Kepemimpinan Organisme
Kepemimpinan Organisme
Oleh : Irnawan Silitonga
Istilah kepemimpinan dalam kamus
besar bahasa Indonesia (edisi keempat) adalah perihal pemimpin dan cara
memimpin, sedangkan organisme adalah susunan yang bersistem dari berbagai
bagian jasad hidup untuk suatu tujuan tertentu. Organisme sebagai kata benda
dalam Biologi adalah makhluk hidup. Jadi pengertian organisme disini adalah
susunan atau keterkaitan antara ‘bagian jasad hidup’, seperti keterkaitan
antara kaki, tangan, dan bagian2 lain jasad hidup sedemikian sehingga tercapai
suatu tujuan tertentu dari makhluk hidup itu.
Untuk memudahkan pengertian kita
tentang organisme, ada baiknya kita memahami istilah organisasi dengan baik.
Didalam kamus yang sama, istilah organisasi adalah kesatuan atau susunan yang
terdiri atas bagian2 (yaitu, orang) dalam perkumpulan untuk tujuan tertentu.
Pengertian berikut dari organisasi dalam kamus ini adalah kelompok kerja sama
antara orang2 yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, jelaslah bahwa
organisasi adalah keterkaitan antara orang yang satu dengan orang yang lainnya
dalam suatu struktur, tetapi organisme adalah keterkaitan antara kaki dan
tangan dalam suatu makhluk.
Keterkaitan antara orang yang satu
dengan orang yang lainnya dalam konteks organisasi perlu ada yang memimpin.
Perlu ada suatu jenis otoritas yang mengatur keterkaitan orang yang satu dengan
yang lainnya. Otoritas dalam konteks organisasi ini disebut ‘garis komando’.
Dalam suatu struktur organisasi kita akan melihat garis komando yang
menghubungkan seseorang dengan yang lainnya. Garis komando ini yang menentukan
siapa yang memimpin siapa, dan siapa yang bertanggung jawab kepada siapa.
Bagian (orang) yang paling atas dalam suatu struktur organisasi adalah yang
memiliki otoritas tertinggi.
Demikian juga keterkaitan antara
tangan dan kaki dalam konteks organisme perlu ada yang memimpin. Perlu ada juga
suatu jenis otoritas yang mengatur keterkaitan antara tangan dan kaki. Otoritas
dalam konteks organisme disebut hayat, atau hidup makhluk itu. Hidup makhluk
itulah yang mengatur keterkaitan antara kaki dan tangan. Jika tidak ada lagi
hayat didalam makhluk itu, maka tidak ada lagi otoritas yang mengatur
keterkaitan tangan dan kaki, bahkan tidak ada lagi pergerakan tangan dan kaki,
alias mati.
Jadi, jelaslah bahwa kepemimpinan
dalam konteks organisasi ADALAH ORANG (yaitu orang yang tertinggi didalam struktur),
tetapi kepemimpinan organisme ADALAH HAYAT. Berbicara tentang kepemimpinan
dalam konteks organisasi adalah berbicara tentang orang dan cara orang itu
memimpin. Sedangkan berbicara kepemimpinan dalam konteks organisme adalah
berbicara tentang hayat dan bagaimana hayat itu memimpin tangan dan kaki, atau
bagian2 jasad hidup suatu makhluk.
Diharapkan kita bisa melihat
perbedaan ini dengan jelas sebelum kita masuk kepada kepemimpinan gereja, sebab
jika kita tidak membedakan dengan tegas antara organisasi dan organisme, maka
kita tidak akan mengerti apa itu kepemimpinan gereja. Kita dapat saja dengan
sembarangan menyamakan kepemimpinan gereja dengan kepemimpinan perusahaan. Saat
ini, banyak pemimpin perusahaan yang mendirikan “gereja” karena mereka berpikir
bahwa memimpin gereja sama dengan memimpin perusahaan. Bahkan banyak orang yang
disebut hamba Tuhan juga memimpin “gereja” seperti memimpin perusahaan.
Sebelum menutup tulisan ini, kita
harus sangat jelas melihat bahwa Alkitab berkata GEREJA ADALAH TUBUH. Gereja
adalah organisme. Kepemimpinan gereja adalah kepemimpinan organisme. Jika kita
tidak sepakat disini, memang sebaiknya tulisan sederhana dan singkat ini tidak
perlu terus dibaca… lebih baik membaca buku2 kepemimpinan yang ditulis oleh
ahli2 management dan menerapkannya kepada kepemimpinan “gereja”. Tetapi jika
sdr yakin dan paham bahwa gereja adalah tubuh, dan bahwa kepemimpinan gereja
adalah kepemimpinan tubuh, maka barangkali tulisan ini bisa memberikan masukan
bagi sdr agar kita bisa membangun gereja, seperti yang sekarang sedang dibangun
oleh Tuhan Yesus.
Telah kita uraikan bahwa otoritas
organisme adalah hayat organisme atau hayat makhluk itu sendiri. Dan kita telah
paham bahwa gereja adalah organisme. Berbicara soal kepemimpinan gereja adalah
berbicara soal otoritas organisme yaitu hayat. Dalam konteks organisasi,
otoritas itu adalah orang, yaitu orang tertinggi didalam struktur organisasi
tersebut. Didalam gereja tidak ada satu orangpun yang memiliki otoritas.
Otoritas gereja adalah hayat, dan hanya Yesus yang berkata Aku adalah hayat (I
am the Life). Bahkan tidak ada istilah otoritas terdelegasi (delegated
authority) didalam gereja. Didalam gereja TIDAK ADA HAYAT TERDELEGASI. Yesus
tidak pernah mendelegasikan hayatNya…Ia memberikan hayatNya agar SETIAP ORANG
TAAT PADA HAYAT. Perkara ini harus jelas karena perpecahan gereja dimulai dari
beberapa pemimpin yang MERASA punya otoritas dalam gereja. Saudara dan saya
tidak punya otoritas atas gereja, bahkan otoritas yang terdelegasi juga. Istilah
otoritas terdelegasi hanya berlaku dalam konteks organisasi. Jadi, saat ini
kita akan berbicara tentang hayat dengan jelas agar setiap anggota gereja yang
rindu melayani Tuhan dan membangun gereja dapat melakukannya dengan benar.
Alkitab mulai berbicara soal hayat
dalam cerita/perumpamaan di Taman Eden. Kedua pohon ditaman Eden adalah dua
jenis hayat, dimana pohon kehidupan melambangkan hayat Kristus dan pohon
pengetahuan melambangkan jenis hayat (maut) yang dikuasai Iblis. Untuk
jelasnya, mari kita teliti Kejadian 2:17, ”…. pada hari engkau memakannya,
pastilah engkau mati”. Ketika Adam memakan buah pohon pengetahuan, ia tidak
langsung mati secara jasmani tetapi masih hidup 900 tahun lebih. Mengapa
demikian? Padahal Alkitab berkata PADA HARI engkau memakannya, langsung engkau
mati.
Istilah Ibrani untuk mati pada ayat
diatas adalah MUT TAMUT, dimana MUT adalah mati. Jadi, MUT TAMUT tidak dapat
diterjemahkan hanya dengan satu istilah MATI. Makna sebenarnya dari mut tamut,
dalam bahasa Inggris adalah DYING YOU WILL DIE. Dying adalah suatu KONDISI MATI
YANG BERPROSES. You will die artinya engkau akan mengalami MATI JASMANI. Jadi,
MUT TAMUT yang dikatakan dalam ayat diatas mempunyai pengertian bahwa ketika
engkau makan buah pohon pengetahuan maka ENGKAU BERADA DALAM KONDISI MATI YANG
BERPROSES PADA KEMATIAN FISIK. Jadi sebenarnya pada hari Adam memakan buah
pohon pengetahuan ADAM LANGSUNG DALAM KONDISI MATI BERPROSES. Alkitab
menggunakan istilah MAUT untuk kondisi mati berproses ini. Jadi, mati berproses
ini sebenarnya adalah JENIS HAYAT, yaitu hayat yang dikuasai Iblis (Ibrani
2:14).
Jenis hayat yang dikuasai Iblis yang
Alkitab sebut maut inilah yang Adam wariskan kepada seluruh keturunannya. Jenis
hayat MAUT ini sangatlah sia-sia. Kitab Pengkhotbah menjelaskan jenis hayat ini
dengan ungkapan ‘dibawah matahari’ atau ‘dibawah langit’, dan ada kurang lebih
52 kali muncul ungkapan ini. Kesimpulan Pengkhotbah adalah semua sia2, gak
perduli miskin atau kaya, pintar atau bodoh….dst…dst… Mengapa sia-sia? Karena
jenis hayat maut ini dikuasai Iblis dan TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN HAYAT
KRISTUS.
Orang yang menjalani hayat maut ini
dapat saja berkarya dan beragama. Agama lahir dari pohon pengetahuan yang baik
dan yang jahat, sebab agama mengajarkan orang mengenai baik dan jahat. Tetapi
semua sia2, karena tidak terkait sama sekali dengan hidup Kristus. Itu sebabnya
Yesus datang bukan bawa agama, bahkan agama Kristen sekalipun, Yesus datang
bawa hayat yaitu hayatNya sendir(Yohanes 10:10).
Kita perlu melihat sebentar mengenai
istilah hayat ini dalam bahasa Yunani. Bahasa Yunani menggunakan tiga istilah
untuk menjelaskan tentang hayat ini. Yang pertama BIOS (istilah ini muncul
dalam Injil Lukas mengenai janda yang mempersembahkan seluruh HIDUPNYA). BIOS
adalah hayat yang umum. Kedua, PSUCHE, atau hidup jiwani (hidup jenis manusia),
dari sini datang istilah psikologi. Yang ketiga adalah ZOE. Inilah jenis hidup
yang dimiliki Bapa dan Yesus dan Roh. Dan jenis hayat inilah yang Yesus berikan
kepada setiap orang percaya.
Kembali kita kepada otoritas gereja.
Otoritas gereja adalah ZOE. Kepemimpinan gereja adalah kepemimpinan Zoe. Diatas
telah kita tegaskan bahwa kita tidak memiliki otoritas dalam gereja. Mengapa?
Karena sdr. dan saya lahir kedunia ini dengan jenis hayat MAUT, yang sia-sia
itu dan dikuasai Iblis. Ketika kita percaya Tuhan, kita diberi hayat baru yaitu
Zoe, dimana memang Zoe ini bertumbuh dan akan menelan Maut. Tetapi kita tidak
punya otoritas ataupun hak atas Zoe. Yesus hanya memberikan Zoe dan tidak
mendelegasikan otoritas yang terkandung didalam Zoe itu. Itu sebabnya Yesus
berkata AKU akan mendirikan gerejaKU. Hanya AKU yaitu Zoe yang dapat mendirikan
gereja. Kalau demikian mengapa ada para pemimpin dalam gereja. Untuk memahami
pemimpin dalam gereja, kita akan membicarakan kekepalaan (Headship) pada
tulisan berikutnya…
Telah ditegaskan sebelumnya bahwa
hanya Yesus yang adalah Zoe (Hayat) itu yang dapat mendirikan dan membangun
Gereja. Yesus berkata AKU akan mendirikan gerejaKu. Telah kita tegaskan juga
bahwa para pemimpin didalam gereja (organisme), tidak memiliki otoritas apapun
atas Umat Tuhan. Namun mengapa ada para pemimpin didalam konteks organisme,
inilah yang akan kita bahas sekarang. Untuk memahami hal ini kita perlu tahu
bagaimana konsep kekepalaan (headship) itu baik didalam PL maupun didalam PB.
Penggunaan istilah kepala (Ibrani :
R’OSH) dalam PL mengandung makna otoritas atau kepemimpinan. Mari kita lihat
beberapa contoh. Musa mengangkat kepala2 untuk memimpin suku Israel (Ulangan
1:5). Yefta juga memiliki kontrol militer atas pasukan Israel (Hakim2 11:11).
Didalam Kamus Ibrani-Inggris, oleh Brown, Driver dan Briggs, menerjemahkan
penggunaan R’OSH sebagai berikut. Pertama, secara literal adalah kepala fisik
dari manusia atau hewan. Kedua, puncak gunung atau bukit. Ketiga, kota utama,
imam besar, kepala keluarga. Keempat, didepan, seperti posisi pemimpin dalam
perang. Kelima, Utama, Yang terbaik.
Tidak diragukan lagi bahwa didalam PL
istilah R’OSH (Kepala) diterapkan kepada para pemimpin manusia. Para pemimpin
ini memiliki otoritas untuk mengatur dan mengarahkan bawahannya. Bahkan didalam
PL jenjang otoritas juga berlaku (Hierarki). Kalau kita coba bandingkan dengan
situasi kita saat ini, maka kepemimpinan dalam konteks PL adalah kepemimpinan
organisasi, atau kepemimpinan Lembaga.
Tetapi dalam PB, perkara kepemimpinan
sangat berbeda. Istilah Yunani KEPHALE, yang diterjemahkan kepala, memiliki
arti yang sangat berbeda dengan istilah kepala yang ada di PL. Ada sekitar 75
kasus dimana istilah ini muncul. Didalam kitab2 Injil, istilah ini muncul
sebanyak 33 kali, dimana 31 kali diantaranya berbicara soal kepala manusia
secara fisik. Dua yang lainnya berbicara tentang batu penjuru. Dalam Kisah Para
Rasul, satu dari lima kemunculannya berbicara soal batu penjuru. Empat lainnya
berbicara soal kepala manusia secara fisik. Ada 12 kemunculan didalam surat2
Rasul, dimana yang terbanyak menunjuk kepada Yesus, sebagai kepala gereja, atau
menguraikan hubungan antara suami dengan isteri. Tidak ada satupun kasus atau
istilah KEPHALE ini yang menunjuk kepada para pemimpin didalam Tubuh Kristus.
PARA PEMIMPIN DIDALAM TUBUH ATAU ORGANISME GEREJA TIDAK PERNAH DISEBUT KEPALA.
Hierarki atau jenjang otoritas yang nampak jelas didalam kepemimpinan
Perjanjian Lama, TIDAK TERDAPAT DIDALAM Perjanjian Baru.
Dari fakta2 ini jelas terbukti bahwa
gereja adalah tubuh atau organisme, dan bahwa HANYA YESUS YANG DISEBUT KEPALA
GEREJA. Gereja bukan organisasi, tetapi jelas adalah organisme. Ketika gereja
di-organisasi-kan dan memiliki kepala organisasi, apapun namanya, apakah itu
penatua senior, gembala sidang atau pastor, maka ITU BUKAN GEREJA YANG SEDANG
TUHAN YESUS DIRIKAN SAAT INI.
Alkitab memberi nama yang jelas
mengenai “gereja” dimana seorang manusia (Gembala Sidang atau Penatua Senior,
atau Pastor) sebagai kepalanya. Nanti kita sampai kepada Kitab Wahyu, dimana
Wahyu pasal 17-18 menguraikannya, dan kita akan menbahasnya sebagaimana yang
Alkitab katakan.
Telah ditegaskan dalam tulisan
terdahulu bahwa PARA PEMIMPIN DIDALAM TUBUH ATAU ORGANISME GEREJA TIDAK PERNAH
DISEBUT KEPALA. Hierarki atau jenjang otoritas yang nampak jelas didalam
kepemimpinan Perjanjian Lama, TIDAK TERDAPAT DIDALAM Perjanjian Baru. Dari
fakta2 ini jelas terbukti bahwa gereja adalah tubuh atau organisme, dan bahwa
HANYA YESUS YANG DISEBUT PEMIMPIN YAITU KEPALA GEREJA. Itu sebabnya Matius
23:10 tegaskan, “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena HANYA SATU
pemimpinmu, yaitu Mesias”. Gereja bukan organisasi, tetapi adalah organisme.
Ketika gereja di-organisasi-kan dan memiliki kepala organisasi, atau pemimpin
manusia, apapun namanya, apakah itu penatua senior, gembala sidang atau pastor,
maka ITU BUKAN GEREJA YANG SEDANG TUHAN YESUS DIRIKAN SAAT INI.
Kalau demikian, apakah Organisme
tidak memiliki pemimpin manusia? Sekarang kita akan membahas tentang pemimpin
manusia dalam konteks Organisme yang kita sebut kepemimpinan Tubuh (Body
Leadership), sebagai lawan dari kepemimpinan dalam konteks Organisasi.
Mari kita periksa Kolose 2:19 dan
Efesus 4:16. Kita tidak membahas keseluruhan ayat2 ini, tetapi hanya
membandingkan dan mengaitkan kedua ayat ini melalui istilah ‘pertumbuhan’ yang
terdapat di kedua ayat tersebut. Kolose 2:19 mengatakan ‘pertumbuhan ilahinya’
(LAI). Sebenarnya, Kolose 2:19 menggunakan dua istilah Yunani ‘auksano’ dan
‘auksesis’ yang oleh LAI diterjemahkan ‘pertumbuhan Ilahinya’. Terjemahan ini
kurang tepat karena seharusnya diterjemahkan “may increase with the increase of
God” (terjemahan Young’s Literal). Artinya, pertumbuhan tubuh itu ADALAH
PERTUMBUHAN ELOHIM. Maksudnya, pertumbuhan gereja Organisme itu adalah
PERTUMBUHAN HAYAT ELOHIM. Diayat ini juga disebutkan fungsi dari urat2 dan
sendi2 yang menunjang dan mempersatukan. Sementara itu, Efesus 4:16 menegaskan
bahwa ‘pertumbuhan tubuh terjadi karena tubuh rapi tersusun dan diikat menjadi
satu oleh pelayanan semua bagiannya’. Kalau kita membandingkan kedua ayat ini
dapatlah kita simpulkan bahwa pertumbuhan gereja Organisme itu adalah
pertumbuhan Hayat Elohim, dimana para pemimpin (“Urat2 dan Sendi2”) berfungsi
sebagai yang menunjang dan mempersatukan tubuh.
Apa yang kita bicarakan diatas adalah
mengenai kepemimpinan tubuh atau Body Leadership. Kita lihat disini bahwa para
pemimpin (Urat2 dan Sendi2) itu MUTLAK BERGERAK DAN BERFUNGSI MENURUT OTORITAS
HAYAT. Didalam konteks Tubuh, tidak mungkin Urat2 dan Sendi2 itu bergerak
sendiri dan merusak tubuh. Jadi, para pemimpin organisme sepenuhnya dibawah
otoritas hayat dan tidak memiliki otoritas apapun terhadap tubuh atau anggota2
tubuh lainnya. Para pemimpin dalam konteks Organisme hanya dapat MEMPERLENGKAPI
dan MELAYANI Tubuh. Seandainya ada pemimpin yang tidak mentaati otoritas Hayat,
maka ia sendiri yang terbuang dan terputus dari Hayat, sementara itu Tubuh
tidak terganggu. Mengapa? Karena pertumbuhan Tubuh HANYA DITENTUKAN OLEH
PERTUMBUHAN HAYAT .
Sudahkah sdr melihat keberadaan para
pemimpin organisme? Pertama, mereka tidak memiliki otoritas apapun karena
otoritas tetap didalam Hayat. Kedua, mereka hanya dapat memperlengkapi dan
melayani Tubuh sebagai hamba dalam arti yang sebenarnya. Ketiga, mereka tidak
bisa mengatur Tubuh apalagi ambil keuntungan materi dari Tubuh. Jika kita
berada dalam kondisi dan keberadaan pemimpin dalam konteks Organisme, maka kita
juga akan berperilaku seperti uraian diatas.
Kalau ada para pemimpin yang berperilaku sebagai orang yang punya hak
mengatur, mengambil untung dan sebagainya, maka hal ini membuktikan bahwa ia
tidak berada dalam konteks organisme.
Dalam tulisan2 berikutnya kita akan
menjelaskan para pemimpin Organisme ini dengan membanding-bandingkannya dengan
para pemimpin dalam konteks Organisasi.
Kita telah melihat bahwa para pemimpin organisme itu (kepemimpinan
Tubuh), yang didalam Kolose 2:19, disebut Urat2 dan Sendi2, sepenuhnya
tergantung kepada Hayat Kristus. Itu sebabnya nasihat2 bagi para pemimpin
didalam Kitab PB, terfokus kepada pembangunan karakter yang disebabkan
pertumbuhan Hayat. Nasihat2 Paulus kepada Timotius, Titus dan perikop2 lain
dari PB yang menyinggung kepemimpinan, semuanya terfokus kepada pembangunan
karakter Kristus didalam diri para pemimpin itu. Penekanan bagi para pemimpin
dalam konteks Tubuh adalah keteladanan. Keteladanan dalam hal pengabdian,
pengorbanan, pikul salib dan perihal mengikut Tuhan dan menyangkal diri, serta
menjadi hamba dalam pengertian yang sebenarnya, tidak punya otoritas dan tidak
ambil keuntungan apapun atas anggota lainnya didalam Tubuh. Semua ini tidak
mengherankan karena pertumbuhan Gereja atau Tubuh itu mutlak ditentukan oleh
pertumbuhan Hayat, sehingga peran pemimpin adalah TELADAN DAN CONTOH DALAM
MENGIKUTI HAYAT KRISTUS.
Untuk lebih jelas mengidentifikasi
para pemimpin Tubuh ini, kita akan mncoba membanding-bandingkan antara
kepemimpinan Tubuh dengan kepemimpinan Organisasi didalam dunia kekristenan
saat ini. Hal ini perlu karena tidak ada seorangpun yang mengenali sesuatu
tanpa mengenali lawan dari sesuatu itu. Orang tidak akan tahu apa itu rasa
manis jika tidak tahu rasa pahit, rasanya sehat kalau tidak pernah
sakit…dst….dst…. Alkitab, khususnya Kitab Wahyu juga menguraikan kedua
perempuan (Wahyu 12 dan Wahyu 17) yang menjadi simbol gereja, agar kita dapat
mengenali serta mengetahui juga dimana posisi kita saat ini dalam mengikut
Tuhan.
Mari kita melihat lebih dahulu Wahyu
17:3, “…. Aku melihat seorang perempuan DUDUK diatas seekor BINATANG…”. Kita
sudah tahu bahwa Kitab Wahyu adalah suatu kitab yang berbicara tentang Yesus
Kristus dan gerejaNya dengan bahasa simbol (Wahyu 1:1). Kita sudah pernah
membahas ini dan tidak mengulanginya lagi. Binatang didalam kitab Wahyu
berbicara SISTEM PEMERINTAHAN MANUSIA. Jadi, perempuan yang duduk diatas
binatang berbicara gereja yang didukung oleh sistem pemerintahan manusia. Kita
juga tahu bahwa Organisasi adalah alat yang digunakan para pemimpin untuk
memerintah. Para pemimpin yang menggunakan Organisasi sebagai alat adalah
karena mereka MAU MENGATUR DAN MEMERINTAH UMAT TUHAN. Mereka katakan bahwa
gereja itu organisme YANG PERLU DIORGANISASIKAN.
Kita sudah tahu bahwa para pemimpin
organisme (Sendi2 dan Urat2 didalam Tubuh) TIDAK MEMILIKI OTORITAS MENGATUR
ATAU MEMERINTAH UMAT TUHAN. Para pemimpin Tubuh ini hanya bisa MENJADI TELADAN
DAN TIDAK AMBIL APAPUN DARI UMAT TUHAN. Apakah para pemimpin organisme ini
tidak berhak mendapat berkat jasmani dari Umat Tuhan? Tentu berhak, sebab
Alkitab katakan, “jangan engkau memberangus mulut Lembu yang sedang mengirik”.
Tetapi para pemimpin Tubuh ini tidak menggunakan sistem pemerintahan manusia,
dengan organisasi sebagai alatnya, untuk dapat mengambil uang dari Umat Tuhan.
Ada kesaksian dari seorang pemimpin
bahwa pelayanannya telah berhasil menarik uang ratusan milyar dari Umat Tuhan.
Kesaksian seperti ini sangat asing bagi para pemimpin Tubuh, karena tidak ada
contohnya didalam PB, walaupun didunia kekristenan yang telah jatuh, kesaksian
ini merupakan BUKTI BERKAT TUHAN YANG MELIMPAH. Asing bagi para pemimpin Tubuh
bukan berarti kita tidak mengerti mengapa ia bisa menarik uang sampai ratusan
milyar dari Umat Tuhan. Jelas bahwa ia dapat menarik uang ratusan milyar karena
PELAYANANNYA DITOPANG SISTEM PEMERINTAHAN MANUSIA, seperti yang kita lihat
dalam Wahyu 17:3 diatas. Kita mengatakan ini bukan karena kita iri pelayanan
kita tidak dapat menarik uang ratusan milyar dari Umat Tuhan. Para pemimpin
Organisme itu sangat rindu mencontoh Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja dan
kalau Tuhan menghendakinya kitapun siap mati martir bagi Tuhan. Tetapi kita
mengatakan ini agar Umat Tuhan bisa mengidentifikasi dan membedakan gereja
Wahyu 12 dan gereja Wahyu 17.
Tulisan2 selanjutnya akan terus
membanding-bandingkan gereja Wahyu 12 dan Wahyu 17 agar Umat Tuhan semakin jelas
dalam mengikut Tuhan… Amin
Untuk dapat melihat dan memahami
perbedaan kepemimpinan organisme dan kepemimpinan organisasi, dan betapa dalam
perbedaan ini, kita akan memeriksa Matius 7:21-23. Tetapi sebelumnya mari kita
melihat fakta2 ini dikalangan kekristenan. Banyak orang tidak mengetahui betapa
serius akibat dari mengorganisasikan gereja, yang adalah organisme. Mereka
tidak melihat spirit apa yang ada dibalik semua ini, dan juga tidak melihat apa
yang Alkitab ungkapkan mengenai ini. Ajaran para teolog yang sudah diterima
begitu saja mengenai Visible Church (gereja yang terlihat=Denominasi2 atau
organisasi2 gereja yang ribuan itu) dan Invisible Church (semua anak2 Tuhan
sejati) menambah buta Umat Tuhan tentang seriusnya masalah ini. Umat Tuhan
sudah terbiasa menyebut Denominasi itu gereja.
Kita sudah tegaskan bahwa simbol
perempuan di Kitab Wahyu menunjuk kepada gereja. Karena Adam adalah
simbol/gambaran Kristus dan Hawa tentunya gereja (Roma 5:14), dan di Kitab
Wahyu 17:5, dikatakan mengenai nama atau identitas perempuan ini yaitu misteri
(rahasia). Misteri/rahasia yang dimaksud Alkitab adalah sesuatu yang
TERSEMBUNYI atau tidak dapat dilihat oleh orang banyak. Tetapi bagi mereka yang
telah mendapat pewahyuan, seperti Rasul Yohanes di Pulau Patmos, maka bagi
mereka perempuan ini tidak merupakan rahasia, atau misteri lagi. Semoga
dihari-hari menjelang kedatangan Tuhan, banyak Umat Tuhan akan melihat seperti
yang dilihat Rasul Yohanes.
Sekarang kita akan periksa Matius 7:
21-23. Disini Tuhan Yesus akan berterus terang menolak orang2 yang ‘bernubuat
demi nama Tuhan, mengusir setan demi nama Tuhan, dan mengadakan banyak mujizat
demi nama Tuhan juga’. Tuhan tidak menyangkal pernyataan dan pengakuan mereka.
Tetapi Tuhan tegaskan bahwa mereka itu pembuat kejahatan (ayat 23). Istilah
Yunani ANOMIA, yang diterjemahkan LAI, ‘pembuat kejahatan’, bermakna
‘pelanggaran hukum’ (Lawlessness=ketiadaan hukum). Kita tahu bahwa hukum gereja
adalah hukum Hayat. Otoritas gereja adalah otoritas Hayat, dan bahwa otoritas
Hayat hanya berlaku jika gereja tidak diorganisasikan. Begitu gereja
diorganisasikan maka kepala gereja menjadi kepala organisasi tersebut. Otoritas
gereja menjadi otoritas manusia, sebagai kepala organisasi. Hal ini TIDAK
MENURUTI ATURAN HAYAT. Jika aturan Hayat itu dituruti, itu berarti Yesus
sebagai kepala gereja mengatur SELURUH ANGGOTA TUBUH MELALUI HAYATNYA.
Istilah ‘anomia’ ini digunakan
didalam I Yohanes 3:4, “…sebab dosa ialah ANOMIA Allah”. PELANGGARAN HUKUM
ALLAH. Apa itu hukum Allah? Itulah HUKUM HAYAT. Karena Elohim adalah Hayat.
Betapa seriusnya melanggar hukum hayat ini. Dengan mengorganisasikan gereja itu
berarti menolak otoritas hayat dan menggantikannya dengan seorang pemimpin manusia
sebagai kepala organisasi itu. Kita bisa menduga bahwa orang2 yang disebutkan
dalam Matius 7:21-23 adalah para pemimpin. Orang2 yang terkenal, sebab
pelayanan mereka adalah bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan dan membuat
banyak mujizat, yang tentunya akan menarik perhatian Umat Tuhan.
Sudahkah sdr melihat perbedaan para
pemimpin organisme dan para pemimpin organisasi? Cepat atau lambat tentunya
pasti terlihat perbedaannya, karena Yesus akan berterus terang nanti pada saat
pengadilan Kristus. Tetapi alangkah baiknya Umat Tuhan sudah mengenalinya
sekarang agar dapat mengambil langkah yang tepat. Semoga… Amin.
Saat ini kita akan melihat bentuk
kepemimpinan organisme dan bentuk kepemimpinan organisasi. Kita akan melihat
kembali perempuan di kitab Wahyu 12 dan 17. Mari kita melihat lebih dahulu
perempuan di kitab Wahyu 17.
Wahyu 17:18 tegaskan, “Dan perempuan
yang telah kaulihat itu, adalah KOTA BESAR yang memerintah atas raja-raja di
bumi”. Siapakah kota besar ini? Wahyu 18:2 menjelaskan kepada kita bahwa kota
besar ini adalah BABEL. Jadi, jelaslah bahwa perempuan di pasal 17 ini adalah
Babel. Disini perempuan sebagai simbol gereja disebut Babel.
Mari kita periksa kitab Kejadian 10
dan 11 untuk memeriksa siapa orang yang mendirikan kota Babel ini. Kita akan
melihat bahwa Nimrod adalah orang yang mula2 sekali berkuasa dibumi (Kejadian
10:8). Banyak orang mengira bahwa Nimrod ini seorang yang melayani dan hidup
DIHADAPAN Tuhan (Kej. 10:9). Tetapi kita telah tahu bahwa Strong’s Concordance
mengungkapkan fakta mengenai istilah Ibrani yang diterjemahkan DIHADAPAN (ayat
9) mempunyai arti yang sangat bervariasi. Dalam Kej.10:9 seperti misalnya Bil.
16:2, istilah Ibrani yang diterjemahkan DIHADAPAN juga memiliki arti literal
MEMBERONTAK. Dan didalam Jewish Encyclopedia, nama Nimrod berarti Ia yang
membuat semua orang memberontak melawan Tuhan. Terjemahan Alkitab ILT
(Indonesian Literal Translation) membuat catatan kaki untuk terjemahan
DIHADAPAN, yaitu TEGAR MENENTANG. Dapat disimpulkan bahwa Nimrod ini adalah seorang
yang memberontak dan tegar menentang Tuhan, dan Nimrod mendirikan kerajaan
sendiri dimana salah satunya adalah Babel.
Nimrod adalah pemimpin pertama yang
berkuasa dibumi ini. Dan ia memberontak kepada Tuhan dengan mendirikan
kerajaannya sendiri. Salah satu tujuan dari Nimrod adalah MENCARI NAMA (Kej.
11:4). Semua yang kita bicarakan mengenai Babel sebagai kota yang didirikan
oleh Nimrod adalah fakta sejarah. Tetapi Babel di kitab Wahyu menjadi simbol
gereja. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa pemimpin gereja Wahyu 17 adalah
seorang Nimrod. Untuk saat ini kita simpan dulu pemahaman kita mengenai Nimrod
ini, yaitu seorang pemimpin gereja Wahyu 17, yang memberontak dihadapan Tuhan,
dengan membangun kerajaannya sendiri, dan mempunyai tujuan mencari nama.
Sekarang kita akan melihat bentuk
kepemimpinan gereja yang disimbolkan oleh Wahyu pasal 12. Perempuan ini memakai
mahkota dari dua belas bintang diatas kepalanya (ayat 1). Angka 12 didalam
Alkitab berbicara mengenai kepemimpinan. Mahkota juga berbicara kepemimpinan.
Bintang di Kitab Wahyu merupakan simbol dari anak2 Elohim. Bentuk kepemimpinan
disini adalah suatu tim yang bersifat egaliter (sederajat). Tidak ada satu
bintangpun yang lebih besar dari yang lainnya. Semua bintang tersusun
sedemikian sehingga menjadi suatu kepemimpinan, suatu mahkota yang memimpin
perempuan ini. Jadi, perempuan ini dipimpin oleh suatu tim kepemimpinan anak2
Elohim.
Kembali kita ke permasalahan kita.
Kepemimpinan organisme adalah kepemimpinan perempuan Wahyu 12, sedangkan kepemimpinan
Organisasi adalah kepemimpinan Wahyu 17. Yang satu berbentuk tunggal, yang
lainnya jamak dan sederajat. Banyak yang dapat kita bandingkan dari dua bentuk
kepemimpinan ini, tetapi untuk saat ini kita coba langsung masuk dan melihat
secara praktis didunia kekristenan.
Jika saudara beribadah ke suatu
gedung tertentu, barangkali tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk
menemukan “Nimrodnya” disitu. Dialah orang yang berkuasa disitu. Dialah yang
membuat dan merangcang perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan kontrol,
layaknya perbuatan seorang manajer. Barangkali semua aset komunitas itu adalah
miliknya. Faktanya, memang kerajaan itu miliknya sendiri dan keluarganya
tentunya. Bukan berarti “Nimrod” ini seorang yang jahat dihadapan manusia, tetapi
kita sedang berbicara perkara2 dihadapan Tuhan dan firmanNya. Siapa bertelinga
…hendaklah ia mendengar, Amin.
Kita sudah melihat sedikit bagaimana
kepemimpinan gereja yang disimbolkan oleh perempuan di Kitab Wahyu 17, yaitu
“kepemimpinan Nimrod”. Saat ini kita akan melihat lebih jauh lagi motivasi2 apa
yang ada didalam diri Nimrod ini. Mengapa hal ini perlu kita selidiki adalah
karena Tuhan melihat hati. Tuhan melihat hal2 yang ada didalam batin manusia.
Tentu Tuhan menilai perbuatan2 manusia, karena masing2 orang akan dihakimi
berdasarkan perbuatannya. Tetapi nilai dari perbuatan2 itu ditentukan oleh
kondisi hati seseorang.
Mari kita melihat contoh bagaimana
Tuhan menilai perbuatan Musa. Ketika bangsa Israel menyembah anak lembu emas,
Musa begitu marah sehingga ia melemparkan dan memecahkan kedua loh batu dimana
tertulis sepuluh perintah Tuhan. Tetapi Tuhan tidak menyalahkan Musa karena hal
ini. Namun, ketika Musa memukul batu sehingga air keluar dan Umat Israel dapat
minum, Tuhan murka kepada Musa sehingga Musa tidak diizinkan masuk tanah
Kanaan. Alkitab mencatat bahwa bangsa Israel membuat hati Musa pahit sehingga
Musa teledor dalam perkataannya. Hati Musa yang pahit telah menyebabkannya
teledor dalam perkataannya, dan Tuhan memandang Musa bersalah karena tidak
menghormati kekudusan Tuhan. Kita lihat disini bahwa kondisi hati seseorang
sangat menentukan bagaimana Tuhan akan menilai perbuatan maupun perkataannya.
Sebelum kita masuk kedalam kondisi
hati Nimrod, mari kita lihat suatu kasus dimana Yakobus dan Yohanes begitu
marah ketika Yesus tidak diterima oleh orang2 Samaria karena perjalananNya
menuju Yerusalem (Lukas 9:51-56). Yakobus dan Yohanes berkata apakah Yesus mau
jika mereka minta api dari langit turun untuk menghanguskan orang2 Samaria itu.
Tetapi Yesus menegor mereka dan berkata, “…Ye have not known OF WHAT SPIRIT YE
ARE” (Young’s Literal). Yakobus dan Yohanes tidak mengetahui bahwa mereka
dikuasai roh tertentu yang bukan Roh Tuhan, yang membuat mereka berkata
demikian.
Kembali kita kepada kondisi hati
Nimrod. Dari kitab Kejadian 10-11, kita tahu bahwa perbuatan Nimrod membangun
kerajaannya sendiri dimotivasi oleh keinginannya mencari nama. Tetapi kalau
kita membandingkan dengan kebanggaan Nebukadnesar yang juga membangun Babel
(Daniel 4:30), maka sebenarnya motivasi terdalam dari Nimrod adalah
kesombongan. Spirit kesombongan inilah yang telah memotivasi Nimrod membangun
kerajaannya sendiri.
Persoalannya tidak sesederhana yang
kita sangka. Motivasi kesombongan ini seringkali begitu tersembunyi sehingga
kita sendiripun tidak menyadarinya. Seandainya terang Tuhan menyoroti kedalam
lubuk hati kita yang terdalam…barangkali kita kaget kalau ternyata sebagian
besar kerajinan, keuletan, semangat kita berasal dari spirit kesombongan ini…
Itu sebabnya bagi kita yang
terpanggil melayani Tuhan dan rindu membangun Tubuh Kristus, kita perlu
membiarkan diri dibentuk Tuhan. Perlu banyak belajar dan diproses Tuhan… Perlu
banyak benturan, konflik, penderitaan dan kesengsaraan sebelum kita dapat
membangun gereja dalam konteks organisme… Jika kita kurang diremukkan Tuhan,
jangan2 semangat Nimrod ini yang mendominasi setiap langkah kita dan ternyata
kelak kita hanyalah membangun kerajaan kita sendiri… Semoga Hayat Kristus yang memotivasi
kita dan bukan semangat Nimrod…Amin.
Kita akan menggunakan dua istilah
untuk mencoba membandingkan kepemimpinan Organisme dan kepemimpinan Organisasi.
Kedua istilah ini adalah esensi dan ekspresi. Esensi menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah hakikat, inti atau hal yang pokok. Sedangkan ekspresi adalah
pengungkapan atau proses menyatakan. Yang dinyatakan bisa merupakan perasaan,
gagasan atau hal lainnya.
Apa sebenarnya hakikat, inti atau hal
yang pokok dalam kepemimpinan organisme dan organisasi? Kita akan dibantu oleh
dua ayat Alkitab untuk memperjelas masalah ini. Pertama, Kisah Para Rasul
20:30, “Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan
ajaran palsu mereka berusaha menarik murid2 dari jalan yang benar dan supaya
mengikut mereka”. Kedua, Efesus 4:11-12, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul2
maupun nabi2, baik pemberita2 Injil maupun gembala2 dan pengajar2, untuk
memperlengkapi orang2 kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan Tubuh
Kristus”. Kedua ayat2 ini berbicara soal kepemimpinan dengan dua hasil yang
sangat berbeda. Kepemimpinan yang pertama menghasilkan perpecahan dalam Tubuh,
yang kedua justru membangun Tubuh Kristus. Hakikat, inti atau hal pokok dalam
kepemimpinan pertama yang mencabik-cabik Tubuh adalah MENARIK MURID2 SUPAYA
MENGIKUTI PEMIMPIN. Sedangkan hakikat, inti atau hal pokok dalam kepemimpinan
kedua yang membangun Tubuh Kristus adalah MEMPERLENGKAPI. Inilah perbedaan
esensi keduanya.
Kepemimpinan yang MENARIK MURID2
adalah kepemimpinan organisasi, sedangkan kepemimpinan yang MEMPERLENGKAPI
ORANG2 KUDUS adalah kepemimpinan organisme. Seandainya para pemimpin organisasi
membaca uraian seperti ini, tentu saja langsung dibantah. Tetapi mari kita
melihat persoalannya dengan pikiran jernih.
Bukankah tidak dapat disangkal bahwa
ribuan organisasi gereja itu adalah perpecahan? Apapun alasan orang untuk
menjelaskan adanya ribuan organisasi itu, Alkitab maupun sejarah gereja
membuktikan bahwa ribuan organisasi atau denominasi itu ADALAH PERPECAHAN GEREJA.
Jika satu atau beberapa pemimpin membangun organisasi gereja, bukankah itu
bermaksud untuk menampung murid2 kedalam “wadah organisasi” tersebut. Dan jika
murid2 sudah masuk kedalam “wadah” itu, maka organisasi lainnya diharapkan
tidak menarik murid2 itu lagi kedalam “wadah organisasi” mereka. Walaupun pada
kenyataannya, apa yang disebut pertumbuhan gereja, menurut suatu survey,
setengahnya, tidak lain merupakan perpindahan murid2 dari satu “wadah
organisasi” ke satu “wadah organisasi” lainnya…
Berbicara soal menarik murid2 kedalam
suatu wadah organisasi ini dapat kita lanjutnya kepada menarik uang dari murid2
bagi perkembangan wadah organisasi tersebut. Ajaran palsu seperti perpuluhan,
buah sulung dan hal2 lainnya terkait menarik uang murid2 terpaksa dijalankan
demi kelangsungan organisasi. Mengapa kita katakan ajaran palsu? Karena ajaran
perpuluhan, buah sulung itu memang ajaran asli bagi Umat Israel yang terkait
oleh suatu Perjanjian Lama. Tetapi ajaran ini dipalsukan dengan menerapkannya
kedalam konteks Perjanjian Baru. Demikianlah genap Kisah Para Rasul 20:30
diatas. Menarik murid2, menarik uang dari murid2 merupakan ciri dari
kepemimpinan organisasi, walaupun tentu ada sedikit organisasi yang dibiayai
oleh si pemimpin itu sendiri karena kekayaannya….namun hal ini adalah
kekecualian.
Mari kita melihat esensi kepemimpinan
organisme yang adalah memperlengkapi. Para pemimpin organisme tidak menarik
murid2 kepada diri mereka apalagi menarik uang murid2 bagi perkembangan
pelayanannya. Para pemimpin organisme hidup dari “meja Elia” bukan dari “meja
Izebel”, seperti yang telah kita uraikan sebelumnya. Covid-19 ini sama sekali
tidak mempengaruhi pelayanan para pemimpin organisme. Bagi para pemimpin yang
pelayanannya terganggu dan bahkan merosot oleh Covid-19 ini membuktikan dengan
jelas bahwa ia berada dalam konteks organisasi.
Mengenai ekspresi dari kepemimpinan
organisasi dan kepemimpinan organisme akan kita uraikan selanjutnya…
Kita telah sedikit membahas esensi
dari kepemimpinan organisme dan organisasi. Esensi dari kepemimpinan organisasi
adalah menarik murid2 kepada para pemimpin (Kis. 20:30). Sedangkan esensi dari
kepemimpinan organisme adalah memperlengkapi orang2 kudus (Efesus 4:12). Ini
bukan berarti para pemimpin organisasi tidak memperlengkapi orang2 kudus, namun
ada suatu tindakan menarik murid2 kepada para pemimpin yang menyebabkan
perpecahan gereja menjadi ribuan Denominasi, dan tindakan para pemimpin ini
tidak dapat diabaikan begitu saja. Bahkan Alkitab menyebut bahwa tindakan ini disebabkan
adanya serigala ganas yang menyerang Tubuh Kristus. Jadi, walaupun para
pemimpin denominasi ini memperlengkapi murid2, tetapi harus disebut bahwa
mereka melakukan ini DALAM KONTEKS menarik murid2 kedalam organisasi mereka.
Berbeda dengan para pemimpin
organisme. Para pemimpin ini benar2 sadar bahwa mereka hanyalah sendi2 dan
urat2 dalam Tubuh yang mana taat sepenuhnya kepada otoritas Hayat. Melalui
proses peremukkan Tuhan, para pemimpin ini tidak memiliki “kekuatan Nimrod”
untuk menarik murid2 kepada dirinya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah
memperlengkapi murid2 saja, tidak lebih dari itu. Mereka hanya dapat belajar
menjadi teladan bagi murid2 dalam hal mengikuti arus Hayat.
Saat ini kita akan berbicara mengenai
ekspresi dari kepemimpinan organisasi dan organisme. Ekspresi yang dimaksud
adalah pengungkapan atau proses menyatakan suatu esensi. Esensi itu sesuatu
yang seringkali tidak mudah dilihat atau dikenali. Hanya setelah diungkapkan
atau dinyatakan barulah esensinya terdeteksi.
Apakah ekspresi dari kepemimpinan
organisasi? Saya mencoba menjelaskannya dengan suatu istilah yaitu
PERTUNJUKKAN. Mengapa harus pertunjukkan? Karena memang esensinya menarik
murid2, maka tentu kekristenan, bahkan ibadah, telah menjadi suatu
pertunjukkan. Panggung dunia kekristenan penuh dengan pertunjukkan2. Semua
pertunjukkan ini ada karena esensinya menarik murid2.
Mari kita membahas rata2 mimbar
minggu yang ada didunia kekristenan ini. Pada umumnya khotbah2 itu menjadi
sesuatu yang enak didengar. Berita mengenai pikul salib, penyangkalan diri,
peremukkan daging dan memilih kehendak Bapa apapun akibatnya, menjadi sesuatu
yang jarang terdengar. Mimbar2 ini telah menjadi suatu pertunjukkan. Bukankah
pertunjukkan itu haruslah sesuatu yang menyenangkan orang?
Lebih jauh lagi, orang juga harus
membayar untuk melihat pertunjukkan. Tanpa segan2 seorang pengkhotbah terkenal
mengatakan bahwa kalau anda makan di restoran, tentu harus membayar, demikian
juga “nonton di gereja” juga harus bayar di gedung dimana saudara menonton
pertunjukkan itu tentunya.
Belum lagi kalau kita berbicara
mengenai puji2an kepada Tuhan. Segala sesuatu diatur sedemikian sehingga
puji2an menjadi sesuatu yang menarik. Gedung2 yang ada didunia kekristenan
dengan panggungnya yang lengkap itu bukannya tanpa esensi. Ada esensi dibalik
semua pertunjukkan itu….esensinya adalah menarik murid2…
Melalui Covid-19 ini pertunjukkan
didalam dunia kekristenan terpaksa terhenti. Bapa di Sorga yang merancang semua
ini agar murid2 Tuhan berpikir sejenak dirumah…. Karena dirumah tidak mungkin
ada pertunjukkan, diharapkan murid2 Tuhan dapat memahami makna beribadah,
mengikut Tuhan, bergereja…dan seterusnya.
Saat ini kita akan berbicara mengenai
sihir dalam gereja. Mari kita melihat kitab Wahyu 18:23, “…oleh ilmu sihirmu semua
bangsa disesatkan”. Young’s Literal menerjemahkan istilah ‘disesatkan’ yaitu
‘led astray’. Astray disini berarti ‘to go in the wrong direction’ atau ‘to
have the wrong result’. Jadi, ‘led astray’ berarti DIPIMPIN kearah yang salah
serta menghasilkan hasil yang salah juga. Ayat ini berbicara soal kepemimpinan,
tetapi kepemimpinan yang membuat orang yang dipimpin berjalan kearah yang
menyimpang (salah).
Didalam ayat ini juga ditegaskan
bahwa kepemimpinan yang menyimpang itu terkait dengan sihir. Maksudnya
penyimpangan dalam kepemimpinan ini disebabkan si pemimpin menggunakan ilmu
sihirnya, sadar atau tidak sadar tentunya. Istilah Yunani untuk sihir disini
adalah PHARMAKEIA, dimana kemunculannya yang lain hanya terdapat di Galatia
5:20. Istilah ‘Pharmakeia’ ini berasal dari ‘Pharmakeus’ yang bermakna
‘Medication’ (pharmacy). Strong mendefinisikannya sebagai ‘the use of medicine,
drugs, or spells. Salah satu pengertian ‘Spells’ disini adalah ‘words that are
thought to have magic power’ atau ‘a quality that a person has that makes
him/her so attractive. Jadi, ‘Pharmakeus’ yang bermakna Medication adalah
penggunaan obat2 sedemikian sehingga seseorang dibuat “fly” atau tidak
sepenuhnya sadar, sehingga dengan demikian membuat seseorang yang berbicara
padanya menjadi sangat menarik.
Konteks Wahyu 18:23 adalah simbol
perempuan (gereja Wahyu 17) yang sudah banyak kita bicarakan. Kepemimpinan
perempuan Wahyu 17 ini sangat attractive, dan membuat banyak orang
mengikutinya. Dikatakan bahwa perempuan ini duduk diatas “tempat yang banyak
airnya” dimana air adalah simbol orang
banyak (Wahyu 17:15). Jadi, melalui kepemimpinan perempuan Wahyu 17 banyak dari
Umat Tuhan tertarik dan mengikutinya, seperti kena sihir atau minum obat yang
membuatnya tidak sepenuhnya sadar.
Mengapa banyak Umat Tuhan tertarik
dan kena sihir oleh kepemimpinan perempuan Wahyu 17 ini? Menurut Surat Yudas,
guru2 palsu itu, “…menyelewengkan anugerah Elohim kita kearah rangsangan
badani…” (ayat 4, versi ILT). Maksudnya, para pemimpin ini mengajarkan ANUGERAH
ELOHIM tetapi diarahkan kepada PERKARA2 JASMANI. Bahkan ketika mengutip ayat
yang sangat rohanipun, mereka arahkan kepada yang jasmani. Sebagai contoh, ayat
yang sering mereka kutip, “…Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan
mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Mereka katakan bahwa
kelimpahan ini berarti kelimpahan hidup rohani, jasmani, kesehatan, kemakmuran,
tidak kena masalah, bencana ..dst..dst. Padahal ayat ini berbicara soal Hayat
(hidup Zoe) dimana kelimpahan Zoe ini berarti kelimpahan pengenalan akan Tuhan
(Yohanes 17:3), kelimpahan memahami dan mentaati perintahNya (Yohanes 12:50).
Kelimpahan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, …dst, buah2 Roh, karena
buah2 Roh terkandung didalam Hayat. Sama sekali Yohanes 10:10 tidak berbicara
soal2 jasmani. Ini baru satu ayat, bagaimana dengan ayat2 mengenai perpuluhan,
buah sulung, kekayaan karena menabur…dst…dst…. Segala ayat digunakan oleh
perempuan Wahyu 17 ini dan DIARAHKAN KEPADA YANG JASMANI.
Siapa yang tidak tertarik jika
dikhotbahkan bahwa kalau ikut Tuhan maka kaya, sukses, makmur, tidak kena
masalah, tidak sakit, menjadi kepala bukan ekor,…dst…dst… Banyak Umat Tuhan
tidak sadar bahwa mereka TELAH KENA SIHIR. Umat Tuhan “fly” dan tidak
sepenuhnya sadar lagi. Kalau Tuhan Yesus dihina, mereka tenang2 saja…tetapi
kalau pendetanya dikritik…mereka langsung menyerang dengan ayat2 terutama ayat
“JANGAN MENGHAKIMI”…Umat Tuhan yang membela pendetanya DENGAN TANPA AKAL SEHAT,
jelas merupakan tanda “tidak sadar” dan sudah kena sihir…
Bagaimana dengan kepemimpinan
organisme? Ya…mereka juga memiliki “daya sihir”, tetapi “daya sihir” Hayat,
membuat orang merindukan Hayat Kristus…membuat orang rela menderita asal
bertumbuh dalam Hayat…rela disalah mengerti yang penting Hayat berkelimpahan…
Saat ini kita akan berbicara mengenai
penghakiman Gereja. Sebelumnya kita harus paham bahwa segala yang terjadi
dialam semesta ini ada didalam pengaturan Bapa. Tidak ada satu kejadianpun yang
terjadi tanpa melalui keputusan Bapa. Alkitab tegaskan bahwa burung jatuh
kebumipun tidak ada yang terjadi diluar kehendak Bapa (Matius 10:29). Entah
siapa yang menjatuhkan burung itu, apakah ia ditembak pemburu atau ia sengaja
menjatuhkan dirinya, atau memang sudah saatnya burung itu mati karena tua,
apapun penyebabnya yang jelas TIDAK AKAN ADA SATUPUN BURUNG YANG JATUH TANPA
KEHENDAK BAPA. Saya tidak suka bermain dengan istilah2 seperti, IZIN Bapa,
KEHENDAK Bapa, atau apapun istilahnya, tetapi saya sedang berbicara PENGATURAN
BAPA DAN KEDAULATAN BAPA DIALAM SEMESTA INI.
Mengapa saya harus menegaskan
kedaulatan Bapa? Karena saya akan menegaskan bahwa terjadinya atau adanya
Covid-19 ini ADALAH PENGATURAN BAPA YANG DIDASARKAN ATAS KEDAULATANNYA. Sayapun
tidak suka berbicara soal teori2 konspirasi, atau mengaitkan nama2 tertentu
dengan Covid-19 ini. Bagi orang percaya hal2 itu sama sekali tidak penting.
Yang penting bagi kita adalah APA MAKNANYA COVID-19 INI BAGI GEREJA. Apa maksud
Bapa dengan Covid-19 ini?
Mari kita periksa Yesaya 26:9 yang berkata, “… sebab apabila Engkau
datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar “. Tak
dapat disangkal bahwa penduduk bumi telah belajar apa yang benar melalui
Covid-19 ini, karenanya Covid-19 ini adalah PENGHAKIMAN BAPA ATAS BUMI.
Disepanjang Alkitab juga berbicara kedatanganNya untuk menghakimi. Pertanyaan
yang penting bagi kita adalah kepada siapa yang Bapa inginkan lebih dahulu
dihakimi? Alkitab juga jelas mengenai hal ini bahwa gereja, UmatNyalah yang
lebih dahulu dihakimi (I Petrus 4:17). Saya senang dengan penjelasan W. Nee
bahwa Bapa di sorga tidak punya banyak waktu untuk menghakimi semua orang saat
ini. Dia hanya punya waktu bagi anak2Nya.
Sekarang kita masuk kepada tema atau
topik pembicaraan kita selama ini. Kita sudah berulangkali menjelaskan gereja
yang disimbolkan oleh perempuan di kitab Wahyu pasal 12 dan perempuan yang
dipasal 17. Sekarang kita berbicara untuk perempuan yang dipasal 17. Wahyu
18:10 berkata, “…celaka, celaka engkau, hai kota yang besar, Babel, hai kota
yang kuat, sebab dalam satu jam saja sudah berlangsung PENGHAKIMANMU “.
Siapakah Babel, kota besar ini? Alkitab sendiri menjawab dalam Wahyu 17:18,
“Dan PEREMPUAN yang telah kaulihat itu adalah KOTA BESAR …”. Jadi perempuan
Wahyu 17 ADALAH kota besar Babel.
Ada banyak alasan mengapa perempuan
Wahyu 17 ini terkena penghakiman Bapa. Untuk saat ini mari kita teliti istilah
BESAR, yang mencirikan perempuan Wahyu 17 ini. Kalau Yerusalem, mempelai
Kristus itu kota KUDUS. Tetapi perempuan Wahyu 17 ini kota BESAR, atau mau
pakai istilah MEGA juga boleh.
Memang semangatnya perempuan Wahyu 17
ini adalah BESAR, gak perduli KUDUS atau tidak. BESAR berbicara perkara2
jasmani, sedangkan KUDUS berbicara perkara2 batiniah. Kalau kita mendengar
khotbah yang menggunakan kasih karunia Tuhan serta diarahkan kepada perkara2
jasmani, itulah ciri2 khotbah perempuan Wahyu 17. Pengajaran yang UUD, berusaha
menyenangkan telinga orang banyak, memotivasi Umat supaya sukses secara
jasmani, berbicara perpuluhan, buah sulung kepada UMAT PERJANJIAN BARU…semua
ini adalah ciri perempuan Wahyu 17 yang ingin BESAR…tetapi justru mendatangkan
PENGHAKIMAN BAPA. Melalui Covid-19 ini
semangat untuk menjadi BESAR telah dilemahkan sedemikian sehingga “kejayaan
masa lalu” tidak akan bangkit lagi… (Wahyu 18:21).
Tetapi kita harus sadar bahwa
penghakiman Bapa ini merupakan ekspresi dari kasihNya, sebab melalui
penghakiman ini perempuan Wahyu 17 BELAJAR APA YANG BENAR, seperti Yesaya 26:9
katakan.
Saat ini kita akan berbicara soal
dagang didalam gereja. Dagang hanya ada didalam gereja yang disimbolkan oleh
perempuan di Wahyu 17. Simbol perempuan Wahyu pasal 12 tidak berdagang.
Kepemimpinan organisme tidak berdagang didalam pelayanan mereka.
Kita akan melihat apa saja yang
didagangkan oleh perempuan Wahyu 17 ini. Mari kita lihat Wahyu 18 : 12-13,
“yaitu barang2 dagangan dari emas….. dan bahkan nyawa manusia”. Semua barang
dagangan yang disebut dikedua ayat ini adalah simbol karena kitab Wahyu
menggunakan bahasa simbol. Emas merupakan simbol dari natur Elohim, karunia2
Roh, segala sesuatu yang terkait dengan karakteristik Elohim, sedangkan nyawa
manusia merupakan simbol dari semua kekuatan manusiawi yang terkandung didalam
nyawa itu. Kekuatan manusiawi dalam hal berpengetahuan, kepandaian berbicara,
menyanyi, main musik, dst…dst…. Semua
ini diperdagangkan oleh Perempuan Wahyu 17.
Kita semua tahu bahwa tujuan
perdagangan adalah cari untung. Tidak ada orang dagang cari rugi. Jadi
kepemimpinan perempuan Wahyu 17 ini bertujuan cari untung dari pelayanannya.
Cari untung disini berupa materi dan tentu juga kemuliaan manusia, puji2an, dan
hormat manusiawi. Orang2 Farisi, Saduki dizaman Tuhan Yesus melakukan semua
ini. Mereka berdagang di Bait Suci. Dan kita tahu bagaimana reaksi Tuhan Yesus
atas semua ini. Seandainya Tuhan Yesus datang secara jasmani ke Gedung2 gereja
saat ini, kira2 gimana yah reaksiNya? Dan bagaimana juga reaksiNya jika Ia
datang ke rumah2 melihat ibadah sekeluarga dijalankan? Saya yakin saudara sudah
tahu jawabnya….
Covid-19 ini merupakan reaksi dan
penghakimanNya terhadap dagang di Bait Suci. Tetapi jangan kita terburu2
menilai bahwa perempuan Wahyu 17 ini akan bertobat. Penyakit dagang di Bait
Suci ini hanya dapat sembuh jika para pelayanNya diremukkan dan diproses
sedemikian rupa sehingga bertumbuh menjadi seorang Bapa. Tidak ada Bapa yang
dagang dan cari untung dari anak2nya sendiri. Bapa itu berkorban bagi anak2nya.
Seandainya ada Bapa yang sedang kumpul dengan anak2nya, dan tiba2 datang singa
menyerang… maka seorang Bapa tidak segan2 menghantam singa itu dan berjuang
sampai tetes darah terakhir demi anak2nya. Tetapi seorang upahan yang cari
untung…kalau datang serigala…ya kabur meninggalkan domba2nya serta cari selamat
sendiri.
Bapa yang kita maksud disini bukan
jenis kelamin. Mother Teresa itu bapa bagi orang2 yang dilayaninya, sebab ia
siap mati untuk orang2 miskin yang dilayaninya di India. Dalam pelayanannya,
Mother Teresa tidak cari untung. Paulus juga bapa, karena ia miskin tapi
memperkaya banyak orang yang dilayaninya.
Saya pernah menulis soal menjadi Bapa
dan Manajer. Saya kutip aja ya supaya kita bisa melihat apakah para pendeta
atau gembala sidang saat ini lebih mirip Bapa atau Manajer…
Saya rindu berbagi dengan sdr/i
mengenai bapa dan manajer. Yang dimaksud dengan bapa dan manajer adalah seorang
pemimpin, namun keduanya memimpin dalam konteks yang berbeda. Bapa adalah
pemimpin dalam konteks keluarga, sedangkan manajer adalah pemimpin dalam
konteks organisasi. Bapa memimpin anak-anaknya, sedangkan manajer memimpin
bawahannya.
Dalam banyak hal, apa yang dilakukan
bapa dan yang dilakukan manajer hampir
sama. Sebagaimana manajer membuat perencanaan, demikian juga bapa membuat
rencana bagi anak-anaknya. Manajer melakukan pengorganisasian, demikian juga
bapa membuat tugas-tugas dan departementalisasi, walaupun tidak serumit
manajer, serta membagikan tugas-tugas itu kepada anak-anaknya agar tujuan
keluarga tercapai. Manajer menjalankan kepemimpinan, demikian juga bapa
memotivasi, mengarahkan serta mendorong anak-anaknya menuju tujuan yang telah ditetapkan.
Manajer menjalankan pengawasan, demikian juga bapa memperhatikan anak-anaknya
agar tidak terjadi penyimpangan. Nampaknya bapa dan manajer itu sama.
Tetapi sebenarnya, bapa dan manajer
itu sangat jauh berbeda. Keberbedaan ini disebabkan bapa memiliki hubungan
darah dengan orang-orang yang dipimpinnya, sedangkan manajer mempunyai hubungan
organisasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Perbedaan ini menyebabkan
otoritas yang dimiliki keduanya juga sangat berbeda. Bapa memiliki otoritas
atas anak-anaknya semata-mata karena hubungan darah, sementara itu manajer
memiliki otoritas atas bawahannya karena posisinya didalam organisasi.
Sekarang saya siap masuk kedalam inti
permasalahannya. Apakah pemimpin gereja itu seharusnya seorang bapa atau
manajer ? Apakah hubungan anggota gereja
dengan pemimpinnya itu adalah hubungan karena darah Kristus atau hubungan
organisasi ? Mungkinkah gereja memiliki
pemimpin seorang manajer dan juga bapa ?
Apakah gereja itu organisasi atau organisme ? Apakah gereja itu organisme yang perlu
diorganisasikan? Dapatkah organisme itu
diorganisasikan, seperti kita mengorganisasikan tangan, kaki, mata, telinga,
dan anggota-anggota organisme lainnya ?
Apakah gereja itu Tubuh Kristus atau Tubuh dalam pengertian Organisasi
? Apakah gereja itu keluarga atau
keluarga “besar” alias lembaga?
Bagi beberapa orang
pertanyaan-pertanyaan diatas tidak begitu penting, karena tidak berdampak
apa-apa bagi hidup dan pelayanannya. Tetapi bagi sebagian orang,
pertanyaan-pertanyaan diatas menentukan segala-galanya. Disini saya ingin
berbagi keyakinan dengan sdr/i-ku yang terkasih dalam Kristus. Saya sekedar
menyampaikannya sebagai masukan bagi sdr/i. Bagi saya, gereja adalah organisme
yang tidak dapat diorganisasikan. Bagi saya, gereja adalah keluarga dalam arti
yang sesungguhnya, dan bukan keluarga “besar” dalam arti lembaga. Bagi saya,
gereja adalah Tubuh dan bukan Organisasi. Bagi saya, sesama anggota gereja
mempunyai hubungan karena darah/hidup Kristus, dan bukan hubungan organisasi.
Bagi saya, gereja membutuhkan kepemimpinan seorang bapa, dan bukan seorang
manajer. Bagi saya, seorang manajer tidak mungkin menjadi seorang bapa didalam
gereja, karena keduanya ada di alam yang berbeda. Inilah yang saya yakini
sdr/i-ku.
Saya percaya saat ini Umat Tuhan
sangat membutuhkan bapa-bapa, dan bukan manajer-manajer. Umat Tuhan membutuhkan
hubungan bapa-anak, dan bukan hubungan manajer-bawahan. Hubungan bapa-anak
adalah hubungan darah yaitu hubungan karena Hayat Kristus. Umat Tuhan
membutuhkan kehangatan persekutuan, dan bukan lebih banyak proyek-proyek yang
direncanakan para manajer. Umat Tuhan membutuhkan pengenalan akan keluarga sejati yang adalah Allah, dan bukan
keluarga “besar” lembaga.
Apakah kita akan bertumbuh menjadi
seorang bapa atau manajer ? Bagi saya,
ini pertanyaan yang amat penting.
Ya intinya, seorang Bapa tidak akan
berdagang dan cari untung….
Saat ini kita akan berbicara tentang
kepemimpinan gereja yang dilambangkan oleh perempuan (simbol gereja) di Kitab
Wahyu pasal 12, yang kita sebut kepemimpinan organisme. Mari kita melihat Wahyu
12:1, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan
berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari
dua belas bintang diatas kepalanya”. Seperti telah kita ketahui bahwa kitab
Wahyu menggunakan bahasa simbol, maka baik matahari, bulan dan bintang itu
merupakan simbol juga.
Kita mulai dengan simbol matahari.
Menggambarkan siapakah matahari ini? Maleakhi 4:2 berkata, “Tetapi kamu yang
takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada
sayapnya…”. Surya kebenaran disini tentu menunjuk kepada Kristus sang Surya
Sejati itu. Jadi, matahari merupakan simbol dari Kristus sendiri.
Perempuan di Wahyu 12 ini dikatakan
berselubungkan matahari, artinya perempuan ini begitu dekat dengan matahari
sehingga ia “DIPENUHI” oleh matahari. Sekali lagi, kita berbicara mengenai
simbol, karena tidak ada perempuan jasmani yang bisa dekat dengan matahari yang
permukaannya mempunyai temperature 5500 derajat Celcius. Jadi, perempuan
berselubung matahari artinya gereja yang dipenuhi dan sepenuhnya diresapi oleh
Kristus.
Sekarang, berbicara tentang apakah
bulan itu? Kita tahu bahwa bahwa matahari itu mempunyai energy dari dirinya
sendiri karena ada reaksi nuklir didalam inti matahari itu. Reaksi nuklir
inilah yang menyebabkan matahari dapat memancarkan terang dan panas yang
memberi kehidupan kepada bumi. Tetapi bulan tidak memancarkan panas dan terang
dari dirinya sendiri. Cahaya bulan yang sering kita lihat malam hari itu adalah
akibat bulan menerima sinar matahari. Jadi, cahaya bulan itu adalah pantulan
dari cahaya matahari.
Jadi, apakah yang menjadi “pantulan”
Kristus itu? “Pantulan” Kristus itu adalah Hukum Taurat. Didalam Ibrani 10:1
tertulis, “Didalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan
yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri…”. Hakekat
keselamatan itu adalah Kristus, hukum Taurat itu hanya bayangannya saja.
Perempuan yang sedang kita bicarakan
ini bukan saja diselubungi matahari, tetapi juga menginjak bulan dibawah
kakinya. Artinya, gereja disini telah hidup dalam hakekat (esensi) Kristus dan
tidak lagi hidup dibawah hukum Taurat, termasuk aturan2 perpuluhan, buah
sulung, dan aturan2 lahiriah dan jasmani lainnya. Ibadah gereja ini sudah masuk
kedalam esensi yaitu mengikuti pimpinan Kristus didalam batin, dan bukan
mengikuti aturan2 organisasi, liturgi2, peraturan2 “gedung” dan sebagainya.
Pertanyaan penting bagi kita saat
ini, yang merupakan poin kita sekarang adalah mengapa perempuan/gereja ini
dapat hidup dialam esensi Kristus, dan tidak dialam bayangan hukum Taurat? Ini
disebabkan kepemimpinan gereja ini adalah kepemimpinan “bintang” (mahkota 12
bintang adalah simbol kepemimpinan). Bintang itu sebenarnya adalah matahari
juga, hanya sangat jauh dari bumi sehingga terlihat kecil dan cahayanya tidak
seterang matahari kita.
Mari kita melihat organisasi gereja
yang pada umumnya ada saat ini? Mengapa hukum perpuluhan, buah sulung, dan
persembahan2 jenis lainnya selalu diajarkan oleh para pemimpinnya? Mengapa
khotbah para pemimpinnya, pada umumnya, selalu berakhir kepada berkat2 jasmani?
Konsep sukses, konsep kedatangan Tuhan, konsep diberkati Tuhan, konsep
pertumbuhan gereja, konsep ibadah, hampir selalu mengarah kepada hal2 lahiriah,
jasmani, bahkan duniawi. Hal ini disebabkan para pemimpinnya sendiri tidak
hidup didalam esensi Kristus.
Berbeda dengan kepemimpinan
organisme. Mereka telah puas oleh Kristus. Melayani bagi mereka adalah ekspresi
dari kepuasan mereka didalam Kristus. Pengajaran mereka bersifat batiniah.
Mereka tidak mencari uang, kemuliaan manusiawi, atau hormat manusia…. karena
kalau demikian mereka bukanlah pelayan Kristus…
Kita akan mengakhiri tulisan singkat
ini dengan menjelaskan hasil dari kepemimpinan organisasi dan kepemimpinan
organisme. Sudah kita ketahui bahwa kedua jenis kepemimpinan ini disimbolkan
oleh kedua perempuan di Kitab Wahyu pasal 12 dan pasal 17.
Mari kita lihat dahulu hasil dari
kepemimpinan organisme di pasal 12:5, “Maka ia melahirkan seorang Anak
laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi…”. Terjemahan
LAI memberikan huruf besar untuk anak laki2 di ayat ini sehingga menimbulkan
penafsiran seolah-olah anak laki2 ini adalah Tuhan Yesus Kristus dan perempuan
ini tentunya adalah Maria. Tetapi pemahaman ini mengacaukan sifat dasar Kitab
Wahyu yang bersifat nubuat. Kitab Wahyu ini mengungkapkan mengenai Tuhan Yesus
Kristus dan apa yang akan terjadi dengan gerejaNya. Wahyu 1:1 menegaskan, “…apa
yang harus segera terjadi…”. Kitab Wahyu bukan menceritakan apa yang sudah
terjadi. Karenanya, jelas anak laki2 ini bukan menunjuk kepada Tuhan Yesus
Kristus.
Kalau demikian, siapakah anak laki2
ini? Ditegaskan bahwa anak laki2 ini akan menggembalakan semua bangsa dengan
gada besi. Kalau kita melihat para pemenang di pasal 2:26-27, “Dan barangsiapa
menang dan melakukan pekerjaanKu sampai kesudahannya, kepadanya akan
Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan
tongkat besi…”. Para pemenang dari tujuh gereja yang telah jatuh oleh
pengajaran Bileam, Nikolaus dan Izebel, akan mendapat upah untuk memerintah
dizaman berikut setelah zaman ini selesai. Karenanya, kita dapat yakin bahwa
anak laki-laki ini adalah para pemenang disepanjang zaman ini. Para pemenang
ini akan mendapat upah dizaman berikut untuk memerintah bersama Tuhan Yesus
Kristus.
Kita melihat bahwa hasil dari
kepemimpinan perempuan Wahyu 12 adalah PARA PEMENANG. Kepemimpinan perempuan
Wahyu 12 ini adalah kepemimpinan “Bintang”, seperti yang telah kita bicarakan
sebelumnya. Suatu kepemimpinan yang membawa perempuan Wahyu 12 ini hidup dialam
ESENSI, hidup dialam REALITA, hidup dialam “LANGIT” seperti tertulis di pasal
12:1. Langit disini berarti alam roh, suatu alam dengan dimensi lebih tinggi.
Pertemuan perempuan Wahyu 12 ini juga pertemuan dialam yang lebih tinggi,
seperti telah dijelaskan dahulu mengenai EPISUNAGOGE didalam Ibrani 10:25
(Epi=tinggi, Sunagoge=perkumpulan). Ibadah perempuan ini tidak lagi soal
“digunung ini” atau “digunung itu”, karena perempuan ini telah beribadah dalam
roh dan kebenaran (Yohanes 4). Perempuan Wahyu 12 ini TIDAK DIPERBUDAK oleh
peraturan2 perpuluhan, buah sulung serta peraturan2 organisasi lainnya, karena
oleh kepemimpinan “Bintang” ini, ia telah menginjak “Bulan”.
Tetapi harus kita pahami bahwa
perempuan Wahyu 12 ini tidak mudah terlihat oleh mata jasmani, sebab ia berada
di “Langit” (12:1). Hanya orang2 yang hidup dialam roh yang dapat melihat
perempuan ini. Berbeda dengan Perempuan Wahyu 17 yang duduk ditempat yang
banyak airnya, dimana “air” merupakan simbol orang banyak (17:15). Kepemimpinan
Wahyu 17 ini sangat mempesona, atau lebih tepat, sangat memiliki daya sihir,
seperti yang telah kita bicarakan. Tetapi hasil dari kepemimpinan perempuan Wahyu
17 ini adalah PENGHAKIMAN TUHAN. Penghakiman Tuhan yang sedemikian sehingga
perempuan Wahyu 17 ini tidak akan bangkit lagi.
Sebagai penutup, kita perlu
memperhatikan Wahyu 18:4 yang mengatakan, “…Pergilah kamu hal UmatKu, pergilah
dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya
kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya”. Umat pemenang tentu akan
melarikan diri dari kepemimpinan perempuan Wahyu 17 ini…Haleluyah, Amin.
Comments
Post a Comment