Kepemimpinan Organisme

 

                                         Kepemimpinan Organisme 

Oleh : Irnawan Silitonga

Istilah kepemimpinan dalam kamus besar bahasa Indonesia (edisi keempat) adalah perihal pemimpin dan cara memimpin, sedangkan organisme adalah susunan yang bersistem dari berbagai bagian jasad hidup untuk suatu tujuan tertentu. Organisme sebagai kata benda dalam Biologi adalah makhluk hidup. Jadi pengertian organisme disini adalah susunan atau keterkaitan antara ‘bagian jasad hidup’, seperti keterkaitan antara kaki, tangan, dan bagian2 lain jasad hidup sedemikian sehingga tercapai suatu tujuan tertentu dari makhluk hidup itu.

Untuk memudahkan pengertian kita tentang organisme, ada baiknya kita memahami istilah organisasi dengan baik. Didalam kamus yang sama, istilah organisasi adalah kesatuan atau susunan yang terdiri atas bagian2 (yaitu, orang) dalam perkumpulan untuk tujuan tertentu. Pengertian berikut dari organisasi dalam kamus ini adalah kelompok kerja sama antara orang2 yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, jelaslah bahwa organisasi adalah keterkaitan antara orang yang satu dengan orang yang lainnya dalam suatu struktur, tetapi organisme adalah keterkaitan antara kaki dan tangan dalam suatu makhluk.

Keterkaitan antara orang yang satu dengan orang yang lainnya dalam konteks organisasi perlu ada yang memimpin. Perlu ada suatu jenis otoritas yang mengatur keterkaitan orang yang satu dengan yang lainnya. Otoritas dalam konteks organisasi ini disebut ‘garis komando’. Dalam suatu struktur organisasi kita akan melihat garis komando yang menghubungkan seseorang dengan yang lainnya. Garis komando ini yang menentukan siapa yang memimpin siapa, dan siapa yang bertanggung jawab kepada siapa. Bagian (orang) yang paling atas dalam suatu struktur organisasi adalah yang memiliki otoritas tertinggi.

Demikian juga keterkaitan antara tangan dan kaki dalam konteks organisme perlu ada yang memimpin. Perlu ada juga suatu jenis otoritas yang mengatur keterkaitan antara tangan dan kaki. Otoritas dalam konteks organisme disebut hayat, atau hidup makhluk itu. Hidup makhluk itulah yang mengatur keterkaitan antara kaki dan tangan. Jika tidak ada lagi hayat didalam makhluk itu, maka tidak ada lagi otoritas yang mengatur keterkaitan tangan dan kaki, bahkan tidak ada lagi pergerakan tangan dan kaki, alias mati.

Jadi, jelaslah bahwa kepemimpinan dalam konteks organisasi ADALAH ORANG (yaitu orang yang tertinggi didalam struktur), tetapi kepemimpinan organisme ADALAH HAYAT. Berbicara tentang kepemimpinan dalam konteks organisasi adalah berbicara tentang orang dan cara orang itu memimpin. Sedangkan berbicara kepemimpinan dalam konteks organisme adalah berbicara tentang hayat dan bagaimana hayat itu memimpin tangan dan kaki, atau bagian2 jasad hidup suatu makhluk.

Diharapkan kita bisa melihat perbedaan ini dengan jelas sebelum kita masuk kepada kepemimpinan gereja, sebab jika kita tidak membedakan dengan tegas antara organisasi dan organisme, maka kita tidak akan mengerti apa itu kepemimpinan gereja. Kita dapat saja dengan sembarangan menyamakan kepemimpinan gereja dengan kepemimpinan perusahaan. Saat ini, banyak pemimpin perusahaan yang mendirikan “gereja” karena mereka berpikir bahwa memimpin gereja sama dengan memimpin perusahaan. Bahkan banyak orang yang disebut hamba Tuhan juga memimpin “gereja” seperti memimpin perusahaan.

Sebelum menutup tulisan ini, kita harus sangat jelas melihat bahwa Alkitab berkata GEREJA ADALAH TUBUH. Gereja adalah organisme. Kepemimpinan gereja adalah kepemimpinan organisme. Jika kita tidak sepakat disini, memang sebaiknya tulisan sederhana dan singkat ini tidak perlu terus dibaca… lebih baik membaca buku2 kepemimpinan yang ditulis oleh ahli2 management dan menerapkannya kepada kepemimpinan “gereja”. Tetapi jika sdr yakin dan paham bahwa gereja adalah tubuh, dan bahwa kepemimpinan gereja adalah kepemimpinan tubuh, maka barangkali tulisan ini bisa memberikan masukan bagi sdr agar kita bisa membangun gereja, seperti yang sekarang sedang dibangun oleh Tuhan Yesus.

Telah kita uraikan bahwa otoritas organisme adalah hayat organisme atau hayat makhluk itu sendiri. Dan kita telah paham bahwa gereja adalah organisme. Berbicara soal kepemimpinan gereja adalah berbicara soal otoritas organisme yaitu hayat. Dalam konteks organisasi, otoritas itu adalah orang, yaitu orang tertinggi didalam struktur organisasi tersebut. Didalam gereja tidak ada satu orangpun yang memiliki otoritas. Otoritas gereja adalah hayat, dan hanya Yesus yang berkata Aku adalah hayat (I am the Life). Bahkan tidak ada istilah otoritas terdelegasi (delegated authority) didalam gereja. Didalam gereja TIDAK ADA HAYAT TERDELEGASI. Yesus tidak pernah mendelegasikan hayatNya…Ia memberikan hayatNya agar SETIAP ORANG TAAT PADA HAYAT. Perkara ini harus jelas karena perpecahan gereja dimulai dari beberapa pemimpin yang MERASA punya otoritas dalam gereja. Saudara dan saya tidak punya otoritas atas gereja, bahkan otoritas yang terdelegasi juga. Istilah otoritas terdelegasi hanya berlaku dalam konteks organisasi. Jadi, saat ini kita akan berbicara tentang hayat dengan jelas agar setiap anggota gereja yang rindu melayani Tuhan dan membangun gereja dapat melakukannya dengan benar.              

Alkitab mulai berbicara soal hayat dalam cerita/perumpamaan di Taman Eden. Kedua pohon ditaman Eden adalah dua jenis hayat, dimana pohon kehidupan melambangkan hayat Kristus dan pohon pengetahuan melambangkan jenis hayat (maut) yang dikuasai Iblis. Untuk jelasnya, mari kita teliti Kejadian 2:17, ”…. pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”. Ketika Adam memakan buah pohon pengetahuan, ia tidak langsung mati secara jasmani tetapi masih hidup 900 tahun lebih. Mengapa demikian? Padahal Alkitab berkata PADA HARI engkau memakannya, langsung engkau mati.

Istilah Ibrani untuk mati pada ayat diatas adalah MUT TAMUT, dimana MUT adalah mati. Jadi, MUT TAMUT tidak dapat diterjemahkan hanya dengan satu istilah MATI. Makna sebenarnya dari mut tamut, dalam bahasa Inggris adalah DYING YOU WILL DIE. Dying adalah suatu KONDISI MATI YANG BERPROSES. You will die artinya engkau akan mengalami MATI JASMANI. Jadi, MUT TAMUT yang dikatakan dalam ayat diatas mempunyai pengertian bahwa ketika engkau makan buah pohon pengetahuan maka ENGKAU BERADA DALAM KONDISI MATI YANG BERPROSES PADA KEMATIAN FISIK. Jadi sebenarnya pada hari Adam memakan buah pohon pengetahuan ADAM LANGSUNG DALAM KONDISI MATI BERPROSES. Alkitab menggunakan istilah MAUT untuk kondisi mati berproses ini. Jadi, mati berproses ini sebenarnya adalah JENIS HAYAT, yaitu hayat yang dikuasai Iblis (Ibrani 2:14).

Jenis hayat yang dikuasai Iblis yang Alkitab sebut maut inilah yang Adam wariskan kepada seluruh keturunannya. Jenis hayat MAUT ini sangatlah sia-sia. Kitab Pengkhotbah menjelaskan jenis hayat ini dengan ungkapan ‘dibawah matahari’ atau ‘dibawah langit’, dan ada kurang lebih 52 kali muncul ungkapan ini. Kesimpulan Pengkhotbah adalah semua sia2, gak perduli miskin atau kaya, pintar atau bodoh….dst…dst… Mengapa sia-sia? Karena jenis hayat maut ini dikuasai Iblis dan TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN HAYAT KRISTUS.

Orang yang menjalani hayat maut ini dapat saja berkarya dan beragama. Agama lahir dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, sebab agama mengajarkan orang mengenai baik dan jahat. Tetapi semua sia2, karena tidak terkait sama sekali dengan hidup Kristus. Itu sebabnya Yesus datang bukan bawa agama, bahkan agama Kristen sekalipun, Yesus datang bawa hayat yaitu hayatNya sendir(Yohanes 10:10).

Kita perlu melihat sebentar mengenai istilah hayat ini dalam bahasa Yunani. Bahasa Yunani menggunakan tiga istilah untuk menjelaskan tentang hayat ini. Yang pertama BIOS (istilah ini muncul dalam Injil Lukas mengenai janda yang mempersembahkan seluruh HIDUPNYA). BIOS adalah hayat yang umum. Kedua, PSUCHE, atau hidup jiwani (hidup jenis manusia), dari sini datang istilah psikologi. Yang ketiga adalah ZOE. Inilah jenis hidup yang dimiliki Bapa dan Yesus dan Roh. Dan jenis hayat inilah yang Yesus berikan kepada setiap orang percaya.

Kembali kita kepada otoritas gereja. Otoritas gereja adalah ZOE. Kepemimpinan gereja adalah kepemimpinan Zoe. Diatas telah kita tegaskan bahwa kita tidak memiliki otoritas dalam gereja. Mengapa? Karena sdr. dan saya lahir kedunia ini dengan jenis hayat MAUT, yang sia-sia itu dan dikuasai Iblis. Ketika kita percaya Tuhan, kita diberi hayat baru yaitu Zoe, dimana memang Zoe ini bertumbuh dan akan menelan Maut. Tetapi kita tidak punya otoritas ataupun hak atas Zoe. Yesus hanya memberikan Zoe dan tidak mendelegasikan otoritas yang terkandung didalam Zoe itu. Itu sebabnya Yesus berkata AKU akan mendirikan gerejaKU. Hanya AKU yaitu Zoe yang dapat mendirikan gereja. Kalau demikian mengapa ada para pemimpin dalam gereja. Untuk memahami pemimpin dalam gereja, kita akan membicarakan kekepalaan (Headship) pada tulisan berikutnya…

Telah ditegaskan sebelumnya bahwa hanya Yesus yang adalah Zoe (Hayat) itu yang dapat mendirikan dan membangun Gereja. Yesus berkata AKU akan mendirikan gerejaKu. Telah kita tegaskan juga bahwa para pemimpin didalam gereja (organisme), tidak memiliki otoritas apapun atas Umat Tuhan. Namun mengapa ada para pemimpin didalam konteks organisme, inilah yang akan kita bahas sekarang. Untuk memahami hal ini kita perlu tahu bagaimana konsep kekepalaan (headship) itu baik didalam PL maupun didalam PB.

Penggunaan istilah kepala (Ibrani : R’OSH) dalam PL mengandung makna otoritas atau kepemimpinan. Mari kita lihat beberapa contoh. Musa mengangkat kepala2 untuk memimpin suku Israel (Ulangan 1:5). Yefta juga memiliki kontrol militer atas pasukan Israel (Hakim2 11:11). Didalam Kamus Ibrani-Inggris, oleh Brown, Driver dan Briggs, menerjemahkan penggunaan R’OSH sebagai berikut. Pertama, secara literal adalah kepala fisik dari manusia atau hewan. Kedua, puncak gunung atau bukit. Ketiga, kota utama, imam besar, kepala keluarga. Keempat, didepan, seperti posisi pemimpin dalam perang. Kelima, Utama, Yang terbaik.

Tidak diragukan lagi bahwa didalam PL istilah R’OSH (Kepala) diterapkan kepada para pemimpin manusia. Para pemimpin ini memiliki otoritas untuk mengatur dan mengarahkan bawahannya. Bahkan didalam PL jenjang otoritas juga berlaku (Hierarki). Kalau kita coba bandingkan dengan situasi kita saat ini, maka kepemimpinan dalam konteks PL adalah kepemimpinan organisasi, atau kepemimpinan Lembaga.

Tetapi dalam PB, perkara kepemimpinan sangat berbeda. Istilah Yunani KEPHALE, yang diterjemahkan kepala, memiliki arti yang sangat berbeda dengan istilah kepala yang ada di PL. Ada sekitar 75 kasus dimana istilah ini muncul. Didalam kitab2 Injil, istilah ini muncul sebanyak 33 kali, dimana 31 kali diantaranya berbicara soal kepala manusia secara fisik. Dua yang lainnya berbicara tentang batu penjuru. Dalam Kisah Para Rasul, satu dari lima kemunculannya berbicara soal batu penjuru. Empat lainnya berbicara soal kepala manusia secara fisik. Ada 12 kemunculan didalam surat2 Rasul, dimana yang terbanyak menunjuk kepada Yesus, sebagai kepala gereja, atau menguraikan hubungan antara suami dengan isteri. Tidak ada satupun kasus atau istilah KEPHALE ini yang menunjuk kepada para pemimpin didalam Tubuh Kristus. PARA PEMIMPIN DIDALAM TUBUH ATAU ORGANISME GEREJA TIDAK PERNAH DISEBUT KEPALA. Hierarki atau jenjang otoritas yang nampak jelas didalam kepemimpinan Perjanjian Lama, TIDAK TERDAPAT DIDALAM Perjanjian Baru.

Dari fakta2 ini jelas terbukti bahwa gereja adalah tubuh atau organisme, dan bahwa HANYA YESUS YANG DISEBUT KEPALA GEREJA. Gereja bukan organisasi, tetapi jelas adalah organisme. Ketika gereja di-organisasi-kan dan memiliki kepala organisasi, apapun namanya, apakah itu penatua senior, gembala sidang atau pastor, maka ITU BUKAN GEREJA YANG SEDANG TUHAN YESUS DIRIKAN SAAT INI.

Alkitab memberi nama yang jelas mengenai “gereja” dimana seorang manusia (Gembala Sidang atau Penatua Senior, atau Pastor) sebagai kepalanya. Nanti kita sampai kepada Kitab Wahyu, dimana Wahyu pasal 17-18 menguraikannya, dan kita akan menbahasnya sebagaimana yang Alkitab katakan.

Telah ditegaskan dalam tulisan terdahulu bahwa PARA PEMIMPIN DIDALAM TUBUH ATAU ORGANISME GEREJA TIDAK PERNAH DISEBUT KEPALA. Hierarki atau jenjang otoritas yang nampak jelas didalam kepemimpinan Perjanjian Lama, TIDAK TERDAPAT DIDALAM Perjanjian Baru. Dari fakta2 ini jelas terbukti bahwa gereja adalah tubuh atau organisme, dan bahwa HANYA YESUS YANG DISEBUT PEMIMPIN YAITU KEPALA GEREJA. Itu sebabnya Matius 23:10 tegaskan, “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena HANYA SATU pemimpinmu, yaitu Mesias”. Gereja bukan organisasi, tetapi adalah organisme. Ketika gereja di-organisasi-kan dan memiliki kepala organisasi, atau pemimpin manusia, apapun namanya, apakah itu penatua senior, gembala sidang atau pastor, maka ITU BUKAN GEREJA YANG SEDANG TUHAN YESUS DIRIKAN SAAT INI.

Kalau demikian, apakah Organisme tidak memiliki pemimpin manusia? Sekarang kita akan membahas tentang pemimpin manusia dalam konteks Organisme yang kita sebut kepemimpinan Tubuh (Body Leadership), sebagai lawan dari kepemimpinan dalam konteks Organisasi.

Mari kita periksa Kolose 2:19 dan Efesus 4:16. Kita tidak membahas keseluruhan ayat2 ini, tetapi hanya membandingkan dan mengaitkan kedua ayat ini melalui istilah ‘pertumbuhan’ yang terdapat di kedua ayat tersebut. Kolose 2:19 mengatakan ‘pertumbuhan ilahinya’ (LAI). Sebenarnya, Kolose 2:19 menggunakan dua istilah Yunani ‘auksano’ dan ‘auksesis’ yang oleh LAI diterjemahkan ‘pertumbuhan Ilahinya’. Terjemahan ini kurang tepat karena seharusnya diterjemahkan “may increase with the increase of God” (terjemahan Young’s Literal). Artinya, pertumbuhan tubuh itu ADALAH PERTUMBUHAN ELOHIM. Maksudnya, pertumbuhan gereja Organisme itu adalah PERTUMBUHAN HAYAT ELOHIM. Diayat ini juga disebutkan fungsi dari urat2 dan sendi2 yang menunjang dan mempersatukan. Sementara itu, Efesus 4:16 menegaskan bahwa ‘pertumbuhan tubuh terjadi karena tubuh rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya’. Kalau kita membandingkan kedua ayat ini dapatlah kita simpulkan bahwa pertumbuhan gereja Organisme itu adalah pertumbuhan Hayat Elohim, dimana para pemimpin (“Urat2 dan Sendi2”) berfungsi sebagai yang menunjang dan mempersatukan tubuh.    

Apa yang kita bicarakan diatas adalah mengenai kepemimpinan tubuh atau Body Leadership. Kita lihat disini bahwa para pemimpin (Urat2 dan Sendi2) itu MUTLAK BERGERAK DAN BERFUNGSI MENURUT OTORITAS HAYAT. Didalam konteks Tubuh, tidak mungkin Urat2 dan Sendi2 itu bergerak sendiri dan merusak tubuh. Jadi, para pemimpin organisme sepenuhnya dibawah otoritas hayat dan tidak memiliki otoritas apapun terhadap tubuh atau anggota2 tubuh lainnya. Para pemimpin dalam konteks Organisme hanya dapat MEMPERLENGKAPI dan MELAYANI Tubuh. Seandainya ada pemimpin yang tidak mentaati otoritas Hayat, maka ia sendiri yang terbuang dan terputus dari Hayat, sementara itu Tubuh tidak terganggu. Mengapa? Karena pertumbuhan Tubuh HANYA DITENTUKAN OLEH PERTUMBUHAN HAYAT .

Sudahkah sdr melihat keberadaan para pemimpin organisme? Pertama, mereka tidak memiliki otoritas apapun karena otoritas tetap didalam Hayat. Kedua, mereka hanya dapat memperlengkapi dan melayani Tubuh sebagai hamba dalam arti yang sebenarnya. Ketiga, mereka tidak bisa mengatur Tubuh apalagi ambil keuntungan materi dari Tubuh. Jika kita berada dalam kondisi dan keberadaan pemimpin dalam konteks Organisme, maka kita juga akan berperilaku seperti uraian diatas.  Kalau ada para pemimpin yang berperilaku sebagai orang yang punya hak mengatur, mengambil untung dan sebagainya, maka hal ini membuktikan bahwa ia tidak berada dalam konteks organisme.    

Dalam tulisan2 berikutnya kita akan menjelaskan para pemimpin Organisme ini dengan membanding-bandingkannya dengan para pemimpin dalam konteks Organisasi.

  Kita telah melihat bahwa para pemimpin organisme itu (kepemimpinan Tubuh), yang didalam Kolose 2:19, disebut Urat2 dan Sendi2, sepenuhnya tergantung kepada Hayat Kristus. Itu sebabnya nasihat2 bagi para pemimpin didalam Kitab PB, terfokus kepada pembangunan karakter yang disebabkan pertumbuhan Hayat. Nasihat2 Paulus kepada Timotius, Titus dan perikop2 lain dari PB yang menyinggung kepemimpinan, semuanya terfokus kepada pembangunan karakter Kristus didalam diri para pemimpin itu. Penekanan bagi para pemimpin dalam konteks Tubuh adalah keteladanan. Keteladanan dalam hal pengabdian, pengorbanan, pikul salib dan perihal mengikut Tuhan dan menyangkal diri, serta menjadi hamba dalam pengertian yang sebenarnya, tidak punya otoritas dan tidak ambil keuntungan apapun atas anggota lainnya didalam Tubuh. Semua ini tidak mengherankan karena pertumbuhan Gereja atau Tubuh itu mutlak ditentukan oleh pertumbuhan Hayat, sehingga peran pemimpin adalah TELADAN DAN CONTOH DALAM MENGIKUTI HAYAT KRISTUS. 

Untuk lebih jelas mengidentifikasi para pemimpin Tubuh ini, kita akan mncoba membanding-bandingkan antara kepemimpinan Tubuh dengan kepemimpinan Organisasi didalam dunia kekristenan saat ini. Hal ini perlu karena tidak ada seorangpun yang mengenali sesuatu tanpa mengenali lawan dari sesuatu itu. Orang tidak akan tahu apa itu rasa manis jika tidak tahu rasa pahit, rasanya sehat kalau tidak pernah sakit…dst….dst…. Alkitab, khususnya Kitab Wahyu juga menguraikan kedua perempuan (Wahyu 12 dan Wahyu 17) yang menjadi simbol gereja, agar kita dapat mengenali serta mengetahui juga dimana posisi kita saat ini dalam mengikut Tuhan.

Mari kita melihat lebih dahulu Wahyu 17:3, “…. Aku melihat seorang perempuan DUDUK diatas seekor BINATANG…”. Kita sudah tahu bahwa Kitab Wahyu adalah suatu kitab yang berbicara tentang Yesus Kristus dan gerejaNya dengan bahasa simbol (Wahyu 1:1). Kita sudah pernah membahas ini dan tidak mengulanginya lagi. Binatang didalam kitab Wahyu berbicara SISTEM PEMERINTAHAN MANUSIA. Jadi, perempuan yang duduk diatas binatang berbicara gereja yang didukung oleh sistem pemerintahan manusia. Kita juga tahu bahwa Organisasi adalah alat yang digunakan para pemimpin untuk memerintah. Para pemimpin yang menggunakan Organisasi sebagai alat adalah karena mereka MAU MENGATUR DAN MEMERINTAH UMAT TUHAN. Mereka katakan bahwa gereja itu organisme YANG PERLU DIORGANISASIKAN.

Kita sudah tahu bahwa para pemimpin organisme (Sendi2 dan Urat2 didalam Tubuh) TIDAK MEMILIKI OTORITAS MENGATUR ATAU MEMERINTAH UMAT TUHAN. Para pemimpin Tubuh ini hanya bisa MENJADI TELADAN DAN TIDAK AMBIL APAPUN DARI UMAT TUHAN. Apakah para pemimpin organisme ini tidak berhak mendapat berkat jasmani dari Umat Tuhan? Tentu berhak, sebab Alkitab katakan, “jangan engkau memberangus mulut Lembu yang sedang mengirik”. Tetapi para pemimpin Tubuh ini tidak menggunakan sistem pemerintahan manusia, dengan organisasi sebagai alatnya, untuk dapat mengambil uang dari Umat Tuhan.

Ada kesaksian dari seorang pemimpin bahwa pelayanannya telah berhasil menarik uang ratusan milyar dari Umat Tuhan. Kesaksian seperti ini sangat asing bagi para pemimpin Tubuh, karena tidak ada contohnya didalam PB, walaupun didunia kekristenan yang telah jatuh, kesaksian ini merupakan BUKTI BERKAT TUHAN YANG MELIMPAH. Asing bagi para pemimpin Tubuh bukan berarti kita tidak mengerti mengapa ia bisa menarik uang sampai ratusan milyar dari Umat Tuhan. Jelas bahwa ia dapat menarik uang ratusan milyar karena PELAYANANNYA DITOPANG SISTEM PEMERINTAHAN MANUSIA, seperti yang kita lihat dalam Wahyu 17:3 diatas. Kita mengatakan ini bukan karena kita iri pelayanan kita tidak dapat menarik uang ratusan milyar dari Umat Tuhan. Para pemimpin Organisme itu sangat rindu mencontoh Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja dan kalau Tuhan menghendakinya kitapun siap mati martir bagi Tuhan. Tetapi kita mengatakan ini agar Umat Tuhan bisa mengidentifikasi dan membedakan gereja Wahyu 12 dan gereja Wahyu 17.

Tulisan2 selanjutnya akan terus membanding-bandingkan gereja Wahyu 12 dan Wahyu 17 agar Umat Tuhan semakin jelas dalam mengikut Tuhan… Amin

Untuk dapat melihat dan memahami perbedaan kepemimpinan organisme dan kepemimpinan organisasi, dan betapa dalam perbedaan ini, kita akan memeriksa Matius 7:21-23. Tetapi sebelumnya mari kita melihat fakta2 ini dikalangan kekristenan. Banyak orang tidak mengetahui betapa serius akibat dari mengorganisasikan gereja, yang adalah organisme. Mereka tidak melihat spirit apa yang ada dibalik semua ini, dan juga tidak melihat apa yang Alkitab ungkapkan mengenai ini. Ajaran para teolog yang sudah diterima begitu saja mengenai Visible Church (gereja yang terlihat=Denominasi2 atau organisasi2 gereja yang ribuan itu) dan Invisible Church (semua anak2 Tuhan sejati) menambah buta Umat Tuhan tentang seriusnya masalah ini. Umat Tuhan sudah terbiasa menyebut Denominasi itu gereja.

Kita sudah tegaskan bahwa simbol perempuan di Kitab Wahyu menunjuk kepada gereja. Karena Adam adalah simbol/gambaran Kristus dan Hawa tentunya gereja (Roma 5:14), dan di Kitab Wahyu 17:5, dikatakan mengenai nama atau identitas perempuan ini yaitu misteri (rahasia). Misteri/rahasia yang dimaksud Alkitab adalah sesuatu yang TERSEMBUNYI atau tidak dapat dilihat oleh orang banyak. Tetapi bagi mereka yang telah mendapat pewahyuan, seperti Rasul Yohanes di Pulau Patmos, maka bagi mereka perempuan ini tidak merupakan rahasia, atau misteri lagi. Semoga dihari-hari menjelang kedatangan Tuhan, banyak Umat Tuhan akan melihat seperti yang dilihat Rasul Yohanes.   

Sekarang kita akan periksa Matius 7: 21-23. Disini Tuhan Yesus akan berterus terang menolak orang2 yang ‘bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan demi nama Tuhan, dan mengadakan banyak mujizat demi nama Tuhan juga’. Tuhan tidak menyangkal pernyataan dan pengakuan mereka. Tetapi Tuhan tegaskan bahwa mereka itu pembuat kejahatan (ayat 23). Istilah Yunani ANOMIA, yang diterjemahkan LAI, ‘pembuat kejahatan’, bermakna ‘pelanggaran hukum’ (Lawlessness=ketiadaan hukum). Kita tahu bahwa hukum gereja adalah hukum Hayat. Otoritas gereja adalah otoritas Hayat, dan bahwa otoritas Hayat hanya berlaku jika gereja tidak diorganisasikan. Begitu gereja diorganisasikan maka kepala gereja menjadi kepala organisasi tersebut. Otoritas gereja menjadi otoritas manusia, sebagai kepala organisasi. Hal ini TIDAK MENURUTI ATURAN HAYAT. Jika aturan Hayat itu dituruti, itu berarti Yesus sebagai kepala gereja mengatur SELURUH ANGGOTA TUBUH MELALUI HAYATNYA.

Istilah ‘anomia’ ini digunakan didalam I Yohanes 3:4, “…sebab dosa ialah ANOMIA Allah”. PELANGGARAN HUKUM ALLAH. Apa itu hukum Allah? Itulah HUKUM HAYAT. Karena Elohim adalah Hayat. Betapa seriusnya melanggar hukum hayat ini. Dengan mengorganisasikan gereja itu berarti menolak otoritas hayat dan menggantikannya dengan seorang pemimpin manusia sebagai kepala organisasi itu. Kita bisa menduga bahwa orang2 yang disebutkan dalam Matius 7:21-23 adalah para pemimpin. Orang2 yang terkenal, sebab pelayanan mereka adalah bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan dan membuat banyak mujizat, yang tentunya akan menarik perhatian Umat Tuhan.

Sudahkah sdr melihat perbedaan para pemimpin organisme dan para pemimpin organisasi? Cepat atau lambat tentunya pasti terlihat perbedaannya, karena Yesus akan berterus terang nanti pada saat pengadilan Kristus. Tetapi alangkah baiknya Umat Tuhan sudah mengenalinya sekarang agar dapat mengambil langkah yang tepat. Semoga… Amin.

Saat ini kita akan melihat bentuk kepemimpinan organisme dan bentuk kepemimpinan organisasi. Kita akan melihat kembali perempuan di kitab Wahyu 12 dan 17. Mari kita melihat lebih dahulu perempuan di kitab Wahyu 17.

Wahyu 17:18 tegaskan, “Dan perempuan yang telah kaulihat itu, adalah KOTA BESAR yang memerintah atas raja-raja di bumi”. Siapakah kota besar ini? Wahyu 18:2 menjelaskan kepada kita bahwa kota besar ini adalah BABEL. Jadi, jelaslah bahwa perempuan di pasal 17 ini adalah Babel. Disini perempuan sebagai simbol gereja disebut Babel.

Mari kita periksa kitab Kejadian 10 dan 11 untuk memeriksa siapa orang yang mendirikan kota Babel ini. Kita akan melihat bahwa Nimrod adalah orang yang mula2 sekali berkuasa dibumi (Kejadian 10:8). Banyak orang mengira bahwa Nimrod ini seorang yang melayani dan hidup DIHADAPAN Tuhan (Kej. 10:9). Tetapi kita telah tahu bahwa Strong’s Concordance mengungkapkan fakta mengenai istilah Ibrani yang diterjemahkan DIHADAPAN (ayat 9) mempunyai arti yang sangat bervariasi. Dalam Kej.10:9 seperti misalnya Bil. 16:2, istilah Ibrani yang diterjemahkan DIHADAPAN juga memiliki arti literal MEMBERONTAK. Dan didalam Jewish Encyclopedia, nama Nimrod berarti Ia yang membuat semua orang memberontak melawan Tuhan. Terjemahan Alkitab ILT (Indonesian Literal Translation) membuat catatan kaki untuk terjemahan DIHADAPAN, yaitu TEGAR MENENTANG. Dapat disimpulkan bahwa Nimrod ini adalah seorang yang memberontak dan tegar menentang Tuhan, dan Nimrod mendirikan kerajaan sendiri dimana salah satunya adalah Babel.

Nimrod adalah pemimpin pertama yang berkuasa dibumi ini. Dan ia memberontak kepada Tuhan dengan mendirikan kerajaannya sendiri. Salah satu tujuan dari Nimrod adalah MENCARI NAMA (Kej. 11:4). Semua yang kita bicarakan mengenai Babel sebagai kota yang didirikan oleh Nimrod adalah fakta sejarah. Tetapi Babel di kitab Wahyu menjadi simbol gereja. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa pemimpin gereja Wahyu 17 adalah seorang Nimrod. Untuk saat ini kita simpan dulu pemahaman kita mengenai Nimrod ini, yaitu seorang pemimpin gereja Wahyu 17, yang memberontak dihadapan Tuhan, dengan membangun kerajaannya sendiri, dan mempunyai tujuan mencari nama.

Sekarang kita akan melihat bentuk kepemimpinan gereja yang disimbolkan oleh Wahyu pasal 12. Perempuan ini memakai mahkota dari dua belas bintang diatas kepalanya (ayat 1). Angka 12 didalam Alkitab berbicara mengenai kepemimpinan. Mahkota juga berbicara kepemimpinan. Bintang di Kitab Wahyu merupakan simbol dari anak2 Elohim. Bentuk kepemimpinan disini adalah suatu tim yang bersifat egaliter (sederajat). Tidak ada satu bintangpun yang lebih besar dari yang lainnya. Semua bintang tersusun sedemikian sehingga menjadi suatu kepemimpinan, suatu mahkota yang memimpin perempuan ini. Jadi, perempuan ini dipimpin oleh suatu tim kepemimpinan anak2 Elohim.

Kembali kita ke permasalahan kita. Kepemimpinan organisme adalah kepemimpinan perempuan Wahyu 12, sedangkan kepemimpinan Organisasi adalah kepemimpinan Wahyu 17. Yang satu berbentuk tunggal, yang lainnya jamak dan sederajat. Banyak yang dapat kita bandingkan dari dua bentuk kepemimpinan ini, tetapi untuk saat ini kita coba langsung masuk dan melihat secara praktis didunia kekristenan.

Jika saudara beribadah ke suatu gedung tertentu, barangkali tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menemukan “Nimrodnya” disitu. Dialah orang yang berkuasa disitu. Dialah yang membuat dan merangcang perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan kontrol, layaknya perbuatan seorang manajer. Barangkali semua aset komunitas itu adalah miliknya. Faktanya, memang kerajaan itu miliknya sendiri dan keluarganya tentunya. Bukan berarti “Nimrod” ini seorang yang jahat dihadapan manusia, tetapi kita sedang berbicara perkara2 dihadapan Tuhan dan firmanNya. Siapa bertelinga …hendaklah ia mendengar, Amin.

Kita sudah melihat sedikit bagaimana kepemimpinan gereja yang disimbolkan oleh perempuan di Kitab Wahyu 17, yaitu “kepemimpinan Nimrod”. Saat ini kita akan melihat lebih jauh lagi motivasi2 apa yang ada didalam diri Nimrod ini. Mengapa hal ini perlu kita selidiki adalah karena Tuhan melihat hati. Tuhan melihat hal2 yang ada didalam batin manusia. Tentu Tuhan menilai perbuatan2 manusia, karena masing2 orang akan dihakimi berdasarkan perbuatannya. Tetapi nilai dari perbuatan2 itu ditentukan oleh kondisi hati seseorang.

Mari kita melihat contoh bagaimana Tuhan menilai perbuatan Musa. Ketika bangsa Israel menyembah anak lembu emas, Musa begitu marah sehingga ia melemparkan dan memecahkan kedua loh batu dimana tertulis sepuluh perintah Tuhan. Tetapi Tuhan tidak menyalahkan Musa karena hal ini. Namun, ketika Musa memukul batu sehingga air keluar dan Umat Israel dapat minum, Tuhan murka kepada Musa sehingga Musa tidak diizinkan masuk tanah Kanaan. Alkitab mencatat bahwa bangsa Israel membuat hati Musa pahit sehingga Musa teledor dalam perkataannya. Hati Musa yang pahit telah menyebabkannya teledor dalam perkataannya, dan Tuhan memandang Musa bersalah karena tidak menghormati kekudusan Tuhan. Kita lihat disini bahwa kondisi hati seseorang sangat menentukan bagaimana Tuhan akan menilai perbuatan maupun perkataannya.

Sebelum kita masuk kedalam kondisi hati Nimrod, mari kita lihat suatu kasus dimana Yakobus dan Yohanes begitu marah ketika Yesus tidak diterima oleh orang2 Samaria karena perjalananNya menuju Yerusalem (Lukas 9:51-56). Yakobus dan Yohanes berkata apakah Yesus mau jika mereka minta api dari langit turun untuk menghanguskan orang2 Samaria itu. Tetapi Yesus menegor mereka dan berkata, “…Ye have not known OF WHAT SPIRIT YE ARE” (Young’s Literal). Yakobus dan Yohanes tidak mengetahui bahwa mereka dikuasai roh tertentu yang bukan Roh Tuhan, yang membuat mereka berkata demikian. 

Kembali kita kepada kondisi hati Nimrod. Dari kitab Kejadian 10-11, kita tahu bahwa perbuatan Nimrod membangun kerajaannya sendiri dimotivasi oleh keinginannya mencari nama. Tetapi kalau kita membandingkan dengan kebanggaan Nebukadnesar yang juga membangun Babel (Daniel 4:30), maka sebenarnya motivasi terdalam dari Nimrod adalah kesombongan. Spirit kesombongan inilah yang telah memotivasi Nimrod membangun kerajaannya sendiri.

Persoalannya tidak sesederhana yang kita sangka. Motivasi kesombongan ini seringkali begitu tersembunyi sehingga kita sendiripun tidak menyadarinya. Seandainya terang Tuhan menyoroti kedalam lubuk hati kita yang terdalam…barangkali kita kaget kalau ternyata sebagian besar kerajinan, keuletan, semangat kita berasal dari spirit kesombongan ini…

Itu sebabnya bagi kita yang terpanggil melayani Tuhan dan rindu membangun Tubuh Kristus, kita perlu membiarkan diri dibentuk Tuhan. Perlu banyak belajar dan diproses Tuhan… Perlu banyak benturan, konflik, penderitaan dan kesengsaraan sebelum kita dapat membangun gereja dalam konteks organisme… Jika kita kurang diremukkan Tuhan, jangan2 semangat Nimrod ini yang mendominasi setiap langkah kita dan ternyata kelak kita hanyalah membangun kerajaan kita sendiri… Semoga Hayat Kristus yang memotivasi kita dan bukan semangat Nimrod…Amin.

Kita akan menggunakan dua istilah untuk mencoba membandingkan kepemimpinan Organisme dan kepemimpinan Organisasi. Kedua istilah ini adalah esensi dan ekspresi. Esensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hakikat, inti atau hal yang pokok. Sedangkan ekspresi adalah pengungkapan atau proses menyatakan. Yang dinyatakan bisa merupakan perasaan, gagasan atau hal lainnya.

Apa sebenarnya hakikat, inti atau hal yang pokok dalam kepemimpinan organisme dan organisasi? Kita akan dibantu oleh dua ayat Alkitab untuk memperjelas masalah ini. Pertama, Kisah Para Rasul 20:30, “Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid2 dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka”. Kedua, Efesus 4:11-12, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul2 maupun nabi2, baik pemberita2 Injil maupun gembala2 dan pengajar2, untuk memperlengkapi orang2 kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan Tubuh Kristus”. Kedua ayat2 ini berbicara soal kepemimpinan dengan dua hasil yang sangat berbeda. Kepemimpinan yang pertama menghasilkan perpecahan dalam Tubuh, yang kedua justru membangun Tubuh Kristus. Hakikat, inti atau hal pokok dalam kepemimpinan pertama yang mencabik-cabik Tubuh adalah MENARIK MURID2 SUPAYA MENGIKUTI PEMIMPIN. Sedangkan hakikat, inti atau hal pokok dalam kepemimpinan kedua yang membangun Tubuh Kristus adalah MEMPERLENGKAPI. Inilah perbedaan esensi keduanya.

Kepemimpinan yang MENARIK MURID2 adalah kepemimpinan organisasi, sedangkan kepemimpinan yang MEMPERLENGKAPI ORANG2 KUDUS adalah kepemimpinan organisme. Seandainya para pemimpin organisasi membaca uraian seperti ini, tentu saja langsung dibantah. Tetapi mari kita melihat persoalannya dengan pikiran jernih.

Bukankah tidak dapat disangkal bahwa ribuan organisasi gereja itu adalah perpecahan? Apapun alasan orang untuk menjelaskan adanya ribuan organisasi itu, Alkitab maupun sejarah gereja membuktikan bahwa ribuan organisasi atau denominasi itu ADALAH PERPECAHAN GEREJA. Jika satu atau beberapa pemimpin membangun organisasi gereja, bukankah itu bermaksud untuk menampung murid2 kedalam “wadah organisasi” tersebut. Dan jika murid2 sudah masuk kedalam “wadah” itu, maka organisasi lainnya diharapkan tidak menarik murid2 itu lagi kedalam “wadah organisasi” mereka. Walaupun pada kenyataannya, apa yang disebut pertumbuhan gereja, menurut suatu survey, setengahnya, tidak lain merupakan perpindahan murid2 dari satu “wadah organisasi” ke satu “wadah organisasi” lainnya…

Berbicara soal menarik murid2 kedalam suatu wadah organisasi ini dapat kita lanjutnya kepada menarik uang dari murid2 bagi perkembangan wadah organisasi tersebut. Ajaran palsu seperti perpuluhan, buah sulung dan hal2 lainnya terkait menarik uang murid2 terpaksa dijalankan demi kelangsungan organisasi. Mengapa kita katakan ajaran palsu? Karena ajaran perpuluhan, buah sulung itu memang ajaran asli bagi Umat Israel yang terkait oleh suatu Perjanjian Lama. Tetapi ajaran ini dipalsukan dengan menerapkannya kedalam konteks Perjanjian Baru. Demikianlah genap Kisah Para Rasul 20:30 diatas. Menarik murid2, menarik uang dari murid2 merupakan ciri dari kepemimpinan organisasi, walaupun tentu ada sedikit organisasi yang dibiayai oleh si pemimpin itu sendiri karena kekayaannya….namun hal ini adalah kekecualian.

Mari kita melihat esensi kepemimpinan organisme yang adalah memperlengkapi. Para pemimpin organisme tidak menarik murid2 kepada diri mereka apalagi menarik uang murid2 bagi perkembangan pelayanannya. Para pemimpin organisme hidup dari “meja Elia” bukan dari “meja Izebel”, seperti yang telah kita uraikan sebelumnya. Covid-19 ini sama sekali tidak mempengaruhi pelayanan para pemimpin organisme. Bagi para pemimpin yang pelayanannya terganggu dan bahkan merosot oleh Covid-19 ini membuktikan dengan jelas bahwa ia berada dalam konteks organisasi.   

Mengenai ekspresi dari kepemimpinan organisasi dan kepemimpinan organisme akan kita uraikan selanjutnya…                  

Kita telah sedikit membahas esensi dari kepemimpinan organisme dan organisasi. Esensi dari kepemimpinan organisasi adalah menarik murid2 kepada para pemimpin (Kis. 20:30). Sedangkan esensi dari kepemimpinan organisme adalah memperlengkapi orang2 kudus (Efesus 4:12). Ini bukan berarti para pemimpin organisasi tidak memperlengkapi orang2 kudus, namun ada suatu tindakan menarik murid2 kepada para pemimpin yang menyebabkan perpecahan gereja menjadi ribuan Denominasi, dan tindakan para pemimpin ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Bahkan Alkitab menyebut bahwa tindakan ini disebabkan adanya serigala ganas yang menyerang Tubuh Kristus. Jadi, walaupun para pemimpin denominasi ini memperlengkapi murid2, tetapi harus disebut bahwa mereka melakukan ini DALAM KONTEKS menarik murid2 kedalam organisasi mereka.

Berbeda dengan para pemimpin organisme. Para pemimpin ini benar2 sadar bahwa mereka hanyalah sendi2 dan urat2 dalam Tubuh yang mana taat sepenuhnya kepada otoritas Hayat. Melalui proses peremukkan Tuhan, para pemimpin ini tidak memiliki “kekuatan Nimrod” untuk menarik murid2 kepada dirinya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah memperlengkapi murid2 saja, tidak lebih dari itu. Mereka hanya dapat belajar menjadi teladan bagi murid2 dalam hal mengikuti arus Hayat.

Saat ini kita akan berbicara mengenai ekspresi dari kepemimpinan organisasi dan organisme. Ekspresi yang dimaksud adalah pengungkapan atau proses menyatakan suatu esensi. Esensi itu sesuatu yang seringkali tidak mudah dilihat atau dikenali. Hanya setelah diungkapkan atau dinyatakan barulah esensinya terdeteksi.

Apakah ekspresi dari kepemimpinan organisasi? Saya mencoba menjelaskannya dengan suatu istilah yaitu PERTUNJUKKAN. Mengapa harus pertunjukkan? Karena memang esensinya menarik murid2, maka tentu kekristenan, bahkan ibadah, telah menjadi suatu pertunjukkan. Panggung dunia kekristenan penuh dengan pertunjukkan2. Semua pertunjukkan ini ada karena esensinya menarik murid2.

Mari kita membahas rata2 mimbar minggu yang ada didunia kekristenan ini. Pada umumnya khotbah2 itu menjadi sesuatu yang enak didengar. Berita mengenai pikul salib, penyangkalan diri, peremukkan daging dan memilih kehendak Bapa apapun akibatnya, menjadi sesuatu yang jarang terdengar. Mimbar2 ini telah menjadi suatu pertunjukkan. Bukankah pertunjukkan itu haruslah sesuatu yang menyenangkan orang?

Lebih jauh lagi, orang juga harus membayar untuk melihat pertunjukkan. Tanpa segan2 seorang pengkhotbah terkenal mengatakan bahwa kalau anda makan di restoran, tentu harus membayar, demikian juga “nonton di gereja” juga harus bayar di gedung dimana saudara menonton pertunjukkan itu tentunya.

Belum lagi kalau kita berbicara mengenai puji2an kepada Tuhan. Segala sesuatu diatur sedemikian sehingga puji2an menjadi sesuatu yang menarik. Gedung2 yang ada didunia kekristenan dengan panggungnya yang lengkap itu bukannya tanpa esensi. Ada esensi dibalik semua pertunjukkan itu….esensinya adalah menarik murid2…

Melalui Covid-19 ini pertunjukkan didalam dunia kekristenan terpaksa terhenti. Bapa di Sorga yang merancang semua ini agar murid2 Tuhan berpikir sejenak dirumah…. Karena dirumah tidak mungkin ada pertunjukkan, diharapkan murid2 Tuhan dapat memahami makna beribadah, mengikut Tuhan, bergereja…dan seterusnya.

Saat ini kita akan berbicara mengenai sihir dalam gereja. Mari kita melihat kitab Wahyu 18:23, “…oleh ilmu sihirmu semua bangsa disesatkan”. Young’s Literal menerjemahkan istilah ‘disesatkan’ yaitu ‘led astray’. Astray disini berarti ‘to go in the wrong direction’ atau ‘to have the wrong result’. Jadi, ‘led astray’ berarti DIPIMPIN kearah yang salah serta menghasilkan hasil yang salah juga. Ayat ini berbicara soal kepemimpinan, tetapi kepemimpinan yang membuat orang yang dipimpin berjalan kearah yang menyimpang (salah).

Didalam ayat ini juga ditegaskan bahwa kepemimpinan yang menyimpang itu terkait dengan sihir. Maksudnya penyimpangan dalam kepemimpinan ini disebabkan si pemimpin menggunakan ilmu sihirnya, sadar atau tidak sadar tentunya. Istilah Yunani untuk sihir disini adalah PHARMAKEIA, dimana kemunculannya yang lain hanya terdapat di Galatia 5:20. Istilah ‘Pharmakeia’ ini berasal dari ‘Pharmakeus’ yang bermakna ‘Medication’ (pharmacy). Strong mendefinisikannya sebagai ‘the use of medicine, drugs, or spells. Salah satu pengertian ‘Spells’ disini adalah ‘words that are thought to have magic power’ atau ‘a quality that a person has that makes him/her so attractive. Jadi, ‘Pharmakeus’ yang bermakna Medication adalah penggunaan obat2 sedemikian sehingga seseorang dibuat “fly” atau tidak sepenuhnya sadar, sehingga dengan demikian membuat seseorang yang berbicara padanya menjadi sangat menarik.       

Konteks Wahyu 18:23 adalah simbol perempuan (gereja Wahyu 17) yang sudah banyak kita bicarakan. Kepemimpinan perempuan Wahyu 17 ini sangat attractive, dan membuat banyak orang mengikutinya. Dikatakan bahwa perempuan ini duduk diatas “tempat yang banyak airnya” dimana air adalah simbol  orang banyak (Wahyu 17:15). Jadi, melalui kepemimpinan perempuan Wahyu 17 banyak dari Umat Tuhan tertarik dan mengikutinya, seperti kena sihir atau minum obat yang membuatnya tidak sepenuhnya sadar.

Mengapa banyak Umat Tuhan tertarik dan kena sihir oleh kepemimpinan perempuan Wahyu 17 ini? Menurut Surat Yudas, guru2 palsu itu, “…menyelewengkan anugerah Elohim kita kearah rangsangan badani…” (ayat 4, versi ILT). Maksudnya, para pemimpin ini mengajarkan ANUGERAH ELOHIM tetapi diarahkan kepada PERKARA2 JASMANI. Bahkan ketika mengutip ayat yang sangat rohanipun, mereka arahkan kepada yang jasmani. Sebagai contoh, ayat yang sering mereka kutip, “…Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Mereka katakan bahwa kelimpahan ini berarti kelimpahan hidup rohani, jasmani, kesehatan, kemakmuran, tidak kena masalah, bencana ..dst..dst. Padahal ayat ini berbicara soal Hayat (hidup Zoe) dimana kelimpahan Zoe ini berarti kelimpahan pengenalan akan Tuhan (Yohanes 17:3), kelimpahan memahami dan mentaati perintahNya (Yohanes 12:50). Kelimpahan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, …dst, buah2 Roh, karena buah2 Roh terkandung didalam Hayat. Sama sekali Yohanes 10:10 tidak berbicara soal2 jasmani. Ini baru satu ayat, bagaimana dengan ayat2 mengenai perpuluhan, buah sulung, kekayaan karena menabur…dst…dst…. Segala ayat digunakan oleh perempuan Wahyu 17 ini dan DIARAHKAN KEPADA YANG JASMANI.

Siapa yang tidak tertarik jika dikhotbahkan bahwa kalau ikut Tuhan maka kaya, sukses, makmur, tidak kena masalah, tidak sakit, menjadi kepala bukan ekor,…dst…dst… Banyak Umat Tuhan tidak sadar bahwa mereka TELAH KENA SIHIR. Umat Tuhan “fly” dan tidak sepenuhnya sadar lagi. Kalau Tuhan Yesus dihina, mereka tenang2 saja…tetapi kalau pendetanya dikritik…mereka langsung menyerang dengan ayat2 terutama ayat “JANGAN MENGHAKIMI”…Umat Tuhan yang membela pendetanya DENGAN TANPA AKAL SEHAT, jelas merupakan tanda “tidak sadar” dan sudah kena sihir…

Bagaimana dengan kepemimpinan organisme? Ya…mereka juga memiliki “daya sihir”, tetapi “daya sihir” Hayat, membuat orang merindukan Hayat Kristus…membuat orang rela menderita asal bertumbuh dalam Hayat…rela disalah mengerti yang penting Hayat berkelimpahan…

Saat ini kita akan berbicara mengenai penghakiman Gereja. Sebelumnya kita harus paham bahwa segala yang terjadi dialam semesta ini ada didalam pengaturan Bapa. Tidak ada satu kejadianpun yang terjadi tanpa melalui keputusan Bapa. Alkitab tegaskan bahwa burung jatuh kebumipun tidak ada yang terjadi diluar kehendak Bapa (Matius 10:29). Entah siapa yang menjatuhkan burung itu, apakah ia ditembak pemburu atau ia sengaja menjatuhkan dirinya, atau memang sudah saatnya burung itu mati karena tua, apapun penyebabnya yang jelas TIDAK AKAN ADA SATUPUN BURUNG YANG JATUH TANPA KEHENDAK BAPA. Saya tidak suka bermain dengan istilah2 seperti, IZIN Bapa, KEHENDAK Bapa, atau apapun istilahnya, tetapi saya sedang berbicara PENGATURAN BAPA DAN KEDAULATAN BAPA DIALAM SEMESTA INI.

Mengapa saya harus menegaskan kedaulatan Bapa? Karena saya akan menegaskan bahwa terjadinya atau adanya Covid-19 ini ADALAH PENGATURAN BAPA YANG DIDASARKAN ATAS KEDAULATANNYA. Sayapun tidak suka berbicara soal teori2 konspirasi, atau mengaitkan nama2 tertentu dengan Covid-19 ini. Bagi orang percaya hal2 itu sama sekali tidak penting. Yang penting bagi kita adalah APA MAKNANYA COVID-19 INI BAGI GEREJA. Apa maksud Bapa dengan Covid-19 ini?

Mari kita periksa Yesaya  26:9 yang berkata, “… sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar “. Tak dapat disangkal bahwa penduduk bumi telah belajar apa yang benar melalui Covid-19 ini, karenanya Covid-19 ini adalah PENGHAKIMAN BAPA ATAS BUMI. Disepanjang Alkitab juga berbicara kedatanganNya untuk menghakimi. Pertanyaan yang penting bagi kita adalah kepada siapa yang Bapa inginkan lebih dahulu dihakimi? Alkitab juga jelas mengenai hal ini bahwa gereja, UmatNyalah yang lebih dahulu dihakimi (I Petrus 4:17). Saya senang dengan penjelasan W. Nee bahwa Bapa di sorga tidak punya banyak waktu untuk menghakimi semua orang saat ini. Dia hanya punya waktu bagi anak2Nya.

Sekarang kita masuk kepada tema atau topik pembicaraan kita selama ini. Kita sudah berulangkali menjelaskan gereja yang disimbolkan oleh perempuan di kitab Wahyu pasal 12 dan perempuan yang dipasal 17. Sekarang kita berbicara untuk perempuan yang dipasal 17. Wahyu 18:10 berkata, “…celaka, celaka engkau, hai kota yang besar, Babel, hai kota yang kuat, sebab dalam satu jam saja sudah berlangsung PENGHAKIMANMU “. Siapakah Babel, kota besar ini? Alkitab sendiri menjawab dalam Wahyu 17:18, “Dan PEREMPUAN yang telah kaulihat itu adalah KOTA BESAR …”. Jadi perempuan Wahyu 17 ADALAH kota besar Babel.

Ada banyak alasan mengapa perempuan Wahyu 17 ini terkena penghakiman Bapa. Untuk saat ini mari kita teliti istilah BESAR, yang mencirikan perempuan Wahyu 17 ini. Kalau Yerusalem, mempelai Kristus itu kota KUDUS. Tetapi perempuan Wahyu 17 ini kota BESAR, atau mau pakai istilah MEGA juga boleh.

Memang semangatnya perempuan Wahyu 17 ini adalah BESAR, gak perduli KUDUS atau tidak. BESAR berbicara perkara2 jasmani, sedangkan KUDUS berbicara perkara2 batiniah. Kalau kita mendengar khotbah yang menggunakan kasih karunia Tuhan serta diarahkan kepada perkara2 jasmani, itulah ciri2 khotbah perempuan Wahyu 17. Pengajaran yang UUD, berusaha menyenangkan telinga orang banyak, memotivasi Umat supaya sukses secara jasmani, berbicara perpuluhan, buah sulung kepada UMAT PERJANJIAN BARU…semua ini adalah ciri perempuan Wahyu 17 yang ingin BESAR…tetapi justru mendatangkan PENGHAKIMAN BAPA.  Melalui Covid-19 ini semangat untuk menjadi BESAR telah dilemahkan sedemikian sehingga “kejayaan masa lalu” tidak akan bangkit lagi… (Wahyu 18:21).

Tetapi kita harus sadar bahwa penghakiman Bapa ini merupakan ekspresi dari kasihNya, sebab melalui penghakiman ini perempuan Wahyu 17 BELAJAR APA YANG BENAR, seperti Yesaya 26:9 katakan.

Saat ini kita akan berbicara soal dagang didalam gereja. Dagang hanya ada didalam gereja yang disimbolkan oleh perempuan di Wahyu 17. Simbol perempuan Wahyu pasal 12 tidak berdagang. Kepemimpinan organisme tidak berdagang didalam pelayanan mereka.

Kita akan melihat apa saja yang didagangkan oleh perempuan Wahyu 17 ini. Mari kita lihat Wahyu 18 : 12-13, “yaitu barang2 dagangan dari emas….. dan bahkan nyawa manusia”. Semua barang dagangan yang disebut dikedua ayat ini adalah simbol karena kitab Wahyu menggunakan bahasa simbol. Emas merupakan simbol dari natur Elohim, karunia2 Roh, segala sesuatu yang terkait dengan karakteristik Elohim, sedangkan nyawa manusia merupakan simbol dari semua kekuatan manusiawi yang terkandung didalam nyawa itu. Kekuatan manusiawi dalam hal berpengetahuan, kepandaian berbicara, menyanyi, main musik, dst…dst….  Semua ini diperdagangkan oleh Perempuan Wahyu 17.

Kita semua tahu bahwa tujuan perdagangan adalah cari untung. Tidak ada orang dagang cari rugi. Jadi kepemimpinan perempuan Wahyu 17 ini bertujuan cari untung dari pelayanannya. Cari untung disini berupa materi dan tentu juga kemuliaan manusia, puji2an, dan hormat manusiawi. Orang2 Farisi, Saduki dizaman Tuhan Yesus melakukan semua ini. Mereka berdagang di Bait Suci. Dan kita tahu bagaimana reaksi Tuhan Yesus atas semua ini. Seandainya Tuhan Yesus datang secara jasmani ke Gedung2 gereja saat ini, kira2 gimana yah reaksiNya? Dan bagaimana juga reaksiNya jika Ia datang ke rumah2 melihat ibadah sekeluarga dijalankan? Saya yakin saudara sudah tahu jawabnya….

Covid-19 ini merupakan reaksi dan penghakimanNya terhadap dagang di Bait Suci. Tetapi jangan kita terburu2 menilai bahwa perempuan Wahyu 17 ini akan bertobat. Penyakit dagang di Bait Suci ini hanya dapat sembuh jika para pelayanNya diremukkan dan diproses sedemikian rupa sehingga bertumbuh menjadi seorang Bapa. Tidak ada Bapa yang dagang dan cari untung dari anak2nya sendiri. Bapa itu berkorban bagi anak2nya. Seandainya ada Bapa yang sedang kumpul dengan anak2nya, dan tiba2 datang singa menyerang… maka seorang Bapa tidak segan2 menghantam singa itu dan berjuang sampai tetes darah terakhir demi anak2nya. Tetapi seorang upahan yang cari untung…kalau datang serigala…ya kabur meninggalkan domba2nya serta cari selamat sendiri.

Bapa yang kita maksud disini bukan jenis kelamin. Mother Teresa itu bapa bagi orang2 yang dilayaninya, sebab ia siap mati untuk orang2 miskin yang dilayaninya di India. Dalam pelayanannya, Mother Teresa tidak cari untung. Paulus juga bapa, karena ia miskin tapi memperkaya banyak orang yang dilayaninya.

Saya pernah menulis soal menjadi Bapa dan Manajer. Saya kutip aja ya supaya kita bisa melihat apakah para pendeta atau gembala sidang saat ini lebih mirip Bapa atau Manajer…

Saya rindu berbagi dengan sdr/i mengenai bapa dan manajer. Yang dimaksud dengan bapa dan manajer adalah seorang pemimpin, namun keduanya memimpin dalam konteks yang berbeda. Bapa adalah pemimpin dalam konteks keluarga, sedangkan manajer adalah pemimpin dalam konteks organisasi. Bapa memimpin anak-anaknya, sedangkan manajer memimpin bawahannya.

Dalam banyak hal, apa yang dilakukan bapa dan yang dilakukan  manajer hampir sama. Sebagaimana manajer membuat perencanaan, demikian juga bapa membuat rencana bagi anak-anaknya. Manajer melakukan pengorganisasian, demikian juga bapa membuat tugas-tugas dan departementalisasi, walaupun tidak serumit manajer, serta membagikan tugas-tugas itu kepada anak-anaknya agar tujuan keluarga tercapai. Manajer menjalankan kepemimpinan, demikian juga bapa memotivasi, mengarahkan serta mendorong anak-anaknya menuju tujuan yang telah ditetapkan. Manajer menjalankan pengawasan, demikian juga bapa memperhatikan anak-anaknya agar tidak terjadi penyimpangan. Nampaknya bapa dan manajer itu sama.

Tetapi sebenarnya, bapa dan manajer itu sangat jauh berbeda. Keberbedaan ini disebabkan bapa memiliki hubungan darah dengan orang-orang yang dipimpinnya, sedangkan manajer mempunyai hubungan organisasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Perbedaan ini menyebabkan otoritas yang dimiliki keduanya juga sangat berbeda. Bapa memiliki otoritas atas anak-anaknya semata-mata karena hubungan darah, sementara itu manajer memiliki otoritas atas bawahannya karena posisinya didalam organisasi.

Sekarang saya siap masuk kedalam inti permasalahannya. Apakah pemimpin gereja itu seharusnya seorang bapa atau manajer ?  Apakah hubungan anggota gereja dengan pemimpinnya itu adalah hubungan karena darah Kristus atau hubungan organisasi ?  Mungkinkah gereja memiliki pemimpin seorang manajer dan juga bapa ?  Apakah gereja itu organisasi atau organisme ?  Apakah gereja itu organisme yang perlu diorganisasikan?   Dapatkah organisme itu diorganisasikan, seperti kita mengorganisasikan tangan, kaki, mata, telinga, dan anggota-anggota organisme lainnya ?  Apakah gereja itu Tubuh Kristus atau Tubuh dalam pengertian Organisasi ?  Apakah gereja itu keluarga atau keluarga “besar” alias lembaga?

Bagi beberapa orang pertanyaan-pertanyaan diatas tidak begitu penting, karena tidak berdampak apa-apa bagi hidup dan pelayanannya. Tetapi bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan diatas menentukan segala-galanya. Disini saya ingin berbagi keyakinan dengan sdr/i-ku yang terkasih dalam Kristus. Saya sekedar menyampaikannya sebagai masukan bagi sdr/i. Bagi saya, gereja adalah organisme yang tidak dapat diorganisasikan. Bagi saya, gereja adalah keluarga dalam arti yang sesungguhnya, dan bukan keluarga “besar” dalam arti lembaga. Bagi saya, gereja adalah Tubuh dan bukan Organisasi. Bagi saya, sesama anggota gereja mempunyai hubungan karena darah/hidup Kristus, dan bukan hubungan organisasi. Bagi saya, gereja membutuhkan kepemimpinan seorang bapa, dan bukan seorang manajer. Bagi saya, seorang manajer tidak mungkin menjadi seorang bapa didalam gereja, karena keduanya ada di alam yang berbeda. Inilah yang saya yakini sdr/i-ku.

Saya percaya saat ini Umat Tuhan sangat membutuhkan bapa-bapa, dan bukan manajer-manajer. Umat Tuhan membutuhkan hubungan bapa-anak, dan bukan hubungan manajer-bawahan. Hubungan bapa-anak adalah hubungan darah yaitu hubungan karena Hayat Kristus. Umat Tuhan membutuhkan kehangatan persekutuan, dan bukan lebih banyak proyek-proyek yang direncanakan para manajer. Umat Tuhan membutuhkan pengenalan akan  keluarga sejati yang adalah Allah, dan bukan keluarga “besar” lembaga.

Apakah kita akan bertumbuh menjadi seorang bapa atau manajer ?  Bagi saya, ini pertanyaan yang amat penting.

Ya intinya, seorang Bapa tidak akan berdagang dan cari untung….

Saat ini kita akan berbicara tentang kepemimpinan gereja yang dilambangkan oleh perempuan (simbol gereja) di Kitab Wahyu pasal 12, yang kita sebut kepemimpinan organisme. Mari kita melihat Wahyu 12:1, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang diatas kepalanya”. Seperti telah kita ketahui bahwa kitab Wahyu menggunakan bahasa simbol, maka baik matahari, bulan dan bintang itu merupakan simbol juga.

Kita mulai dengan simbol matahari. Menggambarkan siapakah matahari ini? Maleakhi 4:2 berkata, “Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya…”. Surya kebenaran disini tentu menunjuk kepada Kristus sang Surya Sejati itu. Jadi, matahari merupakan simbol dari Kristus sendiri.

Perempuan di Wahyu 12 ini dikatakan berselubungkan matahari, artinya perempuan ini begitu dekat dengan matahari sehingga ia “DIPENUHI” oleh matahari. Sekali lagi, kita berbicara mengenai simbol, karena tidak ada perempuan jasmani yang bisa dekat dengan matahari yang permukaannya mempunyai temperature 5500 derajat Celcius. Jadi, perempuan berselubung matahari artinya gereja yang dipenuhi dan sepenuhnya diresapi oleh Kristus. 

Sekarang, berbicara tentang apakah bulan itu? Kita tahu bahwa bahwa matahari itu mempunyai energy dari dirinya sendiri karena ada reaksi nuklir didalam inti matahari itu. Reaksi nuklir inilah yang menyebabkan matahari dapat memancarkan terang dan panas yang memberi kehidupan kepada bumi. Tetapi bulan tidak memancarkan panas dan terang dari dirinya sendiri. Cahaya bulan yang sering kita lihat malam hari itu adalah akibat bulan menerima sinar matahari. Jadi, cahaya bulan itu adalah pantulan dari cahaya matahari.

Jadi, apakah yang menjadi “pantulan” Kristus itu? “Pantulan” Kristus itu adalah Hukum Taurat. Didalam Ibrani 10:1 tertulis, “Didalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri…”. Hakekat keselamatan itu adalah Kristus, hukum Taurat itu hanya bayangannya saja.

Perempuan yang sedang kita bicarakan ini bukan saja diselubungi matahari, tetapi juga menginjak bulan dibawah kakinya. Artinya, gereja disini telah hidup dalam hakekat (esensi) Kristus dan tidak lagi hidup dibawah hukum Taurat, termasuk aturan2 perpuluhan, buah sulung, dan aturan2 lahiriah dan jasmani lainnya. Ibadah gereja ini sudah masuk kedalam esensi yaitu mengikuti pimpinan Kristus didalam batin, dan bukan mengikuti aturan2 organisasi, liturgi2, peraturan2 “gedung” dan sebagainya.

Pertanyaan penting bagi kita saat ini, yang merupakan poin kita sekarang adalah mengapa perempuan/gereja ini dapat hidup dialam esensi Kristus, dan tidak dialam bayangan hukum Taurat? Ini disebabkan kepemimpinan gereja ini adalah kepemimpinan “bintang” (mahkota 12 bintang adalah simbol kepemimpinan). Bintang itu sebenarnya adalah matahari juga, hanya sangat jauh dari bumi sehingga terlihat kecil dan cahayanya tidak seterang matahari kita. 

Mari kita melihat organisasi gereja yang pada umumnya ada saat ini? Mengapa hukum perpuluhan, buah sulung, dan persembahan2 jenis lainnya selalu diajarkan oleh para pemimpinnya? Mengapa khotbah para pemimpinnya, pada umumnya, selalu berakhir kepada berkat2 jasmani? Konsep sukses, konsep kedatangan Tuhan, konsep diberkati Tuhan, konsep pertumbuhan gereja, konsep ibadah, hampir selalu mengarah kepada hal2 lahiriah, jasmani, bahkan duniawi. Hal ini disebabkan para pemimpinnya sendiri tidak hidup didalam esensi Kristus.

Berbeda dengan kepemimpinan organisme. Mereka telah puas oleh Kristus. Melayani bagi mereka adalah ekspresi dari kepuasan mereka didalam Kristus. Pengajaran mereka bersifat batiniah. Mereka tidak mencari uang, kemuliaan manusiawi, atau hormat manusia…. karena kalau demikian mereka bukanlah pelayan Kristus…               

Kita akan mengakhiri tulisan singkat ini dengan menjelaskan hasil dari kepemimpinan organisasi dan kepemimpinan organisme. Sudah kita ketahui bahwa kedua jenis kepemimpinan ini disimbolkan oleh kedua perempuan di Kitab Wahyu pasal 12 dan pasal 17.

Mari kita lihat dahulu hasil dari kepemimpinan organisme di pasal 12:5, “Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi…”. Terjemahan LAI memberikan huruf besar untuk anak laki2 di ayat ini sehingga menimbulkan penafsiran seolah-olah anak laki2 ini adalah Tuhan Yesus Kristus dan perempuan ini tentunya adalah Maria. Tetapi pemahaman ini mengacaukan sifat dasar Kitab Wahyu yang bersifat nubuat. Kitab Wahyu ini mengungkapkan mengenai Tuhan Yesus Kristus dan apa yang akan terjadi dengan gerejaNya. Wahyu 1:1 menegaskan, “…apa yang harus segera terjadi…”. Kitab Wahyu bukan menceritakan apa yang sudah terjadi. Karenanya, jelas anak laki2 ini bukan menunjuk kepada Tuhan Yesus Kristus.

Kalau demikian, siapakah anak laki2 ini? Ditegaskan bahwa anak laki2 ini akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi. Kalau kita melihat para pemenang di pasal 2:26-27, “Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaanKu sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi…”. Para pemenang dari tujuh gereja yang telah jatuh oleh pengajaran Bileam, Nikolaus dan Izebel, akan mendapat upah untuk memerintah dizaman berikut setelah zaman ini selesai. Karenanya, kita dapat yakin bahwa anak laki-laki ini adalah para pemenang disepanjang zaman ini. Para pemenang ini akan mendapat upah dizaman berikut untuk memerintah bersama Tuhan Yesus Kristus. 

Kita melihat bahwa hasil dari kepemimpinan perempuan Wahyu 12 adalah PARA PEMENANG. Kepemimpinan perempuan Wahyu 12 ini adalah kepemimpinan “Bintang”, seperti yang telah kita bicarakan sebelumnya. Suatu kepemimpinan yang membawa perempuan Wahyu 12 ini hidup dialam ESENSI, hidup dialam REALITA, hidup dialam “LANGIT” seperti tertulis di pasal 12:1. Langit disini berarti alam roh, suatu alam dengan dimensi lebih tinggi. Pertemuan perempuan Wahyu 12 ini juga pertemuan dialam yang lebih tinggi, seperti telah dijelaskan dahulu mengenai EPISUNAGOGE didalam Ibrani 10:25 (Epi=tinggi, Sunagoge=perkumpulan). Ibadah perempuan ini tidak lagi soal “digunung ini” atau “digunung itu”, karena perempuan ini telah beribadah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4). Perempuan Wahyu 12 ini TIDAK DIPERBUDAK oleh peraturan2 perpuluhan, buah sulung serta peraturan2 organisasi lainnya, karena oleh kepemimpinan “Bintang” ini, ia telah menginjak “Bulan”.  

Tetapi harus kita pahami bahwa perempuan Wahyu 12 ini tidak mudah terlihat oleh mata jasmani, sebab ia berada di “Langit” (12:1). Hanya orang2 yang hidup dialam roh yang dapat melihat perempuan ini. Berbeda dengan Perempuan Wahyu 17 yang duduk ditempat yang banyak airnya, dimana “air” merupakan simbol orang banyak (17:15). Kepemimpinan Wahyu 17 ini sangat mempesona, atau lebih tepat, sangat memiliki daya sihir, seperti yang telah kita bicarakan. Tetapi hasil dari kepemimpinan perempuan Wahyu 17 ini adalah PENGHAKIMAN TUHAN. Penghakiman Tuhan yang sedemikian sehingga perempuan Wahyu 17 ini tidak akan bangkit lagi.

Sebagai penutup, kita perlu memperhatikan Wahyu 18:4 yang mengatakan, “…Pergilah kamu hal UmatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya”. Umat pemenang tentu akan melarikan diri dari kepemimpinan perempuan Wahyu 17 ini…Haleluyah, Amin. 

 

 

       

     

             

 

             

 

 

   

 

 

 

             

 

 

  

 

          

 

 

 

 

             

 

             

             

 

             

 

 

      

Comments

Popular posts from this blog

Kerajaan Sorga Menurut Kitab Wahyu.

Jabatan Dalam Gereja