Otoritas Dalam Alkitab.

 

Otoritas Dalam Alkitab (gabungan)

Oleh : Irnawan Silitonga

Tema kita kali ini adalah otoritas dalam Alkitab. Istilah Yunani yang sering digunakan untuk menjelaskan otoritas adalah EXOUSIA, yang muncul 102 x dalam PB. Istilah ini berarti suatu kuasa yang didasarkan oleh jabatan, dan bukan kuasa karena kekuatan fisik atau kekuatan rohani. Barangkali, contoh berikut dapat menjelaskan EXOUSIA dengan baik. Misalnya, seseorang dengan badan kekar, sedang mengendarai truck yang besar dijalan raya, tetapi kemudian dihentikan oleh seorang polisi yang berbadan biasa saja. Namun, pengemudi truck ini berhenti dan turun untuk memberi hormat kepada polisi itu. Kemudian pak polisi ini meminta sim dan stnk si pengendara truck ini, dan si pengendara truck ini mentaatinya serta memberikan apa yang diminta pak polisi ini. Mengapa demikian? Karena pak polisi ini memiliki otoritas yang berasal dari jabatannya sebagai polisi. Tentu ia harus memakai pakaian polisi sebagai tanda otoritasnya.

Mari kita mulai pembahasan kita dengan melihat Ibrani 2:6-9, yang berkata demikian “… ‘Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, segala sesuatu telah Engkau taklukkan dibawah kakiNya’. Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepadaNya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepadaNya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepadaNya. Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus…”.

Ibrani 2:6-9 ini, merupakan kutipan dari Mazmur 8:5-7. Jika kita membaca Mazmur 8:5-7, maka kita tahu bahwa Tuhan membuat manusia (umat manusia) berkuasa atas ciptaanNya. “Tetapi sekarang ini belum kita lihat bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepadaNya” (Ibrani 2:8, versi LAI). Ibrani 2:8, versi LAI, menuliskan akhiran ‘nya’ dengan huruf besar, ‘Nya’. Seolah-olah ayat 8 menunjuk kepada Yesus. Tetapi sebenarnya ayat 8 menunjuk kepada umat manusia, bukan kepada Yesus. Jadi, terjemahan yang tepat adalah, “Tetapi sekarang ini belum kita lihat bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepadanya”. Memang benar, saat ini segala sesuatu belum ditaklukkan kepada manusia, karena umat manusia telah jatuh kedalam alam maut, sebagai upah dosa. Tetapi, Ibrani 2:9, menegaskan bahwa Yesus telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, dan telah memiliki otoritas disorga dan dibumi. Dan Yesus telah mengalami maut (sebagai upah dosa) BAGI SEMUA MANUSIA (ayat 9). Perikop ini menegaskan bahwa Yesus yang lebih dahulu memiliki otoritas atas ciptaan Tuhan, tetapi kemudian Ia akan memimpin seluruh manusia kepada keselamatan, dan pada akhirnya seluruh manusia (umat manusia) akan berkuasa atas ciptaan Tuhan.   

Apa yang kita bicarakan diatas, sesuai dengan rencana Bapa sendiri dalam menciptakan manusia. Kejadian 1:26, menegaskan, “Dan Elohim berfirman, ‘Marilah Kita membuat manusia dalam citra Kita, menurut rupa Kita, dan biarlah mereka berkuasa…. atas seluruh bumi dan atas segala yang melata yang merayap dimuka bumi” (ILT). Kita tahu bahwa ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa serta menempatkan mereka di Taman Eden, rencana Bapa belumlah tergenapi. Adam dan Hawa belum menguasai seluruh bumi. Adam dan Hawa belum beranak-cucu dan memenuhi bumi. Bahkan Adam dan Hawa belum mengetahui hal yang baik dan jahat. Jadi, rencana Bapa dalam menciptakan manusia serupa dan segambar denganNya serta menguasai seluruh bumi, belumlah tergenapi. Manusia perlu mengalami proses yang panjang (melalui 2 pohon di Taman Eden), kemudian, sesuai Ibrani 2:6-9 diatas, maka pada akhirnya manusia akan berkuasa (ber-otoritas) atas ciptaan Tuhan. Demikianlah rencana Bapa genap.

Telah kita bahas, sesuai Ibrani 2:6-9 dan Kejadian 1:26-28, bahwa rencana Bapa bagi manusia (seluruh manusia) adalah untuk berkuasa (ber-otoritas) atas seluruh ciptaanNya. Tetapi manusia perlu mengalami proses yang panjang melalui kedua pohon di Taman Eden agar menjadi serupa dan segambar dengan Dia serta dapat ber-otoritas atas ciptaanNya. Saat ini, kita akan membahas suatu jenis otoritas, yaitu otoritas manusia atas manusia lainnya, karena manusia telah jatuh kedalam alam maut (kesia-siaan), yang disimbolkan oleh pohon pengetahuan. Jenis otoritas yang dimaksud adalah otoritas laki2 (suami) atas perempuan (isteri), dan otoritas pemerintah atas rakyatnya. Jenis otoritas manusia atas manusia lainnya hanyalah sementara saja, dalam pengaturan Tuhan. Karena rencana Bapa adalah manusia (seluruh umat manusia) secara bersama-sama akan memerintah (ber-otoritas) atas ciptaanNya. Jadi, jenis otoritas ini hanya sementara saja Tuhan tegakkan selama manusia menjalani proses Tuhan. 

Mari kita mulai dari Taman Eden. Kejadian 3:16, mencatat, “…. namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu”. Setelah kejatuhan manusia kedalam alam maut, maka Tuhan memberi disiplin kepada Hawa, bahwa suaminya (Adam) akan berkuasa atasnya. Banyak orang menyangka bahwa otoritas suami (laki2) atas isterinya (perempuan) berlaku selamanya, karena bahkan didalam gerejapun Tuhan memerintahkan, “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan “(Efesus 5:22). Namun, mari kita lihat bagaimana manusia itu (Adam dan Hawa) diciptakan.

Penciptaan manusia didalam Kejadian 1:27, dan penciptaan manusia, atau lebih tepat, pembentukan manusia didalam Kejadian 2:7 itu sangat berbeda. Manusia (laki2 dan perempuan) didalam Kejadian 1:7, murni berasal dari Elohim, dan adalah manusia roh. Karena, apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh (Yohanes 3:6). Sebagai manusia roh, Adam dan Hawa berada dalam kesatuan yang sempurna. Keduanya direncanakan secara bersama-sama agar berkuasa atau ber-otoritas atas ciptaanNya. Tetapi kemudian, Elohim memproses manusia dan membentuknya sedemikian sehingga manusia MENJADI makhluk (jiwa) yang hidup (Kejadian 2:7). Kemudian Elohim mengambil atau memisahkan Hawa dari Adam (mengambil ‘rahim’ Adam), dan membangunnya menjadi “manusia rahim” (Woman = womb man = manusia rahim). Demikianlah Adam dan Hawa menjadi pasangan pertama di Taman Eden. Selanjutnya, kita tahu bahwa Hawa lebih dahulu memakan buah terlarang itu dan mendapat disiplin dari Tuhan bahwa suaminya akan berkuasa (ber-otoritas) atasnya.

Jadi, otoritas suami atas isterinya bukanlah rencana Bapa semula. Memang, selama manusia masih dalam proses menaklukkan alam maut sebagai upah dosa, maka Tuhan menegakkan aturan otoritas suami sebagai kepala rumah tangga. Tetapi, jika kita memahami rencana Bapa semula atas suami (laki2) dan isteri (perempuan), maka dalam menjalankan rumah tangga, kita sebagai suami tidaklah menekankan penundukkan diri isteri kita. Sebagai suami, kita justru menekankan bagaimana rumah tangga kita ada dalam kesatuannya. Kita justru berusaha bagaimana kita bisa bersatu dengan isteri kita. Jika kita ada dalam kesatuan dengan isteri kita, maka tidak perlu ada penundukkan diri. Jika sudah bersatu, apa lagi yang harus ditundukkan?

Demikianlah kita tahu bahwa otoritas manusia atas manusia lainnya, dalam hal ini suami dengan isteri, tidaklah untuk selamanya. Otoritas suami atas isteri hanya ada selama alam maut belum ditaklukkan sepenuhnya. Pada akhirnya, ketika Yesus, yang telah mengalahkan maut, memimpin semua manusia masuk kedalam kemerdekaan HayatNya, maka tidak akan ada lagi otoritas manusia atas manusia lainnya. Umat manusia akan bersama-sama, dalam kesatuannya, memerintah ciptaan Tuhan.

Telah kita bahas mengenai otoritas manusia atas manusia lainnya, yaitu mengenai hubungan suami-isteri, bahwa otoritas suami atas isterinya hanya ada selama alam maut belum ditaklukkan sepenuhnya. Karena rencana Bapa adalah manusia (seluruh umat manusia) secara bersama-sama akan memerintah (ber-otoritas) atas ciptaanNya. Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai otoritas manusia atas manusia lainnya, dalam hal ini otoritas pemerintah atas rakyatnya.

Mari kita melihat Kejadian 9:5-6, “Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia. Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia…”. Banyak orang percaya bahwa ayat ini menjelaskan bahwa Tuhan menegakkan otoritas manusia atas manusia lainnya, karena disini dikatakan bahwa ‘siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan ditumpahkan oleh manusia juga’. Artinya, manusia diberi otoritas untuk membalas kejahatan manusia. Dan kita tahu bahwa pemerintah2 didunia ini menyandang pedang untuk membalas perbuatan2 jahat yang dilakukan oleh manusia lainnya, atau rakyat (Roma 13:4). Jadi, Tuhan menegakkan otoritas pemerintah atas rakyatnya untuk membalas setiap perbuatan jahat.

Dan, sebagai pelayan Tuhan, kita harus menundukkan diri kepada pemerintah kita (Roma 13:1). Siapa yang melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Tuhan, dan pasti akan mendatangkan hukuman. Itu sebabnya, kita diperintahkan menaikkan doa syafaat, “untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan” (I Timotius 2:2).

Ada satu hal lagi yang harus kita bicarakan mengenai pemerintahan manusia ini. Setelah Tuhan menetapkan otoritas manusia (pemerintah) atas manusia lainnya (rakyat) di kitab Kejadian pasal 9, maka dipasal selanjutnya ada seorang bernama Nimrod yang membangun kerajaannya sendiri (pasal 10 dan 11). Dikatakan mengenai Nimrod bahwa ia adalah orang yang mula2 sekali berkuasa dibumi (Kejadian 10:8). Banyak orang mengira bahwa Nimrod ini seorang yang melayani dan hidup DIHADAPAN Tuhan (Kej. 10:9). Tetapi kita telah tahu bahwa Strong’s Concordance mengungkapkan fakta mengenai istilah Ibrani yang diterjemahkan DIHADAPAN (ayat 9) mempunyai arti yang sangat bervariasi. Dalam Kej.10:9 seperti misalnya Bil. 16:2, istilah Ibrani yang diterjemahkan DIHADAPAN juga memiliki arti literal MEMBERONTAK. Dan didalam Jewish Encyclopedia, nama Nimrod berarti ia yang membuat semua orang memberontak melawan Tuhan. Terjemahan Alkitab ILT (Indonesian Literal Translation) membuat catatan kaki untuk terjemahan DIHADAPAN, yaitu TEGAR MENENTANG. Dapat disimpulkan bahwa Nimrod ini adalah seorang yang memberontak dan tegar menentang Tuhan. Nimrod mendirikan kerajaan sendiri atau menegakkan otoritasnya sendiri. Dan salah satu kerajaannya adalah Babel. Kita menguraikan sedikit mengenai Nimrod ini karena dikitab Wahyu, salah satu kota yang dibangun Nimrod, yaitu Babel, dikenakan sebagai simbol bagi gereja (Wahyu 17-18). Kita tidak membahasnya sekarang, tetapi cukup kita pahami bahwa “semangat Nimrod” untuk menegakkan otoritasnya sendiri dapat dan telah masuk kedalam gereja.  

Pertanyaan bagi kita saat ini adalah apakah otoritas manusia atas manusia lainnya, dalam hal ini otoritas pemerintah atas rakyatnya, akan terus berlangsung? Mari kita membaca Wahyu 11:15 sebagai berikut, “Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring didalam sorga, katanya: ‘Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapiNya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya”. Kita tahu bahwa Yesus akan menegakkan kerajaanNya dibumi bersama orang2 kudusNya, pada saat kedatanganNya. Saat malaikat ketujuh meniup sangkakalanya, maka otoritas manusia atas manusia lainnya akan selesai. Tuhan Yesus dan orang2 kudusNya akan mengambil alih pemerintahan dunia ini. Tetapi, sebelum kedatangan Tuhan, maka kita haruslah menundukkan diri kepada pemerintah kita.

Telah kita bahas mengenai otoritas manusia atas manusia lainnya, yaitu mengenai otoritas suami sebagai kepala rumah tangga dan otoritas pemerintah atas rakyatnya. Kita juga tahu bahwa otoritas manusia atas manusia lainnya ditetapkan Tuhan hanya sementara saja. Selama manusia berada dalam proses alam maut, memang Tuhan menegakkan otoritas manusia atas manusia lainnya. Tetapi, pada waktuNya, Tuhan sendiri akan menghapus otoritas manusia atas manusia lainnya, jika alam maut telah ditaklukkan sepenuhnya. Karena rencana Bapa adalah manusia (seluruh umat manusia) secara bersama-sama akan memerintah (ber-otoritas) atas ciptaanNya.

Saat ini mari kita membahas otoritas yang ada diantara umat Tuhan. Untuk membahas otoritas yang ada diantara umat Tuhan, maka kita harus membedakan dengan tegas antara otoritas yang berlaku dalam umat Tuhan konteks PL (Israel), dan otoritas yang berlaku dalam umat Tuhan konteks PB (gereja). Jika kita tidak membedakan dengan tegas keduanya, maka kita secara langsung mendukung perpecahan gereja menjadi ribuan denominasi, karena denominasi itu mencampurkan otoritas konteks PL dan otoritas konteks PB, seperti akan kita lihat nanti.

Itu sebabnya, mari kita mulai dengan Matius 23:1-12, dimana Yesus dengan tegas membedakan otoritas “kursi Musa” dan otoritas yang berlaku didalam gerejaNya. Konteks Matius 23 adalah saat ketika Yesus berbicara kepada orang banyak, dimana orang banyak ini berada dibawah kepemimpinan orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, dan juga Yesus berbicara kepada murid2Nya (ayat 1). Kepada orang banyak, Yesus berkata agar menuruti dan melakukan segala sesuatu yang diajarkan oleh ahli2 Taurat dan orang2 Farisi, karena mereka telah menduduki “kursi Musa”. Yang dimaksud Yesus dengan “kursi Musa” adalah otoritas yang berlaku dalam konteks PL (Israel). Otoritas “kursi Musa” adalah otoritas konteks PL, yang didapat karena seseorang memiliki jabatan sebagai pemimpin. Entahkan seseorang itu memiliki karakter yang baik atau tidak, jika seseorang itu menduduki jabatan pemimpin, maka ia tetaplah berotoritas. Dalam kasus ahli2 Taurat dan orang2 Farisi, ternyata mereka berkelakuan tidak benar, itu sebabnya Yesus berkata, “…turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (ayat 3).

Pada ayat 8, Yesus mulai berbicara kepada murid2Nya. Demikian tertulis, “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara”. Mulai ayat 8 sampai ayat 12, Yesus berbicara kepada murid2Nya. Didalam ayat2 ini Yesus tegas berkata kepada murid2 supaya jangan ada seorangpun yang disebut rabi atau pengajar (guru). Jangan menyebut siapapun bapa. Jangan juga seorangpun diantara murid2 disebut pemimpin, karena hanya ada satu pemimpin, yaitu Mesias. Apakah Yesus bermaksud mengatakan bahwa didalam gereja tidak boleh ada guru/pengajar, atau tidak boleh ada bapa rohani, atau tidak boleh ada pemimpin? Bukan demikian, sdrku. Tetapi yang Yesus maksudkan, sesuai konteks Matius 23 adalah TIDAK ADA OTORITAS “KURSI MUSA” DIDALAM GEREJA. Gereja tentu memiliki pengajar, bapa rohani dan para pemimpin, tetapi mereka semua tidak memiliki otoritas jabatan, karena memang didalam gereja tidak ada jabatan. Baik rasul, nabi, penginjil, gembala, dan pengajar, semuanya adalah fungsi2 didalam gereja untuk memperlengkapi murid2 untuk membangun tubuh Kristus. Didalam gereja, KAMU SEMUA ADALAH SAUDARA (Matius 23:8).

Telah kita bahas bahwa didalam gereja tidak ada otoritas “kursi Musa”. Otoritas “kursi Musa” yang dimaksud adalah otoritas yang didapat oleh seseorang karena JABATANNYA sebagai pemimpin, seperti ahli2 Taurat dan orang2 Farisi didalam mahkamah agama Yahudi (Sanhedrin). Didalam konteks PL, memang ada jabatan2, seperti raja, nabi, imam, dan jabatan2 dalam Bait Suci. Tetapi didalam gereja tidak ada jabatan. Jelas, dari Matius 23 yang sudah kita bahas, Yesus melarang murid2Nya disebut pemimpin, bapa atau rabi. Maksudnya, didalam gereja tidak ada jabatan pemimpin, jabatan bapa atau jabatan rabi, karena didalam gereja TIDAK ADA OTORITAS “KURSI MUSA”. Didalam gereja, semua adalah saudara.

Kalau demikian, otoritas apa yang ada didalam gereja? Sebelum kita menjawabnya, mari kita renungkan beberapa fakta berikut ini. Pertama, ketika Yesus berkata, “Aku akan mendirikan gerejaKu”, dan juga berkata kepada murid2Nya, “jangan seorangpun diantara kamu disebut pemimpin, bapa atau rabi”, maka yang dimaksud Yesus adalah hanya Dia yang akan membangun gerejaNya. Hanya Aku yang berotoritas atas gerejaKu. Hanya Aku yang akan langsung mengatur setiap anggota gerejaKu. Aku tidak pernah mendelegasikan otoritasKu kepada seorangpun dari anggota gereja, karena setiap anggota adalah sesama saudara. Tidak boleh ada satupun anggota yang disebut pemimpin, dalam arti memiliki otoritas didalam gereja. Tidak ada otoritas satu anggota terhadap anggota lainnya dalam gereja. Yesus langsung mengatur setiap pergerakan anggota gerejaNya. Yesus langsung berotoritas atas setiap anggota gerejaNya.

Kedua, ketika Yesus berkata, “Aku akan mendirikan gerejaKu”, bagaimana cara Yesus mendirikan gerejaNya? Perkataan Yesus kepada para pemimpin Yahudi, “rombak Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”, menjelaskan bagaimana Ia mendirikan gerejaNya. Yang Yesus maksudkan “Bait Suci” adalah tubuhNya sendiri, tubuh Kristus, yaitu gereja. Jadi, Yesus mendirikan gerejaNya melalui kematian, kebangkitan dan kenaikanNya kesorga serta turunnya Roh Kudus. Roh pemberi Hayat. Yesus memberikan HayatNya kepada 120 orang pada hari Pantekosta dan lahirlah gereja.

Ketiga, telah kita bahas bahwa otoritas manusia atas manusia lainnya hanya berlaku sementara saja, selama manusia ada dalam proses alam maut, karena memakan buah pohon pengetahuan. Hal ini berlaku bagi hubungan suami-isteri, dan hubungan pemerintah dan rakyatnya, yang telah kita bahas sebelumnya. Tetapi gereja adalah sesuatu yang Yesus dirikan. Gereja berasal dari pohon Kehidupan, karena pohon Kehidupan sesungguhnya melambangkan Yesus sendiri. Yesus berkata, “barangsiapa yang makan Aku, ia mempunyai hayat dalam dirinya” (Yohanes 6). Segala sesuatu yang berasal dari pohon Maut (pohon pengetahuan), bukanlah gereja. Gereja berasal dari pohon Kehidupan, yang adalah Yesus sebagai Hayat. Otoritas manusia atas manusia lainnya yang berlaku sementara dalam proses alam Maut, tidak dapat dibawa kedalam gereja. Didalam gereja, tidak ada otoritas manusia atas manusia lainnya.

Dengan memperhatikan ketiga fakta diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa otoritas gereja adalah otoritas Hayat. Otoritas yang berlaku didalam gereja adalah otoritas Yesus sebagai Hayat gereja. Gereja adalah orang, gereja adalah organisme, gereja ada di alam pohon Kehidupan, atau ada di alam Hayat. Karenanya, didalam gereja tidak boleh ada seseorang, siapapun juga dia, yang memiliki otoritas atas anggota lainnya. Semua adalah saudara. Semua anggota gereja harus tunduk kepada otoritas Hayat.

Karenanya, gereja adalah komunitas ‘saling’. Saling menasihati, saling menegur, saling membasuh kaki, saling membangun, dan seterusnya, tetapi yang terutama, “…saling menundukkan diri seorang terhadap yang lain didalam takut akan Elohim” (Efesus 5:21, ILT). Mengapa harus saling menundukkan diri? Karena tidak ada satu anggota yang berotoritas atas angota lainnya dalam gereja.

Telah kita lihat bahwa gereja adalah komunitas ‘saling’. Saling menasihati, saling menegur, saling membasuh kaki, saling membangun, dan seterusnya, tetapi yang terutama, “…saling menundukkan diri seorang terhadap yang lain didalam takut akan Elohim” (Efesus 5:21, ILT). Mengapa harus saling menundukkan diri? Karena tidak ada satu anggota yang berotoritas atas angota lainnya dalam gereja. Kalau demikian, bagaimana para pemimpin berfungsi didalam suatu komunitas “saling” atau komunitas, yang adalah organisme ini?

Didalam Kolose 2:19, ada tertulis mengenai fungsi ‘urat2’ dan ‘sendi’ yang menggambarkan fungsi pemimpin dalam suatu organisme. Mari kita perhatikan Kolose 2:19, “sedang ia tidak berpegang teguh kepada kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya”. Ungkapan Yunani, ‘auxano ho auxesis ho theos’, yang diterjemahkan ‘menerima pertumbuhan ilahinya’, sebenarnya harus diterjemahkan ‘mempertumbuhkan dengan pertumbuhan Elohim’. Maksudnya, seluruh tubuh akan bertumbuh dalam pertumbuhan Hayat (Elohim adalah Hayat – I am the Life), jika urat2 dan sendi2 berfungsi sebagai YANG MENUNJANG DAN MENGIKAT MENJADI SATU, sehingga tubuh tidak terpecah-pecah. Seluruh tubuh (organisme) akan menerima pertumbuhan Elohim, jika urat-urat dan sendi-sendi didalam tubuh itu berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu menunjang dan mengikat tubuh menjadi satu. Disinilah kita melihat peran yang sangat penting dari para pemimpin organisme itu. Para pemimpin organisme ini benar-benar tunduk kepada otoritas Hayat yang berlaku dalam tubuh. Para pemimpin organisme, bahkan seluruh anggota tubuh, saling menundukkan diri satu terhadap lainnya. Tidak ada satu anggota tubuh yang tampil kedepan dan “menaklukkan” anggota2 tubuh lainnya, serta mengangkat diri sebagai pemimpin. Hal ini jelas melanggar perintah Yesus yang berkata, “jangan seorangpun diantara kamu disebut pemimpin”.

Mari kita melihat lebih jauh lagi peran para pemimpin organisme ini. Didalam Efesus 4:11-13, ada tertulis, “Dan Ialah (YESUS) yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua…. kepenuhan Kristus”. Perhatikan ayat2 ini. Kita lihat fungsi para pemimpin (rasul, nabi, penginjil, gembala, pengajar) hanyalah UNTUK MEMPERLENGKAPI orang-orang kudus. Versi ILT, menerjemahkannya, UNTUK PENYEMPURNAAN orang-orang kudus. Jadi, para pemimpin organisme hanya memperlengkapi atau menyempurnakan orang2 kudus, bukan MENARIK MURID-MURID KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI, seperti yang akan kita bahas nanti dalam Kisah Para Rasul 20:30. Perihal menarik murid-murid oleh para pemimpin ini disebut perampasan otoritas Yesus atas tubuhNya, dan akan kita bahas nanti ketika kita menyinggung ajaran Izebel. Dalam dunia kekristenan ajaran Izebel sudah dibenarkan, diterima, dan diajarkan sebagai kebenaran.

Untuk saat ini cukup kita ketahui bahwa para pemimpin organisme benar-benar berfungsi sebagai pelayan gereja. Pelayan dalam arti ‘doulos’ (budak). Tidak punya otoritas, tidak punya hak, apalagi hak mengambil uang jemaat, baik itu melalui ajaran perpuluhan, buah sulung, janji iman dan sebagainya. Para pemimpin denominasi bukanlah pelayan gereja, karena mereka memiliki otoritas atas jemaat, dan bahkan merasa berhak atas uang jemaat karena mereka merasa “suku Lewi”.

Telah kita lihat bagaimana para pemimpin organisme berfungsi didalam gereja. Didalam Kolose 2:19, mereka terlihat berfungsi sebagai “urat-urat” dan “sendi-sendi” yang mengikat dan mempersatukan tubuh. Didalam Efesus 4:12, para pemimpin organisme hanya memperlengkapi atau menyempurnakan orang-orang kudus bagi pembangunan tubuh Kristus. Jelas terlihat bahwa para pemimpin organisme ini tunduk kepada otoritas Hayat, sementara sebagai sesama anggota tubuh, semua saling menundukkan diri. Ketika gereja belum pecah menjadi ribuan denominasi, terlihat jelas otoritas Hayat bekerja. Pertumbuhan gereja adalah pertumbuhan Hayat Kristus. Tetapi, diakhir pelayanan Paulus, telah mulai terlihat benih2 perpecahan itu.

Terjadinya perpecahan gereja tidak lain dari masuknya otoritas manusiawi para pemimpin kedalam gereja, dan karenanya terjadi pergeseran otoritas Hayat. Mari kita melihat Kisah Para Rasul 20:30, “Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka”. Pada ayat sebelumnya, Paulus tegas mengatakan bahwa setelah kepergiannya, akan ada serigala ganas menyerang para pemimpin, sehingga para pemimpin mengajarkan ajaran palsu dengan maksud menarik murid-murid kepada diri mereka sendiri. Dengan menarik murid-murid kepada diri mereka sendiri, sebenarnya para pemimpin menegakkan otoritasnya sendiri atas murid-murid. Para pemimpin ini dengan sengaja memasukkan otoritasnya sendiri atas murid-murid, dan menggeser otoritas Hayat atas tubuh Kristus. Perbuatan para pemimpin yang menarik murid-murid ini disebut perbuatan ‘Nikolaus’ dalam kitab Wahyu 2:6. Tetapi, karena sudah berkembang maka praktek / perbuatan ‘Nikolaus’ ini telah menjadi ajaran, yaitu ajaran Nikolaus (Wahyu 2:15).

Apakah makna ‘Nikolaus’? Karena kitab Wahyu adalah pewahyuan Yesus Kristus dan gerejaNya dengan memakai bahasa simbol, maka makna ‘Nikolaus’ mempunyai arti demikian. ‘Nikolaus’ dalam istilah Yunani berasal dari dua kata, yaitu, ‘Nikao’ artinya ‘menaklukkan’, sedangkan ‘Laos’ berarti ‘kaum awam’. Jadi, ‘Nikolaus’ berarti ‘menaklukkan kaum awam’. Disini, para pemimpin menaklukkan kaum awam sehingga gereja terbelah menjadi dua bagian, ‘kaum imam’ dan ‘kaum awam’, untuk Katolik. Sedangkan untuk Protestan, ‘para pendeta’ dan ‘jemaat’. Perkara ini bukan sekedar pembelahan gereja saja, melainkan pergeseran otoritas Hayat oleh para pemimpin dengan memasukkan otoritas manusiawi para pemimpin itu kedalam gereja. Karena ‘kaum imam’ berotoritas atas ‘kaum awam’ didalam Katolik, seperti juga ‘para pendeta’ berotoritas atas ‘jemaat’. Tetapi, saat ini, didalam dunia kekristenan, perbuatan ‘Nikolaus’ ini telah menjadi ajaran, maka perbuatan ini sudah dibenarkan, bahkan sudah diajarkan disekolah-sekolah Teologi.

Perbuatan dan ajaran ‘Nikolaus’ ini sejalan dengan ‘wanita Izebel’ dalam Wahyu 2:20. Izebel disini adalah simbol, dan simbol ini dikenakan kepada wanita (gereja). Apakah maknanya? Kita tahu bahwa Izebel ini menulis surat atas nama Ahab, suaminya, memeteraikannya dengan meterai raja, dalam kasus kebun anggur Nabot (I Raja-Raja 21:8). Artinya, Izebel merampas otoritas Ahab, suaminya. Walaupun tujuan Izebel itu untuk memenuhi keinginan Ahab, tetapi hal ini tetaplah berarti perampasan otoritas. Karenanya, ‘wanita Izebel’ berarti gereja dimana terjadi perampasan otoritas. Otoritas Yesus (sebagai mempelai pria) dirampas oleh gereja (mempelai wanita).

Kesimpulannya, para pemimpin gerejalah yang menggeser otoritas hayat dan menegakkan otoritasnya sendiri atas umat Tuhan. Para pemimpin gereja ini juga yang telah mengubah esensi gereja yang tadinya bersifat organis, kemudian menjadi ribuan organisasi, karena masuknya hierarki (jejang otoritas).  

Telah kita lihat bahwa para pemimpin gerejalah yang menggeser otoritas hayat dan menegakkan otoritasnya sendiri atas umat Tuhan. Para pemimpin gereja ini juga yang telah mengubah esensi gereja yang tadinya bersifat organis (tubuh), kemudian menjadi ribuan organisasi, karena masuknya hierarki (jenjang otoritas). Perbuatan para pemimpin gereja ini diuraikan dalam kitab Wahyu 2-3 sebagai ajaran Nikolaus dan Izebel. Bagaimana program Tuhan selanjutnya setelah gereja pecah menjadi ribuan denominasi? Inilah yang akan kita bahas saat ini.    

Rencana Bapa bagi manusia tidak mungkin gagal. Bapa telah merencanakan agar manusia berotoritas atas seluruh bumi, bahkan atas seluruh ciptaanNya. Sesungguhnya, tugas gereja yang utama adalah menghadirkan kerajaan sorga dibumi, menegakkan otoritas Tuhan dibumi, dan dengan otoritas Tuhan, maka gereja dapat menaklukkan segala sesuatu dibawah kakinya. Tetapi, sekarang gereja telah pecah karena para pemimpinnya tidak menegakkan otoritas Tuhan Yesus sebagai Hayat gereja, melainkan menegakkan otoritasnya sendiri atas umat Tuhan. Karenanya, program Tuhan selanjutnya adalah memanggil para pemenangNya di tiap zaman.

Bapa disorga tidak memulihkan gereja yang telah menjadi ribuan “keping” denominasi ini supaya kembali menjadi gereja mula2 yang adalah organisme, melainkan Bapa memanggil para pemenangNya ditiap zaman untuk mewakili atau merepresentatifkan gerejaNya. Didalam Wahyu 2-3, dapat kita lihat bagaimana Tuhan memanggil para pemenangNya disetiap tujuh zaman gereja. Para pemenang ini bukanlah orang2 yang hebat, dalam arti memiliki jabatan dalam jenjang organisasi, karena justru hierarki (jenjang otoritas) ini yang telah membuat gereja pecah menjadi ribuan denominasi. Para pemenang ini adalah orang2 sederhana yang karena kasih karunia Tuhan, tidak mengambil bagian dalam kejatuhan gereja. Wahyu 2-3 menjelaskan kepada kita tiga ajaran palsu yang berlaku bagi gereja yang sudah pecah menjadi ribuan denominasi ini. Ketiga ajaran ini adalah Izebel, Nikolaus, dan Bileam. Ajaran Izebel membenarkan perampasan otoritas Hayat oleh para pemimpin, dan membenarkan adanya hierarki dalam gereja. Ajaran Nikolaus, seperti penundukkan diri palsu (bukan saling menundukkan diri), ajaran ‘tudung rohani’ dan yang semacamnya, yang pada intinya memperkuat otoritas pemimpin atas umat Tuhan. Dan tentunya, ajaran Bileam, dimana para pemimpin mengambil untung dari pelayanan karena melakukan perdagangan.

Jadi, para pemenang ini adalah orang2 yang mendapat kasih karunia Tuhan sehingga mereka tidak mengambil bagian dalam ajaran Izebel, Nikolaus dan ajaran Bileam. Para pemenang ini adalah orang2 yang bukan saja dipanggil, tetapi yang mendapat kasih karunia untuk dipilih dan setia. Para pemenang inilah, yang sudah ditetapkan menjadi buah sulung dari ciptaanNya, akan memerintah bersama Tuhan Yesus dibumi ini (Yakobus 1:18, dan Wahyu 14:1-5).

Pada waktuNya, kelompok buah sulung ini akan dipercayakan menjalankan otoritas Tuhan dibumi ini, serta menjalankannya bersama-sama Tuhan Yesus Kristus. Kelompok buah sulung ini tidak memiliki otoritas apapun dalam dunia kekristenan saat ini. Kelompok buah sulung ini tidak terikat dan bebas dari jerat ajaran Izebel, Nikolaus, dan Bileam. Itu sebabnya, kelompok buah sulung ini dapat mengikuti Anak Domba kemanapun Ia pergi (Wahyu 14:4).

Jadi, rencana Bapa agar manusia memerintah dibumi ini tetap berlangsung, tetapi Bapa menggunakan kelompok buah sulung ini. Dan kelak, melalui kelompok buah sulung inilah seluruh rencana Bapa genap.

Telah kita lihat bahwa otoritas gereja yang Yesus dirikan adalah otoritas Hayat. Tetapi gereja telah pecah menjadi ribuan denominasi oleh perbuatan para pemimpinnya, dengan menggeser otoritas Hayat dan memasukkan otoritasnya sendiri. Dalam kondisi gereja yang sudah pecah menjadi ribuan denominasi ini, Tuhan memanggil para pemenangNya yang tidak ambil bagian dalam kejatuhan gereja. Para pemenang ini, yang kita sebut buah sulung, adalah orang2 sederhana yang oleh kasih karunia Tuhan tidak mengambil keuntungan apapun dari dunia kekristenan, baik itu uang, jabatan, serta kemuliaan manusia. Kelompok buah sulung ini tidak memiliki otoritas apapun dalam dunia kekristenan yang telah menyimpang. Namun, walaupun demikian, rencana Bapa untuk zaman berikutnya ada didalam kelompok buah sulung atau para pemenangNya ini.

Kita tahu bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali untuk menegakkan kerajaanNya dibumi ini melalui dan didalam para pemenangNya. Salah satu janji bagi para pemenangNya di kitab Wahyu adalah duduk bersama Tuhan Yesus diatas takhtaNya (Wahyu 3:21). Para pemenang ini diberi otoritas untuk memerintah. Wahyu 20:4, menegaskan masa dimana para pemenangNya ini memerintah bersama Tuhan Yesus adalah masa atau zaman kerajaan seribu tahun.

Para pemenangNya ini atau kelompok buah sulung ini diberi otoritas oleh Tuhan Yesus untuk menghakimi (Wahyu 20:4). Kita jangan memahami penghakiman itu sebagai suatu penghukuman saja, walaupun memang apa yang ditabur orang itu juga yang akan dituainya. Namun, penghakiman juga memiliki aspek positifnya, yaitu pemulihan. Yesaya 26:9, mencatat, “… apabila Engkau datang menghakimi bumi maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”. Jadi, para pemenang (kelompok buah sulung) yang diberi otoritas untuk menjalankan penghakimanNya, bertujuan untuk memulihkan penduduk bumi.

Hal ini sejalan dengan yang tertulis dalam Roma 8:19-21, versi ILT, “Sebab kerinduan yang dalam dari makhluk ciptaan menanti dengan sangat penyingkapan anak-anak Elohim, karena makhluk ciptaan telah ditundukkan kepada kesia-siaan, bukan karena kehendaknya sendiri tetapi karena Dia yang telah menundukkannya atas dasar pengharapan, bahwa makhluk ciptaan itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim”. Ditegaskan disini bahwa anak-anak Elohim akan memerdekakan ciptaan dari perbudakan kebinasaan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim.

Kalau kita ingin memahami siapa anak-anak Elohim dalam Roma 8:19-21 ini, maka kita harus melihat seluruh konteks pasal 8, yaitu glorification by faith (pemuliaan oleh iman). Paulus telah menguraikan dalam pasal2 sebelumnya mengenai justification by faith (pembenaran oleh iman), dan sanctification by faith (pengudusan oleh iman). Tetapi, pasal 8, Paulus berbicara mengenai saat dimana Kristus Yesus akan dimuliakan, yaitu ketika Ia menyatakan diriNya di akhir zaman pada kedatanganNya. Dan kita (anak-anak Elohim), yang menderita bersama-sama dengan Dia, juga akan dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (Roma 8:17). Salah satu makna ungkapan ‘menderita bersama-sama dengan Dia’ adalah mengalami penderitaan “yang sama seperti” dialami oleh Yesus. Kita tahu Yesus menderita oleh dunia keagamaan dizamanNya (Yudaisme), bahkan mati dibunuh. Anak-anak Elohim juga akan menderita oleh dunia keagamaan dizamannya. Tentu kita tidak sampai dibunuh oleh dunia kekristenan saat ini, tetapi setidaknya, kita tidak ambil keuntungan apapun dari dunia kekristenan, baik itu uang, jabatan, atau kemuliaan manusia, bahkan barangkali kita dikucilkan.

Jadi, para pemenangNya atau kelompok buah sulung ini, akan dipercayakan otoritas untuk menghakimi dizaman berikut untuk pemulihan segala sesuatunya.

Kita akan mengakhiri uraian singkat kita mengenai otoritas dengan menjelaskan mengenai otoritas Anak Domba yang dijalankan oleh kelompok buah sulung di zaman-zaman berikutnya. Telah kita lihat bagaimana kelompok buah sulung ini mengikuti Anak Domba kemana saja Ia pergi. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, dan dikatakan bahwa mereka murni seperti perawan (Wahyu 14:4). Apakah makna ‘tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan’ didalam Wahyu 14:4 ini?

Kita tahu bahwa kitab Wahyu menyatakan pewahyuan Yesus Kristus dan gerejaNya dengan bahasa simbol (Wahyu 1:1). Istilah Yunani ‘semaino’ yang diterjemahkan ‘menyatakannya’ (versi LAI) dan ‘memberitahukan’ (versi ILT), berasal dari akar kata ‘sema’, yang artinya ‘tanda’ atau ‘simbol’. Jadi, pewahyuan Yesus Kristus dan gerejaNya yang dinyatakan kepada rasul Yohanes itu menggunakan bahasa simbol atau tanda. Karenanya, ungkapan ‘tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan’ didalam Wahyu 14:4, jangan diartikan bahwa kelompok buah sulung itu adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan pelacur-pelacur dalam pengertian pelacur harfiah. Perempuan-perempuan disini adalah simbol. Dan didalam kitab Wahyu, ada dua perempuan yang sangat berbeda karakteristiknya. Pertama, perempuan yang diuraikan dalam Wahyu 12, dimana perempuan ini melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi (mendapat otoritas atas segala bangsa). Kedua, perempuan-perempuan (jamak-Wahyu 17:5) yang diuraikan dalam pasal 17 dan 18, dimana perempuan-perempuan ini pada akhirnya akan mengalami penghakiman Elohim. Kita tahu bahwa perempuan-perempuan ini adalah simbol gereja “pelacur” karena menerima benih firman Tuhan, tetapi juga menerima benih ajaran ‘Izebel’, ‘Nikolaus’, dan ‘Bileam’, sebagaimana pelacur yang menerima benih dari banyak pria. 

Kelompok buah sulung tidak mencemarkan dirinya dengan gereja-gereja yang membenarkan ajaran ‘perampasan otoritas’, yaitu ajaran ‘Izebel’ dan juga ‘Nikolaus’. Kelompok buah sulung juga tidak mencemarkan dirinya dengan gereja-gereja yang membenarkan ajaran dagang ‘Bileam’. Kelompok buah sulung ini MURNI, bukan karena mereka orang-orang hebat dan terkenal dalam dunia kekristenan yang telah menyimpang ini, tetapi MURNI karena mereka TIDAK AMBIL BAGIAN DALAM AJARAN IZEBEL, NIKOLAUS, BILEAM, yang pada umumnya telah diterima dalam dunia kekristenan.

Sesungguhnya, kelompok buah sulung ini disimbolkan oleh perempuan di pasal 12 itu, dimana pada akhirnya akan menerima otoritas untuk menggembalakan semua bangsa. Saat ini, dizaman ini, kelompok buah sulung sama sekali tidak memiliki otoritas apapun dalam dunia kekristenan. Mereka tidak merampas otoritas Hayat (otoritas Kristus) atas gerejaNya. Dizaman ini, kelompok buah sulung benar-benar menjadi hamba yang melayani gerejaNya. Hamba dalam pengertian yang sesungguhnya. Tidak punya otoritas atas umat Tuhan. Tidak menarik murid2 kepada diri mereka sendiri, apalagi menarik uang umat Tuhan, baik melalui ajaran persepuluhan, ajaran buah sulung, ajaran janji iman, ajaran menabur, dan sebagainya.

Tetapi, puji Tuhan… dizaman berikut, kelompok buah sulung ini akan dipercayakan menjalankan otoritas Anak Domba untuk menggembalakan SEMUA BANGSA. Dengan otoritas yang diserahkan kepada kelompok buah sulung ini, maka rencana Bapa semula genap. Rencana Bapa yang tertulis dalam Kejadian 1:26-28, dimana Bapa mempunyai rencana agar manusia memiliki otoritas atas segala sesuatu, pasti tergenapi oleh pelayanan buah sulung ini.

Juga didalam Ibrani 2:6-9, yang merupakan kutipan dari Mazmur 8:5-7, telah kita bahas bahwa Tuhan membuat manusia (umat manusia) berkuasa atas ciptaanNya. “Tetapi sekarang ini belum kita lihat bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepadaNya (MANUSIA)” (Ibrani 2:8, versi LAI), namun oleh pelayanan kelompok buah sulung, maka semua manusia akan memperoleh otoritas atas ciptaanNya, sesuai dengan rencana Bapa semula. Amin.

 

   

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Kerajaan Sorga Menurut Kitab Wahyu.

Jabatan Dalam Gereja