Kekekalan
Mengenai
Kekekalan
Banyak orang Kristen
tidak mengetahui fakta bahwa didalam Alkitab bahasa aslinya tidak terdapat satu
katapun yang dapat diterjemahkan dengan istilah kekal ( Eternal). Ini disebabkan Alkitab adalah pewahyuan rencana Bapa
didalam waktu. Seperti telah kita ketahui bahwa istilah Aion (Yunani) dan istilah Olam
(Ibrani) tidak dapat diterjemahkan kekal melainkan harus diterjemahkan zaman
(waktu). Memang bahasa Yunani memiliki istilah untuk mengekspresikan ketiada-akhiran (endlessness), tetapi menggunakan kata yang lain, dan bukan Aion, yaitu ouk estai telos yang artinya tiada akhir (Lukas 1:33). Ibrani 7:16
menggunakan istilah zoe akatalutou
atau hidup yang tak berkesudahan (Endless
life).
Kekal adalah dimensi
yang berbeda dengan waktu. Kekal bukanlah periode waktu yang tidak
berkesudahan, sebab apa yang disebut waktu itu pasti ada awalnya dan ada
akhirnya. Kita tidak atau belum mengetahui apapun mengenai kekekalan, sebab
kekekalan adalah dimensi/realm dimana
Elohim berada. Kita berada dialam waktu. Ketika Tuhan menciptakan langit bumi
laut dan segala isinya, Ia juga menciptakan apa yang disebut waktu. Kita
dibatasi oleh waktu, bahasa kitapun ditentukan oleh waktu. Istilah sekarang,
kemarin,atau besok tidak dikenal dalam dimensi kekekalan. Jadi Elohim berada
didalam alam kekekalan, sedangkan kita ada dialam waktu.
Memang Elohim berada
didalam kekekalan tetapi Ia berkarya didalam waktu. Alkitab adalah pewahyuan
rencana Bapa yang dirancangNya dialam kekekalan, tetapi dijalankanNya dialam waktu.
Alkitab adalah rencana Bapa berzaman-zaman untuk menegakkan kerajaanNya di bumi
ini. Jika Bapa akan berkarya didalam kehidupan seseorang, maka Ia memberikan
hidup kekal didalam roh orang itu. Hidup kekal tidak sama dengan kekekalan.
Hidup kekal dalam istilah Yunani adalah eonian
zoe, artinya hidup Kristus (hidup Elohim) yang dimasukkan kedalam alam
waktu dan bertumbuh didalam waktu. Siapa yang percaya Kepada Yesus Kristus
mendapat eonian zoe. Jadi, baik
rencana Bapa maupun hidup kekal yang Bapa berikan semuanya dimasukkan dialam
waktu atau berada didalam waktu.
Kalau memang didalam
Alkitab tidak terdapat istilah kekal, mengapa Alkitab kita penuh dengan istilah
kekal, eternal, forever and ever. Dan
mengapa juga ada ajaran neraka kekal dimana saat ini mayoritas orang Kristen
percaya bahwa ajaran neraka kekal adalah ajaran Alkitab.
Pandangan dari
mayoritas orang kristen pada 500 tahun pertama adalah keselamatan semua orang.
Sepanjang kita meneliti sejarah gereja, maka Augustinus (354-430 M), bapa
gerejalah yang pertama mengajarkan kebinasaan kekal didalam bukunya, The City of God, yg terkenal itu. Kemudian Jerome (345-420 M.) yang
menerjemahkan Alkitab kedalam bahasa Latin ( Vulgate), pada tahun 380 M, dimana Alkitab ini menjadi Alkitab
resmi Gereja Katolik, dan Jerome menerjemahkan istilah Aion (Yunani) kedalam bahasa latin Aeturnus, yang seharusnya diterjemahkan Era (zaman). Selanjutnya semua terjemahan bahasa Inggris mengikuti
terjemahan Jerome dan menerjemahkan istilah Aeturnus
menjadi Eternal (kekal). Memang
John Wiclif, orang pertama yang menterjemahkan seluruh Alkitab kedalam bahasa
Inggris (tahun 1382 M.), tidak pernah menerjemahkan istilah Latin Aeturnus menjadi for ever and ever atau Everlasting,
juga ia tidak menggunakan istilah Eternal,
namun versi Inggris yang berikut oleh Tyndale menggunakan istilah for ever atau for ever and ever atau evermore.
Demikianlah hampir seluruh terjemahan2 bahasa Inggris yang kemudian,
menggunakan istilah eternal, for ever atau
for ever and ever atau evermore.
Pada masa kaisar
Justinian (527-565 M.) memerintah, telah dipublikasikan dalam 50 Volume
‘Justinian Code’ dimana pada tahun 540 M. ia memutuskan untuk menetapkan
beberapa doktrin gereja, khususnya mengenai hidup orang2 kudus yang adalah
kekal, demikian juga mereka yang terhilang adalah juga kekal. Ia memutuskan hal
ini berdasarkan pandangan gereja yang dipengaruhi ajaran Augustinus pada waktu
itu, tanpa memperhatikan pandangan Origen (185-254 M.) dan bapa2 gereja
lainnya, bahkan para Rasul yang meyakini bahwa semua orang akan beroleh selamat
pada akhirnya. Jadi melalui fakta2 sejarah ini dapatlah kita simpulkan bahwa
setidaknya, ketiga orang ini, yaitu, Augustinus, Jerome dan Kaisar Justinian
yang bertanggung jawab untuk ajaran neraka kekal.
Oleh : Irnawan
Silitonga
Comments
Post a Comment