Pemulihan Segala Sesuatu


Pemulihan Segala Sesuatu
By Irnawan Silitonga

Pendahuluan
            Bapa di Sorga menciptakan segala sesuatu dengan suatu perencanaan. Segala sesuatu diciptakan sesuai rencana Bapa. Di dalam Roma 11:36 tertulis, “sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia, dan kepada Dia; Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” Ayat ini jelas menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari Dia, bergerak oleh karena Dia dan kembali berpulang kepada Dia, kepada maksud-maksudNya dan kepada kemuliaanNya. Jadi segala sesuatu diciptakan dengan perencanaan dan untuk kemuliaanNya.
            Untuk menggenapkan maksudNya, Bapa menciptakan zaman (waktu) dan melalui proses dari zaman ke zaman, maka rencana Bapa digenapi.
I. Rencana Bapa
            Di dalam kejadian 1:26-28, kita dapat melihat rencana Bapa dalam menciptakan manusia. Pertama, semua manusia direncanakan menjadi serupa/segambar dengan Dia. Kedua, semua manusia direncanakan untuk berkuasa atas segala sesuatu. Agar manusia dapat menjadi serupa dengan Dia dan berkuasa atas segala sesuatu,maka Bapa di sorga memproses manusia melalui pohon kehidupan dan pohon pengetahuan. Melalui kedua pohon inilah manusia diproses berzaman-zaman sampai kehendak dan rencana Bapa digenapi.
            Didalam Efesus 1:3-14 terungkap rencana Bapa dalam memilih kita dan menjadikan kita anak-anakNya. Semua ini dilakukan Bapa di dalam Yesus Kristus.Di dalam ayat ini terlihat bahwa Bapa menghendaki banyak anak. Di dalam kekekalan Bapa hanya mempunyai Anak TunggalNya yaitu Yesus Kristus. Tetapi melalui penciptaan manusia, Bapa menjadi memiliki banyak anak dimana Kristus Yesus menjadi yang Sulung dan Kepala segala sesuatu.
            Kemudian, di dalam Ibrani 2:6-9, jelas terlihat rencana Bapa bagi semua manusia. Ayat 6 mulai dengan suatu pertanyaan. “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya...” Tetapi ayat 8 menegaskan bahwa, “Segala sesuatu telah Engkau taklukkan dibawah kakinya (kaki manusia)”. Alkitab terjemahan LAI menuliskan kata ganti untuk ‘manusia’ dengan huruf besar ‘Nya’. Penerjemahan ini tidak sesuai dengan konteks, sebab ayat 6, 7 dan 8 sedang berbicara tentang semua manusia. Baru kemudian ayat 9 berbicara tentang Yesus. Jadi Ibrani 2:6-8 dengan jelas menyatakan bahwa Bapa di Sorga telah menaklukan segala sesuatu dibawah kaki semua manusia.
II. Buah Sulung
            Selanjutnya kita akan melihat kepada konsep buah sulung. Istilah buah sulung dalam bahasa Ibrani adalah resit, yang berarti permulaan dari sesuatu. Bagi Umat Israel diharapkan mempersembahkan buah sulung dari segala hasil permulaannya kepada Tuhan (Im 2:12; II Taw 31:5). Pengertian buah sulung berarti akan ada penuaian-penuaian berikutnya. Tuhan menghendaki ‘tuaian awal’ sebagai persembahan bagiNya.
            Dalam pengertian tertentu, Israel adalah buah sulung bagi Tuhan, yaitu ‘tuaian awal’ dari umat manusia yang diperuntukkan bagi Tuhan. Kemudian tuaian-tuaian berikutnya adalah bangsa-bangsa lain. Di dalam kitab Wahyu 5:9-10, gereja pemenang sebagai buah sulung yang akan memerintah di bumi sampai bumi, yang telah jatuh dalam dosa ini bergerak menjadi langit dan bumi yang baru, dimana pada akhirnya semua manusia mengenal Tuhan.
            Melalui pemahaman buah sulung ini kita mengerti bahwa Tuhan akan memperoleh sekelompok orang terlebih dahulu sebagai buah sulung, kemudian semua manusia akan didapatkan Tuhan (Yohanes 12:32).
III. Perbedaan antara zaman dan Dispensasi
            Alkitab membedakan antara zaman (Yunani : Aion) dan Dispensasi (Yunani : Oikonomia).Didalam Alkitab setidaknya ada 4 zaman, yang didalam bagan kita disebut zaman 1, zaman 2, zaman 3 dan zaman 4 (halaman terakhir).
·         Zaman 1 tertulis didalam 2 Petrus 2:5 (zaman purba = Ancient World)
·         Zaman 2 terdapat didalam Galatia 1:4 dan II Korintus 4:4 (zaman jahat sekarang ini = Present Wicked Eon)
·         Zaman 3 tertulis dalam Markus 10:30. (zaman yang akan datang = in the coming Eon)
·         Zaman 4 tertulis dalam Efesus 3:21 dan Ibrani 1:8 (Eon of the Eons = The age of the ages).
Sedangkan istilah Dispensasi (Oikonomia) tertulis didalam 1 Timotius 1:4, yang didalam Alkitab versi ILT diterjemahkan penatalayanan Elohim. Istilah Yunani Oikonomia terdiri dari 2 kata, yaitu Oikos (rumah) dan Nomos (pengaturan/penyaluran hukum-hukum, berkat makanan, dll). Jadi pengertian Oikonomia adalah pengaturan atau penyaluran hukum-hukum/berkat-berkat kerumah-tanggaan. Terjemahan ILT cukup tepat, yaitu penatalayanan Elohim. Karenanya, istilah Dispensasi yang kita maksud adalah cara Elohim menata atau mengelola atau memperlakukan manusia dalam suatu periode tertentu. Kita membuat 7 Dispensasi seperti terlihat dalam bagan kita. Hal ini sesuai dengan yang terungkap didalam Alkitab.
            Satu hal yang perlu kita perhatikan disini adalah mengenai Amanat Agung seperti tertulis dalam Matius 28:20. Pada ayat ini, istilah yang digunakan adalah zaman (aion) dan bukan dispensasi (oikonomia). Jadi, didalam Amanat Agung, Yesus akan menyertai murid-muridNya sampai zaman terakhir yaitu Yerusalem Baru, bukan sampai kedatanganNya kedua. Jadi, penginjilan dan anugerah Tuhan berlaku sampai zaman terakhir yaitu Yerusalem Baru (Wahyu 22:17).
IV. Lautan Api (Wahyu 20:15)
            Kitab Wahyu adalah kitab dengan bahasa simbol. Didalam Wahyu 1:1 terdapat istilah Yunani Semaino, yang berasal dari akar kata sema, yang artinya simbol. Jadi, malaikat menyatakan pewahyuan Yesus Kristus kepada Rasul Yohanes dengan bahasa simbol.
            Banyak orang menyangka istilah Lautan Api itu adalah neraka kekal. Tetapi sebenarnya istilah Lautan Api adalah simbol. Lautan berarti banyak orang, sedangkan api merupakan simbol dari penyucian/pemurnian. Jadi Lautan Api adalah orang banyak yang berfungsi memurnikan/menyucikan. Karenanya, Lautan Api adalah gereja pemenang.
VI.  AION = KEKAL ?
Istilah Olam (Ibrani) atau Aion (Yunani) sering diterjemahkan kekal (eternal, Inggris) dalam berbagai versi Alkitab. Apakah istilah Ibrani, Olam atau istilah Yunani, Aion, berarti kekal?
Untuk memahami suatu istilah atau kata maka peraturan emas yang harus kita pahami adalah bahwa makna suatu kata / istilah ditentukan oleh cara bagaimana istilah itu digunakan.
Berikut akan kami berikan contoh2 bagaimana istilah Aion digunakan :
1. Ibrani 1:2 dan Efesus 3:11. Dari ayat2 ini jelas bahwa Tuhan yang membuat Aion. Jadi Aion ada awalnya.
2. Matius 24:3, I Korintus 10:11, Ibrani 9:26. Dari ayat2 ini jelas juga bahwa Aion ada akhirnya.
Dari cara Aion digunakan, jelaslah bahwa Aion memiliki awal dan akhir. Sesuatu yang memiliki awal dan akhir adalah waktu. Jadi, Aion (Yunani) atau Olam (Ibrani) harus diterjemahkan waktu atau zaman.


Kesimpulan
            Rencana Bapa tidak mungkin gagal. Semua orang pada akhirnya akan menjadi serupa dan segambar dengan Dia, serta akan berkuasa atas segala sesuatu (Wahyu 21:1-5).

Irnawan Silitonga
YouTube Channel : Suara Dari Patmos
Facebook
Mobile phone : 0813 1104 3279












Comments

Popular posts from this blog

Kerajaan Sorga Menurut Kitab Wahyu.

Jabatan Dalam Gereja