Konsep Ibadah Setelah Covid-19
Konsep Ibadah
Setelah Covid-19
Oleh. Irnawan
Silitonga.
Covid -19
mengajarkan banyak hal kepada kita sebagai pengikut Kristus. Salah satunya
mengenai konsep ibadah. Mari kita mulai memperhatikan percakapan Yesus dengan
perempuan Samaria (Yohanes 4). Perempuan Samaria mempunyai konsep beribadah
(menyembah) masih soal tempat atau lokasi geografis tertentu, dengan segala
aturan2nya tentu. Tetapi Yesus menegaskan bahwa saatnya telah tiba bahwa
seseorang harus beribadah / menyembah dalam roh dan kebenaran.
Menyembah atau
beribadah dalam roh dan kebenaran ini adalah persoalan batiniah. Seseorang
dapat saja beribadah atau menyembah ditempat ini atau itu… dengan cara ini atau
itu, tanpa harus terikat dengan suatu cara atau aturan tertentu… sepanjang
semua itu adalah ekspresi dari hubungan batiniahnya dengan Tuhan. Ada yg senang
ibadah di Gedung, ada yg senang ibadah dirumah. Ada yg senang lagu2 gembira,
ada yg senang lagu2 yg tenang…dan seterusnya, sepanjang itu merupakan ekspresi
batinnya maka semuanya itu sah-sah saja. Sesungguhnya, soal ibadah itu adalah
soal pribadi. Kita tidak boleh memaksa orang harus beribadah menurut cara dan
aturan2 kita.
Kalau ibadah itu
soal pribadi, mengapa Ibrani 10:25 mengatakan jangan kita menjauhi pertemuan2
ibadah kita, seolah-olah ibadah adalah perihal pertemuan, bahkan ditambahkan
oleh beberapa pemimpin bahwa pertemuan itu harus di Gedung, ada pendetanya, ada
denominasinya, ada persembahannya dan seterusnya…dan seterusnya. Coba dulu kita
check istilah ‘pertemuan’ dalam Bahasa Yunani. Istilah Yunani untuk pertemuan
di Ibrani 10:25 adalah EPISUNAGOGE. Epi artinya “diatas”, Sunagoge adalah
pertemuan. Jadi episunagoge adalah pertemuan “yang diatas”. Maksudnya bukan
pertemuan jasmani, tapi pertemuan di alam yg lebih tinggi atau alam roh.
Pertemuan Kristen adalah pertemuan di alam yg lebih tinggi. Itu sebabnya Paulus
berkata kepada jemaat Korintus bahwa sekalipun ia tidak hadir secara jasmani
namun ia hadir didalam roh ( I Korintus 5:3).
Disinilah konsep
kita beribadah harus mengalami perubahan radikal. Kalau ribuan orang Kristen
sedang berkumpul di Gedung dgn ada pendetanya, musiknya, persembahannya… jangan
cepat2 menilai bahwa mereka sedang beribadah sesuai Ibrani 10:25. Sebab jika
Sebagian besar dari mereka tidak hidup di alam roh, maka mereka tidak sedang
menggenapi Ibrani 10:25. Tetapi sebaliknya, jika 2-3 orang berkumpul DALAM
NAMANYA, artinya dalam roh… maka sesungguhnya yang 2-3 orang itu sedang
menggenapi Ibrani 10:25, walaupun misalnya tidak ada pendetanya, tidak ada
perpuluhannya, buah sulungnya atau aturan2 lainnya, tetap mereka harus kita
pandang sebagai orang yg menggenapi Ibrani 10:25.
Jika pertemuan
dilakukan di rumah oleh keluarga dimana seorang bapa menjadi pemimpinnya,
menurut sy, lebih mudah pertemuan yg di rumah itu menggenapi Ibrani 10:25, dari
pada yg di Gedung dengan ratusan atau ribuan orang. Mengapa? Karena fellowship
lebih mudah terjadi di rumah dari pada di Gedung. Bukan pertemuan di Gedung itu
salah…tapi saatnya kita mempertanyakan mengapa sebagian besar pemimpin
denominasi agak “ngotot” untuk pertemuan di Gedung. Waktunya bagi kita untuk
mempertanyakan motivasi mereka…
Tulisan ini akan
bersambung nanti….
Dalam tulisan
yang lalu, kita sudah bahas bahwa ibadah adalah soal pribadi, dan bahwa pertemuan
ratusan atau ribuan orang belum tentu menggenapi Ibrani 10:25, bahkan
barangkali pertemuan 2-3 orang dirumah malah menggenapi Ibrani 10:25 karena
lebih mudah terjadi fellowship di rumah dari pada di Gedung.
Sekarang kita
akan membahas lebih jauh soal ibadah yang adalah bersifat pribadi. Mari kita
kembali memperhatikan percakapan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria (Yohanes
4). Di ayat 10, Yesus akan memberikan air hidup, tetapi di ayat 14, Yesus
berkata bahwa air hidup yg Ia berikan itu akan menjadi MATA AIR didalam BATIN
seseorang. Ini berarti terjadi PERTUMBUHAN. Sewajarnya kalau kita berpikir
bahwa seseorang bertumbuh jika dia makan. Dipasal ini Yesus berkata makananKu
ialah melakukan kehendak Dia dan menyelesaikan pekerjaanNya. Jadi, jika seseorang
melakukan kehendak Tuhan dan menyelesaikan pekerjaanNya, yg berarti dia makan,
maka ia akan bertumbuh. Artinya air hidup yg didalam batinnya akan menjadi MATA
AIR yg terus memancar keluar.
Jadi, kita harus
mendefinisikan ibadah itu adalah melakukan kehendak Tuhan dan menyelesaikan
pekerjaanNya. Jika seseorang menjalankan ibadahnya dengan benar, maka didalam
batinnya terjadi PERTUMBUHAN dari air menjadi mata air. Sudahkah sdr melihat
bahwa ibadah adalah soal pribadi. Jika seseorang beraktivitas setiap hari
sesuai kehendak Tuhan bagi dirinya, entah beraktivitas dirumah atau di kantor
atau dimana saja, maka sepanjang itu adalah kehendak Tuhan baginya, maka ia
SEDANG BERIBADAH. Dan air hidup didalam batinnya akan bertumbuh menjadi mata
air.
Soal ibadah tidak
berhubungan langsung dengan pergi ke Gedung melakukan kegiatan bernyanyi,
memberi persembahan, atau bahkan mendengar khotbah. Soal ibadah berhubungan
langsung dengan kehendak Bapa bagi dirinya.
Sekarang sy akan
masuk kepada pembahasan yang barangkali tidak enak didengar terutama oleh para
pemimpin denominasi. Sepanjang para rasul, nabi, gembala, pengajar, penginjil
memperlengkapi orang kudus agar mereka mengerti KEHENDAK TUHAN bagi dirinya,
itu sih sangat baik. Tetapi bagaimana kalau yang terjadi adalah sesuatu yg
diuraikan dalam Kisah Para Rasul 20: 29-30. Disini Paulus berkata bahwa ada
beberapa pemimpin menarik murid2 kepada dirinya sendiri. Dan ini sudah terjadi.
Gereja yg awalnya organisme telah menjadi ribuan organisasi atau denominasi.
Bukankah ini berarti beberapa pemimpin menarik murid2 kepada denominasinya,
organisasinya atau dirinya sendiri? Kalau sdr tidak melihat perkara ini, sy
hanya dapat mendoakan semoga sdr melihatnya. Ini bukanlah perkara kecil, karena
ini berarti mencabik-cabik Tubuh Kristus menjadi ribuan denominasi.
Kembali kita
kepersoalan kita. Ibadah adalah soal pribadi. Ibadah seseorang ditentukan
apakah ia secara pribadi melakukan kehendak Tuhan bagi dirinya. Dalam situasi
gereja yg sudah menjadi ribuan denominasi seperti sekarang ini, apakah seorang
pemimpin dapat dengan yakin berkata bahwa KEHENDAK TUHAN bagi seseorang itu
adalah pergi “beribadah” kedenominasinya, melakukan liturgi ini itu, memberikan
persembahan ini itu, menjalankan program ini itu, dan seterusnya… Sedangkan untuk
diri kita sendiri, kita belum terlalu paham kehendak Tuhan, bagaimana untuk
orang lain….
Saat ini saya
mau berbicara kepada para pemimpin. Apakah sdr yakin kehendak Tuhan bagi
seseorang untuk pergi mengikuti segala program denominasi sdr? Bagaimana kalau
ternyata kehendak Tuhan bagi dirinya
berkata lain… Apakah sdr sedang memperlengkapi seseorang agar mengerti KEHENDAK
TUHAN bagi dirinya atau barangkali sdr sedang MENARIK seseorang kepada diri sdr
sendiri?
Mengapa sy
menulis ini ? Karena sy mencintai Tubuh Kristus…. Saya melihat Tubuh Kristus
terus menerus tercabik-cabik… Semoga orang2 kudus belajar mandiri untuk
memahami KEHENDAK TUHAN bagi diri mereka sendiri… Semoga orang2 kudus beribadah
dengan benar dalam arti menjalankan kehendak Tuhan bagi dirinya dan
menyelesaikan bagiannya dalam pekerjaanNya… Semoga setelah COVID-19 ini orang2
kudus berpikir ulang mengenai ibadahnya kepada Tuhan. …
Bersambung
kemudian….
Dalam tulisan yang lalu kita sudah
mendefinisikan ibadah sebagai melakukan kehendak Tuhan dan menyelesaikan
pekerjaanNya. Dan karena ibadah adalah soal pribadi, maka ibadah seseorang
adalah melakukan kehendak Tuhan bagi dirinya sendiri. Aktivitas seseorang
sehari-hari entah dirumah atau dikantor atau dimana saja, sepanjang itu adalah
kehendak Tuhan bagi orang tersebut, maka ia sesungguhnya sedang beribadah.
Kita juga sudah membahas bahwa ibadah
haruslah dalam roh dan kebenaran. Bukan soal ibadah ditempat ini atau itu,
melakukan ritual ini atau itu, tapi harus mengikuti pimpinan air hidup didalam
batin seseorang. Jika seseorang dengan tekun mengikuti pimpinan air hidup dalam
batinnya, maka air hidup didalam batinnya akan menjadi mata air yg terus
memancar sampai hidup kekal. Jadi, ibadah itu haruslah mengikuti aliran air
hidup didalam batin kita. Dengan kata lain, ibadah haruslah ‘MENGALIR’ sesuai
dengan pimpinan mata air didalam batin kita. Perihal ‘mengalir’ ini yang akan
kita bahas sekarang.
Tidak banyak orang Kristen yg suka
dengan istilah ‘mengalir’, karena tidak jelas apa yg harus rutin dilakukan.
Kebanyakan orang Kristen senang melakukan ibadah rutin, dihari tertentu,
ditempat tertentu, dengan pengkhotbah tertentu, aturan tertentu, cara nyanyi
tertentu, denominasi tertentu dengan segala peraturan2nya yang tertentu pula.
Mengapa demikian? Karena ke-tertentu-an
menimbulkan rasa pasti, aman dan yakin tanpa harus kritis mempertanyakan segala
sesuatunya. Sementara itu, pengikut Kristus adalah orang2 yg mengikuti Kristus
KEMANA SAJA IA PERGI (Wahyu 14:4).
Coba kita perhatikan lebih dalam
lagi. Yesus datang kedunia bukan membawa agama, Ia datang untuk memberi air
hidup. Apakah agama itu? Agama itu mengajarkan dan memberi paraturan2 kepada
orang apa yg baik dan apa yg jahat. Agama berasal dari pohon pengetahuan. Yesus
adalah pohon kehidupan itu yang memberi hidup. Banyak orang Kristen lebih
senang beragama dari pada mengikuti pimpinan air hidup, karena agama, sekali
lagi, menimbulkan rasa aman, walaupun diikat dengan berbagai peraturan. Agama
itu (Religion, Inggris) berasal dari istilah Latin, RELIGARE. Ligare artinya
mengikat, seperti kapal yang diikat dengan jangkar. Re artinya diulang. Jadi,
agama itu mengikat ulang. Orang Kristen yg beragama, ia sesungguhnya diikat
ulang oleh berbagai-bagai peraturan. Peraturan perpuluhan, buah sulung, liturgi
dan seterusnya. Orang Kristen yang beragama sama dengan perempuan Samaria yg
menganggap ibadah itu harus digunung ini atau itu…harus, harus, harus… Apakah
sdr mau kembali diikat dengan berbagai peraturan? Ibadah itu bukanlah menjalani
serentetan peraturan2…. Ibadah itu adalah mengikuti pimpinan air hidup.
Coba kita renungkan mengapa Tuhan
mengizinkan Covid-19 ini terjadi sedemikian sehingga ibadah di Gedung dilarang
pemerintah. Apakah sdr pernah berpikir bahwa “Gedung” tempat dimana orang
Kristen rutin beribadah adalah SUMBER peraturan2. Apakah sdr marah kalau sy
katakan bahwa dengan rutin datang ke “Gedung” sebenarnya sdr DIIKAT KEMBALI
oleh berbagai-bagai peraturan?
Yesus berkata, jika Anak itu
memerdekakan kamu, kamupun akan benar2 merdeka. Merdeka mengikuti pimpinan air
hidup. Merdeka mengikuti Anak Domba kemanapun Dia pergi.
Sebagai penutup, ibadah itu haruslah
MENGALIR… Ibadah bukanlah menjalani 1001 macam peraturan… Ibadah adalah
mengikuti pimpinan mata air dalam batin kita…Haleluyah.
Bersambung….
Kita sudah bahas bahwa ibadah harus
mengalir mengikuti air hidup yang didalam batin kita. Kitapun sudah melihat
bahwa air hidup yang didalam batin kita akan bertumbuh menjadi mata air
sepanjang kita terus melakukan kehendak Tuhan dan menyelesaikan pekerjaanNya.
Juga kita telah membahas bahwa ibadah bukanlah menjalani 1001 macam aturan
agamawi. Selanjutnya, kita juga sudah paham bahwa “Gedung” dimana orang Kristen
datang beribadah adalah sumber peraturan2, mulai dari aturan perpuluhan, buah
sulung dan aturan2 organisasi lainnya.
Sekarang kita akan membahas soal
pertumbuhan air hidup yang kita kaitkan dengan ibadah di “Gedung”. Seperti kita
tahu pada umumnya orang Kristen merasa nyaman jika sudah menjalankan
kewajibannya di “Gedung”. Pada hari tertentu jika orang Kristen belum pergi ke
“Gedung” akan merasa belum melaksanakan kewajibannya dihadapan Tuhan. Ketika
datang Covid-19 dan pemerintah melarang ibadah di Gedung gereja, dan harus
ibadah dirumah, maka mulai timbul masalah. Orang Kristen umumya belum merasa beribadah
jika kebaktiannya dirumah. Maka untuk menyelesaikan masalah ini, “Gedung”
mengadakan kebaktian OnLine… mengenai persembahannya, bisa ditransfer…
Mengapa Umat Tuhan merasa kalau
beribadah dirumah sepertinya tidak sah… kalau tidak ada pendeta, persembahan,
atau barangkali pengakuan iman dll…rasanya kurang nyaman. Jawabnya sederhana…
karena “Gedung” sadar atau tidak sadar, telah mengajari Umat Tuhan berbagai2
peraturan, termasuk peraturan ibadah minggu yg harus di”Gedung”. Mengajari,
kalau beribadah tidak ada pendetanya tidak sah, padahal Alkitab mengatakan
bahwa kita SEMUA adalah imam2 dan raja2. Mengajari kalau tidak memberi
perpuluhan, buah sulung atau persembahan apapun di Rumah Tuhan, nanti tidak
diberkati…. Dst…..dst….
Saya mau menanggapi dulu soal Rumah
Tuhan dan soal ‘tidak diberkati’ ini. Ajaran dari mana yang mengatakan bahwa
‘gedung’ itu rumah Tuhan, sementara rumah jemaat bukan rumah Tuhan. Alkitab
berkata bahwa rumah Tuhan adalah kita. Tetapi barangkali ada yg mau membantah
bahwa Israel sebagai umat Tuhan kan punya Bait Suci. Baiklah sy terima dulu
argumentasi yg sama sekali tidak paham konteks PL dan PB ini. Bagaimana kalau
yg terjadi seperti Ketika Tuhan Yesus “mengobrak-abrik” Bait Suci karena
terjadi perdagangan disitu. Bait Suci bukan lagi Rumah Tuhan, tapi telah
menjadi sarang penyamun. Bagaimana kalau “Gedung” tempat orang Kristen
beribadah disitu dipenuhi dengan ajaran teologi sukses, dipenuhi dengan para
pengkhotbah yg cinta uang…dipenuhi dengan banyak pertengkaran karena uang dan
jabatan yang ada di“Gedung” itu ? Bukankah rumah jemaat lebih mirip Rumah Tuhan
dari pada “gedung”. Dirumah jemaat ada seorang bapa, dengan dibantu seorang
ibu, membesarkan anak2nya dengan kasih, tidak ambil perpuluhan atau persembahan
apapun, bahkan rela mengorbankan nyawanya demi anak2. Yohanes 10 mengatakan
bahwa gembala yg baik menyerahkan nyawanya bagi domba2nya. Bukankah di rumah
jemaat ada gembala yang baik? Apakah di”Gedung” sudah pasti ada pendeta yang
mau menyerahkan nyawanya bagi domba2nya? Jangan2 kenalpun tidak….karena sudah
ratusan atau ribuan jumlah jemaatnya…
Bagaimana sdr berani berkata bahwa
“Gedung” adalah rumah Tuhan dan rumah jemaat bukan rumah Tuhan. Sy mau
berbicara kepada para pemimpin jemaat…. Mari kita belajar Alkitab lebih
sungguh2… Mari kita luruskan motivasi melayani Tuhan… Karena kita semua akan
menghadap pengadilan Kristus untuk mempertanggung-jawabkan semuanya.
Sekarang sy mau berbicara soal
‘memberi persembahan supaya diberkati’. Bapa sudah mengasihi dunia ketika dunia
memberontak kepadaNya. Yesus sudah mati bagi kita KETIKA KITA MASIH BERDOSA…
Renungkan hal ini… Ajaran dari mana bahwa kita harus memberi supaya diberkati…
Ini kalau bukan ajaran dukun, pasti ajaran tukang nyogok… Kita memberi KARENA
KITA SUDAH DIBERKATI…
Bagaimana jemaat bisa bertumbuh dalam
kondisi “Gedung” seperti itu? Bukankah pertumbuhan terjadi jika jemaat mentaati
aliran air hidup yg ada didalam batinnya dan bukan mentaati “Gedung” yang
kondisinya seperti sy uraikan diatas?
Akan bersambung….
Pada pembahasan yg lalu kita telah
berbicara soal pertumbuhan air hidup yg dikaitkan dengan kebiasaan orang
Kristen pergi beribadah di “Gedung”. Kita sudah paham bahwa “Gedung” tempat
orang Kristen biasa beribadah adalah sumber peraturan2, mulai dari peraturan
perpuluhan, buah sulung, dan peraturan2 organisasi lainnya. Kitapun sudah paham
bahwa air hidup yg ada didalam batin orang percaya akan bertumbuh menjadi mata
air hanya jika orang percaya itu “mengalir” mengikuti pimpinan air hidup
didalam batinnya.
Kitapun sudah membahas kondisi
“Gedung” pada umumnya yg sarat dengan perdagangan sebagaimana Bait Suci
Yudaisme pada zaman Yesus melayani di bumi ini. Orang percaya yg tidak
mengikuti aliran air hidup didalam batinnya, tetapi yg hanya mengikuti ritual
di “Gedung” akan sulit bertumbuh. Bisa saja orang percaya setia datang ke
“Gedung” serta ‘memanaskan’ bangku2 gereja selama 10, 20 bahkan 30 tahun tanpa
mengalami pertumbuhan yg berarti. Tidak bertambah signifikan pewahyuannya akan
Alkitab, tidak bertambah menyala-nyala rohnya, tidak terlalu berubah
karakternya, tidak semakin cinta Tuhan dan rela berkorban, tidak semakin mau
pikul Salib… bahkan barangkali semakin surut dan kering air hidup didalam
batinnya. Mengapa demikian? Karena beribadah adalah soal mengikuti pimpinan air
hidup dan bukan mengikuti “Gedung” dengan segala aturan2nya.
Alkitab berkata, “Sebab didalam diri
kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu
tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapanNya
mengajar kamu tentang segala sesuatu….”. (I Yohanes 2:27). Ayat ini bukan
berarti kita tidak perlu belajar dari orang lain, karena kalau berarti demikian
Rasul Yohanes tidak akan menulis surat2nya. Ayat ini sedang menekankan bahwa
dalam diri setiap orang percaya ada pengurapan (air hidup) yg ajarannya HARUS
SANGAT DITAATI. Air hidup itu MENGAJAR orang percaya, tapi sayangnya orang
percaya sudah terlalu fokus kepada “Gedung”. Telan bulat2 ajaran “Gedung”.
Mendengar ajaran “Gedung” itu harus seperti makan ikan, ambil dagingnya, buang
durinya.
Dimana ‘gedung” yang berani berkata
bahwa ajarannya sempurna? Dimana denominasi yg berani mengatakan bahwa kami yg
benar, kalian yang sesat. Walaupun itu sering dan hampir selalu kita dengar,
tapi yakinlah sdrku…. itu cuma omongan pengkhotbah saja…. Tidak menyuarakan
SUARA TUHAN… Kembalilah kepada air hidup
dan pengurapan yg ada didalam batin sdr. Kita semua imam2 dan raja2…kita semua
sdr/i dalam Tuhan… Itulah sebabnya Yesus berkata jangan ada seorangpun diantara
kamu yg disebut pemimpin, karena Akulah pemimpinmu (Matius 23:10).
Tetapi mengapa orang percaya begitu
tertarik kepada “Gedung” ? Atau lebih tepat ‘tertarik kepada pemimpinnya’.
Sampai ada yg berkata begini, “kalau orang Kristen dicela Tuhannya… mereka bisa
tenang dan sabar… Tapi jangan coba serang pendetanya, biasanya mereka akan
serang balik dengan berkata…jangan menghakimi…jangan mengganggu orang yg
diurapi Tuhan… itu urusan dia dengan Tuhan…dst….dst”.
Tentu kita bertanya, ada apa dengan
para pemimpin? Kita akan lanjutkan tulisan ini nanti….
Alinea terakhir dalam tulisan kita yg
lalu adalah mengapa orang percaya begitu tertarik kepada “Gedung” ? Atau lebih
tepat ‘tertarik kepada pemimpinnya’. Sampai ada yg
berkata begini, “kalau orang Kristen dicela Tuhannya… mereka bisa tenang dan
sabar… Tapi jangan coba serang pendetanya, biasanya mereka akan serang balik
dengan berkata…jangan menghakimi…jangan mengganggu orang yg diurapi Tuhan… itu
urusan dia dengan Tuhan…dst….dst”.
Tentu kita bertanya, ada apa dengan
para pemimpin? Jawabnya tentu sederhana, bahwa para pemimpin memiliki daya
tarik. Daya tarik ini disebabkan anugerah2 yg Tuhan berikan mulai dari
karunia2, pengetahuan, petah lidah bahkan sampai penampilan fisik…dst. Semua
itu tidak salah, yg salah adalah kalau semua itu digunakan untuk menarik para
murid BUKAN KEPADA KRISTUS TETAPI KEPADA DIRI PEMIMPIN ITU.
Sebelum melanjutkan pembahasan kita,
sy mau bersaksi mengenai kehidupan awal kekristenan saya. Pada waktu itu saya
diperkenalkan dengan tulisan2 Watchman Nee. Watchman Nee adalah pemimpin besar
Umat Tuhan. Gerakannya di China ‘little flock’ sampai saat ini masih terasa
dalam pergerakan gereja rumah. Tetapi ia seorang yg banyak menderita karena
mengikut Tuhan secara radikal. Nee mengakhiri hidupnya di penjara komunis setelah
mendekam dan mederita selama hampir 20 tahun lamanya. Tulisan2nya sangat
terkenal didunia kekristenan bahkan sampai saat ini. Saya mempelajari, bukan
hanya membaca, hampir seluruh buku2nya. Dan saya sangat diberkati dan benar2
diperlengkapi untuk mengikut Tuhan sampai saat ini.
Tetapi, anehnya, saya tidak menjadi
Watchman Nee-an, sayapun bukan “pengikut” Watchman Nee. Tetapi melalui
tulisan2nya saya menjadi seorang yg mau memilih kehendak Bapa walaupun
menderita ataupun tidak dimengerti orang. Saya menjadi sangat merindukan hidup
Kristus. Saya DITARIK melalui tulisan2 Watchman Nee bukan kepada dirinya
ataupun pergerakannya, tetapi saya DITARIK kepada hayat atau hidup Kristus.
Dalam salah satu tulisannya, ia
menjelaskan bagaimana Maria memecahkan buli2nya dikaki Yesus dan semerbak harum
memenuhi ruangan itu. Nee menjelaskan bahwa hanya orang yg sudah memecahkan
“buli2nya” yg dapat menyebarkan harum Kristus kepada orang2… Dan dalam seluruh
tulisannya Watchman Nee menegaskan bahwa hanya orang2 yg dengan rela MEMILIH
KEHENDAK BAPA dan menderita karenanya, dialah yg dapat membawa orang KEPADA
KRISTUS dan bukan kepada dirinya. Sampai saat ini saya selalu merindukan
KEHENDAK BAPA dan menderita karenanya… Hanya dengan cara itu saya bisa dipakai
untuk membawa orang kepada Kristus.
Kembali kita kepersoalan kita. Pada
zaman modern ini ada banyak pengkhotbah hebat dan memiliki daya tarik
sedemikian sehingga ia dapat menarik ribuan bahkan puluhan ribu orang kristen.
Bagi saya hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah yg ribuan orang itu ditarik
kepada Kristus atau tidak? Jika terjadi gejala seperti saya tulis sebelumnya
diatas, yaitu sampai ada yg berkata begini, “kalau orang Kristen dicela
Tuhannya… mereka bisa tenang dan sabar… Tapi jangan coba serang pendetanya,
biasanya mereka akan serang balik dengan berkata…jangan menghakimi…jangan
mengganggu orang yg diurapi Tuhan… itu urusan dia dengan Tuhan…dst….dst”. Kalau
terjadi gejala seperti ini, maka sangat mungkin pemimpin itu, sadar atau tidak
sadar, telah menarik orang kepada dirinya.
Perihal pemimpin ini akan kita bahas
lebih jauh lagi dengan menguraikan tiga pengajaran yg membuat gereja jatuh
(Wahyu 2-3). Pengajaran ini adalah NIKOLAUS, BILEAM, dan IZEBEL….
Bersambung
Kita sudah bahas bahwa para pemimpin
memiliki daya tarik. Jika pemimpin hanya menggunakan karunia2 dan segala
anugerah Tuhan yg ada padanya tetapi belum cukup dibentuk dan memecahkan
“buli2nya”, maka ia akan menarik murid2 bukan kepada Kristus tetapi kepada
dirinya sendiri. Kita juga sudah paham bahwa beribadah adalah mengikuti
pimpinan air hidup yg ada didalam batin kita. Umat Tuhan perlu bertanya apakah
mereka sedang mengikuti pemimpin atau mengikuti air hidup didalam batinnya.
Belajar dari para pemimpin, itu suatu keharusan. Diperlengkapi para pemimpin agar
bisa mengikuti Kristus sudahlah ketetapan Tuhan. Tetapi DITARIK oleh pemimpin
sedemikian sehingga tidak mengikuti pimpinan air hidup, ini menjadi masalah
besar. Karena kalau itu yg terjadi, maka sebenarnya Umat Tuhan tidak sedang
beribadah. Itu sebabnya sangat perlu kita membicarakan soal pemimpin ini.
Kita akan membahas soal pemimpin ini
dengan melihat 3 ajaran di Kitab Wahyu pasal 2 dan 3, yang menyebabkan gereja
jatuh, yaitu ajaran Nikolaus, Izebel dan Bileam. Ketiga ajaran ini tentu
diajarkan oleh para pemimpin. Saat ini kita akan bahas ajaran Nikolaus saja.
Sebelumnya kita harus paham terlebih
dahulu bahwa Kitab Wahyu adalah pewahyuan mengenai Kristus Yesus dan gerejaNya
dengan menggunakan BAHASA SIMBOL. Wahyu 1:1 menegaskan bahwa, “… Ia (Yesus
Kristus) telah MENYATAKANNYA kepada hambaNya Yohanes”. Istilah menyatakannya
berasal dari istilah Yunani SEMAINO, yang berasal dari kata SEMA, yang artinya
TANDA atau SIMBOL. Jadi Yesus Kristus mewahyukan kepada Rasul Yohanes dengan
Bahasa simbol/tanda. Simbol itu suatu tanda dimana terdapat makna dibalik tanda
tsb. Sebagai contoh, didalam Wahyu 12:1, digambarkan ada perempuan berselubung
matahari dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang
diatas kepalanya. Perempuan disini adalah simbol, karena tidak ada perempuan
secara harfiah yg mampu dekat matahari, menginjak bulan dan memiliki mahkota
bintang. Didalam Alkitab, perempuan adalah SIMBOL gereja. Jadi Rasul Yohanes
melihat ada gereja yg sepenuhnya dikuasai Kristus (Matahari), dimana ia tidak
lagi dikuasai “pantulan” Kristus (menginjak Bulan), dan ia dipimpin putra2
Elohim (bintang2). Jadi, demikianlah cara membaca Wahyu 12:1 ini.
Mari kita kembali pada persoalan kita
dan mencoba memahami istilah NIKOLAUS. Karena Nikolaus adalah simbol, maka
Nikolaus bukanlah nama seorang pemimpin. Nikolaus berasal dari dua istilah
Latin yaitu NIKO = menaklukkan, dan LAOS = kaum awam . Jadi, Nikolaus berarti
menaklukkan kaum awam. Ajaran ini dipakai para pemimpin untuk membenarkan
tindakannya menguasai, mengatur, dan memerintah
Umat Tuhan. Salah satu ajaran Nikolaus menegaskan bahwa gereja adalah
ORGANISME yg perlu DIORGANISASIKAN. Menerapkan organisasi dan hierarki kedalam
gereja adalah sah dan benar. Ketepatan, saya menulis tesis saya mengenai
kepemimpinan. Jadi saya belajar berbagai manajemen, mulai dari manajemen
klasik, menajemen ‘human relationship’ dan berbagai-bagai manajemen modern saat
ini.
Pada prinsipnya sama saja bahwa
organisasi hanyalah alat ditangan pemimpin untuk mengelola komunitas agar
tercapai tujuan komunitas tersebut. Jadi wajar saja para pemimpin membuat
organisasi, baik pemimpin politik (berbagai organisasi politik), pemimpin usaha
dagang (perusahaan), dan juga pemimpin sosial (organisasi sosial) dan
seterusnya. Tetapi Yesus berkata didalam Matius 20:25 bahwa para pembesar
menjalankan kuasanya…tetapi tidaklah demikian diantara kamu (ayat 26). Otoritas
dan kuasa para pembesar dijalankan melalui apa yg kita sebut ORGANISASI. Tanpa
organisasi (hierarki), tidak mungkin para pembesar menjalankan otoritasnya.
Organisasi itu memang ALAT ditangan para pembesar untuk mengatur rakyat. Karena
didalam organisasi itu terlihat jelas garis2 komando yang menentukan siapa
bertanggung jawab kepada siapa, siapa yg dapat mengatur siapa.
Tetapi didalam gereja tidak boleh ada
organisasi (hierarki), karena kalau ada maka OTORITAS gereja berubah secara
drastis, dari otoritas Roh Kudus menjadi otoritas manusia (para pemimpin). Para
pemimpin TIDAK MEMPUNYAI OTORITAS atas jemaat. Para pemimpin adalah PELAYAN
jemaat, dan pelayan TIDAK PUNYA OTORITAS atas tuannya. Pernahkan sdr
merenungkan beda antara organisme dan organisasi? Bedanya pada JENIS
OTORITASNYA. Organisme yang adalah gereja memiliki otoritas Roh Kudus,
sementara organisasi memiliki otoritas pemimpin. Itu sebabnya Yesus berkata
jangan ada seorangpun diantara kamu disebut pemimpin, Akulah pemimpinmu. Disini
Yesus sedang berbicara soal OTORITAS, bukan soal pemimpin jemaat yg adalah
Rasul, Nabi, Gembala, pengajar dan penginjil.
Saya harus mengakhiri tulisan ini
disini…banyak yg bisa saya tulis mengenai topik ini. Tetapi sy akan menutup
tulisan ini dengan mengatakan bahwa GEREJA ADALH ORGANISME dimana OTORITAS ROH
KUDUS berlaku. Tetapi saat ini gereja telah dirobek-robek menjadi ribuan
ORGANISASI oleh para pemimpin yang mendukun ajaran NIKOLAUS. Dikatakan dalam
kitab Wahyu bahwa Tuhan sangat membenci ajaran Nikolaus, mengapa ? Karena
ajaran inilah yg memecahkan gereja menjadi ribuan keeping-keping organisasi.
BERSAMBUNG…..
Kita telah membahas perbedaan antara
organisme dan organisasi, yaitu terletak pada jenis otoritasnya. Otoritas
organisme (gereja) adalah otoritas Roh Kudus. Atau lebih tepat otoritas hayat
(Life=zoe), karena Roh Kudus adalah Roh pemberi hidup. Jika seseorang ‘berada
didalam organisme’, ia akan dipimpin air hidup, baik dirumah, kantor atau
dimanapun. Orang ini sedang beribadah karena beribadah adalah mengikuti
pimpinan air hidup. Sebaliknya, jika ia ‘berada didalam organisasi’, maka mau
tidak mau, ia harus mengikuti pimpinan diatasnya, dimana jenjang tertinggi ada
pada top leader, entah itu seorang gembala sidang atau penatua senior.
Disinilah terjadi konflik, jika orang
ini benar2 telah lahir baru (memiliki air hidup dibatinnya) tetapi ia
“beribadah” didalam organisasi, maka terjadi kekacauan. Kadang2 otoritas
organisasi bersesuaian dengan pimpinan air hidup didalam batinnya, tetapi
biasanya malah bertentangan. Itu sebabnya orang yg melayani full time didalam
organisasi, mengikuti semua program organisasi, sering mengalami “kekeringan”
dan kebosanan. Orang ini perlu retreat, padahal melayani dalam pimpinan air
hidup itu adalah makan. Orang yg melayani dalam pimpinan air hidup tidak perlu
retreat, malah rohnya semakin bernyala-nyala…tidak pernah merasa “kekeringan”
dan bosan. Tetapi mengapa orang dalam konteks organisasi sering “kekeringan”
dan bosan adalah karena ia tidak mengikuti pimpinan air hidup, tetapi hanya
mengikuti pimpinan organisasi.
Orang2 kristen, bahkan yg disebut
pelayan full time, bisa menghabiskan hidupnya 10, 20, sampai 30 tahun didalam
organisasi, tetapi tidak terlalu bertumbuh dalam hayat. Barangkali ia bertumbuh
dalam hal berorganisasi, semakin memahami teologi didalam organisasi itu,
tetapi hampir tidak bertumbuh dalam pewahyuan yang baru dan segar. Bisa saja
khotbahnya yg sekarang sama dengan yg 10 tahun lalu… Tidak ada yg baru, cuma yg
itu-itu saja… Ini perkara serius sdrku… Kita harus sungguh2 memikirkan perkara
ini. Soal beribadah adalah soal mengikut Tuhan dan mengikut Tuhan adalah
mengikuti pimpinan air hidup. Jangan sampai energi kita terkuras selama 10, 20,
30 tahun dan tidak terjadi pertumbuhan yg berarti dalam kesegaran firman.
Mari kita perhatikan gereja mula2 yg
adalah organisme. Mereka hidup, bergerak, melayani dalam pimpinan Roh pemberi
hidup. Salah satu ciri organisme adalah kehidupan yg spontan dan mengalir.
Petrus dan Yohanes mengadakan KKR “dadakan” tanpa diprogram, tidak ada rapat
organisasi, tidak ada anggaran dan proposal2…tetapi jemaat bertambah menjadi
kira2 5000 orang (Kis. 4:4). Jemaat berdoa, tidak terjadwal, tetapi dengan
spontan…dan hasilnya bukan saja tempat mereka berdoa menjadi goyang, tetapi
mereka semua penuh Roh dan memberitakan firman dengan berani… Mujizat demi
mujizat terjadi secara spontan…Filipus menginjil sida2 dari Etiopia dan setelah
membaptis, Roh Kudus membawanya ketempat lain…tidak ada program follow up…
Pauluspun melayani sesuai pimpinan Roh…kadang Roh melarang ia menginjil ke Asia
dan memimpinnya ke daratan Eropa… Semua mengalir sesuai pimpinan Roh pemberi
hidup… Tanpa program2 organisasi, tanpa membicarakan anggaran dan proposal2,
dan tanpa GEDUNG-GEDUNG, mereka hanya beribadah dirumah-rumah…dalam 200 tahun
pertama, gereja telah menaklukkan dunia yg dikenal waktu itu… Mengapa? Karena
dipimpin Roh pemberi Hidup… dipimpin oleh air hidup dibatin mereka…
BERSAMBUNG…
Pada tulisan yg lalu, kita sudah
melihat bagaimana gereja mula2 sebagai organisme dipimpin oleh Roh pemberi
hidup. Semua mengalir sesuai pimpinan air hidup didalam batin orang2 percaya.
Tanpa program2 organisasi, tanpa membicarakan anggaran dan proposal2, dan tanpa
GEDUNG-GEDUNG, dimana mereka hanya beribadah dirumah-rumah….. dalam 200 tahun
pertama, gereja telah menaklukkan dunia yg dikenal waktu itu. Tetapi
sebaliknya, saat ini gereja yg telah menjadi ribuan organisasi, dengan
gedung2nya yg mewah dan program2 penginjilannya yg begitu bermacam-macam itu,
tidak mampu menaklukkan dunia seperti yg terjadi dengan gereja mula2.
Kita juga sudah melihat bahwa
penyebab gereja yg adalah organisme dan sekarang menjadi ribuan organisasi,
adalah perbuatan para pemimpinnya, yg mendukung ajaran Nikolaus. Sekali lagi,
NIKOLAUS adalah tindakan para pemimpin menaklukkan kaum awam dengan menggunakan
alat, yg sudah kita bahas, yaitu organisasi. Saat ini kita akan membahas satu
lagi alat yg berupa ajaran mengenai
PENUNDUKKAN DIRI.
Alkitab memang mengajarkan
penundukkan diri, tetapi harus kita lihat konteksnya. Apakah ajaran ini dalam
konteks PL (umat Israel) atau PB (gereja) ? Apakah konteksnya didalam keluarga,
atau masyarakat (pemerintah) ? Para pendukung ajaran Nikolaus ini biasanya
tidak memperhatikan konteks. Sebagai contoh, hukum perpuluhan dan hukum buah
sulung. Mereka senang mengutip Maleakhi 3:10, dan menerapkannya kepada Umat
Perjanjian Baru (gereja). Padahal kita tahu bahwa perpuluhan itu milik orang
Lewi, tetapi mereka tidak habis akal… Mereka bilang kamilah “orang Lewi” itu,
walaupun surat Petrus tegaskan bahwa gereja semuanya adalah imam2 dan raja2.
Para pendukung Nikolaus ini mengangkat dirinya diatas Umat Tuhan, dan menipu
Umat Tuhan dengan ‘comot2’ ayat tanpa melihat konteks. Tetapi yg dikutip tentu
ayat2 yg mendukung posisi mereka. Hukum rajam bagi anak2 yg membangkang kepada
orang tua tentu tidak mereka kutip, sebab jangan2 anak pendeta yg membangkang
kepada orang tuanya… masakan jemaat harus merajam anak pendeta ???
Kembali kita kepada soal penundukkan
diri. Para pendukung ajaran Nikolaus ini senang mengutip ayat2 seperti ‘jangan
mengusik orang yang Kuurapi’. Mereka juga senang mengambil contoh2 bagaimana
Daud tidak berani mengusik Saul sekalipun Saul sudah ditolak Tuhan. Mereka juga
senang memberi contoh bagaimana Musa yang sudah mengambil perempuan keturunan
Ham (Kusy) tetapi tetap dibela Tuhan, ketika Musa ditegor Miriam dan Harun.
Semua kasus2 yg saya sebut diatas adalah kasus2 didalam konteks PL yg berlaku
bagi Umat Israel. Untuk kasus gereja, jangan main comot ayat PL sembarangan.
Karena PL adalah BAYANGAN saja, sedangkan realita keselamatan itu ada didalam
Tuhan Yesus Kristus (PB) – Lihat Ibrani 10:1.
Sekarang kita lihat ajaran
penundukkan diri dalam PB. Penundukkan diri didalam PB terkait dengan soal
OTORITAS. Mengenai otoritas, Tuhan Yesus sudah berkata, “ jangan ada seorangpun
diantara kamu disebut pemimpin, karena Akulah pemimpinmu…kamu semua ADALAH
SAUDARA”. Ini berbicara soal otoritas. Tidak ada seorangpun diantara kita,
sebagai anggota gereja, yg mempunyai otoritas atas anggota lainnya. Pemimpin
jemaat tentu ada. Tetapi pemimpin itu adalah pelayan untuk memperlengkapi
jemaat agar bertumbuh dan mentaati sang Pemimpin yaitu Tuhan Yesus. Itu juga
sebabnya didalam PB disebut istilah ‘saling’ sebanyak 13 kali. Artinya sebagai
sesama anggota, kita harus SALING menundukkan diri, SALING membasuh kaki,
SALING menasihati…SALING… SALING dan SALING.
Penundukkan diri dalam konteks PB
haruslah “mengalir”. Jika ada 2 orang Kristen berjalan, secara alamiah, tentu
sudah paham siapa harus belajar menundukkan diri kepada siapa. Jika salah satu
anggota gereja memberontak kepada seorang pemimpin jemaat, jangan langsung
berharap Tuhan akan membuka bumi dan menelan orang yg memberontak itu seperti
kasus Korah, Datan dan Abiram yg memberontak kepada Musa. Didalam PB, bicara
penundukkan diri adalah bicara kerendah-hatian.
Bagaimana kalau salah satu anggota
jemaat memberontak kepada gembala sidangnya? Kita akan membahas ini
berikutnya…. Tetapi supaya kita tahu bahwa JABATAN GEMBALA SIDANG TIDAK ADA
DIDALAM ALKITAB. Karunia gembala ada… tetapi JABATAN, yg menyangkut otoritas
dalam jemaat, TIDAK ADA DIDALAM ALKITAB…..
Kita akan lanjutkan pembahasan kita
mengenai salah satu ajaran Nikolaus yaitu penundukkan diri. Kali ini kita
membahas dulu apakah JABATAN Gembala sidang itu ada didalam Alkitab, khususnya
PB. Istilah gembala (Yun. Poimen) muncul sebanyak 18 x didalam PB. Istilah
gembala yang secara khusus terkait dengan pemimpin jemaat itu ada 4 kali, yaitu
didalam Matius 9:36, Markus 6:34, Yohanes 10:2 dan Efesus 4:11. Selebihnya,
istilah gembala menunjuk kepada Tuhan Yesus dan gembala domba (hewan).
Sekarang kita akan bahas apakah
gembala itu salah satu KARUNIA kepemimpinan atau gembala itu JABATAN seperti yg
terjadi saat ini. Untuk dapat melihat perkara ini dengan jelas, kita harus
memahami sejarah bagaimana hierarki (organisasi) itu masuk kedalam gereja mula2
yang kita telah ketahui adalah organisme.
Kita tahu bahwa kepemimpinan gereja
mula2 adalah para penatua dibantu para diaken menggembalakan umat Tuhan pada
suatu kota tertentu. Perlu diingat bahwa para penatua berfungsi sebagai
pemelihara jemaat dalam konteks organisme, karena jemaat mula2 bukan
organisasi. Istilah penatua diterjemahkan dari dua istilah Yunani, yaitu
Episkopos dan Presbuteros. Episkopos berarti pelihat (melihat “dari atas”),
sedangkan Presbuteros adalah seorang yg tua (dewasa rohani). Kedua istilah ini
dipakai bergantian, yang berarti menunjuk kepada satu orang. Artinya, penatua
itu adalah seorang yg dewasa rohani dan berfungsi sebagai pelihat agar dapat
memelihara jemaat. Semua penatua, diaken berfungsi dalam konteks organisme.
Kemudian mengapa saat ini gereja
pecah menjadi ribuan organisasi dimana tiap organisasi biasanya dipimpin oleh
SATU orang gembala sidang atau SATU orang penatua senior ? Sejarah mencatat ada
seorang bernama Ignatius (117 M.), seorang pemimpin gereja di Antiokhia yang
mati martir dibawah Kaisar Trajan. Ignatius inilah yg pertama kali mengajarkan
bahwa Episkopos berbeda dengan Presbuteros. Saya akan kutip beberapa kalimatnya
yang tertulis dalam buku The Apostolic Fathers (1956) oleh J.B Lightfoot,
demikian… (saya langsung terjemahkan kedalam Bahasa Indonesia).
‘karenanya kita harus menganggap
BISHOP sebagai Tuhan sendiri’ (halaman 65). ‘karena itu sama seperti Tuhan
tidak berbuat apapun tanpa Bapa – karena menyatu denganNya – demikian juga
engkau jangan berbuat apapun tanpa BISHOP dan para penatua’ (hal 70).
‘tundukkan dirimu pada para penatuamu dan BISHOPmu, engkau akan dikuduskan
dalam segala sesuatu (hal 64). ‘taatlah pada BISHOP’ (hal 72). ‘ia yang
melakukan segala sesuatu tanpa BISHOP dan penatua dan para diaken, orang ini
tidak bersih hati nuraninya’ (hal 74). ‘kamu semua ikuti BISHOPmu’ (hal 84).
‘ia yang melakukan segala sesuatu tanpa sepengetahuan BISHOP memberikan
pelayanan kepada iblis’ (hal84).
Ignatius bukan saja membedakan
EPISKOPOS (Bishop) dengan PRESBUTEROS (Penatua), tetapi juga mengajarkan
penundukkan diri MUTLAK kepada Bishop. Setelah terjadi pembedaan bishop dan
para penatua, para Bishop ditiap kota bersaing sehingga lahir Bishop Agung
(Uskup Agung). Kemudian para Uskup Agung bersaing lagi, lahirnya Kardinal.
Kemudian para Kardinal bersaing lagi, timbullah Paus. Demikian Hierarki
(organisasi) masuk kedalam organisme (gereja). Pada abad ke 6, hierarki sudah
jadi (settle), itulah gereja Roma Katolik…dan kemudian gereja masuk kedalam
zaman KEGELAPAN 1000 tahun lamanya.
Sudahkah sdr melihat benih2 ajaran
NIKOLAUS disini? Gereja mula2 (organisme) tidak mengenal JABATAN GEMBALA
SIDANG. Kalau tidak yakin, carilah di Alkitab, siapa Gembala Sidang gereja di
Yerusalem, Antiokhia, Korintus, dsb…
Kita harus hentikan disini dulu
sebelum nanti saya sambung dengan menyimpulkan ajaran NIKOLAUS ini…
Pada tulisan kali ini kita akan
mencoba menyimpulkan ajaran Nikolaus, yaitu penundukkan diri dan organisasi
didalam gereja (hierarki=jenjang). Kita akan mengutip ulang sumber atau benih
ajaran ini dari ucapan2 Ignatius dalam buku The Apostolic Fathers (1956) karya
J.B Lightfoot, demikian…
‘karenanya kita harus menganggap
BISHOP sebagai Tuhan sendiri’ (halaman 65). ‘karena itu sama seperti Tuhan
tidak berbuat apapun tanpa Bapa – karena menyatu denganNya – demikian juga
engkau jangan berbuat apapun tanpa BISHOP dan para penatua’ (hal 70).
‘tundukkan dirimu pada para penatuamu dan BISHOPmu, engkau akan dikuduskan
dalam segala sesuatu (hal 64). ‘taatlah pada BISHOP’ (hal 72). ‘ia yang
melakukan segala sesuatu tanpa BISHOP dan penatua dan para diaken, orang ini
tidak bersih hati nuraninya’ (hal 74). ‘kamu semua ikuti BISHOPmu’ (hal 84).
‘ia yang melakukan segala sesuatu tanpa sepengetahuan BISHOP memberikan
pelayanan kepada iblis’ (hal84).
Dengan membedakan antara Bishop
dengan penatua, serta mengajarkan penundukkan diri mutlak kepada Bishop, tanpa
sadar Ignatius telah menabur benih ajaran Nikolaus yang kemudian berkembang
menjadi hierarki dalam gereja yaitu Paus, Kardinal, Uskup Agung, Uskup (bishop)
dan penatua. Mengenai penundukkan diri yg mutlak, kita sudah sering mendengar
kalimat2, ‘Father can do no wrong’ atau ‘Paus sudah berbicara’ artinya kalau
pemimpin tertinggi sudah putuskan, tidak usah didiskusikan lagi. Ajaran
Nikolaus sudah masuk kedalam gereja.
Ajaran Nikolaus ini, penundukkan diri
mutlak dan hierarki, pada prinsipnya menggeser OTORITAS ROH KUDUS dan
menggantikannya dengan OTORITAS PEMIMPIN. Oleh sebab itu pemimpin dapat menarik
umat Tuhan serta MENGATUR, MENGUASAI dan MENGONTROL-nya.
Gereja adalah organisme. Penundukkan
diri dalam gereja tidaklah mutlak, karena Yesus berkata KAMU SEMUA SAUDARA,
AKULAH PEMIMPINMU. Penundukkan diri dalam gereja haruslah dalam konteks
organisme, sehingga otoritas Roh Kudus tidak digeser. Pemimpin memang diberikan
otoritas terdelegasi (Delegated Authority), tetapi tetap itu otoritas Roh
Kudus. Oleh sebab itu jika ada seseorang didalam gereja menundukkan diri kepada
pemimpin, maka ia sebenarnya sedang menundukkan diri kepada otoritas Roh Kudus.
Tetapi saat ini gereja sudah pecah menjadi ribuan organisasi. Tidak ada lagi
penundukkan diri dalam konteks organisme, kecuali kalau orang tsb berada diluar
organisasi.
Sekali lagi kita tegaskan bahwa garis
komando atau garis otoritas didalam organisasi adalah otoritas pemimpin atau
otoritas manusia. Siapa yg menduduki jenjang tertinggi, dialah yang memiliki
otoritas tertinggi, tidak perduli apakah dia dipimpin Roh Kudus atau tidak. Itu
sebabnya tidak ada jabatan Gembala Sidang didalam ajaran Alkitab mengenai
gereja. Begitu masuk jabatan Gembala Sidang, maka itu bukan lagi gereja Yesus
Kristus, tetapi gerejanya si Gembala Sidang itu. Otoritas tertinggi bukan
ditangan Tuhan Yesus, tetapi ditangan si Gembala Sidang itu. Saya harap Umat
Tuhan mengerti hal ini…
Inilah ajaran Nikolaus yang masuk
kedalam gereja mula2 oleh Ignatius. Tetapi, kita jangan menganggap Ignatius
seorang pemimpin yang lalim. Ignatius seorang yang berani, dimana sambil
menulis surat2nya, ia menuju Roma untuk mati martir disana. Hal ini menjadi
pelajaran serius bagi kita, terutama para pemimpin, bahwa semangat Nikolaus
tetap masih bisa marasuki kita bagaimanapun beraninya kita mengikutTuhan.
Bagi Umat Tuhan, pelajarannya adalah
mari kita renungkan lebih dalam lagi…. Kita sedang mengikuti siapa? Kita sedang
mentaati otoritas Roh Kudus atau Otoritas pemimpin ? Kita sedang mengikuti
pimpinan air hidup dalam kebebasan organisme atau mengikut pemimpin tertentu
dalam keterikatan organisasi ? Hendaklah kita ingat selalu bahwa BERIBADAH
ADALAH MENGIKUTI PIMPINAN AIR HIDUP DIDALAM BATIN KITA.
Bagi yang memiliki telinga, biarlah
ia mendengar bahwa Covid-19 ini adalah cara Tuhan untuk melemahkan semangat
NIKOLAUS….
BERSAMBUNG….
Dalam tulisan yang lalu kita sudah
membahas ajaran Nikolaus yaitu hierarki dan penundukkan diri dengan maksud
mengontrol, menguasai serta memperoleh otoritas atas Umat Tuhan. Saat ini kita
akan membahas ajaran Izebel, yang menyebabkan gereja jatuh kedalam perzinahan
dan penyembahan berhala. Semua ajaran didalam Kitab Wahyu pasal 2-3, yaitu
NIKOLAUS, IZEBEL dan BILEAM, dilakukan oleh para pemimpin. Namun harus
ditegaskan bahwa kita tidak sedang berbicara tentang kepemimpinan. Kita sedang
berbicara perihal IBADAH Umat Tuhan, tetapi karena para pemimpin ini dengan
ajaran2nya mempengaruhi ibadah Umat Tuhan, maka kita harus mengenali ajaran2
mereka. Tulisan ini dimaksud agar Umat Tuhan waspada dan tetap dapat beribadah
sesuai ajaran Tuhan Yesus dalam Yohanes 4 yang sudah kita bahas dimana ibadah
adalah mengikuti PIMPINAN air hidup didalam batin orang percaya.
Mari kita melihat Wahyu 2:20, “Tetapi
Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut
dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hambaKu supaya berbuat zinah dan
makan persembahan-persembahan berhala”. Kita tahu bahwa Kitab Wahyu adalah
pewahyuan tentang Yesus dan gerejaNya DENGAN BAHASA SIMBOL. Jadi Izebel disini
adalah simbol.
Simbol adalah tanda dimana terdapat
suatu makna dibalik tanda itu. Dalam sejarah Israel, Izebel adalah anak raja
Sidon yg dinikahi oleh raja Israel, Ahab, yang jahat itu. Jadi, kita harus
memahami sejarah Izebel (I Raja-Raja 16-21) agar dapat memahami makna dibalik
simbol Izebel. Saat ini kita akan memperhatikan tiga hal saja dalam sejarah
Izebel yaitu, perihal merampas otoritas suaminya dalam kasus Nabot, perihal
nabi2 Baal yang makan dari meja Izebel, dan perihal karakternya yg suka
membujuk suaminya ( I Raja-Raja 21:25).
Sebelum kita membahas Izebel lebih
jauh perlu kita pahami dulu siapa sebenarnya Izebel ini. Dalam Wahyu 2:20
diatas, Izebel ini menyebut dirinya NABIAH, artinya mengaku seorang penyambung
lidah Tuhan. Mengaku sebagai seorang yang berbicara atas nama Tuhan. Tetapi
ajarannya menyesatkan Umat Tuhan supaya berbuat zinah dan makan persembahan2
berhala. Kalau kita terapkan kedalam kondisi saat ini, maka Izebel ini adalah
pengajar2, dan tentunya pemimpin2 yang membuat jemaat menyembah berhala. Tentu
saja berhala zaman ini bukanlah Baal atau patung Asyera yg disembah Ahab dan
Izebel pada zaman dulu. Tetapi berhala zaman modern ini adalah MAMON
(Kekayaan). Jadi, Izebel zaman modern ini adalah para pendukung ajaran Teologi
Sukses, kemakmuran atau apapun sebutannya.
Mari kita langsung saja dulu menyebut
contoh ajaran2 “Izebel” ini. Kalau versi blak2annya mereka suka mengutip ayat
dimana dikatakan “Maka menaburlah Ishak ditanah itu… Dan orang itu menjadi
kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya” (Kejadian
26:12-13). Dan mereka mengajar Umat Tuhan bahwa kalau ikut Tuhan Yesus maka
engkau akan menjadi kaya, kian kaya dan sangat kaya… Kalau versi lunaknya,
mereka suka mengutip Yohanes 10:10, dan mengajarkan bahwa Yesus datang supaya
kita mendapat hidup berkelimpahan…tentu saja juga secara materi…Dan versi yg
lebih lunak lagi, mereka juga mengutip Maleakhi 3:10, dan mendorong jemaat
supaya jangan “mencuri uang Tuhan”… Mereka gak perduli konteks, atau barangkali
juga tidak memahami bahwa kalau baca Alkitab itu harus sangat memperhatikan
konteks. Yang penting bagi mereka adalah tambah kaya, makmur, sejahtera…
dsb…dsb.
Untuk tulisan berikutnya, kita akan
membahas tiga perihal mengenai sejarah Izebel diatas dan memaknainya untuk
kondisi saat ini…
Dalam tulisan yang lalu kita sudah
memberi contoh ajaran2 “Izebel” ini, dimana
versi blak2annya mereka suka mengutip ayat yang mengatakan “Maka
menaburlah Ishak ditanah itu… Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian
kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya” (Kejadian 26:12-13). Dan mereka mengajar
Umat Tuhan bahwa kalau ikut Tuhan Yesus maka engkau akan menjadi kaya, kian
kaya dan sangat kaya… Kalau versi lunaknya, mereka suka mengutip Yohanes 10:10,
dan mengajarkan bahwa Yesus datang supaya kita mendapat hidup
berkelimpahan…tentu saja juga secara materi…Dan versi yg lebih lunak lagi,
mereka juga mengutip Maleakhi 3:10, dan mendorong jemaat supaya jangan “mencuri
uang Tuhan”… Mereka gak perduli konteks, atau barangkali juga tidak memahami
bahwa kalau baca Alkitab itu harus sangat memperhatikan konteks. Yang penting
bagi mereka adalah tambah kaya, makmur, sejahtera… dsb…dsb.
Sebelum kita masuk kedalam tiga hal
mengenai sejarah Izebel yaitu soal merampas otoritas, meja Izebel dan sifatnya
yang suka membujuk, dan memaknainya
untuk kondisi saat ini, baiklah kita menguraikan sedikit mengenai ajaran Izebel
ini dari surat Yudas. Surat Yudas mengatakan guru palsu itu adalah mereka yg
ajarannya, “…..menyelewengkan anugerah Elohim kita kearah RANGSANGAN BADANI…
(ayat 4, versi ILT). Artinya, mengajarkan bahwa Bapa itu penuh kasih dan karena
itu Ia akan memberkati kita… namun fokus berkat Bapa itu adalah kekayaan,
Kesehatan, Makmur…. Pendeknya fokus kepada yang jasmani, lahiriah dan bersifat
‘luaran’. Umat Tuhan yang terus menerus dikhotbahi ajaran2 seperti ini tidak
akan fokus kepada air hidup didalam batin mereka apalagi mengikuti pimpinannya.
Padahal Umat Tuhan sangat perlu diperlengkapi sedemikian sehingga air hidup
didalam batin mereka terus bertumbuh menjadi mata air, sehingga Umat Tuhan
benar2 beribadah sesuai ajaran Tuhan Yesus dalam Yohanes 4. Umat Tuhan perlu
diperlengkapi bagaimana memikul salib, mencari kehendak Bapa dan belajar
meninggalkan hawa nafsu dunia, tidak mencari kemuliaan manusia tapi mencari
kemuliaan Tuhan.
Kita perlu mengenali guru palsu ini
menurut surat Yudas, yaitu mereka yang pernah diselamatkan dari Mesir namun dibinasakan
sekali lagi karena tidak percaya (ayat 5). Guru2 palsu itu BUKAN ORANG YANG
BELUM LAHIR BARU. Bahkan, barangkali, mereka adalah orang2 yang dipenuhi dengan
karunia2, seperti bernubuat, mengusir setan, dan melakukan berbagai-bagai
mujizat. Tetapi sesuai Matius 7:21-23, ada saatnya Tuhan Yesus BERTERUS TERANG
kepada mereka. Dihadapan pengadilan Kristus, semua akan menjadi jelas… siapa
hamba Tuhan, dan siapa yang TERNYATA ADALAH HAMBA MAMON. Kita harus berterus
terang saat ini agar Umat Tuhan TIDAK TERTIPU. Bisa jadi penganut ajaran2
Izebel ini adalah orang2 terhormat didunia kekristenan yang telah jatuh ini.
Barangkali mereka mempunyai jabatan2 puncak dalam kekristenan, berpengetahuan
luas, pandai berkhotbah, dan dihormati jemaatnya, yang barangkali ratusan
bahkan ribuan…
Kembali kita kepada tiga hal mengenai
Izebel. Pertama, Izebel adalah orang yang merampas otoritas suaminya (I
Raja-Raja 21). Izebel menulis surat atas nama Ahab. Apa maknanya saat ini?
Orang2 yang menggeser otoritas Roh Kudus dan memasukkan organisasi (hierarki)
kedalam gereja adalah orang2 yang merampas otoritas Roh Kudus. Para pemimpin
yang mendukung adanya hierarki dan organisasi dalam gereja adalah
“Izebel-Izebel” zaman ini. Barangkali mereka bukan saja mendukung, tapi yang menikmati
jabatan2 tersebut. Tentu saja bukan hanya jabatan… uang dan kemuliaan manusia
juga mereka peroleh…
Kedua, Izebel mempunyai MEJA dimana
nabi2 palsu itu MAKAN dari padanya (I Raja-Raja 18:19). Semua pengkhotbah2
palsu yang fokusnya uang pasti makan dari “meja Izebel”. Meja Izebel ini adalah
meja Istana yang tentu saja makanannya enak… Pengkhotbah2 palsu yang menjadi
kaya dalam dunia kekristenan yang telah jatuh ini…adalah mereka yang MAKAN DARI
MEJA IZEBEL. Kita mengatakan ini bukan karena kita ingin makan dari “meja
Izebel”. Kita hanya makan dan dipelihara Tuhan melalui “meja Elia”. Kadang2
kita dipelihara oleh “burung2 gagak”…. Kadang2 kita dipelihara oleh “seorang
janda di Sarfat”… Kita hidup dan makan karena pemeliharaan Tuhan. Covid-19 ini
TIDAK ADA PENGARUHNYA SAMA SEKALI BAGI KITA YANG MAKAN DARI “MEJA ELIA “. Covid
-19 ini memang berbicara hanya kepada mereka yang makan dari “meja Izebel”….
Semoga mereka bertobat…
Izebel ini juga melenyapkan nabi-nabi
TUHAN (I Raja-Raja 18:4). Kalau kita dikucilkan, dianggap “aneh”,
dibuang….tidak apa2 sdrku… itu bukti kita berada di pihak “Elia”. Jangan takut
terhadap ancaman “Izebel”…. Masih ada “7000” orang2 pilihan Tuhan yang tidak
pernah menyembah Mamon…
Ketiga, Izebel adalah seorang yang
suka membujuk. Izebel memiliki watak yang keras, suka menguasai, dan fanatik
dalam mengikuti berhalanya. Dalam dunia kekristenan yang telah jatuh ini kita
juga melihat bahwa ‘Izebel-Izebel” zaman ini memiliki watak yang
sedemikian.
BERSAMBUNG
Pada tulisan yang lalu kita telah
membahas ajaran Izebel, dimana ajaran ini menyesatkan Umat Tuhan sehingga
berbuat zinah dan makan persembahan2 berhala (Wahyu 2:20). Saat ini kita akan
membahas ajaran Bileam yang juga menyebabkan Umat Tuhan berbuat zinah dan makan
persembahan berhala (Wahyu 2:14).
Kita juga sudah memahami bahwa
berhala zaman ini adalah Mamon (Kekayaan). Jadi, ajaran Izebel adalah ajaran
yang membuat Umat Tuhan terfokus kepada Mamon. Akibat ajaran ini Umat Tuhan
beribadah, baik kebaktian minggu, memberi perpuluhan, buah sulung dan mengikuti
segala program organisasi gereja…semua ini bertujuan kemakmuran, kesejahteraan
dan segala berkat jasmani lainnya. Umat Tuhan tidak terfokus kepada air hidup,
apalagi mengikuti pimpinan air hidup didalam batinnya.
Ajaran Bileam juga hampir sama dengan
ajaran Izebel karena sama2 mengakibatkan Umat Tuhan berbuat zinah dan menyembah
berhala. Perbedaannya terletak pada UPAH. Kita tahu bahwa Bileam ini “melayani
sebagai nabi” tetapi DEMI UPAH. Ajaran Bileam ini suatu ajaran yang mendukung
SISTEM UPAH. Didalam dunia kekristenan orang yang melayani, tentu dalam suatu
organisasi, pasti mendapat UPAH, entah itu berupa gaji bulanan, atau
persembahan kasih atau apapun namanya.
Alkitab tidak mendukung SISTEM UPAH.
Gereja mula2 tidak mengenal sistem Upah. Pelayanan Perjanjian Baru ada dalam
konteks organisme. Semua bergerak sesuai pimpinan air hidup. Otoritas Roh Kudus
benar2 berfungsi. Kadang2 Roh Kudus menggerakkan gereja di Filipi untuk
membantu Paulus. Kadang2 Paulus harus membuat tenda untuk mendukung
pelayanannya. Kita tidak pernah tahu berapa ‘gaji’ Paulus, Petrus dan rasul2
lainnya. Kalaupun gereja mula2 mengumpulkan uang, biasanya itu untuk membantu
orang2 miskin, janda2 dan orang2 yang berkekurangan. Pelayan2 Perjanjian Baru
bukan orang upahan. Mereka bukan gembala upahan yang lari kalau serigala datang
menerkam domba2…. Mereka tidak mengumpulkan PERPULUHAN, BUAH SULUNG atau
persembahan2 dari jemaat untuk kepentingan mereka. Memang Paulus mengajarkan
agar jangan memberangus mulut lembu yang sedang mengirik, ia juga mengatakan
apakah berlebihan jika ia mendapat berkat jasmani jika ia telah menabur berkat
rohani… tetapi ia tidak MEMBANGUN SISTEM UPAH seperti yang terjadi dalam dunia
kekristenan saat ini. Paulus berbicara seperti itu DIDALAM KONTEKS ORGANISME….
dimana semua bergerak atas PIMPINAN ROH KUDUS.
Ajaran Bileam ini telah membuat dunia
kekristenan menjadi dunia perdagangan. Bileam sudah terbiasa menjual
nubuat2nya… Didalam dunia kekristenan, bukan saja ‘nubuat’ yang dijual… hampir
segala sesuatu bisa dijual. Kita akan sampai di Kitab Wahyu 17-18 untuk
membahas ini lebih dalam lagi. Yang penting saat ini kita tahu bahwa ajaran
Bileam inilah penyebab kekristenan menjadi dunia perdagangan dengan sistem
upahnya tentu.
Dalam situasi kekristenan yang telah
menjadi dunia perdagangan dan dalam situasi sekarang dimana Bapa mengizinkan
COVID-19 ini, apa yang dapat kita pelajari? Pelajaran yang harus kita pahami
adalah DIRUMAH SAJA. Sama seperti kalau sering2 keluar rumah bisa tertular Covid-19,
demikian juga kalau sering2 beribadah diluar rumah bisa2 tertular “Virus
perdagangan”. Keluar rumah itu kalau sangat perlu saja… Sekali lagi, ibadah itu
artinya mengikuti pimpinan air hidup didalam batin kita, bukan berarti harus
keluar rumah…
Saya yakin setelah Covid -19 ini
kalau orang bertanya ibadahnya dimana? Dijawab, dirumah saja… orang tidak
heran… karena sudah mengerti…
BERSAMBUNG….
Tulisan kita kali ini adalah penutup
untuk tema ‘Konsep Ibadah Setelah Covid-19’. Kita perlu mengulangi poin2 penting
dari semua yang telah kita bahas, sebelum kita uraikan sedikit mengenai
Perjanjian Baru, agar kita lebih memahami apa maksud Bapa dengan adanya
Covid-19 ini.
Kita sudah membahas bahwa beribadah
adalah mengikuti pimpinan air hidup didalam batin kita, dengan demikian kita
dapat melakukan kehendak Tuhan dan menggenapi panggilan kita, entah dirumah,
dikantor atau dimanapun Tuhan tempatkan kita. Karena banyak orang Kristen sudah
memiliki konsep beribadah harus di Gedung gereja, maka kita sudah menguraikan
mengenai Ibrani 10:25, dimana ibadah dirumah jauh lebih mungkin menggenapi
Ibrani 10:25. Mengapa demikian? Juga sudah diuraikan bahwa Gedung itu sumbernya
peraturan2 yang membuat orang Kristen menjadi fokus kepada hal2 luaran dan
bukan fokus kepada perkara batiniah.
Dan yang paling parah, kebanyakan
Gedung gereja adalah tempat bercokolnya roh Nikolaus, Izebel dan Bileam… kita
sudah uraikan semuanya itu. Jadi, apa maksud Bapa dengan adanya Covid-19 ini?
Maksudnya adalah MEMUTUS… memutus hubungan jemaat dengan “GEDUNG” dan
mengembalikan jemaat kerumah mereka masing2, seperti gereja mula2, sehingga
keluarga2 dapat beribadah dengan mengikuti pimpinan air hidup… Gereja berfungsi
sebagai ORGANISME…
Apa salahnya dengan para pemimpin ?
Tidak ada salahnya, sepanjang para pemimpin MEMPERLENGKAPI jemaat untuk
bertumbuh dalam Tuhan agar jemaat, pada gilirannya, dapat mengikuti pimpinan
air hidup didalam batin mereka, untuk membangun Tubuh Kristus, itu memang yang
diajarkan Alkitab… Tetapi jika para pemimpin MENARIK murid2 kepada diri mereka
sendiri, MENARIK para murid kepada program2 organisasi mereka sendiri, MENARIK
uang murid2 baik berupa perpuluhan, buah sulung dan sebagainya… ITU MASALAH
BESAR… Mengapa? Karena dengan cara itulah gereja dicabik-cabik menjadi ribuan
organisasi, ribuan denominasi… dengan cara itulah otoritas Roh Kudus
ditumbangkan dan diganti dengan otoritas gembala sidang, penatua senior atau
apapun namanya… dengan cara itulah gereja menjadi fokus kepada Perjanjian Lama
dan hal2 luaran… dengan cara itulah gereja menjadi sarang penyamun dimana
terjadi perebutan uang dan jabatan didalam “Gedung”…. Dengan cara itulah gereja
menjadi sama dengan sistem dunia… Para pemimpin yang MERUSAK TUBUH KRISTUS
DENGAN CARA INI PASTI DIKUASAI SPIRIT NIKOLAUS, IZEBEL DAN BILEAM….
Kita akan menguraikan sedikit
mengenai Perjanjian Baru, karena dengan perilaku para pemimpin yang sudah
diuraikan diatas, sebenarnya mereka, sadar atau tanpa sadar, telah membuat
murid2 tersesat dan menyimpang dari Perjanjian Baru yang telah disahkan oleh
darah Yesus dan dimeteraikan dengan Roh Kudus… Mari kita melihat Ibrani 8:8-13.
Setidaknya ada 3 poin disini yang semuanya bersifat batiniah. Pertama, Hukum
tertulis (Taurat) akan dituliskan Roh kedalam batin orang percaya. Kedua,
mengenal Tuhan secara batiniah. Ketiga, pengampunan dosa dalam arti yang
sesungguhnya, bukan simbol yang dilakukan dalam Perjanjian Lama dengan darah
korban binatang. Jadi, Perjanjian Baru bersifat batiniah… yang pertama datang
(PL) memang yang alamiah, kemudian baru yang batiniah (PB)…
Saya pernah mendengar khotbah tentang
PERJANJIAN BERKAT, yang saya yakin banyak diuraikan dalam Gedung2 dengan
barangkali sedikit modifikasi… Ada tujuh poin setidaknya diuraikan disana
dimana poin ke lima adalah soal perpuluhan… Ini memang Perjanjian Berkat
namanya seperti yang dimaksud si pengkhotbah…. Tapi yang jelas BUKAN PERJANJIAN
LAMA, juga BUKAN PERJANJIAN BARU… Ini namanya PERJANJIAN GADO2 barangkali,
PERJANJIAN CAMPUR ADUK… bukan untuk Israel, juga bukan untuk gereja… Bagaimana kalau
jemaat terus menerus mendengar PERJANJIAN GADO2 macam ini… Apa jadinya?
Kembali kita kemasalah utama kita.
Bagaimana caranya para pemimpin membangun jemaat agar jemaat BERIBADAH MENURUT
AJARAN TUHAN YESUS…Beribadah dalam roh dan kebenaran… Bagaimana solusinya ?
Solusinya sudah dikerjakan oleh Bapa sendiri melalui Covid-19 ini… DIRUMAH
SAJA… Kalau ada para pemimpin mengadakan ibadah OnLine atau Live Streaming,
sepanjang itu untuk MEMPERLENGKAPI jemaat agar bisa mengikuti pimpinan air
hidup…itu sangat baik… tapi kalau dengan maksud MENARIK murid2 kepada si
pemimpin itu, apalagi tetap tarik uangnya, dengan cara transfer dan sebagainya,
ini namanya perilaku yang dikuasai NIKOLAUS, IZEBEL, dan BILEAM… tetapi
terserah mereka… saya hanya dapat mengingatkan sebagai pelayanNya… toh kita
semua akan menghadap pengadilan Kristus…Disana tidak ada sesuatu yang tertutup
yang tidak dibukakan… semua akan jelas….siapa hamba Tuhan, siapa hamba Mamon…
Saya akan menutup tulisan ini dengan
suatu ungkapan…DIRUMAH SAJA…. Ya DIRUMAH SAJA….Bicara konsep ibadah….sekali
lagi…DIRUMAH SAJA…. AMIN.
Comments
Post a Comment