Gereja Setelah Covid-19
Gereja
Setelah Covid-19
Oleh:
Irnawan Silitonga
Tulisan ini
sambungan dari tulisan sebelumnya dengan tema ‘Konsep Ibadah setelah Covid-19’
tetapi dengan tema yang diperluas. Sebelum kita masuk kepada pengertian Gereja,
kita mutlak perlu paham bahwa Gereja telah jatuh. Tubuh Kristus telah tercabik2
menjadi ribuan denominasi (organisasi gereja). Jika kita tidak melihat ini,
kita tidak mungkin paham apa itu gereja.
Banyak Teolog
mengatakan bahwa gereja itu ada yang kelihatan (Visible Church) dan ada yang
tidak kelihatan (Invisible Church). Yang kelihatan itu, mereka katakan adalah
ribuan denominasi atau organisasi gereja, sedangkan yang tidak kelihatan adalah
semua anak2 Tuhan yang telah lahir baru. Ini akal2an Teolog. Mereka tidak
berbicara dan berpikir SEPERTI YANG ALKITAB KATAKAN. Alkitab jelas katakan bahwa
Gereja telah jatuh dan di Kitab Wahyu ada 2 perempuan yang menjadi simbol
gereja, yang satu dipasal 12 yang adalah mempelai Kristus, sedangkan yang kedua
ada dipasal 17 yang adalah perempuan pelacur. Nanti kita akan sampai kepada
penjelasan yang cukup rinci mengenai dua perermpuan ini yang menjadi simbol
gereja. Dari penjelasan dipasal 12 dan 17 ini kita DAPAT MENGIDENTIFIKASI
KONDISI GEREJA SAAT INI. Sudah waktunya Umat Tuhan sadar dan jangan mau
dibodohi dengan ucapan2 Teolog walaupun sudah diterima berabad-abad lamanya.
Covid-19 ini memang membongkar segala sesuatunya…
Alkitab katakan
dengan jelas melalui Paulus bahwa setelah kepergiannya, akan datang serigala
ganas yang tidak menyayangkan jemaat dan akan bekerja melalui beberapa penatua
(pemimpin jemaat) dan akan MENARIK MURID2 KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI… bagaimana
caranya? DENGAN AJARAN PALSU… (Kisah Para Rasul 20:29-30). Hal ini telah
DIGENAPI… Gereja telah dicabik-cabik menjadi ribuan organisasi (Denominasi)…
Ada 5000 organisasi yang besar2… kalau dihitung sampai yang kecil2 akan ada
puluhan ribu… Kalau gelas sudah pecah menjadi ribuan keping, apakah masih dapat
dikatakan bahwa pecahan2 itu adalah gelas?
Jadi, sejak
gereja menjadi berkeping-keping, Tuhan memanggil PARA PEMENANGNYA untuk
merepresentasikan (mewakili) gereja sebagai garam dan terang dunia. Itulah yang
dibahas dalam Kitab Wahyu pasal 2 dan 3. Kita akan sampai pada penjelasan ini
nanti…
Jadi, sdrku,
saat ini sudah waktunya Umat Tuhan melihat apa yang sedang Tuhan kerjakan bagi
gerejaNya, khususnya melalu i Covid-19 ini. Beberapa “hamba Tuhan” berbicara
soal pembangunan Tubuh Kristus… sadarkah mereka bahwa Tubuh Kristus telah
hancur berkeping-keping? Sadarkah mereka bahwa jangan2 mereka adalah salah
satunya yang menjadi penyebab Tubuh Kristus pecah…Kita sudah membahas pada
tulisan yang lalu spirit NIKOLAUS, IZEBEL dan BILEAM yang dapat merasuki bahkan
hamba2 Tuhan sekelas Ignatius (117 M.) ?
Saya akan
mengakhiri tulisan ini sebagai pendahuluan…. Semoga Umat Tuhan tidak mudah
tertipu… Haleluyah.
Pada tulisan
yang lalu, kita sudah tegaskan bahwa gereja telah jatuh. Kejatuhan gereja
diuraikan dalam Kitab Wahyu 2-3, yaitu karena tiga ajaran (Nikolaus, Izebel,
Bileam). Saat ini kita akan berbicara soal istilah AJARAN. Bahwa jika sesuatu
telah menjadi ajaran, maka ia tidak dapat diubah lagi…
Dalam kitab
Wahyu 2-3 kita melihat bagaimana sesuatu yang awalnya hanya berupa PERBUATAN
kemudian berkembang menjadi AJARAN. Dalam Wahyu 2:6, terdapat hanya PERBUATAN
pengikut2 Nikolaus, tetapi dalam Wahyu 2:15, telah berkembang menjadi AJARAN
pengikut Nikolaus. Dari PERBUATAN menjadi AJARAN itu membutuhkan waktu. Awalnya
hanya perbuatan beberapa orang, kemudian menjadi perbuatan banyak orang,
kemudian para pemimpin merumuskannya menjadi suatu ajaran. Jika telah menjadi
suatu AJARAN, maka sudah dianggap BENAR, dan biasanya tidak dipertanyakan lagi…
Saya beri
beberapa contoh sesuatu didalam dunia kekristenan yang telah menjadi AJARAN.
Misalnya, perpuluhan. Perpuluhan telah menjadi ajaran. Banyak Umat Tuhan melakukannya,
dan para pemimpin telah merumuskannya, bahkan menulis dan mengkhotbahkannya
dengan penuh keyakinan. Kita tidak membahas ajaran perpuluhan. Saya telah
membuat suatu video tentang perpuluhan dan membuktikannya dari Alkitab bahwa
itu ajaran ngawur… tetapi banyak Umat Tuhan tetap percaya perpuluhan. Mengapa?
Karena telah menjadi AJARAN…
Demikian juga
ajaran tentang gereja, yaitu ‘Visible Church’ dan Invisible Church’, yang telah
saya singgung pada tulisan terdahulu. Ini telah menjadi ajaran. Para pemimpin
telah menuliskannya dan juga mengkhotbahkannya dengan yakin… Semoga setelah
selesai tulisan ini, sdr bisa mempertimbangkannya dan melihat bahwa ajaran
Visible dan Invisible Church sungguh keterlaluan…Mengapa? Karena dengan ajaran
ini maka PERPECAHAN DALAM DUNIA KEKRISTENAN MENDAPAT PEMBENARANNYA… Padahal
kita tahu jelas bahwa perpecahan itu disebabkan adanya SERIGALA GANAS yang
menyerang beberapa pemimpin sehingga mereka menarik murid2 kepada diri mereka
sendiri.
Demikianlah baik
perpuluhan maupun Visible/Invisible Church telah menjadi ajaran. Tidak mungkin
kedua ajaran ini dicabut dari dunia kekristenan. Siapa yang tidak setuju hanya
dapat KELUAR DARI SISTEM AJARAN INI. Saudara tidak mungkin lagi merubah kedua
ajaran ini… Itu sebabnya jika Tuhan bekerja dan memberikan PEWAHYUAN YANG BARU,
Dia melakukannya DILUAR SISTEM YANG ADA. Kalau sdr meneliti gerakan didalam
kekristenan, maka sdr akan melihat bahwa “anggur yang baru” tidak dapat
ditempatkan kedalam “kirbat yang lama”.
Apa hubungannya
fakta2 diatas dengan apa yang sekarang Tuhan izinkan terjadi, yaitu Covid-19
ini ? Saya percaya melalui Covid-19 ini ADA SUATU GERAKAN BARU DIDALAM GEREJA…
tetapi sdr harus KELUAR dari sistem ajaran lama dan mengikut Tuhan terus…
Berjalan maju dalam pimpinanNya… Biarkan mereka yang masih betah dan nyaman
dengan ajaran2 lama mereka… Tuhan memanggil KELUAR para pemenangNya… Kedatangan
Tuhan sudah mendekat… Bangkitlah hai para pemenang… Haleluyah…
Pada tulisan
yang lalu kita telah tegaskan bahwa melalui Covid-19 ini ADA SUATU GERAKAN BARU
DIDALAM GEREJA… Saat ini kita akan berbicara mengenai pergerakan baru, atau
lebih umum lagi, suatu perjalanan iman.
Kita akan
melihat contoh Abraham sebagai bapa orang beriman. Kita tahu ketika Tuhan
memanggilnya, ia berada di Ur Kasdim dan perintah Tuhan tegas bahwa ia harus
meninggalkan rumahnya. Tetapi pada kenyataannya, Abraham pergi dari Ur Kasdim
bersama bapaknya, bahkan Lot juga. Abraham mentaati Tuhan tidak sepenuhnya.
Seharusnya ia pergi dari Ur Kasdim dengan tidak bersama ayahnya maupun Lot.
Terbukti nanti kedua orang ini menimbulkan masalah dalam perjalanan iman
Abraham.
Kita tahu bahwa
terjadi pertengkaran antara gembala2 Abraham dan gembala2 Lot sehingga keduanya
harus berpisah. Kita tidak bicarakan perpisahan Abraham dengan Lot. Kita akan
bicarakan perpisahan Abraham dengan bapaknya. Setelah mereka berangkat dari Ur
Kasdim menuju tanah Kanaan, karena kepemimpinan berada ditangan Terah (bapak
Abraham), maka mereka BERHENTI di Haran… Perjalanan iman Abraham terhenti… dan Tuhan
harus memanggil pulang Terah (meninggal) agar Abraham dapat kembali melanjutkan
perjalanan imannya menuju Tanah Perjanjian.
Apa yang kita
pelajari dari semua ini ? Mengikut Tuhan adalah sebuah perjalanan. Kita tidak
seharusnya “ber-fellowship dengan Terah”, sehingga kita berhenti di tengah
perjalanan iman kita. Tentu kita dapat memahami bahwa Terah menetap di Haran
karena rasa aman. Perjalanan pada waktu itu mengandung bahaya2, selain perampok
juga ketidak-nyamanan2 lainnya. Ketika mereka menetap di Haran, kekayaan mereka
bertambah. Tetapi sekali lagi, mengikut Tuhan ADALAH SUATU PERJALANAN… jangan
kita berhenti ditengah jalan apapun alasannya. Setelah Covid-19 ini, kita
percaya Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang baru bagi gerejaNya… Jangan
karena “zona nyaman”, kita berhenti ditengan jalan. Tetapi para pemenang pasti
bergerak mengikuti pergerakan Tuhan…
Selanjutnya,
kita akan melihat perjalanan hidup Yonatan, anak Raja Saul, yang memiliki
hubungan dengan Daud, bahkan telah membuat suatu perjanjian dengannya. Yonatan
tahu pasti bahwa raja Saul telah ditolak dan bahwa Daud telah diurapi
menggantikannya, dan Yonatan juga yakin bahwa ia akan menjadi orang kedua
dibawah Daud, jika nanti Daud telah menjadi raja.
Tetapi ada
masalah besar disini. Yonatan tidak mau meninggalkan raja Saul, dan tentunya
juga istananya dengan segala kemewahannya… Ketika Yonatan tahu bahwa Saul
berniat membunuh Daud, ia hanya memberitahukannya, kemudian berkata, “…pergilah
dengan selamat…” (I Samuel 20:42). Seharusnya Yonatan pergi bersama Daud dan
mengalami kesusahan2 bersama Daud karena dikejar-kejar Saul sehingga harus lari
dari satu gua ke gua yang lainnya. Bukankah Saul juga hendak membunuh Yonatan?
(ayat 33). Kalau demikian, mengapa Yonatan tetap tinggal bersama Saul? Barangkali
karena hubungan jasmaninya dengan Saul (ayah kandungnya), bisa juga karena
alasan2 keamanan…
Kemudian kita
lihat lagi ketika Daud terus dikejar-kejar Saul, Yonatan berusaha menguatkan
kepercayaan Daud akan Tuhan dan mengingatkan adanya perjanjian diantara mereka…
(I Samuel 23:16-18). Tetapi tertulis di ayat 18 bahwa setelah menguatkan Daud,
ia PULANG KERUMAHNYA… Disinilah masalah itu… Kemudian ketika Daud menjadi raja
sesuai janji Tuhan…kemana Yonatan??? Yonatan mati BERSAMA SAUL.
Pelajaran apa
yang dapat kita ambil dari kedua contoh perjalanan diatas? Sdrku…mengikut Tuhan
bukanlah main2… Kita harus rela memutuskan fellowship dengan orang2 yang
“berbeda panggilan” siapapun juga dia… Kita harus rela membayar harga
ketidak-nyaman-an… Saya yakin, sdrku, melalui Covid-19 ini TUHAN SEDANG
MELAKUKAN PERGERAKAN BARU…Tuhan sedang melakukan sesuatu yang baru bagi
gerejaNya… Yesaya 43 :19 katakan, “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru,
yang SEKARANG sudah tumbuh, BELUMKAH KAMU MENGETAHUINYA ?...”.
Semoga para
pemenangNya bangkit diakhir zaman ini… Haleluyah…SALAM PERGERAKAN, SDRKU…
Pada tulisan
yang lalu telah kita tegaskan bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu yang baru
bagi gerejaNya melalui datangnya Covid-19 ini. Yesaya 43:19 katakan, “Lihat,
Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang SEKARANG sudah tumbuh, BELUMKAH KAMU
MENGETAHUINYA ?...”. Kalau Tuhan membuat suatu pergerakan yang baru dalam dunia
kekristenan, tentu ada pergerakan yang lama. Bagaimana kita menjelaskan
pergerakan yang baru ini, yang kita yakini sudah Tuhan perbuat dengan datangnya
Covid-19 ini, sementara itu pergerakan yang lama tetap berlangsung? Hal inilah
yang akan kita bahas pada tulisan kita kali ini.
Untuk
menjelaskan perkara ini kita perlu mengulangi cerita tentang Yonatan yang sudah
kita singgung sebelumnya. Kita akan melihat perjalanan hidup Yonatan, anak Raja
Saul, yang memiliki hubungan dengan Daud, bahkan telah membuat suatu perjanjian
dengannya. Yonatan tahu pasti bahwa raja Saul telah ditolak dan bahwa Daud
telah diurapi menggantikannya, dan Yonatan juga yakin bahwa ia akan menjadi
orang kedua dibawah Daud, jika nanti Daud telah menjadi raja.
Tetapi ada
masalah besar disini. Yonatan tidak mau meninggalkan raja Saul, dan tentunya
juga istananya dengan segala kemewahannya… Ketika Yonatan tahu bahwa Saul
berniat membunuh Daud, ia hanya memberitahukannya, kemudian berkata, “…pergilah
dengan selamat…” (I Samuel 20:42). Seharusnya Yonatan pergi bersama Daud dan
mengalami kesusahan2 bersama Daud karena dikejar-kejar Saul sehingga harus lari
dari satu gua ke gua yang lainnya. Bukankah Saul juga hendak membunuh Yonatan?
(ayat 33). Kalau demikian, mengapa Yonatan tetap tinggal bersama Saul?
Barangkali karena hubungan jasmaninya dengan Saul (ayah kandungnya), bisa juga
karena alasan2 keamanan…
Kemudian kita
lihat lagi ketika Daud terus dikejar-kejar Saul, Yonatan berusaha menguatkan
kepercayaan Daud akan Tuhan dan mengingatkan adanya perjanjian diantara mereka…
(I Samuel 23:16-18). Tetapi tertulis di ayat 18 bahwa setelah menguatkan Daud,
ia PULANG KERUMAHNYA… Disinilah masalah itu… Kemudian ketika Daud menjadi raja
sesuai janji Tuhan…kemana Yonatan??? Yonatan mati BERSAMA SAUL. Yonatan mati
bersama Saul karena ia tidak rela memutuskan hubungannya dengan Saul dan
bergerak bersama Daud.
Cerita diatas
dapat menjelaskan pergerakan baru yang sudah Tuhan mulai dengan datangnya
Covid-19 ini. Covid-19 ini benar2 luar biasa. Pola ibadah lama di gedung
terhenti seketika. Melalui anjuran pemerintah, semua kegiatan dilakukan dirumah
termasuk ibadah. Ibadah dirumah-rumah menjadi pola ibadah baru. Tetapi, justru
disini kita dapat mengidentifikasi mana pergerakan lama, mana pergerakan baru.
Para pemimpin jemaat yang mengadakan ibadah online/live Streaming dengan maksud
KEMBALI KE POLA IBADAH LAMA sebelum covid-19, tentu dengan menarik persembahan
berupa perpuluhan atau yang lainnya, membuktikan mereka ada didalam pergerakan
lama. Berbeda dengan para pemimpin jemaat yang juga mengadakan acara2 pembinaan
secara online dengan maksud MEMPERLENGKAPI Jemaat agar pada gilirannya jemaat,
atau lebih tepat, para bapa membangun gereja dirumah mereka masing2, maka para
pemimpin jemaat ini berada didalam pergerakan yang baru.
Pergerakan Saul
adalah pergerakan lama, sedangkan pergerakan Daud adalah pergerakan baru.
Kembali kita kepada kisah Yonatan… Pada saat sekarang ini juga ada “Yonatan2”
yang sudah memahami bahwa pergerakan Saul sudah menjadi pergerakan agamawi saja
sedangkan pergerakan Daud adalah pergerakan yang baru dan segar karena Tuhan
menyertainya… Semoga para “Yonatan” ini mengambil langkah tegas dengan
meninggalkan pergerakan Saul dan SEPENUHNYA masuk kedalam pergerakan Daud.
Semoga saat ini tidak ada “Yonatan2” yang kakinya yang satu ada didalam
pergerakan Saul dan kaki yang satunya lagi ada didalam pergerakan Daud…
Puji
Tuhan…sekalipun saat ini pergerakan Daud masih “dikejar-kejar” Saul, tetapi ada
saatnya, sesuai janji Tuhan bahwa pergerakan Daud akan memerintah bersamaNya…Amin.
Wahyu 1:6,
tegaskan bahwa, “dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi
imam2 bagi Allah, BapaNya, bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai
selama-lamanya. Amin.” Ayat diatas menjelaskan apa yang sedang Tuhan Yesus
perbuat kepada gerejaNya yaitu menjadikan gerejaNya sebagai imam2 dan raja2,
menjadi suatu KINGDOM. Sebenarnya, menjadikan kita suatu kerajaan memang sudah
menjadi rencanaNya sejak semula. Ditaman Eden kita sudah melihat bahwa Tuhan
merencanakan agar manusia dapat menaklukkan segala sesuatu, dengan cara
membangun sebuah KELUARGA, membangun sebuah KINGDOM. Itulah sebabnya I Petrus
2:9 katakan, “Tetapi kamulah…imamat yang rajani…”. Artinya, imam2 dan
raja-raja… jadi, melatih UmatNya agar berfungsi sebagai imam2 dan raja2 merupakan
pekerjaan Tuhan dizaman ini, sebab pada zaman berikut, Tuhan akan mendirikan
kerajaanNya dibumi ini.
Tetapi
sebagaimana telah kita bahas sebelumnya bahwa gereja telah jatuh, karena ajaran
NIKOLAUS, BILEAM, dan IZEBEL, maka Tuhan berkerja melalui PARA PEMENANGNYA
(Wahyu 2-3). Tidak semua anggota gereja, yang sudah lahir baru tentunya, akan
memerintah dizaman berikut.
Sekarang kita
akan bahas mengapa Tuhan mengizinkan Covid-19 ini terjadi sehingga UmatNya
tidak dapat beribadah di gedung. Pada tulisan yang lalu (Konsep Ibadah Setelah
Covid-19) juga telah kita bahas bagaimana hampir disemua “Gedung” terdapat
semangat Nikolaus, Izebel dan Bileam, serta berbagai2 peraturan mulai dari
peraturan perpuluhan, buah sulung serta peraturan2 organisasi/agamawi lainnya.
Umat Tuhan tidak terfokus kepada Kristus yang ada didalam batin mereka…terlalu
banyak hal2 luaran yang dihasilkan “gedung2” tersebut. Rata-rata “Gedung”
mengkhotbahkan ‘PERJANJIAN BERKAT’ (ada hukum perpuluhannya tentu), yang bukan
PL maupun PB. Dalam kondisi “gedung” seperti itu, bagaimana Tuhan dapat bekerja
menghasilkan imam2 dan raja2 yang harus MANDIRI dalam firman dan roti juga
tentunya. Memang rata2 “Gedung” terlalu menarik perhatian… baik pengkhotbahnya
maupun para pemimpinnya barangkali…
Covid-19 ini
benar2 MEMUTUS Umat Tuhan dengan “Gedung” sehingga Tuhan dapat bekerja
menghasilkan imam2 dan raja2 dirumah mereka masing2… Pada tulisan yang sebelum
ini (no. 4), kita telah mencoba mengidentifikasi pergerakan Saul dan Daud. Para
pemimpin yang mengadakan Ibadah online dengan maksud MENARIK murid2 kembali ke
“POLA IBADAH GEDUNG”, tentu dengan menarik persembahan ini dan itu, adalah
mereka yang berada didalam “pergerakan Saul”. Tetapi para pemimpin jemaat yang
mengadakan ibadah online dengan maksud MEMPERLENGKAPI murid2 agar menjadi imam2
dan raja2, yang dimulai dari rumah mereka masing2, menjadi mandiri dalam
firman… para pemimpin jemaat ini berada dalam “pergerakan Daud”.
Para pemimpin
Jemaat dalam pergerakan Daud ini tidak mengambil uang sepeserpun dari jemaat
untuk diri mereka sendiri maupun untuk pelayanan mereka, walaupun mereka berhak
untuk mendapat dukungan, karena telah menabur berkat rohani…mereka tidak
digaji, mereka tidak makan dari “meja Izebel”…mereka hidup dari “meja Elia”,
kebutuhan mereka terpenuhi kadang2 dari “burung gagak”, kadang2 dari seorang
“janda Sarfat” atau “membuat tenda” seperti Paulus. Para pemimpin jemaat dalam
pergerakan Daud adalah orang2 yang mengabdi kepada jemaat dan sama sekali tidak
ambil uang dari jemaat apalagi memperkaya diri melalui pelayanannya…
Mudah sekali
membedakan siapa yang ada dalam pergerakan Saul dan siapa yang berada dalam
pergerakan Daud… UANG…UANG…UANG…MAMON…MAMON…MAMON …ITULAH YANG MEMBEDAKANNYA…
Saul ambil PAJAK DARI UMAT ISRAEL….DAUD tidak, sdrku…
Kembali kita
kepada soal imam2 dan raja2. Saya punya keyakinan yang barangkali bisa salah
juga…bahwa sangat sulit orang menjadi imam2 dan raja2 dihadapan Tuhan dengan
bercokol dalam “gedung” yang kondisinya seperti diuraikan diatas, walaupun
10-20 bahkan 30 tahun lamanya…
Sebagai
penutup…coba kita lihat kaitan antara KELUARGA dan KINGDOM pada tulisan ini
diatas… Covid-19 ini membuat keluarga dan kingdom menjadi dekat… Semoga melalui
Covid-19 ini bangkit imam2 dan raja2 didalam konteks KELUARGA…dalam konteks
RUMAH… Haleluyah.
Tulisan kita
kali ini berbicara tentang para pemenang, karena kita telah tahu bahwa gereja
telah jatuh oleh karena ajaran Nikolaus, Izebel dan Bileam. Didalam kitab Wahyu
pasal 2-3, Tuhan memanggil para pemenangNya, yaitu orang2 yang barangkali
sederhana saja tetapi tidak dicemari oleh semangat Nikolaus, Izebel dan
Bileam.
Kita juga sudah
berbicara mengenai pergerakan Saul dan pergerakan Daud, dan juga kita telah
sangat paham tentang cerita Goliat, seorang tentara Filistin yang menantang
pasukan Israel yang dipimpin Saul (I Samuel 17). Goliat adalah tentara Filistin
dengan badan besar, senjata lengkap dan memang sejak muda sudah menjadi
tentara. Karenanya, tidak seorangpun dari tentara Saul yang berani menghadapi
Goliat. Selama 40 hari, pagi dan petang, Goliat turun mendekati tentara Saul
dan menantang satu lawan satu, namun tak satupun tentara Saul berani
menghadapinya, termasuk Saul tentunya.
Tetapi ketika
Daud tiba dimedan tempur dan melihat bagaimana Goliat menantang tentara Israel,
maka ia berkata kepada Saul bahwa ia akan menghadapi Goliat yang telah
mencemooh tentara Elohim. Saul sangat ragu dengan Daud karena penampilannya
yang masih muda dan tidak memiliki senjata lengkap. Itu sebabnya Saul
memberikan peralatannya agar dipakai Daud untuk melawan Goliat. Tetapi Daud
tidak dapat menggunakan senjata Saul… Daud seorang yang mengandalkan Tuhan dan
memiliki senjatanya sendiri… Daud hanya membawa tongkat, lima batu serta umban.
Dan dengan senjatanya sendiri, Daud menghantam Goliat roboh…
Apa kaitannya
antara cerita Daud dengan para pemenang yang telah kita singgung diatas? Para
pemenang adalah orang2 yang barangkali berpenampilan sederhana, tidak
meyakinkan seperti penampilan Daud, namun telah merobohkan “Goliat2” dalam
kehidupannya.
Kita telah
berbicara tentang pergerakan Saul dan menerapkannya kepada kondisi gereja
setelah Covid-19 ini. Kita juga telah mencoba mengidentifikasi orang2 yang
mendukung pergerakan Saul ini. Mereka adalah orang2 yang cenderung ingin
kembali ke pola ibadah lama, pola “ibadah Gedung” dengan segala peraturan2
organisasinya dan tentu saja berbagai jenis persembahan2nya juga. Pergerakan
Saul ini tentu memiliki “persenjataan” lengkap. Barangkali selain Gedung,
mereka memiliki alat musik canggih, pengkhotbah terkenal, para singer
profesional…dsb…dsb… Semua itu sah-sah saja sepanjang “ibadah gedung” itu
MEROBOHKAN GOLIAT… tetapi, jujur saja, dengan merajalelanya semangat Nikolaus,
Izebel dan Bileam dalam banyak “ibadah Gedung” yang ada… saya gak yakin bisa
menghantam Goliat…
Bagaimana dengan
ibadah rumah yang barangkali sangat sederhana, tanpa pengkhotbah terkenal,
tanpa alat musik canggih, tanpa persembahan apapun tentunya… Persoalannya bagi
kita adalah…jangan2 ibadah rumah yang sederhana ini justru MEROBOHKAN “GOLIAT”…Suatu
kali Watchman Nee mengikuti ibadah di Inggris yaitu ibadah dari pergerakan
Brethren pada saat itu. Ketika ditanya tentang suasana ibadah Brethren, Nee
menjawab baik…baik…tetapi perlahan-lahan menggelengkan kepalanya dan berkata
bahwa ibadah itu tidak baik untuk menghantam Setan di China… Semoga “ibadah
rumah” kita cukup baik untuk menghantam setan2 di Indonesia ini…
Tuhan telah
memakai Covid-19 ini agar Umat Tuhan menilai ulang apakah “ibadah2 Gedung”
selama ini dapat menghantam Goliat… Semoga Umat Tuhan dipimpin kepada penilaian
yang tepat dan benar… Amin.
Kita masih
mencoba membandingkan pergerakan Saul dan pergerakan Daud dalam kaitannya
dengan kondisi gereja setelah Covid-19 ini. Kita yakin bahwa ada suatu
pergerakan baru yang sedang Tuhan kerjakan didalam gerejaNya melalui Covid-19
ini, sebab peristiwa Covid-19 bukanlah peristiwa kecil, remeh dan dapat
diabaikan begitu saja. Seluruh dunia mengalami dampaknya, dan gereja Tuhan juga
mengalaminya. Ibadah tidak dapat dilakukan di gedung lagi, dan kita tidak tahu
apakah Covid-19 ini akan berakhir dengan cepat atau lambat, atau bahkan
barangkali virus ini akan tetap ada dibumi. Jadi, kita dapat dengan yakin
mengatakan bahwa ada gerakan baru didalam gereja Tuhan setelah Covid-19 ini.
Kita sudah mencoba
mengidentifikasi apa itu pergerakan Saul dan apa itu pergerakan Daud. Mereka
yang mencoba tetap mempertahankan pola ibadah lama di gedung dengan segala
peraturan2 organisasinya serta dengan berbagai-bagai jenis persembahannya,
pendeknya mempertahankan kondisi sebelum Covid-19 ini merupakan gambaran dari
orang2 kristen dalam pergerakan Saul. Tetapi orang2 kristen yang ada dalam
pergerakan Daud adalah orang2 yang mencoba memahami apa maksud Tuhan dengan
adanya Covid-19 ini, bukan menghardiknya. Tidak berharap Covid-19 cepat selesai
namun berharap cepat memahami maksud Tuhan dan terus mengikuti pimpinan Tuhan
selanjutnya.
Ada satu ayat
yang perlu kita renungkan saat ini, “…Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga
Saul kian lama kian lemah.” (II Samuel 3:1). Kalau kita terapkan ayat ini pada
pembahasan kita, maka mereka yang mencoba mempertahankan pola ibadah lama
dengan segala aturan2nya akan menjadi semakin lemah. Perlu ditegaskan disini
bahwa kita tidak sedang bernubuat, tetapi kita sedang mencoba memahami
pergerakan Tuhan selanjutnya setelah Covid-19.
Dalam Yohanes
16:13 ada tertulis, “…Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang”.
Jadi, kita tidak sedang menerka-nerka apa yang akan terjadi pada orang2 didalam
pergerakan Saul, tetapi kita sedang mencoba memahami maksud Roh Kudus melalui
semua ini, karena salah satu pekerjaan Roh Kudus disebutkan disini adalah
memberitahu kita mengenai hal2 yang akan terjadi didepan… kita perlu memahami
maksud dari pergerakan Roh Kudus agar kita bisa menentukan arah langkah kita
berikutnya.
Mengenai
pergerakan Daud dikatakan bahwa ‘Daud kian lama kian kuat’. Daud adalah seorang
yang menghadirkan kerajaan Yahweh bagi Umat Israel. Dizaman ini, pergerakan
Daud memang sesuai dengan maksud Tuhan untuk menegakkan kerajaanNya dibumi ini.
Itu sebabnya ‘Daud kian lama kian kuat’.
Kita tidak
membangun kerajaan kita sendiri… Kita tidak membangun organisasi kita sendiri…
Kita hanya memperlengkapi Umat Tuhan agar dapat berfungsi sebagai raja2 dan
imam2 agar siap menyambut kedatangan Tuhan sebagai Raja diatas segala raja…
Jadi, sdrku,
mari kita bangkit untuk terus mengikuti pimpinan Roh. Jangan kita dengan tegar
memaksa keadaan agar kembali seperti sebelum adanya Covid-19. Bergeraklah maju
DALAM PERGERAKANNYA… jangan dalam pergerakan lama kita…Sekali lagi, sdrku,
SALAM PERGERAKAN….
Sebelum
melanjutkan pembahasan ini perlu ditegaskan lagi bahwa kita sedang mencoba
memahami pergerakan Tuhan selanjutnya setelah Covid-19. Pada tulisan yang lalu
kita sudah tegaskan bahwa Tuhan sedang dan telah melakukan sesuatu yang baru
bagi gerejaNya melalui Covid-19 ini, suatu “pergerakan Daud”, suatu pergerakan
Roh Kudus…
Saat ini kita
akan membahas mengenai kedatangan Tuhan yang sudah semakin mendekat ini.
Melalui Covid-19 ini banyak anak Tuhan yang disadarkan akan sudah dekatnya
kedatangan Tuhan. Tetapi diperlukan beberapa pemahaman mengenai kedatanganNya
sebelum kita dapat mengambil langkah2 untuk mempersiapkan diri dan
menyambutNya. Perlu ditegaskan disini bahwa kita tidak membicarakan tanda-tanda
kedatangan Tuhan. Kita juga tidak membicarakan mengenai antiKristus. Kita
membicarakan kondisi gereja setelah Covid-19 dalam kaitannya dengan mendekatnya
kedatangan Tuhan.
Untuk
memperjelas permasalahan ini, kita akan membahas peristiwa kembalinya bangsa
Yahudi dari pembuangan di Babel. Seperti kita ketahui, tidak semua bangsa
Yahudi kembali pulang ke Yerusalem dari pembuangan di Babel. Jadi, ada dua
komunitas Umat Tuhan, yaitu yang berada di Babel dan yang berada di Yerusalem.
Kita tahu bahwa sesuai dengan nubuat nabi2, maka Mesias akan datang di Yerusalem.
Mesias yang dinanti-nantikan bangsa Yahudi tidak akan datang ke Babel.
Demikian juga
dengan kondisi gereja Tuhan. Tidak semua Umat Tuhan berada pada posisi yang
tepat untuk menyambut kedatangan Tuhan. Jika Umat Tuhan berada di “Babel”, maka
tidak ada gunanya membicarakan kedatangan Tuhan karena Tuhan tidak akan datang
kesana.
Setelah Covid-19
ini, kondisi Umat Tuhan, juga para pelayanNya, semakin dibukakan Tuhan… Kita
sudah membahas mengenai pergerakan Saul dan pergerakan Daud, dan diharapkan
kita semakin jelas mengenai kondisi gereja setelah Covid-19. Pada tulisan2
berikutnya, kita juga akan membicarakan kedua perempuan yang merupakan simbol
gereja di Kitab Wahyu (pasal 12 dan pasal 17), dan diharapkan juga semakin
memperjelas pembicaraann kita. Semua ini kita lakukan agar Umat Pemenang
bangkit dan berbenah diri untuk menyambut kedatanganNya yang semakin mendekat
ini.
Sebagai penutup
tulisan kita saat ini, kita akan mengutip Ezra 1:5, “Maka berkemaslah
kepala-kepala kaum keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta para imam
dan orang-orang Lewi, yakni setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk
berangkat pulang dan mendirikan rumah Tuhan yang ada di Yerusalem”. Kita lihat
disini bahwa mereka yang mau pulang dari Babel ke Yerusalem untuk mendirikan
rumah Tuhan adalah orang2 yang hatinya digerakkan Tuhan. Mengapa harus
digerakkan Tuhan supaya mau kembali ke Yerusalem? Karena perjalanan pada waktu
itu mengundang banyak bahaya, baik perampok maupun bahaya2 alam lainnya.
Sementara mereka di Babel sudah cukup nyaman setelah tinggal selama kurang
lebih 70 tahun. Mereka sudah memiliki rumah, kebun, harta benda dan sudah
beranak-cucu. Hanya sedikit saja yang pulang ke Yerusalem untuk menggenapi
kehendak dan rencana Tuhan bagi UmatNya.
Demikian juga
saat ini, hanya sedikit orang yang mau meninggalkan zona nyaman mereka dan
bergerak dalam pergerakan Tuhan selanjutnya. Kebanyakan Umat Tuhan ingin
kembali kedalam kondisi sebelum Covid-19 karena disitulah zona nyaman mereka,
tetapi Tuhan izinkan Covid-19 ini mengguncang Umat Tuhan agar Umat pemenang
bangkit meninggalkan zona nyaman mereka untuk maju bergerak dalam pergerakkan
Tuhan selanjutnya… Haleluyah… Amin
Pembahasan kita
tetap terfokus pada kondisi Umat Tuhan setelah Covid-19 ini, secara khusus
apakah Umat Tuhan siap untuk menyambut kedatanganNya yang sudah semakin
mendekat ini. Kita sudah membicarakan mengenai pergerakan Tuhan selanjutnya
dengan mengambil contoh2 pergerakan yang terjadi di Israel, baik yang kita
sebut ‘pergerakan Daud’ maupun ‘pergerakan Umat Israel yang kembali dari
pembuangan Babel’.
Mengenai
pergerakan Umat Israel yang kembali dari Babel, selain untuk membangun Bait
Suci (rombongan Zerubabel 536 SM), rombongan Ezra memulihkan komunitas Yahudi
yang kembali dari Babel dengan berpedoman pada Taurat (458 SM), juga rombongan
Nehemia untuk membangun tembok (445 SM), sesungguhnya kembalinya mereka ke
Yerusalem adalah juga karena pengharapan akan datangnya Mesias.
Ada kekecewaan
bangsa Yahudi yang kembali dari pembuangan dimana mereka menghadapi situasi
yang tidak mereka sangka. Pembangunan Bait Suci terhenti selama kurang lebih 14
tahun, karena masalah2 ekonomi dan juga tantangan dari penduduk sekitar. Mesias
yang mereka harapkan akan membangun kembali kerajaan bagi Israel ternyata tidak
kunjung tiba. Sebagian berharap pada Zerubabel, karena dibangkitkan oleh
nubuat2 nabi Hagai, tetapi ternyata tidak terjadi.
Perlu dipahami
bahwa pemulihan Umat Tuhan yang terjadi pada waktu itu adalah karena perintah
raja2 Persia yaitu Koresh, Darius dan Arthasasta. Memang perintah raja2 Persia
ini bersifat politis. Raja2 ini berharap agar pemerintahannya didoakan oleh
orang2 yang dipulangkan ke Yerusalem (Ezra 6:10). Jadi, disini kita lihat bahwa
Tuhan menggunakan pemerintahan dunia untuk pemulihan Umat Tuhan.
Kembali kita
kepada pengharapan Umat Tuhan akan Mesias. Setelah pada zaman Zerubabel, Ezra
dan Nehemia berlalu, termasuk nabi2 yang bernubuat dizaman itu yaitu Hagai,
Zakharia serta Maleakhi, dan Mesias yang
dinantikan tidak datang juga, maka berlalulah suatu masa dimana tidak ada suara
kenabian selama 400 tahun (biasa disebut ‘Silent Years’). Dan tiba2 Yohanes
Pembaptis tampil di Padang Gurun serta kemudian Yesus menjalankan ministriNya
dengan proklamasi bahwa Ia adalah Mesias yang dinantikan itu.
Kita tahu cerita
selanjutnya dimana bangsa Israel tidak menerima Yesus sebagai Mesias mereka dan
bahkan menganggap Yesus menghujat Elohim karena menyebut diriNya Anak Elohim.
Kemudian mereka menyalibkanNya melalui tangan Pilatus, bangsa Roma yang pada
saat itu berkuasa. Sampai saat ini bangsa Yahudi tetap menantikan Mesias yang
dalam pemikiran mereka adalah seorang pemimpin jasmani yang akan membangun Bait
Suci jasmani, membebaskan bangsa Israel dari musuh2 jasmani, dan membawa
perdamaian kepada dunia dimana Israel sebagai kepala dan bangsa2 lain sebagai
ekor.
Apa yang dapat
kita pelajari dari semua peristiwa ini? Pertama, pemulihan Bait Suci dapat saja
terjadi melalui tangan pemerintah2 dunia ini. Dalam kasus bangsa Yahudi,
pemerintahan bangsa Persia yang dipakai Tuhan. Dalam kasus Covid-19 ini tentu
Tuhan sudah memakai pemerintahan Jokowi untuk memulihkan gerejaNya. Apakah kita
sadar bahwa perintah Jokowi untuk beribadah dirumah saja adalah suatu bentuk
pemulihan bagi gerejaNya? Karena kita telah membahasnya bahwa hampir disetiap
gedung gereja terdapat semangat Nikolaus, Izebel, Bileam. Kalau Jokowi
memerintahkan ibadah dirumah karena virus Corona, tentu kita seharusnya paham
bahwa ibadah dirumah lebih baik karena banyak gedung telah tercemar oleh virus
Nikolaus, Izebel, Bileam.
Kedua, bangsa
Yahudi berharap Mesias mereka adalah seorang pemimpin politik, ekonomi dan
panglima perang yang bersifat jasmani, sementara Yesus datang membangun Bait
Suci spiritual, memulihkan kerajaan spiritual… Israel gagal mengenali Mesias
mereka karena mereka sangat bersifat jasmani. Kita dapat menduga juga bahwa
mayoritas orang kristen gagal mengenali kedatangan Tuhan karena berharap
kedatanganNya bersifat jasmani. Mengenai kedatangan Tuhan akan kita bahas
selanjutnya….
Kita teruskan
pembahasan kita mengenai kedatangan Tuhan. Seperti telah kita bicarakan pada
tulisan yang lalu bahwa bangsa Israel yang pulang kembali dari Babel tetap
menantikan Mesias yang mereka pahami sebagai pemimpin yang akan membangun Bait
Suci jasmani, membangun kerajaan Israel jasmani, memimpin dunia dimana Israel
sebagai kepala dan bangsa2 lain sebagai ekor. Dan ketika Tuhan Yesus datang
sebagai Mesias yang membangun Bait Suci tetapi bersifat spiritual (orang2
percaya), kerajaan spiritual (kerajaan sorga), dan membebaskan Israel bukan
dari tangan bangsa Roma yang berkuasa pada waktu itu namun membebaskan Israel
dari kuasa dosa, maka bangsa Yahudi
tidak bisa menerima Yesus sebagai Mesias mereka. Mereka tidak bisa menerima
Yesus sebagai Mesias karena konsep mereka yang bersifat jasmani.
Saat ini,
mayoritas orang Kristen juga memiliki konsep yang bersifat jasmani terkait
kedatangan Tuhan. Mereka berharap Yesus datang secara jasmani dan mendirikan
kerajaanNya yang jasmani dan berpusat di Yerusalem. Konsep kedatangan yang
bersifat jasmani ini adalah hasil dari pengajaran2 yang pada umumnya diajarkan
di ‘Gedung2” gereja. Tak dapat disangkal bahwa memang pengajaran “gedung”
gereja sangat bersifat jasmani. Teologi sukses yang hampir menguasai pengajaran
“gedung2” gereja adalah pengajaran jasmani. Perjanjian yang diajarkan di
“gedung” gereja juga pada umumnya bukan PL (untuk orang Israel) maupun PB
(untuk gereja dan yang bersifat batiniah), tetapi PERJANJIAN BERKAT ( yang
bersifat campuran dan bersifat jasmani). Dalam kondisi Umat Tuhan yang terus
menerus diajarkan PERJANJIAN BERKAT seperti ini tidak heran kalau mayoritas
Umat Tuhan memegang konsep jasmani mengenai kedatangan Tuhan. Kita tidak
membahas kedatangan Tuhan terlalu jauh pada kesempatan ini. Saya mencoba menyertakan
sebuah video berupa seminar tentang kedatangan Tuhan pada tulisan ini.
Diharapkan
setelah melihat video ini, kita dapat memahami bahwa istilah Yunani PAROUSIA
berarti KEHADIRAN, yang artinya seseorang bisa BERADA DISUATU TEMPAT ATAU HADIR DISUATU TEMPAT tanpa harus datang
secara fisik ketempat tersebut. Dan inilah yang terjadi pada peristiwa
pencurahan Roh Kudus. Sebenarnya, pencurahan Roh Kudus itu adalah KEDATANGAN
TUHAN hanya bukan kedatanganNya secara fisik. Kalau kita teliti ayat2 di kitab
Yohanes pasal 14, dapatlah kita pahami perkataan Tuhan Yesus kepada murid2Nya
bahwa Ia akan datang kembali sesaat lagi (ayat 18). Bahwa Tuhan tidak
meninggalkan mereka yatim piatu. Hanya sesaat saja Tuhan meninggalkan murid2Nya
kemudian Ia datang lagi dalam bentuk ROH KUDUS, penghibur yang lain. Yang lain
dalam istilah Yunani disini berarti berbeda manifestasi tetapi sama. Jadi,
pencurahan Roh Kudus itu adalah kedatangan Tuhan yang bersifat spiritual, tidak
bersifat kedatangan fisik atau jasmani.
Kembali kita
kepada kondisi Umat Tuhan setelah Covid-19 ini. Telah disebutkan terdahulu
bahwa perintah Jokowi untuk beribadah dirumah sebenarnya adalah cara Tuhan
untuk memulihkan gerejaNya. Mengapa? Dengan beribadah dirumah diharapkan Umat
Tuhan dapat memikirkan kembali makna ibadah yang sejati itu, makna mengikut
Tuhan yang sejati itu. Hiruk pikuk pengajaran jasmani yang menguasai hampir
disemua “gedung2” gereja yang ada perlu dihentikan dahulu, agar Umat Tuhan,
khususnya para bapa, dapat merumuskan makna spiritual dari segala sesuatunya.
Kondisi Umat
Tuhan setelah adanya Covid-19 ini yang memaksanya beribadah dirumah sebenarnya
suatu kesempatan bangkitnya para pemenang. Umat pemenang yang bersifat
spiritual. Yang menantikan Tuhan datang secara spiritual juga…
Kita teruskan
pembahasan kita mengenai kedatangan Tuhan. Seperti telah kita ketahui,
mayoritas orang Kristen memiliki konsep yang bersifat jasmani terkait
kedatangan Tuhan. Mereka berharap Yesus datang secara jasmani dan mendirikan
kerajaanNya yang jasmani dan berpusat di Yerusalem. Konsep kedatangan yang
bersifat jasmani ini adalah hasil dari pengajaran2 yang pada umumnya diajarkan
di ‘Gedung2” gereja. Tak dapat disangkal bahwa memang pengajaran “gedung”
gereja sangat bersifat jasmani. Teologi sukses yang hampir menguasai pengajaran
“gedung2” gereja adalah pengajaran jasmani. Perjanjian yang diajarkan di
“gedung” gereja juga pada umumnya bukan PL (untuk orang Israel) maupun PB
(untuk gereja dan yang bersifat batiniah), tetapi PERJANJIAN BERKAT ( yang
bersifat campuran dan bersifat jasmani). Dalam kondisi Umat Tuhan yang terus
menerus diajarkan PERJANJIAN BERKAT seperti ini tidak heran kalau mayoritas
Umat Tuhan memegang konsep jasmani mengenai kedatangan Tuhan, sama seperti
konsep mereka mengenai kesuksesan dan yang lainnya. Kita akan membahas
kedatangan Tuhan yang tertulis dalam Roma 8:19-21.
“Sebab dengan
sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena
seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya
sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam
pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan
kebinasaan dan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Roma
8:19-21). Ayat2 diatas berbicara sangat jelas tentang pemulihan segala sesuatu.
Dikatakan bahwa SELURUH MAKHLUK menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan
(dimanifestasikan, ditampilkan), untuk
suatu maksud. Apakah maksudnya? Agar makhluk itu sendiri (konteksnya SELURUH
MAKHLUK) DIMERDEKAKAN. Dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan.
Bagaimana
caranya dan kapan dimulainya pembebasan seluruh makhluk dari perbudakan
kebinasaan? Pembebasan dimulai ketika anak-anak Allah ditampilkan
(dimanifestasikan, dinyatakan). Dan untuk mengetahui caranya seluruh makhluk
dimerdekakan, ada baiknya kita lihat surat Yudas 14-15, “…sesungguhnya TUHAN
DATANG dengan beribu-ribu orang kudusNya hendak MENGHAKIMI SEMUA ORANG…”.
Banyak orang menghubungkan istilah MENGHAKIMI hanya dengan penghukuman, tetapi
Yesaya 26:9 katakan bahwa menghakimi juga dimaksud agar orang mengenal
kebenaran. Sama seperti penghakiman Covid-19 ini, dimaksudkan agar bumi
mengenal kebenaran. Jadi, pemulihan seluruh makhluk itu dimulai KETIKA TUHAN
DATANG dengan beribu-ribu orang kudusNya (anak-anak Allah), dimana anak-anak
Allah ini akan menghakimi SELURUH MAKHLUK agar SELURUH MAKHLUK MENGENAL
KEBENARAN. Kalau kedatangan Tuhan ini kita kaitkan dengan Kitab Wahyu 5:10,
maka anak-anak Allah yang dimaksud itu adalah imam2 dan raja2 yang akan
memerintah dibumi.
Jadi, saat ini
Tuhan sedang mempersiapkan anak-anakNya agar dapat berfungsi sebagai imam2 dan
raja2 untuk membebaskan ciptaanNya dizaman-zaman berikut. KEDATANGAN TUHAN YANG
KITA BICARAKAN DISINI ADALAH KEDATANGANNYA DIDALAM DAN MELALUI ANAK2NYA, BUKAN
KEDATANGAN YESUS SECARA JASMANI. Covid-19 ini merupakan cara Tuhan untuk
mempersiapkan anak-anakNya agar dapat berfungsi sebagai imam2 dan raja2.
Kembali kita
kepada kondisi Umat Tuhan setelah Covid-19 ini. Telah disebutkan terdahulu
bahwa perintah Jokowi untuk beribadah dirumah sebenarnya adalah cara Tuhan
untuk membangkitkan para pemenangNya, imam2 dan raja2. Mengapa? Dengan
beribadah dirumah diharapkan Umat Tuhan dapat memikirkan kembali makna ibadah
yang sejati itu, makna mengikut Tuhan yang sejati itu. Hiruk pikuk PENGAJARAN
JASMANI yang menguasai hampir disemua “gedung2” gereja yang ada PERLU
DIHENTIKAN DAHULU, agar Umat Tuhan, khususnya para bapa, dapat merumuskan makna
spiritual dari segala sesuatunya, terutama makna spiritual kedatanganNya.
Kita kembali
merenungkan kondisi Umat Tuhan setelah Covid-19. Kali ini kita akan
membicarakan panggilan para pemenang dan mengaitkannya dengan kondisi dimana
Umat Tuhan “dipaksa” beribadah dirumah saja.
Kita telah
banyak membahas kejatuhan gereja, baik dengan melihat pembicaraan Paulus kepada
para penatua Efesus di Miletus (Kis. 20:29-30), maupun dengan menguraikan tiga
ajaran sesat (Nikolaus, Izebel, Bileam) yang telah menyebabkan Tuhan memanggil
para pemenangNya untuk mewakili (representative) gereja sebagai garam dan
terang dunia (Wahyu 2-3).
Siapakah para
pemenangNya dizaman ini? Kita jangan cepat2 menilai bahwa mereka adalah orang2
yang sangat terkenal didunia kekristenan, para pengkhobah hebat dengan jadwal
super sibuk, para pembicara KKR dengan karunia kesembuhan Ilahi…dsb…dsb… Kalau
kita melihat di kitab Wahyu pasal 2 dan 3, maka kita dapat mengambil kesimpulan
bahwa para pemenang adalah orang2 yang tidak mengambil bagian dalam kejatuhan
gereja. Di kitab Wahyu 2-3, kita bisa melihat bahwa kejatuhan gereja itu disebabkan
masalah karakter dan ajaran. Untuk masalah karakter, hanya Tuhan yang dapat
melihat apakah seseorang itu bertumbuh dalam Kristus atau tidak. Tetapi untuk
masalah ajaran, kita dapat menduga bahwa mereka2 yang mengajarkan ajaran
Nikolaus, Bileam maupun Izebel adalah orang2 terkenal atau para pemimpin
didunia kekristenan. Jadi, jangan karena seseorang itu terkenal, kita langsung
membayangkan bahwa ia adalah pemenang. Barangkali, para pemenangNya adalah
orang2 sederhana, tidak terlalu dipandang oleh dunia kekristenan, pendeknya ia
tidak berada “di- panggung kekristenan”.
Suatu kali
Watchman Nee berbicara mengenai para pemenang ini. Nee pernah berkata jika anda
ingin tahu siapa orang yang mengenal Tuhan itu, jangan cari ditempat-tempat
terkenal…Maksudnya, orang yang mengenal Tuhan itu biasanya tidak berada
“dipanggung kekristenan”. Perkataan ini bukan tanpa dasar. Kalau kita melihat
orang2 yang ditolak Tuhan pada hari penghakiman, nampaknya mereka ini orang2
terkenal dengan banyak karunia2… orang2 yang berada “dipanggung kekristenan”
(Matius 7:21-23).
Barangkali kita
perlu memperhatikan kesaksian Billy Graham didalam Otobiografinya (Jilid 2, hal
391-431). Disana Billy Graham mengatakan setidaknya 2 hal yang membuatnya
menyesal. Pertama, ia merasa kurang memberi waktu untuk keluarga dan tidak bisa
melihat anak2nya bertumbuh menjadi dewasa. Bahkan ia memberi nasihat kepada
para penginjil muda agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Kedua, ia
menyesal karena kurang memberi waktu untuk doa dan baca Alkitab demi
pertumbuhan rohaninya, demi pengenalan pribadinya dengan Tuhan. Seringkali ia
berdoa dan mempelajari Alkitab hanya untuk mempersiapkan khotbah2nya. Kita
mengatakan hal ini bukan karena mau menghakimi Billy Graham… tetapi kita mau
belajar bahwa orang yang sangat terkenal didunia kekristenanpun mempunyai
penyesalan yang barangkali mengejutkan kita…
Kembali kita
kepada situasi gereja setelah Covid-19 ini. Saya menilai dengan dihentikannya
ibadah di “gedung2” dan Umat Tuhan harus beribadah dirumah saja, merupakan cara
Tuhan untuk memberi pesan kepada UmatNya agar bertumbuh bersama keluarga
didalam Kristus. Juga agar Umat Tuhan, terutama para pemimpinnya, memiliki
waktu untuk doa dan baca Alkitab demi pertumbuhannya sendiri dalam Tuhan. Dan
tentu saja tujuan Tuhan agar melalui “rumah2” bangkit para pemenangNya…
Haleluyah.
Kita teruskan
pembahasan kita mengenai kondisi Umat Tuhan setelah Covid-19 ini. Kali ini kita
membicarakan apa program Tuhan selanjutnya setelah gerejaNya jatuh dan terpecah
menjadi ribuan denominasi (organisasi2 gereja).
Kejatuhan gereja
dinyatakan kepada Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu pasal 2-3. Dan Tuhan
memanggil para pemenang disetiap gereja untuk menggambarkan (mewakili,
representative) gereja untuk berfungsi sebagai garam dan terang dunia. Kita
sudah tahu bahwa ajaran Nikolaus, Izebel dan Bileam merupakan tiga ajaran yang
menyebabkan gereja menjadi ribuan denominasi seperti kondisi yang kita lihat
saat ini. Tuhan tidak bermaksud memulihkan gerejaNya KEMBALI KEKONDISI
MULA-MULA SEBAGAI ORGANISME. Kalaupun ada didalam sejarah gereja yang kita
pelajari, itu hanya pemulihan beberapa kebenaran tertentu dan bukan pemulihan
kembali kepada kesatuan gereja mula-mula sebagai organisme. Kita harus
benar-benar paham bahwa program Tuhan selanjutnya adalah memanggil para
pemenangNya untuk mewakili gereja yang sudah jatuh.
Program Tuhan
selanjutnya bagi gereja yang telah hancur menjadi ribuan denominasi ini secara
jelas digambarkan melalui penglihatan didalam Wahyu pasal 4 dan 5. Wahyu 4:1
menegaskan, “kemudian dari pada itu aku melihat…”.Ungkapan ‘kemudian dari pada
itu’ dalam bahasa aslinya adalah META TAUTA, yang artinya ‘setelah semua hal
ini’. Maksudnya, setelah semua penglihatan Yohanes tentang tujuh kaki dian
emas, mengenai Anak Manusia dan tentang tujuh gereja dan panggilan pemenang,
LANGSUNG DISAMBUNG dengan penglihatan berikutnya di pasal 4 dan 5. Tidak
ada selang waktu (break) dan Rasul
Yohanes tetap berada didalam roh untuk melihat penglihatan berikut. Artinya,
program Tuhan selanjutnya setelah panggilan para pemenang adalah penglihatan
yang ada dipasal 4 dan 5.
Penglihatan yang
ada dipasal 4-5 adalah mengenai TAKHTA. Kita tidak membahas semua penglihatan
ini, tetapi secara khusus kita akan membahas empat makhluk dan dua puluh empat
tua2, dimana mereka akan memerintah sebagai imam2 dan raja2 dibumi (Wahyu
5:10). Jadi, jika kita menggabungkan penglihatan Rasul Yohanes di pasal 2-3,
kemudian pasal 4-5, maka dapatlah kita simpulkan bahwa program Tuhan
selanjutnya, setelah gereja jatuh menjadi ribuan denominasi, ADALAH
mempersiapkan Umat Pemenang yang dapat berfungsi sebagai raja2 dan imam2
dizaman berikut.
Para pelayan
dizaman gereja masih sebagai organisme adalah Rasul, Nabi, Gembala, Penginjil
dan Pengajar sesuai Efesus pasal 4. Setelah gereja jatuh, Tuhan mencari para
pemenangNya yang diproses agar berfungsi sebagai raja2 dan imam2. Tentu masih
ada orang2 yang melayani saat ini dalam kapasitas sebagai Rasul, Nabi, Gembala,
penginjil dan Pengajar…tetapi bukan membangun Tubuh Kristus SEOLAH-OLAH TUBUH
KRISTUS BELUM HANCUR BERKEPING-KEPING… Para pemimpin denominasi saat ini yang
berbicara soal membangun kesatuan Tubuh Kristus adalah mereka yang tidak paham
sama sekali tentang kondisi gereja dan program Tuhan bagi gerejaNya. Sementara
mereka berbicara tentang kesatuan Tubuh Kristus, tetapi mereka sedang
mempertebal “tembok2 Denominasi” mereka sendiri…
Hai Umat Tuhan…
jangan sebut lagi Denominasi itu gereja… itu bukan gereja…itu PECAHAN gereja…
Kalau gelas telah hancur menjadi ribuan keping, maka tak satu kepingpun boleh
berkata bahwa ia gelas… GELAS SUDAH TIDAK ADA... Semoga Umat Tuhan memahami
kondisi gerejaNya saat ini… Semoga Umat Tuhan memahami program Tuhan
selanjutnya…Bangkitlah hai Umat Pemenang…
Covid-19 ini
merupakan cara Tuhan untuk bergerak terus menuju program selanjutnya…tentu para
pemimpin Denominasi berusaha keras agar kembali ke pola lama sebelum terjadi
wabah ini…bahkan sampai mencoba menghardiknya… Tetapi program Tuhan tak dapat
dihentikan oleh siapapun… Umat pemenang tentu tidak ikut-ikutan menghardik
Covid-19 ini, melainkan mengalir bersama Tuhan dalam program
selanjutnya….Haleluyah.
Kita lanjutkan
pembahasan kita mengenai UmatNya setelah Covid-19 ini. Kali ini kita akan
mencoba mengidentifikasi dua perempuan didalam kitab Wahyu. Kita tahu bahwa
kitab Wahyu adalah pewahyuan Yesus Kristus dan gerejaNya dengan bahasa simbol.
Dan perempuan adalah simbol gereja. Mengapa demikian? Kita tahu bahwa Adam
adalah simbol Kristus, maka Hawa sebagai mempelai perempuan adalah simbol
gereja. Banyak tokoh pria didalam PL yang menjadi lambang Kristus, maka
mempelai wanitanya tentu menjadi simbol gereja. Yusuf juga menggambarkan
Kristus, itu sebabnya Asnat melambangkan gereja, tentu dalam aspek2 tertentu.
Demikianlah kita temui bahwa perempuan adalah simbol gereja.
Didalam kitab
Wahyu kita dapati dua perempuan (pasal 12 dan pasal 17), yang tentu saja
keduanya menjadi simbol gereja. Tetapi sebelum kita lanjutkan, perlu ditegaskan
lebih dahulu tentang Babel di pasal 17 ini, karena banyak orang menafsirkan
kota besar Babel di pasal 17 ini bukan simbol gereja. Mari kita perhatikan
beberapa ayat untuk mengidentifikasi siapa sebenarnya Babel besar itu.
Perempuan di
pasal 17 ini disebut pelacur (Wahyu 17:1). Dan pelacur ini ADALAH KOTA BESAR
(Wahyu 17:18). Kota besar dalam konteks pasal ini adalah Babel (Wahyu 18:2).
Jadi, perempuan yang adalah simbol gereja, ADALAH BABEL. Jadi, kalau kita baca
seluruh pasal 17 dan 18 ini, maka sebenarnya perempuan pelacur itu adalah Babel
besar atau kota besar. Keduanya sama2 menjadi simbol gereja.
Untuk saat ini,
kita hanya akan melihat bagaimana akhir dari kedua perempuan ini. Perempuan di
pasal 12 pada akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki yang akan
menggembalakan semua bangsa dengan gada besi (12:5). Terjemahan LAI memakai
huruf besar A dalam menuliskan anak laki2 seolah-olah menunjuk kepada Yesus.
Tetapi ini tidak mungkin. Karena Yesus yang “melahirkan gereja” dan bukan
gereja yang melahirkan Yesus. Jadi, anak laki2 di ayat ini bukan menunjuk
kepada Yesus. Anak laki2 di ayat ini menunjuk kepada para pemenang, tetapi kita
tidak membahasnya saat ini. Yang penting kita paham bahwa perempuan (gereja) di
pasal 12 ini melahirkan para pemenang.
Sebaliknya,
perempuan di pasal 17, dan juga 18, berakhir dengan PENGHAKIMAN TUHAN yang
menyebabkannya tidak bangkit lagi. Hal ini merupakan perkara serius bagi Umat
Tuhan karena di pasal 18:4, ditegaskan, “…pergilah kamu, hai UmatKu, pergilah
dari padanya...”. Jadi, ada Umat Tuhan didalam perempuan ini, tetapi
diperintahkan supaya keluar…
Saat ini kita
belum terlalu menjelaskan identitas kedua perempuan ini melalui exposisi kitab
Wahyu, tetapi yang jelas kedua perempuan ini adalah ‘gereja’. Kita tentu akan
membukakan identitas kedua perempuan ini pada tulisan2 berikutnya. Tetapi sekarang,
Saya justru yakin bahwa Covid-19 inilah yang akan mulai memperjelas identitas
kedua perempuan ini. Covid-19 ini menjadi seperti “katalisator” yang
mempercepat perubahan, dalam arti yang tadinya identitas kedua perempuan ini
samar2 sekarang menjadi semakin jelas… Kedua perempuan ini memang harus
dikenali agar Umat Tuhan dapat mengambil tindakan antisipasi menjelang
kedatanganNya. Karena perintah Tuhan tegas untuk meninggalkan perempuan di
pasal 17 ini. Perempuan di pasal 17 ini disebut misteri (17:5) dan misteri itu
artinya sesuatu yang bersifat rahasia. Hanya bagi yang sudah mendapat
pemahaman, identitas perempuan ini tidak merupakan rahasia lagi.
Pada pembahasan
yang lalu telah kita lihat bahwa perempuan merupakan simbol dari gereja. Dalam
kitab Wahyu ada dua perempuan yaitu di pasal 12 dan 17. Saat ini kita akan
melihat pasal 17 dimana tertulis bukan hanya satu, tetapi dua simbol gereja,
yaitu perempuan dan kota (kota besar Babel). Perempuan dipasal 17 sama dengan
kota besar Babel (17:18). Nimrod adalah orang pertama yang berkuasa dibumi dan
membangun kota Babel (Kej. 10:8-10).
Dikatakan dalam
Kej. 10:9 bahwa Nimrod adalah seorang pemburu yang gagah perkasa dihadapan
Tuhan, seolah-olah Nimrod adalah seorang yang melayani Tuhan. Tetapi, Strong’s
Concordance mengungkapkan fakta mengenai istilah Ibrani yang diterjemahkan
DIHADAPAN mempunyai arti yang sangat bervariasi. Dalam Kej. 10:9 seperti juga
misalnya Bil. 16:2, istilah Ibrani yang diterjemahkan DIHADAPAN juga memiliki
arti literal MEMBERONTAK. Dan didalam Jewish Encyclopedia, nama Nimrod berarti
IA YANG MEMBUAT SEMUA ORANG MEMBERONTAK MELAWAN TUHAN. Jadi, Nimrod adalah
seorang yang memberontak kepada Tuhan dengan MEMBANGUN KERAJAANNYA
SENDIRI…
Seperti telah
kita ketahui bahwa kitab Wahyu adalah kitab dengan bahasa simbol. Perempuan dan
Babel adalah simbol gereja. Jadi, Nimrod sebagai penguasa Babel juga merupakan
simbol dari penguasa gereja, tetapi harus kita ingat gereja yang mendapat
simbol PEREMPUAN PELACUR (Wahyu 17:1). Untuk mudah mengidentifikasi istilah
pelacur, kita dapat mengingat bahwa tugas utama seorang istri adalah menerima
‘benih’ dari suaminya. Tetapi pelacur menerima ‘benih’ dari banyak pria. Jadi
gereja pelacur adalah gereja yang menerima benih firman, tetapi juga menerima
benih lainnya. Sesuai yang telah kita pelajari, maka gereja pelacur ini
menerima benih ‘ajaran Nikolaus’, ‘Izebel’ dan juga benih ‘ajaran Bileam’.
Sebelum
mengambil pelajaran dari kedua perempuan dikitab Wahyu ini, perlu kita
mengidentifikasi lebih jauh lagi siapa perempuan di pasal 17 dan 12. Perempuan
di pasal 12 berada di ”langit” (12:1), sedangkan perempuan di pasal 17 berada
ditempat yang banyak airnya (17:1). Air yang banyak adalah simbol dari bangsa2,
rakyat banyak, suku, kaum, pendeknya orang banyak (17:15), sementara itu
“langit” tentu menggambarkan sesuatu yang sorgawi. Jadi, gereja di pasal 12
tidak terlihat dengan mata jasmani karena ia berada dialam roh, sedangkan
gereja di pasal 17 adalah orang banyak, yang tentu saja mudah terlihat.
Mari kita ambil
pelajaran dari uraian kita diatas yang barangkali mengejutkan sebagian besar
Umat Tuhan. Gereja pasal 17 mudah terlihat, karena mudah mengenali siapa
“Nimrodnya (penguasanya)” dan juga mudah terlihat karena “duduk” (beristirahat)
diatas orang banyak. Sedangkan gereja pasal 12, sekalipun anggotanya ada
dibumi, tetapi tidak mudah dikenali. Hanya orang yang memiliki mata rohani yang
dapat mengenali bahwa saat ini, dibumi ini, ada ‘the Invisible Church’ yang
pada akhirnya akan melahirkan para pemenang.
Pada tulisan
yang lalu kita telah berbicara bahwa Covid-19 ini merupakan semacam
‘katalisator’, dalam arti mempercepat suatu perubahan… sesuatu yang samar2
berubah menjadi jelas… identitas perempuan pasal 12 dan juga perempuan pasal 17
semakin jelas… Mengapa Umat Tuhan perlu melihat kedua perempuan ini? Karena ada
perintah Tuhan yang tegas menjelang kedatanganNya (Wahyu 18:4). Perintah untuk
KELUAR dari sistem ajaran Nikolaus, Izebel dan Bileam yang bersarang didalam
perempuan Wahyu 17. Semoga Umat Tuhan tampil di akhir zaman ini…..Haleluyah.
Pada tulisan
yang lalu kita telah mencoba mengidentifikasi kedua simbol perempuan di Kitab
Wahyu (pasal 12 dan 17). Saat ini kita akan berbicara mengenai penghakiman.
Kita sudah pernah menyinggung akhir dari kedua perempuan ini. Perempuan di
pasal 12 pada akhirnya melahirkan putra2 Elohim yang akan memerintah dibumi
sebagai imam2 dan raja2. Tetapi perempuan di pasal 17 berakhir dengan
penghakiman Tuhan atasnya.
Sebelum kita
lanjutkan, perlu kita ingat bahwa penghakiman Tuhan memiliki dua aspek, yaitu
aspek pembalasan/penghukuman, dan aspek pemulihan/ perbaikan. Memang
penghakiman merupakan pembalasan Tuhan terhadap orang yang berbuat jahat karena
apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Tetapi aspek pemulihan
Tuhan dalam penghakiman jarang diperhatikan. Didalam Yesaya 26:9 jelas tertulis
bahwa maksud penghakiman Tuhan adalah agar orang dapat mengenal kebenaran.
Melalui Covid-19 ini jelas bahwa penduduk dunia belajar apa yang benar.
Mari kita membaca
beberapa ayat dari kitab Wahyu 17-18, agar kita lebih memahami mengenai
penghakiman yang terjadi atas perempuan dipasal ini. Wahyu 18:20,
“Bersukacitalah atas dia, hai sorga, dan kamu, hai orang2 kudus, rasul-rasul
dan nabi-nabi, karena Allah telah menjatuhkan hukuman atas dia karena kamu”.
Ayat 24 dipasal yang sama, “Dan didalamnya terdapat darah nabi-nabi dan orang2
kudus dan darah semua orang , yang dibunuh dibumi”. Wahyu 17:6, “Dan aku
melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang2 kudus dan darah saksi2 Yesus”.
Kita sudah
melihat bahwa penghakiman Tuhan berlaku hanya kepada perempuan dipasal 17,
sementara perempuan dipasal 12 tidak mengalami penghakiman Tuhan. Tetapi yang
menarik disini adalah penghakiman Tuhan yang jatuh atas perempuan dipasal 17
BERKAITAN DENGAN DARAH ORANG-ORANG KUDUS dan SAKSI-SAKSI YESUS. Bahkan
dikatakan diatas bahwa orang2 kudus, rasul2 dan nabi2 supaya bersukacita…
Mengapa demikian?
Dari ayat2
diatas kita dapat simpulkan bahwa perempuan di pasal 17 ini MENGANIAYA orang2
kudus dan saksi2 Yesus, dan sewajarnya kita berpendapat bahwa orang2 kudus,
rasul2 dan saksi2 Yesus itu ADALAH PEREMPUAN DIPASAL 12. Kalau kita mempelajari
sejarah gereja, maka kita dapat memahami bahwa penderitaan orang2 kudus dan
saksi2 Yesus itu disebabkan oleh sistem keagamaan yang sudah mapan pada waktu
itu. Sangat wajar bahwa pergerakan Saul menganiaya pergerakan Daud… Itu juga
sebabnya Yesus menderita bukan oleh orang Roma tetapi oleh Sanhedrin, mahkama
agama Yahudi. Tentara Roma itu hanya pelaksana saja, tetapi keputusan Yesus
dihukum mati adalah oleh Sanhedrin.
Coba kita
kembali merenungkan Covid-19 ini. Bagi saya, Covid-19 ini jelas penghakiman
Tuhan atas bumi ini. Penghakiman Tuhan yang menyebabkan orang belajar apa yang
benar. Banyak orang datang tersungkur dan menyembah Tuhan serta mengakui bahwa
Tuhan saja yang harus ditinggikan. Dan Alkitab mengatakan bahwa penghakiman
Tuhan itu selalu dimulai dari dalam rumah Tuhan. Tetapi saya meyakini bahwa
orang2 kudus yang ada didalam perempuan pasal 12 akan mengalami penggenapan
Mazmur 91:7, yang berkata, “Walau seribu orang rebah disisimu, dan sepuluh ribu
disebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu”. Tidak perlu Mazmur ini
diucapkan….karena MEMANG SUDAH DIGENAPI BAGI PEREMPUAN DIPASAL 12 INI.
Sekarang kita
akan menutup tulisan ini dengan membicarakan sekali lagi mengenai akhir dari
perempuan dipasal 12. Kita telah membahas akhir dari perempuan di pasal 17,
yaitu penghakiman Tuhan. Dan saat ini kita akan melihat sekali lagi bagaimana
perempuan di pasal 12 ini melahirkan anak laki-laki yang akan memerintah bumi
ini (12:5).
Kalau kita
membaca seluruh peristiwa dimana perempuan di pasal 12 ini melahirkan anak
laki2 yang akan memerintah bumi, dan membandingkannya dengan peristiwa yang
diuraikan dalam Roma 8:19-21, maka kita akan mengenali bahwa anak laki2 yang
dibicarakan didalam kitab Wahyu pasal 12 ini tidak lain adalah anak2 Allah atau
Putra2 Elohim dikitab Roma 8 diatas.
Sebenarnya jika
kita mempelajari kedatangan/kehadiran Tuhan dan mempelajarinya sedemikian
sehingga kita TIDAK MEMILIKI KONSEP KEDATANGAN YESUS KEDUA KALI SECARA JASMANI,
maka kita pasti memahami bahwa anak2 Allah atau putra2 Elohim yang akan
memerintah bumi ini merupakan kedatangan Tuhan pada akhir zaman ini. Saya telah
membuat video mengenai kedatangan/kehadiran Tuhan yang bersesuaian dengan tiga
hari raya bangsa Yahudi (Paskah, Pantekosta, Tabernakel), judulnya Trilogi
Kedatangan/Kehadiran Tuhan, dan saya tidak mengulanginya disini.
Jadi,
dihari-hari terakhir ini kita sedang menantikan tampilnya anak laki2
(Manifestasi Putra2 Elohim) yang akan memerintah bumi sebagai imam2 dan raja2
untuk memulihkan ciptaanNya. Seluruh makhluk sebenarnya merindukan saat
kedatanganNya DIDALAM DAN MELALUI Putra2 Elohim ini. Inilah program Tuhan
diakhir zaman ini.
Memang
dihari-hari terakhir ini akan datang masa2 yang sukar (II Timotius 3:1-9).
Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang…dst…dst… Tetapi
sesuai program Bapa disorga, dengan tiba2 seperti pencuri (bagi mereka yang
tidak berjaga-jaga) Tuhan datang melalui dan didalam putra2Nya untuk memerintah
bumi ini… Inilah program Tuhan dihari2 terakhir ini… dan itulah kedatanganNya…
Tetapi kita
harus selalu ingat satu hal yang sangat penting ini. Putra2 Elohim itu tidak
dilahirkan oleh perempuan dikitab Wahyu pasal 17, melainkan dilahirkan oleh
perempuan yang dipasal 12. Oleh karenanya, sangat penting, menjelang
kedatanganNya, Umat Tuhan mengidentifikasi kedua perempuan ini. Kita harus
berada didalam perempuan Wahyu pasal 12, sdrku… karena kalau ternyata kita
masih bercokol di dalam perempuan pasal 17, justru kita diperintahkan keluar
dari padanya (Wahyu 18:4). Jadi, dengan berada didalam perempuan pasal 12, kita
pada posisi berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan didalam dan melalui putra2
Elohim. Kitalah yang akan ditampilkan pada saat kedatanganNya untuk memerintah
bersamaNya dizaman-zaman berikut. Yang penting saat ini kita dalam posisi
berjaga-jaga dan tidak ambil bagian didalam perempuan Wahyu 17.
Sekali lagi,
program Tuhan dihari2 terakhir ini adalah DATANG UNTUK MEMERINTAH BUMI INI
MELALUI DAN DIDALAM PUTRA2NYA. Program Tuhan dihari2 terakhir ini bukan
kebangunan rohani besar2an…bukan tuaian jiwa besar-besaran…bukan pencurahan Roh
Kudus (apapun itu istilahnya) besar2an…. Bukan menyatukan Tubuh Kristus yang
sudah pecah menjadi ribuan keping ini… SEMUA INI CUMA OMONGAN PEREMPUAN PASAL
17….INI DAGANGAN MEREKA… Alkitab sudah jelas menyatakannya didalam II Timotius
3 bahwa dihari2 akhir AKAN DATANG MASA YANG SUKAR… BUKAN KEBANGUNAN ROHANI
BESAR-BESARAN…Semoga Umat Tuhan tidak tertipu…
Melalui
penghakman Covid-19 ini, Saya yakin bahwa Umat pilihan Tuhan semakin dapat
mengenali mana suara perempuan Wahyu 17, dan mana suara perempuan Wahyu 12.
Mana suara Gembala Sejati…mana suara pencuri dan perampok….
Jadi, bagaimana
kesimpulan diatas kesimpulan dari semua tulisan ini? DiRumahAja…
ya…DiRumahAja…ibadah dirumah… gereja dirumah…. Menantikan kedatangan Tuhan
dirumah…Melayani mulai dari rumah saja… Langkah berikutnya tentu Tuhan akan
pimpin, karena didalam Umat pilihannya ada urapan Roh sehingga kita dapat
mengerti langkah selanjutnya…HALELUYAH, AMIN.
Comments
Post a Comment