KEDATANGAN TUHAN

 

Kedatangan Tuhan (Gabungan)

Oleh : Irnawan Silitonga

Tema kedatangan Tuhan merupakan tema yang sangat penting yang Alkitab nyatakan. Tetapi persoalannya apakah pemahaman kita tentang kedatangan Tuhan telah sesuai dengan yang dimaksud Alkitab? Pada umumnya, pemahaman orang kristen tentang kedatangan Tuhan adalah kedatangan Tuhan Yesus secara jasmani yang kedua kalinya, serta disertai kejadian2 sebelumnya seperti masa kesusahan besar (great tribulation), kedatangan Anti Kristus dengan tanda bilangan 666, pengangkatan orang2 percaya (rapture), dan lain sebagainya.

Tetapi mari kita periksa pemahaman2 ini satu persatu apakah memang demikian yang Alkitab ajarkan. Yang pertama kali kita harus periksa adalah istilah kedatangan Tuhan yang kedua kali. Apakah memang benar Alkitab mengajarkan kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kali? Jika kita meneliti setiap pemunculan istilah kedatangan Tuhan, tidak pernah ada tambahan istilah ‘kedua kali’ dibelakangnya. Artinya, tidak ada ungkapan KEDATANGAN TUHAN KEDUA KALI didalam Alkitab. Hal ini penting kita pahami dengan jelas. Pada umumnya orang Kristen selalu menghubungkan istilah atau ungkapan kedatangan Tuhan dengan suatu peristiwa dimasa yang akan datang, yang mereka sebut kedatanganNya yang kedua kali.

Alkitab menyebut berkali-kali tentang kedatangan Tuhan yang sama sekali tidak terkait dengan pemahaman kedatanganNya yang kedua kali, sebab Alkitab berbicara  tentang kedatangan Tuhan dalam berbagai cara (manifestasi), kepada berbagai orang atau komunitas tertentu, pada waktu yang tertentu pula. Kita akan melihat beberapa contoh kedatangan Tuhan yang Alkitab katakan.

Didalam Perjanjian Baru, Kristus dinyatakan datang ‘dengan awan-awan’, datang sebagai ‘kilat’, datang sebagai ‘pencuri’, datang sebagai ‘suara malaikat’, datang dengan ‘sangkakala Elohim’, datang sebagai ‘mempelai laki-laki’, datang sebagai ‘Raja’, datang sebagai ‘bintang fajar’, datang sebagai ‘hakim’, datang sebagai ‘juru-selamat’, datang kedalam ‘BaitNya’, datang ‘ke bukit Zaitun’, datang mengendarai ‘kuda putih’, datang sebagai ‘gembala yang baik’, datang didalam ‘kerajaanNya’, datang ‘dalam kemuliaan’, datang ‘diatas takhtaNya’, datang bersama ‘malaikat-malaikatNya’, datang bersama ‘orang-orang kudusNya’, datang kepada ‘orang-orang kudusNya’, datang didalam ‘orang-orang kudusNya’, dan seterusnya, dan seterusnya. Semua kedatanganNya yang telah kita sebutkan ini TIDAK MENUNJUK KEPADA KEDATANGAN KEDUA KALINYA. Pemahaman kita tentang kedatanganNya ini akan menjadi sangat kacau jika kita memahami kedatanganNya hanya dua kali saja, pertama kedatanganNya 2000 tahun yang lalu, kemudian kedatanganNya “yang kedua kali” di masa yang akan datang. Sesungguhnya, Alkitab menegaskan bahwa Tuhan sudah datang, sedang datang, dan akan datang. Ia datang secara berkelanjutan, dan Ia secara progresif menyatakan diriNya sampai seluruh rencanaNya genap.

Jika kita dapat meninggalkan konsep ‘kedatangan Tuhan kedua kalinya’ dan mulai memahami bahwa kedatanganNya bersifat progresif sampai seluruh rencanaNya genap, maka kita mulai dapat memahami apa yang dimaksud Alkitab mengenai kedatanganNya.

 

Kita telah singgung bahwa pemahaman “kedatangan Tuhan Yesus secara fisik yang kedua kalinya”, merupakan pemahaman yang tidak memiliki dasar Alkitab yang kuat. Sekarang kita akan meneliti dengan cepat enam istilah Yunani yang terkait dengan kedatanganNya. Kemudian, dalam tulisan2 berikutnya, kita akan menjelaskannya lebih detail lagi.

Keenam istilah Yunani itu adalah, pertama, PAROUSIA. Istilah ini muncul 24 kali dalam PB dan ia berasal dari kata kerja PAREMI, yang berarti ‘to be present’ (hadir). Kata bendanya berarti kehadiran (presence). PAROUSIA tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya seseorang, tetapi menunjukkan kehadiran seseorang yang sudah datang. Penggunaan istilah PAROUSIA didalam PB juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan secara fisik. Jadi, istilah Parousia berarti kehadiran. Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaNya, disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA.

Istilah Yunani kedua, APOKALUPSIS. Istilah ini berasal dari kata kerja APOKALUPTO yang berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya terselubung.

Istilah Yunani ketiga adalah EPIPHANEIA. Istilah ini muncul sebanyak 6 kali dalam PB. Istilah ini berasal dari kata kerja yang berarti ‘membawa kepada terang’ atau ‘tersingkap’. Kata bendanya berarti ‘manifestasi’. Istilah ini digunakan untuk mengungkapkan kemuliaan dan kemegahan yang termanifestasi oleh kedatangan Tuhan.

Istilah Yunani keempat, PHANEROO. Istilah ini berarti membuat nyata atau menjadi nampak. Namun bukan berarti kehadiran yang terlihat mata, tetapi suatu persepsi.  

Istilah Yunani berikutnya adalah ERCHOMAI. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan tindakan actual dari suatu kedatangan. Istilah ini tidak sama artinya dengan PAROUSIA yang berarti kehadiran seseorang yang telah datang. ERCHOMAI digunakan dalam Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang (SUATU TINDAKAN DATANG) dengan awan-awan…”.

Istilah Yunani keenam adalah HEKO. Kata ini menekankan kedatangan pada suatu tempat tertentu. Kata ini terdapat dalam Wahyu 2:25, “Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku DATANG”.

Sudah tentu bahwa keenam istilah Yunani ini bukan berarti ada enam jenis berbeda dari kedatangan Tuhan, tetapi penggunaan yang berbeda dari istilah ini membuat kita memahami makna yang dimaksud suatu teks yang berbicara tentang kedatangan Tuhan. Kita akan membahasnya lebih detail setiap penggunaan istilah ini pada tulisan2 berikutnya. Tetapi untuk saat ini cukuplah kita pahami bahwa kedatangan Tuhan itu TIDAKLAH HARUS BERBENTUK KEDATANGAN SECARA FISIK.

Didalam Matius 5:17 tertulis, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Jadi, Yesus DATANG… untuk MENGGENAPI hukum Taurat. Para rabi merangkum hukum Taurat menjadi total berjumlah 613 peraturan, yang mereka percaya diberikan Tuhan kepada Musa di gunung Sinai, dimana 248 aturan disebut Mandatory laws, dan 365 aturan lainnya disebut Prohibition laws.

Aturan mengenai hari raya masuk dalam kategori ‘festivals’ (aturan no 154-170). Para Rabi sangat ketat dengan peraturan2 ini namun mereka tidak menyadari bahwa semua peraturan2 ini hanyalah bayangan saja sedang wujudnya adalah Kristus (Kolose 2:17). Peraturan2 hukum Taurat hanyalah bayangan dari keselamatan saja, sedangkan hakekat keselamatan itu ada didalam penggenapannya oleh Yesus Kristus (Ibrani 10:1).

Ada tiga hari raya utama bangsa Yahudi yaitu Paskah, Pantekosta, dan Tabernakel. Ketiga hari raya bangsa Yahudi ini digenapi oleh kedatangan Tuhan Yesus. Kedatangan Tuhan Yesus sebagai penggenapan ketiga hari raya bangsa Yahudi ini sangat penting agar kita dapat memahami konsep kedatangan Tuhan menurut Alkitab.

Mari kita mulai dengan hari raya Paskah. Menurut Injil Yohanes, Yesus datang ke Yerusalem pada tiga perayaan utama bangsa Yahudi ini. Kedatangan Yesus pertama kali pada hari Paskah terjadi ketika Ia menyucikan Bait Allah (Yohanes 2:13). KedatanganNya pada hari raya Pantekosta tercatat dalam Yohanes 5:1, walaupun diayat ini tidak disebutkan hari raya Pantekosta namun karena tidak ada definite article dalam istilah Yunani yang tentunya menunjuk kepada hari raya Paskah yang sudah disebutkan terdahulu, maka sudah sewajarnya kita melihat bahwa hari raya yang dimaksud ayat ini menunjuk kepada hari raya Pantekosta. Kemudian Yesus datang kembali ke Yerusalem pada hari raya Tabernakel atau Pondok Daun (Yohanes 7:2). Selanjutnya, kembali Yesus datang pada hari raya Paskah untuk mati disalib, menggenapi firman bahwa Ia adalah Anak Domba Paskah yang sesungguhnya (I Korintus 5:7).

Sebelum kita melanjutkan pembahasan kita mengenai kedatangan Tuhan, perlu kita pahami prinsip Trilogi yang tertulis dalam Amsal 22:20. Alkitab terjemahan LAI tidak menterjemahkan istilah Ibrani SHALOSH yang bermakna THREE- FOLD THINGS. Mari kita bandingkan terjemahan KJV, “Have not I written to thee excellent things in counsel and knowledge” dan terjemahan Young’s Literal, “Have I not written to thee three times”. Kesimpulan kita disini adalah perihal berbicara tiga kali adalah sesuatu yang sangat baik (Excellent). Jadi, perihal Yesus datang tiga kali untuk menggenapi Paskah, Pantekosta, dan Pondok Daun adalah EXCELLENT.

Kita sudah singgung sedikit kedatangan Yesus untuk menggenapi hari raya Paskah. Pada tulisan berikutnya, kita akan membahas kedatangan Tuhan tiga kali ini lebih detail dalam rangka menggenapi tiga perayaan utama bangsa Yahudi.

Kita sudah bicarakan terdahulu bahwa kedatangan Tuhan bersifat progresif, artinya Tuhan hadir berkelanjutan terus menerus sampai seluruh rencanaNya genap. Dua atau tiga orang berkumpul, Tuhan hadir (PAROUSIA). Kita juga sudah melihat bahwa Alkitab sama sekali tidak mendukung ajaran Yesus datang dua kali secara jasmani, pertama 2000 tahun yang lalu, kemudian nanti datang secara jasmani lagi, yang barangkali kakiNya akan menjejak di Bukit Zaitun. Walaupun ajaran ini telah berabad-abad lamanya dan dipercayai oleh hampir semua orang Kristen, namun ALKITAB TIDAK PERNAH MENGATAKAN YESUS AKAN DATANG DUA KALI SECARA JASMANI. Jika kita cinta Tuhan dan cinta Alkitab, maka kita hanya akan belajar mendengarkan apa yang Tuhan katakan melalui Alkitab, tidak perduli apapun atau siapapun yang mengajarkan ajaran2 manusia yang berpikiran jasmani…

Kita juga sudah membahas secara singkat mengenai kedatangan Tuhan yang dikaitkan dengan penggenapan hari2 raya utama Israel (Paskah, Pantekosta, Tabernakel) karena Yesus DATANG untuk menggenapi Hukum Taurat. Prinsip tiga kali (trilogi) juga sudah kita singgung (Amsal 22:20). Saat ini kita akan membahas lebih jauh lagi kedatangan Yesus yang menggenapi hari raya Paskah.

Sebelumnya, kita perlu lihat definisi trilogy menurut kamus, karena perlu ditambahkan disini mengenai pemahaman progresif (berkemajuan) kedalam definisi tersebut. Trilogy adalah ‘group of three plays, novels, operas, etc, to be performed, read, etc, in succession, each complete in itself but having a common subject. Dalam definisi ini trilogi hanya berarti tiga perihal yang berurut-urutan, sempurna ditiap urutannya, tetapi memiliki tema sama, namun tidak disebutkan bahwa ketiga perihal itu bersifat progresif. Tetapi yang kita maksud dengan trilogi kedatangan Tuhan itu bersifat progresif. Yesus datang menggenapi Paskah, kemudian berkelanjutan, lebih dalam lagi, Pantekosta, kemudian lebih maju dan dalam lagi, datang untuk menggenapi tabernakel sedemikian sehingga rencana Bapa genap. 

Ketika Yesus datang untuk menggenapi Paskah, Ia mati dan bangkit pada hari ketiga. Tetapi penggenapan Paskah ini berlanjut terus ketika Yesus yang bangkit MENGHEMBUSI MURID-MURID DENGAN ROH KUDUS (Yohanes 20:22). Mari kita bandingkan Roh Kudus di ayat ini dengan I Korintus 15:45, “…Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan”. Young’s Literal menerjemahkannya, LIFE GIVING SPIRIT. Artinya Yesus sebagai Adam yang akhir, setelah melalui kematian dan kebangkitanNya, telah menjadi ROH PEMBERI HIDUP. Roh pemberi hidup (Zoe) inilah yang diterima murid2 setelah Yesus bangkit. Murid2 menerima hidup (Zoe) ketika Yesus menghembusi mereka seperti yang dikatakanNya dalam Yohanes 10:10, “Aku DATANG supaya mereka mempunyai hidup (Zoe)…”.

Satu hal lagi perlu kita perhatikan bahwa Roh Kudus yang diterima murid2 dalam Yohanes 20:22, bukan Roh Kudus yang Alkitab katakan turun pada hari raya Pantekosta. Jangan salah mengerti maksud saya. Saya tidak mengatakan bahwa ada DUA ROH KUDUS. Karena di jagad raya ini hanya ada SATU Pencipta Langit dan Bumi, yaitu Dia yang ADALAH ROH. HANYA ADA SATU ROH. Tetapi Roh Kudus yang diterima murid2 di Yohanes 20:22 adalah ROH PEMBERI HIDUP YANG ADALAH ADAM AKHIR. Adam akhir adalah Yesus yang menjadi Roh pemberi hidup, melalui kematian dan kebangkitanNya. Hal ini penting kita pahami karena penggenapan Paskah itu bukan saja melalui kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi melalui Yesus sebagai ADAM AKHIR YANG MENGHEMBUSI MURID-MURIDNYA. 

Demikianlah kedatangan Yesus menggenapi hari raya Paskah. Uraian selanjutnya mengenai KEDATANGAN YESUS menggenapi hari raya Pantekosta….

Saat ini kita akan melihat bagaimana kedatangan Yesus menggenapi hari raya Pantekosta. Untuk memahami hal ini kita perlu lebih dahulu memahami bahwa Yesus yang datang pada hari raya Pantekosta bukanlah Yesus secara jasmani. Sama seperti ketika Ia menggenapi hari raya Paskah, setelah kematian dan kebangkitanNya, maka Ia datang kepada murid2Nya sebagai Roh pemberi hidup, untuk menggenapi Yohanes 10:10, bahwa Yesus datang supaya murid2 memiliki hidup. Demikianlah kedatangan Yesus untuk menggenapi hari raya Pantekosta, Ia datang dalam Roh Kudus.

Banyak orang kristen memiliki pengenalan tentang Yesus hanya bersifat jasmani. Jika mengingat nama Yesus, maka mereka membayangkan seorang laki2 dengan usia kurang lebih 30 tahun, berambut panjang…dst…dst… suatu pengenalan yang jasmani. Dalam II Korintus 5:16, Paulus berkata, “…even if we have known Christ according to the flesh, yet now we know him no more” (Young’s Literal). Jadi, sekalipun Paulus pernah mengenal Yesus secara jasmani, sekarang pengenalannya bersifat rohani.

Mari kita lihat Kisah Para Rasul 1:11, “…Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga”. Hampir semua pengajar Alkitab menafsirkan ayat ini bahwa Yesus akan datang dalam bentuk tubuh yang terlihat dengan mata jasmani… yang ternyata setelah hampir 2000 tahun belum juga datang lagi. Para pengajar Alkitab ini melupakan bahwa Adam akhir adalah Roh pemberi hidup. Mereka juga melupakan bahwa Tuhan adalah Roh (II Korintus 3:17). Mereka juga melupakan Matius 10:23, “…sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak manusia sudah datang”. Artinya Yesus akan datang lagi sementara murid2 masih hidup dan mencoba menyelesaikan kunjungannya ke kota-kota Israel.

Kalau demikian, kapan Yesus datang lagi dari sorga dengan cara yang sama seperti Kis. 1:11 diatas? Jawabnya sederhana. Setelah murid2 menunggu selama 10 hari, dan tiba hari raya Pantekosta, maka tiba2 datang dari sorga ‘lidah-lidah seperti nyala api’ dan hinggap pada mereka semua. INILAH KEDATANGAN YESUS YANG ADALAH ROH. Kunci pemahaman kedatangan Tuhan adalah jangan mengenal Yesus sebagai laki2 berusia 30 tahun dengan rambut panjang seperti yang sering kita lihat digambar2 yang diperjual-belikan. Gambar2 itu penghinaan terhadap Yesus yang adalah Roh pemberi hidup, dan juga Tuhan yang adalah Roh.

Mari kita periksa kembali Yohanes 14:18, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. AKU DATANG KEMBALI KEPADAMU”. Dalam percakapan malam terakhir dengan murid2, Yesus berjanji akan datang kembali KEPADA MURID-MURID. Dan IA datang pada hari raya Pantekosta. Kalau Yesus datang “kedua kali” entah kapan seperti yang diajarkan pengajar2 Alkitab umumnya, maka janji Yesus kepada murid2 TIDAK DIGENAPI. Murid2 sudah mati semua dan Yesus tidak datang juga kepada murid2 seperti janjiNya…

Mari kita belajar berpikir secara rohani, jangan jasmani…

Saat ini kita akan melihat bagaimana kedatangan Yesus untuk menggenapi hari raya Pondok Daun (Tabernakel), yaitu hari raya utama ketiga setelah Paskah dan Pantekosta. Telah kita singgung bahwa Yesus datang untuk menggenapi hari raya Paskah dengan cara menghembusi murid2 dengan Roh pemberi hidup, sehingga murid2 memiliki hidup (Zoe) dan dilahirkan baru atau lahir dari atas. Kemudian Yesus datang lagi untuk menggenapi hari raya Pantekosta dengan cara membaptis murid2 dengan Roh Kudus, sebagai jaminan (Efesus 1:14).

Mari kita periksa terlebih dahulu Efesus 1:14, untuk memahami apa maksud dari istilah ‘jaminan’. Efesus 1:14, terjemahan LAI, “Dan Roh Kudus itu adalah JAMINAN bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya’. Istilah JAMINAN diterjemahkan dari istilah Yunani ARRABON, dimana Strong’s mendefinisikannya sebagai panjar, atau down payment, atau uang muka yang diberikan lebih dahulu sebagai jaminan bahwa pembayaran seluruhnya pasti akan dibayar kelak.

Untuk memahami kedatangan Yesus dalam menggenapi hari raya Pondok Daun, mari kita melihat Yohanes 7:38-39, “Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti dikatakan oleh kitab suci: dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup. Yang dimaksudkanNya ialah Roh…”. Kata-kata ini diucapkan Yesus pada puncak perayaan hari raya Pondok Daun, ketika Yesus datang ke Yerusalem. Pada hari raya Pondok Daun, Yesus berjanji akan memberikan RohNya kepada barangsiapa yang percaya.

Kalau kita perhatikan Yohanes 7:38-39 diatas, dapatlah kita pahami bahwa kedatangan Yesus pada hari raya Pondok Daun adalah dengan cara memberikan RohNya kedalam hati orang2 yang percaya sedemikian sehingga dari dalam hati orang2 percaya mengalir aliran2 air hidup. Roh yang ada didalam hati orang2 percaya SAAT INI hanyalah berupa jaminan, panjar atau down payment saja. Kita belum menerima Roh dalam arti SELURUHNYA. Itu sebabnya kita belum dapat melakukan perkara2 yang jauh lebih besar dari pada yang Yesus lakukan. Tetapi Yesus berjanji bahwa kita akan melakukan perkara2 yang lebih besar (secara korporat) dari pada yang Yesus lakukan (Yohanes 14:12). Kapan janji ini digenapi? Ketika Yesus datang untuk menggenapi hari raya Pondok Daun.   

Jadi, kedatangan Yesus untuk menggenapi hari raya Pondok Daun adalah dengan cara memberikan ROHNYA DENGAN TANPA BATAS KEPADA MEREKA YANG PERCAYA. Ketika itu kita dapat melakukan perkara2 yang LEBIH BESAR dari pada perkara2 yang Yesus lakukan. Peristiwa yang sangat dahsyat ini sebenarnya tidak lain adalah tampilnya putra2 Elohim untuk memulihkan segala sesuatu (Roma 8:19-21). Inilah saat dimana seluruh makhluk menanti-nantikannya, yaitu saat anak2 Allah dinyatakan. Saat dimana pemulihan ciptaan dimulai.

Jadi, kalau kita perhatikan bagaimana Yesus menggenapi ketiga hari raya utama bangsa Yahudi, maka kita akan paham bahwa Ia datang secara progresif dalam memberikan ROHNYA kepada orang2 yang percaya. Ajaran kedatangan Yesus “kedua kali” dengan bentuk seorang laki2 yang terlihat secara mata jasmani, benar2 pengajaran dari orang2 yang berpikiran jasmani. Para pengajar ini sama sekali tidak memahami maksud Bapa disorga dalam hal kedatangan Yesus ini. Maksud Bapa disorga jelas, bahwa dengan kedatangan Yesus, maka tampil Putra2 Elohim yang memiliki Roh dengan tidak terbatas yang akan memulihkan ciptaan seluruhnya dari perbudakan dosa.

Sebagai penutup, mari kita lihat berkat Abraham yang kita terima melalui Yesus Kristus, karena Abraham telah ditetapkan menjadi bapa semua orang beriman. Galatia 3:14 katakan, “Yesus Kristus telah membuat ini, supaya didalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa- bangsa lain, sehingga oleh iman KITA MENERIMA ROH YANG TELAH DIJANJIKAN ITU”. Berkat Abraham adalah ROH. Semoga Umat Tuhan dijauhkan dari para pengajar jasmani yang mengatakan bahwa berkat Abraham adalah sukses jasmani didunia ini….

Kita sudah menegaskan bahwa kedatangan Tuhan bersifat progresif, artinya terus menerus dan berkemajuan, semakin dalam dan semakin dalam sampai seluruh rencana Bapa digenapi, yaitu Langit dan Bumi yang baru. Tuhan sudah datang, sedang datang dan akan datang. Dimana 2-3 orang berkumpul didalam namaNya, disitu Tuhan hadir (Parousia).

Kita sudah membicarakan kedatangan Tuhan yang menggenapi tiga hari raya utama bangsa Yahudi. Ini bukan berarti Tuhan hanya datang tiga kali saja. Tuhan sudah datang, sedang datang dan akan datang dalam berbagai manifestasi, tetapi kita mengaitkan kedatangan Tuhan sebagai penggenapan tiga hari raya utama bangsa Yahudi. Itu sebabnya kita mengatakan Tuhan datang tiga kali atau kita istilahkan ‘trilogi kedatangan Tuhan’.

Didalam trilogi kedatangan Tuhan kita perhatikan bahwa Yesus datang dalam “bentuk” Roh untuk menggenapi tiga hari raya bangsa Yahudi. Pertama, hari raya Paskah, Yesus datang menggenapi Paskah dengan kematian dan kebangkitanNya, kemudian sebagai Roh pemberi hidup, Ia menghembusi murid2Nya, sehingga murid2Nya lahir baru serta memiliki hayat (Yohanes 20:22). Kedua, hari raya Pantekosta, dimana Yesus datang kepada 120 murid2Nya dan membaptis mereka dengan Roh Kudus, dimana Roh Kudus ini adalah suatu jaminan sebelum kita memiliki seluruhnya (Efesus 1:14). Ketiga, hari raya Pondok Daun, dimana Yesus akan datang dengan memberikan RohNya secara tidak terbatas sehingga kita dapat melakukan perkara2 lebih besar dari pada yang Yesus sendiri lakukan.

Jadi, kedatangan Yesus dalam menggenapi tiga hari raya utama bangsa Yahudi adalah dengan memberikan RohNya kepada orang2 percaya secara progresif. Pertama, Roh yang membuat murid2 lahir baru. Kemudian, Roh yang memberikan murid2 kuasa dan karunia2 sebagai saksi Tuhan, kemudian, Roh yang tidak terbatas yang membuat murid2 melakukan perkara2 lebih besar dari pada yang Yesus lakukan. Kedatangan Tuhan Yesus adalah kedatangan Roh. Dan ini sesuai dengan berkat Abraham yang adalah Roh (Galatia 3:14).   

Hari raya Paskah dan hari raya Pantekosta telah digenapi oleh kedatangan Yesus, dan kita sekarang menunggu kedatangan Yesus untuk menggenapi hari raya Pondok Daun, dimana Ia akan memberikan RohNya secara tidak terbatas kepada orang2 yang percaya. Melalui pencurahan Roh yang tidak terbatas ini maka akan tampil anak2 Allah yang akan memulihkan segala sesuatu (Roma 8:19-21).

Sebelum kita menutup tulisan ini, perlu diingatkan agar anak2 Tuhan tidak salah memahami kedatangan Tuhan seperti bangsa Yahudi yang gagal mengenali Mesias yang dinantikan. Sebab bangsa Yahudi berharap Mesias itu adalah pemimpin jasmani yang membangun kerajaan Israel jasmani, membangun Bait Suci jasmani, mengusir musuh2 jasmani… dan ketika Yesus datang sebagai Mesias, mereka menolakNya… Jika pengajaran Yesus datang “kedua kalinya” tetap dipercaya oleh Umat Tuhan, maka Umat Tuhan akan gagal mengenali kedatangan Tuhan Yesus…

Saat ini kita akan melihat istilah Yunani, PAROUSIA, yang sering diterjemahkan ‘datang’ dalam berbagai versi Alkitab. Seperti kita ketahui bahwa istilah ‘parousia’ muncul sebanyak 24 kali dalam PB dan sebenarnya selalu berarti ‘kehadiran’ (presence). Tidak pernah ‘parousia’ berarti ‘datang’ atau ‘datang kembali’.

Kita hanya akan mengambil beberapa contoh saja pemunculan ‘parousia’ didalam PB dan membuktikannya bahwa ‘parousia’ harus diterjemahkan ‘kehadiran’. Ada satu peraturan emas dalam studi kata yaitu, bahwa makna suatu kata ditentukan oleh bagaimana kata itu digunakan dalam suatu kalimat. Kita langsung saja masuk kedalam contoh pertama yang terdapat didalam I Tesalonika 5:23-24, yang demikian tertulis, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada KEDATANGAN (Parousia) Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya”. Jika parousia diterjemahkan ‘kedatangan’ maka ayat ini berarti Paulus percaya dan berharap bahwa roh, jiwa, dan tubuh orang percaya akan terus terpelihara sampai kedatangan Tuhan “kedua kali” yang setelah 2000 tahun belum kunjung tiba. Paulus tidak bermaksud seperti ini. Parousia harus diterjemahkan ‘kehadiran’, sehingga ayat ini berbunyi, “Semoga Allah damai sejahtera…terpelihara sempurna dengan tak bercacat dalam KEHADIRAN Yesus Kristus, Tuhan Kita…”.

Kita lihat contoh berikut dalam I Tesalonika 3:13, “Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, dihadapan Allah dan Bapa kita pada waktu KEDATANGAN (Parousia) Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudusNya”. Jika ‘parousia’ diterjemahkan ‘kedatangan’, maka maksud ayat ini menjadi kacau, sebab itu berarti Paulus tidak memperdulikan ke-tak bercacat-an dan kekudusan jemaat SAAT INI, Paulus hanya memperdulikannya nanti pada waktu kedatanganNya. Bukan demikian maksud Paulus. Jika ‘parousia’ diterjemahkan ‘kehadiran’ maka ayat ini berbunyi, “Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, dihadapan Allah dan Bapa kita DALAM KEHADIRAN (Parousia) Yesus Tuhan kita…”.

Kita akan melihat satu contoh lagi saja untuk membuktikan bahwa Parousia, yang muncul sebanyak 24 kali dalam PB, HARUS DITERJEMAHKAN KEHADIRAN. Mari kita melihat Matius 24:27, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia”. Ayat ini seolah-olah mengatakan bahwa kedatangan Anak Manusia itu seperti suatu kejadian mendadak dilangit jasmani dimana kedatanganNya terjadi seperti kilat memancar dari timur ke barat. Tidak demikian maksud ayat ini. Kunci pemahaman ayat ini terletak pada istilah Yunani yang diterjemahkan “kilat memancar”, yaitu ASTRAPE. Strong’s mendefinisikannya sebagai, a flash of lightning, brightness, luster, dimana ASTRAPE berasal dari kata ASTRAPTO yang berarti lightning; by analogy, glare. Para ahli memahami istilah Yunani ini sebagai ‘sinar terang’ dari suatu sumber terang, dan bukan cahaya kilat yang mendadak memancar dari suatu lokasi ke lokasi lainnya. Jika kedatangan Tuhan seperti kilat memancar, yang berarti hanya terjadi di suatu lokasi tertentu saja, maka hal ini bertentangan dengan ayat lainnya yang mengatakan bahwa ‘setiap mata akan memandang Dia’.

Sebelum kita mengambil kesimpulan pemahaman ayat kita diatas, mari kita renungkan cahaya apa yang memancar dari timur ke barat? Bukankah ini cahaya matahari… dan kita tahu bahwa Tuhan adalah matahari bagi kita (Mazmur 84:12). SinarNya menerangi roh, jiwa dan tubuh kita sehingga roh, jiwa, dan tubuh kita terpelihara sempurna…

Jadi, ayat ini harus diterjemahkan, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah KEHADIRAN (Parousia) Anak Manusia”. Artinya, KEHADIRANNYA seperti cahaya matahari yang semakin terang menyinari seluruh keberadaan kita. Demikianlah makna ayat ini. Sekali lagi, semua istilah ‘Parousia’ yang muncul sebanyak 24 kali dalam PB, HARUS DITERJEMAHKAN KEHADIRAN.

Sebagai penutup, kehadiran (parousia) Tuhan itu berlangsung terus menerus didalam diri kita sampai seluruh keberadaan kita diresapi total olehNya.

Kita sudah membahas istilah PAROUSIA, yang sering diterjemahkan ‘datang’ oleh berbagai versi Alkitab. Sebenarnya PAROUSIA tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya seseorang, tetapi menunjukkan kehadiran seseorang yang sudah datang. Penggunaan istilah PAROUSIA didalam PB juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan secara fisik. Jadi, istilah Parousia berarti KEHADIRAN. Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaNya, disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA. Parousia Yesus Kristus adalah kehadiran Yesus Kristus, dimana kehadiranNya adalah realita masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang. Tuhan Yesus berkata, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.

Saat ini kita akan memeriksa istilah kedua dalam bahasa Yunani yaitu APOKALUPSIS. Seperti telah kita ketahui bahwa istilah ini berasal dari kata kerja APOKALUPTO yang berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya terselubung. Tuhan Yesus yang memang sudah hadir, dahulu, sekarang dan kemudian, namun tidak dapat dilihat oleh mata jasmani, kemudian oleh pekerjaan Roh Kudus, maka kehadiranNya disingkapkan. Apokalupsis adalah persoalan MELIHAT sesuatu yang tadinya terselubung.

Mari kita melihat beberapa ayat yang menggunakan istilah Apokalupsis. Roma 8:19, “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah DINYATAKAN (Apokalupsis)”. Kemudian, I Petrus 4:13, “… supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia MENYATAKAN (Apokalupsis) kemuliaanNya”.

Kalau kita membaca Roma 8:19-23, maka dapatlah kita pahami bahwa seluruh makhluk menantikan saat pembebasan dari perbudakan kebinasaan. Kapan dimulai dan siapa yang akan membebaskan seluruh makhluk dari perbudakan kebinasaan? Jawabnya, anak2 Allah yang sudah dinyatakan, disingkapkan, ketika Tuhan Yesus menyatakan kemuliaanNya (I Petrus 4:13). Saat ini anak2 Allah belum disingkapkan. Anak2 Allah masih terus dibentuk, diproses, ditempa, sampai tiba saatnya dinyatakan. Kolose 1:27 menegaskan, “… Christ in you, the hope of glory”. Kristus yang didalam kita, itulah pengharapan akan kemuliaan. Ketika Kristus menyatakan diriNya. Kita juga akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan. Kapan ini terjadi, sdrku? Ketika anak2 Allah DINYATAKAN (Apokalupsis).

Kita lihat bahwa pengharapan akan kemuliaan itu ada didalam kita, yaitu Kristus yang ada didalam batin kita. Kita tidak melihat ke langit diatas untuk menantikan datangnya Kristus. KITA TIDAK MENUNGGU KRISTUS YANG DATANG DARI LANGIT DIATAS. Namun saat ini memang kita sedang dibentuk, ditempa, diproses sedemikian sehingga Kristus yang didalam kita tampil menyatakan diriNya bersama kita dalam kemuliaan. Inilah saat anak2 Allah dinyatakan. Inilah pengharapan seluruh makhluk agar dibebaskan dari perbudakan kebinasaan dan masuk dalam kemerdekaan kemuliaan anak2 Allah. Inilah Apokalupsis anak2 Allah.

Sebagai penutup, mari kita melihat penggunaan istilah Apokalupsis didalam kitab Wahyu. Didalam Wahyu 1:1 tertulis, “Inilah wahyu (Apokalupsis) Yesus Kristus…”. Kitab Wahyu adalah kitab yang menyatakan/mewahyukan/membukakan Yesus Kristus. Dan Yesus Kristus ini ada ditengah-tengah kaki dian (1:13). Sementara kita terus membaca pewahyuan Yesus Kristus ini, kita melihat bagaimana Yesus Kristus memanggil para pemenangNya disetiap zaman gereja. Karenanya, Apokalupsis Yesus Kristus menjadi Apokalupsis Yesus Kristus dan para pemenangNya. Puji Tuhan… pada waktuNya, seluruh makhluk akan melihat Apokalupsis Yesus Kristus dan para pemenangNya, dan seluruh makhluk akan dimerdekakan dan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan para pemenangNya. Amin.

Saat ini kita akan membahas istilah Yunani ketiga yang terkait dengan ‘kedatangan’ Tuhan, yaitu EPHIPHANEIA, yang muncul hanya 6 kali dalam PB. Sebelumnya kita sudah membahas PAROUSIA yang berarti kehadiran. KehadiranNya adalah realita masa lalu, saat ini dan saat yang akan datang. Tetapi kehadiranNya tidak dapat dilihat oleh mata jasmani. Dan kita juga sudah membahas istilah Yunani APOKALUPSIS, yaitu penyingkapan atau membuka selubung. KehadiranNya yang tidak terlihat menjadi terlihat melalui suatu APOKALUPSIS (pembukaan selubung), artinya melalui roh wahyu kita dapat “melihat” kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

Epiphaneia berasal dari kata kerja yang berarti ‘to shine upon’, ‘bring to light’, ‘to appear’, ‘to manifest’. Kata bendanya ‘manifestation’, atau ‘brightness’. Penggunaannya dalam Yunani klasik diterapkan kepada sesuatu keilahian yang tidak terlihat tetapi menjadi terlihat. Juga diterapkan kepada matahari yang muncul setelah awan gelap berlalu. Terjemahan yang paling baik dari istilah Yunani ini adalah MANIFESTASI.

Penggunaan Epiphaneia terdapat dalam II Tesalonika 2:8, “pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya (destroy with the EPIPHANEIA), kalau Ia datang kembali (PAROUSIA)”. Young’s Literal menerjemahkannya, “… and shall destroy with the MANIFESTATION (Epiphaneia) of His presence (PAROUSIA)”. Manifestasi dari kehadiranNya itulah yang memusnahkan si pendurhaka.

Kalau kita urutkan ketiga istilah Yunani ini, maka kita dapatkan bahwa kehadiran (PAROUSIA) Tuhan selalu tersedia bagi kita. Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman, kata Tuhan Yesus. Tetapi kita butuh pewahyuan (APOKALUPSIS=pembukaan selubung) agar kita menyadari kehadiranNya. Dan sebagai akibat pembukaan selubung (pewahyuan), maka kita mengalami manifestasi (EPIPHANEIA) dari kehadiranNya, yang bagi si pendurhaka justru akan memusnahkannya. Jadi, urutannya sebagai berikut, Parousia(kehadiran) – Apokalupsis(penyingkapan) – Epiphaneia(manifestasi). Epiphaneia adalah akibat langsung dari Apokalupsis. Jika kehadiran Tuhan tersingkap, maka manifestasi dari kuasa dan kemuliaan kehadiranNya pasti terpancar. Manifestasi dari kehadiranNya bersifat progresif dalam kehidupan kita. Semakin hari semakin termanifestasi kehadiranNya dalam hidup kita. Kita bertumbuh dari kemuliaan menuju kemuliaan…. From glory to glory…  

Sebagai penutup, sesungguhnya seluruh makhluk merindukan manifestasi dari kehadiranNya. Seluruh makhluk mengeluh dibawah perbudakan alam maut, yaitu suatu alam dimana kehadiranNya tidak termanifestasi sama sekali. Jika kehadiranNya termanifestasi, maka kuasa dan kemuliaanNya akan membebaskan seluruh ciptaan. Tetapi bagaimana cara Tuhan melakukan semua ini? Dengan membentuk saudara dan saya melalui suatu proses disiplin, proses peremukkan, dan proses penderitaan agar didalam diri kita tertempa hayatNya. Ketika hayatNya sudah matang dan termanifestasi, maka seluruh makhluk akan mengalami pembebasan oleh kuasa dan kemuliaan kehadiranNya…. Haleluyah.

Saat ini kita akan masuk kedalam istilah Yunani keempat, yaitu PHANEROSIS, yang terkait dengan kedatangan Tuhan. Phanerosis adalah kata benda sedangkan kata kerjanya PHANEROO. Istilah ini berarti ‘to appear’ atau ‘manifest’. Istilah Epiphaneia yang telah kita bahas sebelumnya berarti manifestasi, tetapi berbeda dengan Phaneroo. Phaneroo sering digunakan ketika seseorang memanifestasikan seorang yang lain, seperti Anak memanifestasikan Bapa, atau ketika kita memanifestasikan Kristus yang didalam kita. Jadi, jika Alkitab menggunakan istilah Phaneroo, itu bukan berarti Tuhan memanifestasikan DiriNya KEPADA kita, tetapi MELALUI kita. Maksudnya, seseorang memanifestasikan seorang yang lain.

Mari kita melihat bagaimana istilah Phaneroo digunakan. Yohanes 17:6, “Aku telah menyatakan (Phaneroo) nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia…”. II Korintus 4:10, “… supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata (Phaneroo) didalam tubuh kami”. Kolose 3:4, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan (Phaneroo) diri kelak, kamupun akan menyatakan  (Phaneroo) diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan”. I Timotius 3:16, “… Dia yang telah menyatakan (Phaneroo) diriNya dalam rupa manusia…”. I Yohanes 1:2, “…yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan (Phaneroo) kepada kami”. I Yohanes 4:9, “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan (Phaneroo) ditengah-tengah kita…”.

Tujuan dari PHANEROSIS Kristus adalah agar manusia dapat MELIHAT Elohim. Melihat disini berarti mengenal, memiliki persepsi yang benar tentang Dia. Demikian juga Phanerosis kita bersama Dia dalam kemuliaan (Kolose 3:4), bertujuan agar semua manusia mengenal Dia. Kita menjadi keselamatan bagi seluruh ciptaan. 

Sebagai penutup, mari kita periksa Lukas 2: 30-31, “sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan dihadapan SEGALA BANGSA”. Young’s Literal menerjemahkannya, ALL THE PEOPLES. Artinya SEMUA MANUSIA pada waktunya kelak akan MELIHAT keselamatan Tuhan. Ketika Phanerosis kita bersama Dia dalam kemuliaan terjadi, saat itulah kita menjadi keselamatanNya yang disediakan bagi semua manusia.

Saat ini kita akan mempelajari kedatangan Tuhan sebagai bintang pagi (The Morning Star). Didalam kitab Wahyu, bintang pagi disebutkan dua kali. Mari kita lihat didalam Wahyu 22:16, “… Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang”. Terjemahan Young’s Literal menyebutkannya, “… I am the root and the offspring of David, the bright and morning star”. Bintang timur yang dimaksud disini adalah the morning star atau bintang pagi. Istilah Yunani yang dipakai untuk ‘pagi’ atau ‘morning’ adalah PROINOS, yaitu sesuatu yang terkait dengan Dawn, atau Sunrise, atau daybreak. Maksudnya, bintang pagi itu muncul sebelum datangnya pagi hari atau datangnya sinar matahari pagi.

Bintang pagi ini bukan matahari. Didalam solar system kita, bintang pagi adalah planet terang (Venus) yang muncul di timur pada waktu2 tertentu dalam setahun. Bintang pagi ini biasanya muncul ditengah kegelapan malam, barangkali sekitar jam 4 subuh, sehingga bagi mereka yang tidak berjaga-jaga ditengah kegelapan malam, tidak akan melihat kemunculan bintang pagi ini.

Bintang pagi ini adalah Tuhan Yesus, yang akan datang ditengah kegelapan malam, dimana bagi mereka yang tidak berjaga-jaga tentu tidak dapat mengalami dan menikmati kedatanganNya. Tetapi bagi kita yang berjaga-jaga dan menanti-nantikanNya, tidak larut dalam “kegelapan malam”, bagi kita Tuhan Yesus muncul sebagai bintang pagi yang gilang gemilang.

Larut dalam “Kegelapan malam” yang kita maksud bukan berarti larut dalam kegiatan jahat yang dilakukan malam hari, tetapi kegiatan apa saja yang dilakukan kapan saja, yang membuat kita tidak menanti-nantikan Tuhan. Bisa saja para ‘full timer’ di gereja, atau para pelayan yang sangat sibuk khotbah kesana kemari, merasa perlu waktu istirahat atau retreat karena kurang waktu bersekutu dengan Tuhan. Larut dalam kesibukan pelayanan seperti ini juga yang kita maksud larut dalam “kegelapan malam”.

Kemunculan kedua the morning star dalam kitab Wahyu terdapat dalam Wahyu 2:26-28, “Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaanKu sampai kesudahannya… kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur”. Wahyu pasal 2 dan 3 merupakan panggilan Tuhan kepada para pemenang. Gereja sudah jatuh karena ajaran Izebel, Nikolaus dan Bileam. Tuhan memanggil para pemenangNya. Para pemenangNya ini tidak harus orang yang terkenal didalam dunia kekristenan yang sudah jatuh saat ini, tetapi barangkali orang2 sederhana yang tidak ambil bagian dalam kejatuhan gereja. Barangkali para pemenangNya ini orang2 yang “tidak sibuk dalam pelayanan gereja” tetapi memiliki semangat untuk bersekutu dengan Tuhan, senantiasa berjaga-jaga, dan setia mengerjakan tugas2nya, dimanapun ia ditempatkan.   

Sebagai penutup, mari kita bandingkan bintang pagi ini dengan matahari kebenaran. Didalam Maleakhi 4:2 tertulis, “Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya…” Kita tahu bahwa surya kebenaran ini menunjuk kepada Tuhan sendiri, yaitu Kristus, sang Matahari kebenaran. Didalam solar system kita, bintang pagi itu muncul lebih dahulu dari matahari. Setelah bintang pagi menerangi bumi dengan terangnya yang “lembut”, kemudian giliran matahari menerangi bumi sedemikian sehingga bumi memperoleh kehidupannya. Bintang pagi adalah para pemenangNya sebagai BUAH SULUNG, artinya masih ada tuaian berikutnya sampai “seluruh bumi diterangi oleh matahari”. Kita sebagai buah sulung akan dipakaiNya sedemikian sampai seluruh bumi penuh kemuliaanNya, haleluyah….

Kita telah mengetahui bahwa Bintang pagi adalah Tuhan Yesus sebagai keturunan Daud (Wahyu 22:16). Dan bahwa bintang pagi ini muncul sekitar jam 4 subuh sebelum nanti akan disusul oleh sinar matahari. Kedatangan Bintang pagi ini dalam musim2 tertentu dalam setahun hanya akan dapat dilihat dan dinikmati oleh mereka yang berjaga-jaga dan tidak larut dalam kegelapan malam. Kepada para pemenang Tuhan juga berjanji mengaruniakan Bintang pagi ini (Wahyu 2:28). Sesungguhnya, Bintang pagi ini bagi para pemenang adalah kemuliaan Kristus yang didalam batin. Christ in you, the hope of glory…  

Saat ini kita akan membahas tentang matahari kebenaran, dimana matahari ini datang setelah kemunculan bintang pagi yang telah kita bicarakan diatas. Mari kita melihat Maleakhi 4:2, “Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya…”. Tuhan Yesus adalah matahari kebenaran, sebab didalam Mazmur 84:12 tertulis, “Sebab Tuhan Allah adalah matahari dan perisai…”. Jadi, Tuhan Yesus adalah Bintang pagi yang menerangi lubuk hati kita dengan “lembut” dan kemudian tiba gilirannya Tuhan Yesus datang sebagai matahari menerangi lubuk hati kita secara sepenuhnya.

Didalam Matius 24:27 tertulis, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan (Parousia) Anak Manusia”. Kita telah membahas maksud ayat ini yaitu bahwa kehadiranNya seperti cahaya matahari yang semakin terang menyinari seluruh keberadaan kita. Kehadiran Tuhan Yesus sebagai matahari menerangi batin kita secara perlahan-lahan, demikianlah genap Amsal 3:18, “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari”.

Disini sekali lagi kita melihat konsep kedatangan Tuhan tidaklah secara jasmani. Kedatangan Tuhan adalah perkara batiniah. Jika pengertian kita tentang kedatangan Tuhan itu adalah kedatangan Yesus dari langit yang dapat dilihat oleh mata jasmani, maka kita sudah kehilangan banyak pengertian yang benar tentang kedatanganNya.Sudah waktunya kita melihat ESENSI dari kedatangan Tuhan yaitu terjadi secara Roh didalam batin kita.

Sebagai penutup, kita melihat kedatangan Tuhan itu dianalogikan seperti matahari, yang mana kita tahu terbit di timur dan tenggelam dibarat. Kedatangan Tuhan itu dari ‘timur ke barat’. Kalau kita melihat sejarah pergerakkan Tuhan, maka kita akan melihat juga prinsip ‘dari timur ke barat’ ini. Kita akan melihat beberapa contoh pergerakkan Tuhan ‘dari timur ke barat’ ini, atau pergerakkan Tuhan itu kearah barat. Pertama, Kain berjalan kearah timur Eden menjauhi Tuhan (Kejadian 4:16). Kedua, Abraham, pergi dari Babel ke Kanaan, itu berarti pergi dari timur kearah barat. Ketiga, Lot, memilih kearah kota Sodom dan Gomorah yaitu kearah timur (Kejadian 13:11). Keempat, Tabernakel itu masuk dari timur kearah barat (Keluaran 27:13-16). Kelima, pergerakkan Injil juga dari timur ke barat. Setelah Yerusalem dihancurkan, pusat pergerakkan Injil ke Yunani, kemudian Asia Kecil, kemudian menerobos Roma, terus kearah barat menuju Jerman (Luther), Inggris (kebangunan2 rohani), terus kebarat menuju Amerika. Kebangunan rohani Pantekosta, Latter Rain Movement dan lain-lain terjadi di Amerika. Saat ini Amerika masih Negara terbanyak yang mengirim Misionaris.

Jika kedatangan Tuhan, yang menggenapi hari raya Pondok Daun masih belum tiba, maka barangkali pergerakkan Tuhan terus kearah barat Amerika, yang jika kita melihat bola dunia, maka itu menuju negara2 Tiongkok, Korea, Jepang, Rusia… Barangkali tidak kebetulan Amerika sedang perang dagang dengan China, yang hampir dipastikan dimenangkan China… Apakah pergerakkan Tuhan selanjutnya berpusat di Tiongkok, kita tidak tahu… Tetapi, prinsipnya, pergerakkan Tuhan itu kearah barat, seperti matahari yang terbit di timur dan tenggelam di barat.

Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan sebagai hujan. Mari kita periksa beberapa ayat. Hosea 6:3, “… Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi”. Yakobus 5:7-8, “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!”. Selanjutnya kita melihat Mazmur 72:6, “Kiranya ia seperti hujan yang turun keatas padang rumput, seperti dirus hujan yang menggenangi bumi”. Ini adalah Mazmur Mesianik, dimana Raja Kemuliaan akan turun seperti hujan yang menggenangi bumi.

Didaerah Palestina, ada musim2 hujan yang disebut hujan awal dan hujan akhir. Hujan awal adalah hujan yang terjadi dimana benih baru ditanam di bumi. Enam bulan kemudian datanglah hujan akhir yang akan membuat benih yang mulai dewasa siap untuk dituai. Jadi, petani yang baru menanam benih berharap datang hujan awal yang membuat benih itu mengalami pertumbuhan awalnya. Kemudian ketika benih sudah mulai dewasa, si petani berharap hujan akhir, yang akan membuat benih itu menjadi dewasa dan siap dituai.

Kita sudah melihat pada ayat2 diatas bahwa kedatangan Tuhan dianalogikan dengan datangnya hujan. Kedatangan Tuhan yang bagaimanakah yang dianalogikan dengan hujan awal dan hujan akhir? Mari kita melihat Yoel 2:23, “Hai Bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena Tuhan, Allahmu! Sebab telah diberikanNya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkanNya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu”. Tidak kebetulan Petrus mengutip Yoel 2:28-32, ketika ia berkhotbah pada saat pencurahan Roh Kudus pada hari Pantekosta. Konteks Yoel pasal 2 adalah janji Tuhan bagi pemulihan bani Sion, dan pemulihan bani Sion ini terjadi oleh PENCURAHAN ROH. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kedatangan Tuhan sebagai hujan, hujan awal dan hujan akhir, adalah pencurahan Roh “awal’ dan ‘akhir’, dimana pencurahan awal terjadi pada hari raya Pantekosta.

Bagaimana dengan pencurahan Roh yang ‘akhir’ ? Banyak orang percaya bahwa pencurahan Roh yang ‘akhir’ terjadi mulai dari pemulihan melalui Martin Luther sampai pencurahan Roh Kudus yang dinamakan The Latter Rain Movement, yang dimulai tahun 1948 di Amerika.

Sebagai penutup, mari kita melihat kembali Yoel 2:24, “Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak”. Tujuan hujan awal dan hujan akhir adalah TUAIAN. Benih yang ditabur mengalami hujan awal dan hujan akhir agar benih tersebut bertumbuh dan menjadi dewasa sedemikian sehingga ada suatu tuaian. Didalam Yoel 2:24 diatas, tuaian itu adalah gandum, anggur dan minyak.

Didalam PL tuaian itu adalah gandum, anggur dan minyak, tetapi bagaimana didalam PB ? Didalam Yohanes 12:24, Tuhan Yesus mengumpamakan DiriNya seperti biji gandum yang jatuh ketanah dan mati serta menghasilkan banyak buah. Buah hasil kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah putra2 Elohim yang serupa dan segambar dengan DiriNya. Tuaian dalam konteks PB adalah putra2 Elohim. Diakhir zaman, pada saat tuaian itu terjadi, maka putra2 Elohim ini akan tampil dan memulihkan ciptaan (Roma 8:19-21)

Sekarang kita akan membahas kedatangan Tuhan dengan awan2 (coming with clouds). Mari kita memeriksa beberapa ayat. Daniel 7:13-14, “ Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dibawa kehadapanNya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah”. Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia…”. Markus 14:62, “Jawab Yesus: ‘Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk disebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang ditengah-tengah awan-awan (coming with the clouds - Young’s Literal) dilangit”. 

Daniel pasal 7 diatas menjelaskan pada kita bahwa anak manusia yang diberikan kekuasaan, kemuliaan dan kerajaan yang tidak akan musnah adalah Mesias yang ditunggu-tunggu oleh bangsa Israel. Dan ditegaskan juga didalam ayat ini bahwa Mesias datang dengan awan-awan dari langit. Sementara itu Wahyu 1:7 menyatakan bahwa Yesus datang dengan awan-awan dimana setiap mata akan melihat Dia. Yesus sendiri juga didalam Markus 14:62 mengatakan kepada Imam Besar yang bertanya padaNya bahwa Ia akan datang dengan awan-awan. Persoalannya disini adalah apakah awan-awan yang dimaksud adalah awan jasmani yaitu air yang menguap dari bumi setelah itu mendingin dan menjadi gumpalan2 putih yang biasa kita sebut awan? Terlalu banyak orang yang mengajar Alkitab dengan pikiran jasmani sehingga Umat Tuhan berharap dan menanti-nantikan Yesus datang dari langit jasmani dan dapat dilihat dengan mata jasmani oleh semua manusia jasmani…

Mari kita melihat beberapa ayat yang menjelaskan mengenai awan ini. Keluaran 13:21, “TUHAN berjalan didepan mereka pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka dijalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam”. Perlu dipahami disini bahwa hanya ada satu tiang yang memimpin Israel, karena tiang api disebut juga tiang awan atau awan (Kel. 14:19 dan Bil. 9:21). Jadi, tiang yang memimpin Israel adalah TIANG AWAN YANG MENGANDUNG API. Tiang ini menjadi awan gelap pada siang hari sehingga bangsa Israel terhindar dari sengat matahari padang gurun, dan pada malam hari, tiang ini menjadi tiap api yang menerangi dan menghangatkan bangsa Israel terhadap udara dingin padang gurun. Maksudnya, tiang awan ini BUKANLAH AWAN JASMANI. TIANG AWAN YANG MENGANDUNG API ini adalah AWAN KEMULIAAN TUHAN (Keluaran 40:34-35). 

Mari kita kembali kepada Wahyu 1:7 yang menyatakan bahwa Dia (Yesus) datang dengan awan-awan. Ungkapan ‘Dia datang’ berasal dari istilah Yunani ERCHOMAI. Istilah Yunani ini ada dalam bentuk orang ketiga tunggal, present indicative. Pembaca yang memahami conjunction of verbs (ungkapan penghubung antar kata kerja), tahu apa maksud istilah diatas, yaitu, pertama, Ia datang sebagai kenyataan saat ini (present tense reality). Kedua, karena kata kerja ‘datang’ ada dalam present indicative, berarti juga Ia sedang dalam tindakan datang. Dengan kata lain, Ia datang saat ini, Ia dalam tindakan datang saat ini, dan Ia masih terus datang. Jadi, lebih dari satu kali kedatangan Tuhan yang terkandung dalam istilah Erchomai.

Sementara itu ungkapan ‘awan-awan’ mengandung arti saksi2 Tuhan atau orang2 kudus (Yudas 14, I Tesalonika 3:13, Zakharia 14:5). Jadi makna Wahyu 1:7 adalah Yesus sedang datang, terus dalam tindakan datang, dan akan datang bersama orang2 kudusNya. Inilah makna Dia datang dengan awan2.

Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan sebagai Raja. Berbicara kedatangan Tuhan sebagai Raja, tentu kita harus berbicara juga mengenai kerajaan, karena kerajaan itu merupakan daerah atau wilayah kekuasaan seorang Raja. Kingdom itu artinya King dan Domain (wilayah kekuasaan), jadi kingdom adalah wilayah kekuasaan seorang raja. Yesus adalah Raja dan wilayah kekuasaanNya adalah alam sorgawi. Itu sebabnya ketika Pilatus bertanya apakah Engkau raja? Yesus menjawab untuk itulah Aku lahir, tetapi kerajaanKu bukan berasal dari sini (bukan kerajaan dunia ini). Ini bukan berarti Yesus tidak berkuasa atas seluruh bumi. Yesus berkata segala otoritas baik di sorga dan di bumi telah diserahkan kepadaNya. Tetapi ini berarti bahwa wilayah kekuasaan Yesus itu adalah alam sorgawi.

Namun kita harus mengetahui bahwa rencana Bapa adalah agar kerajaan sorga ditegakkan dimuka bumi ini. Itu sebabnya Yesus mengajarkan kita berdoa agar kerajaan sorga datang ke bumi ini. Dalam pengertian itulah kedatangan Yesus sebagai Raja yang sedang kita bicarakan ini.

Sebelum kita melihat lebih jauh, perlu kita pahami dengan jelas dimana kerajaan sorga itu. Mari kita melihat dua ayat yang berbicara mengenai hal ini. Pertama, Lukas 17:21, “… Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada DIANTARA (ENTOS) kamu”. Kedua, Matius 23:26, “… bersihkanlah dahulu sebelah DALAM (ENTOS) cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih”. Istilah Yunani ENTOS (muncul hanya 2x dalam PB) disini diterjemahkan menjadi DIANTARA (Lukas) dan DALAM (Matius). Tidak mungkin kedua terjemahan ini benar. Kita tahu peraturan emas dalam memahami makna suatu kata (istilah) adalah dengan cara memahami bagaimana kata itu digunakan dalam suatu kalimat. Didalam Matius 23:26, penggunaan Entos sedemikian sehingga kita tidak mungkin menterjemahkannya menjadi ‘DIANTARA’. Jadi, jelas bahwa Entos harus diterjemahkan ‘DALAM’, sehingga Lukas 17:21 menjadi, “Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada DALAM kamu”. Sesungguhnya Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga itu DIDALAM KAMU. Bahkan kalau kita melihat konteks Lukas 17 itu maka sesungguhnya kerajaan sorga JUGA ADA DIDALAM ORANG-ORANG FARISI  yang menentang Yesus, hanya EFEK atau PENGARUH kerajaan itu tidak ada karena mereka tidak percaya.

Jadi, kerajaan sorga ada didalam kita, karenanya sesungguhnya kerajaan sorga itu SUDAH DATANG, SEDANG DATANG dan AKAN DATANG. Kerajaan sorga SUDAH datang kedalam kita, karena memang ada didalam kita, SEDANG bertumbuh didalam kita, dalam arti Yesus sebagai Raja semakin menguasai dan mengatur seluruh aspek kehidupan kita, dan AKAN DATANG kedalam kita, dalam arti kita akan tampil (memanifestasikan diri bersama Yesus dalam kemuliaan) ketika sangkakala ke 7 ditiup, dimana kerajaan dunia ini menjadi kerajaan Tuhan (YESUS) dan yang diurapiNya (yaitu KITA)- lihat Wahyu 11:15. Ketika kerajaan sorga datang ke bumi, kita akan memerintah bersama dengan Tuhan Yesus. Inilah makna kedatanganNya sebagai Raja.

Peristiwa kedatangan Yesus sebagai Raja yang kita nanti2kan itu tertulis juga didalam Roma 8:19, Kolose 3:4, Yudas 14, dan bagian2 lainnya yang menegaskan kedatangan Tuhan bersama orang2 kudusNya untuk memerintah bumi ini. Jika kita memahami kedatangan Tuhan Yesus sebagai Raja dimana kerajaanNya ada didalam kita, maka kita tidak akan menunggu Yesus datang dari langit jasmani, dengan takhta jasmani, barangkali turun ke Yerusalem jasmani untuk memerintah bumi dari sana. Pengajaran jasmani ini berasal dari dunia kekristenan yang telah jatuh. Umat Pemenang tentu menyadari bahwa Kerajaan Sorga ada didalam mereka… Christ in you, the hope of glory…

Wahyu 19:11-16, “Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan diatas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali ia sendiri. Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: “Firman Allah”. Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa. Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan”.

Saat ini kita akan berbicara mengenai kedatangan Tuhan diatas kuda putih. Didalam ayat2 diatas dijelaskan bahwa Tuhan Yesus menunggang seekor kuda putih dimana semua pasukan yang disorga mengikuti Dia, yang juga menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Disini Tuhan Yesus memiliki banyak nama, yaitu ‘Yang Setia dan Yang Benar’, ‘Firman Allah’, ‘Raja segala raja dan Tuan diatas segala tuan’, bahkan nama yang tidak diketahui seorangpun. Tujuan dari kedatangan Tuhan Yesus bersama pasukan yang disorga ini adalah untuk menghakimi dengan adil segala bangsa, dan juga menggembalakan mereka. Alat yang digunakan Tuhan Yesus bersama pasukanNya adalah sebilah pedang tajam yaitu firman Allah.

Siapakah pasukan yang disorga yang mengikutiNya? Pasukan yang disorga ini memakai lenan halus yang adalah perbuatan2 yang benar dari orang2 kudus (Wahyu 19:8). Demikian juga didalam Yudas 14 ada tertulis, “… sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudusNya”. Juga, para pemenang didalam Wahyu 2:26-27, diberikan kuasa atas bangsa2, dan juga ketika sangkakala ke 7 ditiup, maka pemerintahan atas dunia diserahkan kepada Tuhan dan orang2 kudus yang diurapiNya (Wahyu 11:15). Jadi, dapatlah kita simpulkan bahwa pasukan yang disorga yang mengikutiNya adalah para pemenang disetiap zaman gereja. 

Kapankah Tuhan Yesus datang dengan para pemenangNya untuk memerintah dan menghakimi segala bangsa dengan pedang firman Allah ? Menurut Wahyu 11:15 hal ini terjadi ketika sangkakala ke tujuh ditiup, namun kita tidak tahu kapan hal ini terjadi. Tetapi bagi para pemenangNya yang akan dipercaya menggunakan pedang firman Allah untuk menghakimi bangsa2, terlebih dahulu mereka sendiri harus dihakimi dan ditaklukkan oleh firman Allah. Bagi para pemenangNya, Tuhan Yesus sudah, sedang dan terus datang dengan pedang firmanNya untuk menghakimi dan menaklukkan. Karena para pemenang harus ditaklukkan dahulu oleh firman Allah sebelum dipercaya menaklukkan dan menghakimi bangsa2 dengan pedang firman Allah.

Karenanya, kita sebagai Umat Pemenang, kita tidak menunggu Tuhan Yesus datang dari Langit jasmani dan menunggang kuda putih untuk memerintah bangsa2. Bagi kita, Tuhan Yesus datang setiap hari dengan pedang firmanNya, menghakimi, menaklukkan, mendisiplin, serta mematahkan pemberontakkan kita, sampai kita telah ditaklukkan oleh firmanNya. Kemudian, pada waktuNya, Ia akan menyatakan diriNya, dimana kita juga akan menyatakan diri bersamaNya dalam kemuliaan. Inilah saat kita akan memerintah bersamaNya. Inilah saat dimana Tuhan Yesus dan para pemenangNya menyatakan Diri kepada bangsa2 untuk menghakimi, menaklukkan dan memerintah sampai Bapa menjadi semua didalam semua.      

Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan sebagai Mempelai Pria. KedatanganNya sebagai mempelai pria terjadi ketika tiba waktunya perkawinan Anak Domba. Tetapi kita harus mengetahui beberapa hal sebelum kita dapat memahami hal ini. Banyak orang Kristen memiliki konsep kedatangan Tuhan sebagai satu kejadian dimasa mendatang (singular historic event) – yang disebut kedatangan Tuhan kedua kali, dimana Yesus akan datang dari langit jasmani mengangkat (rapture) mempelai wanitaNya (gereja), serta terjadi pertemuan diudara, yang mana dipahami sebagai perkawinan Anak Domba. Mereka yang tidak terangkat akan mengalami kesusahan besar (great tribulation) bersama antiKristus. Apakah pemahaman jasmaniah seperti ini yang dimaksud Alkitab?

Mari kita melihat beberapa bagian firman Tuhan untuk menjelaskan kedatangan Tuhan Yesus sebagai mempelai pria. Kolose 1:27, “…Christ in you, the hope of glory.” (Young’s Literal). Mempelai Pria kita ada didalam batin, ada didalam roh kita. Dia tidak akan datang dari langit jasmani untuk mengangkat mempelai wanitaNya. Perkawinan Anak Domba akan terjadi didalam kita. Persoalannya apakah kita sudah siap sebagai mempelai wanitaNya?

Kita tahu bahwa perkawinan itu berbicara soal kesatuan (union). Mempelai wanita haruslah seorang yang telah bertumbuh dewasa, seorang yang telah siap untuk bersatu dengan mempelai pria, seorang yang telah siap meninggalkan segalanya agar dapat bersatu dengan Dia. I Korintus 6:17 berkata, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia”. Inilah perkawinan itu, ketika kita menjadi satu roh dengan Dia. Tetapi sekali lagi, apakah kita telah mengikatkan diri kepada Tuhan, atau masih terikat dengan banyak hal didunia ini?

Matius 25: 1-13 tentang perumpamaan gadis2 bijaksana dan bodoh dapat menjelaskan apa yang sedang kita bicarakan ini. Kita tahu bahwa gadis2 yang bodoh itu tidak siap menyambut mempelai pria, sedangkan gadis2 bijaksana itu siap untuk menyambut kedatangan mempelai pria. Ada satu istilah didalam perikop ini yang harus kita renungkan dengan baik. Ayat 6 berkata, “…Lihat, mempelai pria datang! KELUARLAH ke penyambutannya” (versi ILT). Terjemahan versi Indonesian literal translation (ILT) menggunakan Istilah KELUARLAH yang sangat bagus untuk menjelaskan soal kesiapan mempelai wanita ini. Jika kita membandingkan istilah KELUARLAH ini dengan Wahyu 18:4 maka persoalannya menjadi jelas. Wahyu 18:4 menegaskan agar umat Tuhan KELUAR dari sistem Babel, yang adalah perempuan pelacur. Perempuan pelacur ini bukanlah mempelai Anak Domba. Perkawinan Anak Domba barulah dapat terjadi setelah perempuan pelacur ini dihakimi. Perhatikan Wahyu 19: 2,7 yang berkata, “…karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu (ayat 2)… hari perkawinan Anak Domba telah tiba dan pengantinNya telah siap sedia (ayat 7)”. Jadi, setelah perempuan pelacur ini dihakimi, barulah perkawinan Anak Domba dapat terlaksana.

Apakah maknanya ini bagi Umat Tuhan? Wahyu 18:4 tegaskan agar Umat Tuhan KELUAR dari kekacauan Babel, dari perempuan pelacur, karena mempelai Kristus adalah perawan (II Korintus 11:2 dan Wahyu 14:4). Umat Tuhan harus KELUAR dari program2 ‘Babel’ yang ingin menjadi besar, kesibukan perdagangan dan ambisi kedagingan dunia kekristenan. Segala sesuatu yang membuat kita terlena dan tidak siap untuk menyatu dengan KRISTUS YANG DIDALAM BATIN, haruslah kita tanggalkan.

Sebagai penutup, mari kita melihat kondisi gereja akhir zaman yang disimbolkan oleh gereja Laodikia (Wahyu 3:20). Tuhan Yesus tidak ada didalam gereja ini, sekalipun gereja ini menganggap diri kaya dan tidak kekurangan apa-apa. Tuhan Yesus, sebagai Mempelai Pria, berada diluar mengetok pintu gereja ini. Hai Umat Tuhan… KELUARLAH, sambutlah Tuhan Yesus sebagai mempelai pria… Haleluyah…

Maleakhi 3: 1-3, “Lihat, Aku menyuruh utusanKu, supaya ia mempersiapkan jalan dihadapanKu! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke BaitNya! Malaikat perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam. Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatanganNya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan Diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN”.

Saat ini kita akan membicarakan kedatangan Tuhan sebagai api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Disini dijelaskan bahwa Tuhan datang kedalam BaitNya. Ketika nubuat ini ditulis, memang BaitNya adalah bangunan Bait Suci bangsa Yahudi di Yerusalem. Tetapi penggenapan nubuat ini dalam zaman Perjanjian Baru memiliki makna yang berbeda tentang BaitNya. Dizaman PB, kita tahu bahwa BaitNya adalah Tubuh Kristus. Jadi, nubuat ini akan digenapi dengan datangnya Tuhan kedalam gereja.

Kedatangan Tuhan kedalam gereja bersifat memurnikan dan membersihkan sebagaimana api tukang pemurni logam dan sabun tukang penatu. Tujuan dari pemurnian dan pembersihan ini adalah supaya para pelayan Tuhan dapat menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan. Pada kenyataannya, Bait Suci yang dibangun Salomo, maupun yang dibangun Zerubabel dan dipugar raja Herodes, telah dihancurkan karena banyak terjadi penyembahan berhala diantara imam2, orang Lewi, bahkan Umat Israel sendiri. Juga pada zaman Tuhan Yesus, Bait Suci telah menjadi sarang penyamun karena para pemimpinnya berdagang didalam Bait Suci.

Tubuh Kristus saat ini juga telah pecah menjadi ribuan Denominasi serta terjadi banyak perdagangan seperti pada zaman Bait Suci bangsa Yahudi. Dalam kondisi seperti ini, Tuhan perlu datang seperti api dan sabun yang memurnikan serta membersihkan. Sebelum kita membicarakan hal ini lebih jauh, perlu kita pahami perbedaan melayani Tuhan di alam berkat, karunia2 serta mujizat2, dengan melayani Tuhan dialam yang lebih tinggi dimana para pelayanNya telah melalui api pemurnian.

Jika seseorang melayani Tuhan hanya dialam berkat dan karunia2, maka sangat besar kemungkinannya ia menyalah-gunakan anugerah Tuhan demi uang, jabatan dan popularitas. Para pelayan yang seperti ini tidak akan tahan pada hari penghakiman, seperti tertulis dalam Matius 7:21-23. Tetapi, mereka yang terpanggil untuk diproses lebih jauh oleh Tuhan melalui api pemurnian, tentu para pelayan ini telah belajar mempersembahkan persembahan yang berkenan kepada Tuhan.

Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. Memang banyak yang terpanggil melayani Tuhan dialam berkat dan karunia2, serta menjadi orang2 terkenal didunia kekristenan saat ini, tetapi sedikit yang terpilih untuk diproses lebih jauh oleh Tuhan. Api pemurnian memang tidak menyenangkan secara manusia. Bahkan dikatakan diayat kita diatas bahwa Tuhan DUDUK dan memurnikan. DUDUK itu berarti butuh waktu. Pekerjaan memurnikan itu merupakan suatu proses yang makan waktu, bisa beberapa tahun bahkan belasan atau puluhan tahun. Dibutuhkan kesetiaan dari orang yang terpilih untuk diproses. Demikianlah genap bahwa para pemenang itu adalah mereka yang dipanggil, dipilih untuk diproses lebih jauh dan yang setia didalam proses Tuhan.

Tuhan DATANG kepada mereka yang akan diproses lebih jauh. Tuhan DATANG kepada mereka yang terpilih untuk melalui api pemurnian. Tuhan tidak DATANG nanti “yang kedua kali” seperti dipercaya banyak orang. Tetapi Tuhan DATANG SAAT INI kepada mereka yang terpilih untuk diproses lebih jauh lagi. Jika saat ini Tuhan datang dalam kehidupan kita sebagai api pemurnian, jangan mengeluh sdrku… Jangan bandingkan hidup kita dengan mereka yang hidup mudah, melayani Tuhan dengan berkat2 dan karunia2… Mari kita belajar setia didalam proses Tuhan. Kelak kita akan mempersembahkan korban yang berkenan kepada Tuhan, Haleluyah…

Saat ini kita akan melihat kedatangan Tuhan dalam kuasa kebangkitanNya. Kapan Tuhan datang dalam kuasa kebangkitanNya ? Mari kita melihat I Petrus 1:3, “…yang karena rahmatNya yang besar telah melahirkan kita kembali OLEH KEBANGKITAN YESUS KRISTUS dari antara orang mati…”. Disini kita melihat bahwa kita dilahirkan kembali oleh karena kebangkitan Yesus. Kalau kita terapkan kepada murid2 Tuhan, maka murid2 Tuhan mengalami kelahiran kembali dan menerima hidup (Zoe) ketika Yesus menghembusi murid2 setelah kebangkitanNya (Yohanes 20:22). Hidup Zoe yang diterima murid2 adalah hidup kebangkitan. Ketika Tuhan memberikan hidup kebangkitan kepada murid2, pada waktu itulah Tuhan datang dalam kuasa kebangkitanNya.

Bagi kita, kedatangan Tuhan dalam kuasa kebangkitanNya terjadi ketika kita percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Ketika itulah Tuhan datang kepada kita dalam kuasa kebangkitanNya. Sebelum kita membahas lebih jauh hidup kebangkitan (Zoe) yang kita terima ketika lahir baru, kita perlu membahas ulang apa yang terjadi pada Adam dan Hawa ketika mereka jatuh dalam dosa.

Kepada Adam dan Hawa, Tuhan berfirman bahwa mereka akan mati kalau memakan buah Pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Kita tahu bahwa istilah ‘mati’ dalam teks Ibrani adalah MUT TAMUT, yang seharusnya diterjemahkan ‘dying thou dost die’ (Young’s Literal) atau ‘dying you will die’. Artinya, ketika Adam makan buah terlarang itu, ia langsung mati, dalam arti menerima hayat maut, dan kemudian akan berproses kepada kematian tubuh. Jadi, ketika Adam memakan buah itu, roh dan jiwanya langsung mati karena terputus dengan hidup Zoe yang dilambangkan oleh Pohon Kehidupan, namun tubuhnya mati setelah mengalami proses kematian sejangka waktu. 

Ketika kita lahir baru atau lahir dari Allah, kita menerima hidup Allah yang walaupun masih berupa benih namun akan terus bertumbuh serta menelan maut, seperti ditegaskan dalam II Korintus 5:4. Hidup menelan maut, ini yang terjadi bagi mereka yang memiliki hidup kebangkitan Kristus. Hari lepas hari Tuhan datang dalam kuasa kebangkitanNya, dan hidupNya terus menerus menelan maut sehingga kita mengalami metamorfosis. Metamorfosis adalah suatu perubahan bentuk. Kalau ulat berubah bentuk menjadi kupu2, maka oleh hidup kebangkitanNya, kita berubah bentuk dari manusia fana menjadi manusia yang tidak fana dimana roh, jiwa dan tubuh kita serupa dan segambar dengan Dia.

Sebagai penutup, mari kita perhatikan Filipi 3:20-21, “Karena kewargaan kita adalah didalam sorga, dan DARI SITU JUGA kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuhNya yang mulia, menurut kuasaNya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diriNya”. Ayat ini menegaskan bahwa kewargaan kita ada didalam sorga. Kita adalah warga negara sorga. Oleh hidup kebangkitanNya yang terus bertumbuh didalam kita, maka roh dan jiwa kita semakin sadar bahwa memang kita sudah berada didalam sorga dan sudah menjadi warga negara sorga. Dan DARI SITU JUGA, yaitu dari keberadaan kita yang didalam sorga, kita menantikan Tuhan Yesus mengubah tubuh kita yang fana ini sehingga serupa dengan tubuhNya yang mulia itu. Kita tidak menunggu Tuhan Yesus datang dari sorga ke bumi untuk mengangkat tubuh kita (rapture) ke awan2. Kita sudah ada didalam sorga, dan dari situ kita menantikan Tuhan Yesus yang akan mengubah tubuh kita menjadi serupa dengan tubuhNya… Haleluyah.

Sampai sejauh ini pengertian kita mengenai konsep kedatangan Tuhan bukanlah ‘konsep kedatangan Tuhan yang kedua kali’ seperti yang umum berlaku dikalangan kekristenan saat ini. Dunia kekristenan, pada umumnya, hanya memahami Yesus datang dua kali, yaitu pertama, ketika Ia datang sebagai Anak Domba Allah yang mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia, kemudian Ia akan datang lagi kedua kalinya sebagai hakim yang adil. Tentu pengajaran ini ditambah lagi dengan “keterangkatan”, datangnya antiKristus, kesusahan besar dan lain sebagainya. Para pengajar Alkitab yang mendukung konsep kedatangan Tuhan kedua kali selalu mengaitkan ayat2 mengenai kedatangan Tuhan kepada suatu kejadian dimasa datang yang mereka sebut ‘kedatangan Tuhan kedua kali’.  

Jika konsep kita mengenai kedatangan Tuhan sama dengan konsep yang telah kita uraikan diatas, maka kita sudah kehilangan sangat banyak pengertian kedatangan Tuhan menurut Alkitab. Telah kita bahas sejauh ini bahwa kedatangan Tuhan itu bersifat progresif, artinya berkemajuan. Kedatangan Tuhan adalah past, present, future. Tuhan sudah datang, sedang datang dan akan datang. Tuhan Yesus juga tidak datang secara jasmani, sebagaimana Ia datang pertama kali, karena setelah kebangkitanNya, Ia telah menjadi Roh pemberi hayat dan diam didalam batin kita. Kedatangan Tuhan adalah didalam dan melalui orang2 kudusNya.

Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan sebagai hakim, atau datang dalam penghakiman. Mari kita memeriksa beberapa ayat sebelum kita masuk kedalam pembahasan kita. Yesaya 26:9, “… sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”. II Tesalonika 1:7-10, “… pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diriNya… mengadakan pembalasan terhadap mereka… apabila Ia datang pada hari itu…”. Mazmur 96:13, “… sebab Ia datang untuk menghakimi bumi…”. I Petrus 4:17, “… pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi…”.

Pemahaman banyak orang tentang penghakiman Tuhan adalah sama dengan penghukuman Tuhan. Memang benar apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Tetapi penghakiman Tuhan lebih dari sekedar penghukuman, melainkan bersifat koreksi. Jadi, jika Tuhan datang untuk menghakimi bumi, itu bertujuan agar manusia mengenal kebenaran.

Dan kita lihat bahwa penghakiman itu dimulai didalam rumah Tuhan lebih dahulu. Kita sebagai orang2 kudusNya akan lebih dahulu dihakimi. Apa maksud Tuhan lebih dahulu menghakimi gerejaNya? Agar Tuhan mendapatkan buah sulungNya, para pemenangNya, kemudian melalui buah sulungNya Tuhan akan menghakimi bumi, agar bumi mengenal kebenaran. Yudas 14-15 menegaskan, “… Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudusNya, hendak menghakimi semua orang…”. Penghakiman Tuhan melalui orang2 kudusNya ini akan terus berlangsung sampai Bapa menjadi semua didalam semua, karena tujuan penghakiman itu adalah pemulihan atau restorasi total.

Kapan Tuhan datang sebagai hakim bagi orang2 kudusNya? Ketika seseorang mengalami lahir baru atau lahir dari Roh, pada saat itu ia mulai mengalami penghakiman Tuhan. Koreksi dan didikan Tuhan berlangsung selama hidup orang kudus itu. Jika orang kudus itu memberi respon yang benar terhadap penghakiman Tuhan, maka kelak ia akan memerintah dan menghakimi bersama Tuhan dizaman berikut. Jadi, Tuhan datang sebagai hakim bagi kita ketika kita lahir baru. Dan Ia datang, sedang datang dan akan terus datang sebagai hakim yang mengoreksi dan memulihkan hidup kita. Semoga kita memberi respon yang benar terhadap penghakiman Tuhan dalam hidup kita saat ini, agar dizaman berikut, kita dapat memerintah dan menghakimi bersama dengan Dia menuju pemulihan total, sampai Bapa menjadi semua didalam semua. Amin.

I Tesalonika 4:16-17, “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan”. Istilah KELEUSMA yang diterjemahkan BERSERU, berasal dari kata KELEUO, yang berarti desakan untuk melakukan sesuatu, seruan yang bersifat perintah, teriakan, pekik perang seperti perintah seorang jendral kepada pasukannya. Tuhan sendiri akan turun dari sorga serta meneriakkan suatu kata2 perintah, seperti seorang jendral kepada pasukannya.

Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan didalam pekik perang (shout). Tetapi kita jangan langsung menduga bahwa Tuhan akan datang dari langit jasmani dan meneriakkan pekik perang yang akan didengar oleh semua orang di bumi ini, siapapun juga dia. Tuhan Yesus berkata bahwa domba2Ku mendengarkan suaraKu (Yohanes 10:27). Dunia keagamaan di zaman Yesus (Yudaisme) tidak dapat mendengar suaraNya, bahkan mereka menolak dan membunuh Yesus. Kekristenan saat ini juga telah menjadi dunia (system) dan tentu saja tidak dapat mendengar suara Tuhan dari sorga. Hanya domba2 Tuhan yang mengikut Tuhan kemana saja Ia pergi, domba2 yang tidak terikat oleh berbagai-bagai peraturan organisasi, program2 buatan manusia, hanya domba2 yang memiliki kebebasan untuk mengikut Tuhan, domba2 inilah yang akan mendengar pekik perang dari sang jendral, Tuhan kita Yesus Kristus.

Juga jangan kita menyangka Tuhan turun dari sorga dalam arti langit jasmani dan terlihat oleh semua orang. Kerajaan sorga ada didalam kita. Lukas 17:21, “…sesungguhnya Kerajaan Allah ada didalam (Yun, ENTOS=dalam) kamu”. Jadi, dari dalam batin kita, Tuhan berbicara dan meneriakkan pekik perang agar kita bangkit dan menjadi pemenangNya di akhir zaman ini.

Kapan Tuhan datang dan berbicara kepada kita? Dia datang pertama kali dalam kehidupan kita ketika kita mengalami pengalaman keselamatan. Dia datang dan berbicara mengenai kata2 keselamatan, kata2 pertobatan, kata2 desakan agar kita menanggalkan kehidupan lama kita. Dan Ia terus datang dan berbicara kepada kita saat ini. Mendekati peperangan di akhir zaman ini, Dia berbicara agar para pemenangNya meninggalkan kebisingan dan ambisi2 manusiawi dunia kekristenan, perdagangan di Bait Suci, ajaran2 campur aduk mengenai perpuluhan, buah sulung dan sebagainya. Wahyu 18:4 menegaskan, “… Pergilah kamu, hai UmatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya”. Sudahkah saudara mendengar seruanNya, pekik perangNya, desakanNya agar meninggalkan kekacauan Babel? Domba2 Tuhan pasti mendengar suaraNya… Haleluyah.

Jadi, Tuhan datang, sedang datang dan terus datang serta meneriakkan pekik perang (shout) agar para pemenangNya bangkit menyongsong manifestasi total kerajaan sorga dimuka bumi.

I Tesalonika 4:16, “Sebab dengan suatu seruan, dengan suara p              enghulu malaikat dan dengan bunyi sangkakala Elohim, Dia akan turun dari sorga dan orang-orang yang mati didalam Kristus akan pertama-tama bangkit” (Terjemahan ILT).

Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan, yaitu Dia akan turun dari sorga, dengan suara penghulu malaikat. Jika kita perhatikan terjemahan ILT, dan juga banyak terjemahan2 lainnya, maka dikatakan bahwa Tuhan akan turun dari sorga DENGAN suatu seruan, DENGAN suara 19penghulu malaikat, DENGAN bunyi sangkakala Elohim. Tetapi ini tidak sesuai dengan pengertian aslinya. Bahasa Yunani menggunakan preposisi EN yang berarti DALAM. Jadi, pengertian asli dari ayat ini adalah Tuhan akan turun dari sorga, DALAM suatu seruan, DALAM suara penghulu malaikat, DALAM bunyi sangkakala Elohim. Jadi, Tuhan akan turun dari sorga DALAM suara penghulu malaikat. Artinya, turunnya Tuhan dari sorga ada didalam suara penghulu malaikat.

Sekarang kita perlu memahami siapa penghulu malaikat ini. Kita sudah terbiasa membayangkan malaikat adalah makhluk sorgawi yang memiliki sayap. Ini benar untuk para Serafim dalam Kitab Yesaya 5. Namun, istilah malaikat diterjemahkan dari istilah Yunani AGGELOS, yang berarti UTUSAN. AGGELOS hanya berarti utusan, tanpa tambahan makhluk sorgawi bersayap dan sebagainya. Utusan artinya seseorang yang disuruh membawa suatu pesan. Selain Serafim dan Kerubim, kita akan melihat bahwa malaikat adalah manusia.

Untuk saat ini kita hanya membuktikannya dari kitab Wahyu bahwa malaikat itu adalah manusia. Didalam Wahyu 18:21, ada malaikat yang kuat, dimana malaikat yang sama ini menyatakan identitasnya di pasal 19:10, “Maka tersungkurlah aku didepan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: ‘Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu…”. Saudara-saudara Rasul Yohanes tentu semuanya manusia. Jadi, malaikat yang kuat itu adalah manusia.

Selanjutnya, didalam Wahyu 21:9, ada seorang dari ketujuh malaikat yang diuraikan dalam Wahyu 16:1. Dan malaikat ini mengungkapkan identitasnya didalam Wahyu 22:9, “…Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi…”. Tentu saja saudara Yohanes yang adalah para nabi semuanya manusia.

Kemudian, jika malaikat itu adalah manusia, maka siapakah penghulu malaikat yang dikatakan ayat kita diatas. Didalam zaman PL, Tuhan sering tampil dihadapan UmatNya sebagai Malaikat TUHAN (Hakim-Hakim 6:20, II Samuel 24:16, I Raja-Raja 19:5-7). Didalam Yosua 5:14 tertulis ada seorang laki2 yang adalah panglima bala tentara Tuhan, dan Yosua sujud menyembahNya. Kalau kita membandingkan ayat2 didalam PL dengan ayat2 didalam PB yang berbicara tentara Kristus, maka tentu kita paham bahwa panglima bala tentara Allah ialah Tuhan Yesus Kristus. Itu sebabnya, penghulu malaikat didalam I Tesalonika 4:16 diatas tidak lain adalah Tuhan Yesus Kristus, panglima perang kita.

Sebagai penutup, dikatakan dalam ayat kita diatas bahwa kedatangan Tuhan dari sorga dalam penghulu malaikat itu akan membangkitkan pertama-tama mereka yang mati didalam Kristus. Ini berbicara mengenai buah sulung. Kitalah buah sulung yang akan bangkit lebih dahulu untuk memerintah bersamaNya selama berzaman-zaman sampai Bapa menjadi semua didalam semua.

I Tesalonika 4:16, “Sebab dengan suatu seruan, dengan suara penghulu malaikat dan dengan bunyi sangkakala Elohim, Dia akan turun dari sorga dan orang-orang yang mati didalam Kristus akan pertama-tama bangkit” (ILT). Telah kita ketahui bahwa bahasa Yunani menggunakan preposisi EN yang berarti dalam (IN), sehingga terjemahan yang sesuai dengan pengertian aslinya adalah ‘Dia akan turun dari sorga, DALAM suatu seruan, DALAM suara penghulu malaikat, DALAM bunyi sangkakala Elohim. Artinya, kedatangan Tuhan dari sorga terjadi didalam suatu seruan, didalam suara penghulu malaikat, dan didalam bunyi sangkakala Elohim.

Saat ini kita akan membicarakan kedatangan Tuhan didalam bunyi sangkakala. Apakah maksudnya ‘bunyi sangkakala’? Apakah ini berarti ketika tiba saatnya Tuhan datang, maka semua orang akan mendengar bunyi sangkakala dari langit jasmani? Tentu saja tidak.

Mari kita periksa beberapa ayat yang berbicara mengenai sangkakala. Yesaya 58:1 katakan, “…Angkatlah suaramu seperti sangkakala! Dan perlihatkanlah kepada UmatKu pelanggaran mereka…”. Disini kita melihat suara yang membawa pesan Tuhan disamakan dengan bunyi sangkakala. Dan Mazmur 47:6 menegaskan, “Elohim naik dengan sorak-sorai; Yahweh diiringi bunyi sangkakala”. Ayat ini berbicara ‘Elohim naik dengan sorak-sorai’, yang mengingatkan kita kepada tiang awan dan api yang memimpin Umat Israel di Padang Gurun. Disini ditegaskan bahwa suara Yahweh dalam sorak-sorai sama dengan bunyi sangkakala.  Jadi, dari kedua ayat ini dapatlah kita simpulkan bahwa bunyi sangkakala adalah suara Yahweh yang disampaikan oleh si pembawa pesan.   

Sampai disini dapat kita pahami bahwa kedatangan Tuhan terjadi ketika pembawa pesan menyampaikan pesan2 Ilahi. Artinya, Tuhan datang didalam pesan2 yang disampaikan oleh si pembawa pesan. I Tesalonika 4:16 sering disalah pahami seolah-olah ketika Tuhan datang, maka semua orang akan mendengar suara sangkakala dari langit. Penafsiran ini terjadi karena memahami sangkakala sebagai terompet jasmani yang ditiup dari langit jasmani. Sudah waktunya Umat pilihan Tuhan memahami bahwa Tuhan datang ketika pesan2Nya disampaikan oleh si pembawa pesan.

Kita akan membahas bunyi sangkakala terakhir, yaitu sangkakala ke tujuh yang dibicarakan dalam Wahyu 10:7 dan Wahyu 11:15. Tuhan datang dalam suara sangkakala ke tujuh yaitu ketika kerajaan2 dunia ini menjadi kerajaan Tuhan dan yang diurapiNya (gereja pemenang). Suara sangkakala ini akan menjadi semakin jelas didalam roh Umat pilihanNya menjelang termanifestasinya kerajaan sorga di muka bumi ini. Kedatangan Tuhan yang dibicarakan dalam Wahyu 11:5, dijelaskan secara lebih rinci dalam Wahyu 11:18, yaitu, Pertama, saat bagi orang2 mati untuk dihakimi. Kedua, memberi upah kepada hamba2 Tuhan. Ketiga, untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi. Siapakah yang membinasakan bumi? Wahyu 19:2 mengatakan bahwa yang merusakkan bumi dengan percabulannya adalah perempuan pelacur, yang tidak lain adalah gereja yang telah jatuh oleh pengajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus. Jadi, gereja yang disimbolkan perempuan pelacur yang merusakkan bumi akan dibinasakan. Itu sebabnya dalam Wahyu 18:4, Umat pilihan Tuhan diperintahkan untuk pergi dan keluar dari perempuan pelacur itu. Suara sangkakala agar Umat Tuhan keluar dari perempuan pelacur ini akan semakin keras dan tegas menjelang mendekatnya manifestasi kerajaanNya dimuka bumi ini.

Kesimpulannya adalah bahwa kedatangan Tuhan terjadi didalam suara sangkakala, khususnya, yang telah kita bahas secara ringkas diatas, didalam suara sangkakala terakhir (sangkakala ketujuh). Menjelang manifestasi kerajaan sorga di bumi ini, panggilan Tuhan semakin mendesak didalam roh Umat pilihannya agar tidak mengambil bagian didalam dosa2 perempuan pelacur itu.

I Tesalonika 4:16-17, “Sebab dengan suatu seruan, dengan suara penghulu malaikat dan dengan bunyi sangkakala Elohim, Dia akan turun dari sorga dan orang-orang yang mati didalam Kristus akan pertama-tama bangkit. Kemudian kita yang masih hidup, yang sedang ditinggalkan, AKAN DIANGKAT bersama-sama dengan mereka dalam awan-awan kedalam pertemuan Tuhan di angkasa, dan demikianlah kita akan senantiasa berada bersama Tuhan”.

Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan yang disamakan dengan peristiwa “Rapture (keterangkatan)” dimana kita akan masuk kedalam pertemuan Tuhan di angkasa. Keterangkatan yang diajarkan selama ini adalah peristiwa keterangkatan secara fisik dimasa depan (future physical event). Selanjutnya, diajarkan juga bahwa kita akan diangkat sehingga terhindar dari masa ‘kesusahan besar’ dan masa anti Kristus. Pengajaran “rapture” ini sangat populer walaupun sebenarnya baru dimulai tahun 1800-an. Kita akan meninjau sedikit sejarah pengajaran ini agar kita mengetahui latar belakang apa yang mendorong munculnya ajaran “rapture” ini.

Pada zaman reformasi, Martin Luther menulis bahwa Paus itu adalah anti Kristus, dan juga membuktikannya dari Alkitab. Para reformator lainnya seperti Knox, Calvin juga mengikutinya. Melalui pengajaran para reformator ini Gereja Katolik kehilangan ribuan orang setiap harinya karena mereka setuju dan mengikuti para reformator. Dan tentu saja hal ini menyebabkan pemasukan keuangan Gereja Katolik menurun drastis. Untuk mengatasi persoalan ini, seorang Yesuit, bernama Ribera (1537-1591) mengajarkan bahwa anti Kristus itu akan datang kelak dimasa depan. Seorang imam bernama Cardinal Bellarmine, dan juga seorang Yesuit bernama Lacunza, menolong Ribera untuk memperkenalkan ajaran ini. Pengajaran ini masuk kedalam kalangan Kristen Injili sekitar tahun 1800-an.

Kemudian, Edward Irving, pendiri Gereja Apostolik Katolik, mengajarkan ide ‘rapture’. Edward Irving adalah seorang pelayan Presbiterian yang menerima pengajaran Lacunza. Gereja Edward Irving berada di London, dan dalam suatu kebaktian, Margaret McDonald “bernubuat” mengenai adanya ‘keterangkatan rahasia’. Selanjutnya, J.N. Darby, pemimpin gerakan the Brethren, mengajarkan ide keterangkatan ini dan mempopulerkannya melalui ‘footnotes’ Scofield’s Bible yang sangat terkenal itu. Jadi, ketiga orang ini yaitu, Lacunza, Irving dan Darby, merupakan para pengajar awal yang mempopulerkan ajaran keterangkatan.

Banyak orang tidak menyadari bahwa ajaran keterangkatan dimulai dari usaha seorang Yesuit untuk menyelamatkan Gereja Katolik dari kebangkrutan yang diakibatkan oleh gerakan reformasi. Kemudian “diteguhkan” oleh “nubuat” Margaret McDonald, yang dilanjutkan oleh J.N Darby dengan menjelaskannya dari Alkitab. Jadi pengajaran ‘keterangkatan’ TIDAK DIMULAI DARI PENYELIDIKAN ALKITAB.

Untuk saat ini cukup kita mengetahui sejarah ringkas ajaran keterangkatan. Pada tulisan berikut, kita akan melihat bahwa Alkitab mengajarkan “keterangkatan” spiritual, bukan keterangkatan jasmani seperti yang sangat terkenal saat ini.

I Tesalonika 4:16-17, “Sebab dengan suatu seruan, dengan suara penghulu malaikat dan dengan bunyi sangkakala Elohim, Dia akan turun dari sorga dan orang-orang yang mati didalam Kristus akan pertama-tama bangkit. Kemudian kita yang masih hidup, yang sedang ditinggalkan, AKAN DIANGKAT bersama-sama dengan mereka dalam awan-awan kedalam pertemuan Tuhan di angkasa, dan demikianlah kita akan senantiasa berada bersama Tuhan”.

Pada tulisan yang lalu kita telah membahas secara ringkas sejarah pengajaran ‘rapture’ seperti yang dipahami oleh banyak orang Kristen. Dari sejarah ringkas itu dapatlah kita pahami bahwa ajaran ‘rapture’ yang sangat populer dikalangan Kristen saat ini tidaklah dimulai dari penyelidikan Alkitab yang bertanggung jawab, melainkan dimulai dari usaha seorang Yesuit untuk menghindari tekanan dari para reformator pada waktu itu. Kemudian dilanjutkan dengan suatu ‘penglihatan” dari Margaret McDonald, dan kemudian barulah J.N. Darby mengutip ayat2 Alkitab untuk “membuktikan” semua ajaran ini didalam ‘footnotes’ Scofield’s Bible.

Pengajaran ‘rapture’ yang selama ini dikenal sangat bersifat jasmani, yaitu tindakan evakuasi oleh Tuhan untuk mengangkat orang2 kudusNya dari bumi ini untuk menghindari masa kesusahan besar dan aniaya oleh anti Kristus. Walaupun terdapat berbagai variasi dalam pengajaran ini tetapi pada prinsipnya sama, yaitu mengangkat orang-orang kudus dari muka bumi.

Mari kita melihat lebih dahulu ayat kita diatas. Istilah DIANGKAT, pada ayat kita diatas, berasal dari istilah Yunani HARPAZO, yang mengandung ide suatu tindakan yang dilakukan dengan cepat oleh seseorang dengan keahlian dan kekuatan besar. Istilah ini dipakai Paulus ketika ia menceritakan pengalamannya diangkat ketingkat ketiga dari sorga (II Korintus 12:2). Dari konteksnya kita mengetahui bahwa pengalaman Paulus ini bersifat spiritual, dan bukan jasmani, dalam arti ia diangkat secara jasmani dari muka bumi ini kesuatu “tempat nun jauh disana” yang disebut sorga tingkat tiga. Bukan demikian halnya. Tetapi, Paulus mengalami HARPAZO, dalam arti secara roh, ia diangkat kealam rohani atau dimensi rohani yang lebih tinggi.

Pengalaman Paulus dalam mengalami HARPAZO ini seharusnya menjadi pengalaman kita juga, karena didalam Efesus 2:6, Bapa telah membangkitkan kita dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga. Melalui proses disiplin dan pembentukkan Bapa, kita mengalami HARPAZO, dalam arti roh kita diangkat kedalam dimensi sorgawi, suatu dimensi roh yang lebih tinggi, sekalipun kita masih menjalani kehidupan lahiriah kita di bumi ini. Dalam terjemahan Young’s Literal dikatakan bahwa Bapa, “did seat us together in the heavenly places in Christ Jesus”. Kita “diangkat” dan duduk bersama Kristus dialam atau dimensi roh yang lebih tinggi. Sekalipun dibumi  ini kita mengalami banyak tantangan, namun didalam roh, kita sudah duduk memerintah bersama Kristus. Inilah artinya HARPAZO atau “diangkat” ke alam atau dimensi yang lebih tinggi.

Jadi, kita bukan “diangkat “ secara jasmani dari muka bumi ini ke suatu “tempat nun jauh disana” untuk menghindari kesusahan besar, tetapi kita “diangkat” secara roh kedalam dimensi yang lebih tinggi, sehingga sekalipun kita mengalami kesusahan di bumi ini, kita tetap tampil sebagai pemenang karena kita sudah duduk bersama Kristus di sorga.

Saat ini kita akan berbicara mengenai kedatangan Tuhan dimana ‘kakiNya berjejak di bukit Zaitun’. Mari kita membaca beberapa ayat terlebih dahulu. Zakharia 14:4, “Pada waktu itu kakiNya akan berjejak di bukit zaitun yang terletak didepan Yerusalem disebelah timur…”. Yesaya 66:1, “Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhtaKu dan bumi adalah tumpuan kakiKu…”. Yesaya 60:13, “… sebab Aku hendak memuliakan tempat kakiKu berjejak”.

Pada umumnya, mereka yang menganut ajaran kedatangan Tuhan yang KEDUA KALI, memahami Zakharia 14:4, sebagai firman Tuhan yang akan digenapi secara literal, artinya kaki Tuhan Yesus, yang dibayangkan seperti kaki seorang laki2 berusia 30 tahun, akan benar-benar berjejak di bukit Zaitun. Apakah benar demikian?

Mari kita perhatikan Yesaya 66:1, yang mengatakan ‘bumi adalah tumpuan kakiNya’. Saya yakin tidak ada seorangpun yang membayangkan bahwa kaki Tuhan yang “jasmani” berjejak dibumi ini. Semua kita paham bahwa itu bahasa figuratif, artinya bersifat kiasan. Makna ayat itu adalah  Tuhan memerintah dari sorga, sementara bumi adalah tempat dimana otoritas Tuhan berlaku atau bekerja. Demikian juga Yesaya 60:13, bukan berarti Tuhan memuliakan tempat dimana kaki “jasmaniNya” berjejak, melainkan memuliakan tempat dimana kekuasaanNya bekerja.

Demikian juga dengan Zakharia 14:4, tidaklah berarti kaki “jasmani” Yesus turun dari sorga dan berjejak di bukit Zaitun. Surat Korintus katakan bahwa Tuhan adalah Roh, dan bahwa Adam yang akhir adalah Roh pemberi hidup. Jadi, kita jangan membayangkan Tuhan Yesus seperti laki2 berusia 30-an yang memang pernah berjalan-jalan di tanah Israel yang berdebu itu 2000 tahun yang lalu.

Saat ini Yesus Kristus adalah kepala gereja, dimana gereja adalah tubuhNya. Kaki Yesus Kristus adalah ‘bagian Tubuh Kristus’ diakhir zaman ini. Kelompok “kaki” Kristus inilah yang diakhir zaman akan berjejak di bukit Zaitun. Jika “kaki” merupakan bahasa kiasan, maka bukit Zaitun juga merupakan kiasan. Didalam Alkitab, minyak zaitun digunakan untuk lampu tabernakel Elohim. Zaitun merupakan sumber terang, dan bukit merupakan kiasan dari kerajaan, sehingga bukit Zaitun berbicara tentang kerajaan terang, kerajaan Kristus yang akan datang dibumi ini.

Kedatangan kerajaan Kristus dimuka bumi ini terjadi oleh kelompok “kaki”, yaitu para pemenangNya diakhir zaman ini. Bapa sedang mempersiapkan dan mendewasakan Tubuh Kristus diakhir zaman ini, yaitu bagian “kakiNya”. Bagian “kakiNya” inilah yang akan dimanifestasikan diakhir zaman ini untuk mendatangkan dan menegakkan kerajaanNya dimuka bumi ini. Haleluyah…. Bersiaplah putra2 Elohim… kedatangan Kerajaan Kristus adalah didalam dan melalui engkau… Amin.

Yohanes 14:1-3, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Dirumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentulah Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi kesitu untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi kesitu dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ketempatKu, supaya ditempat dimana Aku berada, kamupun berada”.

Saat ini kita akan membicarakan kedatangan Tuhan dengan maksud membawa kita kedalam diriNya. Kedatangan Tuhan bukanlah untuk membawa kita ke “sorga”, dengan pengertian suatu tempat atau lokasi geografis tertentu nun jauh disana dengan jalan2nya yang dari emas, dimana kita akan bernyanyi selama-lamanya. Tuhan juga tidak datang untuk mengangkat kita agar kita tidak mengalami masa kesusahan besar atau masa “anti-kristus’, tetapi Tuhan datang dan membawa kita KEDALAM DIRINYA SENDIRI.

Untuk memahami hal ini, kita harus lebih dahulu paham apa maksud Yesus, dalam ayat kita diatas, tentang ‘pergi kesitu’. Yesus berkata bahwa Ia akan ‘pergi kesitu’ untuk menyediakan tempat bagi kita. Kalau kita melihat konteks Yohanes pasal 13 sampai 17, tidak satu kalipun Yesus berkata tentang sorga. Maksud Yesus ‘pergi kesitu’ untuk menyediakan tempat bagi kita adalah PERGI KEPADA BAPA (Yohanes 13:1,3; 14:12,28; 16:5,28). Jadi Yesus pergi kepada Bapa melalui kematian, kebangkitan dan kenaikanNya. Kemudian Yesus dan Bapa datang kembali kepada murid2 dan membuat tempat tinggal bersama-sama (Yohanes 14:23). Istilah Yunani ‘tempat tinggal’ di dalam Yohanes 14:2, sama dengan yang ada didalam Yohanes 14:23, yaitu MONE. Jadi, Rumah Bapa adalah “tempat” dimana Bapa dan Tuhan Yesus tinggal dan berdiam didalam murid2. Rumah Bapa adalah kita (Ibrani 3:6). Kita adalah bait Roh.

Kita harus selalu mengingat perkataan Tuhan bahwa Ia adalah jalan, kebenaran dan hidup, dan bahwa tidak ada seorangpun sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Yesus. Kita sudah terbiasa berpikir soal ‘rumah Bapa’ sebagai tempat atau lokasi geografis tertentu di alam semesta ini. Yesus tidak pernah berbicara soal tempat seperti itu. Ia selalu berbicara soal hubungan pribadi. Jalan itu adalah pribadi Yesus, destinasi itu juga pribadi, yaitu pribadi Bapa.

Ketika Yesus berkata kepada murid2 bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka yatim piatu, dan bahwa Ia akan datang kembali, banyak orang Kristen berpikir mengenai kedatanganNya yang kedua kali, yang sampai saat ini belum digenapi. Bahkan banyak orang beranggapan bahwa penghibur yaitu Roh Kudus yang datang pada hari Pentakosta, itu bukanlah penggenapan janji Yesus kepada murid2, bahwa Ia akan datang lagi. Hanya sesaat Yesus meninggalkan murid2. Ia datang kembali sebagai Roh Kudus. Jangan salah memahami PARAKLETOS. Banyak orang melakukan kekeliruan akar kata. Parakletos dipahami sebagai ‘para’, yaitu disisi, dan ‘kaleo’, yaitu memanggil, sehingga parakletos berarti seseorang yang dipanggil mendampingi untuk menolong. Pemahaman ini tidak sesuai dengan konteks Yohanes pasal 14 s/d 16 yang sedang kita bahas. Parakletos dalam konteks Yohanes 14-16 adalah YESUS YANG LAIN. Roh Kudus adalah pribadi yang meneruskan pelayanan dan kehadiran pribadi Tuhan Yesus. Jadi ketika Yesus berjanji kepada murid2 akan datang kembali, maka Ia benar2 datang didalam pribadi PARAKLETOS.

Janji Yesus untuk datang kepada murid2 sudah digenapi. Yesus sudah datang dalam Roh Kudus dan membawa murid2 KEDALAM BAPA. Saat ini juga Tuhan Yesus sudah datang kedalam kita dan membawa kita kepada Bapa. Tidak perlu kita menunggu-nunggu Tuhan Yesus datang dari langit jasmani dan membawa kita ke suatu tempat yang kita sebut “rumah Bapa”. Semoga Umat pilihan Tuhan sadar bahwa Tuhan Yesus sudah datang sebagai PARAKLETOS (Yesus yang lain) kedalam kita dan membawa kita kepada Bapa. Amin

Bangsa Yahudi sampai saat ini terus menantikan kedatangan Mesias yang mereka harapkan akan membebaskan bangsa Yahudi dari segala musuh disekitarnya, membangun Bait Suci, dan membawa kedamaian bagi seluruh dunia, dimana bangsa Yahudi sebagai ‘kepala’ dan bangsa2 lainnya sebagai ‘ekor’. Konsep mereka tentang Mesias sebagai pemimpin politik, ekonomi, bahkan panglima perang, disebabkan pemahaman mereka bahwa Mesias adalah anak Daud. Sebagaimana Daud, demikianlah Mesias, walaupun Yesus telah mencoba meluruskan konsep mereka ketika Ia mengatakan bahwa Daud menyebut Mesias sebagai tuannya (Matius 22:42-45). Yesus mencoba menjelaskan bahwa kerajaan Mesias ada di alam yang lebih tinggi dari pada kerajaan Daud; kerajaan Mesias adalah kerajaan sorga. Tetapi mereka tetap menolak Yesus yang datang sebagai anak tukang kayu dan tidak berpendidikan, walaupun Yesus telah mengadakan begitu banyak mujizat didepan mata mereka.

Kasus yang sama dapat terjadi didalam dunia kekristenan saat ini. Pada umumnya, orang Kristen percaya bahwa Yesus akan datang kedua kali secara jasmani untuk mengangkat gerejaNya dan membawa kesuatu tempat nun jauh disana, yang mereka sebut rumah Bapa atau sorga. Ketika Tuhan Yesus datang KEPADA, DENGAN, dan DIDALAM orang2 kudusNya, seperti yang akan kita bahas saat ini, maka mereka tidak menerimaNya. Banyak orang Kristen tidak menyambut kedatangan Tuhan karena konsep mereka yang bersifat jasmani itu.

Mari kita melihat beberapa ayat untuk menjelaskan kedatangan Tuhan KEPADA, DENGAN, dan DIDALAM orang2 kudusNya.

Didalam Yohanes 14:23 ada tertulis, “Jawab Yesus: ‘Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”. Young’s Literal menterjemahkannya, “…unto (KEPADA) him We will come…”. Menurut konteksnya, kedatangan Tuhan terjadi pada hari raya Pantekosta, ketika Bapa dan Tuhan Yesus datang didalam pribadi Parakletos.

Sementara itu, kedatanganNya DENGAN orang2 kudusNya tercatat didalam Yudas 14, “ Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: ‘Sesungguhnya Tuhan datang DENGAN beribu-ribu orang kudusNya”. Hal ini sesuai dengan II Tesalonika 1:7, “…pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan DiriNya bersama-sama DENGAN malaikat-malaikatNya...”. Kita tahu istilah Yunani AGGELOS berarti utusan, yaitu ORANG yang diutus Tuhan.

II Tesalonika 1:10, “apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan diantara orang-orang kudusNya…”. Istilah ‘diantara’ berasal dari preposisi EN dalam bahasa Yunani yang harus diterjemahkan DIDALAM. Jadi, Tuhan Yesus datang dan dimuliakan DIDALAM orang2 kudusNya. Wahyu 3:20, menegaskan, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya…”. Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘masuk’ diayat ini adalah kata kerja EISERCHOMAI, yang berarti to go in, come in. Artinya, Tuhan Yesus masuk KEDALAM orang yang membukakan pintu. Paulus juga mengatakan bahwa ia berkenan menyatakan AnakNya DIDALAM aku (Galatia 1:16). Jadi, Tuhan datang melalui RohNya dan masuk kedalam batin orang2 kudusNya.

Telah kita lihat bahwa Tuhan datang dalam tiga dimensi, yaitu KEPADA, DENGAN, dan DIDALAM orang2 kudusNya. Jika kita tetap memiliki konsep kedatangan Tuhan kedua kali yang jasmani, maka kita tidak akan menyambut, menerima atau memberi respon yang benar terhadap kedatanganNya. Semoga Umat pilihanNya semakin sadar dan memberi respon yang benar terhadap kedatanganNya.

Dalam Wahyu 3:3 tertulis, “Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu”. Lukas 12:40 berkata, “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan”.

Sekarang kita akan mengakhiri seri pembahasan kita dengan suatu tema ‘kedatangan Tuhan sebagai pencuri’. Didalam Wahyu 3:3 kita melihat peringatan Tuhan untuk menerima, mendengar, menuruti, bahkan bertobat serta berjaga-jaga supaya kedatangan Tuhan bagi kita tidak seperti pencuri yang tiba-tiba datang, sehingga kita tidak bisa merespon dengan benar dan menyambut kedatanganNya. Kita diminta selalu siap sedia seperti dikatakan dalam Lukas 12:40 diatas.

Dalam kasus bangsa Israel kita melihat bagaimana mereka gagal menyambut Tuhan Yesus sebagai Mesias. Ketika Tuhan datang ke Yerusalem mengendarai seekor keledai, Tuhan menangisi kota itu dan berkata, ”…betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu “ (Lukas 19:42). Israel gagal menyambut Yesus sebagai Mesias, dan sebagai akibatnya Yerusalem dikepung dan dihancurkan oleh tentara Roma pada tahun 70 M, kemudian Israel dibuang sebagai bangsa selama hampir 2000 tahun lamanya. Bagi bangsa Israel, Tuhan Yesus benar-benar datang sebagai “pencuri”. Mereka tidak siap menyambutNya.

Memang Tuhan Yesus datang seperti pencuri bagi mereka yang tidak berjaga-jaga dan yang juga memiliki konsep yang salah tentang kedatangan Tuhan. Israel menantikan Mesias yang mereka pahami sebagai anak Daud, dan karenanya Mesias haruslah seorang panglima perang, ahli politik, ekonomi yang akan membawa bangsa Israel kezaman keemasannya. Tetapi Tuhan Yesus datang sebagai Anak Manusia yang tidak memiliki kemegahan duniawi yang akan mendirikan kerajaan sorga didalam batin setiap orang yang menerimaNya. Tuhan mau memerintah segala sesuatu dimulai dari batin manusia. Inilah yang tidak dipahami oleh bangsa Israel, dan karenanya mereka gagal menyambut sang Mesias.

Barangkali, didunia kekristenan saat ini juga Tuhan Yesus akan datang seperti pencuri, dan banyak orang Kristen tidak siap menyambutNya. Karena konsep yang keliru, banyak orang Kristen menantikan Tuhan Yesus datang dari langit jasmani dan mengangkat gerejaNya ke suatu tempat nun jauh disana untuk menghindari kesusahan besar yang akan menimpa bumi. Mereka menantikan kedatangan Tuhan secara jasmani, yang mereka sebut, “kedatangan Tuhan yang kedua kali”. Hal ini tidak akan terjadi, saudaraku, karena Tuhan sudah, sedang dan terus datang didalam batin kita untuk mewahyukan DiriNya, sampai kita semua menjadi serupa dan segambar dengan Dia.  

Mari kita bahas sedikit tentang istilah ‘berjaga-jaga’. Ada lima istilah berbeda dalam Bahasa Yunani yang diterjemahkan ‘berjaga-jaga’ dalam banyak versi terjemahan Alkitab. Dua diantaranya, yaitu TEREO dan PARATEREO, bermakna berjaga-jaga dalam arti fokus kepada objek tertentu. Prajurit yang berjaga-jaga didepan salib Yesus, dan orang2 Farisi yang mengawasi Yesus apakah Ia melakukan mujizat pada hari Sabat, menggunakan kedua istilah diatas. Tetapi kedua istilah diatas, yaitu berjaga-jaga sebagai tindakan jasmani terhadap fokus tertentu, tidak pernah digunakan untuk kedatangan Tuhan.

Istilah berikut adalah NEPHO. Dalam I Petrus 4:7, istilah ini diterjemahkan ‘tenang’ (LAI). Sebenarnya istilah ini bermakna ‘sober mind’, yaitu berperilaku lebih serius dan menilai dengan tepat.

Dua istilah terakhir berikut, yaitu GREGOREO dan AGRUPNEO, lebih sering digunakan untuk menasihati agar ‘berjaga-jaga’ terkait kedatangan Tuhan. Kedua istilah ini berarti ‘sadar, terbangun, jangan terlena/lengah, bangkit’. Ketika Tuhan Yesus di taman Getsemani berharap murid2Nya berdoa dan berjaga-jaga, maka istilah ini yang muncul disana.

Jadi, terkait kedatangan Tuhan, kita bukan saja harus sadar, terbangun, jangan terlena dan bangkit, TETAPI JUGA HARUS MEMILIKI KONSEP YANG TEPAT TENTANG KEDATANGAN TUHAN. Semoga Umat Pilihan Tuhan senantiasa berjaga-jaga sebab Tuhan sudah, sedang, dan akan datang kedalam batin kita, baik melalui perkara senang atau susah, untuk mengubah kita menjadi serupa dan segambar dengan Dia. Amin.    

 

Comments

Popular posts from this blog

Kerajaan Sorga Menurut Kitab Wahyu.

Jabatan Dalam Gereja