Tuaian Akhir Zaman.
Tuaian Akhir Zaman
Oleh : Irnawan Silitonga
Banyak orang Kristen menyangka ‘tuaian akhir zaman’ itu
berhubungan dengan suatu penuaian jiwa besar-besaran di akhir zaman, atau suatu
pencurahan Roh Kudus besar-besaran keatas setiap jiwa. Bahkan ada yang berani
berkata bahwa pencurahan Roh Kudus di hari Pantekosta itu (di Yerusalem) akan
terulang lagi sehingga timbul pengajaran tentang “Pantekosta ketiga”. Semua konsep ‘tuaian akhir zaman’
seperti ini, walaupun mungkin menyenangkan telinga, tetapi sama sekali bukan
yang diajarkan Alkitab kepada kita.
Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa ‘tuaian akhir zaman’ itu
adalah penuaian jiwa2 yang sudah matang.
Istilah Yunani therizo, muncul 21
kali dalam PB, adalah suatu istilah dalam bidang pertanian yang berarti pengumpulan buah2 yang matang dari suatu
ladang. Demikian juga istilah Yunani synago
yang muncul 59 kali dalam PB, mempunyai pengertian dasar ‘mengumpulkan suatu hasil’. Jika kedua istilah kata kerja Yunani ini
diterapkan kedalam gereja, maka artinya adalah menuai jiwa2 yang sudah matang, yaitu jiwa2 yang sudah siap untuk
dituai bagi kemuliaan Tuhan dan bagi maksud2 Tuhan yang telah disiapkan
sebelumnya.
Kita akan menjelaskan perihal ‘tuaian akhir zaman’ ini
dengan menguraikan tiga hari raya Yahudi, yaitu hari raya Paskah, Pantekosta,
dan Tabernakel. Ketiga hari raya Yahudi ini terkait dengan soal penuaian. Juga
kita akan menguraikan Wahyu pasal 14 yang terkait dengan ‘tuaian akhir zaman’.
Secara garis besar, tuaian jiwa2 pada hari raya Paskah adalah orang2 Yahudi (dalam
dispensasi Musa) yang percaya kepada Yesus, dan menerima Perjanjian Baru yang
diperantarai oleh Yesus. Tentu saja, Tuhan juga memiliki jiwa2 yang sudah
matang dalam zaman PL, yang merupakan orang2 pilihanNya. Berikutnya, tuaian
jiwa2 terkait hari raya Pantekosta
adalah seluruh umat pilihanNya sepanjang zaman gereja, dimana umat pilihanNya
ini akan dimanifestasikan pada akhir zaman (Roma 8:19-21). Kemudian yang
terakhir, pada hari raya Tabernakel dimana
semua manusia akan dituai oleh pelayanan putera2 Elohim, seperti dijelaskan
dalam Roma 8:19-21.
Melalui tulisan yang singkat ini, diharapkan kita akan
memahami penuaian jiwa2 yang sudah matang bagi kemuliaanNya.
Telah kita lihat bahwa ‘tuaian akhir zaman’ adalah menuai
jiwa2 yang telah matang. Dan kita akan mengaitkan perihal menuai jiwa2 yang
sudah matang ini dengan tiga hari raya utama bangsa Israel yaitu Paskah,
Pantekosta, dan Tabernakel. Saat ini kita akan menguraikan ‘tuaian
akhir zaman’ yang dikaitkan dengan penggenapan
hari raya Paskah.
Yesus sebagai Anak domba paskah kita yang disembelih adalah
penggenapan dari Paskah bangsa Israel yang dirayakan setahun sekali. Didalam
Yohanes 4:35, ada tertulis, “Bukankah
kamu berkata bahwa masih ada empat bulan lagi dan penuaian itu tiba. Lihatlah,
Aku berkata kepadamu, angkatlah matamu dan pandanglah ladang-ladang itu, karena
mereka telah menguning siap untuk penuaian” (ILT). Istilah Yunani yang
diterjemahkan ‘penuaian’ disini adalah ‘therismos’
yang berarti proses dan waktu menuai. Jadi, Yesus berkata bahwa
waktu penuaian telah tiba. Terjemahan LAI disini berkata ‘matang untuk dituai’.
Jiwa2 dalam angkatan Yesus telah matang dan siap untuk
dituai. ‘Tuaian akhir zaman’ yang kita kaitkan dengan hari raya paskah
bangsa Israel, terjadi pada angkatan
Yesus. Siapakah para penuainya? Yohanes 4:38, berkata “Aku mengutus kamu untuk menuai…”. Para murid Yesus adalah
penuainya. Tetapi para penaburnya bukanlah murid2 Yesus. Ayat 38 diatas berkata
bahwa “…orang-orang lain berusaha dan
kamu datang memetik hasil usaha mereka”. Orang2 lain yang dimaksud Yesus
disini adalah seluruh pelayan Tuhan dizaman PL, baik itu nabi2, imam2, raja2,
maupun seluruh orang pilihan Tuhan dizaman PL, yang telah melayani Yahweh.
Tetapi Yesus menambahkan bahwa baik penabur dan penuai sama-sama bersukacita
dan menerima upahnya.
Jadi, murid2 Tuhan pada angkatan Yesus adalah para penuai,
sedangkan para penaburnya adalah orang2 pilihan Yahweh sepanjang zaman PL. Kita
lihat disini bahwa ketika hari raya Paskah bangsa Yahudi tergenapi oleh Yesus
sebagai Anak Domba Paskah, maka terjadilah ‘tuaian akhir zaman’.
Telah kita bahas dengan singkat ‘tuaian akhir zaman’ yang
dikaitkan dengan penggenapan hari raya Paskah bangsa Yahudi. Saat ini kita akan
bahas ‘tuaian akhir zaman’ yang terkait dengan penggenapan hari raya
Pentakosta bangsa Yahudi.
Pencurahan Roh Kudus yang tercatat dalam Kisah Para Rasul
pasal dua, sebagai penggenapan hari raya Pentakosta Yahudi, bukanlah ‘tuaian
akhir zaman’. Mengapa demikian? Karena jiwa2 yang mengalami pencurahan
Roh Kudus pada saat itu belumlah matang. Justru pada saat itu gereja baru
dilahirkan seperti seorang bayi. Gereja perlu mengalami pertumbuhannya. Tuhan
memberikan rasul2, nabi2, gembala2, penginjil2 dan pengajar2 agar gereja
bertumbuh menuju, “… kedewasaan penuh dan
tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef. 4:13).
Demikian juga kita ketahui bahwa pencurahan Roh Kudus pada
hari Pentakosta itu barulah berupa ‘panjar’
atau ‘down payment’ saja. Istilah
Yunani yang diterjemahkan ‘jaminan’
dalam Efesus 1:14, adalah ‘arrabon’
yang artinya pembayaran yang diberikan lebih dahulu sebagai suatu jaminan bahwa
keseluruhan pembayaran akan diberikan kemudian. Jadi, Roh Kudus yang dicurahkan
pada hari raya Pentakosta kepada gereja itu hanyalah “sebagian saja”, tidak seperti yang diterima Yesus, seperti tertulis
dalam Yohanes 3:34, bahwa Bapa mengaruniakan RohNya “dengan tidak terbatas”.
Tidak lama setelah gereja mula-mula menerima Roh Kudus yang ‘sebagian saja’ itu, Paulus menyatakan
bahwa akan ada serigala ganas menyerang para penatua/pemimpin gereja, sehingga
dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid2 dari jalan yang benar (awalnya mengikuti pimpinan Roh) kemudian
murid2 mengikuti para pemimpin tersebut. Gereja mulai tercabik2 oleh para
pemimpinnya. Sebagian murid mengikuti pemimpin ini, sebagian lagi mengikuti
pemimpin itu. Sekarang gereja telah tercabik-cabik menjadi ribuan denominasi,
dimana para anggotanya mengikuti pemimpin denominasi itu. Perlu diingat bahwa denominasi bukanlah gereja. Denominasi
adalah pecahan gereja yang disebabkan ajaran palsu Izebel, Bileam dan Nikolaus
(Wahyu 2-3). Saat ini kita tidak membahas soal perpecahan gereja.
Tetapi ditengah-tengah perpecahan gereja menjadi ribuan
denominasi, Tuhan memilih para pemenangNya yang tidak ambil bagian dalam ajaran
palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Dalam tiap zaman gereja, Tuhan mempunyai
para pemenangNya. Tuhan mempersiapkan para pemenangNya dan mematangkannya
sedemikian sehingga ketika tiba saatNya, maka Ia akan menampilkan dan
memanifestasikan para pemenangNya diakhir zaman. Inilah peristiwa yang
diuraikan dalam Roma 8:19-21, dan juga diuraikan dalam Wahyu pasal 14. Saat
seperti inilah yang dimaksud ‘tuaian akhir zaman’ sebagai
penggenapan hari raya Pentakosta, yaitu ketika para pemenangNya menerima Roh dengan tidak terbatas, sehingga
genaplah yang dikatakan Yesus bahwa kita akan melakukan hal2 yang lebih besar
dari pada yang dilakukan Yesus (Yohanes 14:12).
Saat ini kita akan bahas ‘tuaian akhir zaman’ yang
terkait dengan penggenapan hari raya Pentakosta bangsa Yahudi. Telah kita
ketahui bahwa pencurahan Roh Kudus yang tercatat dalam Kisah Para Rasul pasal
dua, sebagai penggenapan hari raya Pentakosta Yahudi, bukanlah ‘tuaian
akhir zaman’. Mengapa demikian? Karena jiwa2 yang mengalami pencurahan
Roh Kudus pada saat itu belumlah matang. Justru pada saat itu gereja baru
dilahirkan seperti seorang bayi. Gereja perlu mengalami pertumbuhannya. Tuhan
memberikan rasul2, nabi2, gembala2, penginjil2 dan pengajar2 agar gereja bertumbuh
menuju, “… kedewasaan penuh dan tingkat
pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef. 4:13).
Kalau demikian, kapankah terjadinya ‘tuaian akhir zaman’ yang
terkait dengan penggenapan hari raya Pentakosta ? Alkitab berbicara mengenai ‘tuaian
akhir zaman’ ini dengan berbagai cara. Kita akan membahas dua bagian
firman Tuhan yang sangat jelas membicarakan hal ini. Pertama, Roma 8:19-21, dan
kedua, Wahyu 14:1-20.
Dalam Roma 8:19-21 tertulis, “Sebab kerinduan yang dalam dari makhluk ciptaan menanti dengan sangat
penyingkapan anak-anak Elohim… bahwa makhluk ciptaan itu sendiri juga akan
dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan kepada kemerdekaan kemuliaan akan-anak
Elohim” (ILT). Kalau kita perhatikan, maka seluruh kitab Roma berbicara
mengenai kebenaran Elohim. Bagaimana kita sebagai umat pilihanNya mendapatkan
kebenaran Elohim. Kebenaran Elohim kita dapatkan melalui iman yang bertumbuh
(Roma 1:17, ‘dari iman kepada iman’).
Surat Roma menjelaskan perkara ini dengan tiga istilah penting yaitu, pembenaran
karena iman (justification by faith),
pengudusan karena iman (sanctification
by faith), dan pemuliaan karena iman (glorification
by faith). Paulus mulai menguraikan ‘pemuliaan oleh iman’ ini di pasal 8.
Paulus berkata bahwa, “penderitaan zaman
sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan
kepada kita” (Roma 8:18). Pada saat anak2 Elohim telah matang dan siap dituai, disitulah terjadi pemuliaan. Hal inilah yang diuraikan
dalam Roma 8:19 yang telah kita kutip diatas. Anak2 Elohim yang telah matang
akan ditampilkan atau dimanifestasikan diakhir zaman ini. Anak2 Elohim yang
telah matang inilah yang disebut buah
sulung ciptaan seperti yang Yakobus katakan, “yang telah menentukan agar kita menjadi buah sulung dari ciptaanNya…”
(1:18 versi ILT). Jadi, ‘tuaian akhir zaman’ pada era
penggenapan hari raya Pentakosta Yahudi merupakan buah sulung dari ciptaanNya,
juga tentunya buah sulung dari gereja.
Gereja sudah pecah menjadi ribuan denominasi dan tentunya
sangat tidak matang. Tetapi Tuhan mempunyai para pemenangNya disetiap zaman
gereja, yang oleh kasih karuniaNya, telah dimatangkanNya sehingga siap dituai
diakhir zaman ini. Tuaian buah sulung inilah yang dijelaskan dalam Roma 8:19,
sebagai manifestasi anak2 Elohim.
Para petani di Palestina tentu memahami bahwa tuaian buah
sulung ini mempunyai arti bahwa masih akan ada tuaian-tuaian yang berikutnya. Memang surat Roma 8:20-21, telah
menjelaskan akan adanya pembebasan seluruh makhluk dari perbudakan kebinasaan
serta masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan anak2 Elohim, tetapi kita akan
menjelaskan hal ini melalui kitab Wahyu pasal 14.
Telah kita lihat bahwa, ‘tuaian akhir zaman’ pada era penggenapan hari raya
Pentakosta Yahudi merupakan buah sulung dari ciptaanNya, juga tentunya buah
sulung dari gereja. Saat ini kita akan melihat tuaian buah sulung ini dalam
Wahyu 14:1-5. Sebelum kita membahas Wahyu pasal 14, kita perlu memahami sifat
dasar kitab Wahyu.
Kitab Wahyu merupakan pewahyuan Yesus Kristus yang dinyatakan
kepada rasul Yohanes dengan bahasa simbol. Wahyu 1:1, menegaskan, “…Ia telah menyatakannya (semaino) kepada hambaNya Yohanes”. Kata kerja ‘semaino’ dalam bahasa Yunani berasal
dari akar kata ‘sema’ yang berarti tanda atau simbol. Jadi, Tuhan Yesus menyatakan pewahyuanNya kepada rasul
Yohanes dengan bahasa simbol. Suatu
simbol atau tanda, mempunyai arti bahwa ada makna atau pengertian dibalik
simbol tersebut.
Mari kita melihat Wahyu 14:1-5 mengenai buah sulung. Ayat 4,
menegaskan, “… mereka ditebus dari antara
manusia sebagai korban-korban sulung…”. Istilah Yunani yang diterjemahkan
korban-korban sulung adalah ‘aparche’,
yang berarti buah sulung (firstfruit).
Kita akan mengidentifikasi buah sulung ini dari Wahyu 14:1-5, sekaligus membandingkannya
dengan yang tertulis dalam Roma 8:19-21 yang telah kita bahas dengan singkat.
Pertama, buah sulung ini diberi simbol ‘anak
domba’ sama seperti pemimpin mereka, yaitu Anak Domba Elohim, yang adalah Tuhan
Yesus Kristus (ayat 1). Didalam kitab Wahyu Anak Domba memiliki takhta, yang
berarti anak domba memiliki otoritas untuk melayani. Didalam Roma 8:19-21,
anak-anak Elohim akan memerdekakan makhluk ciptaan dari perbudakan kebinasaan.
Jadi, buah sulung ini berbentuk kerajaan
yang memiliki otoritas untuk memerdekakan ciptaan dari perbudakan
kebinasaan menuju kemerdekaan kemuliaan anak2 Elohim.
Kedua, buah sulung ini mengikuti Anak
Domba kemana saja Ia pergi (ayat 4). Penjelasan Roma 8:19-21, mengenai buah
sulung ini adalah mereka anak2 Elohim. Anak-anak Elohim adalah mereka yang
dipimpin oleh Roh (Roma 8:14). Buah sulung adalah orang2 yang dibebaskan dari
perbudakan agamawi, baik itu peraturan2nya, maupun bentuk2 ibadah lahiriahnya,
bahkan dimerdekakan dari ajaran Nikolaus, dimana para pemimpin agamawi berusaha
menaklukkan kaum awam agar mengikuti mereka. Buah sulung tidak mengikuti para
pemimpin aliran denominasi manapun, karena mereka telah dimerdekakan, sehingga
dapat mengikuti Anak Domba kemanapun Dia pergi.
Ketiga, didahi buah sulung tertulis nama
Tuhan Yesus dan nama Bapa di sorga. Nama disini merupakan simbol, dan memiliki
makna atau arti suatu reputasi, karakter, kemuliaan, dan karya-karya seseorang.
Jadi, jika didahi buah sulung terdapat nama Tuhan, maka berarti buah sulung
memiliki karakter, kemuliaan, dan mengalami serta menikmati karya2 dari Tuhan
sendiri. Roma 8:19-21, menegaskan bahwa anak-anak Elohim memiliki kemuliaan
Tuhan, bukan saja memiliki kemuliaan Tuhan, tetapi juga akan memimpin seluruh
ciptaan masuk kedalam kemuliaanNya.
Untuk saat ini kita tidak membahas seluruh karakteristik buah
sulung. Cukup kita pahami bahwa buah sulung adalah orang2 yang mendapat kasih
karunia untuk menjadi para pemenangNya dalam tiap zaman gereja, dimana pada
waktuNya akan dituai. Inilah ‘tuaian akhir zaman’ pada era
penggenapan hari raya Pentakosta bangsa Yahudi.
Telah kita lihat didalam Wahyu 14:1-5, dan Roma 8:19-21,
mengenai ‘tuaian akhir zaman’ pada era penggenapan hari raya Pentakosta
Yahudi, yang merupakan buah sulung dari ciptaanNya. Saat ini kita akan melihat
bagaimana Tuhan Yesus sendiri akan menggunakan buah sulung sebagai alatNya
untuk menuai jiwa2 berikutnya sampai seluruh bumi dituai, dan seluruh jiwa
dituai juga pada saat digenapinya hari raya Tabernakel.
Mari kita melihat Wahyu 14:14-15, seperti ada tertulis, ”Dan aku melihat: sesungguhnya, ada suatu
awan putih, dan diatas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan
sebuah mahkota emas diatas kepalaNya dan sebilah sabit tajam ditanganNya….
‘ayunkanlah sabitMu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai;
sebab tuaian di bumi sudah masak”. Kita lihat disini ada seorang yang duduk
diatas awan (bentuk tunggal) putih dengan suatu mahkota emas dikepalaNya.
Diseluruh Alkitab, jika istilah ‘awan’ muncul dalam bentuk tunggal, maka itu
berarti awan kemuliaan Tuhan, atau Tuhan itu sendiri. Tetapi jika istilah
‘awan’ muncul dalam bentuk jamak, yaitu ‘awan-awan’, maka yang dimaksud adalah
saksi-saksi Tuhan. Karena diayat ini istilah ‘awan’ ada dalam bentuk tunggal,
dan ada Anak Manusia yang duduk diatasnya dengan memakai mahkota emas diatas
kepalaNya, maka Anak Manusia ini tidak lain adalah Tuhan Yesus sendiri.
Dan Tuhan Yesus memegang sabit untuk menuai. Karena kitab
Wahyu ini adalah kitab dengan bahasa simbol, maka kita tahu bahwa sabit, yang merupakan alat ditangan
Tuhan Yesus untuk menuai, adalah buah
sulung. Demikianlah genap yang tertulis dalam Lukas 10:2, “KataNya kepada mereka: ‘Tuaian memang
banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya
tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”.
Pekerja-pekerja inilah buah sulung ciptaan.
Ayat kita diatas mengatakan bahwa tuaian di bumi sudah
matang, artinya yang akan dituai oleh pekerja2 (yang adalah buah sulung) adalah
bumi. Sekali lagi kita harus paham bahwa bahasa kitab Wahyu adalah bahasa
simbol. Istilah ‘bumi’ yang akan dituai ini bukanlah bumi jasmani, dalam arti
planet bumi yang kita diami. Tetapi ‘bumi’ ini adalah seluruh dunia kekristenan
yang telah jatuh, dimana ada seekor binatang yang keluar dari dalamnya, yang
tidak lain adalah nabi palsu (lihat Wahyu 13:1 dan Wahyu 16:3, dan Wahyu
19:20). Jadi, buah sulung akan dipakai Tuhan Yesus untuk menuai ‘bumi’ atau
dunia kekristenan yang telah jatuh ini, tetapi yang telah siap dituai.
Jadi, ‘tuaian akhir zaman’ pada era
penggenapan hari raya Pentakosta Yahudi, adalah buah sulung, dan juga seluruh
dunia kekristenan yang telah jatuh, dimana oleh pekerjaan dan pelayanan
buah sulung, menjadi siap dituai juga.
Telah kita lihat ‘tuaian akhir zaman’ pada era
penggenapan hari raya Pentakosta Yahudi, yang merupakan buah sulung dari
ciptaanNya. Saat ini kita akan melihat ‘tuaian akhir zaman’ pada penggenapan
hari raya Tabernakel.
Hari raya Tabernakel disebut juga sebagai hari raya kesatuan (Imamat
23:40,42), hari raya sukacita (Ulangan 16:14), hari raya pengumpulan hasil
(Keluaran 23:16), hari raya perhentian (Imamat 23:39), hari raya kemuliaan,
hari raya pemulihan, dan hari raya penampakanNya. Tetapi kita akan membahas
hari raya pengumpulan hasil saja,
karena hal ini terkait dengan tema kita ‘tuaian akhir zaman’.
Mari kita melihat Keluaran 23:16 dalam versi ILT, “Juga hari raya penuaian, yaitu hasil-hasil
pertama dari hasil-hasil kerjamu yang engkau taburkan di ladang. Dan hari raya
pengumpulan, yakni pada saat berakhirnya tahun, yaitu pada saat kamu
mengumpulkan hasil-hasil kerjamu dari ladang”. Istilah Ibrani yang
diterjemahkan ‘hasil-hasil pertama’ pada ayat diatas adalah BIKKURIM, yang
berarti buah sulung (first fruits). Tuaian ‘buah sulung’ menunjuk kepada
penggenapan hari raya Pentakosta yang telah kita bahas sebelumnya. Tetapi hari
raya ‘pengumpulan’ pada ayat kita diatas menunjuk kepada hari raya Tabernakel,
dimana semua hasil-hasil kerja seseorang di ladang dikumpulkan. Hal ini menunjukkan
kepada kita bahwa penggenapan hari raya Tabernakel terjadi ketika semua
hasil-hasil kerja di ladang dikumpulkan, atau dengan kata lain penggenapan hari
raya Tabernakel terjadi ketika SEMUA JIWA DITUAI sebagai hasil kerja para
penuai.
Mari kita melihat nubuat Yoel yang dikutip oleh Petrus pada
penggenapan hari raya Pentakosta, ketika Roh Kudus dicurahkan. Kisah Para Rasul
2:17, “Dan akan terjadi pada hari-hari
terakhir, Elohim berfirman, Aku akan mencurahkan dari RohKu keatas semua daging…”.
Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘semua
daging’ adalah PAS SARX, dimana PAS berarti SEMUA, dan SARX berarti human
nature, atau manusia. Jadi, penggenapan nubuat Yoel pada saat itu yang dikutip
Petrus belum semua tergenapi, atau baru tergenapi sebagian (partially fulfillment), karena belum
semua manusia mengalami pencurahan Roh Kudus. Sebagaimana kita ketahui bahwa
penggenapan hari raya Pentakosta hanya menghasilkan tuaian buah sulung saja.
Tetapi Tuhan akan memakai ‘buah sulung’Nya untuk menuai jiwa-jiwa berikutnya
sampai semua jiwa dituai pada saat penggenapan hari raya Tabernakel.
Penuaian seluruh jiwa2 oleh pelayanan ‘buah sulung’, tertulis
dalam Roma 8:19-21, sebagai berikut, “Sebab
kerinduan yang dalam dari makhluk ciptaan menanti dengan sangat penyingkapan anak-anak
Elohim, karena makhluk ciptaan telah ditundukkan kepada kesia-siaan…… bahwa
makhluk ciptaan itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan
kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim” (versi ILT). Anak-anak
Elohim yang akan dinyatakan pada akhir zaman ini adalah buah sulung ciptaan.
Kemudian, melalui pelayanan anak-anak Elohim ini, maka seluruh makhluk ciptaan
akan dimerdekakan juga dari perbudakan kebinasaan. Demikianlah genap hari raya
Tabernakel, ketika SEMUA JIWA DITUAI. Haleluyah, Amin.
Comments
Post a Comment