Kerajaan Sorga menurut Kitab Matius
Kerajaan Sorga Dalam Injil Matius
Oleh: Irnawan Silitonga
Tema kita kali ini adalah kerajaan sorga dalam injil Matius. Tulisan
singkat ini tidak bermaksud menafsirkan kitab Matius ayat per-ayat, tetapi
hanya membahas tema ‘kerajaan sorga’
yang ada dalam kitab ini. Memang kitab Matius merupakan injil bagi orang2
kristen berlatar belakang Yahudi, dimana tema utama kitab ini adalah kerajaan
sorga. Sesungguhnya, tema utama kitab2 dalam Perjanjian Baru adalah kerajaan
sorga. Sebab, Yesus dan rasul2Nya memberitakan khabar baik kerajaan sorga.
Karena itu, tema mengenai kerajaan sorga ini sangat penting untuk kita pahami
bersama.
Sayangnya, dalam dunia kekristenan telah umum dipercaya suatu
ungkapan, ‘percaya Yesus masuk sorga’,
dimana pengertian tentang sorga itu biasa dipahami sebagai suatu tempat
tertentu secara geografis di alam semesta ini. Selanjutnya juga diajarkan bahwa
orang2 kristen akan diangkat (rapture)
kelak ketika Tuhan Yesus datang kembali, walaupun tentu tidak semua orang
Kristen menganut ajaran ini. Melalui tulisan singkat ini, kita mencoba memahami
apa sebenarnya yang diberitakan Yesus dan rasul2Nya mengenai kerajaan sorga.
Mari kita mulai dengan silsilah Yesus Kristus yang tertulis
dalam Matius 1:1-17. Tentu kita tidak membahas silsilah ini dengan rinci,
tetapi kita akan perhatikan semacam kesimpulan dari silsilah ini yang tertulis
pada ayat 17, demikian, “Jadi seluruhnya
ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari
Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke
Babel sampai Kristus”.
Jika kita hitung ke-empat belas keturunan ini, maka didapati
bahwa dari Abraham (1) sampai Daud (14), kemudian dari Salomo (1) sampai
Yekhonya (14), selanjutnya dari Sealtiel (1) sampai Yesus, hanya (13), artinya
keturunan ke-14 adalah Kristus. Ayat 16, menyebutkan demikian, “dan Yakub memperanakkan Yusuf, suami Maria,
dari dialah YESUS yang disebut Kristus dilahirkan”. Karenanya, Yesus (13)
itu “memperanakkan” Kristus (14). Apakah artinya ini?
Dalam surat2 Paulus, istilah ‘Kristus’ itu bukan saja berarti
‘Yang Diurapi’ (Yun: Christos=yang diurapi), tetapi ada
beberapa makna yang perlu kita lihat. Pertama, Kristus itu bersifat
korporat (I Korintus 12:12). Maksudnya, Kristus itu adalah tubuh, terdiri dari
Kepala (Yesus), dan Tubuh (gereja). Kedua, Kristus adalah kerajaan
(Efesus 5:5). Ketiga, Kristus adalah Hayat kita (Galatia 2:20). Keempat,
Kristus ada didalam batin kita (Kolose 1:27). Karenanya, kerajaan Kristus itu
ada didalam batin kita, dan merupakan pengharapan kita akan kemuliaan Elohim
(Kolose 1:27).
Setelah kita memahami makna ‘Kristus’ itu, maka apakah
artinya Yesus “memperanakkan” Kristus? Perhatikan Yesaya 53:10, demikian, “…Sekiranya dia menaruh jiwanya sebagai
persembahan penghapus salah, dia akan
melihat benihnya, dia akan memperpanjang hari-harinya… (ILT). Ayat ini
merupakan nubuat terhadap Mesias sebagai korban penghapus salah. Setelah Mesias
mempersembahkan DiriNya sebagai korban penghapus salah, maka Ia akan melihat ‘benihnya’,
dan memperpanjang hari-hariNya. Istilah Ibrani untuk ‘benih’ adalah ‘zera’,
yang berarti ‘keturunan’. Jadi, melalui kematian dan kebangkitanNya, Yesus
memiliki “keturunan”, yaitu Kristus, dan melalui Kristus, Ia memperpanjang
hari-hariNya dibumi.
Yesus pernah berkata bahwa jika ‘biji gandum’ tidak jatuh
ketanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia jatuh ketanah dan
mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Dan Yesus juga pernah berkata kepada
murid2Nya bahwa kamu akan melakukan perkara2 yang lebih besar dari padaKu.
Selanjutnya, kepada Pilatus, Yesus berkata bahwa kedatanganNya kedunia ini
adalah untuk menegakkan kerajaanNya dibumi (Yohanes 18:37). Jika kita memahami
perkataan2 Yesus ini, maka kita paham bahwa Yesus sebagai Raja memperpanjang
hari-hariNya dibumi ini melalui Kristus, yang adalah “keturunanNya”.
Kerajaan sorga akan ditampilkan sepenuhnya dibumi ini melalui
‘Kristus’ yang adalah “keturunan” Yesus. Dan, kerajaan Kristus akan melakukan
perkara2 lebih besar lagi dibumi ini.
Kita lanjutkan pembahasan kita tentang kerajaan sorga di
Injil Matius ini. Kita akan membahas mengenai orang2 majus dari Timur. Matius
2:2, menyatakan, “dan bertanya-tanya:
Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat
bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia”. Orang2 majus dari
Timur telah mendapat visi (penglihatan) mengenai ‘bintang’ Krristus, karena
memang ada tertulis, “… bintang terbit
dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel…” (Bilangan 24:17). Oleh
anugerah Tuhan, orang2 majus telah melihat ‘bintang’ Kristus, namun mereka
berpikir bahwa raja orang Yahudi pasti dilahirkan di Yerusalem, kota yang
dipilih Yahweh bagi Israel untuk menegakkan NamaNya.
Dan, ketika orang2 majus bertanya-tanya, maka imam kepala dan
ahli Taurat bangsa Yahudi menegaskan bahwa Mesias akan dilahirkan di Bethlehem,
sesuai dengan nubuat nabi Mikha, demikian, “Tetapi
engkau, hai Bethlehem Efrata… dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang
akan memerintah Israel…” (Mikha 5:1). Kemudian, setelah orang2 majus
diberitahu tentang nubuat kitab suci, maka mereka pergi ke Bethlehem untuk
menyembahNya.
Ada fakta menarik disini yang dapat kita lihat. Orang2 majus
mendapat visi mengenai ‘bintang’ Kristus, tetapi hal ini belum cukup untuk
mereka mengetahui dimana sang Raja akan dilahirkan. Orang2 majus ini tetap
memerlukan tuntunan kitab suci untuk mengetahui dimana Raja orang Yahudi akan
dilahirkan. Sebaliknya, imam kepala dan ahli2 Taurat mengetahui dengan pasti dari
kitab suci, bahwa Mesias akan dilahirkan di Bethlehem, tetapi mereka tidak
datang untuk menyembahNya. Mengapa demikian?
Jawabnya ada didalam Matius 22:29, demikian, “Dan seraya menanggapi, YESUS berkata kepada
mereka, Kamu tersesat, karena tidak memahami kitab suci maupun kuasa Elohim”
(ILT). Orang2 majus, oleh anugerah dan kuasa Elohim, telah siap untuk menyembah
Raja orang Yahudi, namun mereka tersesat di Yerusalem dan tidak mengetahui
dimana Raja itu akan dilahirkan. Orang2 majus hanya mengalami kuasa Elohim,
tetapi tidak mengetahui kitab suci Yahudi. Sebaliknya, imam kepala dan ahli2
Taurat yang memahami kitab suci mereka, namun tidak mau datang menyembahNya,
karena ternyata mereka hanya mengetahui kitab suci saja, tetapi hatinya tidak
mengalami jamahan kuasa Elohim.
Selanjutnya, orang2 majus mempersembahkan persembahan
kepadaNya, yaitu emas, kemenyan, dan mur (Matius 2:11). Emas merupakan simbol
dari kodrat Ilahi. Aroma kemenyan merupakan simbol dari kebangkitan, sedangkan
mur merupakan simbol dari penderitaan dan kematian. Persembahan orang2 majus
ini menjadi suatu perjalanan kehidupan Yesus, yang memiliki kodrat Ilahi,
dimana melalui penderitaan, kematian dan kebangkitanNya, maka Ia duduk
disebelah kanan Bapa.
Melalui uraian singkat diatas, kita mendapat pelajaran bahwa
untuk menyembah Yesus, sang Raja, tidak hanya diperlukan pemahaman kitab suci,
tetapi juga harus mengalami kuasa Elohim yang mengubahkan hati kita hari lepas
hari. Pengetahuan kitab suci itu ada tempatnya, tetapi jangan kita berpikir
bahwa hanya pengetahuan kitab suci saja, maka orang dapat menyembahNya, atau
masuk kedalam kerajaanNya. Orang Kristen perlu belajar kitab suci dengan baik,
namun juga perlu mendapat kasih karunia untuk mengalami kuasa Elohim dalam
batinnya hari lepas hari. Setelah memahami kitab suci, dan mengalami kuasa
Elohim, barulah seseorang dapat menyembahNya dan masuk kedalam kerajaanNya.
Saat ini kita akan merenungkan ungkapan yang sering muncul
dalam injil Matius, yaitu ‘supaya
digenapi yang ada tertulis’. Istilah Yunani, ‘pleroo’ (kata kerja),
diterjemahkan ‘menggenapi’ muncul sebanyak 86x dalam PB. Didalam injil Matius,
ada kurang lebih 13x ungkapan senada, dalam Markus, 1x, didalam Lukas 2x, dan
dalam injil Yohanes ada 6x. Didalam injil Matius, lebih banyak ungkapan ‘supaya digenapi yang ada tertulis’,
karena injil ini memang ditujukan kepada bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi perlu
memahami bahwa kedatangan Yesus, serta pemberitaanNya tentang kerajaan sorga
(kerajaan Mesias) adalah penggenapan dari nubuat2 PL.
Semua nubuat PL memang terfokus kepada Yesus dan kerajaanNya,
tetapi kita akan memperhatikan beberapa nubuat saja, khususnya yang ada didalam
kitab Matius. Pertama, Matius 4:15-16, demikian, “… Galilea… bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang
besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit
Terang”. Pemberitaan Yesus tentang kerajaanNya dimulai di Galilea untuk
menggenapi nubuat PL. Ditegaskan pada nubuat diatas bahwa wilayah tersebut
dinaungi ‘maut’ (Yun: ‘thanatos’= kematian fisik dan
rohani). Maut (‘thanatos’) adalah upah dosa (Roma 6:23). Pemberitaan Yesus
tentang kerajaanNya akan mengalahkan ‘maut’, sebagaimana terang mengalahkan
gelap.
Banyak orang Kristen berpendapat bahwa kerajaan Mesias,
sebagai kerajaan Terang, hanya mengalahkan maut (kerajaan gelap) secara tidak
tuntas seluruhnya. Seolah2 kerajaan Terang dan kerajaan Gelap akan selalu ada
berdampingan. Perhatikan nubuat Yesaya 9:7 tentang kerajaan Mesias, demikian, “Dalam hal perluasan pemerintahan-Nya, dan
dalam hal damai sejahtera, tidaklah berkesudahan, diatas takhta Daud, dan
diatas kerajaan-Nya…” (ILT). Kerajaan Mesias, sebagai kerajaan Terang,
tidak akan berhenti mengalahkan kerajaan Gelap, sebagaimana terang jasmani
dengan kecepatan mendekati 300.000 km/detik, akan terus melenyapkan kegelapan.
Itu sebabnya, Alkitab menegaskan bahwa pada zaman Langit dan Bumi Baru, tidak
ada lagi ‘maut’ (‘thanatos’- Wahyu 21:4). Kemenangan kerajaan Mesias atas
kerajaan gelap adalah kemenangan mutlak, sempurna, dan tuntas. Umat pilihanNya
harus memberitakan kemenangan mutlak kerajaan Mesias atas kerajaan gelap.
Kedua, Matius 21:5, demikian, “Katakanlah
kepada putri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan
mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda”. Sepertinya,
ketika Mesias mengendarai ‘keledai’, tidak terlihat makna tertentu didalamnya.
Namun, dalam PL, kuda selalu melambangkan “kekuatan yang diandalkan manusia”,
dan Tuhan tidak suka dengannya (Yesaya 30:16; 31:1). Sementara, keledai itu
hewan yang berjalan lambat, namun Tuhan mempunyai waktuNya sendiri untuk
melangkah. Setiap warga kerajaan Mesias perlu belajar ‘waktu Tuhan’ dalam
segala sesuatunya. Kecepatan ‘kerajaan Mesias’ melangkah tidak dapat dipaksakan
sesuai keinginan kita. Umat pilihanNya perlu bertumbuh dalam ke-lemah lembut-an
Kristus, dan karenanya, memahami waktu Tuhan.
Demikianlah beberapa contoh nubuat PL mengenai kerajaan
Mesias yang telah digenapi oleh Yesus.
Kita masuk kedalam Matius 3 mengenai Yohanes Pembaptis. “Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis
di padang gurun Yudea dan memberitakan; Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah
dekat!” (Matius 3:1-2). Mari kita bandingkan pemberitaan Yohanes dengan
yang tertulis dalam Markus 1:1,4, demikian, “Permulaan Injil YESUS Kristus, Putra Elohim … Yohanes … memberitakan …”.
Jadi, tidak diragukan lagi bahwa permulaan injil (khabar baik) tentang kerajaan
sorga diberitakan oleh Yohanes Pembaptis.
Tetapi Yohanes pembaptis sendiri tidak ‘didalam’ kerajaan sorga. Yesus tegas katakan dalam Lukas 16:16,
demikian, “Torat dan para nabi ada sampai
Yohanes, dari sejak itulah kemudian kerajaan Elohim diinjilkan dan setiap orang
memaksa masuk ke dalamnya” (ILT). Demikian juga Matius 11:11, menegaskan,
“… sesungguhnya di antara mereka yang
dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari
pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar
dari padanya”.
Mari kita perhatikan beberapa fakta terkait Yohanes
Pembaptis. Pertama, pemberitaan (firman) tentang kerajaan sorga dimulai
dari pemberitaan Yohanes Pembaptis. Kedua, Yohanes Pembaptis sendiri
tidak didalam kerajaan sorga. Apa artinya ini? Kita harus jelas membedakan
antara KEDAULATAN Elohim, dan PEMERINTAHAN Elohim. Elohim jelas berdaulat,
dalam arti segala sesuatu ditentukan olehNya, bahkan burung jatuhpun tidak ada
yang terjadi diluar kehendak Bapa (Matius 10:29). Tetapi, pemerintahan Elohim
yang diberitakan Yesus, bukanlah sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Pemerintahan Elohim yang diberitakan Yesus adalah kerajaan sorga yang ada
didalam batin manusia. The kingdom of God
is within you. Kita akan membahas hal ini kelak. Jadi, Elohim berdaulat
menentukan segalanya DILUAR manusia, namun Elohim akan memerintah dan mengatur
segalanya MELALUI dan DIDALAM manusia.
Yohanes Pembaptis tidak didalam kerajaan sorga, karena
Yohanes hanya memberitakan FIRMAN tentang kerajaan sorga. Semua nabi sebelum
Yohanes memberitakan FIRMAN Tuhan. Tetapi, Yesus memberitakan kerajaan sorga,
serta mati, bangkit, duduk disebelah kanan Bapa dan mengutus Roh Kudus agar
berdiam didalam batin manusia untuk memerintah manusia, dan melalui manusia
memerintah segala sesuatu. Yohanes Pembaptis ‘lebih besar’ dari pada semua
orang kudus sebelumnya yang memberitakan firman Tuhan. Namun, orang kudus yang
terkecil didalam kerajaan sorga, lebih besar dari padanya.
Ketiga, Yohanes Pembaptis lebih tua 6 bulan dari pada Yesus, jadi
ia memulai pelayanannya dalam usia sekitar 30 tahun. Kurang lebih ia melayani
selama 1-2 tahun, dan selebihnya ia dipenjara dan dipenggal kepalanya. Tetapi,
persiapan sebelum ia melayani sebagai seorang yang mempersiapkan jalan bagi
Tuhan, barangkali, mencapai 30 tahun. Yohanes Pembaptis dipersiapkan Bapa di
padang gurun, seperti “seorang petapa”. Yohanes Pembaptis tidak pernah terlihat
seperti anak2 Yahudi lainnya, dimana sejak kecil mereka telah diajar Taurat di
sinagoga2 oleh para Rabi Yahudi. Namun, Yohanes Pembaptis tentu seorang yang
bersekutu dengan Bapa disorga. Fakta ini menarik untuk kita renungkan.
Mari kita terapkan kedalam konteks kita saat ini, bagaimana
Yohanes Pembaptis dipersiapkan Bapa. Dalam dunia kekristenan, pada umumnya,
orang yang mau melayani secara “full time”, harus melalui sekolah2 Teologi yang
resmi. Kita bukan anti sekolah2 Teologi, tetapi kekristenan memang telah
menjadi agama. Dan, sebagai agama kristen tentu penuh dengan aturan2 yang
dibuat manusia. Anehnya, ajaran tentang kerajaan sorga dalam dunia kekristenan,
umumnya, seperti berikut, “percaya Yesus, masuk sorga”, dalam arti dievakuasi
kesuatu “tempat yang indah nun jauh disana”, yang disebut Rumah Bapa. Kita akan
melihat kelak bahwa Injil Matius, maupun kitab2 dalam PB, sama sekali tidak
memberitakan hal sedemikian.
Kita masih meneruskan pembahasan kita mengenai Yohanes
Pembaptis, saat ini kita akan membahas pemberitaan Yohanes Pembaptis. Matius
3:1-2, menegaskan, “Pada waktu itu
tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan;
Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Kita tahu bahwa Yohanes
Pembaptis merupakan seorang yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Atau lebih
tepat lagi, Yohanes Pembaptis “meratakan jalan” agar kerajaan sorga dapat
hadir, sebab sudah sangat dekat.
Yohanes Pembaptis “meratakan jalan” bagi kerajaan sorga
dengan berseru agar bangsa Yahudi bertobat. Istilah Yunani yang diterjemahkan
dengan ‘bertobatlah’ adalah ‘metanoeo’, suatu kata kerja yang
berarti ‘merubah pikiran’, atau ‘merubah konsep’, secara khusus terkait
dengan penerimaan kehendak Elohim. Seseorang harus merubah pikirannya atau
konsepnya agar dapat menerima kehendak Elohim, atau menerima kerajaan sorga.
Perubahan pikiran yang dimaksud disini bukan saja terkait
dengan perilaku yang jahat, tetapi juga dengan perilaku ‘agamawi’. Marilah kita
renungkan hal ini baik2. Yohanes Pembaptis dan Yesus sama-sama memberitakan
khabar baik (Injil) kerajaan sorga. Kerajaan sorga bukanlah sesuatu yang sudah
pernah diberitakan sebelumnya. Khabar baik kerajaan sorga merupakan sesuatu
yang sangat radikal, dan bangsa Yahudi belum pernah mendengar hal ini sebelumnya.
Memang secara nubuat, kitab2 PL telah berbicara mengenai Mesias dan
kerajaanNya, namun dalam realitanya, mereka belum memahami.
Kerajaan sorga yang akan dihadirkan adalah suatu pemerintahan
Elohim didalam batin manusia. Cara beribadah orang2 yang menerima kerajaan
sorga didalam batinnya tidaklah sama dengan cara beribadah dalam agama Yahudi
(Yudaisme). Bangsa Yahudi harus benar-benar merubah pikiran dan konsep mereka,
terutama konsep agamawi mereka, agar dapat menerima kerajaan sorga. Ibadah
didalam diri orang2 yang menerima kerajaan sorga adalah ibadah dalam roh dan
realita. Yesus tegaskan kepada perempuan Samaria bahwa ibadah bukanlah soal
ritual ini atau itu, bukanlah soal ditempat ini atau itu. Ibadah adalah perkara
didalam hati manusia yang mentaati pemerintahan Elohim dalam dirinya.
Tidaklah mudah bagi bangsa Yahudi untuk menerima kerajaan
sorga, terutama para pemimpin agamanya. Mereka berpikir bahwa Mesias adalah
anak Daud, dan karenanya kerajaan Mesias itu haruslah kerajaan jasmani seperti
kerajaan Daud. Kerajaan Mesias haruslah melepaskan Israel dari musuh2 jasmani
mereka, dan pada zaman itu adalah kekaisaran Roma. Sementara itu, kerajaan
sorga yang akan hadir adalah kerajaan yang berasal dari dimensi sorgawi.
Kerajaan sorga akan membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan perbudakan
kebinasaan. Itu sebabnya, bangsa Yahudi harus bertobat bukan saja dari perilaku
yang jahat, tetapi dari perilaku agamawi mereka.
Ketika para pemimpin agama Yahudi datang kepada Yohanes
Pembaptis, maka Yohanes menegur dengan keras dan berkata, “…Hai kamu keturunan ular beludak… jadi
hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira bahwa
kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami…” (Matius 3:7-9).
Menarik untuk diperhatikan disini bahwa Yohanes tidak menunjuk kepada dosa2
tertentu dari para pemimpin agama Yahudi ini, melainkan kepada “kebanggaan
agamawi” atau kebanggaan sebagai umat pilihan Yahweh karena memiliki Abraham
sebagai bapa mereka. Kita akan lihat kelak bahwa kehadiran kerajaan sorga akan
menutup dispensasi Hukum Taurat dengan segala ritual2nya. Pada tahun 70 M. Bait
Suci dihancurkan, dan praktis segala ritual2 agama Yahudi terhenti. Jika para
pemimpin agama Yahudi dapat merubah konsep agamawi mereka, maka barulah mereka
dapat menerima kerajaan sorga. Itu sebabnya, mereka harus bertobat.
Saat ini, dunia kekristenan juga sudah menjadi agama dengan
segala ritual dan aturan2nya. Seseorang yang menerima kerajaan sorga didalam
batinnya, dan mengikuti pemerintahan Elohim dalam batinnya, tidak mungkin
berada dalam sistem kekristenan saat ini. Para pemimpin agama dalam dunia
kekristenan juga harus bertobat agar dapat beribadah mengikuti pemerintahan
Elohim dalam batinnya.
Kita akan membahas perihal Yesus yang dibaptis oleh Yohanes
Pembaptis. Matius 3:13-15, demikian, “Kemudian
datanglah YESUS dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes, untuk dibaptis olehnya…
Akan tetapi sambil menanggapi, YESUS berkata kepadanya, Turutilah sekarang,
karena demikianlah yang seharusnya terjadi pada kita untuk menggenapi seluruh
kebenaran…” (ILT). Kita harus ingat bahwa baptisan Yohanes adalah
pembaptisan dengan air kepada pertobatan (Matius 3:11). Dan telah kita tegaskan
bahwa pertobatan itu berarti suatu perubahan pikiran dan konsep, bukan saja
terkait perilaku yang jahat tetapi juga perilaku agamawi.
Alasan Yesus dibaptis oleh Yohanes adalah untuk ‘menggenapi seluruh kebenaran’. Tentu
Yesus dibaptis oleh Yohanes bukan karena Ia berdosa. Tetapi setidaknya, ada dua
hal yang perlu kita renungkan disini. Pertama, Yesus dibaptis sebagai
suatu tanda ‘identifikasi’. Yesus
sebagai Anak Domba yang akan menjadi korban penghapus dosa harus
meng-identifikasi-kan DiriNya atau “menjadi
sama” dengan orang berdosa, agar Ia dapat mati ganti manusia berdosa. II Korintus 5:21, menegaskan, “Sebab, Dia yang tidak mengenal dosa, demi
kita Dia telah menjadi dosa, supaya kita dapat menjadi kebenaran Elohim di
dalam Dia” (ILT).
Kedua, Yesus dibaptis oleh Yohanes dalam ‘identifikasi-Nya’ sebagai seorang
Yahudi yang harus melewati proses “perubahan pikiran agamawi”. Program
penyelamatan Elohim terus bergerak maju. Ibrani 8:13, menegaskan, “Oleh karena Ia berkata-kata tentang
perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah
menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada
kemusnahannya”. Kurang lebih 10 tahun kemudian setelah ditulisnya surat
Ibrani ini, maka Bait Suci Yerusalem dimusnahkan. Perjanjian Lama dengan segala
ritualnya praktis tidak dapat dijalankan lagi. Dan program penyelamatan Elohim
terhadap bangsa Yahudi, maupun terhadap bangsa2 lain adalah didalam dan melalui
Perjanjian Baru. Yesus telah menubuatkan kehancuran Bait Suci Yerusalem, dan
tidak pernah menubuatkan akan didirikan Bait Suci Yerusalem yang ketiga. Seluruh
bangsa Yahudi harus melalui ‘perubahan pikiran’ (pertobatan) dari agama mereka
(Yudaisme), agar dapat menerima kerajaan sorga. Dan Yesus meng-identifikasikan
DiriNya dengan cara dibaptis oleh Yohanes.
Sejak gereja mula-mula pecah menjadi puluhan ribu denominasi,
sesungguhnya telah terjadi ‘kemunduran’ dalam gereja. Gereja tidak lagi
sepenuhnya memelihara Perjanjian Baru. Dunia kekristenan dengan segala “ritual
campurannya”, baik itu aturan2 organisasi, aturan2 Perjanjian Lama, seperti
hukum persepuluhan, buah sulung, dan lainnya, maupun aturan2 dari sang pemimpin
itu sendiri, telah menjadi semacam “agama baru”. “Agama baru” ini bukan agama
Yahudi, juga bukan Kristen, dalam arti mengikuti Kristus kemana saja Ia pergi
(Wahyu 14:4), tetapi agama baru ini adalah agama Kristen. Yesus tidak pernah
datang untuk membangun suatu agama apapun termasuk agama kristen, Ia datang
supaya kita memperoleh Hayat (‘zoe’), dan hidup kita sehari-hari
diatur oleh Hayat Kristus. Kita hidup sebagai organisme Kristus, yaitu Tubuh Kristus,
dan tidak ada otoritas lain selain otoritas Hayat Kristus yang mengatur Tubuh.
Otoritas dalam dunia kekristenan adalah “otoritas campuran”. Selain otoritas
Hayat Kristus juga ada otoritas para pemimpin yang menarik umat Tuhan kepada
diri mereka, serta membangun kerajaannya sendiri, yaitu
denominasi-denominasi.
Jika seseorang mandapat kasih karunia dan ditentukan Bapa
untuk menerima kerajaan itu, seperti ditegaskan dalam Lukas 12:32, demikian, “Jangan takut, hai kamu kawanan kecil! Karena
Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”, maka kita akan
bertobat dan meninggalkan perilaku agamawi yang ada dalam dunia
kekristenan.
Kita teruskan pembahasan kita dengan melihat apa yang terjadi
pada Yesus setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Matius 3:17, menegaskan, “lalu terdengarlah suara dari sorga yang
mengatakan: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”. Kita
lihat disini bahwa Bapa disorga sudah berkenan kepada Yesus, ketika Ia belum
melakukan pelayananNya sama sekali. Selama kurang lebih 30 tahun kehidupan
Yesus, Bapa telah berkenan kepadaNya. Seseorang tidak harus terlihat melakukan
“aktifitas agamawi” untuk berkenan kepada Bapa. Jika kehidupan kita sehari-hari
dipimpin Kristus yang ada didalam batin kita, maka kita berkenan kepada Bapa
disorga. Sekali lagi kita lihat bahwa segala “aktifitas agamawi” seseorang
tidak lantas atau langsung membuat Bapa berkenan kepadanya.
Selanjutnya, Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk
dicobai Iblis (Matius 4:1-11). Kita tidak membahas dengan rinci pencobaan Iblis
ini, tetapi kita akan melihat bagaimana Yesus menghadapinya. Pencobaan pertama
dan kedua dari Iblis membujuk Yesus untuk ‘bertindak
sendiri’ sebagai Putera Elohim untuk memenuhi kebutuhanNya. Tetapi Yesus
menolaknya dengan berkata ‘ada tertulis’.
Yesus, sebagai Anak Manusia, tergantung sepenuhnya kepada Bapa. Pada pencobaan
ketiga, Iblis berjanji kepada Yesus, sebagai Anak Manusia, untuk memberikan
semua kerajaan dunia dan kemegahannya, jika Yesus mau menyembahnya. Juga hal
ini ditolakNya dengan berkata, ‘ada
tertulis’. Disini kita lihat jelas bahwa Yesus sepenuhnya bergantung kepada
Bapa. Yesus tidak mau melakukan sesuatu atas dasar inisiatif-Nya atau
kehendak-Nya sendiri. Yesus diutus Bapa disorga sebagai ‘Anak Manusia’ agar dapat menebus dosa ‘manusia’. Dan, sebagai manusia, Ia sepenuhnya tergantung Bapa.
Hal ini berbeda dengan peristiwa dimana Iblis mencobai Adam
dan Hawa di Taman Eden. Adam dan Hawa bertindak sendiri untuk memiliki
pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Sebelum Iblis mencobai Adam-Hawa,
mereka tidak tahu apapun tentang yang baik dan jahat. Mereka sepenuhnya
tergantung Bapa dalam menentukan baik atau jahat. Jika Bapa disorga berkata
bahwa sesuetu itu baik, maka merekapun berkata bahwa tu baik. Jika Bapa disorga
berkata bahwa sesuatu itu jahat, maka merekapun berkata bahwa sesuatu itu
jahat. Sebelum datang pencobaan Iblis, mereka sepenuhnya tergantung kepada Bapa
disorga. Kejatuhan Adam-Hawa pada intinya (esensinya) adalah MENENTUKAN SENDIRI
APA YANG BAIK DAN APA YANG JAHAT.
Sesungguhnya, dunia kekristenan telah menjadi AGAMA, yaitu
agama Kristen. Melalui tiga ajaran palsu Izebel,
Bileam dan Nikolaus, kekristenan yang awalnya organisme yang diatur langsung
oleh Hayat Kristus, telah berubah menjadi dunia (sistem=’kosmos’) keagamaan. Dan
pada intinya (esensinya) dunia kekristenan, melalui para pemimpinnya
masing-masing, telah menentukan sendiri apa yang baik, dan apa yang jahat.
Setiap denominasi memiliki pengertian sendiri tentang yang baik dan jahat
menurut pemimpinnya. Tentu setiap pemimpin akan berkata, ‘ada tertulis’. Tetapi pada kedatanganNya, Ia akan berterus terang,
dan akan menghakimi dunia kekristenan, agar kita semua mengenal kebenaran,
mengenal apa yang benar dan apa yang salah menurut Yesus.
Setelah dicobai oleh Iblis, maka Yesus mulai memberitakan
khabar baik kerajaan sorga. Matius 4:17, menegaskan, “Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: Bertobatlah, sebab Kerajaan
Sorga sudah dekat”. Istilah Yunani, ‘eggizo’, yang diterjemahkan, ‘sudah
dekat’ pada ayat diatas, sebenarnya berarti ‘suatu tindakan pada masa lalu, tetapi masih memberi efek terus menerus
sampai saat ini’. Artinya, Kerajaan Sorga sudah tiba, dan tidak harus
ditunggu lagi untuk datang di masa depan. Esensi dari pesan yang dibawa Yesus
adalah waktu Tuhan sudah tiba-sekarang. KerajaanNya sekarang sudah datang, dan
menerobos dunia dimana manusia berdiam.
Lukas 17:21, menegaskan, “juga
orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab
sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (LAI). Istilah Yunani, ‘entos’
yang diterjemahkan, ‘diantara’, sesungguhnya berarti ‘didalam’.
Jadi, kerajaan sorga sesungguhnya ada ‘didalam’ kamu. Kerajaan sorga adalah
kerajaan yang ada dalam dimensi sorgawi, dan kerajaan sorga sudah datang, serta
ada didalam batin manusia. Seseorang harus bertobat dari dosa2nya, dan juga
dari praktek2 agamawi, serta percaya Yesus agar dapat masuk kedalam kerajaan
sorga, dan merasakan kuasa kehadiran kerajaan sorga didalam batinnya.
Yesus datang kedalam dunia ini memberitakan khabar baik
kerajaan sorga. Perhatikan Matius 4:23, demikian, “Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah
ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit
dan kelemahan di antara bangsa itu” (LAI). Yesus tidak memberitakan injil
lainnya, selain injil (khabar baik) kerajaan sorga. Dari ayat diatas kita lihat
urutannya, yaitu pertama, ‘mengajar’,
kemudian, ‘memberitakan’,
selanjutnya, ‘mendemonstrasikan kuasa’ dari kerajaan sorga itu dengan
melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
Langkah pertama yang dilakukan Yesus adalah mengajar tentang
khabar baik kerajaan sorga, dan kemudian memberitakan kerajaan sorga. Seseorang
menjelaskan perbedaan mengajar dan memberitakan sedemikian. Mengajar itu selalu
dilakukan dengan teratur dan sistematis. Seseorang yang mengajarkan kerajaan
sorga harus menjelaskan apa, mengapa dan bagaimana kerajaan sorga itu. Tetapi,
memberitakan kerajaan sorga itu seperti memproklamasikannya, yaitu seperti, ‘bertobatlah, sebab kerajaan sorga sudah
dekat’. Ini adalah memproklamasikan kerajaan sorga. Setelah kerajaan sorga
diajarkan dan diberitakan, barulah kuasa kehadirannya dipertontonkan.
Dalam dunia kekristenan sering orang berkata yang penting injil
diberitakan. Saudaraku, sadarkah kita bahwa ungkapan ‘memberitakan Injil’ itu
adalah kalimat yang tidak lengkap. Persoalannya, injil atau khabar baik apa
yang diberitakan? Ada banyak khabar baik didunia ini. Tetapi, Yesus dan
rasul2Nya hanya memberitakan satu khabar baik, yaitu khabar baik kerajaan
sorga. Dan cara Yesus menyampaikan khabar baik kerajaan sorga adalah dengan
mengajar, memberitakan, dan mendemonstrasikan kuasanya.
Saat ini, sebagai umat kerajaan, kita perlu mengajarkan
khabar baik kerajaan sorga, sesuai dengan karunia/talenta yang Tuhan berikan.
Kita juga perlu memproklamasikannya. Dan, terakhir, kita juga perlu
mendemonstrasikan kuasa kerajaan sorga dalam kehidupan kita sehari-hari. Yesus
berjanji, ‘kamu akan melakukan perkara2
yang lebih besar lagi’. Kita percaya ketika putera2 Elohim ditampilkan
dibumi ini dengan tubuh kemuliaan, maka kita akan melakukan perkara2 yang lebih
besar lagi, sesuai janji Tuhan Yesus.
Telah kita lihat bahwa kerajaan sorga sudah datang ke bumi
ini. Yesus adalah permulaan hadirnya kerajaan sorga dibumi. Sesungguhnya, Yesus
adalah kerajaan sorga dimuka bumi ini, Yesus adalah pemerintahan Elohim yang
berdiam didalam manusia. Ketika Yesus datang kebumi ini 2000 tahun yang lalu,
maka kerajaan sorga sudah datang kebumi. Yesus menegaskan bahwa jika ‘biji
gandum’ tidak jatuh ketanah dan mati, maka ia tetap satu biji saja. Tetapi,
jika ia mati, maka ia menghasilkan banyak buah. Melalui kematian, kebangkitan,
serta kenaikanNya kesorga, maka Roh Kudus dicurahkan kepada 120 orang muridNya.
Inilah “banyak buah” yang dimaksud Yesus, karena Ia telah mati, bangkit dan
duduk disebelah kanan Bapa.
Selanjutnya, kita akan membahas Matius pasal 5-7, yang biasa
disebut ‘khotbah dibukit’. Tentu kita tidak membahasnya ayat per ayat, namun
sebelum kita membahasnya, marilah kita perhatikan Matius 5:1-2, berikut ini, “Ketika Yesus melihat orang banyak itu,
naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-muridNya
kepadaNya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kataNya…”.
Istilah ‘mereka’ pada ayat ini adalah
murid2Nya. Yesus tidak berbicara kepada ‘orang banyak’. Bahkan terkesan bahwa
Yesus menghindari ‘orang banyak’ dengan cara mendaki keatas bukit. Walaupun,
pada akhirnya, ‘orang banyak’ ikut mendengarkan dan takjub mendengar
pengajaranNya (Matius 7:28), tetapi jelas pengajaran Yesus pada ‘khotbah
dibukit’ bukan ditujukan kepada ‘orang banyak’. Mengapa demikian?
Didalam kitab2 Injil para pengikut Yesus bermacam2. Ada yang
disebut ‘orang banyak’, ada yang disebut ‘murid2Nya’, dan ada juga yang disebut
‘rasul2’. Bahkan diantara rasul2pun, ada tiga orang, yaitu Petrus, Yohanes dan
Yakobus, yang diajak Yesus bersama-sama dalam beberapa kasus tertentu.
Mari kita melihat kasus Yesus memberi makan 5000 laki-laki dalam
injil Yohanes, dimana ‘orang banyak’ ini pada akhirnya mencari Yesus (Yohanes
6:1-27). Kita harus paham bahwa ‘orang banyak’ ini mengikut Yesus karena, “…mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan,
yang diadakanNya terhadap orang-orang sakit” (ayat 2). Walaupun demikian,
Yesus tetap memberkati ‘orang banyak’ yang mengikutiNya dengan memberi mereka
makan roti. Tetapi ketika ‘orang banyak’ yang telah makan “roti mujizat” ini
kembali mencari Yesus, maka Yesus menegor mereka agar mereka bekerja untuk makanan
yang tidak akan binasa, yaitu “roti hidup” yang akan Yesus berikan (ayat
26-27). Jadi, kita lihat bahwa ‘orang banyak’ adalah pengikut Yesus, namun
mereka mengikutiNya karena mujizat dan roti jasmani. Yesus tetap memberkati
mereka, namun juga menegor mereka.
Mari kita kembali kepada ‘khobah dibukit’. Khotbah dibukit
adalah pengajaran tentang kerajaan sorga yang khusus ditujukan untuk murid2
Yesus. Bukan berarti Yesus tidak memberkati ‘orang banyak’ yang mengikutiNya,
tetapi perihal pengajaran kerajaan sorga memang bukanlah konsumsi ‘orang
banyak’.
Dalam dunia kekristenan juga terdapat “orang banyak”, dan
juga murid2 Tuhan. Orang banyak dalam dunia kekristenan mencari Yesus untuk
roti jasmani dan mujizat2Nya. Sekali lagi, Yesus tetap memberkati ‘orang banyak’,
tetapi dalam hal pengajaran tentang kerajaan sorga bukanlah konsumsi “orang
banyak” dalam dunia kekristenan. Itu sebabnya, dalam dunia kekristenan, ada
banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Semua tergantung kedaulatan
Bapa untuk memberikan ‘kerajaan’ kepada siapa yang Bapa berkenan (Lukas 12:32).
Mari kita kembali merenungkan Matius 5-7, dimana telah kita
lihat bahwa khotbah dibukit ini, secara khusus, ditujukan kepada murid2 Yesus.
Khotbah dibukit ini adalah pengajaran Yesus tentang kerajaan sorga. Kita akan
melihat nanti bahwa Yesus berkali-kali membandingkan pengajaranNya dengan agama
Yahudi, yang tentu didasarkan oleh Hukum Taurat. Kita dapat menyebut pengajaran
Yesus dibukit ini adalah pengajaran tentang Hukum Kerajaan Sorga. Kita menyebut
khotbah dibukit ini sebagai Hukum Kerajaan Sorga karena didalam Matius 7:21-23,
terdapat orang2 yang melanggar Hukum Kerajaan Sorga. Perhatikan istilah Yunani
‘anomia’
di ayat 23, yang berarti ‘ketiadaan hukum’ atau ‘violation of Law’ (pelanggaran Hukum).
Jadi, Matius 5-7, adalah pengajaran Yesus tentang Hukum kerajaan Sorga.
Barangkali, kita bisa memberi judul terhadap khotbah dibukit ini sebagai ‘Hukum
Taurat dan Hukum Kerajaan Sorga’.
Tetapi kita harus sangat jelas dalam membedakan Hukum Taurat
dan Hukum kerajaan Sorga. Galatia 3:23-25, menegaskan, “Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat,
dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah
penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.
Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi dibawah
pengawasan penuntun”.
Bagaimana Hukum Taurat dapat menuntun seseorang untuk datang
kepada Kristus? Hukum Taurat berfungsi membuat seseorang menyadari bahwa dirinya
berdosa. Perhatikan Roma 7:7, “…. Justru
oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa…”. Jika, oleh kasih karunia
Elohim, seseorang sadar akan dosanya dan juga sadar bahwa ia tidak dapat
memenuhi hukum Tuhan, maka ia akan datang kepada Kristus untuk dibenarkan oleh
iman. Demikianlah Hukum Taurat menjadi penuntun agar seseorang datang kepada
Kristus. Hukum Kerajaan Sorga yang diajarkan Yesus dalam Matius 5-7, tidaklah
berfungsi seperti Hukum Taurat yang membongkar dosa-dosa, melainkan justru
dengan memahami Hukum Kerajaan Sorga, maka seseorang akan hidup oleh iman,
serta semata-mata bergantung pada kasih karunia Tuhan.
Satu cara lagi untuk membedakan Hukum Taurat dan Hukum
kerajaan Sorga. Ketika Yesus datang dan memberitakan injil kerajaan sorga, maka
Yesus membuka suatu dispensasi yang baru, kita sebut saja dispensasi kerajaan
sorga. Dispensasi lama, yaitu dispensasi Hukum Taurat berlaku sampai kepada
zaman Yohanes Pembaptis (Lukas 16:16). Memang Yohanes Pembaptis memberitakan
kerajaan sorga juga sebagai ‘perintis’,
tetapi ia sendiri ada dan melayani didalam dispensasi Hukum Taurat dan para
nabi. Jadi, ketika Yesus mengajarkan Hukum Kerajaan Sorga, hal ini sama sekali
tidak terkait dengan dispensasi Hukum Taurat. Bukan berarti Hukum Taurat
dilanggar, melainkan Yesus telah dengan sempurna menggenapi Hukum Taurat, dan
sekaranglah tiba dispensasi Kerajaan Sorga.
Beberapa orang lebih suka menyebut dispensasi baru ini
sebagai dispensasi ‘kasih karunia’ atau dispensasi ‘gereja’. Hal ini tidak
masalah sepanjang kita memiliki pengertian yang tepat mengenai kerajaan sorga.
Sesungguhnya, kerajaan sorga SUDAH datang didalam diri Tuhan Yesus, dan SEDANG
datang, karena dimana dua-tiga orang berkumpul dalam namaNya Tuhan Yesus hadir,
dan AKAN DATANG secara penuh ketika putera2 Elohim ditampilkan dibumi ini
dengan tubuh kemuliaan (Roma 8:19-21). Jadi, kerajaan sorga sudah datang
kebumi, sedang datang terus dibumi, dan akan termanifestasi dengan penuh
dibumi, ketika Tuhan Yesus datang “kedua kali”.
Kita masih terus membahas ‘Hukum kerajaan Sorga’ yang
diajarkan Yesus dalam Matius 5-7. Telah kita tegaskan bahwa Hukum kerajaan
Sorga ditujukan khusus bagi murid2 Yesus. Mari kita bandingkan ‘Hukum kerajaan
Sorga’ dengan apa yang Paulus tegaskan dalam I Korintus 9:21, demikian, “Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah
hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat,
sekalipun aku tidak hidup diluar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum
Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum
Taurat” (LAI). Paulus tegas menyatakan disini bahwa ia hidup dibawah ‘hukum
Kristus’.
Istilah ‘Kristus’ (Yun:’Christos’) didalam PB muncul
sebanyak 529 kali, yang berarti ‘Mesias’ atau ‘yang diurapi’. Matius
menggunakan istilah ‘Kristus’ dengan ‘definite
article’ untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan
(Matius 2:4). Para pembaca injil Matius yang berlatar belakang Yahudi sangat
memahami hal ini. Tulisan2 Paulus penuh dengan istilah ‘Kristus’ dengan
pengertian ‘suatu nama’, seperti terdapat dalam Roma 5:6; I Korintus 1:6,13,17;
Efesus 2:5; Filipi 1:15; II Tesalonika 3:5; I Timotius 5:11. Dan, ungkapan yang
sering digunakan Paulus untuk menjelaskan hubungan antara orang percaya dengan
Tuhan Yesus adalah ‘dalam Kristus’
(II Korintus 5:17; Efesus 1:3-14; Filipi 3:8-9).
Ketika Paulus menggunakan istilah ‘Kristus’, maka ada
beberapa makna didalamnya. Kita akan melihat beberapa makna yang dimaksud
Paulus, agar kita lebih memahami ungkapan, ‘hidup
dibawah hukum Kristus’, yang dimaksud Paulus dalam ayat kita diatas. Pertama,
Kristus adalah kerajaan. Efesus 5:5, menegaskan, “… yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus…”. Kedua,
Kristus adalah hidup kita. Filipi 1:21, menyatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus…”. Kolose 3:4, menegaskan, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita…”.
Ketiga,
Kristus adalah Roh. Roma 8:9, menyatakan, “… Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus”.
Keempat,
Kristus ada didalam batin kita. Kolose 1:27, menyatakan, “… Kristus yang ada di dalam kamu, selaku
pengharapan kemuliaan” (ILT).
Dengan memperhatikan beberapa makna dari istilah ‘Kristus’
yang dipakai Paulus diatas, maka kita dapat memahami ungkapan ‘hidup dibawah hukum Kristus’ tidak lain
adalah ‘hidup dibawah hukum kerajaan
sorga’. Tetapi, hukum Kristus itu ada didalam batin kita sebagai Hayat (‘zoe’)
kita. Dengan bertumbuhnya ‘zoe’ didalam batin kita, maka
bertumbuh juga pengenalan kita akan hukum Kristus. Karenanya, semakin hari,
kita semakin hidup dibawah hukum Kristus.
Hukum Kerajaan Sorga yang diajarkan Yesus dalam Matius 5-7,
bukan dijalankan oleh kita, tetapi oleh hukum Kristus yang ada didalam batin
kita. Kita tidak mungkin dapat mentaati Hukum kerajaan sorga yang tertulis
dalam Matius 5-7. Tetapi, dengan bertumbuhnya hukum Kristus dalam batin kita,
maka kita semakin dimampukan untuk melakukan Hukum Kerajaan Sorga dalam Matius
5-7. Bukan kita yang menjalankan Hukum kerajaan Sorga, tetapi Kristus yang ada
didalam batin kita.
Itu sebabnya, murid2 Yesus yang menjalankan hukum kerajaan
Sorga dalam Matius 5-7, tidaklah seperti orang2 Yahudi yang hidup dibawah Hukum
Taurat. Murid2 Yesus tidak berada dibawah Hukum Taurat, melainkan dibawah kasih
karunia. Yesus yang mengajarkan hukum Kerajaan Sorga kepada murid2Nya, tetapi
Kristus dalam batin kita yang melakukannya.
Kita teruskan pembahasan kita tentang ‘hukum kerajaan sorga’
dalam Matius 5-7. Telah kita lihat bahwa hukum kerajaan sorga itu sama dengan
hukum Kristus didalam batin kita. Dan, dengan bertumbuhnya hidup Kristus (‘zoe’)
didalam batin kita, maka kita semakin hidup dibawah hukum Kristus atau hukum
kerajaan sorga. Kita tidak perlu heran/menghindar dari tuntutan2 Hukum Kerajaan
Sorga dalam Matius 5-7 ini, ataupun mencoba “menurunkan standard” dari
tuntutan2 Hukum ini. Karena, tuntutan2 Hukum Kerajaan Sorga ini dijalankan oleh
Kristus yang ada didalam batin kita.
Mari kita ambil satu contoh tuntutan Hukum Kerajaan Sorga ini
didalam Matius 5:48, demikian, “Karena
itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”.
Perhatikan tuntutan ini, ‘kamu harus sempurna’, dan tingkat kesempurnaannya
‘haruslah sama seperti’ kesempurnaan Bapa disorga. Kita jangan langsung
berpikir bahwa kesempurnaan ini tidak mungkin kita capai. Sudah tentu tidak
mungkin kita capai selama kita berdiam didalam tubuh ini, bahkan dengan bantuan
Roh Kudus sekalipun. Paulus menegaskan bahwa ia merasa ‘masih jauh’ (absent) dari Tuhan selama mendiami
tubuhnya (II Korintus 5:6). Dalam Filipi 3:12, Paulus juga berkata, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal
ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga
menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus”. Maksud
Paulus pada ayat ini ialah ‘mengejar’
pengenalan akan Dia, kuasa kebangkitanNya, persekutuan dalam penderitaanNya,
supaya Paulus serupa dengan Dia dalam hal kematianNya, sehingga Paulus
memperoleh kebangkitan dari antara orang mati (Filipi 3:10-11).
Sekalipun demikian, Paulus dalam surat2nya berkata bahwa
seseorang dapat diselamatkan, karena diperhitungkan kepadanya ‘kebenaran
Elohim’ melalui iman. Oleh kasih karuniaNya, maka kita MENJADI kebenaran
Elohim. Bukan saja kita menjadi kebenaran Elohim, tetapi kita juga menjadi
KESEMPURNAAN BAPA melalui iman. Karenanya, secara ‘hukum’ atau ‘de
yure’, kita SUDAH mencapai KESEMPURNAAN BAPA. Namun secara pengalaman,
atau ‘de facto’, kita SEDANG dalam proses menuju kesana. Kalau
demikian, siapa yang bertanggung jawab untuk membuat kita mencapai kesempurnaan
Bapa, SECARA PENGALAMAN, atau de facto?
Perhatikan Lukas 12:32, demikian, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan
memberikan kamu Kerajaan itu”. Ditegaskan disini bahwa perihal memperoleh
kerajaan sorga itu adalah persoalan apakah Bapa berkenan memberikannya, atau
tidak. Bukan soal usaha kita, tetapi perkenan Bapa. Kalau demikian, siapa yang
bertanggung jawab untuk membuat “kawanan kecil” menerima kerajaan sorga? Atau
siapa yang bertanggung jawab untuk membuat “kawanan kecil” mencapai
kesempurnaan Bapa? Tentu saja Bapa disorga yang bertanggung jawab untuk membuat
“kawanan kecil’ memenuhi tuntutan kerajaan sorga, yaitu harus sempurna seperti
Bapa.
Tuntutan keselamatan atau tuntutan menerima kerajaan sorga
itu adalah tanggung jawab Bapa, bukan tanggung jawab kita. Tentu kita dilatih
oleh Bapa dan didisiplin olehNya agar kita layak menerima kerajaan sorga.
Tetapi, itu adalah urusan Bapa disorga. Bukan berarti kita tidak mengerjakan
keselamatan kita dengan aktif, sebagaimana Filipi 2:12-13 katakan, tetapi
tanggung jawab untuk menerima kerajaan sorga ada ditangan Bapa.
Dalam dunia kekristenan, umumnya, para pemimpin agama
‘menuntut’ umat Tuhan untuk harus ini atau itu agar masuk sorga. Harus
memberikan persepuluhan atau buah sulung atau janji iman, harus datang rutin
kegedung tertentu, dan sebagainya. Tuntutan2 agamawi seperti ini bukanlah
tuntutan yang ada dalam Hukum kerajaan sorga atau Hukum Kristus. Semua tuntutan
agamawi ini memperbudak umat Tuhan, walaupun tentu kita paham mengapa para
pemimpin agama ini melakukan hal demikian. Tetapi, umat kerajaan tidak dapat
diperbudak oleh tuntutan2 agamawi seperti ini.
Kita masih membicarakan Hukum Kerajaan Sorga didalam Matius
5-7. Telah kita tegaskan bahwa Tuhan yang menuntut, tetapi Tuhan juga yang
melakukannya didalam dan melalui kita. Tuntutan2 dalam Hukum Kerajaan Sorga
tidak mungkin kita penuhi. Namun, oleh kasih karuniaNya kita dimampukan
melakukannya menurut waktu dan cara Tuhan.
Kita tidak akan membicarakan semua poin yang ada didalam
Matius 5-7 ini. Saat ini kita akan membicarakan 9 ucapan bahagia yang ada
didalam Matius 5:3-12. Mari kita bahas kesembilan ucapan ini dengan cepat. Pertama,
ditegaskan bahwa yang berbahagia adalah orang yang miskin dihadapan Elohim,
karena merekalah yang empunya kerajaan sorga (ayat 3). Teks asli berkata, ‘miskin dalam roh’, yang artinya tidak
berkeinginan untuk menjadi kaya.
Kedua, berbahagialah orang yang berduka-cita. Maksudnya, orang yang merasa
sedih dengan kondisi dunia ini dimana terdapat ketidak-adilan, dimana firman
Tuhan ditolak, dan Tuhan Yesus juga ditolak. Semua ini menimbulkan kesedihan
dan dukacita didalam batin umat kerajaan. Ketiga, berbahagia orang yang
lemah-lembut. Lemah-lembut disini berarti tidak melawan, dan dapat menanggung
tekanan. Keempat, Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan
kebenaran. Kebenaran disini menunjuk kepada perilaku yang benar. Ayat ini tidak
berbicara berbahagialah orang benar, karena tidak seorangpun dapat berkata ia
berperilaku benar. Tetapi, orang yang merindukan berperilaku benar akan
dipuaskan.
Kelima, berbahagialah orang yang murah hatinya. Artinya, dapat
memberikan sesuatu kepada orang yang sebenarnya tidak ber-hak menerimanya. Keenam,
berbahagialah orang yang suci hatinya. Teks asil berkata, ‘murni hatinya’. Orang yang murni hatinya, berarti hanya memiliki
satu tujuan, yaitu melakukan kehendak Bapa dan mempermuliakan namaNya. Ketujuh,
berbahagialah orang yang membawa damai. Bapa mendamaikan dunia dengan DiriNya
melalui pengorbanan Kristus. Berbahagialah orang yang membawa berita damai ini
kepada dunia. Kedelapan, berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab
kebenaran. Ungkapan ini menunjuk kepada masa yang lalu. Semua orang kudus dalam
PL yang dianiaya karena kebenaran akan memiliki kerajaan sorga. Kesembilan,
ucapan bahagia yang terakhir ini ditujukan kepada orang kudus dalam PB yang
dianiaya, dicela, dan difitnah karena Kristus Yesus.
Jika kita perhatikan 9 ucapan bahagia ini, maka semua terkait
dengan kondisi batin umat kerajaan. Tidak ada satu ucapan bahagia yang
dihubungkan dengan seseorang yang memiliki banyak harta, dihormati orang
banyak, sukses duniawi, atau meraih prestasi tinggi. Mengapa demikian? Ada
beberapa hal harus kita perhatikan terkait hal ini. Perjanjian Baru memang
terfokus kepada berkat rohani (Efesus 1:3), sementara Perjanjian Lama sebagai
simbol, nubuat, dan bayangan, memang terfokus kepada berkat2 jasmani.
Selanjutnya, Kristus memang ada didalam batin umatNya (Kolose 1:27). Kerajaan
Kristus ada didalam batin kita saat ini. Itu sebabnya, ke-9 ucapan bahagia ini
terkait kepada kondisi batin kita dihadapan Tuhan.
Walaupun demikian, kerajaan Kristus yang ada didalam batin
kita akan ditampilkan dibumi ini pada saat kedatanganNya (biasa disebut
kedatangan Yesus kedua kali). Itu sebabnya, ditegaskan bahwa orang yang
lemah-lembut akan memiliki bumi. Karena pada saat kedatanganNya, umat kerajaan
akan memerintah dibumi ini bersama Tuhan Yesus.
Kita masih membicarakan sedikit mengenai 9 ucapan bahagia
yang ada didalam Matius 5:3-12. Tetapi sebelumnya kita akan memilah khotbah
dibukit ini menjadi 6 bagian, serta akan memberikan judul atau pikiran pokok
atas setiap bagiannya. Bagian pertama, Matius 5:1-16,
dengan pokok pikiran utamanya adalah ‘identitas
atau sifat dasar umat kerajaan’. Bagian kedua, Matius 5:17-48, dengan
pokok pikirannya adalah ‘penggenapan
Hukum Taurat’. Bagian ketiga, Matius 6:1-18, dengan pokok pikirannya adalah ‘ibadah umat kerajaan’. Bagian
keempat, Matius 6:19-34, dengan pokok pikirannya adalah ‘pengabdian umat kerajaan terkait mamon’.
Bagian
kelima, Matius 7:1-12, dengan pokok pikirannya adalah ‘persekutuan umat kerajaan’. Bagian
keenam, Matius 7:13-29, dengan pokok pikirannya adalah ‘umat kerajaan dan orang banyak serta
penyesatan yang akan terjadi’.
Mari kita perhatikan kembali ke-9 ucapan bahagia, secara
khusus, yang berbicara mengenai kerajaan sorga dan bumi. Ditegaskan bahwa umat
kerajaan memiliki atau mewarisi kerajaan sorga dan juga bumi. Apakah maksudnya
mewarisi kerajaan sorga, dan juga memiliki bumi? Kita tahu bahwa umat kerajaan
saat ini juga sudah menjadi warga kerajaan sorga, dan bahwa kerajaan sorga saat
ini juga sudah ada didalam batin umat kerajaan. Umat kerajaan tidak harus mati
jasmani dahulu barulah kemudian masuk kedalam kerajaan sorga. Saat ini juga,
oleh kasih karunia dan perkenan Bapa, umat kerajaan (‘kawanan kecil’) telah mewarisi kerajaan sorga (Lukas 12:32).
Pada waktu kedatangan Yesus, maka umat kerajaan akan
ditampilkan dibumi ini dengan tubuh kemuliaan untuk memerintah serta memiliki
bumi (Wahyu 5:10; 20:4; Roma 8:19-21). Kerajaan2 didunia ini akan menjadi
kerajaan Tuhan dan umat kerajaan (Wahyu 11:15). Bersama dengan Tuhan Yesus,
umat kerajaan akan memerintah bumi, serta menaklukkan segala sesuatu sehingga
Bapa menjadi semua dalam semua (I Korintus 15:21-28). Musuh terakhir yaitu
maut, yang adalah upah dosa ditaklukkan. Melalui pelayanan umat kerajaan, maka
bumi bergerak menuju bumi baru dan langit baru juga. Demikianlah umat kerajaan
mewarisi kerajaan sorga, dan juga memiliki bumi, sesuai khotbah Yesus di bukit.
Saat ini memang umat kerajaan belum memiliki banyak hal,
tetapi Paulus berkata dalam II Korintus 6:10, demikian, “sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang
miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun
kami memiliki segala sesuatu”. Perkataan Paulus disini seolah-olah
bertentangan, namun umat kerajaan percaya sepenuhnya janji2 Tuhan Yesus bahwa
kita akan memiliki bumi, dan akan menaklukkan segala sesuatu agar Bapa menjadi
semua dalam semua.
Dalam dunia kekristenan, pada umumnya, sudah diajarkan dan
dipercaya bahwa orang Kristen akan meninggalkan bumi ini menuju “sorga nun jauh
disana”, ketika mati jasmani nanti. Bahkan sebagian orang Kristen percaya bahwa
mereka akan “diangkat” dari bumi ini agar terhindar dari masa kesengsaraan
besar yang akan terjadi dibumi (ajaran
rapture). Semua konsep dan kepercayaan seperti ini sangat asing didalam
kitab Matius.
Mari kita ambil saja satu contoh didalam Matius 24:37-42,
mengenai kedatangan Anak Manusia. Perhatikan ayat 24, yang menegaskan bahwa
kedatangan Anak manusia ‘bersesuaian’ dengan zaman Nuh. Kita
tahu bahwa pada zaman Nuh, orang2 jahat “diangkat” oleh banjir besar, sementara
Nuh dan seisi rumahnya mewarisi bumi. Jadi, pada kedatangan Anak Manusia,
orang2 jahat akan “diangkat” dari bumi, sementara umat kerajaan akan mewarisi
bumi, sebagaimana khotbah dibukit. Demikianlah, umat kerajaan memiliki bumi.
Saat ini kita akan membahas Matius 5:13-14, mengenai garam
dunia dan terang dunia. Bagian ini termasuk kedalam bagian pertama dalam
pemilahan kita, yaitu Matius 5:1-16, dengan pokok pikiran utamanya adalah ‘identitas atau sifat dasar umat kerajaan’.
Ditegaskan diatas bahwa identitas umat kerajaan adalah ‘garam dunia’ dan terang
dunia’. Umat kerajaan tidak perlu melakukan apapun juga untuk menjadi garam
dunia dan terang dunia. Yesus tegas berkata bahwa kamu adalah garam dunia dan
terang dunia. Identitas umat kerajaan jelas, yaitu garam dunia dan terang
dunia.
Setelah identitas umat kerajaan disampaikan Yesus, maka
selanjutnya datang fakta2 dan perintah2, yaitu jika garam menjadi tawar, ia
tidak dapat lagi diasinkan dan tidak ada lagi gunanya. Terkait terang dunia,
Yesus memberi perintah ‘hendaknya terangmu bercahaya didepan orang’. Disini ada
satu prinsip yang amat penting bagi umat kerajaan, yaitu identitas umat
kerajaan mendahului perintah2. Umat kerajaan tidak diberi perintah2 agar
menjadi garam dan terang dunia. Tetapi, justru karena umat kerajaan adalah
garam dan terang dunia, maka datanglah perintah2 agar umat kerajaan bertindak
sesuai dengan identitasnya.
Prinsip yang berlaku bagi umat kerajaan adalah SUDAH menjadi
garam dan terang dunia, KARENANYA harus bertindak sesuai dengan identitas
sebagai garam dan terang dunia. Prinsip ini sangat penting, karena menjadi
garam dan terang dunia semata-mata karena kasih karunia dan pilihan Bapa
disorga. Mewarisi kerajaan sorga juga semata-mata pilihan dan perkenan Bapa
(Lukas 12:32). Kita menjadi garam dan terang dunia bukan karena perbuatan kita.
Kita adalah garam dan terang dunia semata-mata karena pilihan Bapa.
Paulus juga berkata dalam Efesus 5:8, demikian, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi
sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai
anak-anak terang”. Prinsip ini sama dengan yang kita bicarakan diatas. Kamu
adalah terang dan memang SUDAH terang, KARENANYA hendaklah kamu hidup sebagai
anak2 terang. Prinsip SUDAH-KARENANYA ini merupakan prinsip kasih karunia
semata-mata.
Perhatikan I Korintus 15:10, demikian, “…. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih lebih
keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia
Allah yang menyertai aku” (LAI). Sekalipun Paulus bekerja lebih keras dari
yang lainnya, tetapi ia berkata BUKAN AKU MELAINKAN KASIH KARUNIA TUHAN.
Prinsip dibalik perkataan Paulus pada ayat ini sama dengan prinsip yang sedang
kita bicarakan, yaitu SUDAH-KARENANYA. Tidak ada kebanggaan apapun yang dapat
dipertontonkan oleh umat kerajaan, karena semua adalah kasih karunia. Umat
kerajaan hanya ‘bermegah dalam Tuhan’ karena kasih karuniaNya.
Mengapa kita menekankan prinsip umat kerajaan ini? Karena
kekristenan telah jatuh menjadi agama Kristen, maka prinsip yang berlaku dalam
dunia kekristenan adalah JIKA-MAKA. Para pemimpin agama dalam dunia kekristenan
sering berkata: jika memberi uang, maka diberkati. Jika berdoa, maka diberkati.
Jika rajin datang ke gedung tertentu, maka akan bertumbuh dalam iman.
Jika…jika…dan jika. Umumnya, tiap denominasi mempunyai prinsip JIKA-MAKA
masing2. Inilah usaha agamawi untuk masuk sorga, atau untuk berkenan kepada
Tuhan. Agama Kristen tidaklah jauh berbeda dengan agama2 lain umumnya, karena
agama apapun didunia ini merupakan USAHA MANUSIA untuk berkenan kepada Tuhan.
Prinsip jika-maka, adalah prinsip usaha manusia. Tetapi, umat kerajaan hidup
semata-mata oleh kasih karuniaNya.
Kita akan membahas bagian kedua khotbah dibukit ini, yaitu
Matius 5:17-48, dengan pokok pikiran ‘penggenapan
Hukum Taurat’. Ayat 17, menegaskan, “Janganlah
kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para
nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”.
Bahkan pada ayat 18, Yesus menegaskan bahwa satu iota atau satu titikpun tidak
akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Hukum Taurat dan kitab para nabi, yang dimaksud Yesus disini
adalah seluruh kitab2 Perjanjian Lama. Kitab2 Perjanjian Lama itu bersifat
nubuat, bayangan, simbol, dan semua telah digenapi melalui kedatangan Yesus.
Tidak ada yang tidak digenapi, karena Yesus tegas katakan satu iota (koma) atau
satu titikpun tidak boleh ada yang diabaikan, ‘sebelum semuanya terjadi’. Makna ‘sebelum semuanya terjadi’ disini
artinya sebelum semuanya digenapi. Jadi, seluruh Perjanjian Lama sudah digenapi
oleh Yesus.
Mari kita perhatikan Lukas 16:16, demikian, “Torat dan para nabi ada sampai Yohanes, dari
sejak itulah kemudian kerajaan Elohim diinjilkan dan setiap orang memaksa masuk
ke dalamnya” (ILT). Ayat ini menegaskan bahwa setelah Yohanes Pembaptis,
maka ada suatu ‘dispensasi’ atau
‘babak baru’ dalam pengaturan Elohim, dimana injil kerajaan sorga diberitakan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Yohanes Pembaptis memang memberitakan injil
kerajaan sorga, tetapi ia sendiri tidak termasuk kedalam dispensasi yang baru
ini.
Didalam dispensasi yang baru ini, firman yang diberitakan
adalah mengenai khabar baik kerajaan sorga. Seluruh kitab2 dalam Perjanjian
Baru hanya memiliki satu tema utama, yaitu mengenai kerajaan sorga. Yesus dan
rasul2Nya hanya memberitakan satu khabar baik, yaitu khabar baik kerajaan
sorga. Sekali lagi, bukan PL dibatalkan, tetapi telah digenapi.
Bagaimana Yesus menggenapi PL? Melalui kematian, kebangkitan
dan kenaikanNya kesorga, serta pencurahan Roh Kudus, maka seluruh PL telah
digenapi. Tidak ada satu iota atau satu titikpun yang belum digenapi. Dengan
digenapinya seluruh PL, maka Yesus menyampaikan sesuatu yang baru, yaitu hukum
kerajaan sorga. Perhatikan bagian ini yang merupakan penggenapan Hukum Taurat,
khususnya Matius 5:21-48. Dibagian ini Yesus berkata sebanyak 6 x ungkapan2
seperti ‘kamu telah mendengar … tetapi
Aku berkata kepadamu’ (ayat 21,27,31,33,38,43). Hal ini bukan berarti Yesus
membatalkan firman sebelumnya, tetapi karena Ia telah menggenapinya, maka
datanglah firman yang baru, yaitu mengenai hukum kerajaan sorga.
Yesus memberi peringatan kepada mereka yang meniadakan salah
satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya
demikian kepada orang lain, maka ia akan menduduki tempat yang paling rendah
didalam kerajaan sorga (ayat 19). Maksud Yesus jelas bukan membawa-bawa
perintah hukum Taurat masuk kedalam hukum kerajaan sorga, melainkan, sesuai
konteks bagian ini, maka siapa yang mengajarkan perintah hukum Taurat DENGAN
TIDAK MENGAJARKAN PENGGENAPANNYA, maka ia akan berada ditempat paling rendah
dalam kerajaan sorga.
Dalam dunia kekristenan kita melihat beberapa pengajar
Alkitab menyatakan bahwa hukum persepuluhan, hukum buah sulung, yang
ditafsirkan uang tentunya, masih berlaku dalam konteks Perjanjian Baru
sekarang, tentu dengan berbagai alasan. Tetapi, umat kerajaan akan mengajarkan
hukum Taurat beserta penggenapannya kedalam konteks PB.
Kita masih membahas ‘begian kedua’ khotbah di bukit dengan
pokok pikiran utamanya adalah ‘penggenapan
Hukum Taurat’ (Matius 5:17-48). Kita akan perhatikan perkataan Yesus dalam
Matius 5:20, demikian, “Maka Aku berkata
kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”. Istilah Yunani,
‘dikaiosune’,
yang diterjemahkan sebagai ‘hidup
keagamaanmu’ pada ayat diatas, sebenarnya berarti ‘kebenaran’.
‘Kebenaran’ yang dimaksud disini bukanlah ‘kebenaran’ yang
bersifat ‘objektif’ yang didapat oleh
orang Kristen karena percaya Yesus (pembenaran
oleh iman). Tetapi, kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang bersifat
‘subjektif’, yaitu ‘kebenaran
Kristus’ didalam batin orang Kristen yang memimpinnya dalam kehidupan hari
lepas hari, dan yang menjadi kebenarannya. Kebenaran ‘subjektif’ ini hanya dapat diperoleh karena menjalankan ‘Hayat
Kristus’ dalam batin di-kehidupan kita sehari-hari. Kebenaran ‘subjektif’ ini terkait dengan “pakaian pesta” dalam perumpamaan
perjamuan kawin (Matius 22:1-14). Kita akan membahasnya kelak, tetapi yang saat
ini perlu kita pahami adalah kesimpulan dari perumpamaan ini, yaitu ‘banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang
dipilih’ (ayat 14).
Kebenaran ‘subjektif’ ini bertumbuh hari lepas hari,
sebagaimana yang ditegaskan Paulus dalam II Korintus 4:16, demikian, “… manusia batiniah kami dibaharui dari sehari
ke sehari”. Orang Kristen yang menjalani Hayat Kristus hari lepas hari akan
bertumbuh dalam kebenaran ‘subjektifnya’.
Demikianlah caranya orang Kristen dapat melakukan Hukum Kerajaan Sorga yang
diajarkan Yesus. Bukan orang Kristen itu yang melakukan Hukum Kerajaan Sorga,
tetapi Kristus dalam batinnya yang melakukan. Demikianlah genap, ‘hidupku
bukannya aku lagi melainkan Kristus didalamku’ (Galatia 2:20).
Baiklah kita perhatikan lagi ayat kita diatas yang menegaskan
bahwa jika ‘kebenaran’ kita tidak lebih benar dari pada ‘kebenaran’ ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kita tidak akan masuk ke dalam
Kerajaan Sorga. Bagaimana ‘kebenaran’ kita dapat melampaui ‘kebenaran’ ahli2
Taurat dan orang2 Farisi? Ahli2 Taurat dan orang2 Farisi dalam zaman PB adalah
orang2 yang memelihara Hukum Taurat secara ‘lahiriah’. Mereka sangat
mementingkan upacara lahiriah, berpuasa, memberikan persepuluhan, berdoa dengan
panjang lebar, memelihara sabat, membasuh diri, mempersembahkan korban,
mengenakan tali sembahyang yang lebar, serta jumbai yang panjang agar terlihat
betapa bersemangatnya mereka bagi Yahweh.
Yesus menegor ahli2 Taurat dan orang2 Farisi yang mementingkan
ibadah ‘lahiriah’ berulang-ulang dengan suatu ungkapan, ‘hai kamu orang-orang munafik’ (Matius 23). Munafik artinya
menampilkan diri baik secara ‘luaran,’ tetapi didalamnya penuh ‘kebusukan’,
seperti kuburan yang bagus diluarnya, tetapi didalamnya penuh dengan
tulang-belulang (Matius 23:27). Kebenaran orang Kristen dalam beribadah harus
melampaui kebenaran ibadah ahli2 Taurat dan orang2 Farisi yang bersifat
lahiriah. Orang Kristen harus hidup sehari-hari dalam roh dan kebenaran
(realita), sebagaimana yang Yesus katakan dalam Yohanes 4. Paulus sudah
menubuatkan bahwa akan ada saatnya dimana orang2 akan beribadah secara
lahiriah, namun pada hakekatnya memungkiri kekuatannya (II Timotius 3:5).
Mari kita perhatikan dunia kekristenan saat ini, dimana ibadah
orang Kristen, umumnya, dijalankan di gedung2 gereja pada hari minggu. Secara
jujur, ibadah digedung2 gereja pada hari minggu membuka kesempatan yang luas
bagi kemunafikan bekerja. Tentu tidak semua orang Kristen berlaku munafik
digedung2 gereja pada hari minggu. Namun, kemunafikan akan jauh lebih mudah
terjadi digedung2 gereja, dari pada ketika orang Kristen menjalani kehidupan
sehari-hari, khususnya dirumah. Itu sebabnya, dalam dunia kekristenan, ada
banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.
Kita bahas sedikit lagi perkataan Yesus dalam Matius 5:20,
demikian, “Maka Aku berkata kepadamu:
Jika hidup keagamaanmu (kebenaranmu) tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan
(kebenaran) ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan
masuk ke dalam Kerajaan Sorga”. Ayat ini menegaskan pada kita bahwa
‘kebenaran’ kita harus melampaui ‘kebenaran’ ahli-ahli Taurat dan orang2
Farisi.
Kita tahu bahwa ahli2 Taurat dan orang2 Farisi dalam zaman PB
adalah orang2 yang memelihara Hukum Taurat secara ‘lahiriah’. Mereka memang sungguh2 giat untuk Tuhan, tetapi tanpa
pengertian yang benar. Dalam Roma 10:3, Paulus dengan tepat menyatakan, “Sebab dengan tidak memahami kebenaran Elohim
dan dengan berusaha untuk menegakkan kebenarannya sendiri, mereka tidak tunduk
pada kebenaran Elohim” (ILT). Didalam Roma 3:21, Paulus menegaskan bahwa
kita hanya dapat memperoleh kebenaran Elohim melalui iman dalam Kristus Yesus,
dan karenanya kita mencapai standard kebenaran Elohim. Kita tidak membangun
kebenaran kita sendiri karena melakukan hukum Taurat atau peraturan2 agamawi
lainnya, tetapi hanya melalui iman dalam Kristus. Demikianlah ‘kebenaran’ kita
melampaui ‘kebenaran’ ahli2 Taurat dan orang2 Farisi.
Kebenaran Elohim adalah suatu ‘standard’ bagi orang untuk
dapat masuk kedalam kerajaan sorga. Dan tidak seorangpun dapat mencapai
standard ‘kebenaran Elohim’ dengan melakukan Hukum Taurat, dan juga dengan
melakukan Hukum kerajaan Sorga, seperti yang diajarkan Yesus dalam khotbah
dibukit ini. Karena tidak memahami ‘kebenaran’ Elohim, maka ahli2 Taurat dan
orang2 Farisi menjalankan Hukum Taurat secara ‘lahiriah’. Usaha mereka ini
bukan saja tidak mungkin mencapai standard ‘kebenaran’ Elohim, tetapi juga
membuat mereka menjadi orang2 munafik karena mencoba menegakkan kebenaran
mereka sendiri.
Sesungguhnya, siapapun yang mencoba berkenan kepada Elohim,
atau mencoba mencapai standard ‘kebenaran’ Elohim dengan melakukan Hukum2
Tuhan, atau aturan2 ibadah, atau melakukan aturan2 agamawi apapun, maka
hasilnya pastilah kemunafikan dan kepura-puraan saja. Inilah yang dinubuatkan
Paulus dalam II Timotius 3:5, demikian, “Secara
lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka
memungkiri kekuatannya…”. Nubuat ini tentu berlaku juga bagi orang2 kristen
diakhir zaman.
Agar kita lebih dapat memahami kebenaran Elohim yang didapat
melalui iman, baiklah kita perhatikan I Timotus 1:4, demikian, “… dari pada penatalayanan Elohim yang ada
dalam iman” (ILT). Istilah ‘penatalayanan’ ini diterjemahkan dari istilah
Yunani, ‘oikonomia’, yang berasal dari dua akar kata, yaitu, ‘oikos’=rumah
tangga, dan ‘nomos’=hukum/aturan2. Jadi, penatalayanan Elohim artinya suatu
cara Elohim menata ‘rumah tanggaNya’, dengan memberikan hukum2 atau aturan2
sesuai dengan zamannya. Pada zaman PL, Elohim memberikan Hukum Taurat kepada
umatNya. Pada zaman PB, Elohim memberikan Hukum Kerajaan Sorga kepada gereja.
Tetapi, yang harus kita ingat adalah penatalayanan Elohim ini ADA DIDALAM IMAN.
Artinya, baik menjalankan Hukum Taurat bagi Israel, maupun menjalankan Hukum
Kerajaan Sorga bagi gereja, haruslah didalam iman.
Orang2 kudus zaman PL disebut orang2 beriman, karena mereka
beriman kepada Yahweh dan mengekspresikan imannya melalui Hukum Taurat.
Sementara gereja saat ini adalah orang2 beriman, dan mengekspresikan imannya
melalui Hukum kerajaan Sorga. Sesungguhnya, dalam setiap zaman, mulai dari
zaman Habel sampai zaman PB, semua orang kudus adalah orang2 beriman (Ibrani
11).
Sekarang, gereja sudah jatuh menjadi puluhan ribu denominasi
dengan segala aturan2 agamawi-nya masing-masing. Tetapi, umat kerajaan tetap
beribadah dalam roh dan kebenaran, dan tidak jatuh kedalam kesalahan orang2
Farisi dan ahli2 Taurat dengan menjalankan Hukum Taurat secara lahiriah.
Kita masuk kedalam bagian ketiga khotbah dibukit ini dengan
pokok pikiran utamanya, yaitu ibadah umat kerajaan (Matius 6:1-18). Dalam
bagian ini Yesus mengajarkan mengenai praktek ibadah dalam hal memberi sedekah,
doa, dan berpuasa. Dalam pengajarannya ini, Yesus membandingkan praktek ibadah
yang umumnya dijalankan oleh ahli2 Taurat dan orang2 Farisi dengan yang
seharusnya dijalankan oleh umat kerajaan.
Mari kita perhatikan ketiga praktek ibadah ini. Pertama,
memberi sedekah (6:1-4). Disini Yesus menekankan untuk memberi sedekah dengan
“tidak diketahui tangan kiri apa yang diperbuat tangan kanan”, artinya secara
tersembunyi. Orang2 Farisi dan ahli2 Taurat suka menjalankan praktek ibadah
mereka dengan terbuka agar dilihat orang, serta mendapat pujian dari manusia.
Yesus menyebut perbuatan ini sebagai perbuatan ‘orang2 munafik’. Dan ‘orang
munafik’ ini sudah mendapat upahnya, dan tidak akan menerima balasnya lagi dari
Bapa disorga.
Kedua, berdoa (6:5-15). Disini juga Yesus memperingati agar jangan berdoa
supaya dilihat orang, dan karenanya sudah mendapat upahnya. Yesus juga
mengajarkan suatu doa yang biasa kita sebut ‘doa Bapa kami’. Kita akan
membahasnya kelak. Ketiga, berpuasa (6:16-18). Yesus juga mengajarkan agar tidak
terlihat oleh manusia pada waktu kita berpuasa, melainkan dilakukan secara
tersembunyi. Dengan demikian kita mendapat upahnya dari Bapa disorga, serta
tidak jatuh dalam sikap munafik.
Pengajaran Yesus dalam hal ‘praktek ibadah’ disini sangat menekankan
upah dari Bapa disorga. Demikian juga orang yang beribadah jangan sampai jatuh
kedalam kemunafikan. Orang2 Farisi dan ahli2 Taurat sudah mendapat upahnya dari
orang banyak, baik berupa uang, jabatan dan juga hormat manusia.
Kalau demikian, bagaimana seharusnya umat kerajaan beribadah?
Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria dalam Yohanes 4 menjelaskan perihal
ibadah umat kerajaan. Yesus tegaskan bahwa ibadah itu bukan soal ‘digunung ini
atau di Yerusalem’ (ayat 21). Ibadah itu bukanlah soal ‘lahiriah’, atau
‘luaran’, atau bentuk2 ibadah. Ibadah itu harus dilakukan ‘dalam roh dan
kebenaran’ (ayat 23). Istilah Yunani, ‘aletheia’, yang diterjemahkan ‘kebenaran’, juga berarti ‘realita’.
Realita itu lawannya adalah simbol2, bayangan2, dan ‘bentuk2 lahiriah’. Ibadah
dalam ‘realita’ itu artinya ibadah dalam ‘esensi’, dan bukan ibadah dalam
simbol2, bayangan2, atau bentuk2 lahiriah. Ibadah PL, memang ibadah dalam
simbol2, bayangan2, dan bentuk2 lahiriah, karena memang PL itu merupakan
simbol, bayangan, dan nubuat. Sementara Yesus datang untuk menggenapi PL, dan
sehingga umat kerajaan tidak lagi beribadah dalam simbol2, bayangan2, dan
bentuk2 lahiriah.
Esensi ibadah itu adalah dalam roh, atau didalam batin kita.
Kolose 2:17, menegaskan bahwa Kristus adalah wujud dari semua simbol2,
bayangan2, serta nubuat2 PL. Dan Kristus itu ada didalam batin kita sebagai
Hayat kita (Kolose 1:27; 3:4). Ibadah umat kerajaan bersifat ‘batiniah’, yaitu
menjalani Hayat Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Menjalani kehidupan yang
dipimpin ‘Kristus dalam batin’ hari lepas hari. Ibadah umat kerajaan bukan
“digunung ini atau itu”, juga bukan pada hari ini atau itu. Kehidupan
sehari-hari umat kerajaan merupakan ibadahnya. Tentu umat kerajaan juga bertemu
memuji Tuhan bersama sesuai pimpinan Roh, sebagaimana gereja mula2 lakukan.
Kita tahu bahwa gereja telah jatuh oleh tiga ajaran palsu
Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Ketiga ajaran palsu ini telah membuat gereja
menjadi dunia (sistem) kekristenan, dimana dalam ibadahnya sangat terbuka
kemungkinan menjadi munafik, bahkan para pemimpinnya dapat dengan mudah
mengambil keuntungan dari ibadah. Tentu tidak semua orang dalam dunia
kekristenan itu munafik, dan cari untung dari pelayanan, tetapi kemungkinan itu
terjadi sangat luas terjadi karena sistem (kosmos) yang tercipta oleh ketiga
ajaran palsu diatas.
Kita akan membahas doa Bapa kami yang diajarkan Tuhan Yesus
dalam Matius 5:9-13. Tetapi kita tidak akan membahas semuanya, melainkan hanya
yang terkait langsung dengan kerajaan sorga. Perhatikan ayat 10, demikian, “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu
di bumi seperti di sorga.” Telah kita bahas bahwa kerajaan sorga sudah
datang kebumi didalam pribadi Tuhan Yesus. Namun, dalam ayat 10 diatas, Yesus
mengajarkan agar kerajaan sorga datang kebumi dengan maksud agar kehendak Bapa
terjadi dibumi sebagaimana disorga.
Matius 18:20, menegaskan, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitu Aku
ada di tengah-tengah mereka”. Jadi, setiap kali dua atau tiga orang percaya
berkumpul dalam nama Tuhan Yesus, maka kerajaan sorga datang kebumi. Namun,
Wahyu 5:10, dan Wahyu 20:4, menegaskan bahwa setelah zaman ini, maka orang2
percaya akan memerintah dibumi ini. Artinya, kerajaan sorga itu sudah datang,
terus datang, dan pada saatnya akan datang dibumi dalam kepenuhannya. Alkitab
menegaskan bahwa Tuhan Yesus akan datang untuk menegakkan kerajaanNya dibumi.
Kita lihat disini bahwa bumi merupakan fokus rencana Bapa
disorga. Bahkan dalam 9 ucapan bahagia yang telah kita bahas, dijanjikan kepada
mereka yang lemah lembut bahwa mereka akan memiliki bumi (Matius 5:5). Dari
semua fakta2 ini, dapatlah kita ketahui bahwa fokus rencana Bapa bagi manusia
adalah bumi ini, walaupun dalam dunia kekristenan, umumnya, orang terfokus
untuk pergi ke sorga kelak setelah mati.
Baiklah kita perhatikan kitab Kejadian 1:26 yang berkata, “…Baiklah Kita menjadikan manusia menurut
gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa… atas seluruh bumi…”. Tujuan
Tuhan menjadikan manusia serupa dan segambar dengan Dia adalah supaya manusia
berkuasa atas seluruh bumi. Istilah ‘berkuasa’ dalam ayat ini berasal dari
istilah Ibrani ‘radah’, yang berarti memerintah (to have dominion, rule). Hal ini berbicara mengenai pemerintahan
manusia diatas bumi. Bahkan ayat 28 berkata bukan saja supaya manusia berkuasa
(memerintah), tetapi juga ‘menaklukkan’ (istilah Ibrani disini adalah ‘kabash’,
artinya ‘menginjak’). Dari Kejadian
1:26-28 ini, kita mendapati bahwa tujuan Tuhan menjadikan manusia serupa dan
segambar denganNya adalah agar manusia berkuasa, dan menaklukkan bumi ini. Ada
musuh yang harus ditaklukkan dan diinjak.
Maksud Tuhan Yesus mengajarkan agar kita mendoakan kerajaan
sorga datang kebumi ini adalah supaya manusia memerintah dibumi, dan
menaklukkan kerajaan kegelapan dibumi. Roma 8:19-21, menjelaskan pada kita
bahwa ketika kerajaan sorga termanifestasi sepenuhnya dibumi melalui anak-anak
Elohim, maka bukan saja kehendak Bapa terjadi ‘dibumi seperti disorga’, tetapi
seluruh ciptaan juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan. Perhatikan
Roma 8:20-21, “Karena makhluk ciptaan
telah ditundukkan kepada kesia-siaan… makhluk ciptaan itu sendiri juga akan
dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak
Elohim” (ILT). Jadi, anak-anak Elohim yang ditampilkan dibumi dengan tubuh
kemuliaan akan memerdekakan seluruh makhluk ciptaan dari perbudakan kebinasaan.
Demikianlah maksud Yesus mengajarkan kita berdoa agar kerajaan sorga datang
kebumi.
Kita akan membahas bagian keempat dari khotbah dibukit, yaitu
‘pengabdian umat kerajaan terkait mamon’
(Matius 6:19-34). Matius 6:22-24, menegaskan demikian, “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;
jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu… Tak seorangpun dapat mengabdi
kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan
mengasihi yang lain… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”
(LAI). Istilah ‘mengabdi’ disini berasal dari istiah Yunani, ‘douleuo’,
suatu kata kerja yang berarti ‘melayani sebagai budak’.
Jadi, Yesus tegas menyatakan tidak seorangpun dapat menjadi
‘hamba Tuhan’, dan sekaligus juga ‘hamba Mamon’. Kita jangan cepat2 berpikir
bahwa ‘hamba Tuhan’ itu orang Kristen yang melayani dimimbar2, atau melakukan
aktifitas agama Kristen secara ‘full time’. Sementara ‘hamba Mamon’ itu orang2
kristen yang berkarya dalam dunia bisnis atau ‘dunia sekuler’. Mari kita
perhatikan dahulu siapa orang2 Farisi itu sebenarnya menurut penilaian firman
Tuhan. Lukas 16:14, menyatakan demikian, “Semuanya
itu didengar oleh orang2 Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan
Dia”. Ketika Yesus mengucapkan, ‘Kamu
tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon’ pada ayat sebelumnya
(Lukas 16:13), maka para pemimpin agama dizamanNya mencemoohkan Yesus. Jadi, apakah seseorang itu hamba Tuhan atau
hamba Mamon, tidak ditentukan oleh pekerjaannya, atau pelayanannya di Bait
Suci. Semuanya ini ditentukan oleh “mata”
seseorang, yaitu visi, tujuan hidup, dan fokus hidup seseorang.
Karena ternyata ‘hamba Mamon’ itu adalah para pemimpin agama
dizaman Yesus, maka saat ini kita hanya membahas soal ‘pengabdian/menjadi hamba’ ini terkait dengan ‘dunia keagamaan’
saja. Kita tidak membahas orang Kristen yang berkarya dalam dunia bisnis atau
sekuler. Untuk memahami ‘dunia keagamaan’ dengan benar, kita harus melihat
tulisan2 rasul Yohanes mengenai ‘dunia (Yunani: kosmos) karena didalamnya
ada makna Teologis yang sangat penting.
Istilah ‘kosmos’, muncul sebanyak 186 x dalam
PB, dan lebih dari separuhnya ada didalam Injil Yohanes (78x), dan surat2nya
(24x). Makna dasar dari istilah ‘kosmos’ ini adalah ‘pengaturan’ (order), atau juga berarti ‘sistem’.
Untuk memahami makna istilah ‘kosmos’ dalam tulisan2 Yohanes,
memang kita harus melihat konteksnya. Dalam Yohanes 3:16, tentu istilah dunia (kosmos)
disini berarti seluruh manusia yang dicintai Bapa disorga. Tetapi, dalam
Yohanes 15:18-25, dimana dunia (kosmos) membenci Yesus dan
murid2Nya, maka yang Yesus maksudkan adalah dunia keagamaan (Yudaisme), karena
ayat 25 mengatakan nubuat yang ada didalam kitab Taurat mereka.
Justru, dunia keagamaan inilah yang dimaksud oleh rasul
Yohanes dalam Wahyu 2-3, dimana gereja2 di Asia Kecil (representatif dari zaman
gereja) telah menjadi ‘kosmos’ oleh tiga ajaran palsu
Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Dunia keagamaan ini lahir karena gereja mula2
telah jatuh, dan karenanya Tuhan memanggil para pemenangNya. Kekristenan yang
pada awalnya adalah ‘organisme’ (Tubuh Kristus), telah berubah menjadi ‘sistem’
atau ‘kosmos’.
Jika kita mendapat kasih karunia dihadapanNya, maka kita akan
memahami bahwa gereja mula2 telah pecah menjadi puluhan ribu denominasi ini,
justru oleh tiga ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Kita bahas satu
saja, sesuai tema kita sekarang, yaitu ajaran Bileam yang sudah menyebar dalam
denominasi2. Ajaran Bileam ini pada intinya mendukung sistem upah dalam
melayani Tuhan. Tentu ada banyak ayat2 yang seolah-olah mendukung sistem upah
ini dalam Alkitab seperti, seorang pekerja patut mendapat upahnya, atau jangan
“memberangus mulut lembu yang sedang mengirik”, dan sebagainya. Ajaran Bileam
itu adalah ajaran palsu, dimana tentu ada aslinya. Para pengajar “Bileam” ini
suka mengambil ayat2 mengenai upah dalam melayani Tuhan untuk mendukung
ajarannya. Tetapi, dapat dipastikan bahwa para pengajar “Bileam” ini adalah
hamba Mamon.
Sebelum kita melanjutkan penglihatan rasul Yohanes mengenai
kitab yang hanya dapat dibuka oleh Anak Domba Elohim, baiklah kita berbicara
sedikit lagi mengenai 24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup disekeliling takhta
Elohim yang akan memerintah dibumi (Wahyu 4-5). Ada yang berpendapat bahwa 24
tua-tua dan ke-4 makhluk hidup ini adalah para malaikat dan makhluk sorgawi
lainnya, dan bukan orang2 kudus yang telah ditebus dan dipilih dari segala
suku, bangsa, kaum, dan bahasa.
Kita perlu menanggapi pandangan ini, sebab pandangan ini akan
membuat pengertian kita akan kitab Wahyu dan rencana Bapa semula menjadi kabur.
Ada beberapa hal yang akan kita kemukakan disini. Pertama, Kejadian
1:26-28, jelas menyatakan bahwa rencana Bapa semula bagi manusia adalah untuk
menaklukkan dan berkuasa atas seluruh bumi. Jadi, fokus rencana Bapa adalah
bumi. Kedua, rencana Bapa memilih bangsa Israel adalah agar seluruh
suku Israel menjadi ‘kerajaan imam’,
yaitu menjadi raja2 dan imam2 bagi segala bangsa (Keluaran 19:5-6). Hanya
kemudian, Israel jatuh kedalam penyembahan ‘anak lembu emas’, dan ketika Musa
bertanya siapa yang memihak Tuhan, maka oleh pengaturanNya, hanya suku Lewi
yang datang kepadanya (Keluaran 32:26). Selanjutnya, Tuhan hanya memilih suku
Lewi untuk menjadi imam2, mewakili semua suku yang lain. Tetapi, rencana Bapa
semula bagi Israel adalah menjadikan semua suku2 Israel, raja2 dan imam2 bagi
bangsa lain. Ketiga, rencana Bapa dalam konteks PB bagi semua orang2 kudus
adalah menjadikan seluruh anggota gereja ‘imamat
yang rajani’ (I Petrus 2:9). Tetapi kemudian, oleh ajaran palsu ‘Nikolaus’, maka gereja terbelah menjadi
golongan imam dan kaum awam, atau para pendeta dan jemaat. Namun, Bapa memilih
‘kawanan kecil’ dalam dunia
kekristenan, dan dibentuk menjadi raja2 dan imam2 (Lukas 12:32; Wahyu 1:6).
Jadi jelaslah bahwa rencana Bapa adalah membentuk umat manusia agar dapat
memerintah dan menaklukkan seluruh bumi, dan semua ini dimulai dari umat
pilihanNya.
Karenanya, pandangan bahwa 24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup
itu adalah para malaikat dan makhluk sorgawi lainnya, dan bukan manusia, akan
membuat rencana Bapa semula menjadi kabur. Bahkan pandangan ini membuat seluruh
fokus kitab Wahyu menjadi tidak jelas juga. Mengapa demikian? Kita tahu bahwa
kitab Wahyu adalah kitab yang mewahyukan pribadi Yesus Kristus. Dan, ada 4
tahap pewahyuan Yesus Kristus kepada gerejaNya. Pertama, Yesus Kristus
mewahyukan DiriNya KEPADA kita. Kita mengenal Yesus Kristus sebagai pribadi
yang diluar kita. Kita mengenal apa yang diperbuatNya, apa yang dikatakanNya,
dan sebagainya. Kedua, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya DIDALAM kita. Secara
pengalaman, kita memahami bahwa Yesus Kristus tidak berada diluar kita, tetapi
didalam kita. Ketiga, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya SEBAGAI kita. Apa yang
Paulus katakan dalam Galatia 2:20 bahwa aku telah disalib bersama Kristus, dan
bahwa aku hidup, tetapi bukan aku melainkan Kristus. Dari fakta ini kita
melihat bahwa Kristus hidup ‘sebagai’ Paulus. Keempat, Yesus Kristus
mewahyukan DiriNya MELALUI kita. Yesus Kristus mengekspresikan DiriNya melalui
orang2 pilihanNya dibumi ini. Sesungguhnya, kedatangan Yesus Kristus “kedua
kali” itu berarti Yesus Kristus menampilkan DiriNya kepada ciptaan melalui
putera2 Elohim (Roma 8: 19-21).
Jadi, kitab Wahyu itu memang merupakan pewahyuan pribadi
Yesus Kristus, tetapi kedatanganNya MELALUI umat pilihanNya merupakan ‘sentral’
pewahyuan kitab Wahyu, dan saat ini, umat pilihanNya sedang dibentuk menjadi
raja2 dan imam2. Bukan malaikat2 dan makhluk2 sorgawi yang menjadi raja2 dan
imam2, tetapi orang2 kudus. Sebab, bagaimana Yesus dapat datang sebagai Raja
diatas segala raja, jika orang2 kudus merupakan “bayi-bayi rohani”? Bagaimana
Yesus Kristus dapat datang sebagai Imam Besar, jika orang2 kudus masih
membutuhkan “pendeta” atau “para imam” untuk memenuhi kebutuhan rohaninya?
Karenanya, 24 tua-tua dan 4 makhluk itu merupakan simbol dari umat pilihanNya,
yang telah dibentuk menjadi raja2 dan imam2.
Mari kita membahas sedikit lagi mengenai ‘sistem’
atau ‘kosmos’ dalam tulisan2 rasul Yohanes, karena ‘sistem’ inilah
yang membenci Yesus dan murid2Nya (Yohanes 15:18,25). Kita perlu mengenali apa
itu ‘sistem’, karena kita tahu Kekristenan yang pada awalnya adalah ‘organisme’
(gereja mula2=Tubuh Kristus), telah
berubah menjadi ‘sistem’ atau ‘kosmos’.
Didalam ‘Kamus Besar Bahasa Indonesia’, sistem berarti perangkat unsur yang secara teratur saling
berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Dalam kamus Bahasa Inggris, ‘system’ adalah group of things or parts working together in a regular relation.
Untuk memudahkan pengertian ‘sistem’, kita dapat membayangkan roda2 dengan
diameter yang berbeda-beda, namun masing2nya dihubungkan dengan suatu tali.
Jika roda tertentu diputar, maka roda2 lainnya tentu akan ikut berputar juga,
walaupun tentu dengan kecepatan yang berbeda sesuai dengan diameternya. Kalau
kita terapkan ilustrasi ini kedalam dunia (sistem) kekristenan, maka roda2
(bagian2) dari sistem ini adalah denominasi2, sekolah2 Teologi, Sinode2, dan
bagian2 lainnya dari kekristenan. Yang perlu kita pahami dengan baik adalah
bahwa harus ada energi atau kekuatan untuk melakukan usaha agar sistem ini
berjalan. Apakah energi atau kekuatan yang menggerakkan sistem kekristenan ini?
Sebelum kita menjawabnya, mari kita lihat tulisan2 Yohanes
yang berbicara mengenai ‘sistem’ (kosmos) ini. I Yohanes 5:19,
menegaskan, “… seluruh dunia (kosmos) berada di bawah kuasa si jahat”.
I Yohanes 2:15-16, demikian, “Janganlah
kamu mengasihi dunia (kosmos) dan apa yang ada di dalamnya… Sebab semua yang ada di dalam dunia (kosmos),
yaitu keinginan daging dan keinginan mata
serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa…”. I Yohanes 5:4,
menegaskan, “… Dan inilah kemenangan yang
mengalahkan dunia (kosmos): iman
kita”. Kalau demikian, apakah yang menggerakkan sistem kekristenan?
Jawabnya, tentu saja uang, karena sistem tidak akan berjalan tanpa uang.
Gereja mula2 belumlah jatuh kedalam ‘sistem’ (kosmos).
Pewahyuan mengenai gereja yang telah menjadi ‘kosmos’ diberikan kepada
rasul Yohanes, ketika gereja dikuasai oleh tiga ajaran palsu Izebel, Bileam dan
Nikolaus (Wahyu 2-3). Gereja mula2 yang adalah organisme digerakkan semata-mata
oleh Roh Kudus, atau Hayat Kristus. Memang para pelayan gereja mula2 juga
membutuhkan uang, tetapi sebatas kebutuhan sehari-hari, dan kebutuhan
perjalanan seperti Paulus. Tidak ada sistem upah (ajaran Bileam) yang
menggerakkan para pelayan gereja mula2. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang
terjadi dalam sistem kekristenan.
Sebagai penutup bagian ini, barangkali perjalanan bangsa
Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, dapat memperjelas apa itu
‘sistem’. Bangsa Israel di Mesir, sesungguhnya, merupakan simbol dari umat
Tuhan yang berada didalam sistem (dunia), sebab dalam Alkitab, Mesir merupakan
simbol dari dunia. Sekalipun Alkitab berkata Mesir itu ‘rumah perbudakan’,
tetapi Tuhan tetap memelihara, bahkan sangat memberkati umat Israel di Mesir, sehingga
mereka beranak cucu demikian pesat. Tetapi, warisan bangsa Israel bukanlah
Mesir, melainkan tanah Perjanjian. Karenanya, Israel harus keluar dari rumah
perbudakan untuk mendapat warisannya. Dan kita tahu bahwa hanya keluarga Yosua
dan Kaleb yang mendapat warisannya, karena mereka memiliki iman. Jadi, Israel
di Mesir merupakan simbol dari umat Tuhan dalam perbudakan sistem, sedangkan
Israel di Tanah Perjanjian merupakan simbol umat Tuhan yang menerima
warisannya, yaitu kerajaan sorga.
Demikian juga dengan sistem kekristenan saat ini. Umat Tuhan
didalam sistem kekristenan tetap dipelihara dan diberkati Tuhan luar biasa.
Tetapi itu bukan bukti bahwa rencana Bapa bagi orang Kristen tetap ada didalam
sistem (kosmos). Sistem (kosmos) kekristenan akan dihancurkan pada
kedatangan Tuhan Yesus. Umat kerajaan yang mendapat kasih karunia untuk
menerima warisannya akan memerintah dibumi menggantikan semua sistem dunia
(politik, ekonomi, agama, dll) termasuk sistem kekristenan (Wahyu 11:15).
Kita akan meneruskan pembahasan kita dalam bagian keempat
khotbah dibukit, Matius 6:19-34, dengan pokok pikirannya adalah ‘pengabdian umat kerajaan terkait mamon’.
Matius 6:33, menegaskan, “Namun, carilah
terlebih dahulu kerajaan Elohim dan kebenaran-Nya, dan semua ini akan ditambahkan
kepadamu” (ILT). Telah kita bahas perihal seseorang tidak dapat mengabdi
kepada dua tuan, yaitu mengabdi kepada Elohim dan mamon (6:24), bahkan telah
kita bahas juga mengenai sistem kekristenan (dunia=kosmos kekristenan). Setelah
Yesus mengajarkan bahwa tidak mungkin seseorang mengabdi kepada dua tuan, maka
Ia langsung masuk kedalam pengajaran tentang kekuatiran (6:25-34). Mengapa
demikian? Kita akan membahas mengenai perihal kekuatiran ini sesuai konteks
bagian ini, yaitu ‘pengabdian umat kerajaan
terkait mamon’.
Sekali lagi kita harus ingat bahwa pengajaran dibukit ini
ditujukan kepada murid2 Yesus. Yesus tentu tahu bahwa akar masalah mengapa
murid2Nya mempunyai kemungkinan mengabdi kepada mamon disebabkan kekuatiran
akan kebutuhan sehari-hari mereka. Inti dari pengajaran Yesus disini adalah
Bapa mengetahui kebutuhan kita, dan pasti memenuhinya, dan karenanya tidak
perlu kuatir.
Agar kita menafsirkan perihal kekuatiran ini sesuai konteks,
maka kita harus kembali melihat bagaimana gereja mula-mula, pada akhirnya,
jatuh oleh tiga ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus pada zaman rasul
Yohanes (Wahyu 2-3). Secara khusus kita akan melihat ajaran Bileam, karena
ajaran palsu inilah yang membuat gereja menjalankan ‘sistem upah’ bagi orang2
yang melayani Tuhan. Kita akan melihat Bilangan 22-24, untuk memahami ajaran
palsu Bileam ini.
Bileam ini sepertinya seorang hamba Tuhan, karena ia bertanya
lebih dahulu kepada Tuhan ketika tua-tua Moab datang padanya dengan ‘upah penenung’ untuk mengutuk Israel (Bilangan
22:7-8). Tuhan sudah jelas berfirman agar Bileam jangan mengutuk Israel
(22:12). Tetapi kemudian, ketika raja Moab mengutus pemuka2 yang lebih
terhormat dengan upah penenung yang sangat banyak, maka Bileam kembali bertanya
kepada Tuhan ‘yang kedua kalinya’
(22:19). Ketika Bileam bertanya kepada Tuhan yang kedua kalinya, jelas terlihat
bahwa ia sebenarnya hamba mamon, dan mencintai upah penenung. Mengapa demikian?
Bileam sudah tahu kehendak Tuhan agar jangan mengutuk Israel, tetapi karena
upah dinaikkan, maka ia seolah-olah mencari kehendak Tuhan dengan bertanya
kedua kalinya. Karena Tuhan sudah tahu bahwa hati Bileam mencintai upah, maka
Tuhan mengizinkan Bileam pergi. Dan ketika Bileam pergi, maka Tuhan murka
(22:22).
Dari cerita ini, kelihatannya Tuhan berubah-ubah yang tadinya
melarang Bileam pergi, namun kemudian mengizinkannya. Sebenarnya Tuhan tidak
berubah-ubah, tetapi karena Tuhan sudah melihat hati Bileam yang cinta upah,
maka Tuhan mengizinkan Bileam pergi. Kasus ini mirip dengan yang tertulis dalam
Matius 19:3-8, dimana orang2 Farisi bertanya pada Yesus soal perceraian. Yesus
menjawab, “… Karena ketegaran hatimu Musa
mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”
(19:8). Kadangkala Tuhan mengizinkan umatNya menempuh suatu jalan yang tidak
dikehendakiNya sejak semula, tetapi kemudian diizinkan Tuhan karena ketegaran
hati umatNya.
Kalau kita renungkan mengapa Tuhan mengizinkan ajaran palsu
Bileam masuk kedalam gereja padahal ajaran palsu ini bukanlah rencana semula
bagi gerejaNya. Dalam dunia kekristenan, ajaran palsu Bileam ini telah membuka
kesempatan luas bagi hamba2 mamon yang berpura2 sebagai hamba Tuhan, bahkan
seolah-olah mencari kehendak Tuhan, namun sesungguhnya mencari dan mencintai
upah dari pelayanannya. Tuhan mengizinkan semua ini terjadi karena ketegaran
hati umatNya.
Tetapi bagi umat kerajaan, Tuhan berfirman, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil!
Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala
milikmu dan berikanlah sedekah…” (Lukas 12:32-33). Ini bukan berarti kita
tidak boleh memiliki apapun didunia ini, tetapi Bapa disorga sedang menekankan
bahwa harta sejati kita ada disorga, dan jangan kuatir akan kebutuhan kita
sehari-hari.
Kita masuk kedalam bagian kelima khotbah dibukit mengenai
Hukum Kerajaan Sorga, yaitu Matius 7:1-12, dengan pokok pikirannya adalah ‘persekutuan umat kerajaan’. Ada beberapa
hal yang dibicarakan dibagian ini, yaitu perihal jangan menghakimi, jangan
memberikan barang yang kudus kepada anjing, perihal doa, dan perihal prinsip
hubungan dengan sesama.
Mari kita mulai dengan perihal menghakimi. Banyak orang
Kristen tidak membedakan perihal menghakimi dan perihal menegor, atau
menyatakan kesalahan. Paulus menasihati Timotius untuk, “…tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran”
(II Timotius 4:2). Yesus juga mengajarkan cara untuk menegor seorang saudara
yang bersalah (Matius 18:15-17). Jadi, menegor atau menyatakan kesalahan
seorang saudara tidaklah salah, bahkan sebagai sesama saudara kita dianjurkan
untuk saling menasihati, menegor dan saling membangun.
Tetapi, menghakimi itu sesuatu yang dilarang bagi umat
kerajaan. Menghakimi itu bukan saja menyatakan kesalahan, tetapi juga
menjatuhkan vonis atau sangsi bagi saudara kita yang kita anggap telah
bersalah. Demikianlah memang tugas seorang hakim, yaitu menyatakan kesalahan
dan menjatuhkan vonis atau sangsi hukum.
Sesungguhnya, murid2 Yesus tidak akan dapat saling menghakimi
jika mentaati apa yang Yesus katakan dalam Matius 23:1-12. Didalam bagian ini,
Yesus sedang berbicara kepada orang banyak, dan kepada murid2Nya (ayat 1).
Yesus berkata bahwa orang2 Farisi dan ahli2 Taurat telah menduduki ‘kursi
Musa’, artinya mereka mempunyai otoritas atas orang banyak, dan karenanya orang
banyak harus menuruti dan melakukan apa yang mereka ajarkan, walaupun Yesus
menasihati orang banyak supaya jangan menuruti perbuatan2 mereka.
Selanjutnya, pada ayat 8 sampai 10, Yesus berbicara kepada
murid2Nya agar jangan seorangpun disebut Rabi, bapa, ataupun pemimpin.
Maksudnya, sesuai konteks, Yesus sedang mengajar kepada murid2Nya bahwa
diantara mereka tidak ada “kursi Musa”. Tidak ada otoritas yang dimiliki
seseorang atas saudaranya. Semua anggota umat kerajaan adalah saudara, dalam
arti tidak ada “kursi Musa”. Tidak ada ‘hierarki’ diantara umat kerajaan
sebagaimana dalam dunia kekristenan yang telah jatuh ini. Jika ada ‘hierarki’
diantara umat Tuhan, maka seorang pemimpin dapat menghakimi saudaranya, karena
ia bukan saja dapat menegor saudaranya yang dipandang bersalah, namun ia dapat
juga menjatuhkan vonis atau sangsi bagi saudaranya.
Dengan kata lain, dalam konteks ‘organisasi’, seseorang dapat
menghakimi saudaranya. Tetapi umat kerajaan hidup dalam konteks ‘organisme’,
dan karenanya mereka tidak akan saling menghakimi. Umat kerajaan hanya saling
menasihati, menegor dan saling membangun sebagai sesama anggota dalam suatu
‘organisme’. Oleh karena itu, perintah Yesus agar kita jangan menghakimi
saudara kita, tentu dapat ditaati oleh umat kerajaan. Sesungguhnya, orang
Kristen yang hidup dalam konteks organisasi, merekalah yang melanggar perintah
Yesus agar jangan menghakimi.
Satu hal lagi yang akan kita bahas dalam bagian ini, yaitu
perihal jangan memberikan barang yang kudus kepada anjing, atau melempar mutiara
kepada babi. Sesungguhnya, pengajaran tentang Hukum Kerajaan Sorga adalah
seperti “barang yang kudus” atau “mutiara”, dimana pengajaran ini bukanlah
konsumsi ‘orang banyak’. Itu sebabnya, Yesus naik kebukit lebih dahulu dan
ketika murid2Nya datang barulah Ia mengajar. Kita juga perlu belajar meminta
hikmat dari Tuhan untuk menyampaikan pengajaran tentang kerajaan sorga ini.
Kita sampai pada bagian keenam dalam Hukum Kerajaan Sorga ini
yang tertulis dalam Matius 7:13-29, dengan pokok pikirannya adalah ‘umat kerajaan dan orang banyak serta
penyesatan yang akan terjadi’. Mari kita mulai dengan Matius 7:13-14,
demikian, “Masuklah melalui pintu yang
sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada
kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan
sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang
mendapatinya”.
Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘kebinasaan’ dalam ayat
diatas adalah ‘apoleia’, yang berarti ‘kehancuran atau kerugian’. Istilah Yunani
‘apoleia’
tidak harus berarti kebinasaan dalam arti kehilangan keselamatan apalagi masuk
kedalam neraka selama-lamanya. Dalam Matius 26:8 atau Markus 14:4, tentang
Yesus diurapi seorang perempuan dengan minyak wangi yang mahal, maka istilah ‘apoleia’
disini diterjemahkan sebagai ‘pemborosan’. Memang makna suatu
istilah ditentukan oleh bagaimana istilah itu digunakan dalam suatu kalimat
atau konteks tertentu. Kita tahu bahwa khotbah dibukit ditujukan khusus untuk
murid2 Yesus (Matius 5:1-2), walaupun pada akhirnya ‘orang banyak’ ikut juga
mendengarkan dan takjub oleh pengajaran Yesus (Matius 7:28).
Jadi, para pendengar dari khotbah dibukit adalah para
pengikut Yesus yang terdiri dari murid2Nya, dan juga orang banyak. Didalam
Yohanes 6 dijelaskan bahwa ‘orang banyak’ mengikut Yesus karena mereka mencari
roti jasmani, dan Yesus menegor mereka karena hal ini (Yohanes 6:26-27).
Karenanya, istilah ‘apoleia’ harus diartikan sebagai kerugian atau kehancuran BAGI
PARA PENGIKUT YESUS. I Korintus 3:13-15, menjelaskan kerugian atau kehancuran
dari para pengikut Yesus ini, demikian, “Jika
pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan
diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api”. Semua orang Kristen yang
sudah lahir baru akan menghadap takhta pengadilan Kristus, dan disini akan
ditentukan berdasarkan pekerjaan atau pelayanannya, apakah bertahan atau
terbakar oleh “api”.
Jadi, ada dua pintu dan dua jalan yang mungkin ditempuh oleh
orang Kristen atau pengikut Yesus. DitegaskanNya bahwa pintu yang menuju kepada
kehidupan itu sesak dan jalannya sempit, serta sedikit orang yang mendapatinya.
Kita dapat menduga bahwa ‘orang banyak’ yang mengikuti Yesus tentu akan
melewati pintu yang lebar dan jalan yang luas. Mengapa demikian?
Didalam kitab2 Injil, memang ‘orang banyak’ ini selalu
mengikut atau mencari Yesus untuk mendapatkan roti jasmani, kesembuhan,
mujizat, dan yang lainnya yang bersifat jasmani. Sesungguhnya, semua ini tidak
salah asalkan mereka lebih dahulu mencari kerajaan sorga, dan bekerja untuk
makanan yang tidak akan binasa. Jadi, persoalannya ada didalam hati para
pengikut Yesus. Jika hatinya memang sudah mengutamakan roti, mujizat,
kesembuhan dan perkara2 jasmani lainnya, maka mereka tentu cenderung mencari
jalan mudah. Mereka akan memilih pintu yang lebar dan jalan yang luas yang
justru akan membawa kerugian dihadapan pengadilan Kristus kelak.
Ayat2 selanjutnya dari Matius 7 ini berbicara soal penyesatan
atau nabi2 palsu, dan juga bagaimana seorang Kristen yang telah melakukan
banyak mujizat, bernubuat, dan mengusir setan, tetapi ditolak pada hari
terakhir. Kita dapat menduga bahwa orang Kristen yang terfokus kepada hal2
jasmani dan lahiriah tidak akan bertahan dihadapan pengadilan Kristus kelak.
Kita lanjutkan pembahasan bagian keenam dalam Hukum Kerajaan
Sorga ini yang tertulis dalam Matius 7:13-29, dengan pokok pikirannya adalah ‘umat kerajaan dan orang banyak serta
penyesatan yang akan terjadi’. Kita akan membahas penyesatan yang akan
terjadi diantara pengikut Yesus. Matius 7:15, menegaskan, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan
menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas”.
Sekarang kita akan membahas atau mengidentifikasi (mengenali) siapakah nabi2
palsu yang dimaksud ayat ini. Hal ini sangat penting, karena dalam dunia
kekristenan ada kecenderungan untuk menganggap bahwa nabi2 palsu atau guru2
palsu itu adalah orang Kristen yang belum lahir baru dan belum mengenal Yesus
sama sekali. Artinya, nabi2 palsu atau guru2 palsu itu ada diluar dunia
kekristenan, ungkapan umumnya disebut “bukan
orang dalam” atau “bukan orang gereja”.
Istilah ‘nabi palsu’ diterjemahkan dari istilah Yunani, ‘pseudoprophetes’,
yang muncul 11 x dalam PB. Mari kita melihat II Petrus 2, yang berbicara panjang
lebar mengenai ‘pseudoprophetes’ ini. Perhatikan ayat 15,20, dan 21, demikian,
“Oleh karena mereka telah meninggalkan
jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak
Beor, yang suka menerima upah… sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan
Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus telah melepaskan diri dari
kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi didalamnya… Karena itu bagi
mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran
dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang
disampaikan kepada mereka”.
Kita lihat beberapa fakta tentang ‘pseudoprophetes’ disini.
Pertama,
mereka adalah orang2 yang telah MENINGGALKAN JALAN YANG BENAR, artinya mereka
pernah menempuh jalan yang benar, tetapi kemudian tersesat ke-jalan Bileam. Kedua,
mereka PERNAH MENGENAL Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, serta
melepaskan diri dari kecemaran2 dunia, namun terlibat lagi didalamnya. Ketiga,
mereka adalah orang2 yang BERBALIK DARI PERINTAH KUDUS (JALAN KEBENARAN)
kemudian mengikuti jalan Bileam. Dari uraian Petrus mengenai ‘pseudoprophetes’
ini, jelaslah identitas nabi2 palsu atau guru2 palsu itu, yaitu orang2 Kristen
yang telah lahir baru, mengenal Yesus Kristus secara pribadi, pernah menempuh
jalan kebenaran, bahkan telah pernah melepaskan diri dari kecemaran2 dunia.
Ungkapan dalam Matius 7:15, diatas bahwa nabi2 palsu itu, “menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya
mereka adalah serigala yang buas”, jangan disalah-mengerti bahwa identitas
mereka sebenarnya adalah SERIGALA GANAS, tetapi berpura-pura menjadi DOMBA.
Bukan demikian. Paulus berbicara kepada para pemimpin gereja bahwa akan ada
serangan SERIGALA GANAS yang menyebabkan para pemimpin gereja mengajarkan
ajaran palsu dengan maksud menarik murid2 Tuhan (Kis. 20:28-30). Wahyu 2-3
menyebutkan tiga ajaran palsu, yaitu ajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus.
Karenanya, nabi2 palsu atau guru2 palsu itu adalah para pemimpin gereja yang
ADALAH DOMBA SEJATI, tetapi mereka diserang SERIGALA GANAS, yang adalah iblis.
Jadi, tegasnya, nabi2 palsu atau guru2 palsu itu ADALAH DOMBA yang DISERANG
SERIGALA GANAS.
Dalam dunia kekristenan, ajaran Bileam, Izebel, dan Nikolaus
telah diterima secara luas dalam denominas2 yang ada. Jadi dalam, konteks dunia
kekristenan saat ini, siapakah “domba
yang diserang oleh serigala ganas” itu? Mereka adalah para pemimpin gereja
yang mengajarkan ajaran palsu untuk menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka
sendiri.
Kita masih melanjutkan pembahasan bagian keenam dalam Hukum
Kerajaan Sorga ini yang tertulis dalam Matius 7:13-29, mengenai ‘penyesatan’. Mari kita perhatikan Matius
7:16, demikian, “Dari buahnyalah kamu
akan mengenal mereka…”. Yesus tegas menyatakan bahwa untuk mengenali nabi2
palsu atau guru2 palsu adalah dengan melihat “buah” mereka. Banyak orang
Kristen berpendapat bahwa “buah” yang dimaksud adalah karakter, atau hasil
pelayanan dari nabi palsu atau guru palsu itu.
Tetapi, jika kita melihat konteks Matius 5-7 yang berbicara
mengenai ‘pengajaran’ Kerajaan Sorga,
maka lebih cocok jika kita menafsirkan “buah” dari nabi palsu atau guru palsu
itu adalah pengajarannya. Dari pengajarannyalah kita dapat mengenali siapa
mereka itu sebenarnya. Kita telah membahas dari II Petrus 2, mengenai ciri
guru2 palsu itu, yaitu bahwa mereka menempuh ‘jalan Bileam’ (ayat 15). Didalam
Wahyu 2-3, Bileam telah menjadi salah satu ajaran palsu, yaitu ajaran yang
mendukung dan memberi kesempatan bagi seseorang yang mencintai upah untuk
“pelayanannya”. Guru2 atau nabi2 palsu ini memang akan mencari untung dalam
pelayanannya. Jadi, sebenarnya cukup mudah untuk mengenali para pengajar
“Bileam” ini. Jika seorang “pelayan” Tuhan selalu berkhotbah mengenai bagaimana
ia mendapatkan uang, maka dapat dipastikan bahwa ia seorang pengajar “Bileam”.
Kita ambil saja dua ajaran palsu yang sudah cukup popular
didalam dunia kekristenan, walaupun tidak semua aliran menerimanya, yaitu
ajaran palsu persepuluhan dan buah sulung yang umumnya dipahami sebagai
pemberian uang dari jemaat kepada para pemimpinnya. Walaupun dalam kitab2 PB,
tidak ada satupun contoh gereja mula-mula mempraktekkan persepuluhan, atau buah
sulung, apalagi suatu perintah tegas untuk memberikan uang persepuluhan atau
buah sulung, namun para pengajar “Bileam” ini tetap mengajarkannya. Kadang2
para pengajar “Bileam” ini menafsir perkataan Yesus dalam Matius 23:23,
demikian, “…Yang satu harus dilakukan dan
yang lain jangan diabaikan”, maka berarti Yesus menganjurkan gereja memberi
persepuluhan. Tetapi kita tahu bahwa konteks ayat ini adalah teguran Yesus
kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat yang memang mereka berada dibawah Hukum
Taurat. Jadi, memang mereka yang hidup dibawah Hukum Taurat harus memberi
persepuluhan, tetapi gereja tidak hidup dibawah Hukum Taurat melainkan dibawah
Kasih Karunia.
Didalam Kis. 20:28-30, Paulus menyatakan motivasi dari para
pemimpin gereja ini dalam mengajar ajaran palsu, yaitu untuk menarik murid2
kepada diri mereka sendiri. Para pengajar palsu ini memang membangun
kerajaannya sendiri, dan untuk itu mereka membutuhkan uang untuk membangun
gedung2, atau apapun yang mendukung “pelayanan” mereka. Hal seperti ini tidak
pernah dilakukan oleh Rasul2 maupun oleh para pelayan gereja mula-mula.
Jadi, kita bisa menguji pengajaran “Bileam” ini dari kitab
suci. Kalau demikian, bagaimana umat kerajaan dapat mengenali mereka, karena
pada kenyataannya, tidak semua umat kerajaan memiliki pemahaman kitab suci
dengan luas dan rinci. Sesungguhnya, umat kerajaan telah diperlengkapi dengan
‘pengurapan dalam batin’ yang membuat mereka dapat mengenali pengajaran yang
benar (I Yohanes 2:27). PengurapanNya inilah yang mengajarkan segala sesuatu
kepada umat kerajaan. Demikianlah umat kerajaan dapat mengenali para pengajar
palsu ini.
Setelah berbicara mengenai ‘penyesatan’ yang harus dihadapi
para pengikutNya, Yesus mengakhiri khotbah dibukit ini dengan menegaskan
tentang penghakiman (Matius 7:21-27). II Korintus 5:10, menyatakan, “Sebab kita semua harus menghadap takhta
pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya,
sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.
Hanya kita harus melihat penghakiman Elohim ini dalam dua aspek, yaitu aspek
penghukuman (apa yang ditabur orang itu yang dituainya), dan juga aspek
pemulihan yang tertulis dalam Yesaya 26:9, demikian, “… sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan
belajar apa yang benar”.
Mari kita mulai dengan penghakiman yang pertama dalam Matius
7:21-23, demikian, “Bukan setiap orang
yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan akan masuk kedalam Kerajaan Sorga,
melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari
terakhir… kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan
mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu… Pada waktu itulah Aku akan berterus
terang… kamu sekalian pembuat kejahatan”. Terlihat disini bahwa penghakiman
itu tergantung apakah seseorang melakukan kehendak Bapa disorga atau tidak, dan
bukan soal perbuatan seseorang dalam bernubuat, mengusir setan, atau mengadakan
mujizat demi namaNya. Para pengikut Yesus yang ditolak untuk ikut memerintah
bersamaNya ketika kerajaan sorga termanifestasi/datang sepenuhnya dibumi (biasa
disebut kerajaan 1000 tahun=Milenium) adalah mereka yang melakukan ‘kejahatan’,
artinya tidak melakukan kehendak Bapa.
Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘kejahatan’ adalah ‘anomia’,
yaitu ketiadaan hukum (lawlessness).
Maksudnya, para pengikut Yesus ini menjalankan pelayanannya demi nama Tuhan,
tetapi melanggar Hukum Kerajaan Sorga. Istilah ‘anomia’ ini juga muncul
dalam perumpamaan ‘lalang diantara gandum’, demikian, “… semua orang yang melakukan kejahatan (anomia) dari dalam
kerajaan-Nya” (Matius 13:41). Jadi, para pengikut Yesus ini memang sudah
ada dalam kerajaan sorga, namun selama pelayanannya dimuka bumi ini mereka
tidak melakukan kehendak Bapa, dan melanggar Hukum Kerajaan Sorga, karenanya
mereka ditolak untuk ikut memerintah dibumi pada saat kedatangan Tuhan ‘kedua
kali’.
Penghakiman berikutnya tertulis dalam Matius 7:24-27, tentang
dua macam dasar/pondasi. Para pengikut Yesus yang mendengar perkataan Tuhan dan
melakukannya disamakan dengan pondasi (dasar) yang dibangun diatas batu.
Sedangkan yang tidak, disamakan seperti pondasi yang dibangun diatas pasir.
Penghakiman Tuhan disini diumpamakan seperti ‘turunnya hujan dan datang banjir’. Dan tentu saja, rumah yang
dibangun diatas batu akan bertahan.
Ada kesamaan yang perlu kita perhatikan dari kedua
penghakiman Tuhan ini, yaitu mereka yang bertahan dihari penghakiman adalah
mereka yang melakukan kehendak Bapa atau mendengar perkataan Tuhan serta
melakukannya. Tentu saat ini tidak dapat dilihat apakah seorang Kristen itu
melakukan pelayanannya dalam rangka melakukan kehendak Bapa atau tidak. Juga,
apakah seorang Kristen itu membangun rumah dengan pondasi diatas batu atau
pasirpun tidak terlihat, karena memang pondasi itu tidak terlihat. Saat ini,
yang kita lihat bahwa semua orang Kristen sedang membangun “rumah”. Terkait
dengan hal ini, nasihat Paulus dalam I Korintus 4:5, cocok untuk kita renungkan,
yaitu “… janganlah menghakimi sebelum
waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang
tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan
di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah” (LAI).
Sebelum kita lanjutkan pembahasan kita mengenai kerajaan
sorga dalam injil Matius, perlu kita lihat pembagian ‘percakapan’ atau
‘pengajaran’ yang memang sengaja dibuat oleh Matius. Ada 5 pembagian atau
percakapan dalam injil Matius, sementara selebihnya adalah suatu ‘cerita’ atau
‘narasi’ mengenai Tuhan Yesus dan khabar baik injil kerajaan sorga.
Mari kita lihat 5 pembagian ini, dimana pada akhir dari tiap2
bagian ini terdapat ungkapan, ‘setelah
Yesus selesai dengan segala pengajaran atau percakapan ini…’. Bagian pertama,
Matius 5:1 – 7:29, yang biasa disebut khotbah dibukit dan telah kita bahas. Kedua,
Matius 9:35 – 11:1, yang berisi tentang ‘penugasan kedua belas rasul’. Ketiga,
Matius 13:1-52, tentang tujuh perumpamaan mengenai kerajaan sorga. Keempat,
Matius 18:1-35, tentang pengampunan dan perumpamaan hamba yang berhutang. Kelima,
Matius 23:1 – 25:46, tentang tegoran kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat,
serta pengajaran akhir zaman.
Kita tahu bahwa injil Matius terutama ditujukan kepada pembaca
berlatar belakang Yahudi. Matius sengaja membagi ‘pengajaran kerajaan sorga’
menjadi 5 bagian seolah-olah ia hendak memperkenalkan Yesus sebagai “Musa” yang
baru dan lebih besar. Kita tahu bahwa kelima kitab, yaitu Kejadian, keluaran,
Imamat, Bilangan dan Ulangan sebagai kitab Musa atau Hukum Musa. Jadi, dengan
membagi pengajaran kerajaan sorga menjadi lima bagian, maka ia sedang
menunjukkan kepada pembaca Yahudi, bahwa seperti Musa, maka Yesus sedang
memberikan Hukum kerajaan Sorga kepada bangsa Yahudi.
Perbandingan yang dibuat Matius antara Yesus dan Musa
terlihat dalam khotbah dibukit dengan adanya ungkapan, ‘kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita… tetapi
Aku berkata kepadamu…’ (Matius 5:21,27,31,33,38,43). Jadi, dengan membagi
pengajaran Yesus menjadi 5 bagian, maka seperti Musa diutus oleh Yahweh, maka
Yesus juga diutus oleh Bapa untuk memberikan Hukum Kerajaan Sorga kepada bangsa
Yahudi. Tetapi kita harus tetap mengingat bahwa, “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan
kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yohanes 1:17).
Sebelum kita masuk kedalam bagian percakapan atau pengajaran
Yesus yang kedua, perlu kita ingat apa yang tertulis dalam Matius 9:35,
demikian, “Demikianlah Yesus berkeliling kesemua
kota dan desa… Ia mengajar…. memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta
melenyapkan segala penyakit dan kelemahan”. Jelas disini urutan yang Yesus
lakukan, yaitu mengajar, memberitakan, baru kemudian melenyapkan segala
penyakit. Sesungguhnya, mengajar dan memberitakan kerajaan sorga merupakan
kepentingan Yesus sebagai Raja diatas segala raja. Sedangkan melenyapkan segala
penyakit dan kelemahan itu terutama merupakan kepentingan manusia. Sebagai
pengikutNya, kita harus lebih dahulu mengajar hukum2 kerajaan sorga, baru
kemudian memenuhi kebutuhan manusia. Urutan ini jangan dibalik.
Banyak orang dalam dunia kekristenan terfokus kepada
kebutuhan manusia. Para pengkhotbah, umumnya, suka memberitakan sesuatu yang
menjadi kebutuhan atau kepentingan manusia. Tetapi Matius 26:10,13, menegaskan,
“… Sebab ia telah melakukan suatu
perbuatan yang baik padaKu… sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di
seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia”.
Perempuan yang memecahkan buli-bulinya berbuat baik kepada Yesus. Dan Yesus
mengharuskan dalam pemberitaan Injil supaya perbuatan perempuan ini disebut.
Mengapa? Agar kita paham bahwa pemberitaan Injil haruslah menghasilkan orang2
yang mau memecahkan “buli2nya” (sesuatu yang berharga baginya) demi berbuat
baik kepada Yesus. Jadi, tujuan Injil diberitakan adalah supaya kita berbuat
baik kepada Yesus, bukan terutama supaya terlihat betapa baiknya Tuhan kepada
manusia. Injil diberitakan terutama bertujuan demi kepentingan Yesus, bukan kepentingan
manusia.
Oleh kasih karuniaNya, umat kerajaan akan lebih dahulu
mengajar hukum kerajaan sorga agar dapat berbuat baik kepada Yesus, bahkan
memecahkan “buli2nya”, dan kemudian barulah fokus kepada kebutuhan orang.
Kita masuk kepada pembagian kedua dalam percakapan atau
pengajaran kerajaan sorga, yaitu Matius 9:35 – 11:1, yang berisi tentang ‘penugasan atau pengutusan kedua belas rasul’.
Latar belakang pengutusan kedua belas rasul adalah belas kasihan Yesus kepada
orang banyak, karena mereka lelah, dan terlantar seperti domba yang tidak
bergembala, dan bahwa tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit (9:36-37).
Karenanya, Yesus memanggil kedua belas muridNya, memberi otoritas kepada mereka
untuk mengusir roh-roh jahat serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan,
dan juga mengutus mereka untuk memberitakan bahwa kerajaan sorga sudah dekat.
Mari kita melihat pesan2 yang diberikan Yesus ketika Ia
mengutus mereka. Pertama, Matius 10:5-15, menjelaskan pada kita apa itu misi
kedua belas rasul disaat waktu itu. Kedua, Matius 10:16-23, menjelaskan
kesulitan2 yang akan dihadapi pemberitaan injil kerajaan sorga pada saat itu,
maupun pada masa mendatang. Ketiga, Matius 10:34-42, menjelaskan
apa yang Yesus minta dari kita.
Setidaknya, ada 2 hal yang harus kita perhatikan agar kita
tidak langsung menerapkan pesan2 Yesus terkait pengutusan kedua belas rasul ini
kepada kondisi kita sekarang. Pertama, pengutusan kedua belas
rasul ini hanya ditujukan kepada bangsa Yahudi saja (Matius 10:5-6), sementara
itu pengutusan bagi semua murid Yesus disepanjang zaman ditujukan kepada semua
bangsa (Matius 28:19-20). Kedua, Lukas 22:35-36, menjelaskan
pada kita bahwa Yesus membatalkan pesan sebelumnya terkait soal membawa emas,
perak, tembaga, bekal, baju dua helai, kasut, dan tongkat (Matius 10:9-10).
Tetapi tidak semua pesan2 Yesus dalam pengutusan ini yang
dibatalkanNya. Pesan Yesus bahwa akan datang kesulitan dan tantangan dalam
pemberitaan injil kerajaan tetap berlaku sampai sekarang. Demikian juga
permintaan Yesus kepada kita dalam Matius 10:34-42, tetap berlaku, yaitu agar
kita mengutamakan kepentingan Tuhan diatas segalanya, bahkan nyawa kita
sendiri.
Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan dengan baik, yaitu
mengenai otoritas yang diberikan Yesus kepada kedua belas rasulNya pada waktu
itu untuk membuat mujizat, seperti mengusir setan, menyembuhkan orang sakit,
serta membangkitkan orang mati. Pada waktu itu Roh Kudus belum dicurahkan
kepada mereka yang percaya, karena Yesus belum dimuliakan (Yohanes 7:39),
artinya Yesus belum mati, bangkit dan duduk disebelah kanan Bapa. Pada saat
itu, kedua belas rasul hanya diperintahkan untuk mengadakan mujizat, dan
memberitakan kerajaan sorga, dalam arti memproklamasikannya, bukan mengajarkan
tentang kerajaan sorga. Sementara itu, kita lihat bahwa pengajaran utama para
rasul setelah Yesus dimuliakan adalah mengenai pengajaran kerajaan sorga.
Bahkan seluruh kitab2 PB sesungguhnya memiliki tema utama tentang pengajaran
kerajaan sorga.
Perintah pengutusan dalam Matius 28:19-20, menegaskan, “…jadikanlah semua bangsa muridKu… dan ajarlah
mereka…”. Artinya, jadikanlah semua bangsa menjadi murid Kristus dengan
cara mengajarkan kerajaan sorga kepada mereka, karena demikianlah tema utama
kitab2 PB. Dalam dunia kekristenan saat ini, umumnya, telah terjadi pergeseran
dalam pemberitaan Injil. Pengajaran mengenai kerajaan sorga tidak menjadi
perkara utama lagi. Penekanan2 mengenai mujizat, atau kesuksesan duniawi sering
menggeser pentingnya murid Kristus memahami dengan baik pengajaran kerajaan sorga.
Tetapi, umat kerajaan mendapat kasih karunia untuk memahami kerajaan sorga, dan
menjalankan kuasanya dalam kehidupan sehari-hari.
Telah kita lihat bahwa ada 5 bagian percakapan atau
pengajaran tentang kerajaan sorga dalam injil Matius, dimana bagian ketiga dari
pengajaran itu berbicara tentang ‘tujuh
perumpamaan mengenai kerajaan sorga’ (Matius 13:1-52). Tetapi, sebelum kita
masuk kepada bagian ke-3, kita perlu merenungkan pasal 12, dimana Yesus dituduh
oleh orang Farisi, demikian, “… Dengan
Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan” (12:24).
Tuduhan orang Farisi ini sangat serius, karena pada ayat2
selanjutnya, Yesus berbicara soal dosa menghujat/menentang Roh Kudus (12:32),
bahwa orang Farisi adalah keturunan ular beludak (12:34), dan bahwa mereka
adalah angkatan yang jahat dan tidak setia (12:39,45). Tetapi kita tetap harus
mengingat bahwa mereka adalah umat Tuhan yang terikat dengan perjanjian Musa.
Bahkan dalam Matius 23:2, Yesus tegas berkata bahwa orang2 Farisi dan ahli
Taurat telah menduduki kursi Musa (otoritas Musa), sehingga orang banyak harus
mentaati mereka. Jadi, ketika Yesus berkata bahwa mereka keturunan ular
beludak, maka hal ini bukan berarti mereka bukan umat Tuhan. Mereka tetap umat
Tuhan yang terikat dengan perjanjian Musa.
Mari kita perhatikan lebih rinci respon Yesus pada ayat2
selanjutnya, setelah orang Farisi menuduhNya. Pertama, iblis dan roh2
adalah suatu kerajaan (12:26). Setan adalah penguasa dunia/sistem=kosmos
ini (Yohanes 12:31). Iblis dan roh2 jahat adalah penguasa kegelapan ‘kosmos’
atau sistem dunia ini (Efesus 6:12). Kedua, karena Yesus tegas menyatakan
bahwa orang Farisi adalah keturunan “ular beludak”, maka sesungguhnya, dunia
(sistem=kosmos) keagamaan dizamanNya dikuasai/dipengaruhi oleh kerajaan
iblis. Ketiga, Matius 12:43-44, masih merupakan bagian dari respon
Yesus terhadap orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, maka sesungguhnya, ‘angkatan
yang jahat’ (dunia keagamaan dizamanNya) akan dihuni oleh “tujuh roh” yang
lebih jahat dari roh sebelumnya.
Pelajaran apa yang kita dapat disini? Banyak orang Kristen
tidak memahami atau mengenali dunia keagamaan dizaman Yesus, atau yang biasa
kita sebut Yudaisme. Sesungguhnya, dunia keagamaan inilah yang menyalibkan
Yesus, dan bukan Pontius Pilatus yang mewakili dunia politik pada zaman itu.
Berkali-kali Pontius Pilatus berusaha membebaskan Yesus, tetapi orang2 Farisi
dan ahli2 Taurat menghasut orang banyak agar Yesus disalibkan, dan Barabas yang
dibebaskan. Dunia keagamaan dizaman Yesus sudah jelas sangat dikuasai kerajaan
kegelapan.
Bagaimana dengan dunia kekristenan? Apakah dunia kekristenan
juga dikuasai atau dipengaruhi oleh kerajaan kegelapan? Jika kita ingin
memahami dunia kekristenan, maka kita perlu melihat, dan tentu meminta
pewahyuan Roh Kudus, agar dapat memahami pewahyuan yang tertuang dalam tulisan2
rasul Yohanes. Banyak orang Kristen, barangkali termasuk para pengajar Alkitab
juga, yang tidak melihat bahwa kitab2 Perjanjian Baru harus dipilah menjadi
tiga bagian (trilogy), yaitu
pewahyuan melalui Petrus dan tim-nya, pewahyuan melalui Paulus dan tim-nya,
serta pewahyuan melalui rasul Yohanes dan tim-nya juga.
Pewahyuan yang dinyatakan kepada rasul Yohanes terjadi ketika
gereja telah jatuh/merosot. Wahyu 2-3 jelas menguraikan bagaimana gereja telah
menjadi dunia kekristenan oleh tiga ajaran palsu Izebel, Bileam, Nikolaus.
Karena kemerosotan gereja ini, maka Tuhan memanggil para pemenangNya untuk
menjadi representatif gereja yang sudah jatuh. Rasul Yohaneslah yang banyak
menggunakan istilah ‘dunia’/kosmos/sistem, dimana penguasa ‘dunia’ ini adalah
iblis. Kita tidak membahas pewahyuan rasul Yohanes mengenai ‘kosmos’/dunia ini,
tetapi yang perlu kita lihat saat ini bahwa ‘dunia’ keagamaan dikuasai oleh
kerajaan kegelapan, karena iblis-lah yang menjadi penguasa dunia/kosmos.
Saat ini kita akan membahas bagian ketiga dalam injil Matius
yang berbicara tentang ‘tujuh perumpamaan
mengenai kerajaan sorga’ (Matius 13:1-52). Mari kita lihat sekilas Matius
pasal 1 sampai 12, agar kita memahami pasal 13 dengan baik. Matius 1 berbicara soal
kelahiran dan silsilah Yesus sebagai Raja. Matius 2 berbicara kedatangan orang
Majus dan persembahannya kepada sang Raja. Matius 3 berbicara perintis sang
Raja dan baptisan sang Raja. Matius 4 berbicara mengenai pencobaan kepada sang
Raja dan pemanggilan keempat muridNya. Matius 5,6,7 berbicara mengenai khotbah
sang Raja dibukit mengenai hukum2 KerajaanNya. Matius 8 dan 9 berbicara
mengenai demonstrasi dan kuasa kerajaanNya. Matius 10 berbicara mengenai
pengutusan kedua belas rasul. Matius 12 berbicara bagaimana Yesus sang Raja
sepenuhnya ditolak oleh para pemimpin agama Yahudi. Matius 13:1, menegaskan
‘pada hari itu’, artinya, pada hari setelah Yesus sepenuhnya ditolak oleh para
pemimpin agama Yahudi, PADA HARI ITU YESUS KELUAR DARI TENGAH-TENGAH KELUARGA
ISRAEL DAN BERBICARA MELALUI PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN.
Perumpamaan2 kerajaan sorga yang Yesus ajarkan bukanlah
supaya dipahami oleh semua orang Yahudi. Perhatikan alasan Yesus mengajar dalam
perumpamaan ketika ditanya oleh murid2Nya, “…Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan sorga, tetapi
kepada mereka tidak” (Matius 13:11). Jadi, jelaslah bahwa Yesus mengajarkan
kerajaan sorga dalam perumpamaan2, dengan maksud supaya hanya mereka yang
mendapat kasih karuniaNya saja yang memahami. Kepada bangsa Yahudi secara umum,
atau yang biasa disebut ‘orang banyak’
dalam kitab2 Injil, perumpamaan2 kerajaan sorga diberikan bukanlah supaya
dipahami. Penglihatan dan pemahaman ‘orang banyak’ telah ditutup agar firman
Tuhan digenapi, dalam kasus ini nubuat Yesaya (Matius 13:14-15).
Hal ini bukan berarti bangsa Yahudi akan ditolak selamanya
untuk ambil bagian didalam kerajaan sorga. Tetapi bahwa hanya sedikit saja dari
bangsa Yahudi yang diterima masuk dalam kerajaan sorga ‘pada dispensasi ini’, yaitu orang2 yang terpilih yang kepada mereka
Bapa di sorga berkenan memberikan kerajaan sorga itu (Lukas 12:32). Orang2 yang
terpilih ini disebut sebagai ‘kawanan
kecil’ dalam Lukas 12:32, sebagai lawan dari ‘orang banyak’ atau ‘kawanan
besar’ bangsa Yahudi.
Mari kita mulai dengan perumpamaan pertama dalam Matius pasal
13 ini, yaitu perumpamaan penabur. Sebenarnya perumpamaan penabur ini belumlah
berbicara mengenai seperti apa dan bagaimana kerajaan sorga yang akan
ditegakkan dibumi ini. Perumpamaan penabur hanyalah berbicara tentang ‘respon’ orang2 yang ditaburkan “benih”
firman tentang Kerajaan sorga, atau “benih” Yesus sebagai Hayat (‘zoe’).
Tetapi, keenam perumpamaan lain dalam pasal 13 ini selalu
didahului dengan ungkapan ‘Hal Kerajaan sorga itu seumpama’ (ayat
24,31,33,44,45,47). Karenanya, keenam perumpamaan berikutnya menjelaskan kepada
kita seperti apa dan bagaimana ‘kerajaan sorga yang akan ditegakkan dibumi
ini’.
Baiklah kita ringkas perumpamaan penabur ini. Yesus sebagai
penabur, dan kelak tentu murid2Nya juga, menaburkan ‘benih firman tentang
kerajaan sorga’ dan akan mendapat ‘respon’ yang berbeda-beda tergantung ‘jenis
tanah’ (hati orang) dimana benih itu jatuh. Ada 4 kategori tanah dalam
perumpamaan ini, yaitu, pertama, tanah di pinggir jalan, kedua,
tanah yang berbatu-batu, ketiga, tanah yang bersemak duri,
dan keempat,
tanah yang baik.
Tanah yang di pinggir jalan adalah orang2 yang mendengar
firman tentang kerajaan sorga dan tidak mengertinya, karenanya dicuri iblis,
serta sama sekali tidak bertumbuh (ayat 19). Tanah yang berbatu-batu adalah
orang yang mendengar firman kerajaan sorga dan sempat bertumbuh karena
menerimanya dengan gembira, tetapi tidak berakar (ayat 21). Apabila datang
kesukaran atau penindasan karena firman kerajaan sorga itu, maka ia segera
murtad. Tanah yang bersemak duri adalah orang yang mendengar firman kerajaan
sorga, dan sempat bertumbuh tetapi tidak berbuah karena kekuatiran dunia serta
tipu daya kekayaan (ayat 22). Tanah yang baik adalah orang yang mendengar
firman kerajaan sorga serta mengerti, karenanya berbuah, dan ada yang 100, 60,
dan 30 kali lipat.
Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari perumpamaan
penabur ini. Pertama, Yesus, dan tentu rasul2Nya juga, memberitakan firman
tentang kerajaan sorga. Tentu Yesus berbicara juga mengenai gereja, tetapi
fokus dari semua perkataan Yesus adalah firman kerajaan sorga. Kedua,
terlihat dari perumpamaan ini bahwa respon seseorang akan menentukan apakah
firman kerajaan sorga yang ditabur itu akan menghasilkan buah atau tidak.
Tetapi, kita jangan cepat2 mengambil kesimpulan bahwa semua tergantung respon
manusia, sebagaimana sering kita dengar dalam dunia kekristenan.
Perhatikan ayat 11 yang sudah kita bahas. Sebagian orang
mendapat kasih karunia untuk memahami misteri kerajaan sorga, tetapi sebagian
orang lagi tidak mendapat kasih karunia untuk mengerti. Jadi, kesimpulannya,
semua tergantung kehendak Bapa di sorga. Apakah Bapa berkenan memberikan
kerajaan sorga kepada seseorang atau tidak (Lukas 12:32). Adapun hati manusia yang
sudah jatuh dalam dosa, telah rusak parah dan tidak ada seorangpun yang mencari
Tuhan (Roma 3:11). Jika ada seseorang yang mengerti firman kerajaan sorga, maka
itu disebabkan Bapa berkerja didalam hatinya.
Pelajaran ketiga yang perlu kita lihat dalam
perumpamaan ini adalah mengenai ‘buah’. Dalam dunia kekristenan sering kita
dengar mengenai ‘buah’ seorang kristen, yaitu jumlah jiwa yang dimenangkannya,
karakternya, atau bahkan berkat2 jasmani yang diraihnya melalui “pelayanannya”.
Semua ini bukanlah ‘buah’ yang dimaksud karena seseorang mendengar dan mengerti
firman kerajaan sorga.
Buah yang dimaksud adalah apa yang disebut dalam Yakobus
1:18, yaitu menjadi bagian dari “buah
sulung” ciptaan. Buah sulung dalam konteks PB adalah orang2 yang dipilih,
dan karenanya, matang lebih dahulu serta siap dituai oleh Tuhan Yesus untuk
bersama-sama denganNya menegakkan kerajaan sorga dibumi, sehingga bumi bergerak
menjadi bumi baru. Sesungguhnya, melalui kematian dan kebangkitanNya, Yesus
menabur DiriNya sebagai Hayat kedalam umat pilihanNya, dan karenanya, Yesus
akan mendapat buah yang merupakan orang2 yang akan bersamaNya melakukan
kehendak Bapa dibumi.
Saat ini kita masuk kedalam perumpamaan kedua dalam Matius
13, yaitu perumpamaan ‘lalang diantara gandum’. Dikatakan dalam perumpamaan ini
bahwa hal kerajaan sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di
ladangnya, dimana datang juga musuh yang menaburkan benih Lalang diantara
gandum itu. Tuhan Yesus adalah yang menaburkan benih yang baik, dan gandum itu adalah
anak2 kerajaan. Iblis adalah yang menaburkan benih yang jahat dan Lalang itu
adalah anak2 si jahat.
Pada umumnya, dalam dunia kekristenan, dipahami bahwa
“lalang” adalah orang2 yang mengaku Kristen, tetapi belum lahir baru, atau
belum menerima “benih” Kristus atau Hayat Kristus (‘zoe’). Penafsiran seperti
ini tidak memahami kejatuhan gereja yang tertulis dalam Wahyu 2-3. Pewahyuan
yang diberikan kepada rasul Yohanes adalah mengenai kejatuhan gereja, mulai
dari zaman rasul Yohanes, bahkan gereja sepanjang zaman, yang digambarkan oleh
tujuh gereja di Asia Kecil. Setelah gereja jatuh, Tuhan memanggil para
pemenangNya, dimana kita akan lihat bahwa “gandum” itu menggambarkan para
pemenangNya.
Perlu kita pahami bahwa iblis menaburkan benih yang jahat itu
‘diladang milik Tuan yang di sorga’,
sehingga baik lalang maupun gandum ada diladang sang Tuan. Pada tahap awal,
lalang dan gandum sangat mirip sehingga tidak mungkin seseorang dapat
membedakannya. Itu sebabnya, sang Tuan melarang hamba2Nya untuk mencabut lalang
sebelum waktu menuai, sebab dapat membuat gandumnyapun ikut tercabut.
Makna dari perumpamaan ini menggambarkan seperti apa kerajaan
sorga itu, sebab perumpamaan ini didahului dengan ungkapan, ‘hal kerajaan sorga
itu seumpama’. Jadi, pada tahap awal, hanya Yesus yang menaburkan benih yang
baik, yaitu anak2 kerajaan. Ketika gereja dilahirkan pada hari Pentakosta,
hanya ada “benih yang baik” yang ditaburkan. Tetapi kemudian, iblis menabur
benih jahat kedalam gereja, sehingga gereja pecah menjadi ribuan denominasi
seperti sekarang ini, yang kita sebut dunia kekristenan. Awalnya, gereja hanya
terdiri dari “benih gandum”, tetapi kemudian berkembang menjadi dunia
kekristenan dimana didalamnya terdapat “benih lalang dan gandum”. Didalam dunia
kekristenan, ada “lalang” yaitu orang2 yang melakukan ‘kejahatan’ (Matius
13:41).
Menarik untuk diperhatikan bahwa istilah ‘kejahatan’ (ayat
41) dalam bahasa Yunani adalah ANOMIA, dan istilah ini juga yang dipakai dalam
Matius 7:21-23 dimana ada orang2 yang berseru Tuhan, Tuhan serta melakukan
banyak mujizat demi nama Tuhan, bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan demi
nama Tuhan, tetapi ditolak oleh Tuhan Yesus karena melakukan ANOMIA
(kejahatan). Jelas, bahwa orang2 yang diuraikan dalam Matius 7:21-23 adalah
orang2 didalam dunia kekristenan, bahkan barangkali orang2 terkenal yang sering
mengadakan kebaktian besar dengan banyak mujizat.
Selanjutnya, ayat 41 juga menegaskan bahwa pada waktu menuai,
maka segala sesuatu yang ‘menyesatkan’ akan dikumpulkan. Perlu kita perhatikan
istilah ‘menyesatkan’ (Yunani: SKANDALON) dalam ayat 41, yang juga digunakan
dalam Wahyu 2:14 sebagai berikut, “…diantaramu
ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada
Balak untuk ‘menyesatkan’ (SKANDALON) orang
Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah”. Jadi,
perihal menyesatkan ini adalah suatu ajaran palsu (Bileam) yang ditabur iblis
kedalam gereja, sehingga menyebabkan umat Tuhan menyembah berhala dan berbuat
zinah. Sebenarnya, ada tiga ajaran palsu yang ditabur iblis kedalam gereja
seperti tertulis dalam Wahyu 2-3, yaitu ajaran Izebel (merampas otoritas Hayat
dalam gereja), Nikolaus (menaklukkan kaum awam sehingga gereja terbelah menjadi
dua golongan), dan Bileam (ajaran yang membenarkan adanya perdagangan dalam
gereja).
Demikianlah kondisi kerajaan sorga dimana didalamnya terdapat
“lalang” dan “gandum”. Sesungguhnya, “lalang” adalah orang2 kristen yang sudah
lahir baru, tetapi menerima atau bahkan mengajarkan ajaran palsu Bileam,
Nikolaus, dan Izebel. Tetapi, pada waktu menuai, lalang dan gandum akan
dipisahkan, sehingga, “…orang-orang benar
akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka…” (Matius
13:43).
Kita akan masuk kedalam perumpamaan ketiga dalam Matius 13,
yaitu perumpamaan biji sesawi (13:31-32), demikian, “… hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi… Memang biji itu yang
paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu
lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga
burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya”.
Perlu kita pahami bahwa biji sesawi itu sesuatu jenis ‘biji
sayuran’ yang paling kecil. Dan, jika biji sayuran ini ditanam, ia akan
menghasilkan ‘tumbuhan sayuran’ sesuai dengan hukum pertumbuhan yang Tuhan
telah tetapkan, yaitu, “…yang
menghasilkan buah sesuai jenisnya…” (Kejadian 1:11, ILT). Tetapi, ketika
biji sesawi ini dtanam di ladang Tuhan, maka ia menjadi pohon sehingga burung2
diudara datang bersarang pada cabang2nya (13:32).
Pertumbuhan biji sesawi yang menjadi pohon adalah sesuatu
yang tidak alamiah, tidak normal, dan melanggar ‘hukum pertumbuhan’ yang sudah Tuhan tetapkan. Memang kerajaan sorga
yang ditegakkan dibumi itu mulai sebagai “biji” saja didalam diri Tuhan Yesus
Kristus. Tetapi, setelah kematian dan kebangkitan Yesus, maka kerajaan sorga
itu berbuah menjadi 120 orang (gereja) pada hari Pentakosta. Seharusnya, gereja
bertumbuh dan menghasilkan “buah sesuai
jenisnya”, yang dalam perumpamaan ini adalah jenis sayuran. Jika kemudian
gereja bertumbuh menjadi “pohon besar” sehingga burung2 bersarang pada cabang2nya,
maka ada suatu ‘pelanggaran terhadap hukum pertumbuhan disini’.
‘Pohon’ didalam Alkitab merupakan simbol dari orang2 (Mazmur
1:1-3; 52:8; 92:12-14; 128:3). Sementara ‘burung’ merupakan simbol dari ‘si-jahat’
dalam perumpamaan penabur (Matius 13:4,19). Tetapi, Alkitab juga berbicara
tentang burung yang baik sebagaimana Roh Kudus dilambangkan sebagai ‘burung
Merpati’ (Matius 3:16). Jadi, gereja yang bertumbuh menjadi “pohon besar”
disebabkan adanya pekerjaan Roh Kudus, tetapi juga pekerjaan Iblis.
Umat pilihan Tuhan tentu memahami bagaimana gereja telah
menjadi dunia kekristenan yang besar ini. Gereja yang seharusnya menghadirkan
‘kerajaan sorga dibumi’, saat ini justru menghadirkan ‘kerajaan2 kecil’
(denominasi2) milik para pemimpinnya. Jika ada orang membantah bahwa Tuhan juga
bekerja dalam dunia kekristenan dan memberkati, maka hal ini memang benar,
sebab dunia kekristenan menjadi besar karena pekerjaan Roh Kudus, tetapi juga karena pekerjaan Iblis. Disatu sisi, memang gereja menjadi besar dan
diberkati Roh Kudus, seperti dunia kekristenan saat ini, tetapi disisi lain,
tetaplah ini suatu pelanggaran terhadap hukum pertumbuhan yang telah Tuhan
tetapkan.
Yesus telah menyatakan hukum2 kerajaan dalam khotbah di bukit
(Matius 5-7). Diakhir khotbahNya, Yesus menegaskan bahwa pada hari terakhir
akan ada banyak orang berseru Tuhan-Tuhan serta melakukan banyak mujizat,
nubuat, mengusir setan demi namaNya. Tetapi, pada saat itulah Yesus berterus
terang mengatakan, “…Enyahlah dari
padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan” (Matius 7:23). Istilah ‘kejahatan’
berasal dari istilah Yunani ‘anomia’, yang artinya ‘lawlessness’ (ketiadaan
hukum atau pelanggaran hukum kerajaan), yang dalam perumpamaan diatas adalah
‘hukum pertumbuhan gereja’. Jadi, bukan kejahatan dalam arti membunuh, berzinah
atau kejahatan2 lainnya, tetapi “para pelayan Tuhan” ini melakukan pelanggaran
terhadap hukum kerajaan sorga.
Kerajaan sorga dibumi memang pasti bertumbuh, bahkan
perluasannya sampai tidak berkesudahan (Yesaya 9:6). Tetapi, pertumbuhan atau
perluasannya harus mengikuti hukum2 kerajaan yang sudah Tuhan tetapkan. Matius
15:13, menegaskan, “… Setiap tanaman yang
tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya”.
Denominasi2 yang adalah “kerajaan-kerajaan kecil” milik para pemimpinnya,
bukanlah “tanaman” yang ditanam Bapa
di sorga, walaupun tentu Tuhan memberkatinya. Dalam dunia kekristenan ada suatu
kekeliruan, bahkan bisa disebut ‘blunder’, yang menyatakan bahwa berkat2 Tuhan
adalah bukti perkenanan Tuhan. Bapa disorga telah memberkati seisi dunia dengan
memberikan AnakNya yang tunggal untuk menghapus dosa dunia. Tetapi, hal ini
bukan berarti Bapa disorga berkenan terhadap jalan hidup orang2 berdosa.
MEMBERKATI dan BERKENAN adalah dua hal yang sama sekali
berbeda. Pada waktuNya, Bapa disorga akan mencabut tanaman yang tidak
ditanamNya.
Selanjutnya kita masuk kedalam perumpamaan kerajaan sorga
yang keempat, yaitu ‘perumpamaan tentang
perempuan dan ragi’ (Matius 13:33). Perumpamaan ini dimulai dengan ungkapan
‘hal kerajaan sorga itu seumpama’ perempuan yang mengadukkan ragi kedalam
tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya. Untuk memahami perumpamaan
ini, kita harus memahami apa yang disimbolkan oleh ‘perempuan’ dan juga ‘ragi’
dalam perumpamaan ini.
Perempuan diseluruh Alkitab selalu melambangkan ‘gereja’ sebagai mempelai Kristus.
Sementara ‘ragi’ muncul kurang lebih
sebanyak 38 kali diseluruh Alkitab, dan ungkapan ‘tidak beragi’ muncul sebanyak 60 kali diseluruh Alkitab. Dalam
konteks PL, bangsa Israel memahami bahwa ‘ragi’
adalah sesuatu yang bersifat “jahat”
dihadapan Yahweh, karena ada banyak larangan agar jangan menggunakan ‘ragi’. Tetapi, bangsa Israel tidak
memahami mengapa ‘ragi’ menjadi
sesuatu yang dilarang.
Tetapi, dalam konteks PB, kita memahami mengapa ‘ragi’ merupakan sesuatu yang ‘jahat’ dihadapan Tuhan. Tuhan Yesus dan
Paulus yang mengungkapkan hal ini. Pertama, Tuhan Yesus menasihati
murid2Nya supaya berhati-hati terhadap ‘ragi’
(ajaran) orang Farisi dan Saduki (Matius 16:5-12). Lukas 12:1 mendefinisikan ‘ragi’ sebagai kemunafikan orang Farisi. Kedua,
Tuhan Yesus memperingati ‘ragi’
Herodes, yaitu gaya hidup jahat darinya (Markus 8:15). Ketiga, Paulus menasihati
gereja di Korintus agar berpesta dengan ‘roti
tidak beragi’, yaitu kemurnian dan kebenaran (I Korintus 5:8). Keempat,
dalam suratnya kepada gereja di Galatia, Paulus memperingati ‘ragi’ ajaran Yudaisme yang bersifat
legalisme dan ritualisme (Galatia 5:9). Jadi, jelaslah bahwa ‘ragi’ selalu menggambarkan suatu
ajaran, gaya hidup, serta kemunafikan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan.
Jadi, perempuan yang memasukkan ‘ragi’ kedalam adonan adalah gereja, khususnya para pemimpinnya,
yang memasukkan ‘ajaran beragi/palsu’
kedalamnya. PB mengungkapkan dengan sangat jelas bagaimana para pemimpin memasukkan
“ragi” kedalam gereja. Paulus dalam
Kis. 20:29-30, menjelaskan bagaimana serigala ganas menyerang gereja sehingga
para pemimpin MENARIK murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri dengan ajaran
palsu. Wahyu 2-3 juga menjelaskan kepada kita tiga ajaran palsu, yaitu ajaran Izebel (merampas otoritas Yesus),
Bileam (dagang), dan ajaran Nikolaus (membelah gereja menjadi
dua golongan, yaitu Imam-Umat, serta Pendeta-Jemaat).
Bagi ‘kawanan kecil’ aau umat kerajaan yang kepadanya Bapa
sudah berkenan memberikan kerajaan sorga, tidaklah sulit memahami perumpamaan ‘perempuan dan ragi’ ini. Perlu kita
pahami bahwa ‘ragi’ itu bekerja
secara rahasia, perlahan-lahan, tetapi pasti akan mengkhamirkan seluruh adonan.
Sejak zaman Rasul Yohanes, gereja telah dimasukkan ‘ragi’ oleh tiga ajaran palsu diatas. Itu sebabnya, firman Tuhan
memanggil para pemenang, yaitu orang2 sederhana yang tidak ambil bagian dalam
tiga ajaran palsu ini.
Sesungguhnya, Dunia Kekristenan telah khamir seluruhnya, itu
sebabnya, Tuhan memanggil umat kerajaan untuk, “…Pergilah kamu, hai umatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan
mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa
malapetaka-malapetakanya” (Wahyu 18:4).
Saat ini kita membahas perumpamaan kerajaan sorga yang
kelima, yaitu perumpamaan ‘harta yang terpendam’ dalam Matius 13:44, demikian,
“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta
yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh
sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu”.
Ditegaskan bahwa
kerajaan sorga seumpama ‘harta yang terpendam di ladang’. Jadi, jelas yang
dimaksud ‘harta terpendam’ adalah kerajaan sorga. Dikatakan dalam ayat ini
bahwa ‘harta yang terpendam’ atau ‘kerajaan sorga’ ini ditemukan oleh orang.
Siapakah orang ini yang ketika menemukan ‘harta terpendam’ ini kemudian
bersukacita dan menjual seluruh miliknya serta membeli ladang dimana ‘harta
terpendam’ itu berada?
Jika kita konsisten dalam menafsir perumpamaan2 dalam Matius
13 ini, maka tentu kita tahu bahwa orang yang membeli ladang dimana terdapat
‘harta terpendam’ itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Sebab penabur dalam
perumpamaan pertama adalah Tuhan Yesus, kemudian orang yang menabur ‘benih baik’
di ladangnya juga Tuhan Yesus, maka sewajarnya kita menafsirkan bahwa orang
yang membeli ladang dimana terdapat ‘harta terpendam’ adalah juga Tuhan Yesus.
Lagi pula tidak ada seorangpun yang mampu membeli harta terpendam (kerajaan
sorga) selain Tuhan Yesus Kristus.
Ladang dalam perumpamaan ini tentu adalah dunia. Yesus
sebagai ‘Anak Domba Elohim’ telah menebus dosa dunia/menghapus dosa dunia
(Yohanes 1:29). I Yohanes 2:2, menegaskan bahwa Yesus sebagai pendamaian bagi
dosa seluruh dunia. Yesus itu adalah juruselamat dunia, bukan juruselamat orang
percaya saja. Sekalipun Yesus “membeli” ladang (dunia), namun perhatianNya
tertuju kepada ‘kerajaan sorga’ (umat kerajaan) yang “terpendam” didalam dunia.
Beberapa penafsir berpendapat bahwa ‘harta terpendam’ ini
adalah gereja, dalam arti dunia kekristenan secara keseluruhan. Tetapi, jika
kita memperhatikan seluruh pengajaran PB mengenai gereja dan kerajaan sorga,
maka kita tahu bahwa pandangan seperti ini tidak tepat. Memang Yesus berkata
bahwa ‘Aku akan mendirikan gerejaKu’, tetapi dunia kekristenan bukanlah gereja
seperti yang dibangun Yesus. Dunia kekristenan adalah gereja mula-mula yang
telah pecah menjadi puluhan ribu denominasi oleh ketiga ajaran palsu Izebel,
Bileam, dan Nikolaus (Wahyu 2-3).
Jadi kalau demikian, siapakah umat kerajaan sorga atau ‘harta
terpendam’ itu? Lukas 12:32 menjelaskannya kepada kita, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan
memberikan kamu Kerajaan itu”. Ini adalah keputusan dan kedaulatan Bapa
sendiri yang sudah berkenan memberikan kerajaan sorga itu kepada kawanan kecil.
Kerajaan sorga itu diberikan Bapa kepada kawanan kecil ‘secara gratis’, karena Yesus yang telah “membeli” dan membayar lunas ‘harta
terpendam’ dengan darahNya sendiri.
Satu hal lagi yang harus diingat dalam perumpamaan kerajaan
sorga ini, bahwa Yesus tidak hanya membeli ‘harta terpendam’ saja, tetapi juga
ladang (dunia). Artinya seluruh manusia telah dibeli dan ditebus oleh darahNya.
Itu sebabnya Yesus berkata dalam Yohanes 12:32, “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua
orang datang kepadaKu”. Semua orang telah dibeli dan ditebus oleh darah
Yesus, karenanya semua orang adalah sah menjadi milik Yesus, bukan lagi milik
Iblis. Hanya dizaman ini, fokus Tuhan Yesus adalah umat kerajaan.
Bagaimana Yesus akan menarik semua orang datang kepadaNya?
Alkitab mengajarkan bahwa Yesus bersama ‘kawanan kecil’ akan mengambil tawanan2
iblis dizaman-zaman berikutnya. Haleluyah.
Kita teruskan pembahasan kita kepada perumpamaan keenam,
yaitu tentang ‘pedagang dan mutiara indah’ dalam Matius 13:45-46, demikian, “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu
seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya
mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu
membeli mutiara itu”.
Perumpamaan keenam ini sebenarnya sama dengan perumpamaan
kelima mengenai ‘harta yang terpendam’ yang sudah kita bahas. Mutiara yang
indah disini tentu adalah ‘kerajaan sorga’, dan pedagang yang mencari mutiara
adalah ‘Yesus Kristus’. Ditegaskan dalam perumpamaan ini bahwa ketika pedagang
menemukan mutiara yang indah dan sangat berharga, maka pedagang ini menjual
seluruh miliknya untuk membeli mutiara ini.
Baiklah kita membahas sedikit bagaimana Yesus “menjual
seluruh milikNya” untuk mendapatkan kerajaan sorga. Filipi 2:6-8, menegaskan, “Dia, yang meskipun ada dalam rupa Elohim…Dia
sudah mengosongkan Diri-Nya sendiri dengan mengambil rupa seorang hamba…Dia
sudah merendahkan Diri-Nya sendiri dengan menjadi taat sampai pada kematian,
bahkan kematian di kayu salib” (ILT). Ditegaskan disini bahwa Dia sudah ada
dalam rupa Elohim dan setara dengan Elohim. Hal ini berbicara keberadaanNya
sebelum berinkarnasi, yaitu setara dengan Elohim. Tetapi dalam kesetaraanNya
dengan Elohim, Dia telah “mengosongkan DiriNya” dengan mengambil rupa seorang
hamba. Pengertian “mengosongkan” (‘kenoo’=verb), bukan berarti Dia
“MEMBUANG” keberadaanNya yang setara Elohim, melainkan Dia “MENAMBAHKAN” rupa
seorang hamba (manusia) kepada keberadaanNya yang setara Elohim itu. Rasul
Yohanes menjelaskannya demikian, bahwa Dia yang adalah Firman (‘Logos’)
menjadi manusia (Yohanes 1:1,14). Dia, yang setara dengan Elohim itu, menjadi
manusia yang bernama YESUS. Bahwa Yesus mati di kayu salib, itulah makna “menjual seluruh milikNya”.
Baiklah selalu kita ingat bahwa harga mutiara indah (kerajaan
sorga) itu telah dibeli/dibayar lunas oleh YESUS. Umat kerajaan yang kepadanya
Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga SAMA SEKALI TIDAK MEMBAYAR APAPUN UNTUK
MENERIMA KERAJAAN SORGA (Lukas 12:32). Kalau demikian, mengapa Yesus berkata
bahwa orang yang mau ikut Yesus, harus memikul salibnya (Matius 10:38;
16:24).
Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita perlu memiliki konsep
yang tepat mengenai ‘kerajaan sorga’ yang telah “dibeli” dan dibayar lunas oleh
Yesus di kayu salib. Orang Kristen sulit memahami kerajaan sorga, karena dalam
dunia kekristenan sudah umum diterima bahwa ‘percaya Yesus masuk sorga’. Sorga
yang dimaksud disini adalah suatu ‘tempat yang menyenangkan’ dimana jalan2nya
dari emas, bahwa orang yang percaya Yesus kerjanya hanya bernyanyi saja, bahkan
Pdt. Erastus Sabdono yang terkenal itu sampai berpendapat masih ada anjing
nanti disorga, disuatu ‘tempat yang menyenangkan itu’.
Konsep “sorga” seperti ini sangat jauh dari pengertian
‘kerajaan sorga’ seperti yang diwahyukan kepada Rasul Yohanes dalam kitab
Wahyu. Perhatikan Wahyu 5:10, demikian, “dan
Engkau telah menjadikan kami raja-raja dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami
akan memerintah di atas bumi” (ILT). Istilah ‘kami’ disini adalah umat kerajaan yang disimbolkan sebagai ‘dua puluh empat tua-tua’ dan ‘empat makhluk hidup’ (Wahyu 4:4,6). Pada
saat kedatangan Tuhan Yesus, umat kerajaan, dengan tubuh kemuliaan, akan
berfungsi sebagai raja2 dan imam2 (menurut aturan Melkisedek) serta melayani di
BUMI SAMPAI BUMI BERGERAK MENUJU BUMI BARU, DAN LANGIT BARU JUGA.
Agar umat kerajaan dapat berfungsi sebagai raja2 dan imam2
menurut aturan Melkisedek, maka umat kerajaan perlu diproses atau dibentuk Bapa
di sorga. Ketika Bapa disorga memproses, mendidik, dan membentuk kita, maka
kita akan mengalami banyak kesusahan (Ibrani 12:11, Kis. 14:22). Tetapi
kesusahan dan penderitaan kita bukanlah harga yang kita bayar untuk masuk
kerajaan sorga, melainkan pembentukkan Bapa agar kita dapat berfungsi sebagai
raja2 dan imam2 dalam kerajaan sorga kelak ketika kerajaan sorga ditegakkan
dibumi. YESUS MENGUNGKAPKAN PENDERITAAN UMAT KERAJAAN YANG MENGIKUTINYA SEBAGAI
“MEMIKUL SALIBNYA”. Jadi, jelas bahwa kita tidak membayar harga apapun untuk
masuk kerajaan sorga, sebab harganya sudah dibayar lunas oleh Yesus di kayu
salib.
Kita masih membahas sedikit lagi mengenai pelayanan Imam
Besar, yaitu Yesus, yang disimbolkan oleh ‘malaikat lain’ dalam Wahyu 8:1-3.
Mari kita perhatikan ayat 3 dari Wahyu 8:1-3 ini, “…Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya
bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas dihadapan takhta
itu “. Perhatikan tindakan simbolik ‘malaikat lain’ ini dimana ia tidak
hanya mempersembahkan banyak kemenyan, tetapi juga dengan doa semua orang
kudus. Apakah makna dari tindakan simbolik ‘malaikat lain’ ini?
Kita harus melihat beberapa ayat dalam PB terkait fungsi
Yesus sebagai Imam Besar kita. Yohanes 17:9 menegaskan, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk
mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milik-Mu”.
Doa yang dipanjatkan Yesus ini terjadi dimalam terakhir ketika Ia berkumpul
bersama para muridNya, dan Yudas yang mengkhianati Dia, tidak bersamaNya lagi.
Perhatikan bahwa Yesus berdoa hanya untuk murid2Nya, yaitu orang2 yang
diberikan Bapa kepadaNya. Disini Yesus tegas berkata bahwa Ia tidak berdoa
untuk dunia. Siapakah ‘dunia’ yang dimaksud Yesus disini.
Kita harus memberi makna yang tepat kepada istilah ‘dunia’
sesuai konteksnya dalam tulisan2 rasul Yohanes. Jika istilah ‘dunia’ muncul
dalam Yohanes 3:16, maka kita tahu bahwa dunia disini berarti semua manusia,
yaitu semua orang yang dikasihi Bapa. Jika istilah ‘dunia’ muncul dalam I
Yohanes 2:15-16, dimana kita dilarang mengasihi dunia, maka dunia yang dimaksud
disini adalah sistem keagamaan. Perhatikan seluruh konteks percakapan Yesus
dimalam terakhir bersama para muridNya. Ketika Yesus berkata bahwa dunia
membenci Yesus dan murid2Nya, maka yang dimaksud adalah dunia keagamaan, yaitu
Yudaisme yang memiliki kitab Taurat (Yohanes 15:25). Jadi, jika kita
memperhatikan seluruh konteks percakapan Yesus dimalam terakhir, maka kita tahu
bahwa istilah ‘dunia’ yang dimaksud Yesus dalam doaNya adalah dunia keagamaan,
yaitu Yudaisme. Karenanya, kita tahu maksud Yesus dalam doaNya diatas bahwa Ia
tidak berdoa untuk dunia, yaitu dunia keagamaan (Yudaisme), yang membunuhnya
dan membenci murid2Nya.
Hal ini bukan berarti Yesus, sebagai Imam Besar, tidak akan
menyelamatkan dunia keagamaan, atau dunia dalam arti semua manusia. Sebab dalam
Yohanes 12:32, Yesus tegas berkata bahwa Ia akan menarik SEMUA ORANG datang
kepadaNya. Tetapi bahwa, pekerjaan Elohim itu mempunyai tahap-tahapannya atau
urut2annya sendiri, sesuai juga seperti yang tertulis dalam I Korintus
15:23-28. Jadi, pada akhirnya Yesus akan menyelamatkan seluruh dunia
sebagaimana Ia diberi ‘gelar’ Juruselamat dunia.
Tetapi, dizaman ini, sebagai Imam Besar, Yesus hanya berdoa
dan membentuk orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya. Sebagai Imam Besar menurut
aturan Melkisedek, Yesus membentuk orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya agar
menjadi imam2 juga menurut aturan Melkisedek. Demikianlah pada waktu
kedatanganNya, Yesus dapat menjadi Imam Besar menurut aturan Melkisedek
diantara para imam, yaitu orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya.
Perhatikan doa Yesus selanjutnya dalam Yohanes 17:21,
demikian, “supaya mereka semua menjadi
satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, didalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar
mereka juga didalam Kita, SUPAYA DUNIA PERCAYA, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”. Ketika pada
kedatanganNya, umat pilihanNya telah dibentuk menjadi imam2 dan raja2, dan
Yesus telah menjadi Imam Besar menurut aturan Melkisedek diantara para imam,
dan menjadi Raja diatas segala raja, maka tibalah urutan dimana seluruh dunia
akan diselamatkan.
Jadi, tindakan simbolik ‘malaikat lain’ mempersembahkan
kemenyan dan doa segala orang kudus (imam2 dan raja2) ini adalah
mempersembahkan doa yang ‘harum’ kehadapan Bapa untuk penyelamatan dunia. Doa
umat pilihanNya (raja2 dan imam2) dilibatkan dalam persembahan “kemenyan” yang
berbau harum kehadapan Bapa, oleh Yesus Kristus sebagai Imam Besar.
Kita menutup pengajaran kerajaan sorga dalam Matius 13, dengan
suatu pertanyaan serta pernyataan Yesus kepada murid2Nya (ayat 51-52),
demikian, “YESUS berkata kepada mereka,
‘Mengertikah kamu semuanya ini?’ Mereka berkata kepadaNya, ‘Ya, Tuhan’. Dan Dia
berkata kepada mereka, ‘Karena hal inilah maka setiap ahli kitab yang telah
dijadikan murid bagi kerajaan sorga, dia itu seumpama seorang tuan rumah yang
mengeluarkan hal-hal yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya” (ILT).
Disini Yesus menegaskan bahwa ‘ahli Taurat’ yang menerima dan
memahami pelajaran dari hal kerajaan sorga, diumpamakan seperti tuan rumah yang
mengeluarkan harta yang baru dan yang lama. Artinya, murid2 Yesus yang memahami
pelajaran Kerajaan Sorga itu seperti “ahli Taurat” yang mengajar dan membagikan
“hartanya”, baik yang baru maupun yang lama. Harta murid2 Yesus itu ada didalam
bejana tanah liat, yang adalah ‘Kerajaan
sorga ada didalam kamu’ (Lukas 17:21). Murid2 Yesus itu mengajarkan
pelajaran Kerajaan Sorga dengan suatu pemahaman atau ungkapan ‘yang baru dan yang lama’.
Bangsa Yahudi memahami ungkapan ‘yang baru dan yang lama’, karena beberapa kali muncul dalam kitab2
Perjanjian Lama. Baiklah kita ambil beberapa contoh. Pertama, dalam kasus
berkat Yahweh (Imamat 26:10). Kedua, dalam kasus ‘manna’ (Yosua
5:12). Ketiga, dalam kasus ‘kekasih’ (Kidung Agung 7:13). Keempat,
kasus perjanjian (Yeremia 31:31; Ibrani 8). Yesus juga menggunakan ungkapan
yang baru dan lama ketika Ia mengajar (Matius 9:17; Lukas 5:36-39). Jadi,
ungkapan ‘yang baru dan yang lama’
mengandung makna penting dalam pengajaran Kerajaan Sorga.
Mari kita melihat dua makna penting dalam ungkapan ‘yang baru dan yang lama’ terkait
pengajaran Kerajaan Sorga. Pertama, Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru. Setiap pengajar/pemberita Kerajaan Sorga memahami bahwa PL
hanyalah simbol, nubuat dan bayangan, sementara PB adalah penggenapan PL atau
realitanya, dimana penggenapannya adalah ‘Kristus
atau Kerajaan sorga ada didalam batin orang percaya’ (Kolose 1:27; 2:17;
Lukas 17:21). Kedua, ungkapan ‘Langit
dan Bumi Baru’ (Wahyu 21:1-4). Kita tahu bahwa kitab Wahyu adalah pewahyuan
Yesus Kristus yang disampaikan kepada Rasul Yohanes dengan bahasa simbol (Wahyu
1:1). Langit dan Bumi baru itu sesungguhnya adalah simbol dari manusia baru
dimana tidak ada lagi akibat/upah dosa yang adalah maut (Roma 6:23; Wahyu
21:4). Karenanya, langit dan bumi pertama (lama), yang diciptakan Elohim dalam
Kejadian 1:1 itu sesungguhnya adalah seluruh manusia yang memiliki dimensi
“langit” dan dimensi “bumi”, dimensi rohani dan dimensi jasmani. Jadi, rencana
Bapa adalah menciptakan manusia (dalam dua dimensi), kemudian melalui suatu
proses “kejatuhan”, maka seluruh
manusia akan dipulihkan menjadi manusia baru. Inilah pengajaran Kerajaan Sorga
yang diberitakan oleh pemberitanya.
Secara umum, dunia kekristenan tidak memahami ungkapan
‘langit dan bumi baru’ dengan mengajarkan neraka kekal dimana sebagian manusia
yang tidak dipilih (barangkali mayoritas) dilemparkan kesuatu tempat untuk
disiksa selama-lamanya. Demikian juga, dunia kekristenan tidak memahami
pengajaran Kerajaan Sorga dengan mencampur-adukkan ibadah model PL-PB, keimaman
model PL-PB (Harun vs. Melkisedek), berkat2 Tuhan model PL-PB, bahkan ajaran ‘sorga dongeng’ nun jauh disana, ajaran
persepuluhan dan buah sulung, ajaran ‘visible
and invisible church’, serta ajaran Izebel,
Nikolaus dan Bileam dalam Wahyu 2-3.
Umat kerajaan sudah pasti akan ada diluar ‘sistem (kosmos)
kekristenan’ yang sudah dipengaruhi secara mendalam oleh ajaran2 diatas.
Sebagaimana Yesus, Yohanes Pembaptis, dan rasul2Nya berada diluar sistem agama
Yahudi (Yudaisme), maka demikian juga umat kerajaan.
Sebelum kita masuk kedalam pengajaran kerajaan sorga keempat
dalam injil Matius, yaitu Matius 18, baiklah kita perhatikan kasus dimana Yesus
bertanya kepada murid2Nya di Kaisarea Filipi tentang siapakah Anak Manusia itu
Matius 16:13-20, demikian, “… Simon
Petrus berkata, Engkaulah Mesias, Putra Elohim yang hidup!... engkau adalah
Petrus, dan diatas batu karang ini Aku akan membangun gerejaKu dan
gerbang-gerbang alam maut tidak akan kuat menahannya. Dan Aku akan memberikan
kepadamu kunci-kunci kerajaan sorga…”.
Disini kita membatasi pembicaraan kita, dan hanya membahas
perkataan Yesus tentang ‘gereja’ dan
‘kerajaan sorga’. Telah kita ketahui
bahwa baik Yesus maupun Yohanes Pembaptis, dan juga kedua belas rasul yang
diutusNya (Matius 10), memberitakan bahwa kerajaan sorga sudah dekat. Memang
Yesus akan membangun gerejaNya, tetapi pemberitaannya atau khabar baik (injil)
yang diberitakanNya adalah kerajaan sorga.
Istilah ‘gereja’
hanya muncul 2 kali dalam injil Matius, yaitu pasal 16 dan 18, tetapi istilah ‘kerajaan’ ada sekitar 58 kali.
Perhatikan perkataan Yesus diatas, “Aku
AKAN membangun gerejaKu”. Artinya, pada saat Yesus berkata, sesungguhnya
gereja yang dibangun Yesus belum ada. Tetapi, sebagaimana kita ketahui, bahwa
kerajaan sorga sudah hadir dibumi didalam pribadi Yesus Kristus. Ketika Yesus
mengusir setan dengan kuasa Elohim, sesungguhnya kerajaan sorga sudah hadir
dibumi (Matius 12:28). Gereja baru lahir ketika peristiwa pencurahan Roh Kudus
pada hari raya Pentakosta di Yerusalem.
Untuk menghadirkan gereja di muka bumi ini, Yesus harus mati,
bangkit dan duduk disebelah kanan Bapa, serta mencurahkan Roh KudusNya kepada
murid2. Banyak orang Kristen berbicara tentang Roh Kudus sebagai kuasa Elohim
yang menperlengkapi gereja untuk menjadi saksi Yesus saja. Tetapi, sesungguhnya
Roh Kudus itu adalah ROH PEMBERI HAYAT. Perhatikan I Korintus 15:45, demikian,
“… Manusia pertama, Adam menjadi makhluk
yang hidup, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan”. Adam
akhir tentu adalah Yesus Kristus, dan ungkapan ‘roh yang menghidupkan’ (Yunani: ’pneuma zoopoieo’) harus
diterjemahkan ROH PEMBERI HIDUP (hidup Kristus=’zoe’). Itu sebabnya
Yohanes 10:10 menegaskan bahwa Yesus datang untuk memberikan hidupNya, yaitu ‘zoe’,
dan supaya murid2Nya memiliki ‘zoe’ secara berkelimpahan. Artinya
hidup ‘zoe’ ini perlu bertumbuh, karena memang hidup ‘zoe’
ini ketika diberikan masih berupa “benih”.
Benih hidup ‘zoe’ perlu bertumbuh agar kita dapat mengenal Elohim yang benar
serta mengenal Yesus Kristus yang diutusNya (Yohanes 17:3).
Sekarang, mari kita masuk kepada tema kita, yaitu kerajaan
sorga. Perumpamaan penabur yang telah kita bahas sesungguhnya adalah
perumpamaan yang menggambarkan Yesus yang menabur hidup ‘zoe’. Ada dua jenis
tanah, yaitu yang berbatu dan bersemak duri, dimana benih hidup ‘zoe’
tidak bertumbuh dan menghasilkan buah. Kedua jenis tanah ini menggambarkan
orang Kristen yang telah lahir baru, karena telah menerima benih hidup Kristus
(‘zoe’).
Kita akan lihat kelak bahwa seluruh pengajaran kerajaan sorga dalam injil
Matius membuktikan bahwa TIDAK SEMUA ORANG KRISTEN LAHIR BARU YANG DITERIMA
KELAK DALAM KERAJAAN SORGA.
Sayangnya, dalam dunia kekristenan, umumnya, telah dipercaya
ungkapan ‘PERCAYA YESUS MASUK SORGA’. Konsep ‘percaya Yesus, masuk sorga’,
sesungguhnya sama sekali tidak ada didalam kitab2 PB, apalagi “sorga dongeng”
nun jauh disana. Yang benar adalah PERCAYA YESUS MENDAPAT HIDUP ZOE. Didalam
injil Yohanes banyak sekali ungkapan percaya Yesus mendapat hidup kekal (‘zoe’).
Apakah benih hidup ‘zoe’ itu bertumbuh atau tidak, hal ini adalah persoalan lain.
Lagipula, orang Kristen lahir baru tidak akan dievakuasi
(diangkut) dari bumi menuju “sorga nun jauh disana”. Yang diberitakan dalam
kitab2 PB adalah kerajaan sorga akan ditegakkan dimuka bumi ini untuk
membebaskan ciptaan, dan hanya mereka yang kepadanya Bapa disorga berkenan
memberikan kerajaan sorga, akan ambil bagian didalamnya (Lukas 12:32, Roma
8:19-21).
Mari kita lanjutkan cerita dimana Yesus bertanya kepada
murid2Nya di Kaisarea Filipi tentang siapakah Anak Manusia itu. Matius 16:21,
menegaskan, “Sejak waktu itu Yesus mulai
menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan
menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli
Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga”. Ungkapan ‘sejak waktu itu’, berarti sejak waktu
Yesus menyatakan identitasNya sebagai Mesias kepada murid2, maka Ia menegaskan
bahwa Mesias harus menderita, mati, dan bangkit pada hari ketiga.
Bagi bangsa Yahudi umumnya, Mesias yang menderita bukanlah
Mesias yang dinanti-nantikan, sebab mereka menantikan Mesias yang akan
membebaskan Israel dari musuh2 sekitarnya, membawa perdamaian bagi dunia, dan
tentu membangun Bait Suci. Karenanya, Petrus menarik Yesus kesamping dan
menegorNya, agar Elohim menjauhkanNya dari penderitaan (16:22). Jawaban Yesus
kepada Petrus mungkin sangat mengejutkannya. Yesus berkata bahwa pikiran
manusiawi Petrus adalah Iblis, dan merupakan ‘batu sandungan’ bagi Yesus. Selanjutnya,
Yesus memberi ketetapan kepada setiap orang yang mau mengikutiNya, yaitu harus
menyangkal diri dan memikul salibnya.
Sebenarnya, pikiran Petrus itu baik secara manusia.
Barangkali, didorong oleh kasihnya kepada Yesus, maka ia berharap Yesus terhindar
dari penderitaan. Disini kita mendapat suatu pelajaran bahwa pikiran manusia
yang terbaik sekalipun dapat merupakan ‘batu sandungan’ bagi setiap orang yang
mengikut Yesus. Perihal mengikut Yesus adalah perihal memikirkan apa yang
dipikirkan Elohim. Perihal mengikut Yesus adalah perihal menjalankan
kehendakNya, apapun yang dipikirkan manusia tentang hal itu. Yesaya 55:8,
menegaskan, “Sebab rancangan-Ku bukanlah
rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN”.
Sesungguhnya, apapun yang dipikirkan manusia, yang dirasakan
manusia, dan diputuskan manusia merupakan suatu usaha untuk mempertahankan
‘nyawanya’, atau mempertahankan dirinya sendiri. Barangkali, usaha
mempertahankan nama baiknya, reputasinya dihadapan orang lain, hartanya, atau
apapun yang sangat berharga baginya. Tetapi justru hal inilah yang
merintanginya mengikut Yesus. Itu sebabnya, Yesus tegaskan kepada setiap orang
yang mau mengikutiNya, agar mereka tidak mempertahankan dirinya atau
mempertahankan ‘nyawanya’. Setiap orang harus menyangkal dirinya demi mengikut
Yesus.
Kalau demikian, apakah pemberitaan kerajaan sorga masih dapat
disebut khabar baik (injil) kerajaan sorga? Jika mengikut Yesus berarti suatu
penyangkalan diri sendiri, dan memikul salib, serta mengalami penderitaan,
apakah ini masih disebut khabar baik? Ya, tentu, karena baik atau tidaknya
sesuatu harus ditentukan oleh Elohim. Manusia yang sudah terlanjur makan buah
pohon pengetahuan baik dan jahat, memang mempunyai kriteria sendiri tentang
baik dan jahat. Tetapi sesungguhnya, tidak ada yang baik kecuali Elohim sendiri
(Markus 10:18).
Khabar baik (Injil) kerajaan sorga tidak dapat dipisahkan
dari penderitaan karena mengikut Yesus. Paulus tegas menyatakan, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah
didalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (II Timotius 3:12). Bahkan
Paulus mendesak Timotius agar, “ikutlah
menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (II
Timotius 2:3). Jika pemberitaan injil bertujuan agar manusia terhindar dari
segala penderitaan didunia ini, maka sudah pasti ini bukan injil kerajaan
sorga.
Mari kita masuk kedalam bagian keempat dari pengajaran
kerajaan sorga, yaitu Matius 18:1-35, tentang pengampunan dan perumpamaan hamba
yang berhutang. Seluruh pasal 18 ini, sebenarnya, berbicara tentang persekutuan
antara sesama anggota kerajaan, dan secara khusus, menekankan betapa
berharganya anggota yang terhilang atau tersesat itu.
Matius 18:1, menegaskan demikian, “Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: Siapakah
yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”. Pertanyaan murid2 ini berbicara
mengenai hubungan antara satu anggota dengan anggota lain didalam kerajaan
sorga, dan siapa yang terbesar? Yesus menjawab pertanyaan murid2Nya ini dengan
beberapa poin pengajaran. Pertama, harus menjadi seperti anak
kecil (ayat 2-4). Kedua, jangan menjadi ‘batu sandungan’ bagi anggota lainnya
(ayat 5-9). Ketiga, jangan menganggap rendah anggota yang terkecil
sekalipun, karena Bapa disorga sangat menghargai anggota terkecil, dan tidak
menghendakinya tersesat/terhilang (ayat 10-14). Keempat, jika ada anggota
yang berdosa, maka ia harus mendengarkan gereja (ayat 15-20). Kelima,
harus mengampuni anggota lain yang berbuat salah dengan sepenuh hati (ayat
21-35).
Mari kita mulai dengan yang pertama. Ayat 3, menegaskan, “… Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu
tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke
dalam Kerajaan Sorga”. Dari ayat ini kita melihat bahwa seseorang harus
bertobat dan menjadi seperti anak kecil agar dapat masuk kedalam kerajaan
sorga. Mari kita lihat konteks seluruh pasal 18, agar kita dapat memahami apa
maksudnya ‘masuk kedalam kerajaan sorga’.
Perhatikan istilah ‘dalam’ pada ayat
1. Artinya, murid2 bertanya kepada Yesus mengenai anggota2 yang memang sudah
ada didalam kerajaan sorga. Perhatikan juga istilah ‘saudaramu’ pada ayat 15, dan istilah ‘jemaat’ pada ayat 17, serta perkataan Petrus mengenai ‘saudaraku’ yang berbuat salah (ayat 21).
Semua ini membuktikan bahwa konteks Matius pasal 18 adalah mengenai hubungan
diantara sesama anggota yang sudah ada dalam kerajaan sorga.
Kalau demikian, apa artinya ungkapan ‘masuk kedalam kerajaan sorga’ pada ayat 3 diatas? Jika kita melihat
perumpamaan2 pada pasal 13 yang sudah kita bahas, yaitu perumpamaan ‘penabur’, ‘lalang diantara gandum’, ‘pukat’,
maka kita tahu bahwa orang2 kristen yang sudah lahir baru, mereka sudah ada
DALAM kerajaan sorga, tetapi pada hari penghakiman kelak, tidak semua orang
Kristen yang lahir baru ini akan diterima memerintah dan MASUK kedalam kerajaan
sorga yang akan ditegakkan dibumi. Itu sebabnya, orang2 kristen yang sudah ada
didalam kerajaan sorga dizaman ini, belum tentu masuk kedalam kerajaan sorga dizaman
berikutnya, yaitu zaman kerajaan seribu tahun (Wahyu 20:4).
Pada hari penghakiman kelak ketika Tuhan Yesus datang
kembali, maka semua orang Kristen yang telah lahir baru akan dihakimi oleh
Tuhan Yesus. Apakah seseorang didapati telah bertobat dan menjadi seperti anak
kecil, maka inilah yang menentukan seseorang masuk kedalam kerajaan sorga atau
tidak.
Dari uraian diatas, seolah-olah masuk kedalam kerajaan sorga
ditentukan oleh perilaku orang kristen, yaitu apakah sudah bertobat dan menjadi
seperti anak kecil, atau belum. Tetapi, kita harus melihat seluruh kitab2 PB
untuk mendapat pemahaman yang tepat mengenai perkara ini. Seluruh kitab2 PB
jelas berbicara mengenai kasih karunia. Paulus bersaksi sekalipun ia bekerja
lebih keras dari yang lainnya, tetapi ia tetap berkata bahwa semua ini adalah
kasih karunia Tuhan. Lukas 12:32, juga jelas berbicara bahwa, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil!
Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”. Jadi, Bapa
disorga membentuk umat kerajaan sedemikian sehingga mereka dapat bertobat dan
menjadi seperti anak kecil, dalam arti sepenuhnya mempercayakan diri kepada
pemeliharaan Bapa, dan karenanya dapat masuk kedalam kerajaan sorga.
Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai pertanyaan murid2
kepada Tuhan Yesus, tentang siapakah yang terbesar dalam kerajaan sorga (18:1).
Pada ayat 3, yang sudah kita bahas, Yesus tidak langsung menjawab siapa yang
terbesar dalam kerajaan sorga. Tetapi, Yesus menegaskan lebih dahulu, bahwa
jika seseorang tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, bahkan ia tidak
akan masuk kedalam kerajaan sorga, dan memerintah bersamaNya dalam kerajaan
seribu tahun dibumi.
Pada ayat ke-4, barulah Yesus menjawab pertanyaan murid2
tentang siapa yang terbesar dalam kerajaan sorga. Terjemahan LAI, menggunakan
istilah ‘dan’, sehingga seolah-olah
ada dua kriteria yang Yesus katakan pada ayat 4, yaitu pertama, merendahkan
diri, dan kedua, menjadi seperti anak kecil. Terjemahan dari teks asli
seharusnya berbunyi demikian, ‘merendahkan diri ‘sebagai’ anak kecil’.
Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘merendahkan diri’ disini adalah ‘tapeinoo’, yang berarti
merendahkan diri dalam kondisi, dan juga hatinya.
Mari kita bahas makna ‘merendahkan diri’
sesuai konteks Matius pasal 18 ini. Telah kita lihat bahwa konteks Matius 18
adalah hubungan diantara sesama anggota dalam kerajaan sorga. Karenanya,
merendahkan diri disini bukan saja berarti memang memiliki kerendah-hatian,
tetapi juga KONDISINYA dihadapan sesama anggota kerajaan.
Apa makna ‘kondisinya’ dihadapan sesama anggota kerajaan.
Sesungguhnya, Alkitab menjelaskan dengan gamblang mengapa gereja jatuh dan
menjadi puluhan ribu denominasi seperti yang kita lihat sekarang ini.
Penyakitnya adalah kesombongan dari beberapa pemimpin gereja.
Paulus menjelaskan awal mula, atau cikal bakal penyebab
kejatuhan gereja didalam Kis. 20:28-30. Konteks bagian ini adalah pembicaraan
Paulus kepada para pemimpin (para penatua) gereja di Efesus. Pada ayat 29,
Paulus menegaskan bahwa ‘ia tahu’,
artinya yang dikatakannya kemudian pasti akan terjadi setelah ia pergi, yaitu
akan ada serangan serigala ganas kepada beberapa pemimpin. Serangan serigala
ganas ini akan membuat beberapa pemimpin gereja menarik murid2 (anggota
kerajaan sorga) dari jalan yang benar, kepada diri mereka sendiri supaya
menjadi pengikut mereka (ayat 30).
Apa maksudnya menarik murid2 dari jalan yang benar?
Perhatikan sekali lagi tujuan para pemimpin pada ayat 30 ini, yaitu supaya menjadi pengikut mereka. Karenanya, ‘jalan yang benar’ yang dimaksud ayat
ini adalah menjadi pengikut Yesus Kristus
saja. Para pemimpin gereja tidak boleh menarik murid2 kepada diri mereka
sendiri, mereka hanya boleh ‘memperlengkapi’
murid2 saja (Efesus 4:12). Inilah makna ‘kondisi’ beberapa pemimpin dihadapan
para anggota kerajaan sorga, yaitu menarik murid2 kepada diri mereka sendiri.
Mari kita terapkan perihal ‘merendahkan diri’ dihadapan sesama anggota kerajaan sorga ini
kedalam konteks dunia kekristenan. Kita tahu bahwa dunia kekristenan tidak lain
merupakan kelompok murid2 yang sebagian mengikuti pemimpin ini, dan sebagian
lagi mengikuti pemimpin itu. Tentu saja kasus ini tidak hanya menjadi tanggung
jawab para pemimpin yang menarik murid2, tetapi juga para anggota yang,
kadangkala, dengan bangga menyebut pemimpin yang diikutinya. Perilaku anggota
gereja ini ditegor Paulus dalam I Korintus 1:10-13.
Paulus tegas menentang perpecahan dalam gereja. Sebab,
perpecahan dalam gereja akan menghancurkan keimaman seluruh orang percaya (I
Petrus 2:9). Ada kasus dimana Paulus berkata, ‘jadilah pengikutku’. Tetapi,
yang dimaksudkannya adalah mengikuti teladan Paulus (I Korintus 11:1).
Sayangnya, dalam dunia kekristenan, perihal menarik murid2 ini bukan saja
merupakan PRAKTEK yang dilakukan beberapa pemimpin, tetapi telah menjadi
AJARAN, yaitu ajaran Nikolaus (Wahyu 2:15). Ajaran Nikolaus adalah suatu ajaran
yang membenarkan ‘penaklukkan para
pemimpin terhadap anggota lainnya’. Ajaran Nikolaus ini membelah gereja
menjadi dua kategori, yaitu imam-umat (Katolik), clergy-laity (Protestan). Kalau sudah menjadi ‘ajaran’, dan bukan
‘praktek’ saja, maka sudah diajarkan, diterima luas, dibenarkan, dan tidak
dipertanyakan lagi.
Apapun alasan pembenaran dari para pemimpin ini, perilaku
menarik murid2 kepada diri sendiri adalah perilaku kesombongan, bukan
merendahkan diri dihadapan sesama anggota, seperti yang diajarkan Yesus.
Mari kita masuk kedalam poin kedua dalam pengajaran Kerajaan
sorga dalam Matius 18, yaitu jangan menjadi ‘batu sandungan’ bagi anggota
lainnya (ayat 5-9). Matius 18:6, menegaskan demikian, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang
percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada
lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”.
Istilah ‘menyesatkan’
pada ayat diatas berasal dari istilah Yunani, ‘skandalizo’ (kata kerja),
yang berarti ‘menyebabkan seseorang berdosa’. Tetapi, kita harus tetap
mengingat bahwa konteks seluruh pasal 18 ini adalah mengenai hubungan diantara
sesama anggota kerajaan sorga. Karenanya, makna ‘menyesatkan’ adalah membuat sesama anggota kerajaan sorga berbuat
dosa. Secara khusus, Yesus menekankan anggota yang disebutNya, “anak-anak kecil yang percaya kepadaNya’.
Perkara terjadinya ‘skandalizo’
ini sangat serius diantara sesama anggota kerajaan sorga. Bahkan, Yesus
menegaskan anggota kerajaan sorga yang melakukan ‘skandalizo’, harus ditenggelamkan kedalam laut. Begitu seriusnya
perkara ‘skandalizo’, sehingga Yesus berkata jika tangan atau kaki kita
menyesatkan, maka harus dipenggal dan dibuang (ayat 8). Demikian juga jika mata
kita menyesatkan, maka harus dicungkil (ayat 9). Tentu hal ini jangan
ditafsirkan secara ‘harfiah’, tetapi disini Yesus sedang menekankan keseriusan
berbuat ‘skandalizo’.
Matius 18:7, menegaskan bahwa, “… memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya”.
Perkataan Yesus ini bersesuaian dengan yang dikatakanNya kepada Yudas,
demikian, “Anak Manusia memang akan pergi
sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang
olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya
ia tidak dilahirkan” (Matius 26:24). Demikian juga, Tuhan telah menetapkan
bahwa akan ada penyesatan diantara anggota kerajaan sorga, namun demikian
celakalah anggota yang melakukannya.
Kita teringat tentang perumpamaan kerajaan sorga yang sudah
kita bahas, yaitu perumpamaan lalang diantara gandum (Matius 13). Ditegaskan
bahwa bukan Anak Manusia saja yang menabur benih, tetapi Iblis juga menaburkan
benihnya. Yang menarik dalam perumpamaan ini adalah tanaman gandum dan lalang
hampir tidak dapat dibedakan pada awalnya. Jadi, anggota kerajaan sorga yang
melakukan penyesatan hampir tidak dapat dibedakan dengan yang tidak
melakukannya, pada tahap awal. Tetapi, pada kedatanganNya, “Anak Manusia akan menyuruh
malaikat-malaikatNya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang
menyesatkan (‘skandalon’) dan semua orang yang melakukan kejahatan
dari dalam Kerajaan-Nya” (13:41). Sangat serius bagi anggota kerajaan sorga
yang melakukan penyesatan, sehingga, ‘akan
dicampakkan ke dalam dapur api; disanalah akan terdapat ratapan dan kertakan
gigi’ (13:42).
Disinilah kita perlu memohon kasih karuniaNya agar kita tidak
melakukan ‘skandalon’ atau menjadi ‘batu sandungan’ bagi anggota lainnya dalam
kerajaan sorga, baik dalam perilaku kita, maupun dalam pengajaran kita.
Kita teruskan membahas pengajaran kerajaan sorga dalam Matius
18. Telah ditegaskan bahwa ada 5 poin pengajaran kerajaan sorga pada pasal 18
ini. Kita telah membahas 2 poin, dan sekarang akan kita bahas 2 poin lagi
sekaligus, yaitu, yang ketiga, jangan
menganggap rendah anggota yang terkecil sekalipun, karena Bapa disorga sangat menghargai
anggota terkecil, serta tidak menghendakinya tersesat/terhilang (ayat 10-14), selanjutnya, jika ada anggota yang
berdosa, maka ia harus mendengarkan gereja (ayat 15-20).
Mari kita melihat 2 poin ini. Ayat 10-14, mengajarkan pada
kita agar tidak menganggap rendah anggota kerajaan yang terkecil, bahkan harus
diberi perhatian khusus agar tidak terhilang. Paulus juga mengajarkan kita
untuk memberi penghormatan khusus kepada anggota2 Tubuh yang menurut kita
kurang terhormat (I Korintus 12:23). Hal ini ditekankan, karena selain Anak
Manusia datang untuk menyelamatkan yang terhilang, juga Bapa disorga sangat
memperhatikan anggota yang terhilang, bahkan lebih bergembira jika anggota yang
terhilang ini ditemukan kembali dari pada kepada anggota yang tidak terhilang.
Pengajaran selanjutnya, yaitu haruslah ditegor saudara kita
yang berbuat dosa (ayat 15) dibawah 4 mata. Tujuan dari menegor ini jelas,
yaitu agar engkau mendapatkan dia kembali, jika ia mendengar nasihatmu. Jika
tidak mendengar, tegoran ini harus dilanjutkan sampai kehadapan jemaat.
Poin-nya disini jelas, yaitu jangan sampai saudara kita terhilang. Dalam zaman
kemajuan teknologi informasi sekarang ini, maka prosedur menegor “4 mata” tidak
perlu dilakukan. Karena siapa saja dapat mengajarkan hal2 yang
keliru/menyesatkan di-medsos, dan berdampak kepada banyak orang kristen,
khususnya jika ia mempunyai banyak pengikut. Dalam kasus sedemikian, maka
anggota kerajaan yang digerakkan Tuhan harus menyatakan kesalahannya didepan
publik, dengan maksud menyelamatkan dia dan orang2 yang mendengarkannya.
Dalam dunia kekristenan, umumnya, orang menyamakan ‘menegor/menyatakan kesalahan’ dengan ‘menghakimi’. Menegor atau menyatakan
kesalahan sesama anggota kerajaan itu adalah perintah Tuhan. Menyatakan
kesalahan itu bukan menghakimi. Perbedaannya adalah, menghakimi itu bukan saja
menyatakan kesalahan, tetapi juga menjatuhkan vonis kepada saudara kita. Dalam
dunia kekristenan yang telah jatuh ini, menghakimi hanya dapat dilakukan oleh
para pemimpin organisasi yang memiliki ‘otoritas
jabatan’ terhadap ‘bawahannya’.
Kita akan bahas hal ini selanjutnya pada Matius 23, mengenai ‘kursi Musa’, karena Yesus tidak
menghendaki adanya ‘hierarki’ (otoritas jabatan) dalam gereja.
Ayat 19, dalam bagian ini menegaskan demikian, “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua
orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka
itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga”. Ayat ini bukan berbicara
mengenai doa pada umumnya, karena konteks ayat ini adalah perihal doa terkait
pemulihan saudara kita yang bersalah. Jadi, jika 2 orang anggota kerajaan sorga
sepakat mendoakan hal2 apa saja terkait pemulihan saudara yang bersalah, maka Bapa
disorga akan mengabulkannya. Demikianlah betapa berharganya dihadapan Bapa
disorga, anggota kerajaan sorga yang terhilang.
Kita lanjutkan pengajaran kerajaan sorga dalam pasal 18, dan
kita akan bahas poin terakhir, yaitu yang kelima,
dimana kita harus mengampuni anggota lain yang berbuat salah dengan sepenuh
hati (ayat 21-35). Poin terakhir ini
dimulai ketika Petrus bertanya kepada Yesus sampai berapa kali ia harus
mengampuni saudaranya yang berbuat salah. Jawaban Yesus harus sebanyak ‘70x7’
kali, tentu yang dimaksud harus selalu mengampuni. Kemudian Yesus melanjutkan
alasan mengapa kita harus selalu mengampuni saudara kita dengan suatu
perumpamaan.
Matius 18:23, menyatakan, “Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan
perhitungan dengan hamba-hambanya”. Didalam perumpamaan2 kerajaan sorga
kitab Matius terdapat banyak poin yang menekankan akan adanya ‘perhitungan’
atau ‘penghakiman’ bagi semua anggota kerajaan sorga pada hari terakhir.
Sebagai contoh, perumpamaan2 ‘lalang dan gandum’, ‘pukat’, ‘gadis bijaksana dan
bodoh’, ‘Talenta’, ‘hamba yang setia dan hamba yang jahat’, dimana semuanya ini
mengajarkan pada kita bahwa akan ada perhitungan dihari terakhir. Sebagai
akibatnya, tentu ada sebagian anggota kerajaan sorga yang diterima, dan ada
yang ditolak. Dalam perumpamaan yang sedang kita bicarakan diatas, maka hal
yang menentukan apakah seorang anggota kerajaan sorga diterima atau ditolak
kelak, adalah soal apakah ia selalu mengampuni saudaranya dengan segenap hati
atau tidak.
Umumnya, dalam dunia kekristenan, ada kesulitan menerima
pengajaran kerajaan sorga, dimana anggota kerajaan sorga yang satu dapat saja
ditolak, dan anggota lain diterima. Salah satu penyebabnya adalah Jargon2 atau
ungkapan2 yang sudah sangat dipercaya, seperti, ‘sekali selamat, tetap
selamat’, ‘percaya Yesus, masuk sorga’, dan ungkapan2/ajaran2 lain yang membuat
orang Kristen tidak mampu melihat rencana Bapa disorga. Jika oleh anugerah
Tuhan, seorang Kristen memahami rencana Bapa disorga, maka ia tidak akan terlalu
sulit memahami pengajaran kerajaan sorga yang diberitakan Yesus dan rasul2Nya.
Mari kita mundur dan berbicara sedikit mengenai rencana Bapa
disorga agar perumpamaan tentang ‘pengampunan’
diatas dapat lebih dipahami dengan baik. Kejadian 1:26-28, menyatakan kepada
kita bahwa fokus rencana Bapa adalah bumi, dan bukan sorga. Rencana Bapa tidak
pernah berubah, sebab Ia adalah Elohim yang tidak berubah. RencanaNya adalah
agar manusia dapat menaklukkan segala sesuatu yang merayap dibumi. Kita tahu
bahwa ‘segala sesuatu yang merayap dibumi’ berbicara soal kerajaan iblis dan
roh2 jahatnya. Manusia sebagai individu, tentu tidak dapat menaklukkan kerajaan
iblis. Haruslah kerajaan manusia berhadapan dengan kerajaan iblis. Itu
sebabnya, Yesus datang sebagai manusia untuk menegakkan kerajaanNya dibumi.
Inilah rencana Bapa disorga, yaitu menegakkan kerajaan Yesus (Mesias) dibumi
untuk menaklukkan kerajaan iblis. Seluruh kitab2 PB menjelaskan tentang
bagaimana rencana Bapa disorga dalam menegakkan kerajaan Mesias dibumi.
Salah satu poin penting bagaimana Bapa disorga menegakkan
kerajaan Mesias dibumi adalah melalui ‘perhitungan’ dengan hamba2Nya, atau
perhitungan dengan anggota2 kerajaan sorga. Jika ada seorang anggota kerajaan
sorga yang ditolak pada ‘hari
perhitungan’, maka berarti ia tidak akan mengambil bagian dalam kerajaan
Mesias yang akan ditegakkan dibumi. Hal ini tidak berbicara apakah ia selamat
atau tidak. Atau, apakah ia akan dilempar ke neraka kekal selama-lamanya,
seperti dalam ajaran neraka kekal yang terlanjur dipercaya oleh mayoritas orang
Kristen.
Jika ada anggota kerajaan sorga diterima pada hari
perhitungan, maka ia akan ikut ambil bagian dalam kerajaan Mesias yang akan
ditegakkan dimuka bumi ini. Kerajaan Mesias ini pasti akan menaklukkan kerajaan
iblis, sebab Yesus sebagai sang Raja sudah menaklukkan iblis. Semua manusia
sebagai tawanan iblis akan dirampas oleh Yesus dan kerajaanNya. Itu sebabnya,
Yesus berkata bahwa Ia akan menarik semua orang datang kepadaNya (Yohanes
12:32).
Jadi, dihari perhitungan, yang akan dipersoalkan adalah
apakah orang Kristen akan ambil bagian dalam kerajaan Mesias yang akan
ditegakkan dibumi ini atau tidak. Semoga penjelasan tentang rencana Bapa ini
membuat kita memahami lebih baik perumpamaan tentang pengampunan diatas.
Sebelum kita masuk kedalam bagian terakhir (bagian kelima) pengajaran kerajaan sorga
(Matius 23-25), mari kita lihat beberapa kasus atau cerita yang ada. Saat ini
kita akan bahas kasus dimana ada seorang muda yang kaya bertanya kepada Yesus
mengenai bagaimana memperoleh hidup yang kekal (Matius 19:16-26). Dalam kasus
ini ada hal yang sangat penting yang Yesus ajarkan mengenai perbedaan ‘memperoleh hidup kekal’ dan ‘masuk kedalam kerajaan sorga’.
Mari kita membahas lebih dahulu soal ‘memperoleh hidup kekal’. Orang muda ini mulai dengan suatu
pertanyaan mengenai perbuatan baik apa yang harus dilakukan supaya memperoleh
hidup kekal (ayat 16). Pertanyaan ini sudah pasti keliru, karena tidak mungkin
ada manusia yang dengan perbuatan baiknya dapat memperoleh hidup kekal. Itu
sebabnya, Yesus mengoreksi pertanyaan ini dengan suatu pernyataan bahwa tidak
ada yang baik, kecuali Elohim saja (ayat 17).
Tetapi, untuk mengajarkan orang muda ini bahwa ia tidak dapat
memperoleh hidup kekal dengan perbuatan baiknya, maka Yesus melanjutkan dengan
suatu syarat untuk memperoleh hidup, yaitu melakukan Hukum Taurat (ayat 17-19).
Orang muda ini begitu sombong dan tidak mengenali dirinya sendiri dengan
menjawab ‘semuanya itu telah kuturuti,
apa lagi yang masih kurang?’ (ayat 20). Yesus langsung membongkar ketidak
mampuan orang muda ini dengan suatu pernyataan bahwa ia harus sempurna dan
menjual seluruh miliknya serta mengikut Yesus (ayat 21). Disinilah terbongkar
ketidak-mampuan orang muda yang kaya ini. Ternyata ia tidak dapat memenuhi
syarat yang Yesus ajukan untuk dapat mengikutiNya. Orang muda ini terikat
dengan hartanya, dan kemudian ia pergi dengan sedih (ayat 22).
Pelajarannya disini adalah untuk memperoleh hidup kekal (‘zoe’),
tidak dapat dengan berbuat baik, melainkan hanya dengan percaya Yesus saja.
Pelajaran ini dinyatakan juga melalui pertanyaan orang banyak kepada Yesus
dalam Yohanes 6:28-29, demikian, “…Apakah
yang harus kami PERBUAT… Jawab Yesus…hendaklah kamu PERCAYA kepada Dia…”.
Didalam seluruh Injil Yohanes terdapat banyak pernyataan bahwa dengan percaya
mendapat hidup kekal (‘zoe’). Hanya
saja ‘zoe’ yang diterima orang percaya masih berupa “benih” dan perlu bertumbuh. Itu sebabnya
Yohanes 10:10, menegaskan bahwa kita harus memperoleh ‘zoe’ dengan
berkelimpahan, artinya bertumbuh sampai matang dan berbuah.
Kemudian, Yesus melanjutkan pengajaranNya dengan berkata
kepada murid2Nya tentang ‘masuk kedalam
kerajaan sorga’ (ayat 23). Yesus menegaskan kesulitan bagi orang kaya untuk
masuk kedalam kerajaan sorga, sampai ketingkat lebih mudah seekor unta masuk
lobang jarum dari pada orang kaya masuk kedalam kerajaan sorga. Poinnya disini
jelas bahwa bagi manusia tidak mungkin, tetapi bagi Elohim mungkin (ayat 26).
Sekarang kita masuk kedalam poin penting dalam bagian ini,
yaitu perbedaan ‘memperoleh hidup kekal’
dan ‘masuk kedalam kerajaan sorga’.
Dalam dunia kekekristenan, umumnya, perihal ‘memperoleh hidup kekal (zoe)’ dan ‘masuk kedalam kerajaan sorga’, disamakan. Ungkapan keliru yang
sudah terlanjur dipercaya dalam dunia kekristenan adalah PERCAYA YESUS PASTI
MASUK SORGA. Yesus dan rasul2Nya tidak pernah mengajarkan hal ini. Yang benar
adalah PERCAYA YESUS MENDAPAT HIDUP ZOE. Apakah hidup zoe itu bertumbuh dan
menghasilkan buah, adalah persoalan lain.
Perumpamaan penabur yang sudah kita bahas menjelaskan bahwa
orang Kristen yang sudah percaya Yesus dan mendapat hidup zoe (dikategorikan
sebagai “tanah berbatu” dan “tanah bersemak duri”) ternyata tidak bertumbuh
dan menghasilkan buah. Dan, perumpamaan2 lain tentang kerajaan sorga dalam
Injil Matius, bahkan seluruh kitab2 PB juga menjelaskan bahwa TIDAK SEMUA ORANG
KRISTEN YANG SUDAH LAHIR BARU PASTI DITERIMA KELAK DALAM KERAJAAN SORGA YANG
AKAN DITEGAKKAN SEPENUHNYA DI-BUMI. Yesus akan datang ‘kedua kali’ sebagai
Hakim yang adil untuk menghakimi kita semua (gereja). Dihari ‘perhitungan’
inilah semua akan menjadi jelas.
Nampaknya, memang dunia kekristenan telah memberitakan Injil
yang lain. Yesus dan rasul2Nya hanya memberitakan satu injil, yaitu injil
kerajaan sorga. TIDAK ADA DUA INJIL DALAM PB, HANYA ADA SATU, YAITU KHABAR BAIK
(INJIL) KERAJAAN SORGA. Pada kedatanganNya, Yesus serta umat kerajaan akan
menegakkan kerajaan sorga SEPENUHNYA di bumi. Dan perluasan kerajaan sorga
dimuka bumi ini tidak akan berhenti (Yesaya 9:6). Kerajaan sorga dibumi akan
menaklukkan segala sesuatu sehingga bumi bergerak menuju bumi baru dan langit
baru juga.
Kita lanjutkan cerita dalam Matius 19, dimana Petrus bertanya
kepada Yesus, demikian, “… Kami ini telah
meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau: jadi apakah yang akan kami
peroleh?... Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di
takhta kemuliaanNya, kamu yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua
belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (ayat 27-28).
Telah kita bahas cerita sebelumnya mengenai orang muda yang
kaya, dimana Yesus menegaskan bahwa sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk kedalam
kerajaan sorga. Pernyataan Yesus ini membuat murid2 gempar, dan karenanya,
Petrus bertanya apa yang akan kami dapat setelah mengikutiMu. Yesus menegaskan
bahwa murid2 akan mendapat upah pada waktu ‘penciptaan kembali’, yaitu duduk
diatas 12 takhta serta menghakimi 12 suku Israel.
Mari kita membahas upah yang akan diperoleh murid2 yang
mengikuti Yesus. Upah ini jelas diberikan pada waktu ‘penciptaan kembali’. Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘penciptaan kembali’ disini adalah ‘palinggenesia’,
yang hanya muncul 2x saja didalam PB. Kemunculan lainnya ada didalam Titus 3:5,
yang diterjemahkan LAI sebagai ‘kelahiran
kembali’.
Konsep yang terkandung dalam istilah ‘palinggenesia’ ini lebih
luas dari sekedar ‘kelahiran kembali’
atau ‘penciptaan kembali’. ‘palinggenesia’
juga berarti ‘pemulihan segala sesuatu’
dan juga, ‘berakhirnya zaman (dunia) dan
dimulainya yang baru’. Yesus menggunakan istilah ‘palinggenesia’ dalam
pengertian dimulainya suatu proses pemulihan total dari kejatuhan ciptaan
pertama menuju ciptaan yang baru. Dan proses ini dimulai ketika Ia datang dalam
kemuliaanNya (biasa disebut kedatangan ke-2 kali), dan memberikan upah kepada
murid2Nya.
Dalam kasus ke-12 rasul, upah mereka adalah duduk diatas 12
takhta dan menghakimi 12 suku Israel. Bagaimana dengan upah murid2 lain yang
mengikuti Yesus? Wahyu 20:4, menegaskan, “Lalu
aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya: kepada mereka
diserahkan kuasa untuk menghakimi…”. Orang2 yang disebut dalam ayat ini
adalah para pemenang gereja sepanjang zaman. Perhatikan Wahyu 3:21, demikian, “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan
bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku…”. Jadi, para pemenang dalam
gerejalah yang akan diserahkan kuasa untuk menghakimi.
Kita harus paham bahwa kuasa untuk menghakimi yang diberikan
Yesus kepada para pemenang gereja ada dalam konteks ‘palinggenesia’, yaitu
dalam konteks ‘penciptaan kembali’. Jadi, bukan menghakimi dalam arti
menjatuhkan vonis atau hukuman kepada seseorang. Perhatikan Yesaya 26:9,
demikian, “… sebab apabila Engkau datang
menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”.
Karenanya, kuasa untuk menghakimi berarti kuasa untuk menjalankan ‘pemulihan segala sesuatu’, sehingga
penduduk dunia belajar apa yang benar.
Upah yang diberikan Yesus kepada murid2Nya jelas berdasarkan
perbuatan setiap murid. Wahyu 22:12, menegaskan, “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan
kepada setiap orang menurut perbuatannya”. Walaupun demikian, semua ini
tetaplah oleh kasih karunia Tuhan. Paulus berkata bahwa ia bekerja lebih keras
dari yang lainnya, tetapi bukan aku, tegasnya, melainkan kasih karunia Tuhan (I
Korintus 15:10).
Kita masih membahas soal upah mengikut Yesus yang kita
kaitkan dengan perihal ‘masuk kedalam
kerajaan sorga’. Perkara ini menjadi penting untuk dibahas, karena umumnya,
dalam dunia kekristenan ada pendapat yang sudah diterima luas bahwa, orang
Kristen lahir baru pasti masuk sorga dan tinggal dihakimi dalam pengadilan
Kristus untuk menentukan berapa besar
upah yang akan diterimanya. Dengan kata lain, orang Kristen lahir baru
pasti mendapat upah dan masuk kedalam kerajaan sorga. Benarkah pendapat demikian?
Sebelum membahas soal upah ini, kita perlu jelas bagaimana
tahapan rencana Bapa disorga dalam menegakkan kerajaan AnakNya dibumi ini. Pertama,
kerajaan sorga datang kebumi didalam dan melalui pribadi Yesus Kristus. Pada
kedatanganNya, gereja belum lahir, itu sebabnya Yesus berkata, ‘Aku akan mendirikan gerejaKu’. Kedua,
melalui kematian, kebangkitan dan kenaikanNya kesorga, maka Roh Kudus (Roh
pemberi Hayat ‘zoe’) tercurah kepada 120 orang di Yerusalem. Inilah saat
kelahiran gereja, yaitu orang2 yang terpanggil. Gereja menjadi alat dan
terpanggil untuk menghadirkan kerajaan sorga dibumi. Ketiga, Kerajaan sorga
akan datang/termanifestasi sepenuhnya dibumi pada kedatangan Yesus kedua kali.
Disinilah pengadilan Kristus terjadi. Perumpamaan2 yang terkait dengan
kedatangan Yesus dalam injil Matius, adalah perumpamaan hamba yang setia dan
jahat (Matius 24), perumpamaan gadis bijaksana dan bodoh, dan perumpamaan
talenta (Matius 25).
Mari kita perhatikan perkataan Paulus terkait tema yang
sedang kita bahas. I Korintus 3:14-15, demikian, “Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat
upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri
akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api”. Dari ayat2 ini kita
lihat bahwa sebagian orang Kristen yang pelayanannya bertahan melalui ujian api
Tuhan, maka ia mendapat upah. Tetapi sebagian lagi yang pelayanannya terbakar
api Tuhan, maka ia akan menderita kerugian, walaupun ia sendiri akan
diselamatkan seperti dari dalam api. Dengan kata lain, sebagian orang Kristen
akan mendapat upah, sebagian lagi gagal mendapat upah. Pemahaman ini sesuai
dengan perumpamaan2 yang sudah kita sebutkan diatas (Matius 24-25), bahkan
pemahaman ini sesuai dengan pewahyuan kerajaan sorga yang tertulis didalam
kitab2 PB.
Karenanya, pendapat bahwa semua orang Kristen lahir baru
pasti mendapat upah dan masuk kerajaan sorga yang akan ditegakkan dibumi ini,
sama sekali tidak berdasarkan pewahyuan kitab2 PB. Upah bagi orang2 kristen
pada kedatangan Yesus adalah memerintah dibumi ini sebagai raja2 dan imam2
menurut aturan Melkisedek. Perhatikan Wahyu 5:10, yang berbicara mengenai hal
ini, demikian, “dan Engkau telah menjadikan
kami raja-raja dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas
bumi”.
Peristiwa dimana orang2 kristen mendapat upah dijelaskan oleh
Paulus dalam Roma 8:19-21, demikian, “Sebab
kerinduan yang dalam dari makhluk ciptaan menanti dengan sangat penyingkapan
anak-anak Elohim… makhluk ciptaan itu sendiri juga akan dimerdekakan dari
perbudakan kebinasaan kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim”.
Inilah peristiwa dimana orang2 kristen mendapat upah dan ditampilkan dibumi ini
dengan tubuh kemuliaan untuk memerdekakan ciptaan. Inilah juga makna ‘masuk
kedalam kerajaan sorga’, bukan dalam pengertian “sorga nun jauh disana”, tetapi dalam pengertian kerajaan sorga yang
akan dimanifestasikan sepenuhnya dibumi. Inilah saat dimulainya ‘pemulihan
segala sesuatu, atau ‘palinggenesia’, yaitu ‘penciptaan kembali’
yang telah kita bahas.
Kita bahas sedikit lagi mengenai upah mengikut Yesus. Setelah
Yesus menjawab pertanyaan Petrus mengenai upah, maka Yesus melanjutkan
perkataanNya demikian, “Tetapi banyak
orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi
yang terdahulu” (Matius 19:30). Kemudian Yesus menjelaskan makna
perkataanNya diatas dengan suatu perumpamaan tentang orang2 upahan dikebun
anggur (Matius 20:1-16).
Perumpamaan ini menggambarkan perihal kerajaan sorga yang
disamakan dengan tuan rumah yang mencari pekerja2 untuk kebun anggurnya.
Perumpamaan ini sangat sederhana, dan kita tidak membahas seluruh ceritanya,
melainkan kita akan mengambil beberapa poin penting didalamnya.
Pertama, tuan rumah, yang tentunya menggambarkan Bapa disorga,
berlaku dengan sangat adil, khususnya terhadap para pekerja yang terdahulu
masuk. Hal ini disebabkan sang tuan rumah sudah sepakat mengenai upah sedinar
sehari. Kedua, tuan rumah ini tentu bebas menggunakan miliknya sesuai
kehendak hatinya (ayat 15). Ini berbicara mengenai kedaulatan Bapa disorga
untuk melakukan apapun yang dikehendakiNya. Ketiga, kesalahan para
pekerja yang terdahulu masuk adalah bersungut-sungut terhadap keputusan sang
tuan rumah. Ada sikap iri hati dari para pekerja yang terdahulu masuk ini.
Karena sikap iri hati inilah, maka perumpamaan ini diakhiri dengan suatu
kesimpulan, “Demikanlah orang yang
terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang
terakhir” (ayat 16).
Dalam pengajaran kerajaan sorga, perihal kedaulatan Bapa
disorga sangat penting, bahkan dapat dikatakan yang terutama. Kedaulatan Bapa
ini menjadi bukti bahwa semuanya adalah kasih karunia Bapa. Tidak ada
sedikitpun dalam diri manusia yang dapat dibanggakan. Paulus juga tegas barkata
bahwa barangsiapa yang mau bermegah, hendaklah ia bermegah didalam Tuhan,
artinya bermegah karena semua perbuatan Tuhan atas diri kita.
Kita akan ambil 2 ayat saja untuk memperjelas hal yang sedang
kita bicarakan. Lukas 12:32, menegaskan demikian, “janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan
memberikan kamu Kerajaan itu”. Lukas 17:9-10, yang berbicara mengenai
pelayanan, menegaskan demikian, “Adakah
ia berterima kasih kepada hamba itu, karena karena hamba itu telah melakukan
apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah
melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami
adalah hamba-hamba yang tidak berguna: kami hanya melakukan apa yang kami harus
lakukan”.
Pengajaran kerajaan sorga, bahkan seluruh kehidupan kita,
menjadi hal yang mudah dan sederhana, jika kita dapat melihat bahwa segala
sesuatu telah ditentukan Bapa disorga sebelumnya. Mazmur 139:16, juga menegaskan
kedaulatan Bapa disorga yang menentukan segalanya, demikian, “mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan
dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satu
pun dari padanya”.
Dalam dunia kekristenan ada pengajaran mengenai kehendak
bebas yang “kebablasan”. Untuk membuktikan bahwa manusia mempunyai tanggung
jawab dihadapan Tuhan, maka haruslah ia mempunyai kehendak bebas MUTLAK. Ajaran
‘kehendak bebas mutlak’ ini juga yang melahirkan “dongeng” mengenai kejatuhan
Iblis, dari malaikat baik (Lucifer) menjadi iblis yang begitu jahat. Kita tidak
membahas semuanya ini disini.
Tetapi, dengan mengajarkan bahwa Bapa disorga menentukan
segalanya, kita tidak menyangkal bahwa makhluk apapun pasti memiliki kehendak.
Baik malaikat, manusia, binatang, bahkan pohon sekalipun, semua memiliki
kehendak. Itu sebabnya Yesus “menegor” pohon ara yang tidak berbuah, karena
sekalipun ia hanya sebuah pohon, tetapi ia harus “bertanggung jawab” karena
tidak berbuah. Jadi, kita semua harus bertanggung jawab karena memiliki
kehendak, tetapi ‘kehendak’ kita ditentukan SEPENUHNYA oleh Bapa disorga.
Jadi, ‘upah’ kita sekalipun, semua ditentukan oleh kedaulatan
Bapa disorga. Bahkan apakah kita akan ambil bagian kelak dalam kerajaan sorga
yang termanifestasi sepenuhnya dibumi, semua ini juga ditentukan oleh keputusan
Bapa disorga. Bagi kita yang percaya sepenuhnya akan kasih Bapa, hal yang kita
bicarakan ini tidaklah sulit untuk diterima.
Kita akan membahas cerita mengenai Yesus dan murid2Nya yang
masuk kedalam kota Yerusalem, serta ditolak oleh imam2 kepala, dan ahli2 Taurat
(Matius 21). Penolakan oleh para pemimpin Yahudi ini tertulis dalam Matius
21:15, demikian, “Tetapi ketika imam-imam
kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuatNya… dan anak-anak
yang berseru… ‘Hosana bagi Anak Daud’ hati mereka sangat jengkel”. Tentu
saja tidak semuanya menolak Yesus. Ketika Yesus masuk kota Yerusalem
mengendarai seekor keledai, maka orang banyak menyambutnya dan berseru ‘Hosana bagi Anak Daud’. Namun, karena
bangsa Yahudi secara keseluruhan diwakili oleh para pemimpinnya yang telah
menduduki ‘kursi Musa’, maka penolakan para pemimpin dipandang sebagai
penolakan seluruh bangsa Yahudi.
Ada beberapa cerita yang perlu kita perhatikan dalam Matius
21 ini. Pertama, Yesus menyucikan Bait Suci yang telah dijadikan sarang
penyamun oleh para pemimpin Yahudi (ayat 13). Kedua, tindakan Yesus
“menegor” pohon ara yang tidak berbuah, dimana pohon ara ini, sesungguhnya,
merupakan simbol dari bangsa Israel (Yeremia 24:2,5,8). Ketiga, tersingkapnya
kebohongan para pemimpin Yahudi ketika bertanya soal otoritas Yesus. Yesus
bertanya kepada para pemimpin Yahudi mengenai baptisan Yohanes, apakah dari
manusia atau dari sorga? Dan, mereka berbohong, karena takut kepada orang banyak
yang menganggap Yohanes seorang nabi (ayat 25-26). Semua cerita ini membuktikan
kebusukan para pemimpin agama Yahudi, dan karenanya mereka menolak Yesus
sebagai Mesias.
Selanjutnya, Yesus mengatakan 2 perumpamaan, yaitu
perumpamaan dua anak, dan perumpamaan penggarap kebun anggur. Sebenarnya, dua
perumpamaan ini ditujukan kepada para pemimpin Yahudi yang menolakNya.
Perumpamaan dua anak menjelaskan bahwa bangsa Yahudi sebagai anak sulung
(Keluaran 4:22) tidak melakukan kehendak Bapa, sedangkan “pemungut cukai dan
perempuan sundal”, yang dapat diartikan sebagai gereja, melakukan kehendak
Bapa, dan karenanya masuk kedalam kerajaan sorga (ayat 31).
Perumpamaan penggarap kebun anggur juga ditujukan kepada para
pemimpin Yahudi yang menolakNya, dan karenanya kerajaan sorga akan diambil dari
bangsa Yahudi, dan diberikan kepada suatu bangsa (gereja) yang akan
menghasilkan buah kerajaan itu (ayat 43). Sesungguhnya, bangsa Yahudi telah
dipercayakan kerajaan sorga, sekalipun berupa ‘simbol’ (kerajaan Daud
sebagai simbol kerajaan Mesias). Tetapi, ketika datang ‘realita’ kerajaan sorga
dalam pribadi Yesus, mereka menolakNya. Karenanya, kerajaan sorga diambil dari
mereka. Sampai saat ini, kerajaan sorga belum diberikan kepada bangsa Yahudi,
karena para pemimpinnya tetap menolak Yesus sebagai Mesias mereka.
Penolakan bangsa Yahudi terhadap Yesus sebagai Mesias
berdampak sangat luar biasa. Pada tahun 70 M. Bait Suci dihancurkan oleh
jenderal Titus, dan sejak saat itu sampai sekarang tidak ada lagi Bait Suci
yang merupakan inti dari pelaksanaan perjanjian Musa. Sinagoga2 yang tersebar
dimana-mana, tidak dapat menggantikan fungsi Bait Suci bagi bangsa Yahudi.
Sinagoga2 hanyalah tempat berkumpul bangsa Yahudi untuk mempelajari Taurat.
Tetapi, pelaksanaan upacara2 korban tidak dapat dilakukan di sinagoga2.
Apa pelajarannya bagi gereja yang dipercayakan kerajaan sorga
saat ini. Apakah gereja sudah menghasilkan ‘buah kerajaan’ bagi Tuhan Yesus?
Apakah gereja sudah menghadirkan kerajaan sorga dibumi? Pertanyaan ini sangat
penting bagi gereja.
Kita teruskan pembahasan kita kedalam perumpamaan tentang
perjamuan kawin (Matius 22:1-14). Nampaknya, perumpamaan ini masih melanjutkan
percakapan Yesus dengan imam2 kepala dan orang2 Farisi dipasal sebelumnya
(21:23-46). Yesus memulai perumpamaan ini dengan berkata ‘hal kerajaan sorga’ seumpama seorang raja (Bapa disorga) yang
mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya (Kristus Yesus).
Ditegaskan dalam perumpamaan ini bahwa orang2 yang telah
diundang tidak mau datang dengan berbagai alasan. Karenanya, sang raja menyuruh
hamba2nya untuk pergi kepersimpangan-persimpangan jalan dan mengundang siapa
saja yang dijumpai disana. Setelah ruang perjamuan kawin penuh, maka sang raja
masuk untuk bertemu dengan para tamu, dan ia mendapati seorang yang tidak
berpakaian pesta. Perlu diingat bahwa kebiasaan di Timur dalam suatu pesta,
tuan rumah menyediakan pakaian pesta untuk setiap tamu. Sehingga jika ada tamu
yang tidak mau mengenakan pakaian pesta yang telah disediakan tuan rumah, maka
hal ini merupakan suatu penghinaan.
Itu sebabnya, sang raja memerintahkan hamba2nya untuk
mengikat kaki dan tangannya, serta mencampakkan orang itu kedalam kegelapan
yang paling gelap. Kemudian, perumpamaan ini disimpulkan dengan suatu ungkapan,
“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi
sedikit yang dipilih” (22:14).
Perumpamaan ini menjelaskan kepada kita bahwa orang2 yang
telah diundang dan tidak mau datang itu adalah bangsa Yahudi secara
keseluruhan. Mereka sudah diundang ke perjamuan kawin, karena mereka telah
terikat dengan suatu perjanjian dengan Yahweh, yaitu perjanjian Musa. Sementara
itu, setiap orang yang diundang dari persimpangan2 jalan dan masuk kedalam
ruang perjamuan kawin tentu adalah gereja. Tetapi, tidak semua orang gereja
yang telah dipanggil itu dapat menikmati perjamuan kawin, karena hanya sedikit
yang dipilih dari antara yang dipanggil.
Pengertian ‘dipanggil’
itu artinya telah diselamatkan, lahir baru, dan menerima ‘benih’ hayat Kristus
(‘zoe’).
Perhatikan ayat2 dalam Roma 1:7, I Korintus 1:2, Efesus 4;1, yang menegaskan
bahwa ‘dipanggil’ berarti dijadikan
orang kudus, yaitu telah dipisahkan bagi maksud2Nya. Tetapi, perihal ‘dipilih’ artinya menjadi pemenang untuk
memerintah bersama Kristus (Wahyu 17:14). Yesus berkata kepada murid2Nya,
demikian, “Bukan kamu yang memilih Aku,
tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu
pergi dan menghasilkan buah…” (Yohanes 15:16). Jadi, dipanggil dan dipilih
itu merupakan kasih karunia. “Pakaian pesta” dalam perumpamaan diatas juga
adalah pemberian sang tuan rumah. Semuanya merupakan kasih karunia.
Kembali kita lihat disini bahwa tidak semua orang Kristen
lahir baru itu akan ambil bagian untuk memerintah bersama Kristus pada saat
kedatanganNya. Hanya orang2 yang mendapat kasih karunia untuk dipanggil,
dipilih, serta ditetapkan menghasilkan buah, merekalah yang akan memerintah
bersama dengan Kristus dalam masa kerajaan seribu tahun dibumi ini.
Mari kita lanjutkan pembahasan kita dengan suatu pertanyaan
Yesus kepada orang2 Farisi yang sedang berkumpul, demikian, “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak
siapakah Dia? Kata mereka kepada-Nya: Anak Daud. Kata-Nya kepada mereka: Jika
demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya,
ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah
kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh dibawah kaki-Mu. Jadi jika Daud
menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” (Matius
22:42-45).
Pada ayat2 sebelumnya, Yesus dicobai oleh orang2 Farisi,
Saduki, dan ahli2 Taurat, dengan pertanyaan2 mengenai soal ‘membayar pajak
kepada Kaisar’, ‘kebangkitan’, dan ‘hukum terutama dalam Hukum Taurat’. Tentu
semuanya dijawab Yesus dengan tepat, dan ketika giliranNya bertanya kepada
mereka, maka mereka tidak dapat menjawab.
Sebenarnya, pertanyaan Yesus tentang Mesias ini mencoba
merubah konsep mereka tentang Mesias. Orang2 Farisi, dan ahli2 Taurat hanya
mempunyai pengertian ‘jasmani’ bahwa
Mesias itu anak Daud. Karenanya, orang2 Farisi dan ahli2 Taurat mengharapkan
kedatangan Mesias yang akan mendirikan kerajaan Israel ‘jasmani’ seperti Daud, membangun Bait Suci ‘jasmani’ seperti Daud (walaupun Salomo yang membangunnya),
membebaskan Israel dari musuh2 ‘jasmani’
dan membawa pendamaian bagi Israel diantara bangsa2.
Pengertian ‘jasmani’ seperti ini membuktikan bahwa mereka
sama sekali tidak memahami sifat dasar Perjanjian Musa (PL) yang merupakan
simbol, bayangan, dan nubuat saja. Sementara itu, Mesias yang dinantikan Israel
akan menggenapi semua simbol, bayangan dan nubuat yang ada. Mesias yang akan
datang merupakan ‘realita’ atau ‘wujud’ dari semua simbol, bayangan dan nubuat
PL. Kolose 2:16-17, menjelaskannya demikian, “… mengenai makanan, dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru
ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang,
sedang wujudnya ialah Kristus”. Kolose 1:27, juga menegaskan, “… Kristus yang ada di dalam kamu…” (ILT).
Jadi, Kristus yang ada didalam batin orang percaya, itu yang merupakan ‘realita’ dari semua simbol, bayangan,
dan nubuat PL.
Perhatikanlah pemahaman orang2 Farisi dan ahli2 Taurat yang
menyamakan begitu saja kerajaan Mesias dengan kerajaan Daud. Sementara, Yesus
tegaskan bahwa Daud menyebut Mesias itu Tuannya. Ini berarti Mesias “lebih
tinggi” dari Daud. Artinya, kerajaan Mesias ada dalam dimensi yang lebih tinggi
dari pada dimensi kerajaan Daud. Kerajaan Mesias ada dalam dimensi sorgawi
(kerajaan sorga), sementara kerajaan Daud ada dalam dimensi bumi (kerajaan
jasmani). Inilah salah satu alasan utama mengapa para pemimpin agama Yahudi
(Yudaisme) menolak Yesus sebagai Mesias mereka. Sementara Israel berharap
dibebaskan dari musuh2 jasmani, kekaisaran Roma pada waktu itu, tetapi Yesus
datang untuk membebaskan Israel dari perbudakan dosa serta iblis dan roh2
jahat.
Bagaimana dengan dunia kekristenan saat ini? Apakah dunia
kekristenan juga tidak memahami bahwa Yesus menggenapi seluruh simbol,
bayangan, dan nubuat PL? Nampaknya, dunia kekristenan juga tidak jauh berbeda
dengan pandangan para ahli agama Yahudi pada waktu itu. Perhatikan baik-baik
ibadah dalam dunia kekristenan. Yesus berkata bahwa ibadah itu haruslah dalam
roh dan kebenaran (realita). Artinya, ibadah itu adalah hidup sehari-hari yang
dipimpin Kristus dalam batin orang percaya.
Entahkah orang percaya, dalam kehidupannya sehari-hari,
dipimpin untuk bekerja disini atau disitu, berkumpul dengan sesama orang
percaya disini atau disitu, atau berkumpul dengan keluarga sendiri
dirumah… semuanya harus dilakukan atas
dasar pimpinan Kristus dalam batin masing2 orang percaya. Inilah realita ibadah
dalam roh. Tetapi, ibadah dunia kekristenan telah penuh dengan aturan harus ini
dan harus itu… Aturan2 organisasi, aturan2 dari si pemimpin agama itu, juga
aturan2 dari PL seperti persepuluhan, buah sulung, janji iman, dan sebagainya…
Dalam esensinya, ibadah dunia kekristenan sudah mirip dengan ibadah agama
Yahudi yang penuh dengan ritual2, dan aturan2.
Sebagaimana kita ketahui bahwa ada 5 pembagian atau
percakapan/pengajaran kerajaan sorga dalam injil Matius, dimana selebihnya
adalah suatu ‘cerita’ atau ‘narasi’ mengenai Tuhan Yesus dan khabar baik injil
kerajaan sorga. Perlu kita mengingat ulang 5 bagian ini, yaitu bagian pertama,
Matius 5:1 – 7:29, yang biasa disebut khotbah dibukit. Kedua, Matius 9:35 –
11:1, yang berisi tentang ‘penugasan kedua belas rasul’. Ketiga, Matius 13:1-52,
tentang tujuh perumpamaan mengenai kerajaan sorga. Keempat, Matius 18:1-35,
tentang pengampunan dan perumpamaan hamba yang berhutang, dan keempat bagian
ini telah kita bahas semuanya. Saat ini kita masuk kedalam bagian terakhir
pengajaran kerajaan sorga, yaitu yang kelima, Matius 23– 25, tentang
tegoran kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, serta pengajaran akhir zaman,
atau penghakiman terhadap pelayan2 Tuhan.
Mari kita mulai dengan Matius 23:1-12, yang merupakan
pembukaan dalam pengajaran kerajaan sorga. Perhatikan Matius 23:1, demikian, “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak
dan kepada murid-muridNya, kataNya”. Dalam pengajaranNya ini, Yesus sedang
berbicara kepada 2 kelompok orang, yaitu yang disebut ‘orang banyak’ dan
‘murid2Nya’. Kita harus jelas melihat perbedaan ini, karena isi pengajaran
Yesus sangat berbeda kepada dua kelompok orang ini.
Kepada kelompok ‘orang banyak’, Yesus mengajarkan agar mereka
mentaati segala sesuatu yang diajarkan oleh ahli2 Taurat dan orang2 Farisi,
karena mereka telah menduduki ‘kursi
Musa’, hanya jangan turuti perbuatan2 mereka (ayat 2-3). Selanjutnya, Yesus memberikan alasan mengapa
orang banyak jangan meniru perbuatan2 ahli2 Taurat dan orang2 Farisi (ayat 4-7).
Kemudian, mulai ayat 8-12, Yesus berbicara kepada murid2Nya,
sebab ayat 8 dimulai dengan kalimat, “Tetapi
kamu…”. Jika kita perhatikan baik-baik konteks perikop ini, maka
sesungguhnya Yesus sedang berbicara soal ‘kursi Musa’. Kursi Musa inilah yang
membuat Yesus menyatakan bahwa orang banyak harus mengikuti pengajaran ahli2
Taurat dan orang2 Farisi, sedangkan kepada murid2Nya, Yesus mengajarkan sesuatu
yang lain sama sekali, semata-mata karena tidak ada ‘kursi Musa’. Jika kita
memahami dengan baik apa yang dimaksud Yesus dengan ‘kursi Musa’, maka kita
akan memahami perikop ini.
Apakah itu ‘kursi Musa’?
Kursi Musa yang dimaksud Yesus jelas berbicara soal ‘otoritas Musa’. Artinya,
suatu ‘otoritas agamawi’ yang berlaku hanya dalam konteks Perjanjian Lama
(Perjanjian Musa). Itu sebabnya, orang banyak harus mentaati pengajaran ahli2
Taurat dan orang2 Farisi, bagaimanapun buruknya perilaku mereka. Jadi, otoritas
Musa yang dimiliki ahli2 Taurat dan orang2 Farisi-lah yang membuat orang banyak
harus mentaati ajaran mereka.
Tetapi, diantara murid2 Yesus (gereja), tidak boleh ada
“otoritas Musa”. Gereja memiliki otoritasnya sendiri. Pengajaran Yesus kepada
murid2Nya disini sebenarnya sangat jelas, yaitu TIDAK BOLEH ADA OTORITAS LAIN
SELAIN OTORITAS YESUS. Kita lihat disini bahwa otoritas Yesus atas gereja tidak
didelegasikan kepada ‘para Rabi/pengajar gereja’, atau kepada ‘para bapa
gereja’, atau kepada ‘para pemimpin gereja’. Perkataan Yesus pada ayat 8, bahwa
kamu semua saudara, sesuai konteks, berarti tidak boleh ada “kursi Musa”
didalam gereja. Tidak boleh ada otoritas apapun didalam gereja selain otoritas
Yesus. YESUS LANGSUNG MENGATUR SETIAP ANGGOTA GEREJA. Dengan kata lain, TIDAK
BOLEH ADA JABATAN AGAMAWI APAPUN DIDALAM GEREJA.
Mari kita lanjutkan pembahasan kita mengenai ‘kursi Musa’ dalam Matius 23:1-12. Telah
kita tegaskan bahwa ‘kursi Musa’, yaitu jabatan agamawi, atau otoritas agamawi,
hanya berlaku dalam konteks Perjanjian Musa (PL), dan tidak berlaku dalam
konteks Perjanjian Baru (gereja). Karenanya, didalam gereja tidak boleh ada
‘kursi Musa’, tidak boleh ada ‘jabatan agamawi’, tidak boleh ada ‘otoritas
agamawi’, atau otoritas ‘para pemimpin’, selain otoritas Yesus. Yesus langsung
mengatur setiap anggota gereja melalui otoritasNya. Yesus tidak pernah mendelegasikan
otoritasNya kepada para pemimpin. Istilah otoritas terdelegasi (delegated authority) hanya ada dalam
sistem pemerintahan manusia. Tetapi, mengapa dalam gereja saat ini ada istilah
‘otoritas terdelegasi’? Justru inilah yang akan kita bahas saat ini.
Ada 2 poin yang harus kita pahami dengan baik agar kita
mengerti pembahasan ini. Pertama, bagaimana Yesus mengatur
langsung setiap anggota gereja. Ketika Yesus berkata, ‘Aku akan mendirikan gerejaKu, itu berarti Dia sendiri yang akan
membangun gerejaNya. Dia sendiri yang langsung mengatur dan membangun
gerejaNya. Tentu saja Yesus menggunakan para pemimpin sebagai alatNya untuk
membangun gereja. Itu sebabnya Yesus memberikan para rasul, nabi, penginjil,
gembala dan pengajar untuk MEMPERLENGKAPI gereja, supaya gereja bertumbuh
menjadi dewasa (Efesus 4:11-12).
Harus selalu kita ingat bahwa baik rasul, nabi, penginjil,
gembala dan pengajar TIDAK MEMILIKI OTORITAS APAPUN atas anggota gereja. Jadi,
bagaimana caranya Yesus berotoritas langsung atas gerejaNya? Melalui kematian,
kebangkitan dan kenaikanNya kesorga, maka Yesus memberikan ‘ROH PEMBERI HAYAT’
untuk mendirikan gerejaNya. Pada hari raya Pentakosta, ketika Roh pemberi Hayat
tercurah, disitulah gereja lahir dimuka bumi ini. Karenanya, otoritas Yesus
atas gerejaNya kita sebut OTORITAS HAYAT KRISTUS. Hayat Kristus (‘zoe’)
langsung memerintah setiap anggota gereja, karena gereja adalah organisme
(tubuh Kristus).
Kolose 2:19, menjelaskan kepada kita bagaimana gereja sebagai
organisme dapat bertumbuh, demikian, “Dan
yang tidak berpegang teguh pada kepala, yang dari pada-Nya seluruh tubuh,
melalui sendi-sendi dan urat-urat, karena ditunjang dan diikat bersama, tumbuh
dengan pertumbuhan yang dari Elohim” (ILT). Kita lihat dari ayat ini bahwa
“sendi2 dan urat2” adalah para pemimpin gereja (sebagai organisme) yang
mengikat dan menunjang organisme, sehingga tubuh (organisme) dapat bertumbuh
oleh ‘pertumbuhan Elohim’.
Ungkapan Yunani, ‘auxano ho auxesis ho theos’, yang
diterjemahkan dengan, ‘tumbuh dengan pertumbuhan yang dari Elohim’
pada ayat kita diatas, sebenarnya berarti ‘may
increase with the increase of God’, maksudnya melalui peranan “urat2 dan
sendi2”, maka gereja bertumbuh dengan PERTUMBUHAN ELOHIM SEBAGAI HAYAT.
Pertumbuhan gereja adalah pertumbuhan Hayat, karena gereja adalah organisme.
Jadi, melalui otoritas Hayat dalam organisme, Yesus langsung mengatur
gerejaNya. Para pemimpin hanyalah berfungsi sebagai “urat2 dan sendi” yang
menunjang dan mempersatukan tubuh. Para pemimpin inilah yang kita sebut para
pemimpin organisme, sebagai lawan dari para pemimpin organisasi dalam dunia
kekristenan.
Kalau demikian, bagaimana gereja yang awalnya adalah
organisme sekarang pecah menjadi puluhan ribu organisasi? Pada poin kedua akan
kita bahas hal ini.
Kita masih membahas apakah para pemimpin mempunyai otoritas
atas anggota gereja lainnya. Mengapa dalam dunia kekristenan ada istilah ‘otoritas terdelegasi’, seolah-olah sang
pemimpin mempunyai otoritas yang dapat didelegasikan kepada bawahannya. Poin
pertama sudah kita jelaskan bahwa Yesus mengatur langsung semua anggota
gerejaNya melalui otoritas Hayat, yaitu otoritasNya sendiri, karena Yesus
adalah Hayat. (I am the ‘zoe’). Itu
sebabnya, rasul Yohanes berkata, “Sebab di
dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya.
Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain…” (I Yohanes 2:27).
Pengurapan didalam batin semua orang percaya adalah ‘zoe’ (Hayat) yang Yesus
berikan. Hayat Kristus dalam batin inilah yang akan mengajari orang Kristen
segala sesuatunya. Jadi, melalui HayatNya, Yesus mengatur setiap anggota
gereja, karena setiap anggota gereja hidup dipimpin Hayat, atau hidup dipimpin
Roh pemberi Hayat.
Kalau demikian, apakah anggota gereja tidak memerlukan para
pemimpin? Tentu saja memerlukan para pemimpin, karena Yesus yang memberikan
para pemimpin gereja, tetapi hanya untuk MEMPERLENGKAPI setiap anggota gereja,
agar semua anggota gereja pada gilirannya membangun tubuh Kristus dengan cara mentaati
‘pengurapan yang didalam batin’
(Efesus 4:12; I Yohanes 2:27). Demikianlah gereja tetap dalam hakekatnya
sebagai organisme (Tubuh) yang langsung diatur oleh otoritas Hayat Kristus,
sekalipun ada para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar, para
penatua/penilik, dan para diaken. Inilah kondisi gereja mula2 yang tertulis
dalam Kitab Kisah Para Rasul, dimana ada 70 x ungkapan, ‘dipimpin Roh, bisikan
Roh, Roh Kudus melarang’, dan sebagainya. Semua anggota gereja, termasuk para
pemimpinnya semata-mata diatur oleh Roh Kudus, bahkan Paulus menyebut dirinya
‘tawanan Roh’.
Sekarang kita masuk kedalam poin kedua, yaitu bagaimana
gereja yang awalnya adalah organisme, sekarang pecah menjadi puluhan ribu
organisasi/denominasi? Alkitab (PB) menjelaskan dengan gamblang awal mula
gereja yang adalah organisme, kemudian pecah menjadi puluhan ribu organisasi,
walaupun tentu saja hal ini umumnya tidak diajarkan oleh para pemimpin agama
dalam dunia kekristenan. Bahkan, para pemimpin agama Kristen cenderung
menutup-nutupinya dengan ajaran palsu ‘visible-invisible
church’, atau menyebut bahwa denominasi adalah gereja.
Penyebab awal mengapa gereja (organisme) menjadi puluhan ribu
denominasi tertulis dalam Kis. 20:29-30, demikian, “Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan
masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan
dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu
mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut
mereka”. Konteks ayat2 ini adalah perpisahan Paulus dengan para penatua
gereja di Efesus.
Penyakit awal kejatuhan gereja jelas dari ayat2 ini, yaitu
adanya serangan “serigala-serigala ganas” terhadap beberapa pemimpin. Motivasi
sang “serigala ganas” ini jelas, yaitu tidak menyayangkan gereja (kawanan),
tetapi caranya dengan menyerang para pemimpin gereja yang dapat diserang.
Dampak dari serangan “serigala ganas” ini ada dua, yaitu, pertama, menyebabkan para
pemimpin mengajarkan AJARAN PALSU, dan kedua, MENARIK murid2 Kristus supaya
menjadi pengikut mereka. Murid2 yang tadinya mengikuti jalan yang benar, yaitu
mengikuti otoritas Yesus dengan dipimpin Hayat dalam batin masing2 (pengurapan
yang dimaksud rasul Yohanes), tetapi kemudian karena DITARIK oleh para
pemimpin, maka murid2 menjadi PENGIKUT para pemimpin, dan karenanya Yesus tidak
dapat lagi langsung memimpin para murid. Inilah yang terjadi dalam dunia
kekristenan. Puluhan ribu denominasi itu bukan lagi gereja yang dibangun Yesus,
karena puluhan ribu murid2 mengikuti pemimpin ini atau pemimpin itu, mengikuti
aliran ini atau itu, KARENANYA DENOMINASI ITU ADALAH KERAJAAN AGAMAWI YANG
DIDIRIKAN PARA PEMIMPIN. Atau, barangkali lebih tepat kalau denominasi itu
disebut kerajaan2 para pemimpin dengan para pengikutnya masing2.
Kita masih terus membicarakan Matius 23:1-12, terkait ‘kursi
Musa’, tetapi nampaknya, kita harus menyimpang sedikit dan berbicara mengenai
‘berkat Bapa disorga’. Mengapa demikian? Karena berbicara mengenai ‘kursi Musa’
berarti berbicara tentang para pemimpin agama, baik para pemimpin agama Yahudi,
maupun para pemimpin agama dalam dunia kekristenan.
Banyak tegoran2 Yesus kepada para pemimpin agama Yahudi pada
pasal 23, umumnya, dapat juga diterapkan, dalam beberapa kasus, kepada para
pemimpin agama dalam dunia kekristenan. Dan sudah merupakan pandangan umum
dalam dunia kekristenan, bahwa berkat2 Tuhan dijadikan bukti bahwa jalan hidup
seseorang itu berkenan dihadapan Tuhan. Sering kita mendengar kalimat2 seperti,
‘buktinya dia diberkati, sambil menunjukkan bukti2nya tentu…. Itu tandanya dia
berkenan dihadapan Tuhan’. Persoalan inilah yang membuat kita harus berbicara
lebih dahulu tentang ‘berkat Tuhan’ sebelum lanjut kepada pembahasan ‘kursi
Musa’.
Sesungguhnya, semua manusia sudah diberkati oleh Bapa
disorga. Yohanes 3:16, menegaskan, bahwa begitu besar kasih Bapa akan seluruh
dunia sehingga Ia memberikan anakNya yang tunggal untuk menghapus dosa dunia.
Yesus tidak hanya menghapus dosa orang Kristen, tetapi juga dosa dunia (I
Yohanes 2:2). Itu sebabnya, Yohanes Pembaptis berkata, bahwa Yesus adalah Anak
Domba Elohim yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). Jika Bapa disorga sudah
begitu mengasihi dunia ini, mana mungkin Ia juga mengutuki orang2 didunia ini?
Sesungguhnya, Bapa disorga sudah memberkati semua orang didunia ini, tetapi
berkat Bapa ini jangan dijadikan bukti bahwa Bapa berkenan akan jalan hidup
semua manusia didunia ini.
Bapa disorga adalah Bapa yang memberkati. Perhatikan fakta2
berikut. Ishak diberkati, tetapi Ismael juga diberkati (Kejadian 17:20). Yakub
diberkati, tetapi Esau juga diberkati (Ibrani 11:20). Baik Ismael maupun Esau
sama-sama diberkati Bapa disorga, namun demikian, Bapa disorga hanya berkenan
membuat perjanjianNya dengan Ishak, dan memilih Yakub bukan Esau. Jadi, berkat
Bapa tidak dapat dijadikan bukti bahwa Bapa berkenan akan jalan hidup
seseorang.
Mari kita melihat suatu contoh bapa jasmani, yaitu Yakub yang
memberkati semua anak-anaknya di-akhir hidupnya (Kejadian 49). Ayat 28,
menegaskan, “… tiap-tiap orang
diberkatinya dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka masing-masing”.
Ketika Yakub di-akhir hidupnya memberkati semua anak2nya, apakah ini merupakan
bukti bahwa semua anak2nya telah berkenan kepadanya? Tentu tidak… Demikian juga
Bapa disorga yang adalah Bapa segala roh, tentu memberkati semua manusia
semata-mata karena Ia adalah Bapa yang penuh kasih.
Apakah dunia kekristenan diberkati Bapa disorga? Tentu saja…
jangankan dunia kekristenan, dunia secara umum saja sangat dikasihi Bapa dan
diberkati Bapa, apalagi dunia kekristenan. Tetapi, apakah semua anak2Nya dalam
dunia kekristenan telah berjalan menurut cara yang berkenan kepada Bapa? Justru
hal ini yang perlu kita renungkan, bahwa berkat Bapa disorga atas kehidupan
setiap orang Kristen, sama sekali bukan merupakan bukti bahwa Bapa berkenan
akan jalan hidupnya. Berkat Bapa hanya membuktikan bahwa Ia adalah Bapa yang
penuh kasih.
Dalam perumpamaan anak yang hilang, baik anak yang bungsu,
maupun anak yang sulung sama-sama dikasihi Bapa. Pengertian seperti ini agak
sulit bagi orang Kristen umumnya. Para pemimpin agama dalam dunia kekristenan,
biasanya, suka menyatakan bahwa jika engkau memberi sepersepuluh, maka engkau
diberkati secara finansial. Jika rajin kebaktian, maka iman akan bertumbuh.
Jika banyak berdoa, maka banyak berkat. Dan sebagainya… Prinsip JIKA-MAKA ini
memang prinsip agamawi, baik dalam agama Yahudi, maupun dalam kekristenan yang
telah jatuh menjadi agama ini.
Prinsip Perjanjian Baru bukan prinsip JIKA-MAKA, tetapi
SUDAH-KARENANYA. Kita sudah diberkati, karenanya baiklah kita menjadi berkat.
Kita sudah garam dan terang, karenanya baiklah kita berperilaku sebagaimana
identitas kita yang adalah garam dan terang. Jika semua penjelasan ini dapat
membuat kita paham bahwa berkat Bapa tidak dapat dijadikan bukti perkenan Bapa,
maka kita siap melanjutkan pembahasan kita mengenai ‘kursi Musa’.
Nampaknya, kita masih perlu berbicara sedikit lagi mengenai
‘berkat Bapa disorga’ sebelum lanjut kepada pembahasan ‘kursi Musa’. Hal ini disebabkan, umumnya, ada pemahaman diantara
orang Kristen, bahwa ‘segala kenikmatan
dunia ini berasal dari iblis, karena iblis adalah penguasa dunia’. Kalimat
ini benar separuh saja. Memang iblis adalah penguasa dunia, dalam arti penguasa
‘kosmos’
(sistem), tetapi langit dan bumi adalah milik Bapa disorga. Karenanya, segala
kenikmatan apapun yang dapat dirasakan manusia didunia ini berasal dari Bapa
disorga, atau merupakan ‘berkat Bapa disorga’.
Pengkhotbah 2:25, menegaskan, “Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan diluar Dia?”.
Ayat ini menegaskan bahwa kenikmatan yang dirasakan seseorang ketika ia makan,
itu berasal dari Tuhan, itulah berkat Bapa disorga. Namun, jika ia mencuri
makanan yang dinikmatinya, maka disini iblis bekerja sebagai penguasa ‘kosmos’,
dan tentu kedagingan (manusia lama) dari si-pencuri itu yang memberi kesempatan
iblis bekerja. Jadi, iblis tidak bisa memberikan ‘kenikmatan’ kepada manusia,
sebab iblis itu hanyalah ‘pendusta dan
pembunuh manusia’.
Dalam dunia kekristenan sudah hampir diterima dan dianggap
kebenaran, bahwa iblis itu tadinya malaikat baik yang namanya Lucifer, kemudian
ia memberontak kepada Tuhan dan menjadi iblis yang begitu jahat. Bahkan, konon,
dongeng ini ditambah lagi dengan menyatakan bahwa iblis menarik sepertiga
malaikat baik disorga untuk mengikutinya.
Agar kita memahami berkat Bapa disorga, kita perlu mengetahui
dengan benar siapakah iblis itu sebenarnya. Yesus sudah tegas menyatakan dalam
Yohanes 8:44, bahwa iblis adalah pembunuh manusia SEJAK SEMULA, dan ia adalah
bapa segala dusta. Jadi, iblis itu bukan awalnya baik, kemudian menjadikan
dirinya sendiri jahat. I Yohanes 3:8, juga menyatakan, bahwa iblis berbuat dosa
DARI MULANYA.
Kalau demikian, siapa yang menciptakan iblis, yang memang
sudah sebagai pendusta dan pembunuh manusia sejak semula? Perhatikanlah
Kejadian 3:1, yang menyatakan bahwa ‘ular’ itu dijadikan oleh Bapa disorga.
Ular disini dapat berbicara, cerdik, dan menggodai Hawa. Tentu ini bukan ular
jasmani yang kita kenal dikebun binatang. Kitab Wahyu, dengan bahasa simbol,
menjelaskan bahwa ‘ular’ atau ‘naga’ itu adalah iblis (Wahyu 12:9; 20:2). Jadi,
ular di Kitab Kejadian 3:1, itu adalah simbol dari iblis, dan ia DIJADIKAN OLEH
BAPA DISORGA. Bapa disorga menciptakan makhluk yang namanya iblis, sebagai
alatNya untuk memproses manusia agar serupa dan segambar denganNya.
Banyak orang Kristen tidak bisa mengerti mengapa Bapa yang
penuh kasih itu, dapat menciptakan iblis yang begitu jahat. Karenanya, para
Teolog mulai membuat dongeng mengenai kejatuhan iblis, dengan mencomot ayat2
dalam Yesaya 14, dan juga Yehezkiel 28, yang konteksnya sebenarnya berbicara
mengenai raja Babel, dan raja Tirus. Siapapun dapat membuat cerita/dongeng yang
dramatis, jika caranya dengan mencomot2 ayat Alkitab diluar konteks.
Maksud para Teolog ini baik, yaitu mencoba menghindarkan
tanggung jawab atas adanya kejahatan di-alam semesta ini. Kejahatan,
malapetaka, bencana atau apapun juga yang menyengsarakan manusia, bukan berasal
dari Bapa disorga yang penuh kasih, demikian kata mereka. Sementara Yesaya
45:6-7, demikian juga Amos 3:6, menegaskan bahwa baik malapetaka, nasib malang,
kegelapan, semua berasal, dan dilakukan oleh Bapa disorga.
Para Teolog ini tidak berhenti dengan dongeng mereka, kemudian
mereka membuat doktrin kehendak bebas mutlak. Konon, katanya, karena Bapa
disorga sudah memberikan kehendak bebas mutlak kepada para malaikat, maka iblis
dengan kehendak bebasnya berontak kepada Bapa disorga. Doktrin kehendak bebas
mutlak ini sungguh mengerikan. Bagaimana kalau tiba2 ada lagi malaikat yang
memberontak mengikuti iblis. Bagaimana kalau kita tiba2 dipukul kepalanya dari
belakang oleh iblis, dan Bapa disorga tidak bisa menolong kita, sebab Ia telah
memberi kehendak bebas mutlak kepada iblis. Doktrin kehendak bebas mutlak ini
sangat menghina kedaulatan Bapa disorga. Umat kerajaan hanya percaya bahwa
segala sesuatu BERASAL DARI DIA, OLEH DIA, Dia-lah yang menyebabkan segala
sesuatu terjadi, dan KEPADA DIA, kepada kemuliaanNya, kepada maksud2Nya.
Kita bisa berbicara panjang lebar mengenai hal ini. Tetapi
untuk saat ini, cukuplah kita paham bahwa segala berkat, kenikmatan atau apapun
yang didapat dan dirasakan manusia, semua berasal dari Bapa, dan adalah berkat
Bapa disorga. Para pemimpin agama Yahudi sudah sangat diberkati Bapa disorga.
Segala kenikmatan yang didapat orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, karena uang,
jabatan, dan hormat manusia, semua berasal dari Bapa dan adalah berkat Bapa
bagi mereka. Hanya saja bagaimana mereka dapat memperoleh uang, jabatan, hormat
manusia, melalui ‘kosmos’ (dunia keagamaan) mereka, inilah yang akan kita
persoalkan kemudian.
Telah kita tegaskan bahwa gereja memerlukan para pemimpin,
tetapi para pemimpin ini sama sekali tidak mempunyai “kursi Musa”, atau
otoritas apapun atas anggota lainnya. Saat ini kita akan melihat kedalam
sejarah gereja bagaimana “kursi Musa” ini sampai masuk kedalam gereja.
Sejarah mencatat seorang bernama Ignatius (tahun 117 M)
dipandang sebagai yang pertama mengajarkan perbedaan antara para penatua (Yun:’presbuteros’),
dan bishop (Yun:’episkopos’) Ignatius ini seorang pemimpin gereja di Antiokhia
(Siria), mati martir dibawah kaisar Trajan. Ia menulis surat-surat dalam
perjalanannya ke Roma untuk mati martir disana. Kita akan mengutip bagian-bagian
dari suratnya yang mengungkapkan sesuatu yang sangat tersembunyi didalam
kedagingan manusia yaitu keinginan untuk berkuasa, atau suatu sikap meninggikan
diri diatas umat Tuhan.
Kita akan mengutip bahasa Inggrisnya, agar dapat melihat arti
yang lebih jelas. Dalam buku ‘The Apostolic Fathers’ (1956) oleh J.B Lightfoot, ada tertulis demikian: -
Plainly therefore we ought to regard the
bishop as the Lord himself (hal 65). Selanjutnya, - Therefore as the Lord did nothing without the Father, (being united
with him), either by himself or by the Apostles, so neither do ye anything
without the bishop and the presbyters (hal 70). Kemudian, - … submitting yourselves to your bishop and
presbytery, ye may be sanctified in all things (hal 64). Perhatikan
kutipan2 berikut ini, - Be obedient to the bishop (hal 72). -he that doeth aught without the bishop and
presbytery and deacons, this man is not clean in his conscience (hal 74). -
Do ye all follow your bishop, as Jesus
Christ followed the Father, and the presbytery as the Apostles (hal 84). -he that doeth aught without the knowledge of
the bishop rendereth service to the devil (hal 84).
Dalam buku ‘The History Of Christianity’, 1990, Lion Publishing, hal 83, Ignatius
bersikeras bahwa harus ada satu orang ‘bishop’ yang memimpin tiap jemaat,
supaya mencegah perpecahan dalam jemaat, dan menjamin kepercayaan2 yang benar
dapat terpelihara. Ignatius adalah seorang pemimpin yang mengikut Tuhan sampai
mati martir di Roma, tetapi melalui pengajarannya ini Tubuh Kristus jatuh
kedalam pemerintahan manusia dengan segala hierarki dan organisasinya. Ketika
gerakan yang dimulai Tuhan Yesus dan rasul-rasulNya sebagai organisme, namun
telah menjadi organisasi yang kokoh, maka dimulailah suatu zaman dalam sejarah
gereja, yang biasa disebut zaman kegelapan gereja.
Maksud Ignatius memang baik, sebab ia ingin agar setiap
jemaat terpelihara dari ajaran2 sesat, jika ada satu orang ‘bishop’ yang
memimpin. Tetapi persoalannya, apakah Alkitab mengajarkan satu orang pemimpin
ditinggikan diatas yang lainnya, atau satu orang pemimpin memiliki otoritas
atas jemaat?
Mari kita ambil satu contoh saja, bahwa para penatua (Yun:’presbuteros’),
dan bishop (Yun:’episkopos’), sama sekali tidak dibedakan, dan dipakai secara
bergantian. Dalam Titus 1:5-7, ada tertulis demikian, “… supaya engkau menetapkan penatua-penatua (presbuteros) disetiap kota… Sebab sebagai pengatur rumah Allah
seorang penilik (episkopos) jemaat…”
(LAI). Jelas terlihat disini bahwa ‘presbuteros’ itu sama dengan ‘episkopos’.
Kedua istilah ini merujuk kepada satu orang saja. ‘Presbuteros’ berarti
orang yang dewasa, sedangkan ‘episkopos’ menunjukkan fungsinya
sebagai ‘overseer’ atau ‘pelihat’.
Jadi, seorang pemimpin jemaat itu haruslah seorang dewasa, dan dapat melihat
secara rohani “serigala-serigala ganas” yang akan menyerang jemaat.
Jadi jelaslah bahwa pandangan Ignatius bahwa harus ada satu
orang ‘bishop’ yang memimpin para penatua telah melanggar firman Tuhan.
Pelanggaran ini terus berlanjut sehingga diantara uskup (bishop) tiap kota
harus ada Uskup Agung, diantara Uskup Agung harus ada seorang Kardinal, dan
diantara Kardinal harus ada seorang Paus. Demikianlah “kursi Musa” masuk
kedalam gereja, sehingga datanglah zaman kegelapan gereja, dimana hierarki atau
sistem pemerintahan manusia menguasai gereja.
Kita lanjutkan perikop kita mengenai ‘kursi Musa’ (Matius
23:1-12), dan menutupnya dengan merenungkan kesimpulan dari perikop ini pada
ayat terakhir, yaitu, “Dan barangsiapa
meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan
ditinggikan” (ayat 12). Dalam memahami Alkitab, prinsip konteks teramat
sangat penting untuk diperhatikan. Karena kalau tidak, maka seseorang dapat
saja menafsirkan ayat diatas perihal ‘meninggikan diri’ ini, terkait dengan
tutur kata seseorang, atau terkait dengan penampilannya yang ramah dan
bersahabat, atau terkait dengan segala sesuatu yang membuat orang menilai bahwa
dia rendah hati dan tidak meninggikan diri. Penafsiran seperti ini sangat
keliru. Yesus tidak berbicara sama sekali tentang perkataan seseorang, atau
penampilan seseorang, atau bahkan pelayanan seseorang, kaya atau miskinnya
seseorang, atau banyaknya pengikut seseorang, dan sebagainya.
Nampaknya kita perlu berbicara sedikit mengenai pengertian
‘konteks’. Konteks itu berasal dari dua istilah Latin, yaitu, ‘con’
(bersama) dan ‘textus’ (terjalin), artinya sesuatu yang terjalin bersama.
Kalau pengertian ini diterapkan kepada literatur, maka pengertian konteks adalah
adanya ‘alur berpikir’ (connection of thoughts) dalam suatu
karya atau tulisan. Alur berpikir inilah yang harus ditemukan agar seseorang
jangan menafsirkan suatu ayat, atau bahkan suatu kata (istilah) dalam tulisan
diluar konteksnya. Alur berpikir pada perikop kita diatas adalah jelas mengenai
‘kursi Musa’. ‘Kursi Musa’ disini jelas juga berbicara soal OTORITAS PEMIMPIN,
karena Yesus memerintahkan ‘orang banyak’ agar taat kepada pengajaran ahli2
Taurat dan orang2 Farisi yang sudah duduk di ‘kursi Musa’. Otoritas pemimpin
inilah yang menjadi ‘alur berpikir’ perikop kita. Jadi, Yesus sedang berbicara
soal otoritas pemimpin.
Telah juga kita bahas bahwa didalam gereja tidak ada ‘kursi
Musa’ (ayat 8-10). Jadi, ketika Yesus berbicara soal ‘meninggikan diri’, maka
hal ini semata-mata terkait dengan soal ‘kursi Musa’ atau soal otoritas
pemimpin. Ada dua jenis otoritas pemimpin yang diuraikan dalam perikop kita.
Pertama, otoritas para ahli Taurat dan orang2 Farisi, serta kedua, mengenai
otoritas para pemimpin gereja.
Otoritas para ahli Taurat dan orang2 Farisi atas ‘orang
banyak’ jelas adalah otoritas jabatan, atau ‘hierarki’ atau otoritas yang
dimiliki karena ‘jenjang seseorang dalam suatu hierarki’. Otoritas jenis ini
tidak boleh ada dalam gereja. Itulah maksud Yesus ketika Ia berkata pada
murid2Nya, bahwa tidak boleh ada seorangpun dari murid2Nya yang disebut
pemimpin, rabi, atau bapa. Semua murid Yesus adalah saudara, dalam arti tidak
boleh ada otoritas jabatan, otoritas ‘jenjang’ atau otoritas ‘hierarki’. Bagi
orang yang memperhatikan konteks, baik konteks dalam perikop, maupun konteks
Perjanjian (PL dan PB), maka pengertian seperti diuraikan diatas sangatlah
mudah dipahami.
Kalau demikian, apa maksud Yesus ketika Ia mengatakan, bahwa
siapa yang meninggikan diri, akan direndahkan, dan siapa yang merendahkan diri,
akan ditinggikan? Jelas maksud Yesus bahwa SIAPA DARI ANTARA PEMIMPIN GEREJA
YANG MEMILIKI KURSI MUSA MAKA PEMIMPIN INI SEDANG MENINGGIKAN DIRINYA.
Para pemimpin gereja yang memiliki “kursi Musa” pasti akan
direndahkan Yesus. Tetapi semua ini akan terjadi di pengadilan Kristus, dimana
saatnya gereja akan dihakimi Yesus. Inilah pengertian yang gamblang dari Matius
23:1-12.
Saat ini kita akan membandingkan Matius 23:1-12, mengenai
‘kursi Musa’ yang telah kita bahas, dengan Matius 20:20-28, mengenai permintaan
ibu Yakobus dan Yohanes. Alasan mengapa kita membandingkan kedua perikop ini
adalah keduanya berbicara soal “kursi”. Yang pertama soal “kursi Musa”, yang
kedua soal “kursi kerajaan sorga”.
Perhatikan permintaan ibu Yakobus dan Yohanes, demikian, “Kata Yesus: apa yang kaukehendaki? Jawabnya:
Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam
Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagidi sebelah
kiri-Mu” (20:21). Duduk didalam kerajaan Yesus tentu berbicara soal kursi
kerajaan sorga. Jelas bahwa konsep ibu Yakobus dan Yohanes ini mengenai soal
‘kursi kerajaan sorga’ sangatlah jasmani. Barangkali, ia membayangkan kerajaan
Yesus sama persis dengan kerajaan Daud, dimana disebelah kiri dan kanan kursi
Daud terdapat orang2 dekatnya. Barangkali, ia juga membayangkan jika kedua
anakku ini kelak mendapat kekuasaan dan otoritas untuk memerintah, maka akupun
mendapat kemuliaan karenanya.
Kita akan lihat kelak bahwa pengertian ibu Yakobus dan
Yohanes ini sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan pengertian yang
umumnya ada dalam diri para pemimpin dunia kekristenan. Mari kita langsung
buktikan pendapat kita ini. Bukankah jabatan2 organisasi, atau jenjang2 dalam
hierarki dunia kekristenan, umumnya, diperebutkan oleh para pemimpin? Coba
perhatikan alasan2 perpecahan yang umumnya ada dalam dunia kekristenan,
bukankah itu karena perebutan jabatan diantara para pemimpinnya? Dan memang
perpecahan dalam dunia kekristenan akan terus berlangsung selama ada “kursi
Musa”. Masing2 pemimpin ingin dan suka mendapat jabatan atau “kursi” tertinggi?
Mengapa demikian? Tentu, karena duduk di “kursi Musa” itu akan mendapatkan
uang, fasilitas dan juga hormat dari orang banyak.
Baiklah kita melihat tiga poin jawaban Yesus dalam soal ini. Pertama,
gereja tidak sama dengan pemerintahan bangsa2 (20:25). Didalam gereja yang
adalah organisme, semua adalah saudara, dan otoritas yang berlaku adalah
otoritas Hayat dari organisme itu, yaitu otoritas Yesus sendiri, karena Yesus
adalah Hayat gereja (I am the ‘zoe’). Jadi, didalam gereja tidak
boleh ada “kursi Musa”. Barangkali, ada beberapa pemimpin gereja yang beralasan
dengan menyatakan bahwa jabatan2/hierarki/organisasi itu hanyalah alat saja. Benar,
memang organisasi itu hanyalah alat saja… tetapi bukan alat ditangan Tuhan
Yesus, melainkan alat ditangan pemimpin, yang adalah manajer dari organisasi
itu. Memang ‘pengorganisasian’
merupakan salah satu tugas manajer. Tetapi sekali lagi, tidak boleh ada manajer
dalam gereja, semua saudara. Tuhan Yesus tidak membutuhkan organisasi untuk
mengatur gerejaNya. Tuhan Yesus mengatur setiap anggota gerejaNya langsung
melalui HayatNya sendiri.
Kedua, para pemimpin gereja adalah orang bebas yang menjadi hamba bagi
anggota2 gereja lainnya (20:26-27). Seharusnya tidak perlu lagi dijelaskan
perbedaan antara hamba dengan manajer. Semua orang sudah mengerti.
Ketiga, Yesus sebagai Anak Manusia datang bukan untuk dilayani,
tetapi melayani dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan banyak orang. Inilah
yang menjadi contoh bagi kita yang mengikuti Yesus.
Sebagai penutup bagian ini, mari kita perhatikan ayat 23,
demikian, “…. Itu akan diberikan kepada
orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya”. Bapa disorga telah
menyediakan dan mempersiapkan orang2 yang akan “duduk dalam kursi” kerajaan
sorga. Lukas 12:32, menegaskan, “janganlah
takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu
Kerajaan itu”.
Sebelum kita membahas tegoran2 Yesus kepada para pemimpin
agama Yahudi dalam Matius 23:13-36, baiklah kita merumuskan lebih dahulu
pembahasan kita sejauh ini mengenai perbedaan antara “kursi Musa” dan “kursi
kerajaan sorga”. Para pemimpin agama Yahudi yang duduk di “kursi Musa”, jelas
memiliki otoritas atas orang banyak, sehingga harus ditaati pengajarannya.
Sementara itu, orang2 kristen yang dipersiapkan Bapa untuk duduk di “kursi
kerajaan sorga”, adalah hamba2 (‘doulos’=hamba atau budak, Matius
20:27). Pengertian ‘doulos’ diayat ini artinya hamba kepada umat Tuhan, bukan hamba
dihadapan Tuhan. Artinya, “kursi kerajaan sorga” adalah “kursi” hamba, sehingga
mereka yang dipersiapkan Bapa disorga untuk duduk dikursi itu adalah mereka
yang tidak memiliki otoritas apapun atas
umat Tuhan. Mereka tidak menarik umat Tuhan kepada diri mereka sendiri agar
menjadi pengikut mereka, dan ber-otoritas atasnya.
Bagi orang yang mendapat kasih karunia untuk duduk “dikursi
kerajaan sorga”, tentu paham bahwa dunia kekristenan adalah gereja mula2 yang
jatuh karena masuknya “kursi Musa”. Para pemimpin agama dalam dunia kekristenan
adalah mereka yang duduk “dikursi Musa”. Semua kita memahami bahwa mereka yang
duduk di “kursi Musa” bukanlah hamba2 (‘doulos’) kepada umat Tuhan. Mereka
adalah para manajer yang mengatur umat Tuhan dengan otoritas yang mereka dapat
karena duduk “dikursi Musa”. Otoritas para pemimpin agama Kristen atas umat
Tuhan, jelas otoritas illegal. Tetapi saat ini, sudah diterima luas dalam dunia
kekristenan, bahkan sudah menjadi ajaran. Sesungguhnya, inilah ajaran palsu
Izebel yang dijelaskan dalam Wahyu 2-3, dimana Izebel merampas otoritas raja
Ahab, suaminya, dalam kasus kebun anggur Nabot. Jadi, para pemimpin agama
Kristen ini “merampas” otoritas Yesus atas umatNya.
Sekarang kita siap untuk membahas tegoran2 Yesus kepada para
pemimpin agama Yahudi ini (Matius 23:13-36). Mengapa kita harus membahas lebih
dahulu mengenai “kursi Musa” yang masuk kedalam gereja, adalah karena tegoran2
Yesus disini memang ditujukan kepada para pemimpin agama. Sejauh mana tegoran2
Yesus ini dapat diterapkan kepada para pemimpin agama dalam dunia kekristenan,
tentu kita serahkan sepenuhnya kepada Yesus yang kelak akan menghakimi kita
semua. Tetapi bagian kita adalah menggali dan menyampaikan apa yang tertulis
dalam Alkitab.
Ada 8 tegoran Yesus yang dimulai dengan ungkapan, ‘celakalah kamu… hai kamu orang-orang
munafik’, dimana hanya di ayat 16 saja, tidak terdapat ungkapan, ‘kamu orang-orang munafik’. Jadi, ada 7 x
Yesus menggunakan istilah ‘munafik’
kepada para pemimpin agama Yahudi. Mari kita lihat apa maksud Yesus dengan
istilah ‘munafik’ ini. Istilah Yunani untuk ‘munafik’ ini adalah ‘hupokrites’,
yang artinya, menjalankan suatu peran yang bukan dirinya sendiri, atau biasa
kita sebut ‘berpura-pura’. Kita akan
menyatakan 3 kepura-puraan para pemimpin agama Yahudi ini. Pertama, mereka pura2
rohani, yaitu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang (23:14). Kedua,
pura-pura bersih, dengan membersihkan bagian luar, sementara didalamnya penuh
rampasan dan kerakusan (23:25). Ketiga, pura-pura benar, sehingga
nampaknya benar dimata orang, tetapi disebelah dalam penuh kemunafikan dan
kedurjanaan (23:28). Tuhan Yesus mengumpamakan kepura-puraan para pemimpin
agama ini sama seperti ‘kuburan’. Diluarnya bagus tetapi didalamnya penuh
tulang-belulang dan pelbagai jenis kotoran (23:27).
Telah kita bahas salah satu ciri utama dari para pemimpin
agama Yahudi ini, yaitu kemunafikan atau kepura-puraan. Mereka pura2 rohani,
yaitu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang (23:14), pura-pura
bersih, dengan membersihkan bagian luar, sementara didalamnya penuh rampasan
dan kerakusan (23:25), pura-pura benar, sehingga nampaknya benar dimata orang,
tetapi disebelah dalam penuh kemunafikan dan kedurjanaan (23:28). Sikap atau
perilaku mereka yang munafik dan berpura2 ini tentu menyebabkan pengajaran
mereka juga bersifat ‘luaran’, dan tidak bersifat ‘batiniah’.
Kita akan ambil satu contoh pengajaran para pemimpin agama
Yahudi ini yang bersifat ‘luaran’, atau yang mementingkan hal2 ‘luaran’.
Perhatikan Matius 23:23, demikian, “…sebab
persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang
terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan
dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan”.
Para pemimpin agama Yahudi ini sangat mementingkan ritual persepuluhan, tetapi
kondisi batin seseorang dimana seharusnya terdapat belas kasihan, keadilan dan
kesetiaan, diabaikan. Pengajaran dan perilaku para pemimpin agama Yahudi yang
mementingkan ritual2 dan hal2 ‘luaran’, memang sesuai dengan motivasi dan
maksud perbuatan mereka, yaitu agar dilihat orang (ayat 5).
Perilaku dan pengajaran mereka yang bersifat ‘luaran’ ini,
seperti membersihkan sebelah luar dari cawan dan pinggan, tetapi sebelah
dalamnya penuh rampasan dan kerakusan (ayat 25). Sesungguhnya, Tuhan sangat
memperhatikan kondisi batin dan hati seseorang. Orang2 kudus dalam konteks
Perjanjian Lama adalah orang2 yang memiliki iman dan kasih kepada Yahweh, dan
mereka mengekspresikan iman dan kasihnya dengan mentaati Hukum Taurat. Orang2
kudus zaman PL, bukanlah orang2 yang mentaati Hukum Taurat tanpa memiliki iman
dan kasih. Sebab, dalam setiap zaman Elohim selalu mencari iman. Orang2 kudus
disetiap zaman adalah orang2 yang beriman. Tetapi, orang2 Farisi dan ahli2
Taurat zaman Yesus hanya mementingkan bentuk2 ibadah ‘luaran’, dan mengabaikan
perkara2 batiniah sama sekali. Inilah yang menjadi ciri utama perilaku dan
pengajaran orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, yaitu bersifat ‘luaran’ dan
mengabaikan hal2 yang ‘batiniah’.
Mari kita terapkan persoalan ini kedalam konteks dunia
kekristenan. Yesus berkata bahwa ibadah itu haruslah dalam ‘roh dan kebenaran’ (Yohanes 4). Ibadah
dalam roh, artinya, ibadah itu haruslah bersifat ‘batiniah’. Paulus sudah
menubuatkan bahwa pada akhir zaman orang Kristen akan menjalankan ibadah mereka
secara lahiriah, tetapi pada hakekatnya memungkiri kekuatan ibadah itu (II
Timotius 3:5). Banyak orang menjalankan ‘bentuk2 ibadah’ seperti datang
kegedung gereja tertentu, memberikan persembahan tertentu, melakukan ritual2
tertentu, tetapi kondisi batinnya kosong, dan tidak ada roh yang bernyala-nyala
untuk Tuhan.
Selanjutnya, ibadah dalam ‘kebenaran’, atau ibadah dalam ‘realita’
itu artinya ibadah bukan dalam simbol2, ritual2 dan bayangan2, seperti ibadah
dalam konteks PL. Semua aturan2 makanan, minuman, hari raya, bulan baru, sabat
dan yang lainnya dalam konteks PL hanyalah merupakan bayangan saja, sedang
realita-nya adalah Kristus didalam batin (Kolose 2:16-17).
Jadi, ibadah dalam roh dan kebenaran itu adalah ibadah dalam
arti mengikuti pimpinan Kristus didalam batin, dalam kehidupan kita
sehari-hari. Ibadah Kristen itu tidak bersifat ritual, lahiriah, ataupun ibadah
yang penuh aturan harus ini dan itu seperti dalam konteks PL. Tetapi, mari kita
renungkan ciri2 utama pengajaran para pemimpin agama dalam dunia kekristenan,
apakah sudah bersifat batiniah, ataukah lahiriah?
Saat ini kita akan membahas ciri kedua dari para pemimpin agama
Yahudi ini, yaitu kebutaan. Tentu maksud Yesus bukan kebutaan jasmani, tetapi
kebutaan rohani, sehingga tidak “melihat” perkara2 Elohim.
Mari kita lihat kebutaan para pemimpin agama Yahudi ini. Pertama,
kebutaan mereka membuat mereka tidak tahu mana yang lebih penting, dan mana
yang tidak. (23:16-22). Mereka tidak memahami bahwa Bait Suci lebih penting
dari emas Bait Suci (ayat 16-17). Mereka juga tidak memahami bahwa Mezbah lebih
penting dari pada persembahan yang diatasnya (ayat 18-19).
Kedua, kebutaan mereka menyebabkan mereka menepis “nyamuk” dan menelan “unta”
dari dalam minuman mereka (ayat 23-24). Telah kita bahas bahwa mereka
menjalankan hukum persepuluhan, tetapi mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan
kesetiaan. Ada beberapa pemimpin agama dalam dunia kekristenan yang “mencomot”
ayat ini untuk membuktikan bahwa Yesus memerintahkan hukum persepuluhan kepada
gerejaNya. Para pemimpin ini sama sekali tidak “melihat” konteks suatu ayat.
Pada ayat ini, jelas Yesus sedang berbicara kepada para pemimpin agama Yahudi
yang terkait dengan Perjanjian Musa, dan bukan sedang berbicara kepada
murid2Nya (gereja) yang terkait dengan Perjanjian Baru. Mengapa perkara yang
begitu “menyolok mata” ini tidak mampu mereka lihat?
Ketiga, kebutaan orang2 Farisi dan ahli2 Taurat menyebabkan mereka
membersihkan sebelah luar dari cawan dan pinggan, sementara didalamnya
terabaikan (ayat 25-26). Penyakit para pemimpin agama ini adalah suka akan
kehormatan manusia, lebih dari kehormatan Elohim, sehingga perbuatan mereka bertujuan
supaya dilihat orang.
Baiklah kita bahas lebih jauh lagi mengenai kebutaan rohani
ini. Gereja di Laodikia juga buta, sehingga mereka menganggap diri kaya, dan
tidak kekurangan apa2, sementara faktanya mereka buta (Wahyu 3:17,18).
Penyakitnya karena “mata” mereka tidak diolesi “minyak” Roh Kudus. Kita lihat
lagi kasus nabi Bileam, dimana penglihatan keledai lebih tajam dari pada
penglihatannya. Keledai sudah melihat Malaikat Tuhan, sementara Bileam, yang
mencintai upah, tidak melihatnya. Orang2 Farisi dan ahli2 Taurat juga disebut
“menelan rumah janda-janda”, yang tentunya berbicara soal mengambil uang dari
kaum lemah, barangkali melalui persepuluhan, pajak Bait Suci, atau yang
lainnya, sementara mereka hidup berkelimpahan. (ayat 14). Memang orang2 Farisi
itu hamba2 uang (Lukas 16:14). Nampaknya, cinta uang, atau suka menerima upah
dari pelayanan, akan membuat para pemimpin menjadi buta. Nabi yang seharusnya
menjadi ‘pelihat’, dan juga para pemimpin gereja (‘episkopos’=overseer=pelihat), yang seharusnya dapat
melihat serangan2 “serigala ganas” atas kawanan domba, menjadi buta dan tumpul
karena mencintai upah dari pelayanannya.
Satu lagi hal yang perlu kita tambahkan disini bahwa kunci
agar dapat melihat diri sendiri, atau melihat kondisi umat Tuhan adalah melihat
Tuhan (Yesaya 6:1,5). Disini, Yesaya mendapat kasih karunia Tuhan untuk
melihatNya. Semua orang lahir sebagai orang “buta”. Semoga kita mendapat kasih
karuniaNya untuk melihat Tuhan, dan karenanya, dapat mengenal diri kita dan
mengenal kondisi umat Tuhan.
Mari kita membahas karakteristik berikutnya dari para
pemimpin agama Yahudi ini yang tertulis dalam Matius 23:33, demikian, ”Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular
beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?”.
Yesus menyebut para pemimpin agama Yahudi yang “duduk “dikursi Musa” ini
sebagai ular2 dan keturunan ular beludak, serta tidak dapat meluputkan diri
dari hukuman neraka.
Ada beberapa hal yang perlu kita pahami disini agar kita
dapat meng-aplikasikan perkataan Yesus kepada kondisi kita saat ini. Sebab,
jika tidak ada kait-mengaitnya perkataan Yesus bagi kita saat ini, apa gunanya
perkataan Yesus ini ditulis dalam Alkitab? Perkataan Yesus ini pasti dapat
diterapkan kepada dunia kekristenan, namun kita harus lebih dahulu paham apa
maksud Yesus berkata demikian.
Pertama, kita harus paham bahwa Yesus tidak sedang menghina para
pemimpin agama Yahudi. Yesus tidak pernah menghina seorang manusiapun, karena
Ia mengasihi semua orang sebagaimana Bapa disorga. Kedua, kita harus paham
bahwa ular yang dimaksud Yesus jelas bukan ular jasmani yang sering kita lihat
dikebun binatang, sebab ditegaskan bahwa para pemimpin agama Yahudi yang adalah
manusia ini disebut sebagai keturunan ular. Ketiga, karenanya, orang2
Farisi dan ahli2 Taurat yang disebut Yesus sebagai keturunan ular,
mengungkapkan suatu kebenaran, atau realita, atau apa adanya sesuatu. Jadi,
memang benar bahwa para pemimpin agama Yahudi ini keturunan ular beludak.
Kalau demikian, siapakah ular yang dimaksud Yesus disini?
Yohanes 8:44, tegas menyatakan bahwa iblislah yang menjadi bapa dari para
pemimpin agama Yahudi ini, sekaligus Yesus jelaskan identitas iblis ini, yaitu
pembunuh manusia sejak semula, dan bapa segala dusta. Terbukti bahwa Yesus
dibunuh oleh para pemimpin agama Yahudi. Yesus tidak dibunuh oleh Pontius
Pilatus dan tentara Roma pada waktu itu. Mereka ini hanya alat ditangan
Mahkamah Agama Yahudi yang diketuai oleh Imam Besar Kayafas, sebab Mahkamah
Agama Yahudi tidak mendapat izin dari penguasa Roma pada waktu itu untuk
membunuh seseorang yang dianggap penyesat.
Sekarang kita masuk kedalam pertanyaan yang sangat penting,
yaitu apa yang dilakukan iblis kepada para pemimpin agama Yahudi ini? Mari kita
lihat dahulu kasus dimana Yesus menegor Petrus dengan ucapan, ‘Enyahlah iblis’
(Matius 16:23). Diayat ini juga Yesus memberi alasan mengapa Ia berkata
demikian kepada Petrus, yaitu ‘engkau
bukan memikirkan apa yang dipikirkan Elohim, melainkan apa yang dipikirkan manusia’.
Kita tahu bahwa motivasi dari perbuatan Petrus ini disebabkan ia merasa sayang
jika Yesus harus dibunuh oleh tua2, imam2 kepala dan ahli2 Taurat. Jadi, Petrus
memikirkan yang baik tentang Yesus, hanya itu merupakan pikiran manusia.
Disinilah iblis menabur “benih” pikiran baik manusiawi kepada Petrus, dan itu
justru bertentangan dengan kehendak Bapa disorga.
Jadi, iblis menaburkan “benihnya” kepada para pemimpin agama
Yahudi ini, entahkan itu pikiran baik manusiawi, atau kebencian, atau apapun
itu juga. Yang jelas tujuan dari iblis ini adalah mendustai untuk membunuh
manusia, karena itulah identitasnya.
Sebelum kita terapkan pembahasan kita kedalam dunia
kekristenan, mari kita mengingat perumpamaan ‘Lalang diantara Gandum’ yang
sudah kita bahas, dimana iblis menaburkan benihnya juga. Kita lihat bahwa baik
lalang maupun gandum ada didalam kerajaan sorga, dan Tuhan membiarkan mereka
tumbuh bersama-sama. Hanya pada
waktuNya, pada kedatangan Kristus, Tuhan akan memisahkan lalang dari antara
gandum.
Dalam dunia kekristenan terdapat “benih lalang” yang ditabur
iblis, dan juga “benih gandum” yang ditabur Yesus. Wahyu 2-3 menjelaskan kepada
kita “benih” yang ditabur iblis adalah ajaran palsu Izebel, Bileam dan Nikolaus
yang sudah diterima luas oleh dunia kekristenan. Pada waktu kedatangan Yesus,
“lalang” ini akan dicampakkan kedalam dapur api, dimana terdapat ratapan dan
kertakan gigi (Matius 13:42). Saat ini memang belum waktunya bagi orang Kristen
untuk mengetahui siapa “lalang” dan siapa “gandum”, yang jelas baik “lalang”
maupun “gandum” adalah orang kristen lahir baru dan menjadi anggota kerajaan
sorga. Semua ada diladangnya Tuhan. Pada kedatangan Kristus kelak, semua
menjadi jelas.
Setelah Yesus selesai menegor para pemimpin agama Yahudi,
maka Ia menegaskan, “Yerusalem,
Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang
yang diutus kepadamu.... Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi
sunyi. Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku
lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan”
(Matius 23:37-39). Disini, Yesus menegaskan bahwa “rumah” bangsa Yahudi
ditinggalkan sunyi, sampai pada akhirnya mereka menyambut Dia yang datang dalam
nama Tuhan. Karena bangsa Yahudi secara keseluruhan, telah menolak Yesus sebagai
Mesias, maka Ia meninggalkan Bait Suci dan mulai mengajarkan beberapa hal
kepada murid2Nya. PengajaranNya ini biasa disebut khotbah tentang akhir zaman
(Matius 24-25).
Pengajaran Yesus didasarkan atas pertanyaan murid2 demikian,
“…Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu
akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?”
(Matius 24:3). Pengajaran Yesus dalam pasal 24-25 ini sesungguhnya berbicara
mengenai bangsa Yahudi, mengenai bangsa-bangsa, dan juga mengenai
kedatanganNya.
Kita mulai membahas mengenai kedatanganNya. Dalam dunia
kekristenan telah sangat popular istilah atau ungkapan ‘kedatangan Yesus kedua kali’. Dari ungkapan ini terlihat suatu
konsep kedatangan Yesus ‘secara jasmani’.
Pertama kali Yesus datang secara jasmani 2000 tahun yang lalu yang tentunya
terlihat oleh mata jasmani, kemudian Yesus akan datang lagi “kedua kalinya”
secara jasmani, dan juga terlihat oleh mata jasmani. Sesungguhnya, dalam kitab2
PB tidak pernah ada ungkapan ‘kedatangan
kedua kali’, atau ‘kedatangan Yesus
kedua kali’. Pemahaman “jasmani” seperti ini membuat kita kehilangan makna
dan esensi dari kedatangan Yesus. Kami telah menulis tentang topik kedatangan
Tuhan, dan disini kita hanya kan melihat sekilas saja agar memahami esensi dari
kedatangan Yesus.
Ada 6 istilah Yunani yang diterjemahkan ‘kedatangan’ dalam
kitab2 PB. Keenam istilah Yunani itu adalah, pertama, PAROUSIA.
Istilah ini muncul 24 kali dalam PB dan ia berasal dari kata kerja PAREMI, yang
berarti ‘to be present’ (hadir). Kata
bendanya berarti kehadiran (presence).
PAROUSIA tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya seseorang,
tetapi menunjukkan kehadiran seseorang yang sudah datang. Penggunaan istilah
PAROUSIA didalam PB juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan secara fisik.
Jadi, istilah Parousia berarti kehadiran. Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam
namaNya, disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA.
Istilah Yunani kedua, APOKALUPSIS. Istilah ini
berasal dari kata kerja APOKALUPTO yang berarti ‘menyingkapkan’, yang
menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari
seseorang yang tadinya terselubung.
Istilah Yunani ketiga adalah EPIPHANEIA. Istilah
ini muncul sebanyak 6 kali dalam PB. Istilah ini berasal dari kata kerja yang
berarti ‘membawa kepada terang’ atau ‘tersingkap’. Kata bendanya berarti
‘manifestasi’. Istilah ini digunakan untuk mengungkapkan kemuliaan dan
kemegahan yang termanifestasi oleh kedatangan Tuhan.
Istilah Yunani keempat, PHANEROO. Istilah ini
berarti membuat nyata atau menjadi nampak. Namun bukan berarti kehadiran yang
terlihat mata, tetapi suatu persepsi.
Istilah Yunani berikutnya adalah ERCHOMAI. Istilah
ini digunakan untuk menunjukkan tindakan actual dari suatu kedatangan. Istilah
ini tidak sama artinya dengan PAROUSIA yang berarti kehadiran seseorang yang
telah datang. ERCHOMAI digunakan dalam Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang (SUATU TINDAKAN DATANG) dengan awan-awan…”.
Istilah Yunani keenam adalah HEKO. Kata ini
menekankan kedatangan pada suatu tempat tertentu. Kata ini terdapat dalam Wahyu
2:25, “Tetapi apa yang ada padamu,
peganglah itu sampai Aku DATANG”.
Sudah tentu bahwa keenam istilah Yunani ini bukan berarti ada
enam jenis berbeda dari kedatangan Tuhan, tetapi penggunaan yang berbeda dari istilah
ini membuat kita memahami makna yang dimaksud suatu teks yang berbicara tentang
kedatangan Tuhan. Untuk saat ini cukuplah kita pahami bahwa kedatangan Tuhan
itu TIDAKLAH HARUS BERBENTUK KEDATANGAN SECARA FISIK.
Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai kedatangan Tuhan.
Telah kita bahas dari 6 istilah Yunani, bahwa kedatanganNya tidaklah harus
merupakan kedatangan secara fisik. Mari kita melihat satu contoh yang berbicara
mengenai kedatanganNya dalam kitab Matius yang merupakan bagian dari pembahasan
kita, yaitu Matius 24:27, demikian, “Sebab
sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai
ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia”.
Ayat diatas ini seolah-olah mengatakan bahwa kedatangan Anak
Manusia itu seperti suatu kejadian mendadak dilangit jasmani, dimana
kedatanganNya terjadi seperti kilat memancar dari timur ke barat. Tidak
demikian maksud ayat ini. Kunci pemahaman ayat ini terletak pada istilah Yunani
yang diterjemahkan “kilat memancar”,
yaitu ASTRAPE. Strong’s mendefinisikannya sebagai, a flash of lightning, brightness, luster, dimana ASTRAPE berasal
dari kata ASTRAPTO yang berarti lightning;
by analogy, glare. Para ahli memahami istilah Yunani ini sebagai ‘sinar terang’ dari suatu sumber terang,
dan bukan cahaya kilat yang mendadak memancar dari suatu lokasi ke lokasi
lainnya. Jika kedatangan Tuhan seperti kilat memancar, yang berarti hanya
terjadi di suatu lokasi tertentu saja, maka hal ini bertentangan dengan ayat
lainnya yang mengatakan bahwa ‘setiap
mata akan memandang Dia’.
Sebelum kita mengambil kesimpulan pemahaman ayat kita diatas,
mari kita renungkan cahaya apa yang memancar dari timur ke barat? Bukankah ini
cahaya matahari… dan kita tahu bahwa Tuhan adalah matahari bagi kita (Mazmur
84:12). SinarNya menerangi roh, jiwa dan tubuh kita sehingga roh, jiwa, dan
tubuh kita terpelihara sempurna…
Jadi, ayat ini harus diterjemahkan, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan
cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah KEHADIRAN (Parousia) Anak Manusia”.
Artinya, KEHADIRANNYA seperti cahaya matahari yang semakin terang menyinari
seluruh keberadaan kita. Jadi, kehadiran (parousia)
Tuhan itu berlangsung terus menerus didalam diri kita sampai seluruh keberadaan
kita diresapi total olehNya.
Disini sekali lagi kita melihat konsep kedatangan Tuhan
tidaklah secara jasmani. Kedatangan Tuhan adalah perkara batiniah. Jika
pengertian kita tentang kedatangan Tuhan itu adalah kedatangan Yesus dari
langit yang dapat dilihat oleh mata jasmani, maka kita sudah kehilangan banyak
pengertian yang benar tentang kedatanganNya. Sudah waktunya kita melihat ESENSI
dari kedatangan Tuhan, yaitu terjadi
secara Roh didalam batin kita.
Jadi sesungguhnya, kedatangan Tuhan itu bersifat progresif,
artinya terus menerus dan berkemajuan, semakin dalam dan semakin dalam sampai
seluruh rencana Bapa digenapi, yaitu Langit dan Bumi yang baru. Tuhan sudah
datang, sedang datang dan akan datang. Dimana 2-3 orang berkumpul didalam
namaNya, disitu Tuhan hadir (Parousia).
Dengan menyatakan bahwa kedatangan Tuhan terjadi secara
batiniah didalam roh kita, tidaklah berarti bahwa kedatanganNya yang merupakan
‘kesudahan dunia’ merupakan sesuatu
yang hanya terjadi di alam roh saja. Selanjutnya, kita akan membahas apa yang
terjadi dibumi ini pada saat kedatanganNya, sebagaimana dijelaskan dalam Matius
24 ini.
Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai kedatangan Tuhan.
Telah kita bahas dari 6 istilah Yunani, bahwa kedatanganNya tidaklah harus
merupakan kedatangan secara fisik. Mari kita melihat satu contoh yang berbicara
mengenai kedatanganNya dalam kitab Matius yang merupakan bagian dari pembahasan
kita, yaitu Matius 24:27, demikian, “Sebab
sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai
ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia”.
Ayat diatas ini seolah-olah mengatakan bahwa kedatangan Anak
Manusia itu seperti suatu kejadian mendadak dilangit jasmani, dimana
kedatanganNya terjadi seperti kilat memancar dari timur ke barat. Tidak
demikian maksud ayat ini. Kunci pemahaman ayat ini terletak pada istilah Yunani
yang diterjemahkan “kilat memancar”,
yaitu ASTRAPE. Strong’s mendefinisikannya sebagai, a flash of lightning, brightness, luster, dimana ASTRAPE berasal
dari kata ASTRAPTO yang berarti lightning;
by analogy, glare. Para ahli memahami istilah Yunani ini sebagai ‘sinar terang’ dari suatu sumber terang,
dan bukan cahaya kilat yang mendadak memancar dari suatu lokasi ke lokasi
lainnya. Jika kedatangan Tuhan seperti kilat memancar, yang berarti hanya
terjadi di suatu lokasi tertentu saja, maka hal ini bertentangan dengan ayat
lainnya yang mengatakan bahwa ‘setiap
mata akan memandang Dia’.
Sebelum kita mengambil kesimpulan pemahaman ayat kita diatas,
mari kita renungkan cahaya apa yang memancar dari timur ke barat? Bukankah ini
cahaya matahari… dan kita tahu bahwa Tuhan adalah matahari bagi kita (Mazmur
84:12). SinarNya menerangi roh, jiwa dan tubuh kita sehingga roh, jiwa, dan
tubuh kita terpelihara sempurna…
Jadi, ayat ini harus diterjemahkan, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan
cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah KEHADIRAN (Parousia) Anak Manusia”. Artinya,
KEHADIRANNYA seperti cahaya matahari yang semakin terang menyinari seluruh
keberadaan kita. Jadi, kehadiran (parousia)
Tuhan itu berlangsung terus menerus didalam diri kita sampai seluruh keberadaan
kita diresapi total olehNya.
Disini sekali lagi kita melihat konsep kedatangan Tuhan
tidaklah secara jasmani. Kedatangan Tuhan adalah perkara batiniah. Jika
pengertian kita tentang kedatangan Tuhan itu adalah kedatangan Yesus dari
langit yang dapat dilihat oleh mata jasmani, maka kita sudah kehilangan banyak
pengertian yang benar tentang kedatanganNya. Sudah waktunya kita melihat ESENSI
dari kedatangan Tuhan, yaitu terjadi
secara Roh didalam batin kita.
Jadi sesungguhnya, kedatangan Tuhan itu bersifat progresif,
artinya terus menerus dan berkemajuan, semakin dalam dan semakin dalam sampai
seluruh rencana Bapa digenapi, yaitu Langit dan Bumi yang baru. Tuhan sudah
datang, sedang datang dan akan datang. Dimana 2-3 orang berkumpul didalam
namaNya, disitu Tuhan hadir (Parousia).
Dengan menyatakan bahwa kedatangan Tuhan terjadi secara
batiniah didalam roh kita, tidaklah berarti bahwa kedatanganNya yang merupakan
‘kesudahan dunia’ merupakan sesuatu
yang hanya terjadi di alam roh saja. Selanjutnya, kita akan membahas apa yang
terjadi dibumi ini pada saat kedatanganNya, sebagaimana dijelaskan dalam Matius
24 ini.
Kita melanjutkan ministri malaikat ketujuh yang menumpahkan
cawannya ke angkasa (Wahyu 16:17-21), dimana ministri ini terkait penghakiman
‘Babel”. Sesungguhnya, penjelasan ministri malaikat ketujuh terkait ‘Babel’ ini
terus berlanjut sampai pasal 18, dan ditutup oleh ‘nyanyian kemenangan di
sorga’ dalam Wahyu 19:1-5. Mengapa demikian panjang? Sebab, setelah penghakiman
‘Babel’ selesai, maka ‘pernikahan Anak Domba’ dapat terlaksana. Mempelai
Kristus sejati perlu dipersiapkan, dan dinyatakan. (19:7). Karena, setelah
terjadi ‘pernikahan Anak Domba’, maka kerajaan Kristus (kepala dan Tubuh) mulai
menghakimi dan berperang dalam kebenaran untuk memulihkan segala sesuatu
(19:11-16). Ministri kerajaan Kristus inilah yang akhirnya menghadirkan Langit
dan Bumi Baru, dimana tidak ada lagi ‘maut’ yang merupakan upah dosa (21:4).
Mari kita masuk kedalam ‘penghakiman Babel’ ini. Wahyu 17:1,
menegaskan, “Dan datanglah satu dari
ketujuh malaikat yang membawa ketujuh cawan itu dan dia berbicara denganku,
seraya mengatakan kepadaku, Marilah, aku akan menunjukkan kepadamu penghakiman
atas pelacur besar yang duduk di atas air yang banyak” (ILT). Siapakah
‘pelacur besar’ yang akan dihakimi? Wahyu 17:18, menegaskan bahwa perempuan
yang dilihat oleh rasul Yohanes adalah ‘kota besar’, dan ‘kota besar’ itu
adalah ‘Babel’ (18:2). Jadi, ‘perempuan pelacur’ itu ADALAH ‘kota besar’, yaitu
Babel.
Kita harus tetap mengingat bahwa kota Babel yang dijelaskan
dalam Kejadian 10-11, adalah kota jasmani yang memang benar2 ada dalam sejarah.
Sementara, ‘kota Babel’ yang tertulis dalam kitab Wahyu adalah ‘simbol’. Kita
dapat mengetahui makna dari suatu simbol itu dengan memperhatikan sejarahnya.
Babel adalah salah satu dari kota kerajaan yang dibangun Nimrod (Kejadian
10:8-10). Nimrod adalah orang yang pertama kali berkuasa dibumi dan, “ia seorang pemburu yang gagah perkasa di
hadapan TUHAN…” (Kejadian 10:9).
Banyak orang mengira bahwa Nimrod ini seorang yang melayani
dan hidup DIHADAPAN Tuhan (Kej. 10:9). Tetapi kita telah tahu bahwa Strong’s
Concordance mengungkapkan fakta mengenai istilah Ibrani PANIM yang
diterjemahkan DIHADAPAN mempunyai arti yang sangat bervariasi. Dalam Kej.10:9
seperti misalnya Bil. 16:2, istilah Ibrani PANIM yang diterjemahkan DIHADAPAN
juga memiliki arti literal MEMBERONTAK. Dan didalam Jewish Encyclopedia, nama
Nimrod berarti ia yang membuat semua orang memberontak melawan Tuhan.
Terjemahan Alkitab ILT (Indonesian Literal Translation)
membuat catatan kaki untuk terjemahan DIHADAPAN, yaitu TEGAR MENENTANG. Dapat
disimpulkan bahwa Nimrod ini adalah seorang yang memberontak dan tegar
menentang Tuhan, dan Nimrod mendirikan kerajaan sendiri dimana salah satunya
adalah Babel.
Perempuan pelacur dan kota Babel yang dilihat rasul Yohanes
memiliki makna yang sama. Kedua simbol ini sama-sama merujuk kepada gereja,
tetapi gereja yang akan dihakimi. Gereja yang mendapat simbol ‘perempuan
pelacur’ atau ‘kota Babel’ ini dihakimi, agar mempelai sejati Anak Domba dapat
tampil.
Telah kita tegaskan bahwa esensi kedatangan (Parousia=kehadiran) Tuhan Yesus terjadi
secara ‘Roh didalam batin kita’. Ini
tidak berarti kehadiranNya hanya mempengaruhi alam roh saja. Saat ini kita akan
membahas kedatangan Tuhan Yesus yang tertulis dalam Matius 24:29-30, demikian,
“Segera sesudah siksaan pada masa itu,
matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan
berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan
tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan
mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan
segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya”.
Kedatangan Tuhan Yesus disini sama artinya dengan kesudahan
dunia (24:3). Tetapi kita perlu memahami makna dari ‘kesudahan dunia’, sebab
jika tidak, maka kita akan membayangkan adanya kehancuran total dari bumi kita
ini. Bayangkan jika bintang-bintang berjatuhan dari langit, seperti ayat kita
diatas, matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, maka tentu kita
membayangkan bumi akan hancur total. Tidak demikian maksud ayat2 kita diatas.
Kita perlu melihat tulisan2 rasul Yohanes terkait dengan
makna ‘kesudahan dunia’, karena
tulisan2 rasul Yohanes memakai istilah ‘dunia’
dengan suatu makna Teologis yang sangat penting. Istilah ‘dunia’ (Yunani: ’kosmos’),
berarti suatu sistem. Didalam kamus2, sistem berarti kelompok dari berbagai
sesuatu, yang bekerja bersama-sama dalam suatu aturan tertentu. Didalam dunia
saat ini, ada sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, dan juga sistem
agama. Semua sistem ini terkait satu dengan lainnya, karena sesungguhnya
penguasa dari sistem ini adalah iblis (Yohanes 12:31; 14:30; 16:11; I Korintus
2:6,8; Efesus 2:2; 6:12).
Kalau demikian, apakah maknanya kesudahan dunia? Kesudahan
dunia berarti kesudahan dari sistem yang dikuasai oleh iblis, dan diganti
dengan suatu sistem yang lainnya. Perhatikan ayat2 dalam kitab Wahyu berikut
ini. Wahyu 3:21, “Barangsiapa menang, ia
akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku…”. Wahyu 5:10, “dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja
dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi”
(ILT). Wahyu 20:4, “Lalu aku melihat
takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan
kuasa untuk menghakimi…”. Dari ayat2 ini, dapat kita ketahui bahwa
kesudahan dunia (kesudahan sistem)
berarti sistem lama yang saat ini dikuasai iblis, diambil alih oleh para
pemenangNya, dimana para pemenangNya berfungsi sebagai imam2 dan raja2. Yesus
sebagai Raja diatas segala raja, dan Imam Besar menurut aturan Melkisedek, yang
memimpin imam2. Demikianlah makna ‘kesudahan dunia’ dimana sistem lama yang
dikuasai iblis, diganti dengan sistem yang baru yang dikuasai Yesus dan para
pemenangNya.
Karenanya, makna bintang-bintang berjatuhan dari langit,
seperti ayat kita diatas, matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, jangan
dipahami secara harfiah. Bintang2, matahari, dan bulan adalah simbol dari
penguasa dunia (sistem) lama. Sistem yang lama digoncangkan pada saat
kedatangan Tuhan Yesus. Dan ditegaskan juga bahwa Anak Manusia datang di atas
awan-awan. Diseluruh Alkitab, jika istilah ‘awan’ muncul dalam bentuk tunggal,
maka itu menunjuk kepada awan kemuliaan Tuhan, tetapi jika muncul dalam bentuk
jamak, maka awan2 berarti saksi2 Tuhan atau orang2 kudus. Jadi, kedatangan
Tuhan Yesus terjadi didalam dan melalui para pemenangNya. Inilah makna ‘Anak Manusia datang di atas awan-awan’.
Peristiwa kedatangan Tuhan Yesus ini dijelaskan Paulus dalam Roma 8:19-21.
Telah kita lihat bahwa kedatangan Tuhan Yesus (biasa disebut
“kedua kali”), atau kesudahan dunia, itu berarti digantinya sistem lama yang
dikuasai iblis, dengan sistem baru dimana Yesus dan gereja pemenangNya akan
menjalankan fungsi raja2 dan imam2 dibumi. Perhatikan Wahyu 11:15, demikian, “Lalu malaikat yang ketujuh meniup
sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya:
Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan ‘Dia’ yang diurapiNya, dan
Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya”. Terjemahan LAI
menggunakan huruf besar ‘Dia’,
seolah-olah menunjuk kepada Yesus Kristus. Tetapi sebenarnya harus menggunakan
huruf kecil ‘dia’, yang menunjuk
kepada gereja pemenang. Hal ini sesuai dengan ayat2 lain dalam kitab Wahyu yang
menyatakan bahwa Yesus dan gereja pemenang akan memerintah dizaman berikut.
Saat ini kita akan memperhatikan perkataan Yesus atau nubuat
Yesus menjelang kedatanganNya. Pertama, bangsa akan bangkit melawan
bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi
(24:7). Bagi bangsa Yahudi, akan terjadi kehancuran kota Yerusalem dan Bait
Suci, yang telah digenapi tahun 70 M. Dan, Injil kerajaan harus diberitakan
keseluruh dunia sebagai kesaksian bagi bangsa-bangsa (24:14).
Kedua, Yesus menegaskan bahwa kedatangan Anak Manusia akan bersesuaian dengan
apa yang terjadi pada zaman Nuh (24:37-42). Bagi para penganut ajaran ‘rapture’ (keterangkatan), bagian firman
Tuhan ini merupakan bukti bahwa pada saat kedatanganNya, orang2 kudus akan
“diangkat” untuk bertemu Tuhan, dan orang2 jahat “ditinggalkan” dibumi.
Tetapi, jika kita perhatikan dengan baik bagian firman Tuhan
ini, maka justru sebaliknyalah yang terjadi. Yang “diangkat” dari bumi oleh air
bah adalah orang2 jahat, sementara Nuh dan seisi rumahnya diselamatkan dari air
bah dan kembali kebumi, karena bumi memang merupakan bagian atau warisan bagi orang2
yang lemah lembut (Matius 5:5).
Ketiga, Yesus menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang tahu kapan
Anak Manusia akan datang, dalam arti kapan kesudahan dunia terjadi, karenanya
Yesus menasihatkan kita untuk siap sedia, sebab Anak Manusia datang pada saat
yang tidak kita duga (24:44). Bagaimana caranya kita bersiap sedia? Dengan
berlaku sebagai hamba yang setia dan bijaksana, dan selalu menjalankan tugasnya
untuk memberikan makanan kepada umat Tuhan. Setia disini merupakan sikap kepada
Tuhan, sedangkan bijaksana merupakan sikap kepada umat Tuhan.
Yesus juga mengingatkan hamba2 yang jahat, dimana mereka
memukul hamba2 lain, serta makan minum bersama pemabuk2. Memukul disini tentu
tidak harus berarti memukul secara fisik, tetapi memperlakukan sesama hamba
Tuhan dengan curang. Makan, minum merupakan sesuatu yang normal, tetapi jika
makan, minum bersama2 pemabuk, ini berarti menjalankan gaya hidup hedon. Hamba2
Tuhan yang dipengaruhi ajaran kemakmuran sudah pasti menyukai ‘hedonisme’,
yaitu pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan
hidup. Yesus mengingatkan kepada hamba yang jahat ini bahwa pada saat
kedatanganNya, Ia akan membuat dia senasib dengan orang2 munafik (24:51).
Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai apa yang akan terjadi
pada saat kedatanganNya kebumi. Kita tahu bahwa tujuan kedatangan Yesus kebumi
adalah untuk menegakkan kerajaanNya. Itu sebabnya Yesus hanya memberitakan
khabar baik kerajaanNya (kerajaan sorga), dan mengajarkan kita berdoa, supaya
kerajaanNya datang kebumi ini. Matius 25:1 menegaskan, “Pada waktu itu…”. Artinya, pada saat kedatanganNya, maka perihal
kerajaan sorga yang akan ditegakkan dibumi, akan seperti ‘gadis2 bijaksana dan bodoh’, juga seperti ‘hamba2 yang dipercayakan talenta’, dan ‘penyeleksian (adanya seleksi) bangsa2
dibumi’.
Mari kita mulai dengan membahas ‘gadis2 bijaksana dan bodoh’. Tentu, cerita ini berbentuk
perumpamaan. Menggambarkan siapakah gadis2 didalam perumpamaan ini? Gadis2 ini
tentu menggambarkan orang2 kudus yang sudah percaya Yesus dan lahir baru. Ada
beberapa alasan yang dapat dikemukakan disini. Pertama, didalam Alkitab,
gadis (perawan) selalu menggambarkan orang percaya. Orang2 berdosa tidak pernah
digambarkan sebagai perawan2. Kedua, orang2 berdosa tidak mungkin
menanti-nantikan kedatangan Tuhan Yesus, sebagaimana gadis2 ini. Ketiga,
orang2 berdosa tidak memiliki pelita (terang), atau juga minyak (Roh Kudus). Keempat,
orang2 berdosa tidak mungkin mendengar suara yang berkata ‘mempelai datang’, apalagi pergi menyongsongNya seperti yang
dilakukan oleh semua gadis dalam perumpamaan ini. Jadi, sudah jelas bahwa semua
gadis ini menggambarkan orang2 kudus yang sudah lahir baru. Yang membedakannya
hanyalah sebagian bijaksana, dan sebagian lagi bodoh.
Apa yang membedakan orang2 kristen sejati ini (gadis2),
sehingga yang satu disebut bijaksana, sedangkan yang lainnya disebut bodoh?
Ayat 3 menjelaskan bahwa gadis2 ‘bodoh’ membawa pelitanya, tetapi tidak membawa
minyak. “Pelita” disini berbicara perihal roh manusia (Amsal 20:27), dan
“minyak” tentu berbicara tentang Roh Kudus. Gadis2 bodoh ini tidak
mempersiapkan minyak agar pelitanya terus menyala, sementara menantikan
Mempelai laki-laki, sedangkan gadis2 bijaksana mempersiapkan minyak, sehingga
pada saat kedatangan Mempelai laki-laki, maka pelita mereka tetap bernyala.
Kalau demikian, dari cerita diatas, bagaimana kita membedakan
orang2 kristen ‘bodoh’ dan orang2 kristen ‘bijaksana’ yang sedang menantikan
kedatangan Tuhan Yesus? Perhatikanlah bahwa perbedaannya hanyalah soal apakah
“pelitanya” terus menyala atau tidak. Orang2 kristen bijaksana selalu
“menyediakan/membiarkan” Roh Kudus bekerja dalam rohnya, sehingga rohnya selalu
bernyala-nyala untuk Tuhan. Sedangkan orang2 kristen bodoh, memang rohnya
menyala-nyala juga pada awalnya, tetapi tidak bertahan lama. Dengan berjalannya
waktu, orang2 kristen bodoh pada akhirnya “redup”, dan rohnya tidak
bernyala-nyala lagi bagi Tuhan.
Sekarang kita masuk kedalam pertanyaan yang sangat penting,
yaitu bagaimana caranya agar roh orang kristen selalu bernyala-nyala bagi
Tuhan. Mari kita lihat contoh gereja mula-mula, sebab gereja mula-mula ditulis
didalam Kitab Kisah Para Rasul, agar menjadi contoh bagi kita. Didalam kitab
Kisah Para Rasul yang hanya 28 pasal saja, ada tertulis ungkapan2 seperti ‘mendengar suara Roh’, ‘Roh berbisik’,
‘dipimpin Roh’, “Roh melarang’ dan sebagainya; ungkapan2 seperti ini ada
sebanyak 70 kali. Artinya, SEMUA orang Kristen mula2, baik para pemimpinnya,
maupun anggota2nya dipimpin oleh Roh Kudus. Itu sebabnya, semua anggota gereja
mula2 selalu bernyala2 bagi Tuhan.
Mari kita lihat kondisi dunia kekristenan. Tentu kita
menyadari bahwa ada banyak orang2 kristen “ktp” dalam dunia kekristenan yang
belum lahir baru. Namun, kita tidak membicarakan orang2 kristen “ktp” ini. Yang
kita bicarakan adalah orang2 kristen lahir baru (“gadis-gadis”) dalam dunia
kekristenan. ESENSI dari kejatuhan dunia kekristenan adalah PERAMPASAN otoritas
Roh Kudus atas SELURUH anggota gereja oleh PARA PEMIMPINNYA (Kis. 20:30).
Ketika otoritas Roh Kudus atas seluruh anggota gereja dirampas, maka tidak lagi
seluruh anggota gereja MENDENGARKAN suara Roh Kudus LANGSUNG. Tidak dapat lagi
semua anggota gereja dipimpin Roh Kudus, sebagaimana gereja mula-mula. Sebagian
orang2 kristen mendengarkan dan mengikuti pemimpin ini, sebagian lagi mengikuti
pemimpin itu. Para pemimpin ini telah membuat “kotak2” denominasi, sehingga
anggota2nya tidak dapat lagi langsung dipimpin dan mendengar suara Roh Kudus.
Perilaku para pemimpin dalam dunia kekristenan ini menyebabkan timbulnya orang2
kristen “bodoh” yang rohnya tidak lagi menyala-nyala bagi Tuhan. “Pelita” orang
Kristen bodoh ini padam karena kehabisan “minyak” Roh Kudus, sebab yang
diikutinya bukan lagi Roh Kudus, tetapi pemimpinnya. Demikianlah kondisi dunia
kekristenan sepanjang zaman gereja.
Tetapi, oleh kasih karuniaNya, umat kerajaan ada diluar dunia
kekristenan, sehingga dapat mengikuti pimpinan Roh Kudus kemana saja Roh Kudus
menghendakinya. Pada saat kedatanganNya, Yesus akan menilai kita semua,
termasuk para pemimpin gereja yang merampas otoritas Roh Kudus atas umatNya.
Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai apa yang akan terjadi
pada saat kedatanganNya. Matius 25:14, menegaskan, “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian keluar
negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka”.
Diceritakan dalam perikop ini bahwa ada tiga hamba Tuhan yang dipercayakan 5 Talenta,
2 Talenta, dan 1 Talenta (Matius 25:14-30). Banyaknya Talenta yang diberikan
Tuhan kepada tiga hambaNya ini sudah sesuai dengan kemampuan masing2. Jadi,
seharusnya ketiga hamba ini dapat mengembangkan Talentanya sebagaimana yang
Tuhan inginkan.
Kemudian, hamba yang dipercayakan 5 Talenta ini menjalankan
uang Tuannya dan memperoleh laba 5 Talenta. Demikian juga hamba yang
dipercayakan 2 Talenta memperoleh laba 2 Talenta. Tetapi, hamba yang
dipercayakan 1 Talenta ini tidak mengembangkan uang Tuannya. Selanjutnya,
ketika tiba ‘hari perhitungan’, maka
baik hamba yang dipercayakan 5 Talenta dan yang dipercayakan 2 Talenta mendapat
pujian yang sama dari tuan mereka, yaitu ‘hamba
yang baik dan setia’. Tetapi, kepada hamba yang dipercayakan 1 Talenta,
karena tidak mengembangkan uang Tuannya, maka ia disebut hamba yang jahat,
malas, dan tidak berguna (ayat 26,30).
Bagaimana kita dapat menerapkan cerita mengenai 3 hamba Tuhan
yang dipercayakan Talenta oleh Tuannya ini? Ada satu ungkapan yang dapat
membuka pengertian kita, yaitu, ‘perkara
besar’ (ayat 21, 23). Kita harus tahu bahwa orang Kristen disebut “gadis/mempelai wanita” karena terkait
dengan Yesus dalam hal Hayat/Life (‘zoe’). Tetapi, orang Kristen disebut
“hamba” karena terkait dengan Yesus
dalam hal ‘pelayanan/pekerjaan Kristus/ministry’. Jadi, ‘perkara besar’ yang
dimaksud dalam ayat 21 dan 23, yang akan dipercayakan sang Tuan kepada hamba 5
talenta dan 2 Talenta ini adalah suatu pelayanan/ministry/tanggung jawab yang
diberikan sang Tuan ketika Ia datang kembali.
Jadi, ketika Tuhan Yesus datang kembali, maka Ia akan
memberikan pekerjaan/pelayanan besar dizaman berikut kepada hamba2Nya yang
dinilaiNya baik dan setia. Mari kita melihat Wahyu 1:6; 5:10, untuk memahami
pekerjaan/pelayanan apa yang akan dikerjakan dizaman berikut. Wahyu 1:6, “serta menjadikan kita raja-raja dan
imam-imam bagi Elohim dan BapaNya…” (ILT). Wahyu 5:10, “dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja
dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi”
(ILT). Karenanya, ketika Yesus datang kembali, maka Ia bersama hamba2Nya akan
menegakkan kerajaanNya di bumi, dan hamba2Nya akan berfungsi sebagai raja2 dan
imam2 menurut aturan Melkisedek, sebagaimana Yesus juga menjadi Imam Besar
menurut aturan Melkisedek.
Artinya, Tuhan Yesus datang bukan untuk membawa kita kesuatu
“tempat yang menyenangkan” yang umumnya dalam dunia kekristenan disebut
“sorga”, dimana ada rumah2 bagus, jalan dari emas, kerjanya nyanyi2 saja.
Tetapi, Yesus datang untuk memberikan suatu pelayanan yang besar sebagai raja2
dan imam2 untuk menaklukkan bumi, sehingga bumi bergerak menuju bumi baru, dan
tentu langit baru juga. Inilah konsep sorga berbentuk kerajaan seperti
diwahyukan Yesus kepada Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu.
Nampaknya, orang2 kristen dengan konsep “sorga” seperti yang
selama ini ia dengar dalam dunia kekristenan akan membuatnya tidak siap untuk
berfungsi sebagai raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek dizaman berikut.
Orang kristen ini akan menjadi seperti “hamba 1 Talenta” yang disebut Tuannya
‘tidak berguna’, bukan karena ia tidak memiliki jabatan tinggi atau gelar
Teologi, tetapi karena ia tidak mengembangkan anugerah Tuhan agar berfungsi
sebagai raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek.
Kita masuk kepada bagian terakhir pembahasan mengenai
kedatanganNya dalam Matius 24-25, yaitu mengenai penghakiman bangsa-bangsa
(Matius 25:31-46). Matius 25:31-32, tertulis demikian, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat
bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
Lalu semua bangsa akan dikumpulkan dihadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka
seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing”.
Pada ayat ini dinyatakan Yesus akan datang dalam kemuliaanNya
bersama semua malaikat. Sesungguhnya, bukan saja para malaikat yang bersamaNya,
tetapi kita yang dipilihNya juga ikut bersamaNya, seperti ditegaskan dalam
Kolose 3:4, demikian, “Apabila Kristus,
yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri
bersama dengan Dia dalam kemuliaan”. Kita akan menyatakan diri dalam
kemuliaan bersama Kristus Yesus.
Peristiwa kita menyatakan diri bersama dengan Kristus dalam
kemuliaan inilah yang dibicarakan oleh Paulus dalam surat Roma dengan ungkapan
‘glorification by faith’, atau
pemuliaan oleh iman. Perhatikan Roma 8:17,23, demikian, “Dan karena anak-anak, maka ahli waris juga, benar-benar ahli waris
Elohim dan sesama pewaris dengan Kristus – jika kita menderita bersama, maka
kita juga dapat dimuliakan bersama… sungguh-sungguh menantikan adopsi sebagai
anak, yaitu penebusan tubuh kita”. Ayat2 ini menyatakan bahwa ketika Yesus
datang dalam kemuliaanNya, maka kita juga sebagai sesama pewaris denganNya,
ikut menyatakan diri bersamaNya dalam tubuh kemuliaan.
Kita harus menyadari ketika Yesus datang kembali, maka bumi
masuk kedalam suatu zaman baru yang biasa disebut zaman kerajaan seribu tahun
(Wahyu 20:4). Dalam kerajaan seribu tahun, ada tiga realm/alam/kondisi yang
ada. Pertama,
alam bumi, dimana berkat Elohim dinyatakan dalam Kejadian 1:28-30. Kedua,
alam atau kondisi bangsa Israel, dimana bangsa Israel yang diselamatkan akan
memerintah seluruh bumi (Yesaya 60:10-12; Zakharia 14:16-18). Ketiga,
alam sorgawi, dimana kerajaan sorga dinyatakan sepenuhnya dibumi, dan gereja
pemenang menjadi imam2 dan raja2 dalam kerajaan seribu tahun.
Sekarang, mari kita masuk kedalam perikop kita yang membahas
penghakiman bangsa-bangsa. Dalam Matius 25:31-46, diceritakan bagaimana bangsa2
(pribadi lepas pribadi) akan dipisahkan menjadi 2 kategori, yaitu domba dan
kambing. Domba2 adalah mereka yang berbuat baik kepada saudara Yesus yang
paling hina, sedangkan kambing2 adalah mereka yang tidak berbuat baik kepada
saudara2 Yesus. Kita harus menyadari bahwa penghakiman ini bukanlah penghakiman
terakhir (takhta putih yang besar) seperti tertulis dalam Wahyu 20:11, yang
terjadi setelah zaman kerajaan seribu tahun. Penghakiman bangsa-bangsa dalam
perikop kita terjadi sebelum masa kerajaan seribu tahun.
Penghakiman atas bangsa-bangsa sebelum masa kerajaan seribu
tahun terjadi pada bangsa-bangsa yang masih hidup dengan tubuh jasmani mereka
pada kedatangan Yesus, dan penghakiman ini akan menentukan siapa saja yang akan
masuk sebagai ‘penduduk’ bumi dalam zaman kerajaan seribu tahun. Orang2 yang
termasuk kategori ‘domba-domba’ adalah, “… kamu
yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu
sejak dunia dijadikan” (25:34). Penduduk kerajaan seribu tahun masih hidup
dalam tubuh jasmani, dan karenanya mereka hidup dalam alam bumi, dan mendapat
berkat Elohim dalam Kejadian 1:28-30. Demikianlah kondisi bumi pada saat kedatangan
Yesus “kedua kali”.
Kita telah mengakhiri kelima pengajaran kerajaan sorga yang
tertulis dalam kitab Matius ini. Mari kita lihat kembali ke-5 pembagian ini,
dimana pada akhir dari tiap2 bagian ini terdapat ungkapan, ‘setelah Yesus selesai dengan segala
pengajaran atau percakapan ini…’. Bagian pertama, Matius 5:1 –
7:29, yang menjelaskan hukum kerajaan sorga, dan penghakiman pelayan2 Tuhan
pada hari terakhir. Kedua, Matius 9:35 – 11:1, yang berisi tentang ‘penugasan kedua
belas rasul’ untuk mencari domba2 yang hilang dari keluarga Israel. Ketiga,
Matius 13:1-52, tentang tujuh perumpamaan mengenai kerajaan sorga. Keempat,
Matius 18:1-35, tentang pengampunan dan perumpamaan hamba yang berhutang,
dimana tekanan pengajaran disini adalah keberhargaan domba2 yang
tersesat/terhilang. Kelima, Matius 23:1 – 25:46, tentang hukum kerajaan sorga,
khususnya otoritas “kursi Musa”, tegoran kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat,
serta pengajaran akhir zaman, dimana para pelayan Tuhan akan dihakimi.
Jika kita memperhatikan kelima bagian pengajaran kerajaan
sorga dalam kitab Matius, maka kita melihat adanya suatu pola ‘paralel khiastik’ (‘He gave us stories’, oleh: Richard L. Pratt, hal: 247) Penulis
kitab Matius sengaja menyusun kelima pengajaran kerajaan sorga dengan struktur
khiastik agar memberi efek tertentu. Kelima bagian pengajaran ini dapat
digambarkan seperti huruf A-B-C-B’-C’. Artinya, terjadi “pengulangan” pada
bagian 1 dan 5, demikian juga pada bagian 2 dan 4, dan pada bagian 3 (tengah)
merupakan ‘sentral’ dari pengajaran kerajaan sorga. Inilah makna pola ‘paralel khiastik’.
Barangkali, kita perlu membandingkan 5 kitab Musa, yaitu
Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan, yang juga sengaja ditulis
dengan pola ‘paralel khiastik’. Kita
tentu tidak membahas lebih jauh hal ini. Bagi sdr yang berminat, dapat
mendengar uraian dalam channel ‘Verbum Veritatis’ dengan judul ‘Leviticus’.
Disana ditegaskan bahwa “puncak” pewahyuan kitab2 Musa ini ada dikitab Imamat,
khususnya Imamat 16, dimana dijelaskan tentang ‘Hari Raya Penebusan’ yang
dilakukan oleh Imam Besar sekali setahun saja.
Nampaknya, memang penulis injil Matius sengaja membandingkan
Yesus, sebagai perantara PB, dan Musa sebagai perantara PL. Dalam Imamat 16,
Imam Besar Harun masuk keruang Maha Kudus membawa darah binatang untuk
mengadakan pendamaian bagi seluruh Israel, demikian juga Yesus, sebagai Imam
Besar aturan Melkisedek, masuk kedalam Kemah Sejati membawa darahNya sendiri
kehadirat Bapa disorga untuk mengadakan pendamaian bagi seluruh manusia.
Mari kita perhatikan struktur ‘khiastik’ pada kelima bagian pengajaran kerajaan sorga dalam injil
Matius. Bagian pertama merupakan “pengulangan” bagian kelima, yaitu menjelaskan
hukum kerajaan sorga, dan penghakiman terakhir para pelayan kerajaan sorga.
Bagian kedua dan keempat, membahas anggota2 kerajaan sorga yang terhilang,
artinya menekankan betapa berharganya anggota kerajaan sorga yang tersesat.
Bagian ketiga, yang merupakan sentral pengajaran kerajaan sorga, dijelaskan
melalui 7 perumpamaan.
Seperti yang telah kita bahas, ketujuh perumpamaan kerajaan
sorga ini menekankan akan adanya penyesatan didalam kerajaan sorga; bahwa tidak
semua orang Kristen lahir baru, termasuk para pemimpinnya, akan ambil bagian
kelak dalam manifestasi penuh kerajaan sorga dibumi, pada saat kedatangan
Yesus. Semua pengajaran kerajaan sorga pada bagian ketiga ini justru merupakan
“puncak” atau sentral pengajaran kerajaan sorga.
Didalam dunia kekristenan sudah sangat terkenal dan dipercaya
mayoritas bahwa ‘percaya Yesus pasti masuk sorga’, yaitu “sorga” nun jauh
disana yang merupakan tempat indah (“Rumah Bapa”), dimana orang Kristen akan
memuji2 Tuhan selama-lamanya. Dongeng seperti ini sama sekali tidak ada didalam
kitab Matius. Tetapi, umat kerajaan yang mendapat kasih karuniaNya untuk ambil
bagian dalam kerajaan sorga yang akan ditegakkan ‘sepenuhnya’ dibumi, tentu akan berjaga2 serta menanti-nantikan kedatangan
kerajaan Yesus dibumi.
Saat ini kita masuk kedalam pasal 20, setelah pewahyuan Yesus
Kristus dibukakan dalam pasal 19, bahwa Yesus dengan para pemenangNya akan
berperang untuk menaklukkan segala sesuatu. Kita akan bahas Wahyu 20:1-3,
demikian, “Lalu aku melihat seorang
malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar
di tangannya; ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia
mengikatnya seribu tahun lamanya, lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan
menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi
menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian
dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya”.
Kita lihat disini bahwa Iblis dilemparkan kedalam ‘jurang
maut’ agar tidak menyesatkan bangsa-bangsa. Ungkapan ‘jurang maut’ diterjemahkan
dari istilah Yunani, ‘abussos’, yang artinya, ‘bottomless
pit’ atau ‘lubang tak berdasar’. Karena lubang ini tidak mempunyai
‘dasar’, maka Iblis tidak mendapat ‘pijakan/pondasi/ground’ untuk beraktifitas.
Itu sebabnya ia tidak dapat menyesatkan bangsa-bangsa.
Mari kita ambil contoh bagaimana Iblis tidak dapat
beraktifitas atau berbuat sesuatu, karena tidak mendapat
‘pijakan/pondasi/ground’ dalam kehidupan Yesus. Yohanes 14:30, menegaskan
demikian, “… penguasa dunia ini datang dan
ia tidak berkuasa sedikit pun atas diriKu”. Sekalipun memang iblis bekerja
melalui Yudas, Mahkamah Agama Yahudi, dan banyak orang lainnya yang ambil
bagian dalam penyaliban Yesus, namun terhadap Yesus sendiri, Iblis tidak dapat
berbuat apa-apa. Mengapa? Karena didalam Diri Yesus, Iblis tidak mendapat
‘pijakan’ untuk menyerangNya.
Didalam Diri Yesus tidak terdapat sedikitpun ‘celah’ atau
dosa apapun yang menyebabkan Iblis mendapat ‘pijakan’ untuk berbuat sesuatu.
Hal ini berbeda dalam kasus Ayub. Perhatikan Ayub 3:25, demikian, “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa
aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku”. Disini kita melihat
bahwa dalam diri Ayub terdapat ketakutan dan kecemasan akan perkara2 yang pada
akhirnya menimpa dirinya. Ketakutan dan kecemasan Ayub menjadi suatu ‘pijakan’
atau ‘ground’ yang menyebabkan Iblis dapat menyerangnya.
Tetapi, kita jangan cepat2 menyimpulkan bahwa Iblis memiliki
kebebasan untuk menyerang siapapun yang dikehendakinya. Iblis dapat menyerang
Ayub dan keluarganya karena memang Bapa disorga memiliki rancangan bagi Ayub,
yaitu agar Ayub mengenal Dia dengan benar (Ayub 42:5). Iblis hanyalah ‘budak’
atau ‘alat’ saja ditangan Bapa disorga untuk memproses Ayub. Iblis tidak bebas
menyerang Ayub kecuali sudah diizinkan Bapa disorga (Ayub 1:12; 2:6).
Pada ayat kita diatas, Iblis hanya diikat selama seribu
tahun. Kemudian, ia dibebaskan untuk sedikit waktu lamanya, karena Bapa disorga
memiliki rencana tertentu baginya. Iblis diikat selama seribu tahun karena pada
masa seribu tahun ini Kristus dan para pemenangNya akan memerintah sebagai
raja2 dan imam2 dibumi (Wahyu 20:4).
Kita lihat bahwa terhadap Kristus dan para pemenangNya, Iblis
tidak dapat berbuat apa-apa selama seribu tahun. Bagaimana dengan kehidupan
kita saat ini? Apakah Iblis dapat berbuat sesuatu untuk menyerang kehidupan
kita sekarang? Oleh kasih karuniaNya, saat ini juga, kita dapat berkata seperti
Yesus, bahwa Iblis tidak dapat berbuat apa-apa dalam kehidupan kita. Yang dapat
terjadi atas hidup kita sekarang hanyalah kehendak dan rancanganNya. Bagi kita,
IBLIS SEOLAH-OLAH TIDAK ADA. Semua yang terjadi atas hidup kita adalah kehendak
Bapa, itu sebabnya semua baik, amin.
Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai perjamuan malam
antara Yesus dan murid2Nya dalam Matius 26:26-29, demikian, “Dan ketika mereka sedang makan, Yesus
mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada
murid-muridNya dan berkata: Ambillah, makanlah, inilah tubuhKu. Sesudah itu Ia
mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata:
Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darahKu, darah perjanjian,
yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. Akan tetapi Aku
berkata kepadamu: mulai sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur
ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu
dalam Kerajaan Bapa-Ku”.
Pada malam terakhir Yesus merayakan Paskah bersama murid2Nya.
Ayat kita diatas menegaskan bahwa pada saat mereka sedang makan (makan Paskah),
tiba2 Yesus melakukan tindakan simbolik mengenai kematianNya. Ia mengambil roti
dan membagi-bagikannya kepada murid2Nya dan berkata inilah tubuhKu. Kemudian,
Ia mengambil cawan dan memerintahkan murid2Nya untuk minum dari pada cawan itu,
dan berkata Inilah darahKu, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak
orang. Kita lihat disini bahwa Yesus merayakan Paskah, dan sekaligus
menggenapinya.
Ada dua hal yang perlu kita renungkan dalam peristiwa ini. Pertama,
Yesus menyebut mengenai darah perjanjian. Tentu yang dimaksud disini adalah
Perjanjian Baru yang dimeteraikan oleh darahNya sendiri, seperti tertulis, “… Cawan ini adalah perjanjian baru yang
dimeteraikan oleh darah-Ku…” (I Korintus 11:25). Kedua, Yesus tidak akan
meminum hasil pokok anggur lagi sampai Ia meminum yang baru bersama-sama
murid2Nya didalam Kerajaan BapaNya. Kedua hal ini saling terkait, dan saat ini
kita akan melihat keterkaitannya.
Apakah makna Perjanjian Baru yang Yesus buat dengan
murid2Nya? Perhatikan Ibrani 8:10-12, demikian, “… YAHWEH berfirman, untuk memberikan hukum-hukumKu ke dalam akal budi
mereka dan Aku akan menuliskannya pada hati mereka dan Aku akan menjadi Elohim
bagi mereka, dan mereka akan menjadi
umat bagiKu.… Sebab semua orang, dari yang kecil diantara mereka hingga yang
besar diantara mereka, akan mengenal Aku… Aku sekali-kali tidak akan lagi
mengingat dosa-dosa mereka…” (ILT). Kita lihat disini bahwa Perjanjian Baru
yang Yesus buat dengan murid2Nya sangat bersifat batiniah. Hukum Taurat dalam
PL yang tertulis pada loh2 batu, sekarang dituliskanNya kedalam hati orang2
percaya. Karenanya, kita akan mengenal Dia secara batiniah, dan dosa2 kita juga
tidak akan diingatNya lagi. Kita tidak diatur lagi oleh hukum2 atau aturan2
luaran, seperti harus beribadah digedung ini atau itu, harus membayar
persepuluhan/buah sulung/janji iman ini atau itu. Kita beribadah dalam roh dan
realita, serta dipimpin oleh hukum didalam batin kita. Kita menjadi umat bagi
Elohim, dan menjadi warga kerajaanNya (II Tesalonika 1:5).
Yesus berjanji kepada murid2Nya bahwa Ia akan meminum lagi
hasil pokok anggur yang baru didalam kerajaan BapaNya. Apakah makna dari hal
ini? Artinya, Yesus akan datang kembali (biasa disebut kedua kali), dan
menegakkan kerajaanNya dibumi, dimana kita yang percaya akan ambil bagian
didalamnya. Kita yang mengikuti pimpinan hukum2Nya dalam batin kita, kelak,
ketika Tuhan Yesus datang kembali, akan “minum” bersama-sama dengan Tuhan Yesus
didalam kerajaan BapaNya.
Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai peristiwa penyaliban
Yesus dan maknanya. Mari kita lebih dahulu melihat 2 fakta mengenai
penyalibanNya. Pertama, Yesus disalibkan karena Ia memilih kehendak Bapa
disorga. Ditaman Getsemani, Yesus berdoa dan bergumul untuk memastikan kehendak
BapaNya. Ada cawan penderitaan, dan juga ada kehendak Bapa disorga. Tentu Yesus
mengungkapkan kehendakNya agar jika mungkin cawan penderitaan ini berlalu. Tetapi,
setelah 3 kali berdoa, Yesus memahami bahwa cawan penderitaan ini adalah
kehendak Bapa bagiNya (Yesaya 53:10). Itu sebabnya, dalam Yohanes 18:11, Yesus
berkata, “…bukankah Aku harus minum cawan
yang diberikan Bapa kepadaKu?”.
Kedua, Yesus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Sanhedrin, Mahkamah
Agama Yahudi (Matius 26:57-66). Dan, karena Mahkamah Agama Yahudi tidak diberi
hak oleh penguasa Roma pada waktu itu untuk menghukum mati seseorang, maka
Mahkamah Agama Yahudi terpaksa membawa Yesus kepada Pontius Pilatus untuk
meminta izin. Sebenarnya, Pontius Pilatus hendak membebaskan Yesus, karena ia
tahu bahwa Yesus diserahkan karena dengki (Matius 27:18). Dan sebagai usaha
Pontius Pilatus untuk membebaskan Yesus, maka ia memberi pilihan kepada orang banyak
apakah mereka mau memilih Yesus atau Barabas. Tetapi, oleh hasutan imam2 kepala
dan tua-tua, maka orang banyak memilih agar Barabas yang dibebaskan (Matius
27:20). Jadi, Yesus dibunuh oleh para pemimpin agama Yahudi, hanya saja
pelaksananya itu tentara Romawi. Pengakuan Iman Rasuli yang berbunyi, ‘yang menderita dibawah pemerintahan Pontius
Pilatus’, sesungguhnya, telah menyembunyikan suatu fakta yang penting bahwa
Yesus disalibkan oleh para pemimpin agama Yahudi, atau umat Tuhan yang terkait
Perjanjian Musa.
Sekarang kita akan membahas makna dari kedua fakta diatas.
Matius 16:24, menegaskan, “… setiap orang
yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya…”.
Bagaimana kita dapat menyangkal diri dan memikul salib kita? Pergumulan Yesus
di Taman Getsemani mengajarkan kita agar selalu memilih kehendak Bapa disorga,
dan belajar menanggung akibatnya, yaitu “salib kita”. Inilah makna “memikul
salib” bagi kita, yaitu oleh kasih karuniaNya kita dimampukan untuk selalu
memilih kehendak Bapa dalam kehidupan kita sehari-hari.
Selanjutnya, telah kita lihat bahwa agama Yahudi telah
menyalibkan Yesus. Apakah memang agama selalu bertentangan dengan Yesus? Apakah
Yesus datang untuk menegakkan agama Kristen? Darimana sebenarnya asalnya agama
itu? Mari kita melihat fakta bahwa Yesus datang untuk memberikan HayatNya (‘zoe’)
kepada barang siapa yang percaya (Yohanes 10:10). Jenis hidup ‘zoe’
(Hayat Kristus) disimbolkan oleh Pohon Kehidupan di Taman Eden. Yesus berkata
barang siapa yang makan Aku, ia mempunyai ‘zoe’ didalam dirinya. Jadi, Pohon
Kehidupan itu melambangkan hidup ‘zoe’ yang diberikan Yesus bagi kita.
Kalau demikian, melambangkan apakah Pohon Pengetahuan Baik
dan Jahat itu? Sejak Adam dan Hawa makan buah Pohon Pengetahuan Baik-Jahat ini,
maka sejak itulah manusia dipimpin oleh pengetahuannya akan baik dan jahat.
Agama adalah usaha manusia untuk mendekat kepada Tuhan, namun dengan dipimpin
oleh pengetahuannya tentang yang baik dan jahat. Orang2 kudus dalam konteks PL
sebenarnya bukanlah orang2 yang beragama, dalam pengertian diatas. Orang2 kudus
PL adalah orang2 yang beriman, dan mengekspresikan imannya dengan ketaatan
kepada Hukum Taurat. Hal ini berbeda dengan ahli2 Taurat dan orang2 Farisi yang
menyalibkan Yesus. Ahli2 Taurat dan orang2 Farisi adalah orang2 beragama,
tetapi bukanlah seperti orang2 kudus zaman PL.
Sekarang kita masuk kedalam pertanyaan penting, yaitu apakah
kekristenan telah menjadi agama? Jika kita mendapat kasih karuniaNya, maka kita
akan tahu bahwa kekristenan telah menjadi agama, yaitu agama Kristen. Tentu
agama Kristen tidak menyalibkan Yesus secara fisik, tetapi Roh Yesus sangat
dirintangi oleh ritual2 agamawi, aturan2 manusiawi, ajaran2 palsu Izebel,
Nikolaus, Bileam, dan juga aturan2 agamawi yang dibuat para pemimpinnya.
Kita masuk kedalam pasal terakhir kitab Matius, dan membahas
kebangkitan Yesus. Matius 28:6, menegaskan, “Ia tidak ada disini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah
dikatakanNya…”. Kebangkitan Yesus adalah suatu fakta penting, karena jika,
“… Kristus tidak dibangkitkan maka
sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (I
Korintus 15:14). Dari ayat ini kita dapat melihat bahwa kebangkitan Kristus
merupakan dasar dari pemberitaan Injil, dan juga dasar dari iman Kristen. Tanpa
kebangkitan Kristus, maka baik pemberitaan injil maupun kepercayaan Kristen
menjadi sia-sia.
Tetapi, kita jangan hanya percaya kepada ‘fakta sejarah’ dari kebangkitan Kristus.
Kita harus memahami apa yang dikatakan ‘firman
Tuhan’ tentang kebangkitan Kristus, karena iman timbul bukan dari ‘fakta
sejarah’, tetapi iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan. Baiklah kita
membahas I Korintus 15, yang berbicara mengenai kebangkitan Kristus.
Latar belakang dari I Korintus 15 adalah adanya beberapa
orang jemaat Korintus yang tidak percaya kebangkitan orang mati. Paulus
tegaskan bahwa jika tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak
dibangkitkan. Tetapi yang benar adalah Kristus dibangkitkan sebagai ‘buah sulung’ (ayat 20). Para petani di
Palestina paham bahwa jika ada tuaian ‘buah sulung’, maka akan ada tuaian2
berikutnya. Itu berarti akan ada lagi kebangkitan2 yang lainnya.
Mari kita perhatikan I Korintus 15:22-23, demikian, “Karena sama seperti semua orang mati dalam
persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali
dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya:
Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada
waktu kedatangan-Nya”. Ditegaskan disini bahwa SEMUA orang akan
dibangkitkan, hanya ada urutannya masing-masing. Alasan semua orang akan
dibangkitkan jelas tertulis disini, yaitu semua mati didalam Adam, maka semua
orang juga akan dihidupkan kembali dalam Kristus. Jadi, disini berbicara soal
kekepalaan (headship).
Dalam dunia kekristenan, umumnya, orang tidak percaya bahwa
semua orang akan dihidupkan kembali dalam Kristus. Jika kita tidak percaya
bahwa semua orang akan dibangkitkan dalam Kristus, maka hal ini membuat Adam ‘lebih berkuasa’ dari pada Kristus. Tetapi
yang benar adalah kasih karunia Elohim jauh lebih besar dari pada pelanggaran
Adam, karenanya semua orang akan dibangkitkan sesuai dengan urutannya (Roma
5:15).
Alasan lain mengapa pada akhirnya semua orang akan
dibangkitkan dalam Kristus adalah karena ‘musuh’ terakhir akan dibinasakan,
yaitu maut (I Korintus 15:26). Sementara itu, maut merupakan upah dosa (Roma
6:23). Karenanya, tidak akan ada lagi “bekas-bekas” dosa di alam semesta ini.
Semua manusia pada akhirnya akan dibangkitkan dan mendapatkan tubuh kemuliaan.
Sayangnya, mayoritas orang Kristen percaya bahwa upah dosa adalah neraka kekal,
dalam pengertian selama-lamanya berada di alam maut. Mereka tidak percaya bahwa
Kristus telah mengalahkan maut.
Namun, umat pilihanNya percaya bahwa pada akhirnya semua
manusia akan dibangkitkan dan mendapat tubuh kemuliaan, sehingga Bapa dapat
menjadi SEMUA dalam SEMUA (I Korintus 15:28). Bapa disorga dapat
mengekspresikan seluruh kemuliaanNya didalam dan melalui SEMUA manusia.
Kita akan membahas perintah untuk memberitakan Injil
Kerajaan, yaitu menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus, dan hal ini biasa
disebut Amanat Agung yang tertulis dalam Matius 28:18-20, demikian, “… KepadaKu telah diberikan segala kuasa di
sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu… dan
ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Ada
beberapa hal yang perlu kita bahas dari ‘Amanat Agung’ ini.
Pertama, dasar dari perintah Yesus kepada murid2Nya ini adalah
karena segala kuasa (otoritas) disorga dan dibumi telah diberikan kepada Tuhan
Yesus. Banyak orang Kristen berpendapat bahwa keselamatan manusia tergantung
‘respon’ mereka terhadap injil. Pendapat ini sangat aneh. Bagaimana mungkin
manusia dapat memberi ‘respon’ jika
ia sudah mati dalam dosa. Orang ‘mati’ tidak mungkin mendengar atau memberi
respon terhadap suara apapun. Yang benar adalah keselamatan itu TERGANTUNG
OTORITAS YESUS.
Jika Yesus sudah berkata kepada seseorang, ‘ikutlah Aku’, maka orang itu pasti
bangkit dan mengikut Yesus. Ketika Yesus berkata kepada murid2Nya, ‘ikutlah Aku’, maka mereka langsung
bangkit dan mengikut Yesus (Matius 4:19; 9:9). Tidak ada seorang manusiapun
yang dapat menolak panggilan Yesus, mengapa? Karena Yesus memiliki otoritas.
Umumnya, para penginjil suka mengutip Wahyu 3:20, untuk
menegaskan bahwa keselamatan tergantung respon manusia. Diceritakan bahwa Yesus
“mengetok” setiap pintu hati manusia, dan siapa yang memberi respon, maka akan
mendapat keselamatan. Pemberitaan seperti ini sangat menghina otoritas Yesus.
Digambarkan bahwa Yesus seperti “pengemis” yang mengetok setiap pintu hati
manusia untuk dapat “makan bersama”. Sesungguhnya, Wahyu 3:20, sama sekali
tidak membahas soal pemberitaan injil. Pada ayat itu, Yesus sedang berbicara
kepada gereja di Laodikia yang sudah tidak memiliki persekutuan (‘koinonia’) denganNya lagi.
Yang benar adalah keselamatan tergantung otoritas Yesus.
Dalam Yohanes 12:32, ada tertulis, “dan
Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang
kepadaKu”. Ayat ini berbicara soal otoritas Yesus. Yesus sudah tegaskan
bahwa Ia akan menarik semua orang untuk datang padaNya. Jika ternyata tidak
semua orang datang pada Yesus, maka hanya ada dua kemungkinan, yaitu Yesus
tidak mampu dan tidak memiliki otoritas untuk menarik semua orang, atau Ia
berdusta. Susungguhnya, semua orang akan datang pada Yesus, tetapi sesuai
dengan urutannya, seperti telah kita bahas (I Korintus 15).
Kedua, banyak orang Kristen berpendapat bahwa ungkapan, ‘Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman’, berarti
kasih karunia atau ‘penginjilan’ berhenti pada kedatangan Yesus kembali (biasa
disebut ‘kedua kali’). Pandangan
seperti ini dilakukan dianut oleh orang2 kristen yang percaya kepada ajaran
neraka kekal, dalam arti sebagian orang yang tidak dipanggil Yesus akan disiksa
selama-lamanya di neraka. Saat ini, kita tidak membahas ungkapan Yunani, ‘heos
sunteleia ho aion’, yang diterjemahkan ‘sampai kepada akhir zaman’. Bagi sdr yang serius dan berminat,
dapat mempelajari buku Louis Abbot,
‘An Analytical Study of Words’ di
internet.
Dalam tulisan ini, kita akan merenungkan dua ayat saja
terkait hal diatas, yaitu Efesus 1:10, dan Wahyu 22:17. Efesus 1:10, menegaskan
bahwa pada dispensasi kepenuhan waktu, Elohim akan mempersatukan segala
sesuatu, baik yang disorga, maupun yang dibumi, didalam Kristus. Wahyu 22:17,
juga menegaskan, bahwa “air kehidupan” tetap ditawarkan dengan cuma2 pada
dispensasi Langit dan Bumi Baru.
Elohim selalu menggunakan “alat” untuk mencapai tujuanNya,
dan “alat” itu adalah gereja pemenang. Karenanya, gereja pemenang bersukacita,
karena kelak setiap lutut bertelut dan lidah mengaku Yesus adalah Tuhan.
Amin.
Comments
Post a Comment