KEDATANGAN TUHAN
Kedatangan Tuhan (Gabungan)
Oleh : Irnawan Silitonga
Tema kedatangan Tuhan merupakan tema yang sangat penting yang
Alkitab nyatakan. Tetapi persoalannya apakah pemahaman kita tentang kedatangan
Tuhan telah sesuai dengan yang dimaksud Alkitab? Pada umumnya, pemahaman orang
kristen tentang kedatangan Tuhan adalah kedatangan Tuhan Yesus secara jasmani
yang kedua kalinya, serta disertai kejadian2 sebelumnya seperti masa kesusahan
besar (great tribulation), kedatangan Anti Kristus dengan tanda bilangan 666,
pengangkatan orang2 percaya (rapture), dan lain sebagainya.
Tetapi mari kita periksa pemahaman2 ini satu persatu apakah
memang demikian yang Alkitab ajarkan. Yang pertama kali kita harus periksa
adalah istilah kedatangan Tuhan yang kedua kali. Apakah memang benar Alkitab
mengajarkan kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kali? Jika kita meneliti
setiap pemunculan istilah kedatangan Tuhan, tidak pernah ada tambahan istilah
‘kedua kali’ dibelakangnya. Artinya, tidak ada ungkapan KEDATANGAN TUHAN KEDUA
KALI didalam Alkitab. Hal ini penting kita pahami dengan jelas. Pada umumnya
orang Kristen selalu menghubungkan istilah atau ungkapan kedatangan Tuhan
dengan suatu peristiwa dimasa yang akan datang, yang mereka sebut kedatanganNya
yang kedua kali.
Alkitab menyebut berkali-kali tentang kedatangan Tuhan yang
sama sekali tidak terkait dengan pemahaman kedatanganNya yang kedua kali, sebab
Alkitab berbicara tentang kedatangan
Tuhan dalam berbagai cara (manifestasi), kepada berbagai orang atau komunitas
tertentu, pada waktu yang tertentu pula. Kita akan melihat beberapa contoh
kedatangan Tuhan yang Alkitab katakan.
Didalam Perjanjian Baru, Kristus dinyatakan datang ‘dengan
awan-awan’, datang sebagai ‘kilat’, datang sebagai ‘pencuri’, datang sebagai
‘suara malaikat’, datang dengan ‘sangkakala Elohim’, datang sebagai ‘mempelai
laki-laki’, datang sebagai ‘Raja’, datang sebagai ‘bintang fajar’, datang
sebagai ‘hakim’, datang sebagai ‘juru-selamat’, datang kedalam ‘BaitNya’,
datang ‘ke bukit Zaitun’, datang mengendarai ‘kuda putih’, datang sebagai
‘gembala yang baik’, datang didalam ‘kerajaanNya’, datang ‘dalam kemuliaan’,
datang ‘diatas takhtaNya’, datang bersama ‘malaikat-malaikatNya’, datang
bersama ‘orang-orang kudusNya’, datang kepada ‘orang-orang kudusNya’, datang
didalam ‘orang-orang kudusNya’, dan seterusnya, dan seterusnya. Semua
kedatanganNya yang telah kita sebutkan ini TIDAK MENUNJUK KEPADA KEDATANGAN
KEDUA KALINYA. Pemahaman kita tentang kedatanganNya ini akan menjadi sangat
kacau jika kita memahami kedatanganNya hanya dua kali saja, pertama
kedatanganNya 2000 tahun yang lalu, kemudian kedatanganNya “yang kedua kali” di
masa yang akan datang. Sesungguhnya, Alkitab menegaskan bahwa Tuhan sudah
datang, sedang datang, dan akan datang. Ia datang secara berkelanjutan, dan Ia
secara progresif menyatakan diriNya sampai seluruh rencanaNya genap.
Jika kita dapat meninggalkan konsep ‘kedatangan Tuhan kedua
kalinya’ dan mulai memahami bahwa kedatanganNya bersifat progresif sampai
seluruh rencanaNya genap, maka kita mulai dapat memahami apa yang dimaksud
Alkitab mengenai kedatanganNya.
Kita telah singgung bahwa pemahaman “kedatangan Tuhan Yesus
secara fisik yang kedua kalinya”, merupakan pemahaman yang tidak memiliki dasar
Alkitab yang kuat. Sekarang kita akan meneliti dengan cepat enam istilah Yunani
yang terkait dengan kedatanganNya. Kemudian, dalam tulisan2 berikutnya, kita
akan menjelaskannya lebih detail lagi.
Keenam istilah Yunani itu adalah, pertama, PAROUSIA. Istilah
ini muncul 24 kali dalam PB dan ia berasal dari kata kerja PAREMI, yang berarti
‘to be present’ (hadir). Kata bendanya berarti kehadiran (presence). PAROUSIA
tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya seseorang, tetapi
menunjukkan kehadiran seseorang yang sudah datang. Penggunaan istilah PAROUSIA
didalam PB juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan secara fisik.
Jadi, istilah Parousia berarti kehadiran. Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam
namaNya, disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA.
Istilah Yunani kedua, APOKALUPSIS. Istilah ini berasal dari
kata kerja APOKALUPTO yang berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya
suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya
terselubung.
Istilah Yunani ketiga adalah EPIPHANEIA. Istilah ini muncul
sebanyak 6 kali dalam PB. Istilah ini berasal dari kata kerja yang berarti
‘membawa kepada terang’ atau ‘tersingkap’. Kata bendanya berarti ‘manifestasi’.
Istilah ini digunakan untuk mengungkapkan kemuliaan dan kemegahan yang
termanifestasi oleh kedatangan Tuhan.
Istilah Yunani keempat, PHANEROO. Istilah ini berarti membuat
nyata atau menjadi nampak. Namun bukan berarti kehadiran yang terlihat mata,
tetapi suatu persepsi.
Istilah Yunani berikutnya adalah ERCHOMAI. Istilah ini
digunakan untuk menunjukkan tindakan actual dari suatu kedatangan. Istilah ini
tidak sama artinya dengan PAROUSIA yang berarti kehadiran seseorang yang telah
datang. ERCHOMAI digunakan dalam Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang (SUATU
TINDAKAN DATANG) dengan awan-awan…”.
Istilah Yunani keenam adalah HEKO. Kata ini menekankan
kedatangan pada suatu tempat tertentu. Kata ini terdapat dalam Wahyu 2:25,
“Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku DATANG”.
Sudah tentu bahwa keenam istilah Yunani ini bukan berarti ada
enam jenis berbeda dari kedatangan Tuhan, tetapi penggunaan yang berbeda dari
istilah ini membuat kita memahami makna yang dimaksud suatu teks yang berbicara
tentang kedatangan Tuhan. Kita akan membahasnya lebih detail setiap penggunaan
istilah ini pada tulisan2 berikutnya. Tetapi untuk saat ini cukuplah kita pahami
bahwa kedatangan Tuhan itu TIDAKLAH HARUS BERBENTUK KEDATANGAN SECARA FISIK.
Didalam Matius 5:17 tertulis, “Janganlah kamu menyangka bahwa
Aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan
untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Jadi, Yesus DATANG… untuk
MENGGENAPI hukum Taurat. Para rabi merangkum hukum Taurat menjadi total
berjumlah 613 peraturan, yang mereka percaya diberikan Tuhan kepada Musa di
gunung Sinai, dimana 248 aturan disebut Mandatory laws, dan 365 aturan lainnya
disebut Prohibition laws.
Aturan mengenai hari raya masuk dalam kategori ‘festivals’
(aturan no 154-170). Para Rabi sangat ketat dengan peraturan2 ini namun mereka
tidak menyadari bahwa semua peraturan2 ini hanyalah bayangan saja sedang wujudnya
adalah Kristus (Kolose 2:17). Peraturan2 hukum Taurat hanyalah bayangan dari
keselamatan saja, sedangkan hakekat keselamatan itu ada didalam penggenapannya
oleh Yesus Kristus (Ibrani 10:1).
Ada tiga hari raya utama bangsa Yahudi yaitu Paskah, Pantekosta,
dan Tabernakel. Ketiga hari raya bangsa Yahudi ini digenapi oleh kedatangan
Tuhan Yesus. Kedatangan Tuhan Yesus sebagai penggenapan ketiga hari raya bangsa
Yahudi ini sangat penting agar kita dapat memahami konsep kedatangan Tuhan
menurut Alkitab.
Mari kita mulai dengan hari raya Paskah. Menurut Injil
Yohanes, Yesus datang ke Yerusalem pada tiga perayaan utama bangsa Yahudi ini.
Kedatangan Yesus pertama kali pada hari Paskah terjadi ketika Ia menyucikan
Bait Allah (Yohanes 2:13). KedatanganNya pada hari raya Pantekosta tercatat
dalam Yohanes 5:1, walaupun diayat ini tidak disebutkan hari raya Pantekosta
namun karena tidak ada definite article dalam istilah Yunani yang tentunya
menunjuk kepada hari raya Paskah yang sudah disebutkan terdahulu, maka sudah sewajarnya
kita melihat bahwa hari raya yang dimaksud ayat ini menunjuk kepada hari raya
Pantekosta. Kemudian Yesus datang kembali ke Yerusalem pada hari raya
Tabernakel atau Pondok Daun (Yohanes 7:2). Selanjutnya, kembali Yesus datang
pada hari raya Paskah untuk mati disalib, menggenapi firman bahwa Ia adalah
Anak Domba Paskah yang sesungguhnya (I Korintus 5:7).
Sebelum kita melanjutkan pembahasan kita mengenai kedatangan
Tuhan, perlu kita pahami prinsip Trilogi yang tertulis dalam Amsal 22:20.
Alkitab terjemahan LAI tidak menterjemahkan istilah Ibrani SHALOSH yang
bermakna THREE- FOLD THINGS. Mari kita bandingkan terjemahan KJV, “Have not I
written to thee excellent things in counsel and knowledge” dan terjemahan
Young’s Literal, “Have I not written to thee three times”. Kesimpulan kita
disini adalah perihal berbicara tiga kali adalah sesuatu yang sangat baik
(Excellent). Jadi, perihal Yesus datang tiga kali untuk menggenapi Paskah,
Pantekosta, dan Pondok Daun adalah EXCELLENT.
Kita sudah singgung sedikit kedatangan Yesus untuk menggenapi
hari raya Paskah. Pada tulisan berikutnya, kita akan membahas kedatangan Tuhan
tiga kali ini lebih detail dalam rangka menggenapi tiga perayaan utama bangsa
Yahudi.
Kita sudah bicarakan terdahulu bahwa kedatangan Tuhan bersifat
progresif, artinya Tuhan hadir berkelanjutan terus menerus sampai seluruh
rencanaNya genap. Dua atau tiga orang berkumpul, Tuhan hadir (PAROUSIA). Kita
juga sudah melihat bahwa Alkitab sama sekali tidak mendukung ajaran Yesus
datang dua kali secara jasmani, pertama 2000 tahun yang lalu, kemudian nanti
datang secara jasmani lagi, yang barangkali kakiNya akan menjejak di Bukit
Zaitun. Walaupun ajaran ini telah berabad-abad lamanya dan dipercayai oleh
hampir semua orang Kristen, namun ALKITAB TIDAK PERNAH MENGATAKAN YESUS AKAN
DATANG DUA KALI SECARA JASMANI. Jika kita cinta Tuhan dan cinta Alkitab, maka
kita hanya akan belajar mendengarkan apa yang Tuhan katakan melalui Alkitab,
tidak perduli apapun atau siapapun yang mengajarkan ajaran2 manusia yang berpikiran
jasmani…
Kita juga sudah membahas secara singkat mengenai kedatangan
Tuhan yang dikaitkan dengan penggenapan hari2 raya utama Israel (Paskah,
Pantekosta, Tabernakel) karena Yesus DATANG untuk menggenapi Hukum Taurat.
Prinsip tiga kali (trilogi) juga sudah kita singgung (Amsal 22:20). Saat ini
kita akan membahas lebih jauh lagi kedatangan Yesus yang menggenapi hari raya
Paskah.
Sebelumnya, kita perlu lihat definisi trilogy menurut kamus,
karena perlu ditambahkan disini mengenai pemahaman progresif (berkemajuan)
kedalam definisi tersebut. Trilogy adalah ‘group of three plays, novels,
operas, etc, to be performed, read, etc, in succession, each complete in itself
but having a common subject. Dalam definisi ini trilogi hanya berarti tiga
perihal yang berurut-urutan, sempurna ditiap urutannya, tetapi memiliki tema
sama, namun tidak disebutkan bahwa ketiga perihal itu bersifat progresif.
Tetapi yang kita maksud dengan trilogi kedatangan Tuhan itu bersifat progresif.
Yesus datang menggenapi Paskah, kemudian berkelanjutan, lebih dalam lagi,
Pantekosta, kemudian lebih maju dan dalam lagi, datang untuk menggenapi
tabernakel sedemikian sehingga rencana Bapa genap.
Ketika Yesus datang untuk menggenapi Paskah, Ia mati dan
bangkit pada hari ketiga. Tetapi penggenapan Paskah ini berlanjut terus ketika
Yesus yang bangkit MENGHEMBUSI MURID-MURID DENGAN ROH KUDUS (Yohanes 20:22).
Mari kita bandingkan Roh Kudus di ayat ini dengan I Korintus 15:45, “…Adam yang
akhir menjadi roh yang menghidupkan”. Young’s Literal menerjemahkannya, LIFE
GIVING SPIRIT. Artinya Yesus sebagai Adam yang akhir, setelah melalui kematian
dan kebangkitanNya, telah menjadi ROH PEMBERI HIDUP. Roh pemberi hidup (Zoe)
inilah yang diterima murid2 setelah Yesus bangkit. Murid2 menerima hidup (Zoe)
ketika Yesus menghembusi mereka seperti yang dikatakanNya dalam Yohanes 10:10,
“Aku DATANG supaya mereka mempunyai hidup (Zoe)…”.
Satu hal lagi perlu kita perhatikan bahwa Roh Kudus yang
diterima murid2 dalam Yohanes 20:22, bukan Roh Kudus yang Alkitab katakan turun
pada hari raya Pantekosta. Jangan salah mengerti maksud saya. Saya tidak
mengatakan bahwa ada DUA ROH KUDUS. Karena di jagad raya ini hanya ada SATU Pencipta
Langit dan Bumi, yaitu Dia yang ADALAH ROH. HANYA ADA SATU ROH. Tetapi Roh
Kudus yang diterima murid2 di Yohanes 20:22 adalah ROH PEMBERI HIDUP YANG
ADALAH ADAM AKHIR. Adam akhir adalah Yesus yang menjadi Roh pemberi hidup,
melalui kematian dan kebangkitanNya. Hal ini penting kita pahami karena
penggenapan Paskah itu bukan saja melalui kematian dan kebangkitan Yesus,
tetapi melalui Yesus sebagai ADAM AKHIR YANG MENGHEMBUSI MURID-MURIDNYA.
Demikianlah kedatangan Yesus menggenapi hari raya Paskah. Uraian
selanjutnya mengenai KEDATANGAN YESUS menggenapi hari raya Pantekosta….
Saat ini kita akan melihat bagaimana kedatangan Yesus
menggenapi hari raya Pantekosta. Untuk memahami hal ini kita perlu lebih dahulu
memahami bahwa Yesus yang datang pada hari raya Pantekosta bukanlah Yesus
secara jasmani. Sama seperti ketika Ia menggenapi hari raya Paskah, setelah
kematian dan kebangkitanNya, maka Ia datang kepada murid2Nya sebagai Roh
pemberi hidup, untuk menggenapi Yohanes 10:10, bahwa Yesus datang supaya murid2
memiliki hidup. Demikianlah kedatangan Yesus untuk menggenapi hari raya
Pantekosta, Ia datang dalam Roh Kudus.
Banyak orang kristen memiliki pengenalan tentang Yesus hanya
bersifat jasmani. Jika mengingat nama Yesus, maka mereka membayangkan seorang
laki2 dengan usia kurang lebih 30 tahun, berambut panjang…dst…dst… suatu
pengenalan yang jasmani. Dalam II Korintus 5:16, Paulus berkata, “…even if we
have known Christ according to the flesh, yet now we know him no more” (Young’s
Literal). Jadi, sekalipun Paulus pernah mengenal Yesus secara jasmani, sekarang
pengenalannya bersifat rohani.
Mari kita lihat Kisah Para Rasul 1:11, “…Hai orang-orang
Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat
ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti
kamu melihat Dia naik ke sorga”. Hampir semua pengajar Alkitab menafsirkan ayat
ini bahwa Yesus akan datang dalam bentuk tubuh yang terlihat dengan mata
jasmani… yang ternyata setelah hampir 2000 tahun belum juga datang lagi. Para
pengajar Alkitab ini melupakan bahwa Adam akhir adalah Roh pemberi hidup.
Mereka juga melupakan bahwa Tuhan adalah Roh (II Korintus 3:17). Mereka juga
melupakan Matius 10:23, “…sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi
kota-kota Israel, Anak manusia sudah datang”. Artinya Yesus akan datang lagi
sementara murid2 masih hidup dan mencoba menyelesaikan kunjungannya ke
kota-kota Israel.
Kalau demikian, kapan Yesus datang lagi dari sorga dengan
cara yang sama seperti Kis. 1:11 diatas? Jawabnya sederhana. Setelah murid2
menunggu selama 10 hari, dan tiba hari raya Pantekosta, maka tiba2 datang dari
sorga ‘lidah-lidah seperti nyala api’ dan hinggap pada mereka semua. INILAH
KEDATANGAN YESUS YANG ADALAH ROH. Kunci pemahaman kedatangan Tuhan adalah
jangan mengenal Yesus sebagai laki2 berusia 30 tahun dengan rambut panjang
seperti yang sering kita lihat digambar2 yang diperjual-belikan. Gambar2 itu
penghinaan terhadap Yesus yang adalah Roh pemberi hidup, dan juga Tuhan yang
adalah Roh.
Mari kita periksa kembali Yohanes 14:18, “Aku tidak akan
meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. AKU DATANG KEMBALI KEPADAMU”. Dalam
percakapan malam terakhir dengan murid2, Yesus berjanji akan datang kembali
KEPADA MURID-MURID. Dan IA datang pada hari raya Pantekosta. Kalau Yesus datang
“kedua kali” entah kapan seperti yang diajarkan pengajar2 Alkitab umumnya, maka
janji Yesus kepada murid2 TIDAK DIGENAPI. Murid2 sudah mati semua dan Yesus
tidak datang juga kepada murid2 seperti janjiNya…
Mari kita belajar berpikir secara rohani, jangan jasmani…
Saat ini kita akan melihat bagaimana kedatangan Yesus untuk
menggenapi hari raya Pondok Daun (Tabernakel), yaitu hari raya utama ketiga
setelah Paskah dan Pantekosta. Telah kita singgung bahwa Yesus datang untuk
menggenapi hari raya Paskah dengan cara menghembusi murid2 dengan Roh pemberi
hidup, sehingga murid2 memiliki hidup (Zoe) dan dilahirkan baru atau lahir dari
atas. Kemudian Yesus datang lagi untuk menggenapi hari raya Pantekosta dengan
cara membaptis murid2 dengan Roh Kudus, sebagai jaminan (Efesus 1:14).
Mari kita periksa terlebih dahulu Efesus 1:14, untuk memahami
apa maksud dari istilah ‘jaminan’. Efesus 1:14, terjemahan LAI, “Dan Roh Kudus
itu adalah JAMINAN bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan
yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya’. Istilah JAMINAN
diterjemahkan dari istilah Yunani ARRABON, dimana Strong’s mendefinisikannya
sebagai panjar, atau down payment, atau uang muka yang diberikan lebih dahulu
sebagai jaminan bahwa pembayaran seluruhnya pasti akan dibayar kelak.
Untuk memahami kedatangan Yesus dalam menggenapi hari raya
Pondok Daun, mari kita melihat Yohanes 7:38-39, “Barangsiapa percaya kepadaKu,
seperti dikatakan oleh kitab suci: dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran
air hidup. Yang dimaksudkanNya ialah Roh…”. Kata-kata ini diucapkan Yesus pada
puncak perayaan hari raya Pondok Daun, ketika Yesus datang ke Yerusalem. Pada
hari raya Pondok Daun, Yesus berjanji akan memberikan RohNya kepada barangsiapa
yang percaya.
Kalau kita perhatikan Yohanes 7:38-39 diatas, dapatlah kita
pahami bahwa kedatangan Yesus pada hari raya Pondok Daun adalah dengan cara
memberikan RohNya kedalam hati orang2 yang percaya sedemikian sehingga dari
dalam hati orang2 percaya mengalir aliran2 air hidup. Roh yang ada didalam hati
orang2 percaya SAAT INI hanyalah berupa jaminan, panjar atau down payment saja.
Kita belum menerima Roh dalam arti SELURUHNYA. Itu sebabnya kita belum dapat
melakukan perkara2 yang jauh lebih besar dari pada yang Yesus lakukan. Tetapi
Yesus berjanji bahwa kita akan melakukan perkara2 yang lebih besar (secara
korporat) dari pada yang Yesus lakukan (Yohanes 14:12). Kapan janji ini
digenapi? Ketika Yesus datang untuk menggenapi hari raya Pondok Daun.
Jadi, kedatangan Yesus untuk menggenapi hari raya Pondok Daun
adalah dengan cara memberikan ROHNYA DENGAN TANPA BATAS KEPADA MEREKA YANG
PERCAYA. Ketika itu kita dapat melakukan perkara2 yang LEBIH BESAR dari pada
perkara2 yang Yesus lakukan. Peristiwa yang sangat dahsyat ini sebenarnya tidak
lain adalah tampilnya putra2 Elohim untuk memulihkan segala sesuatu (Roma
8:19-21). Inilah saat dimana seluruh makhluk menanti-nantikannya, yaitu saat
anak2 Allah dinyatakan. Saat dimana pemulihan ciptaan dimulai.
Jadi, kalau kita perhatikan bagaimana Yesus menggenapi ketiga
hari raya utama bangsa Yahudi, maka kita akan paham bahwa Ia datang secara
progresif dalam memberikan ROHNYA kepada orang2 yang percaya. Ajaran kedatangan
Yesus “kedua kali” dengan bentuk seorang laki2 yang terlihat secara mata
jasmani, benar2 pengajaran dari orang2 yang berpikiran jasmani. Para pengajar
ini sama sekali tidak memahami maksud Bapa disorga dalam hal kedatangan Yesus
ini. Maksud Bapa disorga jelas, bahwa dengan kedatangan Yesus, maka tampil Putra2
Elohim yang memiliki Roh dengan tidak terbatas yang akan memulihkan ciptaan
seluruhnya dari perbudakan dosa.
Sebagai penutup, mari kita lihat berkat Abraham yang kita
terima melalui Yesus Kristus, karena Abraham telah ditetapkan menjadi bapa
semua orang beriman. Galatia 3:14 katakan, “Yesus Kristus telah membuat ini,
supaya didalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa- bangsa lain, sehingga
oleh iman KITA MENERIMA ROH YANG TELAH DIJANJIKAN ITU”. Berkat Abraham adalah
ROH. Semoga Umat Tuhan dijauhkan dari para pengajar jasmani yang mengatakan
bahwa berkat Abraham adalah sukses jasmani didunia ini….
Kita sudah menegaskan bahwa kedatangan Tuhan bersifat
progresif, artinya terus menerus dan berkemajuan, semakin dalam dan semakin
dalam sampai seluruh rencana Bapa digenapi, yaitu Langit dan Bumi yang baru.
Tuhan sudah datang, sedang datang dan akan datang. Dimana 2-3 orang berkumpul
didalam namaNya, disitu Tuhan hadir (Parousia).
Kita sudah membicarakan kedatangan Tuhan yang menggenapi tiga
hari raya utama bangsa Yahudi. Ini bukan berarti Tuhan hanya datang tiga kali
saja. Tuhan sudah datang, sedang datang dan akan datang dalam berbagai
manifestasi, tetapi kita mengaitkan kedatangan Tuhan sebagai penggenapan tiga
hari raya utama bangsa Yahudi. Itu sebabnya kita mengatakan Tuhan datang tiga
kali atau kita istilahkan ‘trilogi kedatangan Tuhan’.
Didalam trilogi kedatangan Tuhan kita perhatikan bahwa Yesus
datang dalam “bentuk” Roh untuk menggenapi tiga hari raya bangsa Yahudi.
Pertama, hari raya Paskah, Yesus datang menggenapi Paskah dengan kematian dan
kebangkitanNya, kemudian sebagai Roh pemberi hidup, Ia menghembusi murid2Nya,
sehingga murid2Nya lahir baru serta memiliki hayat (Yohanes 20:22). Kedua, hari
raya Pantekosta, dimana Yesus datang kepada 120 murid2Nya dan membaptis mereka
dengan Roh Kudus, dimana Roh Kudus ini adalah suatu jaminan sebelum kita
memiliki seluruhnya (Efesus 1:14). Ketiga, hari raya Pondok Daun, dimana Yesus
akan datang dengan memberikan RohNya secara tidak terbatas sehingga kita dapat melakukan
perkara2 lebih besar dari pada yang Yesus sendiri lakukan.
Jadi, kedatangan Yesus dalam menggenapi tiga hari raya utama
bangsa Yahudi adalah dengan memberikan RohNya kepada orang2 percaya secara
progresif. Pertama, Roh yang membuat murid2 lahir baru. Kemudian, Roh yang
memberikan murid2 kuasa dan karunia2 sebagai saksi Tuhan, kemudian, Roh yang
tidak terbatas yang membuat murid2 melakukan perkara2 lebih besar dari pada
yang Yesus lakukan. Kedatangan Tuhan Yesus adalah kedatangan Roh. Dan ini sesuai
dengan berkat Abraham yang adalah Roh (Galatia 3:14).
Hari raya Paskah dan hari raya Pantekosta telah digenapi oleh
kedatangan Yesus, dan kita sekarang menunggu kedatangan Yesus untuk menggenapi
hari raya Pondok Daun, dimana Ia akan memberikan RohNya secara tidak terbatas
kepada orang2 yang percaya. Melalui pencurahan Roh yang tidak terbatas ini maka
akan tampil anak2 Allah yang akan memulihkan segala sesuatu (Roma 8:19-21).
Sebelum kita menutup tulisan ini, perlu diingatkan agar anak2
Tuhan tidak salah memahami kedatangan Tuhan seperti bangsa Yahudi yang gagal
mengenali Mesias yang dinantikan. Sebab bangsa Yahudi berharap Mesias itu
adalah pemimpin jasmani yang membangun kerajaan Israel jasmani, membangun Bait
Suci jasmani, mengusir musuh2 jasmani… dan ketika Yesus datang sebagai Mesias,
mereka menolakNya… Jika pengajaran Yesus datang “kedua kalinya” tetap dipercaya
oleh Umat Tuhan, maka Umat Tuhan akan gagal mengenali kedatangan Tuhan Yesus…
Saat ini kita akan melihat istilah Yunani, PAROUSIA, yang sering
diterjemahkan ‘datang’ dalam berbagai versi Alkitab. Seperti kita ketahui bahwa
istilah ‘parousia’ muncul sebanyak 24 kali dalam PB dan sebenarnya selalu
berarti ‘kehadiran’ (presence). Tidak pernah ‘parousia’ berarti ‘datang’ atau
‘datang kembali’.
Kita hanya akan mengambil beberapa contoh saja pemunculan
‘parousia’ didalam PB dan membuktikannya bahwa ‘parousia’ harus diterjemahkan
‘kehadiran’. Ada satu peraturan emas dalam studi kata yaitu, bahwa makna suatu
kata ditentukan oleh bagaimana kata itu digunakan dalam suatu kalimat. Kita
langsung saja masuk kedalam contoh pertama yang terdapat didalam I Tesalonika
5:23-24, yang demikian tertulis, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu
seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak
bercacat pada KEDATANGAN (Parousia) Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang
memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya”. Jika parousia
diterjemahkan ‘kedatangan’ maka ayat ini berarti Paulus percaya dan berharap
bahwa roh, jiwa, dan tubuh orang percaya akan terus terpelihara sampai
kedatangan Tuhan “kedua kali” yang setelah 2000 tahun belum kunjung tiba.
Paulus tidak bermaksud seperti ini. Parousia harus diterjemahkan ‘kehadiran’,
sehingga ayat ini berbunyi, “Semoga Allah damai sejahtera…terpelihara sempurna
dengan tak bercacat dalam KEHADIRAN Yesus Kristus, Tuhan Kita…”.
Kita lihat contoh berikut dalam I Tesalonika 3:13, “Kiranya
Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, dihadapan Allah dan Bapa
kita pada waktu KEDATANGAN (Parousia) Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang
kudusNya”. Jika ‘parousia’ diterjemahkan ‘kedatangan’, maka maksud ayat ini
menjadi kacau, sebab itu berarti Paulus tidak memperdulikan ke-tak bercacat-an
dan kekudusan jemaat SAAT INI, Paulus hanya memperdulikannya nanti pada waktu
kedatanganNya. Bukan demikian maksud Paulus. Jika ‘parousia’ diterjemahkan
‘kehadiran’ maka ayat ini berbunyi, “Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak
bercacat dan kudus, dihadapan Allah dan Bapa kita DALAM KEHADIRAN (Parousia) Yesus
Tuhan kita…”.
Kita akan melihat satu contoh lagi saja untuk membuktikan
bahwa Parousia, yang muncul sebanyak 24 kali dalam PB, HARUS DITERJEMAHKAN
KEHADIRAN. Mari kita melihat Matius 24:27, “Sebab sama seperti kilat memancar
dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah
kelak kedatangan Anak Manusia”. Ayat ini seolah-olah mengatakan bahwa
kedatangan Anak Manusia itu seperti suatu kejadian mendadak dilangit jasmani
dimana kedatanganNya terjadi seperti kilat memancar dari timur ke barat. Tidak
demikian maksud ayat ini. Kunci pemahaman ayat ini terletak pada istilah Yunani
yang diterjemahkan “kilat memancar”, yaitu ASTRAPE. Strong’s mendefinisikannya
sebagai, a flash of lightning, brightness, luster, dimana ASTRAPE berasal dari
kata ASTRAPTO yang berarti lightning; by analogy, glare. Para ahli memahami
istilah Yunani ini sebagai ‘sinar terang’ dari suatu sumber terang, dan bukan
cahaya kilat yang mendadak memancar dari suatu lokasi ke lokasi lainnya. Jika
kedatangan Tuhan seperti kilat memancar, yang berarti hanya terjadi di suatu
lokasi tertentu saja, maka hal ini bertentangan dengan ayat lainnya yang
mengatakan bahwa ‘setiap mata akan memandang Dia’.
Sebelum kita mengambil kesimpulan pemahaman ayat kita diatas,
mari kita renungkan cahaya apa yang memancar dari timur ke barat? Bukankah ini
cahaya matahari… dan kita tahu bahwa Tuhan adalah matahari bagi kita (Mazmur
84:12). SinarNya menerangi roh, jiwa dan tubuh kita sehingga roh, jiwa, dan
tubuh kita terpelihara sempurna…
Jadi, ayat ini harus diterjemahkan, “Sebab sama seperti kilat
memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian
pulalah KEHADIRAN (Parousia) Anak Manusia”. Artinya, KEHADIRANNYA seperti
cahaya matahari yang semakin terang menyinari seluruh keberadaan kita.
Demikianlah makna ayat ini. Sekali lagi, semua istilah ‘Parousia’ yang muncul
sebanyak 24 kali dalam PB, HARUS DITERJEMAHKAN KEHADIRAN.
Sebagai penutup, kehadiran (parousia) Tuhan itu berlangsung
terus menerus didalam diri kita sampai seluruh keberadaan kita diresapi total
olehNya.
Kita sudah membahas istilah PAROUSIA, yang sering
diterjemahkan ‘datang’ oleh berbagai versi Alkitab. Sebenarnya PAROUSIA tidak
pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya seseorang, tetapi menunjukkan
kehadiran seseorang yang sudah datang. Penggunaan istilah PAROUSIA didalam PB
juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan secara fisik. Jadi, istilah
Parousia berarti KEHADIRAN. Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaNya,
disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA. Parousia Yesus
Kristus adalah kehadiran Yesus Kristus, dimana kehadiranNya adalah realita masa
lalu, saat ini dan masa yang akan datang. Tuhan Yesus berkata, “Aku menyertai
kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.
Saat ini kita akan memeriksa istilah kedua dalam bahasa
Yunani yaitu APOKALUPSIS. Seperti telah kita ketahui bahwa istilah ini berasal
dari kata kerja APOKALUPTO yang berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya
suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya
terselubung. Tuhan Yesus yang memang sudah hadir, dahulu, sekarang dan
kemudian, namun tidak dapat dilihat oleh mata jasmani, kemudian oleh pekerjaan
Roh Kudus, maka kehadiranNya disingkapkan. Apokalupsis adalah persoalan MELIHAT
sesuatu yang tadinya terselubung.
Mari kita melihat beberapa ayat yang menggunakan istilah
Apokalupsis. Roma 8:19, “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan
saat anak-anak Allah DINYATAKAN (Apokalupsis)”. Kemudian, I Petrus 4:13, “…
supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia MENYATAKAN
(Apokalupsis) kemuliaanNya”.
Kalau kita membaca Roma 8:19-23, maka dapatlah kita pahami
bahwa seluruh makhluk menantikan saat pembebasan dari perbudakan kebinasaan.
Kapan dimulai dan siapa yang akan membebaskan seluruh makhluk dari perbudakan
kebinasaan? Jawabnya, anak2 Allah yang sudah dinyatakan, disingkapkan, ketika
Tuhan Yesus menyatakan kemuliaanNya (I Petrus 4:13). Saat ini anak2 Allah belum
disingkapkan. Anak2 Allah masih terus dibentuk, diproses, ditempa, sampai tiba
saatnya dinyatakan. Kolose 1:27 menegaskan, “… Christ in you, the hope of
glory”. Kristus yang didalam kita, itulah pengharapan akan kemuliaan. Ketika
Kristus menyatakan diriNya. Kita juga akan menyatakan diri bersama dengan Dia
dalam kemuliaan. Kapan ini terjadi, sdrku? Ketika anak2 Allah DINYATAKAN
(Apokalupsis).
Kita lihat bahwa pengharapan akan kemuliaan itu ada didalam
kita, yaitu Kristus yang ada didalam batin kita. Kita tidak melihat ke langit
diatas untuk menantikan datangnya Kristus. KITA TIDAK MENUNGGU KRISTUS YANG
DATANG DARI LANGIT DIATAS. Namun saat ini memang kita sedang dibentuk, ditempa,
diproses sedemikian sehingga Kristus yang didalam kita tampil menyatakan
diriNya bersama kita dalam kemuliaan. Inilah saat anak2 Allah dinyatakan.
Inilah pengharapan seluruh makhluk agar dibebaskan dari perbudakan kebinasaan
dan masuk dalam kemerdekaan kemuliaan anak2 Allah. Inilah Apokalupsis anak2
Allah.
Sebagai penutup, mari kita melihat penggunaan istilah
Apokalupsis didalam kitab Wahyu. Didalam Wahyu 1:1 tertulis, “Inilah wahyu
(Apokalupsis) Yesus Kristus…”. Kitab Wahyu adalah kitab yang
menyatakan/mewahyukan/membukakan Yesus Kristus. Dan Yesus Kristus ini ada
ditengah-tengah kaki dian (1:13). Sementara kita terus membaca pewahyuan Yesus
Kristus ini, kita melihat bagaimana Yesus Kristus memanggil para pemenangNya
disetiap zaman gereja. Karenanya, Apokalupsis Yesus Kristus menjadi Apokalupsis
Yesus Kristus dan para pemenangNya. Puji Tuhan… pada waktuNya, seluruh makhluk
akan melihat Apokalupsis Yesus Kristus dan para pemenangNya, dan seluruh
makhluk akan dimerdekakan dan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan para
pemenangNya. Amin.
Saat ini kita akan membahas istilah Yunani ketiga yang
terkait dengan ‘kedatangan’ Tuhan, yaitu EPHIPHANEIA, yang muncul hanya 6 kali
dalam PB. Sebelumnya kita sudah membahas PAROUSIA yang berarti kehadiran.
KehadiranNya adalah realita masa lalu, saat ini dan saat yang akan datang.
Tetapi kehadiranNya tidak dapat dilihat oleh mata jasmani. Dan kita juga sudah
membahas istilah Yunani APOKALUPSIS, yaitu penyingkapan atau membuka selubung.
KehadiranNya yang tidak terlihat menjadi terlihat melalui suatu APOKALUPSIS
(pembukaan selubung), artinya melalui roh wahyu kita dapat “melihat” kehadiran
Tuhan dalam hidup kita.
Epiphaneia berasal dari kata kerja yang berarti ‘to shine
upon’, ‘bring to light’, ‘to appear’, ‘to manifest’. Kata bendanya
‘manifestation’, atau ‘brightness’. Penggunaannya dalam Yunani klasik
diterapkan kepada sesuatu keilahian yang tidak terlihat tetapi menjadi
terlihat. Juga diterapkan kepada matahari yang muncul setelah awan gelap
berlalu. Terjemahan yang paling baik dari istilah Yunani ini adalah
MANIFESTASI.
Penggunaan Epiphaneia terdapat dalam II Tesalonika 2:8, “pada
waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus
akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya (destroy with
the EPIPHANEIA), kalau Ia datang kembali (PAROUSIA)”. Young’s Literal
menerjemahkannya, “… and shall destroy with the MANIFESTATION (Epiphaneia) of
His presence (PAROUSIA)”. Manifestasi dari kehadiranNya itulah yang memusnahkan
si pendurhaka.
Kalau kita urutkan ketiga istilah Yunani ini, maka kita
dapatkan bahwa kehadiran (PAROUSIA) Tuhan selalu tersedia bagi kita. Aku
menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman, kata Tuhan Yesus. Tetapi kita
butuh pewahyuan (APOKALUPSIS=pembukaan selubung) agar kita menyadari
kehadiranNya. Dan sebagai akibat pembukaan selubung (pewahyuan), maka kita
mengalami manifestasi (EPIPHANEIA) dari kehadiranNya, yang bagi si pendurhaka
justru akan memusnahkannya. Jadi, urutannya sebagai berikut,
Parousia(kehadiran) – Apokalupsis(penyingkapan) – Epiphaneia(manifestasi).
Epiphaneia adalah akibat langsung dari Apokalupsis. Jika kehadiran Tuhan
tersingkap, maka manifestasi dari kuasa dan kemuliaan kehadiranNya pasti
terpancar. Manifestasi dari kehadiranNya bersifat progresif dalam kehidupan
kita. Semakin hari semakin termanifestasi kehadiranNya dalam hidup kita. Kita
bertumbuh dari kemuliaan menuju kemuliaan…. From glory to glory…
Sebagai penutup, sesungguhnya seluruh makhluk merindukan
manifestasi dari kehadiranNya. Seluruh makhluk mengeluh dibawah perbudakan alam
maut, yaitu suatu alam dimana kehadiranNya tidak termanifestasi sama sekali.
Jika kehadiranNya termanifestasi, maka kuasa dan kemuliaanNya akan membebaskan
seluruh ciptaan. Tetapi bagaimana cara Tuhan melakukan semua ini? Dengan
membentuk saudara dan saya melalui suatu proses disiplin, proses peremukkan,
dan proses penderitaan agar didalam diri kita tertempa hayatNya. Ketika
hayatNya sudah matang dan termanifestasi, maka seluruh makhluk akan mengalami
pembebasan oleh kuasa dan kemuliaan kehadiranNya…. Haleluyah.
Saat ini kita akan masuk kedalam istilah Yunani keempat, yaitu
PHANEROSIS, yang terkait dengan kedatangan Tuhan. Phanerosis adalah kata benda
sedangkan kata kerjanya PHANEROO. Istilah ini berarti ‘to appear’ atau
‘manifest’. Istilah Epiphaneia yang telah kita bahas sebelumnya berarti
manifestasi, tetapi berbeda dengan Phaneroo. Phaneroo sering digunakan ketika
seseorang memanifestasikan seorang yang lain, seperti Anak memanifestasikan
Bapa, atau ketika kita memanifestasikan Kristus yang didalam kita. Jadi, jika
Alkitab menggunakan istilah Phaneroo, itu bukan berarti Tuhan memanifestasikan
DiriNya KEPADA kita, tetapi MELALUI kita. Maksudnya, seseorang memanifestasikan
seorang yang lain.
Mari kita melihat bagaimana istilah Phaneroo digunakan.
Yohanes 17:6, “Aku telah menyatakan (Phaneroo) nama-Mu kepada semua orang yang
Engkau berikan kepada-Ku dari dunia…”. II Korintus 4:10, “… supaya kehidupan
Yesus juga menjadi nyata (Phaneroo) didalam tubuh kami”. Kolose 3:4, “Apabila
Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan (Phaneroo) diri kelak, kamupun akan
menyatakan (Phaneroo) diri bersama
dengan Dia dalam kemuliaan”. I Timotius 3:16, “… Dia yang telah menyatakan
(Phaneroo) diriNya dalam rupa manusia…”. I Yohanes 1:2, “…yang ada bersama-sama
dengan Bapa dan yang telah dinyatakan (Phaneroo) kepada kami”. I Yohanes 4:9, “Dalam
hal inilah kasih Allah dinyatakan (Phaneroo) ditengah-tengah kita…”.
Tujuan dari PHANEROSIS Kristus adalah agar manusia dapat
MELIHAT Elohim. Melihat disini berarti mengenal, memiliki persepsi yang benar
tentang Dia. Demikian juga Phanerosis kita bersama Dia dalam kemuliaan (Kolose
3:4), bertujuan agar semua manusia mengenal Dia. Kita menjadi keselamatan bagi
seluruh ciptaan.
Sebagai penutup, mari kita periksa Lukas 2: 30-31, “sebab
mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan
dihadapan SEGALA BANGSA”. Young’s Literal menerjemahkannya, ALL THE PEOPLES.
Artinya SEMUA MANUSIA pada waktunya kelak akan MELIHAT keselamatan Tuhan.
Ketika Phanerosis kita bersama Dia dalam kemuliaan terjadi, saat itulah kita
menjadi keselamatanNya yang disediakan bagi semua manusia.
Saat ini kita akan mempelajari kedatangan Tuhan sebagai
bintang pagi (The Morning Star). Didalam kitab Wahyu, bintang pagi disebutkan
dua kali. Mari kita lihat didalam Wahyu 22:16, “… Aku adalah tunas, yaitu
keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang”. Terjemahan Young’s Literal
menyebutkannya, “… I am the root and the offspring of David, the bright and
morning star”. Bintang timur yang dimaksud disini adalah the morning star atau
bintang pagi. Istilah Yunani yang dipakai untuk ‘pagi’ atau ‘morning’ adalah
PROINOS, yaitu sesuatu yang terkait dengan Dawn, atau Sunrise, atau daybreak.
Maksudnya, bintang pagi itu muncul sebelum datangnya pagi hari atau datangnya
sinar matahari pagi.
Bintang pagi ini bukan matahari. Didalam solar system kita,
bintang pagi adalah planet terang (Venus) yang muncul di timur pada waktu2
tertentu dalam setahun. Bintang pagi ini biasanya muncul ditengah kegelapan
malam, barangkali sekitar jam 4 subuh, sehingga bagi mereka yang tidak berjaga-jaga
ditengah kegelapan malam, tidak akan melihat kemunculan bintang pagi ini.
Bintang pagi ini adalah Tuhan Yesus, yang akan datang
ditengah kegelapan malam, dimana bagi mereka yang tidak berjaga-jaga tentu
tidak dapat mengalami dan menikmati kedatanganNya. Tetapi bagi kita yang
berjaga-jaga dan menanti-nantikanNya, tidak larut dalam “kegelapan malam”, bagi
kita Tuhan Yesus muncul sebagai bintang pagi yang gilang gemilang.
Larut dalam “Kegelapan malam” yang kita maksud bukan berarti
larut dalam kegiatan jahat yang dilakukan malam hari, tetapi kegiatan apa saja
yang dilakukan kapan saja, yang membuat kita tidak menanti-nantikan Tuhan. Bisa
saja para ‘full timer’ di gereja, atau para pelayan yang sangat sibuk khotbah
kesana kemari, merasa perlu waktu istirahat atau retreat karena kurang waktu
bersekutu dengan Tuhan. Larut dalam kesibukan pelayanan seperti ini juga yang
kita maksud larut dalam “kegelapan malam”.
Kemunculan kedua the morning star dalam kitab Wahyu terdapat
dalam Wahyu 2:26-28, “Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaanKu sampai
kesudahannya… kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur”. Wahyu pasal 2 dan 3
merupakan panggilan Tuhan kepada para pemenang. Gereja sudah jatuh karena
ajaran Izebel, Nikolaus dan Bileam. Tuhan memanggil para pemenangNya. Para
pemenangNya ini tidak harus orang yang terkenal didalam dunia kekristenan yang
sudah jatuh saat ini, tetapi barangkali orang2 sederhana yang tidak ambil
bagian dalam kejatuhan gereja. Barangkali para pemenangNya ini orang2 yang
“tidak sibuk dalam pelayanan gereja” tetapi memiliki semangat untuk bersekutu
dengan Tuhan, senantiasa berjaga-jaga, dan setia mengerjakan tugas2nya,
dimanapun ia ditempatkan.
Sebagai penutup, mari kita bandingkan bintang pagi ini dengan
matahari kebenaran. Didalam Maleakhi 4:2 tertulis, “Tetapi kamu yang takut akan
namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya…”
Kita tahu bahwa surya kebenaran ini menunjuk kepada Tuhan sendiri, yaitu
Kristus, sang Matahari kebenaran. Didalam solar system kita, bintang pagi itu
muncul lebih dahulu dari matahari. Setelah bintang pagi menerangi bumi dengan
terangnya yang “lembut”, kemudian giliran matahari menerangi bumi sedemikian
sehingga bumi memperoleh kehidupannya. Bintang pagi adalah para pemenangNya
sebagai BUAH SULUNG, artinya masih ada tuaian berikutnya sampai “seluruh bumi
diterangi oleh matahari”. Kita sebagai buah sulung akan dipakaiNya sedemikian
sampai seluruh bumi penuh kemuliaanNya, haleluyah….
Kita telah mengetahui bahwa Bintang pagi adalah Tuhan Yesus
sebagai keturunan Daud (Wahyu 22:16). Dan bahwa bintang pagi ini muncul sekitar
jam 4 subuh sebelum nanti akan disusul oleh sinar matahari. Kedatangan Bintang
pagi ini dalam musim2 tertentu dalam setahun hanya akan dapat dilihat dan
dinikmati oleh mereka yang berjaga-jaga dan tidak larut dalam kegelapan malam.
Kepada para pemenang Tuhan juga berjanji mengaruniakan Bintang pagi ini (Wahyu
2:28). Sesungguhnya, Bintang pagi ini bagi para pemenang adalah kemuliaan
Kristus yang didalam batin. Christ in you, the hope of glory…
Saat ini kita akan membahas tentang matahari kebenaran,
dimana matahari ini datang setelah kemunculan bintang pagi yang telah kita
bicarakan diatas. Mari kita melihat Maleakhi 4:2, “Tetapi kamu yang takut akan
namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya…”.
Tuhan Yesus adalah matahari kebenaran, sebab didalam Mazmur 84:12 tertulis,
“Sebab Tuhan Allah adalah matahari dan perisai…”. Jadi, Tuhan Yesus adalah
Bintang pagi yang menerangi lubuk hati kita dengan “lembut” dan kemudian tiba
gilirannya Tuhan Yesus datang sebagai matahari menerangi lubuk hati kita secara
sepenuhnya.
Didalam Matius 24:27 tertulis, “Sebab sama seperti kilat
memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian
pulalah kelak kedatangan (Parousia) Anak Manusia”. Kita telah membahas maksud
ayat ini yaitu bahwa kehadiranNya seperti cahaya matahari yang semakin terang
menyinari seluruh keberadaan kita. Kehadiran Tuhan Yesus sebagai matahari
menerangi batin kita secara perlahan-lahan, demikianlah genap Amsal 3:18,
“Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang
sampai rembang tengah hari”.
Disini sekali lagi kita melihat konsep kedatangan Tuhan
tidaklah secara jasmani. Kedatangan Tuhan adalah perkara batiniah. Jika
pengertian kita tentang kedatangan Tuhan itu adalah kedatangan Yesus dari
langit yang dapat dilihat oleh mata jasmani, maka kita sudah kehilangan banyak
pengertian yang benar tentang kedatanganNya.Sudah waktunya kita melihat ESENSI
dari kedatangan Tuhan yaitu terjadi secara Roh didalam batin kita.
Sebagai penutup, kita melihat kedatangan Tuhan itu
dianalogikan seperti matahari, yang mana kita tahu terbit di timur dan tenggelam
dibarat. Kedatangan Tuhan itu dari ‘timur ke barat’. Kalau kita melihat sejarah
pergerakkan Tuhan, maka kita akan melihat juga prinsip ‘dari timur ke barat’
ini. Kita akan melihat beberapa contoh pergerakkan Tuhan ‘dari timur ke barat’
ini, atau pergerakkan Tuhan itu kearah barat. Pertama, Kain berjalan kearah
timur Eden menjauhi Tuhan (Kejadian 4:16). Kedua, Abraham, pergi dari Babel ke
Kanaan, itu berarti pergi dari timur kearah barat. Ketiga, Lot, memilih kearah
kota Sodom dan Gomorah yaitu kearah timur (Kejadian 13:11). Keempat, Tabernakel
itu masuk dari timur kearah barat (Keluaran 27:13-16). Kelima, pergerakkan
Injil juga dari timur ke barat. Setelah Yerusalem dihancurkan, pusat
pergerakkan Injil ke Yunani, kemudian Asia Kecil, kemudian menerobos Roma,
terus kearah barat menuju Jerman (Luther), Inggris (kebangunan2 rohani), terus
kebarat menuju Amerika. Kebangunan rohani Pantekosta, Latter Rain Movement dan
lain-lain terjadi di Amerika. Saat ini Amerika masih Negara terbanyak yang
mengirim Misionaris.
Jika kedatangan Tuhan, yang menggenapi hari raya Pondok Daun
masih belum tiba, maka barangkali pergerakkan Tuhan terus kearah barat Amerika,
yang jika kita melihat bola dunia, maka itu menuju negara2 Tiongkok, Korea,
Jepang, Rusia… Barangkali tidak kebetulan Amerika sedang perang dagang dengan
China, yang hampir dipastikan dimenangkan China… Apakah pergerakkan Tuhan
selanjutnya berpusat di Tiongkok, kita tidak tahu… Tetapi, prinsipnya,
pergerakkan Tuhan itu kearah barat, seperti matahari yang terbit di timur dan
tenggelam di barat.
Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan sebagai hujan.
Mari kita periksa beberapa ayat. Hosea 6:3, “… Ia akan datang kepada kita
seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi”. Yakobus
5:7-8, “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan
Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia
sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga
harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah
dekat!”. Selanjutnya kita melihat Mazmur 72:6, “Kiranya ia seperti hujan yang
turun keatas padang rumput, seperti dirus hujan yang menggenangi bumi”. Ini
adalah Mazmur Mesianik, dimana Raja Kemuliaan akan turun seperti hujan yang
menggenangi bumi.
Didaerah Palestina, ada musim2 hujan yang disebut hujan awal
dan hujan akhir. Hujan awal adalah hujan yang terjadi dimana benih baru ditanam
di bumi. Enam bulan kemudian datanglah hujan akhir yang akan membuat benih yang
mulai dewasa siap untuk dituai. Jadi, petani yang baru menanam benih berharap
datang hujan awal yang membuat benih itu mengalami pertumbuhan awalnya.
Kemudian ketika benih sudah mulai dewasa, si petani berharap hujan akhir, yang
akan membuat benih itu menjadi dewasa dan siap dituai.
Kita sudah melihat pada ayat2 diatas bahwa kedatangan Tuhan
dianalogikan dengan datangnya hujan. Kedatangan Tuhan yang bagaimanakah yang
dianalogikan dengan hujan awal dan hujan akhir? Mari kita melihat Yoel 2:23,
“Hai Bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena Tuhan, Allahmu!
Sebab telah diberikanNya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan
diturunkanNya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim
seperti dahulu”. Tidak kebetulan Petrus mengutip Yoel 2:28-32, ketika ia
berkhotbah pada saat pencurahan Roh Kudus pada hari Pantekosta. Konteks Yoel
pasal 2 adalah janji Tuhan bagi pemulihan bani Sion, dan pemulihan bani Sion
ini terjadi oleh PENCURAHAN ROH. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kedatangan Tuhan
sebagai hujan, hujan awal dan hujan akhir, adalah pencurahan Roh “awal’ dan
‘akhir’, dimana pencurahan awal terjadi pada hari raya Pantekosta.
Bagaimana dengan pencurahan Roh yang ‘akhir’ ? Banyak orang
percaya bahwa pencurahan Roh yang ‘akhir’ terjadi mulai dari pemulihan melalui
Martin Luther sampai pencurahan Roh Kudus yang dinamakan The Latter Rain
Movement, yang dimulai tahun 1948 di Amerika.
Sebagai penutup, mari kita melihat kembali Yoel 2:24,
“Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan
kelimpahan anggur dan minyak”. Tujuan hujan awal dan hujan akhir adalah TUAIAN.
Benih yang ditabur mengalami hujan awal dan hujan akhir agar benih tersebut
bertumbuh dan menjadi dewasa sedemikian sehingga ada suatu tuaian. Didalam Yoel
2:24 diatas, tuaian itu adalah gandum, anggur dan minyak.
Didalam PL tuaian itu adalah gandum, anggur dan minyak,
tetapi bagaimana didalam PB ? Didalam Yohanes 12:24, Tuhan Yesus mengumpamakan
DiriNya seperti biji gandum yang jatuh ketanah dan mati serta menghasilkan
banyak buah. Buah hasil kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah putra2
Elohim yang serupa dan segambar dengan DiriNya. Tuaian dalam konteks PB adalah
putra2 Elohim. Diakhir zaman, pada saat tuaian itu terjadi, maka putra2 Elohim
ini akan tampil dan memulihkan ciptaan (Roma 8:19-21)
Sekarang kita akan membahas kedatangan Tuhan dengan awan2
(coming with clouds). Mari kita memeriksa beberapa ayat. Daniel 7:13-14, “ Aku
terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari
langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya
itu, dibawa kehadapanNya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan
kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan
bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak
akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah”. Wahyu 1:7,
“Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia…”.
Markus 14:62, “Jawab Yesus: ‘Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia
duduk disebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang ditengah-tengah awan-awan
(coming with the clouds - Young’s Literal) dilangit”.
Daniel pasal 7 diatas menjelaskan pada kita bahwa anak
manusia yang diberikan kekuasaan, kemuliaan dan kerajaan yang tidak akan musnah
adalah Mesias yang ditunggu-tunggu oleh bangsa Israel. Dan ditegaskan juga
didalam ayat ini bahwa Mesias datang dengan awan-awan dari langit. Sementara
itu Wahyu 1:7 menyatakan bahwa Yesus datang dengan awan-awan dimana setiap mata
akan melihat Dia. Yesus sendiri juga didalam Markus 14:62 mengatakan kepada
Imam Besar yang bertanya padaNya bahwa Ia akan datang dengan awan-awan.
Persoalannya disini adalah apakah awan-awan yang dimaksud adalah awan jasmani
yaitu air yang menguap dari bumi setelah itu mendingin dan menjadi gumpalan2
putih yang biasa kita sebut awan? Terlalu banyak orang yang mengajar Alkitab
dengan pikiran jasmani sehingga Umat Tuhan berharap dan menanti-nantikan Yesus
datang dari langit jasmani dan dapat dilihat dengan mata jasmani oleh semua
manusia jasmani…
Mari kita melihat beberapa ayat yang menjelaskan mengenai
awan ini. Keluaran 13:21, “TUHAN berjalan didepan mereka pada siang hari dalam
tiang awan untuk menuntun mereka dijalan, dan pada waktu malam dalam tiang api
untuk menerangi mereka sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam”. Perlu
dipahami disini bahwa hanya ada satu tiang yang memimpin Israel, karena tiang
api disebut juga tiang awan atau awan (Kel. 14:19 dan Bil. 9:21). Jadi, tiang
yang memimpin Israel adalah TIANG AWAN YANG MENGANDUNG API. Tiang ini menjadi
awan gelap pada siang hari sehingga bangsa Israel terhindar dari sengat
matahari padang gurun, dan pada malam hari, tiang ini menjadi tiap api yang
menerangi dan menghangatkan bangsa Israel terhadap udara dingin padang gurun.
Maksudnya, tiang awan ini BUKANLAH AWAN JASMANI. TIANG AWAN YANG MENGANDUNG API
ini adalah AWAN KEMULIAAN TUHAN (Keluaran 40:34-35).
Mari kita kembali kepada Wahyu 1:7 yang menyatakan bahwa Dia
(Yesus) datang dengan awan-awan. Ungkapan ‘Dia datang’ berasal dari istilah
Yunani ERCHOMAI. Istilah Yunani ini ada dalam bentuk orang ketiga tunggal,
present indicative. Pembaca yang memahami conjunction of verbs (ungkapan
penghubung antar kata kerja), tahu apa maksud istilah diatas, yaitu, pertama,
Ia datang sebagai kenyataan saat ini (present tense reality). Kedua, karena
kata kerja ‘datang’ ada dalam present indicative, berarti juga Ia sedang dalam
tindakan datang. Dengan kata lain, Ia datang saat ini, Ia dalam tindakan datang
saat ini, dan Ia masih terus datang. Jadi, lebih dari satu kali kedatangan
Tuhan yang terkandung dalam istilah Erchomai.
Sementara itu ungkapan ‘awan-awan’ mengandung arti saksi2
Tuhan atau orang2 kudus (Yudas 14, I Tesalonika 3:13, Zakharia 14:5). Jadi
makna Wahyu 1:7 adalah Yesus sedang datang, terus dalam tindakan datang, dan
akan datang bersama orang2 kudusNya. Inilah makna Dia datang dengan awan2.
Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan sebagai Raja.
Berbicara kedatangan Tuhan sebagai Raja, tentu kita harus berbicara juga
mengenai kerajaan, karena kerajaan itu merupakan daerah atau wilayah kekuasaan
seorang Raja. Kingdom itu artinya King dan Domain (wilayah kekuasaan), jadi
kingdom adalah wilayah kekuasaan seorang raja. Yesus adalah Raja dan wilayah
kekuasaanNya adalah alam sorgawi. Itu sebabnya ketika Pilatus bertanya apakah
Engkau raja? Yesus menjawab untuk itulah Aku lahir, tetapi kerajaanKu bukan
berasal dari sini (bukan kerajaan dunia ini). Ini bukan berarti Yesus tidak
berkuasa atas seluruh bumi. Yesus berkata segala otoritas baik di sorga dan di
bumi telah diserahkan kepadaNya. Tetapi ini berarti bahwa wilayah kekuasaan
Yesus itu adalah alam sorgawi.
Namun kita harus mengetahui bahwa rencana Bapa adalah agar
kerajaan sorga ditegakkan dimuka bumi ini. Itu sebabnya Yesus mengajarkan kita
berdoa agar kerajaan sorga datang ke bumi ini. Dalam pengertian itulah
kedatangan Yesus sebagai Raja yang sedang kita bicarakan ini.
Sebelum kita melihat lebih jauh, perlu kita pahami dengan
jelas dimana kerajaan sorga itu. Mari kita melihat dua ayat yang berbicara
mengenai hal ini. Pertama, Lukas 17:21, “… Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah
ada DIANTARA (ENTOS) kamu”. Kedua, Matius 23:26, “… bersihkanlah dahulu sebelah
DALAM (ENTOS) cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih”. Istilah Yunani
ENTOS (muncul hanya 2x dalam PB) disini diterjemahkan menjadi DIANTARA (Lukas)
dan DALAM (Matius). Tidak mungkin kedua terjemahan ini benar. Kita tahu
peraturan emas dalam memahami makna suatu kata (istilah) adalah dengan cara
memahami bagaimana kata itu digunakan dalam suatu kalimat. Didalam Matius
23:26, penggunaan Entos sedemikian sehingga kita tidak mungkin
menterjemahkannya menjadi ‘DIANTARA’. Jadi, jelas bahwa Entos harus
diterjemahkan ‘DALAM’, sehingga Lukas 17:21 menjadi, “Sebab sesungguhnya
Kerajaan Allah ada DALAM kamu”. Sesungguhnya Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga
itu DIDALAM KAMU. Bahkan kalau kita melihat konteks Lukas 17 itu maka
sesungguhnya kerajaan sorga JUGA ADA DIDALAM ORANG-ORANG FARISI yang menentang Yesus, hanya EFEK atau
PENGARUH kerajaan itu tidak ada karena mereka tidak percaya.
Jadi, kerajaan sorga ada didalam kita, karenanya sesungguhnya
kerajaan sorga itu SUDAH DATANG, SEDANG DATANG dan AKAN DATANG. Kerajaan sorga
SUDAH datang kedalam kita, karena memang ada didalam kita, SEDANG bertumbuh
didalam kita, dalam arti Yesus sebagai Raja semakin menguasai dan mengatur
seluruh aspek kehidupan kita, dan AKAN DATANG kedalam kita, dalam arti kita
akan tampil (memanifestasikan diri bersama Yesus dalam kemuliaan) ketika
sangkakala ke 7 ditiup, dimana kerajaan dunia ini menjadi kerajaan Tuhan
(YESUS) dan yang diurapiNya (yaitu KITA)- lihat Wahyu 11:15. Ketika kerajaan
sorga datang ke bumi, kita akan memerintah bersama dengan Tuhan Yesus. Inilah makna
kedatanganNya sebagai Raja.
Peristiwa kedatangan Yesus sebagai Raja yang kita nanti2kan
itu tertulis juga didalam Roma 8:19, Kolose 3:4, Yudas 14, dan bagian2 lainnya
yang menegaskan kedatangan Tuhan bersama orang2 kudusNya untuk memerintah bumi
ini. Jika kita memahami kedatangan Tuhan Yesus sebagai Raja dimana kerajaanNya
ada didalam kita, maka kita tidak akan menunggu Yesus datang dari langit
jasmani, dengan takhta jasmani, barangkali turun ke Yerusalem jasmani untuk
memerintah bumi dari sana. Pengajaran jasmani ini berasal dari dunia
kekristenan yang telah jatuh. Umat Pemenang tentu menyadari bahwa Kerajaan
Sorga ada didalam mereka… Christ in you, the hope of glory…
Wahyu 19:11-16, “Lalu aku melihat sorga terbuka:
sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang
Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan mata-Nya
bagaikan nyala api dan diatas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya
ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali ia sendiri.
Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: “Firman
Allah”. Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda
putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah
sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan
menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam
kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa. Dan pada
jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: “Raja segala raja dan Tuan
di atas segala tuan”.
Saat ini kita akan berbicara mengenai kedatangan Tuhan diatas
kuda putih. Didalam ayat2 diatas dijelaskan bahwa Tuhan Yesus menunggang seekor
kuda putih dimana semua pasukan yang disorga mengikuti Dia, yang juga
menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Disini Tuhan
Yesus memiliki banyak nama, yaitu ‘Yang Setia dan Yang Benar’, ‘Firman Allah’,
‘Raja segala raja dan Tuan diatas segala tuan’, bahkan nama yang tidak
diketahui seorangpun. Tujuan dari kedatangan Tuhan Yesus bersama pasukan yang
disorga ini adalah untuk menghakimi dengan adil segala bangsa, dan juga
menggembalakan mereka. Alat yang digunakan Tuhan Yesus bersama pasukanNya
adalah sebilah pedang tajam yaitu firman Allah.
Siapakah pasukan yang disorga yang mengikutiNya? Pasukan yang
disorga ini memakai lenan halus yang adalah perbuatan2 yang benar dari orang2
kudus (Wahyu 19:8). Demikian juga didalam Yudas 14 ada tertulis, “…
sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudusNya”. Juga, para
pemenang didalam Wahyu 2:26-27, diberikan kuasa atas bangsa2, dan juga ketika
sangkakala ke 7 ditiup, maka pemerintahan atas dunia diserahkan kepada Tuhan
dan orang2 kudus yang diurapiNya (Wahyu 11:15). Jadi, dapatlah kita simpulkan
bahwa pasukan yang disorga yang mengikutiNya adalah para pemenang disetiap
zaman gereja.
Kapankah Tuhan Yesus datang dengan para pemenangNya untuk
memerintah dan menghakimi segala bangsa dengan pedang firman Allah ? Menurut
Wahyu 11:15 hal ini terjadi ketika sangkakala ke tujuh ditiup, namun kita tidak
tahu kapan hal ini terjadi. Tetapi bagi para pemenangNya yang akan dipercaya
menggunakan pedang firman Allah untuk menghakimi bangsa2, terlebih dahulu
mereka sendiri harus dihakimi dan ditaklukkan oleh firman Allah. Bagi para
pemenangNya, Tuhan Yesus sudah, sedang dan terus datang dengan pedang firmanNya
untuk menghakimi dan menaklukkan. Karena para pemenang harus ditaklukkan dahulu
oleh firman Allah sebelum dipercaya menaklukkan dan menghakimi bangsa2 dengan
pedang firman Allah.
Karenanya, kita sebagai Umat Pemenang, kita tidak menunggu
Tuhan Yesus datang dari Langit jasmani dan menunggang kuda putih untuk
memerintah bangsa2. Bagi kita, Tuhan Yesus datang setiap hari dengan pedang
firmanNya, menghakimi, menaklukkan, mendisiplin, serta mematahkan
pemberontakkan kita, sampai kita telah ditaklukkan oleh firmanNya. Kemudian,
pada waktuNya, Ia akan menyatakan diriNya, dimana kita juga akan menyatakan
diri bersamaNya dalam kemuliaan. Inilah saat kita akan memerintah bersamaNya.
Inilah saat dimana Tuhan Yesus dan para pemenangNya menyatakan Diri kepada
bangsa2 untuk menghakimi, menaklukkan dan memerintah sampai Bapa menjadi semua
didalam semua.
Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan sebagai Mempelai
Pria. KedatanganNya sebagai mempelai pria terjadi ketika tiba waktunya
perkawinan Anak Domba. Tetapi kita harus mengetahui beberapa hal sebelum kita
dapat memahami hal ini. Banyak orang Kristen memiliki konsep kedatangan Tuhan
sebagai satu kejadian dimasa mendatang (singular historic event) – yang disebut
kedatangan Tuhan kedua kali, dimana Yesus akan datang dari langit jasmani
mengangkat (rapture) mempelai wanitaNya (gereja), serta terjadi pertemuan
diudara, yang mana dipahami sebagai perkawinan Anak Domba. Mereka yang tidak
terangkat akan mengalami kesusahan besar (great tribulation) bersama
antiKristus. Apakah pemahaman jasmaniah seperti ini yang dimaksud Alkitab?
Mari kita melihat beberapa bagian firman Tuhan untuk
menjelaskan kedatangan Tuhan Yesus sebagai mempelai pria. Kolose 1:27, “…Christ
in you, the hope of glory.” (Young’s Literal). Mempelai Pria kita ada didalam
batin, ada didalam roh kita. Dia tidak akan datang dari langit jasmani untuk
mengangkat mempelai wanitaNya. Perkawinan Anak Domba akan terjadi didalam kita.
Persoalannya apakah kita sudah siap sebagai mempelai wanitaNya?
Kita tahu bahwa perkawinan itu berbicara soal kesatuan
(union). Mempelai wanita haruslah seorang yang telah bertumbuh dewasa, seorang
yang telah siap untuk bersatu dengan mempelai pria, seorang yang telah siap
meninggalkan segalanya agar dapat bersatu dengan Dia. I Korintus 6:17 berkata,
“Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan
Dia”. Inilah perkawinan itu, ketika kita menjadi satu roh dengan Dia. Tetapi
sekali lagi, apakah kita telah mengikatkan diri kepada Tuhan, atau masih
terikat dengan banyak hal didunia ini?
Matius 25: 1-13 tentang perumpamaan gadis2 bijaksana dan
bodoh dapat menjelaskan apa yang sedang kita bicarakan ini. Kita tahu bahwa
gadis2 yang bodoh itu tidak siap menyambut mempelai pria, sedangkan gadis2
bijaksana itu siap untuk menyambut kedatangan mempelai pria. Ada satu istilah
didalam perikop ini yang harus kita renungkan dengan baik. Ayat 6 berkata,
“…Lihat, mempelai pria datang! KELUARLAH ke penyambutannya” (versi ILT).
Terjemahan versi Indonesian literal translation (ILT) menggunakan Istilah
KELUARLAH yang sangat bagus untuk menjelaskan soal kesiapan mempelai wanita
ini. Jika kita membandingkan istilah KELUARLAH ini dengan Wahyu 18:4 maka
persoalannya menjadi jelas. Wahyu 18:4 menegaskan agar umat Tuhan KELUAR dari
sistem Babel, yang adalah perempuan pelacur. Perempuan pelacur ini bukanlah
mempelai Anak Domba. Perkawinan Anak Domba barulah dapat terjadi setelah
perempuan pelacur ini dihakimi. Perhatikan Wahyu 19: 2,7 yang berkata, “…karena
Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu (ayat 2)… hari perkawinan Anak
Domba telah tiba dan pengantinNya telah siap sedia (ayat 7)”. Jadi, setelah
perempuan pelacur ini dihakimi, barulah perkawinan Anak Domba dapat terlaksana.
Apakah maknanya ini bagi Umat Tuhan? Wahyu 18:4 tegaskan agar
Umat Tuhan KELUAR dari kekacauan Babel, dari perempuan pelacur, karena mempelai
Kristus adalah perawan (II Korintus 11:2 dan Wahyu 14:4). Umat Tuhan harus
KELUAR dari program2 ‘Babel’ yang ingin menjadi besar, kesibukan perdagangan
dan ambisi kedagingan dunia kekristenan. Segala sesuatu yang membuat kita
terlena dan tidak siap untuk menyatu dengan KRISTUS YANG DIDALAM BATIN,
haruslah kita tanggalkan.
Sebagai penutup, mari kita melihat kondisi gereja akhir zaman
yang disimbolkan oleh gereja Laodikia (Wahyu 3:20). Tuhan Yesus tidak ada
didalam gereja ini, sekalipun gereja ini menganggap diri kaya dan tidak
kekurangan apa-apa. Tuhan Yesus, sebagai Mempelai Pria, berada diluar mengetok
pintu gereja ini. Hai Umat Tuhan… KELUARLAH, sambutlah Tuhan Yesus sebagai
mempelai pria… Haleluyah…
Maleakhi 3: 1-3, “Lihat, Aku menyuruh utusanKu, supaya ia
mempersiapkan jalan dihadapanKu! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan
masuk ke BaitNya! Malaikat perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia
datang, firman TUHAN semesta alam. Siapakah yang dapat tahan akan hari
kedatanganNya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan
Diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang
penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan
Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak,
supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada
TUHAN”.
Saat ini kita akan membicarakan kedatangan Tuhan sebagai api
tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Disini dijelaskan bahwa
Tuhan datang kedalam BaitNya. Ketika nubuat ini ditulis, memang BaitNya adalah
bangunan Bait Suci bangsa Yahudi di Yerusalem. Tetapi penggenapan nubuat ini
dalam zaman Perjanjian Baru memiliki makna yang berbeda tentang BaitNya.
Dizaman PB, kita tahu bahwa BaitNya adalah Tubuh Kristus. Jadi, nubuat ini akan
digenapi dengan datangnya Tuhan kedalam gereja.
Kedatangan Tuhan kedalam gereja bersifat memurnikan dan
membersihkan sebagaimana api tukang pemurni logam dan sabun tukang penatu.
Tujuan dari pemurnian dan pembersihan ini adalah supaya para pelayan Tuhan
dapat menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan.
Pada kenyataannya, Bait Suci yang dibangun Salomo, maupun yang dibangun
Zerubabel dan dipugar raja Herodes, telah dihancurkan karena banyak terjadi
penyembahan berhala diantara imam2, orang Lewi, bahkan Umat Israel sendiri.
Juga pada zaman Tuhan Yesus, Bait Suci telah menjadi sarang penyamun karena
para pemimpinnya berdagang didalam Bait Suci.
Tubuh Kristus saat ini juga telah pecah menjadi ribuan
Denominasi serta terjadi banyak perdagangan seperti pada zaman Bait Suci bangsa
Yahudi. Dalam kondisi seperti ini, Tuhan perlu datang seperti api dan sabun
yang memurnikan serta membersihkan. Sebelum kita membicarakan hal ini lebih
jauh, perlu kita pahami perbedaan melayani Tuhan di alam berkat, karunia2 serta
mujizat2, dengan melayani Tuhan dialam yang lebih tinggi dimana para pelayanNya
telah melalui api pemurnian.
Jika seseorang melayani Tuhan hanya dialam berkat dan
karunia2, maka sangat besar kemungkinannya ia menyalah-gunakan anugerah Tuhan
demi uang, jabatan dan popularitas. Para pelayan yang seperti ini tidak akan
tahan pada hari penghakiman, seperti tertulis dalam Matius 7:21-23. Tetapi,
mereka yang terpanggil untuk diproses lebih jauh oleh Tuhan melalui api
pemurnian, tentu para pelayan ini telah belajar mempersembahkan persembahan
yang berkenan kepada Tuhan.
Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. Memang
banyak yang terpanggil melayani Tuhan dialam berkat dan karunia2, serta menjadi
orang2 terkenal didunia kekristenan saat ini, tetapi sedikit yang terpilih
untuk diproses lebih jauh oleh Tuhan. Api pemurnian memang tidak menyenangkan
secara manusia. Bahkan dikatakan diayat kita diatas bahwa Tuhan DUDUK dan
memurnikan. DUDUK itu berarti butuh waktu. Pekerjaan memurnikan itu merupakan
suatu proses yang makan waktu, bisa beberapa tahun bahkan belasan atau puluhan
tahun. Dibutuhkan kesetiaan dari orang yang terpilih untuk diproses.
Demikianlah genap bahwa para pemenang itu adalah mereka yang dipanggil, dipilih
untuk diproses lebih jauh dan yang setia didalam proses Tuhan.
Tuhan DATANG kepada mereka yang akan diproses lebih jauh.
Tuhan DATANG kepada mereka yang terpilih untuk melalui api pemurnian. Tuhan
tidak DATANG nanti “yang kedua kali” seperti dipercaya banyak orang. Tetapi
Tuhan DATANG SAAT INI kepada mereka yang terpilih untuk diproses lebih jauh
lagi. Jika saat ini Tuhan datang dalam kehidupan kita sebagai api pemurnian,
jangan mengeluh sdrku… Jangan bandingkan hidup kita dengan mereka yang hidup
mudah, melayani Tuhan dengan berkat2 dan karunia2… Mari kita belajar setia
didalam proses Tuhan. Kelak kita akan mempersembahkan korban yang berkenan
kepada Tuhan, Haleluyah…
Saat ini kita akan melihat kedatangan Tuhan dalam kuasa
kebangkitanNya. Kapan Tuhan datang dalam kuasa kebangkitanNya ? Mari kita
melihat I Petrus 1:3, “…yang karena rahmatNya yang besar telah melahirkan kita
kembali OLEH KEBANGKITAN YESUS KRISTUS dari antara orang mati…”. Disini kita
melihat bahwa kita dilahirkan kembali oleh karena kebangkitan Yesus. Kalau kita
terapkan kepada murid2 Tuhan, maka murid2 Tuhan mengalami kelahiran kembali dan
menerima hidup (Zoe) ketika Yesus menghembusi murid2 setelah kebangkitanNya
(Yohanes 20:22). Hidup Zoe yang diterima murid2 adalah hidup kebangkitan.
Ketika Tuhan memberikan hidup kebangkitan kepada murid2, pada waktu itulah
Tuhan datang dalam kuasa kebangkitanNya.
Bagi kita, kedatangan Tuhan dalam kuasa kebangkitanNya
terjadi ketika kita percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat
kita. Ketika itulah Tuhan datang kepada kita dalam kuasa kebangkitanNya.
Sebelum kita membahas lebih jauh hidup kebangkitan (Zoe) yang kita terima
ketika lahir baru, kita perlu membahas ulang apa yang terjadi pada Adam dan
Hawa ketika mereka jatuh dalam dosa.
Kepada Adam dan Hawa, Tuhan berfirman bahwa mereka akan mati
kalau memakan buah Pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Kita tahu bahwa
istilah ‘mati’ dalam teks Ibrani adalah MUT TAMUT, yang seharusnya
diterjemahkan ‘dying thou dost die’ (Young’s Literal) atau ‘dying you will
die’. Artinya, ketika Adam makan buah terlarang itu, ia langsung mati, dalam
arti menerima hayat maut, dan kemudian akan berproses kepada kematian tubuh.
Jadi, ketika Adam memakan buah itu, roh dan jiwanya langsung mati karena
terputus dengan hidup Zoe yang dilambangkan oleh Pohon Kehidupan, namun tubuhnya
mati setelah mengalami proses kematian sejangka waktu.
Ketika kita lahir baru atau lahir dari Allah, kita menerima
hidup Allah yang walaupun masih berupa benih namun akan terus bertumbuh serta
menelan maut, seperti ditegaskan dalam II Korintus 5:4. Hidup menelan maut, ini
yang terjadi bagi mereka yang memiliki hidup kebangkitan Kristus. Hari lepas
hari Tuhan datang dalam kuasa kebangkitanNya, dan hidupNya terus menerus
menelan maut sehingga kita mengalami metamorfosis. Metamorfosis adalah suatu perubahan
bentuk. Kalau ulat berubah bentuk menjadi kupu2, maka oleh hidup
kebangkitanNya, kita berubah bentuk dari manusia fana menjadi manusia yang
tidak fana dimana roh, jiwa dan tubuh kita serupa dan segambar dengan Dia.
Sebagai penutup, mari kita perhatikan Filipi 3:20-21, “Karena
kewargaan kita adalah didalam sorga, dan DARI SITU JUGA kita menantikan Tuhan
Yesus Kristus sebagai juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini,
sehingga serupa dengan tubuhNya yang mulia, menurut kuasaNya yang dapat
menaklukkan segala sesuatu kepada diriNya”. Ayat ini menegaskan bahwa kewargaan
kita ada didalam sorga. Kita adalah warga negara sorga. Oleh hidup
kebangkitanNya yang terus bertumbuh didalam kita, maka roh dan jiwa kita
semakin sadar bahwa memang kita sudah berada didalam sorga dan sudah menjadi
warga negara sorga. Dan DARI SITU JUGA, yaitu dari keberadaan kita yang didalam
sorga, kita menantikan Tuhan Yesus mengubah tubuh kita yang fana ini sehingga
serupa dengan tubuhNya yang mulia itu. Kita tidak menunggu Tuhan Yesus datang
dari sorga ke bumi untuk mengangkat tubuh kita (rapture) ke awan2. Kita sudah
ada didalam sorga, dan dari situ kita menantikan Tuhan Yesus yang akan mengubah
tubuh kita menjadi serupa dengan tubuhNya… Haleluyah.
Sampai sejauh ini pengertian kita mengenai konsep kedatangan
Tuhan bukanlah ‘konsep kedatangan Tuhan yang kedua kali’ seperti yang umum
berlaku dikalangan kekristenan saat ini. Dunia kekristenan, pada umumnya, hanya
memahami Yesus datang dua kali, yaitu pertama, ketika Ia datang sebagai Anak
Domba Allah yang mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia, kemudian Ia
akan datang lagi kedua kalinya sebagai hakim yang adil. Tentu pengajaran ini
ditambah lagi dengan “keterangkatan”, datangnya antiKristus, kesusahan besar
dan lain sebagainya. Para pengajar Alkitab yang mendukung konsep kedatangan
Tuhan kedua kali selalu mengaitkan ayat2 mengenai kedatangan Tuhan kepada suatu
kejadian dimasa datang yang mereka sebut ‘kedatangan Tuhan kedua kali’.
Jika konsep kita mengenai kedatangan Tuhan sama dengan konsep
yang telah kita uraikan diatas, maka kita sudah kehilangan sangat banyak
pengertian kedatangan Tuhan menurut Alkitab. Telah kita bahas sejauh ini bahwa
kedatangan Tuhan itu bersifat progresif, artinya berkemajuan. Kedatangan Tuhan
adalah past, present, future. Tuhan sudah datang, sedang datang dan akan
datang. Tuhan Yesus juga tidak datang secara jasmani, sebagaimana Ia datang
pertama kali, karena setelah kebangkitanNya, Ia telah menjadi Roh pemberi hayat
dan diam didalam batin kita. Kedatangan Tuhan adalah didalam dan melalui orang2
kudusNya.
Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan sebagai hakim,
atau datang dalam penghakiman. Mari kita memeriksa beberapa ayat sebelum kita
masuk kedalam pembahasan kita. Yesaya 26:9, “… sebab apabila Engkau datang
menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”. II
Tesalonika 1:7-10, “… pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan
diriNya… mengadakan pembalasan terhadap mereka… apabila Ia datang pada hari
itu…”. Mazmur 96:13, “… sebab Ia datang untuk menghakimi bumi…”. I Petrus 4:17,
“… pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi…”.
Pemahaman banyak orang tentang penghakiman Tuhan adalah sama
dengan penghukuman Tuhan. Memang benar apa yang ditabur orang, itu juga yang
akan dituainya. Tetapi penghakiman Tuhan lebih dari sekedar penghukuman,
melainkan bersifat koreksi. Jadi, jika Tuhan datang untuk menghakimi bumi, itu
bertujuan agar manusia mengenal kebenaran.
Dan kita lihat bahwa penghakiman itu dimulai didalam rumah
Tuhan lebih dahulu. Kita sebagai orang2 kudusNya akan lebih dahulu dihakimi.
Apa maksud Tuhan lebih dahulu menghakimi gerejaNya? Agar Tuhan mendapatkan buah
sulungNya, para pemenangNya, kemudian melalui buah sulungNya Tuhan akan
menghakimi bumi, agar bumi mengenal kebenaran. Yudas 14-15 menegaskan, “…
Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudusNya, hendak menghakimi
semua orang…”. Penghakiman Tuhan melalui orang2 kudusNya ini akan terus
berlangsung sampai Bapa menjadi semua didalam semua, karena tujuan penghakiman
itu adalah pemulihan atau restorasi total.
Kapan Tuhan datang sebagai hakim bagi orang2 kudusNya? Ketika
seseorang mengalami lahir baru atau lahir dari Roh, pada saat itu ia mulai
mengalami penghakiman Tuhan. Koreksi dan didikan Tuhan berlangsung selama hidup
orang kudus itu. Jika orang kudus itu memberi respon yang benar terhadap
penghakiman Tuhan, maka kelak ia akan memerintah dan menghakimi bersama Tuhan
dizaman berikut. Jadi, Tuhan datang sebagai hakim bagi kita ketika kita lahir
baru. Dan Ia datang, sedang datang dan akan terus datang sebagai hakim yang
mengoreksi dan memulihkan hidup kita. Semoga kita memberi respon yang benar
terhadap penghakiman Tuhan dalam hidup kita saat ini, agar dizaman berikut,
kita dapat memerintah dan menghakimi bersama dengan Dia menuju pemulihan total,
sampai Bapa menjadi semua didalam semua. Amin.
I Tesalonika 4:16-17, “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu
pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan
sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih
dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat
bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah
kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan”. Istilah KELEUSMA yang
diterjemahkan BERSERU, berasal dari kata KELEUO, yang berarti desakan untuk
melakukan sesuatu, seruan yang bersifat perintah, teriakan, pekik perang
seperti perintah seorang jendral kepada pasukannya. Tuhan sendiri akan turun
dari sorga serta meneriakkan suatu kata2 perintah, seperti seorang jendral
kepada pasukannya.
Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan didalam pekik
perang (shout). Tetapi kita jangan langsung menduga bahwa Tuhan akan datang
dari langit jasmani dan meneriakkan pekik perang yang akan didengar oleh semua
orang di bumi ini, siapapun juga dia. Tuhan Yesus berkata bahwa domba2Ku
mendengarkan suaraKu (Yohanes 10:27). Dunia keagamaan di zaman Yesus (Yudaisme)
tidak dapat mendengar suaraNya, bahkan mereka menolak dan membunuh Yesus.
Kekristenan saat ini juga telah menjadi dunia (system) dan tentu saja tidak
dapat mendengar suara Tuhan dari sorga. Hanya domba2 Tuhan yang mengikut Tuhan
kemana saja Ia pergi, domba2 yang tidak terikat oleh berbagai-bagai peraturan
organisasi, program2 buatan manusia, hanya domba2 yang memiliki kebebasan untuk
mengikut Tuhan, domba2 inilah yang akan mendengar pekik perang dari sang
jendral, Tuhan kita Yesus Kristus.
Juga jangan kita menyangka Tuhan turun dari sorga dalam arti
langit jasmani dan terlihat oleh semua orang. Kerajaan sorga ada didalam kita.
Lukas 17:21, “…sesungguhnya Kerajaan Allah ada didalam (Yun, ENTOS=dalam)
kamu”. Jadi, dari dalam batin kita, Tuhan berbicara dan meneriakkan pekik
perang agar kita bangkit dan menjadi pemenangNya di akhir zaman ini.
Kapan Tuhan datang dan berbicara kepada kita? Dia datang
pertama kali dalam kehidupan kita ketika kita mengalami pengalaman keselamatan.
Dia datang dan berbicara mengenai kata2 keselamatan, kata2 pertobatan, kata2
desakan agar kita menanggalkan kehidupan lama kita. Dan Ia terus datang dan
berbicara kepada kita saat ini. Mendekati peperangan di akhir zaman ini, Dia
berbicara agar para pemenangNya meninggalkan kebisingan dan ambisi2 manusiawi
dunia kekristenan, perdagangan di Bait Suci, ajaran2 campur aduk mengenai
perpuluhan, buah sulung dan sebagainya. Wahyu 18:4 menegaskan, “… Pergilah
kamu, hai UmatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian
dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa
malapetaka-malapetakanya”. Sudahkah saudara mendengar seruanNya, pekik
perangNya, desakanNya agar meninggalkan kekacauan Babel? Domba2 Tuhan pasti
mendengar suaraNya… Haleluyah.
Jadi, Tuhan datang, sedang datang dan terus datang serta
meneriakkan pekik perang (shout) agar para pemenangNya bangkit menyongsong
manifestasi total kerajaan sorga dimuka bumi.
I Tesalonika 4:16, “Sebab dengan suatu seruan, dengan suara p enghulu malaikat dan dengan bunyi
sangkakala Elohim, Dia akan turun dari sorga dan orang-orang yang mati didalam
Kristus akan pertama-tama bangkit” (Terjemahan ILT).
Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan, yaitu Dia akan
turun dari sorga, dengan suara penghulu malaikat. Jika kita perhatikan
terjemahan ILT, dan juga banyak terjemahan2 lainnya, maka dikatakan bahwa Tuhan
akan turun dari sorga DENGAN suatu seruan, DENGAN suara 19penghulu malaikat,
DENGAN bunyi sangkakala Elohim. Tetapi ini tidak sesuai dengan pengertian
aslinya. Bahasa Yunani menggunakan preposisi EN yang berarti DALAM. Jadi,
pengertian asli dari ayat ini adalah Tuhan akan turun dari sorga, DALAM suatu
seruan, DALAM suara penghulu malaikat, DALAM bunyi sangkakala Elohim. Jadi,
Tuhan akan turun dari sorga DALAM suara penghulu malaikat. Artinya, turunnya
Tuhan dari sorga ada didalam suara penghulu malaikat.
Sekarang kita perlu memahami siapa penghulu malaikat ini.
Kita sudah terbiasa membayangkan malaikat adalah makhluk sorgawi yang memiliki
sayap. Ini benar untuk para Serafim dalam Kitab Yesaya 5. Namun, istilah malaikat
diterjemahkan dari istilah Yunani AGGELOS, yang berarti UTUSAN. AGGELOS hanya
berarti utusan, tanpa tambahan makhluk sorgawi bersayap dan sebagainya. Utusan
artinya seseorang yang disuruh membawa suatu pesan. Selain Serafim dan Kerubim,
kita akan melihat bahwa malaikat adalah manusia.
Untuk saat ini kita hanya membuktikannya dari kitab Wahyu
bahwa malaikat itu adalah manusia. Didalam Wahyu 18:21, ada malaikat yang kuat,
dimana malaikat yang sama ini menyatakan identitasnya di pasal 19:10, “Maka
tersungkurlah aku didepan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata
kepadaku: ‘Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan
saudara-saudaramu…”. Saudara-saudara Rasul Yohanes tentu semuanya manusia.
Jadi, malaikat yang kuat itu adalah manusia.
Selanjutnya, didalam Wahyu 21:9, ada seorang dari ketujuh
malaikat yang diuraikan dalam Wahyu 16:1. Dan malaikat ini mengungkapkan
identitasnya didalam Wahyu 22:9, “…Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan
saudara-saudaramu, para nabi…”. Tentu saja saudara Yohanes yang adalah para
nabi semuanya manusia.
Kemudian, jika malaikat itu adalah manusia, maka siapakah
penghulu malaikat yang dikatakan ayat kita diatas. Didalam zaman PL, Tuhan
sering tampil dihadapan UmatNya sebagai Malaikat TUHAN (Hakim-Hakim 6:20, II
Samuel 24:16, I Raja-Raja 19:5-7). Didalam Yosua 5:14 tertulis ada seorang
laki2 yang adalah panglima bala tentara Tuhan, dan Yosua sujud menyembahNya.
Kalau kita membandingkan ayat2 didalam PL dengan ayat2 didalam PB yang
berbicara tentara Kristus, maka tentu kita paham bahwa panglima bala tentara
Allah ialah Tuhan Yesus Kristus. Itu sebabnya, penghulu malaikat didalam I
Tesalonika 4:16 diatas tidak lain adalah Tuhan Yesus Kristus, panglima perang
kita.
Sebagai penutup, dikatakan dalam ayat kita diatas bahwa
kedatangan Tuhan dari sorga dalam penghulu malaikat itu akan membangkitkan
pertama-tama mereka yang mati didalam Kristus. Ini berbicara mengenai buah
sulung. Kitalah buah sulung yang akan bangkit lebih dahulu untuk memerintah
bersamaNya selama berzaman-zaman sampai Bapa menjadi semua didalam semua.
I Tesalonika 4:16, “Sebab dengan suatu seruan, dengan suara
penghulu malaikat dan dengan bunyi sangkakala Elohim, Dia akan turun dari sorga
dan orang-orang yang mati didalam Kristus akan pertama-tama bangkit” (ILT).
Telah kita ketahui bahwa bahasa Yunani menggunakan preposisi EN yang berarti
dalam (IN), sehingga terjemahan yang sesuai dengan pengertian aslinya adalah
‘Dia akan turun dari sorga, DALAM suatu seruan, DALAM suara penghulu malaikat,
DALAM bunyi sangkakala Elohim. Artinya, kedatangan Tuhan dari sorga terjadi
didalam suatu seruan, didalam suara penghulu malaikat, dan didalam bunyi
sangkakala Elohim.
Saat ini kita akan membicarakan kedatangan Tuhan didalam
bunyi sangkakala. Apakah maksudnya ‘bunyi sangkakala’? Apakah ini berarti
ketika tiba saatnya Tuhan datang, maka semua orang akan mendengar bunyi
sangkakala dari langit jasmani? Tentu saja tidak.
Mari kita periksa beberapa ayat yang berbicara mengenai
sangkakala. Yesaya 58:1 katakan, “…Angkatlah suaramu seperti sangkakala! Dan
perlihatkanlah kepada UmatKu pelanggaran mereka…”. Disini kita melihat suara
yang membawa pesan Tuhan disamakan dengan bunyi sangkakala. Dan Mazmur 47:6
menegaskan, “Elohim naik dengan sorak-sorai; Yahweh diiringi bunyi sangkakala”.
Ayat ini berbicara ‘Elohim naik dengan sorak-sorai’, yang mengingatkan kita
kepada tiang awan dan api yang memimpin Umat Israel di Padang Gurun. Disini
ditegaskan bahwa suara Yahweh dalam sorak-sorai sama dengan bunyi sangkakala. Jadi, dari kedua ayat ini dapatlah kita
simpulkan bahwa bunyi sangkakala adalah suara Yahweh yang disampaikan oleh si
pembawa pesan.
Sampai disini dapat kita pahami bahwa kedatangan Tuhan
terjadi ketika pembawa pesan menyampaikan pesan2 Ilahi. Artinya, Tuhan datang
didalam pesan2 yang disampaikan oleh si pembawa pesan. I Tesalonika 4:16 sering
disalah pahami seolah-olah ketika Tuhan datang, maka semua orang akan mendengar
suara sangkakala dari langit. Penafsiran ini terjadi karena memahami sangkakala
sebagai terompet jasmani yang ditiup dari langit jasmani. Sudah waktunya Umat
pilihan Tuhan memahami bahwa Tuhan datang ketika pesan2Nya disampaikan oleh si
pembawa pesan.
Kita akan membahas bunyi sangkakala terakhir, yaitu
sangkakala ke tujuh yang dibicarakan dalam Wahyu 10:7 dan Wahyu 11:15. Tuhan
datang dalam suara sangkakala ke tujuh yaitu ketika kerajaan2 dunia ini menjadi
kerajaan Tuhan dan yang diurapiNya (gereja pemenang). Suara sangkakala ini akan
menjadi semakin jelas didalam roh Umat pilihanNya menjelang termanifestasinya
kerajaan sorga di muka bumi ini. Kedatangan Tuhan yang dibicarakan dalam Wahyu
11:5, dijelaskan secara lebih rinci dalam Wahyu 11:18, yaitu, Pertama, saat
bagi orang2 mati untuk dihakimi. Kedua, memberi upah kepada hamba2 Tuhan. Ketiga,
untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi. Siapakah yang
membinasakan bumi? Wahyu 19:2 mengatakan bahwa yang merusakkan bumi dengan
percabulannya adalah perempuan pelacur, yang tidak lain adalah gereja yang
telah jatuh oleh pengajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus. Jadi, gereja yang
disimbolkan perempuan pelacur yang merusakkan bumi akan dibinasakan. Itu
sebabnya dalam Wahyu 18:4, Umat pilihan Tuhan diperintahkan untuk pergi dan
keluar dari perempuan pelacur itu. Suara sangkakala agar Umat Tuhan keluar dari
perempuan pelacur ini akan semakin keras dan tegas menjelang mendekatnya
manifestasi kerajaanNya dimuka bumi ini.
Kesimpulannya adalah bahwa kedatangan Tuhan terjadi didalam
suara sangkakala, khususnya, yang telah kita bahas secara ringkas diatas,
didalam suara sangkakala terakhir (sangkakala ketujuh). Menjelang manifestasi
kerajaan sorga di bumi ini, panggilan Tuhan semakin mendesak didalam roh Umat
pilihannya agar tidak mengambil bagian didalam dosa2 perempuan pelacur itu.
I Tesalonika 4:16-17, “Sebab dengan suatu seruan, dengan
suara penghulu malaikat dan dengan bunyi sangkakala Elohim, Dia akan turun dari
sorga dan orang-orang yang mati didalam Kristus akan pertama-tama bangkit.
Kemudian kita yang masih hidup, yang sedang ditinggalkan, AKAN DIANGKAT
bersama-sama dengan mereka dalam awan-awan kedalam pertemuan Tuhan di angkasa,
dan demikianlah kita akan senantiasa berada bersama Tuhan”.
Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan yang disamakan
dengan peristiwa “Rapture (keterangkatan)” dimana kita akan masuk kedalam
pertemuan Tuhan di angkasa. Keterangkatan yang diajarkan selama ini adalah
peristiwa keterangkatan secara fisik dimasa depan (future physical event).
Selanjutnya, diajarkan juga bahwa kita akan diangkat sehingga terhindar dari
masa ‘kesusahan besar’ dan masa anti Kristus. Pengajaran “rapture” ini sangat
populer walaupun sebenarnya baru dimulai tahun 1800-an. Kita akan meninjau
sedikit sejarah pengajaran ini agar kita mengetahui latar belakang apa yang
mendorong munculnya ajaran “rapture” ini.
Pada zaman reformasi, Martin Luther menulis bahwa Paus itu
adalah anti Kristus, dan juga membuktikannya dari Alkitab. Para reformator
lainnya seperti Knox, Calvin juga mengikutinya. Melalui pengajaran para
reformator ini Gereja Katolik kehilangan ribuan orang setiap harinya karena
mereka setuju dan mengikuti para reformator. Dan tentu saja hal ini menyebabkan
pemasukan keuangan Gereja Katolik menurun drastis. Untuk mengatasi persoalan
ini, seorang Yesuit, bernama Ribera (1537-1591) mengajarkan bahwa anti Kristus
itu akan datang kelak dimasa depan. Seorang imam bernama Cardinal Bellarmine,
dan juga seorang Yesuit bernama Lacunza, menolong Ribera untuk memperkenalkan
ajaran ini. Pengajaran ini masuk kedalam kalangan Kristen Injili sekitar tahun
1800-an.
Kemudian, Edward Irving, pendiri Gereja Apostolik Katolik,
mengajarkan ide ‘rapture’. Edward Irving adalah seorang pelayan Presbiterian
yang menerima pengajaran Lacunza. Gereja Edward Irving berada di London, dan
dalam suatu kebaktian, Margaret McDonald “bernubuat” mengenai adanya
‘keterangkatan rahasia’. Selanjutnya, J.N. Darby, pemimpin gerakan the
Brethren, mengajarkan ide keterangkatan ini dan mempopulerkannya melalui
‘footnotes’ Scofield’s Bible yang sangat terkenal itu. Jadi, ketiga orang ini
yaitu, Lacunza, Irving dan Darby, merupakan para pengajar awal yang
mempopulerkan ajaran keterangkatan.
Banyak orang tidak menyadari bahwa ajaran keterangkatan
dimulai dari usaha seorang Yesuit untuk menyelamatkan Gereja Katolik dari
kebangkrutan yang diakibatkan oleh gerakan reformasi. Kemudian “diteguhkan”
oleh “nubuat” Margaret McDonald, yang dilanjutkan oleh J.N Darby dengan
menjelaskannya dari Alkitab. Jadi pengajaran ‘keterangkatan’ TIDAK DIMULAI DARI
PENYELIDIKAN ALKITAB.
Untuk saat ini cukup kita mengetahui sejarah ringkas ajaran
keterangkatan. Pada tulisan berikut, kita akan melihat bahwa Alkitab
mengajarkan “keterangkatan” spiritual, bukan keterangkatan jasmani seperti yang
sangat terkenal saat ini.
I Tesalonika 4:16-17, “Sebab dengan suatu seruan, dengan
suara penghulu malaikat dan dengan bunyi sangkakala Elohim, Dia akan turun dari
sorga dan orang-orang yang mati didalam Kristus akan pertama-tama bangkit.
Kemudian kita yang masih hidup, yang sedang ditinggalkan, AKAN DIANGKAT
bersama-sama dengan mereka dalam awan-awan kedalam pertemuan Tuhan di angkasa,
dan demikianlah kita akan senantiasa berada bersama Tuhan”.
Pada tulisan yang lalu kita telah membahas secara ringkas
sejarah pengajaran ‘rapture’ seperti yang dipahami oleh banyak orang Kristen.
Dari sejarah ringkas itu dapatlah kita pahami bahwa ajaran ‘rapture’ yang
sangat populer dikalangan Kristen saat ini tidaklah dimulai dari penyelidikan
Alkitab yang bertanggung jawab, melainkan dimulai dari usaha seorang Yesuit
untuk menghindari tekanan dari para reformator pada waktu itu. Kemudian
dilanjutkan dengan suatu ‘penglihatan” dari Margaret McDonald, dan kemudian
barulah J.N. Darby mengutip ayat2 Alkitab untuk “membuktikan” semua ajaran ini
didalam ‘footnotes’ Scofield’s Bible.
Pengajaran ‘rapture’ yang selama ini dikenal sangat bersifat
jasmani, yaitu tindakan evakuasi oleh Tuhan untuk mengangkat orang2 kudusNya
dari bumi ini untuk menghindari masa kesusahan besar dan aniaya oleh anti
Kristus. Walaupun terdapat berbagai variasi dalam pengajaran ini tetapi pada
prinsipnya sama, yaitu mengangkat orang-orang kudus dari muka bumi.
Mari kita melihat lebih dahulu ayat kita diatas. Istilah
DIANGKAT, pada ayat kita diatas, berasal dari istilah Yunani HARPAZO, yang
mengandung ide suatu tindakan yang dilakukan dengan cepat oleh seseorang dengan
keahlian dan kekuatan besar. Istilah ini dipakai Paulus ketika ia menceritakan
pengalamannya diangkat ketingkat ketiga dari sorga (II Korintus 12:2). Dari
konteksnya kita mengetahui bahwa pengalaman Paulus ini bersifat spiritual, dan
bukan jasmani, dalam arti ia diangkat secara jasmani dari muka bumi ini kesuatu
“tempat nun jauh disana” yang disebut sorga tingkat tiga. Bukan demikian
halnya. Tetapi, Paulus mengalami HARPAZO, dalam arti secara roh, ia diangkat kealam
rohani atau dimensi rohani yang lebih tinggi.
Pengalaman Paulus dalam mengalami HARPAZO ini seharusnya
menjadi pengalaman kita juga, karena didalam Efesus 2:6, Bapa telah
membangkitkan kita dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga. Melalui
proses disiplin dan pembentukkan Bapa, kita mengalami HARPAZO, dalam arti roh
kita diangkat kedalam dimensi sorgawi, suatu dimensi roh yang lebih tinggi,
sekalipun kita masih menjalani kehidupan lahiriah kita di bumi ini. Dalam
terjemahan Young’s Literal dikatakan bahwa Bapa, “did seat us together in the
heavenly places in Christ Jesus”. Kita “diangkat” dan duduk bersama Kristus
dialam atau dimensi roh yang lebih tinggi. Sekalipun dibumi ini kita mengalami banyak tantangan, namun
didalam roh, kita sudah duduk memerintah bersama Kristus. Inilah artinya
HARPAZO atau “diangkat” ke alam atau dimensi yang lebih tinggi.
Jadi, kita bukan “diangkat “ secara jasmani dari muka bumi
ini ke suatu “tempat nun jauh disana” untuk menghindari kesusahan besar, tetapi
kita “diangkat” secara roh kedalam dimensi yang lebih tinggi, sehingga
sekalipun kita mengalami kesusahan di bumi ini, kita tetap tampil sebagai
pemenang karena kita sudah duduk bersama Kristus di sorga.
Saat ini kita akan berbicara mengenai kedatangan Tuhan dimana
‘kakiNya berjejak di bukit Zaitun’. Mari kita membaca beberapa ayat terlebih
dahulu. Zakharia 14:4, “Pada waktu itu kakiNya akan berjejak di bukit zaitun
yang terletak didepan Yerusalem disebelah timur…”. Yesaya 66:1, “Beginilah
firman TUHAN: Langit adalah takhtaKu dan bumi adalah tumpuan kakiKu…”. Yesaya
60:13, “… sebab Aku hendak memuliakan tempat kakiKu berjejak”.
Pada umumnya, mereka yang menganut ajaran kedatangan Tuhan
yang KEDUA KALI, memahami Zakharia 14:4, sebagai firman Tuhan yang akan digenapi
secara literal, artinya kaki Tuhan Yesus, yang dibayangkan seperti kaki seorang
laki2 berusia 30 tahun, akan benar-benar berjejak di bukit Zaitun. Apakah benar
demikian?
Mari kita perhatikan Yesaya 66:1, yang mengatakan ‘bumi
adalah tumpuan kakiNya’. Saya yakin tidak ada seorangpun yang membayangkan
bahwa kaki Tuhan yang “jasmani” berjejak dibumi ini. Semua kita paham bahwa itu
bahasa figuratif, artinya bersifat kiasan. Makna ayat itu adalah Tuhan memerintah dari sorga, sementara bumi
adalah tempat dimana otoritas Tuhan berlaku atau bekerja. Demikian juga Yesaya
60:13, bukan berarti Tuhan memuliakan tempat dimana kaki “jasmaniNya” berjejak,
melainkan memuliakan tempat dimana kekuasaanNya bekerja.
Demikian juga dengan Zakharia 14:4, tidaklah berarti kaki
“jasmani” Yesus turun dari sorga dan berjejak di bukit Zaitun. Surat Korintus
katakan bahwa Tuhan adalah Roh, dan bahwa Adam yang akhir adalah Roh pemberi
hidup. Jadi, kita jangan membayangkan Tuhan Yesus seperti laki2 berusia 30-an
yang memang pernah berjalan-jalan di tanah Israel yang berdebu itu 2000 tahun
yang lalu.
Saat ini Yesus Kristus adalah kepala gereja, dimana gereja
adalah tubuhNya. Kaki Yesus Kristus adalah ‘bagian Tubuh Kristus’ diakhir zaman
ini. Kelompok “kaki” Kristus inilah yang diakhir zaman akan berjejak di bukit
Zaitun. Jika “kaki” merupakan bahasa kiasan, maka bukit Zaitun juga merupakan
kiasan. Didalam Alkitab, minyak zaitun digunakan untuk lampu tabernakel Elohim.
Zaitun merupakan sumber terang, dan bukit merupakan kiasan dari kerajaan,
sehingga bukit Zaitun berbicara tentang kerajaan terang, kerajaan Kristus yang
akan datang dibumi ini.
Kedatangan kerajaan Kristus dimuka bumi ini terjadi oleh
kelompok “kaki”, yaitu para pemenangNya diakhir zaman ini. Bapa sedang
mempersiapkan dan mendewasakan Tubuh Kristus diakhir zaman ini, yaitu bagian
“kakiNya”. Bagian “kakiNya” inilah yang akan dimanifestasikan diakhir zaman ini
untuk mendatangkan dan menegakkan kerajaanNya dimuka bumi ini. Haleluyah….
Bersiaplah putra2 Elohim… kedatangan Kerajaan Kristus adalah didalam dan
melalui engkau… Amin.
Yohanes 14:1-3, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada
Allah, percayalah juga kepadaKu. Dirumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika
tidak demikian, tentulah Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi kesitu
untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi kesitu dan telah
menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ketempatKu,
supaya ditempat dimana Aku berada, kamupun berada”.
Saat ini kita akan membicarakan kedatangan Tuhan dengan
maksud membawa kita kedalam diriNya. Kedatangan Tuhan bukanlah untuk membawa
kita ke “sorga”, dengan pengertian suatu tempat atau lokasi geografis tertentu
nun jauh disana dengan jalan2nya yang dari emas, dimana kita akan bernyanyi
selama-lamanya. Tuhan juga tidak datang untuk mengangkat kita agar kita tidak
mengalami masa kesusahan besar atau masa “anti-kristus’, tetapi Tuhan datang
dan membawa kita KEDALAM DIRINYA SENDIRI.
Untuk memahami hal ini, kita harus lebih dahulu paham apa
maksud Yesus, dalam ayat kita diatas, tentang ‘pergi kesitu’. Yesus berkata
bahwa Ia akan ‘pergi kesitu’ untuk menyediakan tempat bagi kita. Kalau kita
melihat konteks Yohanes pasal 13 sampai 17, tidak satu kalipun Yesus berkata
tentang sorga. Maksud Yesus ‘pergi kesitu’ untuk menyediakan tempat bagi kita
adalah PERGI KEPADA BAPA (Yohanes 13:1,3; 14:12,28; 16:5,28). Jadi Yesus pergi
kepada Bapa melalui kematian, kebangkitan dan kenaikanNya. Kemudian Yesus dan
Bapa datang kembali kepada murid2 dan membuat tempat tinggal bersama-sama
(Yohanes 14:23). Istilah Yunani ‘tempat tinggal’ di dalam Yohanes 14:2, sama
dengan yang ada didalam Yohanes 14:23, yaitu MONE. Jadi, Rumah Bapa adalah
“tempat” dimana Bapa dan Tuhan Yesus tinggal dan berdiam didalam murid2. Rumah
Bapa adalah kita (Ibrani 3:6). Kita adalah bait Roh.
Kita harus selalu mengingat perkataan Tuhan bahwa Ia adalah
jalan, kebenaran dan hidup, dan bahwa tidak ada seorangpun sampai kepada Bapa
kalau tidak melalui Yesus. Kita sudah terbiasa berpikir soal ‘rumah Bapa’
sebagai tempat atau lokasi geografis tertentu di alam semesta ini. Yesus tidak
pernah berbicara soal tempat seperti itu. Ia selalu berbicara soal hubungan
pribadi. Jalan itu adalah pribadi Yesus, destinasi itu juga pribadi, yaitu
pribadi Bapa.
Ketika Yesus berkata kepada murid2 bahwa Ia tidak akan
meninggalkan mereka yatim piatu, dan bahwa Ia akan datang kembali, banyak orang
Kristen berpikir mengenai kedatanganNya yang kedua kali, yang sampai saat ini
belum digenapi. Bahkan banyak orang beranggapan bahwa penghibur yaitu Roh Kudus
yang datang pada hari Pentakosta, itu bukanlah penggenapan janji Yesus kepada
murid2, bahwa Ia akan datang lagi. Hanya sesaat Yesus meninggalkan murid2. Ia
datang kembali sebagai Roh Kudus. Jangan salah memahami PARAKLETOS. Banyak
orang melakukan kekeliruan akar kata. Parakletos dipahami sebagai ‘para’, yaitu
disisi, dan ‘kaleo’, yaitu memanggil, sehingga parakletos berarti seseorang
yang dipanggil mendampingi untuk menolong. Pemahaman ini tidak sesuai dengan
konteks Yohanes pasal 14 s/d 16 yang sedang kita bahas. Parakletos dalam
konteks Yohanes 14-16 adalah YESUS YANG LAIN. Roh Kudus adalah pribadi yang
meneruskan pelayanan dan kehadiran pribadi Tuhan Yesus. Jadi ketika Yesus
berjanji kepada murid2 akan datang kembali, maka Ia benar2 datang didalam
pribadi PARAKLETOS.
Janji Yesus untuk datang kepada murid2 sudah digenapi. Yesus
sudah datang dalam Roh Kudus dan membawa murid2 KEDALAM BAPA. Saat ini juga
Tuhan Yesus sudah datang kedalam kita dan membawa kita kepada Bapa. Tidak perlu
kita menunggu-nunggu Tuhan Yesus datang dari langit jasmani dan membawa kita ke
suatu tempat yang kita sebut “rumah Bapa”. Semoga Umat pilihan Tuhan sadar
bahwa Tuhan Yesus sudah datang sebagai PARAKLETOS (Yesus yang lain) kedalam
kita dan membawa kita kepada Bapa. Amin
Bangsa Yahudi sampai saat ini terus menantikan kedatangan
Mesias yang mereka harapkan akan membebaskan bangsa Yahudi dari segala musuh
disekitarnya, membangun Bait Suci, dan membawa kedamaian bagi seluruh dunia,
dimana bangsa Yahudi sebagai ‘kepala’ dan bangsa2 lainnya sebagai ‘ekor’.
Konsep mereka tentang Mesias sebagai pemimpin politik, ekonomi, bahkan panglima
perang, disebabkan pemahaman mereka bahwa Mesias adalah anak Daud. Sebagaimana
Daud, demikianlah Mesias, walaupun Yesus telah mencoba meluruskan konsep mereka
ketika Ia mengatakan bahwa Daud menyebut Mesias sebagai tuannya (Matius
22:42-45). Yesus mencoba menjelaskan bahwa kerajaan Mesias ada di alam yang
lebih tinggi dari pada kerajaan Daud; kerajaan Mesias adalah kerajaan sorga.
Tetapi mereka tetap menolak Yesus yang datang sebagai anak tukang kayu dan
tidak berpendidikan, walaupun Yesus telah mengadakan begitu banyak mujizat
didepan mata mereka.
Kasus yang sama dapat terjadi didalam dunia kekristenan saat
ini. Pada umumnya, orang Kristen percaya bahwa Yesus akan datang kedua kali
secara jasmani untuk mengangkat gerejaNya dan membawa kesuatu tempat nun jauh
disana, yang mereka sebut rumah Bapa atau sorga. Ketika Tuhan Yesus datang
KEPADA, DENGAN, dan DIDALAM orang2 kudusNya, seperti yang akan kita bahas saat
ini, maka mereka tidak menerimaNya. Banyak orang Kristen tidak menyambut
kedatangan Tuhan karena konsep mereka yang bersifat jasmani itu.
Mari kita melihat beberapa ayat untuk menjelaskan kedatangan
Tuhan KEPADA, DENGAN, dan DIDALAM orang2 kudusNya.
Didalam Yohanes 14:23 ada tertulis, “Jawab Yesus: ‘Jika
seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia
dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”. Young’s
Literal menterjemahkannya, “…unto (KEPADA) him We will come…”. Menurut
konteksnya, kedatangan Tuhan terjadi pada hari raya Pantekosta, ketika Bapa dan
Tuhan Yesus datang didalam pribadi Parakletos.
Sementara itu, kedatanganNya DENGAN orang2 kudusNya tercatat
didalam Yudas 14, “ Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam,
telah bernubuat, katanya: ‘Sesungguhnya Tuhan datang DENGAN beribu-ribu orang
kudusNya”. Hal ini sesuai dengan II Tesalonika 1:7, “…pada waktu Tuhan Yesus
dari dalam sorga menyatakan DiriNya bersama-sama DENGAN
malaikat-malaikatNya...”. Kita tahu istilah Yunani AGGELOS berarti utusan,
yaitu ORANG yang diutus Tuhan.
II Tesalonika 1:10, “apabila Ia datang pada hari itu untuk
dimuliakan diantara orang-orang kudusNya…”. Istilah ‘diantara’ berasal dari
preposisi EN dalam bahasa Yunani yang harus diterjemahkan DIDALAM. Jadi, Tuhan
Yesus datang dan dimuliakan DIDALAM orang2 kudusNya. Wahyu 3:20, menegaskan,
“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang
mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya…”.
Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘masuk’ diayat ini adalah kata kerja
EISERCHOMAI, yang berarti to go in, come in. Artinya, Tuhan Yesus masuk KEDALAM
orang yang membukakan pintu. Paulus juga mengatakan bahwa ia berkenan
menyatakan AnakNya DIDALAM aku (Galatia 1:16). Jadi, Tuhan datang melalui
RohNya dan masuk kedalam batin orang2 kudusNya.
Telah kita lihat bahwa Tuhan datang dalam tiga dimensi, yaitu
KEPADA, DENGAN, dan DIDALAM orang2 kudusNya. Jika kita tetap memiliki konsep
kedatangan Tuhan kedua kali yang jasmani, maka kita tidak akan menyambut,
menerima atau memberi respon yang benar terhadap kedatanganNya. Semoga Umat
pilihanNya semakin sadar dan memberi respon yang benar terhadap kedatanganNya.
Dalam Wahyu 3:3 tertulis, “Karena itu ingatlah, bagaimana
engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena
jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau
tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu”. Lukas 12:40
berkata, “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat
yang tidak kamu sangkakan”.
Sekarang kita akan mengakhiri seri pembahasan kita dengan
suatu tema ‘kedatangan Tuhan sebagai pencuri’. Didalam Wahyu 3:3 kita melihat
peringatan Tuhan untuk menerima, mendengar, menuruti, bahkan bertobat serta
berjaga-jaga supaya kedatangan Tuhan bagi kita tidak seperti pencuri yang
tiba-tiba datang, sehingga kita tidak bisa merespon dengan benar dan menyambut
kedatanganNya. Kita diminta selalu siap sedia seperti dikatakan dalam Lukas
12:40 diatas.
Dalam kasus bangsa Israel kita melihat bagaimana mereka gagal
menyambut Tuhan Yesus sebagai Mesias. Ketika Tuhan datang ke Yerusalem
mengendarai seekor keledai, Tuhan menangisi kota itu dan berkata, ”…betapa
baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai
sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu “ (Lukas 19:42).
Israel gagal menyambut Yesus sebagai Mesias, dan sebagai akibatnya Yerusalem
dikepung dan dihancurkan oleh tentara Roma pada tahun 70 M, kemudian Israel
dibuang sebagai bangsa selama hampir 2000 tahun lamanya. Bagi bangsa Israel,
Tuhan Yesus benar-benar datang sebagai “pencuri”. Mereka tidak siap
menyambutNya.
Memang Tuhan Yesus datang seperti pencuri bagi mereka yang
tidak berjaga-jaga dan yang juga memiliki konsep yang salah tentang kedatangan
Tuhan. Israel menantikan Mesias yang mereka pahami sebagai anak Daud, dan
karenanya Mesias haruslah seorang panglima perang, ahli politik, ekonomi yang
akan membawa bangsa Israel kezaman keemasannya. Tetapi Tuhan Yesus datang
sebagai Anak Manusia yang tidak memiliki kemegahan duniawi yang akan mendirikan
kerajaan sorga didalam batin setiap orang yang menerimaNya. Tuhan mau memerintah
segala sesuatu dimulai dari batin manusia. Inilah yang tidak dipahami oleh
bangsa Israel, dan karenanya mereka gagal menyambut sang Mesias.
Barangkali, didunia kekristenan saat ini juga Tuhan Yesus
akan datang seperti pencuri, dan banyak orang Kristen tidak siap menyambutNya.
Karena konsep yang keliru, banyak orang Kristen menantikan Tuhan Yesus datang
dari langit jasmani dan mengangkat gerejaNya ke suatu tempat nun jauh disana
untuk menghindari kesusahan besar yang akan menimpa bumi. Mereka menantikan kedatangan
Tuhan secara jasmani, yang mereka sebut, “kedatangan Tuhan yang kedua kali”.
Hal ini tidak akan terjadi, saudaraku, karena Tuhan sudah, sedang dan terus
datang didalam batin kita untuk mewahyukan DiriNya, sampai kita semua menjadi
serupa dan segambar dengan Dia.
Mari kita bahas sedikit tentang istilah ‘berjaga-jaga’. Ada
lima istilah berbeda dalam Bahasa Yunani yang diterjemahkan ‘berjaga-jaga’
dalam banyak versi terjemahan Alkitab. Dua diantaranya, yaitu TEREO dan
PARATEREO, bermakna berjaga-jaga dalam arti fokus kepada objek tertentu.
Prajurit yang berjaga-jaga didepan salib Yesus, dan orang2 Farisi yang
mengawasi Yesus apakah Ia melakukan mujizat pada hari Sabat, menggunakan kedua
istilah diatas. Tetapi kedua istilah diatas, yaitu berjaga-jaga sebagai
tindakan jasmani terhadap fokus tertentu, tidak pernah digunakan untuk
kedatangan Tuhan.
Istilah berikut adalah NEPHO. Dalam I Petrus 4:7, istilah ini
diterjemahkan ‘tenang’ (LAI). Sebenarnya istilah ini bermakna ‘sober mind’,
yaitu berperilaku lebih serius dan menilai dengan tepat.
Dua istilah terakhir berikut, yaitu GREGOREO dan AGRUPNEO,
lebih sering digunakan untuk menasihati agar ‘berjaga-jaga’ terkait kedatangan
Tuhan. Kedua istilah ini berarti ‘sadar, terbangun, jangan terlena/lengah,
bangkit’. Ketika Tuhan Yesus di taman Getsemani berharap murid2Nya berdoa dan
berjaga-jaga, maka istilah ini yang muncul disana.
Jadi, terkait kedatangan Tuhan, kita bukan saja harus sadar,
terbangun, jangan terlena dan bangkit, TETAPI JUGA HARUS MEMILIKI KONSEP YANG
TEPAT TENTANG KEDATANGAN TUHAN. Semoga Umat Pilihan Tuhan senantiasa
berjaga-jaga sebab Tuhan sudah, sedang, dan akan datang kedalam batin kita,
baik melalui perkara senang atau susah, untuk mengubah kita menjadi serupa dan
segambar dengan Dia. Amin.
Comments
Post a Comment