TRILOGI RAHASIA INJIL

 

Trilogi Rahasia Injil (gabungan)

Oleh : Irnawan Silitonga

Melalui tulisan singkat ini, kita akan membahas mengenai Injil yang adalah khabar baik. Kita akan memulai pembahasan kita dengan menjelaskan sedikit judul kita diatas. Ungkapan ‘Rahasia Injil’ dalam judul kita ini berasal dari terjemahan Yunani ‘musterion ho euaggelion’ (Efesus 6:19), yang sering diterjemahkan dalam berbagai versi dengan ungkapan ‘mystery of the gospel’. Kita tidak menggunakan istilah ‘misteri’ karena istilah ini seolah-olah memberi kesan bahwa ada sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh manusia dan tetap menjadi misteri. Tetapi sebenarnya istilah ‘misteri’ disini bukan sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh manusia, tetapi sesuatu yang rahasia bagi seseorang selama ia belum diberitahu, tetapi tidak menjadi rahasia lagi jika ia telah diberitahu. Injil memang menjadi rahasia bagi orang yang belum menerima pewahyuan dihadapan Tuhan, tetapi jika oleh anugerah Tuhan, ia telah menerima pewahyuan akan Injil, maka Injil baginya bukan merupakan rahasia lagi. Itu sebabnya, judul kita diatas memakai istilah ‘rahasia’ dan bukan ‘misteri’. 

Kemudian, apakah maknanya istilah ‘trilogi’ diatas? Didalam kamus, trilogi (Inggris, trilogy) bermakna group of three plays, novels, operas, etc, to be performed, read, etc, in succession, each complete in itself but having a common subject. Jadi, trilogi berarti suatu kelompok dari tiga permainan, cerita-cerita, sandiwara-sandiwara, dan sebagainya, yang dimainkan, atau dibaca, dan sebagainya, secara berturut-turut, namun masing-masingnya telah sempurna, tetapi mempunyai tema / pokok bersama. Jadi, ringkasnya, trilogi adalah tiga cerita berurutan, dimana masing2 cerita memiliki tema yang sama. Apakah konsep ‘trilogi’ ada didalam Alkitab? Sekalipun istilah ‘trilogi’, tidak tertulis didalam Alkitab, namun konsep trilogi sangat banyak terdapat didalam Alkitab. Mari kita lihat dahulu Amsal 22:20, demikian tertulis, “Bukankah aku telah menulisnya kepadamu dulu dengan nasihat dan pengetahuan” (LAI). Kalau kita bandingkan dengan terjemahan King James Version tertulis, “Have not I written to thee excellent things in counsel and knowledge”. Dari Young’s Literal Translation tertulis, “Have I not written to thee three times…”. Dari The Jerusalem Bible tertulis, “Have I not written for you thirty chapter…”. Istilah ‘excellent things’, dalam Amsal 22:20, berasal dari istilah Ibrani ‘shalosh’, yang artinya, menurut kamus Ibrani Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible ( # 7991, 7969 ),  adalah a triple, atau a triangle, atau a three-fold, atau the third rank atau three.  Sebenarnya, akar kata ‘shalosh’ berarti ‘tiga’. Perubahan huruf hidup sedikit dari kata Ibrani ini, membuatnya berarti tiga puluh, seperti terjemahan The Jerusalem Bible. Tetapi terjemahan Young’s Literal Translation, lebih tepat sesuai dengan pengertian akar kata Ibrani ini. Dan kalau kita gabungkan terjemahan versi Young dan versi King James, maka berarti bahwa perihal berbicara tiga kali dalam nasihat dan pengetahuan, adalah perkara yang baik sekali (Excellent). Jadi, konsep trilogi, terungkap secara langsung dalam Amsal 22:20. Kalau kita terapkan ‘konsep trilogi’ ini kedalam judul kita, maka itu berarti ada tiga cerita yang berurutan, tetapi dengan tema yang sama, mengenai rahasia Injil.

Sebelum kita melanjutkan pembahasan kita, ada satu istilah penting lagi yang muncul hanya satu kali didalam Perjanjian Baru, yaitu istilah Yunani ‘orthotomeo’ (kata kerja) didalam II Timotius 2:15. Istilah ini berarti ‘memotong dengan lurus’. Maksudnya, memotong atau memilah dengan tepat. Jadi II Timotius 2:15 merupakan nasihat Paulus kepada Timotius agar sebagai pemberita Injil (firman kebenaran) atau sebagai pelayan Tuhan, dapat memilah-milah firman kebenaran dengan tepat.

Bagaimana memilah rahasia Injil, yang adalah firman kebenaran, dengan tepat? Kita menggunakan ‘prinsip trilogi’, yaitu memilah rahasia Injil menjadi tiga cerita berurutan, dengan tema yang sama tentunya. Pertama, Rahasia Injil yang diberitakan oleh Petrus dan kawan2nya kepada bangsa Yahudi. Kedua, Rahasia Injil yang diberitakan oleh Paulus dan kawan2nya kepada bangsa-bangsa lain. Ketiga, Rahasia Injil yang diberitakan oleh Rasul Yohanes dan timnya kepada gereja yang telah jatuh (menyimpang) pada zamannya, terutama kepada tujuh gereja di Asia Kecil.

Melalui uraian diatas, kita tidak mengatakan bahwa ada tiga rahasia Injil atau ada tiga Injil. Injil, yang adalah khabar baik, hanyalah satu, yaitu khabar baik yang terkait dengan kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus.

Kita telah memilah firman kebenaran atau rahasia Injil dengan menggunakan prinsip trilogi. Saat ini kita akan membicarakan bagaimana Petrus dan kawan2nya memberitakan Injil kepada bangsa Israel. Mari kita mulai dari Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri dalam memberitakan khabar baik kepada bangsa Yahudi. Yohanes Pembaptis dan Yesus memberitakan, “bertobatlah, sebab kerajaan sorga sudah dekat” (Matius 3:1; 4:17). Istilah ‘bertobatlah’ berasal dari kata kerja Yunani ‘metanoeo’, yang artinya ‘merubah pikiran’. Mengapa Yesus, dan Yohanes Pembaptis mengharuskan bangsa Yahudi ‘merubah pikiran’ terkait dekatnya kerajaan sorga? Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

Bangsa Yahudi selalu menantikan Mesias, khususnya sejak raja Daud mendapat janji bahwa keturunannya akan selalu memerintah Israel. Bangsa Yahudi menantikan seorang raja yang diurapi Tuhan, yang merupakan keturunan Daud, serta melakukan setidaknya tiga hal ini kepada bangsanya. Pertama, raja yang diurapi Tuhan itu (Mesias) haruslah membangun Bait Suci. Kedua, Mesias ini harus membebaskan bangsa Yahudi terhadap musuh2 Israel, dalam arti bangsa2 lain yang mengganggu Israel. Ketiga, Mesias ini haruslah membawa perdamaian kepada dunia, dalam arti Israel menjadi “kepala” dan bangsa2 lainnya sebagai “ekor”, karena demikianlah janji Yahweh. Pada intinya, Mesias yang memimpin Israel, haruslah membangun kerajaan Israel ‘jasmani’, dengan menghancurkan musuh2 ‘jasmani’ Israel, membangun Bait Suci jasmani (merupakan bangunan jasmani) dan tentunya memiliki istana jasmani, tentara jasmani, dan seterusnya, yaitu segala sesuatu yang bersifat jasmani. 

Tetapi, Yesus datang untuk memberikan hidupNya (Yunani, zoe) dan mendirikan kerajaanNya, yang adalah kerajaan ‘sorga’, suatu kerajaan dalam ‘dimensi sorgawi’. Kerajaan sorga yang Yesus akan tegakkan dan hadirkan dibumi ini, “…bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus” (Roma 14:17). Ini bukan berarti semua janji Yahweh kepada bangsa Israel yang bersifat ‘jasmani’ menjadi batal. Namun, Yesus datang menggenapi semua yang bersifat ‘jasmani’ dalam PL, dan menjadi bersifat ‘spiritual’ dalam konteks PB. Sifat dasar PL itu adalah nubuat, bayangan, dan simbol, sementara itu PB bersifat menggenapi nubuat, wujud yang sebenarnya dari bayangan itu, dan realita dari simbol2 PL. Dikayu salib Yesus berkata ‘sudah selesai’, artinya semua nubuat, bayangan, dan simbol2 PL telah selesai digenapi, di-wujud nyata-kan, serta telah menjadi realita didalam Kristus.

Itu sebabnya, bangsa Yahudi diharuskan ‘bertobat’ yaitu berubah pikiran, dari yang jasmani menjadi yang spiritual. Dari berpikir dalam pola nubuat, bayangan, simbol, menjadi berpikir penggenapan, wujud, dan realita. Sekali waktu Yesus mencoba merubah pikiran orang2 Farisi dan ahli2 Taurat mengenai dimensi kerajaan Mesias. Yesus berkata, “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia? Kata mereka kepadaNya, anak Daud” (Matius 22:42). Kemudian Yesus mengutip Mazmur 110:1, yang menegaskan bahwa Daud menyebut Mesias sebagai Tuan, sehingga tidak mungkin Mesias itu anak Daud, karena Daud menyebutnya sebagai Tuan. Disini, Yesus bukan mau membantah bahwa Mesias adalah anak Daud secara jasmani, tetapi Yesus mau menegaskan bahwa kerajaan Mesias itu berada didalam dimensi yang lebih tinggi dari pada dimensi jasmani kerajaan Daud. Kerajaan Mesias adalah kerajaan sorga, kerajaan Mesias bukanlah soal makanan dan minuman. Jadi, pola pikir “jasmani” PL, itu yang Yesus coba rubah dalam diri orang2 Farisi dan ahli2 Taurat zamanNya.

Telah kita lihat bahwa pemberitaan Yohanes Pembaptis dan Yesus yang menawarkan kerajaan sorga kepada bangsa Yahudi ditolak oleh para pemimpinnya. Sanhedrin, mahkamah agama Yahudi, tidak menerima Yesus sebagai Mesias yang sebelumnya telah dijanjikan kepada Daud. Sanhedrin menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus, dan melalui tangan Pilatus menyalibkanNya.

Kemudian Petrus dan kawan2nya kembali menawarkan kerajaan sorga, dan Yesus sebagai Mesias kepada Sanhedrin. Hal ini dilakukan Petrus dan timnya tiga kali. Pertama, ketika Petrus bersaksi dihadapan Sanhedrin serta menegaskan bahwa tidak ada nama lain selain nama Yesus Kristus yang didalamnya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:1-12). Kedua, ketika Petrus kembali berdiri dihadapan Sanhedrin dan bersaksi tentang kebangkitan Yesus, dan bahwa Yesus duduk disebelah kanan Yang Maha tinggi, selaku Penguasa dan Juru Selamat (Kis. 5:26-33). Ketiga, melalui Stefanus, kembali Petrus dan timnya bersaksi kepada Sanhedrin. Kali ini Sanhedrin menolak dan bahkan merajam Stefanus, walaupun sebenarnya Sanhedrin tidak diberi hak oleh penguasa Roma untuk menghukum mati seseorang. Jadi, bangsa Yahudi, yang diwakili oleh Sanhedrin, telah menolak Yesus sebagai Mesias, bahkan sampai hari ini…

Mengapa bangsa Yahudi menolak Yesus sebagai Mesias? Sesungguhnya hal ini memang telah dinubuatkan didalam Yesaya 6:8-13. Ditegaskan oleh Yesaya 6:10, “Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh”. Tetapi, ada maksud Tuhan mengapa hal ini terjadi. Roma 11:25-26 mengatakan, “…sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan…”. Pada waktuNya, setelah seluruh bangsa-bangsa lain telah masuk, maka Israel juga akan diselamatkan.

Dalam kondisi bangsa Yahudi yang menolak Yesus sebagai Mesias, kepada Petrus dan timnya diberikan tugas yang kita kenal sebagai Amanat Agung, yang tertulis dalam Matius 28:18-20. Tugas menjadikan semua bangsa murid Yesus disertai dengan jaminan bahwa segala otoritas baik disorga dan dibumi telah diberikan kepada Yesus.

Bagaimana Petrus dan timnya memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain, dan bagaimana Paulus yang kemudian diutus kepada bangsa-bangsa lain, akan kita bahas berikutnya.

Istilah Yunani ‘euanggelion’ yang diterjemahkan ‘khabar baik’ muncul 76 kali dalam PB. Petrus hanya menggunakan satu kali dalam suratnya dan menyebut ‘Injil Elohim’ (I Petrus 4:17). Tetapi didalam Injil Matius, suatu injil yang ditulis kepada bangsa Yahudi, terdapat 3 kemunculan istilah Injil, yaitu, ‘Injil Kerajaan sorga’ atau ‘Injil Kerajaan Elohim”, dan satu lagi dengan istilah ‘Injil’ saja.

Paulus menggunakan istilah ‘Injil’ didalam surat2nya sebanyak 60 kali. Kemunculan istilah ‘Injil’ dalam surat2 Paulus sebagai berikut, ‘Injil Kristus’ sebanyak 8 kali, ‘Injil Elohim’ sebanyak 6 kali, dan ungkapan2 lainnya seperti, ‘Injil damai sejahtera’, ‘Injil Yesus’, ‘Injilku’, dan selebihnya Paulus menggunakan istilah ‘Injil’ saja. Didalam Kis. 20:24, Paulus menggunakan ungkapan ‘Injil kasih Karunia Elohim’.

Dengan memperhatikan berbagai penggunaan istilah ‘injil’ baik oleh Paulus dan Petrus, setidaknya kita mulai dapat melihat keunikan pemberitaan mereka. Paulus memakai istilah ‘Kristus’ dengan beberapa makna yang akan kita bahas nanti. Bahkan Paulus menggunakan ungkapan ‘Injilku’ untuk menekankan keunikan pemberitaannya. Keunikan pemberitaan Petrus dan Paulus bukannya tanpa arti. Bahkan didalam I Korintus 11:16, Paulus membedakan jemaat2 yang dilayani oleh Petrus dan timnya, dengan jemaat2 yang dirintisnya sendiri bersama kawan2nya. Mari kita perhatikan I Korintus 11:16, “Akan tetapi, jika seseorang cenderung untuk berdebat, KAMI maupun GEREJA-GEREJA ELOHIM tidak mempunyai kebiasaan seperti itu (ILT)’. Yang dimaksud Paulus ‘GEREJA-GEREJA ELOHIM’ adalah jemaat orang2 Yahudi yang dilayani oleh Petrus dan timnya.

Kalau kita perhatikan ungkapan ‘Injil Kerajaan’ yang hanya muncul 3 kali didalam kitab Injil Matius, suatu Injil untuk bangsa Yahudi, maka dapat kita pahami keunikan berita yang disampaikan oleh Petrus dan timnya. Petrus dan timnya memberitakan kepada bangsa Yahudi bahwa melalui kematian, kebangkitan dan pemuliaan Yesus dimana Yesus duduk disebelah kanan Bapa, maka, “Elohim telah menjadikan Dia, baik selaku Tuhan maupun Mesias…” (Kis. 2:36 – ILT). Petrus memberitakan Yesus sebagai Mesias atau kerajaan Mesias kepada bangsa Yahudi. Dan Yesus, yang diutus hanya kepada bangsa Yahudi saja (Matius 15:24), juga memberitakan ‘bertobatlah, sebab kerajaan sorga sudah dekat’. Tetapi kita tahu bahwa bangsa Yahudi telah menolak, baik Yesus maupun pemberitaan Petrus dan timnya. 

Kemudian, bagaimana bangsa2 lain dapat mendengar ‘Injil’, atau lebih tegas, bagaimana bangsa2 lain menerima ‘keunikan berita Injil’ yang disampaikan Paulus? Untuk memahami hal ini, kita harus mengetahui bahwa Yesus datang untuk membuat suatu Perjanjian yang baru dengan bangsa Yahudi, karena Perjanjian yang lama telah dilanggar. Hal ini telah dinubuatkan dalam Yeremia 31: 31-34, demikian tertulis, “…Aku akan mengikat suatu perjanjian baru dengan keluarga Israel dan dengan keluarga Yehuda… Aku akan meletakkan toratKu didalam batin mereka dan Aku akan menuliskannya didalam hati mereka, dan Aku akan menjadi Elohim mereka, dan mereka akan menjadi umatKu…. Mereka semua akan mengenal Aku… Aku akan mengampunkan kesalahan kepada mereka dan tidak akan mengingat dosa-dosa mereka lagi”.

Perjanjian yang baru ini dibuat Yesus dimalam terakhir ketika Ia sedang merayakan Paskah bersama-sama murid2Nya. Didalam Matius 26:28 tertulis, “Sebab inilah darahKu, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa”. Perjanjian Baru yang dibuat Yesus bagi bangsa Yahudi disahkan oleh darahNya. Tetapi kita tahu bahwa bangsa Yahudi telah menolak Yesus. Penolakan bangsa Yahudi ini membuka kesempatan bangsa-bangsa lain masuk kedalam perjanjian baru ini. Selanjutnya kita akan menjelaskan bagaimana Paulus diutus Tuhan untuk membawa Perjanjian Baru ini kepada bangsa-bangsa lain.

Saat ini kita akan membahas bagaimana Paulus diutus Tuhan untuk membawa Perjanjian Baru kepada bangsa-bangsa lain. Kisah para rasul 13: 2 berkata, “… Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka”. Barnabas dan Saulus, kemudian menjadi Paulus, mendirikan jemaat2 disetiap kota serta menetapkan penatua2 untuk menggembalakan jemaat yg mereka rintis. Pada awalnya, Paulus dan Barnabas memberitakan pengampunan dosa, yang tidak dapat diperoleh melalui hukum Musa, melainkan melalui percaya kepada kematian dan kebangkitan Yesus (Kis. 13: 38-39). Tentu, Paulus tidak saja memberitakan pengampunan dosa. Kita akan melihat nanti apa saja yang diberitakan Paulus dalam Injilnya. Tetapi, saat ini, kita akan membahas perihal bangsa-bangsa lain, yang kepadanya Paulus memberitakan Injil. Apakah bangsa-bangsa lain harus mentaati hukum Musa, sebagaimana jemaat Yahudi mentaatinya, seperti yang ada tertulis dalam Kis. 21:20, “… lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat”. 

Persoalan ini dibahas didalam Kisah para rasul pasal 15:1-34. Setelah Petrus berbicara, “… bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga” (ayat 11), maka Paulus dan Barnabas menceritakan perbuatan2 besar yang Tuhan lakukan kepada bangsa-bangsa lain, dimana hal ini meneguhkan kesaksian Petrus. Kemudian, Yakobus menutup dengan mengutip Amos 9:11-12, demikian, “Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milikKu demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui dari sejak semula” (LAI).

Apakah atau siapakah ‘pondok Daud’ yang disebut dalam ayat diatas? Apakah hanya bangsa Israel saja, atau juga bangsa-bangsa lain yang dipilih Tuhan menjadi umatNya. Kalau kita memperhatikan perkataan Yakobus sebelumnya bahwa Tuhan menunjukkan rahmatNya kepada bangsa-bangsa lain dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi namaNya, maka sewajarnyalah kita berpendapat bahwa pondok Daud yang dibangun kembali oleh Tuhan adalah bangsa Israel dan juga bangsa-bangsa lain yang dipilih Tuhan pada zaman ini. Yakobus menegaskan bahwa perihal Tuhan memilih bangsa-bangsa lain menjadi umatNya adalah ‘sesuai’ dengan nubuat Amos yang telah kita kutip. Istilah ‘sesuai’ berasal dari istilah Yunani ‘sumphoneo’, yang artinya ‘to be in harmony’, atau ‘to agree’. Jadi, terpilihnya bangsa-bangsa lain dizaman ini serta “dicangkokkan” kedalam bangsa Israel merupakan nubuat Amos 9:11-12.

Tetapi, nubuat Amos 9:11-12, yang dikutip Yakobus, tidak hanya berhenti sampai ‘sebagian’ bangsa-bangsa lain yang diselamatkan pada zaman ini. Tetapi, “supaya semua orang lain mencari Tuhan”. Artinya, nubuat Amos melewati zaman ini dan terus menuju zaman2 berikut, dimana pada akhirnya, semua orang lain mencari Tuhan. Pondok Daud yang telah roboh dan dibangunkan kembali oleh Tuhan adalah bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain yang terpilih dizaman ini. Tetapi kemudian, semua orang lain, atau yang tersisa dari umat manusia, juga akan mencari Tuhan. Saya lebih senang dengan terjemahan ‘yang tersisa dari umat manusia’ karena ini sesuai dengan terjemahan aslinya, yaitu ‘kataloipos ho anthropos’ (the residue of men). Dengan menyebut ‘yang tersisa dari umat manusia’ itu berarti pada akhirnya semua manusia akan mencari Tuhan.

Kesimpulan perihal bangsa-bangsa lain yang diberitakan Injil oleh Paulus adalah sebagai berikut. Pertama, bangsa-bangsa lain yang diselamatkan dan terpilih dizaman ini tidak diharuskan memelihara hukum Taurat seperti bangsa Yahudi. Kedua. Pondok Daud yang telah roboh dan dibangunkan kembali oleh Tuhan, adalah bangsa Israel dan bangsa2 lain yang terpilih dizaman ini. Ketiga, akibat pondok Daud yang sudah dibangunkan kembali itu, maka dizaman-zaman berikutnya, yang tersisa dari umat manusia akan mencari Tuhan.

Mari kita membahas dengan ringkas Perjanjian Baru yang dibuat oleh Yesus dimalam terakhir bersama-sama murid2Nya. Matius 26:26-28 mencatat, “Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti…. Sesudah itu Ia mengambil cawan…. Sebab inilah darahKu, darah perjanjian…”. Ketika mereka sedang makan Paskah, Yesus mengambil roti dan cawan serta membuat suatu perjanjian yang disahkan oleh darahNya sendiri. Lukas 22:20 mencatat, “… Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu, yang ditumpahkan bagi kamu”.

Sesungguhnya, apa yang dibuat Yesus telah dinubuatkan dalam kitab nabi Yeremia 31:31-34, seperti ada tertulis, “… Aku akan mengikat suatu perjanjian baru dengan keluarga Israel…. Aku akan meletakkan toratKu didalam batin mereka dan Aku akan menuliskannya didalam hati mereka dan Aku akan menjadi Elohim mereka dan mereka akan menjadi umatKu…. Mereka semua akan mengenal Aku…. tidak akan mengingat dosa-dosa mereka lagi” (ILT). Inti dari Perjanjian Baru ini ialah Tuhan akan menuliskan hukumNya (ToratNya) kedalam batin orang percaya. Kalau didalam PL, hukum Tuhan tertulis didalam loh2 batu, tetapi dalam PB, hukum yang tertulis dalam loh batu itu dituliskan atau diletakkan Tuhan kedalam batin orang percaya.

Ada tiga hal yang terjadi ketika Tuhan menuliskan hukum2Nya kedalam batin orang percaya. Pertama, Tuhan akan menjadi Elohim bagi orang percaya, dan orang percaya menjadi umatNya. Kedua, orang percaya akan mengenal Elohim secara batiniah. Ketiga, Tuhan tidak akan mengingat lagi dosa2 orang percaya.

Kalau kita perhatikan lebih jauh lagi, jelaslah bahwa Perjanjian Baru bersifat spiritual dan batiniah, sedangkan Perjanjian Lama bersifat natural dan lahiriah. Perjanjian lama itu bersifat nubuat, bayangan, dan simbol, sedangkan Perjanjian baru itu merupakan penggenapan nubuat PL, wujud dari bayangan dalam PL, realita dari simbol2 PL. Kolose 2:16-17 menegaskan, “Oleh karena itu, janganlah seorangpun menghakimi kamu dalam hal makanan atau dalam hal minuman, atau mengenai bulan baru, atau hari-hari sabat, yang merupakan bayangan dari hal-hal yang akan datang, tetapi wujudnya adalah Kristus” (ILT).

Kita tahu bahwa Perjanjian baru itu dibuat Yesus terutama bagi bangsa Israel, karena Israel telah melanggar Perjanjian Lama dan Tuhan menggantikannya dengan suatu Perjanjian Baru sesuai dengan nubuat dalam Yeremia 31:31-34. Tetapi kemudian, Paulus diutus Tuhan untuk melayankan (memberitakan) Perjanjian Baru kepada bangsa-bangsa lain juga. Kita akan melihat dan membahas beberapa poin penting dalam Injil Paulus yang diberitakannya kepada bangsa-bangsa lain.

Pertama, Paulus memberitakan pembenaran, pengudusan dan pemuliaan melalui iman. Hal ini diuraikannya dalam surat Roma. Kedua, Paulus memberitakan Kristus dalam Injilnya. Ketiga, Paulus memberitakan gereja sebagai tubuh Kristus. Keempat, Paulus memberitakan kedatangan Tuhan didalam dan melalui orang2 kudusNya. Tentu masih ada beberapa hal yang disampaikan Paulus didalam pelayanannya, tetapi untuk kepentingan tema kita, poin2 diatas sudah cukup.

Kita akan membahasnya satu persatu secara ringkas untuk dapat melihat keunikan berita yang disampaikan Paulus kepada bangsa2 lain. Sebenarnya, bagi Injil Paulus, tidak ada lagi perbedaan antara bangsa Yahudi maupun bangsa2 lain, karena semuanya satu didalam Kristus.

Saat ini kita akan membahas Injil Paulus mengenai pembenaran (justification), pengudusan (sanctification), dan pemuliaan (glorification). Paulus menguraikan hal ini dengan sistematis dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Didalam surat Roma terdapat 9 kali istilah Injil, diantaranya Injil Elohim, Injil AnakNya, dan juga Injil Kristus. Didalam surat Roma, Paulus menjelaskan Injilnya melalui tema kebenaran Elohim, karena demikianlah tema utama surat ini.

Kebenaran adalah suatu kondisi atau kualitas yang bersesuaian dengan standard tertentu. Karenanya, kebenaran Elohim adalah suatu standart atau kualitas Elohim. Jika seseorang mau berkenan kepada Elohim dan diselamatkan, maka ia harus mencapai standard kebenaran Elohim. Paulus dengan tegas menyatakan bahwa kebenaran Elohim tidak mungkin dicapai melalui ketaatan kepada hukum Taurat. Khabar baiknya adalah kebenaran Elohim dapat diterima melalui iman dalam Kristus Yesus.

Paulus menjelaskan iman dalam Kristus sebagai berikut, “…bertolak dari iman dan memimpin kepada iman…”. (Roma 1:17).  Ungkapan dalam bahasa Yunaninya adalah ‘ek pisteos eis pistin’ (from faith to faith). Ketika seseorang dipilih Tuhan, maka ia diberi iman dalam Kristus. Iman disini adalah energi Kristus yang memampukannya untuk bertindak sesuai iman Kristus yang telah diberikan, sebab iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati. Selanjutnya, perbuatan yang lahir dari iman Kristus, akan menyempurnakan iman yang telah ada sebelumnya. Proses ini berlangsung terus. Iman yang ada menghasilkan perbuatan, kemudian perbuatan yang lahir dari iman, pada gilirannya akan menyempurnakan iman yang ada. Demikianlah maksud perkataan Yakobus, “…oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yakobus 2:22). Proses pertumbuhan iman ini berlangsung terus sampai keselamatan menjadi sempurna, yaitu pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan.

Mari kita melihat secara ringkas pembenaran karena iman ini. Paulus menjelaskannya mulai dari Roma 3:21 sampai Roma 5:11, yang intinya, kebenaran Elohim diperhitungkan menjadi milik orang percaya, semata-mata karena iman Kristus. Hasil dari pembenaran ini adalah hidup dalam damai sejahtera bersama Elohim, beroleh jalan masuk kedalam kasih karunia, bermegah dalam pengharapan menerima kemuliaan Elohim, bahkan bermegah dalam kesengsaraan karena kesengsaraan menimbulkan ketekunan, tahan uji dan pengharapan yang tidak mengecewakan.

Sedangkan, pengudusan karena iman ini dijelaskan Paulus dari pasal 5:12 sampai pasal 7:26. Inti dari pengudusan ini adalah kita mati bersama Kristus dan terlepas dari kuasa dosa sehingga dapat mempersembahkan tubuh kita ini untuk dipakai sebagai senjata kebenaran. Pengudusan karena iman ini terkait dengan keselamatan tubuh. Sekalipun memang tubuh jasmani ini akan mati juga karena dosa, namun SAAT INI tubuh kita sudah dilepaskan dari kuasa dosa dan menjadi hamba kebenaran, dan dipakai menjadi senjata kebenaran.

Mengenai pemuliaan karena iman, diuraikan Paulus pada pasal 8:1-30. Pemuliaan karena iman terkait dengan warisan kita sebagai putera-putera Elohim. Kita akan menerima warisan kita ini bersama dengan Kristus karena kita telah menderita bersama dengan Dia. Ketika Kristus datang, maka kita akan menerima warisan kita yaitu menerima tubuh baru seperti Kristus Yesus, dan juga dimuliakan atau ditampilkan kepada seluruh makhluk, untuk melayani seluruh makhluk dan melepaskan seluruh makhluk dari perbudakkan kebinasan (Roma 8:19-21).

Inilah Injil Elohim atau Injil AnakNya, atau juga Injil Kristus yang diuraikan Paulus dalam surat Roma. Masih ada pewahyuan mengenai bangsa Israel dalam pasal 9 sampai 11, namun kita tidak membahasnya sekarang.

Telah kita ketahui bahwa Paulus setidaknya memberitakan 4 hal ini dalam injilnya. Pertama, Paulus memberitakan pembenaran, pengudusan dan pemuliaan melalui iman, yang mana telah kita uraikan dengan ringkas pada bagian (7). Kedua, Paulus memberitakan Kristus dalam Injilnya. Ketiga, Paulus memberitakan gereja sebagai tubuh Kristus. Keempat, Paulus memberitakan kedatangan Tuhan didalam dan melalui orang2 kudusNya. Saat ini kita akan membahas bagaimana Paulus memberitakan Kristus dalam injilnya.

Khabar baik yang diberitakan Paulus adalah Kristus. Itu sebabnya Paulus menyebut injilnya adalah injil Kristus (Roma 15:19; I Korintus 9:12; II Korintus 2:12; 9:13; 10:14; Galatia 1:7; I Tesalonika 3:2). Paulus menegaskan dalam Kolose 1:27-28 demikian, “… Kristus ada ditengah-tengah kamu (Christ in you –Literal Translation). Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan. Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus”.

Mari kita melihat apakah dan siapakah Kristus yang diberitakan Paulus dalam injilnya. Pertama, Kristus adalah pengharapan akan kemuliaan, sesuai ayat kita diatas. Ketika manusia jatuh kedalam dosa, manusia kehilangan atau sangat kekurangan kemuliaan Elohim (Roma 3:23). Dan Adam mencoba “menutupi” kehilangan kemuliaan Elohim itu, yang menyebabkan rasa malu, dengan daun pohon ara (simbol dari kemuliaan manusia). Tetapi Tuhan tidak berkenan, dan menggantikannya dengan kulit binatang, yaitu korban Kristus Yesus. Paulus memberitakan Kristus sebagai solusi dari kehilangan kemuliaan Elohim, karena manusia telah jatuh dalam dosa. Dan Kristus yang diberitakan Paulus ada didalam batin kita. Christ in you, the hope of glory.

Kedua, Kristus adalah korporat (beranggota banyak). I Korintus 12;12 mengatakan, “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus”. Kristus disini beranggota banyak, yaitu Kristus kepala (Yesus), dan Kristus tubuh (gereja). Khabar baiknya adalah didalam Kristus, kita sudah dibangkitkan dan diberi tempat bersama-sama dengan Dia di sorga (Efesus 2:6).

Ketiga, Kristus adalah Hayat kita. Kolose 3:4 mengatakan, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan”. Yesus berkata Aku datang supaya mereka mempunyai hayat (zoe = jenis hidup Elohim). Dengan Kristus sebagai hayat kita, maka kita dapat mengenal Bapa dan Yesus Kristus yang diutusnya, dengan benar (Yohanes 17:3). Melalui hayat, kita bisa berfellowship dan menikmati Dia secara pribadi. Didalam hayat ini juga terdapat kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri Kristus. Dan apabila Kristus yang adalah hayat kita ini, menyatakan diri kelak (kedatanganNya di akhir zaman), kita juga akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan Elohim (Roma 8:19-21).

Keempat, Kristus semua dalam semua. Kolose 3:11 menegaskan, “… tetapi Kristus adalah semua dan didalam segala sesuatu” (the all and in allChrist. Young’s Literal Translation). Kristus adalah semua didalam semua. Mari kita bandingkan ungkapan ‘semua dalam semua’ ini dengan I Korintus 15:28, “… Elohim dapat menjadi semua dalam semuanya” (ILT). Dalam I Korintus 15 ini terlihat jelas bahwa kondisi ‘Elohim dapat menjadi semua dalam semua’ terjadi SETELAH MUSUH TERAKHIR DITAKLUKKAN, YAITU MAUT. Upah dosa adalah maut. Kristus akan menaklukkan segala sesuatu, termasuk maut, sehingga Kristus dapat menjadi semua dalam semua. Kristus kepala dan Kristus tubuh akan menaklukkan segalanya… sampai Kristus menjadi semua dalam semua.  

Pemberitaan injil Paulus selanjutnya adalah gereja sebagai tubuh Kristus. Telah kita singgung bahwa jemaat2 yang didirikan Paulus dan timnya memiliki keunikannya sendiri. Bahkan didalam I Korintus 11:16, Paulus membedakan jemaat2 yang dilayani oleh Petrus dan timnya, dengan jemaat2 yang dirintisnya sendiri bersama kawan2nya. Mari kita perhatikan I Korintus 11:16, “Akan tetapi, jika seseorang cenderung untuk berdebat, KAMI maupun GEREJA-GEREJA ELOHIM tidak mempunyai kebiasaan seperti itu (ILT)’. Yang dimaksud Paulus ‘GEREJA-GEREJA ELOHIM’ adalah jemaat orang2 Yahudi yang dilayani oleh Petrus dan timnya.

Keunikan jemaat yang dirintis Paulus adalah tidak ada lagi perbedaan antara Yahudi dan non Yahudi atau bangsa2 lain. Tembok pemisah, yaitu hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, ‘telah dibatalkan’ melalui kematian Yesus, dan sekarang keduanya (Yahudi dan non Yahudi) menjadi satu manusia baru didalam Kristus (Efesus 2:14-15). Ungkapan ‘telah dibatalkan’ yang ada dalam Efesus 2:15, berasal dari istilah Yunani ‘katargeo’, yang berarti ‘to make inactive’ atau ‘to make of no effect’. Artinya, sekalipun memang ada perbedaan bangsa Yahudi dan bangsa2 lain, karena adanya hukum Taurat bagi bangsa Yahudi, namun perbedaan itu dibuat tidak ada efeknya, atau dibuat tidak aktif (inactive). Jadi, dalam injil Paulus, gereja adalah tubuh Kristus dimana tidak ada perbedaan Yahudi dan non Yahudi.

Gereja adalah tubuh dengan banyak anggota, artinya gereja adalah organisme yang hidup. Paulus tidak pernah bermaksud menyatakan bahwa gereja adalah ribuan organisasi (denominasi) seperti yang ada sekarang ini. Saya akan mulai menjelaskan dengan ringkas maksud Paulus dengan gereja adalah organisme, dan kemudian kita akan melihat mengapa organisme yang mula2 itu berubah, atau lebih tepat, pecah menjadi ribuan organisasi seperti sekarang ini.

Gereja sebagai organisme mempunyai para pemimpin organismenya juga. Kolose 2:19, berkata, “Dan yang tidak berpegang teguh pada kepala, yang dari padaNya seluruh tubuh, melalui sendi-sendi dan urat-urat, karena ditunjang dan diikat bersama, tumbuh dengan pertumbuhan yang dari Elohim” (ILT). Mari kita perhatikan baik2 ayat ini, karena ayat ini berbicara soal otoritas organisme, pertumbuhan organisme, dan juga para pemimpin organismenya.

Pertama, otoritas organisme ini jelas adalah kepala. Kristus Yesus sebagai kepala berotoritas atas gereja sebagai tubuhNya. Atau lebih jelas, Kristus Yesus sebagai hayat organisme (I am the life), hayat Kristus inilah yang memiliki otoritas atas organisme. Kedua, pertumbuhan organisme ini dijelaskan oleh ayat kita diatas dengan ungkapan ‘tumbuh dengan pertumbuhan yang dari Elohim’. Ungkapan bahasa aslinya adalah, ‘auxano ho auxesis ho theos’, yang artinya ‘increase with the increase of God’ (Young’s Literal Translation). Jadi, terjemahan bahasa Indonesia yang tepat dari ungkapan ini adalah ‘bertumbuh dengan pertumbuhan Elohim’. Pertumbuhan Elohim disini bukan berarti Tuhan bertumbuh didalam organisme, melainkan HAYATNYA BERTUMBUH DIDALAM ORGANISME. Jadi, pertumbuhan organisme adalah pertumbuhan Hayat. Ketiga, para pemimpin organisme ini disebut dengan istilah, ‘sendi-sendi dan urat-urat’. Sendi-sendi dan urat-urat ini tidak memiliki otoritas atas organisme, karena otoritas organisme itu adalah Hayat Kristus. Kalau kita perhatikan ayat diatas baik-baik, maka kita dapat melihat bahwa peran ‘sendi-sendi dan urat-urat’ ini hanyalah sebagai SALURAN HAYAT KRISTUS.

Jika, para pemimpin organisme ini berfungsi dengan baik, dan melaluinya hayat Kristus mengalir kedalam tubuh, maka tubuh akan mengalami pertumbuhan yang normal. Selanjutnya, kita lihat dari ayat ini peran pemimpin organisme sebagai yang ‘menunjang (mensuplai) dan mengikat’ tubuh sehingga tubuh tidak terpecah dan dapat bertumbuh dengan baik. Hal seperti ini tidak terjadi bagi para pemimpin organisasi (denominasi) yang justru memecah tubuh Kristus.

Kristus inilah yang diberitakan Paulus dalam injilnya. Ungkapan yang paling sering dipakai Paulus adalah DIDALAM KRISTUS. Didalam Kristus, kita sudah diberkati, dipulihkan, diberi tempat dialam sorgawi. Didalam Kristus ini ada sukacita, ada penghiburan, dan ada segala sesuatu yang kita butuhkan. Haleluyah…

Telah kita bahas bahwa gereja adalah organisme, dimana istilah yang Paulus pakai adalah tubuh, atau tubuh Kristus. Berdasarkan Kolose 2:19, telah kita lihat peran pemimpin organisme sebagai yang menyalurkan hayat Kristus, menunjang, mensuplai, dan mengikat tubuh menjadi satu, sekalipun terdapat banyak anggota. Saat ini kita akan membahas mengapa gereja yang adalah organisme atau tubuh, sekarang telah terpecah-pecah menjadi ribuan organisasi, atau denominasi.

Banyak orang, termasuk para pemimpin denominasi, sudah tidak mempermasalahkan lagi hal ini. Bahkan sudah diajarkan bahwa gereja memiliki dua aspek, yaitu yang kelihatan, itulah ribuan denominasi yang bisa kita lihat. Dan aspek yang tidak kelihatan, yaitu semua anak2 Tuhan yang sejati dimuka bumi ini, yang mana hanya Tuhan yang tahu mengenai mereka. Ajaran visible (terlihat) dan invisible (tak terlihat) church ini telah dimulai oleh Martin Luther, seperti diuraikan oleh Prof. L. Berkhof dalam bukunya yang sangat terkenal itu, Systematic Theology, halaman 560-564. Pandangan ini bukan saja diterima oleh hampir semua pemimpin denominasi, tetapi juga diajarkan di sekolah2 Teologi di seluruh dunia. Tetapi, mari kita melihat apa kata Alkitab mengenai ribuan denominasi ini. Mengapa gereja yang tadinya organisme dan tidak terpecah-pecah, kemudian pecah menjadi ribuan denominasi…

Kisah Para Rasul 20:28-30, mencatat, “Jadi, jagalah dirimu sendiri dan seluruh kawanan yang atasnya Roh Kudus telah menempatkan kamu sebagai penilik, untuk menggembalakan jemaat Elohim yang telah Dia dapatkan melalui darahNya sendiri. Sebab aku mengetahui hal ini, bahwa setelah kepergianku, serigala-serigala ganas akan masuk kepada kamu dengan tidak menyayangkan kawanan itu. Bahkan, dari antara kamu sendiri akan muncul orang-orang yang berbicara hal-hal yang menyesatkan untuk menarik para murid mengikuti mereka” (ILT). Dalam perjalanannya ke Yerusalem, Paulus menyempatkan diri bertemu di Miletus, dengan para pemimpin gereja di Efesus. Disini Paulus menegaskan bahwa setelah kepergiannya akan datang serigala-serigala ganas, tentunya iblis dan roh2 jahat, yang menyerang para pemimpin sehingga para pemimpin, atau lebih tepat, beberapa pemimpin akan melakukan dua hal. Pertama, berbicara hal-hal yang menyesatkan. Kedua, memiliki satu tujuan, yaitu, menarik murid2.

Mari kita lihat dahulu hal pertama. Menyesatkan disini berasal dari istilah Yunani, ‘diastrepho’, yang berarti, ‘menyimpangkan’ atau ‘salah menafsirkan’. Jika kita melihat karakteristik guru palsu dalam surat Yudas 4, tertulis, “… menyelewengkan anugerah Elohim kita ke arah rangsangan badani” (ILT). Guru-guru palsu itu selalu berbicara kebaikan Tuhan, kasih karunia Tuhan, anugerah Tuhan, TETAPI DIARAHKAN KEPADA ATAU DISIMPANGKAN KEPADA perkara2 jasmani, bahkan perkara-perkara duniawi yang membangkitkan hawa nafsu. Guru-guru palsu ini selalu berbicara kemakmuran, kesehatan, kekayaan, dan kesuksesan duniawi. Sementara itu Alkitab berkata, bahwa kerajaan sorga bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal damai sejahtera dalam batin. Christ in you, the hope of glory. The kingdom of God is within you. Ini bukan berarti Tuhan tidak perduli dengan kebutuhan jasmani kita. Tetapi carilah dahulu kerajaan sorga, carilah dahulu kesuksesan batiniah, damai sejahtera, sukacita Kristus dalam batin. Tentu Tuhan perduli dengan kebutuhan makan, minum, dan pakaian kita.

Memang dibutuhkan kepekaan rohani untuk membedakan guru2 palsu yang fokus kepada perkara2 jasmaniah, dan guru2 sejati yang menekankan kerajaan sorga didalam batin. Karena tidak ada orang yang begitu bodoh dengan membuat uang palsu BERBEDA SEKALI dengan uang asli. Tetapi umat pilihan Tuhan, yang bukan saja dipanggil tetapi dipilih juga, pasti diperlengkapi dengan ‘urapan didalam batin’ sehingga dapat membedakan mana yang palsu, dan mana yang sejati. 

Selanjutnya, hal kedua, Paulus dengan tegas berkata bahwa tujuan para pemimpin palsu atau para gembala palsu ini adalah menarik murid2 kepada diri mereka sendiri. Tentu bukan saja menarik murid2 tetapi juga menarik uangnya dengan ajaran palsu persepuluhan, buah sulung, janji iman, atau yang lainnya.

Inilah serigala ganas yang telah mencabik-cabik gereja (tubuh = organisme) menjadi ribuan denominasi, atau organisasi. Masing2 pemimpin palsu, dengan ajaran palsu, menarik murid2 kepada diri mereka sendiri, dan dengan demikian membangun kerajaan sendiri, dan bukan membangun gereja, yang adalah tubuh, atau organisme.

Sudahkah sdr/i melihat mengapa gereja yang tadinya organisme atau tubuh Kristus, sekarang telah menjadi ribuan denominasi? Inilah rahasia injil Paulus, dimana ia dengan terus terang dan tegas membeberkan penyebab kejatuhan gereja.

Saat ini, kita masih akan berbicara mengenai poin ketiga pemberitaan injil Paulus, yaitu mengenai gereja, sebagai tubuh Kristus, khususnya para pemimpinnya. Gereja-gereja yang dirintis Paulus digembalakan oleh suatu tim kepemimpinan, yang disebut para penatua atau para penilik. Jadi, Paulus dan kawan2nya merintis gereja-gereja ditiap kota, dan kemudian menetapkan para penatua untuk menggembalakannya, yang juga dibantu oleh para diaken.

Ada dua istilah Yunani untuk penatua atau penilik ini. Pertama, ‘presbuteros’, yaitu seorang yang dewasa, baik kerohaniannya dan juga usianya. ‘Presbuteros’ ini sering diterjemahkan ‘tua-tua’, atau ‘penatua’ atau ‘elders’ dalam berbagai versi bahasa Inggris. Kedua, ‘episkopos’, yang berasal dari dua akar kata, yaitu, ‘epi’, artinya ‘diatas’, kemudian ‘skopos’, artinya ‘melihat’. Jadi, ‘episkopos’ adalah seorang yang dapat ‘melihat dari atas’, artinya memiliki penglihatan rohani sehingga dapat menjaga kawanan domba dari serangan2 serigala ganas. ‘Episkopos’ ini sering diterjemahkan ‘penilik’ atau ‘bishop’, atau ‘overseer’ dalam berbagai versi bahasa Inggris.

Dua istilah Yunani ini bukan menunjuk kepada dua orang yang berbeda, melainkan orang yang sama, dimana yang satu berbicara fungsinya, yaitu ‘melihat dari atas’, dan yang kedua berbicara orangnya, yaitu ‘dewasa rohani dan sudah senior’. Hal ini terlihat jelas karena kedua istilah Yunani ini digunakan secara bergantian. Satu contoh yang jelas dapat kita lihat dalam Titus 1:5-7, demikian tertulis, “…. mengangkat para tua-tua (presbuteros) di setiap kotaSebab seorang penilik (episkopos) jemaat…’ (ILT). Jadi, karena digunakan secara bergantian, maka hal ini jelas membuktikan bahwa presbuteros itu SAMA DENGAN episkopos.

Tetapi ada seorang yang bernama Ignatius (117 M.), seorang bishop dari gereja di Antiokhia, yang menegaskan bahwa harus ada seorang ‘bishop’ yang memimpin satu jemaat di satu lokal agar menghindari perpecahan dan menjamin bahwa ajaran sehat tetap terpelihara (The History of Christianity, halaman 83). Namun, justru ajaran Ignatius ini yang menyebabkan adanya persaingan antara satu bishop (uskup) dengan bishop (uskup) lainnya dikota berbeda, sehingga ada ‘bishop agung’ atau ‘uskup agung’. Kemudian para ‘uskup agung’ ini bertarung lagi, dan muncul ‘kardinal’ yang memimpin para ‘uskup agung’. Kemudian terjadi lagi persaingan antara para ‘kardinal’ dan muncul ‘paus’ yang memimpin para ‘kardinal’. Pada abad ke 6, hierarki telah sepenuhnya masuk kedalam gereja, dan ini disebut gereja Katolik. Tidak lama kemudian, gereja masuk kedalam zaman, yang dalam sejarah gereja, disebut zaman kegelapan gereja. Kita akan membahas lebih jauh lagi mengenai ‘hierarki’ ini dalam pembahasan rahasia injil Yohanes.

Kita sudah membahas mengenai kejatuhan gereja, yang adalah organisme, kemudian menjadi ribuan denominasi karena serangan serigala ganas terhadap para penatua (Kis. 20:28-30). Kita juga telah melihat pada uraian diatas bagaimana ‘hierarki’ masuk kedalam gereja sehingga menyebabkan gereja masuk kedalam zaman kegelapannya. Sebenarnya, trilogi ajaran sesat, yaitu ajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus ini yang menjelaskan dengan tuntas mengenai kejatuhan gereja. Tetapi kita akan menguraikannya nanti ketika kita sampai pada pembahasan rahasia injil Yohanes.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kejatuhan gereja itu dimulai oleh para pemimpinnya. Para pemimpin gereja inilah yang pertama diserang oleh serigala ganas. Para pemimpin gereja inilah yang lebih dahulu memecah tubuh Kristus sehingga menjadi ribuan keping denominasi. 

Kita masih meneruskan pembahasan kita mengenai kepemimpinan gereja, khususnya didalam komunitas Paulus. Telah kita lihat bahwa ‘presbuteros’ itu sama dengan ‘episkopos’ karena dipakai secara bergantian. Tetapi ada seorang yang bernama Ignatius (117 M.), seorang bishop dari gereja di Antiokhia, yang menegaskan bahwa harus ada seorang ‘episkopos’ (Bishop = Uskup) yang memimpin satu jemaat di satu lokal agar menghindari perpecahan dan menjamin bahwa ajaran sehat tetap terpelihara (The History of Christianity, halaman 83). Namun, justru ajaran Ignatius ini yang menyebabkan adanya persaingan antara satu Bishop disatu kota dengan Bishop dikota lainnya yang pada akhirnya melahirkan atau mendatangkan ‘hierarki’ didalam gereja.

Mari kita melihat lebih jauh lagi tentang ‘hierarki’ ini. ‘Hierarki’ berasal dari istilah Yunani, ‘hierarchia’, atau ‘hierarches’, yang artinya ‘pemimpin ritus suci, atau imam agung’. Didalam kamus2, ‘hierarki’ berarti suatu sistem, khususnya dalam masyarakat atau organisasi, dimana orang2 disusun kedalam tingkat kepentingan yang berbeda dari yang paling tinggi sampai kepada yang paling rendah. Jadi, jika gereja yang adalah organisme, dimana orang2 atau anggota2nya disusun menjadi suatu tubuh dengan hayat tubuh itu sebagai otoritasnya yang mengatur keseluruhan tubuh, maka ketika ‘hierarki’ masuk, otoritas didalam tubuh itu bukan hayat tubuh itu lagi, melainkan ‘orang yang tertinggi’ didalam susunan suatu sistem (baca: organisasi). Dengan demikian, yang mengatur gereja bukan lagi hayat tubuh, melainkan ‘orang yang tertinggi’ didalam suatu sistem (organisasi gereja), entahkah ‘orang yang tertinggi’ ini disebut ‘pemimpin ritus suci’, atau ‘imam agung’ atau ‘pendeta senior’ atau ‘gembala sidang’ atau apapun juga, yang jelas gereja tidak lagi diatur oleh hayat yang adalah Kristus Yesus sendiri (I am the Life), melainkan diatur oleh seorang manusia. Yang terjadi sesungguhnya adalah PERAMPASAN OTORITAS GEREJA OLEH PEMIMPIN. Otoritas Yesus atas gereja telah dirampas oleh pemimpin.

Mari kita belajar dari kepemimpinan komunitas Petrus. Kitab Matius merupakan khabar baik kerajaan sorga yang disampaikan oleh Yesus dan Yohanes Pembaptis kepada bangsa Yahudi. Didalam Matius 23:1-12, ada tertulis, “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid2Nya, kataNya: ‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya ….. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa dibumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang disorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias, Barangsiapa terbesar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”.

Dari ayat diatas, jelas bahwa didalam gereja tidak ada ‘kursi Musa’. Dalam komunitas Yahudi dibawah Perjanjian Lama, seperti yang terjadi pada ahli2 Taurat dan orang2 Farisi, memang mereka menduduki ‘kursi Musa’, dan karenanya mereka memiliki otoritas atas bangsa Yahudi. Yesus mengajarkan kepada orang banyak agar jangan memberontak kepada “otoritas Musa” yang dimiliki oleh ahli Taurat dan orang2 Farisi. Kata Yesus, “turuti apa yang mereka ajarkan…tetapi jangan turuti perbuatan2 mereka…”. Namun, ketika Yesus berbicara kepada murid2Nya, Ia berkata, “Tetapi kamujangan kamu disebut Rabi, pemimpin atau bapa…. KAMU SEMUA ADALAH SAUDARA”. Apakah didalam gereja tidak ada pemimpin? Tentu ada, tetapi para pemimpin tidak mempunyai otoritas atas gereja. Apakah tidak ada Rabi dalam gereja? Tentu saja ada, tetapi tidak ada otoritas apapun yang dimiliki oleh pengajar. Apakah tidak ada bapa dalam gereja? Tentu ada bapa2 rohani dalam gereja, tetapi mereka tidak mempunyai otoritas apapun atas gerejaNya. Tegasnya, TIDAK ADA “KURSI MUSA” DIDALAM GEREJA. Otoritas dalam gereja dipegang LANGSUNG oleh Yesus, dan Yesus memimpin LANGSUNG gerejaNya melalui RohNya (Life giving Spirit = Roh pemberi Hayat). Tidak ada istilah ‘delegated authority’ atau ‘otoritas terdelegasi’. Istilah ini hanya ada dalam konteks ‘hierarki’ atau konteks organisasi. YESUS TIDAK PERNAH MENDELEGASIKAN OTORITASNYA ATAS GEREJA. Para pemimpin denominasi TELAH MERAMPAS OTORITAS YESUS ATAS GEREJANYA. Orang2 yang meninggikan diri ini akan direndahkan kelak ketika Yesus datang kebumi untuk menegakkan kerajaanNya (ayat 12).

Jadi, kepemimpinan organisme itulah yang benar, karena gereja memang adalah organisme. Para pemimpin organisme tidak mempunyai otoritas apapun atas tubuh. Mereka adalah “urat2 dan sendi2” yang belajar menyalurkan hayat, belajar mensuplai gereja, dan mengikat anggota2 tubuh menjadi satu (Kolose 2:19). Tetapi para pemimpin denominasi adalah orang2 yang meninggikan diri dan merampas otoritas Yesus atas gerejaNya, serta memecah belah tubuh Kristus.

Saat ini, kita akan membahas poin terakhir dari injil Paulus, yaitu kedatangan Tuhan didalam dan melalui gereja pemenang. Mengenai tema ‘kedatangan Tuhan’, saya telah menulisnya, dan bagi sdr/i yang berminat, silahkan kontak saya. Tetapi saat ini kita perlu menekankan beberapa hal dalam topik ini.

Pertama, jika seseorang mau memahami topik ini, maka ia harus sangat memperhatikan konteks, dalam hal ini konteks Perjanjian. Sifat dasar PL adalah nubuat, bayangan, dan lambang. Sedangkan PB adalah penggenapannya, wujud dari bayangan PL, serta realita dari yang dilambangkan oleh PL. Mari kita perhatikan Kolose 2:16-17, “… mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus”. Prinsip konteks Perjanjian juga terlihat dalam I Korintus 15:46, “Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah”. Maksudnya, PL adalah alamiah (jasmani, natural), PB adalah rohaniah (spiritual, rohani).

Kedua, seseorang harus memahami apa maksud Paulus dengan istilah Kristus. Kita sudah membahas maksud Paulus dengan istilah Kristus pada tulisan sebelumnya. Kristus itu suatu istilah yang ada didalam dimensi sorgawi. Kristus itu adalah tubuh beranggota banyak. Kristus itu adalah kerajaan di-alam sorgawi yang akan termanifestasi kelak dibumi. Kristus itu didalam kita sebagai hayat, dalam arti Kristus memerintah melalui batin kita.

Jika seseorang tidak memahami hal ini, maka dia akan mengajarkan kedatangan Tuhan secara jasmani. Inilah yang terjadi didalam dunia kekristenan, pada umumnya. Ajaran ‘rapture’, dimana konon kita akan diangkat secara jasmani ke awan2 entah dimana. Kemudian, ada lagi ajaran ‘kedatangan Tuhan kedua kali’, karena kedatangan Yesus pertama kali itu kedatangan jasmani, maka kedatangan Yesus kedua kali itu pasti jasmani juga. Sementara didalam Alkitab tidak ada ungkapan ‘kedatangan kedua kali’. Namun hal ini dipercaya oleh mayoritas dalam dunia kekristenan dan juga barangkali dinanti-nantikan oleh orang banyak. Tidak ada ungkapan ‘datang kedua kali’ didalam Alkitab. Dibalik ungkapan ‘datang kedua kali’ terdapat konsep kedatangan Tuhan yang jasmani, dan hal ini bertentangan dengan prinsip PB yang spiritual.

Mari kita melihat 6 istilah Yunani untuk ‘kedatangan’ agar kita memahami bahwa konsep kedatangan Tuhan yang jasmani itu keliru. Keenam istilah Yunani itu adalah, pertama, PAROUSIA. Istilah ini muncul 24 kali dalam PB dan ia berasal dari kata kerja PAREMI, yang berarti ‘to be present’ (hadir). Kata bendanya berarti kehadiran (presence). PAROUSIA tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya seseorang, tetapi menunjukkan kehadiran seseorang yang sudah datang. Penggunaan istilah PAROUSIA didalam PB juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan secara fisik. Jadi, istilah Parousia berarti kehadiran. Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaNya, disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA.

Istilah Yunani kedua, APOKALUPSIS. Istilah ini berasal dari kata kerja APOKALUPTO yang berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya terselubung.

Istilah Yunani ketiga adalah EPIPHANEIA. Istilah ini muncul sebanyak 6 kali dalam PB. Istilah ini berasal dari kata kerja yang berarti ‘membawa kepada terang’ atau ‘tersingkap’. Kata bendanya berarti ‘manifestasi’. Istilah ini digunakan untuk mengungkapkan kemuliaan dan kemegahan yang termanifestasi oleh kedatangan Tuhan.

Istilah Yunani keempat, PHANEROO. Istilah ini berarti membuat nyata atau menjadi nampak. Namun bukan berarti kehadiran yang terlihat mata, tetapi suatu persepsi.  

Istilah Yunani kelima adalah ERCHOMAI. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan tindakan actual dari suatu kedatangan. Istilah ini tidak sama artinya dengan PAROUSIA yang berarti kehadiran seseorang yang telah datang. ERCHOMAI digunakan dalam Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang (SUATU TINDAKAN DATANG) dengan awan-awan…”.

Istilah Yunani keenam adalah HEKO. Kata ini menekankan kedatangan pada suatu tempat tertentu. Kata ini terdapat dalam Wahyu 2:25, “Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku DATANG”.

Sudah tentu bahwa keenam istilah Yunani ini bukan berarti ada enam jenis berbeda dari kedatangan Tuhan, tetapi penggunaan yang berbeda dari istilah ini membuat kita memahami makna yang dimaksud suatu teks yang berbicara tentang kedatangan Tuhan. Tetapi untuk saat ini cukuplah kita pahami bahwa kedatangan Tuhan itu TIDAKLAH HARUS BERBENTUK KEDATANGAN SECARA FISIK.

Kita telah membahas poin terakhir injil Paulus yaitu mengenai kedatangan Tuhan didalam dan melalui gereja pemenang. Telah kita singgung mengenai 6 istilah Yunani yang sering diterjemahkan ‘kedatangan’, dan telah kita lihat bahwa keenam istilah Yunani itu menegaskan bahwa kedatangan Tuhan itu tidaklah harus berbentuk kedatangan secara fisik. Jika kita sudah mengerti hal ini dengan baik, maka kita dapat memahami kedatangan Tuhan melalui dan didalam gereja pemenang seperti tertulis dalam Roma 8:19-21.

Mari kita lihat Roma 8:19-21, dalam versi ILT (Indonesian Literal Translation), “Sebab kerinduan yang dalam dari makhluk ciptaan menanti dengan sangat penyingkapan anak-anak Elohim karena makhluk ciptaan telah ditundukkan kepada kesia-siaan, bukan karena kehendaknya sendiri tetapi karena Dia yang telah menundukkannya atas dasar pengharapan, bahwa makhluk ciptaan itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakkan kebinasaan kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim”. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar memahami maksud ayat ini.

Pertama, mari kita kembali melihat konteks dari Roma 8:19-21. Kita telah membahas keselamatan yang Paulus uraikan dalam surat Roma ini. Paulus menguraikan pembenaran karena iman, dari Roma 3:21 s/d 5:11. Kemudian, pengudusan karena iman, dari pasal 5:12 s/d 7:26. Selanjutnya, pemuliaan karena iman (8:1-30). Konteks Roma 8:19-21 diatas masuk dalam pembahasan mengenai pemuliaan karena iman. Pemuliaan karena iman terkait dengan warisan kita sebagai putera-putera Elohim. Kita akan menerima warisan kita ini bersama dengan Kristus karena kita telah menderita bersama dengan Dia. Ketika Kristus datang, maka kita akan menerima warisan kita yaitu menerima tubuh baru seperti Kristus Yesus, dan juga dimuliakan atau ditampilkan kepada seluruh makhluk. Jadi, ketika terjadi pemuliaan, kita akan menerima tubuh baru seperti Kristus Yesus.

Kedua, siapakah anak-anak Elohim didalam ayat kita diatas? Kita tahu gereja telah jatuh, dan pecah menjadi ribuan denominasi yang disebabkan oleh para pemimpinnya, dimana dengan ajaran palsu menarik murid2 kepada diri mereka sendiri (Kis. 20:29-30). Selanjutnya, para pemimpin ini mengajarkan atau mempraktekkan tiga ajaran palsu, yaitu ajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus (Wahyu 2-3). Kita tidak membahas hal ini lebih jauh, yang jelas sejak kejatuhan gereja, Tuhan memanggil para pemenangNya, sebagai representatif bagi gerejaNya. Para pemenangNya, sebagai representatif gereja inilah yang disebut anak-anak Elohim pada ayat kita diatas, yang telah dewasa dan dimanifestasikan kepada seluruh makhluk.

Ketiga, istilah ‘penyingkapan’ pada ayat kita diatas berasal dari istilah Yunani ‘apokalupsis’. Istilah Yunani ini telah kita bahas sebelumnya yang terkait dengan kedatangan Tuhan. Istilah Yunani ‘apokalupsis’ ini berasal dari kata kerja ‘apokalupto’ yang berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya terselubung. Kolose 3:4 berkata, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan”. Dan Kolose 3:3, menegaskan, “…hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus…”. Christ in you, the hope of glory. Apabila Kristus yang “tersembunyi’ ini tampil, maka inilah makna kedatangan Tuhan didalam dan melalui gereja pemenang.

Keempat, poin terakhir yang harus kita pahami adalah kedatangan Tuhan didalam dan melalui para pemenangNya, atau didalam dan melalui anak-anak Elohim, bertujuan untuk membebaskan seluruh ciptaan dari perbudakkan kebinasaan, agar masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim. Jadi, kita tidak diangkat kesorga nun jauh disana, tetapi kita akan dimanifestasikan kepada seluruh makhluk dibumi ini untuk memerdekakan seluruh ciptaan.

Demikianlah makna dan tujuan kedatangan Tuhan didalam dan melalui gereja pemenang seperti dinyatakan dalam Roma 8:19-21. Selanjutnya, kita akan membahas rahasia injil menurut Rasul Yohanes, dan ini merupakan bagian terakhir dari trilogi rahasia injil. 

Sekarang kita masuk kepada rahasia Injil yang diberitakan oleh Rasul Yohanes dan timnya kepada gereja yang telah jatuh/menyimpang pada zamannya, terutama kepada tujuh gereja di Asia Kecil. Untuk memahami rahasia injil yang diberitakan Rasul Yohanes, maka kita harus memiliki perspektif (sudut pandang) ‘Patmos’, artinya kita harus memandang tulisan2 Rasul Yohanes (injil, surat2 dan kitab Wahyu) dari sudut pandang ‘pengucilan’. Rasul Yohanes dikucilkan karena firman Tuhan, di pulau Patmos oleh gereja2 yang telah jatuh. (Wahyu 1:9). 

Banyak orang, bahkan ahli2 Teologi Perjanjian Baru, tidak memiliki sudut pandang ‘Patmos’. Buku2 Teologi PB, yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan yang diajarkan disekolah2 Teologi, seperti yang ditulis oleh Donald Guthrie (penerbit BPK Gunung Mulia), Leon Morris (penerbit Gandum Mas), George Eldon Ladd (penerbit Kalam Hidup), bahkan tafsiran injil Yohanes, pilihan penerbit Momentum, yang ditulis oleh Herman N. Ridderbos, juga tidak melihat perspektif ‘Patmos’. Tentu saja, semua buku Teologi yang saya sebut diatas tidak memilah kitab2 Perjanjian Baru menurut prinsip Trilogi.

Saya memulai tulisan singkat mengenai rahasia injil yg diberitakan Rasul Yohanes ini dengan menyebut para ahli Perjanjian Baru diatas, karena menurut saya, jika seseorang tidak memiliki perspektif ‘Patmos’, maka ia belumlah dapat dikatakan memahami ‘rahasia injil’ Yohanes. Justru didalam perspektif ‘Patmos’ (pengucilan), maka seseorang dapat memahami rahasianya.

Tetapi masalahnya, jika seseorang tidak mengalami pengucilan oleh gereja yang telah menyimpang menjadi ribuan denominasi ini, maka ia tidak mempunyai pengalaman seperti yang rasul Yohanes alami, dan karenanya ia tidak dapat memahami rahasia injilnya. Dalam perkara rohani, pengalaman seseorang akan menentukan pemahamannya. Perkara rohani bukan soal akal saja, bukan soal sekolah Teologi saja, tetapi pengalaman bersama Tuhan akan sangat menentukan. Baiklah kita tinggalkan “para ahli” PB diatas, dan kita akan memulai rahasia injil yang diberitakan Rasul Yohanes dengan melihat kembali didalam Kitab Kisah Para Rasul, mengapa gereja menyimpang menjadi ribuan denominasi seperti sekarang ini.

Kisah Para Rasul 20:28-30, mencatat, “Jadi, jagalah dirimu sendiri dan seluruh kawanan yang atasnya Roh Kudus telah menempatkan kamu sebagai penilik, untuk menggembalakan jemaat Elohim yang telah Dia dapatkan melalui darahNya sendiri. Sebab aku mengetahui hal ini, bahwa setelah kepergianku, serigala-serigala ganas akan masuk kepada kamu dengan tidak menyayangkan kawanan itu. Bahkan, dari antara kamu sendiri akan muncul orang-orang yang berbicara hal-hal yang menyesatkan untuk menarik para murid mengikuti mereka” (ILT). Disini Paulus menegaskan bahwa setelah kepergiannya akan datang serigala-serigala ganas, tentunya iblis dan roh2 jahat, yang menyerang para pemimpin sehingga para pemimpin, atau lebih tepat, beberapa pemimpin akan melakukan dua hal. Pertama, berbicara hal-hal yang menyesatkan. Kedua, memiliki satu tujuan, yaitu, menarik murid2 kepada diri mereka sendiri, serta membangun denominasi atau kerajaan sendiri.

Rasul Yohanes menjelaskan bahwa ada tiga ajaran palsu yang menyebabkan gereja pecah menjadi ribuan denominasi seperti sekarang ini. Pertama, ajaran Nikolaus (Wahyu 2:15). Nikolaus berasal dari dua istilah Latin, yaitu ‘niko’ (menaklukkan) dan ‘laos’ (kaum awam=Laity). Ajaran ini mendukung tindakan para pemimpin yang menaklukkan kaum awam, sehingga gereja terbelah menjadi para imam dan umat (untuk Katolik), serta para pendeta dan jemaat (untuk Protestan). Contoh ajaran Nikolaus ini antara lain, penundukkan diri palsu kepada pemimpin, ajaran ‘tudung rohani’, dan ajaran2 sejenisnya yang memaksa jemaat taat kepada pemimpin.

Kedua, ajaran Bileam. Ajaran Bileam mendukung para pemimpin untuk mendapat uang dari jemaat. Sistem gaji, Persepuluhan, Buah sulung, Janji iman dan lainnya, merupakan ajaran Bileam yang sangat popular dikalangan kekristenan. Ajaran Bileam ini juga mendukung perdagangan di dalam gereja. Mulai dari memperdagangkan khotbah2, lagu2, buku2, simbol2 kekristenan, dan lain sebagainya.

Ketiga, ajaran Izebel. Ajaran ini mengatakan bahwa Tuhan menetapkan para pemimpin untuk menduduki “kursi Musa” sebagaimana yang dimiliki oleh ahli2 Taurat dan orang2 Farisi dizaman PL (Matius 23: 1-12). Sementara Yesus menegaskan bahwa didalam gereja ‘kamu semua adalah saudara’. Sebagaimana Izebel merampas otoritas raja Ahab, suaminya, dalam kasus kebun anggur Nabot, demikian juga para pemimpin denominasi ‘merampas’ otoritas Yesus atas gerejaNya.

Saya tahu uraian saya ini tidak akan dipahami oleh para pemimpin denominasi, sama seperti “para ahli” Teologi yang sudah saya sebut diatas. Merekalah yang justru mengucilkan umat pilihan Tuhan, sebagaimana ketujuh gereja di Asia kecil yang mengucilkan rasul Yohanes. Tetapi tidak masalah, karena saya menuliskan hal ini terutama untuk umat pilihan Tuhan.

Telah kita bahas bahwa jika seseorang tidak memiliki perspektif ‘Patmos’, maka ia belumlah dapat dikatakan memahami ‘rahasia injil’ atau khabar baik Rasul Yohanes. Justru didalam perspektif ‘Patmos’ (pengucilan), maka seseorang dapat memahami rahasianya. Tetapi, semua ini tergantung kepada pengalaman seseorang. Saat ini, kita akan melihat bagaimana pengalaman Rasul Yohanes sendiri.

Pada awalnya, Rasul Yohanes melayani bersama-sama Petrus, dan menjadi “orang kedua” dibawah kepemimpinan Petrus. Petrus dan Yohanes sama-sama melayankan atau menawarkan Perjanjian Baru kepada bangsa Yahudi, khususnya kepada Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin). Kemudian, ketika Petrus keluar dari Yerusalem, maka kepemimpinannya diteruskan oleh Yakobus. Dan sebagaimana tradisi menyatakan, bahwa Petrus mati di Roma sekitar tahun 67 M. ketika kaisar Nero berkuasa. Pada saat Yerusalem dihancurkan oleh Jendral Titus pada tahun 70 M, Rasul Yohanes telah keluar dari Yerusalem, dan menurut tradisi tinggal di Efesus serta melayani gereja2 di Asia Kecil (Tujuh gereja di Asia Kecil dimana kitab Wahyu dialamatkan). Tetapi kemudian Rasul Yohanes dikucilkan oleh gereja2 di Asia kecil yang telah menyimpang dari kebenaran. Ada yang berpendapat bahwa Rasul Yohanes dikucilkan ke pulau Patmos oleh kaisar Roma pada waktu itu. Walaupun hal ini mungkin terjadi, tetapi Rasul Yohanes sendiri bersaksi bahwa ia dikucilkan ke pulau Patmos ‘karena firman Elohim atau berkenaan dengan firman Elohim’ (Wahyu 1:9). Karena Rasul Yohanes dikucilkan ‘berkenaan dengan firman Elohim’, artinya, firman Tuhan yang disampaikan oleh rasul Yohanes tidak dapat diterima oleh tujuh gereja yang telah menyimpang, maka lebih mungkin jika ketujuh gereja di Asia Kecil yang mengucilkan Rasul Yohanes, dan bukan kaisar Roma pada waktu itu.

Rasul Yohanes melayani gereja2 yang telah jatuh /menyimpang di Asia Kecil sekitar tahun 90-95M. Jadi, Rasul Yohanes sudah sangat tua. Tetapi, Rasul Yohanes mendapat kasih karunia untuk melayani gereja pada “kesempatan kedua”. Maksudnya, Rasul Yohanes melayani gereja dalam kondisi gereja tidak seperti pertama kali dilahirkan pada hari Pentakosta. Ketika Rasul Yohanes melayani gereja bersama Petrus, pada waktu itu, gereja belum menyimpang oleh tiga ajaran palsu Bileam, Nikolaus, dan Izebel. Tetapi, ketika Rasul Yohanes melayani di Asia Kecil, gereja telah menyimpang. Oleh kasih karunia Tuhan, Rasul Yohanes kembali mendapatkan kekuatan untuk melayani gereja, seolah-olah masa mudanya kembali baru.

Saya mencoba menjelaskan pengalaman Rasul Yohanes ini dengan mengutip Mazmur 103:5, “…sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali”. Saya membaca mengenai burung rajawali seperti berikut ini. Burung rajawali dapat berusia sampai 120 tahun, walau tentu tidak semua burung rajawali mencapai usia seperti itu. Tetapi, pada usia sekitar 40 tahun, paruh burung rajawali sudah sedemikian panjang dan melengkung kebawah, bahkan mengenai lehernya, sehingga ia sulit untuk makan. Kemudian, kuku-kuku jarinya juga tidak setajam biasanya sehingga ia sulit menangkap mangsanya. Ditambah lagi, bulu-bulunya yang sudah semakin tebal membuatnya sulit untuk terbang. Dalam kondisi demikian, ada dua pilihan bagi burung rajawali. Pertama, apakah ia mau mengisolasi diri ketempat tinggi dan membuat sarangnya dipuncak bukit batu agar ia dapat mentransformasi diri dengan mematok-matok bukit batu itu sehingga paruhnya yang sudah bengkok itu menjadi patah dan diganti dengan yang baru. Kemudian, dengan paruhnya yang baru, ia mencabut kuku-kukunya yang sudah tua agar tumbuh yang baru, serta juga mencabuti bulunya dengan paruh barunya itu. Ia juga perlu membiarkan tubuhnya mengalami terik matahari agar proses pertumbuhannya dapat berjalan baik. Proses transformasi ini tentu menyakitkan dan biasanya memakan waktu sekitar setengah tahun. Atau, ia memiliki pilihan kedua, yaitu membiarkan dirinya untuk tidak mengalami transformasi, dan kemudian mati dengan tenang… 

Nampaknya, Rasul Yohanes mendapat kasih karunia untuk “mentransformasi” diri sehingga ia dapat melayani kondisi gereja yang telah menyimpang di Asia Kecil. Rasul Yohanes mendapat pewahyuan yang baru, walau untuk itu ia harus dikucilkan di Pulau Patmos. Meskipun ia harus mengalami kesusahan, seperti ditulisnya dalam Wahyu 1:9, namun Rasul Yohanes mendapat kekuatan masa mudanya kembali seperti pada burung rajawali.

Bagaimana dengan pengalaman kita? Apakah kita mendapat kasih karunia untuk “mentransformasi” diri, mendapat pewahyuan yang baru, mendapat perspektif ‘Patmos’ sehingga kita mengerti rahasia injil dari Rasul Yohanes. Apakah kita mendapat “kesempatan kedua” untuk melayani dunia kekristenan yang telah menyimpang ini? Atau, kita tetap dalam kondisi kita, dan menikmati apa yang telah kita capai, serta mengakhiri pelayanan kita dengan tenang…

Telah kita singgung bahwa Rasul Yohanes mendapat “kesempatan kedua” untuk melayani gereja di Asia kecil yang sudah menyimpang dari kebenaran. Karena, pada awalnya, Rasul Yohanes melayani gereja bersama Rasul Petrus, ketika gereja baru saja dilahirkan, dan tentunya belum menyimpang dari kebenaran oleh ajaran palsu Bileam, Nikolaus, dan Izebel.

Pengalaman Rasul Yohanes ketika bersama dengan Rasul Petrus melayani gereja mula-mula, sangat berbeda dengan pelayanannya pada “kesempatan kedua” kepada gereja yang telah menyimpang dari kebenaran. Ketika Rasul Yohanes melayani bersama Petrus, mereka melayani sebagai pemimpin gereja yang diterima dan diakui oleh seluruh jemaat. Tetapi ketika Rasul Yohanes melayani gereja2 di Asia Kecil, kondisinya sangat berbeda. Saat ini kita akan membahas bagaimana kondisi Rasul Yohanes ketika melayani gereja2 di Asia Kecil.

Kita akan melihat kondisi Rasul Yohanes dengan memperhatikan ketiga suratnya. Mari kita mulai dengan suratnya yang pertama. Surat ini tidak ditujukan kepada gereja tertentu atau kepada orang tertentu. Ini semacam surat umum atau surat terbuka kepada gereja2 di Asia kecil. I Yohanes 1:3 berkata, “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus”. Dari pembukaan suratnya ini, kita dapat melihat bahwa Rasul Yohanes tidak memiliki persekutuan dengan gereja2 di Asia kecil yang menerima suratnya. Atau, setidaknya, Rasul Yohanes tidak memiliki persekutuan dengan mayoritas anggota gereja2 di Asia Kecil, dimana suratnya ditujukan. Karena justru Rasul Yohanes memberitakan apa yg dia lihat, apa yg dia dengar SUPAYA terjadi persekutuan antara anggota gereja2 di Asia kecil dengan dirinya.

Selanjutnya, Rasul Yohanes menegaskan bahwa persekutuan KAMI, artinya Rasul Yohanes memiliki tim atau orang2 yang bersekutu dengannya, dimana jenis persekutuannya ini adalah dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus. Jenis persekutuan dengan Bapa dan anakNya Yesus Kristus ini hanya dapat dimiliki jika gereja2 di Asia Kecil menerima pesan2 Rasul Yohanes, yang pada intinya, bahwa Elohim adalah Terang, Elohim adalah Kasih, dan Elohim adalah Yang Benar dan Hayat kekal. Kita tidak menguraikan lebih jauh pesan2 Rasul Yohanes karena tujuan kita saat ini hanya menegaskan bahwa Rasul Yohanes tidak lagi memiliki persekutuan dengan mayoritas anggota gereja-gereja di Asia Kecil. Secara tidak langsung, kita dapat melihat bahwa kondisi Rasul Yohanes “terputus” dengan persekutuan gereja2 di Asia kecil.

Kemudian, kita melihat suratnya yang kedua kepada seorang ibu yang terpilih dan anak2nya. Disini Rasul Yohanes menegaskan agar ibu ini dan anak2nya memegang teguh ajaran bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Alasannya adalah karena banyak penyesat yang telah datang keseluruh dunia. Dunia disini, sesuai konteks, adalah dunia keagamaan, yaitu ketujuh gereja yang telah menyimpang di Asia Kecil. Kita akan membahas istilah ‘dunia’ yang dipakai Rasul Yohanes kelak. Untuk saat ini yang perlu kita pahami ialah nasihat Rasul Yohanes kepada ibu dan anak2nya agar jangan sampai disesatkan, dan juga jangan sampai memiliki persekutuan dengan si penyesat (ayat 10). Rasul Yohanes sendiri telah “terputus” dan tidak memiliki persekutuan dengan mayoritas anggota gereja2 di Asia Kecil, karena adanya si penyesat ini. Maka ia menasihati agar ibu dan anak2nya ini jangan bersekutu dengan penyesat agar persekutuan antara ibu dan anak2nya ini dengan Rasul Yohanes tidak terputus. Dari hal ini, kembali kita melihat bahwa kondisi Rasul Yohanes telah tersingkirkan dari persekutuan dengan gereja2 di Asia kecil.

Terakhir, dalam suratnya kepada Gayus, Rasul Yohanes berterus terang mengenai seorang bernama Diotrefes yang ingin menjadi terkemuka dalam gereja, dan dengan berani, menolak tim yang diutus Rasul Yohanes untuk melayani gereja2 di Asia kecil. Kita lihat disini, walaupun Rasul Yohanes menyebut dirinya ‘penatua’ (presbuteros = senior dan dewasa rohani), namun ada seorang Diotrefes yang berani menolak kepenatuaannya. Kembali kita melihat bagaimana kondisi Rasul Yohanes disini.

Kesimpulannya, kondisi Rasul Yohanes terkait gereja2 yang dilayaninya (Asia kecil), mengalami masalah, yaitu keterputusan persekutuan. Persekutuan yang ada bersama Bapa dan AnakNya Yesus Kristus, telah “terputus” diantara rasul Yohanes dengan gereja2 di Asia kecil. Atau, dengan kata lain, Rasul Yohanes telah “dikucilkan” oleh gereja2 di Asia kecil, dan kepemimpinannya atau keseniorannya tidak lantas diterima oleh seluruh anggota gereja. Ada banyak “Diotrefes-Diotrefes” yang menolaknya.

Kita sudah melihat kondisi Rasul Yohanes yang dikucilkan oleh gereja2 di Asia kecil dengan memperhatikan ketiga suratnya. Saat ini kita akan melihat injilnya dimana perihal pengucilan terlihat jelas. Setiap orang Kristen yang membaca Injil Yohanes pasti merasakan betapa beda injil Yohanes dengan ketiga injil lainnya, yaitu Matius, Markus dan Lukas. Bahkan ketiga injil ini (Matius, Markus, Lukas) disebut injil sinoptik. Sinoptik artinya dapat dilihat atau dipelajari secara bersamaan. Hal ini disebabkan ketiga injil sinoptik ini hampir sama, dalam arti menceritakan dari awal kehidupan Yesus (kelahiranNya) sampai kematianNya di Yerusalem. Tetapi injil Yohanes memiliki sudut pandang yang berbeda. Ini yang kita sebut sudut pandang ‘Patmos’ atau ‘pengucilan’. Mari kita melihat bagaimana Yesus dikucilkan oleh para pemimpin agama dizamanNya (Yudaisme), bahkan pada akhirnya dibunuh.

Fokus injil Yohanes adalah para pemimpin Yahudi, dimana Bait Suci menjadi pusat kegiatan mereka. Didalam Yohanes 8:59 ada tertulis, “Oleh karena itu mereka memungut batu-batu supaya mereka dapat melemparkannya kepadaNya. Namun Yesus bersembunyi dan keluar dari bait suci sambil berjalan menerobos diantara mereka, dan begitulah Dia berlalu” (ILT). Ungkapan ‘KELUAR DARI BAIT SUCI’ didalam ayat ini bermakna ‘pengucilan’. Disini Yesus ditolak oleh para pemimpin Yahudi.

Jadi, sepanjang 8 pasal (pasal 1 sampai 8), Rasul Yohanes menceritakan bagaimana Yesus melayani dengan fokus kepada Bait Suci dan para pemimpin Yahudi. Itu sebabnya peristiwa Yesus mengusir para pedagang di Bait Suci ditempatkan didepan dalam injil Yohanes, sementara ketiga injil lainnya menceritakan dibagian akhir. Rasul Yohanes juga banyak mencatat perdebatan/perselisihan Yesus dengan para pemimpin Yahudi, sementara ketiga injil lainnya tidak.

Rasul Yohanes menulis injilnya dengan kepekaan tertentu terhadap para pemimpin Yahudi. Sebagai contoh, Yusuf Arimatea dicatat dalam Matius 27:57 dan Markus 15:43, sebagai seorang pemimpin yang baik, namun Yohanes mencatat dia sebagai murid Yesus yang sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi (Yohanes 19:38). Nikodemus juga dicatat datang pada Yesus, pada waktu malam (Yohanes 3:2), dimana hal ini mengindikasikan ketakutan Nikodemus terhadap orang banyak, dan mungkin juga terhadap para pemimpin lainnya.

Didalam injilnya, Rasul Yohanes berusaha menekankan bahwa Yesus mengalami pengucilan, bahkan dibunuh oleh para pemimpin agama Yahudi. Hal ini berbeda dengan ‘pengakuan iman’ yang biasanya sering diucapkan dalam kebaktian2 denominasi. Sebagian pengakuan ini adalah, “yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan…”. Dalam pengakuan iman ini tidak terlihat siapa yang membunuh Yesus sesungguhnya. Pengakuan iman ini belum melihat rahasia injil Yohanes.

Kemudian, kita melihat lagi bagaimana pada akhirnya Yesus ‘meninggalkan bangsa Yahudi’ karena pelayananNya telah sepenuhnya ditolak. Yohanes 12:36, mencatat “…. Sesudah berkata demikian, Yesus pergi bersembunyi dari antara mereka”. Jadi, Yesus bukan saja meninggalkan Bait Suci, yang merupakan representatif para pemimpin Yahudi, tetapi Yesus juga meninggalkan orang banyak karena pelayananya tidak dipahami. Pasal-pasal selanjutnya merupakan pelayanan Yesus khusus kepada murid-muridNya saja.

Kita tidak membahas mengenai ‘message’ injil Yohanes disini, tetapi pada intinya Rasul Yohanes menyatakan bahwa sang LOGOS telah menjadi manusia dalam diri Yesus, dan berkata Aku adalah roti hidup, Aku adalah terang dunia, Aku adalah pintu, Aku adalah gembala yang baik, Aku adalah kebangkitan dan hidup, Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup, Aku adalah pokok anggur yang benar. Para teolog pada umumnya telah membahas hal ini, tetapi mereka tidak melihatnya dari sudut pandang ‘patmos’ atau sudut pandang ‘pengucilan’. Tetapi, sudut pandang ‘patmos’ inilah yang merupakan rahasia injil Yohanes sesungguhnya.

Jadi, kesimpulannya, Yesus dikucilkan oleh para pemimpin agama Yahudi dizamanNya. Mengapa Yesus dikucilkan? Karena dunia keagamaan dizamanNya (Yudaisme) telah menyimpang.

Telah kita lihat bahwa fokus injil Yohanes adalah para pemimpin Yahudi, dan juga Bait Suci di Yerusalem, sebagai pusat kegiatan para pemimpin. Itu sebabnya, didalam injil Yohanes tercatat Yesus datang ke Yerusalem setidaknya 3 kali, sementara penulis injil lainnya mencatat bahwa Yesus hanya satu kali datang ke Yerusalem diakhir pelayananNya. Rasul Yohanes juga mencatat banyak perdebatan antara Yesus dan para pemimpin. Dan juga, penyucian Bait Suci dari para pedagang, yang tidak lain adalah para pemimpin Yahudi, dicatat diawal penulisan injilnya. Dalam metode kritis, hal ini disebut ‘kritik redaksi’, dimana Rasul Yohanes ‘sengaja’ meredaksikan injilnya dengan cara yang terfokus kepada para pemimpin dan Bait Suci, dengan maksud menyampaikan pesan teologis tertentu dibalik peredaksiannya. Pesan teologis yang sangat penting dari cara Rasul Yohanes meredaksikan injilnya, yaitu YESUS DITOLAK OLEH PARA PEMIMPIN AGAMA YAHUDI, DAN INI TERJADI KARENA BAIT SUCI TELAH MENYIMPANG, DAN TELAH MENJADI TEMPAT BERJUALAN. 

Rasul Yohanes jelas menuliskan injilnya dari sudut pandang ‘pengucilan’ oleh para pemimpin kepada Yesus. Prolog dari injilnya menegaskan, “Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya” (Yohanes 1:11). Mari kita melihat beberapa perdebatan Yesus dengan para pemimpin, tentu tidak semua kita bahas, yang membuktikan bahwa mereka telah menyimpang, dan juga tidak memahami perkara2 rohani.

Kita mulai dari Nikodemus (Yohanes 3:1-21). Tema pembicaraan Yesus dengan Nikodemus adalah kerajaan Elohim atau kerajaan sorga. Yesus berkata bahwa untuk dapat melihat dan masuk kedalam kerajaan sorga, seseorang harus ‘dilahirkan kembali’. Pengertian Nikodemus tentu saja jasmani, sebagaimana semua pemimpin Yahudi lainnya yang berharap Mesias akan datang dan mendirikan kerajaan Israel yang jasmani. Yesus mencoba menjelaskan hal2 yang rohani ini kepada Nikodemus, tetapi Nikodemus tetap tidak mengerti, sehingga pembicaraan ini terhenti dengan satu penilaian Yesus kepada Nikodemus, “engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu” (ayat 10).

Kemudian, kita melihat perdebatan Yesus dengan para pemimpin mengenai soal ‘gembala yang baik’ (Yohanes 10:1-18). Yesus menegaskan bahwa Ia adalah “pintu” menuju domba2 itu. Jadi, jika orang, atau lebih tepat, seorang pemimpin, yang masuk kedalam kandang domba tanpa melalui Yesus, maka ia adalah pencuri dan perampok. Disini Yesus sedang menegaskan bahwa orang2 Farisi dan ahli2 Taurat adalah perampok dan pencuri itu, karena mereka masuk kedalam kandang domba tanpa melalui Yesus, sebab mereka memang menolak Yesus sebagai Mesias. Ingat konteksnya. Yesus sedang berbicara kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat (ayat 6), bukan kepada iblis… Umumnya, dikalangan para pemimpin denominasi, ‘pencuri’ didalam Yohanes 10:10, adalah iblis. Sekali lagi, ingat konteksnya. Diseluruh perikop ini Yesus sedang berdebat dengan para pemimpin, bukan berdebat dengan iblis… Dan, Yesus dengan tegas memberikan definisi gembala yang baik itu, yaitu mengenal domba2 dan menyerahkan nyawa baginya.

Sering kita mendengar para pemimpin denominasi berbicara mengenai persepuluhan dan berteriak, ‘jangan mencuri uang Tuhan…”, serta mengutip Maleakhi 3:10, tanpa memahami konteks.  Menurut Yohanes 10 ini, gembala yang baik itu mengenal dan memberikan nyawanya bagi domba-domba. Jadi, jika para pemimpin denominasi tidak mengenal domba-dombanya apalagi menyerahkan nyawa, karena jemaatnya sudah berjumlah 1000 atau puluhan ribu, atau bahkan ratusan ribu, bagaimana ini??? Siapa pencurinya? Siapa yang merampok uang? Jemaat yang merampok uang Tuhan atau para pemimpin yang merampok uang jemaat? Pengadilan Kristus akan membuktikan semua ini, karena kita semua akan menghadapinya untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita.

Telah kita lihat bahwa fokus injil Yohanes adalah para pemimpin Yahudi, dan juga Bait Suci di Yerusalem, sebagai pusat kegiatan para pemimpin. Telah kita bahas juga mengenai percakapan Yesus dengan Nikodemus, dan juga percakapan Yesus dengan para pemimpin Yahudi mengenai perihal gembala yang baik, yang dibandingkan dengan pencuri atau perampok. Kita masih membahas para pemimpin Yahudi ini dengan menjelaskan mengenai ‘pokok anggur yang benar’.

Yohanes 15:1 berkata, “Akulah pokok anggur yang benar dan BapaKulah pengusahanya”. Kata sifat ‘alethinos’ yang dipakai text aslinya memiliki makna ‘benar’, ‘nyata’, dan juga ‘asli’. Dari ungkapan Yesus bahwa Ia adalah ‘pokok anggur yang benar’ ini, kita dapat melihat bahwa ada pokok anggur yang salah, atau semu atau palsu. Konteks dari perikop ini adalah percakapan malam terakhir Yesus dengan murid2Nya. Dalam percakapan malam terakhir ini, Yesus menghibur dan meneguhkan hati para murid dengan akan datangnya seorang penolong yang lain, dan juga ia berbicara tentang ‘rumah Bapa’. Namun juga, Yesus menjelaskan kepada murid2 bahwa para pemimpin Yahudi membenci Yesus tanpa alasan, serta memperingatkan bahwa mereka juga akan membenci murid2. Jadi, konteks percakapan malam terakhir ini, selain meneguhkan hati para murid, juga berbicara mengenai para pemimpin Yahudi. Itu sebabnya, sangat wajar jika kita menafsirkan bahwa ada pokok anggur yang salah, atau semu, atau palsu yaitu para pemimpin Yahudi.

Hal ini diteguhkan oleh perkataan Yesus kepada orang banyak dalam Matius 23:2, yang berkata bahwa, “Ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa”. Maksudnya, para pemimpin Yahudi, sebagai murid-murid Musa, telah memiliki otoritas yang sah atas bangsa Yahudi. Itu sebabnya Yesus mengajar orang banyak agar jangan memberontak terhadap otoritas mereka. Tetapi karena perilaku mereka tidak benar, maka Yesus tegaskan agar hanya menuruti ajaran mereka saja, tetapi jangan turuti perbuatan2 mereka. Dari hal ini jelas bahwa para pemimpin Yahudi itu adalah ‘pokok anggur’ bagi bangsa Yahudi, tetapi pokok anggur yang salah, atau palsu. Pokok anggur sejati adalah Yesus. 

Mari kita aplikasikan dahulu pemahaman mengenai ‘pokok anggur yang benar’ ini kedalam konteks dunia kekristenan saat ini. Yesus menegaskan bahwa Ia adalah pokok anggur dan murid2Nya adalah ranting2nya. Tentu diharapkan “ranting-ranting” ini tetap tinggal pada pokok anggur agar bisa berbuah, sama seperti gereja mula-mula bertekun dalam pengajaran rasul2 dan dalam persekutuan. Para pemimpin dalam dunia kekristenan saat ini sering juga berbicara kepada jemaat agar berkomitmen kepada satu lokal, setia berkumpul dan bersekutu. Juga mengajarkan bahwa para pemimpin adalah “payung rohani” bagi jemaat. Mengajarkan penundukkan diri atau “tudung rohani”. Tetapi, jika seseorang memahami rahasia tulisan2 rasul Yohanes, maka ia akan mempertanyakan apakah para pemimpin dalam dunia kekristenan sudah otomatis adalah pokok anggur yang benar?

Atau, apakah ‘pengurapan yang didalam kita’ itu yang sesungguhnya pokok anggur yang benar? (I Yohanes 2:20, 27). Bagi umat pilihan Tuhan, ‘Christ in you’ adalah pokok anggur yang benar. Bagi umat pilihan Tuhan, ‘Christ in you’ adalah pengurapan yang mengajarinya segala sesuatu. Umat pilihan Tuhan akan mengikuti pimpinan ‘Kristus dalam batin’. Umat pilihan Tuhan akan memiliki pemahaman, mana pokok anggur yang benar, dan mana pokok anggur yang palsu.

Kita masih meneruskan pembahasan kita mengenai rahasia dari tulisan2 rasul Yohanes, yaitu perihal sudut pandang ‘patmos’ atau ‘pengucilan’. Untuk memahami perihal ‘pengucilan’ ini, kita akan meneliti satu istilah yang sering digunakan oleh rasul Yohanes, yaitu istilah ‘dunia’. Istilah Yunaninya adalah ‘kosmos’, dimana makna istilah ini harus ditentukan oleh bagaimana istilah ini digunakan dalam suatu kalimat.  Istilah ini muncul sebanyak 186x didalam PB. Lebih dari separuhnya muncul dalam tulisan2 rasul Yohanes, dimana 78x dalam injil Yohanes, dan 24x dalam surat2nya.

Didalam hampir semua kemunculan istilah ini pada tulisan2 rasul Yohanes, makna istilah ‘dunia’ berarti suatu ‘sistem yang bertentangan dengan Tuhan’. Yang dimaksud Yohanes adalah sistem keagamaan, tentunya, sebagaimana akan kita lihat nanti. Tetapi, ada beberapa makna dari istilah ini yang berbeda. Sebagai contoh, didalam Yohanes 3:16, ‘dunia’ disini berarti alam semesta, khususnya semua manusia yang sangat dicintai oleh Bapa disorga. Kemudian, Yohanes 1:9, dimana makna istilah ‘dunia’ bersifat geografis, karena Yesus datang kedunia, dalam arti tanah Palestina. Selanjutnya, Yohanes 3:19, dimana istilah ‘dunia’ bermakna ruang lingkup kehidupan manusia. Namun, selebihnya dari penggunaan istilah ‘dunia’ dalam tulisan Yohanes bermakna ‘sistem keagamaan yang bertentangan dengan Tuhan’.  

Mari kita melihat beberapa fakta mengenai istilah ‘dunia’, dalam arti sistem keagamaan yang bertentangan dengan Tuhan. Pertama, Yohanes 15:18-25. Didalam perikop ini Yesus menegaskan bahwa dunia membenci Yesus dan murid2Nya (ayat 18). Banyak orang berpikir bahwa ‘dunia’ didalam perikop ini adalah mereka yang diluar sistem keagamaan, dalam arti orang2 dunia diluar sana. Tetapi, jika kita lihat ayat 25, Yesus mengatakan bahwa apa yang ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi, yaitu mereka membenci Aku tanpa alasan. Maka kita tahu bahwa ‘dunia’ disini adalah sistem keagamaan Yahudi (Yudaisme), yang membenci Yesus bahkan membunuhNya.

Kedua, I Yohanes 2:15-16 yang menyatakan, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada didalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada didalam orang itu. Sebab semua yang ada didalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia”. Disini ditegaskan bahwa kita jangan mengasihi dunia. Tentu ini bukan ‘dunia’ dalam pengertian Yohanes 3:16, yang sangat dikasihi Bapa.’Dunia’ dalam surat Yohanes ini adalah sistem keagamaan, yaitu, dalam konteks ini, gereja yang telah jatuh dan menyimpang di Asia Kecil. Dikatakan bahwa semua yang ada didalam gereja yang telah jatuh dan menyimpang ini, tidak lain adalah keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Itu sebabnya, kita diperintahkan agar tidak mengasihi ‘sistem keagamaan’.

Ketiga, I Yohanes 3:12-13 berkata, “bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar. Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu”. ‘Dunia’ disini disimbolkan seperti “Kain”, yang walaupun beribadah (mempersembahkan korban), namun ia membunuh adiknya, atau saudaranya sendiri. Orang2 kristen yang beribadah didalam sistem keagamaan dunia kekristenan, pasti membenci saudara2nya yang beribadah tidak didalam sistem keagamaan. Sebagai umat pilihan Tuhan, kita tidak usah heran apabila dunia kekristenan tidak mendengarkan kita, dan mengucilkan kita.

Jika saat ini, seseorang mulai melihat bahwa sistem keagamaan atau dunia kekristenan, tidak menyukainya, tidak mendengarkannya, dan bahkan mengucilkannya, maka ia sudah mulai melihat rahasia dari tulisan2 rasul Yohanes.

Kita masih melanjutkan uraian rasul Yohanes mengenai istilah ‘dunia’, yaitu suatu sistem yang bertentangan dengan Tuhan. Mari kita perhatikan I Yohanes 4:1, demikian tertulis, “Hai yang terkasih, janganlah percaya kepada setiap roh, sebaliknya ujilah roh-roh itu, apakah dia berasal dari Elohim. Sebab, banyak nabi palsu telah muncul kedunia” (ILT). Disini rasul Yohanes menegaskan bahwa banyak nabi palsu telah muncul kedunia. Disepanjang sejarah Israel sebagai suatu bangsa, nabi2 palsu selalu muncul diantara umat Tuhan. Itu sebabnya didalam II Petrus 2:1, tertulis bahwa nabi-nabi palsu selalu tampil ditengah-tengah umat Tuhan, sebagaimana juga guru-guru palsu, ditengah-tengah gereja. Karena nabi-nabi palsu itu selalu muncul ditengah-tengah umat Tuhan, maka kita dapat memahami bahwa yang dimaksud rasul Yohanes dengan istilah ‘dunia’ adalah dunia keagamaan, dalam konteks ayat ini, ‘tujuh gereja yang telah menyimpang di Asia Kecil’.

Jadi, menurut rasul Yohanes, tujuh gereja yang telah menyimpang dari kebenaran itu adalah ‘dunia’, yaitu sistem keagamaan yang bertentangan dengan Tuhan. Dalam situasi kita saat ini dimana gereja telah pecah menjadi ribuan denominasi, atau lebih tepat, gereja telah menjadi ‘dunia’ keagamaan, maka kita, sebagai umat pilihan Tuhan, dituntut untuk menjadi peka agar dapat menguji roh-roh yang bekerja pada diri ‘para pendeta’ atau ‘pelayan Tuhan’, apakah roh yang bekerja dibalik mereka itu berasal dari Tuhan atau tidak. Tetapi, saya percaya bahwa umat pilihan Tuhan memiliki ‘pengurapan yang didalam batin’ untuk dapat membedakan mana yang dari Tuhan, dan mana yang tidak (I Yohanes 2:20,27).

Selanjutnya, mari kita lihat I Yohanes 2:17, demikian tertulis, “Dan dunia sedang berlalu, juga keinginannya, tetapi siapa yang melakukan kehendak Elohim ia tinggal sampai selamanya” (ILT). Kita telah mengetahui apa yang ada didalam dunia keagamaan, yaitu kenginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (I Yohanes 2:16). Seseorang yang melayani didalam dunia keagamaan, atau dunia kekristenan, pastilah didorong oleh suatu keinginan untuk menjadi “besar”. Saudara tentu sudah mengetahui ungkapan “pendeta besar” dalam dunia kekristenan. Setiap orang yang melayani didalam ‘dunia kekristenan’ pasti didorong oleh suatu keinginan untuk menjadi “besar”. Sementara itu, kitab Wahyu mempertentangkan antara “Big City”, yaitu Babel, dengan “Holy City” yaitu Yerusalem Baru. Bagi orang yang melayani ‘diluar sistem keagamaan’, kerinduan terbesarnya adalah menjadi ‘kudus’, bukan ‘besar’. Kerinduan utamanya adalah melakukan kehendak Elohim, menjadi kudus dan terpisah dari dunia ini. Dan, sesuai dengan ayat kita diatas, bahwa ‘dunia kekristenan’ dengan segala keinginannya sedang berlalu, sedangkan mereka yang melakukan kehendak Elohim akan tinggal tetap.  

Sebagai penutup, mari kita renungkan I Yohanes 5:4, sebagai berikut, “…Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita”. Umat pilihan Tuhan akan mendapat kasih karunia untuk memiliki iman yang mengalahkan dunia keagamaan ini. Dunia keagamaan atau dunia kekristenan ini menawarkan uang, jabatan dan kemuliaan menusiawi. Orang-orang seperti ‘Demas’ tentu akan tergiur dan meninggalkan tim ‘Paulus’ karena kembali mencintai dunia ini. ‘Dunia’ disini bisa berarti dunia secara umum atau dunia keagamaan yang sedang kita bicarakan ini. Itu sebabnya, dibutuhkan iman untuk mempercayai pemeliharaan Tuhan atas hidup kita. Diperlukan juga iman untuk tetap bertahan dalam kesendirian, dalam pengucilan ‘patmos’ seperti yang dialami rasul Yohanes. Semoga kita, sebagai umat yang bukan saja dipanggil, tetapi juga dipilih, tetap dapat setia sampai akhir pelayanan kita (Wahyu 17:14).

Kita masih terus membahas rahasia injil yang dinyatakan oleh rasul Yohanes, dan kali ini kita akan membahas mengenai berhala yang tertulis dalam I Yohanes 5:21. Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘berhala’ disini adalah ‘eidolon’, dalam bentuk jamak, yang berarti ‘an image’ atau ‘a false god’. Jadi, berhala-berhala yang dimaksud rasul Yohanes adalah ‘ilah yang lain’ selain Elohim.

Kita tidak perlu mencari definisi dari istilah ‘eidolon’ ini diluar tulisan2 rasul Yohanes. Jelas, bahwa ‘eidolon’ ini adalah ilah yang lain (a false god) selain Elohim yang sejati. Rasul Yohanes menulis tentang ‘anti Kristus’ yang pengertiannya sama dengan ‘ilah yang lain’ atau ‘sesuatu yang lain’ selain dari Kristus.

Mari kita melihat dahulu makna kata ‘antiKristus’. Kata ini berasal dari gabungan dua istilah Yunani, yaitu ANTI dan CHRISTOS. Anti berarti ‘berlawanan dengan’, atau ‘selain dari’. Sedangkan Christos berarti ‘yang diurapi’. Jika kedua istilah ini digabung berarti sesuatu atau seorang yang berlawanan dengan Yang Diurapi, atau sesuatu sebagai pengganti Kristus.

Kristus ini adalah Elohim yang sejati. Sesuatu yang lain, apapun juga itu, yang bukan Kristus atau yang ‘selain dari Kristus’ adalah ‘ilah yang lain’, yaitu ‘eidolon’. Jadi, ‘eidolon’ adalah ‘anti Kristus’, yaitu sesuatu selain dari Kristus. Sesuatu ‘ilah lain’, selain dari ‘Kristus’. 

Rasul Yohanes menegaskan dalam I Yohanes 2:20, demikian, “Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya”. Juga I Yohanes 2:27 mengatakan, “Sebab didalam diri kamu tetap ada pengurapan…”. Maksudnya, didalam batin setiap umat pilihanNya, ada ‘olesan dari Roh Kudus’ yang membuat mereka mengetahui segala sesuatu, dan tidak perlu diajari kebenaran oleh orang lain. Istilah ‘olesan dari Roh Kudus’ yang dipakai rasul Yohanes memiliki makna yang serupa dengan ungkapan ‘Christ in you, the hope of glory’, yang dipakai rasul Paulus. Jadi, segala sesuatu selain dari ‘Kristus yang didalam batin’ adalah ‘eidolon’. 

Rasul Yohanes menasihati umat pilihan Tuhan agar waspada terhadap segala ‘eidolon’ (I Yohanes 5:21). Segala sesuatu selain dari ‘Kristus didalam batin’ dapat dijadikan ‘berhala’ atau ‘eidolon’ oleh seseorang. Untuk mengetahui apa saja yang dapat dijadikan berhala oleh seseorang, mari kita periksa makna istilah ‘anti Kristus’ dalam surat Yohanes ini.

Sebenarnya Alkitab berbicara sedikit sekali tentang ‘anti Kristus’. Istilah ‘anti Kristus’ hanya lima kali muncul dalam seluruh Alkitab. Empat istilah ini muncul di surat Rasul Yohanes yang pertama, kemudian sisanya ada disurat Yohanes yang kedua. Istilah ‘anti Kristus’ yang muncul di surat Yohanes ada dalam bentuk tunggal, jamak, berbentuk sistem dan juga roh. Mari kita periksa bentuk2 ini agar kita dapat memahami apa maksud rasul Yohanes dengan istilah ‘eidolon’ atau ‘berhala’ atau ‘anti Kristus’.

Pertama, didalam I Yohanes 2:18 katakan, “Hai anak-anak kecil, inilah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar bahwa seorang antikristus sedang datang…”. Dalam bahasa aslinya tidak ada definite article didepan istilah antikristus, yang berarti bahwa istilah antikristus mencakup orang2nya dan juga program2 yang mereka buat. Ini berbicara mengenai sistem. Kemudian, I Yohanes 2:19 menegaskan, “Mereka telah muncul dari antara kita, tetapi mereka bukanlah berasal dari kita…”. Anti Kristus itu muncul dari antara kita, tetapi bukan berasal dari kita, demikian ditegaskan Rasul Yohanes. AntiKristus itu muncul dari antara orang2 kudus, namun tidak sungguh-sungguh berasal dari orang kudus. Jadi, antiKristus ini bukanlah orang yang terang2an menentang ‘Kristus yang didalam batin’, tetapi mereka barangkali mengaku pengikut Kristus atau bahkan mengaku pelayan Kristus, tetapi melalui pengajarannya, mereka sebenarnya menyimpangkan umat Tuhan dari fokus kepada ‘Kristus didalam batin’. Ada hal2 tertentu selain ‘Kristus didalam batin’ yang menjadi fokus pengajarannya. Melalui uraian ini, kita dapat simpulkan bahwa baik orang, maupun sistemnya dapat dijadikan berhala atau ‘eidolon’ bagi seseorang. 

Kedua, I Yohanes 2:22 menyebutkan, “Siapakah pendusta itu jika bukan dia yang menyangkal, ‘Yesus itu Mesias’. Inilah antikristus yang menyangkal Bapa dan Putra”. Disini antiKristus itu adalah sebutan bagi seseorang tertentu. Kemudian ditegaskan pada ayat 18 diatas bahwa, “…sekarang bahkan banyak antikristus telah muncul…”, sehingga antikristus itu bukan saja seseorang tertentu, tetapi juga banyak orang tertentu yang disebut antiKristus. Jadi, seseorang atau para pemimpin tertentu, dapat dijadikan berhala oleh orang Kristen. Aliran tertentu, para pemimpin tertentu, dapat menjadi berhala bagi seseorang. 

Ketiga, I Yohanes 4:3 berkata, “dan setiap roh yang tidak mengakui mengakui Yesus… inilah antikristus”. Disini antiKristus adalah roh, yaitu roh yang tidak mengakui Yesus Kristus telah datang dalam daging. Sesungguhnya berhala itu adalah roh. Itu sebabnya orang Kristen dapat terikat oleh berhalanya, dan hanya kasih karunia Tuhan yang dapat membebaskannya. Jadi kita melihat bahwa antiKristus atau berhala itu, bagi seseorang, bisa berbentuk seorang pribadi tertentu, banyak pribadi, sistem atau roh. Yang jelas semua berhala atau ‘eidolon’ ini menyimpangkan umat Tuhan dari Elohim sejati yaitu ‘Kristus dalam batin’.

Didalam dunia (sistem) kekristenan, terdapat orang2 tertentu, aliran2 tertentu, ajaran2 tertentu, sistem ibadah tertentu, roh tertentu, aturan2 agamawi tertentu, yang semuanya menyimpangkan umat Tuhan dari Elohim sejati, yaitu ‘Kristus dalam batin’. Semuanya ini dapat dijadikan berhala atau ‘eidolon’ bagi seseorang. Rasul Yohanes memperingati kita agar waspada terhadap berhala2 ini.

Kita masih menyambung pembicaraan kita mengenai berhala. Didalam dunia (sistem) kekristenan, terdapat orang2 tertentu, aliran2 tertentu, ajaran2 tertentu, sistem ibadah tertentu, roh tertentu, aturan2 agamawi tertentu, yang semuanya menyimpangkan umat Tuhan dari Elohim sejati, yaitu ‘Kristus dalam batin’. Semuanya ini dapat menjadi berhala atau ‘eidolon’ bagi seseorang. Rasul Yohanes memperingati kita agar waspada terhadap berhala2 ini.

Saat ini kita akan coba merumuskan apa itu ‘berhala’ dunia kekristenan, dengan membandingkannya terhadap Elohim sejati, yaitu ‘Kristus dalam batin’. Kalau kita melihat Kolose 2:27, dimana tertulis, “… Kristus yang ada didalam kamu, selaku pengharapan kemuliaan” (ILT), maka dapat kita lihat bahwa berhala dunia kekristenan adalah ‘kemuliaan lahiriah’. Mengapa demikian? Karena ‘Kristus dalam batin’ itu adalah kemuliaan Tuhan secara batiniah, maka berhala, sebagai lawan dari Elohim sejati itu adalah kemuliaan lahiriah (kemuliaan manusiawi). Jika kita sudah melihat bahwa berhala dunia kekristenan itu adalah kemuliaan lahiriah atau kemuliaan manusiawi, maka kita akan memahami bahwa orang2 tertentu dalam dunia kekristenan, aliran2 tertentu, sistem ibadah tertentu, roh tertentu, aturan2 agamawi tertentu dalam dunia kekristenan, semuanya inilah yang menyimpangkan umat Tuhan dari fokus kepada ‘kemuliaan batiniah’ menjadi fokus kepada ‘kemuliaan lahiriah’.

Kemuliaan batiniah tidak dapat dilihat oleh mata jasmani, sedangkan kemuliaan lahiriah dapat dilihat oleh mata jasmani. Itu sebabnya, kemuliaan lahiriah sangat ditopang oleh hal2 lahiriah. Didalam dunia kekristenan yang telah menyimpang ini, jika seorang “pelayan Tuhan”, misalnya, dikatakan besar, sangat dipakai Tuhan, dan sukses, maka pastilah banyak hal2 lahiriah yang menopangnya. Barangkali, pengikutnya banyak, gedung kebaktiannya sangat megah, barangkali sekolah teologinya hebat, barangkali ia sangat kaya, dan sebagainya. Pendeknya, ada banyak hal2 lahiriah yang menopangnya sehingga ia dipenuhi kemuliaan lahiriah.

Hal ini sangat berbeda dengan Paulus, misalnya, ketika ia sedang membuktikan bahwa ia seorang pelayan Kristus (II Korintus 11:23-33). Ia justru mengatakan atau menunjukkan hal2 yang sebaliknya. Tidak ada hal2 lahiriah yang ditunjukkannya sebagaimana kita melihatnya didalam dunia kekristenan. Rasul Yohanes juga sangat menekankan perkara batiniah. Didalam injil Yohanes 7:38, ada tertulis, “… Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup”. Yohanes 4:23 menegaskan bahwa, “…penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran…”. Ibadah bukanlah soal kebaktian di gedung ini atau itu, ritual ini atau itu, liturgi ini atau itu. Ibadah bukanlah hal yang lahiriah, tetapi yang batiniah, yaitu didalam roh dan didalam kebenaran. Rasul Yohanes sangat menekankan pengurapan yang ada didalam batin (I Yohanes 2:20,27). Bahkan ditegaskannya bahwa pengurapan inilah yang akan mengajari kita segala sesuatu, dan bahwa kita tidak perlu diajar oleh orang lain. Semua ini membuktikan bahwa para rasul memiliki kemuliaan batiniah.

Jadi, berhala dalam dunia kekristenan adalah kemuliaan lahiriah, yang tentunya didukung oleh hal2 yang lahiriah juga. Jika kita memberitakan ‘Kristus yang didalam batin’, dan pengajaran kita tidak mendukung kemuliaan lahiriah, maka tentu saja kita akan dikucilkan dan tidak didengar oleh dunia kekristenan. Tetapi, justru pada saat itu, kita mulai mengenal sudut pandang ‘patmos’, dan karenanya mengenal rahasia tulisan2 rasul Yohanes.

Sepanjang uraian kita mengenai rahasia tulisan2 rasul Yohanes, telah kita tegaskan bahwa jika seseorang tidak melihat tulisan2 Rasul Yohanes dari sudut pandang ‘patmos’, maka ia tidak akan memahami rahasianya. Kita akan mengakhiri penjelasan mengenai sudut pandang ‘patmos’ ini dengan menjelaskan simbol perempuan di kitab Wahyu pasal 12 dan pasal 17.

Mari kita perhatikan binatang yang mempunyai tujuh kepala dan dan sepuluh tanduk (Wahyu 12:3 dan Wahyu 17:3). Binatang didalam Wahyu 12:3, disebutkan namanya, yaitu seekor naga merah padam yang besar, sedangkan dalam Wahyu 17:3, tidak disebutkan nama binatang ini. Tentu dapat kita pastikan bahwa kedua binatang ini sama, karena disepanjang kitab Wahyu ini tidak ada disebut nama binatang selain yang mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk. Dan kita tahu bahwa kitab Wahyu adalah kitab dengan bahasa simbol. Perempuan tentu simbol dari gereja, sedangkan binatang, disebutkan namanya atau tidak, merupakan simbol dari sistem pemerintahan manusia (kerajaan manusia). Dalam Wahyu 12:4, dikatakan bahwa binatang ini siap ‘menelan’ atau ‘memakan sampai habis’ (Yun. ‘katesthio’) anak (putera) yang akan dilahirkan oleh perempuan ini. Tetapi, yang mengherankan adalah binatang didalam Wahyu 17:3, justru menopang perempuan ini. Dan ayat 6 menyatakan bahwa perempuan ini (Wahyu 17) mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus. Dari cerita ini, dapat kita simpulkan bahwa perempuan dalam kitab Wahyu 17, membenci, mengucilkan, bahkan membunuh perempuan dalam kitab Wahyu 12.

Tetapi, hal ajaib bagi kita adalah putera yang dilahirkan dari perempuan Wahyu 12 ini akan menggembalakan bangsa-bangsa dan naik takhta Elohim (Wahyu 12:5). Ada yang menafsirkan bahwa putera disini adalah Tuhan Yesus Kristus, sehingga perempuan di kitab Wahyu 12 adalah Maria, ibu Yesus. Pemahaman ini keliru. Kitab Wahyu bukanlah kitab sejarah. Ini adalah kitab pewahyuan Yesus Kristus yang dinyatakan kepada Yohanes dengan bahasa simbol (Wahyu 1;1). Jadi, kitab Wahyu adalah kitab pewahyuan Yesus Kristus dan gereja, sebagai mempelaiNya dan tubuhNya. Karenanya, sewajarnya kita memahami perempuan ini adalah gereja, baik yang dipasal 12 maupun yang dipasal 17. Hanya, perempuan dipasal 17 menganiaya perempuan yang dipasal 12. Jadi, putera yang dilahirkan gereja (pasal 12) adalah para pemenang, yaitu putera2 Elohim yang diuraikan dalam Roma 8:19-21, yang akan membebaskan ciptaan dari perbudakan kebinasaan.

Cerita diatas bersesuaian dengan apa yang tertulis dalam Matius 21:42, Markus 12:10-11, Lukas 20:17, Kis. 4:11. Semua ayat ini adalah kutipan dari Mazmur 118:22-23, “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib dimata kita”. Tuhan Yesus menjelaskan bahwa diriNya ditolak oleh orang2 Farisi, ahli2 Taurat (para pemimpin Umat Tuhan, dan sebagai penggarap kebun anggur), namun menjadi “batu penjuru”, demikian juga para pemenangNya akan ditolak dan dikucilkan oleh ‘gereja yang ditopang oleh sistem pemerintahan manusia’, namun pada waktuNya, akan memerintah bangsa-bangsa bersama dengan Tuhan Yesus dizaman berikutnya.

Demikianlah rahasia tulisan2 rasul Yohanes, yang dilihat dari sudut pandang ‘patmos’. Tentu kita tidak menguraikan semuanya saat ini. Tetapi, sebagai pendahuluan tema ‘trilogi rahasia injil’, saya rasa sudah cukup. Amin.

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Kerajaan Sorga Menurut Kitab Wahyu.

Jabatan Dalam Gereja