TRILOGI RAHASIA INJIL
Trilogi Rahasia Injil (gabungan)
Oleh : Irnawan Silitonga
Melalui tulisan singkat ini, kita akan membahas mengenai Injil yang adalah khabar baik. Kita akan memulai pembahasan kita dengan menjelaskan
sedikit judul kita diatas. Ungkapan ‘Rahasia
Injil’ dalam judul kita ini berasal dari terjemahan Yunani ‘musterion
ho euaggelion’ (Efesus 6:19), yang sering diterjemahkan dalam berbagai
versi dengan ungkapan ‘mystery of the gospel’. Kita tidak
menggunakan istilah ‘misteri’ karena
istilah ini seolah-olah memberi kesan bahwa ada sesuatu yang tidak dapat
diketahui oleh manusia dan tetap menjadi misteri. Tetapi sebenarnya istilah
‘misteri’ disini bukan sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh manusia, tetapi
sesuatu yang rahasia bagi seseorang selama
ia belum diberitahu, tetapi tidak menjadi rahasia lagi jika ia telah
diberitahu. Injil memang menjadi rahasia bagi orang yang belum menerima
pewahyuan dihadapan Tuhan, tetapi jika oleh anugerah Tuhan, ia telah menerima
pewahyuan akan Injil, maka Injil baginya bukan merupakan rahasia lagi. Itu
sebabnya, judul kita diatas memakai istilah ‘rahasia’ dan bukan ‘misteri’.
Kemudian, apakah maknanya istilah ‘trilogi’ diatas? Didalam kamus, trilogi (Inggris, trilogy) bermakna group of three plays, novels,
operas, etc, to be performed, read, etc, in succession, each complete in itself
but having a common subject. Jadi, trilogi berarti suatu kelompok dari
tiga permainan, cerita-cerita, sandiwara-sandiwara, dan sebagainya, yang
dimainkan, atau dibaca, dan sebagainya, secara berturut-turut, namun
masing-masingnya telah sempurna, tetapi mempunyai tema / pokok bersama. Jadi,
ringkasnya, trilogi adalah tiga cerita berurutan, dimana masing2 cerita memiliki
tema yang sama. Apakah konsep ‘trilogi’ ada didalam Alkitab? Sekalipun
istilah ‘trilogi’, tidak tertulis didalam Alkitab, namun konsep trilogi sangat
banyak terdapat didalam Alkitab. Mari kita lihat dahulu Amsal 22:20, demikian
tertulis, “Bukankah aku telah menulisnya
kepadamu dulu dengan nasihat dan pengetahuan” (LAI). Kalau kita bandingkan
dengan terjemahan King James Version
tertulis, “Have not I written to thee
excellent things in counsel and knowledge”. Dari Young’s Literal Translation tertulis, “Have I not written to thee three times…”. Dari The Jerusalem Bible tertulis, “Have
I not written for you thirty chapter…”. Istilah ‘excellent things’, dalam Amsal 22:20, berasal dari istilah Ibrani ‘shalosh’, yang artinya, menurut kamus
Ibrani Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible ( # 7991, 7969 ), adalah
a triple, atau a triangle, atau a three-fold, atau the third rank atau three. Sebenarnya, akar kata ‘shalosh’ berarti ‘tiga’.
Perubahan huruf hidup sedikit dari kata Ibrani ini, membuatnya berarti tiga
puluh, seperti terjemahan The Jerusalem
Bible. Tetapi terjemahan Young’s
Literal Translation, lebih tepat sesuai dengan pengertian akar kata Ibrani
ini. Dan kalau kita gabungkan terjemahan versi Young dan versi King James, maka
berarti bahwa perihal berbicara tiga kali dalam nasihat dan pengetahuan, adalah
perkara yang baik sekali (Excellent). Jadi, konsep trilogi, terungkap secara
langsung dalam Amsal 22:20. Kalau kita terapkan ‘konsep trilogi’ ini kedalam
judul kita, maka itu berarti ada tiga cerita yang berurutan, tetapi
dengan tema yang sama, mengenai rahasia Injil.
Sebelum kita melanjutkan pembahasan kita, ada satu istilah
penting lagi yang muncul hanya satu kali didalam Perjanjian Baru, yaitu istilah
Yunani ‘orthotomeo’ (kata kerja)
didalam II Timotius 2:15. Istilah ini berarti ‘memotong dengan lurus’. Maksudnya, memotong atau memilah dengan
tepat. Jadi II Timotius 2:15 merupakan nasihat Paulus kepada Timotius agar
sebagai pemberita Injil (firman kebenaran) atau sebagai pelayan Tuhan, dapat
memilah-milah firman kebenaran dengan tepat.
Bagaimana memilah rahasia Injil, yang adalah firman
kebenaran, dengan tepat? Kita menggunakan ‘prinsip
trilogi’, yaitu memilah rahasia Injil
menjadi tiga cerita berurutan, dengan tema yang sama tentunya. Pertama, Rahasia Injil yang diberitakan
oleh Petrus dan kawan2nya kepada bangsa Yahudi. Kedua, Rahasia Injil yang diberitakan oleh Paulus dan kawan2nya
kepada bangsa-bangsa lain. Ketiga,
Rahasia Injil yang diberitakan oleh Rasul Yohanes dan timnya kepada gereja yang
telah jatuh (menyimpang) pada zamannya, terutama kepada tujuh gereja di Asia
Kecil.
Melalui uraian diatas, kita tidak mengatakan bahwa ada tiga
rahasia Injil atau ada tiga Injil. Injil,
yang adalah khabar baik, hanyalah satu, yaitu khabar baik yang terkait dengan
kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus.
Kita telah memilah firman kebenaran atau rahasia Injil dengan
menggunakan prinsip trilogi. Saat ini kita akan membicarakan bagaimana Petrus
dan kawan2nya memberitakan Injil kepada bangsa Israel. Mari kita mulai dari
Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri dalam memberitakan khabar baik kepada
bangsa Yahudi. Yohanes Pembaptis dan Yesus memberitakan, “bertobatlah, sebab kerajaan sorga sudah dekat” (Matius 3:1; 4:17).
Istilah ‘bertobatlah’ berasal dari
kata kerja Yunani ‘metanoeo’, yang
artinya ‘merubah pikiran’. Mengapa
Yesus, dan Yohanes Pembaptis mengharuskan bangsa Yahudi ‘merubah pikiran’ terkait dekatnya kerajaan sorga? Hal ini dapat
dijelaskan sebagai berikut.
Bangsa Yahudi selalu menantikan Mesias, khususnya sejak raja
Daud mendapat janji bahwa keturunannya akan selalu memerintah Israel. Bangsa
Yahudi menantikan seorang raja yang diurapi Tuhan, yang merupakan keturunan
Daud, serta melakukan setidaknya tiga hal ini kepada bangsanya. Pertama, raja yang diurapi Tuhan itu
(Mesias) haruslah membangun Bait Suci. Kedua,
Mesias ini harus membebaskan bangsa Yahudi terhadap musuh2 Israel, dalam arti
bangsa2 lain yang mengganggu Israel.
Ketiga, Mesias ini haruslah membawa perdamaian kepada dunia, dalam arti
Israel menjadi “kepala” dan bangsa2 lainnya sebagai “ekor”, karena demikianlah
janji Yahweh. Pada intinya, Mesias yang memimpin Israel, haruslah membangun
kerajaan Israel ‘jasmani’, dengan
menghancurkan musuh2 ‘jasmani’
Israel, membangun Bait Suci jasmani
(merupakan bangunan jasmani) dan tentunya memiliki istana jasmani, tentara jasmani,
dan seterusnya, yaitu segala sesuatu yang bersifat jasmani.
Tetapi, Yesus datang untuk memberikan hidupNya (Yunani, zoe)
dan mendirikan kerajaanNya, yang adalah kerajaan ‘sorga’, suatu kerajaan dalam ‘dimensi
sorgawi’. Kerajaan sorga yang Yesus akan tegakkan dan hadirkan dibumi ini,
“…bukanlah soal makanan dan minuman,
tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus” (Roma
14:17). Ini bukan berarti semua janji Yahweh kepada bangsa Israel yang bersifat
‘jasmani’ menjadi batal. Namun, Yesus datang menggenapi semua yang bersifat ‘jasmani’ dalam PL, dan menjadi bersifat
‘spiritual’ dalam konteks PB. Sifat
dasar PL itu adalah nubuat, bayangan, dan simbol, sementara itu PB bersifat
menggenapi nubuat, wujud yang sebenarnya dari bayangan itu, dan realita dari
simbol2 PL. Dikayu salib Yesus berkata ‘sudah
selesai’, artinya semua nubuat, bayangan, dan simbol2 PL telah
selesai digenapi, di-wujud nyata-kan, serta telah menjadi realita didalam
Kristus.
Itu sebabnya, bangsa Yahudi diharuskan ‘bertobat’ yaitu
berubah pikiran, dari yang jasmani menjadi yang spiritual. Dari berpikir dalam
pola nubuat, bayangan, simbol, menjadi berpikir penggenapan, wujud, dan
realita. Sekali waktu Yesus mencoba merubah pikiran orang2 Farisi dan ahli2
Taurat mengenai dimensi kerajaan Mesias. Yesus berkata, “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia? Kata mereka
kepadaNya, anak Daud” (Matius 22:42). Kemudian Yesus mengutip Mazmur 110:1,
yang menegaskan bahwa Daud menyebut Mesias sebagai Tuan, sehingga tidak mungkin
Mesias itu anak Daud, karena Daud menyebutnya sebagai Tuan. Disini, Yesus bukan
mau membantah bahwa Mesias adalah anak Daud secara jasmani, tetapi Yesus mau
menegaskan bahwa kerajaan Mesias itu
berada didalam dimensi yang lebih tinggi dari pada dimensi jasmani kerajaan
Daud. Kerajaan Mesias adalah kerajaan sorga, kerajaan Mesias bukanlah soal
makanan dan minuman. Jadi, pola pikir “jasmani”
PL, itu yang Yesus coba rubah dalam diri orang2 Farisi dan ahli2 Taurat
zamanNya.
Telah kita lihat bahwa pemberitaan Yohanes Pembaptis dan
Yesus yang menawarkan kerajaan sorga kepada bangsa Yahudi ditolak oleh para
pemimpinnya. Sanhedrin, mahkamah agama Yahudi, tidak menerima Yesus sebagai
Mesias yang sebelumnya telah dijanjikan kepada Daud. Sanhedrin menjatuhkan
hukuman mati kepada Yesus, dan melalui tangan Pilatus menyalibkanNya.
Kemudian Petrus dan kawan2nya kembali menawarkan kerajaan
sorga, dan Yesus sebagai Mesias kepada Sanhedrin. Hal ini dilakukan Petrus dan
timnya tiga kali. Pertama, ketika
Petrus bersaksi dihadapan Sanhedrin serta menegaskan bahwa tidak ada nama lain
selain nama Yesus Kristus yang didalamnya kita dapat diselamatkan (Kis.
4:1-12). Kedua, ketika Petrus
kembali berdiri dihadapan Sanhedrin dan bersaksi tentang kebangkitan Yesus, dan
bahwa Yesus duduk disebelah kanan Yang Maha tinggi, selaku Penguasa dan Juru
Selamat (Kis. 5:26-33). Ketiga,
melalui Stefanus, kembali Petrus dan timnya bersaksi kepada Sanhedrin. Kali ini
Sanhedrin menolak dan bahkan merajam Stefanus, walaupun sebenarnya Sanhedrin
tidak diberi hak oleh penguasa Roma untuk menghukum mati seseorang. Jadi,
bangsa Yahudi, yang diwakili oleh Sanhedrin, telah menolak Yesus sebagai
Mesias, bahkan sampai hari ini…
Mengapa bangsa Yahudi menolak Yesus sebagai Mesias?
Sesungguhnya hal ini memang telah dinubuatkan didalam Yesaya 6:8-13. Ditegaskan
oleh Yesaya 6:10, “Buatlah hati bangsa
ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat
tertutup supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan
telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh”.
Tetapi, ada maksud Tuhan mengapa hal ini terjadi. Roma 11:25-26 mengatakan, “…sebagian dari Israel telah menjadi tegar
sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan
demikian seluruh Israel akan diselamatkan…”. Pada waktuNya, setelah seluruh
bangsa-bangsa lain telah masuk, maka Israel juga akan diselamatkan.
Dalam kondisi bangsa Yahudi yang menolak Yesus sebagai
Mesias, kepada Petrus dan timnya diberikan tugas yang kita kenal sebagai Amanat
Agung, yang tertulis dalam Matius 28:18-20. Tugas menjadikan semua bangsa murid
Yesus disertai dengan jaminan bahwa segala otoritas baik disorga dan dibumi
telah diberikan kepada Yesus.
Bagaimana Petrus dan timnya memberitakan Injil kepada
bangsa-bangsa lain, dan bagaimana Paulus yang kemudian diutus kepada
bangsa-bangsa lain, akan kita bahas berikutnya.
Istilah Yunani ‘euanggelion’
yang diterjemahkan ‘khabar baik’
muncul 76 kali dalam PB. Petrus hanya menggunakan satu kali dalam suratnya dan
menyebut ‘Injil Elohim’ (I Petrus
4:17). Tetapi didalam Injil Matius, suatu injil yang ditulis kepada bangsa
Yahudi, terdapat 3 kemunculan istilah Injil, yaitu, ‘Injil Kerajaan sorga’ atau ‘Injil
Kerajaan Elohim”, dan satu lagi dengan istilah ‘Injil’ saja.
Paulus menggunakan istilah ‘Injil’ didalam surat2nya sebanyak
60 kali. Kemunculan istilah ‘Injil’ dalam surat2 Paulus sebagai berikut, ‘Injil Kristus’ sebanyak 8 kali, ‘Injil Elohim’ sebanyak 6 kali, dan
ungkapan2 lainnya seperti, ‘Injil damai
sejahtera’, ‘Injil Yesus’, ‘Injilku’, dan selebihnya Paulus
menggunakan istilah ‘Injil’ saja.
Didalam Kis. 20:24, Paulus menggunakan ungkapan ‘Injil kasih Karunia Elohim’.
Dengan memperhatikan berbagai penggunaan istilah ‘injil’ baik oleh Paulus dan Petrus, setidaknya
kita mulai dapat melihat keunikan pemberitaan mereka. Paulus memakai istilah ‘Kristus’ dengan beberapa makna yang
akan kita bahas nanti. Bahkan Paulus menggunakan ungkapan ‘Injilku’ untuk menekankan keunikan pemberitaannya. Keunikan
pemberitaan Petrus dan Paulus bukannya tanpa arti. Bahkan didalam I Korintus
11:16, Paulus membedakan jemaat2 yang dilayani oleh Petrus dan timnya, dengan
jemaat2 yang dirintisnya sendiri bersama kawan2nya. Mari kita perhatikan I
Korintus 11:16, “Akan tetapi, jika seseorang cenderung untuk berdebat, KAMI
maupun GEREJA-GEREJA ELOHIM tidak mempunyai kebiasaan seperti itu (ILT)’. Yang
dimaksud Paulus ‘GEREJA-GEREJA ELOHIM’ adalah jemaat orang2 Yahudi yang
dilayani oleh Petrus dan timnya.
Kalau kita perhatikan ungkapan ‘Injil Kerajaan’ yang hanya muncul 3 kali didalam kitab Injil
Matius, suatu Injil untuk bangsa Yahudi, maka dapat kita pahami keunikan berita
yang disampaikan oleh Petrus dan timnya. Petrus dan timnya memberitakan kepada
bangsa Yahudi bahwa melalui kematian, kebangkitan dan pemuliaan Yesus dimana
Yesus duduk disebelah kanan Bapa, maka, “Elohim
telah menjadikan Dia, baik selaku Tuhan maupun Mesias…” (Kis. 2:36 – ILT).
Petrus memberitakan Yesus sebagai Mesias atau kerajaan Mesias kepada bangsa
Yahudi. Dan Yesus, yang diutus hanya kepada bangsa Yahudi saja (Matius 15:24),
juga memberitakan ‘bertobatlah, sebab
kerajaan sorga sudah dekat’. Tetapi kita tahu bahwa bangsa Yahudi telah
menolak, baik Yesus maupun pemberitaan Petrus dan timnya.
Kemudian, bagaimana bangsa2 lain dapat mendengar ‘Injil’,
atau lebih tegas, bagaimana bangsa2 lain menerima ‘keunikan berita Injil’ yang disampaikan Paulus? Untuk memahami hal
ini, kita harus mengetahui bahwa Yesus datang untuk membuat suatu Perjanjian
yang baru dengan bangsa Yahudi, karena Perjanjian yang lama telah
dilanggar. Hal ini telah dinubuatkan dalam Yeremia 31: 31-34, demikian
tertulis, “…Aku akan mengikat suatu
perjanjian baru dengan keluarga Israel dan dengan keluarga Yehuda… Aku akan
meletakkan toratKu didalam batin mereka dan Aku akan menuliskannya didalam hati
mereka, dan Aku akan menjadi Elohim mereka, dan mereka akan menjadi umatKu….
Mereka semua akan mengenal Aku… Aku akan mengampunkan kesalahan kepada mereka
dan tidak akan mengingat dosa-dosa mereka lagi”.
Perjanjian yang baru ini dibuat Yesus dimalam terakhir ketika
Ia sedang merayakan Paskah bersama-sama murid2Nya. Didalam Matius 26:28
tertulis, “Sebab inilah darahKu, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak
orang untuk pengampunan dosa”. Perjanjian Baru yang dibuat Yesus bagi
bangsa Yahudi disahkan oleh darahNya. Tetapi kita tahu bahwa bangsa Yahudi
telah menolak Yesus. Penolakan bangsa Yahudi ini membuka kesempatan
bangsa-bangsa lain masuk kedalam perjanjian baru ini. Selanjutnya kita akan
menjelaskan bagaimana Paulus diutus Tuhan untuk membawa Perjanjian Baru ini
kepada bangsa-bangsa lain.
Saat ini kita akan membahas bagaimana Paulus diutus Tuhan
untuk membawa Perjanjian Baru kepada bangsa-bangsa lain. Kisah para rasul 13: 2
berkata, “… Khususkanlah Barnabas dan
Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka”. Barnabas dan
Saulus, kemudian menjadi Paulus, mendirikan jemaat2 disetiap kota serta
menetapkan penatua2 untuk menggembalakan jemaat yg mereka rintis. Pada awalnya,
Paulus dan Barnabas memberitakan pengampunan dosa, yang tidak dapat diperoleh
melalui hukum Musa, melainkan melalui percaya kepada kematian dan kebangkitan
Yesus (Kis. 13: 38-39). Tentu, Paulus tidak saja memberitakan pengampunan dosa.
Kita akan melihat nanti apa saja yang diberitakan Paulus dalam Injilnya.
Tetapi, saat ini, kita akan membahas perihal bangsa-bangsa lain, yang kepadanya
Paulus memberitakan Injil. Apakah bangsa-bangsa lain harus mentaati hukum Musa,
sebagaimana jemaat Yahudi mentaatinya, seperti yang ada tertulis dalam Kis.
21:20, “… lihatlah, beribu-ribu orang
Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat”.
Persoalan ini dibahas didalam Kisah para rasul pasal 15:1-34.
Setelah Petrus berbicara, “… bahwa oleh
kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti
mereka juga” (ayat 11), maka Paulus dan Barnabas menceritakan perbuatan2
besar yang Tuhan lakukan kepada bangsa-bangsa lain, dimana hal ini meneguhkan
kesaksian Petrus. Kemudian, Yakobus menutup dengan mengutip Amos 9:11-12,
demikian, “Kemudian Aku akan kembali dan
membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan
Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan
segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milikKu demikianlah
firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui dari sejak
semula” (LAI).
Apakah atau siapakah ‘pondok
Daud’ yang disebut dalam ayat diatas? Apakah hanya bangsa Israel saja, atau
juga bangsa-bangsa lain yang dipilih Tuhan menjadi umatNya. Kalau kita
memperhatikan perkataan Yakobus sebelumnya bahwa Tuhan menunjukkan rahmatNya
kepada bangsa-bangsa lain dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi
namaNya, maka sewajarnyalah kita berpendapat bahwa pondok Daud yang dibangun kembali oleh Tuhan adalah bangsa Israel dan juga bangsa-bangsa lain
yang dipilih Tuhan pada zaman ini. Yakobus menegaskan bahwa perihal Tuhan
memilih bangsa-bangsa lain menjadi umatNya adalah ‘sesuai’ dengan nubuat Amos
yang telah kita kutip. Istilah ‘sesuai’
berasal dari istilah Yunani ‘sumphoneo’,
yang artinya ‘to be in harmony’, atau
‘to agree’. Jadi, terpilihnya
bangsa-bangsa lain dizaman ini serta “dicangkokkan”
kedalam bangsa Israel merupakan nubuat Amos 9:11-12.
Tetapi, nubuat Amos 9:11-12, yang dikutip Yakobus, tidak
hanya berhenti sampai ‘sebagian’
bangsa-bangsa lain yang diselamatkan pada zaman ini. Tetapi, “supaya
semua orang lain mencari Tuhan”. Artinya, nubuat Amos melewati zaman
ini dan terus menuju zaman2 berikut, dimana pada akhirnya, semua orang lain mencari Tuhan.
Pondok Daud yang telah roboh dan dibangunkan kembali oleh Tuhan adalah bangsa
Israel dan bangsa-bangsa lain yang terpilih dizaman ini. Tetapi kemudian, semua
orang lain, atau yang tersisa dari umat manusia, juga akan mencari Tuhan. Saya
lebih senang dengan terjemahan ‘yang
tersisa dari umat manusia’ karena ini sesuai dengan terjemahan aslinya,
yaitu ‘kataloipos ho anthropos’ (the
residue of men). Dengan menyebut ‘yang
tersisa dari umat manusia’ itu berarti pada akhirnya semua manusia akan mencari
Tuhan.
Kesimpulan perihal bangsa-bangsa lain yang diberitakan Injil
oleh Paulus adalah sebagai berikut. Pertama,
bangsa-bangsa lain yang diselamatkan dan terpilih dizaman ini tidak diharuskan
memelihara hukum Taurat seperti bangsa Yahudi. Kedua. Pondok Daud yang telah roboh dan dibangunkan kembali oleh
Tuhan, adalah bangsa Israel dan bangsa2 lain yang terpilih dizaman ini. Ketiga, akibat pondok Daud yang sudah
dibangunkan kembali itu, maka dizaman-zaman berikutnya, yang tersisa dari umat
manusia akan mencari Tuhan.
Mari kita membahas dengan ringkas Perjanjian Baru yang dibuat
oleh Yesus dimalam terakhir bersama-sama murid2Nya. Matius 26:26-28 mencatat, “Dan ketika mereka sedang makan, Yesus
mengambil roti…. Sesudah itu Ia mengambil cawan…. Sebab inilah darahKu, darah
perjanjian…”. Ketika mereka sedang makan Paskah, Yesus mengambil roti dan
cawan serta membuat suatu perjanjian yang disahkan oleh darahNya sendiri. Lukas
22:20 mencatat, “… Cawan ini adalah
perjanjian baru oleh darahKu, yang ditumpahkan bagi kamu”.
Sesungguhnya, apa yang dibuat Yesus telah dinubuatkan dalam
kitab nabi Yeremia 31:31-34, seperti ada tertulis, “… Aku akan mengikat suatu perjanjian baru dengan keluarga Israel…. Aku
akan meletakkan toratKu didalam batin mereka dan Aku akan menuliskannya didalam
hati mereka dan Aku akan menjadi Elohim mereka dan mereka akan menjadi umatKu….
Mereka semua akan mengenal Aku…. tidak akan mengingat dosa-dosa mereka lagi”
(ILT). Inti dari Perjanjian Baru ini ialah Tuhan akan menuliskan hukumNya (ToratNya)
kedalam batin orang percaya. Kalau didalam PL, hukum Tuhan tertulis
didalam loh2 batu, tetapi dalam PB, hukum yang tertulis dalam loh batu itu
dituliskan atau diletakkan Tuhan kedalam batin orang percaya.
Ada tiga hal yang terjadi ketika Tuhan menuliskan hukum2Nya
kedalam batin orang percaya. Pertama,
Tuhan akan menjadi Elohim bagi orang percaya, dan orang percaya menjadi umatNya.
Kedua, orang percaya akan mengenal
Elohim secara batiniah. Ketiga,
Tuhan tidak akan mengingat lagi dosa2 orang percaya.
Kalau kita perhatikan lebih jauh lagi, jelaslah bahwa
Perjanjian Baru bersifat spiritual
dan batiniah, sedangkan Perjanjian
Lama bersifat natural dan lahiriah. Perjanjian lama itu bersifat
nubuat, bayangan, dan simbol, sedangkan Perjanjian baru itu merupakan
penggenapan nubuat PL, wujud dari bayangan dalam PL, realita dari simbol2 PL.
Kolose 2:16-17 menegaskan, “Oleh karena
itu, janganlah seorangpun menghakimi kamu dalam hal makanan atau dalam hal
minuman, atau mengenai bulan baru, atau hari-hari sabat, yang merupakan bayangan dari hal-hal yang akan datang,
tetapi wujudnya adalah Kristus” (ILT).
Kita tahu bahwa Perjanjian baru itu dibuat Yesus terutama
bagi bangsa Israel, karena Israel telah melanggar Perjanjian Lama dan Tuhan
menggantikannya dengan suatu Perjanjian Baru sesuai dengan nubuat dalam Yeremia
31:31-34. Tetapi kemudian, Paulus diutus Tuhan untuk melayankan (memberitakan)
Perjanjian Baru kepada bangsa-bangsa lain juga. Kita akan melihat dan membahas
beberapa poin penting dalam Injil Paulus yang diberitakannya kepada
bangsa-bangsa lain.
Pertama, Paulus memberitakan pembenaran,
pengudusan dan pemuliaan melalui iman. Hal ini diuraikannya dalam surat Roma. Kedua, Paulus memberitakan Kristus
dalam Injilnya. Ketiga, Paulus
memberitakan gereja sebagai tubuh Kristus. Keempat,
Paulus memberitakan kedatangan Tuhan didalam dan melalui orang2 kudusNya. Tentu
masih ada beberapa hal yang disampaikan Paulus didalam pelayanannya, tetapi
untuk kepentingan tema kita, poin2 diatas sudah cukup.
Kita akan membahasnya satu persatu secara ringkas untuk dapat
melihat keunikan berita yang disampaikan Paulus kepada bangsa2 lain.
Sebenarnya, bagi Injil Paulus, tidak ada lagi perbedaan antara bangsa Yahudi
maupun bangsa2 lain, karena semuanya satu didalam Kristus.
Saat ini kita akan membahas Injil Paulus mengenai pembenaran (justification), pengudusan
(sanctification), dan pemuliaan (glorification). Paulus menguraikan hal ini dengan sistematis dalam
suratnya kepada jemaat di Roma. Didalam surat Roma terdapat 9 kali istilah
Injil, diantaranya Injil Elohim, Injil AnakNya, dan juga Injil Kristus. Didalam
surat Roma, Paulus menjelaskan Injilnya melalui tema kebenaran Elohim, karena demikianlah tema utama surat ini.
Kebenaran adalah suatu kondisi atau kualitas yang bersesuaian
dengan standard tertentu. Karenanya, kebenaran Elohim adalah suatu standart
atau kualitas Elohim. Jika seseorang mau berkenan kepada Elohim dan
diselamatkan, maka ia harus mencapai standard kebenaran Elohim. Paulus dengan
tegas menyatakan bahwa kebenaran Elohim tidak mungkin dicapai melalui ketaatan
kepada hukum Taurat. Khabar baiknya adalah kebenaran Elohim dapat diterima
melalui iman dalam Kristus Yesus.
Paulus menjelaskan iman dalam Kristus sebagai berikut, “…bertolak dari iman dan memimpin kepada iman…”.
(Roma 1:17). Ungkapan dalam bahasa
Yunaninya adalah ‘ek pisteos eis pistin’
(from faith to faith). Ketika
seseorang dipilih Tuhan, maka ia diberi iman dalam Kristus. Iman disini adalah
energi Kristus yang memampukannya untuk bertindak sesuai iman Kristus yang
telah diberikan, sebab iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati. Selanjutnya,
perbuatan yang lahir dari iman Kristus, akan menyempurnakan iman yang telah ada
sebelumnya. Proses ini berlangsung terus. Iman yang ada menghasilkan perbuatan,
kemudian perbuatan yang lahir dari iman, pada gilirannya akan menyempurnakan
iman yang ada. Demikianlah maksud perkataan Yakobus, “…oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yakobus 2:22).
Proses pertumbuhan iman ini berlangsung terus sampai keselamatan menjadi
sempurna, yaitu pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan.
Mari kita melihat secara ringkas pembenaran karena iman ini. Paulus menjelaskannya mulai dari Roma
3:21 sampai Roma 5:11, yang intinya, kebenaran Elohim diperhitungkan menjadi
milik orang percaya, semata-mata karena iman Kristus. Hasil dari pembenaran ini
adalah hidup dalam damai sejahtera bersama Elohim, beroleh jalan masuk kedalam
kasih karunia, bermegah dalam pengharapan menerima kemuliaan Elohim, bahkan
bermegah dalam kesengsaraan karena kesengsaraan menimbulkan ketekunan, tahan
uji dan pengharapan yang tidak mengecewakan.
Sedangkan, pengudusan
karena iman ini dijelaskan Paulus dari pasal 5:12 sampai pasal 7:26. Inti
dari pengudusan ini adalah kita mati bersama Kristus dan terlepas dari kuasa
dosa sehingga dapat mempersembahkan tubuh kita ini untuk dipakai sebagai
senjata kebenaran. Pengudusan karena iman ini terkait dengan keselamatan tubuh.
Sekalipun memang tubuh jasmani ini akan mati juga karena dosa, namun SAAT INI
tubuh kita sudah dilepaskan dari kuasa dosa dan menjadi hamba kebenaran, dan
dipakai menjadi senjata kebenaran.
Mengenai pemuliaan
karena iman, diuraikan Paulus pada pasal 8:1-30. Pemuliaan karena iman
terkait dengan warisan kita sebagai putera-putera Elohim. Kita akan menerima
warisan kita ini bersama dengan Kristus karena kita telah menderita bersama
dengan Dia. Ketika Kristus datang, maka kita akan menerima warisan kita yaitu
menerima tubuh baru seperti Kristus Yesus, dan juga dimuliakan atau ditampilkan
kepada seluruh makhluk, untuk melayani seluruh makhluk dan melepaskan seluruh
makhluk dari perbudakkan kebinasan (Roma 8:19-21).
Inilah Injil Elohim atau Injil AnakNya, atau juga Injil
Kristus yang diuraikan Paulus dalam surat Roma. Masih ada pewahyuan mengenai
bangsa Israel dalam pasal 9 sampai 11, namun kita tidak membahasnya sekarang.
Telah kita ketahui bahwa Paulus setidaknya memberitakan 4 hal
ini dalam injilnya. Pertama, Paulus memberitakan pembenaran, pengudusan dan
pemuliaan melalui iman, yang mana telah kita uraikan dengan ringkas pada bagian
(7). Kedua, Paulus memberitakan Kristus dalam Injilnya. Ketiga, Paulus
memberitakan gereja sebagai tubuh Kristus. Keempat, Paulus memberitakan
kedatangan Tuhan didalam dan melalui orang2 kudusNya. Saat ini kita akan
membahas bagaimana Paulus memberitakan Kristus dalam injilnya.
Khabar baik yang diberitakan Paulus adalah Kristus. Itu sebabnya Paulus menyebut
injilnya adalah injil Kristus (Roma
15:19; I Korintus 9:12; II Korintus 2:12; 9:13; 10:14; Galatia 1:7; I
Tesalonika 3:2). Paulus menegaskan dalam Kolose 1:27-28 demikian, “… Kristus ada ditengah-tengah kamu (Christ in you –Literal Translation). Kristus
yang adalah pengharapan akan kemuliaan. Dialah yang kami beritakan, apabila
tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala
hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus”.
Mari kita melihat apakah dan siapakah Kristus yang
diberitakan Paulus dalam injilnya. Pertama,
Kristus adalah pengharapan akan kemuliaan, sesuai ayat kita diatas. Ketika
manusia jatuh kedalam dosa, manusia kehilangan atau sangat kekurangan kemuliaan
Elohim (Roma 3:23). Dan Adam mencoba “menutupi”
kehilangan kemuliaan Elohim itu, yang menyebabkan rasa malu, dengan daun pohon
ara (simbol dari kemuliaan manusia). Tetapi Tuhan tidak berkenan, dan
menggantikannya dengan kulit binatang, yaitu korban Kristus Yesus. Paulus
memberitakan Kristus sebagai solusi dari kehilangan kemuliaan Elohim, karena
manusia telah jatuh dalam dosa. Dan Kristus yang diberitakan Paulus ada didalam
batin kita. Christ in you, the hope of glory.
Kedua, Kristus adalah korporat (beranggota
banyak). I Korintus 12;12 mengatakan, “Karena
sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota
itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus”.
Kristus disini beranggota banyak, yaitu Kristus kepala (Yesus), dan Kristus
tubuh (gereja). Khabar baiknya adalah didalam Kristus, kita sudah dibangkitkan
dan diberi tempat bersama-sama dengan Dia di sorga (Efesus 2:6).
Ketiga, Kristus adalah Hayat kita. Kolose
3:4 mengatakan, “Apabila Kristus, yang
adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama
dengan Dia dalam kemuliaan”. Yesus berkata Aku datang supaya mereka
mempunyai hayat (zoe = jenis hidup Elohim). Dengan Kristus sebagai hayat kita,
maka kita dapat mengenal Bapa dan Yesus Kristus yang diutusnya, dengan benar
(Yohanes 17:3). Melalui hayat, kita bisa berfellowship dan menikmati Dia secara
pribadi. Didalam hayat ini juga terdapat kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri
Kristus. Dan apabila Kristus yang adalah hayat kita ini, menyatakan diri kelak
(kedatanganNya di akhir zaman), kita juga akan menyatakan diri bersama dengan
Dia dalam kemuliaan Elohim (Roma 8:19-21).
Keempat, Kristus semua dalam semua. Kolose
3:11 menegaskan, “… tetapi Kristus adalah
semua dan didalam segala sesuatu” (the
all and in all – Christ. Young’s Literal Translation). Kristus
adalah semua didalam semua. Mari kita bandingkan ungkapan ‘semua dalam semua’
ini dengan I Korintus 15:28, “… Elohim
dapat menjadi semua dalam semuanya” (ILT). Dalam I Korintus 15 ini terlihat
jelas bahwa kondisi ‘Elohim dapat menjadi semua dalam semua’ terjadi SETELAH
MUSUH TERAKHIR DITAKLUKKAN, YAITU MAUT. Upah dosa adalah maut. Kristus akan
menaklukkan segala sesuatu, termasuk maut, sehingga Kristus dapat menjadi semua
dalam semua. Kristus kepala dan Kristus tubuh akan menaklukkan segalanya…
sampai Kristus menjadi semua dalam semua.
Pemberitaan injil Paulus selanjutnya adalah gereja sebagai tubuh Kristus. Telah kita singgung bahwa jemaat2 yang didirikan
Paulus dan timnya memiliki keunikannya sendiri. Bahkan didalam I Korintus
11:16, Paulus membedakan jemaat2 yang dilayani oleh Petrus dan timnya, dengan
jemaat2 yang dirintisnya sendiri bersama kawan2nya. Mari kita perhatikan I
Korintus 11:16, “Akan tetapi, jika
seseorang cenderung untuk berdebat, KAMI maupun GEREJA-GEREJA ELOHIM tidak
mempunyai kebiasaan seperti itu (ILT)’. Yang dimaksud Paulus ‘GEREJA-GEREJA
ELOHIM’ adalah jemaat orang2 Yahudi yang dilayani oleh Petrus dan timnya.
Keunikan jemaat yang dirintis Paulus adalah tidak ada lagi
perbedaan antara Yahudi dan non Yahudi atau bangsa2 lain. Tembok pemisah, yaitu
hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, ‘telah dibatalkan’
melalui kematian Yesus, dan sekarang keduanya (Yahudi dan non Yahudi) menjadi
satu manusia baru didalam Kristus (Efesus 2:14-15). Ungkapan ‘telah dibatalkan’
yang ada dalam Efesus 2:15, berasal dari istilah Yunani ‘katargeo’, yang berarti ‘to
make inactive’ atau ‘to make of no
effect’. Artinya, sekalipun memang ada perbedaan bangsa Yahudi dan bangsa2
lain, karena adanya hukum Taurat bagi bangsa Yahudi, namun perbedaan itu dibuat
tidak ada efeknya, atau dibuat tidak aktif (inactive). Jadi, dalam injil
Paulus, gereja adalah tubuh Kristus dimana tidak ada perbedaan Yahudi dan non
Yahudi.
Gereja adalah tubuh dengan banyak anggota, artinya gereja
adalah organisme yang hidup. Paulus tidak pernah bermaksud menyatakan bahwa
gereja adalah ribuan organisasi (denominasi) seperti yang ada sekarang ini.
Saya akan mulai menjelaskan dengan ringkas maksud Paulus dengan gereja adalah
organisme, dan kemudian kita akan melihat mengapa organisme yang mula2 itu
berubah, atau lebih tepat, pecah menjadi ribuan organisasi seperti sekarang
ini.
Gereja sebagai organisme mempunyai para pemimpin organismenya
juga. Kolose 2:19, berkata, “Dan yang
tidak berpegang teguh pada kepala, yang dari padaNya seluruh tubuh, melalui
sendi-sendi dan urat-urat, karena ditunjang dan diikat bersama, tumbuh dengan
pertumbuhan yang dari Elohim” (ILT). Mari kita perhatikan baik2 ayat ini,
karena ayat ini berbicara soal otoritas organisme, pertumbuhan organisme, dan
juga para pemimpin organismenya.
Pertama, otoritas organisme ini jelas adalah
kepala. Kristus Yesus sebagai kepala berotoritas atas gereja sebagai tubuhNya.
Atau lebih jelas, Kristus Yesus sebagai hayat organisme (I am the life), hayat Kristus inilah yang memiliki otoritas atas organisme. Kedua, pertumbuhan organisme ini
dijelaskan oleh ayat kita diatas dengan ungkapan ‘tumbuh dengan pertumbuhan
yang dari Elohim’. Ungkapan bahasa aslinya adalah, ‘auxano ho auxesis ho theos’, yang artinya ‘increase with the increase of God’ (Young’s Literal Translation).
Jadi, terjemahan bahasa Indonesia yang tepat dari ungkapan ini adalah ‘bertumbuh
dengan pertumbuhan Elohim’. Pertumbuhan Elohim disini bukan berarti
Tuhan bertumbuh didalam organisme, melainkan HAYATNYA BERTUMBUH DIDALAM
ORGANISME. Jadi, pertumbuhan organisme adalah pertumbuhan Hayat. Ketiga,
para pemimpin organisme ini disebut dengan istilah, ‘sendi-sendi dan urat-urat’. Sendi-sendi dan urat-urat ini tidak
memiliki otoritas atas organisme, karena otoritas organisme itu adalah Hayat Kristus.
Kalau kita perhatikan ayat diatas baik-baik, maka kita dapat melihat bahwa
peran ‘sendi-sendi dan urat-urat’ ini
hanyalah sebagai SALURAN HAYAT KRISTUS.
Jika, para pemimpin organisme ini berfungsi dengan baik, dan
melaluinya hayat Kristus mengalir kedalam tubuh, maka tubuh akan mengalami
pertumbuhan yang normal. Selanjutnya, kita lihat dari ayat ini peran pemimpin
organisme sebagai yang ‘menunjang (mensuplai) dan mengikat’ tubuh sehingga
tubuh tidak terpecah dan dapat bertumbuh dengan baik. Hal seperti ini tidak
terjadi bagi para pemimpin organisasi (denominasi) yang justru memecah tubuh
Kristus.
Kristus inilah yang diberitakan Paulus dalam injilnya.
Ungkapan yang paling sering dipakai Paulus adalah DIDALAM KRISTUS. Didalam
Kristus, kita sudah diberkati, dipulihkan, diberi tempat dialam sorgawi.
Didalam Kristus ini ada sukacita, ada penghiburan, dan ada segala sesuatu yang
kita butuhkan. Haleluyah…
Telah kita bahas bahwa gereja adalah organisme, dimana
istilah yang Paulus pakai adalah tubuh, atau tubuh Kristus. Berdasarkan Kolose
2:19, telah kita lihat peran pemimpin organisme sebagai yang menyalurkan hayat
Kristus, menunjang, mensuplai, dan mengikat tubuh menjadi satu, sekalipun
terdapat banyak anggota. Saat ini kita akan membahas mengapa gereja yang adalah
organisme atau tubuh, sekarang telah terpecah-pecah menjadi ribuan organisasi,
atau denominasi.
Banyak orang, termasuk para pemimpin denominasi, sudah tidak
mempermasalahkan lagi hal ini. Bahkan sudah diajarkan bahwa gereja memiliki dua
aspek, yaitu yang kelihatan, itulah ribuan denominasi yang bisa kita lihat. Dan
aspek yang tidak kelihatan, yaitu semua anak2 Tuhan yang sejati dimuka bumi ini,
yang mana hanya Tuhan yang tahu mengenai mereka. Ajaran visible (terlihat) dan invisible
(tak terlihat) church ini telah
dimulai oleh Martin Luther, seperti
diuraikan oleh Prof. L. Berkhof
dalam bukunya yang sangat terkenal itu, Systematic
Theology, halaman 560-564. Pandangan ini bukan saja diterima oleh hampir
semua pemimpin denominasi, tetapi juga diajarkan di sekolah2 Teologi di seluruh
dunia. Tetapi, mari kita melihat apa kata Alkitab mengenai ribuan denominasi
ini. Mengapa gereja yang tadinya organisme dan tidak terpecah-pecah, kemudian
pecah menjadi ribuan denominasi…
Kisah Para Rasul 20:28-30, mencatat, “Jadi, jagalah dirimu sendiri dan seluruh kawanan yang atasnya Roh Kudus
telah menempatkan kamu sebagai penilik, untuk menggembalakan jemaat Elohim yang
telah Dia dapatkan melalui darahNya sendiri. Sebab aku mengetahui hal ini,
bahwa setelah kepergianku, serigala-serigala ganas akan masuk kepada kamu
dengan tidak menyayangkan kawanan itu. Bahkan, dari antara kamu sendiri akan
muncul orang-orang yang berbicara hal-hal yang menyesatkan untuk menarik para
murid mengikuti mereka” (ILT). Dalam perjalanannya ke Yerusalem, Paulus
menyempatkan diri bertemu di Miletus, dengan para pemimpin gereja di Efesus.
Disini Paulus menegaskan bahwa setelah kepergiannya akan datang
serigala-serigala ganas, tentunya iblis dan roh2 jahat, yang menyerang para
pemimpin sehingga para pemimpin, atau lebih tepat, beberapa pemimpin akan
melakukan dua hal. Pertama,
berbicara hal-hal yang menyesatkan. Kedua,
memiliki satu tujuan, yaitu, menarik murid2.
Mari kita lihat dahulu hal pertama. Menyesatkan disini
berasal dari istilah Yunani, ‘diastrepho’,
yang berarti, ‘menyimpangkan’ atau ‘salah menafsirkan’. Jika kita melihat
karakteristik guru palsu dalam surat Yudas 4, tertulis, “… menyelewengkan anugerah Elohim kita ke arah rangsangan badani”
(ILT). Guru-guru palsu itu selalu berbicara kebaikan Tuhan, kasih karunia
Tuhan, anugerah Tuhan, TETAPI DIARAHKAN KEPADA ATAU DISIMPANGKAN KEPADA
perkara2 jasmani, bahkan perkara-perkara duniawi yang membangkitkan hawa nafsu.
Guru-guru palsu ini selalu berbicara kemakmuran, kesehatan, kekayaan, dan
kesuksesan duniawi. Sementara itu Alkitab berkata, bahwa kerajaan sorga
bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal damai sejahtera dalam batin. Christ
in you, the hope of glory. The kingdom of God is within you.
Ini bukan berarti Tuhan tidak perduli dengan kebutuhan jasmani kita. Tetapi
carilah dahulu kerajaan sorga, carilah dahulu kesuksesan batiniah, damai
sejahtera, sukacita Kristus dalam batin. Tentu Tuhan perduli dengan kebutuhan
makan, minum, dan pakaian kita.
Memang dibutuhkan kepekaan rohani untuk membedakan guru2
palsu yang fokus kepada perkara2 jasmaniah, dan guru2 sejati yang menekankan
kerajaan sorga didalam batin. Karena tidak ada orang yang begitu bodoh dengan
membuat uang palsu BERBEDA SEKALI dengan uang asli. Tetapi umat pilihan Tuhan,
yang bukan saja dipanggil tetapi dipilih
juga, pasti diperlengkapi dengan ‘urapan
didalam batin’ sehingga dapat membedakan mana yang palsu, dan mana yang
sejati.
Selanjutnya, hal kedua, Paulus dengan tegas berkata bahwa
tujuan para pemimpin palsu atau para gembala palsu ini adalah menarik murid2
kepada diri mereka sendiri. Tentu bukan saja menarik murid2 tetapi juga menarik
uangnya dengan ajaran palsu persepuluhan, buah sulung, janji iman, atau yang
lainnya.
Inilah serigala ganas yang telah mencabik-cabik gereja (tubuh
= organisme) menjadi ribuan denominasi, atau organisasi. Masing2 pemimpin
palsu, dengan ajaran palsu, menarik murid2 kepada diri mereka sendiri, dan
dengan demikian membangun kerajaan sendiri, dan bukan membangun gereja, yang
adalah tubuh, atau organisme.
Sudahkah sdr/i melihat mengapa gereja yang tadinya organisme
atau tubuh Kristus, sekarang telah menjadi ribuan denominasi? Inilah rahasia injil Paulus, dimana ia dengan
terus terang dan tegas membeberkan penyebab kejatuhan gereja.
Saat ini, kita masih akan berbicara mengenai poin ketiga
pemberitaan injil Paulus, yaitu mengenai gereja, sebagai tubuh Kristus,
khususnya para pemimpinnya. Gereja-gereja yang dirintis Paulus digembalakan
oleh suatu tim kepemimpinan, yang disebut para penatua atau para penilik. Jadi,
Paulus dan kawan2nya merintis gereja-gereja ditiap kota, dan kemudian
menetapkan para penatua untuk menggembalakannya, yang juga dibantu oleh para
diaken.
Ada dua istilah Yunani untuk penatua atau penilik ini.
Pertama, ‘presbuteros’, yaitu
seorang yang dewasa, baik kerohaniannya dan juga usianya. ‘Presbuteros’ ini
sering diterjemahkan ‘tua-tua’, atau ‘penatua’ atau ‘elders’ dalam berbagai
versi bahasa Inggris. Kedua, ‘episkopos’,
yang berasal dari dua akar kata, yaitu, ‘epi’,
artinya ‘diatas’, kemudian ‘skopos’, artinya ‘melihat’. Jadi, ‘episkopos’
adalah seorang yang dapat ‘melihat dari
atas’, artinya memiliki penglihatan rohani sehingga dapat menjaga kawanan
domba dari serangan2 serigala ganas. ‘Episkopos’ ini sering diterjemahkan
‘penilik’ atau ‘bishop’, atau ‘overseer’ dalam berbagai versi bahasa Inggris.
Dua istilah Yunani ini bukan menunjuk kepada dua orang yang
berbeda, melainkan orang yang sama, dimana yang satu berbicara fungsinya, yaitu
‘melihat dari atas’, dan yang kedua
berbicara orangnya, yaitu ‘dewasa rohani
dan sudah senior’. Hal ini terlihat jelas karena kedua istilah Yunani ini
digunakan secara bergantian. Satu contoh yang jelas dapat kita lihat dalam
Titus 1:5-7, demikian tertulis, “…. mengangkat
para tua-tua (presbuteros) di setiap kota… Sebab seorang penilik (episkopos)
jemaat…’ (ILT). Jadi, karena
digunakan secara bergantian, maka hal ini jelas membuktikan bahwa presbuteros itu SAMA DENGAN episkopos.
Tetapi ada seorang yang bernama Ignatius (117 M.), seorang bishop dari gereja di Antiokhia, yang
menegaskan bahwa harus ada seorang ‘bishop’ yang memimpin satu jemaat di satu
lokal agar menghindari perpecahan dan menjamin bahwa ajaran sehat tetap
terpelihara (The History of Christianity, halaman 83). Namun, justru ajaran
Ignatius ini yang menyebabkan adanya persaingan antara satu bishop (uskup)
dengan bishop (uskup) lainnya dikota berbeda, sehingga ada ‘bishop agung’ atau
‘uskup agung’. Kemudian para ‘uskup agung’ ini bertarung lagi, dan muncul
‘kardinal’ yang memimpin para ‘uskup agung’. Kemudian terjadi lagi persaingan
antara para ‘kardinal’ dan muncul ‘paus’ yang memimpin para ‘kardinal’. Pada
abad ke 6, hierarki telah sepenuhnya
masuk kedalam gereja, dan ini disebut gereja
Katolik. Tidak lama kemudian, gereja masuk kedalam zaman, yang dalam
sejarah gereja, disebut zaman kegelapan gereja. Kita akan membahas lebih jauh
lagi mengenai ‘hierarki’ ini dalam
pembahasan rahasia injil Yohanes.
Kita sudah membahas mengenai kejatuhan gereja, yang adalah
organisme, kemudian menjadi ribuan denominasi karena serangan serigala ganas
terhadap para penatua (Kis. 20:28-30). Kita juga telah melihat pada uraian
diatas bagaimana ‘hierarki’ masuk
kedalam gereja sehingga menyebabkan gereja masuk kedalam zaman kegelapannya.
Sebenarnya, trilogi ajaran sesat, yaitu ajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus ini
yang menjelaskan dengan tuntas mengenai kejatuhan gereja. Tetapi kita akan
menguraikannya nanti ketika kita sampai pada pembahasan rahasia injil Yohanes.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kejatuhan gereja itu dimulai
oleh para pemimpinnya. Para pemimpin gereja inilah yang pertama diserang oleh
serigala ganas. Para pemimpin gereja inilah yang lebih dahulu memecah tubuh
Kristus sehingga menjadi ribuan keping denominasi.
Kita masih meneruskan pembahasan kita mengenai kepemimpinan
gereja, khususnya didalam komunitas Paulus. Telah kita lihat bahwa
‘presbuteros’ itu sama dengan ‘episkopos’ karena dipakai secara bergantian.
Tetapi ada seorang yang bernama Ignatius (117 M.), seorang bishop dari gereja
di Antiokhia, yang menegaskan bahwa harus ada seorang ‘episkopos’ (Bishop =
Uskup) yang memimpin satu jemaat di satu lokal agar menghindari perpecahan dan
menjamin bahwa ajaran sehat tetap terpelihara (The History of Christianity,
halaman 83). Namun, justru ajaran Ignatius ini yang menyebabkan adanya
persaingan antara satu Bishop disatu kota dengan Bishop dikota lainnya yang
pada akhirnya melahirkan atau mendatangkan ‘hierarki’ didalam gereja.
Mari kita melihat lebih jauh lagi tentang ‘hierarki’ ini.
‘Hierarki’ berasal dari istilah Yunani, ‘hierarchia’,
atau ‘hierarches’, yang artinya ‘pemimpin ritus suci, atau imam agung’. Didalam kamus2, ‘hierarki’ berarti suatu sistem, khususnya dalam masyarakat atau organisasi, dimana
orang2 disusun kedalam tingkat kepentingan yang berbeda dari yang paling tinggi
sampai kepada yang paling rendah. Jadi, jika gereja yang adalah organisme,
dimana orang2 atau anggota2nya disusun menjadi suatu tubuh dengan hayat tubuh
itu sebagai otoritasnya yang mengatur keseluruhan tubuh, maka ketika ‘hierarki’ masuk, otoritas didalam tubuh
itu bukan hayat tubuh itu lagi, melainkan ‘orang yang tertinggi’ didalam
susunan suatu sistem (baca: organisasi). Dengan demikian, yang mengatur gereja
bukan lagi hayat tubuh, melainkan ‘orang yang tertinggi’ didalam suatu sistem
(organisasi gereja), entahkah ‘orang yang tertinggi’ ini disebut ‘pemimpin
ritus suci’, atau ‘imam agung’ atau ‘pendeta senior’ atau ‘gembala sidang’ atau
apapun juga, yang jelas gereja tidak lagi diatur oleh hayat yang
adalah Kristus Yesus sendiri (I am the Life), melainkan diatur oleh seorang
manusia. Yang terjadi sesungguhnya adalah PERAMPASAN OTORITAS GEREJA
OLEH PEMIMPIN. Otoritas Yesus atas gereja telah dirampas oleh pemimpin.
Mari kita belajar dari kepemimpinan komunitas Petrus. Kitab
Matius merupakan khabar baik kerajaan sorga yang disampaikan oleh Yesus dan
Yohanes Pembaptis kepada bangsa Yahudi. Didalam Matius 23:1-12, ada tertulis, “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak
dan kepada murid2Nya, kataNya: ‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah
menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang
mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan
mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya ….. Tetapi kamu,
janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah
saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa dibumi ini, karena hanya
satu Bapamu, yaitu Dia yang disorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin,
karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias, Barangsiapa terbesar diantara kamu,
hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan
direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”.
Dari ayat diatas, jelas bahwa didalam gereja tidak ada ‘kursi Musa’. Dalam komunitas Yahudi
dibawah Perjanjian Lama, seperti yang terjadi pada ahli2 Taurat dan orang2 Farisi,
memang mereka menduduki ‘kursi Musa’,
dan karenanya mereka memiliki otoritas atas bangsa Yahudi. Yesus mengajarkan
kepada orang banyak agar jangan memberontak kepada “otoritas Musa” yang dimiliki oleh ahli Taurat dan orang2 Farisi.
Kata Yesus, “turuti apa yang mereka
ajarkan…tetapi jangan turuti perbuatan2 mereka…”. Namun, ketika Yesus
berbicara kepada murid2Nya, Ia berkata, “Tetapi
kamu …jangan kamu disebut Rabi,
pemimpin atau bapa…. KAMU SEMUA ADALAH SAUDARA”. Apakah didalam gereja
tidak ada pemimpin? Tentu ada, tetapi para pemimpin tidak mempunyai otoritas
atas gereja. Apakah tidak ada Rabi dalam gereja? Tentu saja ada, tetapi tidak
ada otoritas apapun yang dimiliki oleh pengajar. Apakah tidak ada bapa dalam
gereja? Tentu ada bapa2 rohani dalam gereja, tetapi mereka tidak mempunyai
otoritas apapun atas gerejaNya. Tegasnya, TIDAK ADA “KURSI MUSA” DIDALAM
GEREJA. Otoritas dalam gereja dipegang LANGSUNG oleh Yesus, dan Yesus memimpin
LANGSUNG gerejaNya melalui RohNya (Life giving Spirit = Roh pemberi Hayat).
Tidak ada istilah ‘delegated authority’
atau ‘otoritas terdelegasi’. Istilah
ini hanya ada dalam konteks ‘hierarki’
atau konteks organisasi. YESUS TIDAK PERNAH MENDELEGASIKAN OTORITASNYA ATAS
GEREJA. Para pemimpin denominasi TELAH MERAMPAS OTORITAS YESUS ATAS GEREJANYA.
Orang2 yang meninggikan diri ini akan direndahkan kelak ketika Yesus datang
kebumi untuk menegakkan kerajaanNya (ayat 12).
Jadi, kepemimpinan organisme itulah yang benar, karena gereja
memang adalah organisme. Para pemimpin organisme tidak mempunyai otoritas
apapun atas tubuh. Mereka adalah “urat2
dan sendi2” yang belajar menyalurkan hayat, belajar mensuplai gereja, dan
mengikat anggota2 tubuh menjadi satu (Kolose 2:19). Tetapi para pemimpin
denominasi adalah orang2 yang meninggikan diri dan merampas otoritas Yesus atas
gerejaNya, serta memecah belah tubuh Kristus.
Saat ini, kita akan membahas poin terakhir dari injil Paulus,
yaitu kedatangan Tuhan didalam dan
melalui gereja pemenang. Mengenai tema ‘kedatangan Tuhan’, saya telah
menulisnya, dan bagi sdr/i yang berminat, silahkan kontak saya. Tetapi saat ini
kita perlu menekankan beberapa hal dalam topik ini.
Pertama, jika seseorang mau memahami topik
ini, maka ia harus sangat memperhatikan konteks, dalam hal ini konteks
Perjanjian. Sifat dasar PL adalah nubuat, bayangan, dan lambang. Sedangkan PB
adalah penggenapannya, wujud dari bayangan PL, serta realita dari yang dilambangkan
oleh PL. Mari kita perhatikan Kolose 2:16-17, “… mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru
ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang,
sedang wujudnya ialah Kristus”. Prinsip konteks Perjanjian juga terlihat
dalam I Korintus 15:46, “Tetapi yang
mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah
datang yang rohaniah”. Maksudnya, PL adalah alamiah (jasmani, natural), PB
adalah rohaniah (spiritual, rohani).
Kedua, seseorang harus memahami apa maksud
Paulus dengan istilah Kristus. Kita sudah membahas maksud Paulus dengan istilah
Kristus pada tulisan sebelumnya. Kristus itu suatu istilah yang ada didalam
dimensi sorgawi. Kristus itu adalah tubuh beranggota banyak. Kristus itu adalah
kerajaan di-alam sorgawi yang akan termanifestasi kelak dibumi. Kristus itu
didalam kita sebagai hayat, dalam arti Kristus memerintah melalui batin kita.
Jika seseorang tidak memahami hal ini, maka dia akan
mengajarkan kedatangan Tuhan secara jasmani. Inilah yang terjadi didalam dunia
kekristenan, pada umumnya. Ajaran ‘rapture’,
dimana konon kita akan diangkat secara jasmani ke awan2 entah dimana. Kemudian,
ada lagi ajaran ‘kedatangan Tuhan kedua
kali’, karena kedatangan Yesus pertama kali itu kedatangan jasmani, maka
kedatangan Yesus kedua kali itu pasti jasmani juga. Sementara didalam Alkitab
tidak ada ungkapan ‘kedatangan kedua
kali’. Namun hal ini dipercaya oleh mayoritas dalam dunia kekristenan dan
juga barangkali dinanti-nantikan oleh orang banyak. Tidak ada ungkapan ‘datang
kedua kali’ didalam Alkitab. Dibalik
ungkapan ‘datang kedua kali’ terdapat konsep kedatangan Tuhan yang jasmani, dan
hal ini bertentangan dengan prinsip PB yang spiritual.
Mari kita melihat 6 istilah Yunani untuk ‘kedatangan’ agar
kita memahami bahwa konsep kedatangan Tuhan yang jasmani itu keliru. Keenam
istilah Yunani itu adalah, pertama,
PAROUSIA. Istilah ini muncul 24 kali dalam PB dan ia berasal dari kata kerja
PAREMI, yang berarti ‘to be present’ (hadir). Kata bendanya berarti kehadiran
(presence). PAROUSIA tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya
seseorang, tetapi menunjukkan kehadiran seseorang yang sudah datang. Penggunaan
istilah PAROUSIA didalam PB juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan
secara fisik. Jadi, istilah Parousia berarti kehadiran. Dimana 2 atau 3 orang
berkumpul dalam namaNya, disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah
KEDATANGANNYA.
Istilah Yunani kedua,
APOKALUPSIS. Istilah ini berasal dari kata kerja APOKALUPTO yang berarti
‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu
penyingkapan dari seseorang yang tadinya terselubung.
Istilah Yunani ketiga
adalah EPIPHANEIA. Istilah ini muncul sebanyak 6 kali dalam PB. Istilah ini
berasal dari kata kerja yang berarti ‘membawa kepada terang’ atau ‘tersingkap’.
Kata bendanya berarti ‘manifestasi’. Istilah ini digunakan untuk mengungkapkan
kemuliaan dan kemegahan yang termanifestasi oleh kedatangan Tuhan.
Istilah Yunani keempat,
PHANEROO. Istilah ini berarti membuat nyata atau menjadi nampak. Namun bukan
berarti kehadiran yang terlihat mata, tetapi suatu persepsi.
Istilah Yunani kelima
adalah ERCHOMAI. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan tindakan actual dari
suatu kedatangan. Istilah ini tidak sama artinya dengan PAROUSIA yang berarti
kehadiran seseorang yang telah datang. ERCHOMAI digunakan dalam Wahyu 1:7,
“Lihatlah, Ia datang (SUATU TINDAKAN DATANG) dengan awan-awan…”.
Istilah Yunani keenam
adalah HEKO. Kata ini menekankan kedatangan pada suatu tempat tertentu. Kata
ini terdapat dalam Wahyu 2:25, “Tetapi
apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku DATANG”.
Sudah tentu bahwa keenam istilah Yunani ini bukan berarti ada
enam jenis berbeda dari kedatangan Tuhan, tetapi penggunaan yang berbeda dari
istilah ini membuat kita memahami makna yang dimaksud suatu teks yang berbicara
tentang kedatangan Tuhan. Tetapi untuk saat ini cukuplah kita pahami bahwa
kedatangan Tuhan itu TIDAKLAH HARUS BERBENTUK KEDATANGAN SECARA FISIK.
Kita telah membahas poin terakhir injil Paulus yaitu mengenai
kedatangan Tuhan didalam dan melalui gereja pemenang. Telah kita singgung
mengenai 6 istilah Yunani yang sering diterjemahkan ‘kedatangan’, dan telah
kita lihat bahwa keenam istilah Yunani itu menegaskan bahwa kedatangan Tuhan
itu tidaklah harus berbentuk kedatangan secara fisik. Jika kita sudah mengerti
hal ini dengan baik, maka kita dapat memahami kedatangan Tuhan melalui dan
didalam gereja pemenang seperti tertulis dalam Roma 8:19-21.
Mari kita lihat Roma 8:19-21, dalam versi ILT (Indonesian
Literal Translation), “Sebab kerinduan
yang dalam dari makhluk ciptaan menanti dengan sangat penyingkapan anak-anak
Elohim karena makhluk ciptaan telah ditundukkan kepada kesia-siaan, bukan
karena kehendaknya sendiri tetapi karena Dia yang telah menundukkannya atas
dasar pengharapan, bahwa makhluk ciptaan itu sendiri juga akan dimerdekakan
dari perbudakkan kebinasaan kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim”.
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar memahami maksud ayat ini.
Pertama, mari kita kembali melihat konteks
dari Roma 8:19-21. Kita telah membahas keselamatan yang Paulus uraikan dalam
surat Roma ini. Paulus menguraikan pembenaran
karena iman, dari Roma 3:21 s/d 5:11. Kemudian, pengudusan karena iman, dari pasal 5:12 s/d 7:26. Selanjutnya, pemuliaan karena iman (8:1-30). Konteks
Roma 8:19-21 diatas masuk dalam pembahasan mengenai pemuliaan karena iman.
Pemuliaan karena iman terkait dengan warisan kita sebagai putera-putera Elohim.
Kita akan menerima warisan kita ini bersama dengan Kristus karena kita telah
menderita bersama dengan Dia. Ketika Kristus datang, maka kita akan
menerima warisan kita yaitu menerima tubuh baru seperti Kristus Yesus, dan juga
dimuliakan atau ditampilkan kepada seluruh makhluk. Jadi, ketika
terjadi pemuliaan, kita akan menerima tubuh baru seperti Kristus Yesus.
Kedua, siapakah anak-anak Elohim didalam
ayat kita diatas? Kita tahu gereja telah jatuh, dan pecah menjadi ribuan
denominasi yang disebabkan oleh para pemimpinnya, dimana dengan ajaran palsu
menarik murid2 kepada diri mereka sendiri (Kis. 20:29-30). Selanjutnya, para
pemimpin ini mengajarkan atau mempraktekkan tiga ajaran palsu, yaitu ajaran
Izebel, Bileam dan Nikolaus (Wahyu 2-3). Kita tidak membahas hal ini lebih
jauh, yang jelas sejak kejatuhan gereja, Tuhan memanggil para pemenangNya,
sebagai representatif bagi gerejaNya. Para pemenangNya, sebagai
representatif gereja inilah yang disebut anak-anak Elohim pada ayat kita
diatas, yang telah dewasa dan dimanifestasikan kepada seluruh makhluk.
Ketiga, istilah ‘penyingkapan’ pada ayat kita diatas berasal dari istilah Yunani ‘apokalupsis’. Istilah Yunani ini telah
kita bahas sebelumnya yang terkait dengan kedatangan Tuhan. Istilah Yunani
‘apokalupsis’ ini berasal dari kata kerja ‘apokalupto’ yang berarti
‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu
penyingkapan dari seseorang yang tadinya terselubung. Kolose 3:4 berkata, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita,
menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam
kemuliaan”. Dan Kolose 3:3, menegaskan, “…hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus…”. Christ in you, the hope of glory.
Apabila Kristus yang “tersembunyi’ ini tampil, maka inilah makna kedatangan
Tuhan didalam dan melalui gereja pemenang.
Keempat, poin terakhir yang harus kita
pahami adalah kedatangan Tuhan didalam dan melalui para pemenangNya, atau
didalam dan melalui anak-anak Elohim, bertujuan untuk membebaskan seluruh
ciptaan dari perbudakkan kebinasaan, agar masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan
anak-anak Elohim. Jadi, kita tidak diangkat kesorga nun jauh disana, tetapi kita
akan dimanifestasikan kepada seluruh makhluk dibumi ini untuk memerdekakan
seluruh ciptaan.
Demikianlah makna dan tujuan kedatangan Tuhan didalam dan
melalui gereja pemenang seperti dinyatakan dalam Roma 8:19-21. Selanjutnya,
kita akan membahas rahasia injil menurut Rasul Yohanes, dan ini merupakan
bagian terakhir dari trilogi rahasia injil.
Sekarang kita masuk kepada rahasia Injil yang diberitakan
oleh Rasul Yohanes dan timnya kepada gereja yang telah jatuh/menyimpang pada
zamannya, terutama kepada tujuh gereja di Asia Kecil. Untuk memahami rahasia
injil yang diberitakan Rasul Yohanes, maka kita harus memiliki perspektif
(sudut pandang) ‘Patmos’, artinya
kita harus memandang tulisan2 Rasul Yohanes (injil, surat2 dan kitab Wahyu)
dari sudut pandang ‘pengucilan’.
Rasul Yohanes dikucilkan karena firman Tuhan, di pulau Patmos oleh gereja2 yang
telah jatuh. (Wahyu 1:9).
Banyak orang, bahkan ahli2 Teologi Perjanjian Baru, tidak
memiliki sudut pandang ‘Patmos’.
Buku2 Teologi PB, yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan yang
diajarkan disekolah2 Teologi, seperti yang ditulis oleh Donald Guthrie (penerbit BPK Gunung Mulia), Leon Morris (penerbit Gandum Mas), George Eldon Ladd (penerbit Kalam Hidup), bahkan tafsiran injil
Yohanes, pilihan penerbit Momentum, yang ditulis oleh Herman N. Ridderbos, juga tidak melihat perspektif ‘Patmos’. Tentu saja, semua buku Teologi
yang saya sebut diatas tidak memilah kitab2 Perjanjian Baru menurut prinsip
Trilogi.
Saya memulai tulisan singkat mengenai rahasia injil yg
diberitakan Rasul Yohanes ini dengan menyebut para ahli Perjanjian Baru diatas,
karena menurut saya, jika seseorang tidak memiliki perspektif ‘Patmos’, maka ia belumlah dapat
dikatakan memahami ‘rahasia injil’
Yohanes. Justru didalam perspektif ‘Patmos’
(pengucilan), maka seseorang dapat memahami rahasianya.
Tetapi masalahnya, jika seseorang tidak mengalami pengucilan
oleh gereja yang telah menyimpang menjadi ribuan denominasi ini, maka ia tidak
mempunyai pengalaman seperti yang rasul Yohanes alami, dan karenanya ia tidak
dapat memahami rahasia injilnya. Dalam perkara rohani, pengalaman seseorang
akan menentukan pemahamannya. Perkara rohani bukan soal akal saja, bukan soal
sekolah Teologi saja, tetapi pengalaman bersama Tuhan akan sangat menentukan.
Baiklah kita tinggalkan “para ahli” PB diatas, dan kita akan memulai rahasia
injil yang diberitakan Rasul Yohanes dengan melihat kembali didalam Kitab Kisah
Para Rasul, mengapa gereja menyimpang menjadi ribuan denominasi seperti
sekarang ini.
Kisah Para Rasul 20:28-30, mencatat, “Jadi, jagalah dirimu sendiri dan seluruh kawanan yang atasnya Roh Kudus
telah menempatkan kamu sebagai penilik, untuk menggembalakan jemaat Elohim yang
telah Dia dapatkan melalui darahNya sendiri. Sebab aku mengetahui hal ini,
bahwa setelah kepergianku, serigala-serigala ganas akan masuk kepada kamu
dengan tidak menyayangkan kawanan itu. Bahkan, dari antara kamu sendiri akan muncul
orang-orang yang berbicara hal-hal yang menyesatkan untuk menarik para murid
mengikuti mereka” (ILT). Disini Paulus menegaskan bahwa setelah
kepergiannya akan datang serigala-serigala ganas, tentunya iblis dan roh2
jahat, yang menyerang para pemimpin sehingga para pemimpin, atau lebih tepat,
beberapa pemimpin akan melakukan dua hal. Pertama,
berbicara hal-hal yang menyesatkan. Kedua,
memiliki satu tujuan, yaitu, menarik murid2 kepada diri mereka sendiri, serta
membangun denominasi atau kerajaan sendiri.
Rasul Yohanes menjelaskan bahwa ada tiga ajaran palsu yang
menyebabkan gereja pecah menjadi ribuan denominasi seperti sekarang ini. Pertama, ajaran Nikolaus (Wahyu 2:15). Nikolaus berasal dari dua istilah Latin,
yaitu ‘niko’ (menaklukkan) dan ‘laos’ (kaum awam=Laity). Ajaran ini mendukung
tindakan para pemimpin yang menaklukkan kaum awam, sehingga gereja terbelah
menjadi para imam dan umat (untuk Katolik), serta para pendeta dan jemaat
(untuk Protestan). Contoh ajaran Nikolaus ini antara lain, penundukkan diri
palsu kepada pemimpin, ajaran ‘tudung rohani’, dan ajaran2 sejenisnya yang
memaksa jemaat taat kepada pemimpin.
Kedua, ajaran Bileam. Ajaran Bileam mendukung para pemimpin untuk mendapat uang
dari jemaat. Sistem gaji, Persepuluhan, Buah sulung, Janji iman dan lainnya,
merupakan ajaran Bileam yang sangat popular dikalangan kekristenan. Ajaran
Bileam ini juga mendukung perdagangan di dalam gereja. Mulai dari
memperdagangkan khotbah2, lagu2, buku2, simbol2 kekristenan, dan lain
sebagainya.
Ketiga, ajaran Izebel. Ajaran ini mengatakan bahwa Tuhan menetapkan para pemimpin
untuk menduduki “kursi Musa”
sebagaimana yang dimiliki oleh ahli2 Taurat dan orang2 Farisi dizaman PL
(Matius 23: 1-12). Sementara Yesus menegaskan bahwa didalam gereja ‘kamu semua adalah saudara’. Sebagaimana
Izebel merampas otoritas raja Ahab, suaminya, dalam kasus kebun anggur Nabot,
demikian juga para pemimpin denominasi ‘merampas’ otoritas Yesus atas
gerejaNya.
Saya tahu uraian saya ini tidak akan dipahami oleh para
pemimpin denominasi, sama seperti “para ahli” Teologi yang sudah saya sebut
diatas. Merekalah yang justru mengucilkan umat pilihan Tuhan, sebagaimana ketujuh
gereja di Asia kecil yang mengucilkan rasul Yohanes. Tetapi tidak masalah,
karena saya menuliskan hal ini terutama untuk umat pilihan Tuhan.
Telah kita bahas bahwa jika seseorang tidak memiliki
perspektif ‘Patmos’, maka ia
belumlah dapat dikatakan memahami ‘rahasia
injil’ atau khabar baik Rasul
Yohanes. Justru didalam perspektif ‘Patmos’
(pengucilan), maka seseorang dapat memahami rahasianya. Tetapi, semua ini
tergantung kepada pengalaman seseorang. Saat ini, kita akan melihat bagaimana
pengalaman Rasul Yohanes sendiri.
Pada awalnya, Rasul Yohanes melayani bersama-sama Petrus, dan
menjadi “orang kedua” dibawah kepemimpinan Petrus. Petrus dan Yohanes sama-sama
melayankan atau menawarkan Perjanjian Baru kepada bangsa Yahudi, khususnya
kepada Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin). Kemudian, ketika Petrus keluar dari
Yerusalem, maka kepemimpinannya diteruskan oleh Yakobus. Dan sebagaimana
tradisi menyatakan, bahwa Petrus mati di Roma sekitar tahun 67 M. ketika kaisar
Nero berkuasa. Pada saat Yerusalem dihancurkan oleh Jendral Titus pada tahun 70
M, Rasul Yohanes telah keluar dari Yerusalem, dan menurut tradisi tinggal di
Efesus serta melayani gereja2 di Asia Kecil (Tujuh gereja di Asia Kecil dimana
kitab Wahyu dialamatkan). Tetapi kemudian Rasul Yohanes dikucilkan oleh gereja2
di Asia kecil yang telah menyimpang dari kebenaran. Ada yang berpendapat bahwa
Rasul Yohanes dikucilkan ke pulau Patmos oleh kaisar Roma pada waktu itu.
Walaupun hal ini mungkin terjadi, tetapi Rasul Yohanes sendiri bersaksi bahwa
ia dikucilkan ke pulau Patmos ‘karena
firman Elohim atau berkenaan dengan firman Elohim’ (Wahyu 1:9). Karena
Rasul Yohanes dikucilkan ‘berkenaan
dengan firman Elohim’, artinya, firman Tuhan yang disampaikan oleh rasul
Yohanes tidak dapat diterima oleh tujuh gereja yang telah menyimpang, maka
lebih mungkin jika ketujuh gereja di Asia Kecil yang mengucilkan Rasul Yohanes,
dan bukan kaisar Roma pada waktu itu.
Rasul Yohanes melayani gereja2 yang telah jatuh /menyimpang
di Asia Kecil sekitar tahun 90-95M. Jadi, Rasul Yohanes sudah sangat tua.
Tetapi, Rasul Yohanes mendapat kasih karunia untuk melayani gereja pada
“kesempatan kedua”. Maksudnya, Rasul Yohanes melayani gereja dalam kondisi
gereja tidak seperti pertama kali dilahirkan pada hari Pentakosta. Ketika Rasul
Yohanes melayani gereja bersama Petrus, pada waktu itu, gereja belum menyimpang
oleh tiga ajaran palsu Bileam, Nikolaus, dan Izebel. Tetapi, ketika Rasul Yohanes melayani di Asia Kecil, gereja
telah menyimpang. Oleh kasih karunia Tuhan, Rasul Yohanes kembali mendapatkan
kekuatan untuk melayani gereja, seolah-olah masa mudanya kembali baru.
Saya mencoba menjelaskan pengalaman Rasul Yohanes ini dengan
mengutip Mazmur 103:5, “…sehingga masa
mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali”. Saya membaca mengenai
burung rajawali seperti berikut ini. Burung rajawali dapat berusia sampai 120
tahun, walau tentu tidak semua burung rajawali mencapai usia seperti itu.
Tetapi, pada usia sekitar 40 tahun, paruh burung rajawali sudah sedemikian
panjang dan melengkung kebawah, bahkan mengenai lehernya, sehingga ia sulit
untuk makan. Kemudian, kuku-kuku jarinya juga tidak setajam biasanya sehingga
ia sulit menangkap mangsanya. Ditambah lagi, bulu-bulunya yang sudah semakin
tebal membuatnya sulit untuk terbang. Dalam kondisi demikian, ada dua pilihan
bagi burung rajawali. Pertama, apakah ia mau mengisolasi diri ketempat tinggi
dan membuat sarangnya dipuncak bukit batu agar ia dapat mentransformasi diri
dengan mematok-matok bukit batu itu sehingga paruhnya yang sudah bengkok itu
menjadi patah dan diganti dengan yang baru. Kemudian, dengan paruhnya yang
baru, ia mencabut kuku-kukunya yang sudah tua agar tumbuh yang baru, serta juga
mencabuti bulunya dengan paruh barunya itu. Ia juga perlu membiarkan tubuhnya
mengalami terik matahari agar proses pertumbuhannya dapat berjalan baik. Proses
transformasi ini tentu menyakitkan dan biasanya memakan waktu sekitar setengah
tahun. Atau, ia memiliki pilihan kedua, yaitu membiarkan dirinya untuk tidak
mengalami transformasi, dan kemudian mati dengan tenang…
Nampaknya, Rasul Yohanes mendapat kasih karunia untuk
“mentransformasi” diri sehingga ia dapat melayani kondisi gereja yang telah
menyimpang di Asia Kecil. Rasul Yohanes mendapat pewahyuan yang baru, walau
untuk itu ia harus dikucilkan di Pulau Patmos. Meskipun ia harus mengalami
kesusahan, seperti ditulisnya dalam Wahyu 1:9, namun Rasul Yohanes mendapat
kekuatan masa mudanya kembali seperti pada burung rajawali.
Bagaimana dengan pengalaman kita? Apakah kita mendapat kasih
karunia untuk “mentransformasi” diri, mendapat pewahyuan yang baru, mendapat
perspektif ‘Patmos’ sehingga kita
mengerti rahasia injil dari Rasul Yohanes. Apakah kita mendapat “kesempatan kedua” untuk melayani dunia
kekristenan yang telah menyimpang ini? Atau, kita tetap dalam kondisi kita, dan
menikmati apa yang telah kita capai, serta mengakhiri pelayanan kita dengan
tenang…
Telah kita singgung bahwa Rasul Yohanes mendapat “kesempatan
kedua” untuk melayani gereja di Asia kecil yang sudah menyimpang dari
kebenaran. Karena, pada awalnya, Rasul Yohanes melayani gereja bersama Rasul
Petrus, ketika gereja baru saja dilahirkan, dan tentunya belum menyimpang dari
kebenaran oleh ajaran palsu Bileam, Nikolaus, dan Izebel.
Pengalaman Rasul Yohanes ketika bersama dengan Rasul Petrus
melayani gereja mula-mula, sangat berbeda dengan pelayanannya pada “kesempatan
kedua” kepada gereja yang telah menyimpang dari kebenaran. Ketika Rasul Yohanes
melayani bersama Petrus, mereka melayani sebagai pemimpin gereja yang diterima
dan diakui oleh seluruh jemaat. Tetapi ketika Rasul Yohanes melayani gereja2 di
Asia Kecil, kondisinya sangat berbeda. Saat ini kita akan membahas bagaimana
kondisi Rasul Yohanes ketika melayani gereja2 di Asia Kecil.
Kita akan melihat kondisi Rasul Yohanes dengan memperhatikan
ketiga suratnya. Mari kita mulai dengan suratnya yang pertama. Surat ini tidak
ditujukan kepada gereja tertentu atau kepada orang tertentu. Ini semacam surat
umum atau surat terbuka kepada gereja2 di Asia kecil. I Yohanes 1:3 berkata, “Apa yang telah kami lihat dan yang telah
kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh
persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa
dan dengan AnakNya, Yesus Kristus”. Dari pembukaan suratnya ini, kita dapat
melihat bahwa Rasul Yohanes tidak memiliki persekutuan dengan gereja2 di
Asia kecil yang menerima suratnya. Atau, setidaknya, Rasul Yohanes
tidak memiliki persekutuan dengan mayoritas anggota gereja2 di Asia Kecil,
dimana suratnya ditujukan. Karena justru Rasul Yohanes memberitakan apa yg dia
lihat, apa yg dia dengar SUPAYA terjadi persekutuan antara anggota gereja2 di
Asia kecil dengan dirinya.
Selanjutnya, Rasul Yohanes menegaskan bahwa persekutuan KAMI,
artinya Rasul Yohanes memiliki tim atau orang2 yang bersekutu dengannya, dimana
jenis persekutuannya ini adalah dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus.
Jenis persekutuan dengan Bapa dan anakNya Yesus Kristus ini hanya dapat
dimiliki jika gereja2 di Asia Kecil menerima pesan2 Rasul Yohanes, yang pada intinya,
bahwa Elohim adalah Terang, Elohim adalah Kasih, dan Elohim adalah Yang Benar dan Hayat kekal.
Kita tidak menguraikan lebih jauh pesan2 Rasul Yohanes karena tujuan kita saat
ini hanya menegaskan bahwa Rasul Yohanes tidak lagi memiliki persekutuan dengan
mayoritas anggota gereja-gereja di Asia Kecil. Secara tidak langsung, kita
dapat melihat bahwa kondisi Rasul Yohanes “terputus”
dengan persekutuan gereja2 di Asia kecil.
Kemudian, kita melihat suratnya yang kedua kepada seorang ibu
yang terpilih dan anak2nya. Disini Rasul Yohanes menegaskan agar ibu ini dan
anak2nya memegang teguh ajaran bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai
manusia. Alasannya adalah karena banyak penyesat yang telah datang keseluruh
dunia. Dunia disini, sesuai konteks, adalah dunia keagamaan, yaitu ketujuh
gereja yang telah menyimpang di Asia Kecil. Kita akan membahas istilah ‘dunia’ yang dipakai Rasul Yohanes
kelak. Untuk saat ini yang perlu kita pahami ialah nasihat Rasul Yohanes kepada
ibu dan anak2nya agar jangan sampai disesatkan, dan juga jangan sampai memiliki
persekutuan dengan si penyesat (ayat 10). Rasul Yohanes sendiri telah
“terputus” dan tidak memiliki persekutuan dengan mayoritas anggota gereja2 di
Asia Kecil, karena adanya si penyesat ini. Maka ia menasihati agar ibu dan
anak2nya ini jangan bersekutu dengan penyesat agar persekutuan antara ibu dan
anak2nya ini dengan Rasul Yohanes tidak terputus. Dari hal ini, kembali kita
melihat bahwa kondisi Rasul Yohanes telah tersingkirkan dari persekutuan dengan
gereja2 di Asia kecil.
Terakhir, dalam suratnya kepada Gayus, Rasul Yohanes berterus
terang mengenai seorang bernama Diotrefes yang ingin menjadi terkemuka dalam
gereja, dan dengan berani, menolak tim yang diutus Rasul Yohanes untuk melayani
gereja2 di Asia kecil. Kita lihat disini, walaupun Rasul Yohanes menyebut
dirinya ‘penatua’ (presbuteros =
senior dan dewasa rohani), namun ada seorang Diotrefes yang berani menolak
kepenatuaannya. Kembali kita melihat bagaimana kondisi Rasul Yohanes
disini.
Kesimpulannya, kondisi Rasul Yohanes terkait gereja2 yang
dilayaninya (Asia kecil), mengalami masalah, yaitu keterputusan persekutuan. Persekutuan yang ada bersama Bapa dan
AnakNya Yesus Kristus, telah “terputus” diantara rasul Yohanes dengan gereja2
di Asia kecil. Atau, dengan kata lain, Rasul Yohanes telah “dikucilkan” oleh gereja2 di Asia kecil,
dan kepemimpinannya atau keseniorannya tidak lantas diterima oleh seluruh
anggota gereja. Ada banyak “Diotrefes-Diotrefes” yang menolaknya.
Kita sudah melihat kondisi Rasul Yohanes yang dikucilkan oleh
gereja2 di Asia kecil dengan memperhatikan ketiga suratnya. Saat ini kita akan
melihat injilnya dimana perihal pengucilan terlihat jelas. Setiap orang Kristen
yang membaca Injil Yohanes pasti merasakan betapa beda injil Yohanes dengan ketiga
injil lainnya, yaitu Matius, Markus dan Lukas. Bahkan ketiga injil ini (Matius,
Markus, Lukas) disebut injil sinoptik. Sinoptik artinya dapat dilihat atau
dipelajari secara bersamaan. Hal ini disebabkan ketiga injil sinoptik ini
hampir sama, dalam arti menceritakan dari awal kehidupan Yesus (kelahiranNya)
sampai kematianNya di Yerusalem. Tetapi injil Yohanes memiliki sudut pandang
yang berbeda. Ini yang kita sebut sudut pandang ‘Patmos’ atau ‘pengucilan’.
Mari kita melihat bagaimana Yesus dikucilkan oleh para pemimpin agama
dizamanNya (Yudaisme), bahkan pada akhirnya dibunuh.
Fokus injil Yohanes adalah para pemimpin Yahudi, dimana Bait
Suci menjadi pusat kegiatan mereka. Didalam Yohanes 8:59 ada tertulis, “Oleh karena itu mereka memungut batu-batu
supaya mereka dapat melemparkannya kepadaNya. Namun Yesus bersembunyi dan
keluar dari bait suci sambil berjalan menerobos diantara mereka, dan begitulah
Dia berlalu” (ILT). Ungkapan ‘KELUAR DARI BAIT SUCI’ didalam ayat ini
bermakna ‘pengucilan’. Disini Yesus
ditolak oleh para pemimpin Yahudi.
Jadi, sepanjang 8 pasal (pasal 1 sampai 8), Rasul Yohanes
menceritakan bagaimana Yesus melayani dengan fokus kepada Bait Suci dan para
pemimpin Yahudi. Itu sebabnya peristiwa Yesus mengusir para pedagang di Bait
Suci ditempatkan didepan dalam injil Yohanes, sementara ketiga injil lainnya
menceritakan dibagian akhir. Rasul Yohanes juga banyak mencatat
perdebatan/perselisihan Yesus dengan para pemimpin Yahudi, sementara ketiga
injil lainnya tidak.
Rasul Yohanes menulis injilnya dengan kepekaan tertentu
terhadap para pemimpin Yahudi. Sebagai contoh, Yusuf Arimatea dicatat dalam
Matius 27:57 dan Markus 15:43, sebagai seorang pemimpin yang baik, namun
Yohanes mencatat dia sebagai murid Yesus yang sembunyi-sembunyi karena takut
kepada orang-orang Yahudi (Yohanes 19:38). Nikodemus juga dicatat datang pada
Yesus, pada waktu malam (Yohanes 3:2), dimana hal ini mengindikasikan ketakutan
Nikodemus terhadap orang banyak, dan mungkin juga terhadap para pemimpin
lainnya.
Didalam injilnya, Rasul Yohanes berusaha menekankan bahwa
Yesus mengalami pengucilan, bahkan dibunuh oleh para pemimpin agama Yahudi. Hal
ini berbeda dengan ‘pengakuan iman’
yang biasanya sering diucapkan dalam kebaktian2 denominasi. Sebagian pengakuan
ini adalah, “yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus,
disalibkan, mati dan dikuburkan…”. Dalam pengakuan iman ini tidak terlihat
siapa yang membunuh Yesus sesungguhnya. Pengakuan iman ini belum melihat rahasia
injil Yohanes.
Kemudian, kita melihat lagi bagaimana pada akhirnya Yesus
‘meninggalkan bangsa Yahudi’ karena pelayananNya telah sepenuhnya ditolak.
Yohanes 12:36, mencatat “…. Sesudah
berkata demikian, Yesus pergi bersembunyi dari antara mereka”. Jadi, Yesus
bukan saja meninggalkan Bait Suci, yang merupakan representatif para pemimpin
Yahudi, tetapi Yesus juga meninggalkan orang banyak karena pelayananya tidak
dipahami. Pasal-pasal selanjutnya merupakan pelayanan Yesus khusus kepada
murid-muridNya saja.
Kita tidak membahas mengenai ‘message’ injil Yohanes disini,
tetapi pada intinya Rasul Yohanes menyatakan bahwa sang LOGOS telah menjadi
manusia dalam diri Yesus, dan berkata Aku adalah roti hidup, Aku adalah terang
dunia, Aku adalah pintu, Aku adalah gembala yang baik, Aku adalah kebangkitan
dan hidup, Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup, Aku adalah pokok anggur yang
benar. Para teolog pada umumnya telah membahas hal ini, tetapi mereka tidak
melihatnya dari sudut pandang ‘patmos’
atau sudut pandang ‘pengucilan’.
Tetapi, sudut pandang ‘patmos’
inilah yang merupakan rahasia injil Yohanes sesungguhnya.
Jadi, kesimpulannya, Yesus dikucilkan oleh para pemimpin
agama Yahudi dizamanNya. Mengapa Yesus dikucilkan? Karena dunia keagamaan
dizamanNya (Yudaisme) telah menyimpang.
Telah kita lihat bahwa fokus injil Yohanes adalah para
pemimpin Yahudi, dan juga Bait Suci di Yerusalem, sebagai pusat kegiatan para
pemimpin. Itu sebabnya, didalam injil Yohanes tercatat Yesus datang ke
Yerusalem setidaknya 3 kali, sementara penulis injil lainnya mencatat bahwa
Yesus hanya satu kali datang ke Yerusalem diakhir pelayananNya. Rasul Yohanes
juga mencatat banyak perdebatan antara Yesus dan para pemimpin. Dan juga,
penyucian Bait Suci dari para pedagang, yang tidak lain adalah para pemimpin
Yahudi, dicatat diawal penulisan injilnya. Dalam metode kritis, hal ini disebut
‘kritik redaksi’, dimana Rasul
Yohanes ‘sengaja’ meredaksikan
injilnya dengan cara yang terfokus kepada para pemimpin dan Bait Suci, dengan
maksud menyampaikan pesan teologis tertentu dibalik peredaksiannya. Pesan
teologis yang sangat penting dari cara Rasul Yohanes meredaksikan injilnya,
yaitu YESUS DITOLAK OLEH PARA PEMIMPIN AGAMA YAHUDI, DAN INI TERJADI KARENA
BAIT SUCI TELAH MENYIMPANG, DAN TELAH MENJADI TEMPAT BERJUALAN.
Rasul Yohanes jelas menuliskan injilnya dari sudut pandang ‘pengucilan’ oleh para pemimpin kepada
Yesus. Prolog dari injilnya menegaskan, “Ia
datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak
menerimaNya” (Yohanes 1:11). Mari kita melihat beberapa perdebatan Yesus
dengan para pemimpin, tentu tidak semua kita bahas, yang membuktikan bahwa
mereka telah menyimpang, dan juga tidak memahami perkara2 rohani.
Kita mulai dari Nikodemus (Yohanes 3:1-21). Tema pembicaraan
Yesus dengan Nikodemus adalah kerajaan Elohim atau kerajaan sorga. Yesus
berkata bahwa untuk dapat melihat dan masuk kedalam kerajaan sorga, seseorang
harus ‘dilahirkan kembali’. Pengertian Nikodemus tentu saja jasmani,
sebagaimana semua pemimpin Yahudi lainnya yang berharap Mesias akan datang dan
mendirikan kerajaan Israel yang jasmani. Yesus mencoba menjelaskan hal2 yang
rohani ini kepada Nikodemus, tetapi Nikodemus tetap tidak mengerti, sehingga
pembicaraan ini terhenti dengan satu penilaian Yesus kepada Nikodemus, “engkau adalah pengajar Israel, dan engkau
tidak mengerti hal-hal itu” (ayat 10).
Kemudian, kita melihat perdebatan Yesus dengan para pemimpin
mengenai soal ‘gembala yang baik’ (Yohanes 10:1-18). Yesus menegaskan bahwa Ia
adalah “pintu” menuju domba2 itu. Jadi, jika orang, atau lebih tepat, seorang
pemimpin, yang masuk kedalam kandang domba tanpa melalui Yesus, maka ia adalah
pencuri dan perampok. Disini Yesus sedang
menegaskan bahwa orang2 Farisi dan ahli2 Taurat adalah perampok dan pencuri
itu, karena mereka masuk kedalam kandang domba tanpa melalui Yesus, sebab
mereka memang menolak Yesus sebagai Mesias. Ingat konteksnya. Yesus sedang
berbicara kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat (ayat 6), bukan kepada iblis…
Umumnya, dikalangan para pemimpin denominasi, ‘pencuri’ didalam Yohanes 10:10,
adalah iblis. Sekali lagi, ingat konteksnya. Diseluruh perikop ini Yesus sedang
berdebat dengan para pemimpin, bukan berdebat dengan iblis… Dan, Yesus dengan
tegas memberikan definisi gembala yang baik itu, yaitu mengenal domba2 dan
menyerahkan nyawa baginya.
Sering kita mendengar para pemimpin denominasi berbicara
mengenai persepuluhan dan berteriak, ‘jangan mencuri uang Tuhan…”, serta
mengutip Maleakhi 3:10, tanpa memahami konteks.
Menurut Yohanes 10 ini, gembala yang baik itu mengenal dan memberikan
nyawanya bagi domba-domba. Jadi, jika para pemimpin denominasi tidak mengenal
domba-dombanya apalagi menyerahkan nyawa, karena jemaatnya sudah berjumlah 1000
atau puluhan ribu, atau bahkan ratusan ribu, bagaimana ini??? Siapa pencurinya?
Siapa yang merampok uang? Jemaat yang merampok uang Tuhan atau para pemimpin
yang merampok uang jemaat? Pengadilan Kristus akan membuktikan semua ini,
karena kita semua akan menghadapinya untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan
kita.
Telah kita lihat bahwa fokus injil Yohanes adalah para
pemimpin Yahudi, dan juga Bait Suci di Yerusalem, sebagai pusat kegiatan para
pemimpin. Telah kita bahas juga mengenai percakapan Yesus dengan Nikodemus, dan
juga percakapan Yesus dengan para pemimpin Yahudi mengenai perihal gembala yang
baik, yang dibandingkan dengan pencuri atau perampok. Kita masih membahas para
pemimpin Yahudi ini dengan menjelaskan mengenai ‘pokok anggur yang benar’.
Yohanes 15:1 berkata, “Akulah
pokok anggur yang benar dan BapaKulah pengusahanya”. Kata sifat ‘alethinos’ yang dipakai text aslinya
memiliki makna ‘benar’, ‘nyata’, dan juga ‘asli’. Dari ungkapan Yesus bahwa Ia adalah ‘pokok anggur yang
benar’ ini, kita dapat melihat bahwa ada pokok anggur yang salah, atau semu
atau palsu. Konteks dari perikop ini adalah percakapan malam terakhir Yesus
dengan murid2Nya. Dalam percakapan malam terakhir ini, Yesus menghibur dan
meneguhkan hati para murid dengan akan datangnya seorang penolong yang lain,
dan juga ia berbicara tentang ‘rumah Bapa’. Namun juga, Yesus menjelaskan
kepada murid2 bahwa para pemimpin Yahudi membenci Yesus tanpa alasan, serta memperingatkan
bahwa mereka juga akan membenci murid2. Jadi, konteks percakapan malam terakhir
ini, selain meneguhkan hati para murid, juga berbicara mengenai para pemimpin
Yahudi. Itu sebabnya, sangat wajar jika kita menafsirkan bahwa ada pokok anggur
yang salah, atau semu, atau palsu yaitu para pemimpin Yahudi.
Hal ini diteguhkan oleh perkataan Yesus kepada orang banyak
dalam Matius 23:2, yang berkata bahwa, “Ahli-ahli
taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa”. Maksudnya, para
pemimpin Yahudi, sebagai murid-murid Musa, telah memiliki otoritas yang sah
atas bangsa Yahudi. Itu sebabnya Yesus mengajar orang banyak agar jangan
memberontak terhadap otoritas mereka. Tetapi karena perilaku mereka tidak
benar, maka Yesus tegaskan agar hanya menuruti ajaran mereka saja, tetapi
jangan turuti perbuatan2 mereka. Dari hal ini jelas bahwa para pemimpin
Yahudi itu adalah ‘pokok anggur’ bagi bangsa Yahudi, tetapi pokok anggur yang
salah, atau palsu. Pokok anggur sejati adalah Yesus.
Mari kita aplikasikan dahulu pemahaman mengenai ‘pokok anggur
yang benar’ ini kedalam konteks dunia kekristenan saat ini. Yesus menegaskan
bahwa Ia adalah pokok anggur dan murid2Nya adalah ranting2nya. Tentu diharapkan
“ranting-ranting” ini tetap tinggal pada pokok anggur agar bisa berbuah, sama
seperti gereja mula-mula bertekun dalam pengajaran rasul2 dan dalam
persekutuan. Para pemimpin dalam dunia kekristenan saat ini sering juga
berbicara kepada jemaat agar berkomitmen kepada satu lokal, setia berkumpul dan
bersekutu. Juga mengajarkan bahwa para pemimpin adalah “payung rohani” bagi
jemaat. Mengajarkan penundukkan diri atau “tudung rohani”. Tetapi, jika
seseorang memahami rahasia tulisan2 rasul Yohanes, maka ia akan mempertanyakan
apakah para pemimpin dalam dunia kekristenan sudah otomatis adalah pokok anggur
yang benar?
Atau, apakah ‘pengurapan
yang didalam kita’ itu yang sesungguhnya pokok anggur yang benar? (I
Yohanes 2:20, 27). Bagi umat pilihan Tuhan, ‘Christ in you’ adalah pokok anggur yang benar. Bagi umat pilihan
Tuhan, ‘Christ in you’ adalah
pengurapan yang mengajarinya segala sesuatu. Umat pilihan Tuhan akan mengikuti
pimpinan ‘Kristus dalam batin’. Umat
pilihan Tuhan akan memiliki pemahaman, mana pokok anggur yang benar, dan mana
pokok anggur yang palsu.
Kita masih meneruskan pembahasan kita mengenai rahasia dari
tulisan2 rasul Yohanes, yaitu perihal sudut pandang ‘patmos’ atau ‘pengucilan’.
Untuk memahami perihal ‘pengucilan’ ini, kita akan meneliti satu istilah yang
sering digunakan oleh rasul Yohanes, yaitu istilah ‘dunia’. Istilah Yunaninya adalah ‘kosmos’, dimana makna istilah ini harus ditentukan oleh bagaimana
istilah ini digunakan dalam suatu kalimat.
Istilah ini muncul sebanyak 186x didalam PB. Lebih dari separuhnya
muncul dalam tulisan2 rasul Yohanes, dimana 78x dalam injil Yohanes, dan 24x
dalam surat2nya.
Didalam hampir semua kemunculan istilah ini pada tulisan2
rasul Yohanes, makna istilah ‘dunia’
berarti suatu ‘sistem yang bertentangan
dengan Tuhan’. Yang dimaksud Yohanes adalah sistem keagamaan, tentunya,
sebagaimana akan kita lihat nanti. Tetapi, ada beberapa makna dari istilah ini
yang berbeda. Sebagai contoh, didalam Yohanes 3:16, ‘dunia’ disini berarti alam semesta, khususnya semua manusia yang
sangat dicintai oleh Bapa disorga. Kemudian, Yohanes 1:9, dimana makna istilah
‘dunia’ bersifat geografis, karena
Yesus datang kedunia, dalam arti tanah Palestina. Selanjutnya, Yohanes 3:19,
dimana istilah ‘dunia’ bermakna ruang lingkup kehidupan manusia. Namun,
selebihnya dari penggunaan istilah ‘dunia’
dalam tulisan Yohanes bermakna ‘sistem
keagamaan yang bertentangan dengan Tuhan’.
Mari kita melihat beberapa fakta mengenai istilah ‘dunia’, dalam arti sistem keagamaan
yang bertentangan dengan Tuhan. Pertama,
Yohanes 15:18-25. Didalam perikop ini Yesus menegaskan bahwa dunia membenci
Yesus dan murid2Nya (ayat 18). Banyak orang berpikir bahwa ‘dunia’ didalam
perikop ini adalah mereka yang diluar sistem keagamaan, dalam arti orang2 dunia
diluar sana. Tetapi, jika kita lihat ayat 25, Yesus mengatakan bahwa apa yang
ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi, yaitu mereka membenci Aku
tanpa alasan. Maka kita tahu bahwa ‘dunia’ disini adalah sistem keagamaan Yahudi
(Yudaisme), yang membenci Yesus bahkan membunuhNya.
Kedua, I Yohanes 2:15-16 yang menyatakan,
“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa
yang ada didalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak
ada didalam orang itu. Sebab semua yang ada didalam dunia, yaitu keinginan
daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa,
melainkan dari dunia”. Disini ditegaskan bahwa kita jangan mengasihi dunia.
Tentu ini bukan ‘dunia’ dalam pengertian Yohanes 3:16, yang sangat dikasihi
Bapa.’Dunia’ dalam surat Yohanes ini
adalah sistem keagamaan, yaitu,
dalam konteks ini, gereja yang telah
jatuh dan menyimpang di Asia Kecil. Dikatakan
bahwa semua yang ada didalam gereja yang telah jatuh dan menyimpang ini, tidak
lain adalah keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Itu
sebabnya, kita diperintahkan agar tidak mengasihi ‘sistem keagamaan’.
Ketiga, I Yohanes 3:12-13 berkata, “bukan seperti Kain, yang berasal dari si
jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab
segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar. Janganlah kamu heran,
saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu”. ‘Dunia’ disini disimbolkan
seperti “Kain”, yang walaupun beribadah (mempersembahkan korban), namun ia
membunuh adiknya, atau saudaranya sendiri. Orang2 kristen yang beribadah
didalam sistem keagamaan dunia kekristenan, pasti membenci saudara2nya yang
beribadah tidak didalam sistem keagamaan. Sebagai umat pilihan Tuhan, kita tidak usah
heran apabila dunia kekristenan tidak mendengarkan kita, dan mengucilkan kita.
Jika saat ini,
seseorang mulai melihat bahwa sistem keagamaan atau dunia kekristenan, tidak
menyukainya, tidak mendengarkannya, dan bahkan mengucilkannya, maka ia sudah
mulai melihat rahasia dari tulisan2 rasul Yohanes.
Kita masih melanjutkan uraian rasul Yohanes mengenai istilah
‘dunia’, yaitu suatu sistem yang bertentangan dengan Tuhan. Mari kita
perhatikan I Yohanes 4:1, demikian tertulis, “Hai yang terkasih, janganlah percaya kepada setiap roh, sebaliknya
ujilah roh-roh itu, apakah dia berasal dari Elohim. Sebab, banyak nabi palsu
telah muncul kedunia” (ILT). Disini rasul Yohanes menegaskan bahwa banyak
nabi palsu telah muncul kedunia. Disepanjang sejarah Israel sebagai suatu
bangsa, nabi2 palsu selalu muncul diantara umat Tuhan. Itu sebabnya
didalam II Petrus 2:1, tertulis bahwa nabi-nabi palsu selalu tampil
ditengah-tengah umat Tuhan, sebagaimana juga guru-guru palsu, ditengah-tengah
gereja. Karena nabi-nabi palsu itu selalu muncul ditengah-tengah umat Tuhan,
maka kita dapat memahami bahwa yang dimaksud rasul Yohanes dengan istilah ‘dunia’ adalah dunia keagamaan, dalam
konteks ayat ini, ‘tujuh gereja yang
telah menyimpang di Asia Kecil’.
Jadi, menurut rasul Yohanes, tujuh gereja yang telah
menyimpang dari kebenaran itu adalah ‘dunia’, yaitu sistem keagamaan yang
bertentangan dengan Tuhan. Dalam situasi kita saat ini dimana gereja telah
pecah menjadi ribuan denominasi, atau lebih tepat, gereja telah menjadi ‘dunia’
keagamaan, maka kita, sebagai umat pilihan Tuhan, dituntut untuk menjadi peka
agar dapat menguji roh-roh yang bekerja pada diri ‘para pendeta’ atau ‘pelayan
Tuhan’, apakah roh yang bekerja dibalik mereka itu berasal dari Tuhan atau
tidak. Tetapi, saya percaya bahwa umat pilihan Tuhan memiliki ‘pengurapan yang didalam batin’ untuk
dapat membedakan mana yang dari Tuhan, dan mana yang tidak (I Yohanes 2:20,27).
Selanjutnya, mari kita lihat I Yohanes 2:17, demikian
tertulis, “Dan dunia sedang berlalu, juga
keinginannya, tetapi siapa yang melakukan kehendak Elohim ia tinggal sampai
selamanya” (ILT). Kita telah mengetahui apa yang ada didalam dunia
keagamaan, yaitu kenginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (I
Yohanes 2:16). Seseorang yang melayani didalam dunia keagamaan, atau dunia
kekristenan, pastilah didorong oleh suatu keinginan untuk menjadi “besar”.
Saudara tentu sudah mengetahui ungkapan “pendeta besar” dalam dunia
kekristenan. Setiap orang yang melayani didalam ‘dunia kekristenan’ pasti
didorong oleh suatu keinginan untuk menjadi “besar”. Sementara itu, kitab Wahyu
mempertentangkan antara “Big City”,
yaitu Babel, dengan “Holy City” yaitu Yerusalem Baru. Bagi orang yang melayani ‘diluar sistem keagamaan’,
kerinduan terbesarnya adalah menjadi ‘kudus’,
bukan ‘besar’. Kerinduan utamanya
adalah melakukan kehendak Elohim, menjadi kudus dan terpisah dari dunia ini.
Dan, sesuai dengan ayat kita diatas, bahwa ‘dunia kekristenan’ dengan segala
keinginannya sedang berlalu, sedangkan mereka yang melakukan kehendak Elohim akan
tinggal tetap.
Sebagai penutup, mari kita renungkan I Yohanes 5:4, sebagai
berikut, “…Dan inilah kemenangan yang
mengalahkan dunia: iman kita”. Umat pilihan Tuhan akan mendapat kasih
karunia untuk memiliki iman yang mengalahkan dunia keagamaan ini. Dunia
keagamaan atau dunia kekristenan ini menawarkan uang, jabatan dan kemuliaan
menusiawi. Orang-orang seperti ‘Demas’ tentu akan tergiur dan meninggalkan tim
‘Paulus’ karena kembali mencintai dunia ini. ‘Dunia’ disini bisa berarti dunia
secara umum atau dunia keagamaan yang sedang kita bicarakan ini. Itu sebabnya,
dibutuhkan iman untuk mempercayai pemeliharaan Tuhan atas hidup kita.
Diperlukan juga iman untuk tetap bertahan dalam kesendirian, dalam pengucilan ‘patmos’ seperti yang dialami rasul
Yohanes. Semoga kita, sebagai umat yang bukan saja dipanggil, tetapi juga dipilih,
tetap dapat setia sampai akhir
pelayanan kita (Wahyu 17:14).
Kita masih terus membahas rahasia injil yang dinyatakan oleh
rasul Yohanes, dan kali ini kita akan membahas mengenai berhala yang tertulis
dalam I Yohanes 5:21. Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘berhala’ disini adalah
‘eidolon’, dalam bentuk jamak, yang
berarti ‘an image’ atau ‘a false god’. Jadi, berhala-berhala
yang dimaksud rasul Yohanes adalah ‘ilah
yang lain’ selain Elohim.
Kita tidak perlu mencari definisi dari istilah ‘eidolon’ ini diluar tulisan2 rasul
Yohanes. Jelas, bahwa ‘eidolon’ ini
adalah ilah yang lain (a false god)
selain Elohim yang sejati. Rasul Yohanes menulis tentang ‘anti Kristus’ yang pengertiannya sama dengan ‘ilah yang lain’ atau ‘sesuatu
yang lain’ selain dari Kristus.
Mari kita melihat dahulu makna kata ‘antiKristus’. Kata ini berasal dari gabungan dua istilah Yunani,
yaitu ANTI dan CHRISTOS. Anti
berarti ‘berlawanan dengan’, atau ‘selain dari’. Sedangkan Christos berarti ‘yang diurapi’. Jika kedua istilah ini digabung berarti sesuatu atau
seorang yang berlawanan dengan Yang Diurapi, atau sesuatu sebagai pengganti
Kristus.
Kristus ini adalah Elohim yang sejati. Sesuatu yang lain,
apapun juga itu, yang bukan Kristus atau yang ‘selain dari Kristus’ adalah
‘ilah yang lain’, yaitu ‘eidolon’. Jadi, ‘eidolon’
adalah ‘anti Kristus’, yaitu sesuatu selain dari Kristus. Sesuatu
‘ilah lain’, selain dari ‘Kristus’.
Rasul Yohanes menegaskan dalam I Yohanes 2:20, demikian, “Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari
Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya”. Juga I Yohanes
2:27 mengatakan, “Sebab didalam diri kamu
tetap ada pengurapan…”. Maksudnya, didalam batin setiap umat pilihanNya,
ada ‘olesan dari Roh Kudus’ yang
membuat mereka mengetahui segala sesuatu, dan tidak perlu diajari kebenaran
oleh orang lain. Istilah ‘olesan dari
Roh Kudus’ yang dipakai rasul Yohanes memiliki makna yang serupa dengan
ungkapan ‘Christ in you, the hope of
glory’, yang dipakai rasul Paulus. Jadi, segala sesuatu selain dari ‘Kristus yang didalam batin’ adalah ‘eidolon’.
Rasul Yohanes menasihati umat pilihan Tuhan agar waspada
terhadap segala ‘eidolon’ (I Yohanes
5:21). Segala sesuatu selain dari ‘Kristus
didalam batin’ dapat dijadikan ‘berhala’
atau ‘eidolon’ oleh seseorang. Untuk
mengetahui apa saja yang dapat dijadikan berhala oleh seseorang, mari kita
periksa makna istilah ‘anti Kristus’
dalam surat Yohanes ini.
Sebenarnya Alkitab berbicara sedikit sekali tentang ‘anti
Kristus’. Istilah ‘anti Kristus’ hanya lima kali muncul dalam seluruh Alkitab.
Empat istilah ini muncul di surat Rasul Yohanes yang pertama, kemudian sisanya
ada disurat Yohanes yang kedua. Istilah ‘anti Kristus’ yang muncul di surat
Yohanes ada dalam bentuk tunggal, jamak, berbentuk sistem dan juga roh. Mari
kita periksa bentuk2 ini agar kita dapat memahami apa maksud rasul Yohanes
dengan istilah ‘eidolon’ atau ‘berhala’ atau ‘anti Kristus’.
Pertama, didalam I Yohanes 2:18 katakan, “Hai anak-anak kecil, inilah waktu yang
terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar bahwa seorang antikristus sedang
datang…”. Dalam bahasa aslinya tidak ada definite article didepan istilah antikristus, yang berarti bahwa
istilah antikristus mencakup orang2nya dan juga program2 yang mereka buat. Ini
berbicara mengenai sistem. Kemudian,
I Yohanes 2:19 menegaskan, “Mereka telah
muncul dari antara kita, tetapi mereka bukanlah berasal dari kita…”. Anti
Kristus itu muncul dari antara kita, tetapi bukan berasal dari kita, demikian
ditegaskan Rasul Yohanes. AntiKristus itu muncul dari antara orang2 kudus,
namun tidak sungguh-sungguh berasal dari orang kudus. Jadi, antiKristus ini bukanlah
orang yang terang2an menentang ‘Kristus yang didalam batin’, tetapi mereka barangkali mengaku pengikut
Kristus atau bahkan mengaku pelayan Kristus, tetapi melalui pengajarannya,
mereka sebenarnya menyimpangkan umat Tuhan dari fokus kepada ‘Kristus
didalam batin’. Ada hal2 tertentu selain ‘Kristus didalam batin’ yang
menjadi fokus pengajarannya. Melalui uraian ini, kita dapat simpulkan bahwa
baik orang, maupun sistemnya dapat dijadikan berhala atau ‘eidolon’ bagi
seseorang.
Kedua, I Yohanes 2:22 menyebutkan, “Siapakah pendusta itu jika bukan dia yang
menyangkal, ‘Yesus itu Mesias’. Inilah antikristus yang menyangkal Bapa dan
Putra”. Disini antiKristus itu adalah sebutan bagi seseorang tertentu.
Kemudian ditegaskan pada ayat 18 diatas bahwa, “…sekarang bahkan banyak antikristus telah muncul…”, sehingga
antikristus itu bukan saja seseorang tertentu, tetapi juga banyak orang
tertentu yang disebut antiKristus. Jadi, seseorang atau para pemimpin tertentu,
dapat dijadikan berhala oleh orang Kristen. Aliran tertentu, para pemimpin
tertentu, dapat menjadi berhala bagi seseorang.
Ketiga, I Yohanes 4:3 berkata, “dan setiap roh yang tidak mengakui mengakui
Yesus… inilah antikristus”. Disini antiKristus adalah roh, yaitu roh yang
tidak mengakui Yesus Kristus telah datang dalam daging. Sesungguhnya berhala
itu adalah roh. Itu sebabnya orang Kristen dapat terikat oleh berhalanya, dan
hanya kasih karunia Tuhan yang dapat membebaskannya. Jadi kita melihat bahwa
antiKristus atau berhala itu, bagi seseorang, bisa berbentuk seorang pribadi
tertentu, banyak pribadi, sistem atau roh. Yang jelas semua berhala atau ‘eidolon’ ini menyimpangkan umat Tuhan dari Elohim
sejati yaitu ‘Kristus dalam batin’.
Didalam dunia (sistem) kekristenan, terdapat orang2 tertentu,
aliran2 tertentu, ajaran2 tertentu, sistem ibadah tertentu, roh tertentu,
aturan2 agamawi tertentu, yang semuanya menyimpangkan umat Tuhan dari Elohim
sejati, yaitu ‘Kristus dalam batin’.
Semuanya ini dapat dijadikan berhala atau ‘eidolon’
bagi seseorang. Rasul Yohanes memperingati kita agar waspada terhadap berhala2
ini.
Kita masih menyambung pembicaraan kita mengenai berhala.
Didalam dunia (sistem) kekristenan, terdapat orang2 tertentu, aliran2 tertentu,
ajaran2 tertentu, sistem ibadah tertentu, roh tertentu, aturan2 agamawi
tertentu, yang semuanya menyimpangkan umat Tuhan dari Elohim sejati, yaitu ‘Kristus dalam batin’. Semuanya ini
dapat menjadi berhala atau ‘eidolon’
bagi seseorang. Rasul Yohanes memperingati kita agar waspada terhadap berhala2
ini.
Saat ini kita akan coba merumuskan apa itu ‘berhala’ dunia kekristenan, dengan
membandingkannya terhadap Elohim sejati, yaitu ‘Kristus dalam batin’. Kalau kita melihat Kolose 2:27, dimana
tertulis, “… Kristus yang ada didalam
kamu, selaku pengharapan kemuliaan” (ILT), maka dapat kita lihat bahwa berhala dunia kekristenan adalah ‘kemuliaan lahiriah’. Mengapa demikian?
Karena ‘Kristus dalam batin’ itu
adalah kemuliaan Tuhan secara batiniah,
maka berhala, sebagai lawan dari Elohim sejati itu adalah kemuliaan lahiriah (kemuliaan manusiawi). Jika kita sudah melihat
bahwa berhala dunia kekristenan itu adalah kemuliaan lahiriah atau kemuliaan
manusiawi, maka kita akan memahami bahwa orang2 tertentu dalam dunia
kekristenan, aliran2 tertentu, sistem ibadah tertentu, roh tertentu, aturan2
agamawi tertentu dalam dunia kekristenan, semuanya inilah yang menyimpangkan
umat Tuhan dari fokus kepada ‘kemuliaan
batiniah’ menjadi fokus kepada ‘kemuliaan
lahiriah’.
Kemuliaan batiniah tidak dapat dilihat oleh mata jasmani,
sedangkan kemuliaan lahiriah dapat dilihat oleh mata jasmani. Itu sebabnya,
kemuliaan lahiriah sangat ditopang oleh hal2 lahiriah. Didalam dunia
kekristenan yang telah menyimpang ini, jika seorang “pelayan Tuhan”, misalnya,
dikatakan besar, sangat dipakai Tuhan, dan sukses, maka pastilah banyak hal2
lahiriah yang menopangnya. Barangkali, pengikutnya banyak, gedung kebaktiannya
sangat megah, barangkali sekolah teologinya hebat, barangkali ia sangat kaya,
dan sebagainya. Pendeknya, ada banyak hal2 lahiriah yang menopangnya sehingga
ia dipenuhi kemuliaan lahiriah.
Hal ini sangat berbeda dengan Paulus, misalnya, ketika ia
sedang membuktikan bahwa ia seorang pelayan Kristus (II Korintus 11:23-33). Ia
justru mengatakan atau menunjukkan hal2 yang sebaliknya. Tidak ada hal2
lahiriah yang ditunjukkannya sebagaimana kita melihatnya didalam dunia
kekristenan. Rasul Yohanes juga sangat menekankan perkara batiniah. Didalam
injil Yohanes 7:38, ada tertulis, “… Dari
dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup”. Yohanes 4:23
menegaskan bahwa, “…penyembah-penyembah
benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran…”. Ibadah bukanlah soal
kebaktian di gedung ini atau itu, ritual ini atau itu, liturgi ini atau itu.
Ibadah bukanlah hal yang lahiriah, tetapi yang batiniah, yaitu didalam roh dan
didalam kebenaran. Rasul Yohanes sangat menekankan pengurapan yang ada didalam
batin (I Yohanes 2:20,27). Bahkan ditegaskannya bahwa pengurapan inilah yang
akan mengajari kita segala sesuatu, dan bahwa kita tidak perlu diajar oleh
orang lain. Semua ini membuktikan bahwa para rasul memiliki kemuliaan batiniah.
Jadi, berhala dalam dunia kekristenan adalah kemuliaan
lahiriah, yang tentunya didukung oleh hal2 yang lahiriah juga. Jika kita
memberitakan ‘Kristus yang didalam
batin’, dan pengajaran kita tidak mendukung kemuliaan lahiriah, maka tentu
saja kita akan dikucilkan dan tidak didengar oleh dunia kekristenan. Tetapi,
justru pada saat itu, kita mulai mengenal sudut pandang ‘patmos’, dan karenanya mengenal rahasia tulisan2 rasul Yohanes.
Sepanjang uraian kita mengenai rahasia tulisan2 rasul
Yohanes, telah kita tegaskan bahwa jika seseorang tidak melihat tulisan2 Rasul
Yohanes dari sudut pandang ‘patmos’,
maka ia tidak akan memahami rahasianya. Kita akan mengakhiri penjelasan
mengenai sudut pandang ‘patmos’ ini
dengan menjelaskan simbol perempuan di kitab Wahyu pasal 12 dan pasal 17.
Mari kita perhatikan binatang yang mempunyai tujuh kepala dan
dan sepuluh tanduk (Wahyu 12:3 dan Wahyu 17:3). Binatang didalam Wahyu 12:3,
disebutkan namanya, yaitu seekor naga merah padam yang besar, sedangkan dalam
Wahyu 17:3, tidak disebutkan nama binatang ini. Tentu dapat kita pastikan bahwa
kedua binatang ini sama, karena disepanjang kitab Wahyu ini tidak ada disebut
nama binatang selain yang mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk. Dan kita
tahu bahwa kitab Wahyu adalah kitab dengan bahasa simbol. Perempuan tentu simbol dari gereja,
sedangkan binatang, disebutkan
namanya atau tidak, merupakan simbol dari sistem
pemerintahan manusia (kerajaan manusia). Dalam Wahyu 12:4, dikatakan bahwa
binatang ini siap ‘menelan’ atau ‘memakan sampai habis’ (Yun. ‘katesthio’) anak
(putera) yang akan dilahirkan oleh perempuan ini. Tetapi, yang mengherankan
adalah binatang didalam Wahyu 17:3, justru menopang perempuan ini. Dan ayat 6
menyatakan bahwa perempuan ini (Wahyu 17) mabuk oleh darah orang-orang kudus
dan darah saksi-saksi Yesus. Dari cerita ini, dapat kita simpulkan bahwa
perempuan dalam kitab Wahyu 17, membenci, mengucilkan, bahkan membunuh
perempuan dalam kitab Wahyu 12.
Tetapi, hal ajaib bagi kita adalah putera yang dilahirkan
dari perempuan Wahyu 12 ini akan menggembalakan bangsa-bangsa dan naik takhta
Elohim (Wahyu 12:5). Ada yang menafsirkan bahwa putera disini adalah Tuhan
Yesus Kristus, sehingga perempuan di kitab Wahyu 12 adalah Maria, ibu Yesus.
Pemahaman ini keliru. Kitab Wahyu bukanlah kitab sejarah. Ini adalah kitab pewahyuan
Yesus Kristus yang dinyatakan kepada Yohanes dengan bahasa simbol (Wahyu 1;1).
Jadi, kitab Wahyu adalah kitab pewahyuan Yesus Kristus dan gereja, sebagai
mempelaiNya dan tubuhNya. Karenanya, sewajarnya kita memahami perempuan ini adalah gereja, baik yang dipasal 12 maupun
yang dipasal 17. Hanya, perempuan dipasal 17 menganiaya perempuan yang dipasal 12.
Jadi, putera yang dilahirkan gereja (pasal 12) adalah para pemenang, yaitu
putera2 Elohim yang diuraikan dalam Roma 8:19-21, yang akan membebaskan ciptaan
dari perbudakan kebinasaan.
Cerita diatas bersesuaian dengan apa yang tertulis dalam
Matius 21:42, Markus 12:10-11, Lukas 20:17, Kis. 4:11. Semua ayat ini adalah
kutipan dari Mazmur 118:22-23, “Batu yang
dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi
dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib dimata kita”. Tuhan Yesus
menjelaskan bahwa diriNya ditolak oleh orang2 Farisi, ahli2 Taurat (para
pemimpin Umat Tuhan, dan sebagai penggarap kebun anggur), namun menjadi “batu penjuru”, demikian juga para pemenangNya akan ditolak dan
dikucilkan oleh ‘gereja yang ditopang
oleh sistem pemerintahan manusia’, namun pada waktuNya, akan memerintah
bangsa-bangsa bersama dengan Tuhan Yesus dizaman berikutnya.
Demikianlah rahasia tulisan2 rasul Yohanes, yang dilihat dari
sudut pandang ‘patmos’. Tentu kita
tidak menguraikan semuanya saat ini. Tetapi, sebagai pendahuluan tema ‘trilogi rahasia injil’, saya rasa sudah
cukup. Amin.
Comments
Post a Comment