Kerajaan Sorga di Bumi.

 

Kerajaan Sorga di Bumi (gabungan)

Oleh: Irnawan Silitonga

Tema kita saat ini adalah kerajaan sorga di bumi. Mengapa tema ini penting? Sebab ada pemahaman yang sudah umum didalam dunia kekristenan, dan dipercaya sebagai kebenaran. Pertama, kita akan masuk kedalam kerajaan sorga setelah kita mati jasmani. Kedua, kita akan mengalami keterangkatan (rapture) dan dievakuasi kesorga nun jauh disana disuatu lokasi geografis tertentu, yang konon jalannya dari emas. Ketiga, kerjaan kita disorga adalah memuji Tuhan terus menerus sampai selama-lamanya. Keempat, tujuan kehidupan kita di bumi ini adalah masuk sorga. Kelima, orang yang tidak terpilih akan menjadi penghuni neraka selama-lamanya, dimana neraka ini sebenarnya diciptakan Tuhan untuk iblis dan roh2 jahat. Semua pemahaman ini sudah umum diterima didalam dunia kekristenan, dan saat ini kita akan menguji semua pemahaman ini berdasarkan apa yang Alkitab katakan tentang semuanya.

Alkitab berkata ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Sesuatu yang sudah diterima secara luas dalam dunia kekristenan bukanlah bukti bahwa sesuatu itu benar. Bahkan, sesuatu yang telah diajarkan oleh tokoh2 dalam dunia kekristenan selama berabad-abad, dan diterima secara umum serta diajarkan di-sekolah2 teologi pada umumnya, juga belumlah membuktikan kebenaran sesuatu itu. Hanya sesuatu yang dikatakan Alkitab, itulah yang benar. Memang setiap pengajar Alkitab berkata bahwa ajarannya Alkitabiah. Tetapi, menurut saya, seseorang yang ingin memahami apa yang Alkitab katakan, bukan saja perlu mempelajari prinsip2 penafsiran yang sehat, tetapi juga perlu memiliki hati yang cinta kebenaran, cinta Tuhan dan menyukai firman Tuhan. Janganlah ia seorang yang mencintai kekayaan, jabatan, serta mencari hormat dari manusia. Namun, pada akhirnya, semua tergantung kasih karunia Tuhan. Apakah Tuhan rela membukakan firmanNya kepada kita atau tidak? Semoga Tuhan berkenan membukakan firmanNya kepada kita sehingga kita paham apa yang dimaksud dengan tema kita, kerajaan sorga di bumi. 

Mari kita mulai dengan kitab Kejadian 1:26 yang berkata, “…Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa… atas seluruh bumi…”. Tujuan Tuhan menjadikan manusia serupa dan segambar dengan Dia adalah supaya manusia berkuasa atas seluruh bumi. Istilah ‘berkuasa’ dalam ayat ini berasal dari istilah Ibrani ‘radah’, yang berarti memerintah (to have dominion, rule). Hal ini berbicara mengenai pemerintahan manusia diatas bumi. Bahkan ayat 28 berkata bukan saja supaya manusia berkuasa (memerintah), tetapi juga ‘menaklukkan’ (istilah Ibrani disini adalah ‘kabash’, artinya ‘menginjak’). Dari Kejadian 1:26-28 ini, kita mendapati bahwa tujuan Tuhan menjadikan manusia serupa dan segambar denganNya adalah agar manusia berkuasa, dan menaklukkan bumi ini. Ada musuh yang harus ditaklukkan dan diinjak. Untuk menegakkan otoritas dan pemerintahan manusia diatas bumi, manusia perlu berjuang melawan musuh dan menaklukkannya.

Kita melihat dari bagian firman Tuhan ini bahwa fokus rencana Tuhan bagi manusia adalah bumi. Bagaimana manusia dapat menguasai, menaklukkan dan menginjak musuh2nya dibumi ini. Bagaimana manusia dapat menegakkan pemerintahannya dibumi ini. Bumi…bumi…bumi…inilah tujuan dan fokus rencana Tuhan bagi manusia. Tuhan menciptakan manusia bukan supaya dievakuasi kesorga dan menyanyi terus menerus disana. Tuhan tidak akan mengangkat (rapture) manusia dari bumi untuk dimasukkan kedalam sorga. Sebab, tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah supaya manusia berkuasa dan menaklukkan segala sesuatu yang “merayap” dibumi.

Dari bagian firman Tuhan ini saja, kita sudah melihat betapa kelirunya pemahaman2 yang ada dalam dunia kekristenan, yang sudah kita sebutkan diatas.

Telah kita ketahui bahwa tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah supaya manusia berkuasa dan menaklukkan segala sesuatu yang “merayap” dibumi. Namun, sebelum manusia dapat menjalankan tugas menaklukkan segala sesuatu yang “merayap” di bumi, serta memerintah bumi, maka manusia perlu mengalami proses agar menjadi serupa dan segambar dengan Dia. Sebab kita tahu bahwa ketika Adam dan hawa ditempatkan Tuhan di Taman Eden, mereka belumlah serupa dan segambar dengan Dia. Adam dan Hawa masih innocent (murni), belum kudus, juga belum berdosa. Adam dan Hawa juga belum mengetahui yang baik maupun yang jahat. Kemudian, Tuhan menaruh dua pohon di Taman Eden agar melalui kedua pohon itu manusia diproses menjadi serupa dan segambar dengan Dia.

Saat ini, kita tidak membahas bagaimana Tuhan memproses manusia melalui dua pohon di Taman Eden, tetapi kita justru akan merenungkan apakah makna Taman yang dibuat Tuhan di Eden ini (Kejadian 2:8). Mari kita coba renungkan dan bandingkan antara Taman Eden dan Kota Yerusalem Baru. Pertama, sungai mengalir keluar dari Taman Eden (Kej. 2:10), sementara itu, di kota Yerusalem Baru, sungai mengalir dari takhta Elohim (Wahyu 22:1). Kedua, di Taman Eden ada ular dan dua jenis pohon, sementara itu di kota Yerusalem Baru, tidak ada ular dan hanya ada satu jenis pohon yaitu pohon Kehidupan (Wahyu 22:2). Ketiga, Tuhan berjalan sekali-sekali pada waktu hari sejuk di Taman (Kejadian 3:8), sementara itu di kota Yerusalem Baru, Tuhan berdiam (berkemah) didalam kota (Wahyu 21:3).

Apakah kota Yerusalem Baru ini? Banyak orang menyangka bahwa kota Yerusalem Baru itu suatu kota (kota berbentuk fisik) yang terletak di suatu lokasi geografis tertentu. Tetapi, mari kita melihat apa kata Alkitab tentang kota Yerusalem Baru ini. Seorang malaikat berkata kepada rasul Yohanes katanya, “Marilah kesini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba” (Wahyu 21:9). Kemudian, malaikat itu menunjukkan kepada rasul Yohanes sebuah kota yang kudus, yaitu Yerusalem, turun dari sorga (Wahyu 21:10). Dari kedua ayat ini, jelaslah bahwa KOTA YERUSALEM BARU ITU ADALAH MEMPELAI ANAK DOMBA. Kota Yerusalem Baru itu bukanlah kota berbentuk fisik, seperti kota pada umumnya. Tetapi kota Yerusalem Baru ini adalah simbol. Simbol untuk mempelai Anak Domba. Hal ini tidaklah mengherankan, karena kitab Wahyu adalah pewahyuan Yesus Kristus dan gerejaNya yang dinyatakan kepada rasul Yohanes DENGAN BAHASA SIMBOL (Wahyu 1:1, istilah Yunani SEMAINO yang ada diayat ini berasal dari akar kata SEMA, yang artinya SIMBOL). Jadi, Yerusalem Baru itu adalah gereja pemenang, yang secara khusus menunjuk kepada Israel pemenang. 

Jika kota Yerusalem Baru adalah gereja (orang), maka Taman Eden juga merupakan simbol dari gereja (orang). Hanya, Taman Eden adalah manusia yang sedang mengalami pengujian atau proses, sedangkan kota Yerusalem Baru adalah manusia yang sudah diproses, dan sudah menjalankan pemerintahan Ilahi (takhta) di bumi. Perjalanan manusia dari Taman Eden menuju kota Yerusalem Baru merupakan perjalanan panjang proses Ilahi. 

Jadi, dari cerita Taman Eden sampai Yerusalem Baru, kita melihat bagaimana manusia diproses Tuhan agar dapat menjalankan pemerintahan Ilahi di bumi ini. Tujuan Tuhan tetap bumi. Perhatikanlah bahwa kota Yerusalem Baru itu turun dari sorga ke bumi (Wahyu 21:10). Jika manusia telah diproses dan menjadi serupa serta segambar dengan Dia, maka ditegakkanlah kerajaan sorga di bumi. Datanglah kerajaan sorga di bumi, haleluyah.

Telah kita ketahui bahwa maksud Tuhan menciptakan manusia adalah supaya manusia berkuasa, memerintah dan menaklukkan bumi ini. Tetapi kita tahu juga bahwa manusia perlu mengalami proses agar menjadi segambar dan serupa dengan Dia, dan dapat dapat memerintah bumi bagi kemuliaanNya. Istilah Ibrani untuk SEGAMBAR adalah TSELEM (an image). TSELEM ini sebenarnya berbicara soal ‘representative figure’. Artinya, manusia sebagai representatif-nya Tuhan. Manusia sebagai wakilnya Tuhan, di bumi ini.  Sementara itu, istilah Ibrani untuk SERUPA adalah DEMUTH (likeness). Artinya, manusia serupa dengan Dia dalam hal dapat bermultiplikasi, ber-keturunan, dan beranakcucu. Jadi, jika manusia beranakcucu dan dapat menjadi wakil Tuhan, maka manusia dapat memerintah dan menaklukkan bumi bagi kemuliaanNya. Manusia yang segambar dan serupa dengan Dia dapat menghadirkan kerajaan sorga di bumi ini. Demikianlah rencana Tuhan menempatkan manusia di bumi ini.

Telah kita bahas bahwa kota ‘Yerusalem Baru’ adalah gereja (orang), dan ‘Taman Eden’ juga merupakan simbol dari gereja (orang). Hanya, ‘Taman Eden’ adalah manusia yang sedang mengalami pengujian atau proses, sedangkan kota ‘Yerusalem Baru’ adalah manusia yang sudah diproses, dan sudah menjalankan pemerintahan Ilahi di bumi. Perjalanan manusia dari Taman Eden menuju kota Yerusalem Baru merupakan perjalanan panjang proses Ilahi. Tuhan menggunakan dua pohon di Taman Eden untuk memproses manusia. Saat ini, kita tidak membahas bagaimana Tuhan memproses manusia dengan kedua pohon ini, tetapi kita akan melihat kota ‘Yerusalem Baru’, yang menggambarkan manusia yang telah diproses. Manusia yang telah jadi, dan telah segambar dan serupa Tuhan.

Ada beberapa hal dari manusia “Yerusalem Baru” ini yang akan kita perhatikan disini. Pertama, Adanya takhta Elohim dan takhta Anak Domba di kota ini (Wahyu 22:1). Takhta, didalam kitab Wahyu ini, berbicara mengenai otoritas. Takhta Elohim tentu berbicara otoritas Elohim, sementara takhta Anak Domba berbicara otoritas Tuhan Yesus, sebagai Anak Domba Elohim yang telah menebus manusia. Manusia “Yerusalem Baru” adalah manusia yang menghadirkan otoritas Elohim dan otoritas Tuhan Yesus. Melalui proses yang panjang, manusia “Yerusalem baru” dapat menghadirkan otoritas Tuhan di bumi ini. Manusia “Yerusalem Baru” tidak menegakkan otoritasnya sendiri di bumi ini. Kita akan berbicara mengenai otoritas manusiawi yang ditegakkan oleh Kain, yang membangun kota, maupun oleh Nimrod, yang membangun kerajaannya sendiri, atau para pemimpin denominasi yang membangun kerajaannya sendiri. Kita akan membahasnya kemudian, tetapi saat ini, yang harus kita perhatikan adalah, manusia “Yerusalem Baru” adalah manusia yang membawa kerajaan sorga ke bumi.

Kedua, ada sungai air kehidupan yang mengalir dari takhta. Manusia “Yerusalem Baru” akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa di bumi karena mengalirkan air kehidupan dengan cuma-cuma (Wahyu 22:17). Dan, diseberang-menyeberang sungai itu ada pohon kehidupan, dimana daunnya menyembuhkan bangsa-bangsa di bumi. Ketiga, manusia “Yerusalem Baru” akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya (Wahyu 22:5). Demikianlah genap rencana Bapa bagi manusia. Manusia “Yerusalem Baru” dapat menaklukkan, menguasai dan memerintah bumi sebagai raja untuk kemuliaanNya. 

Semoga melalui uraian singkat mengenai manusia “Yerusalem Baru” ini, kita mulai dapat melihat makna kerajaan sorga di bumi.

Telah kita lihat mengenai manusia “Yerusalem Baru”, yaitu, adanya takhta Elohim dan Anak Domba didalamnya, artinya menghadirkan pemerintahan Elohim ke bumi. Selanjutnya, ada sungai air kehidupan mengalir dan masih ditawarkan dengan cuma-cuma kepada segala bangsa. Kemudian, manusia “Yerusalem Baru” ini akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya. Saat ini kita akan melihat bagaimana manusia “Yerusalem baru” ini melayani di bumi.

Perlu kita ingat bahwa kota Yerusalem baru ini ada dalam dispensasi atau zaman Langit dan Bumi yang baru (Wahyu 21-22). Dua pasal terakhir didalam Alkitab inilah yang mewahyukan kepada kita zaman dimana manusia “Yerusalem Baru” itu melayani bumi. Bagaimana manusia “Yerusalem baru” ini melayani bumi (segala bangsa) adalah sebagai berikut. Pertama, manusia “Yerusalem Baru” ini menawarkan air kehidupan dengan cuma-cuma kepada setiap orang yang haus (Wahyu 22:17). Banyak pengajar Alkitab menyatakan bahwa kasih karunia, yang saat ini sedang kita jalani, akan berakhir ketika Tuhan Yesus datang (biasa disebut, kedatangan kedua kali), dan kasih karunia akan berhenti. Maksudnya, di zaman berikut, tidak ada kasih karunia lagi. Tetapi hal ini berlawanan dengan yang dinyatakan kepada rasul Yohanes, dimana manusia “Yerusalem Baru” justru menawarkan dengan cuma-cuma air kehidupan kepada setiap orang yang haus. Kasih karunia tetap diberikan kepada setiap orang yang haus, dengan cuma-cuma…

Kedua, buah dari pohon kehidupan masih dapat dinikmati bangsa-bangsa, bahkan daunnya menyembuhkan bangsa-bangsa juga (Wahyu 22:2).

Ketiga, oleh pemerintahan manusia “Yerusalem Baru” sebagai raja, maka bumi dan langit bergerak menuju bumi yang baru dan langit yang baru juga. Kondisi Langit dan Bumi yang baru ini diuraikan dalam Wahyu 21:1-5, sebagai berikut. Pertama, tabernakel Elohim ada bersama manusia, dan Dia akan berdiam bersama manusia (ayat 3). Manusia akan menjadi umatNya, dan Elohim menjadi Elohim mereka. Kedua, Elohim akan menghapus setiap air mata dari manusia (ayat 4). Ketiga, oleh ministri manusia “Yerusalem Baru” maka maut tidak ada lagi (ayat 4). Upah dosa adalah maut, dan jika maut tidak ada lagi, maka semua bekas2 atau segala akibat dosa tidak ada lagi. Air kehidupan yang mengalir melalui ministri manusia “Yerusalem baru” telah menelan maut, seperti dikatakan dalam I Korintus 15:54, “…maut telah ditelan dalam kemenangan …”.

Tuhanlah yang membuat segala sesuatu menjadi baru, tetapi Dia melakukannya melalui ministri manusia “Yerusalem Baru”. Istilah Yunani yang diterjemahkan BARU disini adalah KAINOS, bukan NEOS. NEOS berarti baru dalam arti usia. Maksudnya, baru dalam arti segar, masih muda, masih fresh. KAINOS berarti BARU dalam arti yang sangat kontras dengan yang lama. KAINOS juga berarti belum pernah digunakan, tetapi bukan dalam arti menghapus yang lama serta menggantikan dengan yang baru. Sebab bumi tetaplah bumi, hanya melalui ministri manusia ”Yerusalem Baru”, maka bumi mengalami perubahan yang radikal, sehingga disebut baru.

Kita lihat disini bahwa rencana Tuhan yang terungkap dalam Kitab Kejadian 1:26-28, telah digenapi melalui pelayanan manusia “Yerusalem Baru”. Manusia telah dapat menguasai, dan memerintah bumi untuk kemuliaanNya. Sorga turun ke bumi. “Yerusalem Baru” turun ke bumi.

Sejauh ini telah kita lihat bahwa fokus rencana Bapa adalah bumi. Bapa di Sorga menghendaki agar manusia sebagai wakilNya memerintah dan menaklukkan bumi ini demi kemuliaanNya. Dan kita ketahui juga bahwa rencanaNya tidak mungkin gagal. Bapa telah berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia (semua manusia) serupa dan segambar dengan Kita supaya mereka berkuasa dan menaklukkan segala sesuatu yang merayap di bumi”. Melalui perjalanan panjang dari Taman Eden sampai Langit dan Bumi Baru, maka rencanaNya genap, ketika manusia “Yerusalem baru” melayani sedemikian sehingga tidak ada lagi maut, yang merupakan upah dosa. Segala sesuatu menjadi baru. Segala sesuatu yang rusak oleh dosa telah dipulihkan total. RencanaNya sudah genap. Umat manusia pasti memerintah bumi ini dibawah kepemimpinan kepala manusia kedua, yaitu Yesus Kristus. Takhta Elohim dan Takhta Anak Domba ditegakkan dibumi ini melalui manusia. Saat ini kita akan berbicara mengenai beberapa manusia yang memerintah bumi ini tetapi tidak menegakkan takhta Anak Domba maupun Takhta Elohim. Kita akan berbicara mengenai Kain, Nimrod, barangkali Absalom, dan yang lainnya, bahkan sampai para pemimpin gereja yang menegakkan otoritasnya sendiri atas umat Tuhan. Mereka ini semuanya bukan membangun kerajaan sorga di bumi, tetapi membangun kerajaannya sendiri, demi kemuliaan dan namanya sendiri.

Mari kita mulai dengan Kain. Kita harus ingat bahwa Kain ini adalah seorang yang beribadah kepada Tuhan. Kain, seperti Habel adiknya, juga mempersembahkan korban berupa hasil tani, karena memang Kain adalah petani. Namun, korban persembahan Kain ditolak Tuhan karena Kain tidak beriman, seperti Habel yang memiliki iman (Ibrani 11:4). Perbuatan Kain juga jahat dan ia membunuh adiknya, Habel. Yang menarik mengenai kisah Kain ini adalah ketika rasul Yohanes mengambil kasus Kain yang   membenci dan membunuh saudaranya Habel, dan mengenakannya kepada kasus gereja yang sudah jatuh (dunia keagamaan dizaman Yohanes), bahwa jangan heran jika “Kain2” (orang2 dalam dunia kekristenan, yg telah menyimpang), juga membenci saudaranya, “Habel2” yang beriman.

Setelah Tuhan mendisiplin Kain karena ia membunuh Habel, dan Kain pergi dari hadapan Tuhan, maka Kain ini membangun kota (Kej. 4:17). Kota yang dimaksud Alkitab disini adalah suatu pemerintahan manusia. Kain adalah orang pertama yang menegakkan suatu pemerintahan manusia di bumi ini, atau membangun kerajaannya sendiri di bumi. Kain tidak menegakkan kerajaan sorga di bumi, tetapi Kain menegakkan otoritasnya sendiri dengan membangun suatu kota dan manamainya sesuai dengan nama anaknya, Henokh. Memang kerajaan Kain ini membangun peradaban manusia. Dari keturunannyalah timbul sistem peternakan, dunia hiburan (seni musik), dan perindustrian (tukang tembaga dan besi) – Kejadian 4:20-22.

Kalau kita membandingkan keturunan Kain dan keturunan Set, yang tercatat dalam Kejadian pasal 4 dan 5, maka ada hal menarik yang dapat kita jadikan pelajaran berharga. Pertama, tidak ada satupun keturunan Set yang membangun kerajaannya sendiri, seperti Kain. Bahkan keturunan Set tidak ada tercatat karya2nya yang membangun peradaban manusia seperti keturunan Kain. Kedua, sekalipun keturunan Set tidak tercatat perbuatan2nya, namun umur dari keturunan Set semuanya dicatat dengan lengkap. Sementara itu tidak ada satupun keturunan Kain yang dicatat umurnya. Umur dalam konteks sebelum PB memiliki makna rohani. Abraham tidak dicatat umurnya ketika ia keluar dari Ur Kasdim sampai ke Haran, karena Abraham tidak taat sepenuhnya terhadap perintah Tuhan untuk keluar dari Ur Kasdim meninggalkan sanak saudaranya. Dicatat bahwa Abraham berumur 75 tahun ketika datang firman Tuhan kepadanya, dan ia pergi meninggalkan Haran (Kejadian 12:4). Padahal Stefanus menyatakan bahwa firman Tuhan telah datang kepada Abraham ketika ia masih di Mesopotamia, Ur Kasdim (Kis. 7:2-3). Jadi, umur Abraham, ketika datang firman Tuhan di Ur Kasdim sampai ia tiba di Haran, tidak dicatat dalam Alkitab.

Jadi, keturunan Kain tidak dicatat umurnya dalam Alkitab karena tidak memiliki nilai rohani dihadapan Tuhan, sekalipun karya2nya membangun peradaban manusia. Tetapi sebaliknya, keturunan Set berharga dimata Tuhan, karena bersekutu dengan Tuhan, seperti Henokh, sekalipun tidak terlihat karya2 nyata dalam membangun peradaban manusia.

Jadi, yang berharga dihadapan Tuhan adalah membangun persekutuan denganNya, menegakkan otoritasNya di bumi, walaupun barangkali tidak terlihat karya2 nyata dalam membangun peradaban manusia.  

Saat ini kita akan berbicara mengenai beberapa manusia yang memerintah bumi ini tetapi tidak menegakkan takhta Anak Domba maupun Takhta Elohim. Kita sudah berbicara mengenai Kain yang membangun kota, sementara ia pergi menjauh dari Tuhan. Kain tidak menegakkan pemerintahan Tuhan di bumi. Sekalipun melalui Kain dan keturunannya, peradaban manusia dibangun, tetapi Kain dan keturunannya melakukan semua itu untuk kemuliaan mereka sendiri. Dan kita tahu bahwa Kain serta keturunannya tidak dicatat umurnya, seperti keturunan Set, karena tidak berharga dihadapan Tuhan.

Saat ini kita akan berbicara mengenai Nimrod, seorang yang Alkitab katakan “gagah perkasa dihadapan Tuhan” (Kej. 10:9). Banyak orang mengira bahwa Nimrod ini seorang yang melayani dan hidup DIHADAPAN Tuhan (Kej. 10:9). Tetapi kita telah tahu bahwa Strong’s Concordance mengungkapkan fakta mengenai istilah Ibrani, PANIM, yang diterjemahkan DIHADAPAN (ayat 9) mempunyai arti yang sangat bervariasi. Dalam Kej.10:9 seperti misalnya Bil. 16:2, istilah Ibrani ini, yang diterjemahkan DIHADAPAN juga memiliki arti literal MEMBERONTAK. Dan didalam Jewish Encyclopedia, nama Nimrod berarti ia yang membuat semua orang memberontak melawan Tuhan. Terjemahan Alkitab ILT (Indonesian Literal Translation) membuat catatan kaki untuk terjemahan DIHADAPAN, yaitu TEGAR MENENTANG. Dapat disimpulkan bahwa Nimrod ini adalah seorang yang memberontak dan tegar menentang Tuhan, dan Nimrod mendirikan kerajaan sendiri dimana salah satunya adalah Babel.

Nimrod adalah pemimpin pertama yang berkuasa dibumi ini. Dan ia memberontak kepada Tuhan dengan mendirikan kerajaannya sendiri. Salah satu tujuan dari Nimrod adalah mencari nama, agar tidak terserak keseluruh bumi (Kej. 11:4). Jelas, tujuan Nimrod bertolak-belakang dengan maksud Tuhan menempatkan manusia di bumi. Sebab Tuhan berkehendak agar manusia bermultiplikasi dan memenuhi bumi serta menaklukkannya, kemudian meninggikan nama Tuhan dengan menjadi manusia yang serupa dan segambar dengan Dia. Nimrod jelas mendirikan kerajaannya sendiri, dan untuk kemuliaannya sendiri.

Dalam kasus Nimrod, penghakiman Tuhan langsung terjadi, dimana Tuhan mengacaukan bahasa manusia, sehingga mereka tidak dapat saling mengerti satu dengan yang lainnya. Kemudian pecahlah kerajaan Nimrod ini. Bukan saja kerajaan Nimrod yang pecah, tetapi umat manusia juga terpecah menjadi bangsa-bangsa dengan bahasanya masing2. Alkitab menyatakan bahwa “bumi terbagi” pada zaman Peleg (Kej. 10:25). Sebenarnya, ungkapan “bumi terbagi”, lebih dari sekedar timbulnya bangsa-bangsa dengan masing2 bahasanya, tetapi bangsa-bangsa itu menjadi kerajaan2 yang masing-masing memiliki rajanya sendiri, dan bahkan dewa/ilah-nya sendiri juga. Nanti akan kita bahas, dan lihat mengapa Abraham dipanggil keluar dari bangsanya, kaumnya, bahkan dewanya dari kerajaan pecahan kerajaan Nimrod, di Ur Kasdim, untuk menegakkan kerajaan sorga dibumi melalui keturunannya, Israel. 

Sebenarnya, yang menarik dari cerita tentang Nimrod membangun kerajaan sendiri ini adalah ketika Babel, salah satu kerajaan yang dibangun Nimrod, dipakai sebagai simbol untuk gereja di kitab Wahyu 17-18. Babel dalam kitab Kejadian adalah suatu kota sejarah yang dibangun Nimrod, tetapi Babel dalam kitab Wahyu memiliki makna simbolik, karena kitab Wahyu adalah pewahyuan Yesus Kristus dan gerejaNya melalui bahasa simbol.

Saat ini kita akan membahas panggilan Tuhan atas Abraham, dan memahami apa maksud Tuhan dalam panggilannya ini. Mari kita baca Kejadian 12:1-3 sebagai berikut, “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat,….. olehmu semua kaum dimuka bumi akan mendapat berkat”.    

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dari panggilan Abraham ini. Pertama, Tuhan mau memulai sesuatu yang baru melalui Abraham, dan keturunannya. Abraham diharuskan meninggalkan sanak saudaranya dan rumah bapanya, juga negeri tempat ia berada. Kita tahu bahwa bumi telah terbagi dalam zaman Peleg, dalam arti bangsa2 telah memiliki bahasanya sendiri, wilayahnya sendiri, dan bahkan ilahnya sendiri. Tuhan memanggil Abraham keluar dari wilayahnya di Ur Kasdim, dari bangsa dan kaumnya dan dari rumah bapanya, dimana secara otomatis Abraham juga meninggalkan ilah2 yang disembah di negeri asalnya Ur Kasdim.

Kedua, kepada Abraham, Tuhan berjanji menjadikannya suatu bangsa yang besar, dan juga memberikan tanah perjanjian, yang kita tahu adalah tanah Palestina. Bangsa besar yang dimaksud keturunan Abraham tentulah Israel. Kita akan memahami Israel dengan lebih baik jika kita perhatikan janji Yahweh kepada Israel melalui perantaraan Musa. Dalam Keluaran 19:5-6, yang berbunyi demikian, “… kamu akan menjadi harta kesayanganKu sendiri dari antara segala bangsa… Kamu akan menjadi bagiKu kerajaan imam dan bangsa yang kudus…”. Israel adalah bangsa yang besar, dalam arti Israel merupakan harta kesayangan Tuhan diantara segala bangsa, Israel merupakan raja2 dan imam2 bagi segala bangsa, dan Israel adalah bangsa yang kudus, dalam arti dipisahkan semata-mata untuk tujuan dan maksud2 Yahweh.

Ketiga, melalui Abraham dan keturunannya, semua kaum dimuka bumi akan mendapat berkat. Bagaimana berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain? Paulus pernah menjelaskan hal ini dalam Galatia 3. Ditegaskan bahwa keturunan (bentuk tunggal) Abraham yang dimaksud adalah Yesus Kristus (ayat 16). Dan melalui kematian Yesus dikayu salib, berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, yaitu berkat Roh Kudus, yang kita terima melalui iman.

Kalau kita merenungkan tujuan kedatangan Yesus, sebagai keturunan Abraham yang dimaksud, maka jelas bahwa Yesus datang untuk menegakkan kerajaanNya di bumi. Ketika Pilatus bertanya kepadaNya, apakah engkau raja? Yesus tegas menyatakan, “…untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang kedalam dunia ini…” (Yohanes 18:37). Tetapi, Yesus juga menyatakan bahwa kerajaanNya bukan dari dunia ini, melainkan kerajaanNya berasal dari dimensi sorgawi. KerajaanNya adalah kerajaan sorga yang akan ditegakkanNya dimuka bumi ini.

Dari uraian diatas diharapkan kita memahami bahwa panggilan Abraham sebenarnya adalah panggilan untuk mendirikan kerajaan Tuhan dibumi ini. Kepada Abraham diberikan bangsa Israel dan tanah Palestina. Sebenarnya, kerajaan Israel di Palestina hanyalah merupakan simbol saja. Realitanya adalah kerajaan sorga yang ada didalam gereja. The kingdom of God is within you. Tugas gerejalah untuk menghadirkan kerajaan sorga di bumi.

Telah kita bahas bahwa panggilan Abraham untuk keluar dari kaum keluarganya didaerah Ur Kasdim di Mesopotamia, dari pecahan kerajaan Nimrod, adalah untuk menegakkan kerajaan Tuhan di bumi. Melalui keturunannya, Yesus Kristus, kita memahami dengan jelas maksud Bapa memanggil Abraham. Setelah Yesus mati, bangkit dan duduk disebelah kanan yang Maha Tinggi, maka lahirlah gereja pada hari raya Pantekosta, dimana melalui gereja, sebagai Tubuh Kristus, maka kerajaan sorga termanifestasi di bumi ini. Saat ini, gereja telah hadir selama 2000 tahun dimuka bumi. Kerajaan sorga sudah termanifestasi dimuka bumi ini, walaupun tentu belum termanifestasi sepenuhnya. Saat ini, kita akan melihat apa program Bapa selanjutnya dalam rangka menegakkan kerajaanNya dimuka bumi ini.

Alkitab dengan jelas memberitahu kita bahwa program Bapa selanjutnya adalah menuai jiwa2 yang telah matang. Mari kita perhatikan Wahyu 14:14-15, “Dan aku melihat: sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan diatas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas diatas kepalaNya dan sebilah sabit tajam ditanganNya….. Ayunkanlah sabitMu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian dibumi sudah masak”. Tuaian jiwa2 diakhir zaman bukanlah menuai jiwa2 yang belum bertobat, seperti pengertian beberapa pemimpin dalam dunia kekristenan. Tuaian jiwa diakhir zaman adalah menuai jiwa2 yang sudah matang. Yesus sebagai penabur firman tentang kerajaan sorga, menabur firmanNya kedalam jiwa2 manusia (Matius 13:19-23). Dan setelah tiba waktuNya, maka Yesus akan menuai jiwa2 yang sudah matang dan siap dituai, sesuai dengan Wahyu 14 diatas.

Peristiwa dimana Yesus menuai jiwa2 diakhir zaman ini, bersesuaian dengan apa yang diuraikan dalam Roma 8:19-21, dimana putera-putera Elohim yang sudah matang akan ditampilkan dimuka bumi ini untuk membebaskan ciptaan dari perbudakan alam maut. Peristiwa ini juga bersesuaian dengan pencurahan Roh kepada jiwa2 yang sudah matang, sebagai penggenapan hari raya Pondok Daun. Peristiwa tuaian jiwa2 diakhir zaman ini juga bersesuaian dengan apa yang sering dikatakan dalam dunia kekristenan sebagai kedatangan Yesus “kedua kali”.

Barangkali kita perlu membahas sedikit pemahaman keliru yang umumnya sudah dipercaya dalam dunia kekristenan sebagai kebenaran, yaitu, akan terjadi kebangunan rohani dan tuaian jiwa2, dalam arti pertobatan masal dari jiwa2 yang belum bertobat, atau pencurahan Roh besar2an diakhir zaman ini kepada setiap jiwa dalam dunia kekristenan. Berita ini memang menyenangkan telinga para pemimpin pada umumnya, karena bangku2 denominasi tentu akan menjadi penuh sesak. Tetapi bukan demikian yang dikatakan Paulus dalam II Timotius 3:1-9.

Perikop ini diberi judul oleh LAI sebagai ‘keadaan manusia pada akhir zaman’. Sebenarnya yang Paulus katakan, bukan terutama untuk manusia umumnya, tetapi untuk orang2 kristen umumnya. Mari kita perhatikan ayat 5, “secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya”. Ayat ini tentu untuk umat Tuhan umumnya. Kemudian, perhatikan ayat 7, “yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran”. Ayat ini juga cocok bagi umat Tuhan yang selalu ikut program2 pembinaan, seminar2, pendalaman2 Alkitab, namun tidak pernah memahami kebenaran. Selanjutnya, ayat 8 mengenai Yanes dan Yambres yang menentang Musa. Tentu kasus ini terjadi diantara umat Tuhan. Jadi, kesimpulannya, judul nubuat Paulus dalam II Timotius 3:1-9, lebih tepat adalah ‘keadaan umat Tuhan pada akhir zaman’, atau ‘keadaan dunia kekristenan pada akhir zaman’. Alkitab sudah menubuatkan bahwa dunia kekristenan akan semakin merosot menjelang tuaian akhir zaman. Yang cemar, akan semakin cemar, dan yang kudus, akan semakin kudus. Dan Tuhan Yesus hanya menuai jiwa2 yang sudah matang saja. Jadi, program Bapa selanjutnya dalam rangka menegakkan kerajaanNya dimuka bumi ini adalah menuai jiwa2 yang sudah matang.

Didalam dunia kekristenan ada pemahaman yang umumnya diterima sebagai kebenaran, yaitu, untuk masuk ke sorga, seseorang harus mati jasmani dulu. Dibalik pemahaman ini tentu ada beberapa konsep yang keliru, misalnya, menganggap sorga adalah suatu tempat dilokasi geografis tertentu, entah dimana. Selanjutnya, sorga, sebagai tempat yang menyenangkan, merupakan tujuan kehidupan kekristenan kita dibumi ini. Pada akhirnya, sorga menjadi fokus atau tujuan hidup orang kristen. Hampir dapat dipastikan bahwa orang2 yang pergi kebaktian di gedung2, bertujuan agar kelak masuk sorga. Bumi tidak menjadi fokus orang kristen, pada umumnya. Sementara, kita lihat bahwa rencana Bapa bagi manusia adalah agar manusia memerintah dan menaklukkan segala sesuatu yang “merayap” dibumi ini. Bumi, tetaplah menjadi fokus rencana Bapa bagi manusia.

Tema kita adalah kerajaan sorga di bumi. Agar tema kita semakin jelas, saat ini kita akan membahas bagaimana seseorang dapat masuk sorga. Mari kita mulai dengan Wahyu 5:3, yang menegaskan tiga dimensi (alam) yang Bapa ciptakan. Dalam Wahyu 5:3, dinyatakan bahwa Bapa menciptakan dimensi sorgawi, dimensi bumi (ruang dan waktu), dan dimensi bawah bumi. Bapa sendiri diam dalam dimensi kekekalan. Tidak ada seorangpun yang dapat melihat Bapa, karena Bapa diam dalam terang yang tak terhampiri. Tetapi Bapa menciptakan dimensi sorgawi dan meletakkan takhtaNya disorga. Wahyu 4-5 menguraikan dengan cukup jelas bagaimana kondisi dimensi sorgawi itu.

Pertanyaannya bagi kita saat ini adalah dimana dimensi sorgawi itu berada? Alkitab berkata bahwa dimensi sorgawi itu ada didalam kita. Kerajaan sorga itu ada didalam kita. Mari kita perhatikan Lukas 17:21 yang menegaskan, “…Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu”. Terjemahan bahasa Indonesia (LAI) ‘diantara’ ini, berasal dari kata Yunani ‘entos’. Kata Yunani ‘entos’ sebenarnya berarti ‘didalam’. Selain didalam Lukas 17:21, kata Yunani ‘entos’ ini hanya dipakai satu kali lagi yaitu didalam Matius 23:26. Didalam Matius 23:26, Tuhan Yesus menggunakan kata ‘entos’ ketika Ia berkata, “Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam (entos) cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih”. Kita tahu bahwa arti suatu kata ditentukan oleh bagaimana ia digunakan dalam suatu kalimat. Didalam Matius 23:26, ‘entos’ digunakan sedemikian sehingga tidak mungkin seseorang menterjemahkannya menjadi ‘diantara’, seperti yang terdapat dalam terjemahan bahasa Indonesia (LAI) pada Lukas 17:21. Sesuai penggunaannya didalam Matius 23:26, kita pasti menterjemahkan ‘entos’ menjadi ‘didalam’. Oleh karena itu, terjemahan yang tepat dari Lukas 17:21 adalah, “…Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada didalam  kamu”. Jadi, DIMENSI KERAJAAN SORGA ITU ADA DIDALAM KITA.

Hal ini bukan berarti sorga itu ada disekitar jantung atau ginjal jasmani kita, tetapi hal ini berarti kerajaan sorga memerintah kita dari dalam diri kita. Karena Tuhan menaruh takhtaNya didalam sorga, maka ini berarti takhta Tuhan mengatur, dan memerintah hidup kita dari dalam. Sementara Iblis bekerja dari luar kedalam, Tuhan bekerja dari dalam keluar.  

Kalau demikian, bagaimana kita dapat masuk kedalam sorga, atau bagaimana kerajaan sorga dapat memerintah hidup kita? Penglihatan Yehezkiel, dalam Yehezkiel 47, tentang air yang keluar dari Bait Suci sangat bagus untuk menjelaskan apa yang sedang kita bicarakan ini. Setelah 1000 hasta, malaikat menyuruh Yehezkiel masuk kedalam air, ternyata dalamnya hanya sampai di pergelangan kaki. Kemudian, malaikat itu mengukur 1000 hasta lagi, dan dalamnya air sampai di lutut. Kemudian diukur 1000 hasta lagi, dalamnya sampai ke pinggang. Kemudian diukur 1000 hasta lagi, maka air itu sudah menjadi sungai dan Yehezkiel tidak dapat berjalan lagi seperti sebelumnya. Yehezkiel tidak dapat berjalan menurut kemauannya sendiri. Hal ini menunjukkan perkembangan air kehidupan didalam kita. Yesus berkata Aku datang supaya mereka mempunyai hidup (zoe) didalam diri mereka. Ketika kita sudah berjalan cukup jauh bersama Tuhan, kita tidak dapat lagi menguasai air hidup itu, melainkan air hidup itu yang mengatur kehidupan kita. Bukan saja air hidup itu ada didalam kita, tetapi kita sudah ada didalam air hidup itu, dan sudah diatur sepenuhnya. Bukan saja kerajaan sorga ada didalam kita, tetapi kita sendiri sudah diatur sepenuhnya oleh kerajaan sorga. Takhta Elohim telah memerintah kehidupan kita. Inilah maknanya masuk sorga.

Jadi, tidak harus mati jasmani dulu baru masuk sorga. Kalau saat ini kita belum dikuasai oleh kerajaan sorga dan belum masuk kerajaan sorga, maka kematian jasmanipun tidak mempengaruhi kondisi kita.

Telah kita bahas bagaimana kehidupan kita diatur oleh kerajaan sorga yang ada didalam kita. Walaupun memang membutuhkan waktu untuk pertumbuhan ‘air hidup’ dalam diri kita, namun sebagai umat pilihanNya, Bapa terus membimbing dan membentuk kita agar ‘air hidup’ dalam diri kita menjadi seperti ‘sungai’ dimana kita tidak bisa lagi bertindak bebas menurut keinginan kita tetapi sudah sepenuhnya mengikuti ‘arus sungai kehidupan itu’. Inilah makna ‘masuk sorga’ yang sesungguhnya, yaitu ketika kehidupan kita diatur sepenuhnya oleh kerajaan sorga. Takhta Elohim telah berkuasa sepenuhnya dalam kehidupan kita.

Semua ini terjadi sementara kita menjalani kehidupan dibumi. Sebagai umat pilihanNya (karena didalam dunia kekristenan, ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih) kita tidak harus mati jasmani dahulu, baru kemudian kita ‘masuk sorga’. Saat inipun kita sudah berada didalam sorga. Kita sudah menjadi warga kerajaan sorga. Manusia batiniah kita telah duduk bersama Kristus Yesus dalam ‘dimensi sorgawi’ (Efesus 2:6). Sekalipun manusia lahiriah kita melakukan aktifitas dibumi ini, tetapi manusia batiniah kita ada didalam dimensi sorgawi bersama Kristus Yesus.

Kesadaran bahwa kita sudah ada didalam dimensi sorgawi (kerajaan sorga) ini terus bertumbuh sejalan dengan kehidupan kita yang terus dipimpin oleh takhta Elohim. Ibadah yang kita jalani hari lepas hari adalah ibadah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23). Kita menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Manusia batiniah kita bersaksi bersama Roh Kudus bahwa kita menyembah Dia dalam roh dan kebenaran. Kita tidak menyembah Dia dengan mengikuti aturan2 agamawi yang dibuat oleh para pemimpin agama dalam dunia kekristenan. Harus ini … harus itu. Mesti begini… mesti begitu. Ibadah kita adalah mengikuti Anak Domba kemana saja Ia pergi (Wahyu 14:4).

Umat pilihan Tuhan tidak berada didalam sistem pemerintahan manusia yang ada dalam dunia kekristenan. Jika seseorang berada dibawah otoritas pemimpin agamawi, maka ia tidak bebas lagi mengikuti Anak Domba kemana saja Ia pergi. Seseorang itu harus mengikuti aturan main dalam denominasi dimana ia berada. Ia harus mengerjakan apa2 yang sudah diatur, mengikuti jam kantor, mengikuti segala program2 yang sudah dibuat. Dalam belajar Alkitabpun, ia tidak bebas meminta pewahyuan dari Tuhan, sebab ia harus berbicara sesuai dengan teologi alirannya itu. Bahkan sesungguhnya ia tidak sedang belajar Alkitab, tetapi sedang belajar teologi alirannya sendiri, atau sedang memandang Alkitab dari “kaca mata” teologi alirannya.

Yesus berkata, “domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27). Umat pilihan Tuhan benar-benar dipimpin langsung oleh Tuhan Yesus. Umat pilihanNya dipimpin oleh takhta Anak Domba yang ada didalam batinnya. Bahkan rasul Yohanes menegaskan, “…Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapanNya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajarannya itu benar, tidak dusta …” (I Yohanes 2:27). Hal ini bukan berarti umat pilihan Tuhan tidak belajar dari orang lain. Rasul Yohanes sendiri menulis surat agar umat pilihanNya belajar dari dia. Tetapi, maksud rasul Yohanes adalah umat pilihan Tuhan tidak mempunyai pemimpin agamawi dengan segala aturan2nya yang mengikat itu. Umat pilihanNya langsung mendengar suara sang gembala agung, Yesus Kristus, dan mengikuti Dia.

Kesimpulannya, umat pilihan Tuhan diatur oleh ‘arus sungai hidup’ yang ada didalam batinnya. Umat pilihan Tuhan hanya mendengar suara Yesus Kristus didalam batinnya. Umat pilihan Tuhan sudah berada didalam kerajaan sorga, saat ini.

Doa Bapa kami yang sudah sangat dikenal dalam dunia kekristenan sesungguhnya mengandung kebenaran yang luar biasa, terkait dengan tema kita. Tentu kita tidak membahas seluruh isi doa itu. Tetapi kita akan menyoroti satu hal saja dalam doa itu, yaitu, ‘datanglah kerajaanMu’. Yang kita doakan adalah supaya kerajaan yang ada dalam dimensi sorgawi itu TURUN atau TERMANIFESTASI kedalam dimensi bumi (ruang dan waktu). Jika hal ini terwujud, maka kehendak Bapa terjadi di bumi seperti di sorga. Barangkali, doa Bapa kami ini diucapkan 2 atau 3 kali sehari oleh rata2 orang Kristen. Namun sayang, bangku2 denominasi dipenuhi oleh mereka yang ingin pergi dari bumi menuju sorga, yang entah berada dimana. Tentu para pemimpin agama Kristen juga memberikan syarat2 untuk menuju ke sorga disana. Perlu pertobatan dalam dunia kekristenan, sebagaimana bangsa Yahudi, agar dapat menerima kerajaan sorga yang ditawarkan Yesus. 

Mari kita melihat kitab Matius yang adalah khabar baik yang dikhususkan bagi bangsa Yahudi. Khabar baik itu adalah mengenai kedatangan kerajaan sorga. Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus memberitakan, “bertobatlah, sebab kerajaan sorga sudah dekat” (Matius 3:2; 4:17). Artinya, kerajaan sorga yang ada didalam dimensi sorgawi, akan segera hadir kedalam dimensi bumi (ruang dan waktu) ini. Tetapi, bangsa Yahudi, terutama para pemimpinnya, diminta untuk bertobat, dalam arti merubah pikiran (metanoeo = change mind, to think differently). Mengapa bangsa Yahudi harus merubah pikiran mereka agar dapat menerima kerajaan sorga? Karena bangsa Yahudi memiliki konsep bahwa Mesias adalah anak Daud, dan karenanya kerajaan Mesias haruslah kerajaan jasmani seperti kerajaan Daud. Mesias haruslah mengusir musuh2 jasmani Israel (bangsa Roma pada waktu itu). Mesias haruslah membangun Bait Suci jasmani, seperti Daud. Mesias haruslah membawa perdamaian bagi dunia, dalam arti Israel menjadi kepala, dan bangsa2 lain menjadi ekor, sesuai janji Yahweh. Sementara Yesus berkata bahwa kerajaanNya bukan dari dunia ini. Kerajaan Yesus sebagai Mesias adalah kerajaan dalam dimensi sorgawi, yaitu kerajaan sorga.

Karena bangsa Yahudi tidak merubah pikirannya, maka mereka menolak Yesus dan menyalibkanNya. Tetapi, semua ini adalah pengaturan Bapa, agar melalui kematian, kebangkitan dan kenaikanNya ke sorga, Yesus dapat menjadi Roh pemberi Hayat bagi gerejaNya. Program Bapa tetap berjalan dalam menegakkan kerajaanNya di bumi, sekalipun bangsa Yahudi menolak Yesus. Pada hari Pantekosta, ketika Roh Tuhan tercurah, sesungguhnya, kerajaan sorga datang ke bumi. Gereja mula2 (120 orang) adalah komunitas kerajaan. Gereja adalah alat ditangan Tuhan Yesus untuk menghadirkan dan memanifestasikan kerajaanNya dibumi. Walaupun gereja telah jatuh menjadi ribuan denominasi, program Bapa terus berjalan melalui para pemenangNya, yang mendapat kasih karunia untuk dipanggil, dipilih dan setia.

Kita sudah melihat bahwa program Bapa selanjutnya adalah menuai jiwa2 yang telah matang untuk ditampilkan dimuka bumi ini. Inilah kedatangan kerajaanNya dibumi. Kehendak dan rencana Bapa tidak mungkin gagal. Kerajaan sorga tetap harus ditegakkan dibumi ini. Tuhan Yesus sudah mengajarkan kepada kita supaya berdoa agar kerajaanNya datang kebumi ini. Karena itu, apapun yang terjadi dalam dunia kekristenan yang telah menyimpang ini, kerajaanNya pasti datang ke bumi.

Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan didalam dan melalui umat pilihanNya untuk menegakkan kerajaanNya dibumi ini. Telah kita pahami bersama bahwa Tuhan Yesus mengajarkan doa kepada murid2Nya agar kerajaan sorga datang ke bumi ini, agar kehendak Bapa jadi dibumi seperti disorga. Sesungguhnya, kedatangan Tuhan adalah kedatangan kerajaanNya. Tetapi sayang, didalam dunia kekristenan telah ada konsep mengenai “kedatangan Tuhan kedua kali”, seolah-olah Tuhan hanya datang dua kali, dan kedatanganNya yang kedua adalah untuk mengangkat orang2 kudusNya ke sorga (ajaran rapture). Karenanya, mari kita membahas dahulu dengan singkat mengenai kedatangan Tuhan, sebelum kita masuk kedalam pokok bahasan kita saat ini.

Mari kita mulai dengan enam istilah Yunani yang terkait dengan kedatangan Tuhan. Keenam istilah Yunani itu adalah, pertama, PAROUSIA. Istilah ini muncul 24 kali dalam PB dan ia berasal dari kata kerja PAREMI, yang berarti ‘to be present’ (hadir). Kata bendanya berarti kehadiran (presence). PAROUSIA tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya seseorang, tetapi menunjukkan kehadiran seseorang yang sudah datang. Penggunaan istilah PAROUSIA didalam PB juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan secara fisik. Jadi, istilah PAROUSIA berarti kehadiran. Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaNya, disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA.

Istilah Yunani kedua, APOKALUPSIS. Istilah ini berasal dari kata kerja APOKALUPTO yang berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya terselubung.

Istilah Yunani ketiga adalah EPIPHANEIA. Istilah ini muncul sebanyak 6 kali dalam PB. Istilah ini berasal dari kata kerja yang berarti ‘membawa kepada terang’ atau ‘tersingkap’. Kata bendanya berarti ‘manifestasi’. Istilah ini digunakan untuk mengungkapkan kemuliaan dan kemegahan yang termanifestasi oleh kedatangan Tuhan.

Istilah Yunani keempat, PHANEROO. Istilah ini berarti membuat nyata atau menjadi nampak. Namun bukan berarti kehadiran yang terlihat mata, tetapi suatu persepsi.  

Istilah Yunani berikutnya adalah ERCHOMAI. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan tindakan actual dari suatu kedatangan. Istilah ini tidak sama artinya dengan PAROUSIA yang berarti kehadiran seseorang yang telah datang. ERCHOMAI digunakan dalam Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang (SUATU TINDAKAN DATANG) dengan awan-awan…”.

Istilah Yunani keenam adalah HEKO. Kata ini menekankan kedatangan pada suatu tempat tertentu. Kata ini terdapat dalam Wahyu 2:25, “Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku DATANG”.

Sudah tentu bahwa keenam istilah Yunani ini bukan berarti ada enam jenis berbeda dari kedatangan Tuhan, tetapi penggunaan yang berbeda dari istilah ini membuat kita memahami makna yang dimaksud suatu teks yang berbicara tentang kedatangan Tuhan. Dari keenam istilah Yunani itu, dapatlah kita pahami bahwa kedatangan Tuhan itu TIDAKLAH HARUS BERBENTUK KEDATANGAN SECARA FISIK.

Karena kedatangan Tuhan itu tidak harus berbentuk kedatangan secara fisik, maka didalam Perjanjian Baru, Kristus dinyatakan datang ‘dengan awan-awan’, datang sebagai ‘kilat’, datang sebagai ‘pencuri’, datang sebagai ‘suara malaikat’, datang dengan ‘sangkakala Elohim’, datang sebagai ‘mempelai laki-laki’, datang sebagai ‘Raja’, datang sebagai ‘bintang fajar’, datang sebagai ‘hakim’, datang sebagai ‘juru-selamat’, datang kedalam ‘BaitNya’, datang ‘ke bukit Zaitun’, datang mengendarai ‘kuda putih’, datang sebagai ‘gembala yang baik’, datang didalam ‘kerajaanNya’, datang ‘dalam kemuliaan’, datang ‘diatas takhtaNya’, datang bersama ‘malaikat-malaikatNya’, datang bersama ‘orang-orang kudusNya’, datang kepada ‘orang-orang kudusNya’, datang didalam ‘orang-orang kudusNya’, dan seterusnya, dan seterusnya. Semua kedatanganNya yang telah kita sebutkan ini TIDAK MENUNJUK KEPADA KEDATANGAN KEDUA KALINYA. Pemahaman kita tentang kedatanganNya ini akan menjadi sangat kacau jika kita memahami kedatanganNya hanya dua kali saja, pertama kedatanganNya 2000 tahun yang lalu, kemudian kedatanganNya “yang kedua kali” di masa yang akan datang. Sesungguhnya, Alkitab menegaskan bahwa Tuhan sudah datang, sedang datang, dan akan datang. Ia datang secara berkelanjutan, dan Ia secara progresif menyatakan diriNya sampai seluruh rencanaNya genap.

Dengan pemahaman mengenai kedatangan Tuhan yang seperti diuraikan dengan ringkas diatas, maka kita dapat dengan mudah memahami kedatangan Tuhan didalam dan melalui umat pilihanNya untuk menegakkan kerajaanNya dbumi ini.

Telah kita ketahui bahwa kedatangan Tuhan tidaklah harus berbentuk fisik. Juga kita telah paham bahwa kedatangan Tuhan bukanlah hanya dua kali saja seperti dipahami umumnya oleh dunia kekristenan. Bahkan ungkapan “kedatangan Tuhan yang kedua kali” tidak ditemui dalam PB. Sesuai dengan keenam istilah Yunani yang diterjemahkan ‘kedatangan’, maka kita paham bahwa Tuhan sudah datang, sedang datang, dan akan datang lagi.  Saat ini, kita lanjutkan pembahasan kita mengenai kedatangan Tuhan didalam dan melalui umat pilihanNya untuk menegakkan kerajaanNya dibumi ini. 

Kita akan menjelaskan kedatangan Tuhan dengan melihat tiga hari raya utama bangsa Israel, yaitu Paskah, Pantekosta, dan Pondok Daun. Penggenapan dari ketiga hari raya utama Israel ini dapat menjelaskan kepada kita mengenai kedatangan Tuhan, khususnya, didalam dan melalui umat pilihanNya. Mari kita mulai dengan penggenapan hari raya Paskah. Kedatangan Tuhan Yesus dalam penggenapan hari raya Paskah adalah ketika Ia datang sebagai Anak Domba Paskah kita.

Kemudian, kedatangan Tuhan pada penggenapan hari raya Pantekosta adalah ketika Ia datang sebagai Roh Kudus. Banyak orang menyangka bahwa pencurahan Roh Kudus, sebagai penggenapan hari raya Pantekosta itu, bukanlah kedatangan Tuhan. Tetapi, coba kita lihat janji Tuhan kepada murid2Nya (11 murid) dimalam terakhir itu. Yohanes 14:18, berkata, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu”. Yohanes 14:28, juga berkata, “…Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu…”. Yohanes 16:16, menegaskan, “Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku”. Jika, kedatangan Tuhan dipahami sebagai kedatangan “kedua kali”, maka sampai sekarang Tuhan belum datang, dan murid2Nya (yang 11 orang) telah mati semua, sehingga janji Yesus tidak tergenapi. Ingat, Yesus berjanji akan datang lagi KEPADA MURID2NYA (11 murid, karena Yudas telah pergi). Pencurahan Roh Kudus itu adalah kedatangan Tuhan sebagai ‘penghibur yang lain’. Istilah Yunani ALLOS (bukan HETEROS) yang diterjemahkan YANG LAIN, itu berarti LAIN TETAPI SAMA. Jadi, yang Yesus maksudkan penolong (penghibur) YANG LAIN itu adalah DIRINYA SENDIRI tetapi sebagai pribadi ROH KUDUS. Jadi, pencurahan Roh Kudus itu adalah kedatangan Tuhan.

Selanjutnya, penggenapan hari raya Pondok Daun. Yesus berkata kepada barangsiapa yang percaya kepadaNya, bahwa “… ia akan melakukan… pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu…” (Yohanes 14:12). Kita tahu bahwa Roh Kudus yang dicurahkan sebagai penggenapan hari raya Pantekosta adalah Roh Kudus sebagai ‘jaminan’, atau ‘panjar’ atau ‘down payment’, atau istilah Yunani ‘arrabon = dp’ (Efesus 1:14). Yesus berjanji bagi kita yang percaya, bahwa kita akan melakukan hal2 yang lebih besar dari pada yang Yesus lakukan. Kapan ini terjadi? Ketika Roh Kudus tercurah secara penuh (bukan panjar lagi) pada penggenapan hari raya Pondok Daun. Inilah kedatangan Tuhan didalam dan melalui mereka yang percaya. Umat pilihanNya akan menerima Roh dalam kepenuhannya, dan melakukan perkara2 yang lebih besar dari pada yang Yesus lakukan. Roma 8:19-21, menjelaskan terjadinya peristiwa penggenapan hari raya Pondok Daun ini, ketika Roh yang tanpa batas itu tercurah kepada putera2 Elohim. Inilah kedatangan Tuhan didalam dan melalui umat pilihanNya. Inilah juga kedatangan kerajaan sorga dibumi.

Saat ini kita akan menutup pembahasan kita mengenai kerajaan sorga di bumi dengan membahas penggenapan hari raya Pondok Daun yang telah kita bahas sebelumnya. Kita tahu bahwa kedatangan Tuhan melalui pencurahan Roh Kudus pada hari raya Pantekosta adalah pencurahan Roh dalam arti panjar, down payment, dalam arti jaminan, bahwa Tuhan akan datang lagi untuk mencurahkan RohNya secara penuh. Peristiwa dimana Tuhan mencurahkan RohNya secara penuh, sebagai penggenapan hari raya Pondok Daun ini, diuraikan oleh Paulus dalam Roma 8:19-21. Sesungguhnya, peristiwa penggenapan hari raya Pondok Daun ini adalah peristiwa kedatangan kerajaan sorga ke bumi.

Mari kita melihat Roma 8:19-21, dalam versi ILT, “Sebab kerinduan yang dalam dari makhluk ciptaan menanti dengan sangat penyingkapan anak-anak Elohim, karena makhluk ciptaan telah ditundukkan kepada kesia-siaan, bukan karena kehendaknya sendiri tetapi karena Dia yang telah menundukkannya atas dasar pengharapan, bahwa makhluk ciptaan itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim”. Konteks ayat2 ini adalah pemuliaan oleh iman (glorification by faith). Dari pasal 1 sampai 7, Paulus menguraikan keselamatan dalam surat Roma ini dengan menjelaskan mengenai pembenaran oleh iman (justification by faith), dan pengudusan oleh iman (sanctification by faith). Jika kita memahami keselamatan hanya mengenai pembenaran oleh iman dan pengudusan oleh iman saja, maka kita justru kehilangan “bagian puncak” dari keselamatan itu, yaitu pemuliaan oleh iman, yang dijelaskan dalam Roma 8:19-21 ini.

Pemuliaan oleh iman terjadi ketika kita, sebagai buah sulung ciptaan, menerima kemuliaan dari Tuhan dengan mengalami pencurahan Roh yang tak terbatas serta mendapat tubuh baru (ayat 23), sebagaimana juga yang dialami oleh Yesus dalam kebangkitanNya. Penyingkapan anak-anak Elohim ini terjadi dibumi dimana kita dinyatakan/ditampilkan kepada seluruh ciptaan, untuk memerdekakan seluruh ciptaan dari perbudakan alam maut. Seluruh ciptaan akan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim ini. Peristiwa dimana kemuliaan anak-anak Elohim (buah sulung/para pemenang) ini disingkapkan merupakan kedatangan kerajaan sorga kebumi ini, dan dalam kitab Wahyu dijelaskan sebagai dispensasi kerajaan seribu tahun (Wahyu 20).

Peristiwa pemuliaan oleh iman dimana kemuliaan anak-anak Elohim ini dinyatakan, sesungguhnya sangat dinanti-nantikan oleh seluruh makhluk. Walaupun, barangkali, seluruh makhluk tidak dapat mengungkapkan kerinduannya ini, tetapi Alkitab berkata bahwa peristiwa pemuliaan oleh iman ini sangat dinanti-nantikan seluruh makhluk.

Peristiwa dimana kemuliaan kerajaan sorga dinyatakan di bumi ini akan lebih dahsyat dari pada pemberitaan pertama oleh Yesus dan Yohanes Pembaptis bahwa ‘kerajaan sorga sudah dekat’. Ketika pemberitaan ‘kerajaan sorga sudah dekat’, maka yang sakit disembuhkan, yang mati dibangkitkan, yang kerasukan setan dibebaskan, kepada orang miskin diberitakan khabar baik, dan seterusnya. Tetapi Yesus berjanji bahwa ‘kamu akan melakukan hal2 lebih besar dari pada yang Kulakukan’. Maka, ketika kemuliaan kerajaan sorga dinyatakan dibumi ini, kita akan melakukan perkara2 yang lebih besar lagi, sebagaimana yang Yesus katakan. Haleluyah…

Sebagai penutup, mari kita renungkan apa yang Paulus nyatakan dalam Roma 8:18, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”. Amin.

 

 

 

 

 

 

    

 

       

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Kerajaan Sorga Menurut Kitab Wahyu.

Jabatan Dalam Gereja