Pengaturan Tuhan.
PENGATURAN TUHAN (Gabungan)
Oleh: Irnawan Silitonga
Judul kita kali ini adalah pengaturan Tuhan. Yang
dimaksud pengaturan ialah bahwa segala sesuatu telah diatur sebelumnya. Tidak
ada kejadian yang bisa disebut ‘kebetulan’.
Baik kejadian besar atau penting, maupun kejadian kecil, yang bahkan luput dari
perhatian orang, seperti burung jatuh ke bumi, semuanya ini sudah diatur
sebelumnya. Pengaturan Tuhan, berarti bahwa semua yang terjadi itu diatur
oleh Tuhan. Baik perkara besar maupun kecil, baik perkara penting maupun
perkara remeh di alam semesta ini, semua diatur oleh Tuhan. Alkitab berkata
burung jatuh ke bumi itu tidak ada yang terjadi diluar kehendak Bapa. Bahkan
Alkitab berkata rambut dikepala kitapun terhitung olehNya. Ini membuktikan pengaturan
Tuhan itu sangat luar biasa dan rinci sekali.
Mengapa perihal pengaturan Tuhan ini menjadi penting
untuk kita bahas? Hal ini disebabkan adanya konsep yang sudah berlaku didunia
kekristenan pada umumnya, yaitu suatu konsep atau pandangan bahwa kejadian yang
buruk bukanlah berasal dari Tuhan. Kejadian buruk itu berasal dari Iblis.
Misalnya kejatuhan Adam dan Hawa di taman Eden, atau kejadian2 buruk lainnya
yang menimpa anak2 Tuhan, seperti kecelakaan, malapetaka, dipecat dari pekerjaan
dan sebagainya. Melalui pemahaman ini, seolah-olah ada dua kekuatan yang
mengatur kejadian2 di alam semesta ini. Jika terjadi sesuatu yang jahat, maka
itu berasal dari kekuatan iblis. Jika terjadi sesuatu yang baik, maka kejadian
itu berasal dari kekuatan Tuhan.
Konsep atau pemahaman seperti ini dikenal dengan nama dualisme
(dualism).
Menurut kamus ‘Evangelical Dictionary of
Theology (edisi kedua), halaman 357, dualisme
berarti suatu penafsiran atau pemahaman
atas kejadian tertentu sebagai pertarungan antara dua kekuatan yang berlawanan,
atau dua prinsip yang bertentangan. Menurut kamus ini, teologi Kristen
umumnya menerima pemahaman dualisme ini sebagai berikut; mengakui Tuhan sebagai
sumber kebaikan tertinggi, dan mengakui setan sebagai ciptaan yang telah jatuh
serta merupakan sumber dari hal2 yang jahat. Tentu terdapat variasi pemahaman
dualisme ini dalam berbagai denominasi. Tetapi, pada intinya, teologi Kristen
menerima adanya dua sumber kekuatan, dan mengakui bahwa sumber kebaikan
tertinggi itu berasal dari Tuhan, sedangkan sumber kejahatan itu berasal dari
Iblis.
Didalam praktek hidup sehari-hari, anak2 Tuhan yang menerima
pemahaman dualisme ini, disadari atau tidak, akan mengucap syukur jika
terjadi hal2 yang baik dalam hidupnya, karena ia berpikir Tuhanlah yang sedang
berkarya dalam hidupnya. Tetapi, jika terjadi hal2 yang buruk dalam hidupnya,
maka ia sulit mengucap syukur, karena ia berpikir ‘sedang mendapat serangan Iblis’. Anak Tuhan ini tentu akan mengusir
Iblis, atau menengking Iblis karena peristiwa buruk yang terjadi atas
kehidupannya.
Saya memberi contoh nyata dari seorang pendeta terkenal
didalam dunia kekristenan. Karena sudah tersebar luas di YouTube, maka saya
sebut saja namanya, yaitu Pdt. Niko Njotorahardjo. Pak Niko ini menengking atau
mengusir Covid-19, sebagai suatu serangan Iblis. Tentu dari sikap beliau ini
jelas terlihat pemahamannya akan dualisme. Karena Covid-19 ini
menyebabkan kebaktian di gedung gereja tidak diizinkan lagi oleh pemerintah
pada waktu itu, seingat saya mulai Maret 2020, dan juga menimbulkan krisis
ekonomi, maka tentu Covid-19 ini berasal dari Iblis. Apakah benar Covid -19 ini
berasal dari Iblis? Atau berasal dari Tuhan dengan suatu maksud2 Tuhan yang
tersembunyi?
Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai dualisme ini. Pemahaman dualisme
inilah yang menyebabkan orang Kristen memiliki pengertian bahwa ada dua
kekuatan yang sedang bertarung di alam semesta ini. Kekuatan baik, itulah
Tuhan, sedangkan kekuatan jahat, itulah Iblis. Walaupun tentu saja semua orang
Kristen mengakui Tuhan sebagai satu-satunya kekuatan yang tidak tertandingi,
namun Iblis, sebagai kekuatan jahat, tetap dapat berkarya dan sekali-sekali
menyerang kehidupan manusia. Mengapa Iblis mendapat tempat sedemikian
seolah-olah Iblis dapat melakukan serangannya menurut yang ia kehendaki? Apakah
Iblis memiliki “kehendak bebas” sedemikian sehingga ia dapat bertindak “diluar
kontrol Tuhan”, dan melakukan serangannya sekali-sekali. Dalam teologi
Kristen (konsep dualisme) yang sudah kita bahas sebelumnya, seolah-olah Iblis
adalah “Tuhan” yang mempunyai kekuatan sendiri terlepas dari Elohim, sekalipun
tentu ia tidak maha kuasa.
Menurut saya, semua pemahaman tentang Iblis yang seolah-olah
seperti “Tuhan” ini, disebabkan doktrin ‘kejatuhan Lucifer’ yang
sudah diterima secara luas dalam dunia kekristenan. Inti dari doktrin ‘kejatuhan
Lucifer’ kurang lebih seperti berikut. Konon, ada malaikat bernama ‘Lucifer’, artinya putera fajar, dan
malaikat ini tiba-tiba menjadi sombong dan ingin menjadi seperti Elohim (Yehez.
28:2). Kemudian, ia jatuh dari sorga (Yesaya 14:12), atau dibuang Tuhan dari
sorga dan menjadi Iblis, yang demikian jahat. Selanjutnya, Lucifer ini menarik
sepertiga dari malaikat2 untuk memberontak melawan Tuhan (Wahyu 12:4). Tentu
cerita ‘kejatuhan Lucifer’ ini ditambah lagi ini itu sehingga menjadi
suatu drama yang menghebohkan. Konon, katanya, Lucifer ini adalah malaikat pemuji, ia seorang pemimpin puji2an di
sorga. Bahkan ada yang berkata bahwa seluruh tubuhnya penuh dengan alat2 musik
sorgawi….dan seterusnya…..dan seterusnya….. demikianlah dongeng tentang Lucifer ini yang telah dipercaya
sebagai kebenaran dalam dunia kekristenan.
Mengapa saya katakan dongeng? Ya, jelas, karena ini akal2an
para teolog untuk membebaskan Tuhan dari tanggung jawab adanya kejahatan di
alam semesta ini. Sebab, para teolog ini berpikir, Elohim adalah kasih, maka
bagaimana mungkin Elohim yang penuh kasih ini membuat kejahatan2 terjadi di
alam semesta ini. Maka, sebagai solusi, dicarilah “kambing hitam” untuk adanya kejahatan di alam semesta ini. Maka,
dengan mencomot ayat disana sini, jadilah dongeng ‘kejatuhan Lucifer’ yang
sudah dipercaya oleh mayoritas orang dalam dunia kekristenan.
Mengapa saya katakan mencomot ayat sana sini? Karena ayat2
yang sudah kita lihat diatas itu adalah ayat2 yang sama sekali tidak berbicara
tentang malaikat. Konteks Yehezkiel 28 adalah raja Tirus, seorang manusia. Ayat
2 menegaskan, “…padahal engkau adalah
manusia…”. Bahkan di ayat 13 berkata, “engkau
di Taman Eden…”. Kalaupun mau dicomot ayat ini diluar konteks raja Tirus,
maka ayat ini lebih cocok diterapkan kepada Adam, karena hanya Adam yang berada
ditaman Eden dan kemudian jatuh. Tetapi, saya tidak mau mencomot ayat ini
diluar konteks raja Tirus. Atas dasar otoritas apa para teolog itu mencomot
ayat2 ini dan menerapkannya kepada suatu cerita buatan akal mereka sendiri,
mengenai Iblis.
Demikian juga dengan Yesaya 14:1-23. Seluruh ayat2 ini
berbicara tentang raja Babel. Mengapa para teolog itu berani melanggar prinsip
yang sangat penting dalam hermeneutik, yaitu prinsip konteks, dan
melanggarnya demi mendukung cerita dongeng mengenai Iblis yang mereka buat?
Begitu juga dengan Wahyu 12:4, mengenai bintang2. Kitab Wahyu adalah pewahyuan
Yesus Kristus dan gerejaNya yang disampaikan kepada rasul Yohanes dengan bahasa
simbol (Wahyu 1:1). Dan bintang itu adalah simbol untuk putera Elohim, bukan
malaikat sebagai makhluk sorgawi. Didalam Wahyu 12:1, terdapat perempuan
(simbol gereja) yang dipimpin oleh 12 bintang, yaitu putera2 Elohim. Jadi,
didalam kitab Wahyu, bintang adalah simbol untuk manusia Elohim, yaitu
putera2Nya.
Telah kita bahas bagaimana para teolog membuat cerita
mengenai ‘kejatuhan Iblis’ dan kemudian mencari ayat2 yang cocok untuk
mendukung cerita yang mereka buat. Sebab mereka mengambil ayat2 mengenai raja
Tirus dan raja Babel, kemudian menerapkannya kedalam cerita yang sudah mereka
buat sebelumnya. Walaupun tujuan mereka membuat cerita ‘kejatuhan Iblis’ ini
untuk menghindarkan Tuhan dari tanggung jawabNya atas adanya kejahatan, namun
tindakan para teolog ini jelas melanggar prinsip hermeneutik yang benar. Apa
yang para teolog ini lakukan biasa disebut ‘eisegesis’, yaitu
memasukkan pemahaman mereka sendiri kedalam teks Alkitab dengan mencomot-comot
ayat diluar konteks untuk membenarkan dongeng mereka sendiri. Saat ini, kita
akan melakukan hal sebaliknya, yaitu ‘eksegesis’, artinya, membawa keluar
atau mengeluarkan dari teks2 Alkitab suatu pemahaman perihal dari mana
datangnya Iblis itu.
Mari kita mulai dari Kejadian 3:1, yang berkata, “Adapun ular adalah binatang yang paling
cerdik diantara segala binatang dipadang yang telah dijadikan oleh Yahweh,
Elohim…” (ILT). Dikatakan disini bahwa ular ialah binatang yang telah
dijadikan oleh Elohim. Siapakah ular didalam kitab Kejadian pasal 3 ini? Sebab,
dikatakan bahwa ia dapat berbicara, mempunyai keturunan (ayat 15), dan
makanannya debu tanah. Kita tahu ular jasmani itu tidak bisa berbicara. Ular
jasmani juga tidak makan debu tanah. Jadi, ular yang diceritakan dalam Kejadian
pasal tiga bukanlah ular jasmani.
Kalau demikian siapakah ular ini? Ada dua bagian firman Tuhan
yang bercerita tentang ular ini. Pertama,
Matius 3:7, dimana Yohanes Pembaptis berkata kepada orang2 Farisi dan Saduki,
“…Hai kamu keturunan ular beludak…”.
Kemudian Yesus juga berkata kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat bahwa, “Iblislah yang menjadi bapamu…” (Yohanes
8:44). Ular beludak yang dimaksud Yohanes Pembaptis jelas bukan ular jasmani,
karena ular jasmani tidak mempunyai keturunan, yang dalam ayat ini disebut orang2
Farisi dan Saduki. Tetapi, karena Yesus berkata bahwa bapanya ahli2 Taurat dan
orang2 Farisi itu adalah Iblis, maka jelaslah bahwa Ular yang dimaksud Yohanes
Pembaptis adalah Iblis.
Kedua, Wahyu 12:9, dan Wahyu 20:2,
menegaskan bahwa naga (ular besar atau ular tua) itu adalah Iblis. Jadi,
kalau ular itu adalah Iblis, dan ular itu dijadikan oleh Elohim, maka
kesimpulannya adalah, Elohimlah yang menjadikan Iblis, atau Elohim menciptakan
Setan. Iblis itu bukan malaikat baik yang menjadikan dirinya sendiri
sebagai Setan yang jahat. Iblis itu memang sudah jahat dari mulanya. Yohanes
8:44, berkata, “…ia (iblis) adalah
pembunuh manusia SEJAK SEMULA…”. I Yohanes 3:8, berkata, “…Iblis berbuat dosa DARI MULANYA…”. Jadi,
Iblis itu bukan awalnya baik kemudian karena sombong, menjadi jahat, seperti
dongeng para teolog. Tetapi, Iblis itu memang sudah dari awal diciptakan
sebagai “binatang” yang jahat. Gelar
Iblis itu ada dua, yaitu pembunuh manusia dan pendusta. Kalau gelar ini
disatukan, maka Iblis itu membunuh manusia dengan cara berdusta. Itu sebabnya,
yang harus kita waspadai adalah dusta iblis ini. Iblis ini bahkan sudah mendustai
dunia kekristenan melalui para teolog yang mengajarkan bahwa ia tadinya
malaikat baik, Lucifer.
Barangkali ada yang bertanya, bagaimana Elohim yang adalah
kasih, bisa menciptakan Iblis yang begitu jahat? Saya coba menjelaskan ini dari
percobaan Newton yang disebutnya Spectrum. Newton mengarahkan cahaya
putih matahari kepada suatu prisma, dan kemudian cahaya putih matahari itu
terurai menjadi berbagai warna seperti pelangi. Saya dulu mengingatnya dengan
MeJiKuHiBiNiU. Merah, jingga, kuning……sampai Ungu. Kita umpamakan kasih Elohim
itu seperti cahaya putih sinar matahari. Elohim yang adalah kasih (cahaya
putih) mencipta / memperluas Diri / “mengurai’ DiriNya menjadi “berbagai
warna”. Kasih itu jika diurai, maka akan menjadi kebaikan, keadilan, kemurahan,
tetapi juga disiplin, hajaran, dan pembentukkan yang menyakitkan. Jadi,
Elohim menciptakan Iblis ini untuk menjadi alat ditanganNya untuk mendisiplin,
menghajar, dan membentuk umatNya. Hal ini terlihat dalam kasus Ayub.
Iblis tidak punya kehendak bebas dan dapat semaunya menyerang Ayub. Iblis
menyerang Ayub setelah Tuhan memberi perintah kepadanya. Jadi, Iblis itu
budaknya Tuhan. Disini juga kita melihat kekeliruan konsep dualisme.
Telah kita uraikan bagaimana Elohim menciptakan Iblis dengan
suatu maksud yaitu sebagai alatNya untuk mendisiplin, menghajar, membentuk
umatNya. Iblis tidak dapat bertindak semaunya saja tanpa perintah Tuhan. Kasus
Ayub jelas menunjukkan bahwa Iblis tidak mempunyai kehendak bebas.
Kehendaknya diatur Tuhan sesuai dengan kehendakNya. Tuhanlah yang mengatur
segala sesuatu menurut kehendakNya.
Karena konsep dualisme
yang telah kita bahas, banyak orang Kristen tidak mau percaya bahwa Tuhanlah
yang membuat semuanya, Tuhanlah yang mengatur segala sesuatu, Tuhanlah yang
menciptakan segala sesuatu. Semua dilakukanNya agar DiriNya dikenal dan
dimuliakan oleh ciptaanNya. Roma 11:36, berkata, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia;
bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya”. Tidak ada apapun di alam
semesta ini yang dapat bergerak, bertindak, atau merencanakan suatu perbuatan
diluar kontrol dan pengaturan Tuhan. “Sebab
didalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga
dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: sebab kita ini dari keturunan Allah juga”
(Kis. 17:28). Elohim tidak tinggal di alam semesta, tetapi alam semesta inilah
yang tinggal didalam Elohim. Itu sebabnya, alam semesta ini bergerak didalam
Dia, Dialah penyebab segala sesuatu, Dialah yang menyebabkan segala sesuatu
terjadi, Dialah yang mengatur segala sesuatu untuk kemuliaanNya.
Yesaya 45:6-7, menegaskan, “… Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan
menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang;
Akulah TUHAN yang membuat semua ini”. Bagi orang yang memiliki konsep dualisme
tentu sangat sulit menerima firman Tuhan ini. Bagaimana Tuhan yang penuh kasih
itu menciptakan gelap, dan menciptakan nasib malang? Bahkan Amos 3:6, berkata,
“… Adakah terjadi malapetaka di suatu
kota, dan Tuhan tidak melakukannya?”. Artinya Tuhanlah yang membuat
malapetaka disuatu kota.
Bagi umat pilihan Tuhan, penjelasan diatas sudahlah cukup untuk
mempercayai bahwa Tuhanlah yang mengatur segalanya. Tidak ada kehendak bebas, tidak
seorangpun yang berkuasa menentukan arah langkah hidupnya. Yeremia
10:23 berkata, “Aku tahu, ya Tuhan, bahwa
manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak
berkuasa untuk menetapkan langkahnya”. Amsal 21:1, juga menegaskan, “Hati raja seperti batang air didalam tangan
Tuhan, dialirkanNya kemana Ia ingini”. Kepada Musa, Tuhan berkata, ‘Aku mau
mengeraskan hati siapa yang Aku mau, dan juga Aku mau memberikan kasih karunia
kepada siapa Aku mau’. Itu sebabnya Paulus berkata, “Jadi, hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang,
tetapi kepada kemurahan hati Allah” (Roma 9:16).
Ayub adalah contoh yang baik bagi orang yang mengakui
kemahakuasaan Tuhan, bahwa Tuhanlah yang mengatur segala sesuatunya, bahwa
Tuhanlah yang memberi dan mengambil. Banyak orang Kristen, bahkan para pemimpin
denominasi yang tidak mengakui bahwa Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang
mengambil. Sementara itu Alkitab tegas berkata bahwa Ayub tidak berbuat salah
ketika ia berkata ‘Tuhan yang memberi dan Tuhan yang mengambil’. Bahkan Ayub
tidak bersalah dengan bibirnya ketika ia berkata, “…Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima
yang buruk?” (Ayub 1:10)
Telah kita uraikan bagaimana Elohim menciptakan Iblis dengan
suatu maksud yaitu sebagai alatNya untuk mendisiplin, menghajar, membentuk
umatNya. Juga beberapa ayat yang menjelaskan pengaturan Tuhan serta kasus Ayub,
telah kita lihat, sehingga sudah dapat disimpulkan bahwa dalam semuanya itu
Tuhanlah yang mengatur, yang merencanakan, dan yang menentukan segalanya. Saat
ini kita akan melihat kejatuhan Adam dan Hawa di Taman Eden. Apakah Adam
mempunyai kehendak bebas? Apakah kejatuhan Adam itu karena kehendaknya,
atau karena kehendak Tuhan serta pengaturanNya?
Mari kita melihat Roma 8:20-21, “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh
kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia (TUHAN), yang telah menaklukkannya,
tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan
dari perbudakan kebinasaan dan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak
Allah”. Konteks dari ayat2 ini adalah pemuliaan
oleh iman (glorification by faith). Dalam pasal2 sebelumnya, Paulus telah
menjelaskan pembenaran karena iman (justification
by faith), dan juga pengudusan
karena iman (sanctification by faith). Dalam dunia kekristenan banyak
pengajar hanya menekankan justification by faith, dan hampir
tidak pernah menyinggung glorification by faith. Padahal,
puncak keselamatan itu adalah ketika kita, sebagai umat pilihanNya, mengalami pemuliaan karena iman.
Baiklah kita melihat beberapa kebenaran yang luar biasa yang
terungkap dalam ayat2 ini. Pertama,
seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan BUKAN OLEH KEHENDAKNYA
SENDIRI, TETAPI OLEH KEHENDAK TUHAN. Apakah kesia-siaan itu? Kesia-siaan itu
adalah JENIS HIDUP (MAUT) yang disimbolkan oleh pohon pengetahuan yang baik dan
jahat. Kitab Pengkhotbah menjelaskan kesia-siaan ini sebagai sesuatu yang
dijalani manusia ‘dibawah matahari’ atau ‘dibawah langit’. Semua yang dilakukan
manusia ‘dibawah matahari’ adalah sia-sia. Semua manusia menjalani kehidupan
yang sia-sia karena semua manusia menjalani JENIS HIDUP MAUT, karena Adam telah
memakan buah pohon pengetahuan. Pertanyaannya, apakah Adam memakan buah pohon
itu karena kehendaknya, atau kehendak Tuhan? Perhatikan hal ini. Siapa yang
menjatuhkan seluruh manusia kedalam alam kesia-siaan ini? Perhatikan lagi ayat
diatas. Kalau kita perhatikan dengan baik ayat2 diatas, maka jelaslah TUHAN
yang merancang Adam dan keturunannya (semua manusia) jatuh kedalam alam
kesia-siaan. ADAM TIDAK MEMPUNYAI KEHENDAK BEBAS DI TAMAN EDEN, KARENA
KEJATUHANNYA ADALAH KEHENDAK TUHAN. Tetapi ada maksud Tuhan. Mari kita melihat
poin kedua dari ayat2 diatas.
Kedua, seluruh makhluk jatuh kedalam alam
kesia-siaan, TETAPI DENGAN PENGHARAPAN. Pengharapan apa? Pengharapan bahwa pada
waktuNya, SELURUH MAKHLUK AKAN DIMERDEKAKAN DARI PERBUDAKAN KEBINASAAN.
Sudahkah sdr. melihat pengaturan Tuhan yang dahsyat
disini? Seluruh makhluk ditaklukkan kedalam alam kesia-siaan melalui Iblis,
sebagai BUDAK TUHAN, supaya seluruh makhluk merasakan pahitnya alam maut itu.
Kemudian, pada waktuNya, seluruh makhluk juga akan merasakan manisnya HAYAT
KRISTUS itu. Mengapa Tuhan menaklukkan seluruh makhluk kedalam alam kesia-siaan
(alam maut), yang dikuasai Iblis (Ibrani 2:14)? Karena bagaimana orang bisa
mengenal manis, jika ia tidak pernah merasakan pahit? Bahkan, manis itu tidak
dapat disebut manis, jika tidak ada pahit. Sesuatu itu tidak dapat disebut
sesuatu, jika tidak ada lawan dari sesuatu itu. Itu sebabnya Tuhan merancang
kejatuhan Adam dan seluruh keturunannya agar merasakan pahitnya jenis hidup
maut itu. Kemudian ketika Yesus datang dan memberikan jenis hidup Kristus (ZOE)
– disimbolkan oleh pohon Kehidupan, maka manusia dapat bersyukur dan memuliakan
Tuhan. Masih ada poin ketiga yang tidak kurang penting dari ayat kita diatas.
Ketiga, Tuhan menggunakan umat pilihanNya
(buah sulung) untuk membebaskan seluruh makhluk dari alam kesia-siaan. Dalam
dunia kekristenan, ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.
Mereka yang mendapat kasih karunia untuk dipanggil, dipilih dan setia,
merekalah yang akan dipakai Tuhan untuk membebaskan seluruh makhluk masuk
kedalam alam kemuliaan.
Sudahkah sdr, melihat pengaturan Tuhan dalam semuanya ini
Mari kita melihat pengaturan Tuhan dalam hal
penciptaan manusia dan rencanaNya bagi manusia. Banyak orang Kristen yang
meyakini bahwa Adam dan Hawa
memiliki kehendak bebas, dan juga
tentu menganut doktrin kejatuhan Iblis, membuat cerita di Taman Eden menjadi
sebuah cerita yang agak mengharukan, atau barangkali menyedihkan. Bagaimana
tidak? Ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa serupa dan segambar dengan Dia,
dan diberi kehendak bebas untuk memilih, kemudian Adam dan Hawa memilih
mendengarkan Setan, maka jatuhlah ciptaan itu dan semua menjadi kacau.
Kemudian, dengan tergesa-gesa sebagai ‘tindakan
darurat’, Tuhan merencanakan penebusan manusia melalui kematian Yesus
dikayu salib. Dan sesuai dengan doktrin predestinasi Calvin, maka Tuhan memilih
sebagian untuk diselamatkan, dan sebagian lagi dibiarkan menuju neraka kekal
selama-lamanya. Demikianlah kurang-lebih cerita yang sudah dipercaya oleh
mayoritas orang didalam dunia kekristenan.
Cerita diatas dipercaya oleh mayoritas orang Kristen karena
mereka tidak memahami perihal pengaturan Tuhan. Mari kita melihat
rencana Tuhan dan pengaturan Tuhan dalam hal penciptaan manusia. Kejadian
1:26-27, versi ILT, berkata, “Dan Elohim
berfirman, ‘Marilah Kita membuat manusia dalam citra Kita, menurut rupa Kita,
dan biarlah mereka berkuasa atas ikan-ikan dilaut… Lalu Elohim mencipta manusia
menurut citraNya…”. Ayat2 ini barulah rencana Elohim bagi
manusia. Ketika Adam dan Hawa diciptakan dan ditempatkan dalam Taman
Eden, mereka sama sekali belum menggenapi rencana Tuhan, sebab Adam dan Hawa
masih dalam kondisi innocent (murni), artinya, belum kudus, karena belum memakan
buah pohon Kehidupan, juga belum berdosa, karena belum memakan pohon
pengetahuan. Adam dan Hawa benar2 murni, dan belum mengetahui yang baik dan
jahat. Juga mereka belum beranak-cucu agar dapat menguasai dan menaklukkan
seluruh bumi.
Barangkali, banyak orang Kristen menyangka bahwa ketika Adam
dan Hawa diciptakan, mereka sudah serupa dan segambar dengan Dia, karena
tertulis dalam ayat 27, “lalu Elohim
MENCIPTA manusia menurut CITRANYA…”. Sebenarnya, istilah Ibrani yang
diterjemahkan MENCIPTA itu ada dalam bentuk present progressive, bukan past
tense. Artinya penciptaan itu sendiri masih dalam proses, dan belum jadi.
Dalam Bahasa Inggris, MENCIPTA dalam ayat ini adalah IS CREATING, bukan
CREATED. Jadi, rencana Tuhan dalam memproses manusia agar serupa dan segambar
dengan Dia, masih panjang. Dan Tuhan menggunakan dua pohon dalam Taman Eden
untuk memproses manusia. Kedua pohon itu harus dimakan manusia agar manusia
dapat menjadi serupa dan segambar dengan Dia. Kita sudah membahas bagaimana
Tuhan sendiri merancang agar Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan itu
(Roma 8:20). Kemudian, setelah Adam dan keturunannya merasakan pahitnya alam
maut itu, maka Yesus datang memberikan manisnya hayat Kristus itu. Hayat
Kristus menelan maut sedemikian sehingga pada akhirnya seluruh manusia menjadi
serupa dan segambar dengan Dia. Demikianlah genap rencana Tuhan bagi manusia.
Perhatikan sekali lagi, ketika Tuhan berkata, “baiklah Kita menjadikan MANUSIA serupa dan
segambar dengan Kita…”, maka rencana ini TIDAK BOLEH GAGAL. Sekali Tuhan
berfirman BAIKLAH KITA MENJADIKAN MANUSIA SERUPA DAN SEGAMBAR DENGAN KITA, maka
hal ini pasti terjadi. Yesaya 55:11 menegaskan, “demikianlah firmanKu yang keluar dari mulutKu: ia tidak akan kembali
kepadaKu dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang KUKEHENDAKI, dan
akan berhasil dalam apa yang KUSURUHKAN kepadanya”. KUKEHENDAKI dan
KUSURUHKAN, inilah pengaturan Tuhan yang tidak mungkin gagal.
Telah kita uraikan sedikit tentang pengaturan Tuhan dalam
hal penciptaan manusia. Sekali Tuhan berfirman BAIKLAH KITA MENJADIKAN MANUSIA
SERUPA DAN SEGAMBAR DENGAN KITA, maka hal ini pasti terjadi. Tuhan tidak
berkata, ‘baiklah Kita menjadikan SEBAGIAN MANUSIA serupa dan segambar dengan
Kita’. Sebab, kalau kita mengikuti doktrin Calvin, maka memang sebagian manusia
yang terpilih akan menjadi serupa dan segambar dengan Dia, sedangkan sebagian
lainnya, barangkali, serupa dan segambar dengan Iblis sang penghuni neraka.
Semoga kita melihat pengaturan Tuhan dalam penciptaan
manusia ini. SEMUA SUDAH DIATUR SEBELUMNYA. SEMUA SUDAH DIRENCANAKAN
SEBELUMNYA. Kejatuhan Adampun sudah diatur, bahkan kematian sang Anak Domba
juga sudah dipersiapkan sebelumnya. Young’s
Literal Translation, menegaskan, “…the
Lamb slain from the foundation of the world” (Wahyu 13:8).
Mari kita melihat lebih jauh lagi mengenai kehendak bebas
manusia yang sudah begitu dalam dipercaya oleh mayoritas orang Kristen. Telah
kita bahas Roma 8:20, yang menegaskan bahwa kejatuhan manusia (Adam) kedalam
alam kesia-siaan, bukanlah oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia
yang membuatnya. Jadi, dalam Taman Edenpun Adam sudah tidak memiliki kehendak
bebas. Bagaimana kehendak Adam ketika ia sudah jatuh ke alam kesia-siaan? Kita
tahu bahwa alam kesia-siaan ini, yang disimbolkan oleh pohon pengetahuan yang
baik dan jahat, sebenarnya adalah jenis hidup maut yang dikuasai Iblis (Ibrani
2:14). Bagaimana lagi kita berbicara tentang kehendak bebas manusia di alam
kesia-siaan ini yang dikuasai oleh Iblis? Alkitab berkata bahwa manusia telah
mati dalam dosa. Jadi, Iblis dan roh2 jahatlah yang mengatur kehidupan manusia,
sepanjang yang Tuhan tetapkan. Iblispun tidak bebas melakukan apa saja kepada
manusia, kecuali Tuhan perintahkan demikian kepadanya.
Kesimpulannya sudah jelas, manusia tidak punya kehendak bebas. Tetapi mengapa manusia harus
bertanggung jawab atas perbuatannya? Jawabnya, karena Tuhan menetapkan hukum
tabur-tuai di alam kesia-siaan ini. Sekalipun kejatuhan Adam bukan kehendaknya
sendiri, tetapi apa yang Adam tabur, itu juga yang harus ia tuai. Itu sebabnya,
Adam dapat dimintai pertanggung jawaban, dan harus menuai yang ia sendiri
tabur.
Kemudian Yesus datang memberi HayatNya (Yohanes 10:10), yang
disimbolkan oleh pohon Kehidupan. Jika seseorang menjalani HayatNya, maka
terdapatlah kemerdekaan. Yesus berkata,”Jadi
apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” (Yohanes
8:36). Kemerdekaan disini, sesuai konteks, adalah kemerdekaan dari perbudakan
dosa. Kemerdekaan dari perbudakan Iblis, bukan kemerdekaan dalam arti memiliki
kehendak bebas. Karena di alam Hayat Kristuspun, manusia (umat pilihan
Tuhan) tidak memiliki kehendak bebas. Tetapi manusia (umat pilihanNya) memiliki
dan merasakan kemerdekaan dalam menjalankan kehendakNya. Perhatikan Yesaya
7:15, “Ia akan makan dadih dan madu
sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik”. Ayat ini berlaku bagi seorang yang bernama
imanuel. Maksudnya, orang pilihan Tuhan ini akan terus mendapat kasih karunia
untuk menikmati kasih dan kebaikan Tuhan, sehingga ia dimampukan untuk menolak
yang jahat dan memilih yang baik. Sekali lagi, bukan berarti manusia (yang
bernama imanuel) mempunyai kehendak bebas, tetapi oleh kasih karunia Tuhan,
kehendak umat pilihanNya yang tadinya mati, dan diperbudak oleh Iblis, maka
sekarang dimampukan untuk memilih atau menjalankan kehendak Tuhan, dalam
kemerdekaan.
Mengapa kita tegas berkata bahwa manusia, baik ia menjalani
kehidupan “pohon pengetahuan”, maupun kehidupan “pohon Hayat”, tetap TIDAK
MEMPUNYAI KEHENDAK BEBAS, adalah karena jika memang benar ada yang namanya
KEHENDAK BEBAS, maka disitu KEMAHAKUASAAN ELOHIM BERHENTI. Jika memang benar Elohim
memberikan kehendak bebas kepada suatu makhluk, entah itu Iblis atau manusia, dan
Dia tidak dapat lagi mengatur atau menjalankan kontrolNya atas makhluk itu,
maka Ia berhenti menjadi Eohim yang maha kuasa. Dan ini tidak mungkin.
TIDAK MUNGKIN ELOHIM MEMBERIKAN KEHENDAK BEBAS KEPADA MAKHLUK CIPTAANNYA, SEBAB
JIKA HAL INI TERJADI, MAKA ELOHIM BERHENTI MENJADI DIRINYA SENDIRI. Jadi,
kesimpulannya, sekali lagi, TIDAK ADA KEHENDAK BEBAS. Ide atau konsep “kehendak
bebas” hanya ada di kepala para filsuf yang selangkah lagi saja tidak mengakui
adanya Tuhan. Tetapi sayang, konsep kehendak bebas ini diadopsi masuk kedalam
dunia kekristenan.
Kita akan mengakhiri pembahasan singkat kita mengenai pengaturan
Tuhan dengan membicarakan pengaturanNya bagi mereka yang dipanggil,
dipilih dan yang setia (Wahyu 17:14). Ayat ini berbicara tentang mereka yang
bersama Tuhan Yesus, berperang dan menang. Mereka menang dalam peperangan
karena dalam pengaturan Tuhan, mendapat kasih karunia bukan saja untuk
dipanggil, tetapi juga dipilih dan setia. Karena gereja telah jatuh menjadi
ribuan denominasi, maka Tuhan memanggil para pemenangNya (Wahyu 2-3).
Dalam pengajaran Calvin, yang diringkas TULIP, kita diajar
mengenai Unconditional Election, bahwa sebagian orang, oleh kedaulatan
(kehendak) Tuhan dan bukan oleh kondisi orang tersebut, dipilih untuk
diselamatkan dan akan bersama dengan Tuhan Yesus di sorga selama-lamanya. Dan
mereka yang tidak terpilih, akan menuju neraka kekal selama-lamanya. Mari kita
lihat apa yang Alkitab katakan. Pertama,
Alkitab berkata bahwa mereka yang akan bersama-sama Tuhan Yesus berperang dan
menang, adalah mereka yang DIPANGGIL, DIPILIH dan SETIA. Dalam dunia
kekristenan yang telah jatuh ini, ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit
yang dipilih. Kedua, Alkitab berkata
bahwa peperangan ini berlangsung terus sampai setiap lutut bertelut dan lidah
mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan Yesus juga memastikan bahwa Ia akan
MENARIK SEMUA ORANG DATANG KEPADANYA (Yohanes 12:32). Dan bahwa musuh yang
terakhir yang ditaklukkan oleh Yesus dan para pemenangNya adalah MAUT, sebagai
upah dosa. Karena upah dosa itu maut, dan bukan neraka kekal, seperti yang
diajarkan oleh Agustinus, Calvin, bahkan mayoritas pengajar Alkitab saat
ini.
Kita akan tegaskan saat ini bahwa mereka yang dipanggil,
dipilih dan yang setia adalah mereka yang melalui pengaturan Tuhan DIMAMPUKAN
untuk menjalani kehidupan sebagai orang yang dipanggil, dipilih dan setia. Hal ini semata-mata adalah
KEPUTUSAN pengaturan Tuhan untuk memberi kasih karunia kepada mereka yang
dipanggil, dipilih dan setia. Bukan oleh usaha manusia, bukan oleh respon
manusia, juga bukan oleh KEHENDAK BEBAS manusia.
Saya akan menutup uraian ini dengan mengingatkan kita bahwa,
“Sebab didalam Dia kita hidup, dan
bergerak, dan ada, seperti juga beberapa pujangga diantaramu mengatakan: Karena
kitapun keturunanNya” (Kis. 17:28, versi ILT). Perkataan ini Paulus ucapkan
ketika ia sedang menginjili orang2 Atena. Jadi, baik orang2 Atena akan percaya
atau tidak, Paulus tegaskan bahwa KITA SEMUA hidup, bergerak, dan ada DIDALAM
DIA. Elohim tidak tinggal di alam semesta, tetapi alam semesta, dan semua
manusialah yang tinggal, bergerak dan ada DIDALAM DIA. Artinya, bukan KEHENDAK
BEBAS MANUSIA yang menentukan, tetapi pengaturan Tuhanlah yang menentukan
segalanya. Ini bukan berarti manusia tidak mempunyai kehendak sebagai PRIBADI,
tetapi manusia tidak MEMILIKI KEHENDAK BEBAS untuk menentukan arah dan jalan
hidupnya. SEMUA PENGATURAN TUHAN. SEMUA SUDAH DIATUR TUHAN. Terpujilah
nama Tuhan. Amin.
Comments
Post a Comment