Rumah Elohim.

 

Rumah Elohim (gabungan)

Oleh: Irnawan Silitonga

Tema kita kali ini adalah ‘Rumah Elohim’. Tema ini menjadi penting karena ada beberapa kekeliruan yang terjadi dalam dunia kekristenan mengenai konsep ‘Rumah Bapa’, mengenai masuk sorga, yang pada akhirnya menyebabkan kekeliruan mengenai rencana Elohim bagi manusia. Sudah umum bagi orang Kristen untuk membayangkan ‘rumah Bapa atau rumah Elohim’ itu adanya disorga dalam pengertian suatu ‘tempat menyenangkan nun jauh disana’. Konon, disana ada rumah2 seperti yang biasa kita kenal dibumi ini, ada jalan2 dari emas, sebagaimana jalan2 yang kita kenal dibumi, bahkan ada juga yang berpendapat masih ada anjing disana, dan seterusnya, dan seterusnya.

Kekeliruan ini bukanlah perkara sederhana. Alkitab tidak pernah mengajarkan pemahaman2 seperti itu. Pemahaman2 ini membuat orang Kristen ingin pergi meninggalkan bumi dan masuk ketempat yang menyenangkan yang biasa disebut para pengkhotbah sebagai sorga. Sementara Alkitab, dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu menegaskan bahwa bumi telah dipercayakan kepada manusia, dan bahwa ‘dimensi sorgawi’ itu akan sepenuhnya turun kedalam ‘dimensi bumi’ ini.  Jika orang percaya sudah keliru memahami rencana Elohim, bagaimana ia dapat ‘berkerja sama’ atau ‘berjalan bersama-sama’ Elohim dalam kehidupannya?

Kejadian 1:26-28, sudah menjelaskan bahwa rencana Elohim itu terfokus kepada bumi. Mazmur 115:16, juga menegaskan, “Langit itu langit kepunyaan TUHAN, dan bumi itu telah diberikanNya kepada anak-anak manusia”. Istilah Ibrani ‘shamayim’, yang diterjemahkan ‘langit’ disini, dapat juga berarti ‘sorga’. Disorgalah Elohim meletakkan takhtaNya. Uraian mengenai bagaimana sorga itu, apa saja yang terjadi di-alam atau dimensi itu, apa maksud Elohim meletakkan takhtaNya disorga, dan sebagainya, semua itu telah diwahyukan dengan jelas kepada rasul Yohanes dalam kitab Wahyu, khususnya, pasal 4 dan 5. Kita tidak membahas hal ini lebih jauh, tetapi yang ingin kita tegaskan saat ini adalah mengenai bumi yang telah diberikanNya kepada anak2 manusia. 

Kembali kita kepada tema kita ‘Rumah Elohim’. Alkitab bukan saja mewahyukan kepada kita bahwa bumi adalah fokus rencana Elohim, tetapi juga mewahyukan kepada kita bahwa Elohim akan membangun rumah bagiNya dibumi ini. Elohim mau membangun rumah dibumi ini sebagai tempat kediamanNya. Hanya, bagaimana Elohim membangun tempat kediamanNya dibumi ini, itulah yang menjadi pembahasan kita sekarang.

Kita akan menggunakan satu prinsip dalam pembahasan kita, yaitu ‘prinsip penyebutan pertama’, atau biasa disebut, ‘first mention principle’. Prinsip ini menjelaskan bahwa kali pertama sesuatu hal itu disebut dalam Alkitab, hal itu mengandung suatu arti yang akan tetap sama diseluruh Alkitab. Tetapi, karena pewahyuan Alkitab itu bersifat ‘progresif’, artinya berkemajuan, maka pengertian pertama mengenai sesuatu hal tadi ‘harus ditambahkan’ dengan pengertian2 berikutnya, tanpa merubah pengertian dasarnya. Dengan demikian, kita memiliki pengertian yang lengkap mengenai sesuatu hal, dalam hal ini mengenai ‘Rumah Elohim’.

Mari kita mulai dengan prinsip ini. Didalam Alkitab kemunculan pertama ungkapan ‘Rumah Elohim’ terjadi dalam kasus dimana Yakub bermimpi di Betel. (Kejadian 28:10-22). Ketika Yakub bangun dari tidurnya, ia berkata, “…Sesungguhnya, YAHWEH ada ditempat ini… Ini tidak lain, melainkan bait Elohim, dan inilah gerbang sorga” (ayat 16-17, ILT). Istilah Ibrani ‘bayith’ yang diterjemahkan ‘bait’ memang tidak muncul pertama kali diayat ini, tetapi pada Kejadian 7:1, namun ungkapan ‘bayith Elohim’ muncul pertama kali pada peristiwa mimpi Yakub. Kita akan memeriksa peristiwa ini dan mengambil beberapa pemahaman mengenai ‘Rumah Elohim’ atau ‘bait Elohim’.

Saat ini kita akan mengambil beberapa poin mengenai mimpi Yakub di Betel (Kejadian 28:10-22). Kita tahu bahwa kemunculan ungkapan ‘Bait Elohim’ terjadi pertama kali pada peristiwa ini. Dengan mengambil beberapa poin dalam peristiwa ini, maka kita akan mendapat ‘pengertian dasar’ tentang bait Elohim atau rumah Elohim, sebagai tempat kediamanNya.

Pertama, Kejadian 28:12, menjelaskan mimpi Yakub demikian, “… tampaklah sebuah tangga didirikan di atas bumi, dan ujungnya mencapai langit, dan tampaklah para malaikat Elohim sedang naik dan turun di atasnya” (ILT). Kemudian Yesus menggenapi mimpi Yakub ini ketika Ia berkata kepada Natanael, demikian, “…engkau akan melihat sorga yang terbuka dan malaikat-malaikat Elohim yang naik dan turun di atas Anak Manusia” (Yohanes 1:51, ILT). Dengan berkata malaikat2 Elohim naik dan turun DIATAS ANAK MANUSIA, itu berarti YESUS, SEBAGAI ANAK MANUSIA, ADALAH TANGGA YANG SESUNGGUHNYA. Tangga yang dilihat dalam mimpi Yakub hanya bayangan atau nubuat saja. Realita dan penggenapannya ada dalam diri Yesus, sebagai Anak Manusia.

Tangga ini bukan saja membuka pintu sorga, tetapi juga MENYATUKAN sorga dan bumi. Melalui mimpi Yakub ini, kita tahu bahwa ‘Rumah Elohim’ itu merupakan PENYATUAN SORGA DAN BUMI. Dan sesungguhnya, Yesus sebagai Anak Manusia, adalah ‘Rumah Elohim’ itu. Inilah sebabnya Yesus berkata kepada ahli2 Taurat dan orang Farisi agar ‘runtuhkan Bait Suci’ ini, dan dalam tiga hari Ia akan mendirikannya lagi, sebab Bait Suci itu adalah tubuhNya sendiri (Yohanes 2:21).

Kemudian, Yakub menyebut nama tempat dimana ia bermimpi adalah Betel. Betel berarti ‘Rumah Elohim’. Memang dalam ‘konteks Yakub’, Rumah Elohim itu adalah suatu tempat jasmani, atau lebih tepat suatu kota jasmani, karena dahulu nama kota itu adalah Lus. Tetapi, kita tetap harus mengingat bahwa sekalipun Rumah Elohim, dalam konteks Yakub itu suatu tempat jasmani, namun Rumah Elohim itu adalah penyatuan sorga dan bumi. Inilah pengertian dasar dari ‘Rumah Elohim”. 

Dari pengertian dasar mengenai ‘Rumah Elohim’ ini saja, maka kita sudah dapat melihat kekeliruan konsep ‘rumah Elohim’ atau konsep ‘sorga’ dalam dunia kekristenan. Pada umumnya, para pemimpin agama dalam dunia kekristenan selalu mengajarkan bahwa ‘Rumah Bapa’ atau ‘sorga’ itu suatu tempat yang bukan dibumi ini. Mereka tidak paham bahwa Rumah Elohim atau Rumah Bapa itu adalah penyatuan sorga dengan bumi. Dan penyatuan ini adalah suatu pribadi yaitu Yesus.

Dengan mengajarkan bahwa Rumah Bapa atau sorga itu ‘suatu tempat’, maka tanpa sadar, para pemimpin agama ini telah menyimpangkan fokus murid2 Tuhan dari PRIBADI YESUS atau PRIBADI BAPA SENDIRI. Bahkan ada beberapa pemimpin denominasi yang mengajarkan bahwa ‘Rumah Tuhan’ itu adalah gedung denominasinya. Tentu ada maksud2 terselubung dengan mengatakan demikian. Tetapi, orang2 pilihanNya tidaklah dapat disesatkan.

Kedua, poin berikut mengenai peristiwa mimpi Yakub yang akan kita bahas adalah mengenai janji Elohim atau perjanjian Elohim. Mari kita lihat beberapa hal dari janji Tuhan kepada Yakub, “…Akulah Yahweh, Elohim Abraham dan Elohim Ishak, bapakmu. Tanah yang diatasnya engkau berbaring ini, Aku akan memberikannya kepadamu dan kepada keturunanmu… dan semua kaum dimuka bumi akan diberkati olehmu dan keturunanmu” (Kejadian 28:13-14, ILT). Ketika Elohim akan mengucapkan janjiNya kepada Yakub, Ia memperkenalkan Diri sebagai Elohim Abraham, dan Elohim Ishak. Mengapa demikian? Ibrani 11:9, menegaskan, “Karena iman ia (Abraham) diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan disitu ia tinggal dikemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu”. ILT menerjemahkan ‘janji yang satu’ itu dengan ‘janji yang sama’. Karena memang janji Elohim kepada Abraham sama dengan janji Elohim kepada Ishak dan Yakub, dan biasa disebut ‘Abrahamic Covenant’ atau ‘perjanjian Abraham’.

Kita lihat disini bahwa ketika Elohim akan membangun Rumah sebagai tempat kediamanNya, maka Ia membuat suatu perjanjian dengan orang atau umat yang dipilihNya. Perihal penjanjian Elohim ini bukanlah perkara remeh yang dapat dirubah sembarangan saja. Sebab, Elohim itu adalah ‘Elohim Perjanjian’. Dia setia dengan perjanjianNya, dan perkara melanggar perjanjian itu pasti mendatangkan disiplinNya. Kasus ‘Perjanjian Musa’ yang dilanggar Israel karena penyembahan berhala itu mendatangkan disiplin Yahweh yang sangat serius. Kita tahu bahwa Rumah Elohim (Bait Suci) telah dua kali dihancurkan, dan Israel dibuang selama hampir 2000 tahun lamanya dari Tanah Perjanjian, dan sampai saat ini Bait Suci di Yerusalem tidak ada.

Bukan saja Elohim membuat suatu perjanjian ketika akan membangun RumahNya, tetapi Ia juga memberikan hukumNya kepada orang2 yang dipilihNya. Baiklah kita bahas sedikit disini mengenai hukum persepuluhan. Memang Yakub berjanji akan memberikan sepersepuluh dari segala sesuatu yang Elohim berikan kepadanya (Kejadian 28:22). Tetapi, kita harus ingat bahwa hal ini hanyalah janji Yakub kepada Elohim, dan tidak ada satu ayatpun yang menyatakan bahwa Yakub pernah memberikan sepersepuluh kepada Elohim, dan bahkan kalaupun pernah, kepada siapa Yakub memberikannya?

Praktek memberikan sepersepuluh dari hasil perang juga pernah dilakukan Abraham satu kali saja kepada Melkisedek (Kejadian 14:20). Tetapi, yang dilakukan Abraham ini bukanlah hukum persepuluhan dalam ‘Perjanjian Musa’. Sesungguhnya, Abraham belum kenal hukum Yahweh (hukum Taurat). Karena, Abraham “menyingkapkan aurat” Sara, yang merupakan anak ayahnya, walaupun bukan anak ibunya (Kejadian 20:12). Disini Abraham melanggar hukum Yahweh (Imamat 20:17). Satu kali saja El Shadday memberikan hukumNya kepada Abraham agar ia “…hiduplah dihadapanKu dan jadilah sempurna” (Kejadian 17:1, ILT). Pemberian hukum El Shadday ini terjadi setelah peristiwa Abram mendengarkan usul Sarai dalam kasus Hagar (Kejadian 16). 

Jadi, dalam membangun RumahNya, Elohim membuat suatu perjanjian serta memberikan hukumNya juga. Perjanjian tertentu akan memiliki hukumnya yang tertentu juga. Tidak boleh dicampur-adukan. Dalam ‘Perjanjian Baru’ yang dibuat Yesus, tidak ada hukum persepuluhan. Tidak ada “setengah ayatpun” dalam PB yang berbicara hukum persepuluhan. Ketika Yesus berkata dalam Matius 23:23, “… Yang satu (PERSEPULUHAN) harus dilakukan dan yang lain (KEADILAN, BELAS KASIHAN, dan KESETIAAN) jangan diabaikan”. Konteks ayat ini adalah tegoran Yesus kepada ahli2 Taurat dan orang2 Farisi yang memang terkait dengan ‘Perjanjian Musa’.

Dalam dunia kekristenan ‘konteks perjanjian’ sering dilanggar. Kita ambil saja contoh yang sudah tersebar di Youtube. Beberapa pemimpin denominasi seperti Ps. Jonatan Setiawan dan isterinya, Juan Mogi, Budi Karyanta (Rhema Hagios), Abraham Joel, berbicara soal ‘Perjanjian Berkat’. Dalam ‘Renungan Keluarga Allah’ ditegaskan bahwa cara masuk kedalam ‘Perjanjian Berkat’ adalah memberi persepuluhan. Para pemimpin denominasi ini membuat suatu “perjanjian asing” yang tidak pernah dibuat oleh Elohim, dalam rangka membangun RumahNya.

Sebenarnya, banyak pemimpin denominasi yang mencampur-adukan antara ‘Perjanjian dan hukumnya’. Didalam ‘Rumah Elohim’, mencampur-adukan antara Perjanjian dan Hukumnya yang berlaku, merupakan pelanggaran terhadap prinsip ‘konteks Perjanjian’ dan pasti akan mendatangkan disiplin Elohim, pada waktuNya.

Ketiga, poin berikut mengenai peristiwa mimpi Yakub yang akan kita bahas adalah mengenai batu dan minyak. Kejadian 28:18, mengatakan, “Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak keatasnya”. ‘Batu’ yang dipakai Yakub menjadi alas kepala kemudian menjadi tugu, serta ‘minyak’ yang dituang Yakub keatas tugu, berbicara mengenai ‘Rumah Elohim’.

Tentu ‘batu’ dan ‘minyak’ yang terkait dengan ‘Rumah Elohim’ merupakan simbol saja. Sebab ‘Rumah Elohim’ dalam konteks PB terdiri dari ‘batu-batu hidup’ seperti ditegaskan dalam I Petrus 2:5, demikian, “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani…”. Jadi, ‘tugu’ yang dibangun dari batu-batu oleh Yakub adalah simbol ‘gereja’ atau ‘rumah rohani’. Tetapi, ada satu ‘batu khusus’ yang dipakai Yakub menjadi alas kepalanya, dan batu itu adalah Kristus Yesus, sebagai ‘batu penjuru’ (I Petrus 2:7). Selanjutnya, ‘minyak’ yang dituangkan Yakub keatas ‘tugu’ itu tentu simbol Roh Kudus. Ketika Roh Kudus turun keatas “batu-batu hidup” pada hari Pentakosta, maka lahirlah gereja atau rumah rohani. Jadi, poin ketiga ini menegaskan kepada kita bahwa ‘Rumah Elohim’ adalah orang2 percaya yang “dituangkan” Roh Kudus, dimana Kristus Yesus seharusnya menjadi “alas kepala” kita.

Mari kita merenungkan mengenai Kristus Yesus sebagai “batu penjuru” dan “alas kepala” kita. Kolose 1:27, menegaskan, “…Kristus yang ada didalam kamu, selaku pengharapan kemuliaan” (ILT). ‘Christ in you, the hope of glory’. Kristus dalam batin kita seharusnya menjadi “alas kepala” kita, karena Kristus dalam batin kita itu adalah pengharapan kemuliaan kita, walaupun saat ini belum ditampilkan. Kita tidak boleh “menyandarkan kepala kita” kepada kemuliaan lain selain kepada kemuliaan Kristus dalam batin.

Tetapi, disini ada satu masalah. I Petrus 2:7 menyatakan bahwa ‘batu penjuru’ itu dibuang oleh tukang-tukang bangunan. Pada zaman Yesus, tukang-tukang bangunan ini adalah para pemimpin agama Yahudi yang menolak Yesus (Kis. 4:11). Yang sangat perlu kita renungkan sekarang adalah apakah para pemimpin agama dalam dunia kekristenan, juga membuang ‘Kristus dalam batin yang adalah KEMULIAAN KITA’.

Baiklah kita mengingat kejatuhan gereja sebagaimana dinyatakan oleh Paulus dalam Kis. 20:28-30, demikian, “…serigala-serigala ganas… dari antara kamu sendiri… berusaha menarik murid-murid… supaya mengikut…”. Ditegaskan disini bahwa beberapa pemimpin akan menarik murid-murid Tuhan sehingga mengikuti para pemimpin. Kalau kita perhatikan gereja mula2, kita tahu bahwa dalam 200 tahun pertama tidak ada gedung2 gereja apalagi “tugu” sebagai monumen untuk mengingat aliran tertentu beserta pemimpin2nya. Mengapa sekarang begitu banyak ‘bangunan gereja’, yang menelan biaya sampai ratusan milyar, bahkan monumen2. UNTUK KEMULIAAN SIAPA SEMUA INI DIBANGUN?

Tentu saja semua ini dibangun untuk kemuliaan para pemimpin. Jemaat tidak butuh gedung. Jemaat hanya perlu diperlengkapi oleh para pemimpin agar dapat menjalani kehidupan sehari-hari yang dipimpin Roh (Efesus 4:11-12). Jemaat dapat bertemu dari rumah ke rumah sebagaimana gereja mula2 sebelum pecah menjadi ribuan denominasi. Sekali lagi kita bertanya, mengapa para pemimpin denominasi membutuhkan gedung? Para pemimpin ini membutuhkan gedung karena memang mereka menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri. Dan bukan rahasia lagi bahwa KEMULIAAN PEMIMPIN itu tercermin jika ia dapat menarik banyak murid, membangun gedung2 besar dan megah, bahkan monumen untuk mengingat aliran dan diri pemimpin itu.

Jika kita mendapat kasih karunia untuk melihat, maka inilah yang disebut PERGESERAN KEMULIAAN. Kemuliaan Kristus didalam batin bergeser menjadi kemuliaan para pemimpin yang tercermin dalam gedung2 serta monumen. Memang para pemimpin ini tidak membuang Yesus seperti para pemimpin agama Yahudi, tetapi para pemimpin ini “menggeser” kemuliaan Kristus dalam batin.

Serigala-serigala ganaslah yang membuat kemuliaan Rumah Elohim yang seharusnya dalam batin, kemudian menjadi kemuliaan lahiriah. Memang serigala-serigala ‘biasa’ hanya membuat orang melakukan perzinahan, mabuk2, judi, dan lain sebagainya, karena orang2 dunia juga diserang oleh serigala-serigala jenis ini. Tetapi serigala-serigala ‘ganas’ menyerang para pemimpin gereja sehingga menggeser kemuliaan Kristus dalam batin orang percaya menjadi kemuliaannya sendiri. 

Sebelum kita masuk kepada orang kedua yang dipilih Elohim untuk membangun RumahNya, yaitu Musa, mari kita ringkaskan ‘pengertian dasar’ yang kita dapat dari kasus Yakub, karena kepada Yakublah Elohim pertama kali mewahyukan kehendakNya untuk membangun Rumah sebagai tempat kediamanNya dibumi. Perlu ditegaskan disini bahwa Elohim sendiri yang akan membangun RumahNya, walaupun tentu Ia memakai hamba2Nya untuk menggenapi kehendakNya.

‘Pengertian dasar pertama’ adalah bahwa Rumah Elohim merupakan penyatuan sorga dan bumi, atau turunnya sorga ke bumi. ‘Pengertian dasar kedua’ adalah Elohim akan membuat suatu perjanjian dengan umatNya, dan tentu memberikan juga hukumNya sesuai dengan perjanjian yang ada. ‘Pengertian dasar ketiga’ adalah tugu yang dibangun Yakub dan dituang minyak keatasnya, itulah simbol dari Rumah Elohim yang terdiri dari ‘batu2 hidup’ yang tersusun rapih, dan dipenuhi Roh Kudus. Kita juga sudah berbicara mengenai satu batu yang menjadi ‘sandaran kepala Yakub’, dan merupakan simbol dari Yesus sebagai ‘batu penjuru’.

Pengertian2 dasar ini sangat penting bagi orang yang mau membangun Rumah Elohim. Sebagai seorang yang mendapat kasih karunia untuk menjadi ahli bangunan yang cakap, serta meletakkan dasarnya, Paulus memperingati orang2 yang akan membangun Rumah Elohim diatas dasar yang telah diletakkannya. Dalam I Korintus 3:10-17, Paulus menegaskan, “… Namun biarlah masing-masing memerhatikan bagaimana dia membangun diatasnya… dari tiap-tiap pekerjaan akan menjadi nyata, karena hari itu akan menjelaskannya, sebab hal itu akan disingkapkan oleh api, dan bagaimana rupa tiap-tiap pekerjaan itu, api itu akan membuktikan…. Jika seseorang merusak tempat suci Elohim, Elohim akan menghancurkan dia, karena tempat suci Elohim adalah kudus, itulah kamu adanya” (ILT). Semoga kita mendapat kasih karunia sehingga tidak merusak Rumah Elohim.

Mari kita masuk kepada kasus Musa. Keluaran 25:9,40, menegaskan, “Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya. Dan ingatlah, bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu”. Elohim menegaskan kepada Musa untuk membuat Kemah Suci dan segala perabotannya tepat sesuai dengan contoh yang telah ditunjukkanNya diatas gunung. Elohim tidak memberi kebebasan apapun kepada Musa terkait Kemah Suci. Musa harus membangun Kemah Suci ‘sesuai contoh diatas gunung’. Baik semua ukuran perabotannya, warna2 kain yang dipakai, bahan2nya apakah dari emas, tembaga atau kayu, semua detail Kemah Suci harus dibangun Musa sesuai contoh.

Perihal membangun Rumah Elohim sesuai contoh yang dinyatakanNya ini bukanlah perkara sederhana. Setiap kita yang ambil bagian membangun gereja sebagai tempat kediamanNya, harus melihat “contoh diatas gunung” dengan baik. Sebenarnya, Yesus sudah tegas menyatakan bahwa AKU AKAN MENDIRIKAN GEREJAKU. Hanya Yesus yang dapat membangun gerejaNya. Itu sebabnya dalam Matius 23:1-12, Yesus tegas berkata agar jangan seorangpun dari antara kamu disebut rabi, bapa atau pemimpin. Artinya, tidak ada seorangpun yang mempunyai otoritas “kursi Musa” dalam gereja. Aku sendiri yang akan mengatur semuanya. Dan Yesus memperingati supaya jangan ada seorangpun meninggikan dirinya (ayat 12).

Kalau demikian, dimana seharusnya kita melihat “contoh diatas gunung” agar kita jangan meninggikan diri dan semaunya membangun Rumah Elohim? Kita harus melihatnya di kitab Kisah Para Rasul yang 28 pasal itu. Secara umum, kondisi dunia kekristenan saat ini tidak sesuai dengan “contoh diatas gunung”. Semoga kita mendapat kasih karunia untuk ambil bagian dalam membangun Rumah Elohim sesuai contoh.

Mari kita teruskan membahas bagaimana seharusnya membangun ‘Rumah Elohim’ dibumi ini dalam kasus Musa. Keluaran 40:34,36, menegaskan, “Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci. Apabila awan itu naik dari atas Kemah Suci, berangkatlah orang Israel dari setiap tempat mereka berkemah”. Bilangan 9:21,23, menyatakan, “Ada kalanya awan itu tinggal dari petang sampai pagi; ketika awan itu naik pada waktu pagi, merekapun berangkatlah; baik pada waktu siang baik pada waktu malam, apabila awan itu naik, merekapun berangkatlah. Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat; mereka memelihara kewajibannya kepada TUHAN, menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa”.

Kita lihat disini bahwa orang Israel dipimpin oleh awan kemuliaan TUHAN yang memenuhi Rumah Elohim (kemah suci). Orang Israel tidak dipimpin langsung oleh Musa, tetapi dipimpin langsung oleh ‘awan kemuliaan Tuhan’. Musa hanyalah perantara saja seperti ditegaskan pada ayat diatas. Jadi, dalam konteks Musa, memelihara Kemah Suci itu sama artinya dengan mengikuti pimpinan ‘awan kemuliaan TUHAN’. Pergerakan ‘awan kemuliaan TUHAN’ itulah yang diikuti orang Israel, dan hal ini sama dengan mentaati titah TUHAN. Seandainya bangsa Israel, termasuk Musa, tidak mengikuti pergerakan ‘awan kemuliaan Tuhan’, maka ini sama saja melanggar titah Tuhan.

Baiklah kita menerapkan prinsip mengikuti ‘awan kemuliaan TUHAN’ ini kedalam konteks kita (PB). Jika seseorang meneliti setiap kemunculan istilah ‘awan’ didalam Alkitab, maka ia akan menemukan bahwa jika istilah ‘awan’ ini muncul dalam bentuk tunggal, maka itu selalu menunjuk kepada kemuliaan TUHAN. Tetapi, jika istilah ‘awan’ itu muncul dalam bentuk jamak, maka itu menunjuk kepada kemuliaan TUHAN didalam saksi2Nya.  

Mengapa demikian? Kita tahu bahwa ‘Rumah Elohim’ yang disimbolkan Kemah Suci, dalam konteks Musa, adalah ‘gereja’ yaitu orang2 kudus. Dan bahwa Kristus yang didalam batin orang2 kudus ADALAH KEMULIAAN TUHAN, walaupun masih menjadi PENGHARAPAN (Kolose 1:27). Artinya, kemuliaan Tuhan didalam kita belum ditampilkan. Ketika kemuliaan Tuhan didalam kita ditampilkan, disitulah kemuliaan kita, sebagai putera2 Elohim, akan ditampilkan kepada segala makhluk (Roma 8:21).

Jadi, jika kita mau memelihara ‘Rumah Elohim’, maka kita harus mengikuti PIMPINAN AWAN KEMULIAAN TUHAN DIDALAM BATIN KITA. Bukan mengikuti ‘para pemimpin gereja’, karena para pemimpin itu, seperti Musa, hanya perantara saja. Didalam gereja, para pemimpin itu seperti “urat2 dan sendi2” didalam tubuh (Kolose 2:19). “Urat2 dan sendi2” bukan harus diikuti dalam tubuh, tetapi SETIAP ANGGOTA TUBUH HARUS MENGIKUTI PIMPINAN HAYAT DALAM TUBUH.

Persoalannya sekarang dalam dunia kekristenan adalah kemuliaan itu telah bergeser karena serangan serigala ganas, seperti yang telah kita bahas. Kemuliaan Kristus didalam batin bergeser menjadi kemuliaan para pemimpin yang tercermin dalam gedung2 serta monumen2. Para pemimpin telah menarik anggota2 Tubuh kepada diri mereka sendiri (Kis. 20:28-30). Itu sebabnya, anggota Tubuh Kristus tidak lagi mengikuti ‘awan kemuliaan TUHAN’ didalam batin mereka, tetapi mengikuti ‘awan Kemuliaan’ para pemimpin denominasi masing2.

Namun, Tuhan Yesus memiliki umat pilihanNya yang “…mengikuti Anak Domba itu kemana saja Ia pergi…” (Wahyu 14:4). Umat pilihanNya tentu menghargai para pemimpin yang ada, tetapi umat pilihanNya tidak mengikuti para pemimpin, tetapi mengikuti Anak Domba kemana saja Ia pergi. Ibadah umat pilihanNya tidak diatur oleh para pemimpin agama dalam dunia kekristenan, melainkan ibadah umat pilihanNya semata-mata mengikuti pimpinan Kristus didalam batin mereka DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI.

Kita teruskan pembahasan kita mengenai ‘Rumah Elohim’ dalam kasus Musa. Mari kita membaca Keluaran 33:7, demikian, “Sesudah itu Musa mengambil kemah dan membentangkannya di luar perkemahan, jauh dari perkemahan, dan menamainya Kemah Pertemuan. Setiap orang yang mencari TUHAN, keluarlah ia pergi ke Kemah Pertemuan yang di luar perkemahan”. Latar belakang mengapa Musa membuat Kemah diluar perkemahan bangsa Israel adalah karena bangsa Israel jatuh kedalam penyembahan ‘Anak Lembu Emas’, ketika Musa sedang berada diatas gunung Sinai (Keluaran 32:1). Sesungguhnya, sejak bangsa Israel jatuh dalam penyembahan ‘Anak Lembu Emas’, mereka tidak lagi beribadah kepada Yahweh, sebagaimana kesaksian Stefanus dalam Kis. 7:42-43. Selama 40 tahun di padang gurun, Israel, “…mengusung kemah Molokh dan bintang dewa Refan, patung-patung yang kamu buat itu untuk disembah...” (ayat 43). Kemah Musa, yang merupakan simbol dari ‘Rumah Elohim’, tidak lagi berada ditengah-tengah bangsa Israel.

Mari kita langsung aplikasikan kasus Musa membuat kemah pertemuan diluar perkemahan ini kedalam dunia kekristenan. Ibrani 13:9-13, menegaskan, “Janganlah kamu disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing. Sebab yang baik ialah, bahwa hati kamu diperkuat dengan kasih karunia dan bukan dengan pelbagai makanan yang tidak memberi faedah kepada mereka yang menuruti aturan-aturan makanan macam itu. Kita mempunyai suatu mezbah...Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita diluar pintu gerbang untuk menguduskan umatNya dengan darahNya sendiri. Karena itu marilah kita pergi kepadaNya diluar perkemahan dan menanggung kehinaanNya”.

Penulis Ibrani dengan tegas berkata bahwa kita mempunyai suatu MEZBAH. Mezbah ini bukanlah mezbah dalam kemah suci Musa, yang hanya merupakan simbol saja. Mezbah ini adalah penggenapan mezbah Musa, karena Yesus datang bukan untuk membatalkan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya. Mezbah ini adalah mezbah korban bakaran, yaitu salib Yesus, sebagai korban penebus dosa. Tetapi, karena Yesus menggenapi hukum Taurat, maka aturan PL bahwa tubuh binatang yang dipersembahkan harus dibakar diluar perkemahan, maka Yesus juga disalibkan diluar perkemahan. Pelayanan Yesus adalah pelayanan diluar perkemahan, walaupun memang ada kehinaannya. Kemudian barulah datang nasihat yang luar biasa ini agar kita pergi kepadaNya diluar perkemahan dan menanggung kehinaanNya.

Bagi kita yang mendapat kasih karunia untuk melihat, maka kita akan tahu bahwa dunia kekristenan penuh dengan aturan2, baik yang dicomot dari aturan PL (persepuluhan, buah sulung, dsb), maupun aturan2 ibadah harus kegedung ini dan itu, serta aturan2 organisasi tiap denominasi. Tetapi, perhatikan nasihat diatas, “Sebab yang baik ialah, bahwa hati kamu diperkuat dengan KASIH KARUNIA dan bukan dengan pelbagai makanan yang tidak memberi faedah kepada mereka yang menuruti ATURAN-ATURAN makanan macam itu”.

Kita mempunyai ‘suatu mezbah’ diluar dunia kekristenan, dan mezbah ini adalah MEZBAH KASIH KARUNIA. Mengapa demikian? Karena di mezbah ini karya keselamatan oleh korban Yesus telah sempurna, dan tidak perlu lagi ditambah oleh aturan2 apapun. Dan kalau kita diperintahkan untuk mengerjakan keselamatan kita (Filipi 2:12-13), itu artinya kita dimampukan oleh kekuatan kasih karunia untuk menjalani keselamatan itu hari lepas hari. Sama sekali bukan kekuatan atau perbuatan kita.

Sesungguhnya, mezbah kasih karunia inilah ‘Rumah Elohim’ itu. Dan, ‘Rumah Elohim’ ini ada diluar perkemahan dunia kekristenan yang penuh aturan agamawi. Gereja, yang adalah ‘Rumah Elohim’ itu bukanlah denominasi, walaupun para pemimpin agama suka menyebut denominasi itu gereja.   

Pembahasan selanjutnya mengenai ‘Rumah Elohim’ dalam konteks Musa adalah perihal perjanjian. Telah kita lihat bahwa ketika Elohim akan membangun Rumah sebagai tempat kediamanNya, maka Ia membuat suatu perjanjian dengan orang atau umat yang dipilihNya. Dalam kasus Yakub, perjanjian yang Elohim buat biasa disebut Perjanjian Abraham atau ‘The Patriarchal Covenant’, karena baik Abraham, Ishak, Yakub, sebagai bapa leluhur Israel, mewarisi janji yang sama. Kepada umat Israel yang diperantarai Musa, Elohim juga membuat suatu perjanjian yang biasa disebut ‘The Sinai Covenant’ atau Perjanjian Lama.

Perlu ditegaskan disini bahwa ‘Rumah Elohim’ yang akan dibangun serta pemaknaannya sangat tergantung konteks perjanjiannya. Dalam konteks Yakub dan Musa, memang ‘Rumah Elohim’ yang dibangun sama-sama berupa lambang, simbol dan nubuat. Tetapi, karena perjanjian yang Elohim buat kepada Yakub dan Musa berbeda, maka ‘Rumah Elohim’ yang dibangun Yakub dan Musa juga berbeda.

Baiklah kita perhatikan perjanjian yang Elohim buat dengan bangsa Israel yang diperantarai Musa. Perjanjian ini tertulis dalam Keluaran 20-40. Firman perjanjian ini dirangkum dalam sepuluh perintah, dan tentu saja ditambah dengan ketetapan2 serta peraturan2 lainnya, termasuk didalamnya petunjuk untuk mendirikan Kemah Suci.

Mengenai Kemah Suci ini, Elohim berfirman, “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagiku, supaya Aku akan diam ditengah-tengah mereka” (Keluaran 25:8). Jelas dari ayat ini bahwa Kemah Suci itu hanya merupakan simbol dari kehadiran Elohim ditengah-tengah umatNya. Dan, kehadiran Elohim itu menimbulkan pengalaman2 rohani bagi umatNya. Pengalaman2 rohani ini dilambangkan oleh segala perabot Kemah Suci, tetapi kita tidak membicarakannya sekarang. Yang kita tegaskan sekarang adalah Kemah Suci itu simbol kehadiran Elohim ditengah-tengah umatNya.

Dalam konteks Perjanjian Baru, Kemah Suci itu adalah tubuh orang percaya. Pertama-tama, Yesus menegaskan bahwa Bait Elohim itu adalah tubuhNya sendiri (Yohanes 2:21). Paulus juga menegaskan dalam I Korintus 6:19, demikian, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu…”. Memelihara atau membangun Rumah Elohim dalam konteks PB adalah memelihara tubuh kita sendiri. Itu sebabnya Paulus berkata, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (I Korintus 9:27). Istilah ‘melatih’ yang digunakan Paulus disini adalah ‘hupopiazo’, suatu kata kerja yang berarti ‘dicipline by hardship’. Jadi, Paulus benar-benar sadar bahwa tubuhnya adalah bait Roh Kudus yang harus dijaga, dipelihara dan dikuasai seluruhnya.

Tetapi, pengertian melatih tubuh ini bukan saja dengan suatu latihan badani, karena latihan badani ini terbatas gunanya, namun Paulus tegaskan bahwa ibadah itu berguna dalam segala hal (I Timotius 4:8). Ibadah didalam ‘Rumah Elohim’ yang adalah tubuh kita ini, sesungguhnya merupakan pertumbuhan dalam pengalaman2 rohani yang disimbolkan oleh perabot2 Kemah Suci Musa. Semakin bertumbuh kita dalam pengalaman2 rohani bersamaNya, semakin kita dapat memelihara dan menguasai tubuh kita ini.

Jadi, dalam konteks perjanjian Musa, ‘Rumah Elohim’ adalah Kemah Suci dimana Dia berdiam didalamnya, tetapi dalam konteks Perjanjian Baru, ‘Rumah Elohim’ adalah tubuh kita dimana Roh Kudus berdiam didalam batin kita.

Kita masih terus berbicara mengenai ‘Rumah Elohim’ dalam konteks Musa dengan memperhatikan pengalaman2 rohani yang terjadi terhadap orang atau umat yang dipilihNya. Dalam kasus Yakub kita lihat bahwa Yakub mamahami kehadiran Elohim dan merasakan takut, serta perasaan “dahsyat” di ‘Rumah Elohim’ (Kejadian 28:16-17). Musa sendiri mengalami perasaan takut, dan bahkan tidak dapat memasuki Kemah Suci ketika awan kemuliaan Elohim memenuhi Kemah Suci (Ibrani 12:18-21; Keluaran 40:35).

Setiap orang atau umat yang dipilihNya untuk membangun dan memelihara “Rumah Elohim’ pasti mengalami ‘pengalaman2 rohani’ didalam ‘Rumah Elohim’. Tetapi, kita harus berhati-hati dalam hal ‘pengalaman rohani’ didalam ‘Rumah Elohim’ ini, karena tidak dapat disangkal bahwa pengalaman rohani itu bersifat subyektif, artinya setiap orang bisa saja mengalami pengalaman2 yang berbeda. Namun demikian, Alkitab mewahyukan kepada kita suatu patokan2 atau tolok ukur untuk menguji pengalaman2 rohani tertentu, apakah pengalaman2 rohani tertentu itu disebabkan kehadiran Elohim didalam RumahNya (perjumpaan dengan Elohim), atau tidak.

Perabot2 dalam Kemah Suci atau ‘Rumah Elohim’ dalam konteks Musa, sesungguhnya merupakan simbol2 bagi pengalaman2 rohani. Jadi, perabot tertentu dalam Kemah Musa menggambarkan suatu pengalaman rohani tertentu pula bersama Elohim. Kita tidak membahas perabot2 Kemah Suci sekarang, tetapi yang akan kita tekankan bahwa setiap pengalaman rohani bersama Elohim didalam RumahNya, pasti memiliki dasar tertentu yang disimbolkan oleh perabot Kemah Suci tertentu juga.

Perkara ‘pengalaman rohani’ ini menjadi penting untuk kita bahas karena didalam dunia kekristenan, ada beberapa aliran yang menekankan suatu pengalaman rohani tertentu sebagai tanda “kepenuhan Roh”, misalnya mengucapkan suatu kata-kata tertentu yang mereka sebut bahasa roh, atau ‘rebah dalam roh’, atau muntah2, atau ‘tawa kudus’, atau tergoncang-goncang tubuh seseorang, dan sebagainya. Semua “pengalaman rohani” seperti ini didalam ‘Rumah Elohim’ ini tidak boleh langsung diterima begitu saja tanpa memperhatikan dasar Alkitabnya.

Tetapi juga jangan sampai jatuh kedalam ekstrim lain yang menekankan bahwa asal memegang atau memahami doktrin tertentu, maka itu sudah cukup tanpa memperhatikan pengalaman rohani apapun. Yang penting memegang doktrin yang benar, pengalaman rohani serahkan saja kepada Tuhan, kata mereka. Kedua pandangan ini perlu diuji dengan serius, karena disepanjang Alkitab kita melihat bahwa seseorang pasti mengalami pengalaman tertentu jika ‘berjumpa dengan Elohim’ atau berkontak dengan kehadiran Elohim didalam RumahNya. Satu contoh saja mengenai Musa ketika Elohim memilihnya. Musa tidak langsung diberi hukum Taurat untuk diajarkan kepada Israel, tetapi Musa mengalami “pengalaman semak duri” lebih dahulu (Keluaran 3:2).

Untuk saat ini, mari kita melihat pengalaman rohani terkait dengan perjanjian yang berlaku. Kita sudah membahas perjanjian Musa dengan ringkas. Perbedaan menyolok antara perjanjian Musa dengan perjanjian yang dibuat Yesus (PB) adalah perjanjian Musa itu merupakan simbol, nubuat dan bayangan serta ‘bersifat lahiriah’, sedangkan PB merupakan penggenapan PL dan ‘bersifat batiniah’. Jadi, secara umum, perbedaan pengalaman2 rohani dalam PL dan PB adalah yang satu bersifat lahiriah, dan yang lain bersifat batiniah.

Jadi, salah satu cara untuk menguji ‘pengalaman2 rohani’ dalam dunia kekristenan adalah apakah ‘pengalaman2 rohani tertentu itu mengubah batin seseorang’. Apakah orang Kristen itu semakin mencintai Elohim, semakin mengenal Elohim, semakin menikmati pewahyuan firman Elohim didalam batinnya, semakin bertumbuh ‘Kristus didalam batinnya’, semakin terfokus kepada perkara2 batiniah, atau tidak. Jika memang pengalaman2 rohani yang selama ini dialaminya malah membuatnya semakin cinta dunia, cinta kekayaan, cinta kemuliaan manusia, maka kita sudah tahu bahwa “pengalaman rohaninya” selama ini keliru dan palsu.

Saat ini kita akan membahas perabot2 dalam Kemah Suci atau ‘Rumah Elohim’ dalam konteks Musa, dimana perabot2 ini merupakan simbol bagi pengalaman2 rohani. Perabot tertentu dalam Kemah Musa menggambarkan suatu pengalaman rohani tertentu pula bersama Elohim. Kita tahu bahwa Kemah Suci Musa terdiri dari tiga bagian, yaitu pelataran, ruang kudus, serta ruang maha kudus. Pada pelataran Kemah Suci terdapat ‘Mezbah Tembaga’, dan ‘Bejana Pembasuhan’. Pada ruang kudus terdapat ‘Meja Roti Sajian’, ‘Kaki Pelita Emas’, serta ‘Mezbah Dupa’. Pada ruang maha kudus ada ‘Tabut Perjanjian’ dimana didalamnya terdapat Tongkat Harun, Loh Perjanjian, serta Wadah yang berisi Manna.

Kita tidak membahas dengan rinci pengalaman2 rohani tertentu yang disimbolkan oleh perabot tertentu, tetapi kita akan menguraikan pengalaman2 rohani ini secara garis besar saja. Beberapa fakta harus dipahami dahulu sebelum masuk kedalam pembahasan kita. Pertama, ‘Mezbah Tembaga’ yang berada dipelataran Kemah Suci adalah demikian besar sehingga seluruh perabot yang lainnya dapat masuk kedalam ‘Mezbah Tembaga’ ini. Kedua, seluruh perabot Kemah Suci diurapi dengan minyak (Keluaran 30:26-29). Ketiga, Kemah Suci yang terdiri dari pelataran, ruang kudus, dan ruang maha kudus ‘bersesuaian’ dengan penggenapan tiga hari raya utama Israel yaitu Paskah, Pentakosta, dan Tabernakel.

Baiklah kita perhatikan fakta2 ini. ‘Mezbah Tembaga’ merupakan simbol dari penebusan Salib Yesus. Mezbah Tembaga yang demikian besar sehingga dapat menampung seluruh perabot Kemah Suci berbicara mengenai kesempurnaan penebusan Salib Yesus, dimana seluruh pengalaman2 rohani lainnya sudah tercakup kedalam ‘pengalaman Salib Yesus’. Penebusan Yesus sudah sempurna, dan tidak perlu ditambah oleh apapun juga. Jadi, jika seseorang telah percaya kepada penebusan Yesus dikayu Salib dan diselamatkan, maka keselamatannya telah sempurna dan tidak perlu ditambah oleh pengalaman2 rohani lainnya agar keselamatannya menjadi sempurna. Tentu saja orang percaya akan bertumbuh dalam pengalaman2 rohani lainnya, tetapi hal itu tidak menyempurnakan keselamatannya.

Hal kedua yang perlu kita perhatikan bahwa seluruh perabot Kemah Suci diurapi dengan minyak. Minyak merupakan simbol Roh Kudus. Artinya, seluruh pengalaman rohani yang disimbolkan oleh perabot2 merupakan ‘pengalaman2 dengan Roh Kudus’. Tegasnya, semua pengalaman rohani terjadi karena Roh Kudus ‘yang memberikan’ pengalaman2 rohani itu kepada orang percaya. Pengalaman rohani yang sejati selalu terjadi KARENA ROH KUDUS MEMBERIKAN PENGALAMAN ITU KEPADA ORANG PERCAYA. Fakta ini jangan dibalik. Jangan kita berkata karena sikap atau perbuatan atau respon tertentu dari orang percaya maka ia mengalami pengalaman bersama Roh Kudus. Semua pengalaman rohani semata-mata adalah kasih karunia.

Fakta ketiga dimana Kemah Suci terdiri dari tiga bagian, merupakan penggenapan tiga hari raya Israel yaitu, Paskah, Pentakosta, dan Tabernakel. Penggenapan hari raya Paskah membuat murid2 menerima Roh Kudus setelah kematian dan kebangkitan Yesus (Yohanes 20:22). Penggenapan hari raya Pentakosta membuat murid2 menerima pencurahan Roh Kudus sebagai ‘panjar atau garansi atau jaminan’ saja (Efesus 1:14). Penggenapan hari raya Tabernakel membuat murid2 akan menerima pencurahan Roh Kudus ‘tanpa batas’, dan akan ditampilkan kepada seluruh makhluk (Roma 8:19-21). Penggenapan hari raya Tabernakel ini tentu belum terjadi.

Semua pengalaman bersama Roh Kudus ini terjadi dibumi, karena Elohim akan mendirikan RumahNya dibumi. Para pemimpin agama dalam dunia kekristenan telah membuat orang2 percaya merindukan “pengalaman dievakuasi ke sorga nun jauh disana” dimana orang hanya nyanyi2 saja… Sementara kerajaan sorga turun kebumi, orang2 percaya ingin lari meninggalkan bumi, karena tertipu oleh khotbah2 yang menyesatkan… 

Telah kita uraikan pengalaman2 rohani secara garis besar terkait tiga bagian Kemah Musa, yaitu ‘pelataran’ (pengalaman lahir baru dan menerima Roh Kudus, atau Roh pemberi Hayat), ‘ruang kudus’ (pencurahan Roh Kudus sebagai jaminan), ‘ruang maha kudus’ (menerima Roh Kudus tanpa batas). Saat ini kita akan membahas pengalaman2 rohani tertentu yang disimbolkan oleh perabot tertentu.

Perabot pertama yang kita bahas tentu ‘Mezbah Tembaga’, yang merupakan simbol dari penebusan Yesus dikayu Salib. Tembaga didalam Alkitab berbicara mengenai penghakiman. ‘Mezbah Tembaga’ ini terbuat dari kayu yang dilapisi tembaga. Kayu merupakan simbol kemanusiaan kita yang telah jatuh dalam dosa. Jadi, ‘Mezbah Tembaga’ ini berbicara mengenai dosa-dosa kita yang dihakimi, namun Yesus yang menjalankan penghakiman Elohim yang seharusnya jatuh atas kita. Semua dosa kita telah dihakimi secara sempurna melalui pengorbanan Yesus dikayu Salib. Itu sebabnya, kita tidak lagi disebut ‘orang berdosa’ melainkan ‘orang kudus’, yaitu orang yang dipisahkan semata-mata untuk maksud dan rencana Elohim.

Perabot selanjutnya adalah ‘Bejana Pembasuhan’. Hal ini berbicara mengenai baptisan air. Dibeberapa negara tertentu, jika seseorang hanya percaya Yesus saja, tetapi belum dibaptis air, maka ia tidak mengalami “penolakan” atau “aniaya”, karena dianggap belum sepenuhnya terpisah bagi Elohim. Tetapi setelah ia mengalami pengalaman baptisan air, maka ia akan mengalami penolakan. Jadi, ‘Bejana Pembasuhan’ berbicara pengalaman seseorang dibaptis air. Namun demikian, ‘Bejana Pembasuhan’ juga berbicara mengenai pengalaman dengan ‘Roh pemberi Hayat’, dimana hari lepas hari, seseorang mengalami “pembasuhan air Hayat” dan bertumbuh terus dalam pengalaman dengan Roh Kudus.

Kemudian, kita masuk kedalam ruang kudus dimana terdapat ‘Meja Roti Sajian’. Pada ‘Meja Roti Sajian’ terdapat 12 roti yang disusun 2 baris. Angka 12 didalam Alkitab berbicara mengenai pemerintahan atau otoritas. Roti jasmani melambangkan firman Tuhan yang hidup. Jadi, ‘Meja Roti Sajian’ berbicara mengenai pengalaman orang percaya untuk belajar tunduk kepada otoritas firman.

Tetapi, orang percaya juga perlu belajar tunduk kepada ‘pemerintahan Ilahi’ diatasnya. Karena saat ini gereja, yang awalnya menjalankan kepemimpinan tubuh (organisme), telah pecah menjadi ribuan denominasi, dimana denominasi itu menjalankan kepemimpinan “hierarki” (sistem kepemimpinan manusiawi), maka kita harus sangat berhati-hati menerapkan ayat2 Alkitab yang berbicara tentang penundukkan diri kepada pemimpin. Tentu saja, para pemimpin denominasi, umumnya, senang mencomot ayat2 mengenai penundukkan diri kepada pemimpin. Dalam dunia kekristenan yang telah jatuh menjadi puluhan ribu denominasi ini, telah diajarkan ajaran2 penundukkan diri seperti “tudung rohani” atau ajaran2 semacamnya yang tidak lain adalah ajaran sesat ‘Nikolaus’ (Wahyu 2:6,15). Kita tidak membahas lebih jauh perbedaan kepemimpinan gereja (organisme) dan kepemimpinan denominasi (hierarki), karena sudah kita bahas ditempat lain.

Kita telah sampai kepada ‘ruang kudus’ dari Kemah Musa dimana terdapat tiga perabot didalamnya., yaitu ‘Meja Roti Sajian’, ‘Kaki Pelita Emas’, dan ‘Mezbah Dupa’. Kita telah membahas ‘Meja Roti Sajian’, dan saat ini kita lanjutkan dengan ‘Kaki Pelita Emas’.

Kaki Pelita Emas’ atau disebut ‘Kandil’ terbuat seluruhnya dari emas (Keluaran 37:17-24). Seluruh perabot didalam ‘ruang kudus’ disalut atau dibuat dari emas. Tidak ada tembaga didalam ‘ruang kudus’ yang melambangkan penghakiman, karena penghakiman atas dosa2 telah sempurna dilakukan Yesus dikayu Salib, yang kita tahu dilambangkan oleh ‘Mezbah Tembaga’ dipelataran Kemah Suci. Emas didalam Alkitab melambangkan sifat dasar Elohim. Jadi, didalam ‘ruang kudus’ kita mengalami pengalaman bertumbuh dalam ‘sifat dasar Elohim’. ‘Sifat dasar’ kita yang berdosa telah diselesaikan sempurna pada ‘Mezbah Tembaga’. Didalam ‘ruang kudus’ ini kita mengalami pengalaman ‘pencurahan Roh Kudus’.

Pada ‘Kaki Pelita Emas’ ini ada enam cabang timbul dari sisinya, dan dibuat ada tujuh lampunya. Jika kita perhatikan penglihatan nabi Zakharia, maka ada dua terang atau lampu lagi (Zakharia 4:2-5). Jadi, total ada 9 lampu/terang. Hal ini melambangkan 9 karunia2 Roh Kudus seperti tertulis dalam I Korintus 12:8-11. Tidak ada satupun dari karunia ini yang lebih baik dari yang lain. Semua karunia ini diberikan oleh Roh Kudus sebagaimana yang dikehendakiNya, dan untuk tujuan pembangunan masing2 anggota serta tubuh Kristus. Yang harus selalu diingat adalah pengalaman dengan karunia2 Roh Kudus ini bertujuan agar kita bertumbuh dalam ‘sifat dasar Elohim’ (simbol dari emas). Jika kita memperlakukan karunia2 Roh Kudus untuk menonjolkan diri, apalagi “memperdagangkan” atau mengambil keuntungan dari karunia2 tertentu seperti kesembuhan, mujizat, nubuat, maka kita belum memahami ‘sifat dasar Elohim’ (emas) itu. 

Perabot selanjutnya dari ‘ruang kudus’ adalah ‘Mezbah Dupa’ (Keluaran 37:25-29). ‘Mezbah Dupa’ ini bukan untuk korban penebus dosa, karena korban penebus dosa telah disimbolkan oleh ‘Mezbah Tembaga’. Tetapi, ‘Mezbah Dupa’ ini untuk mempersembahkan wangi2an yang berkenan kepada Elohim (ayat 29). Pengalaman ‘Kristus mati bagi kita’ disimbolkan oleh ‘Mezbah Tembaga’, namun pengalaman ‘kita mati bersama Kristus’ disimbolkan oleh ‘Mezbah Dupa’. Pengalaman ‘kita mati bersama Kristus’ ini diuraikan oleh Paulus dalam Roma pasal 6. Kita mengalami ‘identifikasi diri’ bersama Kristus dalam kematian dan kebangkitanNya. Pengalaman ‘identifikasi diri’ ini membuat kita mempersembahkan dupa yang harum/wangi2an kehadapan Elohim. Pengalaman ini seperti pengalaman Maria memecahkan buli2 serta “meminyaki kaki Yesus”, dan bau harum semerbak diseluruh rumah itu (Yohanes 12:3).

Pada peristiwa lain Yesus berkata, “…Maria telah memilih bagian yang terbaik…” (Lukas 10:42). Didalam peristiwa ini kita lihat Marta begitu sibuk melayani. Hal ini bukanlah tidak baik, tetapi bukan yang terbaik. Kalau kita perhatikan mengapa Maria memecahkan buli2 dikaki Yesus adalah karena ia memang suka, “…duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya…” (Lukas 10:39), sementara Marta sibuk melayani. Dan Yesus menegaskan bahwa yang dilakukan Maria itu yang terbaik.

Dalam dunia kekristenan, kita sering mendengar orang berbicara mengenai “buah pelayanan”. Yang dimaksud tentu jumlah jiwa2 yang kita menangkan dan layani, atau barangkali pelayanan membuat rumah sakit, sekolah, panti jompo, atau pelayanan khotbah dimana-mana, dan sebagainya. Semua ini baik walaupun bukan yang terbaik. Yang terbaik adalah “duduk dekat kaki Tuhan” dan terus mendengarkanNya, seperti yang dilakukan Maria. Tegasnya, lebih baik mendengarkan Tuhan dari pada sibuk melayani.

Saat ini kita membahas perabot di ruang maha kudus dari Kemah Musa. Didalam ruang maha kudus ini hanya ada satu perabot yaitu ‘Tabut Perjanjian’. Ruang maha kudus ini menggambarkan Hayat Elohim sendiri. Pengalaman diruang maha kudus ini dialami seseorang sesaat ketika ia melalui pengalaman ‘Mezbah Dupa’ di ruang kudus, yang telah kita bahas.

Tidak ada kegelapan diruang maha kudus, hanya ‘terang penuh’ yang disebabkan awan kemuliaan Tuhan memenuhi seluruh ruangan. Sementara, diruang kudus, hanya ada ‘terang sebagian’ yang berasal dari ‘Kaki Pelita Emas’ yang merupakan simbol karunia2 Roh Kudus. Jadi, diruang maha kudus, kita lihat ada ‘terang penuh’, sementara diruang kudus kita lihat ‘terang sebagian’. Hal ini memang terjadi karena pengalaman pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta itu, yang disertai kuasa dan karunia2 Roh Kudus, merupakan pengalaman menerima Roh Kudus yang hanya “jaminan” saja (Efesus 1:14, istilah Yunani, ARRABON = jaminan, panjar, down payment, atau pemberian sebagian saja). Pemberian Roh Kudus sepenuhnya terjadi ketika penggenapan hari raya Tabernakel.

‘Tabut Perjanjian’ merupakan lambang dari ‘Perjanjian Elohim’ dengan umatNya. Tabut ini terbuat dari kayu, yang berbicara kemanusiaan, tetapi dilapisi emas baik diluar maupun didalam. “Kayu” ini sudah mengalami proses disiplin Roh Kudus sedemikian sehingga tidak terlihat lagi karena tertutupi oleh “emas” yang adalah sifat dasar Elohim. Kayu ini sangat berbeda dengan ‘kayu yang dilabur putih’ seperti yang pernah ditujukan Yesus kepada para pemimpin agama zamanNya (Matius 23:27). Istilah Yunani TAPHOS diayat ini, yang biasa diterjemahkan ‘kuburan’, juga bermakna ‘peti mati’ (Inggris, sepulcher). Jadi, Yesus menegor para pemimpin agama dizamanNya dengan sebutan seperti ‘peti mati yang dilabur putih’.

Mengapa kita perlu melihat perbedaan ‘tabut Perjanjian’ yang disalut emas, dengan ‘peti mati yang dilabur putih’? Hal ini penting karena terkait dengan Perjanjian Baru yang dibuat Yesus dimalam terakhir. Ada fakta menarik dimana ketika Yesus membuat Perjanjian Baru (disimbolkan oleh cawan, Lukas 22:20) dengan murid2Nya dimalam terakhir, Yudas yang telah “menjual” Yesus masih ada dimeja bersamaNya. Tetapi ketika Yesus memberi perintah (Hukum Perjanjian Baru) kepada murid2Nya, Yudas sudah pergi (Yohanes 13:31-35). Jadi, Yudas memang terlibat dalam Perjanjian Baru yang dibuat Yesus, tetapi tidak mengerti sama sekali mengenai Hukum Perjanjian Baru.

Mari kita terapkan fakta2 ini kedalam dunia kekristenan. Perjanjian Baru yang dibuat Yesus dimalam terakhir dengan murid2Nya itu memiliki Hukumnya sendiri. Perjanjian Musa itu hukumnya adalah Hukum Taurat. Perjanjian Baru yang dibuat Yesus itu hukumnya adalah ‘hukum kasih’ atau ‘hukum Roh’ atau ‘hukum Roh pemberi Hayat’. Hukum beribadah didalam Perjanjian Baru itu adalah ibadah dalam roh, dan bukan hukum beribadah “digunung ini atau itu” (Yohanes 4:21-24).

Yudas yang telah “menjual” Yesus memang terlibat dalam Perjanjian Baru, namun ia tidak mengerti sama sekali tentang Hukum Perjanjian Baru. Para pemimpin agama yang “mempermainkan” Hukum Perjanjian Baru dengan mengajari murid2 Tuhan tentang hukum persepuluhan, hukum buah sulung, atau hukum beribadah dimana orang harus datang kegedung ini atau itu, memang seperti “peti mati yang dilabur putih” yang bekerja sama dengan Yudas.

Jika, oleh pimpinan Roh Kudus, kita masuk kedalam ruang maha kudus, serta mulai mengalami pengalaman ‘Tabut Perjanjian’, maka kita tidak akan bermain-main dengan Perjanjian Baru, maupun Hukum Perjanjian Baru.

Kita masih membahas “Tabut Perjanjian’ yang ditempatkan diruang maha kudus, dimana didalamnya terdapat ‘tongkat Harun’, ‘buli-buli berisi manna’, dan ‘2 loh batu’. Kita akan memulai dengan ‘tongkat Harun’. Cerita mengenai ‘tongkat Harun’ ini terjadi ketika para pemimpin Israel mempertanyakan kepemimpinan Musa, dan juga Harun atas umat Tuhan (Bilangan 16-17). Untuk membuktikan pilihan Yahweh atas Harun, maka dari seluruh suku Israel harus memberikan satu tongkat, dan Yahweh berkata tongkat siapa yang bertunas, dialah yang Kupilih (Bilangan 17:5). Kemudian, kita tahu, bahwa tongkat Harunlah yang bertunas.

Ada satu fakta menarik dimana ‘tongkat Harun’ ini tidak ada lagi didalam ‘Tabut Perjanjian’ yang ditempatkan dalam Bait Suci Salomo (I Raja-Raja 8:9). Mengapa demikian? ‘Tongkat’ itu sebenarnya simbol dari otoritas kepemimpinan manusia, sekalipun memang manusia itu dipilih Tuhan. Tetapi, dalam ‘orde Kerajaan’, maka tidak ada lagi otoritas kepemimpinan manusia. Perihal ‘tongkat Harun’, atau ‘kursi Musa’ ini sangat penting untuk dipahami oleh umat kerajaan dalam dunia kekristenan saat ini. Sesungguhnya, karena perihal “tongkat” inilah gereja pecah menjadi puluhan ribu denominasi seperti yang kita lihat sekarang.

Mari kita perhatikan baik-baik perkataan Yesus dalam Matius 23:1-12. Tentu kita tidak mengutip semua ayat ini, namun beberapa ayat perlu kita simak dengan baik, “…berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-muridNya…ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu… Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara… janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias….Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”.

Disini jelas Yesus sedang berbicara kepada dua kelompok manusia, pertama, ‘orang banyak’, dan kedua, ‘murid-muridNya’. Orang banyak yang dimaksud disini adalah bangsa Israel secara keseluruhan yang berada dibawah kepemimpinan Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin), dimana didalamnya terdapat ahli2 Taurat dan orang2 Farisi. Sekalipun memang ‘orang banyak’ ini sering mengikuti Yesus, tetapi mereka tidak dikategorikan sebagai murid2Nya. Kepada ‘orang banyak’ ini Yesus tegas berkata supaya mereka jangan memberontak kepada ahli2 Taurat dan orang-orang Farisi, melainkan harus menuruti ajarannya, walaupun jangan diikuti kelakuannya. Mengapa harus dituruti? Karena mereka memiliki ‘kursi Musa’, artinya mereka mempunyai OTORITAS KEPEMIMPINAN.

Selanjutnya pada ayat 8, Yesus berbicara kepada murid2Nya demikian, ‘TETAPI KAMU…janganlah disebut rabi, bapa, atau pemimpin, karena KAMU SEMUA ADALAH SAUDARA’. Apa makna perkataan Yesus ini? Kita tahu bahwa Yesus memberitakan kerajaan sorga. Sebagai umat kerajaan (murid2Nya), tidak ada “kursi Musa”. TIDAK ADA OTORITAS KEPEMIMPINAN MANUSIA KARENA KITA SEMUA SAUDARA.

Kalau demikian, apakah tidak ada pemimpin dalam gereja? Tentu saja ada rasul, nabi, penginjil, gembala, pengajar, para penatua, para diaken, tetapi mereka semua tidak memiliki otoritas apapun atas umat Tuhan. TIDAK ADA JABATAN, TIDAK ADA HIERARKI, TIDAK ADA SISTEM PEMERINTAHAN MANUSIA DIDALAM UMAT KERAJAAN.

Mengapa dunia kekristenan penuh dengan jabatan2, serta otoritas pemimpin dengan segala kemuliaan dan fasilitas yang menyertainya? Penyakitnya jelas adalah kesombongan, yaitu meninggikan diri (ayat 12). Para pemimpin ini menarik murid2 Tuhan supaya mengikuti mereka (Kis. 20:29-30). Mereka tidak menjadi ‘pelayan’ yang hanya memperlengkapi umat Tuhan seperti tertulis dalam Efesus 4:11-12. Tetapi, para pemimpin ini meninggikan diri dan merampas otoritas gereja, yang sebenarnya hanya dimiliki Yesus, sang Mesias. Tetapi, firman Tuhan pasti digenapi. Siapa yang meninggikan diri, dia akan direndahkan. Ketika Yesus datang kembali untuk menegakkan kerajaanNya dibumi, maka umat Kerajaan yang merendahkan diri, akan diberi otoritas untuk memerintah dan menghakimi dibumi (Wahyu 5:10; 20:4). Dan, para pemimpin yang telah merampas otoritas Yesus atas umatNya akan direndahkan.

Kita masih membahas “Tabut Perjanjian’ yang ditempatkan diruang maha kudus, Kemah Suci Musa. Saat ini kita akan membahas ‘buli-buli berisi manna’. Buli-buli ini terbuat dari tanah liat, namun dilapisi emas diluar maupun didalamnya. Hal ini berbicara mengenai kemanusiaan kita (tanah liat) yang telah ‘ditutupi” oleh sifat dasar Elohim (emas), karena pengalaman di ruang maha kudus bukanlah soal kekuatan manusiawi, tetapi kekuatan sifat dasar Elohim yang diterima karena kita mendapat disiplin kasih karuniaNya.

Buli-buli ini berisi ‘manna’ yang dimakan oleh generasi pertama Israel selama perjalanan 40 tahun di padang gurun. Tetapi, ‘manna’ yang ditempatkan diruang maha kudus merupakan “manna yang tersembunyi” yang diberikan kepada para pemenang zaman gereja dalam Wahyu 2:17. Jelaslah bahwa menikmati “manna yang tersembunyi” ini tidak sama dengan “pengalaman padang gurun” generasi pertama Israel. ‘Manna yang tersembunyi’ ini adalah pengalaman menikmati persekutuan dengan Elohim di ruang maha kudus, atau “makan Tuhan” diruang maha kudus.  

Baiklah kita perhatikan pengalaman 12 pengintai yang diutus Musa ke tanah Kanaan dari padang gurun Paran (Bilangan 13-14). Setelah mengintai tanah Kanaan, sepuluh orang diantaranya berkata, “…Kita tidak bisa maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita” (13:31). Tetapi, Yosua dan Kaleb berkata, “…mereka akan kita telan habis…” (14:9). Istilah ‘telan’ yang diterjemahkan dari istilah Ibrani, ‘lechem’ ini berarti ‘roti’ atau ‘makanan’. Bagi Yosua dan Kaleb, segala rintangan, masalah bahkan penderitaan untuk merebut tanah Kanaan merupakan “roti” atau “makanan”. Yosua dan Kaleb memiliki roh dan semangat yang berbeda. Mereka mengikuti Yahweh dengan segenap hati. Itu sebabnya, bagi Yosua dan Kaleb, segala rintangan dan kesusahan itu adalah makanan atau roti. Sesungguhnya, mereka sudah makan “manna yang tersembunyi” itu. Dari 600.000 ribu pasukan generasi pertama, hanya keluarga Yosua dan Kaleb yang masuk ke tanah Kanaan, serta tentu dengan generasi kedua yang lahir di padang gurun.

Mari kita terapkan pengalaman Yosua dan Kaleb kedalam kondisi dunia kekristenan saat ini, sebab dalam dunia kekristenan itu ‘banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih’. Dan kita tahu para pemenang adalah mereka yang mendapat kasih karunia untuk dipanggil, dipilih dan setia (Wahyu 17:14). Para pemenang ini diberikan “manna yang tersembunyi” oleh Tuhan Yesus (Wahyu 2:17). Para pemenang makan “manna yang tersembunyi”, sedangkan mereka yang hanya terpanggil makan “manna” dipadang gurun.

Perihal “makan” ini sebenarnya soal menerima berkat persekutuan dengan Tuhan (Wahyu 3:20). Para pemimpin agama dalam dunia kekristenan nampaknya menekankan bahwa untuk menerima berkat persekutuan dengan Tuhan, maka orang harus setia berkumpul digedung atau komsel, atau pertemuan2 lainnya yang mereka atur. Bahkan, kadang ditekankan juga supaya jangan keluar dari perkumpulan, sebab nanti diterkam “serigala”. Tentu, para pemimpin agama ini mengutip ayat2 tertentu, atau ajaran2 tertentu untuk tetap mendapatkan “pengunjung setia”. Kita tidak perlu menguraikan motivasi para pemimpin agama ini, walau tentu kita mengetahuinya, namun yang menjadi persoalan adalah ada suatu kebenaran tersembunyi atau “manna tersembunyi” yang tidak diketahui oleh orang2 percaya umumnya, bahkan mungkin para pemimpin itu juga.

Sesungguhnya, “manna tersembunyi” ini ada didalam batin orang percaya. Yesus menegaskan kepada mereka yang percaya padaNya bahwa, “…Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yohanes 7:38). Rasul Yohanes juga menekankan bahwa, “…didalam diri kamu tetap ada pengurapan… Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain…” (I Yohanes 2:27). Christ in you, the hope of glory. The kingdom of God is within you. Pengajaran para pemimpin agama mengenai ‘berkat kumpul2’ telah menyebabkan orang percaya tidak sadar bahwa berkat spesial “manna tersembunyi” itu ada didalam mereka. Bahkan, orang percaya menjadi takut untuk ‘menggali sendiri’ sumber air hidup didalam batin mereka. Orang percaya menjadi tergantung kepada para pemimpinnya. Tetapi, mereka yang mendapat kasih karunia untuk menjadi pemenang akan menggali sumber air hidup didalam batinnya. Senantiasa menikmati “manna tersembunyi” yang tak habis-habis didalam batinnya.

Kita masih membahas “Tabut Perjanjian’ yang ditempatkan diruang maha kudus, Kemah Suci Musa. Sejauh ini kita telah menguraikan pengalaman2 rohani didalam ‘Rumah Elohim’ yang disimbolkan oleh perabot2 Kemah Suci. Roh Kuduslah yang memimpin kita dalam semua pengalaman ini karena seluruh perabot diurapi oleh minyak (Roh Kudus). Jadi, dalam membangun RumahNya, Elohim memberikan pengalaman2 rohani kepada orang atau komunitas yang dipilihNya. Saat ini kita akan membahas pengalaman yang disimbolkan oleh ‘2 loh batu’ yang ditempatkan didalam ‘Tabut Perjanjian’, dimana kita tahu bahwa ‘Tabut Perjanjian’ berada dalam ruang maha kudus.

‘2 loh batu’ ini berisi sepuluh perintah Tuhan. Banyak orang Kristen menyangka bahwa pengalaman rohani yang disimbolkan oleh ‘2 loh batu’ itu adalah suatu pengalaman dimana kita ‘harus melakukan’ dan ‘berjuang untuk mentaati’ sepuluh hukum Tuhan. Jika pengertian kita seperti ini, maka tidak seorangpun dari kita dapat melakukannya. Pengalaman kita atas “2 loh batu” menjadi pengalaman kegagalan demi kegagalan. Bukan demikian pengalaman rohani yang disimbolkan oleh ‘2 loh batu’ itu.

Baiklah kita baca Ibrani 8:10, demikian, “…untuk memberikan hukum-hukumKu kedalam akal budi mereka dan Aku akan menuliskannya pada hati mereka…” (ILT). Jadi, pengalaman rohani yang disimbolkan oleh ‘2 loh batu’ didalam ruang maha kudus ini adalah suatu pengalaman dimana Roh Kudus “menuliskan” hukum2Nya kedalam batin kita. Ini bukan pengalaman ‘AKU HARUS MELAKUKAN’, tetapi suatu pengalaman dimana Roh Kudus sendiri bekerja didalam batin kita sedemikian sehingga ‘SECARA ALAMIAH’ kita menjalankan hukum2 Tuhan. Bukan “kerja keras” kita dalam berusaha melakukan hukum2 Tuhan, tetapi “tanpa kekuatan daging” kita menjalankan hukum2 Tuhan.

Mari kita perhatikan Yohanes 6:28-29, demikian, “…Apakah yang kami perbuat supaya kami dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Elohim?... Inilah pekerjaan Elohim, yaitu supaya kamu dapat percaya kepadaNya…” (ILT). Kita lihat disini, orang2 Yahudi berpikir untuk dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Elohim, maka mereka ‘HARUS BERBUAT. Tetapi, Yesus menegaskan mengenai pekerjaan Elohim, yaitu ‘SUPAYA MEREKA PERCAYA’. Memang orang yang percaya, pasti bertindak karena percayanya, karena iman tanpa perbuatan adalah mati. Namun, orang Kristen yang merasa harus berbuat ini dan itu, supaya diberkati atau karena suatu perintah, maka ia telah masuk kedalam perbudakan agamawi.

Memang agama itu memperbudak, termasuk agama kristen. Yesus datang bukan membangun agama, tetapi Ia datang supaya kita memperoleh hidup (HayatNya=zoe). Ia datang sebagai Roh pemberi Hayat, dan menuliskan hukum2Nya kedalam batin kita. ‘2 loh batu’ yang ditulis kedalam batin kita itu tidak lain adalah pekerjaan Roh pemberi hayat didalam batin kita. Semakin hari kita bertumbuh didalam HayatNya, sehingga secara alamiah kita menjalankan hukum2 Tuhan.

Hal ini berbeda dengan perbuatan agamawi. Para pemimpin agama dalam dunia kekristenan sering menganjurkan jemaat untuk ‘harus memberi persepuluhan’ supaya diberkati. Harus datang hari minggu untuk kebaktian digedung tertentu. Harus setia ikut komsel. Harus mengikuti aturan2 ini dan itu supaya menjadi orang Kristen yang taat, dan sebagainya…dan sebagainya… Ini tidak lain adalah perbudakan agamawi.

Jika seseorang merasakan dorongan didalam batinnya untuk memberikan persembahan kepada orang atau lembaga tertentu, maka itu sah-sah saja. Tetapi, jika ia harus memberi karena “demikianlah perintah Tuhan”, maka itulah perbudakan agamawi. Jika seseorang merasakan dorongan didalam batinnya untuk mengikuti kebaktian2 tertentu disuatu tempat, maka hal ini bukan perbudakan agamawi. Tetapi, jika ia harus melakukannya karena suatu perintah, maka ini perbudakan agamawi. Ibadah dalam roh itu suatu kemerdekaan. Seseorang bebas untuk memberi atau tidak, untuk datang kebaktian digedung atau tidak. Begitu orang Kristen diperintahkan harus ini, harus itu… inilah perbudakan.

Pengalaman rohani yang disimbolkan ‘2 loh batu’ adalah suatu pengalaman kemerdekaan. Kita bebas untuk mengikuti pimpinan Roh. Kemana Roh Kudus memimpin, kesitulah kita pergi.

Saat ini kita akan masuk kepada orang ketiga yang dipilih Elohim untuk membangun RumahNya di bumi, yaitu Daud. Untuk memahami bagaimana Elohim akan membangun RumahNya melalui Daud, mari kita baca II Samuel pasal 7. Dalam pasal ini diceritakan bahwa Daud memiliki kerinduan untuk membangun ‘Rumah Elohim’, dan kerinduannya ini disampaikan kepada nabi Natan (ayat 2). Tetapi jawab Elohim melalui Natan adalah demikian, “…Masakan engkau yang mendirikan rumah bagiKu untuk Kudiami?... Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu,… Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu… Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya dihadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya” (ayat 5,12,13,16).

Dalam ayat2 diatas kita lihat bahwa Elohim berkata bukan Daud yang akan mendirikan RumahNya, tetapi keturunannya, yaitu Salomo. Tetapi, Elohim tidak berhenti sampai disini saja, melainkan Elohim membangun suatu perjanjian dengan Daud, yang intinya adalah soal kerajaan, atau lebih tepat ‘suatu dinasti’. Dinasti artinya keturunan Daud akan menduduki kerajaan Israel selama-lamanya. Perjanjian yang Elohim buat dengan Daud ini biasa disebut ‘Perjanjian Daud’ atau ‘The Davidic Covenant’.

Kita lihat sekali lagi disini bahwa dalam membangun RumahNya, Elohim membuat suatu perjanjian dengan orang yang dipilihNya. Dalam kasus Yakub, Elohim membuat suatu perjanjian yang kita kenal sebagai ‘Perjanjian Abraham’. Dalam kasus Musa, Elohim membuat suatu perjanjian yang kita kenal sebagai ‘Perjanjian Musa’ atau ‘Perjanjian Lama’. Jadi, siapapun yang terpanggil oleh Elohim untuk ambil bagian dalam pembangunan ‘Rumah Elohim’, dia harus benar-benar memperhatikan perjanjian apa yang terkait dengan pembangunan RumahNya, dalam konteksnya sendiri. Tegasnya, orang yang dipilihNya untuk membangun ‘Rumah Elohim’, tentu akan memahami perjanjian apa yang ada antara dirinya dengan Elohim.

Mari kita kembali kepada ‘Perjanjian Daud’. Kepada Daud dijanjikan suatu kedinastian, bahwa takhtanya akan kokoh selama-lamanya. Tentu kita memahami bahwa penggenapan janji Elohim kepada Daud terjadi dalam diri Mesias, atau biasa disebut ‘David’s greatest Son’, yaitu Yesus. Perlu kita tegaskan lagi bahwa janji mengenai kedinastian ini terkait dengan pembangunan ‘Rumah Elohim’. Artinya, raja2 keturunan Daud akan membangun ‘Rumah Elohim’, secara khusus Salomo dan Yesus sebagai Mesias.

Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita juga “raja2 keturunan Daud” yang ambil bagian dalam pembangunan ‘Rumah Elohim’? jawabnya, ya. Kita yang dipilih Elohim untuk ambil bagian dalam pembangunan ‘RumahNya’ juga adalah raja-raja “keturunan Daud”. Hal ini dapat dijelaskan demikian.

Didalam Matius 1:1-17, dijelaskan mengenai silsilah Yesus. Ayat 17 berkata, “Jadi, dari Abraham sampai Daud seluruhnya ada empat belas generasi, dan dari Daud sampai pembuangan ke Babilon ada empat belas generasi, dan dari pembuangan ke Babilon sampai Kristus ada empat belas generasi”. Kalau kita hitung dari Abraham sampai Daud, memang ada 14 generasi, dimana Daud adalah generasi ke 14. Jika dihitung dari Salomo sampai Yekhonya (pembuangan ke Babel) ada 14 generasi, dimana Yekhonya adalah generasi ke 14. Kemudian, jika dihitung dari Sealtiel sampai Yesus, hanya ada 13 generasi saja, dimana Yesus adalah generasi ke 13. Jadi, generasi keempat belasnya adalah Kristus, artinya KETURUNAN YESUS ADALAH KRISTUS. Karenanya, TUBUH KRISTUS ITU ADALAH KETURUNAN YESUS. Karena Yesus itu Raja keturunan Daud, maka tubuh Kristus juga ‘raja2 keturunan Daud’.

Tubuh Kristus itu adalah raja2 yang ambil bagian dalam pembangunan ‘Rumah Elohim’. Tetapi, seperti sudah sering kita tegaskan, saat ini kita sebagai raja2 belumlah ditampilkan. Saat ini, kita sama sekali tidak mempunyai “takhta” atau otoritas atau jabatan apapun dalam ‘Rumah Elohim’. Jika kita lihat dalam dunia kekristenan ada banyak ‘raja’ yang menduduki takhta atau jabatan tertentu, maka kesimpulannya adalah ‘dunia kekritenan itu bukanlah Rumah Elohim’. Dunia kekristenan itu bukanlah Rumah yang dibangun Elohim. Dunia kekristenan adalah “Rumah Besar” yang dibangun oleh para pemimpin denominasi sebagai rajanya (II Timotius 2:20).

Untuk memahami bagaimana Elohim akan membangun RumahNya melalui Daud, kita akan membahas mengenai kemah yang didirikan Daud di bukit Sion, dimana didalamnya ditempatkan ‘Tabut Perjanjian’ (II Samuel 6:17). Daud bertindak sebagai raja dan imam dalam kemah yang didirikannya itu. Daud memakai baju efod sebagai seorang imam (II Samuel 6:14). Daud mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan dihadapan Tuhan (II Samuel 6:17). Daud memberkati umat Israel dengan berkat seorang imam (II Samuel 6:18 dan Bilangan 6:24-27). Dengan jabatan raja, imam, dan tentunya juga nabi, maka Daud menjadi lambang/tipe dari Yesus Kristus dan juga Melkisedek sebagai raja dan imam.

Kemah yang didirikan Daud ini terkait dalam dua aspek, yaitu aspek kerajaan dan aspek keimaman. Dalam Yesaya 16:5, ada tertulis, “maka suatu takhta… dalam kemah Daud…”. Ayat ini berbicara aspek kerajaan (takhta). Pada aspek keimaman, terdapat tabut perjanjian dalam kemah Daud dan segala pelayanannya (II Samuel 6:17; I Tawarikh 15:1, 16:1; II Tawarikh 1:4). Kita telah membahas perihal menjadi raja2 didalam ‘Rumah Elohim’, dan bahwa gereja (Tubuh Kristus) itu adalah ‘raja2’ yang ambil bagian dalam pembangunan ‘Rumah Elohim’. Sekarang kita akan melihat bahwa gereja juga adalah ‘imam2’ didalam ‘Rumah Elohim’ (I Petrus 2:9).

Tetapi yang harus kita pahami dengan baik adalah gereja tidak mungkin menjadi imam2 menurut aturan Harun. Sebab, jika gereja menjadi imam2 menurut aturan Harun, maka gereja harus menuruti aturan Hukum Taurat dalam pelayanannya sebagai imam. Melayani Elohim sebagai imam bukanlah perkara remeh, dimana seseorang boleh dengan sembarangan mempersembahkan “korban” tertentu dihadapan Tuhan (karena salah satu fungsi imam adalah mempersembahkan korban tertentu). Kita ingat kasus Nadab dan Abihu, anak2 Harun, yang mempersembahkan ‘api asing’ sehingga mereka mati dihadapan Yahweh. Setiap imam harus memahami aturannya (Hukum) yang berlaku agar jangan ia mempersembahkan “api yang asing” dihadapan Elohim.

Dalam dunia kekristenan, pada umumnya, seseorang yang terpanggil untuk melayani Tuhan, kurang memahami ‘Hukum’ apa yang berlaku. Memang saat ini belumlah terlihat “buah” dari pelayanan seseorang, karena Tuhan Yesus belum menyatakannya (Matius 7:21-23). Perhatikan perkataan Yesus pada ayat 22, yang menegaskan bahwa pada ‘hari terakhir’ banyak orang akan berseru, “…Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga?”. Kemudian pada ayat 23, Yesus menyatakan, “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan”. ‘Pada waktu itulah’ yang dimaksud Yesus adalah ‘pada hari terakhir’. Dihari terakhir, Yesus akan berterus terang kepada “para pelayanNya”. Ungkapan ‘berterus terang’ berasal dari istilah Yunani ‘homologeo’ (to publicly declare). Artinya, Yesus akan membukakan kepada semuanya.

Konteks Matius 7:21-23, adalah khotbah dibukit yang ditujukan kepada murid2Nya (Matius 5:1-2). Khotbah dibukit itu khusus bagi murid2Nya. Tetapi, Yesus menegaskan bahwa ada ‘nabi2 palsu yang menyamar seperti domba’ (Matius 7:15-20). Dari “buah” pelayanannya kita akan mengetahui siapa mereka. Banyak orang Kristen berpikir “buah” pelayanan seseorang itu adalah bernubuat, mengusir setan, mengadakan banyak mujizat, dan memiliki banyak pengikut, atau banyak orang “diberkati”. Tetapi, jika kita perhatikan mengapa Yesus menolak orang2 ini adalah karena mereka ternyata ‘pembuat kejahatan’ (ayat 23). Ungkapan ‘pembuat kejahatan’ berasal dari istilah Yunani ‘anomia’, yang berarti ‘tidak sesuai dengan hukum yang berlaku’ atau ‘illegality=Lawlessness’. Istilah Yunani ‘anomia’ muncul juga didalam Matius 13:41, yang berbicara soal perumpamaan lalang diantara gandum. Jadi, “lalang” atau ‘anak2 si jahat’ atau ‘para pelayan palsu’ ini tidak dapat terdeteksi oleh kebanyakan jemaat sekarang, tetapi yang jelas, mereka “melayani” Yesus dengan melanggar hukum yang berlaku didalam kerajaanNya. Mereka melakukan ‘anomia’.

Ibrani pasal 7 menjelaskan pada kita mengenai keimaman Kristus (Yesus dan tubuhNya). Gereja adalah imam2 menurut aturan Melkisedek. Hukum yang berlaku adalah hukum ‘hidup yang tidak dapat binasa’ atau Hukum Hayat atau Hukum Roh pemberi Hayat (Ibrani 7:16). Ibadah para imam menurut aturan Melkisedek adalah ‘ibadah dalam roh’ (Yohanes 4). Ibadah dalam dunia kekristenan telah penuh aturan2 agamawi, harus ini, dan harus itu, bahkan membawa masuk hukum2 dan aturan2 PL. Tetapi, pada waktunya, Yesus akan berterus terang membukakan semuanya.

Kita melanjutkan terus pemahaman mengenai ‘Rumah Elohim’ dalam kasus Daud, khususnya mengenai kemah yang didirikan Daud. Telah kita lihat bahwa kemah Daud ini terkait dalam dua aspek, yaitu aspek kerajaan dan keimaman. Artinya, ketika Elohim akan membangun RumahNya dibumi, maka Ia memilih suatu umat yang akan berfungsi sebagai raja2 dan imam2. Elohim bukan bermaksud mendirikan Rumah di sorga dimana Ia akan mengevakuasi umatNya ke sorga, dimana kerja umatNya ini hanya nyanyi2 saja selama-lamanya, seperti yang sering diberitakan di mimbar2 denominasi. “Rumah Bapa” seperti yang sering diajarkan di mimbar2 dimana jalannya konon dari emas, ada rumah2 jasmani seperti yang ada dibumi, bahkan konon masih ada anjing disana, ini jelas bukan “Rumah Elohim’ yang akan dibangunNya dibumi dimana Ia akan berdiam bersama umat pilihanNya.

Didalam ‘Rumah Elohim’, umat pilihanNya akan melayani di bumi sebagai raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek (PB), dan bukan menurut aturan Harun (PL). Umat pilihanNya akan melayani sedemikian sehingga bumi bergerak menuju bumi yang baru, dan tentunya juga langit yang baru. Mari kita melihat nubuat mengenai ‘kemah Daud’ yang berbicara mengenai pelayanan umat pilihanNya sebagai raja2 dan imam2.

Nubuat ini dikutip oleh Yakobus dari kitab nabi Amos dalam sidang di Yerusalem demikian, “Sesudah hal-hal ini, Aku akan kembali, dan Aku akan membangun lagi tabernakel Daud yang telah roboh… supaya mereka yang tersisa dari umat manusia, bahkan segala bangsa pada siapa NamaKu telah disebut atasnya, dapat mencari Yahweh…” (Kis. 15:16-17. ILT).  Latar belakang perkataan Yakobus ini adalah adanya beberapa pengajar dari Yudea yang menyatakan bahwa bangsa-bangsa lain tetap harus disunat dan memelihara adat-istiadat Musa, agar dapat diselamatkan. Tetapi Paulus dan Barnabas menentang pendapat para pengajar ini. Kemudian diputuskan agar Paulus dan Barnabas pergi kepada para rasul di Yerusalem untuk membicarakan hal ini.

Setelah terjadi pertukaran pikiran mengenai masalah ini, Petrus bangkit dan menegaskan bahwa Elohim tidak mengadakan perbedaan antara Yahudi dan bangsa bukan Yahudi, dan “…bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga” (ayat 11). Sebagai kesimpulan dan perkataan penutup, Yakobus bangkit dan menegaskan bahwa Elohim memilih suatu umat dari antara bangsa-bangsa bagi namaNya (ayat 14). Kemudian, perihal Elohim memilih suatu umat bagi namaNya dari antara bangsa-bangsa ini, diteguhkan oleh perkataan nabi-nabi (ayat 15). Selanjutnya, Yakobus mengutip Amos 9:11-12, untuk menjelaskan perihal Elohim memilih suatu umat dari antara bangsa-bangsa.

Ternyata, perihal Elohim memilih suatu umat dari antara bangsa-bangsa ini terkait dengan nubuat pemulihan kemah (tabernakel) Daud yang telah roboh. Ditegaskan dalam nubuat Amos 9:11-12, yang telah kita tulis diatas, bahwa ‘Aku membangun lagi tabernakel Daud yang telah roboh’. Artinya, tindakan Elohim memilih suatu umat dari antara bangsa-bangsa itu SAMA DENGAN membangun kemah Daud yang telah roboh.

Tetapi, nubuat ini tidak berhenti sampai pembangunan kemah Daud saja, namun juga menegaskan alasan Elohim mengapa Ia mau menegakkan kemah Daud lagi. Perhatikan istilah SUPAYA (Yun, hopos), yang menghubungkan ayat 16 dan 17. Hal ini berarti bahwa alasan mengapa Elohim memilih suatu umat dari antara bangsa-bangsa atau memulihkan kemah Daud adalah SUPAYA ‘mereka yang tersisa dari umat manusia bahkan segala bangsa pada siapa NamaKu telah disebut atasnya, dapat mencari YAHWEH’. Maksudnya, supaya sisa dari ras manusia dapat mencari Yahweh. Atau, kalau dijelaskan dengan kalimat lain, maka maksud Elohim memilih suatu umat adalah agar SEMUA MANUSIA DAPAT MENCARI ELOHIM. Disini kita lihat fungsi suatu umat yang dipilih Elohim adalah untuk menjadi raja2 dan imam2 bagi sisa ras semua manusia lainnya, sehingga semuanya dapat mencari Yahweh. Oleh pelayanan umat pilihanNya sebagai raja2 dan imam2 atas SELURUH MANUSIA, maka bumi akan bergerak menuju bumi baru dan langit baru.

Bumi baru dan langit baru itulah ‘Rumah Elohim’ yang akan dibangunNya melalui pelayanan umat pilihanNya sebagai raja2 dan imam2.

Saat ini kita akan belajar mengenai ‘Rumah Elohim’ dalam kasus Salomo. Kita tahu bahwa Salomo dipilih Elohim sebagai raja yang akan membangun ‘Rumah Elohim’, karena Daud tidak diizinkan membangunnya sebab telah banyak darah ditumpahkan Daud dalam peperangan (I Tawarikh 22:8). Tetapi, Salomo hanyalah pelaksananya saja, karena Elohim mewahyukan ‘RumahNya’ kepada Daud.

Baiklah kita perhatikan I Tawarikh 28:11,12,19, demikian, “Lalu Daud menyerahkan kepada Salomo, anaknya, rencana bangunan dari balai Bait Suci dan ruangan-ruangannya, dari perbendaharaannya, kamar-kamar atas dan kamar-kamar dalamnya, serta dari ruangan untuk tutup pendamaian. Selanjutnya rencana dari segala yang dipikirkannya mengenai… Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh TUHAN, yang berisi petunjuk tentang segala pelaksanaan rencana itu”. Kita lihat dari ayat2 diatas bahwa pewahyuan mengenai ‘Rumah Elohim’ itu diberikanNya kepada Daud. Hal ini bukan berarti Salomo tidak mengikuti rencana Bait Suci yang diserahkan Daud kepadanya. Tetapi, ada pelajaran berharga disini yang akan kita ambil.

Daud adalah seorang yang mencintai ‘Rumah Elohim’. Dalam Mazmur 27:4, Daud mengungkapkan kecintaannya, demikian “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati baitNya”. Salomo tentu mencintai juga ‘Rumah Elohim’ yang didirikannya, tetapi tentu tidak seperti Daud, yang mendapat pewahyuan langsung dari Elohim mengenai BaitNya.

Mari kita perhatikan kisah Salomo setelah ia membangun ‘Rumah Elohim’. I Raja-Raja 11, menceritakan kepada kita bahwa Salomo tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan seperti Daud, ayahnya (ayat 4). Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dan bagi Molokh, dan bagi allah2 asing lainnya. Salomo melakukan semua ini karena terseret oleh isteri2nya yang bangsa kafir itu. Seandainya Salomo memiliki kecintaan kepada ‘Rumah Elohim’ seperti Daud, ayahnya, tentu ia tidak dengan mudah terseret oleh siapapun untuk mendirikan bukit2 pengorbanan kepada allah2 asing. Ada satu pelajaran yang dapat kita ambil disini, yaitu jika seseorang memiliki kecintaan terhadap ‘Rumah Elohim’, dan tentunya juga mendapat pewahyuan dari Tuhan mengenai bagaimana membangun ‘Rumah Elohim’, maka ia tidak akan dengan mudah jatuh kedalam penyembahan berhala.

Baiklah kita terapkan pelajaran ini kedalam dunia kekristenan. Secara umum, dunia kekristenan telah jatuh kedalam penyembahan berhala karena ajaran Bileam (perdagangan), Izebel (perampasan otoritas Yesus sebagai kepala gereja oleh para pemimpin), dan Nikolaus (penaklukkan kaum awam oleh para pemimpin). Semua ini tertulis dalam kitab Wahyu 2-3. Kejatuhan ‘Rumah Elohim’ (gereja) kedalam penyembahan berhala itu dimulai oleh beberapa pemimpin yang menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri (Kis. 20:28-30). Seandainya para pemimpin ini memiliki kecintaan terhadap ‘Rumah Elohim’ dan memiliki pewahyuan mengenai bagaimana membangun gereja, tentu mereka tidak akan mendatangkan perpecahan bagi gereja.

Semoga kita mendapat kasih karunia dihadapanNya sehingga kita mencintai ‘RumahNya’ dan mendapat pewahyuan untuk membangun gereja.

Kita teruskan pelajaran kita mengenai ‘Rumah Elohim’ dalam kasus raja Salomo. Kita akan membicarakan tentang ‘awan kemuliaan Tuhan’ yang turun atas Bait Suci yang didirikan Salomo. Mari kita perhatikan II Tawarikh 7:1-3, demikian, “Setelah Salomo mengakhiri doanya… kemuliaan TUHAN memenuhi rumah itu. Para imam tidak dapat memasuki rumah TUHAN itu, karena kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN. Ketika segenap orang Israel melihat api itu turun dan kemuliaan TUHAN meliputi rumah itu… lalu sujud menyembah…”. Peristiwa yang luar biasa ini terjadi ketika Salomo dan seluruh bangsa mentahbiskan ‘Rumah Elohim’ (ayat 5). Tetapi, kurang lebih 400 tahun kemudian ‘Rumah Elohim’ ini dihancurkan oleh raja Babel, Nebukadnesar, dan bahkan Yerusalem tinggal puing2 saja serta bangsa Israel dibuang ke Babel (586 SM). Mengapa demikian?

Baiklah kita telusuri secara ringkas sejarah Bait Suci ini. Pertama, pada zaman Rehabeam, anak kandung Salomo, dari seorang perempuan Amon, majulah Sisak, raja Mesir merampas barang2 perbendaharaan rumah TUHAN (I Raja-Raja 14:25-26). Kedua, pada zaman raja Asa, emas dan perak yang masih ada dalam perbendaharaan rumah TUHAN, diserahkan Asa untuk Benhadad, raja Aram, untuk meminta pertolongannya (I Raja-Raja 15:16-24). Ketiga, barang2 kudus rumah TUHAN dipakai oleh anak-anak Atalya untuk para Baal (II Tawarikh 24:7). Keempat, raja Yoas mengambil emas dan perak serta segala perkakas yang terdapat dalam rumah TUHAN, dan membawanya ke Samaria (II Raja-Raja 14:14). Kelima, raja Ahas mengambil perak dan emas yang terdapat dalam rumah TUHAN serta mengirimnya kepada raja Asyur sebagai persembahan (II Raja-Raja 16:8). Keenam, raja Hizkia memberikan segala perak dan emas yang terdapat dalam rumah TUHAN kepada raja Asyur (II Raja- Raja 18:15-16). Ketujuh, raja Manasye membawa segala kekejian kedalam rumah TUHAN (II Raja-Raja 21:1-16; 23:5-14). Demikianlah sejarah ringkas Bait Suci yang “dirampok” oleh beberapa raja Israel yang jahat, bahkan yang baik juga.

Yesus sebagai gembala yang baik pernah membandingkan diriNya dengan orang2 Farisi dalam Yohanes 10. Ada beberapa penafsir yang mengatakan bahwa para pencuri dan perampok itu adalah iblis dan roh2 jahatnya. Penafsiran seperti ini jelas mengabaikan konteks Yohanes 10. Konteks Yohanes 10 adalah pembicaraan Yesus kepada orang2 Farisi (Yohanes 9:40), dan bahwa Yesus menceritakan perumpamaan ‘gembala yang baik’ itu kepada mereka, yaitu orang2 Farisi disitu, hanya saja mereka tidak mengerti (Yohanes 10:6). Jadi, para pencuri dan perampok itu adalah para pemimpin agama dizamanNya. Apa yang dicuri? Tentu saja domba-domba yang polos dan lugu. Tetapi, Yesus menegaskan bahwa domba2Nya akan mendengarkan suaraNya dan mengikut Dia.

Apakah masih ada para pencuri “domba-domba” dalam dunia kekristenan? Kalau kita perhatikan Kis. 20:28-30, Paulus sudah memperingati akan adanya para pemimpin yang dengan ajaran palsu menarik murid2 kepada diri mereka sendiri. Murid2 yang tadinya mendengar langsung suara Roh Kudus dan mengikutiNya, setelah ditarik oleh para pemimpin, tidak lagi mendengar dan mengikutiNya. Murid2 telah mengikuti pemimpinnya, bahkan ada yang begitu fanatik menjadi pengikut pemimpin tertentu dalam dunia kekristenan. Apapun yang dikatakan pemimpinnya, atau aliran denominasinya, pasti benar. Kita tidak sedang membicarakan apakah seorang pemimpin itu orang baik atau jahat. Kita sedang membicarakan apakah pemimpin itu mencuri “domba” atau tidak, karena kita telah lihat dari sejarah bahwa yang merampas Bait Suci Salomo itu juga ada raja yang baik.

Bagi kita yang mendapat kasih karunia untuk melihat hal ini, tentu mengetahui bahwa gereja yang telah pecah menjadi puluhan ribu denominasi ini DISEBABKAN OLEH PARA PENCURI DAN PERAMPOK. Sekali lagi ingat, bahwa “para pencuri dan perampok” ini bisa saja pemimpin yang baik atau orang baik. Para pencuri dan perampok ini menarik anggota gereja kepada diri mereka, atau kepada aliran denominasi mereka sendiri. Tetapi, Yesus menegaskan bahwa domba2Nya mendengar suaraNya dan mengikutiNya kemanapun Dia pergi (Yohanes 10:27; Wahyu 14:4).

Kita teruskan pembicaraan kita tentang ‘awan kemuliaan Tuhan’ yang turun atas Bait Suci yang didirikan Salomo. Telah kita uraikan secara ringkas bagaimana pada akhirnya Bait Suci Salomo dihancurkan raja Nebukadnesar, dan bangsa Israel dibuang ke Babel. Tentu ‘awan kemuliaan Tuhan’ meninggalkan Bait Suci bersama dengan kehancurannya. Nabi Yehezkiel, yang juga turut dibuang ke Babel, mendapat penglihatan mengenai kemuliaan Tuhan yang meninggalkan Bait Suci. Dan nabi Yehezkiel juga mendapat penglihatan mengenai ‘berhala-berhala’ didalam Bait Suci (Yehezkiel 8). Bahkan dalam penglihatannya, ada tujuh puluh tua-tua Israel yang melakukan penyembahan berhala dalam Bait Suci (ayat 11).

Jadi, kita lihat penyebab mengapa Bait Suci Salomo pada akhirnya dihancurkan serta kemuliaan Tuhan meninggalkan Bait Suci, adalah karena adanya penyembahan berhala didalam Bait Suci. Dan penyembahan berhala ini dimulai oleh para tua-tua Israel. Bahkan, kita tahu bahwa raja Salomolah yang pertama jatuh kedalam penyembahan berhala (I Raja-Raja 11). Seharusnya, bangsa Israel dipimpin oleh ‘Awan kemuliaan Tuhan’ sebagaimana yang terjadi pada Kemah Suci Musa (keluaran 40:34-38). Tetapi, karena adanya penyembahan berhala didalam Bait Suci, maka bangsa Israel tidak lagi dipimpin oleh Tuhan. Bangsa Israel dipimpin oleh berhala-berhalanya.

Mari kita terapkan kepemimpinan ‘awan kemuliaan Tuhan’ ini kedalam konteks gereja. Karena kita tahu bahwa gereja (orang2 yang dipanggil Tuhan) itu adalah Bait Suci atau Tubuh Kristus. Apakah, secara umum, dunia kekristenan masih dipimpin oleh ‘awan kemuliaan Tuhan’?. Baiklah kita mengutip beberapa ayat agar kita memahami kepemimpinan ‘awan kemuliaan Tuhan’ dalam gereja.

Kolose 1:27, menegaskan, “…Kristus yang ada didalam kamu, selaku pengharapan kemuliaan” (ILT). Disini kita melihat bahwa kemuliaan gereja adalah Kristus yang ada didalam batin orang2 kudus. Artinya, seluruh anggota gereja haruslah dipimpin oleh Kristus yang ada didalam batin, sebagai kemuliaan kita. Itu sebabnya Rasul Yohanes berkata, “Sebab didalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapanNya mengajar kamu tentang segala sesuatu…” (I Yohanes 2:27). Rasul Yohanes sedang menekankan bahwa pengurapan atau ‘awan kemuliaan Tuhan’ itu ada didalam masing2 anggota gereja, dan bahwa setiap anggota gereja seharusnya diajar langsung oleh ‘awan kemuliaan Tuhan’, serta tidak harus bergantung kepada siapapun. Setiap anggota gereja haruslah langsung dipimpin oleh ‘awan kemuliaan Tuhan’ dalam batinnya.

Hal ini bukan berarti tidak perlu pemimpin gereja, atau setiap anggota gereja jangan belajar dari para pemimpin. Sebab, rasul Yohanes juga mengirim suratnya kepada gereja agar gereja belajar sesuatu darinya. Yesus sendiri yang memberikan para rasul, nabi, penginjil, gembala, dan pengajar (Efesus 4:11-12). Tetapi, hanya untuk ‘memperlengkapi’ setiap anggota gereja saja, sehingga pada gilirannya, setiap anggota gereja dapat dipimpin oleh ‘awan kemuliaan Tuhan’ dalam batinnya dan membangun tubuh Kristus. 

Tetapi, yang terjadi dalam dunia kekristenan adalah penggenapan nubuat Paulus dalam Kisah Para Rasul 20:29-30, dimana serigala ganas menyerang gereja sehingga para pemimpin ‘menarik’ murid2 kepada diri mereka sendiri. Karena perilaku para pemimpin yang menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri, maka pecahlah gereja serta timbul puluhan ribu denominasi. Murid2 Tuhan sebagian mengikuti pemimpin itu sebagian mengikuti pemimpin lainnya. Bahkan, bagi pengikut yang fanatik, pemimpinnya itu menjadi “berhalanya”.

Sesungguhnya, para pemimpin ini “mencuri” awan kemuliaan Tuhan dari dalam batin setiap anggota gereja. Jika, para pemimpin dapat menarik banyak pengikut, dapat menarik banyak uang murid2, dan dapat membangun gedung2 gereja yang besar, maka kemuliaan para pemimpin inipun semakin besar. Demikianlah umumnya, kondisi dunia kekristenan, dimana ‘awan kemuliaan Tuhan’ telah pergi meninggalkan batin orang2 percaya. Tetapi Tuhan Yesus memiliki domba2Nya yang dapat mendengarkan ‘suaraNya dalam batin’, dan mengikutiNya kemana saja Ia pergi.

Saat ini kita akan membahas pengertian ‘Rumah Elohim’ dalam kasus dimana Zerubabel bin Sealtiel serta rombongannya pulang ke Yerusalem untuk membangun Bait Suci. Kita perlu melihat latar belakangnya lebih dahulu. Kita tahu bahwa Bait Suci yang dibangun raja Salomo telah dihancurkan oleh raja Babel, Nebukadnesar, dan bangsa Yahudi dibuang ke Babel selama 70 tahun.

Selama dalam pembuangan, bangsa Yahudi tentu tidak dapat menjalankan ritual keagamaan seperti korban2, upacara2 hari raya, persembahan2 (persepuluhan, buah sulung), dan lain sebagainya seperti diatur oleh Taurat Musa. Juga, fungsi keimaman menurut aturan Harun otomatis terhenti. Sebab, Taurat Musa mengharuskan bangsa Yahudi melakukan ritual keagamaan itu ditempat yang dipilih Tuhan, yaitu dalam Bait Suci di Yerusalem, dan harus dilakukan oleh suku Lewi. Hal ini tentu menusuk hati para buangan di Babel. Sebagai jalan keluarnya, bangsa Yahudi di pembuangan membuat tempat berkumpul yang mereka sebut ‘sinagoge’. Istilah Yunani ‘sunagoge’ sama artinya dengan istilah Ibrani ‘keneset’, yaitu ‘kumpulan sekelompok orang’.

Bagi bangsa Yahudi dalam pembuangan, ‘sinagoge’ mempunyai arti yang sangat penting. Di ‘sinagoge’ atau biasa disebut ‘Rumah Ibadat’ bangsa Yahudi berdoa dan mempelajari Taurat Musa. Biasanya, jika ada 10 keluarga Yahudi, maka mereka membuat satu ‘sinagoge’. Bahkan, kebiasaan membuat ‘sinagoge’ ini terus berlangsung walaupun bangsa Yahudi sudah kembali ke tanah Israel. Ada yang berpendapat bahwa di Yerusalem, pada abad 1 M. saja ada sebanyak 394 ‘sinagoge’, ketika Bait Suci “Herodes” dihancurkan oleh Titus pada tahun 70 M. Tetapi yang harus diingat bahwa ‘sinagoge’ tidak dapat menggantikan Bait Suci atau ‘Rumah Elohim’. Karena, setelah Bait Suci Yerusalem dihancurkan, maka praktis ibadah PL juga berhenti. Sinagoge-sinagoge itu jelas bukan Bait Suci. Sinagoge itu bukanlah ‘Rumah Elohim’ dalam pengertian yang sedang kita bahas ini.

Mari kita langsung terapkan dahulu pengertian ‘sinagoge’ dan ‘Bait Suci’ kedalam dunia kekristenan. Alkitab (PB) sangat jelas menguraikan kejatuhan gereja menjadi puluhan ribu denominasi seperti saat ini. Paulus sudah mengatakannya kepada para penatua (pemimpin gereja) mengenai ‘serangan serigala ganas’ yang akan mencabik-cabik gereja (Kis. 20:28-30). Bahwa ada beberapa pemimpin gereja dengan ajaran palsu menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri. Rasul Yohanes, bahkan lebih jelas lagi menguraikan tiga ajaran palsu yang menghancurkan gereja, yaitu ajaran Izebel, ajaran Nikolaus dan ajaran Bileam (Wahyu 2-3). Kita tidak menguraikan ketiga ajaran palsu yang menghancurkan gereja saat ini. Tetapi akibat kejatuhan gereja, maka didalam Wahyu 2-3 terdapat panggilan untuk menjadi pemenang. Ada 7 gereja yang menjadi representatif 7 zaman gereja atau 7 tipe gereja, dimana terdapat panggilan, “Barangsiapa menang…”. Ini membuktikan bahwa gereja sudah jatuh.

Meskipun Alkitab tegas menyatakan gereja sudah pecah menjadi puluhan ribu denominasi namun dalam dunia kekristenan sudah umum menyebut denominasi itu gereja. Bahkan ajaran ‘visible church’ dan ‘invisible church’ yang dimulai Martin Luther, sekarang telah diterima luas. Ajaran ini menyatakan bahwa denominasi2 itu adalah ‘visible church’, sedangkan ‘invisible church’ adalah seluruh anak2 Tuhan diseluruh dunia, dimana hanya Tuhan yang tahu jumlahnya. Tetapi, bagi orang yang mendapat kasih karunia untuk melihat, maka sesungguhnya, denominasi2 itu seperti “sinagoge-sinagoge” bangsa Yahudi yang tersebar dimana-mana karena Bait Suci telah hancur. Denominasi itu bukan ‘Rumah Elohim’.

Kita lanjutkan pengertian kita tentang ‘Rumah Elohim’ dalam kasus Zerubabel dan rombongannya yang pulang ke Yerusalem. Ezra 1:5, menegaskan, “Dan berdirilah para kepala leluhur dari Yehuda dan Benyamin, dan para imam, dan orang-orang Lewi, bahkan setiap orang yang telah Elohim gerakkan rohnya untuk pergi membangun bait YAHWEH yang ada di Yerusalem” (ILT). Telah kita tegaskan bahwa dalam konteks PL, Yahweh telah memilih Yerusalem sebagai tempat dimana Ia menaruh namaNya disana. Bahkan, bagi bangsa Yahudi, membangun Bait Yahweh harus ditempat yang telah ditentukanNya melalui raja Daud, yaitu di bukit Sion.

Tidak ada pilihan lain bagi bangsa Yahudi. Jika mereka mau beribadah kepada Yahweh menurut aturan PL, maka mereka harus melakukannya di Sion, tempat yang dipilih Tuhan untuk menaruh namaNya. Awan kemuliaan Tuhan tidak mungkin turun ke Babel sekalipun mereka membuat banyak sinagoga di Babel. Bahkan dalam kitab Ester tidak tercatat nama Tuhan didalamnya. Peristiwa yang dialami Ester dalam kerajaan Persia terjadi diantara kembalinya Zerubabel dan Ezra ke Yerusalem. Mengapa tidak tercatat satu kali-pun nama Tuhan dalam kitab Ester? Karena Tuhan telah memilih Yerusalem sebagai tempat meletakkan namaNya, sekalipun perbuatan Tuhan melalui Ester dan Mordekhai dalam membebaskan bangsa Yahudi diperserakan sangat luar biasa.

Tentu saja Yahweh berkarya dalam sinagoge-sinagoge di Babel. Bahkan kalau kita mau melihat sejarah penyebaran orang2 Yahudi diseluruh dunia sejak pembuangan di Babel (biasa dikenal sebagai ‘Diaspora Yahudi’), maka kita akan melihat pemeliharaan Yahweh yang luar biasa. Walaupun demikian, janji Yahweh kepada seluruh bangsa Yahudi tetaplah tanah Perjanjian.

Mari kita kembali kepada Ezra 1:5, diatas. Ditegaskan bahwa mereka yang mau pulang ke Yerusalem untuk membangun baitNya hanyalah yang, “…  Elohim gerakkan rohnya untuk pergi membangun bait YAHWEH yang ada di Yerusalem”. Hal ini disebabkan bangsa Yahudi di Babel sudah merasa nyaman karena selama 70 tahun dalam pembuangan, mereka telah mempunyai rumah2, ternak, tanah pertanian, dan juga sinagoge2 tempat mereka berkumpul. Sementara Yerusalem telah menjadi puing2 karena dihancurkan tentara raja Babel, Nebukadnezar. Itu sebabnya, bangsa Yahudi harus digerakkan Yahweh untuk pulang ke Yerusalem dan membangun BaitNya, dan hanya sedikit orang saja. Beberapa ahli memperkirakan bahwa sudah ada sekitar 2-3 juta bangsa Yahudi yang hidup di Persia dan Babel pada zaman Ester. Sementara yang pulang bersama Zerubabel hanya sekitar 50.000 orang saja (Ezra 2:64).

Mari kita terapkan perihal ‘Elohim menggerakkan bangsa Yahudi untuk pulang ke Yerusalem’ ini kedalam dunia kekristenan. Bagi bangsa Yahudi itu membangun ‘Rumah Elohim’ haruslah di Yerusalem. Kalau demikian, dimana “Yerusalem” bagi kita saat ini agar kita dapat membangun ‘Rumah Elohim’? Yohanes 4:20-23, memberikan jawabnya. Bagi gereja, tempat untuk beribadah adalah didalam roh. Bagi gereja, soal ibadah itu bukan soal harus digedung denominasi ini atau itu, bukan soal harus mengikuti aturan ini dan itu, pendeknya, bukan soal2 luaran atau jasmaniah. Ibadah gereja itu didalam roh, artinya mengikuti pimpinan roh dalam kehidupan sehari-hari, kemana saja kita dipimpinNya.

Bagi gereja sekarang, membangun ‘Rumah Elohim’ bukanlah soal membangun denominasi ini atau itu, karena kita tahu bahwa denominasi itu bukan ‘Rumah Elohim’, sekalipun Elohim juga berkarya dan mencurahkan berkatNya disitu. Bagi kita, membangun ‘Rumah Elohim’ itu adalah mengikuti pimpinanNya dalam roh kita setiap hari. Inilah ‘ibadah dalam roh’ yang ditegaskan Yesus dalam Yohanes 4. Tetapi, sebagaimana hanya sedikit bangsa Yahudi yang mau membangun ‘Rumah Elohim’ di Yerusalem, maka demikian juga hanya sedikit orang Kristen yang mau beribadah dalam rohnya. Semua tergantung apakah Elohim mau menggerakkan roh kita atau tidak.

Kita masih melanjutkan pengertian kita tentang ‘Rumah Elohim’ dalam kasus Zerubabel dan rombongannya yang pulang ke Yerusalem. Sekarang kita akan melihat kesulitan2 yang dihadapi Zerubabel serta rombongannya dalam membangun ‘Rumah Elohim’. Setelah mereka tiba di Yerusalem, Zerubabel dan rombongannya langsung mendirikan ‘mezbah ditempatnya semula’, serta mulai mempersembahkan korban bakaran sesuai peraturan (Ezra 3:3-5). Namun, ketika Bait Suci mulai dibangun, datanglah hambatan dari penduduk negeri sekitar Yerusalem, dan mereka melemahkan semangat orang2 Yehuda (Ezra 4:4). Maka, pembangunan Bait Suci tertunda selama 14 tahun lamanya.

Selama penundaan ini, orang2 Yehuda mulai membangun rumah2nya sendiri yang telah runtuh, dan mengabaikan pembangunan ‘Rumah Elohim’. Secara manusia, memang wajar orang2 Yehuda sibuk membangun rumahnya sendiri, karena Yerusalem telah menjadi reruntuhan. Bahkan mereka berkata bahwa belum waktunya membangun ‘Rumah Elohim’ (Hagai 1:2-4). Tetapi, Tuhan menegor orang2 Yehuda agar mengutamakan pembangunan ‘Rumah Elohim’, supaya segala usaha mereka tidak sia2 (Hagai 1:5-11). Kemudian Zerubabel dan rombongannya mendengarkan tegoran Tuhan serta mulai membangun ‘Rumah Elohim’.

Selain hambatan dari penduduk negeri dan kondisi Yerusalem yang runtuh, ada hal lain yang melemahkan semangat Zerubabel dan rombongannya untuk membangun. Mari kita perhatikan Hagai 2:4-10, demikian, “Masih adakah diantara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula?... Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya?... Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula…”. Mereka membandingkan kemegahan Bait Suci semula yang dibangun raja Salomo, sementara mereka melihat ‘Rumah Elohim’ yang mereka bangun seperti tidak ada artinya. Tetapi, Tuhan menguatkan mereka supaya tetap bekerja, dan memberikan janjiNya bahwa kemegahan “Rumah Elohim’ ini kelak akan melampaui kemegahannya semula.

Penggenapan dari janji Tuhan ini tentu bukanlah kemegahan Bait ini yang dipugar kemudian oleh raja Herodes selama 46 tahun. Sebab, Bait Suci yang dipugar raja Herodes, selain telah menjadi tempat berjualan, juga Yesus berkata akan diruntuhkan (Matius 24:2). Jadi, penggenapan janji Tuhan ini adalah ‘Rumah Elohim’ yang dibangun oleh Yesus Kristus, yaitu gereja. Gereja yang terdiri dari ‘batu2 hidup’ tentu lebih megah dari bangunan Bait Suci Israel yang merupakan simbol saja dari ‘Rumah Elohim’.

Tetapi, sekarang, gereja telah pecah menjadi puluhan ribu denominasi. Kalau demikian, dimana kemegahan dari ‘Rumah Elohim’ ini? Kita tahu bahwa Tuhan tetap memiliki para pemenangNya disetiap zaman gereja. Para pemenangNya ini adalah orang2 yang mendapat kasih karunia untuk bukan saja dipanggil, tetapi juga dipilih dan setia (Wahyu 17:14). Para pemenangNya ini merupakan ‘kawanan kecil’ dalam Lukas 12:32, dimana kepada mereka Bapa sudah berkenan memberikan Kerajaan Sorga itu. 

Meskipun demikian, ‘kawanan kecil’ ini membangun “mezbah ditempatnya semula”. ‘Kawanan kecil’ ini membangun ibadah didalam rohnya. Beribadah didalam rohnya (Yohanes 4). ‘Kawanan kecil’ ini tidak menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri, apalagi menarik uangnya untuk membangun gedung2 atau membangun kerajaannya sendiri. Ministri dan ibadah ‘kawanan kecil’ ini hanyalah kehidupan sehari-hari yang dipimpin Roh. Tentu ‘Rumah Elohim’ yang dibangun ‘kawanan kecil’ ini tidak ada artinya dibanding gedung2 megah yang dibangun dalam dunia kekristenan. Tetapi, firman Tuhan meneguhkan kita untuk terus bekerja membangun “mezbah ditempatnya semula”. Dan pada waktuNya, maka Elohim memberikan kerajaan sorga yang dijanjikan kepada ‘kawanan kecil’ ini (Wahyu 20:4).

Saat ini kita akan melihat kemerosotan ‘Rumah Elohim’ yang telah dibangun Zerubabel dan rombongannya. Seperti kita tahu, sekalipun tertunda 14 tahun lamanya, namun pada akhirnya ‘Rumah Elohim’ yang dibangun Zerubabel selesai dan ditahbiskan sekitar tahun 516 SM. (Ezra 6:15). Kita akan melihat kemerosotan “Rumah Elohim’ yang dibangun Zerubabel ini terutama dari kitab Maleakhi.

Memang kitab Maleakhi tidak dapat dipastikan waktu penulisannya, tetapi para ahli umumnya sepakat bahwa kitab Maleakhi ditulis sekitar 100 tahun setelah pentahbisan ‘Rumah Elohim’, pada saat Nehemia pulang ke Babel. Hal ini disebabkan situasi ‘Rumah Elohim’ yang dihadapi Nehemia setelah kembalinya ke Yerusalem, hampir sama seperti tegoran yang ditulis dalam kitab Maleakhi.

Mari kita melihat beberapa tegoran yang tertulis dalam kitab Maleakhi. Pertama, tegoran kepada para imam, “Tetapi kamu ini menyimpang dari jalan; kamu membuat banyak orang tergelincir dengan pengajaranmu; kamu merusakkan perjanjian dengan Lewi, firman TUHAN semesta alam” (Maleakhi 2:8). Kita lihat disini kemerosotan dimulai oleh para imam, dimana mereka tidak memelihara perjanjian Lewi, dan tidak mengikuti jalan yang ditunjukkan Tuhan serta memandang bulu dalam pengajarannya (ayat 9).

Kedua, tegoran kepada bangsa Yehuda, “Yehuda berkhianat, dan perbuatan keji dilakukan di Israel dan di Yerusalem, sebab Yehuda telah menajiskan tempat kudus dan telah menjadi suami anak perempuan allah asing” (Maleakhi 2:11). Kita lihat disini bahwa suku Yehuda telah menajiskan ‘Rumah Elohim’, walaupun mereka membawa persembahan kepada Tuhan, namun mereka tidak setia dengan isteri masa mudanya (2:14). Ketiga, tegoran kepada umat Israel, secara umum, karena mengabaikan persembahan persepuluhan (Maleakhi 3:10).

Demikianlah kondisi bangsa Israel yang pulang ke Yerusalem setelah 100 tahun berlalu sejak ‘Rumah Elohim’ ditahbiskan. Kalau kita bandingkan kasus ‘kawin campur’ yang dilakukan bangsa Israel pada zaman Ezra, maka kita dapati bahwa para penguasa dan para pemukalah yang lebih dahulu melakukan perbuatan tidak setia itu (Ezra 9:2). Biasanya, memang kemerosotan suatu bangsa itu terjadi karena para pemimpinnya mulai menyimpang. Jika para imam dalam ‘Rumah Elohim’ sudah mulai menyimpang, bagaimana dengan umat?

Kondisi kemerosotan seperti inilah yang juga terjadi kepada gereja. Ketika gereja baru dilahirkan pada peristiwa pencurahan Roh Kudus dihari Pentakosta, pergerakkan gereja pada waktu itu benar-benar dipimpin Roh Kudus. Semua anggota gereja dipimpin Roh Kudus. Dalam kitab Kisah Para Rasul yang hanya 28 pasal itu terdapat 70 kali ungkapan seperti ‘Roh Kudus memimpin’, ‘penuh Roh’, ‘bisikan Roh’, ‘Roh Kudus melarang’, dan sebagainya. Bahkan, Paulus, sebagai salah satu pemimpin pergerakkan gereja menegaskan bahwa ia adalah ‘tawanan Roh’.

Namun, diakhir pelayanannya, Paulus mendapat pewahyuan bahwa gereja akan mendapat serangan dari “serigala ganas”. Serigala ganas ini akan menyerang beberapa pemimpin gereja sehingga dengan ajaran palsu, para pemimpin ini menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri (Kis. 20:28-30). Seharusnya, para pemimpin ini hanya memperlengkapi murid2 saja sehingga pada gilirannya murid2 mengikuti pimpinan Roh untuk membangun tubuh Kristus (Efesus 4:11-13).

Tetapi sekarang, murid-murid Tuhan, yang awalnya berjalan dijalan yang benar, dalam arti mengikuti pimpinan Roh Kudus semata-mata, namun setelah ditarik oleh para pemimpin, murid2 menjadi pengikut para pemimpin. Sebagian murid berkata kami dari golongan Baptis, kami dari golongan Reform, kami dari golongan Pentakosta dan Karismatik, dan seterusnya, dan seterusnya… Demikianlah gereja merosot dan pecah menjadi puluhan ribu denominasi. Tidak dapat disangkal bahwa kemerosotan gereja dimulai dari para pemimpinnya, yang menarik murid2 kepada diri mereka sendiri.

Saat ini kita akan berbicara mengenai ‘Rumah Elohim’ yang dibangun Zerubabel, tetapi yang kemudian dipugar oleh raja Herodes. Bait Suci “Herodes” inilah yang dibicarakan didalam kitab2 Injil. Pada Bait Suci “Herodes” inilah Mahkamah Agama Yahudi yang disebut Sanhedrin memerintah. Sanhedrin pusat memerintah di Yerusalem, sedangkan cabang2nya memerintah didaerah-daerah. Pada zaman Yesus, Sanhedrin pusat ini dipimpin imam besar Kayafas dengan sekitar 70 orang anggotanya. Anggotanya terdiri dari para imam, orang2 Farisi, Saduki, ahli2 Taurat, dan tua2 Yahudi.

Kekuasaan Sanhedrin ini tidak hanya terbatas pada soal agama saja, tetapi juga sosial dan politik. Dalam beberapa kasus, Sanhedrin diberi hak memungut pajak dari bangsa Yahudi. Sanhedrin juga menjadi seperti pengadilan Yahudi yang dapat menjatuhkan hukuman kepada orang2 yang dianggap melanggar aturan. Tetapi, untuk menjatuhkan hukuman mati, maka Sanhedrin harus mendapat izin dari penguasa Roma, yang dalam kasus Yesus, adalah Pontius Pilatus. Sanhedrin juga memiliki pasukan yang dalam kitab2 injil disebut pengawal2 atau penjaga2 Bait Suci yang menangkap Yesus di taman Getsemani.

Mari kita mulai melihat beberapa fakta mengenai Bait Suci “Herodes” ini. Fakta pertama, didalam Lukas 22:52-53, di taman Getsemani, Yesus berkata kepada imam2 kepala, kepala2 pengawal Bait Suci, serta tua-tua yang datang menangkapNya, demikian, “…inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu” (ayat 53). Yesus menegaskan bahwa ‘kuasa kegelapan’ telah menguasai Kayafas dan anggota2nya (Sanhedrin). Tetapi, karena ‘kuasa kegelapan’ menguasainya, kita jangan langsung membayangkan bahwa anggota2 Sanhedrin itu berwajah seram seperti preman2 yang sering kita kenal.

Ada orang2 seperti Nikodemus, Yusuf dari Arimatea, Gamaliel, dan pemimpin2 Sanhedrin lainnya yang dihormati oleh orang banyak. Anggota2 Sanhedrin, pada umumnya, adalah orang2 kaya dan orang2 berpendidikan pada zamannya. Mereka tentu berpenampilan menarik dan sangat agamawi. Bahkan, pada baju orang2 Farisi itu sering tertulis ayat2 Kitab Suci. Mereka mempunyai pengaruh terhadap orang banyak sedemikian sehingga oleh hasutan mereka, orang banyak memilih Barabas, seorang penyamun, dari pada memilih Yesus (Matius 27:20). Namun, sekalipun para pemimpin agama di Bait Suci “Herodes” ini dikuasai oleh kuasa kegelapan, Yesus tetap menyebut Bait Suci “Herodes” ini sebagai ‘Rumah BapaKu’ (Yohanes 2:16). Jadi, fakta pertama, Bait Suci “Herodes” yang disebut Yesus sebagai ‘Rumah BapaKu’ telah dikuasai oleh ‘kuasa kegelapan’.

Baiklah kita coba terapkan fakta pertama mengenai Bait Suci “Herodes” ini kedalam dunia kekristenan. Orang banyak, bahkan beberapa pengajar Alkitab, dalam dunia kekristenan pada umumnya tidak percaya bahwa “perempuan” yang disebut dalam Wahyu 17:6 itu adalah dunia keagamaan. Perempuan, didalam Alkitab, selalu menjadi simbol gereja. Karena Adam itu simbol Kristus, maka Hawa (perempuan) itu adalah simbol gereja. Tetapi, perempuan didalam Wahyu 17:6 itu, “…mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus”. Dan bahwa, perempuan ini menjadi “…tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis…” (Wahyu 18:2).

Bagi seseorang yang “melihat” dan mempelajari dunia kekristenan tentu tidak kaget dengan fakta bahwa dunia kekristenan ini mabuk oleh darah orang2 kudus, dan karenanya menjadi tempat bersembunyinya roh2 jahat. Demikianlah kondisi Bait Suci “Herodes” yang disebut Yesus sebagai ‘Rumah BapaKu’.

Kita masih berbicara mengenai ‘Rumah Elohim’ yang dibangun Zerubabel, tetapi yang kemudian dipugar oleh raja Herodes. Telah kita ketahui fakta pertama mengenai Bait Suci “Herodes” ini, bahwa ‘kuasa kegelapan’ telah menguasai para pemimpinnya (Sanhedrin). Kita akan membahas fakta kedua mengenai Bait Suci ini yaitu telah menjadi ‘tempat berjualan’. Yohanes 2:16, menegaskan, “Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: ‘Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah BapaKu menjadi tempat berjualan”. 

Bagaimana mungkin Bait Suci yang Yesus sebut ‘Rumah BapaKu’ telah menjadi tempat berjualan? Mari kita perhatikan fakta kedua ini. Bagi orang Israel, dimanapun mereka berada, harus datang ke Yerusalem (Bait Suci) minimal 3x setahun, yaitu pada hari raya Paskah, Pentakosta, dan Pondok Daun (Tebernakel). Dan orang Israel harus membawa ‘hewan korban’ untuk dipersembahkan kepada Yahweh di Bait Suci. Bagi orang Israel yang tinggal didaerah2 yang jauh dari Yerusalem, maka sangat sulit membawa hewan korban dari daerah dimana mereka berada. Karenanya, mereka hanya membawa uang dan membeli ‘hewan korban’ di Yerusalem untuk dipersembahkan di Bait Suci.

Kita tahu bahwa para imam dan suku Lewi yang bekerja di Bait Suci harus memeriksa lebih dahulu hewan yang akan dikorbankan, apakah tahir atau tidak. Disinilah para imam dan para pemimpin “bermain”. Mereka katakan bahwa kalau orang membeli ‘hewan korban’ di tempat lain, selain didalam ‘pelataran Bait Suci’, maka mereka tidak menjamin apakah tahir atau tidak. Tetapi, mereka katakan, kalau membeli ‘hewan korban’ di ‘pelataran Bait Suci’, maka sudah dijamin tahir, karena sudah diperiksa oleh para imam. Tentu saja orang Israel tidak mau repot karena hal ini, maka mereka membeli ‘hewan korban’ yang telah disediakan di pelataran Bait Suci oleh para pemimpin. Bahkan para pemimpin juga menyediakan tempat menukar uang bagi orang Israel yang tinggal didaerah2 yang jauh dimana mata uangnya berbeda. Tetapi, tentu saja, para pemimpin menjual ‘hewan korban’ dengan harga yang lebih tinggi dari pada harga diluar pelataran Bait Suci.

Bagi orang Israel awam, hal ini tidak menjadi persoalan, namun bagi Yesus perkara ini sangat serius karena telah menjadikan Bait Suci menjadi ‘sarang penyamun’ (Matius 21:13). Yesus melihat bahwa para pemimpin Bait Suci telah ‘ambil untung’ dari pelayanannya, sebagaimana orang yang berdagang. Bahkan, jika kita melihat konteks Yohanes 10:1-18, pencuri dan perampoknya adalah orang2 Farisi. Yesus melihat bahwa para pemimpin agama di Bait Suci ini telah menjadi penyamun. Bukan saja “mencuri” uang, tapi juga “mencuri” domba-domba (umat Israel). Tetapi, sekali lagi, perihal Bait Suci menjadi ‘sarang penyamun’ itu hanya dapat diketahui oleh Yesus.

Jika kita perhatikan penyebab gereja pecah menjadi puluhan ribu denominasi adalah adanya beberapa pemimpin yang “mencuri” murid2 dengan ajaran palsu untuk mengikuti mereka (Kis. 20:29-30). Jika sudah “mencuri domba-domba”, maka langkah berikut adalah ‘ambil untung’ dengan cara berdagang di Bait Suci. Tetapi, sekali lagi, semua ini hanya dapat dilihat oleh Yesus, dan tentunya oleh orang2 yang mendapat kasih karuniaNya untuk melihat.

Telah kita bahas fakta pertama mengenai Bait Suci “Herodes” ini, bahwa ‘kuasa kegelapan’ telah menguasai para pemimpinnya (Sanhedrin). Demikian juga fakta kedua mengenai Bait Suci ini yaitu telah menjadi ‘tempat berjualan’. Selanjutnya, fakta ketiga yang akan kita bahas adalah kondisi dari para pemimpin Bait Suci “Herodes” ini. Kondisi para pemimpin yang kita maksud disini adalah otoritasnya, ajarannya, dan perilakunya.

Mari kita mulai dengan yang pertama, yaitu ‘otoritas’ para pemimpin ini. Matius 23:1-3, menegaskan demikian, “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-muridNya, kataNya: Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu…”. Sebelum memahami teks diatas, kita harus melihat konteks perkataan Yesus ini. Ayat 1 menegaskan bahwa Yesus berbicara kepada orang banyak, dan kepada murid2Nya. Kepada orang banyak Yesus berkata bahwa ahli2 Taurat dan orang2 Farisi telah menduduki ‘kursi Musa’.

Ungkapan ‘kursi Musa’ yang Yesus maksudkan adalah otoritas para pemimpin atas orang banyak. Itu sebabnya, Yesus mengajarkan kepada orang banyak agar jangan memberontak kepada ahli2 Taurat dan orang2 Farisi, dan bahwa orang banyak harus menuruti dan melakukan segala sesuatu yang mereka ajarkan.

Selanjutnya, Yesus berbicara kepada murid2Nya demikian, “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara” (ayat 8). Ungkapan ‘tetapi kamu’ ini jelas menegaskan bahwa ada perbedaan yang menyolok dari perkataan Yesus kepada orang banyak, dan perkataan Yesus kepada murid2Nya. Yesus tegas berkata janganlah kamu disebut Rabi, bahkan ayat2 selanjutnya juga mengatakan janganlah kamu disebut bapa atau pemimpin (ayat 9-10). Mengapa demikian? Jawabnya jelas karena ‘kamu semua adalah saudara’.

Untuk memahami istilah ‘saudara’, kita harus ingat konteksnya, karena makna suatu istilah itu ditentukan oleh konteks dimana istilah itu digunakan. Disini, Yesus sedang berbicara soal ‘kursi Musa’. Jadi, makna istilah ‘saudara’ adalah ‘sesama anggota’ dimana TIDAK ADA KURSI MUSA. Artinya, diantara murid2 Yesus, tidak ada otoritas yang satu terhadap yang lainnya. Semua adalah saudara.

Apakah hal ini berarti diantara murid2 Yesus, atau gereja, tidak ada pemimpin? Tentu saja ada pemimpin. Yesus sendiri yang memberikan para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar kepada gerejaNya (Efesus 4:11-12). Tetapi, para pemimpin ini hanyalah suatu ‘fungsi pelayanan’ bagi gerejaNya, dan ‘fungsi pelayanan’ para pemimpin ini hanyalah UNTUK MEMPERLENGKAPI ORANG-ORANG KUDUS. Tidak ada otoritas pemimpin dalam gereja, tidak juga ada ‘kursi Musa’ atau apapun sebutannya dalam gereja. Tidak boleh ada JABATAN apapun dalam gereja, karena jabatan mengungkapkan adanya suatu otoritas dalam suatu struktur. Tidak boleh ada ‘jabatan gembala sidang’, yang ada hanya ‘fungsi pelayanan’ sebagai gembala.

Kalau demikian, mengapa ada jabatan2 dan otoritas pemimpin dalam denominasi? Otoritas para pemimpin denominasi itu adalah otoritas yang tidak sah, karena melanggar perkataan Yesus dalam Matius 23 yang sedang kita bahas. Otoritas para pemimpin denominasi didapat karena para pemimpin MENARIK MURID-MURID KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI (Kis. 20:29-30).

Namun, perhatikan perkataan Yesus kepada murid2Nya, demikian, “Barangsiapa terbesar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (ayat 11-12). Makna ‘meninggikan diri’ disini sesuai konteks adalah menarik murid2 kepada diri sendiri dan karenanya memiliki ‘otoritas tidak sah’ atas murid2. Sedangkan ‘merendahkan diri’ disini berarti hanya memperlengkapi murid2 saja, dan tidak menarik murid2 kepada diri sendiri, seperti pelayan yang tidak memiliki otoritas apapun terhadap orang yang dilayaninya.

Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai para pemimpin di Bait Suci “Herodes”. Kita akan bahas perilakunya dan ajarannya. Tentu kita tidak membahas seluruh perilaku para pemimpin ini, atau membahas seluruh ajarannya. Mari kita lihat Markus 12:38-39, demikian, “Dalam pengajaranNya Yesus berkata: Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan”.

Istilah Yunani, ‘thelo’, yang diterjemahkan ‘suka’ pada ayat diatas, juga dapat berarti ‘keinginan kuat’ (desire), atau ‘cinta’. Perilaku para pemimpin yang menyukai hormat manusia, atau kemuliaan manusia, bukanlah perkara sederhana saja. Paulus tegas menyatakan dalam Galatia 1:10, demikian, “… Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus”. Sangat sulit bagi seorang pemimpin atau pengajar Alkitab yang dikuasai oleh keinginan ‘berkenan kepada manusia’ untuk menyampaikan pesan2 Elohim yang tidak disukai oleh orang banyak. Yesus sendiri tegas berkata bahwa, “Aku tidak memerlukan hormat dari manusia” (Yohanes 5:41).

Bahkan, Petrus sendiri pernah jatuh kedalam perilaku mencoba berkenan kepada manusia, dalam kasus ini, kepada ‘kalangan Yakobus’ (Galatia 2:11-14). Karena hal ini, Paulus harus menegor Petrus didepan semua orang yang ada. Yohanes 12:42-43, juga mencatat, “Meskipun demikian, banyak juga dari antara para pemimpin yang percaya kepada Dia, tetapi karena orang-orang Farisi, mereka tidak mengaku, supaya mereka tidak menjadi terkucil dari sinagoga. Sebab mereka mencintai kemuliaan manusia lebih daripada kemuliaan Elohim”. Sekali lagi kita lihat betapa besar pengaruh dari ‘menyukai kemuliaan manusia’.

Kita lihat satu contoh lagi mengenai para pemimpin ini, yaitu mengenai Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea. Nikodemus datang pada malam hari kepada Yesus, tentu supaya tidak terlihat oleh orang banyak atau orang2 Farisi. Yusuf dari Arimatea, seorang pemimpin dan anggota dari Majelis Agama Yahudi, walaupun di ketiga injil lain dicatat sebagai ‘orang baik’, namun rasul Yohanes menyebutnya sebagai ‘murid Yesus yang sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang2 Yahudi’ (Yohanes 19:38).

Baiklah kita melihat contoh Paulus, yang menyebut dirinya sebagai ‘orang bebas’ (I Korintus 7:22; 9:1; 9:19), dan juga ‘tawanan Roh’ (Kis. 20:22). Paulus memiliki kebebasan untuk menyampaikan apa saja yang diwahyukan oleh Tuhan kepadanya. Paulus juga bebas untuk mengikuti pimpinan Roh kemana saja dikehendakiNya. Kebebasan Paulus ini disebabkan ia tidak mencoba berkenan kepada manusia, siapapun juga manusia itu. Paulus juga tidak bergantung dari pemberian jemaat atau gaji dari siapapun. Inilah yang menyebabkan Paulus bebas untuk menerima pewahyuan Tuhan dan menyampaikannya apa adanya. 

Mari kita melihat para pemimpin dalam dunia kekristenan, dimana uang dan jabatan sudah berlaku disana. Tidak dapat disangkal bahwa uang dan jabatan mendatangkan hormat manusia. Para pemimpin yang dipengaruhi oleh ‘hormat manusia’, tidak mungkin lagi menyampaikan ajaran yang tidak disukai orang banyak, atau yang berbeda dengan alirannya, atau menyampaikan ajaran firman Tuhan yang akan “mengganggu” jabatan atau pemasukannya. Dibutuhkan para pelayan Tuhan yang bebas dari pengaruh apapun dalam dunia kekristenan untuk dapat menyampaikan pesan2 Tuhan. Kita lihat disini bahwa perilaku para pemimpin akan mempengaruhi ajarannya.

Kita masih membicarakan para pemimpin di Bait Suci “Herodes”, secara khusus tentang ajarannya. Kita akan membahasnya dari Matius 23, dimana Yesus menegor para pemimpin Bait Suci “Herodes”. Telah kita bahas bagaimana perilaku para pemimpin Bait Suci “Herodes” yang menyukai ‘hormat dari manusia’, dan saat ini kita akan lihat bagaimana perilaku ini mempengaruhi ajarannya.

Kita akan mulai dari satu istilah yang muncul sebanyak 6 kali di pasal 23 ini, yaitu istilah ‘munafik’. Istilah Yunaninya ‘hupokrites’, yang artinya ‘orang yang suka berpura-pura’. Mari kita melihat beberapa poin mengapa Yesus menyebut para pemimpin Bait Suci “Herodes” ini dengan sebutan ‘munafik’. Pertama, ayat 13 menegaskan, “…kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk”. Baiklah kita bandingkan perkataan Yesus kepada salah seorang ahli Taurat demikian, “…Engkau tidak jauh dari kerajaan Elohim…” (Markus 12:34, ILT). Yesus mengatakan demikian karena ahli Taurat ini menyatakan bahwa mengasihi Elohim dan manusia itu jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan. Ahli Taurat ini memahami ESENSI dari ibadah PL, yaitu mengasihi Elohim dan manusia, serta menegaskan bahwa BENTUK ibadah PL seperti korban2 bakaran bukanlah yang utama.

Kedua, ayat 23 menegaskan, “…kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan…kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan…”. Maksud Yesus dengan perkataan ini adalah BENTUK ibadah PL itu persepuluhan, korban2 bakaran dan sebagainya, tetapi ESENSI ibadah PL itu adalah keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.

Ketiga, ayat 25 menegaskan, “…kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan”. Maksud Yesus adalah BENTUK ibadah yang bersifat “luaran” itu sangat diperhatikan oleh para pemimpin Bait Suci “Herodes”, tetapi ESENSI ibadah itu yang bersifat “didalam batin”, tidak dibersihkan. Orang2 Farisi ini sangat ketat dengan BENTUK ibadah dan aturan2 agamawi, tetapi Lukas 16:14 mencatat, “…orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu…”. BENTUK luaran dari ibadah diajarkan oleh para pemimpin, tetapi ESENSI yang didalam batinnya adalah hamba uang.

Keempat, ayat 27-28 menegaskan, “…kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan… di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan”. Disini Yesus menjelaskan makna ‘munafik’ itu dengan jelas, yaitu dimata orang nampak benar, tetapi dihadapan Tuhan penuh kedurjanaan.

Mengapa ajaran para pemimpin Bait Suci “Herodes” ini mendapat tegoran dari Yesus dengan istilah ‘munafik’? Jawabnya, karena para pemimpin Bait Suci ‘Herodes” ini menyukai ‘hormat manusia’, dan karenanya, ajarannya menjadi “tampilan luar” saja.

Mari kita melihat nubuat Paulus dalam II Timotius 3:1-9. Versi Alkitab LAI memberi judul yang kurang tepat, yaitu, ‘Keadaan manusia pada akhir zaman’. Tetapi, kalau kita perhatikan lebih teliti lagi, maka nubuat Paulus ini ditujukan untuk dunia kekristenan secara umum, walaupun tentu juga semua manusia. Perhatikan ayat 5, demikian, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya…”. ‘Secara lahiriah’ artinya BENTUK, berasal dari istilah Yunani ‘morphosis’ = BENTUK. Jadi, nubuat Paulus ini bersesuaian dengan yang sedang kita bahas, yaitu secara umum, ibadah orang2 kristen akan menjadi ibadah BENTUK, dan bukan ESENSI.

Kita akan melihat dua ajaran saja yang umum berlaku dalam dunia kekristenan, yang melahirkan ibadah BENTUK. Pertama, ajaran harus kumpul digedung denominasi tertentu supaya bertumbuh dalam iman. Ayat yang biasa menjadi pendukungnya adalah Ibrani 10:25. Istilah Yunani ‘pertemuan’ diayat ini adalah ‘episunagoge’ (‘epi’=diatas, ‘sunagoge’=pertemuan), yang artinya pertemuan dalam dimensi yang lebih tinggi (dimensi roh), bukan pertemuan jasmani disuatu tempat. Ayat ini mengajarkan umat PB harus ‘ibadah dalam roh’ (Yohanes 4:23). ESENSI ibadah PB adalah mengikuti ‘pimpinan roh didalam batin’ dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, ajaran persepuluhan. Ayat yang dipakai, dan satu-satunya yang ada didalam kitab2 PB, adalah Matius 23:23. Para pemimpin agama ini mencomot perkataan Yesus bahwa, “…Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan”. Jadi, kata para pengajar persepuluhan ini, bahwa Yesus memerintahkan persepuluhan harus tetap dilakukan. Para “pencomot ayat” ini lupa bahwa Yesus berbicara kepada para pemimpin Bait Suci “Herodes” yang memang terikat Perjanjian Lama. Tetapi, bagi umat PB, tidak ada perintah harus memberikan persepuluhan, karena ibadah PB itu ibadah ESENSI (Ibrani 8:10-13).

Secara umum, dunia kekristenan sudah menjadi ibadah BENTUK, sesuai nubuat Paulus yang sudah kita bahas diatas. Ibadah BENTUK ini akan melahirkan orang2 ‘munafik’ dan yang jauh dari kerajaan sorga.

Telah kita bahas tiga fakta mengenai Bait Suci “Herodes”, yaitu kuasa kegelapan yang menguasai para pemimpin, adanya perdagangan di Bait Suci, dan kondisi para pemimpin. Saat ini kita akan membahas fakta keempat, yaitu adanya orang2 benar dihadapan Tuhan, sekalipun kondisi Bait Suci “Herodes” sudah sedemikian merosot.

Mari kita melihat orang2 yang benar dihadapan Tuhan ini. Pertama, Maria yang melahirkan Yesus. Lukas 1:30, menegaskan, “…Jangan takut Maria, sebab engkau telah mendapat anugerah dari Elohim” (ILT). Maria adalah seorang yang terpilih dan mendapat anugerah dihadapan Elohim. Kedua, Yusuf suami Maria. Alkitab menyatakan bahwa Yusuf adalah seorang yang tulus hati, dan ia mendapat kunjungan malaikat Tuhan (Matius 1:19-20). Ketiga, Zakharia, seorang imam dan isterinya Elisabet yang melahirkan Yohanes Pembaptis.

Keempat, Simeon. Lukas 2:25, menyatakan, “Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada diatasnya”. Kelima, Hana. Seorang nabi perempuan yang tidak pernah meninggalkan Bait Suci, serta bernubuat tentang Mesias. Tentu masih ada orang2 benar dihadapan Tuhan dalam zaman Bait Suci “Herodes”, yang tidak dicatat dalam Alkitab. Tetapi dapat disimpulkan bahwa jumlah mereka sangat sedikit, dan banyak dari mereka juga tidak melayani di Bait Suci “Herodes” kecuali imam Zakharia.

Kita melihat bahwa Tuhan selalu memiliki sedikit ‘orang-orang yang dipilihNya’, ditengah-tengah kondisi Bait Suci yang merosot. Hal ini menggenapi firman yang tertulis bahwa, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Matius 22:14). Kita tahu bahwa ayat ini adalah bagian dari perumpamaan ‘perjamuan kawin’ yang disampaikan Yesus kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi (Matius 21:45). Jika kita mempelajari ‘perumpamaan perjamuan kawin’ ini, dapatlah kita pahami maksud Yesus, bahwa sekalipun seluruh bangsa Yahudi telah menjadi umat Tuhan atas dasar Perjanjian Musa, tetapi hanya sedikit yang menikmati perjamuan ‘kerajaan sorga’.

Fakta bahwa ‘banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih’ juga sesuai dengan perumpamaan-perumpamaan yang diceritakan dalam kitab-kitab Injil, seperti perumpamaan talenta, perumpamaan penabur, perumpamaan gadis-gadis bijaksana dan bodoh, perumpamaan pokok anggur, dan banyak lagi bagian2 kitab suci yang menjelaskan perihal ini.

Dalam dunia kekristenan, fakta ini juga berlaku. Paulus menegaskan, “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia” (II Timotius 2:20). Disini kita melihat Paulus menggunakan ungkapan ‘rumah yang besar’ untuk menggambarkan umat Tuhan atau ‘Rumah Elohim’. Semua perabot dalam ‘rumah besar’ tetap dipakai, hanya ada yang untuk maksud mulia, ada yang tidak. Semua umat Tuhan yang terpanggil didalam dunia kekristenan tentu dipakai Tuhan dalam pekerjaanNya. Tetapi, ada sedikit yang terpilih untuk mengerjakan maksud mulia.

Kita jangan langsung membayangkan bahwa mereka yang mendapat kasih karunia untuk dipilih adalah mereka yang mengerjakan pekerjaan2 “besar” dalam dunia kekristenan. Seperti kita lihat pada zaman Bait Suci “Herodes”, mereka yang benar dihadapan Tuhan hanyalah orang2 biasa yang mengerjakan perkara2 biasa saja.

Kita akan melanjutkan fakta kelima Bait Suci “Herodes” dengan melihat Yohanes 2:19,21. Demikian tertulis, “Yesus menjawab dan berkata kepada mereka, ‘Hancurkan tempat suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali’. Namun yang Ia katakan tentang tempat suci itu adalah tubuhNya sendiri” (ILT). Orang-orang Yahudi tentu tidak mengerti perkataan Yesus ini, tetapi rasul Yohanes menegaskan bahwa ‘tempat suci’ atau ‘Rumah Elohim’ itu adalah tubuh jasmani Yesus. Setelah kebangkitan Yesus, barulah murid2 teringat dan memahami perkataan Yesus ini.

Mari kita melihat nubuat Yesus mengenai Bait Suci “Herodes” ini. Matius 24:2, menyatakan, “Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun disini akan dibiarkan terletak diatas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan”. Sekalipun Bait Suci “Herodes” begitu megah, bahkan murid2Nya juga mengagumi bangunan ini, tetapi Yesus tegas menyatakan bahwa ‘tidak ada satu batupun terletak diatas batu lainnya’.

Bagaimana ini digenapi? Kita tahu bahwa Yesus disalib sekitar tahun 30 M. dan tahun 70 M, tentara Roma yang dipimpin oleh jenderal Titus, menghancurkan Bait Suci “Herodes” ini dan membakarnya. Sejarawan Yahudi yang bernama Josephus menceritakan bahwa ketika Bait Suci ini dibakar, maka emas yang ada didalamnya meleleh, tetapi nubuat Yesus tentu belum tergenapi karena masih ada bangunan Bait Suci ini sekalipun telah dibakar. Kemudian, tentara Roma menyadari bahwa ada emas yang meleleh dan terselip diantara satu batu dengan batu lainnya. Maka tahun-tahun berikutnya, mereka mencongkel batu-batu Bait Suci untuk mencari emas ini sehingga ‘tidak ada satu batu terletak diatas batu lainnya’. Demikianlah genap perkataan Yesus.

Karenanya, fakta kelima mengenai Bait Suci “Herodes” ini adalah Bait Suci ini akan dihancurkan sampai tidak ada satu batu terletak diatas batu lainnya. Baiklah kita merenungkan fakta kelima ini. Ada yang berpendapat, dan barangkali merupakan pandangan mayoritas umat Tuhan dalam dunia kekristenan saat ini, yaitu Bait Suci bangsa Yahudi akan dibangun lagi. Kita tidak membahas hal ini dengan rinci saat ini. Tetapi, kita akan melihat bagaimana program Elohim selanjutnya mengenai ‘RumahNya’.

Telah kita lihat diatas bahwa sejak kematian dan kebangkitan Yesus, maka “Rumah Elohim’ itu bukan lagi bangunan fisik, seperti yang selama ini telah kita bahas. ‘Rumah Elohim’ atau tempat suci itu adalah tubuh jasmani Yesus, dan kemudian “diperluas” setelah pencurahan Roh Kudus menjadi Tubuh Kristus, yang adalah gereja. Pengertian ‘Rumah Elohim’ adalah gereja (orang2 kudus), sudah umum dipahami dalam dunia kekristenan. Tetapi, apakah benar dunia kekristenan secara umum memahami hal ini?

Kita benar-benar harus memahami bahwa ibadah di Bait Suci, dalam arti bangunan fisik, sangat jauh berbeda dengan ibadah di “Bait Suci” dalam arti gereja (orang2 kudus). Yesus menegaskan kepada perempuan Samaria bahwa ada saatnya, dan bahkan sudah datang, bahwa ibadah itu tidak ada kait mengaitnya dengan soal tempat jasmani dengan segala ritual didalamnya. Sekarang, Ibadah itu adalah didalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23).

Ibadah itu, yang tadinya didalam bangunan fisik dengan segala ritualnya, sekarang ibadah itu ada didalam roh orang2 kudus. Mengapa demikian? Perhatikan istilah ‘kebenaran’ yang tertulis dalam Yohanes 4:23 diatas. Istilah Yunani yang dipakai disini adalah ‘aletheia’ yang berarti juga ‘realita’ (reality). Realita itu adalah apa adanya sesuatu. Realita itu bukan simbol atau bayangan. Ibadah dalam bangunan fisik yang selama ini kita bahas hanyalah merupakan SIMBOL atau BAYANGAN saja, bukan yang sesungguhnya. Ibadah yang terkait dengan segala sesuatu yang bersifat bangunan fisik, bukanlah ibadah sesungguhnya. Kita akan membahas ‘Rumah Elohim’ beserta ibadah yang sesungguhnya dalam tulisan selanjutnya.

Kita telah sampai kepada pembahasan mengenai realita dari ‘Rumah Elohim’ itu. Segala yang bersifat simbol, nubuat, dan bayangan mengenai ‘Rumah Elohim’ telah digenapi Yesus. Yesus tegas berkata bahwa Bait Suci itu adalah tubuh jasmaniNya. Mari kita melihat beberapa ayat untuk memperjelas hal ini. Kolose 2:17, juga menegaskan, “semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus”. Kolose 1:27, “… Kristus yang ada didalam kamu, selaku pengharapan kemuliaan” (ILT). I Korintus 6:19, menyatakan, “…tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam didalam kamu…”. Jadi, jelas sudah bahwa realita ‘Rumah Elohim’, pertama-tama adalah tubuh jasmani Yesus, kemudian “diperluas” menjadi tubuh jasmani orang2 kudus. Elohim sendiri berdiam didalam roh atau batin orang2 kudus.

Inilah rencana Elohim dari mulanya, yaitu mau membangun RumahNya didalam manusia, dan tentu manusia yang ditempatkanNya di bumi. Fokus rencana Elohim ialah mau membangun RumahNya DI BUMI. Kalau memang benar, secara umum, dunia kekristenan memahami rencana Elohim ini, maka tentu tidak ada ajaran yang umumnya telah diterima luas mengenai konsep sorga yang adalah ‘TEMPAT menyenangkan nun jauh disana’, atau ajaran ‘rapture’ dimana orang2 kudus akan ‘diangkat’ dari bumi. Juga, tidak ada ibadah yang merupakan BENTUK luaran saja, dan bukan ESENSI, yaitu ibadah dalam roh. (II Timotius 3:5).

Kita bisa saja terus membuktikan bahwa dunia kekristenan, secara umum, tidak memahami rencana Elohim untuk berdiam atau membangun ‘RumahNya’ didalam batin manusia di bumi. Tetapi, baiklah kita ambil satu contoh lagi mengenai ajaran ‘neraka kekal’, yang dipahami sebagai tempat siksaan selama-lamanya. Kejadian 1:26-28, menyatakan, “Dan Elohim berfirman, ‘Marilah Kita membuat MANUSIA dalam citra Kita, menurut rupa Kita, dan biarlah mereka berkuasa atas… seluruh bumi…” (ILT). Ayat2 ini merupakan ‘rencana Elohim’ untuk membangun RumahNya dibumi, didalam batin manusia, agar manusia dapat menaklukkan segala sesuatu di bumi termasuk iblis dan roh2 jahatnya.

MANUSIA diciptakan dalam citra dan rupa Elohim, agar Elohim dapat berdiam didalam MANUSIA, sama seperti ‘sarung tangan’ dibuat serupa dan segambar dengan ‘tangan’, agar ‘tangan’ dapat masuk kedalam ‘sarung tangan’. Ketika Elohim menciptakan Adam dan Hawa serta menempatkan mereka di Taman Eden, rencanaNya belumlah genap. Ketika diciptakan, Adam dan Hawa belum beranak cucu untuk memenuhi bumi, juga mereka belum serupa dan segambar dengan Elohim, karena mereka masih murni (innocence), yaitu belum kudus, dan juga belum tahu yang baik dan jahat.

Adam dan Hawa, SERTA SELURUH MANUSIA, perlu diproses agar menjadi serupa dan segambar denganNya, sehingga Elohim dapat berdiam didalam batin MANUSIA. Kejatuhan Adam dan Hawa merupakan bagian dari proses Elohim (Roma 8:20). Salib Yesus juga sudah dirancang sebelum dunia dijadikan (Wahyu 13:8). Semua proses untuk SELURUH MANUSIA telah dirancang dan ditentukan sebelumnya. Sebab, rencana Elohim tidak mungkin gagal untuk menjadikan MANUSIA (seluruh manusia) serupa dan segambar denganNya.

Jadi, rencana Elohim pasti berhasil menjadikan seluruh manusia serupa dan segambar denganNya, serta rencanaNya untuk membangun ‘RumahNya’ didalam batin seluruh manusia. Sekali lagi, Kejadian 1:26-28, adalah keputusan Elohim untuk membuat seluruh manusia menjadi tempat kediamanNya dibumi. Jika Elohim telah berdiam didalam seluruh manusia, maka manusia dapat menaklukkan segala sesuatu di bumi. Dan, tentu saja bumi akan bergerak menuju bumi baru, bahkan langit baru juga. Seandainya dunia kekristenan, secara umum, memahami rencana Elohim untuk membangun RumahNya didalam batin manusia, di bumi ini, maka tidak mungkin ada konsep ‘neraka kekal’ yang diajarkan dan telah diterima secara luas.

Kita teruskan pembahasan kita mengenai realita ‘Rumah Elohim’, yaitu gereja. Kita tentu sepakat gereja lahir ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta kepada 120 orang percaya di Yerusalem. Ketika Yesus berkata, ‘Aku akan mendirikan gerejaKu’, sesungguhnya hal ini sama dengan ‘Aku akan mendirikan Rumah Elohim di bumi’. Telah kita bahas bahwa realita ‘Rumah Elohim’ adalah berdiamnya Elohim didalam batin umatNya. Saat ini kita akan membahas apa yang terjadi pada ‘Rumah Elohim’ atau apa yang terjadi pada batin UmatNya.

Untuk membahas apa yang terjadi pada batin UmatNya, tentu kita perlu membicarakan sedikit mengenai Elohim. Banyak teolog sudah mencoba memahami Elohim dengan istilah Tritunggal, yaitu pribadi Bapa, pribadi Anak, pribadi Roh Kudus, tetapi tetap satu dalam esensi ke-Elohim-an. Ada juga teolog yang meyakini bahwa Elohim itu satu pribadi, tetapi bermanifestasi didalam Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ada juga teolog yang meyakini bahwa Elohim itu satu, yaitu pribadi Bapa, sementara pribadi Anak dan Roh itu “tidak setara” dengan pribadi Bapa. Dan tentu masih banyak lagi pendapat2 mengenai Elohim. Kita bukan mau membahas mengenai doktrin ini yang sudah menjadi bahan perdebatan berabad-abad lamanya.

Tetapi karena terkait dengan pemahaman kita bahwa ‘Rumah Elohim’ itu adalah berdiamnya Elohim didalam batin umatNya, maka tentu kita perlu juga mengemukakan apa yang kita pahami mengenai Elohim. Menurut pandangan saya, Elohim itu ‘Keluarga’. Ada Bapa, ada Anak, dan ada Roh yang bersifat feminim. Kalau kita mau melihat Kejadian 1:2, pengertian dari kata kerja Ibrani, yaitu ‘rachaph’ adalah ‘mengerami’, seperti induk ayam mengerami telurnya. Demikian juga nama Elohim yang menyatakan Diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub, adalah El-Shadday, yaitu Elohim dengan sisi feminim karena ‘Shad’ berarti ‘buah dada perempuan’. Maka, sesungguhnya, Elohim yang adalah ‘Keluarga’ mau berdiam didalam RumahNya, yaitu kita.

Mari kita melihat lebih jauh bahwa Elohim yang adalah ‘Keluarga’ berdiam didalam batin umatNya. Elohim Bapa adalah Roh (Yohanes 4:24). Elohim Anak, sebagai Adam akhir menjadi Roh pemberi Hayat (I Korintus 15:45, life-giving Spirit). Semua ada didalam Elohim Roh, yang adalah Roh Kudus yang diwahyukan dalam PB. Jadi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus berdiam didalam umatNya, karenanya kita adalah ‘Rumah Elohim’. UmatNya juga disebut anak2 Elohim. Yesus, sebagai Anak Tunggal Bapa telah menjadi Anak Sulung, karena kita adalah saudara2 Yesus (Ibrani 1:6; 2:11-12). Sekarang didalam Rumah Bapa, ada banyak anak2, yaitu kita.

Ada fakta menarik dalam gereja mula-mula bahwa mereka bertemu dari ‘rumah ke rumah’. Sejarah mencatat bahwa dalam 200 tahun pertama, gereja tidak membangun gedung2. Gereja ada didalam rumah (Roma 16:5; I Korintus 16:19; Kolose 4:15). Gereja ada didalam rumah, dan berlaku sebagai keluarga, serta mempengaruhi rumah-rumah lainnya. Tidak heran, dalam 200 tahun pertama, gereja telah memenangkan dunia yang dikenal pada waktu itu. Sejak kaisar Romawi, Konstantinus Agung, tahun 313 M. menerima kekristenan dan menjadikannya agama negara, maka mulailah dibangun gedung2 besar.

Gereja yang adalah “Rumah Elohim’ dimana didalamnya berdiam Elohim yang adalah ‘Keluarga’, serta yang termanifestasi ‘dari rumah ke rumah’, telah menjadi “Rumah yang besar” seperti yang dikatakan Paulus dalam II Timotius 2:20. Dunia kekristenan telah menjadi ‘rumah yang besar’, dimana tidak mungkin lagi gereja menjadi keluarga dalam arti yang sebenarnya.

Telah kita lihat pada mulanya bahwa ‘Rumah Elohim’ dimana Elohim ‘Keluarga’ berdiam dalam batin umatNya, dan termanifestasi ‘dari rumah ke rumah’, serta kemudian berkembang menjadi ‘Rumah Besar’ seperti yang dinyatakan Paulus, maka hal ini bukanlah suatu perkembangan yang sehat dan wajar. Sekalipun, tentu saja umumnya, para pengajar atau teolog dalam dunia kekristenan menganggap hal ini suatu perkembangan wajar dari gereja mula-mula, dan bahwa tidak ada apa2 yang terlalu serius dengan dunia kekristenan, tetapi bagi kita tidaklah demikian. Mengapa? Karena Alkitab telah menyatakannya dengan jelas penyebab kejatuhan gereja menjadi dunia kekristenan seperti yang kita lihat sekarang, bahkan telah dinubuatkan apa yang akan dialami dunia kekristenan pada saat menghadapi takhta pengadilan Kristus kelak.

Mari kita mulai dengan peringatan dan pewahyuan Paulus mengenai gereja mula-mula. Diakhir pelayanannya, Paulus menegaskan bahwa akan datang SERIGALA GANAS yang akan menyerang para pemimpin gereja (Kis. 20:28-30). Serangan serigala ganas ini akan menyebabkan beberapa pemimpin mengajarkan ajaran palsu dengan SATU TUJUAN YAITU MENARIK MURID-MURID KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI. Murid2 yang sebelumnya mengikuti pimpinan Roh dalam batin, kemudian menjadi pengikut pemimpin ini atau pengikut pemimpin itu. Akibatnya gereja tercabik2 oleh “serigala ganas” ini dan pecah menjadi puluhan ribu denominasi seperti yang terjadi dalam dunia kekristenan.

Tentu para pemimpin ini menganggap ajaran merekalah yang paling benar, tetapi masalahnya disini bukan lagi benar atau salah, tetapi masalahnya MEREKA MENARIK MURID-MURID MENJADI PENGIKUT MEREKA. Sepanjang para pemimpin ini tidak menarik murid2 menjadi pengikut mereka, maka hal yang wajar saja jika terjadi kekeliruan atau kesalahan para pemimpin dalam mengajar, karena memang pengetahuan para pemimpin belum sempurna. Seandainya para pemimpin hanya MEMPERLENGKAPI gereja saja (Efesus 4:11-13), dan tidak MENARIK murid2 kepada diri mereka, maka GEREJA TIDAK PECAH. Memang tujuan dari serangan “serigala ganas” ini adalah untuk mencabik-cabik gereja sehingga pecah. Disinilah kita melihat betapa seriusnya persoalan dunia kekristenan itu.

Kejatuhan gereja menjadi puluhan ribu denominasi itu adalah persoalan yang sangat serius, dan ini disebabkan oleh perilaku para pemimpin yang menarik murid2 kepada diri mereka sendiri. Tetapi, dalam dunia kekristenan, hal ini bukanlah persoalan serius, bahkan telah ada ajaran yang MEMBENARKAN PERPECAHAN GEREJA, yaitu ajaran ‘visible and invisible church’. Ajaran ini dimulai oleh Martin Luther serta diteruskan dalam sekolah2 Teologi, dan telah diterima secara luas dalam dunia kekristenan (Systematic Theology, by L. Berkhof, halaman 560-561). Ajaran ini menegaskan bahwa denominasi2 itu adalah ‘visible church’, dan semua anak Tuhan sejati diseluruh dunia adalah ‘invisible church’. Dengan ajaran ini maka murid2 Tuhan tidak lagi membedakan antara denominasi dan gereja, bahkan barangkali tidak tahu-menahu tentang penyebab kejatuhan gereja.

Para pemimpin gereja seharusnya berlaku seperti “urat2 dan sendi2” didalam Tubuh Kristus (Kolose 2:19). Para pemimpin ini akan ‘menunjang dan mengikat’ menjadi satu Tubuh Kristus itu. Para pemimpin ini tidak cari untung dalam pelayanannya, dan tidak menarik murid2 kepada diri mereka sendiri, apalagi menarik uang murid2 dengan ajaran palsu. Para pemimpin yang berlaku sebagai “urat2 dan sendi2” dalam Tubuh Kristus mengakui otoritas Hayat, yaitu otoritas Yesus yang adalah Hayat Tubuh (I am the Life). Mereka sadar bahwa mereka tidak mempunyai otoritas apapun atas umat Tuhan. Mereka tidak bangun denominasi, dan kerajaannya sendiri. Bahkan tentu mereka tidak menarik uang murid2 untuk membangun gedung2 agar menopang pelayanan mereka sendiri. Perilaku seperti ini tidak pernah dilakukan Paulus, Petrus, Yohanes, dan murid Tuhan lainnya dalam gereja mula-mula.

Sudah kita bahas bahwa gereja yang adalah “Rumah Elohim’ dimana didalamnya berdiam Elohim yang adalah ‘Keluarga’, serta yang termanifestasi ‘dari rumah ke rumah’, telah menjadi “Rumah yang besar” seperti yang dikatakan Paulus dalam II Timotius 2:20. Karena perilaku para pemimpin dalam dunia kekristenan yang menarik murid2 Tuhan menjadi pengikut mereka, serta tentu membangun kerajaannya sendiri juga, maka dunia kekristenan telah menjadi ‘Rumah yang besar’.

Baiklah kita perhatikan sekali lagi apa yang dikatakan Paulus dalam II Timotius 2:20 ini, “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia”. Didalam Alkitab, emas melambangkan sifat dasar Elohim, dan perak melambangkan sifat dasar manusia yang telah dilahirkan ulang dan ditebus. Sementara kayu dan tanah melambangkan sifat dasar manusia yang telah jatuh. Itu sebabnya, di ayat 21, ditegaskan bahwa agar seseorang dipakai untuk maksud yang mulia (seperti emas dan perak), maka ia perlu ‘menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat’ (ayat 21). Jadi, jelaslah dalam ‘Rumah yang besar’ ini semua orang kristen dipakai Tuhan, tetapi hanya orang2 yang ‘menyucikan diri dari hal-hal yang jahat’ yang dipakai untuk maksud mulia.

Untuk memperjelas pengertian kita mengenai ‘Rumah yang besar’ ini baiklah kita membandingkan ‘kota BESAR’ dan ‘kota KUDUS’, yang ada didalam kitab Wahyu, karena keduanya dipakai menjadi simbol dari gereja (Rumah Elohim). Kota besar yang adalah Babel besar itu adalah seorang perempuan yang tentunya merupakan simbol gereja (Wahyu 17:5). Sementara kota kudus (Yerusalem turun dari sorga) itu adalah pengantin perempuan (Wahyu 21:9-10). Tetapi, kedua perempuan ini sangat berbeda sifat dasarnya. Perempuan yang adalah kota besar itu disebut pelacur, sedangkan pengantin perempuan ini adalah mempelai Anak Domba. Akhir dari kedua perempuan ini juga sangat berbeda. Perempuan yang adalah kota BESAR akan runtuh pada waktunya (Wahyu 18:2), sedangkan pengantin perempuan yang adalah kota KUDUS akan melayani bersama Yesus dizaman-zaman berikutnya (Wahyu 19:11-16).

Apa yang menyebabkan akhir dari kedua perempuan ini sangat berbeda? Jawabnya, tentu saja karena yang satu itu BESAR, dan yang lain itu KUDUS. Kudus artinya dipisahkan semata-mata untuk kepentingan Elohim. Sesungguhnya, didalam ‘Rumah Elohim’ semua orang Kristen itu disebut orang2 kudus, karena memang telah dipisahkan semata-mata untuk kepentingan Elohim. Tetapi, karena ambisi dari “perabot kayu dan tanah” yang ingin besar, maka gereja terpecah dan terbelah menjadi ‘kota KUDUS’ dan ‘kota BESAR’.

Mari kita aplikasikan pembahasan kita ini kedalam dunia kekristenan. Sudah umum diterima bahwa pelayan Tuhan yang “besar” itu berarti pengikutnya banyak, gedung yang dibangunnya besar, juga popularitasnya, sekolahnya, penampilannya, dan sebagainya. Pendeknya yang dipersoalkan adalah soal BESARNYA. Tetapi, yang dipersoalkan Tuhan ialah apakah kita ini KUDUS dalam arti dipisahkan semata-mata untuk kepentinganNya, kemuliaanNya, maksud2Nya.

Saat ini kita akan mengulang pengertian2 dasar dari ‘Rumah Elohim’, dan menambahkannya dengan beberapa pengertian lainnya, serta menutup tulisan singkat ini. Pengertian2 dasar yang kita ambil tentu dalam kasus mimpi Yakub di Betel, karena dalam kasus inilah pertama kali ungkapan ‘Rumah Elohim’ itu muncul.

Pengertian dasar pertama, Elohim mau membangun RumahNya di bumi dengan cara menyatukan sorga dan bumi melalui suatu “tangga”, dimana “tangga” ini adalah Yesus, sebagai Anak Manusia. Kedua, Elohim membuat suatu perjanjian dan memberikan hukumNya kepada orang atau komunitas yang akan dipakaiNya membangun ‘Rumah Elohim’. Perjanjian dan hukumNya berbeda dalam setiap dispensasi (zaman). Ketiga, Rumah Elohim terdiri dari “batu2 hidup” yang dituang Roh Kudus, dan disusun rapih sedemikian sehingga menjadi suatu “tugu”, untuk mengingat karya Elohim dibumi. Batu yang dipakai Yakub sebagai alas kepala adalah “Batu penjuru” yaitu Yesus, dimana batu2 lainnya dibangun diatasNya. Inilah ketiga pengertian dasar ‘Rumah Elohim’ dimana pengertian2 lainnya dibangun diatasnya, sesuai prinsip yang biasa dikenal sebagai ‘first mention principle’.

Kita tentu tidak mengulang semua pengertian2 mengenai ‘Rumah Elohim’ yang telah kita bahas, tetapi hanya beberapa diantaranya saja. Pengertian selanjutnya adalah dalam kasus kemah Musa, yaitu Elohim akan memberikan pengalaman rohani kepada umat yang dipilihNya, dan semua pengalaman rohani ini disimbolkan oleh perabot2 kemah Musa. Kemudian, seluruh umat pilihanNya harus mengikuti ‘awan kemuliaan Tuhan’ saja. 

Berikutnya, dalam kasus kemah Daud. Dalam membangun RumahNya, Elohim akan membentuk orang2 pilihanNya menjadi raja2 dan imam2. Kemudian, dalam kasus Zerubabel, yang disebut ‘Rumah Elohim’ haruslah yang dibangun ditempat yang dipilihNya. Dalam konteks PB, tempat yang dipilihNya adalah batin/roh orang percaya.

Kita langsung masuk kedalam pengertian ‘Rumah Elohim’ yang adalah realita, bukan simbol, bayangan atau nubuat. Realita ‘Rumah Elohim’ adalah tubuh jasmani Yesus, dan melalui kematian serta kebangkitanNya, “diperluas” menjadi tubuh jasmani umatNya, dimana Elohim yang adalah ‘Keluarga’ berdiam didalam batin umatNya.

Kita akan menutup tulisan singkat mengenai ‘Rumah Elohim’ ini dengan melihat Wahyu 21:22, demikian, “Dan aku tidak melihat tempat kudus di dalamnya, karena Yahweh, Elohim Penguasa Semesta, adalah tempat kudus-Nya, juga Anak Domba” (ILT). Mengapa tidak ada ‘tempat kudus’ atau ‘rumah Elohim’ di kota Yerusalem Baru? Pertama, karena kota Yerusalem Baru itu adalah simbol mempelai Anak Domba, yang adalah gereja atau ‘Rumah Elohim’. Karenanya, didalam kota Yerusalem Baru tidak ada ‘tempat kudus’, sebab tempat kudus atau ‘Rumah Elohim’ itu adalah kota Yerusalem Baru. Kedua, karena Yahweh dan Anak Domba itu adalah tempat kudusnya. Disini tidak disebutkan Yahweh dan Anak Domba BERDIAM didalam umatNya, karena Elohim telah menyatu dengan umatNya, sesuai pengertian dasar ‘Rumah Elohim’ yaitu ‘penyatuan sorga dan bumi’. Karena penyatuan ini, maka ‘Rumah Elohim’ itu adalah PRIBADI Elohim sendiri.

Semua ini terjadi di zaman Langit dan Bumi Baru, dimana tidak ada lagi ‘maut’ (Wahyu 21:4). Dan upah dosa adalah maut, bukan nereka kekal seperti diajarkan selama ini (Roma 6:23). Jadi, di zaman Langit dan Bumi Baru, terjadi penyatuan antara Elohim dan manusia. Amin.

 

 

 

 

 

   

    

     

 

 

 

  

 

 

 

 

 

  

 

 

 

  

 

 

   

 

 

   

 

 

 

 

 

 

      

 

 

 

 

        

 

 

            

 

 

 

    

    

 

      

 

 

  

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Kerajaan Sorga Menurut Kitab Wahyu.

Jabatan Dalam Gereja