TEOLOGI PATMOS
TEOLOGI
I. Pendahuluan
Patmos adalah
pulau kecil dari kepulauan Dodekanese, terletak sekitar 55 km baratdaya dari
tepi pantai Asia kecil, dengan panjang kurang lebih 12 km dan lebar 7 km serta
sangat tandus. Dari kota Efesus, Rasul Yohanes dibuang ke Patmos selama
beberapa waktu pada sekitar tahun 95 M.dan disitulah Rasul Yohanes menulis kitab
Wahyu (Wahyu 1:9). Tetapi karena sudut pandang dari kitab2 Rasul Yohanes
lainnya sama dengan kitab Wahyu, seperti yang akan kita lihat nanti dalam
tulisan ini, maka setidaknya dapat kita simpulkan bahwa Injil Yohanes dan
ketiga suratnya ditulis dari perspektif Patmos.
Pembuangan
(Pengucilan) yang dialami Rasul Yohanes disebabkan oleh karena firman Elohim,
dan bukan karena pemerintahan Romawi yang saat itu berkuasa. Pengucilan ini
terjadi karena gereja2 di Asia Kecil, wilayah dimana Rasul Yohanes menjalankan
pelayanannya, telah jatuh dan dikuasai ajaran Nikolaus, Izebel serta Bileam. Secara
keseluruhan, Gereja2 yang telah jatuh ini tidak dapat menerima firman Elohim yg
diberitakan oleh Rasul Yohanes, dan karenanya mereka mengucilkan dan membuang
Rasul Yohanes ke pulau
Pengucilan yang dialami Rasul Yohanes juga disebabkan adanya ajaran2 sesat
yang terjadi didalam gereja pada waktu itu. Ajaran Gnostic menyatakan bahwa zat (materi) pada dasarnya jahat, dan
karenanya keberadaan ilahi tidak dapat menyatu dengan tubuh jasmani manusia.
Hal ini menyebabkan adanya perbedaan antara manusia jasmani Yesus dengan
Kristus yg bersifat ilahi, yang menurut ajaran ini, datang kepada Yesus pada
saat baptisanNya namun kemudian pergi meninggalkanNya sebelum penyalibanNya.
Ajaran Gnostic juga percaya bahwa
pemahaman mereka terhadap pengetahuan tersembunyi (gnosis) membuat mereka menjadi semacam golongan elite rohani, yang
berada diatas hukum benar dan salah. Hal ini seringkali memimpin kepada
perilaku yang tidak bertanggung jawab serta melanggar etika kristen.
Variasi lain dari ajaran ini disebut Docetism
(dari istilah Yunani dokeo yang
artinya nampaknya atau kelihatannya). Ajaran ini menyatakan
bahwa Kristus hanya nampaknya saja memiliki tubuh manusia, tetapi sebenarnya
tidak. Hasil dari semua pengajaran ini merupakan penolakan terhadap inkarnasi
seperti yang ditegaskan dalam Yohanes 1:14, “Dan Firman itu sudah menjadi daging...”.
Perkembangan
saat ini dari ajaran Gnostic adalah gerakan New Age, yang pada intinya
menyangkal penebusan oleh salib dan darah Yesus. Gerakan New Age menekankan
bahwa dalam diri setiap orang telah ada “Kristus”, yang mana perlu disadari
oleh setiap orang. Jadi, seseorang tinggal merubah kesadarannya sehingga
“Kristus” yang telah ada didalam dirinya dapat termanifestasi. Sekarang kita
tidak terlalu membahas lebih jauh ajaran New Age, tetapi yang perlu kita sadari
adalah ajaran New Age memiliki akar2nya dari ajaran Gnostic yang telah ada di
zaman Rasul Yohanes.
Jadi, pengucilan Rasul Yohanes terjadi karena gereja2 dimana Rasul Yohanes
melayani (Asia kecil) telah jatuh oleh trilogi ajaran
sesat, yaitu, Nikolaus, Bileam, dan Izebel, serta adanya ajaran sesat
Gnostic pada waktu itu. Dalam
konteks seperti inilah Rasul Yohanes menulis injilnya, ketiga suratnya, dan
juga pewahyuan yg diterimanya, yg dituliskannya dalam kitab Wahyu. Jika kita
rindu memahami tulisan2 Rasul Yohanes, maka kita harus melihat semuanya dalam perspektif pengucilan ini. Kita akan
meneliti semua tulisan2nya dengan sudut pandang pengucilan yang dialami Rasul
Yohanes ini. Selanjutnya kita menyebut sudut pandang pengucilan ini dengan
istilah perspektif Patmos. Tanpa
perspektif Patmos, kita tidak dapat memahami dan menafsirkan tulisan2nya dengan
tepat. Dan hasil2 dari penafsiran kita ini, disebut teologi Patmos. Mari kita mulai dengan injilnya.
II. Injil
Yohanes
Jika kita melihat Injil Yohanes dengan perspektif Patmos, maka Injil
Yohanes dapat kita bagi menjadi tiga bagian. Pasal 1 sampai pasal 8 merupakan
bagian dimana Yesus sebagai Mesias melayani bangsa Israel didalam bait Suci.
Istilah ‘didalam Bait Suci’ berarti
bahwa Yesus belum dikucilkan oleh orang2 Yahudi. Tetapi diakhir pasal 8,
disebutkan bahwa Yesus meninggalkan atau keluar dari Bait Suci (ayat 59), yang
berarti Ia telah ditolak dan dikucilkan.
Bagian kedua, dimulai dari pasal 9 sampai pasal 12. Didalam bagian ini,
Yesus melayani bangsa Israel dalam kondisi telah dikucilkan, atau menurut
istilah Yohanes, diluar Bait Suci. Selanjutnya,
dibagian terakhir, pasal 13 sampai pasal 21, Yesus melayani orang2 yang menerimaNya
yaitu murid2Nya, termasuk melalui kematian dan kebangkitanNya.
Walaupun pelayanan Yesus ‘diluar Bait
Suci’ (kondisi dikucilkan) dimulai
pada pasal 9, namun pemberitahuan mengenai pengucilan dan penolakan terhadap
Yesus hampir memenuhi setiap halaman injil Yohanes. Dimulai pada pasal 1:11,
demikian tertulis, “Dia telah datang
kepada milikNya, dan milikNya tidak menerima Dia” (ILT = Indonesian Literal
Translation). Selanjutnya pada pasal 3:11 yang merupakan percakapan Yesus
dengan pemimpin agama Yahudi, demikian tertulis, “... kamu tidak menerima kesaksian kami”. Demikian juga ayat 32 pada pasal yang sama,
“... tidak seorangpun yang menerima
kesaksianNya”. Pasal2 berikut ini menjelaskan penolakan atasNya maupun
alasan2 terhadap penolakanNya, yaitu 5:16, 18, 38; 7:1 dan mencapai puncaknya
pada 8:59 dimana Yesus keluar dari Bait Suci.
Pada percakapan di malam terakhir sebelum Ia disalibkan, Yesus berterus
terang menyatakan bahwa, “Mereka akan
membuat kamu terkucil dari sinagoga...” (16:2). Namun Ia menegaskan juga
bahwa kebencian para pemimpin agama Yahudi terhadapNya adalah tanpa alasan
(15:25).
Pelayanan Yesus diluar Bait Suci
Saat ini kita akan melihat beberapa pasal didalam injil Yohanes yg
menceritakan pelayanan Yesus ketika Ia telah dikucilkan. Kita mulai dari pasal
9 yang menceritakan tentang penyembuhan orang yang buta sejak lahirnya.
Penyembuhan ini terjadi pada hari sabat, dimana menurut pemahaman orang2
Farisi dan ahli Taurat, tidak boleh melakukan kegiatan2 tertentu termasuk
menyembuhkan orang sakit. Berdasarkan pemahaman ini, para pemimpin agama Yahudi
(ahli2 Taurat dan orang2 Farisi), menganggap bahwa Yesus tidak datang dari
Elohim (ayat 16). Bahkan para pemimpin agama Yahudi telah mengambil keputusan
untuk mengucilkan siapapun yang mengakui Yesus sebagai Mesias atau Kristus.
Pemahaman ahli Taurat dan orang2 Farisi tentang hari sabat tidaklah tepat.
Yesus dengan tegas berkata, “... BapaKu
bekerja hingga sekarang, maka Akupun bekerja.” (5:17- ILT). Bekerja pada
hari sabat, termasuk penyembuhan orang sakit, tidaklah salah karena Bapa di
surga bekerja terus hingga saat ini. Yesus meneruskan argumentasiNya dengan
menyatakan bahwa jika orang2 Farisi dan ahli2 Taurat menyunat orang pada hari
sabat dan tidak bersalah, mengapa Ia disalahkan jika memulihkan seluruh tubuh
manusia pada hari sabat? Kemudian Yesus berkata, “Janganlah menghakimi berdasarkan penampilan, tetapi hakimkanlah
pengadilan yang benar.” (7:24).
Yang menarik dalam kisah ini adalah kesaksian orang buta itu yang
mengakibatkan ia diusir keluar oleh orang2 Yahudi. Dalam ayat 35 tertulis, “Yesus mendengar bahwa mereka telah mengusir ia keluar, dan ketika
menemukannya....” Disini seolah-olah Yesus sengaja mendatangi orang buta yg
dikucilkan itu, dan Yesus memberitakan khabar baik keselamatan baginya. Yesus
yang juga telah mengalami pengucilan begitu bersimpati terhadap orang2 yang
juga mengalami pengucilan karena kesaksian mereka. Yesus datang dan bahkan
mencari mereka yang dikucilkan, dan Ia menyatakan DiriNya kepada mereka.
Kita melihat disini bahwa pengucilan yang dialami oleh orang buta itu, dan
juga yang dialami oleh Yesus, disebabkan oleh kekeliruan pemahaman yang dianut
oleh para pemimpin Yahudi, khususnya mengenai hari sabat. Betapa berbahayanya
dampak ajaran yang keliru itu, khususnya dikalangan pemimpin. Para pemimpin
dapat demikian yakin dengan ajarannya, dan dapat dengan yakin mengucilkan
orang2 yang dipandangnya sesat. Perkataan Yesus ini begitu penuh makna, “Aku datang ke dunia ini untuk penghakiman,
agar mereka yang tidak melihat dapat melihat, dan mereka yang melihat, menjadi
buta’. (9:39). Jika para pemimpin dengan sombongnya merasa diri melihat,
maka firman Yesus akan membuat mereka menjadi buta. Tetapi sebaliknya, jika
para pemimpin menyadari dengan rendah hati bahwa mereka buta dan belum memahami
firman sebagaimana seharusnya, maka sikap ini justru akan membuat mereka
melihat terang firmanNya.
Selanjutnya, kita akan melihat perumpamaan tentang gembala yang baik
(10:1-21). Banyak orang menafsirkan perikop ini seolah-olah Yesus sedang
mengajarkan bagaimana menjadi gembala yang baik. Memang seseorang dapat menjadi
gembala yang baik dengan mempelajari perikop ini. Tetapi jika kita melihat
konteks dari perikop ini, maka dapat kita lihat bahwa Yesus sedang
membandingkan DiriNya dengan para pemimpin agama Yahudi pada waktu itu.
Melalui perumpamaan ini, Yesus sedang membandingkan antara seorang gembala
dengan seorang perampok atau pencuri. Seorang gembala adalah dia yang masuk
kedalam kandang domba melalui pintu, sedangkan seorang perampok dengan memanjat
tembok. Dan Yesus menegaskan bahwa Ia adalah pintu itu. Karena para pemimpin
Yahudi itu tidak menerima Yesus, yang sebenarnya adalah pintu menuju kandang
domba, maka sesungguhnya para pemimpin
agama Yahudi itu adalah para perampok dan pencuri. Inilah yang mau Yesus
katakan kepada mereka, para pemimpin Yahudi tersebut. Namun mereka tidak
mengerti apa arti yang Yesus katakan kepada mereka (ayat 6).
Sebenarnya perkataan Yesus ini dapat dikenakan kepada siapa saja. Ayat 8
menegaskan, “Semua orang, siapa saja yang
datang sebelum Aku, mereka adalah para pencuri dan perampok...”. Para
pemimpin dalam dunia kekristenan saat ini yang tidak sungguh2 menerima
perkataan Yesus, dalam arti yang sebenarnya, dan bahkan yang mengucilkan
hamba2Nya, mereka adalah para perampok dan pencuri. Perikop ini ditutup dengan
penegasan Yesus bahwa Ia adalah gembala yang baik. Gembala yang baik
menyerahkan nyawa dan hidupNya bagi domba2Nya.
Cerita selanjutnya adalah mengenai Lazarus yang dibangkitkan Yesus setelah
4 hari berada didalam kubur (pasal 11). Apakah maksud Yesus melakukan mujizat
ini? Jika kita melihat ayat 15 dan juga ayat 42, maka kita tahu bahwa tujuan
Yesus melakukan mujizat ini adalah agar orang2 yang mengikutiNya dapat percaya
bahwa Yesus datang karena Bapalah yang mengutusNya. Demikian juga Rasul Yohanes
menempatkan kisah ini pada pasal 11 dimana Yesus telah dikucilkan oleh para
pemimpin Yahudi, agar pembaca injil Yohanes dapat percaya bahwa Yesus telah
datang sebagai utusan Bapa di surga, walaupun para pemimpin Yahudi telah
menolakNya.
Konsep Logos didalam Injil Yohanes
Rasul Yohanes memperkenalkan Yesus dengan suatu istilah yang sudah cukup
dikenal didunia filsafat dan agama pada zaman itu. Istilah itu adalah Logos. Pada masa itu, Logos dikenal sebagai prinsip abadi yang
menjaga alam semesta ini tetap teratur, dan Logos
juga dipahami sebagai hikmat atau kuasa.
Tetapi Rasul Yohanes menegaskan bahwa
Logos itu adalah Elohim. Didalam Yohanes 1:1 ditegaskan, “Pada awalnya ada Firman (Logos), dan Firman (Logos) itu ada bersama Elohim, dan Firman (Logos) itu adalah Elohim”. Lebih jauh lagi Yohanes mengatakan bahwa Logos itu telah menjadi manusia (ayat
14), yaitu manusia Yesus Kristus.
Kemudian Yesus Kristus, yaitu Logos yang menjadi
manusia, memperkenalkan
DiriNya kepada orang2 Yahudi sebagai berikut. Aku adalah roti hidup (6:35), Aku
adalah terang dunia (8:12), Akulah pintu (10:7), Akulah gembala yang baik
(10:11), Akulah kebangkitan dan hidup (11:25), Akulah jalan dan kebenaran dan
hidup (14:6), dan yang terakhir, Aku adalah pokok anggur (15:5).
Mari kita melihat satu persatu kesaksian Yesus mengenai DiriNya sendiri. Pertama, Ia mengatakan bahwa Ia adalah roti hidup. Konteks ketika
Yesus mengatakan hal ini adalah pada saat Ia melakukan mujizat dengan memberi
makan 5000 orang. Ketika orang banyak melihat tanda (mujizat) yang Yesus buat,
mereka hendak menjadikanNya raja (6:14-15). Namun Yesus segera menyingkir dari
kerumunan orang banyak tersebut. Mengapa demikian?
Mijizat yang Yesus lakukan itu sebenarnya adalah suatu tanda. Suatu tanda
adalah simbol dimana dibaliknya ada suatu makna tertentu. Yesus melakukan
mujizat dengan roti sedemikian sehingga dengan roti yang sedikit Ia dapat
memberi makan 5000 orang, dengan maksud menyatakan kepada orang banyak bahwa Ia adalah roti sejati itu. Roti yang
orang banyak itu makan adalah roti yang sementara saja, dan orang akan menjadi
lapar kembali. Tetapi roti sejati itu merupakan makanan yang akan membuat orang
mengalami hidup selama-lamanya.
Namun orang banyak begitu terfokus kepada makanan yang sementara saja, dan
mereka tidak dapat melihat kebutuhan sejati mereka, dan juga tidak dapat
melihat bahwa Yesus sebagai roti hidup adalah kebutuhan mereka. Ini adalah
kelemahan umum yang bahkan terjadi sampai kepada zaman kita sekarang. Umat
Tuhan begitu terfokus kepada hal2 jasmani yang sementara saja sifatnya. Mereka
berharap Tuhan berbuat sesuatu yang jasmani untuk menolong mereka sedemikian
sampai mereka mengabaikan hal2 yang bersifat kekal.
Sekali lagi, Yesus menegaskan bahwa Ia adalah roti hidup. Barangsiapa yang
percaya kepadaNya, dan “makan” roti hidup ini, ia akan hidup karena Yesus, dan akan
dibangkitkanNya pada akhir zaman (6:39), dalam arti memperoleh tubuh kemuliaan
serta akan memerintah bersamaNya sampai Bapa menjadi semua didalam semua ( I
Korintus 15).
Kedua, Yesus berkata bahwa Ia adalah terang dunia (8:12). Jika seseorang memiliki terang
didalam dirinya, maka ia tidak akan berjalan dalam kegelapan. Terang itu akan
membuat seseorang melihat dan mengetahui kemana ia harus pergi. Kristus yang
ada didalam hati kita adalah terang itu. Kristus yang didalam hati kita itu
membuat kita melihat dan memahami pimpinan Tuhan dalam hidup ini. Kita akan
mengerti kehendak Tuhan, dan akan mengenal suaraNya.
Memahami pimpinan Tuhan dalam hidup ini merupakan berkat yang luar biasa.
Jika seseorang menempuh kehidupannya sesuai dengan maksud dan pimpinan Tuhan,
maka damai sejahteranya tidak akan berkesudahan. Ketika Tuhan memulihkan
kehidupan UmatNya, maka salah satu berkat pemulihan itu adalah, “Dan telingamu akan mendengar perkataan dari
belakangmu, dengan mengatakan, ‘Inilah jalan, berjalanlah didalamnya, ketika
kamu kekanan dan ketika kamu kekiri” (Yesaya 30:21). Jika Kristus adalah
terang hidup kita, maka kita akan memahami kehendakNya.
Ketiga, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah pintu (10:7).
Kita sudah menguraikan diatas bagaimana Yesus yang adalah pintu itu dapat
memilah-milah / membedakan mana gembala domba dan mana pencuri atau perampok. Gembala
domba adalah seorang yang masuk ke kandang domba melalui pintu, dan karena para
pemimpin Yahudi tidak mengakui Yesus sebagai Mesias dan Putra Elohim, maka
dengan sendirinya mereka adalah perampok dan pencuri domba.
Keempat, untuk memperjelas permasalahannya, Yesus
menegaskan bahwa Ia adalah gembala yg baik, yang menyerahkan nyawaNya bagi
domba2Nya. Para pemimpin Yahudi itu adalah orang2 upahan, yang tentunya akan
lari meninggalkan domba2 jika serigala datang menyerang.
Kehadiran Yesus ditengah umatNya memang menyingkapkan hal2 yang selama ini
tersembunyi. Pada masa itu, tidak banyak orang yang menyadari bahwa para
pemimpin Yahudi itu sebenarnya adalah perampok dan pencuri domba. Orang banyak
pada umumnya menganggap pemimpin agama mereka tentu baik2 saja. Ketika Logos itu menjadi manusia dan diam
ditengah-tengah umatNya, barulah segalanya tersingkap. Jika kita ingin memahami
kondisi gerejaNya pada saat ini, kita membutuhkan kehadiran Yesus melalui
RohNya agar kita memahami kondisi yang sebenarnya. Sesungguhnya, gerejaNya
telah jatuh, dan kondisinya mungkin tidak jauh berbeda dengan kondisi keagamaan
orang Yahudi pada masa Yesus. Semoga kita dapat melihat kondisi yang
sebenarnya.
Kelima, Akulah kebangkitan dan hidup (11:25). Yesus
berkata bahwa Ia adalah kebangkitan dan hidup, ketika Ia membangkitkan Lazarus
dari kematian setelah 4 hari dalam kubur. Apakah makna kejadian ini bagi kita
saat ini ? Jika kita mau mengalami Kristus sebagai kebangkitan dan hidup bagi
kita, maka kita perlu mengalami proses kematian oleh pekerjaan Roh Kudus dalam
hidup kita. Tidak mungkin kita hidup di alam kebangkitan Kristus jika kita
tidak mengalami kematian terlebih dahulu.
Proses kematian ini adalah pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita melalui
kuasa salib Yesus. Roh Kudus bekerja sedemikian sehingga kita mengalami proses
kematian kedagingan kita. Hidup manusiawi kita perlu mengalami kematian dan
diganti oleh hidup Kristus. Ketika hal ini terjadi dalam hidup kita, maka kita
masuk kedalam alam kehidupan yang sama sekali baru, yaitu alam kebangkitan
Kristus. Demikianlah kita mengalami Kristus yang adalah kebangkitan dan hidup
bagi kita.
Keenam, Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Bagi
kita yang percaya, jalan bukanlah suatu cara atau metode mencapai sesuatu.
Jalan bagi kita adalah suatu Pribadi, yaitu Kristus. Jika kita memiliki Kristus, maka
kita memiliki jalan. Kita datang kepada Bapa melalui jalan yang adalah Kristus.
Setiap orang percaya yang sejati, tentu pernah mengalami suatu pengalaman
datang kepada Bapa melalui Kristus. Demikianlah kita memahami jalan bukan
sebagai suatu cara atau metode, tetapi sebagai suatu pribadi yaitu Kristus itu
sendiri.
Demikian juga kebenaran, bagi kita yang percaya, bukanlah suatu teori atau
doktrin, tetapi suatu pribadi. Kebenaran bagi kita adalah Kristus. Mengetahui
kebenaran bukanlah mengetahui doktrin atau teologi, melainkan mengetahui dan
mengalami Kristus yang hidup didalam hati kita.
Bagi kita, hidup adalah Kristus. Kita tidak menjalani kehidupan kristen
kita dengan terpaksa dan terseret-seret. Berdoa, membaca Alkitab, memuji Tuhan,
melayaniNya, bukanlah sesuatu yang kita paksakan, melainkan sesuatu yang
mengalir dan berjalan secara alamiah, karena hidup bagi kita adalah Kristus.
Ketujuh, Akulah pokok anggur. Yesus berkata bahwa
Ia adalah pokok anggur dan kitalah ranting2nya. Dibagian ini Yesus berbicara
mengenai relationship, “...Tinggallah
didalam Aku, dan Aku didalam kamu...” (15:4). Disini Yesus mengungkapkan suatu
fakta bagi kita yang percaya, yaitu bahwa kita sudah ‘melekat’ dengan Dia,
bahwa kita sudah ‘tersambung‘ dengan Dia, sama seperti pokok dengan ranting.
Hanya, kita perlu tetap menjaga hubungan kita dengan Dia agar kita dapat
berbuah. Jika kita mempercayai fakta bahwa kita sudah ada didalam Dia dan Dia
ada didalam kita, serta menjaga dan memelihara iman kita ini, maka kita akan
berbuah pada waktunya.
Demikianlah uraian Rasul Yohanes mengenai konsep Logos dalam injilnya. Logos yang
menjadi manusia didalam Yesus Kristus telah menjadi segalanya bagi kita. Dia
adalah hidup kita, Dialah roti hidup bagi kita, Dialah kebenaran kita. Dialah
kebangkitan bagi kita, Dialah terang kita, Dia adalah jalan kita, dan Dia
adalah pokok anggur itu dimana kita ranting2Nya. Dia, Logos yang menjadi manusia, telah menjadi segalanya bagi kita.
Bapa di sorga tidak memberikan kita perkara2 atau ini dan itu, tetapi Ia
memberikan AnakNya, yang adalah Logos
yang menjadi manusia. Jika kita memerlukan kesabaran, Bapa tidak memberikan
kesabaran sebagai sesuatu karunia bagi kita, tetapi Bapa memberikan AnakNya
sebagai kesabaran kita. Jika kita membutuhkan kasih, Bapa juga memberikan
AnakNya sebagai kasih kita. Apapun yang kita butuhkan, apakah itu kesabaran,
kesetiaan, penguasaan diri, damai sejahtera, Dia selalu memberikan AnakNya
menjadi kesabaran, penguasaan diri serta damai sejahtera kita. Bapa selalu
memberikan pada kita suatu pribadi, dan pribadi itu adalah AnakNya sendiri.
Pelayanan Yesus didalam Bait Suci
Telah kita ketahui bahwa makna pelayanan Yesus didalam Bait Suci adalah
pelayananNya sebelum Ia meninggalkan para pemimpin agama Yahudi, bukan karena
Ia menolak para pemimpin Yahudi tersebut namun karena para pemimpin itulah yang
menolak kesaksian Yesus tentang DiriNya. Para pemimpin Yahudi tersebut tidak
dapat menerima kesaksian Yesus tentang DiriNya bahwa Ia adalah Putra Elohim,
dimana Yesus memanggil Elohim sebagai BapaNya. Mereka menganggap kesaksian
Yesus tentang DiriNya ini membuat Yesus menyamakan DiriNya dengan Elohim,
sementara para pemimpin Yahudi ini yakin bahwa Yesus hanyalah manusia biasa
saja.
Didalam pasal 1 injilnya, rasul Yohanes menghadirkan Logos yang menjadi manusia itu dengan beberapa istilah yaitu Putra
tunggal, Mesias atau Kristus, Anak Domba Elohim, dan juga raja Israel. Para
pemimpin Yahudi dengan tegas menolak Yesus sebagai Mesias dan juga sebagai raja
Israel. Para pemimpin Yahudi memiliki konsepnya sendiri mengenai Mesias. Mereka
yakin bahwa Mesias adalah anak Daud, jadi tentu Mesias adalah seorang yang
seperti Daud yang dapat memimpin UmatNya untuk berperang dan membebaskan
bangsanya dari tangan para musuh. Mereka berharap Mesias dan raja Israel adalah
seorang pemimpin jasmani yang membebaskan bangsanya dari musuh2 jasmani juga. Namun
ketika Yesus datang sebagai Juruselamat yang menghapus dosa manusia, maka para
pemimpin Yahudi menolak Yesus dan tidak mempercayaiNya.
Yang menarik disini adalah istilah Anak Domba Elohim, dimana dikatakan
dalam Yoh. 1:29, “... Anak Domba Elohim
yang menghapus dosa dunia “. Alkitab bersaksi bahwa Yesus, sebagai Anak
Domba Elohim, menghapus dosa dunia, bukan hanya menghapus dosa mereka yang
percaya kepadaNya. Tentu saja, yang merasakan pengalaman pengampunan dosa
hanyalah mereka yang percaya kepadaNya. Mereka yang tidak percaya dan yang
menolak Yesus, tidak merasakan pengalaman pengampunan dosa. Tetapi sesungguhnya
Yesus menghapus dosa seluruh dunia. Apakah makna dari semua ini?
Jika kita melihat bagian2 lain dari Alkitab, maka jelas bahwa pada akhirnya
semua bekas2 atau akibat2 dosa ditiadakan. Upah dosa adalah maut, bukan neraka
kekal, dan pada akhirnya maut ditaklukkan. Tidak ada lagi akibat2 atau bekas2
dosa, karena musuh terakhir yaitu maut ditaklukkan (I Korintus 15:26). Semua manusia akan diselamatkan oleh pelayanan buah sulung, yaitu
para pemenang gereja di setiap zaman. Pada akhirnya akan
datang langit dan bumi yang baru dimana tidak ada lagi maut (Wahyu 21:4).
Didalam injilnya Rasul Yohanes menghadirkan pelayanan Yesus pada makna
rohaninya. Sekalipun Yesus melakukan mujizat dalam alam jasmani, namun bagi
Rasul Yohanes semuanya itu hanyalah suatu tanda, dimana dibalik tanda itu ada
makna rohaninya. Konflik antara Yesus dan para pemimpin Yahudi sebagian besar
disebabkan adanya perbedaan fokus diantara mereka. Yesus berfokus kepada
perkara2 didalam roh, sedangkan para pemimpin Yahudi berfokus pada perkara2
jasmani.
Konflik pertama antara Yesus dan para pemimpin Yahudi tercatat dalam pasal
1 ayat 19, dimana tertulis, “...Hancurkanlah
tempat suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali “. Para
pemimpin Yahudi memahami ‘tempat suci’
sebagai Bait Suci jasmani yang didirikan selama 46 tahun, sementara Yesus
memaknai tempat suci sebagai tubuhNya
sendiri yang dihancurkan karena dosa2 manusia, namun yang bangkit kembali
setelah 3 hari. Ketika Yesus berkata kepada Nikodemus bahwa ia harus dilahirkan
kembali (atau lahir dari atas), maka Nikodemus memahaminya sebagai kelahiran
jasmani, dimana seseorang kembali harus masuk kedalam rahim ibunya dan
dilahirkan lagi (3:3-4). Demikian juga ketika Yesus berbicara kepada perempuan
Samaria tentang air hidup, perempuan Samaria ini memahaminya sama seperti para
pemimpin Yahudi, yaitu secara jasmani (4:15).
Berkali-kali Yesus melakukan suatu mujizat atau tanda, dengan maksud agar
orang Yahudi memahami makna rohani dibalik tanda tersebut. Tetapi pada
kenyataannya, orang2 Yahudi tidak memahaminya. Ketika Yesus memberi makan
ribuan orang hanya dengan 5 roti jelai dan 2 ikan, maka Ia bermaksud menyatakan
kepada orang banyak bahwa Dialah roti hidup itu, yang akan memuaskan dahaga
rohani mereka. Yesus menegaskan kepada orang banyak, “Bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa, tetapi untuk makanan
yang bertahan sampai hidup kekal, yang akan Anak Manusia berikan kepada kamu...”
(6:27). Ini bukan berarti bahwa manusia tidak boleh bekerja untuk memperoleh
makanan jasmani, tetapi ini berarti bahwa manusia harus terfokus kepada
perkara2 kekal, yaitu perkara2 rohani.
Kegagalan para pemimpin agama pada umumnya adalah menurunkan perkara2
rohani menjadi perkara2 jasmani. Sekali lagi, ini tidak berarti seseorang tidak
boleh memperjuangkan perkara2 jasmani. Ketika Paulus berkata, “Pikirkanlah hal-hal yang diatas, bukan
hal-hal yang di bumi “ (Kol. 3:2), maka yang dimaksudkannya bukan berarti
manusia tidak boleh memikirkan hal2 jasmani, tetapi agar supaya manusia
terfokus kepada perkara2 rohani, dalam arti menomor-satukan hal2 rohani dalam
kehidupannya.
Kata pertama yang keluar dari Sang Juruselamat adalah, “... Kamu mencari apa ?” (1:38). Pertanyaan
ini sangat penting, karena akan membongkar fokus seseorang dalam kehidupannya.
Jika seseorang mencari perkara2 jasmani, dan tidak mengalami pertobatan dalam
hal ini, maka dapat dipastikan bahwa apapun firman yang diberitakannya kelak,
akan berakhir kepada keuntungan2 jasmani saja. Sudah terlalu banyak “pemberita
firman” yang terfokus kepada keuntungan2 materi dan jasmani. Teologi sukses
yang sangat populer dikalangan jemaat, telah membantu para “pemberita firman”
ini mendapat tempat dihati jemaat. Tetapi yang perlu diingat adalah dunia
materi dan jasmani yang kita kenal saat ini akan berlalu, namun mereka yang
memberitakan firman sesuai kehendakNya akan tetap bertahan sampai
selama-lamanya.
Jika seseorang terfokus kepada perkara2 jasmani didalam hatinya, maka
ketika ia memasuki ladang pelayanan, sadar atau tidak sadar, ia akan melakukan
perdagangan didalam pelayanannya. Definisi perdagangan menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi 4 adalah pekerjaan yang
berhubungan dengan menjual dan membeli barang untuk memperoleh keuntungan.
Jika seseorang “menjual” karunia2 rohaninya, kedewasaan rohaninya,
pengalamannya bersama Tuhan dan anugerah2 Tuhan lainnya, yang telah Tuhan
berikan padanya, demi keuntungan materi, maka ia telah melakukan perdagangan.
Ini bukan berarti seorang pekerja tidak boleh mendapat upahnya, seperti yang
tertulis didalam Alkitab. Pekerja Tuhan berhak memperoleh upah berupa berkat2
materi dan jasmani. Jika seseorang melayani Tuhan,
maka Tuhan bertanggung jawab memenuhi
seluruh kebutuhannya, termasuk kebutuhan materinya. Namun jika seseorang
melayani Tuhan dan terfokus kepada
berkat2 materi, bahkan menjalankan semua karunia2nya dengan tujuan memperoleh hal2 materi, inilah yang dimaksud
melakukan perdagangan.
Seseorang yang melayani Tuhan haruslah terfokus kepada pertumbuhan rohani,
baik pertumbuhan rohaninya maupun pertumbuhan rohani orang2 yang dilayaninya. Ketika
fokus seseorang melenceng kepada hal2 materi, maka ia melakukan perdagangan,
yang kita istilahkan melakukan perdagangan
di Bait Suci. Inilah yang dilakukan ahli2 Taurat dan orang2 Farisi didalam
Yohanes 2:13-22. Yesus dengan tegas menegor para pemimpin agama Yahudi ini.
Demikian juga saat ini, jika seseorang melayani didalam gereja dengan
maksud mencari uang dan memenuhi kebutuhan materinya, maka ia melakukan
perdagangan didalam gereja. Sebagaimana Yesus dengan keras menegor para
pemimpin agama Yahudi karena perdagangan di Bait Suci, demikian juga Ia akan
menegor dengan keras “hamba2Nya” yang melakukan perdagangan di dalam gereja.
Bagaimana caranya agar anak2 Tuhan tidak melakukan perdagangan didalam
gereja? Semua ini tergantung pengajaran yang disampaikan kepada mereka. Jika
“pelayan” Tuhan memotivasi jemaat untuk ikut Tuhan agar diberkati secara materi
dan jasmani, maka jemaat telah diajar untuk melakukan perdagangan didalam
gereja. Namun jika pelayan Tuhan mengajarkan jemaat agar terfokus kepada
pertumbuhan rohaninya, dan tidak terfokus kepada berkat2 jasmani dan materi,
maka jemaat atau anak2 Tuhan tidak akan melakukan perdagangan didalam gereja.
Jika pemberitaan firman terfokus pada pertumbuhan rohani, maka tentu salib
Tuhan akan menjadi fokus pemberitaan firman, karena tidak mungkin ada
pertumbuhan rohani tanpa pengenalan akan salib Kristus. Dengan demikian salib
Kristus diberitakan dan Tuhan dimuliakan.
Sebagaimana telah ditegaskan sebelumnya bahwa firman Yesus terfokus kepada
perkara2 kekal, namun bahwa para pemimpin Yahudi selalu terfokus kepada
perkara2 jasmani, demikian juga yang terjadi pada percakapan antara Yesus dan
para pemimpin Yahudi setelah peristiwa Yesus memberi makan 5000 orang yang
tercatat dalam pasal 6. Didalam pasal ini Yesus berkata, “Siapa yang makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup kekal,
dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (ayat 54). Seperti
biasanya, orang2 Yahudi meresponi perkataan Yesus ini dengan pemahaman jasmani.
Mereka berpikir bagaimana mungkin Yesus memberikan daging dan darahNya untuk
menjadi makanan bagi banyak orang. Bahkan banyak dari antara para muridNya yang
tidak dapat menerima perkataan Yesus ini, dan mereka bersungut-sungut (ayat
61). Bukan saja bersungut-sungut, tetapi mereka tidak lagi mengikuti Yesus
(ayat 66).
Permasalahan yang terjadi dengan orang banyak ini adalah mereka manusia
jasmani yang terfokus pada perkara2 jasmani saja. Permasalahan ini tidak saja
terjadi pada orang banyak, tetapi juga pada para pemimpin agama Yahudi pada
waktu itu, dan bahkan sebagian dari murid2Nya. Demikian juga sekarang ini,
banyak diantara orang kristen hanya terfokus pada perkara2 jasmani saja, bahkan
para pemimpin kristen dan para pengkhotbah. Sementara itu maksud Yesus bersifat
spiritual. Makan dagingNya dan minum darahNya adalah mempercayai dan mencerna
firmanNya sedemikian sehingga kita bertumbuh didalam pertumbuhan hidupNya
didalam kita (ayat 63).
Konflik selanjutnya antara Yesus dan orang2 Yahudi adalah mengenai dari
mana Mesias berasal. Orang2 Yahudi memahami bahwa Mesias berasal dari keturunan
Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal (7:42). Bahkan ada
yang memahami bahwa tidak ada seorangpun yang tahu dari mana Mesias berasal
(7:27). Ketika mereka tahu bahwa Yesus berasal dari Galilea, dan menurut
pemahaman mereka akan kitab suci bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea,
maka para pemimpin Yahudi ini menolak Yesus sebagai Mesias (7:52).
Secara jasmani, Yesus memang berasal dari keturunan Daud dan tinggal di
Galilea. Tetapi yang ingin ditegaskan Yesus adalah bahwa Ia berasal dari Bapa
yang di sorga, dan bahwa Bapalah yang mengutusNya kedalam dunia (7:28-29).
Tetapi masalahnya adalah orang2 Yahudi tidak mengenal Bapa di sorga, sekalipun
mereka itu sangat religius dan rajin memelihara hukum Taurat.
Memang, konflik antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi nampaknya tak
terelakkan. Sebab, Yesus berasal dari “atas”, sementara itu para pemimpin agama
Yahudi berasal dari “bawah’. Yesus berasal dari sorga, sementara para pemimpin
agama Yahudi berasal dari bumi. Karenanya, Yesus menegaskan bahwa tidak ada
seorangpun dapat datang kepada diriNya jika Bapa di sorga tidak mengaruniakan
anugerah kepada orang tersebut (6:65).
Konflik terakhir Yesus dengan para pemimpin Yahudi sebelum Yesus
meninggalkan Bait Suci tercatat dalam pasal 8. Didalam pasal 8 ayat 43-44
tertulis, “Mengapa kamu tidak mengerti
perkataanKu ? Sebab, kamu tidak bisa mendengarkan firmanKu ! Kamu berasal dari
bapakmu, si iblis, dan kamu mau melakukan keinginan bapakmu. Ia adalah pembunuh
manusia sejak semula... “. Disini Yesus mengungkapkan permasalahan
sesungguhnya mengapa para pemimpin Yahudi tidak dapat menerima firmanNya.
Mereka berasal dari iblis, dan ini terbukti ketika mereka membunuh Tuhan Yesus
dengan perantaraan Pilatus.
Ketika Yesus mengatakan bahwa mereka berasal dari iblis, dan bahwa iblis
adalah bapak mereka, Yesus tidak sedang melebih-lebihkan fakta atau berbicara
tidak benar. Pada kenyataannya, mereka memang berasal dari iblis, dan iblis
adalah bapak mereka, mengapa demikian ? Penjelasannya seperti ini. Ketika di
taman Eden, Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan, sebenarnya mereka
memakan pohon kematian atau maut, dimana iblis adalah penguasanya. Jika
seseorang belum menerima dan percaya Yesus, maka dia sedang menjalani jenis
hidup yang Alkitab katakan adalah maut. Jenis hidup ini penguasanya adalah iblis dan iblis adalah bapaknya. Karenanya, ketika para pemimpin Yahudi
menolak Yesus dalam hati mereka, mereka sesungguhnya sedang menjalani jenis
hidup maut, dan mereka berasal dari iblis dan iblis adalah bapak mereka. Inilah
kenyataannya.
Demikianlah pada akhirnya, para pemimpin Yahudi membunuh Yesus melalui
perantaraan Pilatus. Pasal 12:37-43 memberikan penjelasan atau evaluasi
terhadap pelayanan Yesus kepada orang2 Yahudi, mengapa orang2 Yahudi tidak
dapat menerima Yesus sekalipun Yesus telah mengadakan begitu banyak tanda
mujizat dihadapan mereka. Pertama,
penolakkan orang2 Yahudi terjadi untuk menggenapi nubuat yang telah diucapkan
oleh nabi Yesaya (ayat 38-40). Kedua,
penolakkan orang2 Yahudi terjadi disebabkan mereka lebih menyukai kemuliaan
manusia dari pada kemuliaan Tuhan (ayat 43). Mereka lebih senang dihargai
manusia dari pada dihargai Tuhan. Itu sebabnya mereka sangat takut terkucil
dari sinagoga.
Pelayanan Yesus kepada murid2Nya.
Selanjutnya, dari pasal 13 sampai pasal 21, Yesus melayani murid2Nya,
termasuk melalui kematian, kebangkitan, dan kenaikkanNya ke sorga untuk duduk
disebelah kanan Bapa. Yesus menegaskan dalam pasal 16:7, “Namun Aku mengatakan kebenaran kepadamu, adalah berguna bagimu
bahwa Aku pergi, karena jika Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang
kepada kamu; tetapi jika Aku telah pergi, Aku akan mengutus Dia kepada kamu
“. Jadi, setelah Yesus pergi melalui kematian dan kebangkitanNya, serta kenaikanNya
kesorga, maka Ia dapat mengutus Roh Kudus bagi murid2Nya. Roh Kudus inilah yang sangat
berguna bagi murid2. Jadi, pasal 13 sampai 21 merupakan pelayanan Yesus
terutama bagi murid2Nya.
Sebelum kepergianNya dari dunia ini, Yesus menyampaikan pesan2 terakhirNya
kepada murid2, dari pasal 13 sampai pasal 16, dan ditutup dengan doa Yesus pada
pasal 17. Didalam pesan2 terakhirNya, kita melihat bagaimana Yesus sangat
mengutamakan fellowship (persekutuan) dengan Bapa dan dengan sesama murid2. Yesus
berkata, “...Aku ada didalam BapaKu, dan
kamu didalam Aku, dan Aku didalam kamu” (14:20). Firman Yesus ini berbicara
mengenai fellowship yang ada antara
Bapa, Yesus dan murid2Nya. Fellowship ini ada karena baik Bapa, Yesus, maupun
murid2 menjalankan jenis hidup yang sama, yaitu jenis hidup Ilahi yang ada
dalam Kristus.
Kepada murid2Nya Yesus berpesan agar mereka saling mengasihi (13:34).
Saling mengasihi seperti yang Yesus maksudkan merupakan wujud nyata atau
manifestasi dari adanya fellowship
diantara murid2. Sementara itu, manifestasi dari adanya fellowship murid2 dengan Yesus adalah percaya dan taat kepada perintah2Nya
(14:1, 21).
Yesus mengumpamakan fellowship
seperti ini melalui perumpamaan pokok anggur. Fellowship yang ada antara pokok anggur dan ranting2 merupakan
perumpamaan dari fellowship yang ada
antara Yesus dan murid2Nya. Persekutuan atau fellowship ini begitu erat dan merupakan suatu kesatuan.
Lebih jauh lagi, Yesus berbicara mengenai menghasilkan buah sebagai akibat
dari suatu fellowship. Bahkan Bapa
akan melakukan “pembersihan” atau “pemotongan” terhadap ranting2 yang telah
menghasilkan buah agar menghasilkan buah yang lebih matang lagi (15:2). Dalam
prakteknya, para murid yang mengalami “pembersihan” Bapa ini akan mengalami
bahwa buah pelayanannya akan “dipotong” oleh Bapa menurut caraNya sendiri. Murid
yang telah menghasilkan buah ini akan mengalami bahwa pelayanannya dihentikan
Bapa menurut caraNya, dan Bapa memberikan suatu pelayanan yang jauh lebih
berkualitas lagi.
Buah2 atau akibat dari adanya fellowship adalah pertama, sukacita (15:11). Sukacita disini bukanlah sukacita yang
berasal dari diri kita atau sukacita karena perkara2 luaran yang terjadi atas
kita, melainkan sukacita Yesus yang diberikanNya pada kita karena kita memiliki
fellowship dengan Dia. Sepanjang
fellowship kita denganNya terpelihara, maka kita mengalami sukacitaNya apapun
keadaan yang sedang kita alami saat itu. Sukacita ini hanya tergantung pada
hubungan kita dengan Yesus, tidak tergantung dengan hal2 lainnya.
Akibat fellowship yang kedua
adalah doa yang dijawab (15:7). Doa kita dijawab jika kita meminta sesuatu yang
sesuai dengan kehendakNya. Jika fellowship
kita denganNya semakin mendalam, dan kehendak kita semakin menyatu dengan
kehendakNya, maka semakin banyak doa kita yang dijawabNya. Pada akhirnya, jika
kita tinggal didalam Dia dan firmanNya tinggal didalam kita, maka apapun yang
kita minta, pasti akan diberikanNya, sesuai dengan yang tertulis dalam ayat
kita diatas.
Akibat fellowship yang selanjutnya
adalah dikucilkan sama seperti yang dialami Yesus (15:20). Kalau kita melihat
konteksnya, maka Yesus bukan dikucilkan oleh orang2 dunia pada umumnya,
melainkan dikucilkan oleh dunia keagamaan pada waktu itu, yaitu dunia keagamaan
Yahudi atau Yudaisme. Bahkan Yesus tidak hanya mengalami pengucilan oleh
Yudaisme, melainkan hukuman mati. Kematian Yesus di kayu salib adalah keputusan
Mahkamah Agama Yahudi, yang dijalankan oleh penguasa Roma pada zaman itu. Namun
yang jelas adalah bahwa Yesus dibenci oleh Yudaisme tanpa alasan, sesuai dengan
yang tertulis dalam Taurat mereka (15:25).
Kekristenan saat
ini juga telah menjadi dunia (sistem). Nilai2 dunia kekristenan sangat berbeda
dengan nilai2 Tuhan. Sebagai contoh, nilai2 sukses didalam dunia kekristenan
adalah bersifat jasmani, kesehatan, kemakmuran, nama baik, dsb… sementara itu
nilai2 sukses didalam Tuhan adalah ketika seseorang menjalankan tugasnya
sebagai hamba Tuhan dengan setia, entahkah ia menjadi kaya, makmur atau
dihormati, itu tidak menjadi persoalan. Dunia kekristenan dipenuhi oleh para
pengkhotbah yang menyalahkan kasih karunia Tuhan dengan cara mengarahkannya
kepada sukses duniawi. Para hamba Tuhan yang setia memberitakan firman yang
murni tentu mengalami pengucilan didalam dunia kekristenan saat ini.
Pesan2 Yesus selanjutnya yang tertulis pada pasal 16 adalah pengutusan Roh
Kudus sebagai penolong bagi para murid. Sebelum mengatakan ini, Yesus dengan
tegas berkata bahwa murid2 akan mengalami pengucilan oleh dunia keagamaan
Yahudi, bahkan sampai kepada pembunuhan (16:2). Yesus menegaskan kepada para
murid bahwa mereka akan mengalami kesukaran didalam dunia ini, namun Yesus juga
mengatakan bahwa Ia telah mengalahkan dunia (16:33). Roh Kudus diberikan
sebagai penolong agar para murid dapat melalui segala kesukaran, khususnya
menghadapi dunia keagamaan Yahudi pada zaman itu, dan keluar sebagai pemenang,
sama seperti Yesus.
Setelah menyampaikan pesan2 terakhirNya kepada para murid, Yesus menaikkan
doa kepada Bapa agar kemuliaanNya dinyatakan. Yesus juga berdoa bagi murid2
agar mereka dapat menjadi satu, bahkan kepada orang2 yang akan menjadi percaya,
supaya mereka semua menjadi satu. Kesatuan ini sesungguhnya merupakan wujud
nyata dari suatu koinonia (fellowship).
Jadi, melalui doaNya, Yesus juga sangat menekankan fellowship.
Sebagai penutup pelayananNya kepada para murid selama dimuka bumi ini,
Yesus mati, bangkit dan naik kesorga serta mengutus Roh Kudus yang telah Ia
janjikan sebelumnya. Didalam pasal 20:22 Yesus berkata kepada murid2Nya, “... Terimalah Roh Kudus”. Demikianlah para
murid, dengan kuasa Roh Kudus, melayani dan menjalankan apa yang Yesus telah pesankan
kepada mereka.
Demikianlah uraian singkat kita tentang injil Yohanes yang dipahami melalui
perspektif
patmos.
III. Surat2
Yohanes.
Surat Yohanes yang pertama.
Teologi Yohanes diwarnai dengan penekanan atas pemberitaan mengenai hidup (Yunani, zoe = jenis hidup Elohim), dan koinonia,
suatu persekutuan yang ada sebagai akibat dari memiliki jenis hidup yang sama. Demikianlah
surat Yohanes yang pertama ini dipenuhi dengan pemahaman mengenai hidup dan koinonia. Walaupun Yohanes juga menjelaskan bahwa Elohim adalah
Terang dan Kasih, namun semuanya ini terkait dengan konsep koinonia.
Mengapa Rasul Yohanes sangat menekankan hidup
dan koinonia dalam semua
tulisannya adalah karena ia menulis dari perspektif
patmos. Pengucilan di pulau Patmos yang dialami Rasul Yohanes oleh gereja2
yang telah jatuh di Asia Kecil sebenarnya merupakan pemutusan koinonia. Rasul Yohanes melihat bahwa gereja2 yang
telah jatuh tidak memiliki lagi koinonia yang
sejati dengan Bapa dan dengan AnakNya Yesus Kristus. Memang gereja2 yang jatuh
memiliki sejenis koinonia diantara anggota2nya, tetapi bukan dengan Bapa dan
AnakNya Yesus Kristus. Hal ini yang ditekankan Rasul Yohanes sehingga ia
berkata, “... persekutuan kami itu dengan
Bapa dan dengan PutraNya, Yesus Kristus” (I Yoh. 1:3).
Surat Yohanes yang pertama ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, dimana
bagian pertama (pasal 1 s/d 2:11) berbicara mengenai koinonia, baik dengan
Elohim maupun dengan sesama saudara. Bagian kedua, dari pasal 2:12 s/d 5:12,
banyak berbicara mengenai ajaran sesat, anti Kristus, nabi palsu dan roh2 yang
tidak berasal dari Elohim, dimana pada intinya anak2 Tuhan diperingatkan agar
tidak ber-koinonia dengan segala
sesuatu yang menyesatkan. Bagian terakhir, dari pasal 5:13 s/d 5:21, berbicara
mengenai doa, khususnya doa syafaat bagi sudara yang tersesat. Surat ini
ditutup dengan peringatan agar berhati2 terhadap berhala2.
Yang perlu diperhatikan disini adalah istilah dunia yang dipakai Yohanes dalam tulisan2nya. Istilah dunia yang dipakai Yohanes berkaitan
dengan sistem keagamaan, yang menurut konteksnya adalah sistem keagamaan
Yahudi. Jika kita melihat istilah dunia
yang dipakai Yohanes dalam Injilnya (15:18-25), maka jelaslah bahwa dunia adalah sistem keagamaan Yahudi.
Sistem keagamaan inilah yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus. Yesus
dikucilkan bahkan dibunuh oleh sistem keagamaan Yahudi ini.
Itu sebabnya, dalam pasal 3:13, Yohanes menulis, “Saudara-saudaraku, janganlah heran jika dunia membenci kamu”. Dunia
membenci kita karena kita mengikuti Yesus yang juga dibenci dunia. Yesus tidak
dibenci dunia dalam arti orang2 berdosa pada umumnya didunia ini, melainkan
Yesus dibenci oleh pemimpin2 agama Yahudi pada waktu itu, oleh ahli2 Taurat dan
orang2 Farisi. Demikian juga juga para pengikut Yesus saat ini dibenci oleh
sistem gereja yang telah jatuh, dan dengan demikian genaplah perkataan Yesus,
“... Seorang hamba tidaklah lebih besar
daripada tuannya, jika mereka telah menganiaya Aku, maka merekapun akan
menganiaya kamu...” (Yoh. 15:20). Jadi, istilah dunia yang dipakai Yohanes adalah sistem keagamaan yang telah jatuh.
Ketika Yohanes menuliskan dalam suratnya yang pertama, “Janganlah mengasihi dunia ataupun hal-hal
yang didalam dunia...”(1:15), maka yang ia maksudkan adalah jangan kita berfellowship dengan orang2 agamawi yang
mengajarkan ajaran2 sesat maupun yang terlibat didalam ‘perdagangan di Bait Suci’ untuk mendapatkan keuntungan materi,
seperti yang telah dilakukan oleh orang2 Farisi dan ahli2 Taurat di zaman
Yesus.
Ajaran2 sesat yang dimaksud Yohanes adalah pengajaran yang menyangkal bahwa
Yesus adalah Kristus, menyangkal bahwa Yesus Kristus datang dalam daging, dan
menyangkal bahwa Yesus adalah Putra Elohim. Pada intinya, pengajaran ini
memisahkan Yesus jasmani dengan Kristus Ilahi, karena pengajaran ini berasal
dari keyakinan bahwa yang rohani tidak dapat menyatu dengan ciptaan jasmani
yang berdosa.
Pengertian yang keliru mengenai ajaran Kristus ini (Kristologi) menjadi
akar dari ajaran New Age Movement
dewasa ini. Ajaran New Age memisahkan
Yesus yang jasmani dengan Kristus yang rohani. Dalam
perkembangan selanjutnya,
mereka mengajarkan bahwa dalam diri setiap orang terdapat Kristus yang rohani,
dan orang2 yang telah menyadari realitas ini mereka sebut telah mengalami pencerahan. Orang2 tidak perlu darah Yesus, tidak
perlu salib Yesus, yang perlu hanya menyadari bahwa Kristus itu ada didalam
diri mereka. Inilah ajaran sesat itu. Ajaran2 pengembangan diri juga memiliki
akar2 keyakinannya bahwa didalam setiap orang terdapat potensi ilahi yang perlu
dikembangkan melalui berbagai teknik mulai dari latihan pernafasan sampai
berbagai teknik yoga. Kita harus menjauh dari pengajaran sesat ini seperti yang
dinasihatkan oleh Rasul Yohanes.
Selanjutnya, Rasul Yohanes sangat menekankan soal sukacita dalam surat2nya.
Bahkan didalam suratnya yang pertama ini, ia menegaskan bahwa tujuannya menulis
adalah agar sukacita kita menjadi penuh ( 1:4). Sukacita yang dimaksud Yohanes
adalah sukacita yang diakibatkan adanya koinonia
yang benar dengan Bapa dan AnakNya Yesus Kristus, dan koinonia yang benar dengan saudara2 seiman. Sukacita seperti ini
bersifat menetap dan tidak tergantung dengan perkara2 diluar kita. Inilah yang
menjadi tujuan hidup berkoinonia itu.
Surat Yohanes yang kedua
Didalam suratnya yang kedua ini, Rasul Yohanes menyebut dirinya sebagai
tua-tua. Tua- tua dalam konteks surat Yohanes yang kedua ini berbeda dengan
para penatua yang sering disebutkan dalam surat2 Paulus. Mengapa demikian? Karena
gereja2 pada zaman Paulus aktif melayani, belumlah jatuh seperti ketika Rasul
Yohanes menulis suratnya, kira2 pada tahun 90-100 M.
Kejatuhan gereja dalam zaman Yohanes melayani jelas terlihat ketika gereja
mengucilkan seorang rasul seperti Yohanes ke pulau Patmos. Rasul Yohanes
dikucilkan bukan oleh orang2 berdosa yang belum menerima Yesus dalam
kehidupannya, karena didalam kitab Wahyu ia menegaskan bahwa pengucilannya itu
disebabkan oleh firman Elohim dan kesaksian Yesus Kristus (Wahyu 1:9). Adanya
pengajaran sesat serta “Diotrefes2” yang ingin menjadi pemimpin umat Tuhan,
menyebabkan rasul Yohanes disingkirkan (III Yohanes 9).
Demikian juga panggilan untuk menjadi pemenang yang ditujukan kepada
ketujuh gereja di Asia Kecil, telah membuktikan kejatuhan gereja ( Wahyu 2,3).
Jika gereja tidak jatuh, tentu tidak perlu ada panggilan kepada orang2 tertentu
dalam gereja agar menjadi pemenang. Jadi, gereja di zaman Rasul Yohanes telah
gagal dan bahkan mengucilkan Yohanes ke pulau Patmos.
Ketika Rasul Yohanes menyebut dirinya sebagai tua-tua, ia menyebut tua-tua dengan perspektif Patmos. Tua-tua disini
adalah pemimpin gereja2 yang telah jatuh. Mereka adalah para pemimpin yang
tidak ambil bagian dalam kejatuhan gereja. Mereka adalah para pemimpin yang
mengalami “pengucilan”, dalam arti terpisah dari gereja2 yang jatuh.
Berbeda dengan para penatua di zaman Paulus, karena pada zaman Paulus para
penatua merupakan bagian dari gereja, bahkan merupakan representatif dari gereja. Memang, kejatuhan gereja itu dimulai
dari para penatuanya. Didalam Kisah para rasul 20:30 ada tertulis, “Bahkan, dari antara kamu sendiri akan muncul
orang-orang yang berbicara hal-hal yang menyesatkan untuk menarik para murid
mengikuti mereka”. Ini adalah perkataan Paulus kepada para penatua gereja
di Efesus. Jadi, kejatuhan gereja dimulai ketika salah satu atau beberapa
penatuanya mengajarkan ajaran2 yang menyimpang dengan maksud menarik murid2
agar mengikuti mereka.
Istilah tua2 dalam bahasa Yunani adalah presbuteros
(elder) dan episkopos (epi=over, skopos=seer, yaitu overseer).
Presbuteros dan Episkopos adalah suatu istilah yang dipakai secara
berganti-ganti, artinya presbuteros dan episkopos adalah orang yang sama. Presbuteros menunjuk kepada pribadi orang tersebut yang sudah tua dan dewasa rohani, sedangkan
episkopos menunjuk kepada fungsi
orang tersebut, yaitu sebagai pelihat. Namun, menurut sejarah, seorang tokoh
gereja bernama Ignatius (abad 2), mengajarkan bahwa episkopos berbeda dengan presbuteros.
Menurutnya, para penatua (presbuteros)
disatu kota harus dipimpin oleh seorang Bishop (episkopos). Dari pengajaran yang keliru inilah masuk hierarki dalam gereja. Para bishop
(uskup) dari beberapa kota dipimpin oleh arch bishop (uskup agung), para arch
bishop dipimpin oleh seorang kardinal, dan para kardinal dipimpin oleh seorang
paus. Demikianlah pada abad ke 5, hierarki
dalam gereja telah dianggap sebagai kebenaran. Dalam sejarah gereja, mulai
dari abad ke 5, gereja masuk kedalam zaman kegelapan yang berlangsung selama kurang lebih
1000 tahun, sebelum Martin Luther memulai pemulihan.
Jadi, istilah tua-tua yang dipakai Yohanes menunjuk kepada para pemimpin
gereja, namun bukan merupakan
representatif gereja yang dipimpinnya karena gereja telah jatuh. Tua-tua
ini adalah sekelompok pemimpin yang juga para pemenang dimana tidak seluruh anggota gereja menerima
kepemimpinan mereka. Dalam surat Yohanes kedua terdapat ibu yang terpilih
dan anak2nya, serta Gayus dan Demetrius dalam surat Yohanes ketiga, yang mana
mereka adalah orang2 yang menerima kepemimpinan tua2. Namun, terdapat juga
Diotrefes yang menolak kepemimpinan tua2, dan juga para pengajar sesat yang
mencoba menyesatkan anggota2 jemaat (2 Yohanes 10-11).
Yang perlu kita perhatikan mengenai para pengajar sesat ini adalah
peringatan Rasul Yohanes agar kita tidak mengambil bagian dalam pekerjaan
mereka yang jahat (ayat 11). Jangan menerima para pengajar sesat ini kedalam
rumah kita bahkan jangan memberi salam kepadanya, sebab dengan melakukan hal2
ini berarti kita berkoinonia dengan
para pengajar sesat tersebut.
Rasul Yohanes sangat mementingkan perihal koinonia ini, karena kita berkoinonia
dengan Bapa dan AnakNya Yesus Kristus, maka kita tidak boleh berkoinonia dengan orang2 yang menentang
Bapa dan AnakNya Yesus Kristus. Sebab, dengan mengajarkan bahwa Yesus Kristus
tidak sungguh2 datang sebagai manusia, maka sebenarnya mereka menentang Bapa
dan AnakNya Yesus Kristus.
Di bagian akhir suratnya ini, Rasul Yohanes berharap dapat, “berbicara dari mulut ke mulut” (ayat
12), yang berarti ia sangat menginginkan adanya koinonia dengan para pembacanya. Tujuan koinonia ini adalah agar sukacita kita dapat dipenuhkan.
Surat Yohanes yang ketiga
Surat ini ditujukan kepada Gayus, seorang yang berjalan dalam kebenaran
(ayat 3). Rasul Yohanes mendoakan Gayus ini agar menjadi makmur dan berada dalam
keadaan sehat. Ayat ini sering dikutip oleh orang2 yang menganut teologi
sukses, dimana diajarkan bahwa tanda2 orang yang diberkati Tuhan adalah
kemakmuran. Kemakmuran yang dimaksud oleh mereka tentu kemakmuran dalam arti
sesuatu yang dapat dilihat dan diukur seperti materi, kesehatan dan yang
lain2nya, walaupun mereka juga membicarakan pertumbuhan iman, tetapi tidak
menekankan pemberitaan tentang salib, yang justru sangat perlu dipahami jika
seseorang ingin bertumbuh dalam Tuhan.
Jika kita memahami spirit dari
tulisan2 Rasul Yohanes, maka kita tahu bahwa Rasul Yohanes tidak bermaksud
seperti yang dipahami oleh para penganut teologi sukses itu. Rasul Yohanes
sangat merindukan dan menekankan agar kita berjalan dalam kebenaran, tidak
mencintai dunia ini, tidak mengikuti ajaran2 sesat, tidak mengucilkan orang
dari gereja, dan tidak melakukan perdagangan didalam “Bait Suci” seperti yang
dituliskannya pada bagian awal injilnya. Dengan spirit kebapaannya, Rasul Yohanes mendoakan anak2nya yang berjalan
dalam kebenaran ini agar mereka menjadi makmur. Penekanannya bukan pada kemakmuran tetapi
kepada perihal berjalan dalam kebenaran.
Selanjutnya, ada hal yang perlu diperhatikan disini. Didalam ayat 9 ada
tertulis, “Aku telah menulis kepada
gereja, sebaliknya Diotrefes yang ingin menjadi terkemuka di antara mereka, dia
tidak menerima kami”. Didalam ayat ini ada seorang bernama Diotrefes yang
tidak menerima Rasul Yohanes, dan bahkan mengucilkan beberapa saudara dari
gereja. Dari ayat ini jelas terlihat bahwa Rasul Yohanes menulis kepada gereja
dari perspektif Patmos. Sekali lagi,
jelas bahwa tua2 dalam konteks Yohanes berbeda dengan tua2 dalam konteks
Paulus.
Tua2 dalam konteks Yohanes memang pemimpin gereja, tetapi bersifat rohani
dan bukan bersifat struktural ( hierarki dalam zaman Rasul Yohanes mulai
menguasai gereja). Dan memang tua2 itu seharusnya adalah pemimpin yang bersifat
rohani, bukan yang struktural. Pada saat ini, dimana hierarki dalam gereja sudah dianggap benar, tetaplah firman Tuhan
menegaskan, “... kamu semua adalah
saudara” (Matius 23:8). Ayat ini tidak bermaksud bahwa gereja tidak boleh
mempunyai pemimpin, tetapi maksudnya adalah bahwa didalam gereja tidak boleh ada hierarki. Kita semua saudara. Pemimpin
yang ada diantara kita adalah pemimpin rohani. Mereka adalah hamba2 Tuhan yang
melayani gereja dengan kerendahan hati, bukan dengan “otoritas
struktural”, apalagi
sampai mengucilkan dan memecat saudara2. Pemimpin gereja sejati saat ini adalah
pemimpin yang berada di “pulau Patmos”,
sebagaimana Rasul Yohanes.
Kembali, dibagian akhir suratnya ini, Rasul Yohanes berharap dapat, “berbicara dari mulut ke mulut” (ayat
14), yang berarti ia sangat menginginkan adanya koinonia dengan para pembacanya, khususnya Gayus.
IV. Kitab
Wahyu
Kitab Wahyu merupakan kitab pemulihan dan bersifat positif serta sangat
membangun. Namun untuk memahaminya, kita perlu menyadari bahwa bahasa yang
dipakai oleh kitab ini adalah bahasa
simbol. Karena, dalam Wahyu 1:1, tertulis, “... Dia memberitahukan kepada hambaNya, Yohanes “, dimana
istilah ‘memberitahukan’ berasal dari
istilah Yunani semaino, dari akar
kata sema, yang artinya simbol.
Oleh sebab itu, penafsiran terhadap kitab ini tidak dapat dilakukan secara harfiah.
Kita perlu mengetahui makna dibalik simbol2 yang digunakan dalam kitab ini.
Jika kita telah mengetahui makna dibalik simbol2 itu, barulah kemudian kita
dapat menafsirkan maksudnya. Salah satu simbol penting yang digunakan dalam
kitab ini adalah simbol ‘langit dan bumi’. Didalam pasal 21:1 tertulis, “... langit yang baru dan bumi yang baru... langit yang pertama dan bumi yang pertama...”.
Kedua ‘langit dan bumi’ ini adalah
simbol, dimana maknanya dapat ditemukan pada ayat ke 4. Makna dari ‘langit dan bumi yang pertama’ adalah
kondisi ciptaan dimana terdapat maut, air mata, perkabungan, ratap tangis dan
rasa sakit. Sedangkan makna dari simbol ‘langit
dan bumi yang baru’ adalah kondisi ciptaan dimana maut, sebagai akibat atau
upah dosa, ditiadakan. Inilah pemulihan total yang Tuhan akan lakukan, sesuai
janjiNya didalam kitab nabi2.
Oleh karena itu, jika kita melihat didalam kitab Wahyu adanya penghancuran
oleh Tuhan terhadap ‘langit dan bumi yang
pertama’, itu berarti Tuhan bertindak memulihkan ciptaanNya. Bahkan jika
kita membaca adanya penghancuran dan penyiksaan terhadap manusia, tumbuh2an,
hewan2, laut dsb, yang hidup di alam ‘langit
dan bumi yang pertama’, maka kita harus menafsirkannya sebagai tindakan
pemulihan Tuhan atas ciptaanNya. Demikianlah segala sesuatu yang kelihatannya
negatif dalam kitab ini sebenarnya bersifat sangat positif, membangun dan
memulihkan. Jadi, secara garis besar, kitab ini adalah kitab pemulihan segala sesuatu.
Setelah kita memahami kitab Wahyu ini sebagai kitab pemulihan segala
sesuatu, maka langkah berikutnya adalah mengetahui bagaimana Tuhan memulihkan ciptaanNya tsb. Tuhan memulihkan
ciptaanNya dengan kedatangan atau
kehadiranNya didalam dan melalui hamba2Nya. Mengapa demikian?
Ketika Yesus berjanji bahwa Ia akan datang lagi (Yohanes 14:3,18,23,28),
maka Ia tidak datang secara fisik untuk menemui murid2Nya, melainkan Ia datang
didalam Roh KudusNya pada hari Pantekosta. Dan ketika Ia datang dalam wujud
RohNya, maka Ia masuk dan memenuhi murid2Nya sehingga digenapilah apa yang
telah Yesus katakan didalam Yohanes 14:20, “Pada
hari itu kamu akan mengetahui, bahwa Aku ada didalam BapaKu, dan kamu didalam
Aku, dan Aku didalam kamu “. Jika Yesus tidak datang kepada murid2 pada hari
Pantekosta, maka janji Yesus pada malam terakhir untuk datang kepada murid2Nya
yang sebelas orang itu (Yoh. 14) akan terbukti tidak benar dan tidak terpenuhi.
Tetapi Yesus datang kepada murid2Nya untuk menggenapi janjiNya pada malam
terakhir itu. Ia datang dalam RohNya dan memenuhi murid2 pada hari Pantekosta.
Demikianlah kedatanganNya seperti yang Alkitab maksudkan. Begitu juga saat
ini, Ia datang didalam RohNya, berulang-ulang, untuk memenuhi hamba2Nya. Dan
ketika penggenapan hari raya Tabernakel terjadi, Ia akan datang dalam RohNya
secara penuh dan tak terbatas kepada hamba2Nya, dan melalui hamba2Nya yang memiliki Roh yang tak terbatas, Ia memulihkan
segala sesuatunya sehingga Bapa menjadi semua didalam semua.
Jadi, inti kitab Wahyu adalah bahwa Yesus akan datang lagi, dan Ia akan
datang didalam wujud RohNya yang Kudus untuk memenuhi hamba2Nya. Ia akan datang
memenuhi hamba2Nya sedemikian sehingga terjadi koinonia yang sejati, yaitu,” Aku ada didalam BapaKu, dan kamu didalam Aku, dan Aku didalam kamu”.
Tetapi, Ia datang bukan hanya ber-koinonia
dengan para hambaNya saja, namun melalui para hambaNya, Yesus juga
memulihkan segala sesuatu sehingga Bapa menjadi semua didalam semua.
Setelah kita melihat kitab Wahyu secara garis besar, maka kita dapat mulai
masuk kedalam detailnya dengan mengingat bahwa kita belum memahami detailnya secara keseluruhan. Hal ini perlu kita
ingat karena detail kitab Wahyu sangat kompleks dan sepertinya berbelit-belit.
Simbol demi simbol, kejadian demi kejadian, penglihatan demi penglihatan,
dipaparkan sedemikian rinci sehingga kita harus jujur bahwa kita tidak memahami
keseluruhannya.
Namun satu hal perlu kita pegang bahwa penggenapan kitab Wahyu terutama terjadi didalam dan melalui
hamba2Nya. Jika kita mulai menghubungkan penggenapan kitab Wahyu kepada
hal2 diluar diri kita, seperti perkara2 politik, ekonomi, sosial, bahkan gereja
dalam arti organisasinya, maka kita akan menyimpang dari maksud pewahyuan kitab
Wahyu itu sendiri. Namun jika kita melihat penggenapan kitab Wahyu itu terutama
terjadi didalam diri kita, maka kita
berada pada jalur yang tepat. Ini tidak berarti bahwa kitab Wahyu tidak
bernubuat terhadap dunia politik, Israel, atau dunia keagamaan, tetapi kita jangan terlalu serba pasti terhadap
penggenapannya kepada dunia politik, Israel, atau keagamaan, karena tujuan
utama kitab Wahyu adalah untuk membangun iman
didalam diri kita, dan untuk membangun Kristus yang ada didalam diri kita.
Kita harus selalu mengingat bahwa kitab Wahyu
diberikan oleh Yesus Kristus kepada hambaNya, Yohanes, yang sedang ada dalam
pengucilan karena firman Tuhan. Wahyu 1:9 menegaskan, “Aku, Yohanes, yang juga saudaramu dan teman sekutu dalam kesukaran dan
dalam kerajaan serta ketabahan Yesus Kristus, berada di pulau yang disebut
Patmos berkenaan dengan firman Elohim dan berkenaan dengan kesaksian Yesus
Kristus” (1:9). Tidaklah berlebihan jika kita berkata bahwa untuk memahami
kitab Wahyu ini, kita perlu memahami “pengalaman
pulau Patmos”. Kita perlu merasakan apa yang Rasul Yohanes rasakan.
Yohanes menyapa kita sebagai teman sekutunya dalam kesukaran, bukan dalam kesenangan. Pengucilan bukanlah hal
yang menyenangkan bagi setiap orang. Tetapi firman Tuhan meneguhkan bahwa ada
pewahyuan bagi mereka yang mengalami apa yang Rasul Yohanes juga alami.
Seperti telah dijelaskan dalam pendahuluan bahwa
pengucilan yang dialami Rasul Yohanes disebabkan adanya ajaran2 sesat dan
kejatuhan gereja yang terjadi secara umum, maka berikut ini kita akan melihat
beberapa poin kejatuhan gereja yang langsung terkait dengan pengucilan Yohanes
ke pulau Patmos.
Kejatuhan gereja yg pertama adalah masuknya pengajaran
nikolaus (2:15). Nikolaus bukanlah
seorang pemimpin yang mengajukan pengajaran tertentu kedalam gereja. Tidak ada
seorang pemimpin bernama Nikolaus pada zaman Rasul Yohanes. Karena bahasa dalam
kitab Wahyu adalah bahasa simbol, maka Nikolaus disini adalah bahasa simbol
yang memiliki makna dibalik itu. Maknanya adalah sebagai berikut. Niko berarti menaklukkan, sedangkan laus berarti kaum awam. Maka nikolaus berarti menaklukkan kaum awam.
Hal ini berarti ada satu atau sekelompok pemimpin yang menaklukkan kaum awam
dengan ajaran mereka. Ajaran yang paling ampuh untuk menaklukkan kaum awam
adalah membenarkan adanya hierarki didalam
gereja, dan penundukkan
diri yang keliru tentunya.
Jika kita membandingkan kejatuhan gereja yang
tertulis dalam kitab Wahyu, dengan nubuat Paulus kepada para penatua Efesus di
Miletus, maka kita akan jelas melihat bagaimana pengajaran Nikolaus ini telah
dan akan mengucilkan hamba2Nya. Didalam Kis. 20:29-30 tertulis, “Sebab aku mengetahui hal ini, bahwa setelah
kepergianku, serigala-serigala ganas akan masuk kepada kamu dengan tidak
menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul
orang-orang yang berbicara hal-hal yang menyesatkan untuk menarik para murid
mengikuti mereka”. Paulus mengetahui dan bernubuat bahwa setelah
kepergiannya serigala2 ganas akan menyerang para penatua gereja ini sehingga
mereka menarik para murid dengan ajaran sesat mereka.
Tujuan utama para pemimpin ini adalah menarik para
murid agar mengikuti mereka.
Dan untuk memperkuat posisi mereka diatas para murid, tentu saja mereka akan
mengajarkan ajaran2 sesat, diantaranya penundukkan
diri yang palsu, membenarkan hierarki
didalam gereja, dan lain2 yang pada intinya mencengkeram para murid dibawah
kekuasaan mereka. Jika ada hamba2Nya yang menyampaikan firman Tuhan dengan
maksud agar para murid mengikut Tuhan
Yesus, maka mereka merasa terancam kedudukannya dan akan mengucilkan
hamba2Nya agar tidak mengganggu posisi mereka. Mereka sangat takut kehilangan
para murid yang telah menjadi pengikut mereka. Demikianlah pengajaran Nikolaus yang
membenarkan adanya hierarki didalam
gereja telah mengucilkan hamba2Nya. Para pemimpin gereja yang mengucilkan
hamba2Nya ini memiliki semangat “Diotrefes”
seperti tercatat dalam II Yohanes 1:9.
Kejatuhan gereja yg kedua adalah pengajaran Bileam
(2:14). Bileam sendiri adalah seorang nabi yang “menjual” nubuat2nya demi upah
(Yudas 1:11). Hal ini sama dengan melakukan perdagangan di Bait Suci yang
dilakukan oleh ahli2 Taurat dan orang2 Farisi di zaman Yesus. Teologi sukses
pada zaman ini memberi kesempatan yang luas terhadap masuknya perdagangan di
dalam Gereja. Teologi sukses mengajarkan bahwa seseorang yang mengikut Tuhan
akan diberkati baik kesehatannya, harta, dan juga berkat rohani. Kesesatan
teologi ini adalah menyebabkan fokus seseorang tidak lagi kepada Tuhan
melainkan kepada berkat2Nya terutama tentu berkat jasmani dan materi. Itu
sebabnya dalam teologi ini salib Kristus, yang mengajar seseorang untuk
menyangkal diri dan mengikuti kehendak Tuhan, hampir tidak diberitakan. Orang
berbondong-bondong datang mendengarkan ajaran ini karena mereka ingin kaya,
sukses, dan dihormati didunia ini.
Salah satu tekanan dalam pengajaran ini adalah
perihal “berilah maka kamu akan diberi”. Para pengkhotbah teologi sukses mengajarkan
orang2 untuk memberi, mulai dari perpuluhan sampai pemberian2 lainnya dan juga
tentu memberi kepada “hamba2 Tuhan”. Sementara “hamba2 Tuhan” ini mengajar,
orang2 memberi agar mereka diberkati. Demikianlah masuk “jual-beli” didalam
gereja.
Dalam kondisi gereja melakukan “perdagangan”, maka
para hamba Tuhan sejati secara otomatis terkucilkan. Para hamba Tuhan sejati
memberitakan salib Tuhan dan mengajarkan orang2 untuk menyangkal diri dan tidak
melakukan kehendak diri sendiri melainkan kehendak Tuhan. Berita2 seperti ini
tidak laku di pasaran. Pengaruh teologi sukses telah membuat jemaat menyukai
berita2 tertentu yang menyenangkan telinga saja. Demikianlah genap apa yang
dikatakan Paulus dalam II Timotius 4:3, “...
mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan
keinginan telinganya”. Ini tidak berarti seorang hamba Tuhan tidak boleh
menerima pemberian2 dari orang lain atas pelayanannya, namun para hamba Tuhan
sejati tidak melakukan perdagangan didalam gereja. Para hamba Tuhan sejati
tidak “menjual” apapun. Mereka hanya menyampaikan firman Tuhan dengan harapan
orang2 akan mengikut kepada Tuhan Yesus saja.
Didalam Wahyu 2:14 tercatat bahwa Bileam
mengajarkan, “... agar memakan yang
dikurbankan kepada berhala dan melakukan percabulan”. Didalam Perjanjian
Lama, berhala dan percabulan terkait dengan adanya ilah2 lain yang disembah
selain Tuhan. Pada zaman dimana teologi sukses begitu populer dikalangan umat
Tuhan ini, berhala dan percabulan juga terkait dengan adanya ilah2 lain yang
disembah. Hanya ilah2 lain itu sekarang adalah mamon (kekayaan) atau ilah lain
itu adalah diri sendiri dengan segala keinginannya. Jadi, pengajaran “Bileam” saat ini adalah pengajaran yang
mengutamakan berkat2 Tuhan, dan bukan pengenalan akan Tuhan yang hanya dapat
diperoleh melalui jalan salib. Pengajaran ini telah membuat hamba2 Tuhan sejati
terkucilkan.
Kejatuhan gereja yg ketiga adalah masuknya
pengajaran Izebel (2:20). Didalam sejarah Israel, Izebel adalah seorang
perempuan atau istri yang mengambil otoritas suaminya. Pada kasus kebun anggur
Nabot, Izebel mengambil otoritas Ahab sebagai raja atas Israel, walaupun ia
menggunakan otoritas itu demi kepentingan raja Ahab sendiri (I Raja2 21:7-8). Didalam
Wahyu 2:20 dikatakan bahwa, “... Izebel
yang menyebut dirinya sendiri seorang nabiah, mengajar...”. Ungkapan ini
berarti bahwa Izebel menyatakan dirinya ber-otoritas untuk mengajar. Izebel
adalah perempuan yang secara ilegal merampas otoritas demi maksud2nya sendiri.
Apakah maknanya ini bagi gereja sekarang? Sebagaimana
kita ketahui bahwa perempuan adalah simbol bagi gereja, maka Izebel berarti
gereja yang secara ilegal merampas otoritas Tuhan, yang adalah “suaminya”,
serta menggunakan otoritas itu demi maksud2nya sendiri. Didalam kitab Wahyu,
otoritas Izebel digunakan untuk mengajar dan menyesatkan umat Tuhan.
Ketika gereja, khususnya para pemimpinnya, merasa
memiliki otoritas untuk mengajar umat Tuhan, disinilah kejatuhannya. Gereja
tidak memiliki otoritas. Semua otoritas adalah otoritas Tuhan. Memang Tuhan
mendelegasikan otoritasNya kepada pemerintahan, kepada guru, kepada orang tua,
kepada suami, untuk dijalankan dengan benar sesuai maksud2Nya sendiri. Tetapi, dalam kasus gereja yang adalah organisme, maka tidak ada
otoritas terdelegasi. Tuhan tidak mendelegasikan otoritasNya. Otoritas
terdelegasi hanya berlaku bagi gereja yang telah jatuh, yaitu gereja yang telah
dirasuki roh Nikolaus (Hierarki), sehingga menjadi organisasi keagamaan. Ketika gereja
telah merampas otoritas Tuhan maka gereja telah menjadi ”Izebel”.
Didalam sejarah, Izebel melenyapkan nabi-nabi
Tuhan, serta memelihara nabi2 Baal dan nabi2 Asyera (I Raja-Raja 18:4, 19).
Gereja secara umum saat inipun telah jatuh dan menjadi “Izebel” yang mengucilkan
hamba2 Tuhan sejati, serta memelihara hamba2 Tuhan yang palsu. Hamba2 Tuhan palsu ini makan dari meja Izebel.
Jadi, ada trilogi pengajaran palsu yang telah mengucilkan para hamba Tuhan
sejati, yaitu pengajaran Nikolaus, pengajaran Bileam, serta pengajaran Izebel.
Untuk kepentingan uraian teologi Patmos, saat ini kita tidak masuk kedalam
detail kitab Wahyu, melainkan kita akan masuk kepada kesimpulan yang akan
memperjelas permasalahan kita.
V. Kesimpulan
Sejauh ini kita telah menguraikan perihal pengucilan yang dialami hamba2
Tuhan oleh gereja2 yang telah jatuh. Tetapi pertanyaannya sekarang adalah
bagaimana dengan Yesus sendiri? Apakah Ia juga terkucil dari gereja2 yang telah
jatuh?
Didalam Wahyu 3:20 tertulis, “Lihat,
Aku berdiri dimuka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu
dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama
dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”. Yesus berdiri dimuka pintu
gereja, dan mengetok. Ia tidak berada didalam. Ia terkucil dan berada diluar
pintu gereja yang telah jatuh. Ia tidak dapat ber-koinonia dengan mereka yang ada didalam gereja. Makan disini
berarti ber-fellowship atau ber-koinonia. Yesus memberi kesempatan
kepada mereka yang ada didalam sistem gereja yang telah jatuh untuk ber-koinonia denganNya. Jika kita mendengar
suaraNya dan membukakan pintu, maka kita akan ber-koinonia denganNya, dan jika kita ber-koinonia denganNya, kita akan memiliki perspektif Patmos. Kita akan mengerti firman Tuhan melalui tulisan2
Rasul Yohanes, haleluya, Amin.
Irnawan Silitonga
komunitaspatmos@gmail.com
Comments
Post a Comment