalam kehidupan kita. Yang dapat
terjadi atas hidup kita sekarang hanyalah kehendak dan rancanganNya. Bagi kita,
IBLIS SEOLAH-OLAH TIDAK ADA. Semua yang terjadi atas hidup kita adalah kehendak
Bapa, itu sebabnya semua baik, amin.
Kita lanjutkan pembahasan kita tentang ‘kerajaan seribu
tahun’ dengan melihat Wahyu 20:4-5, demikian, “Dan aku melihat takhta-takhta dan mereka yang duduk di atasnya –dan
penghakiman telah diberikan kepada mereka- dan jiwa-jiwa mereka yang dipenggal
karena kesaksian YESUS dan karena firman Elohim, serta siapapun yang tidak
menyembah binatang… tidak menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya. Dan
mereka hidup dan memerintah bersama Kristus selama seribu tahun… Inilah
kebangkitan pertama” (ILT).
Ada beberapa hal kita lihat dari ayat2 ini. Pertama, kepada
para pemenangNya, didalam kerajaan seribu tahun, diberikan anugerah untuk
menghakimi dibumi (Wahyu 5:10). Tujuan dari penghakiman Elohim yang diserahkan
kepada mereka adalah, “… apabila Engkau
datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”
(Yesaya 26:9). Jadi, penghakiman mereka bersifat ‘mengoreksi’, dan bukan saja
‘penghukuman’, karena memang apa yang ditabur oarng, itu juga yang akan
dituainya.
Kedua, ditegaskan disini bahwa para pemenangNya ‘dipenggal
karena kesaksian Yesus’. Ini bukan berarti para pemenangNya adalah orang2 yang
kepala ‘jasmaninya’ dipenggal. Pemenggalan disini adalah simbol yang berbicara
soal mengganti ‘pikiran kedagingan’ dengan ‘pikiran Kristus’. Selanjutnya, para
pemenangNya tidak menyembah binatang atau menerima tanda binatang itu, karena
di-dahi para pemenangNya tertulis nama Anak Domba dan nama Bapa disorga.
Artinya, para pemenangnya memiliki pikiran Kristus.
Ketiga, Para pemenangNya memerintah 1000 tahun bersama
Kristus, karena mengalami ‘kebangkitan pertama’. I Korintus 15 menjelaskan
kepada kita mengenai kebangkitan. Tentu kita tidak membahas seluruhnya
melainkan beberapa fakta saja. Fakta pertama, semua orang mati dalam
persekutuan dengan Adam, demikian juga semua orang akan dihidupkan kembali
dalam persekutuan dengan Kristus. Fakta kedua, tiap-tiap orang akan
dibangkitkan menurut urutannya (ayat 23). Fakta ketiga, Kristus Yesus sebagai
‘buah sulung’, dalam arti sebagai yang pertama dibangkitkan (ayat 23). Fakta
keempat, pada saat kedatanganNya, kelompok pemenangNya akan dibangkitkan (ayat
23). Dalam Wahyu 14:4, kelompok pemenangNya juga disebut ‘buah sulung’.
Artinya, para pemenangNya ‘lebih dahulu’ mengambil bagian dalam kebangkitan
Kristus. Fakta kelima, sesuai konteks I Koritus 15, maka pada pada akhirnya
SEMUA orang akan dibangkitkan dalam Kristus, sehingga Bapa dapat menjadi SEMUA
dalam SEMUA (ayat 28).
Paulus juga menjelaskan perihal ‘kebangkitan’ ini dalam surat
Roma. Dalam surat ini Paulus menjelaskan keselamatan dengan tiga ungkapan
berturut-turut. Justification by faith (pembenaran oleh iman), Sanctification
by faith (pengudusan oleh iman), dan glorification by faith (pemuliaan oleh
iman). Pemuliaan oleh iman hampir tidak dibicarakan dalam dunia kekristenan,
tetapi justru inilah puncak keselamatan itu. Roma 8:18-30, menjelaskannya
demikian. Pemuliaan oleh iman sama dengan pengangkatan sebagai anak dan
pembebasan tubuh jasmani kita (ayat 23). Anak-anak Elohim akan ditampilkan
dibumi dengan tubuh kemuliaan untuk membebaskan ciptaan (Roma 8:19-21).
Saat kerajaan seribu tahun ditegakkan dibumi ini merupakan
saat anak2 Elohim sebagai ‘buah sulung’ dimuliakan (ditampilkan) kepada seluruh
makhluk. Ini juga berarti datangnya (manifestasi penuh) kerajaan sorga
dibumi.
Kita lanjutkan pembahasan mengenai ‘kerajaan seribu tahun’
terkait dengan ‘kematian kedua’. Apakah makna dari ungkapan kematian kedua?
Wahyu 20:6, menegaskan demikian, “Berbahagialah
dan kuduslah dia yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama. Kematian kedua
tidak mempunyai wewenang atas mereka. Namun mereka akan menjadi imam-imam
Elohim dan Kristus, dan mereka akan memerintah bersama-Nya selama seribu tahun”
(ILT). Pandangan umum dalam dunia kekristenan menganggap ‘kematian kedua’
sebagai ‘kematian pertama’ (kejatuhan Adam dan seluruh manusia kedalam dosa),
kemudian bagi orang yang tidak percaya Yesus akan dilempar lagi kedalam
‘kematian kedua’, dan biasa disebut ‘neraka kekal’ selama-lamanya. Benarkan
demikian?
Untuk memahami makna ‘kematian kedua’, kita harus tahu apa
makna ‘kematian pertama’. Kejadian 2:17, mengatakan bahwa pada hari engkau
(Adam) memakannya, engkau akan mati. Istilah ‘mati’ diterjemahkan dari ungkapan
Ibrani, ‘mut tamut’, yang berarti pada saat engkau memakannya, maka engkau
langsung mendapatkan jenis hidup ‘maut’ (karena upah dosa adalah maut), dan
kemudian akan berproses menuju kematian fisik. Inilah makna ‘kematian pertama’.
Istilah ‘maut’ yang sering digunakan Alkitab tidak harus
berarti kematian fisik. Paulus menegaskan seseorang (janda) yang ‘hidup mewah
dan berlebih-lebihan’ sudah mati selagi hidup (I Timotius 5:6). Maksudnya,
seseorang yang menjalani jenis hidup ‘maut’, dia sudah mati secara ‘rohani’,
walaupun fisiknya masih hidup dibumi.
Sesungguhnya, mati itu adalah suatu ‘transisi’. Suatu
‘perpindahan’ dari alam tertentu menuju ke-alam yang lain. Ketika Adam jatuh
dalam dosa, ia sebenarnya pindah dari alam ‘Taman Eden’ (alam sorgawi) menuju
ke ‘alam maut dibumi’. Adam tetap hidup dibumi sampai pada akhirnya ia mati
fisik.
Perhatikan I Korintus 15, dimana seluruh konteks pasal ini
berbicara tentang ‘kebangkitan’ semua orang, dan kita telah menyinggungnya
sedikit. Ayat 45-47, menegaskan, “…Manusia
pertama, Adam…tetapi Adam yang akhir…Manusia pertama berasal dari debu
tanah…manusia kedua berasal dari sorga”. Istilah ‘manusia’ dan ungkapan
‘Adam yang akhir’ yang digunakan Paulus disini sangat penting sekali. Adam di
Taman Eden disebut MANUSIA PERTAMA, artinya Adam adalah KEPALA dari seluruh
manusia (ras manusia), karenanya kejatuhan Adam berarti kejatuhan semua
manusia. Yesus disebut ADAM AKHIR, artinya melalui kematianNya dikayu salib
sebagai ADAM AKHIR, Yesus menghapus (“mematikan”) semua akibat2 dari kematian
Adam di Taman Eden. Yesus juga disebut MANUSIA KEDUA, artinya Yesus adalah
KEPALA ras manusia yang baru. Jika kita memahami kebenaran yang sangat penting
ini, maka kita akan paham mengapa Paulus berbicara dalam Roma 5:18-19, bahwa
oleh satu pelanggaran, semua orang beroleh penghukuman, dan oleh satu perbuatan
kebenaran, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.
Jadi, makna ‘kematian kedua’ bukanlah neraka kekal seperti
umumnya dipahami dalam dunia kekristenan. TETAPI KEMATIAN KEDUA ADALAH KEMATIAN
YANG MENGHAPUS SELURUH AKIBAT DARI KEMATIAN PERTAMA.
Kita telah membahas makna ‘kematian kedua’ sebagai kematian
yang menghapus seluruh akibat ‘kematian pertama’. Baiklah kita berbicara
sedikit lagi tentang ‘kematian kedua’. Telah kita tegaskan bahwa ‘kematian’
berarti suatu transisi (perpindahan) dari suatu alam tertentu kepada alam
tertentu lainnya. Jadi, sesungguhnya, seseorang yang mengalami ‘kematian kedua’
bersama Kristus, ia berpindah dari alam ‘maut’ menuju alam ‘hidup’, berpindah
dari alam ‘kematian’ menuju alam ‘kebangkitan’. Berpindah dari alam ‘pikiran
duniawi’ menuju alam pikiran ‘Kristus’.
Paulus mengungkapkan kerinduannya untuk berpindah dari alam
‘kematian’ menuju alam ‘kebangkitan’, demikian, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan
dalam penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Filipi
3:10-11). Disini Paulus berbicara mengenai kematian dan kebangkitan BERSAMA
YESUS. Paulus rindu mengenal ‘persekutuan dalam penderitaanNya’ agar ia dapat
mengenal ‘kebangkitan bersama Yesus’.
Proses bersekutu dalam kematianNya dan kebangkitanNya, pasti
dialami SEMUA MANUSIA. Mengapa demikian? Perhatikan Ibrani 2:9, demikian, “Namun kita melihat YESUS… dalam anugerah
Elohim Dia dapat merasakan kematian ganti semua orang” (ILT). Sesungguhnya,
kematian Yesus sebagai ADAM AKHIR adalah KEMATIAN KEDUA. Dan semua orang telah
mengalami ‘kematian kedua’ bersama Yesus, tetapi kebangkitan semua orang
bersama Yesus ditentukan urut2an masing2 orang (I Korintus 15).
Perhatikan Wahyu 2:11, demikian, “…barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang
kedua”. Para pemenang atau “buah sulung” adalah orang yang dipanggil dan
dipilih oleh kedaulatan Bapa sendiri. Para pemenang bukannya tidak mengalami
‘persekutuan dalam penderitaanNya’, tetapi oleh anugerah dan proses dari Bapa
disorga, mereka telah mengalaminya ‘lebih dahulu’, sehingga mengalami
kebangkitan untuk memerintah bersama Kristus seribu tahun lamanya.
Sebagaimana telah kita ketahui, didalam dunia kekristenan,
ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Orang2 yang dipanggil
ini adalah sungguh2 orang Kristen yang telah lahir baru. Mari kita lihat ayat
berikut ini, dimana orang2 kristen yang telah dipanggil, menderita atau terluka
oleh proses kematian kedua. Matius 25:30, demikian, “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu kedalam kegelapan yang
paling gelap. Disanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi”.
Konteks Matius 25 adalah mengenai kerajaan sorga, khususnya
saat kedatangan Yesus, biasa disebut kedatangan kedua kali. Baik perumpamaan
Talenta maupun gadis bijaksana dan bodoh, semua berbicara mengenai orang
Kristen. Tetapi, sebagian diterima untuk memerintah bersama Kristus seribu
tahun lamanya, sebagian lagi tidak. Orang2 kristen yang tidak mengambil bagian
dalam kerajaan seribu tahun mengalami “ratap dan kertak gigi”, dalam arti
terluka oleh proses ‘kematian kedua’. Kita perlu tahu bahwa kedatangan Tuhan
Yesus kedunia ini bukan untuk mengevakuasi/mengangkat orang Kristen kesorga nun
jauh disana. Tetapi kedatangan Tuhan adalah menghakimi umatNya, dimana orang2
yang dipilih akan memerintah bersama Yesus dibumi seribu tahun lamanya,
sedangkan yang tidak, akan mengalami proses ‘kematian kedua’. Demikianlah makna
proses ‘kematian kedua’ yang harus dialami semua orang.
Kita telah membahas ‘kerajaan seribu tahun’, dan juga tentang
‘kematian kedua’. Saat ini kita masuk kedalam Wahyu 20:11-12, demikian, “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang
besar dan Dia, yang duduk di atasnya…. Dan orang-orang mati dihakimi menurut
perbuatan mereka…”.
Mari kita melihat beberapa takhta yang tertulis dalam
Alkitab. Dalam Wahyu 4:2, tertulis, “…sebuah
takhta terdiri di sorga…”. Wahyu 3:21, demikian, “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas
takhtaKu, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan
Bapa-Ku di atas takhtaNya”. Wahyu 20:4, “Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang2 yang duduk di atasnya; kepada
mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi…”. Wahyu 22:1, “…takhta Anak Domba…”. Dan Matius 19:28,
“…akan duduk juga di atas dua belas untuk
menghakimi kedua belas suku Israel”. Wahyu 4:4, “…dua puluh empat takhta…”.
Kita melihat disini ada beberapa takhta, yaitu takhta putih
yang besar, takhta disorga, takhta2 dalam kerajaan seribu tahun, takhta Anak
Domba, 12 takhta, dan 24 takhta. Apakah takhta2 ini berbeda satu dengan
lainnya? Sesungguhnya, Elohim hanya memiliki satu takhta. Takhta2 yang bermacam-macam
itu hanyalah berbicara mengenai berbagai aspek atau sifat dasar dari satu
takhta, yaitu Takhta Elohim. Yang jelas, takhta merupakan ‘simbol’ dari
otoritas untuk menghakimi, dan tentu juga berbicara tentang kerajaan.
Mari kita perhatikan ‘takhta putih yang besar’ pada ayat kita
diatas. ‘Putih’ merupakan simbol dari kemurnian dan kebenaran. Kita akan
melihat beberapa ayat berikut ini. Amsal 16:12, berkata, “…takhta menjadi kokoh oleh kebenaran”. Mazmur 89:15, “Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhtaMu,
kasih dan kesetiaan berjalan didepanMu”. Amsal 20:28, menegaskan, “…dengan kasih ia menopang takhtanya”.
Dari ayat2 ini kita lihat bahwa pondasi (tumpuan) dari takhta Elohim adalah
KEADILAN dan HUKUM. Tiang penopang dari takhtaNya adalah KASIH. Jadi,
penghakiman Elohim (takhta) tidak melanggar keadilan dan hukum, tetapi juga
tidak melanggar prinsip kasih.
Itu sebabnya, Yesaya 26:9, berkata, “…sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan
belajar apa yang benar”. Penghakiman Elohim bertujuan untuk mengoreksi agar
orang mengenal kebenaran, bukan menghukum dan melemparkan orang Selama-lamanya
dineraka. Jadi, orang2 mati yang dihakimi pada ayat kita diatas bertujuan agar
orang2 mati dapat mengenal kebenaran.
Baiklah kita menutup bagian ini dengan melihat kasus dimana
Yesus dihadapkan oleh para pemimpin agama kepada perempuan yang kedapatan
berzinah (Yohanes 8). Maksud para pemimpin agama ini adalah untuk menyalahkan
Yesus (ayat 6). Jawaban atau penghakiman Yesus terhadap perempuan ini adalah
pengampunan, dan nasihat agar jangan berbuat dosa lagi. Yesus bukan mengabaikan
dosa, tetapi penebusanNya memang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29; I Yohanes
2:2). Nasihat Yesus agar jangan berbuat dosa lagi agar perempuan ini belajar
apa yang benar. Jadi, penghakiman Yesus tidak melanggar prinsip KEADILAN (dosa
harus diselesaikan di kayu Salib untuk semua orang), tetapi juga tidak
melanggar prinsip KASIH (pengampunan).
Dalam dunia kekristenan, umumnya para pemimpin agama
mengajarkan ajaran ‘neraka kekal’. Pengajaran ini tidak memahami sifat dasar
takhta Elohim, yang adalah kasih dan keadilan. Bagaimana Elohim dapat
menyerahkan atau mempercayai para pemimpin agama ini untuk menjalankan
penghakiman Elohim, atau duduk bersama di takhtaNya? Tidak heran jika Yesus
berkata kepada para pemimpin agama dizamanNya bahwa para pemungut cukai dan
perempuan2 sundal masuk kerajaan sorga lebih dahulu (Matius 21:31).
Kita lanjutkan pembahasan kita tentang penghakiman ‘Takhta
Putih’ yang besar. Wahyu 20:13-15, menyatakan demikian, “Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada didalamnya, dan maut
dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada didalamnya, dan mereka
dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu
dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan
setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis didalam kitab kehidupan itu,
ia dilemparkan kedalam lautan api itu”. Ayat2 ini sangat penting untuk
dipahami dengan benar bagi kita, karena setelah penghakiman ‘Takhta Putih’ yang
besar, maka rasul Yohanes melihat ‘Langit yang baru dan Bumi yang baru’.
Ada dua hal yang harus kita perhatikan agar memahami
penghakiman ‘Takhta Putih’ ini, yaitu lautan api dan kematian kedua. Kita
telah membahas makna ‘kematian kedua’ terkait kematian pertama, yaitu sebagai
kematian yang menghapus seluruh akibat ‘kematian pertama’. Saat ini kita akan
membahas ‘kematian kedua’ terkait dengan ‘lautan api’. Perhatikan ayat kita
diatas yang mendefinisikan ‘kematian kedua’ dengan sangat jelas. KEMATIAN KEDUA
ADALAH MAUT DAN KERAJAAN MAUT YANG DILEMPARKAN KEDALAM LAUTAN API. Kita jangan
sembarangan mendefinisikan ‘kematian kedua’ sebagai neraka kekal
selama-lamanya, seperti yang umum dipahami dalam dunia kekristenan.
Pengajaran tentang ‘lautan api’ tidak terdapat dalam Alkitab,
kecuali didalam kitab Wahyu (Wahyu 14:10-11; 19:20; 20:10; 20:13-15 dan 21:8).
Karenanya, ‘lautan api’ adalah simbol, sesuai dengan sifat dasar kitab Wahyu,
yang menggunakan bahasa simbol (Wahyu 1:1). Mari kita pahami dengan baik makna
‘lautan api’, dimana dalam bagian2 lain kitab Wahyu disebut sebagai ‘Lautan api
dan Belerang’ (Wahyu 14:10; 19:20; 21:8).
Baiklah kita mengutip tulisan J. Preston Eby mengenai topik
ini, demikian, “Lautan Api dan Belerang menunjuk pada api yang menyala beserta
belerang. Kata ‘belerang’ atau sulfur mendefinisikan sifat api. Kata Yunani
THEION yang diterjemahkan menjadi ‘belerang’ adalah kata yang sama yang berarti
‘Ilahi’. Sulfur adalah sesuatu yang keramat (suci) bagi dewa-dewa diantara
orang-orang Yunani kuno, dan digunakan untuk mengasapi, memurnikan,
membersihkan dan menguduskan bagi dewa-dewa. Untuk maksud inilah belerang dibakar
didalam ukupan mereka…. Kata kerja yang diturunkan dari THEION adalah THEIOO,
yang berarti ‘menyucikan’, ‘menjadikan Ilahi’ atau ‘mempersembahkan kepada
allah’ (Lihat Greek-English Lexicon, karangan Liddell and Scott, edisi 1987).
Bagi orang Yunani, atau bagi mereka yang terlatih dalam bahasa Yunani, ‘lautan
api dan belerang’ berarti ‘lautan pemurnian ilahi’. Pengertian penghakiman
tidak perlu dikesampingkan. Pemurnian ilahi dan pengudusan ilahi adalah arti
yang gamblang dalam bahasa Yunani kuno. Tetapi dalam pengertian sehari-hari
dalam bahasa kita, arti mendasar dari kata tersebut ditiadakan dan dikaitkan
dengan siksaan kekal” (akhir kutipan).
Perhatikan kembali definisi ‘kematian kedua’ diatas, yaitu
maut dan kerajaan maut yang dilemparkan kedalam lautan api. Kita tahu bahwa
upah dosa adalah maut, bukan neraka kekal (Roma 6:23). Orang2 yang ada didalam
‘maut dan kerajaan maut’ dinyatakan dengan jelas dalam Wahyu 21:7-8, demikian,
“Siapa yang menang, dia akan mewarisi segala sesuatu dan Aku akan menjadi
Elohim baginya dan dia akan menjadi anak bagiKu. Namun bagi yang pengecut, juga
bagi yang tidak percaya, dan yang merusak, dan bagi para pembunuh, dan bagi
para pezina, dan bagi para penyihir, dan bagi para penyembah berhala, dan bagi
semua orang yang berdusta, bagian mereka ada dalam lautan yang dinyalakan oleh
api dan belerang, yang adalah kematian kedua” (ILT).
Hanya orang2 yang ditetapkan Bapa untuk menjadi pemenang dan
mewarisi kerajaan sorga (Lukas 12:32), merekalah yang tidak mengalami penghakiman
‘lautan api dan belerang’. Tetapi semua orang yang lain akan mengalami
‘pemurnian ilahi’ melalui penghakiman ‘Takhta Putih’ yang besar. Demikianlah
makna ‘kematian kedua’ yang terkait dengan ‘lautan api’.
Telah kita bahas makna ‘kematian kedua’, baik yang terkait
dengan kematian pertama, maupun yang terkait dengan ‘lautan api’. Kita tahu
bahwa ‘kematian kedua’ telah dijalankan oleh Yesus dikayu salib sebagai Adam
akhir (I Korintus 15). Kematian Yesus telah menghapus seluruh akibat kematian
Adam. Tetapi, penghapusan seluruh akibat kematian Adam atas seluruh manusia,
tidak terjadi tanpa suatu proses. Proses penghapusan seluruh akibat dosa2 Adam
adalah melalui ‘lautan api’ yang telah kita bahas.
Setelah proses pemurnian ilahi oleh ‘lautan api’, kemudian rasul
Yohanes melihat langit yang baru dan bumi yang baru. Perhatikan Wahyu 21:1,
demikian, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit
yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi”.
Saat ini kita akan membahas tentang langit yang baru dan bumi yang baru.
Yesaya 65:17-18, menegaskan, “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang
baru… sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorak…”.
Penciptaan Elohim atas langit yang baru dan bumi yang baru disini bukanlah
seperti Ia menciptakan langit yang pertama dan bumi yang pertama. PENCIPTAAN
LANGIT DAN BUMI BARU TERJADI KARENA PENEBUSAN OLEH YESUS KRISTUS. Langit dan
bumi baru yang diciptakan Elohim bukanlah sama sekali ‘tidak terkait’ dengan
langit dan bumi pertama. Istilah ‘baru’ dalam kitab Wahyu 21:1 disini
diterjemahkan dari istilah Yunani, ‘kainos’, dan bukan ‘neos’.
Pengertian ‘kainos’ itu baru dalam arti segar, belum pernah digunakan, dan
SANGAT KONTRAS dengan yang pertama. Sementara ‘neos’ itu baru terkait
dengan usia (masih muda). Jadi, langit dan bumi baru itu diciptakan Elohim
dalam arti telah terjadi ‘perubahan yang sangat radikal’ atas langit dan bumi
pertama. Perubahan yang sangat radikal ini terjadi karena penebusan Kristus.
II Petrus 3:12-13, menegaskan, “… Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan
hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit
yang baru dan bumi yang baru dimana terdapat kebenaran”. Disini Petrus
menegaskan bahwa langit dan unsur2 dunia akan binasa dan hancur oleh api yang
bernyala. Ada proses yang terjadi oleh api yang bernyala untuk menghadirkan
langit dan bumi baru dimana terdapat kebenaran.
Mari kita perhatikan II Korintus 5:17, demikian, “Jadi siapa yang ada didalam Kristus, ia
adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah
datang”. Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘baru’ disini juga adalah
‘kainos’.
Ketika orang percaya diciptakan baru dalam Kristus, bukankah kepribadiannya,
dan juga kesadarannya tetap ada? Paulus berkata hidupku bukannya aku lagi
tetapi Kristus yang hidup didalam aku. Tentu tidak berarti kepribadian Paulus
menjadi hilang dan Elohim menciptakan ‘Paulus’ yang lain sama sekali. Jadi
tegasnya, langit dan bumi baru dihadirkan/diciptakan Elohim karena proses
perubahan radikal, dan proses perubahan radikal ini terjadi karena penebusan
Kristus.
Dalam dunia kekristenan sudah umum orang berharap Yesus
datang untuk mengangkatnya kesuatu “tempat” yang disebut sorga. Sesungguhnya,
Yesus sama sekali tidak pernah menjanjikan akan membawa kita ke suatu “tempat”
yang disebut sorga. Bahkan dalam percakapanNya dimalam terakhir bersama
murid2Nya (Yohanes 13-17), Yesus hanya satu kali menyebut istilah ‘sorga’,
itupun dalam rangka doaNya kepada Bapa. Jadi, Yesus sama sekali tidak berbicara
tentang ‘sorga’ kepada murid2Nya dimalam terakhir itu. Yesus datang untuk
memberikan kita hidup baru (‘zoe’), dan hidup ‘zoe’ ini terus bertumbuh
sedemikian, sehingga pada saat kedatanganNya, Yesus bersama para pemenangNya
akan memulihkan segala sesuatu (langit dan bumi pertama), sehingga menjadi
langit dan bumi baru.
Kita meneruskan pembahasan kita mengenai langit dan bumi
baru. Telah kita lihat bahwa penciptaan langit dan bumi baru terjadi oleh
penebusan Kristus. Sesungguhnya, langit dan bumi baru adalah simbol dari
manusia baru, manusia yang diciptakan baru didalam Kristus. Elohim menegaskan
bahwa Ia menjadikan segala sesuatu baru (Wahyu 21:5).
Mari kita perhatikan lagi II Petrus 3:12-13, yang menegaskan,
“… Pada hari itu langit akan binasa dalam
api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan
janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru dimana terdapat
kebenaran”. Istilah ‘unsur-unsur’ pada ayat ini
diterjemahkan dari istilah Yunani ‘stoicheion’, yang bermakna ‘prinsip
dasar’ (basic principles). Istilah
Yunani ‘stoicheion’ digunakan sebanyak 7 kali dalam PB. Paulus
menggunakan istilah ini untuk menunjukkan orang kristen yang belum ‘akil balik’ dan takluk kepada prinsip
dasar dunia ini (Galatia 4:3; 4:9; Kolose 2:8; 2:20). Orang Kristen, walaupun
ia ahli waris, tetapi jika belum ‘akil balik’, maka ia tidak berbeda dengan
seorang hamba (Galatia 4:1).
Elohim memang menggunakan ‘prinsip2 dasar’ dunia ini untuk
mendidik anak2Nya pada tahap awal. Tetapi, Elohim mengutus Yesus, AnakNya
kedalam dunia ini, justru untuk menebus kita dan membawa kita kedalam tingkat
(orde, prinsip) yang lebih tinggi, dan memberikan hidupNya (‘zoe’)
dimana kita ditempatkan sebagai anak2Nya, dan mengambil bagian sebagai ahli
waris bersamaNya.
Perhatikan peringatan Paulus kepada jemaat di Kolose,
demikian, “Hati-hatilah, supaya jangan
ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran
turun temurun dan roh-roh (stoicheion=prinsip
dasar) dunia, tetapi tidak menurut Kristus” (Kolose 2:8). Jemaat Kolose
cenderung menaklukkan diri kepada rupa2 peraturan seperti aturan makanan,
minuman, hari raya, bulan baru, hari sabat, dimana semuanya ini hanyalah
bayangan saja, sedangkan realitanya atau wujudnya atau penggenapannya adalah
Kristus (Kolose 2:16-17).
Jika kita memahami maksud Elohim dalam memberikan PL dan PB
kepada umatNya, maka kita tahu bahwa PL hanyalah ‘tahap awal’ saja untuk menuntun
umatNya kepada kebenaran. Tetapi tiba saatnya, dimana Elohim menghancurkan
‘prinsip dasar’ (stoicheion) dengan “api yang menyala” seperti tertulis dalam
surat Petrus diatas, agar menghadirkan langit dan bumi baru dimana terdapat
kebenaran.
Nampaknya, umat Tuhan memang memiliki kecenderungan untuk
“mundur kembali” sebagaimana jemaat Kristen Ibrani. Penulis surat Ibrani
menasihati agar jemaat melihat kedepan kepada apa yang Elohim telah lakukan.
Kita dapat menjelaskan kecenderungan umat Tuhan untuk “mundur kembali” dengan
mengingat bahwa manusia memang suka ber-agama. Orang Kristen, umumnya, merasa
“nyaman” jika diikat oleh aturan2 agamawi seperti harus pergi kegedung tertentu
pada hari tertentu, harus memberi persepuluhan, harus ini dan itu, dan sebagainya.
Sebenarnya, kecenderungan “mundur kembali” itu justru membuat
umat Tuhan masuk kedalam perbudakan agamawi. Istilah ‘agama’ itu sendiri
berasal dari istilah Latin ‘Religare’,
dimana ‘re’ berarti diulang, dan ‘ligare’ berarti diikat. Jadi orang
Kristen yang beragama atau yang tunduk pada aturan2 agamawi, sama dengan diikat
ulang, dan masuk kedalam perbudakan agamawi. Tetapi pada zaman langit dan bumi
baru, umat Tuhan dibebaskan dari perbudakan agamawi melalui “api yang menyala”.
Kita masih membahas Wahyu 21:1, demikian, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi
yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan
laut pun tidak ada lagi”. Telah kita lihat penciptaan Elohim atas langit
dan bumi baru, bukanlah langit dan bumi pertama sama sekali dihapuskan,
seolah-olah langit dan bumi baru sama sekali tidak terkait dengan langit dan
bumi pertama. Tetapi, Elohim menghadirkan atau menciptakan langit dan bumi baru
melalui suatu ‘proses perubahan radikal’ karena karya penebusan Kristus. Surat
Petrus dan kitab Wahyu menyebut proses perubahan radikal ini melalui “api yang
menyala” atau “lautan api” yang telah kita bahas.
Saat ini kita akan berbicara mengenai langit dan bumi baru
dimana, “lautpun tidak ada lagi”. Tentu ‘laut’ disini adalah simbol. Dalam
Wahyu 13, kita melihat binatang yang keluar dari ‘laut’, yang merupakan simbol
dari sistem pemerintahan duniawi (manusia yang belum diperbaharui). ‘Laut’
dapat bermakna ‘kumpulan orang banyak’, atau dalam arti pribadi, dapat
merupakan simbol dari gejolak atau hawa nafsu manusiawi. Jadi, dalam orde/zaman
langit dan bumi baru, tidak ada lagi sistem pemerintahan manusiawi, dan tidak
ada lagi gejolak hawa nafsu manusiawi. Semua telah diperbaharui oleh karya
penebusan Kristus.
Agar lebih memahami langit dan bumi baru dimana tidak ada
lagi ‘laut’, kita perlu membahas sedikit mengenai zaman dan dispensasi. Istilah
Ibrani ‘olam’ dan istilah Yunani ‘aion’ haruslah diterjemahkan sebagai
‘zaman’
atau waktu, dimana ada awalnya dan ada akhirnya. Sementara itu istilah ‘dispensasi’
diterjemahkan dari istilah Yunani ‘oikonomia’. Diharapkan, pemahaman
akan ‘zaman’ dan ‘dispensasi’ akan membuat kita mengerti bahwa langit dan bumi
pertama bukannya ditiadakan sama sekali, tetapi masih “nyambung” dengan langit
dan bumi baru yang tidak ada lagi “laut”.
Alkitab membedakan antara zaman (Yunani: Aion) dan Dispensasi
(Yunani: Oikonomia). Didalam Alkitab setidaknya ada 4 zaman, yaitu Zaman
pertama yang tertulis didalam 2 Petrus 2:5 (zaman purba = Ancient World). Yang kedua, terdapat didalam Galatia 1:4 dan II
Korintus 4:4 (zaman jahat sekarang ini=Present
Wicked Eon). Yang ketiga tertulis dalam Markus 10:30. (zaman yang akan
datang=in the coming Eon), dan yang
keempat, tertulis dalam Efesus 3:21 dan Ibrani 1:8 (Eon of the Eons=The age of the ages).
Sedangkan istilah Dispensasi (Oikonomia) tertulis
didalam 1 Timotius 1:4, yang didalam Alkitab versi ILT diterjemahkan menjadi
‘penatalayanan Elohim’. Istilah Yunani ‘Oikonomia’ terdiri dari 2 kata,
yaitu ‘Oikos’ (rumah) dan ‘nomos’ (pengaturan/penyaluran
hukum-hukum, berkat makanan, dll). Jadi pengertian Oikonomia adalah pengaturan
atau penyaluran hukum-hukum/berkat-berkat kerumah-tanggaan. Terjemahan ILT
cukup tepat, yaitu ‘penatalayanan Elohim’. Karenanya, istilah Dispensasi yang
kita maksud adalah cara Elohim menata atau mengelola atau memperlakukan manusia
dalam suatu periode tertentu. Kita membuat 7 dispensasi berikut ini, pertama,
dispensasi Adam (dari Taman Eden sampai air bah), kedua, dispensasi Nuh (dari
air bah sampai menara Babel), ketiga, dispensasi Abraham (dari menara Babel
sampai perbudakan Israel di Mesir), keempat, dispensasi Musa (dari perbudakan
Mesir sampai kedatangan Yesus), kelima, dispensasi para pemenang (pencurahan
Roh Kudus sampai kedatangan Yesus “kedua kali”), keenam, dispensasi kerajaan
1000 tahun, dan ketujuh, dispensasi Langit dan Bumi baru.
Dalam tiap dispensasi, Elohim memperlakukan manusia dengan
suatu cara tertentu. Selanjutnya, kita akan membahas apa yang terjadi, dan apa
saja yang ada dalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’. Efesus 1:10, dalam Young’s
Literal Translation, menyebutkan, “in
regard to the dispensation of the fullness of the times, to bring into one the
whole in the Christ, both the things in the heavens, and the things upon the
earth-in him”. Dispensasi kegenapan/kepenuhan waktu tidak lain adalah
dispensasi Langit dan Bumi Baru, dimana segala sesuatu, baik yang dibumi maupun
yang disorga, akan dibawa menjadi satu didalam Kristus.
Umumnya, dalam dunia kekristenan, kita diajarkan bahwa kasih
karunia Tuhan berhenti setelah kedatangan Yesus kedua kali. Tetapi, justru
didalam dispensasi Langit dan Bumi Baru, kita lihat nanti, bahwa air kehidupan
ditawarkan secara cuma-cuma kepada barangsiapa yang haus (Wahyu 22:17).
Kita masih berbicara tentang dispensasi Langit dan Bumi Baru.
Wahyu 21:2, menegaskan, “Dan aku,
Yohanes, melihat kota yang kudus, Yerusalem Baru, yang turun dari Elohim, dari
langit, yang telah dipersiapkan bagaikan pengantin wanita yang dihias bagi
suaminya” (ILT). Kita lihat disini dalam dispensasi Langit dan Bumi Baru
ada suatu kota kudus yang disebut Yerusalem Baru. Ini tentu suatu simbol,
sebagaimana sifat dasar kitab Wahyu. Menggambarkan siapakah kota Yerusalem Baru
ini?
Perhatikan Wahyu 21:9-10, demikian, “Dan datanglah kepadaku satu dari ketujuh malaikat yang memegang tujuh
cawan yang penuh dengan tujuh bencana yang terakhir, dan dia berbicara dengan
aku seraya mengatakan, ‘kemarilah, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin
wanita, mempelai Anak Domba itu. Dan dia membawa aku dalam Roh keatas gunung
yang besar dan tinggi, dan dia menunjukkan kepadaku kota yang besar, Yerusalem
suci, yang turun dari surga, dari Elohim” (ILT). Jelas dari ayat2 ini bahwa
Yerusalem Baru itu adalah mempelai Anak Domba, karena ketika malaikat akan
menunjukkan mempelai Anak Domba, maka ia menunjukkan kota Yerusalem Baru. Kalau
demikian, siapakah mempelai Anak Domba?
Kita harus paham bahwa ada dua perempuan yang dinyatakan
dalam kitab Wahyu, yang pertama dipasal 12, dan selanjutnya dipasal 17. Kedua
perempuan ini memiliki sifat dasar yang sangat berbeda. Perempuan dipasal 12
adalah seorang perawan yang melahirkan putera2 Elohim, sebagaimana Maria
melahirkan Yesus, putera Elohim. Tetapi, perempuan dipasal 17 adalah pelacur
(17:5). Perempuan pelacur ini juga disebut Babel besar atau kota besar (18:2).
Ada tiga fakta yang perlu kita bahas untuk memahami siapakah
mempelai Anak Domba ini. Pertama, yang datang kepada Yohanes untuk menunjukkan
mempelai Anak Domba adalah satu dari malaikat yang memegang tujuh cawan murka
Elohim (Wahyu 15:5-7). Malaikat ini bukanlah makhluk bersayap, melainkan utusan
Elohim, dan utusan ini keluar dari Bait Suci, yang merupakan simbol gereja.
Demikian juga malaikat ini memakai lenan yang putih bersih, yang merupakan
simbol dari perbuatan2 yang benar dari orang2 kudus (19:8). Kalau kita
perhatikan urutan pewahyuan yang diterima Yohanes, maka kita tahu bahwa gereja
ini adalah para pemenang (pasal 2-3), atau putera2 Elohim (pasal 12), atau buah
sulung (pasal 14) atau mereka yang diserahkan kuasa untuk menghakimi
(20:4).
Kedua, kita tahu bahwa cawan murka Elohim ini ditumpahkan
kebumi, sebagai lawan ‘laut’, yang merupakan simbol dari orang2 dunia (16:1).
Selanjutnya, cawan ketujuh, khusus dicurahkan kepada kota besar, yaitu Babel,
yang adalah perempuan pelacur (16:17-19). Jadi, penghakiman Elohim yang
dijalankan oleh para pemenangNya (buah sulung) ditujukan kepada “perempuan
pelacur”, atau gereja “pelacur”.
Ketiga, perhatikan kembali Wahyu 21:9-10, diatas. Setelah
ketujuh malaikat selesai menjalankan penghakiman Elohim terhadap gereja
“pelacur”, maka kemudian salah satu dari malaikat ini memperkenalkan mempelai
Anak Domba kepada rasul Yohanes. Tidakkah kita melihat fakta menarik disini?
SESUNGGUHNYA, MEMPELAI ANAK DOMBA ADALAH ORANG-ORANG KRISTEN HASIL DARI
PELAYANAN PENGHAKIMAN ELOHIM YANG DIJALANKAN OLEH PARA PEMENANG.
Sebagai penutup bagian ini, mari kita melihat lagi makna
‘pelacur’ yang menerima banyak benih dari banyak pria. Dari pesan2 kepada 7
gereja di kitab Wahyu pasal 2 dan 3, kita tahu bahwa para pemenangNya adalah
orang2 kristen, yang oleh kasih karuniaNya, tidak mengambil bagian dalam tiga
ajaran palsu, yaitu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Secara ringkas, ajaran Izebel
adalah ajaran palsu yang membenarkan perampasan otoritas ‘Ahab’ (para pemimpin
gereja yang merampas otoritas “suami” gereja yaitu Anak Domba). Ajaran Bileam,
suatu ajaran palsu yang membenarkan perdagangan dalam gereja. Ajaran Nikolaus,
suatu ajaran palsu yang menarik murid2 Tuhan untuk membangun kerajaan sendiri,
serta tentu memperlengkapinya dengan firman Tuhan. Ajaran Nikolaus ini yang
menghancurkan keimaman semua orang percaya, sehingga gereja terbelah menjadi
dua golongan, yaitu golongan pendeta-jemaat (Protestan), dan golongan imam-umat
(Katolik). Yang aslinya adalah para rasul, nabi, penginjil, gembala, pengajar
hanyalah memperlengkapi orang2 kudus, dan tidak menarik murid2 Tuhan untuk
membangun denominasi atau kerajaan sendiri, atau membelah gereja menjadi 2
golongan. Sampai disini tentu kita tahu bahwa ajaran Izebel, Bileam, dan
Nikolaus telah diterima luas dalam dunia kekristenan.
Kita teruskan pembahasan kita mengenai dispensasi Langit dan
Bumi Baru. Wahyu 21:3, menegaskan, “Dan
aku mendengar suatu suara nyaring dari surga yang mengatakan, ‘Lihatlah,
tabernakel Elohim ada bersama manusia. Dan Dia akan berdiam bersama mereka, dan
mereka akan menjadi umatNya dan Elohim sendiri akan ada bersama mereka sebagai
Elohimnya” (ILT).
Saat ini kita akan membahas ‘tabernakel Elohim’ atau ‘Rumah
Elohim’, dimana Ia berdiam. Kita perlu memahami ‘pengertian2 dasar’ mengenai
‘Rumah Elohim’ dari kitab2 PL. Perbedaan menyolok antara PL dan PB, adalah PL
itu simbol, bayangan, dan nubuat saja, sedangkan realitanya ada didalam PB.
Kita akan melihat pengertian2 dasar tentang ‘Rumah Elohim’
dari PL dengan ringkas, yaitu dalam kasus mimpi Yakub di Betel, karena dalam
kasus inilah pertama kali ungkapan ‘Rumah Elohim’ itu muncul. Pengertian dasar
pertama, Elohim mau membangun RumahNya di bumi dengan cara menyatukan sorga dan
bumi melalui suatu “tangga”, dimana “tangga” ini adalah Yesus, sebagai Anak
Manusia. Kedua, Elohim membuat suatu perjanjian dan memberikan hukumNya kepada
orang atau komunitas yang akan dipakaiNya membangun ‘Rumah Elohim’. Perjanjian
dan hukumNya berbeda dalam setiap dispensasi (zaman).
Ketiga, Rumah Elohim terdiri dari “batu2 hidup” yang dituang
Roh Kudus, dan disusun rapih sedemikian sehingga menjadi suatu “tugu”, untuk
mengingat karya Elohim dibumi. Batu yang dipakai Yakub sebagai alas kepala
adalah “Batu penjuru” yaitu Yesus, dimana batu2 lainnya dibangun diatasNya.
Inilah ketiga pengertian dasar ‘Rumah Elohim’ dimana pengertian2 lainnya
dibangun diatasnya, sesuai prinsip yang biasa dikenal sebagai ‘first mention principle’ (prinsip
penyebutan pertama kali).
Pengertian selanjutnya adalah dalam kasus kemah Musa, yaitu
Elohim akan memberikan pengalaman rohani kepada umat yang dipilihNya, dan semua
pengalaman rohani ini disimbolkan oleh perabot2 kemah Musa. Kemudian, seluruh
umat pilihanNya harus mengikuti ‘awan kemuliaan Tuhan’ saja. Berikutnya, dalam kasus kemah Daud. Dalam
membangun RumahNya, Elohim akan membentuk orang2 pilihanNya menjadi raja2 dan
imam2. Kemudian, dalam kasus Zerubabel, yang disebut ‘Rumah Elohim’ haruslah
yang dibangun ditempat yang dipilihNya.
Kita langsung masuk kedalam pengertian ‘Rumah Elohim’ yang
adalah ‘realita’, bukan simbol, bayangan atau nubuat. Realita ‘Rumah Elohim’
adalah tubuh jasmani Yesus, dan melalui kematian serta kebangkitanNya,
“diperluas” menjadi tubuh jasmani umatNya, dimana Elohim yang adalah ‘Keluarga
Sejati’ (Bapa, Anak, dan Roh yg bersifat feminim) berdiam didalam batin umatNya.
Inilah ‘realita’ dari rumah Elohim atau ‘tabernakel Elohim’ dimana Ia berdiam.
Ayat kita diatas menjelaskan realita ‘rumah Elohim’ atau
‘tabernakel Elohim’ dalam dispensasi Langit dan Bumi Baru. Wahyu 21:22,
menegaskan, “Dan aku tidak melihat tempat
kudus di dalamnya, karena YAHWEH, Elohim Penguasa Semesta, adalah tempat
kudusNya, juga Anak Domba” (ILT). Segala simbol2, aturan2 lahiriah,
bangunan2, tempat2 tertentu, apapun juga yang bersifat simbol, tidak terlihat
lagi didalam dispensasi Langit dan Bumi Baru. Genaplah perkataan Yesus kepada
perempuan Samaria didalam Yohanes 4:23, demikian, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa
penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (realita)…”.
Kita teruskan pembahasan kita mengenai dispensasi Langit dan
Bumi Baru. Wahyu 21:3, menegaskan, “Dan
aku mendengar suatu suara nyaring dari surga yang mengatakan, ‘Lihatlah,
tabernakel Elohim ada bersama manusia. Dan Dia akan berdiam bersama mereka, dan
mereka akan menjadi umatNya dan Elohim sendiri akan ada bersama mereka sebagai
Elohimnya” (ILT).
Saat ini kita akan membahas ‘tabernakel Elohim’ atau ‘Rumah
Elohim’, dimana Ia berdiam. Kita perlu memahami ‘pengertian2 dasar’ mengenai
‘Rumah Elohim’ dari kitab2 PL. Perbedaan menyolok antara PL dan PB, adalah PL
itu simbol, bayangan, dan nubuat saja, sedangkan realitanya ada didalam PB.
Kita akan melihat pengertian2 dasar tentang ‘Rumah Elohim’
dari PL dengan ringkas, yaitu dalam kasus mimpi Yakub di Betel, karena dalam
kasus inilah pertama kali ungkapan ‘Rumah Elohim’ itu muncul. Pengertian dasar
pertama, Elohim mau membangun RumahNya di bumi dengan cara menyatukan sorga dan
bumi melalui suatu “tangga”, dimana “tangga” ini adalah Yesus, sebagai Anak
Manusia. Kedua, Elohim membuat suatu perjanjian dan memberikan hukumNya kepada
orang atau komunitas yang akan dipakaiNya membangun ‘Rumah Elohim’. Perjanjian
dan hukumNya berbeda dalam setiap dispensasi (zaman).
Ketiga, Rumah Elohim terdiri dari “batu2 hidup” yang dituang
Roh Kudus, dan disusun rapih sedemikian sehingga menjadi suatu “tugu”, untuk
mengingat karya Elohim dibumi. Batu yang dipakai Yakub sebagai alas kepala
adalah “Batu penjuru” yaitu Yesus, dimana batu2 lainnya dibangun diatasNya.
Inilah ketiga pengertian dasar ‘Rumah Elohim’ dimana pengertian2 lainnya
dibangun diatasnya, sesuai prinsip yang biasa dikenal sebagai ‘first mention principle’ (prinsip
penyebutan pertama kali).
Pengertian selanjutnya adalah dalam kasus kemah Musa, yaitu
Elohim akan memberikan pengalaman rohani kepada umat yang dipilihNya, dan semua
pengalaman rohani ini disimbolkan oleh perabot2 kemah Musa. Kemudian, seluruh
umat pilihanNya harus mengikuti ‘awan kemuliaan Tuhan’ saja. Berikutnya, dalam kasus kemah Daud. Dalam membangun
RumahNya, Elohim akan membentuk orang2 pilihanNya menjadi raja2 dan imam2.
Kemudian, dalam kasus Zerubabel, yang disebut ‘Rumah Elohim’ haruslah yang
dibangun ditempat yang dipilihNya.
Kita langsung masuk kedalam pengertian ‘Rumah Elohim’ yang
adalah ‘realita’, bukan simbol, bayangan atau nubuat. Realita ‘Rumah Elohim’
adalah tubuh jasmani Yesus, dan melalui kematian serta kebangkitanNya,
“diperluas” menjadi tubuh jasmani umatNya, dimana Elohim yang adalah ‘Keluarga
Sejati’ (Bapa, Anak, dan Roh yg bersifat feminim) berdiam didalam batin
umatNya. Inilah ‘realita’ dari rumah Elohim atau ‘tabernakel Elohim’ dimana Ia
berdiam.
Ayat kita diatas menjelaskan realita ‘rumah Elohim’ atau
‘tabernakel Elohim’ dalam dispensasi Langit dan Bumi Baru. Wahyu 21:22,
menegaskan, “Dan aku tidak melihat tempat kudus di dalamnya, karena YAHWEH,
Elohim Penguasa Semesta, adalah tempat kudusNya, juga Anak Domba” (ILT). Segala
simbol2, aturan2 lahiriah, bangunan2, tempat2 tertentu, apapun juga yang
bersifat simbol, tidak terlihat lagi didalam dispensasi Langit dan Bumi Baru.
Genaplah perkataan Yesus kepada perempuan Samaria didalam Yohanes 4:23,
demikian, “Tetapi saatnya akan datang dan
sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam
roh dan kebenaran (realita)…”.
Kita teruskan pembahasan kita mengenai dispensasi Langit dan
Bumi Baru. Efesus 3:21, menegaskan, “bagi
Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan didalam Kristus Yesus turun temurun sampai
selama-lamanya. Amin”. Ungkapan Yunani yang diterjemahkan ‘selama-lamanya’
adalah ‘aion ho aion’. Kita tahu ‘aion’ itu adalah waktu, dimana ada
awalnya dan ada akhirnya. Ungkapan Yunani ‘aion (tunggal) ho aion (jamak)’, tidak
dapat diterjemahkan ‘selama-lamanya’, dalam arti tidak ada akhirnya, ataupun
diterjemahkan ‘kekal’ dalam arti tiada akhirnya. Ungkapan Yunani ini harus
diterjemahkan ‘zaman dari zaman-zaman’, dalam arti “puncak” dari suatu zaman
yang berbeda dari zaman2 sebelumnya. Karenanya, dispensasi Langit dan Bumi Baru
merupakan “puncak” dari segala zaman sebelumnya.
Konteks Efesus 3:21 diatas, merupakan doa Paulus bagi jemaat
(Ef. 3:14-21), bukan saja supaya jemaat mengenal Bapa, tetapi juga supaya
jemaat memahami ‘maksud abadi’ atau tujuan dari zaman2, sesuai makna teks
Yunani dari Efesus 3:11, yaitu supaya melalui jemaat diberitahukan pelbagai
ragam hikmat Elohim kepada pemerintah dan penguasa2 dalam alam sorgawi (Ef.
3:10).
Agar jemaat mengerti apa makna ‘memberitahukan pelbagai ragam
hikmat Elohim kepada penguasa2 di alam sorgawi’, mari kita melihat apa yang
terjadi dalam zaman “puncak” ini, yaitu zaman Langit dan Bumi Baru. Banyak
orang Kristen berpendapat bahwa dalam zaman Langit dan Bumi Baru (biasa
dipahami sebagai “sorga”), maka jemaat tidak ada kerjanya selain nyanyi dan
memuji2 Tuhan terus-menerus selama-lamanya. Tetapi, justru akan kita lihat
nanti, di zaman “puncak” ini, jemaat (mempelai Anak Domba) akan memerintah, dan
menawarkan “air kehidupan” dengan cuma-cuma kepada barangsiapa yang haus (Wahyu
22:17).
Mari kita mulai melihat apa yang terjadi atau kondisi dari
zaman “puncak” Langit dan Bumi Baru, sebagai hasil dari pelayanan mempelai Anak
Domba (jemaat). Wahyu 21:4, menegaskan, “Dan
Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada
lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab
segala sesuatu yang lama itu telah berlalu”. Ayat ini menegaskan bahwa
tidak ada lagi maut, dan juga segala sesuatu yang lama telah berlalu. Maut itu
adalah upah dosa (Roma 3:23). Dan jika tidak ada lagi maut, maka tidak ada lagi
segala sesuatu yang merupakan akibat dari dosa. Oleh pelayanan Mempelai Anak
Domba, maka ‘maut’ sebagai upah dosa, akan ditaklukkan.
Sayangnya, didalam dunia kekristenan, mayoritas orang kristen
percaya bahwa sebagian orang masuk “sorga” dan nyanyi selama-lamanya disana,
sementara yang tidak percaya Yesus akan dilempar kedalam neraka selama-lamanya
juga. Doktrin neraka kekal yang sudah begitu dipercaya membuat orang Kristen
tidak mengenal Bapa, juga tidak mengenal ‘maksud abadi’ atau tujuan dari
zaman2, padahal justru inilah yang didoakan oleh Paulus bagi jemaat pada ayat2
kita diatas.
Memang dunia kekristenan harus mengalami penghakiman Elohim
pada kedatangan Yesus kelak, sebagaimana telah kita bahas. Penghakiman ini akan
membuat dunia kekristenan mengenal Bapa dan tujuanNya dalam menciptakan zaman2
(Ibrani 1:2; Efesus 3:11).
Kita lanjutkan pembahasan kita untuk melihat apa yang
terjadi, atau bagaimana kondisi dari zaman “puncak” Langit dan Bumi Baru,
sebagai hasil dari pelayanan mempelai Anak Domba (jemaat). Wahyu 22:3-4,
menegaskan demikian, “Dan setiap kutuk
tidak akan ada lagi. Dan takhta Elohim dan Anak Domba akan ada di dalamnya, dan
para hambaNya akan beribadah kepadaNya. Dan mereka akan melihat wajahNya, dan
NamaNya ada pada dahi mereka” (ILT).
Pertama, kita melihat bahwa tidak akan ada kutuk lagi. Kutuk
yang dijatuhkan di Taman Eden ketika Adam jatuh dalam dosa tidak akan ada lagi,
karena Elohim ‘menjadikan semuanya baru’. Ia adalah Alfa dan Omega, yang awal
dan yang akhir. Elohim ber-otoritas untuk mengawali segala sesuatu, dan
mengakhiri segala sesuatu sebagaimana yang Ia kehendaki. Roma 11:36,
menegaskan, “Sebab dari Dia dan oleh Dia
dan kepada Dialah segala sesuatu…” (ILT).
Banyak orang Kristen berpikir bahwa kejatuhan Adam-Hawa di
Taman Eden disebabkan manusia memiliki ‘kehendak bebas’, dan karenanya
Elohimpun tidak dapat berbuat apa-apa ketika Adam-Hawa dicobai setan. Mari kita
tinggalkan pendapat manusia, siapapun juga dia, dan perhatikan Roma 8:20,
demikian, “karena makhluk ciptaan telah
ditundukkan kepada kesia-siaan, bukan karena kehendaknya sendiri tetapi KARENA
DIA YANG TELAH MENUNDUKKANNYA ATAS DASAR PENGHARAPAN” (ILT). Ditundukkan
kepada kesia-siaan artinya ditundukkan kedalam alam maut, yang merupakan upah
dosa.
Siapa yang berkehendak menundukkan makhluk ciptaan kedalam
alam maut? BUKAN ADAM TETAPI ELOHIM. Jadi, kejatuhan Adam dan seluruh makhluk
kedalam alam maut MERUPAKAN BAGIAN DARI RANCANGANNYA. Elohim memang berkehendak
dan merancang kejatuhan Adam dengan suatu maksud. DijatuhkanNya seluruh makhluk
kedalam alam kesia-siaan (alam maut), bukan tanpa alasan, melainkan ATAS DASAR
PENGHARAPAN. Apa pengharapannya? Perhatikan ayat selanjutnya, Roma 8:21,
demikian, “bahwa makhluk ciptaan itu sendiri juga akan dimerdekakan dari
perbudakan kebinasaan kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim” (ILT).
Pengharapannya jelas, yaitu bahwa seluruh makhluk pada akhirnya akan
dimerdekakan oleh pelayanan anak-anak Elohim. Seluruh makhluk pada akhirnya
akan masuk kedalam kemuliaan anak-anak Elohim, dimana anak-anak Elohim adalah
buah sulung ciptaan (Yakobus 1:18).
Jadi, Elohim adalah ‘Alfa’. Dialah yang memulai dan merancang
segala sesuatu. KehendakNya berkuasa dan menentukan segala sesuatu. Tidak ada
kehendak bebas, sekalipun hal ini telah dipercaya oleh mayoritas orang Kristen.
Kita sebagai pribadi, tentu mempunyai kehendak, tetapi kehendak kita DIATUR dan
DIARAHKAN oleh KEHENDAKNYA. Amsal 21:1, menegaskan, “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke
mana Ia ingini”. Roma 9 juga menjelaskan kedaulatan Elohim dalam menentukan
segala hal. Kalau Elohim menentukan segalanya, mengapa manusia harus
bertanggung jawab atas perbuatannya? Jawabnya, karena memang Elohim sudah
menetapkan hukum tabur-tuai yang berlaku bagi manusia.
Selanjutnya, Dia juga adalah Omega. Dia ber-otoritas membawa
segala sesuatu kembali kepadaNya. Kutuk atas seluruh makhluk karena kejatuhan
Adam dalam Taman Eden akan berakhir didalam kemuliaan anak-anak Elohim. Yesus
Kristuslah yang menanggung kutuk segala makhluk akibat dosa. Dan Yesus Kristus
bersama anak-anak Elohim (buah sulung) akan membawa seluruh makhluk masuk
kedalam kemuliaanNya, dimana tidak ada lagi kutuk.
Kita teruskan pembahasan kita mengenai kondisi ‘Langit dan
Bumi Baru’ dalam Wahyu 22:3-4, demikian, “Dan
setiap kutuk tidak akan ada lagi. Dan takhta Elohim dan Anak Domba akan ada di
dalamnya, dan para hambaNya akan beribadah kepadaNya. Dan mereka akan melihat
wajahNya, dan NamaNya ada pada dahi mereka” (ILT). Telah kita bahas bahwa
tidak ada lagi kutuk didalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’, kita akan
membahas hal selanjutnya.
Kedua, dari ayat2 diatas terlihat bahwa berakhirnya kutuk
disebabkan adanya takhta Elohim dan takhta Anak Domba. Telah kita tegaskan
sebelumnya bahwa Elohim hanya mempunyai satu takhta. Jika Alkitab menyebut ada
banyak takhta, maka takhta2 ini hanyalah menjelaskan aspek2 dari satu takhta
Elohim itu. Justru ada kebenaran penting yang terungkap dengan adanya takhta
Elohim dan takhta Anak Domba pada ayat kita diatas.
Takhta Elohim pada ayat diatas berbicara tentang kedaulatan
atau otoritas Elohim dalam menentukan segala sesuatu. Matius 10:29, menegaskan,
“Bukankah burung pipit dijual dua ekor
seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak
Bapamu”. Ayat ini berbicara soal kedaulatan Elohim yang menentukan segala
sesuatu. Selanjutnya, Mazmur 139:16, menegaskan, “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya
tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya”.
Ayat ini berbicara bahwa semua hari2 setiap manusia sudah ditentukan sebelumnya
oleh Elohim. Ini juga berbicara soal kedaulatan Elohim yang menentukan jalan
hidup setiap manusia. Itu sebabnya, telah kita tegaskan bahwa manusia,
sekalipun memiliki kehendak sebagai seorang pribadi, namun tidak memiliki
kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya. Yeremia 10:23, juga menegaskan
demikian, “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa
manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak
berkuasa untuk menetapkan langkahnya”.
Kemudian, takhta Anak Domba pada ayat diatas tentu berbicara
mengenai kerajaan Mesias. Bagaimana Yesus membangun kerajaanNya? Melalui
kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya kesorga, maka Yesus dapat memberikan
hidupNya (‘zoe’) kedalam batin orang percaya, sebab jika ‘biji gandum’
tidak jatuh ketanah dan mati, maka ia tetap satu biji saja (Yohanes 12:24).
Yesus, sebagai Putera Elohim, yang segambar dan serupa Bapa, melalui kematian,
kebangkitan, dan kenaikanNya, “me-reproduksi”
banyak putera Elohim yang juga serupa dan segambar dengan Bapa. Kerajaan Mesias
(Yesus dan putera2 Elohim) inilah yang akan memerintah dan menaklukkan segala
sesuatu. Tentu, setelah kerajaan Mesias menaklukkan segala sesuatu, maka Yesus
akan menyerahkan kerajaanNya kepada Bapa, sehingga Bapa menjadi semua didalam
semua (I Korintus 15:24,28).
Karenanya, takhta Elohim berbicara soal kedaulatan Bapa dalam
menentukan segala sesuatu, tetapi takhta Anak Domba berbicara soal Elohim yang
memerintah segala sesuatu MELALUI DAN DIDALAM UMAT PILIHANNYA. Kutuk maupun
maut sebagai upah dosa tidak akan ada lagi jika takhta Anak Domba telah
termanifestasi sepenuhnya dibumi. Itu sebabnya, mengapa Yesus mengajarkan
murid2Nya agar kerajaan sorga datang dan termanifestasi sepenuhnya dibumi.
Dalam dunia kekristenan, banyak orang berharap kelak masuk
sorga, dan meninggalkan bumi, bahkan meninggalkan orang2 yang belum percaya
Yesus dineraka selama-lamanya. Tentu, konsep seperti ini sangat aneh dan asing,
dan sama sekali tidak ditemukan dalam kitab Wahyu. Tetapi, umat pilihanNya akan
terus berdoa dan berharap kedatangan kerajaan sorga dibumi.
Kita teruskan pembahasan kita mengenai kondisi ‘Langit dan
Bumi Baru’ dalam Wahyu 22:3-4, demikian, “Dan
setiap kutuk tidak akan ada lagi. Dan takhta Elohim dan Anak Domba akan ada di
dalamnya, dan para hambaNya akan beribadah kepadaNya. Dan mereka akan melihat
wajahNya, dan NamaNya ada pada dahi mereka” (ILT). Kita telah membahas
mengenai ‘kutuk’, dan ‘takhta Elohim serta takhta Anak Domba’. Kita akan membahas
hal selanjutnya dari ayat2 diatas.
Ketiga, ditegaskan bahwa para hambaNya akan beribadah
kepadaNya. Kata kerja Yunani ‘latreuo’, yang diterjemahkan ‘beribadah’ pada ayat diatas, dapat juga
diterjemahkan ‘menyembah’. Tetapi, kita harus ingat bahwa didalam dispensasi
‘Langit dan Bumi Baru’, tidak ada lagi Bait Suci didalamnya, seperti ditegaskan
dalam Wahyu 21:22, demikian, “Dan aku
tidak melihat tempat kudus di dalamnya, karena YAHWEH, Elohim Penguasa Semesta,
adalah tempat kudusNya, juga Anak Domba” (ILT). Jadi, pengertian
‘menyembah’ disini sama sekali tidak terkait dengan ritual, aturan2, atau
apapun yang berhubungan dengan Bait Suci.
Mari kita melihat kedalam PL untuk memahami makna ‘menyembah’
Elohim itu. Kita akan menggunakan prinsip ‘penyebutan pertama kali’ atau biasa
dikenal ‘first mention principle’.
Kita menggunakan prinsip ini untuk mendapatkan ‘pengertian dasar’ dari makna
menyembah itu. Artinya, pengertian2 lain yang kita temukan pada kemunculan2
berikutnya haruslah ‘bertumpu’ diatas ‘pengertian dasar’ itu. Pengertian dasar
dari ‘menyembah’ itu jangan sampai diabaikan atau dihapus oleh pengertian2
berikutnya.
Baiklah kita perhatikan istilah Ibrani ‘shachah’ yang
diterjemahkan ‘menyembah’, dimana pertama kali muncul dalam kasus Abraham mempersembahkan
Ishak dalam Kejadian 22:5, demikian, “… aku
beserta anak ini akan pergi kesana; kami akan sembahyang (shachah)…”.
Perhatikan bahwa Abraham tidak melakukan apapun, baik itu puji2an, atau ritual2
lain dalam menyembah Elohim, kecuali mempersembahkan Ishak sesuai yang Tuhan
minta. Dari kasus ini, kita mengerti bahwa ‘menyembah’ Elohim itu tidak lain
dari pada “mempersembahkan Ishak kita” sesuai pimpinan Tuhan. Menyembah Elohim
melibatkan suatu pengorbanan. Ada harga yang harus dibayar, tetapi semua ini
harus sesuai dengan pimpinan Tuhan. Inilah makna dasar atau pengertian dasar
dari ‘menyembah’ Elohim. Pengertian2 selanjutnya, kita lihat, dalam hal Daud
yang menambahkan unsur nyanyian dan musik kedalam penyembahan. Tetapi, sekali
lagi, kita tidak boleh menghapus pengertian dasar dari ‘menyembah’ Elohim ini.
Menarik untuk diperhatikan dalam dispensasi ‘Langit dan Bumi
Baru’ ini, yaitu Pribadi Yahweh dan Anak Domba itulah yang menjadi Bait
Sucinya, seperti ditegaskan dalam Wahyu 21:22 diatas. Penyembahan dalam
dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’ terfokus kepada Pribadi Elohim sendiri.
Perhatikan percakapan Yesus dengan murid2Nya dimalam terakhir sebelum Yesus
disalib (Yohanes 13-17). Kita tahu bahwa percakapan terakhir sebelum seseorang
meninggal tentu sangatlah penting. Tetapi, Yesus sama sekali tidak berbicara
soal sorga kepada murid2Nya, dimana sorga ini umumnya menjadi tujuan hidup
orang Kristen. Bahkan istilah ‘sorga’ hanya muncul satu kali saja dalam Yohanes
17:1, itupun dalam doa Yesus kepada Bapa. Jadi, Yesus tidak berbicara
sedikitpun tentang sorga kepada murid2Nya.
Namun, dimalam terakhir itu, Yesus banyak berbicara soal
‘hubungan pribadi’ (relationship). Yesus banyak berbicara soal hubungan murid2
dengan Roh Kudus, dengan Bapa, dengan Yesus, dengan dunia (sistem keagamaan
yang membenci Yesus), dan juga hubungan diantara murid2 agar saling mengasihi.
Tujuan hidup orang Kristen itu adalah Pribadi Bapa, dan jalan menuju tujuan itu
juga adalah Pribadi Tuhan Yesus. Yohanes 14:6, menegaskan, “… Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa (pribadi), kalau tidak melalui Aku (pribadi Yesus)”.
Karenanya, penyembahan kepada Elohim dalam dispensasi ‘Langit
dan Bumi Baru’ terfokus kepada PRIBADI BAPA DAN ANAK DOMBA. Pribadi Bapa dan
Anak Domba adalah Bait Sucinya. Para hambaNya akan melihat wajahNya, dan
namaNya tertera didahi para hambaNya.
Kita teruskan pembahasan kita tentang dispensasi ‘Langit dan
Bumi Baru’, dimana kota Yerusalem Baru berada, yaitu mempelai Anak Domba. Kita
akan membahas bagaimana pelayanan mempelai Anak Domba dalam dispensasi ‘Langit
dan Bumi Baru’. Perhatikan Wahyu 22:17, demikian, ”Roh dan pengantin perempuan itu berkata: ‘Marilah’ Dan barangsiapa yang
mendengarnya, hendaklah ia berkata: ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang haus,
hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air
kehidupan dengan cuma-cuma”.
Kita lihat pada ayat diatas bahwa Roh Elohim dan mempelai
Anak Domba sama-sama berseru marilah. Tetapi, dalam pasal 2-3, hanya Roh Elohim
yang berseru kepada gereja2. Kita lihat disini bahwa gereja2 yang disebut dalam
pasal 2-3, yang memang telah dicemari oleh ajaran palsu Izebel, Bileam, dan
Nikolaus, tidak dapat berseru bersama-sama Roh Elohim untuk menawarkan air
kehidupan. Namun, setelah gereja mengalami penghakiman Elohim, seperti yang
telah kita bahas, maka Roh Elohim dan gereja dapat bersama-sama berseru
‘marilah’.
Bahkan, dalam dispensasi ‘Langit dan Bumi Baru’, bukan saja
Roh Elohim dan gereja yang berseru ‘marilah’, tetapi barangsiapa yang
mendengarnya, juga diperintahkan untuk ikut berseru menawarkan air kehidupan.
Pada akhirnya, ‘air kehidupan’ yang terus menerus ditawarkan dalam dispensasi
‘Langit dan Bumi Baru’ akan “menelan” maut, sehingga tidak ada lagi maut (Wahyu
21:4). Genaplah yang tertulis II Korintus 5:4, demikian, “…supaya yang fana itu ditelan oleh hidup”.
Selanjutnya, perhatikan Wahyu 22:1-2, demikian, “Dan dia menunjukkan kepadaku sungai air
kehidupan yang murni, jernih seperti kristal, yang keluar dari takhta Elohim
dan Anak Domba, ditengah-tengah jalan rayanya. Dan di sisi sini juga di sisi
sana sungai itu, ada pohon kehidupan…. Dan daun-daun pohon itu untuk
penyembuhan bangsa-bangsa” (ILT). Perhatikan bahwa sungai air hidup ini
keluar dari takhta Elohim. Takhta berbicara soal kerajaan, dan juga otoritas
untuk menghakimi. Tetapi, justru ‘air kehidupan’ (kasih karunia) mengalir dari
takhta.
Kita harus paham bahwa keselamatan itu bukanlah soal ‘respon
manusia’, tetapi soal otoritas Elohim. Yesus berkata dalam Yohanes 12:32,
demikian, “dan Aku, apabila Aku
ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu”.
Kemudian, setelah Yesus “ditinggikan” dalam arti mati, bangkit, serta duduk
disebelah kanan Bapa, maka Yesus berkata segala otoritas disorga dan dibumi
telah diberikan kepadaKu (Matius 28:18). Dengan otoritasNyalah, Yesus akan
menarik semua orang datang kepadaNya. Jadi, air kehidupan yang mengalir keluar
dari takhta, dan yang ditawarkan kepada barangsiapa yang haus, tidak dapat
ditolak siapapun. Mengapa? Karena otoritas ada ditangan Yesus. Semua orang,
pada akhirnya, akan menerima air kehidupan bagi keselamatan mereka. Juga,
ditegaskan bahwa ada pohon kehidupan dimana daun-daunnya untuk menyembuhkan
bangsa-bangsa.
Inilah pelayanan mempelai Anak Domba, yang pada akhirnya akan
membuat semua orang datang kepada Yesus. Setiap lutut bertelut dan lidah
mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan (‘kurios’=penguasa tunggal). Dalam
dunia kekristenan, sudah umum dipercaya, bahwa zaman sekarang adalah zaman
kasih karunia, dan setelah kedatangan Tuhan, tidak ada lagi kasih karunia.
Tetapi, kita lihat dalam Alkitab bahwa kasih karunia tetap berlaku dan
diberikan, bahkan sampai zaman ‘Langit dan Bumi Baru’.
Kita akan membahas kedatangan Tuhan Yesus sebagaimana
tertulis dalam Wahyu 22:20, demikian, “Ia
yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: ‘Ya, Aku datang segera’
Amin, datanglah, Tuhan Yesus”. Kita akan membahas apa makna ‘kedatangan
Tuhan Yesus’ khususnya dalam kitab Wahyu ini. Dalam dunia kekristenan, umumnya,
dipercaya bahwa Yesus akan datang ‘secara fisik’, bahkan banyak dipercaya juga
bahwa Ia akan mengangkat (rapture)
orang2 kudus menuju sorga. Juga dipercaya bahwa Tuhan Yesus datang dua kali
saja, itu sebabnya ada ungkapan ‘kedatangan Tuhan KEDUA KALI, walaupun didalam
PB tidak pernah ada ungkapan KEDATANGAN TUHAN KEDUA KALI.
Untuk mendapat pemahaman yang tepat mengenai ‘kedatangan
Tuhan Yesus’ kita perlu memeriksa 6 istilah Yunani yang biasanya diterjemahkan
‘kedatangan’. Mari kita mengulang sejenak keenam istilah Yunani itu. Pertama,
PAROUSIA. Istilah ini muncul 24 kali dalam PB dan ia berasal dari kata kerja
PAREMI, yang berarti ‘to be present’ (hadir). Kata bendanya berarti kehadiran
(presence). PAROUSIA tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya
seseorang, tetapi menunjukkan ‘kehadiran seseorang yang sudah datang’.
Penggunaan istilah PAROUSIA didalam PB juga tidak pernah terkait dengan
kedatangan Tuhan ‘secara fisik’. Jadi, istilah PAROUSIA berarti kehadiran.
Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaNya, disitu Tuhan ada. Itulah
KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA.
Istilah Yunani kedua, APOKALUPSIS. Wahyu 1:1,
menggunakan istilah ini. Istilah ini berasal dari kata kerja APOKALUPTO yang
berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti
suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya terselubung. Jadi, APOKALUPSIS
Tuhan Yesus merupakan suatu penyingkapan Pribadi Tuhan Yesus, yang dalam
konteks kitab Wahyu adalah penebusanNya sebagai Anak Domba Elohim, dimana
sebelumnya penebusanNya masih terselubung.
Istilah Yunani ketiga adalah EPIPHANEIA. Istilah
ini muncul sebanyak 6 kali dalam PB. Istilah ini berasal dari kata kerja yang
berarti ‘membawa kepada terang’ atau ‘tersingkap’. Kata bendanya berarti
‘manifestasi’. Istilah ini digunakan untuk mengungkapkan kemuliaan dan
kemegahan yang termanifestasi oleh kedatangan Tuhan.
Istilah Yunani keempat, PHANEROO. Istilah ini
berarti membuat nyata atau menjadi nampak. Namun bukan berarti kehadiran yang
terlihat mata, tetapi suatu persepsi.
Istilah Yunani berikutnya adalah ERCHOMAI. Istilah
ini digunakan untuk menunjukkan tindakan actual dari suatu kedatangan. Istilah
ini tidak sama artinya dengan PAROUSIA yang berarti kehadiran seseorang yang
telah datang. ERCHOMAI digunakan dalam Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang (SUATU TINDAKAN DATANG) dengan awan-awan…”.
Istilah ERCHOMAI ini juga digunakan pada ayat kita diatas (Wahyu 22:20).
Istilah Yunani keenam adalah HEKO. Kata ini
menekankan kedatangan pada suatu tempat tertentu. Kata ini terdapat dalam Wahyu
2:25, “Tetapi apa yang ada padamu,
peganglah itu sampai Aku DATANG”.
Sudah tentu bahwa keenam istilah Yunani ini bukan berarti ada
enam jenis berbeda dari kedatangan Tuhan, tetapi penggunaan yang berbeda dari
istilah ini membuat kita memahami makna yang dimaksud suatu teks yang berbicara
tentang kedatangan Tuhan. Kita tidak membahas dengan rinci setiap penggunaan
istilah2 ini, tetapi untuk saat ini cukuplah kita pahami bahwa kedatangan Tuhan
itu TIDAKLAH HARUS BERBENTUK KEDATANGAN SECARA FISIK.
Didalam Perjanjian Baru, Kristus dinyatakan datang ‘dengan
awan-awan’, datang sebagai ‘kilat’, datang sebagai ‘pencuri’, datang sebagai
‘suara malaikat’, datang dengan ‘sangkakala Elohim’, datang sebagai ‘mempelai
laki-laki’, datang sebagai ‘Raja’, datang sebagai ‘bintang fajar’, datang
sebagai ‘hakim’, datang sebagai ‘juru-selamat’, datang kedalam ‘BaitNya’,
datang ‘ke bukit Zaitun’, datang mengendarai ‘kuda putih’, datang sebagai
‘gembala yang baik’, datang didalam ‘kerajaanNya’, datang ‘dalam kemuliaan’, datang
‘diatas takhtaNya’, datang bersama ‘malaikat-malaikatNya’, datang bersama
‘orang-orang kudusNya’, datang kepada ‘orang-orang kudusNya’, datang didalam
‘orang-orang kudusNya’, dan seterusnya, dan seterusnya. Semua kedatanganNya
yang telah kita sebutkan ini TIDAK MENUNJUK KEPADA KEDATANGAN KEDUA KALINYA.
Pemahaman kita tentang kedatanganNya ini akan menjadi sangat kacau jika kita
memahami kedatanganNya hanya dua kali saja, pertama kedatanganNya 2000 tahun
yang lalu, kemudian kedatanganNya “yang kedua kali” di masa yang akan datang.
Sesungguhnya, Alkitab menegaskan bahwa Tuhan sudah datang, sedang datang, dan
akan datang. Ia datang secara berkelanjutan, dan Ia secara progresif menyatakan
diriNya sampai seluruh rencanaNya genap.
Karenanya, makna kedatangan Tuhan Yesus dalam kitab Wahyu
merupakan ‘kedatangan’ suatu pewahyuan mengenai pribadiNya dan penebusanNya
yang bersifat progresif.
Kita melanjutkan pembahasan kita mengenai kedatangan Tuhan
Yesus serta akan menutup tulisan singkat ini. Mari kita perhatikan kembali
Wahyu 22:20, demikian, “Ia yang memberi
kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: ‘Ya, Aku datang segera’ Amin,
datanglah, Tuhan Yesus”. Telah kita bahas bahwa kedatangan Tuhan bersifat
progresif dan terus berkelanjutan sampai seluruh kehendak dan rencana Bapa
disorga tergenapi. Dalam konteks kitab Wahyu, kedatangan Tuhan merupakan
‘kedatangan’ dari pewahyuan PRIBADI TUHAN YESUS dan PENEBUSANNYA.
Baiklah kita perhatikan apa sebenarnya rencana dan kehendak
Bapa ketika Ia menciptakan manusia. Pemahaman ini perlu agar kita memahami
dengan benar maksud kedatangan Tuhan Yesus. Kejadian 1:26-28, menegaskan
demikian, “Dan Elohim berfirman, Marilah
Kita membuat manusia dalam citra Kita, menurut rupa Kita, dan biarlah mereka
berkuasa…atas seluruh bumi….. penuhilah bumi dan taklukkanlah itu…” (ILT).
Istilah Ibrani yang diterjemahkan ‘taklukkanlah’ pada ayat ini adalah ‘kabash’,
yang berarti ‘bring into bondage’
atau ‘menginjak’. Jelas bahwa Bapa
disorga berkehendak dan mempunyai rencana untuk menciptakan manusia yang serupa
dan segambar denganNya agar dapat memerintah dan berkuasa atas seluruh bumi,
dalam arti menginjak dan membawa segala sesuatu kedalam perbudakkan. Artinya,
ada musuh2 yang harus ditaklukkan oleh manusia dibumi ini.
Karenanya, kedatangan Tuhan Yesus tidak pernah bermaksud
untuk membawa umatNya menuju sorga, seperti banyak dipercaya oleh orang
Kristen. Setelah Tuhan Yesus mempersiapkan mempelaiNya, maka Ia akan datang
untuk menaklukkan segala sesuatu dibumi sebagaimana rencana Bapa. Tuhan Yesus bersama
mempelaiNya akan menghadirkan kerajaan sorga dibumi. Bumi tetaplah menjadi
fokus rencana Bapa, dan Tuhan Yesus bersama mempelaiNya akan menggenapinya.
Tuhan Yesus bersama mempelaiNya akan menaklukkan segala sesuatu sehingga ‘Bumi
dan Langit pertama’ bergerak menuju ‘Bumi dan Langit Baru’.
Didalam kitab Wahyu ada tertulis mengenai kedatanganNya,
yaitu dalam Wahyu 1:7, demikian, “Lihatlah,
Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia… Dan semua bangsa
dibumi akan meratapi Dia, Ya amin”. Kedatangan Tuhan Yesus dengan “awan-awan” adalah kedatanganNya DIDALAM
DAN MELALUI UMATNYA, sebab awan2 (jamak) merupakan simbol dari saksi-saksi
Tuhan. Inilah juga yang dimaksud oleh Roma 8:19-21, dimana Tuhan Yesus datang
didalam dan melalui putera2 Elohim untuk membebaskan ciptaan dari perbudakkan
kebinasaan.
Rasul Yohanes berseru pada ayat kita diatas, ‘Amin, datanglah, Tuhan Yesus’. Setiap
putera2 Elohim pasti merindukan kedatangan Tuhan Yesus kebumi, bukan supaya
“diangkat” kesorga, tetapi supaya dapat menaklukkan segala sesuatu dibumi,
sehingga bumi ini bergerak menuju bumi baru, dan tentu langit baru juga.
Konteks dari Roma 8:19-21 diatas adalah glorification by faith
(pemuliaan oleh iman). Paulus menjelaskan keselamatan oleh penebusan Kristus dalam
surat Roma dengan tiga ungkapan penting, yaitu justification by faith, sanctification
by faith, dan glorification by faith. Sebagaimana justification
by faith dan sanctification by faith dialami oleh
orang2 kudus dibumi, maka glorification by faith juga dialami
oleh orang2 kudus dibumi ini. Sesungguhnya, ‘glorification by faith’
adalah kedatangan Tuhan Yesus kebumi didalam dan melalui umat pilihanNya.
Haleluyah…kerajaan sorga akan ditegakkan dibumi, dan umat pilihanNya bersama
Tuhan Yesus akan menaklukkan segala sesuatu serta menghadirkan Bumi dan Langit
Baru. Amin.
Comments
Post a Comment