Gereja dan Denominasi
Gereja dan Denominasi
Oleh : Irnawan Silitonga
Saya tergerak menulis dengan singkat mengenai tema ini karena
didalam dunia kekristenan perihal Gereja dan Denominasi sudah dianggap sama.
Bahkan hampir tidak pernah para pemimpin Denominasi mempermasalahkan perbedaan
antara Gereja dengan Denominasi. Barangkali, dipandang tidak penting untuk
mempermasalahkannya. Apalagi telah diajarkan dalam hampir seluruh sekolah
Teologi didunia kekristenan, pengajaran dua aspek gereja yaitu, visible dan invisible church. Bahwa Denominasi itu adalah visible church karena terlihat dengan mata jasmani baik gedungnya,
alirannya, organisasinya, kebaktiannya, dan sebagainya. Sedangkan invisible church itu adalah aspek
gereja yang tidak terlihat dengan mata jasmani, yaitu semua orang didunia ini
yang telah lahir baru atau yang telah percaya sungguh2 kepada Yesus Kristus.
Mari kita mulai pembahasan kita dengan melihat dalam Alkitab
betapa pentingnya, atau berharganya gereja dimata Tuhan Yesus. Pertama, Yesus memperoleh gerejaNya
dengan darahNya sendiri (Kis. 20:28). Kalau ada seseorang membeli sesuatu
dengan membayar separuh harta miliknya saja, maka kita sudah membayangkan
betapa berharganya sesuatu yang dibelinya itu. Bagaimana dengan Yesus yang “membeli” gereja dengan darahNya sendiri?
Betapa berharganya gereja dimataNya.
Kedua, Ketika Saulus menganiaya gereja,
Yesus berkata kepadanya, “Saulus-Saulus,
mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4). Disini kita melihat Yesus
tidak membedakan diriNya dengan gereja. Sebab memang gereja adalah tubuhNya
sendiri. Siapa yang menganiaya gereja itu sama dengan menganiaya Yesus. Siapa
yang merusak gereja dengan ajaran palsu, dengan maksud2 licik tentunya,
sebenarnya ia sedang melukai Yesus dengan sangat.
Ketiga, Yesus berkata, Aku akan mendirikan
gerejaKu (Matius 16:18). Salah satu tujuan Yesus datang kedunia ini adalah
membangun gerejaNya. Didalam Matius 23, Yesus berkata, jangan seorangpun
diantara kamu disebut rabi, pemimpin dan bapa, karena Akulah pemimpinmu. Disini
kita melihat betapa Yesus tidak mau “dicampuri”
dalam urusanNya membangun gereja. Ia sendiri yang akan membangun gereja. Ia
sendiri yang akan menjadi pemimpinnya. Ia tidak pernah dan tidak akan pernah
mendelegasikan otoritasNya atas gerejaNya. Semua anggota gereja adalah sesama
saudara. Hal ini menunjukkan betapa penting urusan membangun gereja dimataNya.
Sesungguhnya, hanya Yesus yang sanggup mendirikan gerejaNya sendiri. Ingat
sdrku, membangun gereja adalah urusan Yesus, dan Yesus tidak mau diganggu
dengan orang2 yang menyebut dirinya rabi, pemimpin dan bapa. Mengapa Yesus
tidak mau “diganggu” dalam membangun
gerejaNya? Karena gereja penting dan berharga dimataNya.
Keempat, Alkitab berbicara tentang Yesus dan
gerejaNya, dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu. Dalam kitab Kejadian sudah
tertulis mengenai Yesus dan gerejaNya dalam bentuk simbol. Adam sebagai simbol
Kristus Yesus, dan Hawa sebagai simbol gereja. Dalam kitab Wahyu juga tertulis
mengenai Yesus sebagai Anak Domba dan mempelaiNya yaitu Yerusalem Baru. Ini
menunjukkan kepada kita betapa pentingnya gereja dalam rencana Bapa dan
karenanya, betapa pentingnya juga gereja bagi Yesus.
Jika, oleh kasih karuniaNya, kita dapat melihat betapa
pentingnya gereja, masihkah kita menganggap sepele dan remeh perihal gereja.
Masihkah kita dengan sembarangan menyebut gereja itu sama dengan denominasi,
dan denominasi itu gereja?
Kita sudah melihat betapa berharganya gereja dimata Tuhan
Yesus. Bagaimana gereja yang begitu berharga dimata Tuhan Yesus kini telah
menjadi ribuan denominasi. Apakah ribuan denominasi ini memang rencana Tuhan
Yesus sejak semula ketika Ia berkata, “Aku akan mendirikan gerejaKu?”.
Jika kita melihat definisinya di kamus2, denominasi itu
adalah cabang (branch) dari gereja Kristen. Dari definisi ini seolah-olah tidak
terjadi apa2 dengan gereja, dan bahwa denominasi itu sekedar perkembangan
gereja, dimana wajar saja jika terjadi perbedaan pandangan diantara para
pemimpinnya sehingga timbul berbagai aliran. Namun, jika kita memeriksa Yohanes
10 dan Kisah Para Rasul 20:29-30, maka persoalannya tidaklah sesederhana
seperti itu. Mari kita melihat kedua bagian firman Tuhan ini.
Yohanes 10:10 berkata, “Pencuri
datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya
mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”. Siapakah
‘pencuri’ ini? Para pendeta yang tidak paham konteks akan berkata bahwa pencuri
ini tentu saja iblis dan roh2 jahat. Namun, kalau kita melihat seluruh pasal
ini, bahkan pasal sebelumnya, maka kita dapat dengan jelas melihat bahwa Yesus
sedang berbicara kepada beberapa orang Farisi yang ada disitu (Yohanes 9:40 dan
Yohanes 10:1).
Dalam percakapanNya Yesus berbicara mengenai perumpamaan
gembala yang baik, namun orang2 Farisi tidak memahaminya (Yohanes 10:6). Dalam
perumpamaanNya ini, Yesus mendefinisikan dengan sangat jelas siapa pencuri dan
perampok itu. Pencuri dan perampok adalah mereka yang masuk kedalam kandang
domba dengan tidak melalui pintu. Karena orang2 Farisi tidak mengerti
perumpamaan ini, maka Yesus menjelaskan bahwa Dialah pintu menuju domba2 itu.
Orang2 Farisi dan ahli2 Taurat telah menduduki “kursi Musa” dan mempunyai otoritas atas
umat Israel (Matius 23:2-7). Bahkan Yesus mengajari orang banyak agar menuruti
dan melakukan segala sesuatu yang mereka ajarkan, hanya jangan ikuti perbuatan2
mereka. Karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Tugas mereka
seharusnya adalah menggembalakan umat Tuhan. Tetapi, karena mereka menolak
Yesus yang adalah pintu menuju ke domba2 itu, maka mereka bukanlah gembala,
melainkan pencuri dan perampok. Jadi, sesuai konteks, pencuri dan perampok itu
adalah orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, bukan iblis atau roh2 jahat. Tetapi,
apakah atau siapakah yang dicuri dan dirampok oleh orang2 Farisi dan ahli2
Taurat ini? Tentu saja domba2 itu yang dicuri dan dirampok.
Mari kita membandingkan bagian firman Tuhan ini (Yohanes 10)
dengan Kisah Para Rasul 20:30, agar persoalannya semakin jelas. Kis. 20:30
berkata, “Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang
dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar
dan supaya mengikut mereka”. Disini Paulus berkata kepada para penatua gereja
di Efesus bahwa akan ada beberapa pemimpin yang menarik murid2 dari jalan yang
benar kepada diri mereka sendiri. Dan tentunya para pemimpin ini menarik murid2
dengan ajaran palsu mereka. Murid2 yang tadinya mengikuti pimpinan Roh,
kemudian karena ditarik oleh beberapa pemimpin, maka murid2 ini menjadi
pengikut para pemimpin tersebut. Para pemimpin ini telah mencuri murid2 dengan
ajaran palsu. Mengapa para pemimpin ini mencuri murid2 dengan ajaran palsu mereka?
Kis. 20:29 menjelaskan bahwa ada serigala ganas menyerang para pemimpin
tersebut.
Semoga dengan penjelasan diatas kita semakin mengerti mengapa
gereja pecah menjadi ribuan denominasi seperti sekarang ini.
Kita masih mencoba memperjelas identitas pencuri dan perampok
yang terungkap dalam dua bagian firman Tuhan, yaitu Yohanes 10 dan Kis.
20:28-30. Mari kita melihat lebih jauh beberapa hal mengenai pencuri dan
perampok ini. Pertama, Pencuri dan
perampok ini sebelumnya adalah orang2 yang ditentukan oleh Roh Kudus menjadi
‘penilik untuk menggembalakan’ gereja Tuhan Yesus Kristus. Tetapi kemudian,
karena diserang serigala ganas, mereka menjadi pencuri dan perampok dengan cara
mengajarkan ajaran2 palsu, dan menarik murid2 dari jalan yang benar supaya mengikuti
mereka, dan bukan mengikuti pimpinan Roh Kudus. Jadi, pencuri dan perampok ini
bukanlah orang2 diluar gereja. Mereka bahkan adalah pemimpin gereja yang
berubah menjadi pencuri dan perampok karena diserang serigala ganas.
Kedua, pencuri dan perampok ini lalai
dalam menjaga dirinya sendiri (Kis. 20:28). Karena sebelum seseorang dapat
menjaga kawanan domba, ia sendiri haruslah menjaga dirinya supaya jangan
diserang serigala ganas. Itu sebabnya, Paulus menasihati Timotius untuk menjaga
diri dan menjaga juga ajarannya agar tidak mengajarkan ajaran palsu.
Ketiga, gembala yang baik, sebagai lawan
dari pencuri dan perampok, adalah seorang yang mengenal domba2nya, bahkan mau
menyerahkan nyawanya bagi domba2. Saya pernah membagikan perbedaan bapa dengan
manajer. Keduanya jelas pemimpin. Bapa memimpin keluarganya, sedangkan manajer
memimpin suatu komunitas, entahkah komunitas dagang (baca: perusahaan) atau
komunitas agama. Seorang bapa tentu mengenal anak2nya, bahkan pada umumnya,
bagi bapa yang normal, pasti mau menyerahkan nyawanya bagi anak2nya. Hal ini
berbeda dengan manajer. Seorang manajer tidak perlu terlalu mengenal anak
buahnya atau bawahannya. Tugas utama seorang manajer adalah membuat
perencanaan, pengorganisasian, menjalankan kepemimpinan dan motivasi, kemudian
membuat sistem kontrol agar ia dapat mengawasi apakah rencananya berjalan
sebagaimana mestinya atau tidak. Tugas manajer yang seperti ini tidak harus
membuat ia mengenal bawahannya seperti bapa mengenal anak2nya. Seorang manajer
dapat memimpin 100, 1000, 10.000, atau bahkan ratusan ribu orang. Sebab,
hubungan manajer dengan bawahannya adalah ‘hubungan
kerja’. Dan tujuan hubungan ini adalah profit tentunya. Sedangkan hubungan
bapa dengan anak adalah ‘hubungan darah’,
dimana tujuan hubungan ini adalah relationship atau saling mengasihi. Hubungan
ini mengharuskan seorang bapa mengenal dan mengasihi anaknya, bahkan
menyerahkan nyawanya.
Pemimpin gereja memiliki “hubungan
darah” dengan jemaat, yaitu “hubungan
darah Yesus” atau ‘Hayat Kristus’.
Pemimpin gereja adalah bapa-bapa. Petrus, Paulus dan Yohanes adalah bapa2.
Mereka bukanlah manajer, bahkan sebenarnya tidak boleh ada manajer didalam
gereja. Manajer gereja adalah Roh Kudus sendiri, atau lebih tepat Roh pemberi
Hayat (life giving Spirit). Semua anggota
gereja adalah hamba2 Roh sebagaimana Paulus menyebut dirinya ‘tawanan Roh’. Didalam kitab Kisah Para
Rasul, terdapat 70 kali istilah Roh, seperti Roh memimpin, Roh melarang,
bisikan Roh dan seterusnya. Mengapa demikian? Karena semua anggota gereja mengikuti
pimpinan Roh Kudus, termasuk para pemimpinnya. Dari uraian ini terlihat bahwa
pencuri dan perampok itu lebih mirip dengan ‘manajer dalam komunitas agama’
dari pada bapa bagi anak2nya atau domba2nya.
Diharapkan, melalui uraian diatas, kita dapat mengidentifikasi
para pencuri dan perampok ini lebih jelas lagi. Selanjutnya, kita akan membahas
ciri2 dari domba yang telah dicuri oleh pencuri dan perampok.
Sekarang kita akan membahas ciri2 dari domba yang telah
dicuri oleh pencuri dan perampok. Diharapkan juga, melalui uraian ini, kita
dapat mengidentifikasi lebih baik para pencuri dan perampok. Ciri2 domba yang
telah tercuri oleh para perampok adalah pertama,
domba2 ini berkata, “…aku dari golongan
Paulus dan yang lain berkata, aku dari golongan Apolos…” (I Korintus 3:4).
Dalam kasus gereja di Korintus, Paulus dan Apolos tentu tidak menarik murid2
kepada diri mereka sendiri seperti peringatan Paulus kemudian kepada para
penatua di Efesus (Kis. 20:30). Didalam Kis 20:30, Paulus memperingati para
penatua di Efesus bahwa akan ada serangan serigala ganas yang menyebabkan
beberapa penatua akan menarik murid2 dengan ajaran palsu. Alkitab tidak
mengatakan bahwa Paulus maupun Apolos mengajarkan ajaran palsu, atau juga
mencuri domba2 Tuhan. Jadi, dalam kasus gereja di Korintus permasalahannya
bukan terletak pada pemimpin, tetapi dalam jemaat itu sendiri ada beberapa
orang yang bermegah atas manusia. Paulus menegur sikap gereja di Korintus ini.
Tetapi tidak dapat disangkal bahwa domba2 yang sudah tercuri
ini memang akan berkata seperti jemaat di Korintus. Aku dari golongan pemimpin
A, atau aku dari golongan pemimpin B. Domba2 yang sudah tercuri ini akan
membanggakan pemimpinnya atau alirannya, atau “gembalanya”. Bahkan, pada umumnya, domba2 ini tidak mau atau tidak
dapat mendengarkan suara pemimpin2 lainnya. Mereka hanya mendengarkan suara
pemimpinnya saja. Mereka anggap jika yang berbicara itu bukan pemimpinnya, maka
itu pasti salah. Yang benar hanyalah pemimpinnya saja. Dan biasanya, domba2
yang sudah tercuri ini marah kalau pemimpinnya dikritisi, baik pengajarannya
maupun perilakunya. “jangan menghakimi…”
kata domba2 ini. Domba2 ini akan terus membela pemimpinnya, apapun juga alasan
yang dikemukakan oleh orang yang mengkritisi pemimpinnya. Pendeknya, domba2 ini
hanya dapat mendengar suara pemimpinnya, atau alirannya. Inilah ciri pertama
domba2 yang sudah tercuri.
Kedua, tidak memiliki kepekaan rohani
lagi. Mari kita melihat contoh orang2 Farisi dan ahli2 Taurat yang telah
mencuri domba2 atau umat Israel (orang banyak) pada waktu itu, karena seperti
yang telah kita bahas bahwa orang2 Farisi dan ahli2 Taurat adalah pencuri dan
perampok itu (Yohanes 10). Perhatikan kasus dimana Yesus dan Barabas dihadapkan
kepada mereka. Matius 27:20 mencatat, “Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan
tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan
Yesus dihukum mati”. Begitu mudahnya orang banyak, yang sudah tercuri ini,
memihak kepada Barabas, dan berteriak supaya Yesus dihukum mati. Saya yakin
diantara orang banyak itu ada yang sudah merasakan mujizat2 kesembuhan yang
dilakukan Yesus. Barangkali, mereka juga sudah menikmati mujizat 5 roti dan 2
ikan yang dibuat Yesus. Tetapi, oleh hasutan orang2 Farisi dan ahli2 Taurat,
mereka berteriak meminta supaya Yesus disalibkan. Domba2 yang sudah dicuri dan
dirampok ini memang tidak memiliki kepekaan rohani lagi untuk dapat membedakan
mana Juruselamat (Yesus), mana penjahat (Barabas).
Ketiga, tidak terfokus kedalam batin mereka
dimana ada pengurapan yang mengajari mereka segala sesuatu (I Yohanes 2:20,27).
Hal ini terjadi karena memang para pencuri dan perampok ini mengajarkan ajaran
palsu yang terpusat kepada kekayaan, kemakmuran dan kesehatan. Para pencuri dan
perampok ini adalah guru palsu yang diuraikan dalam surat Yudas 4. Guru palsu
ini menyalahgunakan kebaikan dan anugerah Tuhan kita, serta menyimpangkannya
kearah hal2 jasmani, yang menimbulkan hawa nafsu. Ini bukan berarti domba2
Tuhan Yesus, yang dapat mendengarkan suara Yesus, dimana ‘pengurapan dalam
batinnya’ mengajari dia segala sesuatu, akan mengalami penyakit, miskin dan
sengsara. Tetapi bahwa, domba2 yang telah tercuri ini memang tidak lagi
terfokus kepada ‘Christ in you, the hope of glory’, melainkan terfokus kepada
perkara2 jasmani, sama seperti pencuri dan perampok mereka.
Kita masih membicarakan Yohanes 10 mengenai domba2, dan kita
akan membandingkan domba2 yang telah dicuri, dengan domba2 Yesus. Didalam ayat
27 tertulis, “Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan
mereka mengikut Aku”. Jika kita membaca seluruh ayat2 dalam Yohanes pasal 10
ini, maka dapat kita lihat bahwa ada domba2 yang telah dicuri oleh orang2
Farisi dan ahli2 Taurat, dan juga ada domba-domba Yesus. Mari kita kenali
karakteristik domba2 Yesus ini.
Pertama, domba2 Yesus mendengarkan suara
Yesus. Domba-domba Yesus tidak mendengarkan suara para pencuri dan perampok
(ayat 8). Oleh kasih karunia dan pilihan Yesus, maka domba-domba Yesus memiliki
kepekaan rohani oleh adanya ‘pengurapan
dalam batin’ mereka (I Yohanes 2:20,27). Domba-domba Yesus dapat membedakan
mana suara Yesus, dan mana suara para pencuri. Sekalipun para pencuri berbicara
hal2 yang menyenangkan telinga, sebagaimana guru2 palsu yang disebutkan dalam
Yudas 4 berbicara, yaitu menyelewengkan anugerah Tuhan kepada hal2 lahiriah,
seperti kekayaan, kemakmuran dan perkara2 jasmani, serta perkara2 lainnya yang
menyesatkan umat Tuhan dari fokus kepada ‘Christ in you, the hope of glory’,
namun domba-domba Yesus tetap tidak mendengarkan suara para pencuri, dan tidak
dapat ditipu. Bahkan sebaliknya, domba-domba Yesus akan melarikan diri dari
guru2 palsu dan para pencuri domba itu.
Kedua, domba-domba Yesus mengikut Yesus
(ayat 27). Domba2 yang tercuri tidak sadar bahwa mereka sedang mengikuti para
pemimpinnya saja, barangkali mengikuti program2nya, mengikuti kebaktian2 dengan
ritual dan kredo2nya. Tetapi, domba-domba Yesus mengikuti Yesus, karena
mendengar suaraNya dan berjalan kemana saja Tuhan Yesus memimpinnya. Didalam
Wahyu 14:4 ada tertulis, “…mereka adalah
orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu kemana saja Ia pergi…”. Mereka
adalah para pemenang, yaitu domba-domba yang bukan saja dipanggil, tetapi juga
dipilih oleh Bapa untuk mengikuti Anak Domba (Yesus) kemana saja Ia pergi.
Domba-domba yang telah tercuri tentu tidak dapat mengikuti Yesus kemana saja Ia
pergi, sebab domba-domba yang telah tercuri sudah “dikerangkeng” atau “terkurung”
dalam suatu struktur organisasi dengan program2nya yang sudah diatur oleh para
pemimpin.
Ketiga, domba-domba Yesus mengenal Yesus
(ayat 14). Yohanes 10:10 berkata, “… Aku
datang supaya mereka mempunyai hidup (zoe),
dan mempunyainya (zoe) dalam segala kelimpahan”. Hidup ‘zoe’ adalah jenis
hidup yang dimiliki dan dijalani oleh Elohim sendiri. Kita tidak dapat mengenal
Yesus jika tidak menjalani hidup ‘zoe’ ini. Yohanes 17:3 berkata, “…Inilah hidup yang kekal itu (zoe), yaitu bahwa mereka mengenal
Engkau…. Dan mengenal Yesus Kristus…”. Menjalani hidup ‘zoe’ itu artinya menjalani suatu jenis
kehidupan yang dipimpin ‘zoe’.
Domba-domba Yesus menjalani hidup ‘zoe’
dalam kehidupan mereka sehari-hari. Inilah ibadah dalam roh dan realita,
seperti dikatakan Yesus kepada perempuan Samaria itu (Yohanes 4). Ibadah
domba-domba Yesus mengikuti pimpinan ‘zoe’
hari lepas hari, dan bukan ibadah “digunung
ini atau digunung itu” (Yohanes 4:21). Bukan ibadah mengikuti program ini
atau itu. Bukan ibadah mengikuti pemimpin ini atau itu, mengikuti peraturan
agamawi tertentu……dan seterusnya. Domba-domba yang telah tercuri tidak dapat
lagi beribadah mengikuti pimpinan ‘zoe’
hari lepas hari. Domba-domba yang telah tercuri sudah “terkurung” oleh suatu
program, aliran2, paraturan2 agamawi, dan seterusnya. Jadi, sekalipun
domba-domba yang telah tercuri ini memiliki ‘zoe’ didalam batin mereka, namun mereka tidak menjalani
kehidupannya atau ibadahnya menurut pimpinan ‘zoe’.
Sejauh ini kita telah membahas bahwa gereja pecah menjadi
ribuan denominasi adalah karena adanya pencuri dan perampok (Yohanes 10).
Serigala ganas telah menyerang beberapa pemimpin gereja sehingga dengan ajaran
palsu mereka menarik/mencuri murid-murid bagi diri mereka sendiri (Kis.
20:29-30). Kita telah mencoba mengidentifikasi pencuri dan perampok ini. Kita
juga telah mengidentifikasi domba-domba yang telah tercuri oleh para pencuri
ini. Juga kita telah mengidentifikasi domba-domba Yesus, dimana domba-domba
Yesus ini tidak mungkin dicuri oleh para pencuri ini, sebab Yesus sendiri
mengatakan bahwa, “seorangpun tidak dapat
merebut mereka dari tangan Bapa…” (Yoh. 10:29).
Melihat kondisi gereja yang telah terpecah menjadi ribuan
denominasi ini, dimana ada para pencuri dan perampok, ada domba-domba yang
telah tercuri, dan ada domba-domba Yesus, maka tentu kita bertanya apakah Yesus
gagal ketika Ia berkata ‘Aku akan mendirikan gerejaKu’? inilah yang akan kita
renungkan saat ini.
Jika kita berpikir bahwa semua domba-domba itu, baik yang
tercuri maupun yang tidak, adalah domba-domba Yesus, maka jelas bahwa Yesus
telah gagal sebagai gembala, karena ada domba-dombaNya yang telah dicuri.
Tetapi kita tahu bahwa Yesus berkata ‘tidak seorangpun dapat merebut
domba-dombaKu dari tangan Bapa, dan bahwa Aku dan Bapa adalah satu’, maka
jelaslah bahwa Yesus tidak gagal. Mengapa Yesus tidak gagal? Karena hanya
domba-domba yang dipilih Yesus yang dapat disebut domba-domba Yesus. Ada banyak
yang dipanggil menjadi domba-domba, tetapi sedikit yang dipilih menjadi
domba-domba Yesus.
Saya telah menulis tema ‘banyak yang dipanggil, tetapi
sedikit yang dipilih’. Disini saya kutip penjelasan saya mengenai perumpamaan
perjamuan kawin (Matius 22:1-14). Awal
kutipan - Mari kita melihat kesimpulan kita lebih jauh lagi, yaitu, “banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang
dipilih”. Siapakah mereka yang telah dipanggil tetapi tidak dipilih. Telah
kita ketahui bahwa mereka yang diundang dan dipanggil dalam perumpamaan
perjamuan kawin adalah bangsa Yahudi. Dan bangsa Yahudi adalah mereka yang
telah menjadi Umat Tuhan, telah diangkat menjadi anak, telah menerima
kemuliaan, janji-janji dan hukum Taurat, tetapi Tuhan hanya memilih ‘sisa Israel’
saja. Berarti, mereka yang dipanggil tetapi tidak dipilih adalah Umat Tuhan.
Bangsa Yahudi adalah Umat Tuhan, tetapi hanya ‘sisanya’ yang dipilih. Hal ini
sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Yudas dalam suratnya, “…memang Tuhan menyelamatkan umatNya dari
tanah Mesir, namun sekali lagi membinasakan mereka yang tidak percaya”
(ayat 5). Jadi, sekalipun telah dipanggil keluar dari Mesir, namun bangsa
Israel tetap gagal masuk tanah Perjanjian, dimana hanya Yosua dan Kaleb saja
yang berhasil, mengapa demikian? Karena sebagian besar Israel hanya dipanggil
saja, tetapi tidak dipilih.
Jadi, jelaslah bahwa mereka yang dipanggil adalah Umat Tuhan.
Mereka yang gagal masuk ketanah Perjanjian adalah umat Tuhan juga. Mereka gagal
karena mereka hanya dipanggil, tetapi tidak dipilih. Hal ini sesuai dengan
perumpamaan-perumpamaan yang diceritakan dalam kitab-kitab Injil, seperti
perumpamaan talenta, perumpamaan penabur, perumpamaan gadis-gadis bijaksana dan
bodoh, perumpamaan pokok anggur, dan banyak lagi bagian2 kitab suci yang
menjelaskan perihal ini. Kita akan membahas satu persatu perumpamaan2 ini pada
bagian2 berikutnya, agar kita dapat memahami lebih jelas lagi mengenai perihal
‘banyak yang dipanggil tetapi sedikit
yang dipilih. Amin” – akhir kutipan.
Jadi, Yesus tidak gagal mendirikan gerejaNya ketika Ia
berkata ‘Aku akan mendirikan gerejaKu’, sepanjang kita memahami bahwa
domba-domba yang tercuri oleh pencuri itu adalah domba-domba yang sekalipun
umat Tuhan, hanya mendapat kasih karunia untuk ‘DIPANGGIL’ saja, tetapi tidak
mendapat kasih karunia untuk ‘DIPILIH’. Sementara itu, domba-domba Yesus adalah
mereka yang bukan saja mendapat kasih karunia untuk dipanggil, tetapi juga
mendapat kasih karunia untuk dipilih.
Telah kita lihat bahwa Yesus tidak gagal ketika Ia berkata
‘Aku akan mendirikan gerejaKu’. Domba-domba Yesus, yaitu mereka yang dipanggil
dan dipilih, tidak mungkin dicuri oleh pencuri dan perampok. Dunia kekristenan
memang telah penuh dengan para pencuri domba, penuh dengan domba-domba yang
telah tercuri, tetapi domba-domba Yesus tetap mengikuti dan hanya mendengarkan
suara Yesus saja.
Apakah Tuhan “kaget” melihat dunia kekristenan yang seperti
ini? Atau, memang adanya para pencuri dan perampok domba itu merupakan bagian
dari rencanaNya untuk memproses domba-domba Yesus sendiri? Mari kita
merenungkan bersama hal ini.
Teologi Kristen umumnya menerima ajaran dualisme, yaitu suatu ajaran yang menyatakan bahwa situasi
tertentu dihasilkan karena adanya dua prinsip atau faktor yang bertentangan.
Tuhan sebagai sumber kebaikan, dan iblis sebagai sumber kejahatan, bertarung
dalam situasi yang ada. Menurut ajaran ini, Yesus sebagai gembala yang baik
bagi domba-dombaNya, tiba2 diserang oleh serigala ganas (iblis) dan tercurilah
beberapa dombaNya. Itu sebabnya, gereja yang tadinya satu, pecah menjadi ribuan
denominasi. Seolah-olah Tuhan “kaget” atas serangan serigala ganas ini. Apakah
benar demikian?
Ajaran ‘dualisme’
ini sebenarnya merendahkan Tuhan, seolah-olah Tuhan bukanlah Tuhan yang
menentukan segalanya. Alkitab berkata, “Sebab
segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia; Bagi Dialah
kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36). Kemudian Yesaya 45:6-7
berkata, “… Akulah TUHAN dan tidak ada
yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib
mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini”.
Demikian juga, Amos 3:6 menegaskan, “… Adakah
terjadi malapetaka disuatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?”. Jadi,
jelas bahwa Tuhanlah yang merancang segalanya. Tuhanlah yang merancang serigala
ganas menyerang gereja dengan suatu maksud-maksudNya sendiri.
Mari kita melihat contoh nyata dari para pencuri dan perampok
dizaman Yesus, yaitu orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, serta seluruh pemuka agama
Yahudi (Sanhedrin), yang membunuh Yesus. Apakah Tuhan “kaget” ketika diriNya
ditolak, bahkan dibunuh oleh para pemimpin agama Yahudi dizamanNya? Mari kita
periksa Yohanes 12:37-40, demikian tertulis, “Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat didepan mata mereka,
namun mereka tidak percaya kepadaNya, supaya genaplah firman yang disampaikan
oleh nabi Yesaya… Karena itu mereka tidak dapat percaya, sebab Yesaya telah
berkata juga: ‘Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka, supaya
mereka jangan melihat dengan mata dan menanggap dengan hati, lalu berbalik,
sehingga Aku menyembuhkan mereka”. Jelas dari ayat2 ini, bahwa Tuhan
sendiri yang telah membutakan dan mendegilkan hati orang2 Farisi dan ahli2
Taurat, para pencuri dan perampok itu, agar mereka jangan melihat dengan mata,
atau menanggap dengan hati. Mengapa Tuhan mengeraskan hati para pencuri dan
perampok ini? Ya, karena Tuhan mempunyai maksud-maksudNya sendiri…. Untuk
menggenapi firmanNya, untuk kemuliaan bagi namaNya… Dan, saya yakin, mengapa Tuhan merancang
adanya pencuri dan perampok domba dalam dunia kekristenan… yaitu untuk
memproses domba-domba pilihanNya sendiri agar menjadi dewasa dan matang.
Jadi, Tuhan Yesus tidak “kaget” ketika serigala ganas
menyerang beberapa pemimpin gereja sehingga dengan ajaran palsu para pemimpin
ini menarik, mencuri, bahkan merampok domba2, yaitu umat Tuhan yang mendapat
kasih karunia untuk dipanggil. Tetapi Yesus memastikan bahwa domba-domba
pilihanNya tidak akan pernah dapat dicuri oleh para perampok ini.
Melalui uraian yang singkat sejauh ini, diharapkan kita
memahami beberapa hal tentang gereja dan denominasi. Pertama, pecahnya gereja menjadi ribuan denominasi adalah karena
adanya para pencuri dan perampok domba2. Kedua,
Para pencuri dan perampok ini awalnya adalah pemimpin gereja (para
penatua=presbuteros atau episkopos), namun karena serangan serigala ganas, maka
dengan ajaran palsu, mereka menarik murid2 kepada diri mereka sendiri. Mereka,
yaitu, para pencuri dan perampok domba2 ini, tidak lagi membangun gereja,
melainkan membangun denominasi sendiri, alirannya sendiri, kerajaannya sendiri.
Ketiga, para pencuri dan domba2
curiannya tetaplah umat Tuhan, yaitu mereka yang mendapat kasih karunia untuk
dipanggil, sama seperti orang2 Farisi dan ahli2 Taurat serta orang banyak yang
dicuri mereka, adalah umat Tuhan, yaitu bangsa Israel yang terkait dengan
perjanjian Musa. Keempat,
domba-domba Yesus adalah mereka yang mendengarkan suara Yesus dan tidak
mendengarkan suara para pencuri. Domba-domba Yesus tidak dapat direbut dari
tangan Tuhan Yesus oleh para pencuri. Domba2 Yesus bukan saja mendapat kasih
karunia untuk dipanggil, melainkan juga dipilih.
Kita akan mengakhiri tulisan singkat ini dengan menguraikan
secara ringkas dua perempuan dalam kitab Wahyu yang menggambarkan dua komunitas
(gereja dan denominasi) dalam dunia kekristenan saat ini. Kita akan menguraikan
kepemimpinan kedua perempuan ini, dan hasil dari kepemimpinannya. Pertama, perempuan dipasal 17 dan 18.
Perempuan ini ‘duduk diatas seekor binatang’ (17:3). Binatang dalam kitab Wahyu
adalah simbol dari sistem pemerintahan manusia. Jadi, perempuan ini ditopang
oleh kepemimpinan manusiawi. Memang perempuan ini menjadi besar, atau lebih
tepat kota besar (Babel), dimana pemerintahan manusiawi “Nimrod” berkuasa. Hasil dari kepemimpinan manusiawi “Nimrod” ini
adalah penghakiman Elohim (18:8).
Kedua, perempuan dipasal 12. Perempuan ini
‘dimahkotai oleh dua belas bintang’ diatas kepalanya. Dua belas adalah angka
pemerintahan. Bintang adalah putera-putera Elohim. Artinya, perempuan ini
dipimpin oleh sistem pemerintahan Ilahi, dimana putera-putera Elohim bekerja
bersama-sama membentuk sebuah mahkota (simbol otoritas). Hasil kepemimpinan
putera-putera Elohim ini membuat perempuan ini melahirkan “seorang anak laki-laki”
yang akan memerintah dan menggembalakan semua bangsa (12:5). “Anak laki-laki”
ini kelak akan dimanifestasikan kepada seluruh makhluk untuk memerdekakan seluruh ciptaan (Roma
8:19-21).
Demikianlah uraian singkat mengenai gereja dan denominasi
ini. Semoga tulisan ini memberi pencerahan bagi kita, khususnya umat
pilihanNya. Amin.
Comments
Post a Comment