Kerajaan Sorga menurut Kitab Matius

 

Kerajaan Sorga Dalam Injil Matius

Oleh: Irnawan Silitonga

Tema kita kali ini adalah kerajaan sorga dalam injil Matius. Tulisan singkat ini tidak bermaksud menafsirkan kitab Matius ayat per-ayat, tetapi hanya membahas tema ‘kerajaan sorga’ yang ada dalam kitab ini. Memang kitab Matius merupakan injil bagi orang2 kristen berlatar belakang Yahudi, dimana tema utama kitab ini adalah kerajaan sorga. Sesungguhnya, tema utama kitab2 dalam Perjanjian Baru adalah kerajaan sorga. Sebab, Yesus dan rasul2Nya memberitakan khabar baik kerajaan sorga. Karena itu, tema mengenai kerajaan sorga ini sangat penting untuk kita pahami bersama.

Sayangnya, dalam dunia kekristenan telah umum dipercaya suatu ungkapan, ‘percaya Yesus masuk sorga’, dimana pengertian tentang sorga itu biasa dipahami sebagai suatu tempat tertentu secara geografis di alam semesta ini. Selanjutnya juga diajarkan bahwa orang2 kristen akan diangkat (rapture) kelak ketika Tuhan Yesus datang kembali, walaupun tentu tidak semua orang Kristen menganut ajaran ini. Melalui tulisan singkat ini, kita mencoba memahami apa sebenarnya yang diberitakan Yesus dan rasul2Nya mengenai kerajaan sorga.

Mari kita mulai dengan silsilah Yesus Kristus yang tertulis dalam Matius 1:1-17. Tentu kita tidak membahas silsilah ini dengan rinci, tetapi kita akan perhatikan semacam kesimpulan dari silsilah ini yang tertulis pada ayat 17, demikian, “Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus”.

Jika kita hitung ke-empat belas keturunan ini, maka didapati bahwa dari Abraham (1) sampai Daud (14), kemudian dari Salomo (1) sampai Yekhonya (14), selanjutnya dari Sealtiel (1) sampai Yesus, hanya (13), artinya keturunan ke-14 adalah Kristus. Ayat 16, menyebutkan demikian, “dan Yakub memperanakkan Yusuf, suami Maria, dari dialah YESUS yang disebut Kristus dilahirkan”. Karenanya, Yesus (13) itu “memperanakkan” Kristus (14). Apakah artinya ini?

Dalam surat2 Paulus, istilah ‘Kristus’ itu bukan saja berarti ‘Yang Diurapi’ (Yun: Christos=yang diurapi), tetapi ada beberapa makna yang perlu kita lihat. Pertama, Kristus itu bersifat korporat (I Korintus 12:12). Maksudnya, Kristus itu adalah tubuh, terdiri dari Kepala (Yesus), dan Tubuh (gereja). Kedua, Kristus adalah kerajaan (Efesus 5:5). Ketiga, Kristus adalah Hayat kita (Galatia 2:20). Keempat, Kristus ada didalam batin kita (Kolose 1:27). Karenanya, kerajaan Kristus itu ada didalam batin kita, dan merupakan pengharapan kita akan kemuliaan Elohim (Kolose 1:27).

Setelah kita memahami makna ‘Kristus’ itu, maka apakah artinya Yesus “memperanakkan” Kristus? Perhatikan Yesaya 53:10, demikian, “…Sekiranya dia menaruh jiwanya sebagai persembahan penghapus salah, dia akan melihat benihnya, dia akan memperpanjang hari-harinya… (ILT). Ayat ini merupakan nubuat terhadap Mesias sebagai korban penghapus salah. Setelah Mesias mempersembahkan DiriNya sebagai korban penghapus salah, maka Ia akan melihat ‘benihnya’, dan memperpanjang hari-hariNya. Istilah Ibrani untuk ‘benih’ adalah ‘zera’, yang berarti ‘keturunan’. Jadi, melalui kematian dan kebangkitanNya, Yesus memiliki “keturunan”, yaitu Kristus, dan melalui Kristus, Ia memperpanjang hari-hariNya dibumi.

Yesus pernah berkata bahwa jika ‘biji gandum’ tidak jatuh ketanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia jatuh ketanah dan mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Dan Yesus juga pernah berkata kepada murid2Nya bahwa kamu akan melakukan perkara2 yang lebih besar dari padaKu. Selanjutnya, kepada Pilatus, Yesus berkata bahwa kedatanganNya kedunia ini adalah untuk menegakkan kerajaanNya dibumi (Yohanes 18:37). Jika kita memahami perkataan2 Yesus ini, maka kita paham bahwa Yesus sebagai Raja memperpanjang hari-hariNya dibumi ini melalui Kristus, yang adalah “keturunanNya”.

Kerajaan sorga akan ditampilkan sepenuhnya dibumi ini melalui ‘Kristus’ yang adalah “keturunan” Yesus. Dan, kerajaan Kristus akan melakukan perkara2 lebih besar lagi dibumi ini.  

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang kerajaan sorga di Injil Matius ini. Kita akan membahas mengenai orang2 majus dari Timur. Matius 2:2, menyatakan, “dan bertanya-tanya: Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia”. Orang2 majus dari Timur telah mendapat visi (penglihatan) mengenai ‘bintang’ Krristus, karena memang ada tertulis, “… bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel…” (Bilangan 24:17). Oleh anugerah Tuhan, orang2 majus telah melihat ‘bintang’ Kristus, namun mereka berpikir bahwa raja orang Yahudi pasti dilahirkan di Yerusalem, kota yang dipilih Yahweh bagi Israel untuk menegakkan NamaNya.

Dan, ketika orang2 majus bertanya-tanya, maka imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi menegaskan bahwa Mesias akan dilahirkan di Bethlehem, sesuai dengan nubuat nabi Mikha, demikian, “Tetapi engkau, hai Bethlehem Efrata… dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel…” (Mikha 5:1). Kemudian, setelah orang2 majus diberitahu tentang nubuat kitab suci, maka mereka pergi ke Bethlehem untuk menyembahNya.

Ada fakta menarik disini yang dapat kita lihat. Orang2 majus mendapat visi mengenai ‘bintang’ Kristus, tetapi hal ini belum cukup untuk mereka mengetahui dimana sang Raja akan dilahirkan. Orang2 majus ini tetap memerlukan tuntunan kitab suci untuk mengetahui dimana Raja orang Yahudi akan dilahirkan. Sebaliknya, imam kepala dan ahli2 Taurat mengetahui dengan pasti dari kitab suci, bahwa Mesias akan dilahirkan di Bethlehem, tetapi mereka tidak datang untuk menyembahNya. Mengapa demikian?

Jawabnya ada didalam Matius 22:29, demikian, “Dan seraya menanggapi, YESUS berkata kepada mereka, Kamu tersesat, karena tidak memahami kitab suci maupun kuasa Elohim” (ILT). Orang2 majus, oleh anugerah dan kuasa Elohim, telah siap untuk menyembah Raja orang Yahudi, namun mereka tersesat di Yerusalem dan tidak mengetahui dimana Raja itu akan dilahirkan. Orang2 majus hanya mengalami kuasa Elohim, tetapi tidak mengetahui kitab suci Yahudi. Sebaliknya, imam kepala dan ahli2 Taurat yang memahami kitab suci mereka, namun tidak mau datang menyembahNya, karena ternyata mereka hanya mengetahui kitab suci saja, tetapi hatinya tidak mengalami jamahan kuasa Elohim.   

Selanjutnya, orang2 majus mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan, dan mur (Matius 2:11). Emas merupakan simbol dari kodrat Ilahi. Aroma kemenyan merupakan simbol dari kebangkitan, sedangkan mur merupakan simbol dari penderitaan dan kematian. Persembahan orang2 majus ini menjadi suatu perjalanan kehidupan Yesus, yang memiliki kodrat Ilahi, dimana melalui penderitaan, kematian dan kebangkitanNya, maka Ia duduk disebelah kanan Bapa.

Melalui uraian singkat diatas, kita mendapat pelajaran bahwa untuk menyembah Yesus, sang Raja, tidak hanya diperlukan pemahaman kitab suci, tetapi juga harus mengalami kuasa Elohim yang mengubahkan hati kita hari lepas hari. Pengetahuan kitab suci itu ada tempatnya, tetapi jangan kita berpikir bahwa hanya pengetahuan kitab suci saja, maka orang dapat menyembahNya, atau masuk kedalam kerajaanNya. Orang Kristen perlu belajar kitab suci dengan baik, namun juga perlu mendapat kasih karunia untuk mengalami kuasa Elohim dalam batinnya hari lepas hari. Setelah memahami kitab suci, dan mengalami kuasa Elohim, barulah seseorang dapat menyembahNya dan masuk kedalam kerajaanNya.

Saat ini kita akan merenungkan ungkapan yang sering muncul dalam injil Matius, yaitu ‘supaya digenapi yang ada tertulis’. Istilah Yunani, ‘pleroo’ (kata kerja), diterjemahkan ‘menggenapi’ muncul sebanyak 86x dalam PB. Didalam injil Matius, ada kurang lebih 13x ungkapan senada, dalam Markus, 1x, didalam Lukas 2x, dan dalam injil Yohanes ada 6x. Didalam injil Matius, lebih banyak ungkapan ‘supaya digenapi yang ada tertulis’, karena injil ini memang ditujukan kepada bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi perlu memahami bahwa kedatangan Yesus, serta pemberitaanNya tentang kerajaan sorga (kerajaan Mesias) adalah penggenapan dari nubuat2 PL.

Semua nubuat PL memang terfokus kepada Yesus dan kerajaanNya, tetapi kita akan memperhatikan beberapa nubuat saja, khususnya yang ada didalam kitab Matius. Pertama, Matius 4:15-16, demikian, “… Galilea… bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang”. Pemberitaan Yesus tentang kerajaanNya dimulai di Galilea untuk menggenapi nubuat PL. Ditegaskan pada nubuat diatas bahwa wilayah tersebut dinaungi ‘maut’ (Yun: ‘thanatos’= kematian fisik dan rohani). Maut (‘thanatos’) adalah upah dosa (Roma 6:23). Pemberitaan Yesus tentang kerajaanNya akan mengalahkan ‘maut’, sebagaimana terang mengalahkan gelap.

Banyak orang Kristen berpendapat bahwa kerajaan Mesias, sebagai kerajaan Terang, hanya mengalahkan maut (kerajaan gelap) secara tidak tuntas seluruhnya. Seolah2 kerajaan Terang dan kerajaan Gelap akan selalu ada berdampingan. Perhatikan nubuat Yesaya 9:7 tentang kerajaan Mesias, demikian, “Dalam hal perluasan pemerintahan-Nya, dan dalam hal damai sejahtera, tidaklah berkesudahan, diatas takhta Daud, dan diatas kerajaan-Nya…” (ILT). Kerajaan Mesias, sebagai kerajaan Terang, tidak akan berhenti mengalahkan kerajaan Gelap, sebagaimana terang jasmani dengan kecepatan mendekati 300.000 km/detik, akan terus melenyapkan kegelapan. Itu sebabnya, Alkitab menegaskan bahwa pada zaman Langit dan Bumi Baru, tidak ada lagi ‘maut’ (‘thanatos’- Wahyu 21:4). Kemenangan kerajaan Mesias atas kerajaan gelap adalah kemenangan mutlak, sempurna, dan tuntas. Umat pilihanNya harus memberitakan kemenangan mutlak kerajaan Mesias atas kerajaan gelap.

Kedua, Matius 21:5, demikian, “Katakanlah kepada putri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda”. Sepertinya, ketika Mesias mengendarai ‘keledai’, tidak terlihat makna tertentu didalamnya. Namun, dalam PL, kuda selalu melambangkan “kekuatan yang diandalkan manusia”, dan Tuhan tidak suka dengannya (Yesaya 30:16; 31:1). Sementara, keledai itu hewan yang berjalan lambat, namun Tuhan mempunyai waktuNya sendiri untuk melangkah. Setiap warga kerajaan Mesias perlu belajar ‘waktu Tuhan’ dalam segala sesuatunya. Kecepatan ‘kerajaan Mesias’ melangkah tidak dapat dipaksakan sesuai keinginan kita. Umat pilihanNya perlu bertumbuh dalam ke-lemah lembut-an Kristus, dan karenanya, memahami waktu Tuhan.

Demikianlah beberapa contoh nubuat PL mengenai kerajaan Mesias yang telah digenapi oleh Yesus.

Kita masuk kedalam Matius 3 mengenai Yohanes Pembaptis. “Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan; Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 3:1-2). Mari kita bandingkan pemberitaan Yohanes dengan yang tertulis dalam Markus 1:1,4, demikian, “Permulaan Injil YESUS Kristus, Putra Elohim … Yohanes … memberitakan …”. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa permulaan injil (khabar baik) tentang kerajaan sorga diberitakan oleh Yohanes Pembaptis.

Tetapi Yohanes pembaptis sendiri tidak ‘didalam’ kerajaan sorga. Yesus tegas katakan dalam Lukas 16:16, demikian, “Torat dan para nabi ada sampai Yohanes, dari sejak itulah kemudian kerajaan Elohim diinjilkan dan setiap orang memaksa masuk ke dalamnya” (ILT). Demikian juga Matius 11:11, menegaskan, “… sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya”.

Mari kita perhatikan beberapa fakta terkait Yohanes Pembaptis. Pertama, pemberitaan (firman) tentang kerajaan sorga dimulai dari pemberitaan Yohanes Pembaptis. Kedua, Yohanes Pembaptis sendiri tidak didalam kerajaan sorga. Apa artinya ini? Kita harus jelas membedakan antara KEDAULATAN Elohim, dan PEMERINTAHAN Elohim. Elohim jelas berdaulat, dalam arti segala sesuatu ditentukan olehNya, bahkan burung jatuhpun tidak ada yang terjadi diluar kehendak Bapa (Matius 10:29). Tetapi, pemerintahan Elohim yang diberitakan Yesus, bukanlah sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Pemerintahan Elohim yang diberitakan Yesus adalah kerajaan sorga yang ada didalam batin manusia. The kingdom of God is within you. Kita akan membahas hal ini kelak. Jadi, Elohim berdaulat menentukan segalanya DILUAR manusia, namun Elohim akan memerintah dan mengatur segalanya MELALUI dan DIDALAM manusia.

Yohanes Pembaptis tidak didalam kerajaan sorga, karena Yohanes hanya memberitakan FIRMAN tentang kerajaan sorga. Semua nabi sebelum Yohanes memberitakan FIRMAN Tuhan. Tetapi, Yesus memberitakan kerajaan sorga, serta mati, bangkit, duduk disebelah kanan Bapa dan mengutus Roh Kudus agar berdiam didalam batin manusia untuk memerintah manusia, dan melalui manusia memerintah segala sesuatu. Yohanes Pembaptis ‘lebih besar’ dari pada semua orang kudus sebelumnya yang memberitakan firman Tuhan. Namun, orang kudus yang terkecil didalam kerajaan sorga, lebih besar dari padanya.

Ketiga, Yohanes Pembaptis lebih tua 6 bulan dari pada Yesus, jadi ia memulai pelayanannya dalam usia sekitar 30 tahun. Kurang lebih ia melayani selama 1-2 tahun, dan selebihnya ia dipenjara dan dipenggal kepalanya. Tetapi, persiapan sebelum ia melayani sebagai seorang yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan, barangkali, mencapai 30 tahun. Yohanes Pembaptis dipersiapkan Bapa di padang gurun, seperti “seorang petapa”. Yohanes Pembaptis tidak pernah terlihat seperti anak2 Yahudi lainnya, dimana sejak kecil mereka telah diajar Taurat di sinagoga2 oleh para Rabi Yahudi. Namun, Yohanes Pembaptis tentu seorang yang bersekutu dengan Bapa disorga. Fakta ini menarik untuk kita renungkan.

Mari kita terapkan kedalam konteks kita saat ini, bagaimana Yohanes Pembaptis dipersiapkan Bapa. Dalam dunia kekristenan, pada umumnya, orang yang mau melayani secara “full time”, harus melalui sekolah2 Teologi yang resmi. Kita bukan anti sekolah2 Teologi, tetapi kekristenan memang telah menjadi agama. Dan, sebagai agama kristen tentu penuh dengan aturan2 yang dibuat manusia. Anehnya, ajaran tentang kerajaan sorga dalam dunia kekristenan, umumnya, seperti berikut, “percaya Yesus, masuk sorga”, dalam arti dievakuasi kesuatu “tempat yang indah nun jauh disana”, yang disebut Rumah Bapa. Kita akan melihat kelak bahwa Injil Matius, maupun kitab2 dalam PB, sama sekali tidak memberitakan hal sedemikian.

Kita masih meneruskan pembahasan kita mengenai Yohanes Pembaptis, saat ini kita akan membahas pemberitaan Yohanes Pembaptis. Matius 3:1-2, menegaskan, “Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan; Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Kita tahu bahwa Yohanes Pembaptis merupakan seorang yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Atau lebih tepat lagi, Yohanes Pembaptis “meratakan jalan” agar kerajaan sorga dapat hadir, sebab sudah sangat dekat.

Yohanes Pembaptis “meratakan jalan” bagi kerajaan sorga dengan berseru agar bangsa Yahudi bertobat. Istilah Yunani yang diterjemahkan dengan ‘bertobatlah’ adalah ‘metanoeo’, suatu kata kerja yang berarti ‘merubah pikiran’, atau ‘merubah konsep’, secara khusus terkait dengan penerimaan kehendak Elohim. Seseorang harus merubah pikirannya atau konsepnya agar dapat menerima kehendak Elohim, atau menerima kerajaan sorga.

Perubahan pikiran yang dimaksud disini bukan saja terkait dengan perilaku yang jahat, tetapi juga dengan perilaku ‘agamawi’. Marilah kita renungkan hal ini baik2. Yohanes Pembaptis dan Yesus sama-sama memberitakan khabar baik (Injil) kerajaan sorga. Kerajaan sorga bukanlah sesuatu yang sudah pernah diberitakan sebelumnya. Khabar baik kerajaan sorga merupakan sesuatu yang sangat radikal, dan bangsa Yahudi belum pernah mendengar hal ini sebelumnya. Memang secara nubuat, kitab2 PL telah berbicara mengenai Mesias dan kerajaanNya, namun dalam realitanya, mereka belum memahami.

Kerajaan sorga yang akan dihadirkan adalah suatu pemerintahan Elohim didalam batin manusia. Cara beribadah orang2 yang menerima kerajaan sorga didalam batinnya tidaklah sama dengan cara beribadah dalam agama Yahudi (Yudaisme). Bangsa Yahudi harus benar-benar merubah pikiran dan konsep mereka, terutama konsep agamawi mereka, agar dapat menerima kerajaan sorga. Ibadah didalam diri orang2 yang menerima kerajaan sorga adalah ibadah dalam roh dan realita. Yesus tegaskan kepada perempuan Samaria bahwa ibadah bukanlah soal ritual ini atau itu, bukanlah soal ditempat ini atau itu. Ibadah adalah perkara didalam hati manusia yang mentaati pemerintahan Elohim dalam dirinya.

Tidaklah mudah bagi bangsa Yahudi untuk menerima kerajaan sorga, terutama para pemimpin agamanya. Mereka berpikir bahwa Mesias adalah anak Daud, dan karenanya kerajaan Mesias itu haruslah kerajaan jasmani seperti kerajaan Daud. Kerajaan Mesias haruslah melepaskan Israel dari musuh2 jasmani mereka, dan pada zaman itu adalah kekaisaran Roma. Sementara itu, kerajaan sorga yang akan hadir adalah kerajaan yang berasal dari dimensi sorgawi. Kerajaan sorga akan membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan perbudakan kebinasaan. Itu sebabnya, bangsa Yahudi harus bertobat bukan saja dari perilaku yang jahat, tetapi dari perilaku agamawi mereka.

Ketika para pemimpin agama Yahudi datang kepada Yohanes Pembaptis, maka Yohanes menegur dengan keras dan berkata, “…Hai kamu keturunan ular beludak… jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami…” (Matius 3:7-9). Menarik untuk diperhatikan disini bahwa Yohanes tidak menunjuk kepada dosa2 tertentu dari para pemimpin agama Yahudi ini, melainkan kepada “kebanggaan agamawi” atau kebanggaan sebagai umat pilihan Yahweh karena memiliki Abraham sebagai bapa mereka. Kita akan lihat kelak bahwa kehadiran kerajaan sorga akan menutup dispensasi Hukum Taurat dengan segala ritual2nya. Pada tahun 70 M. Bait Suci dihancurkan, dan praktis segala ritual2 agama Yahudi terhenti. Jika para pemimpin agama Yahudi dapat merubah konsep agamawi mereka, maka barulah mereka dapat menerima kerajaan sorga. Itu sebabnya, mereka harus bertobat.

Saat ini, dunia kekristenan juga sudah menjadi agama dengan segala ritual dan aturan2nya. Seseorang yang menerima kerajaan sorga didalam batinnya, dan mengikuti pemerintahan Elohim dalam batinnya, tidak mungkin berada dalam sistem kekristenan saat ini. Para pemimpin agama dalam dunia kekristenan juga harus bertobat agar dapat beribadah mengikuti pemerintahan Elohim dalam batinnya.

Kita akan membahas perihal Yesus yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Matius 3:13-15, demikian, “Kemudian datanglah YESUS dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes, untuk dibaptis olehnya… Akan tetapi sambil menanggapi, YESUS berkata kepadanya, Turutilah sekarang, karena demikianlah yang seharusnya terjadi pada kita untuk menggenapi seluruh kebenaran…” (ILT). Kita harus ingat bahwa baptisan Yohanes adalah pembaptisan dengan air kepada pertobatan (Matius 3:11). Dan telah kita tegaskan bahwa pertobatan itu berarti suatu perubahan pikiran dan konsep, bukan saja terkait perilaku yang jahat tetapi juga perilaku agamawi.

Alasan Yesus dibaptis oleh Yohanes adalah untuk ‘menggenapi seluruh kebenaran’. Tentu Yesus dibaptis oleh Yohanes bukan karena Ia berdosa. Tetapi setidaknya, ada dua hal yang perlu kita renungkan disini. Pertama, Yesus dibaptis sebagai suatu tanda ‘identifikasi’. Yesus sebagai Anak Domba yang akan menjadi korban penghapus dosa harus meng-identifikasi-kan DiriNya atau “menjadi sama” dengan orang berdosa, agar Ia dapat mati ganti manusia berdosa.  II Korintus 5:21, menegaskan, “Sebab, Dia yang tidak mengenal dosa, demi kita Dia telah menjadi dosa, supaya kita dapat menjadi kebenaran Elohim di dalam Dia” (ILT).

Kedua, Yesus dibaptis oleh Yohanes dalam ‘identifikasi-Nya’ sebagai seorang Yahudi yang harus melewati proses “perubahan pikiran agamawi”. Program penyelamatan Elohim terus bergerak maju. Ibrani 8:13, menegaskan, “Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya”. Kurang lebih 10 tahun kemudian setelah ditulisnya surat Ibrani ini, maka Bait Suci Yerusalem dimusnahkan. Perjanjian Lama dengan segala ritualnya praktis tidak dapat dijalankan lagi. Dan program penyelamatan Elohim terhadap bangsa Yahudi, maupun terhadap bangsa2 lain adalah didalam dan melalui Perjanjian Baru. Yesus telah menubuatkan kehancuran Bait Suci Yerusalem, dan tidak pernah menubuatkan akan didirikan Bait Suci Yerusalem yang ketiga. Seluruh bangsa Yahudi harus melalui ‘perubahan pikiran’ (pertobatan) dari agama mereka (Yudaisme), agar dapat menerima kerajaan sorga. Dan Yesus meng-identifikasikan DiriNya dengan cara dibaptis oleh Yohanes.

Sejak gereja mula-mula pecah menjadi puluhan ribu denominasi, sesungguhnya telah terjadi ‘kemunduran’ dalam gereja. Gereja tidak lagi sepenuhnya memelihara Perjanjian Baru. Dunia kekristenan dengan segala “ritual campurannya”, baik itu aturan2 organisasi, aturan2 Perjanjian Lama, seperti hukum persepuluhan, buah sulung, dan lainnya, maupun aturan2 dari sang pemimpin itu sendiri, telah menjadi semacam “agama baru”. “Agama baru” ini bukan agama Yahudi, juga bukan Kristen, dalam arti mengikuti Kristus kemana saja Ia pergi (Wahyu 14:4), tetapi agama baru ini adalah agama Kristen. Yesus tidak pernah datang untuk membangun suatu agama apapun termasuk agama kristen, Ia datang supaya kita memperoleh Hayat (‘zoe’), dan hidup kita sehari-hari diatur oleh Hayat Kristus. Kita hidup sebagai organisme Kristus, yaitu Tubuh Kristus, dan tidak ada otoritas lain selain otoritas Hayat Kristus yang mengatur Tubuh. Otoritas dalam dunia kekristenan adalah “otoritas campuran”. Selain otoritas Hayat Kristus juga ada otoritas para pemimpin yang menarik umat Tuhan kepada diri mereka, serta membangun kerajaannya sendiri, yaitu denominasi-denominasi.  

Jika seseorang mandapat kasih karunia dan ditentukan Bapa untuk menerima kerajaan itu, seperti ditegaskan dalam Lukas 12:32, demikian, “Jangan takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”, maka kita akan bertobat dan meninggalkan perilaku agamawi yang ada dalam dunia kekristenan.  

Kita teruskan pembahasan kita dengan melihat apa yang terjadi pada Yesus setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Matius 3:17, menegaskan, “lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”. Kita lihat disini bahwa Bapa disorga sudah berkenan kepada Yesus, ketika Ia belum melakukan pelayananNya sama sekali. Selama kurang lebih 30 tahun kehidupan Yesus, Bapa telah berkenan kepadaNya. Seseorang tidak harus terlihat melakukan “aktifitas agamawi” untuk berkenan kepada Bapa. Jika kehidupan kita sehari-hari dipimpin Kristus yang ada didalam batin kita, maka kita berkenan kepada Bapa disorga. Sekali lagi kita lihat bahwa segala “aktifitas agamawi” seseorang tidak lantas atau langsung membuat Bapa berkenan kepadanya. 

Selanjutnya, Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (Matius 4:1-11). Kita tidak membahas dengan rinci pencobaan Iblis ini, tetapi kita akan melihat bagaimana Yesus menghadapinya. Pencobaan pertama dan kedua dari Iblis membujuk Yesus untuk ‘bertindak sendiri’ sebagai Putera Elohim untuk memenuhi kebutuhanNya. Tetapi Yesus menolaknya dengan berkata ‘ada tertulis’. Yesus, sebagai Anak Manusia, tergantung sepenuhnya kepada Bapa. Pada pencobaan ketiga, Iblis berjanji kepada Yesus, sebagai Anak Manusia, untuk memberikan semua kerajaan dunia dan kemegahannya, jika Yesus mau menyembahnya. Juga hal ini ditolakNya dengan berkata, ‘ada tertulis’. Disini kita lihat jelas bahwa Yesus sepenuhnya bergantung kepada Bapa. Yesus tidak mau melakukan sesuatu atas dasar inisiatif-Nya atau kehendak-Nya sendiri. Yesus diutus Bapa disorga sebagai ‘Anak Manusia’ agar dapat menebus dosa ‘manusia’. Dan, sebagai manusia, Ia sepenuhnya tergantung Bapa.

Hal ini berbeda dengan peristiwa dimana Iblis mencobai Adam dan Hawa di Taman Eden. Adam dan Hawa bertindak sendiri untuk memiliki pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Sebelum Iblis mencobai Adam-Hawa, mereka tidak tahu apapun tentang yang baik dan jahat. Mereka sepenuhnya tergantung Bapa dalam menentukan baik atau jahat. Jika Bapa disorga berkata bahwa sesuetu itu baik, maka merekapun berkata bahwa tu baik. Jika Bapa disorga berkata bahwa sesuatu itu jahat, maka merekapun berkata bahwa sesuatu itu jahat. Sebelum datang pencobaan Iblis, mereka sepenuhnya tergantung kepada Bapa disorga. Kejatuhan Adam-Hawa pada intinya (esensinya) adalah MENENTUKAN SENDIRI APA YANG BAIK DAN APA YANG JAHAT.

Sesungguhnya, dunia kekristenan telah menjadi AGAMA, yaitu agama Kristen. Melalui tiga ajaran palsu Izebel, Bileam dan Nikolaus, kekristenan yang awalnya organisme yang diatur langsung oleh Hayat Kristus, telah berubah menjadi dunia (sistem=’kosmos’) keagamaan. Dan pada intinya (esensinya) dunia kekristenan, melalui para pemimpinnya masing-masing, telah menentukan sendiri apa yang baik, dan apa yang jahat. Setiap denominasi memiliki pengertian sendiri tentang yang baik dan jahat menurut pemimpinnya. Tentu setiap pemimpin akan berkata, ‘ada tertulis’. Tetapi pada kedatanganNya, Ia akan berterus terang, dan akan menghakimi dunia kekristenan, agar kita semua mengenal kebenaran, mengenal apa yang benar dan apa yang salah menurut Yesus.

Setelah dicobai oleh Iblis, maka Yesus mulai memberitakan khabar baik kerajaan sorga. Matius 4:17, menegaskan, “Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat”. Istilah Yunani, ‘eggizo’, yang diterjemahkan, ‘sudah dekat’ pada ayat diatas, sebenarnya berarti ‘suatu tindakan pada masa lalu, tetapi masih memberi efek terus menerus sampai saat ini’. Artinya, Kerajaan Sorga sudah tiba, dan tidak harus ditunggu lagi untuk datang di masa depan. Esensi dari pesan yang dibawa Yesus adalah waktu Tuhan sudah tiba-sekarang. KerajaanNya sekarang sudah datang, dan menerobos dunia dimana manusia berdiam.

Lukas 17:21, menegaskan, “juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (LAI). Istilah Yunani, ‘entos’ yang diterjemahkan, ‘diantara’, sesungguhnya berarti ‘didalam’. Jadi, kerajaan sorga sesungguhnya ada ‘didalam’ kamu. Kerajaan sorga adalah kerajaan yang ada dalam dimensi sorgawi, dan kerajaan sorga sudah datang, serta ada didalam batin manusia. Seseorang harus bertobat dari dosa2nya, dan juga dari praktek2 agamawi, serta percaya Yesus agar dapat masuk kedalam kerajaan sorga, dan merasakan kuasa kehadiran kerajaan sorga didalam batinnya. 

Yesus datang kedalam dunia ini memberitakan khabar baik kerajaan sorga. Perhatikan Matius 4:23, demikian, “Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu” (LAI). Yesus tidak memberitakan injil lainnya, selain injil (khabar baik) kerajaan sorga. Dari ayat diatas kita lihat urutannya, yaitu pertama, ‘mengajar’, kemudian, ‘memberitakan’, selanjutnya, ‘mendemonstrasikan kuasa’ dari kerajaan sorga itu dengan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.

Langkah pertama yang dilakukan Yesus adalah mengajar tentang khabar baik kerajaan sorga, dan kemudian memberitakan kerajaan sorga. Seseorang menjelaskan perbedaan mengajar dan memberitakan sedemikian. Mengajar itu selalu dilakukan dengan teratur dan sistematis. Seseorang yang mengajarkan kerajaan sorga harus menjelaskan apa, mengapa dan bagaimana kerajaan sorga itu. Tetapi, memberitakan kerajaan sorga itu seperti memproklamasikannya, yaitu seperti, ‘bertobatlah, sebab kerajaan sorga sudah dekat’. Ini adalah memproklamasikan kerajaan sorga. Setelah kerajaan sorga diajarkan dan diberitakan, barulah kuasa kehadirannya dipertontonkan.

Dalam dunia kekristenan sering orang berkata yang penting injil diberitakan. Saudaraku, sadarkah kita bahwa ungkapan ‘memberitakan Injil’ itu adalah kalimat yang tidak lengkap. Persoalannya, injil atau khabar baik apa yang diberitakan? Ada banyak khabar baik didunia ini. Tetapi, Yesus dan rasul2Nya hanya memberitakan satu khabar baik, yaitu khabar baik kerajaan sorga. Dan cara Yesus menyampaikan khabar baik kerajaan sorga adalah dengan mengajar, memberitakan, dan mendemonstrasikan kuasanya.

Saat ini, sebagai umat kerajaan, kita perlu mengajarkan khabar baik kerajaan sorga, sesuai dengan karunia/talenta yang Tuhan berikan. Kita juga perlu memproklamasikannya. Dan, terakhir, kita juga perlu mendemonstrasikan kuasa kerajaan sorga dalam kehidupan kita sehari-hari. Yesus berjanji, ‘kamu akan melakukan perkara2 yang lebih besar lagi’. Kita percaya ketika putera2 Elohim ditampilkan dibumi ini dengan tubuh kemuliaan, maka kita akan melakukan perkara2 yang lebih besar lagi, sesuai janji Tuhan Yesus.

Telah kita lihat bahwa kerajaan sorga sudah datang ke bumi ini. Yesus adalah permulaan hadirnya kerajaan sorga dibumi. Sesungguhnya, Yesus adalah kerajaan sorga dimuka bumi ini, Yesus adalah pemerintahan Elohim yang berdiam didalam manusia. Ketika Yesus datang kebumi ini 2000 tahun yang lalu, maka kerajaan sorga sudah datang kebumi. Yesus menegaskan bahwa jika ‘biji gandum’ tidak jatuh ketanah dan mati, maka ia tetap satu biji saja. Tetapi, jika ia mati, maka ia menghasilkan banyak buah. Melalui kematian, kebangkitan, serta kenaikanNya kesorga, maka Roh Kudus dicurahkan kepada 120 orang muridNya. Inilah “banyak buah” yang dimaksud Yesus, karena Ia telah mati, bangkit dan duduk disebelah kanan Bapa.

Selanjutnya, kita akan membahas Matius pasal 5-7, yang biasa disebut ‘khotbah dibukit’. Tentu kita tidak membahasnya ayat per ayat, namun sebelum kita membahasnya, marilah kita perhatikan Matius 5:1-2, berikut ini, “Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-muridNya kepadaNya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kataNya…”. Istilah ‘mereka’ pada ayat ini adalah murid2Nya. Yesus tidak berbicara kepada ‘orang banyak’. Bahkan terkesan bahwa Yesus menghindari ‘orang banyak’ dengan cara mendaki keatas bukit. Walaupun, pada akhirnya, ‘orang banyak’ ikut mendengarkan dan takjub mendengar pengajaranNya (Matius 7:28), tetapi jelas pengajaran Yesus pada ‘khotbah dibukit’ bukan ditujukan kepada ‘orang banyak’. Mengapa demikian?

Didalam kitab2 Injil para pengikut Yesus bermacam2. Ada yang disebut ‘orang banyak’, ada yang disebut ‘murid2Nya’, dan ada juga yang disebut ‘rasul2’. Bahkan diantara rasul2pun, ada tiga orang, yaitu Petrus, Yohanes dan Yakobus, yang diajak Yesus bersama-sama dalam beberapa kasus tertentu.

Mari kita melihat kasus Yesus memberi makan 5000 laki-laki dalam injil Yohanes, dimana ‘orang banyak’ ini pada akhirnya mencari Yesus (Yohanes 6:1-27). Kita harus paham bahwa ‘orang banyak’ ini mengikut Yesus karena, “…mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakanNya terhadap orang-orang sakit” (ayat 2). Walaupun demikian, Yesus tetap memberkati ‘orang banyak’ yang mengikutiNya dengan memberi mereka makan roti. Tetapi ketika ‘orang banyak’ yang telah makan “roti mujizat” ini kembali mencari Yesus, maka Yesus menegor mereka agar mereka bekerja untuk makanan yang tidak akan binasa, yaitu “roti hidup” yang akan Yesus berikan (ayat 26-27). Jadi, kita lihat bahwa ‘orang banyak’ adalah pengikut Yesus, namun mereka mengikutiNya karena mujizat dan roti jasmani. Yesus tetap memberkati mereka, namun juga menegor mereka.

Mari kita kembali kepada ‘khobah dibukit’. Khotbah dibukit adalah pengajaran tentang kerajaan sorga yang khusus ditujukan untuk murid2 Yesus. Bukan berarti Yesus tidak memberkati ‘orang banyak’ yang mengikutiNya, tetapi perihal pengajaran kerajaan sorga memang bukanlah konsumsi ‘orang banyak’. 

Dalam dunia kekristenan juga terdapat “orang banyak”, dan juga murid2 Tuhan. Orang banyak dalam dunia kekristenan mencari Yesus untuk roti jasmani dan mujizat2Nya. Sekali lagi, Yesus tetap memberkati ‘orang banyak’, tetapi dalam hal pengajaran tentang kerajaan sorga bukanlah konsumsi “orang banyak” dalam dunia kekristenan. Itu sebabnya, dalam dunia kekristenan, ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Semua tergantung kedaulatan Bapa untuk memberikan ‘kerajaan’ kepada siapa yang Bapa berkenan (Lukas 12:32).

Mari kita kembali merenungkan Matius 5-7, dimana telah kita lihat bahwa khotbah dibukit ini, secara khusus, ditujukan kepada murid2 Yesus. Khotbah dibukit ini adalah pengajaran Yesus tentang kerajaan sorga. Kita akan melihat nanti bahwa Yesus berkali-kali membandingkan pengajaranNya dengan agama Yahudi, yang tentu didasarkan oleh Hukum Taurat. Kita dapat menyebut pengajaran Yesus dibukit ini adalah pengajaran tentang Hukum Kerajaan Sorga. Kita menyebut khotbah dibukit ini sebagai Hukum Kerajaan Sorga karena didalam Matius 7:21-23, terdapat orang2 yang melanggar Hukum Kerajaan Sorga. Perhatikan istilah Yunani ‘anomia’ di ayat 23, yang berarti ‘ketiadaan hukum’ atau ‘violation of Law’ (pelanggaran Hukum). Jadi, Matius 5-7, adalah pengajaran Yesus tentang Hukum kerajaan Sorga. Barangkali, kita bisa memberi judul terhadap khotbah dibukit ini sebagai ‘Hukum Taurat dan Hukum Kerajaan Sorga’.

Tetapi kita harus sangat jelas dalam membedakan Hukum Taurat dan Hukum kerajaan Sorga. Galatia 3:23-25, menegaskan, “Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi dibawah pengawasan penuntun”.

Bagaimana Hukum Taurat dapat menuntun seseorang untuk datang kepada Kristus? Hukum Taurat berfungsi membuat seseorang menyadari bahwa dirinya berdosa. Perhatikan Roma 7:7, “…. Justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa…”. Jika, oleh kasih karunia Elohim, seseorang sadar akan dosanya dan juga sadar bahwa ia tidak dapat memenuhi hukum Tuhan, maka ia akan datang kepada Kristus untuk dibenarkan oleh iman. Demikianlah Hukum Taurat menjadi penuntun agar seseorang datang kepada Kristus. Hukum Kerajaan Sorga yang diajarkan Yesus dalam Matius 5-7, tidaklah berfungsi seperti Hukum Taurat yang membongkar dosa-dosa, melainkan justru dengan memahami Hukum Kerajaan Sorga, maka seseorang akan hidup oleh iman, serta semata-mata bergantung pada kasih karunia Tuhan. 

Satu cara lagi untuk membedakan Hukum Taurat dan Hukum kerajaan Sorga. Ketika Yesus datang dan memberitakan injil kerajaan sorga, maka Yesus membuka suatu dispensasi yang baru, kita sebut saja dispensasi kerajaan sorga. Dispensasi lama, yaitu dispensasi Hukum Taurat berlaku sampai kepada zaman Yohanes Pembaptis (Lukas 16:16). Memang Yohanes Pembaptis memberitakan kerajaan sorga juga sebagai ‘perintis’, tetapi ia sendiri ada dan melayani didalam dispensasi Hukum Taurat dan para nabi. Jadi, ketika Yesus mengajarkan Hukum Kerajaan Sorga, hal ini sama sekali tidak terkait dengan dispensasi Hukum Taurat. Bukan berarti Hukum Taurat dilanggar, melainkan Yesus telah dengan sempurna menggenapi Hukum Taurat, dan sekaranglah tiba dispensasi Kerajaan Sorga.

Beberapa orang lebih suka menyebut dispensasi baru ini sebagai dispensasi ‘kasih karunia’ atau dispensasi ‘gereja’. Hal ini tidak masalah sepanjang kita memiliki pengertian yang tepat mengenai kerajaan sorga. Sesungguhnya, kerajaan sorga SUDAH datang didalam diri Tuhan Yesus, dan SEDANG datang, karena dimana dua-tiga orang berkumpul dalam namaNya Tuhan Yesus hadir, dan AKAN DATANG secara penuh ketika putera2 Elohim ditampilkan dibumi ini dengan tubuh kemuliaan (Roma 8:19-21). Jadi, kerajaan sorga sudah datang kebumi, sedang datang terus dibumi, dan akan termanifestasi dengan penuh dibumi, ketika Tuhan Yesus datang “kedua kali”. 

Kita masih terus membahas ‘Hukum kerajaan Sorga’ yang diajarkan Yesus dalam Matius 5-7. Telah kita tegaskan bahwa Hukum kerajaan Sorga ditujukan khusus bagi murid2 Yesus. Mari kita bandingkan ‘Hukum kerajaan Sorga’ dengan apa yang Paulus tegaskan dalam I Korintus 9:21, demikian, “Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup diluar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat” (LAI). Paulus tegas menyatakan disini bahwa ia hidup dibawah ‘hukum Kristus’.

Istilah ‘Kristus’ (Yun:’Christos’) didalam PB muncul sebanyak 529 kali, yang berarti ‘Mesias’ atau ‘yang diurapi’. Matius menggunakan istilah ‘Kristus’ dengan ‘definite article’ untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan (Matius 2:4). Para pembaca injil Matius yang berlatar belakang Yahudi sangat memahami hal ini. Tulisan2 Paulus penuh dengan istilah ‘Kristus’ dengan pengertian ‘suatu nama’, seperti terdapat dalam Roma 5:6; I Korintus 1:6,13,17; Efesus 2:5; Filipi 1:15; II Tesalonika 3:5; I Timotius 5:11. Dan, ungkapan yang sering digunakan Paulus untuk menjelaskan hubungan antara orang percaya dengan Tuhan Yesus adalah ‘dalam Kristus’ (II Korintus 5:17; Efesus 1:3-14; Filipi 3:8-9).

Ketika Paulus menggunakan istilah ‘Kristus’, maka ada beberapa makna didalamnya. Kita akan melihat beberapa makna yang dimaksud Paulus, agar kita lebih memahami ungkapan, ‘hidup dibawah hukum Kristus’, yang dimaksud Paulus dalam ayat kita diatas. Pertama, Kristus adalah kerajaan. Efesus 5:5, menegaskan, “… yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus…”. Kedua, Kristus adalah hidup kita. Filipi 1:21, menyatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus…”. Kolose 3:4, menegaskan, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita…”. Ketiga, Kristus adalah Roh. Roma 8:9, menyatakan, “… Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus”. Keempat, Kristus ada didalam batin kita. Kolose 1:27, menyatakan, “… Kristus yang ada di dalam kamu, selaku pengharapan kemuliaan” (ILT).

Dengan memperhatikan beberapa makna dari istilah ‘Kristus’ yang dipakai Paulus diatas, maka kita dapat memahami ungkapan ‘hidup dibawah hukum Kristus’ tidak lain adalah ‘hidup dibawah hukum kerajaan sorga’. Tetapi, hukum Kristus itu ada didalam batin kita sebagai Hayat (‘zoe’) kita. Dengan bertumbuhnya ‘zoe’ didalam batin kita, maka bertumbuh juga pengenalan kita akan hukum Kristus. Karenanya, semakin hari, kita semakin hidup dibawah hukum Kristus.

Hukum Kerajaan Sorga yang diajarkan Yesus dalam Matius 5-7, bukan dijalankan oleh kita, tetapi oleh hukum Kristus yang ada didalam batin kita. Kita tidak mungkin dapat mentaati Hukum kerajaan sorga yang tertulis dalam Matius 5-7. Tetapi, dengan bertumbuhnya hukum Kristus dalam batin kita, maka kita semakin dimampukan untuk melakukan Hukum Kerajaan Sorga dalam Matius 5-7. Bukan kita yang menjalankan Hukum kerajaan Sorga, tetapi Kristus yang ada didalam batin kita.

Itu sebabnya, murid2 Yesus yang menjalankan hukum kerajaan Sorga dalam Matius 5-7, tidaklah seperti orang2 Yahudi yang hidup dibawah Hukum Taurat. Murid2 Yesus tidak berada dibawah Hukum Taurat, melainkan dibawah kasih karunia. Yesus yang mengajarkan hukum Kerajaan Sorga kepada murid2Nya, tetapi Kristus dalam batin kita yang melakukannya.  

Kita teruskan pembahasan kita tentang ‘hukum kerajaan sorga’ dalam Matius 5-7. Telah kita lihat bahwa hukum kerajaan sorga itu sama dengan hukum Kristus didalam batin kita. Dan, dengan bertumbuhnya hidup Kristus (‘zoe’) didalam batin kita, maka kita semakin hidup dibawah hukum Kristus atau hukum kerajaan sorga. Kita tidak perlu heran/menghindar dari tuntutan2 Hukum Kerajaan Sorga dalam Matius 5-7 ini, ataupun mencoba “menurunkan standard” dari tuntutan2 Hukum ini. Karena, tuntutan2 Hukum Kerajaan Sorga ini dijalankan oleh Kristus yang ada didalam batin kita.

Mari kita ambil satu contoh tuntutan Hukum Kerajaan Sorga ini didalam Matius 5:48, demikian, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”. Perhatikan tuntutan ini, ‘kamu harus sempurna’, dan tingkat kesempurnaannya ‘haruslah sama seperti’ kesempurnaan Bapa disorga. Kita jangan langsung berpikir bahwa kesempurnaan ini tidak mungkin kita capai. Sudah tentu tidak mungkin kita capai selama kita berdiam didalam tubuh ini, bahkan dengan bantuan Roh Kudus sekalipun. Paulus menegaskan bahwa ia merasa ‘masih jauh’ (absent) dari Tuhan selama mendiami tubuhnya (II Korintus 5:6). Dalam Filipi 3:12, Paulus juga berkata, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus”. Maksud Paulus pada ayat ini ialah ‘mengejar’ pengenalan akan Dia, kuasa kebangkitanNya, persekutuan dalam penderitaanNya, supaya Paulus serupa dengan Dia dalam hal kematianNya, sehingga Paulus memperoleh kebangkitan dari antara orang mati (Filipi 3:10-11). 

Sekalipun demikian, Paulus dalam surat2nya berkata bahwa seseorang dapat diselamatkan, karena diperhitungkan kepadanya ‘kebenaran Elohim’ melalui iman. Oleh kasih karuniaNya, maka kita MENJADI kebenaran Elohim. Bukan saja kita menjadi kebenaran Elohim, tetapi kita juga menjadi KESEMPURNAAN BAPA melalui iman. Karenanya, secara ‘hukum’ atau ‘de yure’, kita SUDAH mencapai KESEMPURNAAN BAPA. Namun secara pengalaman, atau ‘de facto’, kita SEDANG dalam proses menuju kesana. Kalau demikian, siapa yang bertanggung jawab untuk membuat kita mencapai kesempurnaan Bapa, SECARA PENGALAMAN, atau de facto?

Perhatikan Lukas 12:32, demikian, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”. Ditegaskan disini bahwa perihal memperoleh kerajaan sorga itu adalah persoalan apakah Bapa berkenan memberikannya, atau tidak. Bukan soal usaha kita, tetapi perkenan Bapa. Kalau demikian, siapa yang bertanggung jawab untuk membuat “kawanan kecil” menerima kerajaan sorga? Atau siapa yang bertanggung jawab untuk membuat “kawanan kecil” mencapai kesempurnaan Bapa? Tentu saja Bapa disorga yang bertanggung jawab untuk membuat “kawanan kecil’ memenuhi tuntutan kerajaan sorga, yaitu harus sempurna seperti Bapa.

Tuntutan keselamatan atau tuntutan menerima kerajaan sorga itu adalah tanggung jawab Bapa, bukan tanggung jawab kita. Tentu kita dilatih oleh Bapa dan didisiplin olehNya agar kita layak menerima kerajaan sorga. Tetapi, itu adalah urusan Bapa disorga. Bukan berarti kita tidak mengerjakan keselamatan kita dengan aktif, sebagaimana Filipi 2:12-13 katakan, tetapi tanggung jawab untuk menerima kerajaan sorga ada ditangan Bapa.

Dalam dunia kekristenan, umumnya, para pemimpin agama ‘menuntut’ umat Tuhan untuk harus ini atau itu agar masuk sorga. Harus memberikan persepuluhan atau buah sulung atau janji iman, harus datang rutin kegedung tertentu, dan sebagainya. Tuntutan2 agamawi seperti ini bukanlah tuntutan yang ada dalam Hukum kerajaan sorga atau Hukum Kristus. Semua tuntutan agamawi ini memperbudak umat Tuhan, walaupun tentu kita paham mengapa para pemimpin agama ini melakukan hal demikian. Tetapi, umat kerajaan tidak dapat diperbudak oleh tuntutan2 agamawi seperti ini.

Kita masih membicarakan Hukum Kerajaan Sorga didalam Matius 5-7. Telah kita tegaskan bahwa Tuhan yang menuntut, tetapi Tuhan juga yang melakukannya didalam dan melalui kita. Tuntutan2 dalam Hukum Kerajaan Sorga tidak mungkin kita penuhi. Namun, oleh kasih karuniaNya kita dimampukan melakukannya menurut waktu dan cara Tuhan.

Kita tidak akan membicarakan semua poin yang ada didalam Matius 5-7 ini. Saat ini kita akan membicarakan 9 ucapan bahagia yang ada didalam Matius 5:3-12. Mari kita bahas kesembilan ucapan ini dengan cepat. Pertama, ditegaskan bahwa yang berbahagia adalah orang yang miskin dihadapan Elohim, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga (ayat 3). Teks asli berkata, ‘miskin dalam roh’, yang artinya tidak berkeinginan untuk menjadi kaya.

Kedua, berbahagialah orang yang berduka-cita. Maksudnya, orang yang merasa sedih dengan kondisi dunia ini dimana terdapat ketidak-adilan, dimana firman Tuhan ditolak, dan Tuhan Yesus juga ditolak. Semua ini menimbulkan kesedihan dan dukacita didalam batin umat kerajaan. Ketiga, berbahagia orang yang lemah-lembut. Lemah-lembut disini berarti tidak melawan, dan dapat menanggung tekanan. Keempat, Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Kebenaran disini menunjuk kepada perilaku yang benar. Ayat ini tidak berbicara berbahagialah orang benar, karena tidak seorangpun dapat berkata ia berperilaku benar. Tetapi, orang yang merindukan berperilaku benar akan dipuaskan.

Kelima, berbahagialah orang yang murah hatinya. Artinya, dapat memberikan sesuatu kepada orang yang sebenarnya tidak ber-hak menerimanya. Keenam, berbahagialah orang yang suci hatinya. Teks asil berkata, ‘murni hatinya’. Orang yang murni hatinya, berarti hanya memiliki satu tujuan, yaitu melakukan kehendak Bapa dan mempermuliakan namaNya. Ketujuh, berbahagialah orang yang membawa damai. Bapa mendamaikan dunia dengan DiriNya melalui pengorbanan Kristus. Berbahagialah orang yang membawa berita damai ini kepada dunia. Kedelapan, berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran. Ungkapan ini menunjuk kepada masa yang lalu. Semua orang kudus dalam PL yang dianiaya karena kebenaran akan memiliki kerajaan sorga. Kesembilan, ucapan bahagia yang terakhir ini ditujukan kepada orang kudus dalam PB yang dianiaya, dicela, dan difitnah karena Kristus Yesus. 

Jika kita perhatikan 9 ucapan bahagia ini, maka semua terkait dengan kondisi batin umat kerajaan. Tidak ada satu ucapan bahagia yang dihubungkan dengan seseorang yang memiliki banyak harta, dihormati orang banyak, sukses duniawi, atau meraih prestasi tinggi. Mengapa demikian? Ada beberapa hal harus kita perhatikan terkait hal ini. Perjanjian Baru memang terfokus kepada berkat rohani (Efesus 1:3), sementara Perjanjian Lama sebagai simbol, nubuat, dan bayangan, memang terfokus kepada berkat2 jasmani. Selanjutnya, Kristus memang ada didalam batin umatNya (Kolose 1:27). Kerajaan Kristus ada didalam batin kita saat ini. Itu sebabnya, ke-9 ucapan bahagia ini terkait kepada kondisi batin kita dihadapan Tuhan.

Walaupun demikian, kerajaan Kristus yang ada didalam batin kita akan ditampilkan dibumi ini pada saat kedatanganNya (biasa disebut kedatangan Yesus kedua kali). Itu sebabnya, ditegaskan bahwa orang yang lemah-lembut akan memiliki bumi. Karena pada saat kedatanganNya, umat kerajaan akan memerintah dibumi ini bersama Tuhan Yesus.

Kita masih membicarakan sedikit mengenai 9 ucapan bahagia yang ada didalam Matius 5:3-12. Tetapi sebelumnya kita akan memilah khotbah dibukit ini menjadi 6 bagian, serta akan memberikan judul atau pikiran pokok atas setiap bagiannya. Bagian pertama, Matius 5:1-16, dengan pokok pikiran utamanya adalah ‘identitas atau sifat dasar umat kerajaan’. Bagian kedua, Matius 5:17-48, dengan pokok pikirannya adalah ‘penggenapan Hukum Taurat’. Bagian ketiga, Matius 6:1-18, dengan pokok pikirannya adalah ‘ibadah umat kerajaan’. Bagian keempat, Matius 6:19-34, dengan pokok pikirannya adalah ‘pengabdian umat kerajaan terkait mamon’. Bagian kelima, Matius 7:1-12, dengan pokok pikirannya adalah ‘persekutuan umat kerajaan’. Bagian keenam, Matius 7:13-29, dengan pokok pikirannya adalah ‘umat kerajaan dan orang banyak serta penyesatan yang akan terjadi’. 

Mari kita perhatikan kembali ke-9 ucapan bahagia, secara khusus, yang berbicara mengenai kerajaan sorga dan bumi. Ditegaskan bahwa umat kerajaan memiliki atau mewarisi kerajaan sorga dan juga bumi. Apakah maksudnya mewarisi kerajaan sorga, dan juga memiliki bumi? Kita tahu bahwa umat kerajaan saat ini juga sudah menjadi warga kerajaan sorga, dan bahwa kerajaan sorga saat ini juga sudah ada didalam batin umat kerajaan. Umat kerajaan tidak harus mati jasmani dahulu barulah kemudian masuk kedalam kerajaan sorga. Saat ini juga, oleh kasih karunia dan perkenan Bapa, umat kerajaan (‘kawanan kecil’) telah mewarisi kerajaan sorga (Lukas 12:32).

Pada waktu kedatangan Yesus, maka umat kerajaan akan ditampilkan dibumi ini dengan tubuh kemuliaan untuk memerintah serta memiliki bumi (Wahyu 5:10; 20:4; Roma 8:19-21). Kerajaan2 didunia ini akan menjadi kerajaan Tuhan dan umat kerajaan (Wahyu 11:15). Bersama dengan Tuhan Yesus, umat kerajaan akan memerintah bumi, serta menaklukkan segala sesuatu sehingga Bapa menjadi semua dalam semua (I Korintus 15:21-28). Musuh terakhir yaitu maut, yang adalah upah dosa ditaklukkan. Melalui pelayanan umat kerajaan, maka bumi bergerak menuju bumi baru dan langit baru juga. Demikianlah umat kerajaan mewarisi kerajaan sorga, dan juga memiliki bumi, sesuai khotbah Yesus di bukit.

Saat ini memang umat kerajaan belum memiliki banyak hal, tetapi Paulus berkata dalam II Korintus 6:10, demikian, “sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu”. Perkataan Paulus disini seolah-olah bertentangan, namun umat kerajaan percaya sepenuhnya janji2 Tuhan Yesus bahwa kita akan memiliki bumi, dan akan menaklukkan segala sesuatu agar Bapa menjadi semua dalam semua.

Dalam dunia kekristenan, pada umumnya, sudah diajarkan dan dipercaya bahwa orang Kristen akan meninggalkan bumi ini menuju “sorga nun jauh disana”, ketika mati jasmani nanti. Bahkan sebagian orang Kristen percaya bahwa mereka akan “diangkat” dari bumi ini agar terhindar dari masa kesengsaraan besar yang akan terjadi dibumi (ajaran rapture). Semua konsep dan kepercayaan seperti ini sangat asing didalam kitab Matius.

Mari kita ambil saja satu contoh didalam Matius 24:37-42, mengenai kedatangan Anak Manusia. Perhatikan ayat 24, yang menegaskan bahwa kedatangan Anak manusia ‘bersesuaian’ dengan zaman Nuh. Kita tahu bahwa pada zaman Nuh, orang2 jahat “diangkat” oleh banjir besar, sementara Nuh dan seisi rumahnya mewarisi bumi. Jadi, pada kedatangan Anak Manusia, orang2 jahat akan “diangkat” dari bumi, sementara umat kerajaan akan mewarisi bumi, sebagaimana khotbah dibukit. Demikianlah, umat kerajaan memiliki bumi.

Saat ini kita akan membahas Matius 5:13-14, mengenai garam dunia dan terang dunia. Bagian ini termasuk kedalam bagian pertama dalam pemilahan kita, yaitu Matius 5:1-16, dengan pokok pikiran utamanya adalah ‘identitas atau sifat dasar umat kerajaan’. Ditegaskan diatas bahwa identitas umat kerajaan adalah ‘garam dunia’ dan terang dunia’. Umat kerajaan tidak perlu melakukan apapun juga untuk menjadi garam dunia dan terang dunia. Yesus tegas berkata bahwa kamu adalah garam dunia dan terang dunia. Identitas umat kerajaan jelas, yaitu garam dunia dan terang dunia.

Setelah identitas umat kerajaan disampaikan Yesus, maka selanjutnya datang fakta2 dan perintah2, yaitu jika garam menjadi tawar, ia tidak dapat lagi diasinkan dan tidak ada lagi gunanya. Terkait terang dunia, Yesus memberi perintah ‘hendaknya terangmu bercahaya didepan orang’. Disini ada satu prinsip yang amat penting bagi umat kerajaan, yaitu identitas umat kerajaan mendahului perintah2. Umat kerajaan tidak diberi perintah2 agar menjadi garam dan terang dunia. Tetapi, justru karena umat kerajaan adalah garam dan terang dunia, maka datanglah perintah2 agar umat kerajaan bertindak sesuai dengan identitasnya.

Prinsip yang berlaku bagi umat kerajaan adalah SUDAH menjadi garam dan terang dunia, KARENANYA harus bertindak sesuai dengan identitas sebagai garam dan terang dunia. Prinsip ini sangat penting, karena menjadi garam dan terang dunia semata-mata karena kasih karunia dan pilihan Bapa disorga. Mewarisi kerajaan sorga juga semata-mata pilihan dan perkenan Bapa (Lukas 12:32). Kita menjadi garam dan terang dunia bukan karena perbuatan kita. Kita adalah garam dan terang dunia semata-mata karena pilihan Bapa.

Paulus juga berkata dalam Efesus 5:8, demikian, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang”. Prinsip ini sama dengan yang kita bicarakan diatas. Kamu adalah terang dan memang SUDAH terang, KARENANYA hendaklah kamu hidup sebagai anak2 terang. Prinsip SUDAH-KARENANYA ini merupakan prinsip kasih karunia semata-mata.

Perhatikan I Korintus 15:10, demikian, “…. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (LAI). Sekalipun Paulus bekerja lebih keras dari yang lainnya, tetapi ia berkata BUKAN AKU MELAINKAN KASIH KARUNIA TUHAN. Prinsip dibalik perkataan Paulus pada ayat ini sama dengan prinsip yang sedang kita bicarakan, yaitu SUDAH-KARENANYA. Tidak ada kebanggaan apapun yang dapat dipertontonkan oleh umat kerajaan, karena semua adalah kasih karunia. Umat kerajaan hanya ‘bermegah dalam Tuhan’ karena kasih karuniaNya.

Mengapa kita menekankan prinsip umat kerajaan ini? Karena kekristenan telah jatuh menjadi agama Kristen, maka prinsip yang berlaku dalam dunia kekristenan adalah JIKA-MAKA. Para pemimpin agama dalam dunia kekristenan sering berkata: jika memberi uang, maka diberkati. Jika berdoa, maka diberkati. Jika rajin datang ke gedung tertentu, maka akan bertumbuh dalam iman. Jika…jika…dan jika. Umumnya, tiap denominasi mempunyai prinsip JIKA-MAKA masing2. Inilah usaha agamawi untuk masuk sorga, atau untuk berkenan kepada Tuhan. Agama Kristen tidaklah jauh berbeda dengan agama2 lain umumnya, karena agama apapun didunia ini merupakan USAHA MANUSIA untuk berkenan kepada Tuhan. Prinsip jika-maka, adalah prinsip usaha manusia. Tetapi, umat kerajaan hidup semata-mata oleh kasih karuniaNya.

Kita akan membahas bagian kedua khotbah dibukit ini, yaitu Matius 5:17-48, dengan pokok pikiran ‘penggenapan Hukum Taurat’. Ayat 17, menegaskan, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Bahkan pada ayat 18, Yesus menegaskan bahwa satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Hukum Taurat dan kitab para nabi, yang dimaksud Yesus disini adalah seluruh kitab2 Perjanjian Lama. Kitab2 Perjanjian Lama itu bersifat nubuat, bayangan, simbol, dan semua telah digenapi melalui kedatangan Yesus. Tidak ada yang tidak digenapi, karena Yesus tegas katakan satu iota (koma) atau satu titikpun tidak boleh ada yang diabaikan, ‘sebelum semuanya terjadi’. Makna ‘sebelum semuanya terjadi’ disini artinya sebelum semuanya digenapi. Jadi, seluruh Perjanjian Lama sudah digenapi oleh Yesus.

Mari kita perhatikan Lukas 16:16, demikian, “Torat dan para nabi ada sampai Yohanes, dari sejak itulah kemudian kerajaan Elohim diinjilkan dan setiap orang memaksa masuk ke dalamnya” (ILT). Ayat ini menegaskan bahwa setelah Yohanes Pembaptis, maka ada suatu ‘dispensasi’ atau ‘babak baru’ dalam pengaturan Elohim, dimana injil kerajaan sorga diberitakan. Sebagaimana kita ketahui bahwa Yohanes Pembaptis memang memberitakan injil kerajaan sorga, tetapi ia sendiri tidak termasuk kedalam dispensasi yang baru ini.

Didalam dispensasi yang baru ini, firman yang diberitakan adalah mengenai khabar baik kerajaan sorga. Seluruh kitab2 dalam Perjanjian Baru hanya memiliki satu tema utama, yaitu mengenai kerajaan sorga. Yesus dan rasul2Nya hanya memberitakan satu khabar baik, yaitu khabar baik kerajaan sorga. Sekali lagi, bukan PL dibatalkan, tetapi telah digenapi.

Bagaimana Yesus menggenapi PL? Melalui kematian, kebangkitan dan kenaikanNya kesorga, serta pencurahan Roh Kudus, maka seluruh PL telah digenapi. Tidak ada satu iota atau satu titikpun yang belum digenapi. Dengan digenapinya seluruh PL, maka Yesus menyampaikan sesuatu yang baru, yaitu hukum kerajaan sorga. Perhatikan bagian ini yang merupakan penggenapan Hukum Taurat, khususnya Matius 5:21-48. Dibagian ini Yesus berkata sebanyak 6 x ungkapan2 seperti ‘kamu telah mendengar … tetapi Aku berkata kepadamu’ (ayat 21,27,31,33,38,43). Hal ini bukan berarti Yesus membatalkan firman sebelumnya, tetapi karena Ia telah menggenapinya, maka datanglah firman yang baru, yaitu mengenai hukum kerajaan sorga.

Yesus memberi peringatan kepada mereka yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, maka ia akan menduduki tempat yang paling rendah didalam kerajaan sorga (ayat 19). Maksud Yesus jelas bukan membawa-bawa perintah hukum Taurat masuk kedalam hukum kerajaan sorga, melainkan, sesuai konteks bagian ini, maka siapa yang mengajarkan perintah hukum Taurat DENGAN TIDAK MENGAJARKAN PENGGENAPANNYA, maka ia akan berada ditempat paling rendah dalam kerajaan sorga.

Dalam dunia kekristenan kita melihat beberapa pengajar Alkitab menyatakan bahwa hukum persepuluhan, hukum buah sulung, yang ditafsirkan uang tentunya, masih berlaku dalam konteks Perjanjian Baru sekarang, tentu dengan berbagai alasan. Tetapi, umat kerajaan akan mengajarkan hukum Taurat beserta penggenapannya kedalam konteks PB.

Kita masih membahas ‘begian kedua’ khotbah di bukit dengan pokok pikiran utamanya adalah ‘penggenapan Hukum Taurat’ (Matius 5:17-48). Kita akan perhatikan perkataan Yesus dalam Matius 5:20, demikian, “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk  ke dalam Kerajaan Sorga”. Istilah Yunani, ‘dikaiosune’, yang diterjemahkan sebagai ‘hidup keagamaanmu’ pada ayat diatas, sebenarnya berarti ‘kebenaran’.

‘Kebenaran’ yang dimaksud disini bukanlah ‘kebenaran’ yang bersifat ‘objektif’ yang didapat oleh orang Kristen karena percaya Yesus (pembenaran oleh iman). Tetapi, kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang bersifat ‘subjektif’, yaitu ‘kebenaran Kristus’ didalam batin orang Kristen yang memimpinnya dalam kehidupan hari lepas hari, dan yang menjadi kebenarannya. Kebenaran ‘subjektif’ ini hanya dapat diperoleh karena menjalankan ‘Hayat Kristus’ dalam batin di-kehidupan kita sehari-hari. Kebenaran ‘subjektif’ ini terkait dengan “pakaian pesta” dalam perumpamaan perjamuan kawin (Matius 22:1-14). Kita akan membahasnya kelak, tetapi yang saat ini perlu kita pahami adalah kesimpulan dari perumpamaan ini, yaitu ‘banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih’ (ayat 14).

Kebenaran ‘subjektif’ ini bertumbuh hari lepas hari, sebagaimana yang ditegaskan Paulus dalam II Korintus 4:16, demikian, “… manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari”. Orang Kristen yang menjalani Hayat Kristus hari lepas hari akan bertumbuh dalam kebenaran ‘subjektifnya’. Demikianlah caranya orang Kristen dapat melakukan Hukum Kerajaan Sorga yang diajarkan Yesus. Bukan orang Kristen itu yang melakukan Hukum Kerajaan Sorga, tetapi Kristus dalam batinnya yang melakukan. Demikianlah genap, ‘hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus didalamku’ (Galatia 2:20).

Baiklah kita perhatikan lagi ayat kita diatas yang menegaskan bahwa jika ‘kebenaran’ kita tidak lebih benar dari pada ‘kebenaran’ ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kita tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Bagaimana ‘kebenaran’ kita dapat melampaui ‘kebenaran’ ahli2 Taurat dan orang2 Farisi? Ahli2 Taurat dan orang2 Farisi dalam zaman PB adalah orang2 yang memelihara Hukum Taurat secara ‘lahiriah’. Mereka sangat mementingkan upacara lahiriah, berpuasa, memberikan persepuluhan, berdoa dengan panjang lebar, memelihara sabat, membasuh diri, mempersembahkan korban, mengenakan tali sembahyang yang lebar, serta jumbai yang panjang agar terlihat betapa bersemangatnya mereka bagi Yahweh.

Yesus menegor ahli2 Taurat dan orang2 Farisi yang mementingkan ibadah ‘lahiriah’ berulang-ulang dengan suatu ungkapan, ‘hai kamu orang-orang munafik’ (Matius 23). Munafik artinya menampilkan diri baik secara ‘luaran,’ tetapi didalamnya penuh ‘kebusukan’, seperti kuburan yang bagus diluarnya, tetapi didalamnya penuh dengan tulang-belulang (Matius 23:27). Kebenaran orang Kristen dalam beribadah harus melampaui kebenaran ibadah ahli2 Taurat dan orang2 Farisi yang bersifat lahiriah. Orang Kristen harus hidup sehari-hari dalam roh dan kebenaran (realita), sebagaimana yang Yesus katakan dalam Yohanes 4. Paulus sudah menubuatkan bahwa akan ada saatnya dimana orang2 akan beribadah secara lahiriah, namun pada hakekatnya memungkiri kekuatannya (II Timotius 3:5).

Mari kita perhatikan dunia kekristenan saat ini, dimana ibadah orang Kristen, umumnya, dijalankan di gedung2 gereja pada hari minggu. Secara jujur, ibadah digedung2 gereja pada hari minggu membuka kesempatan yang luas bagi kemunafikan bekerja. Tentu tidak semua orang Kristen berlaku munafik digedung2 gereja pada hari minggu. Namun, kemunafikan akan jauh lebih mudah terjadi digedung2 gereja, dari pada ketika orang Kristen menjalani kehidupan sehari-hari, khususnya dirumah. Itu sebabnya, dalam dunia kekristenan, ada banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.

Kita bahas sedikit lagi perkataan Yesus dalam Matius 5:20, demikian, “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu (kebenaranmu) tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan (kebenaran) ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”. Ayat ini menegaskan pada kita bahwa ‘kebenaran’ kita harus melampaui ‘kebenaran’ ahli-ahli Taurat dan orang2 Farisi. 

Kita tahu bahwa ahli2 Taurat dan orang2 Farisi dalam zaman PB adalah orang2 yang memelihara Hukum Taurat secara ‘lahiriah’. Mereka memang sungguh2 giat untuk Tuhan, tetapi tanpa pengertian yang benar. Dalam Roma 10:3, Paulus dengan tepat menyatakan, “Sebab dengan tidak memahami kebenaran Elohim dan dengan berusaha untuk menegakkan kebenarannya sendiri, mereka tidak tunduk pada kebenaran Elohim” (ILT). Didalam Roma 3:21, Paulus menegaskan bahwa kita hanya dapat memperoleh kebenaran Elohim melalui iman dalam Kristus Yesus, dan karenanya kita mencapai standard kebenaran Elohim. Kita tidak membangun kebenaran kita sendiri karena melakukan hukum Taurat atau peraturan2 agamawi lainnya, tetapi hanya melalui iman dalam Kristus. Demikianlah ‘kebenaran’ kita melampaui ‘kebenaran’ ahli2 Taurat dan orang2 Farisi.

Kebenaran Elohim adalah suatu ‘standard’ bagi orang untuk dapat masuk kedalam kerajaan sorga. Dan tidak seorangpun dapat mencapai standard ‘kebenaran Elohim’ dengan melakukan Hukum Taurat, dan juga dengan melakukan Hukum kerajaan Sorga, seperti yang diajarkan Yesus dalam khotbah dibukit ini. Karena tidak memahami ‘kebenaran’ Elohim, maka ahli2 Taurat dan orang2 Farisi menjalankan Hukum Taurat secara ‘lahiriah’. Usaha mereka ini bukan saja tidak mungkin mencapai standard ‘kebenaran’ Elohim, tetapi juga membuat mereka menjadi orang2 munafik karena mencoba menegakkan kebenaran mereka sendiri.

Sesungguhnya, siapapun yang mencoba berkenan kepada Elohim, atau mencoba mencapai standard ‘kebenaran’ Elohim dengan melakukan Hukum2 Tuhan, atau aturan2 ibadah, atau melakukan aturan2 agamawi apapun, maka hasilnya pastilah kemunafikan dan kepura-puraan saja. Inilah yang dinubuatkan Paulus dalam II Timotius 3:5, demikian, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya…”. Nubuat ini tentu berlaku juga bagi orang2 kristen diakhir zaman.

Agar kita lebih dapat memahami kebenaran Elohim yang didapat melalui iman, baiklah kita perhatikan I Timotus 1:4, demikian, “… dari pada penatalayanan Elohim yang ada dalam iman” (ILT). Istilah ‘penatalayanan’ ini diterjemahkan dari istilah Yunani, ‘oikonomia’, yang berasal dari dua akar kata, yaitu, ‘oikos’=rumah tangga, dan ‘nomos’=hukum/aturan2. Jadi, penatalayanan Elohim artinya suatu cara Elohim menata ‘rumah tanggaNya’, dengan memberikan hukum2 atau aturan2 sesuai dengan zamannya. Pada zaman PL, Elohim memberikan Hukum Taurat kepada umatNya. Pada zaman PB, Elohim memberikan Hukum Kerajaan Sorga kepada gereja. Tetapi, yang harus kita ingat adalah penatalayanan Elohim ini ADA DIDALAM IMAN. Artinya, baik menjalankan Hukum Taurat bagi Israel, maupun menjalankan Hukum Kerajaan Sorga bagi gereja, haruslah didalam iman. 

Orang2 kudus zaman PL disebut orang2 beriman, karena mereka beriman kepada Yahweh dan mengekspresikan imannya melalui Hukum Taurat. Sementara gereja saat ini adalah orang2 beriman, dan mengekspresikan imannya melalui Hukum kerajaan Sorga. Sesungguhnya, dalam setiap zaman, mulai dari zaman Habel sampai zaman PB, semua orang kudus adalah orang2 beriman (Ibrani 11).

Sekarang, gereja sudah jatuh menjadi puluhan ribu denominasi dengan segala aturan2 agamawi-nya masing-masing. Tetapi, umat kerajaan tetap beribadah dalam roh dan kebenaran, dan tidak jatuh kedalam kesalahan orang2 Farisi dan ahli2 Taurat dengan menjalankan Hukum Taurat secara lahiriah.

Kita masuk kedalam bagian ketiga khotbah dibukit ini dengan pokok pikiran utamanya, yaitu ibadah umat kerajaan (Matius 6:1-18). Dalam bagian ini Yesus mengajarkan mengenai praktek ibadah dalam hal memberi sedekah, doa, dan berpuasa. Dalam pengajarannya ini, Yesus membandingkan praktek ibadah yang umumnya dijalankan oleh ahli2 Taurat dan orang2 Farisi dengan yang seharusnya dijalankan oleh umat kerajaan.

Mari kita perhatikan ketiga praktek ibadah ini. Pertama, memberi sedekah (6:1-4). Disini Yesus menekankan untuk memberi sedekah dengan “tidak diketahui tangan kiri apa yang diperbuat tangan kanan”, artinya secara tersembunyi. Orang2 Farisi dan ahli2 Taurat suka menjalankan praktek ibadah mereka dengan terbuka agar dilihat orang, serta mendapat pujian dari manusia. Yesus menyebut perbuatan ini sebagai perbuatan ‘orang2 munafik’. Dan ‘orang munafik’ ini sudah mendapat upahnya, dan tidak akan menerima balasnya lagi dari Bapa disorga.

Kedua, berdoa (6:5-15). Disini juga Yesus memperingati agar jangan berdoa supaya dilihat orang, dan karenanya sudah mendapat upahnya. Yesus juga mengajarkan suatu doa yang biasa kita sebut ‘doa Bapa kami’. Kita akan membahasnya kelak. Ketiga, berpuasa (6:16-18). Yesus juga mengajarkan agar tidak terlihat oleh manusia pada waktu kita berpuasa, melainkan dilakukan secara tersembunyi. Dengan demikian kita mendapat upahnya dari Bapa disorga, serta tidak jatuh dalam sikap munafik. 

Pengajaran Yesus dalam hal ‘praktek ibadah’ disini sangat menekankan upah dari Bapa disorga. Demikian juga orang yang beribadah jangan sampai jatuh kedalam kemunafikan. Orang2 Farisi dan ahli2 Taurat sudah mendapat upahnya dari orang banyak, baik berupa uang, jabatan dan juga hormat manusia.

Kalau demikian, bagaimana seharusnya umat kerajaan beribadah? Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria dalam Yohanes 4 menjelaskan perihal ibadah umat kerajaan. Yesus tegaskan bahwa ibadah itu bukan soal ‘digunung ini atau di Yerusalem’ (ayat 21). Ibadah itu bukanlah soal ‘lahiriah’, atau ‘luaran’, atau bentuk2 ibadah. Ibadah itu harus dilakukan ‘dalam roh dan kebenaran’ (ayat 23). Istilah Yunani, ‘aletheia’, yang diterjemahkan ‘kebenaran’, juga berarti ‘realita’. Realita itu lawannya adalah simbol2, bayangan2, dan ‘bentuk2 lahiriah’. Ibadah dalam ‘realita’ itu artinya ibadah dalam ‘esensi’, dan bukan ibadah dalam simbol2, bayangan2, atau bentuk2 lahiriah. Ibadah PL, memang ibadah dalam simbol2, bayangan2, dan bentuk2 lahiriah, karena memang PL itu merupakan simbol, bayangan, dan nubuat. Sementara Yesus datang untuk menggenapi PL, dan sehingga umat kerajaan tidak lagi beribadah dalam simbol2, bayangan2, dan bentuk2 lahiriah.

Esensi ibadah itu adalah dalam roh, atau didalam batin kita. Kolose 2:17, menegaskan bahwa Kristus adalah wujud dari semua simbol2, bayangan2, serta nubuat2 PL. Dan Kristus itu ada didalam batin kita sebagai Hayat kita (Kolose 1:27; 3:4). Ibadah umat kerajaan bersifat ‘batiniah’, yaitu menjalani Hayat Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Menjalani kehidupan yang dipimpin ‘Kristus dalam batin’ hari lepas hari. Ibadah umat kerajaan bukan “digunung ini atau itu”, juga bukan pada hari ini atau itu. Kehidupan sehari-hari umat kerajaan merupakan ibadahnya. Tentu umat kerajaan juga bertemu memuji Tuhan bersama sesuai pimpinan Roh, sebagaimana gereja mula2 lakukan.

Kita tahu bahwa gereja telah jatuh oleh tiga ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Ketiga ajaran palsu ini telah membuat gereja menjadi dunia (sistem) kekristenan, dimana dalam ibadahnya sangat terbuka kemungkinan menjadi munafik, bahkan para pemimpinnya dapat dengan mudah mengambil keuntungan dari ibadah. Tentu tidak semua orang dalam dunia kekristenan itu munafik, dan cari untung dari pelayanan, tetapi kemungkinan itu terjadi sangat luas terjadi karena sistem (kosmos) yang tercipta oleh ketiga ajaran palsu diatas.

Kita akan membahas doa Bapa kami yang diajarkan Tuhan Yesus dalam Matius 5:9-13. Tetapi kita tidak akan membahas semuanya, melainkan hanya yang terkait langsung dengan kerajaan sorga. Perhatikan ayat 10, demikian, “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Telah kita bahas bahwa kerajaan sorga sudah datang kebumi didalam pribadi Tuhan Yesus. Namun, dalam ayat 10 diatas, Yesus mengajarkan agar kerajaan sorga datang kebumi dengan maksud agar kehendak Bapa terjadi dibumi sebagaimana disorga.

Matius 18:20, menegaskan, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitu Aku ada di tengah-tengah mereka”. Jadi, setiap kali dua atau tiga orang percaya berkumpul dalam nama Tuhan Yesus, maka kerajaan sorga datang kebumi. Namun, Wahyu 5:10, dan Wahyu 20:4, menegaskan bahwa setelah zaman ini, maka orang2 percaya akan memerintah dibumi ini. Artinya, kerajaan sorga itu sudah datang, terus datang, dan pada saatnya akan datang dibumi dalam kepenuhannya. Alkitab menegaskan bahwa Tuhan Yesus akan datang untuk menegakkan kerajaanNya dibumi.

Kita lihat disini bahwa bumi merupakan fokus rencana Bapa disorga. Bahkan dalam 9 ucapan bahagia yang telah kita bahas, dijanjikan kepada mereka yang lemah lembut bahwa mereka akan memiliki bumi (Matius 5:5). Dari semua fakta2 ini, dapatlah kita ketahui bahwa fokus rencana Bapa bagi manusia adalah bumi ini, walaupun dalam dunia kekristenan, umumnya, orang terfokus untuk pergi ke sorga kelak setelah mati.

Baiklah kita perhatikan kitab Kejadian 1:26 yang berkata, “…Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa… atas seluruh bumi…”. Tujuan Tuhan menjadikan manusia serupa dan segambar dengan Dia adalah supaya manusia berkuasa atas seluruh bumi. Istilah ‘berkuasa’ dalam ayat ini berasal dari istilah Ibrani ‘radah’, yang berarti memerintah (to have dominion, rule). Hal ini berbicara mengenai pemerintahan manusia diatas bumi. Bahkan ayat 28 berkata bukan saja supaya manusia berkuasa (memerintah), tetapi juga ‘menaklukkan’ (istilah Ibrani disini adalah ‘kabash’, artinya ‘menginjak’). Dari Kejadian 1:26-28 ini, kita mendapati bahwa tujuan Tuhan menjadikan manusia serupa dan segambar denganNya adalah agar manusia berkuasa, dan menaklukkan bumi ini. Ada musuh yang harus ditaklukkan dan diinjak.

Maksud Tuhan Yesus mengajarkan agar kita mendoakan kerajaan sorga datang kebumi ini adalah supaya manusia memerintah dibumi, dan menaklukkan kerajaan kegelapan dibumi. Roma 8:19-21, menjelaskan pada kita bahwa ketika kerajaan sorga termanifestasi sepenuhnya dibumi melalui anak-anak Elohim, maka bukan saja kehendak Bapa terjadi ‘dibumi seperti disorga’, tetapi seluruh ciptaan juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan. Perhatikan Roma 8:20-21, “Karena makhluk ciptaan telah ditundukkan kepada kesia-siaan… makhluk ciptaan itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim” (ILT). Jadi, anak-anak Elohim yang ditampilkan dibumi dengan tubuh kemuliaan akan memerdekakan seluruh makhluk ciptaan dari perbudakan kebinasaan. Demikianlah maksud Yesus mengajarkan kita berdoa agar kerajaan sorga datang kebumi.

Kita akan membahas bagian keempat dari khotbah dibukit, yaitu ‘pengabdian umat kerajaan terkait mamon’ (Matius 6:19-34). Matius 6:22-24, menegaskan demikian, “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu… Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (LAI). Istilah ‘mengabdi’ disini berasal dari istiah Yunani, ‘douleuo’, suatu kata kerja yang berarti ‘melayani sebagai budak’.

Jadi, Yesus tegas menyatakan tidak seorangpun dapat menjadi ‘hamba Tuhan’, dan sekaligus juga ‘hamba Mamon’. Kita jangan cepat2 berpikir bahwa ‘hamba Tuhan’ itu orang Kristen yang melayani dimimbar2, atau melakukan aktifitas agama Kristen secara ‘full time’. Sementara ‘hamba Mamon’ itu orang2 kristen yang berkarya dalam dunia bisnis atau ‘dunia sekuler’. Mari kita perhatikan dahulu siapa orang2 Farisi itu sebenarnya menurut penilaian firman Tuhan. Lukas 16:14, menyatakan demikian, “Semuanya itu didengar oleh orang2 Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia”. Ketika Yesus mengucapkan, ‘Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon’ pada ayat sebelumnya (Lukas 16:13), maka para pemimpin agama dizamanNya mencemoohkan Yesus.  Jadi, apakah seseorang itu hamba Tuhan atau hamba Mamon, tidak ditentukan oleh pekerjaannya, atau pelayanannya di Bait Suci. Semuanya ini ditentukan oleh “mata” seseorang, yaitu visi, tujuan hidup, dan fokus hidup seseorang.

Karena ternyata ‘hamba Mamon’ itu adalah para pemimpin agama dizaman Yesus, maka saat ini kita hanya membahas soal ‘pengabdian/menjadi hamba’ ini terkait dengan ‘dunia keagamaan’ saja. Kita tidak membahas orang Kristen yang berkarya dalam dunia bisnis atau sekuler. Untuk memahami ‘dunia keagamaan’ dengan benar, kita harus melihat tulisan2 rasul Yohanes mengenai ‘dunia (Yunani: kosmos) karena didalamnya ada makna Teologis yang sangat penting.

Istilah ‘kosmos’, muncul sebanyak 186 x dalam PB, dan lebih dari separuhnya ada didalam Injil Yohanes (78x), dan surat2nya (24x). Makna dasar dari istilah ‘kosmos’ ini adalah ‘pengaturan’ (order), atau juga berarti ‘sistem’. Untuk memahami makna istilah ‘kosmos’ dalam tulisan2 Yohanes, memang kita harus melihat konteksnya. Dalam Yohanes 3:16, tentu istilah dunia (kosmos) disini berarti seluruh manusia yang dicintai Bapa disorga. Tetapi, dalam Yohanes 15:18-25, dimana dunia (kosmos) membenci Yesus dan murid2Nya, maka yang Yesus maksudkan adalah dunia keagamaan (Yudaisme), karena ayat 25 mengatakan nubuat yang ada didalam kitab Taurat mereka.

Justru, dunia keagamaan inilah yang dimaksud oleh rasul Yohanes dalam Wahyu 2-3, dimana gereja2 di Asia Kecil (representatif dari zaman gereja) telah menjadi ‘kosmos’ oleh tiga ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Dunia keagamaan ini lahir karena gereja mula2 telah jatuh, dan karenanya Tuhan memanggil para pemenangNya. Kekristenan yang pada awalnya adalah ‘organisme’ (Tubuh Kristus), telah berubah menjadi ‘sistem’ atau ‘kosmos’.

Jika kita mendapat kasih karunia dihadapanNya, maka kita akan memahami bahwa gereja mula2 telah pecah menjadi puluhan ribu denominasi ini, justru oleh tiga ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus. Kita bahas satu saja, sesuai tema kita sekarang, yaitu ajaran Bileam yang sudah menyebar dalam denominasi2. Ajaran Bileam ini pada intinya mendukung sistem upah dalam melayani Tuhan. Tentu ada banyak ayat2 yang seolah-olah mendukung sistem upah ini dalam Alkitab seperti, seorang pekerja patut mendapat upahnya, atau jangan “memberangus mulut lembu yang sedang mengirik”, dan sebagainya. Ajaran Bileam itu adalah ajaran palsu, dimana tentu ada aslinya. Para pengajar “Bileam” ini suka mengambil ayat2 mengenai upah dalam melayani Tuhan untuk mendukung ajarannya. Tetapi, dapat dipastikan bahwa para pengajar “Bileam” ini adalah hamba Mamon.

Sebelum kita melanjutkan penglihatan rasul Yohanes mengenai kitab yang hanya dapat dibuka oleh Anak Domba Elohim, baiklah kita berbicara sedikit lagi mengenai 24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup disekeliling takhta Elohim yang akan memerintah dibumi (Wahyu 4-5). Ada yang berpendapat bahwa 24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup ini adalah para malaikat dan makhluk sorgawi lainnya, dan bukan orang2 kudus yang telah ditebus dan dipilih dari segala suku, bangsa, kaum, dan bahasa. 

Kita perlu menanggapi pandangan ini, sebab pandangan ini akan membuat pengertian kita akan kitab Wahyu dan rencana Bapa semula menjadi kabur. Ada beberapa hal yang akan kita kemukakan disini. Pertama, Kejadian 1:26-28, jelas menyatakan bahwa rencana Bapa semula bagi manusia adalah untuk menaklukkan dan berkuasa atas seluruh bumi. Jadi, fokus rencana Bapa adalah bumi. Kedua, rencana Bapa memilih bangsa Israel adalah agar seluruh suku Israel menjadi ‘kerajaan imam’, yaitu menjadi raja2 dan imam2 bagi segala bangsa (Keluaran 19:5-6). Hanya kemudian, Israel jatuh kedalam penyembahan ‘anak lembu emas’, dan ketika Musa bertanya siapa yang memihak Tuhan, maka oleh pengaturanNya, hanya suku Lewi yang datang kepadanya (Keluaran 32:26). Selanjutnya, Tuhan hanya memilih suku Lewi untuk menjadi imam2, mewakili semua suku yang lain. Tetapi, rencana Bapa semula bagi Israel adalah menjadikan semua suku2 Israel, raja2 dan imam2 bagi bangsa lain. Ketiga, rencana Bapa dalam konteks PB bagi semua orang2 kudus adalah menjadikan seluruh anggota gereja ‘imamat yang rajani’ (I Petrus 2:9). Tetapi kemudian, oleh ajaran palsu ‘Nikolaus’, maka gereja terbelah menjadi golongan imam dan kaum awam, atau para pendeta dan jemaat. Namun, Bapa memilih ‘kawanan kecil’ dalam dunia kekristenan, dan dibentuk menjadi raja2 dan imam2 (Lukas 12:32; Wahyu 1:6). Jadi jelaslah bahwa rencana Bapa adalah membentuk umat manusia agar dapat memerintah dan menaklukkan seluruh bumi, dan semua ini dimulai dari umat pilihanNya.

Karenanya, pandangan bahwa 24 tua-tua dan ke-4 makhluk hidup itu adalah para malaikat dan makhluk sorgawi lainnya, dan bukan manusia, akan membuat rencana Bapa semula menjadi kabur. Bahkan pandangan ini membuat seluruh fokus kitab Wahyu menjadi tidak jelas juga. Mengapa demikian? Kita tahu bahwa kitab Wahyu adalah kitab yang mewahyukan pribadi Yesus Kristus. Dan, ada 4 tahap pewahyuan Yesus Kristus kepada gerejaNya. Pertama, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya KEPADA kita. Kita mengenal Yesus Kristus sebagai pribadi yang diluar kita. Kita mengenal apa yang diperbuatNya, apa yang dikatakanNya, dan sebagainya. Kedua, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya DIDALAM kita. Secara pengalaman, kita memahami bahwa Yesus Kristus tidak berada diluar kita, tetapi didalam kita. Ketiga, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya SEBAGAI kita. Apa yang Paulus katakan dalam Galatia 2:20 bahwa aku telah disalib bersama Kristus, dan bahwa aku hidup, tetapi bukan aku melainkan Kristus. Dari fakta ini kita melihat bahwa Kristus hidup ‘sebagai’ Paulus. Keempat, Yesus Kristus mewahyukan DiriNya MELALUI kita. Yesus Kristus mengekspresikan DiriNya melalui orang2 pilihanNya dibumi ini. Sesungguhnya, kedatangan Yesus Kristus “kedua kali” itu berarti Yesus Kristus menampilkan DiriNya kepada ciptaan melalui putera2 Elohim (Roma 8: 19-21). 

Jadi, kitab Wahyu itu memang merupakan pewahyuan pribadi Yesus Kristus, tetapi kedatanganNya MELALUI umat pilihanNya merupakan ‘sentral’ pewahyuan kitab Wahyu, dan saat ini, umat pilihanNya sedang dibentuk menjadi raja2 dan imam2. Bukan malaikat2 dan makhluk2 sorgawi yang menjadi raja2 dan imam2, tetapi orang2 kudus. Sebab, bagaimana Yesus dapat datang sebagai Raja diatas segala raja, jika orang2 kudus merupakan “bayi-bayi rohani”? Bagaimana Yesus Kristus dapat datang sebagai Imam Besar, jika orang2 kudus masih membutuhkan “pendeta” atau “para imam” untuk memenuhi kebutuhan rohaninya? Karenanya, 24 tua-tua dan 4 makhluk itu merupakan simbol dari umat pilihanNya, yang telah dibentuk menjadi raja2 dan imam2.

Mari kita membahas sedikit lagi mengenai ‘sistem atau ‘kosmos’ dalam tulisan2 rasul Yohanes, karena ‘sistem’ inilah yang membenci Yesus dan murid2Nya (Yohanes 15:18,25). Kita perlu mengenali apa itu ‘sistem’, karena kita tahu Kekristenan yang pada awalnya adalah ‘organisme’ (gereja  mula2=Tubuh Kristus), telah berubah menjadi ‘sistem’ atau ‘kosmos’.

Didalam ‘Kamus Besar Bahasa Indonesia’, sistem berarti perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Dalam kamus Bahasa Inggris, ‘system’ adalah group of things or parts working together in a regular relation. Untuk memudahkan pengertian ‘sistem’, kita dapat membayangkan roda2 dengan diameter yang berbeda-beda, namun masing2nya dihubungkan dengan suatu tali. Jika roda tertentu diputar, maka roda2 lainnya tentu akan ikut berputar juga, walaupun tentu dengan kecepatan yang berbeda sesuai dengan diameternya. Kalau kita terapkan ilustrasi ini kedalam dunia (sistem) kekristenan, maka roda2 (bagian2) dari sistem ini adalah denominasi2, sekolah2 Teologi, Sinode2, dan bagian2 lainnya dari kekristenan. Yang perlu kita pahami dengan baik adalah bahwa harus ada energi atau kekuatan untuk melakukan usaha agar sistem ini berjalan. Apakah energi atau kekuatan yang menggerakkan sistem kekristenan ini?

Sebelum kita menjawabnya, mari kita lihat tulisan2 Yohanes yang berbicara mengenai ‘sistem’ (kosmos) ini. I Yohanes 5:19, menegaskan, “… seluruh dunia (kosmos) berada di bawah kuasa si jahat”. I Yohanes 2:15-16, demikian, “Janganlah kamu mengasihi dunia (kosmos) dan apa yang ada di dalamnya… Sebab semua yang ada di dalam dunia (kosmos), yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa…”. I Yohanes 5:4, menegaskan, “… Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia (kosmos): iman kita”. Kalau demikian, apakah yang menggerakkan sistem kekristenan? Jawabnya, tentu saja uang, karena sistem tidak akan berjalan tanpa uang.

Gereja mula2 belumlah jatuh kedalam ‘sistem’ (kosmos). Pewahyuan mengenai gereja yang telah menjadi ‘kosmos’ diberikan kepada rasul Yohanes, ketika gereja dikuasai oleh tiga ajaran palsu Izebel, Bileam dan Nikolaus (Wahyu 2-3). Gereja mula2 yang adalah organisme digerakkan semata-mata oleh Roh Kudus, atau Hayat Kristus. Memang para pelayan gereja mula2 juga membutuhkan uang, tetapi sebatas kebutuhan sehari-hari, dan kebutuhan perjalanan seperti Paulus. Tidak ada sistem upah (ajaran Bileam) yang menggerakkan para pelayan gereja mula2. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi dalam sistem kekristenan.

Sebagai penutup bagian ini, barangkali perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, dapat memperjelas apa itu ‘sistem’. Bangsa Israel di Mesir, sesungguhnya, merupakan simbol dari umat Tuhan yang berada didalam sistem (dunia), sebab dalam Alkitab, Mesir merupakan simbol dari dunia. Sekalipun Alkitab berkata Mesir itu ‘rumah perbudakan’, tetapi Tuhan tetap memelihara, bahkan sangat memberkati umat Israel di Mesir, sehingga mereka beranak cucu demikian pesat. Tetapi, warisan bangsa Israel bukanlah Mesir, melainkan tanah Perjanjian. Karenanya, Israel harus keluar dari rumah perbudakan untuk mendapat warisannya. Dan kita tahu bahwa hanya keluarga Yosua dan Kaleb yang mendapat warisannya, karena mereka memiliki iman. Jadi, Israel di Mesir merupakan simbol dari umat Tuhan dalam perbudakan sistem, sedangkan Israel di Tanah Perjanjian merupakan simbol umat Tuhan yang menerima warisannya, yaitu kerajaan sorga.  

Demikian juga dengan sistem kekristenan saat ini. Umat Tuhan didalam sistem kekristenan tetap dipelihara dan diberkati Tuhan luar biasa. Tetapi itu bukan bukti bahwa rencana Bapa bagi orang Kristen tetap ada didalam sistem (kosmos). Sistem (kosmos) kekristenan akan dihancurkan pada kedatangan Tuhan Yesus. Umat kerajaan yang mendapat kasih karunia untuk menerima warisannya akan memerintah dibumi menggantikan semua sistem dunia (politik, ekonomi, agama, dll) termasuk sistem kekristenan (Wahyu 11:15).

Kita akan meneruskan pembahasan kita dalam bagian keempat khotbah dibukit, Matius 6:19-34, dengan pokok pikirannya adalah ‘pengabdian umat kerajaan terkait mamon’. Matius 6:33, menegaskan, “Namun, carilah terlebih dahulu kerajaan Elohim dan kebenaran-Nya, dan semua ini akan ditambahkan kepadamu” (ILT). Telah kita bahas perihal seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, yaitu mengabdi kepada Elohim dan mamon (6:24), bahkan telah kita bahas juga mengenai sistem kekristenan (dunia=kosmos kekristenan). Setelah Yesus mengajarkan bahwa tidak mungkin seseorang mengabdi kepada dua tuan, maka Ia langsung masuk kedalam pengajaran tentang kekuatiran (6:25-34). Mengapa demikian? Kita akan membahas mengenai perihal kekuatiran ini sesuai konteks bagian ini, yaitu ‘pengabdian umat kerajaan terkait mamon’.

Sekali lagi kita harus ingat bahwa pengajaran dibukit ini ditujukan kepada murid2 Yesus. Yesus tentu tahu bahwa akar masalah mengapa murid2Nya mempunyai kemungkinan mengabdi kepada mamon disebabkan kekuatiran akan kebutuhan sehari-hari mereka. Inti dari pengajaran Yesus disini adalah Bapa mengetahui kebutuhan kita, dan pasti memenuhinya, dan karenanya tidak perlu kuatir.

Agar kita menafsirkan perihal kekuatiran ini sesuai konteks, maka kita harus kembali melihat bagaimana gereja mula-mula, pada akhirnya, jatuh oleh tiga ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus pada zaman rasul Yohanes (Wahyu 2-3). Secara khusus kita akan melihat ajaran Bileam, karena ajaran palsu inilah yang membuat gereja menjalankan ‘sistem upah’ bagi orang2 yang melayani Tuhan. Kita akan melihat Bilangan 22-24, untuk memahami ajaran palsu Bileam ini.

Bileam ini sepertinya seorang hamba Tuhan, karena ia bertanya lebih dahulu kepada Tuhan ketika tua-tua Moab datang padanya dengan ‘upah penenung’ untuk mengutuk Israel (Bilangan 22:7-8). Tuhan sudah jelas berfirman agar Bileam jangan mengutuk Israel (22:12). Tetapi kemudian, ketika raja Moab mengutus pemuka2 yang lebih terhormat dengan upah penenung yang sangat banyak, maka Bileam kembali bertanya kepada Tuhan ‘yang kedua kalinya’ (22:19). Ketika Bileam bertanya kepada Tuhan yang kedua kalinya, jelas terlihat bahwa ia sebenarnya hamba mamon, dan mencintai upah penenung. Mengapa demikian? Bileam sudah tahu kehendak Tuhan agar jangan mengutuk Israel, tetapi karena upah dinaikkan, maka ia seolah-olah mencari kehendak Tuhan dengan bertanya kedua kalinya. Karena Tuhan sudah tahu bahwa hati Bileam mencintai upah, maka Tuhan mengizinkan Bileam pergi. Dan ketika Bileam pergi, maka Tuhan murka (22:22).

Dari cerita ini, kelihatannya Tuhan berubah-ubah yang tadinya melarang Bileam pergi, namun kemudian mengizinkannya. Sebenarnya Tuhan tidak berubah-ubah, tetapi karena Tuhan sudah melihat hati Bileam yang cinta upah, maka Tuhan mengizinkan Bileam pergi. Kasus ini mirip dengan yang tertulis dalam Matius 19:3-8, dimana orang2 Farisi bertanya pada Yesus soal perceraian. Yesus menjawab, “… Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (19:8). Kadangkala Tuhan mengizinkan umatNya menempuh suatu jalan yang tidak dikehendakiNya sejak semula, tetapi kemudian diizinkan Tuhan karena ketegaran hati umatNya.

Kalau kita renungkan mengapa Tuhan mengizinkan ajaran palsu Bileam masuk kedalam gereja padahal ajaran palsu ini bukanlah rencana semula bagi gerejaNya. Dalam dunia kekristenan, ajaran palsu Bileam ini telah membuka kesempatan luas bagi hamba2 mamon yang berpura2 sebagai hamba Tuhan, bahkan seolah-olah mencari kehendak Tuhan, namun sesungguhnya mencari dan mencintai upah dari pelayanannya. Tuhan mengizinkan semua ini terjadi karena ketegaran hati umatNya.

Tetapi bagi umat kerajaan, Tuhan berfirman, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah…” (Lukas 12:32-33). Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki apapun didunia ini, tetapi Bapa disorga sedang menekankan bahwa harta sejati kita ada disorga, dan jangan kuatir akan kebutuhan kita sehari-hari.

Kita masuk kedalam bagian kelima khotbah dibukit mengenai Hukum Kerajaan Sorga, yaitu Matius 7:1-12, dengan pokok pikirannya adalah ‘persekutuan umat kerajaan’. Ada beberapa hal yang dibicarakan dibagian ini, yaitu perihal jangan menghakimi, jangan memberikan barang yang kudus kepada anjing, perihal doa, dan perihal prinsip hubungan dengan sesama.

Mari kita mulai dengan perihal menghakimi. Banyak orang Kristen tidak membedakan perihal menghakimi dan perihal menegor, atau menyatakan kesalahan. Paulus menasihati Timotius untuk, “…tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (II Timotius 4:2). Yesus juga mengajarkan cara untuk menegor seorang saudara yang bersalah (Matius 18:15-17). Jadi, menegor atau menyatakan kesalahan seorang saudara tidaklah salah, bahkan sebagai sesama saudara kita dianjurkan untuk saling menasihati, menegor dan saling membangun.

Tetapi, menghakimi itu sesuatu yang dilarang bagi umat kerajaan. Menghakimi itu bukan saja menyatakan kesalahan, tetapi juga menjatuhkan vonis atau sangsi bagi saudara kita yang kita anggap telah bersalah. Demikianlah memang tugas seorang hakim, yaitu menyatakan kesalahan dan menjatuhkan vonis atau sangsi hukum.

Sesungguhnya, murid2 Yesus tidak akan dapat saling menghakimi jika mentaati apa yang Yesus katakan dalam Matius 23:1-12. Didalam bagian ini, Yesus sedang berbicara kepada orang banyak, dan kepada murid2Nya (ayat 1). Yesus berkata bahwa orang2 Farisi dan ahli2 Taurat telah menduduki ‘kursi Musa’, artinya mereka mempunyai otoritas atas orang banyak, dan karenanya orang banyak harus menuruti dan melakukan apa yang mereka ajarkan, walaupun Yesus menasihati orang banyak supaya jangan menuruti perbuatan2 mereka.

Selanjutnya, pada ayat 8 sampai 10, Yesus berbicara kepada murid2Nya agar jangan seorangpun disebut Rabi, bapa, ataupun pemimpin. Maksudnya, sesuai konteks, Yesus sedang mengajar kepada murid2Nya bahwa diantara mereka tidak ada “kursi Musa”. Tidak ada otoritas yang dimiliki seseorang atas saudaranya. Semua anggota umat kerajaan adalah saudara, dalam arti tidak ada “kursi Musa”. Tidak ada ‘hierarki’ diantara umat kerajaan sebagaimana dalam dunia kekristenan yang telah jatuh ini. Jika ada ‘hierarki’ diantara umat Tuhan, maka seorang pemimpin dapat menghakimi saudaranya, karena ia bukan saja dapat menegor saudaranya yang dipandang bersalah, namun ia dapat juga menjatuhkan vonis atau sangsi bagi saudaranya.

Dengan kata lain, dalam konteks ‘organisasi’, seseorang dapat menghakimi saudaranya. Tetapi umat kerajaan hidup dalam konteks ‘organisme’, dan karenanya mereka tidak akan saling menghakimi. Umat kerajaan hanya saling menasihati, menegor dan saling membangun sebagai sesama anggota dalam suatu ‘organisme’. Oleh karena itu, perintah Yesus agar kita jangan menghakimi saudara kita, tentu dapat ditaati oleh umat kerajaan. Sesungguhnya, orang Kristen yang hidup dalam konteks organisasi, merekalah yang melanggar perintah Yesus agar jangan menghakimi. 

Satu hal lagi yang akan kita bahas dalam bagian ini, yaitu perihal jangan memberikan barang yang kudus kepada anjing, atau melempar mutiara kepada babi. Sesungguhnya, pengajaran tentang Hukum Kerajaan Sorga adalah seperti “barang yang kudus” atau “mutiara”, dimana pengajaran ini bukanlah konsumsi ‘orang banyak’. Itu sebabnya, Yesus naik kebukit lebih dahulu dan ketika murid2Nya datang barulah Ia mengajar. Kita juga perlu belajar meminta hikmat dari Tuhan untuk menyampaikan pengajaran tentang kerajaan sorga ini.

Kita sampai pada bagian keenam dalam Hukum Kerajaan Sorga ini yang tertulis dalam Matius 7:13-29, dengan pokok pikirannya adalah ‘umat kerajaan dan orang banyak serta penyesatan yang akan terjadi’. Mari kita mulai dengan Matius 7:13-14, demikian, “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya”.

Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘kebinasaan’ dalam ayat diatas adalah ‘apoleia’, yang berarti ‘kehancuran atau kerugian’. Istilah Yunani ‘apoleia’ tidak harus berarti kebinasaan dalam arti kehilangan keselamatan apalagi masuk kedalam neraka selama-lamanya. Dalam Matius 26:8 atau Markus 14:4, tentang Yesus diurapi seorang perempuan dengan minyak wangi yang mahal, maka istilah ‘apoleia’ disini diterjemahkan sebagai ‘pemborosan’. Memang makna suatu istilah ditentukan oleh bagaimana istilah itu digunakan dalam suatu kalimat atau konteks tertentu. Kita tahu bahwa khotbah dibukit ditujukan khusus untuk murid2 Yesus (Matius 5:1-2), walaupun pada akhirnya ‘orang banyak’ ikut juga mendengarkan dan takjub oleh pengajaran Yesus (Matius 7:28).

Jadi, para pendengar dari khotbah dibukit adalah para pengikut Yesus yang terdiri dari murid2Nya, dan juga orang banyak. Didalam Yohanes 6 dijelaskan bahwa ‘orang banyak’ mengikut Yesus karena mereka mencari roti jasmani, dan Yesus menegor mereka karena hal ini (Yohanes 6:26-27). Karenanya, istilah ‘apoleia’ harus diartikan sebagai kerugian atau kehancuran BAGI PARA PENGIKUT YESUS. I Korintus 3:13-15, menjelaskan kerugian atau kehancuran dari para pengikut Yesus ini, demikian, “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api”. Semua orang Kristen yang sudah lahir baru akan menghadap takhta pengadilan Kristus, dan disini akan ditentukan berdasarkan pekerjaan atau pelayanannya, apakah bertahan atau terbakar oleh “api”.

Jadi, ada dua pintu dan dua jalan yang mungkin ditempuh oleh orang Kristen atau pengikut Yesus. DitegaskanNya bahwa pintu yang menuju kepada kehidupan itu sesak dan jalannya sempit, serta sedikit orang yang mendapatinya. Kita dapat menduga bahwa ‘orang banyak’ yang mengikuti Yesus tentu akan melewati pintu yang lebar dan jalan yang luas. Mengapa demikian?

Didalam kitab2 Injil, memang ‘orang banyak’ ini selalu mengikut atau mencari Yesus untuk mendapatkan roti jasmani, kesembuhan, mujizat, dan yang lainnya yang bersifat jasmani. Sesungguhnya, semua ini tidak salah asalkan mereka lebih dahulu mencari kerajaan sorga, dan bekerja untuk makanan yang tidak akan binasa. Jadi, persoalannya ada didalam hati para pengikut Yesus. Jika hatinya memang sudah mengutamakan roti, mujizat, kesembuhan dan perkara2 jasmani lainnya, maka mereka tentu cenderung mencari jalan mudah. Mereka akan memilih pintu yang lebar dan jalan yang luas yang justru akan membawa kerugian dihadapan pengadilan Kristus kelak.

Ayat2 selanjutnya dari Matius 7 ini berbicara soal penyesatan atau nabi2 palsu, dan juga bagaimana seorang Kristen yang telah melakukan banyak mujizat, bernubuat, dan mengusir setan, tetapi ditolak pada hari terakhir. Kita dapat menduga bahwa orang Kristen yang terfokus kepada hal2 jasmani dan lahiriah tidak akan bertahan dihadapan pengadilan Kristus kelak.

Kita lanjutkan pembahasan bagian keenam dalam Hukum Kerajaan Sorga ini yang tertulis dalam Matius 7:13-29, dengan pokok pikirannya adalah ‘umat kerajaan dan orang banyak serta penyesatan yang akan terjadi’. Kita akan membahas penyesatan yang akan terjadi diantara pengikut Yesus. Matius 7:15, menegaskan, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas”. Sekarang kita akan membahas atau mengidentifikasi (mengenali) siapakah nabi2 palsu yang dimaksud ayat ini. Hal ini sangat penting, karena dalam dunia kekristenan ada kecenderungan untuk menganggap bahwa nabi2 palsu atau guru2 palsu itu adalah orang Kristen yang belum lahir baru dan belum mengenal Yesus sama sekali. Artinya, nabi2 palsu atau guru2 palsu itu ada diluar dunia kekristenan, ungkapan umumnya disebut “bukan orang dalam” atau “bukan orang gereja”.

Istilah ‘nabi palsu’ diterjemahkan dari istilah Yunani, ‘pseudoprophetes’, yang muncul 11 x dalam PB. Mari kita melihat II Petrus 2, yang berbicara panjang lebar mengenai ‘pseudoprophetes’ ini. Perhatikan ayat 15,20, dan 21, demikian, “Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah… sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi didalamnya… Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka”.

Kita lihat beberapa fakta tentang ‘pseudoprophetes’ disini. Pertama, mereka adalah orang2 yang telah MENINGGALKAN JALAN YANG BENAR, artinya mereka pernah menempuh jalan yang benar, tetapi kemudian tersesat ke-jalan Bileam. Kedua, mereka PERNAH MENGENAL Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, serta melepaskan diri dari kecemaran2 dunia, namun terlibat lagi didalamnya. Ketiga, mereka adalah orang2 yang BERBALIK DARI PERINTAH KUDUS (JALAN KEBENARAN) kemudian mengikuti jalan Bileam. Dari uraian Petrus mengenai ‘pseudoprophetes’ ini, jelaslah identitas nabi2 palsu atau guru2 palsu itu, yaitu orang2 Kristen yang telah lahir baru, mengenal Yesus Kristus secara pribadi, pernah menempuh jalan kebenaran, bahkan telah pernah melepaskan diri dari kecemaran2 dunia.

Ungkapan dalam Matius 7:15, diatas bahwa nabi2 palsu itu, “menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas”, jangan disalah-mengerti bahwa identitas mereka sebenarnya adalah SERIGALA GANAS, tetapi berpura-pura menjadi DOMBA. Bukan demikian. Paulus berbicara kepada para pemimpin gereja bahwa akan ada serangan SERIGALA GANAS yang menyebabkan para pemimpin gereja mengajarkan ajaran palsu dengan maksud menarik murid2 Tuhan (Kis. 20:28-30). Wahyu 2-3 menyebutkan tiga ajaran palsu, yaitu ajaran Izebel, Bileam dan Nikolaus. Karenanya, nabi2 palsu atau guru2 palsu itu adalah para pemimpin gereja yang ADALAH DOMBA SEJATI, tetapi mereka diserang SERIGALA GANAS, yang adalah iblis. Jadi, tegasnya, nabi2 palsu atau guru2 palsu itu ADALAH DOMBA yang DISERANG SERIGALA GANAS.

Dalam dunia kekristenan, ajaran Bileam, Izebel, dan Nikolaus telah diterima secara luas dalam denominas2 yang ada. Jadi dalam, konteks dunia kekristenan saat ini, siapakah “domba yang diserang oleh serigala ganas” itu? Mereka adalah para pemimpin gereja yang mengajarkan ajaran palsu untuk menarik murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri.

Kita masih melanjutkan pembahasan bagian keenam dalam Hukum Kerajaan Sorga ini yang tertulis dalam Matius 7:13-29, mengenai ‘penyesatan’. Mari kita perhatikan Matius 7:16, demikian, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka…”. Yesus tegas menyatakan bahwa untuk mengenali nabi2 palsu atau guru2 palsu adalah dengan melihat “buah” mereka. Banyak orang Kristen berpendapat bahwa “buah” yang dimaksud adalah karakter, atau hasil pelayanan dari nabi palsu atau guru palsu itu.

Tetapi, jika kita melihat konteks Matius 5-7 yang berbicara mengenai ‘pengajaran’ Kerajaan Sorga, maka lebih cocok jika kita menafsirkan “buah” dari nabi palsu atau guru palsu itu adalah pengajarannya. Dari pengajarannyalah kita dapat mengenali siapa mereka itu sebenarnya. Kita telah membahas dari II Petrus 2, mengenai ciri guru2 palsu itu, yaitu bahwa mereka menempuh ‘jalan Bileam’ (ayat 15). Didalam Wahyu 2-3, Bileam telah menjadi salah satu ajaran palsu, yaitu ajaran yang mendukung dan memberi kesempatan bagi seseorang yang mencintai upah untuk “pelayanannya”. Guru2 atau nabi2 palsu ini memang akan mencari untung dalam pelayanannya. Jadi, sebenarnya cukup mudah untuk mengenali para pengajar “Bileam” ini. Jika seorang “pelayan” Tuhan selalu berkhotbah mengenai bagaimana ia mendapatkan uang, maka dapat dipastikan bahwa ia seorang pengajar “Bileam”.

Kita ambil saja dua ajaran palsu yang sudah cukup popular didalam dunia kekristenan, walaupun tidak semua aliran menerimanya, yaitu ajaran palsu persepuluhan dan buah sulung yang umumnya dipahami sebagai pemberian uang dari jemaat kepada para pemimpinnya. Walaupun dalam kitab2 PB, tidak ada satupun contoh gereja mula-mula mempraktekkan persepuluhan, atau buah sulung, apalagi suatu perintah tegas untuk memberikan uang persepuluhan atau buah sulung, namun para pengajar “Bileam” ini tetap mengajarkannya. Kadang2 para pengajar “Bileam” ini menafsir perkataan Yesus dalam Matius 23:23, demikian, “…Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan”, maka berarti Yesus menganjurkan gereja memberi persepuluhan. Tetapi kita tahu bahwa konteks ayat ini adalah teguran Yesus kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat yang memang mereka berada dibawah Hukum Taurat. Jadi, memang mereka yang hidup dibawah Hukum Taurat harus memberi persepuluhan, tetapi gereja tidak hidup dibawah Hukum Taurat melainkan dibawah Kasih Karunia.

Didalam Kis. 20:28-30, Paulus menyatakan motivasi dari para pemimpin gereja ini dalam mengajar ajaran palsu, yaitu untuk menarik murid2 kepada diri mereka sendiri. Para pengajar palsu ini memang membangun kerajaannya sendiri, dan untuk itu mereka membutuhkan uang untuk membangun gedung2, atau apapun yang mendukung “pelayanan” mereka. Hal seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Rasul2 maupun oleh para pelayan gereja mula-mula.

Jadi, kita bisa menguji pengajaran “Bileam” ini dari kitab suci. Kalau demikian, bagaimana umat kerajaan dapat mengenali mereka, karena pada kenyataannya, tidak semua umat kerajaan memiliki pemahaman kitab suci dengan luas dan rinci. Sesungguhnya, umat kerajaan telah diperlengkapi dengan ‘pengurapan dalam batin’ yang membuat mereka dapat mengenali pengajaran yang benar (I Yohanes 2:27). PengurapanNya inilah yang mengajarkan segala sesuatu kepada umat kerajaan. Demikianlah umat kerajaan dapat mengenali para pengajar palsu ini.

Setelah berbicara mengenai ‘penyesatan’ yang harus dihadapi para pengikutNya, Yesus mengakhiri khotbah dibukit ini dengan menegaskan tentang penghakiman (Matius 7:21-27). II Korintus 5:10, menyatakan, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”. Hanya kita harus melihat penghakiman Elohim ini dalam dua aspek, yaitu aspek penghukuman (apa yang ditabur orang itu yang dituainya), dan juga aspek pemulihan yang tertulis dalam Yesaya 26:9, demikian, “… sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”.

Mari kita mulai dengan penghakiman yang pertama dalam Matius 7:21-23, demikian, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan akan masuk kedalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir… kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu… Pada waktu itulah Aku akan berterus terang… kamu sekalian pembuat kejahatan”. Terlihat disini bahwa penghakiman itu tergantung apakah seseorang melakukan kehendak Bapa disorga atau tidak, dan bukan soal perbuatan seseorang dalam bernubuat, mengusir setan, atau mengadakan mujizat demi namaNya. Para pengikut Yesus yang ditolak untuk ikut memerintah bersamaNya ketika kerajaan sorga termanifestasi/datang sepenuhnya dibumi (biasa disebut kerajaan 1000 tahun=Milenium) adalah mereka yang melakukan ‘kejahatan’, artinya tidak melakukan kehendak Bapa.

Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘kejahatan’ adalah ‘anomia’, yaitu ketiadaan hukum (lawlessness). Maksudnya, para pengikut Yesus ini menjalankan pelayanannya demi nama Tuhan, tetapi melanggar Hukum Kerajaan Sorga. Istilah ‘anomia’ ini juga muncul dalam perumpamaan ‘lalang diantara gandum’, demikian, “… semua orang yang melakukan kejahatan (anomia) dari dalam kerajaan-Nya” (Matius 13:41). Jadi, para pengikut Yesus ini memang sudah ada dalam kerajaan sorga, namun selama pelayanannya dimuka bumi ini mereka tidak melakukan kehendak Bapa, dan melanggar Hukum Kerajaan Sorga, karenanya mereka ditolak untuk ikut memerintah dibumi pada saat kedatangan Tuhan ‘kedua kali’.

Penghakiman berikutnya tertulis dalam Matius 7:24-27, tentang dua macam dasar/pondasi. Para pengikut Yesus yang mendengar perkataan Tuhan dan melakukannya disamakan dengan pondasi (dasar) yang dibangun diatas batu. Sedangkan yang tidak, disamakan seperti pondasi yang dibangun diatas pasir. Penghakiman Tuhan disini diumpamakan seperti ‘turunnya hujan dan datang banjir’. Dan tentu saja, rumah yang dibangun diatas batu akan bertahan.

Ada kesamaan yang perlu kita perhatikan dari kedua penghakiman Tuhan ini, yaitu mereka yang bertahan dihari penghakiman adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa atau mendengar perkataan Tuhan serta melakukannya. Tentu saat ini tidak dapat dilihat apakah seorang Kristen itu melakukan pelayanannya dalam rangka melakukan kehendak Bapa atau tidak. Juga, apakah seorang Kristen itu membangun rumah dengan pondasi diatas batu atau pasirpun tidak terlihat, karena memang pondasi itu tidak terlihat. Saat ini, yang kita lihat bahwa semua orang Kristen sedang membangun “rumah”. Terkait dengan hal ini, nasihat Paulus dalam I Korintus 4:5, cocok untuk kita renungkan, yaitu “… janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah” (LAI).

Sebelum kita lanjutkan pembahasan kita mengenai kerajaan sorga dalam injil Matius, perlu kita lihat pembagian ‘percakapan’ atau ‘pengajaran’ yang memang sengaja dibuat oleh Matius. Ada 5 pembagian atau percakapan dalam injil Matius, sementara selebihnya adalah suatu ‘cerita’ atau ‘narasi’ mengenai Tuhan Yesus dan khabar baik injil kerajaan sorga.

Mari kita lihat 5 pembagian ini, dimana pada akhir dari tiap2 bagian ini terdapat ungkapan, ‘setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran atau percakapan ini…’. Bagian pertama, Matius 5:1 – 7:29, yang biasa disebut khotbah dibukit dan telah kita bahas. Kedua, Matius 9:35 – 11:1, yang berisi tentang ‘penugasan kedua belas rasul’. Ketiga, Matius 13:1-52, tentang tujuh perumpamaan mengenai kerajaan sorga. Keempat, Matius 18:1-35, tentang pengampunan dan perumpamaan hamba yang berhutang. Kelima, Matius 23:1 – 25:46, tentang tegoran kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, serta pengajaran akhir zaman.

Kita tahu bahwa injil Matius terutama ditujukan kepada pembaca berlatar belakang Yahudi. Matius sengaja membagi ‘pengajaran kerajaan sorga’ menjadi 5 bagian seolah-olah ia hendak memperkenalkan Yesus sebagai “Musa” yang baru dan lebih besar. Kita tahu bahwa kelima kitab, yaitu Kejadian, keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan sebagai kitab Musa atau Hukum Musa. Jadi, dengan membagi pengajaran kerajaan sorga menjadi lima bagian, maka ia sedang menunjukkan kepada pembaca Yahudi, bahwa seperti Musa, maka Yesus sedang memberikan Hukum kerajaan Sorga kepada bangsa Yahudi. 

Perbandingan yang dibuat Matius antara Yesus dan Musa terlihat dalam khotbah dibukit dengan adanya ungkapan, ‘kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita… tetapi Aku berkata kepadamu…’ (Matius 5:21,27,31,33,38,43). Jadi, dengan membagi pengajaran Yesus menjadi 5 bagian, maka seperti Musa diutus oleh Yahweh, maka Yesus juga diutus oleh Bapa untuk memberikan Hukum Kerajaan Sorga kepada bangsa Yahudi. Tetapi kita harus tetap mengingat bahwa, “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yohanes 1:17).   

Sebelum kita masuk kedalam bagian percakapan atau pengajaran Yesus yang kedua, perlu kita ingat apa yang tertulis dalam Matius 9:35, demikian, “Demikianlah Yesus berkeliling kesemua kota dan desa… Ia mengajar…. memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan”. Jelas disini urutan yang Yesus lakukan, yaitu mengajar, memberitakan, baru kemudian melenyapkan segala penyakit. Sesungguhnya, mengajar dan memberitakan kerajaan sorga merupakan kepentingan Yesus sebagai Raja diatas segala raja. Sedangkan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan itu terutama merupakan kepentingan manusia. Sebagai pengikutNya, kita harus lebih dahulu mengajar hukum2 kerajaan sorga, baru kemudian memenuhi kebutuhan manusia. Urutan ini jangan dibalik.

Banyak orang dalam dunia kekristenan terfokus kepada kebutuhan manusia. Para pengkhotbah, umumnya, suka memberitakan sesuatu yang menjadi kebutuhan atau kepentingan manusia. Tetapi Matius 26:10,13, menegaskan, “… Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik padaKu… sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia”. Perempuan yang memecahkan buli-bulinya berbuat baik kepada Yesus. Dan Yesus mengharuskan dalam pemberitaan Injil supaya perbuatan perempuan ini disebut. Mengapa? Agar kita paham bahwa pemberitaan Injil haruslah menghasilkan orang2 yang mau memecahkan “buli2nya” (sesuatu yang berharga baginya) demi berbuat baik kepada Yesus. Jadi, tujuan Injil diberitakan adalah supaya kita berbuat baik kepada Yesus, bukan terutama supaya terlihat betapa baiknya Tuhan kepada manusia. Injil diberitakan terutama bertujuan demi kepentingan Yesus, bukan kepentingan manusia.

Oleh kasih karuniaNya, umat kerajaan akan lebih dahulu mengajar hukum kerajaan sorga agar dapat berbuat baik kepada Yesus, bahkan memecahkan “buli2nya”, dan kemudian barulah fokus kepada kebutuhan orang.

Kita masuk kepada pembagian kedua dalam percakapan atau pengajaran kerajaan sorga, yaitu Matius 9:35 – 11:1, yang berisi tentang ‘penugasan atau pengutusan kedua belas rasul’. Latar belakang pengutusan kedua belas rasul adalah belas kasihan Yesus kepada orang banyak, karena mereka lelah, dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala, dan bahwa tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit (9:36-37). Karenanya, Yesus memanggil kedua belas muridNya, memberi otoritas kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan, dan juga mengutus mereka untuk memberitakan bahwa kerajaan sorga sudah dekat.

Mari kita melihat pesan2 yang diberikan Yesus ketika Ia mengutus mereka. Pertama, Matius 10:5-15, menjelaskan pada kita apa itu misi kedua belas rasul disaat waktu itu. Kedua, Matius 10:16-23, menjelaskan kesulitan2 yang akan dihadapi pemberitaan injil kerajaan sorga pada saat itu, maupun pada masa mendatang. Ketiga, Matius 10:34-42, menjelaskan apa yang Yesus minta dari kita.

Setidaknya, ada 2 hal yang harus kita perhatikan agar kita tidak langsung menerapkan pesan2 Yesus terkait pengutusan kedua belas rasul ini kepada kondisi kita sekarang. Pertama, pengutusan kedua belas rasul ini hanya ditujukan kepada bangsa Yahudi saja (Matius 10:5-6), sementara itu pengutusan bagi semua murid Yesus disepanjang zaman ditujukan kepada semua bangsa (Matius 28:19-20). Kedua, Lukas 22:35-36, menjelaskan pada kita bahwa Yesus membatalkan pesan sebelumnya terkait soal membawa emas, perak, tembaga, bekal, baju dua helai, kasut, dan tongkat (Matius 10:9-10).

Tetapi tidak semua pesan2 Yesus dalam pengutusan ini yang dibatalkanNya. Pesan Yesus bahwa akan datang kesulitan dan tantangan dalam pemberitaan injil kerajaan tetap berlaku sampai sekarang. Demikian juga permintaan Yesus kepada kita dalam Matius 10:34-42, tetap berlaku, yaitu agar kita mengutamakan kepentingan Tuhan diatas segalanya, bahkan nyawa kita sendiri.

Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan dengan baik, yaitu mengenai otoritas yang diberikan Yesus kepada kedua belas rasulNya pada waktu itu untuk membuat mujizat, seperti mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, serta membangkitkan orang mati. Pada waktu itu Roh Kudus belum dicurahkan kepada mereka yang percaya, karena Yesus belum dimuliakan (Yohanes 7:39), artinya Yesus belum mati, bangkit dan duduk disebelah kanan Bapa. Pada saat itu, kedua belas rasul hanya diperintahkan untuk mengadakan mujizat, dan memberitakan kerajaan sorga, dalam arti memproklamasikannya, bukan mengajarkan tentang kerajaan sorga. Sementara itu, kita lihat bahwa pengajaran utama para rasul setelah Yesus dimuliakan adalah mengenai pengajaran kerajaan sorga. Bahkan seluruh kitab2 PB sesungguhnya memiliki tema utama tentang pengajaran kerajaan sorga.

Perintah pengutusan dalam Matius 28:19-20, menegaskan, “…jadikanlah semua bangsa muridKu… dan ajarlah mereka…”. Artinya, jadikanlah semua bangsa menjadi murid Kristus dengan cara mengajarkan kerajaan sorga kepada mereka, karena demikianlah tema utama kitab2 PB. Dalam dunia kekristenan saat ini, umumnya, telah terjadi pergeseran dalam pemberitaan Injil. Pengajaran mengenai kerajaan sorga tidak menjadi perkara utama lagi. Penekanan2 mengenai mujizat, atau kesuksesan duniawi sering menggeser pentingnya murid Kristus memahami dengan baik pengajaran kerajaan sorga. Tetapi, umat kerajaan mendapat kasih karunia untuk memahami kerajaan sorga, dan menjalankan kuasanya dalam kehidupan sehari-hari.

Telah kita lihat bahwa ada 5 bagian percakapan atau pengajaran tentang kerajaan sorga dalam injil Matius, dimana bagian ketiga dari pengajaran itu berbicara tentang ‘tujuh perumpamaan mengenai kerajaan sorga’ (Matius 13:1-52). Tetapi, sebelum kita masuk kepada bagian ke-3, kita perlu merenungkan pasal 12, dimana Yesus dituduh oleh orang Farisi, demikian, “… Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan” (12:24).

Tuduhan orang Farisi ini sangat serius, karena pada ayat2 selanjutnya, Yesus berbicara soal dosa menghujat/menentang Roh Kudus (12:32), bahwa orang Farisi adalah keturunan ular beludak (12:34), dan bahwa mereka adalah angkatan yang jahat dan tidak setia (12:39,45). Tetapi kita tetap harus mengingat bahwa mereka adalah umat Tuhan yang terikat dengan perjanjian Musa. Bahkan dalam Matius 23:2, Yesus tegas berkata bahwa orang2 Farisi dan ahli Taurat telah menduduki kursi Musa (otoritas Musa), sehingga orang banyak harus mentaati mereka. Jadi, ketika Yesus berkata bahwa mereka keturunan ular beludak, maka hal ini bukan berarti mereka bukan umat Tuhan. Mereka tetap umat Tuhan yang terikat dengan perjanjian Musa.

Mari kita perhatikan lebih rinci respon Yesus pada ayat2 selanjutnya, setelah orang Farisi menuduhNya. Pertama, iblis dan roh2 adalah suatu kerajaan (12:26). Setan adalah penguasa dunia/sistem=kosmos ini (Yohanes 12:31). Iblis dan roh2 jahat adalah penguasa kegelapan ‘kosmos’ atau sistem dunia ini (Efesus 6:12). Kedua, karena Yesus tegas menyatakan bahwa orang Farisi adalah keturunan “ular beludak”, maka sesungguhnya, dunia (sistem=kosmos) keagamaan dizamanNya dikuasai/dipengaruhi oleh kerajaan iblis. Ketiga, Matius 12:43-44, masih merupakan bagian dari respon Yesus terhadap orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, maka sesungguhnya, ‘angkatan yang jahat’ (dunia keagamaan dizamanNya) akan dihuni oleh “tujuh roh” yang lebih jahat dari roh sebelumnya. 

Pelajaran apa yang kita dapat disini? Banyak orang Kristen tidak memahami atau mengenali dunia keagamaan dizaman Yesus, atau yang biasa kita sebut Yudaisme. Sesungguhnya, dunia keagamaan inilah yang menyalibkan Yesus, dan bukan Pontius Pilatus yang mewakili dunia politik pada zaman itu. Berkali-kali Pontius Pilatus berusaha membebaskan Yesus, tetapi orang2 Farisi dan ahli2 Taurat menghasut orang banyak agar Yesus disalibkan, dan Barabas yang dibebaskan. Dunia keagamaan dizaman Yesus sudah jelas sangat dikuasai kerajaan kegelapan.

Bagaimana dengan dunia kekristenan? Apakah dunia kekristenan juga dikuasai atau dipengaruhi oleh kerajaan kegelapan? Jika kita ingin memahami dunia kekristenan, maka kita perlu melihat, dan tentu meminta pewahyuan Roh Kudus, agar dapat memahami pewahyuan yang tertuang dalam tulisan2 rasul Yohanes. Banyak orang Kristen, barangkali termasuk para pengajar Alkitab juga, yang tidak melihat bahwa kitab2 Perjanjian Baru harus dipilah menjadi tiga bagian (trilogy), yaitu pewahyuan melalui Petrus dan tim-nya, pewahyuan melalui Paulus dan tim-nya, serta pewahyuan melalui rasul Yohanes dan tim-nya juga.

Pewahyuan yang dinyatakan kepada rasul Yohanes terjadi ketika gereja telah jatuh/merosot. Wahyu 2-3 jelas menguraikan bagaimana gereja telah menjadi dunia kekristenan oleh tiga ajaran palsu Izebel, Bileam, Nikolaus. Karena kemerosotan gereja ini, maka Tuhan memanggil para pemenangNya untuk menjadi representatif gereja yang sudah jatuh. Rasul Yohaneslah yang banyak menggunakan istilah ‘dunia’/kosmos/sistem, dimana penguasa ‘dunia’ ini adalah iblis. Kita tidak membahas pewahyuan rasul Yohanes mengenai ‘kosmos’/dunia ini, tetapi yang perlu kita lihat saat ini bahwa ‘dunia’ keagamaan dikuasai oleh kerajaan kegelapan, karena iblis-lah yang menjadi penguasa dunia/kosmos.

Saat ini kita akan membahas bagian ketiga dalam injil Matius yang berbicara tentang ‘tujuh perumpamaan mengenai kerajaan sorga’ (Matius 13:1-52). Mari kita lihat sekilas Matius pasal 1 sampai 12, agar kita memahami pasal 13 dengan baik. Matius 1 berbicara soal kelahiran dan silsilah Yesus sebagai Raja. Matius 2 berbicara kedatangan orang Majus dan persembahannya kepada sang Raja. Matius 3 berbicara perintis sang Raja dan baptisan sang Raja. Matius 4 berbicara mengenai pencobaan kepada sang Raja dan pemanggilan keempat muridNya. Matius 5,6,7 berbicara mengenai khotbah sang Raja dibukit mengenai hukum2 KerajaanNya. Matius 8 dan 9 berbicara mengenai demonstrasi dan kuasa kerajaanNya. Matius 10 berbicara mengenai pengutusan kedua belas rasul. Matius 12 berbicara bagaimana Yesus sang Raja sepenuhnya ditolak oleh para pemimpin agama Yahudi. Matius 13:1, menegaskan ‘pada hari itu’, artinya, pada hari setelah Yesus sepenuhnya ditolak oleh para pemimpin agama Yahudi, PADA HARI ITU YESUS KELUAR DARI TENGAH-TENGAH KELUARGA ISRAEL DAN BERBICARA MELALUI PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN.

Perumpamaan2 kerajaan sorga yang Yesus ajarkan bukanlah supaya dipahami oleh semua orang Yahudi. Perhatikan alasan Yesus mengajar dalam perumpamaan ketika ditanya oleh murid2Nya, “…Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan sorga, tetapi kepada mereka tidak” (Matius 13:11). Jadi, jelaslah bahwa Yesus mengajarkan kerajaan sorga dalam perumpamaan2, dengan maksud supaya hanya mereka yang mendapat kasih karuniaNya saja yang memahami. Kepada bangsa Yahudi secara umum, atau yang biasa disebut ‘orang banyak’ dalam kitab2 Injil, perumpamaan2 kerajaan sorga diberikan bukanlah supaya dipahami. Penglihatan dan pemahaman ‘orang banyak’ telah ditutup agar firman Tuhan digenapi, dalam kasus ini nubuat Yesaya (Matius 13:14-15). 

Hal ini bukan berarti bangsa Yahudi akan ditolak selamanya untuk ambil bagian didalam kerajaan sorga. Tetapi bahwa hanya sedikit saja dari bangsa Yahudi yang diterima masuk dalam kerajaan sorga ‘pada dispensasi ini’, yaitu orang2 yang terpilih yang kepada mereka Bapa di sorga berkenan memberikan kerajaan sorga itu (Lukas 12:32). Orang2 yang terpilih ini disebut sebagai ‘kawanan kecil’ dalam Lukas 12:32, sebagai lawan dari ‘orang banyak’ atau ‘kawanan besar’ bangsa Yahudi.

Mari kita mulai dengan perumpamaan pertama dalam Matius pasal 13 ini, yaitu perumpamaan penabur. Sebenarnya perumpamaan penabur ini belumlah berbicara mengenai seperti apa dan bagaimana kerajaan sorga yang akan ditegakkan dibumi ini. Perumpamaan penabur hanyalah berbicara tentang ‘respon’ orang2 yang ditaburkan “benih” firman tentang Kerajaan sorga, atau “benih” Yesus sebagai Hayat (‘zoe’).

Tetapi, keenam perumpamaan lain dalam pasal 13 ini selalu didahului dengan ungkapan ‘Hal Kerajaan sorga itu seumpama’ (ayat 24,31,33,44,45,47). Karenanya, keenam perumpamaan berikutnya menjelaskan kepada kita seperti apa dan bagaimana ‘kerajaan sorga yang akan ditegakkan dibumi ini’.

Baiklah kita ringkas perumpamaan penabur ini. Yesus sebagai penabur, dan kelak tentu murid2Nya juga, menaburkan ‘benih firman tentang kerajaan sorga’ dan akan mendapat ‘respon’ yang berbeda-beda tergantung ‘jenis tanah’ (hati orang) dimana benih itu jatuh. Ada 4 kategori tanah dalam perumpamaan ini, yaitu, pertama, tanah di pinggir jalan, kedua, tanah yang berbatu-batu, ketiga, tanah yang bersemak duri, dan keempat, tanah yang baik. 

Tanah yang di pinggir jalan adalah orang2 yang mendengar firman tentang kerajaan sorga dan tidak mengertinya, karenanya dicuri iblis, serta sama sekali tidak bertumbuh (ayat 19). Tanah yang berbatu-batu adalah orang yang mendengar firman kerajaan sorga dan sempat bertumbuh karena menerimanya dengan gembira, tetapi tidak berakar (ayat 21). Apabila datang kesukaran atau penindasan karena firman kerajaan sorga itu, maka ia segera murtad. Tanah yang bersemak duri adalah orang yang mendengar firman kerajaan sorga, dan sempat bertumbuh tetapi tidak berbuah karena kekuatiran dunia serta tipu daya kekayaan (ayat 22). Tanah yang baik adalah orang yang mendengar firman kerajaan sorga serta mengerti, karenanya berbuah, dan ada yang 100, 60, dan 30 kali lipat.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari perumpamaan penabur ini. Pertama, Yesus, dan tentu rasul2Nya juga, memberitakan firman tentang kerajaan sorga. Tentu Yesus berbicara juga mengenai gereja, tetapi fokus dari semua perkataan Yesus adalah firman kerajaan sorga. Kedua, terlihat dari perumpamaan ini bahwa respon seseorang akan menentukan apakah firman kerajaan sorga yang ditabur itu akan menghasilkan buah atau tidak. Tetapi, kita jangan cepat2 mengambil kesimpulan bahwa semua tergantung respon manusia, sebagaimana sering kita dengar dalam dunia kekristenan.

Perhatikan ayat 11 yang sudah kita bahas. Sebagian orang mendapat kasih karunia untuk memahami misteri kerajaan sorga, tetapi sebagian orang lagi tidak mendapat kasih karunia untuk mengerti. Jadi, kesimpulannya, semua tergantung kehendak Bapa di sorga. Apakah Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga kepada seseorang atau tidak (Lukas 12:32). Adapun hati manusia yang sudah jatuh dalam dosa, telah rusak parah dan tidak ada seorangpun yang mencari Tuhan (Roma 3:11). Jika ada seseorang yang mengerti firman kerajaan sorga, maka itu disebabkan Bapa berkerja didalam hatinya.

Pelajaran ketiga yang perlu kita lihat dalam perumpamaan ini adalah mengenai ‘buah’. Dalam dunia kekristenan sering kita dengar mengenai ‘buah’ seorang kristen, yaitu jumlah jiwa yang dimenangkannya, karakternya, atau bahkan berkat2 jasmani yang diraihnya melalui “pelayanannya”. Semua ini bukanlah ‘buah’ yang dimaksud karena seseorang mendengar dan mengerti firman kerajaan sorga.

Buah yang dimaksud adalah apa yang disebut dalam Yakobus 1:18, yaitu menjadi bagian dari “buah sulung” ciptaan. Buah sulung dalam konteks PB adalah orang2 yang dipilih, dan karenanya, matang lebih dahulu serta siap dituai oleh Tuhan Yesus untuk bersama-sama denganNya menegakkan kerajaan sorga dibumi, sehingga bumi bergerak menjadi bumi baru. Sesungguhnya, melalui kematian dan kebangkitanNya, Yesus menabur DiriNya sebagai Hayat kedalam umat pilihanNya, dan karenanya, Yesus akan mendapat buah yang merupakan orang2 yang akan bersamaNya melakukan kehendak Bapa dibumi.

Saat ini kita masuk kedalam perumpamaan kedua dalam Matius 13, yaitu perumpamaan ‘lalang diantara gandum’. Dikatakan dalam perumpamaan ini bahwa hal kerajaan sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya, dimana datang juga musuh yang menaburkan benih Lalang diantara gandum itu. Tuhan Yesus adalah yang menaburkan benih yang baik, dan gandum itu adalah anak2 kerajaan. Iblis adalah yang menaburkan benih yang jahat dan Lalang itu adalah anak2 si jahat.

Pada umumnya, dalam dunia kekristenan, dipahami bahwa “lalang” adalah orang2 yang mengaku Kristen, tetapi belum lahir baru, atau belum menerima “benih” Kristus atau Hayat Kristus (‘zoe’). Penafsiran seperti ini tidak memahami kejatuhan gereja yang tertulis dalam Wahyu 2-3. Pewahyuan yang diberikan kepada rasul Yohanes adalah mengenai kejatuhan gereja, mulai dari zaman rasul Yohanes, bahkan gereja sepanjang zaman, yang digambarkan oleh tujuh gereja di Asia Kecil. Setelah gereja jatuh, Tuhan memanggil para pemenangNya, dimana kita akan lihat bahwa “gandum” itu menggambarkan para pemenangNya.

Perlu kita pahami bahwa iblis menaburkan benih yang jahat itu ‘diladang milik Tuan yang di sorga’, sehingga baik lalang maupun gandum ada diladang sang Tuan. Pada tahap awal, lalang dan gandum sangat mirip sehingga tidak mungkin seseorang dapat membedakannya. Itu sebabnya, sang Tuan melarang hamba2Nya untuk mencabut lalang sebelum waktu menuai, sebab dapat membuat gandumnyapun ikut tercabut. 

Makna dari perumpamaan ini menggambarkan seperti apa kerajaan sorga itu, sebab perumpamaan ini didahului dengan ungkapan, ‘hal kerajaan sorga itu seumpama’. Jadi, pada tahap awal, hanya Yesus yang menaburkan benih yang baik, yaitu anak2 kerajaan. Ketika gereja dilahirkan pada hari Pentakosta, hanya ada “benih yang baik” yang ditaburkan. Tetapi kemudian, iblis menabur benih jahat kedalam gereja, sehingga gereja pecah menjadi ribuan denominasi seperti sekarang ini, yang kita sebut dunia kekristenan. Awalnya, gereja hanya terdiri dari “benih gandum”, tetapi kemudian berkembang menjadi dunia kekristenan dimana didalamnya terdapat “benih lalang dan gandum”. Didalam dunia kekristenan, ada “lalang” yaitu orang2 yang melakukan ‘kejahatan’ (Matius 13:41).

Menarik untuk diperhatikan bahwa istilah ‘kejahatan’ (ayat 41) dalam bahasa Yunani adalah ANOMIA, dan istilah ini juga yang dipakai dalam Matius 7:21-23 dimana ada orang2 yang berseru Tuhan, Tuhan serta melakukan banyak mujizat demi nama Tuhan, bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan demi nama Tuhan, tetapi ditolak oleh Tuhan Yesus karena melakukan ANOMIA (kejahatan). Jelas, bahwa orang2 yang diuraikan dalam Matius 7:21-23 adalah orang2 didalam dunia kekristenan, bahkan barangkali orang2 terkenal yang sering mengadakan kebaktian besar dengan banyak mujizat.

Selanjutnya, ayat 41 juga menegaskan bahwa pada waktu menuai, maka segala sesuatu yang ‘menyesatkan’ akan dikumpulkan. Perlu kita perhatikan istilah ‘menyesatkan’ (Yunani: SKANDALON) dalam ayat 41, yang juga digunakan dalam Wahyu 2:14 sebagai berikut, “…diantaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk ‘menyesatkan’ (SKANDALON) orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah”. Jadi, perihal menyesatkan ini adalah suatu ajaran palsu (Bileam) yang ditabur iblis kedalam gereja, sehingga menyebabkan umat Tuhan menyembah berhala dan berbuat zinah. Sebenarnya, ada tiga ajaran palsu yang ditabur iblis kedalam gereja seperti tertulis dalam Wahyu 2-3, yaitu ajaran Izebel (merampas otoritas Hayat dalam gereja), Nikolaus (menaklukkan kaum awam sehingga gereja terbelah menjadi dua golongan), dan Bileam (ajaran yang membenarkan adanya perdagangan dalam gereja).

Demikianlah kondisi kerajaan sorga dimana didalamnya terdapat “lalang” dan “gandum”. Sesungguhnya, “lalang” adalah orang2 kristen yang sudah lahir baru, tetapi menerima atau bahkan mengajarkan ajaran palsu Bileam, Nikolaus, dan Izebel. Tetapi, pada waktu menuai, lalang dan gandum akan dipisahkan, sehingga, “…orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka…” (Matius 13:43).

Kita akan masuk kedalam perumpamaan ketiga dalam Matius 13, yaitu perumpamaan biji sesawi (13:31-32), demikian, “… hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi… Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya”.

Perlu kita pahami bahwa biji sesawi itu sesuatu jenis ‘biji sayuran’ yang paling kecil. Dan, jika biji sayuran ini ditanam, ia akan menghasilkan ‘tumbuhan sayuran’ sesuai dengan hukum pertumbuhan yang Tuhan telah tetapkan, yaitu, “…yang menghasilkan buah sesuai jenisnya…” (Kejadian 1:11, ILT). Tetapi, ketika biji sesawi ini dtanam di ladang Tuhan, maka ia menjadi pohon sehingga burung2 diudara datang bersarang pada cabang2nya (13:32).

Pertumbuhan biji sesawi yang menjadi pohon adalah sesuatu yang tidak alamiah, tidak normal, dan melanggar ‘hukum pertumbuhan’ yang sudah Tuhan tetapkan. Memang kerajaan sorga yang ditegakkan dibumi itu mulai sebagai “biji” saja didalam diri Tuhan Yesus Kristus. Tetapi, setelah kematian dan kebangkitan Yesus, maka kerajaan sorga itu berbuah menjadi 120 orang (gereja) pada hari Pentakosta. Seharusnya, gereja bertumbuh dan menghasilkan “buah sesuai jenisnya”, yang dalam perumpamaan ini adalah jenis sayuran. Jika kemudian gereja bertumbuh menjadi “pohon besar” sehingga burung2 bersarang pada cabang2nya, maka ada suatu ‘pelanggaran terhadap hukum pertumbuhan disini’.

‘Pohon’ didalam Alkitab merupakan simbol dari orang2 (Mazmur 1:1-3; 52:8; 92:12-14; 128:3). Sementara ‘burung’ merupakan simbol dari ‘si-jahat’ dalam perumpamaan penabur (Matius 13:4,19). Tetapi, Alkitab juga berbicara tentang burung yang baik sebagaimana Roh Kudus dilambangkan sebagai ‘burung Merpati’ (Matius 3:16). Jadi, gereja yang bertumbuh menjadi “pohon besar” disebabkan adanya pekerjaan Roh Kudus, tetapi juga pekerjaan Iblis.

Umat pilihan Tuhan tentu memahami bagaimana gereja telah menjadi dunia kekristenan yang besar ini. Gereja yang seharusnya menghadirkan ‘kerajaan sorga dibumi’, saat ini justru menghadirkan ‘kerajaan2 kecil’ (denominasi2) milik para pemimpinnya. Jika ada orang membantah bahwa Tuhan juga bekerja dalam dunia kekristenan dan memberkati, maka hal ini memang benar, sebab dunia kekristenan menjadi besar karena pekerjaan Roh Kudus, tetapi juga karena pekerjaan Iblis.  Disatu sisi, memang gereja menjadi besar dan diberkati Roh Kudus, seperti dunia kekristenan saat ini, tetapi disisi lain, tetaplah ini suatu pelanggaran terhadap hukum pertumbuhan yang telah Tuhan tetapkan.

Yesus telah menyatakan hukum2 kerajaan dalam khotbah di bukit (Matius 5-7). Diakhir khotbahNya, Yesus menegaskan bahwa pada hari terakhir akan ada banyak orang berseru Tuhan-Tuhan serta melakukan banyak mujizat, nubuat, mengusir setan demi namaNya. Tetapi, pada saat itulah Yesus berterus terang mengatakan, “…Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan” (Matius 7:23). Istilah ‘kejahatan’ berasal dari istilah Yunani ‘anomia’, yang artinya ‘lawlessness’ (ketiadaan hukum atau pelanggaran hukum kerajaan), yang dalam perumpamaan diatas adalah ‘hukum pertumbuhan gereja’. Jadi, bukan kejahatan dalam arti membunuh, berzinah atau kejahatan2 lainnya, tetapi “para pelayan Tuhan” ini melakukan pelanggaran terhadap hukum kerajaan sorga.

Kerajaan sorga dibumi memang pasti bertumbuh, bahkan perluasannya sampai tidak berkesudahan (Yesaya 9:6). Tetapi, pertumbuhan atau perluasannya harus mengikuti hukum2 kerajaan yang sudah Tuhan tetapkan. Matius 15:13, menegaskan, “… Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya”. Denominasi2 yang adalah “kerajaan-kerajaan kecil” milik para pemimpinnya, bukanlah “tanaman” yang ditanam Bapa di sorga, walaupun tentu Tuhan memberkatinya. Dalam dunia kekristenan ada suatu kekeliruan, bahkan bisa disebut ‘blunder’, yang menyatakan bahwa berkat2 Tuhan adalah bukti perkenanan Tuhan. Bapa disorga telah memberkati seisi dunia dengan memberikan AnakNya yang tunggal untuk menghapus dosa dunia. Tetapi, hal ini bukan berarti Bapa disorga berkenan terhadap jalan hidup orang2 berdosa.

MEMBERKATI dan BERKENAN adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Pada waktuNya, Bapa disorga akan mencabut tanaman yang tidak ditanamNya.

Selanjutnya kita masuk kedalam perumpamaan kerajaan sorga yang keempat, yaitu ‘perumpamaan tentang perempuan dan ragi’ (Matius 13:33). Perumpamaan ini dimulai dengan ungkapan ‘hal kerajaan sorga itu seumpama’ perempuan yang mengadukkan ragi kedalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya. Untuk memahami perumpamaan ini, kita harus memahami apa yang disimbolkan oleh ‘perempuan’ dan juga ‘ragi’ dalam perumpamaan ini.

Perempuan diseluruh Alkitab selalu melambangkan ‘gereja’ sebagai mempelai Kristus. Sementara ‘ragi’ muncul kurang lebih sebanyak 38 kali diseluruh Alkitab, dan ungkapan ‘tidak beragi’ muncul sebanyak 60 kali diseluruh Alkitab. Dalam konteks PL, bangsa Israel memahami bahwa ‘ragi’ adalah sesuatu yang bersifat “jahat” dihadapan Yahweh, karena ada banyak larangan agar jangan menggunakan ‘ragi’. Tetapi, bangsa Israel tidak memahami mengapa ‘ragi’ menjadi sesuatu yang dilarang.

Tetapi, dalam konteks PB, kita memahami mengapa ‘ragi’ merupakan sesuatu yang ‘jahat’ dihadapan Tuhan. Tuhan Yesus dan Paulus yang mengungkapkan hal ini. Pertama, Tuhan Yesus menasihati murid2Nya supaya berhati-hati terhadap ‘ragi’ (ajaran) orang Farisi dan Saduki (Matius 16:5-12). Lukas 12:1 mendefinisikan ‘ragi’ sebagai kemunafikan orang Farisi. Kedua, Tuhan Yesus memperingati ‘ragi’ Herodes, yaitu gaya hidup jahat darinya (Markus 8:15). Ketiga, Paulus menasihati gereja di Korintus agar berpesta dengan ‘roti tidak beragi’, yaitu kemurnian dan kebenaran (I Korintus 5:8). Keempat, dalam suratnya kepada gereja di Galatia, Paulus memperingati ‘ragi’ ajaran Yudaisme yang bersifat legalisme dan ritualisme (Galatia 5:9). Jadi, jelaslah bahwa ‘ragi’ selalu menggambarkan suatu ajaran, gaya hidup, serta kemunafikan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan.

Jadi, perempuan yang memasukkan ‘ragi’ kedalam adonan adalah gereja, khususnya para pemimpinnya, yang memasukkan ‘ajaran beragi/palsu’ kedalamnya. PB mengungkapkan dengan sangat jelas bagaimana para pemimpin memasukkan “ragi” kedalam gereja. Paulus dalam Kis. 20:29-30, menjelaskan bagaimana serigala ganas menyerang gereja sehingga para pemimpin MENARIK murid2 Tuhan kepada diri mereka sendiri dengan ajaran palsu. Wahyu 2-3 juga menjelaskan kepada kita tiga ajaran palsu, yaitu ajaran Izebel (merampas otoritas Yesus), Bileam (dagang), dan ajaran Nikolaus (membelah gereja menjadi dua golongan, yaitu Imam-Umat, serta Pendeta-Jemaat).

Bagi ‘kawanan kecil’ aau umat kerajaan yang kepadanya Bapa sudah berkenan memberikan kerajaan sorga, tidaklah sulit memahami perumpamaan ‘perempuan dan ragi’ ini. Perlu kita pahami bahwa ‘ragi’ itu bekerja secara rahasia, perlahan-lahan, tetapi pasti akan mengkhamirkan seluruh adonan. Sejak zaman Rasul Yohanes, gereja telah dimasukkan ‘ragi’ oleh tiga ajaran palsu diatas. Itu sebabnya, firman Tuhan memanggil para pemenang, yaitu orang2 sederhana yang tidak ambil bagian dalam tiga ajaran palsu ini.

Sesungguhnya, Dunia Kekristenan telah khamir seluruhnya, itu sebabnya, Tuhan memanggil umat kerajaan untuk, “…Pergilah kamu, hai umatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya” (Wahyu 18:4).

Saat ini kita membahas perumpamaan kerajaan sorga yang kelima, yaitu perumpamaan ‘harta yang terpendam’ dalam Matius 13:44, demikian, “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu”.

 Ditegaskan bahwa kerajaan sorga seumpama ‘harta yang terpendam di ladang’. Jadi, jelas yang dimaksud ‘harta terpendam’ adalah kerajaan sorga. Dikatakan dalam ayat ini bahwa ‘harta yang terpendam’ atau ‘kerajaan sorga’ ini ditemukan oleh orang. Siapakah orang ini yang ketika menemukan ‘harta terpendam’ ini kemudian bersukacita dan menjual seluruh miliknya serta membeli ladang dimana ‘harta terpendam’ itu berada?

Jika kita konsisten dalam menafsir perumpamaan2 dalam Matius 13 ini, maka tentu kita tahu bahwa orang yang membeli ladang dimana terdapat ‘harta terpendam’ itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Sebab penabur dalam perumpamaan pertama adalah Tuhan Yesus, kemudian orang yang menabur ‘benih baik’ di ladangnya juga Tuhan Yesus, maka sewajarnya kita menafsirkan bahwa orang yang membeli ladang dimana terdapat ‘harta terpendam’ adalah juga Tuhan Yesus. Lagi pula tidak ada seorangpun yang mampu membeli harta terpendam (kerajaan sorga) selain Tuhan Yesus Kristus.

Ladang dalam perumpamaan ini tentu adalah dunia. Yesus sebagai ‘Anak Domba Elohim’ telah menebus dosa dunia/menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). I Yohanes 2:2, menegaskan bahwa Yesus sebagai pendamaian bagi dosa seluruh dunia. Yesus itu adalah juruselamat dunia, bukan juruselamat orang percaya saja. Sekalipun Yesus “membeli” ladang (dunia), namun perhatianNya tertuju kepada ‘kerajaan sorga’ (umat kerajaan) yang “terpendam” didalam dunia.

Beberapa penafsir berpendapat bahwa ‘harta terpendam’ ini adalah gereja, dalam arti dunia kekristenan secara keseluruhan. Tetapi, jika kita memperhatikan seluruh pengajaran PB mengenai gereja dan kerajaan sorga, maka kita tahu bahwa pandangan seperti ini tidak tepat. Memang Yesus berkata bahwa ‘Aku akan mendirikan gerejaKu’, tetapi dunia kekristenan bukanlah gereja seperti yang dibangun Yesus. Dunia kekristenan adalah gereja mula-mula yang telah pecah menjadi puluhan ribu denominasi oleh ketiga ajaran palsu Izebel, Bileam, dan Nikolaus (Wahyu 2-3).

Jadi kalau demikian, siapakah umat kerajaan sorga atau ‘harta terpendam’ itu? Lukas 12:32 menjelaskannya kepada kita, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”. Ini adalah keputusan dan kedaulatan Bapa sendiri yang sudah berkenan memberikan kerajaan sorga itu kepada kawanan kecil. Kerajaan sorga itu diberikan Bapa kepada kawanan kecil ‘secara gratis’, karena Yesus yang telah “membeli” dan membayar lunas ‘harta terpendam’ dengan darahNya sendiri. 

Satu hal lagi yang harus diingat dalam perumpamaan kerajaan sorga ini, bahwa Yesus tidak hanya membeli ‘harta terpendam’ saja, tetapi juga ladang (dunia). Artinya seluruh manusia telah dibeli dan ditebus oleh darahNya. Itu sebabnya Yesus berkata dalam Yohanes 12:32, “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu”. Semua orang telah dibeli dan ditebus oleh darah Yesus, karenanya semua orang adalah sah menjadi milik Yesus, bukan lagi milik Iblis. Hanya dizaman ini, fokus Tuhan Yesus adalah umat kerajaan.

Bagaimana Yesus akan menarik semua orang datang kepadaNya? Alkitab mengajarkan bahwa Yesus bersama ‘kawanan kecil’ akan mengambil tawanan2 iblis dizaman-zaman berikutnya. Haleluyah.

Kita teruskan pembahasan kita kepada perumpamaan keenam, yaitu tentang ‘pedagang dan mutiara indah’ dalam Matius 13:45-46, demikian, “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu”.

Perumpamaan keenam ini sebenarnya sama dengan perumpamaan kelima mengenai ‘harta yang terpendam’ yang sudah kita bahas. Mutiara yang indah disini tentu adalah ‘kerajaan sorga’, dan pedagang yang mencari mutiara adalah ‘Yesus Kristus’. Ditegaskan dalam perumpamaan ini bahwa ketika pedagang menemukan mutiara yang indah dan sangat berharga, maka pedagang ini menjual seluruh miliknya untuk membeli mutiara ini.

Baiklah kita membahas sedikit bagaimana Yesus “menjual seluruh milikNya” untuk mendapatkan kerajaan sorga. Filipi 2:6-8, menegaskan, “Dia, yang meskipun ada dalam rupa Elohim…Dia sudah mengosongkan Diri-Nya sendiri dengan mengambil rupa seorang hamba…Dia sudah merendahkan Diri-Nya sendiri dengan menjadi taat sampai pada kematian, bahkan kematian di kayu salib” (ILT). Ditegaskan disini bahwa Dia sudah ada dalam rupa Elohim dan setara dengan Elohim. Hal ini berbicara keberadaanNya sebelum berinkarnasi, yaitu setara dengan Elohim. Tetapi dalam kesetaraanNya dengan Elohim, Dia telah “mengosongkan DiriNya” dengan mengambil rupa seorang hamba. Pengertian “mengosongkan” (‘kenoo’=verb), bukan berarti Dia “MEMBUANG” keberadaanNya yang setara Elohim, melainkan Dia “MENAMBAHKAN” rupa seorang hamba (manusia) kepada keberadaanNya yang setara Elohim itu. Rasul Yohanes menjelaskannya demikian, bahwa Dia yang adalah Firman (‘Logos’) menjadi manusia (Yohanes 1:1,14). Dia, yang setara dengan Elohim itu, menjadi manusia yang bernama YESUS. Bahwa Yesus mati di kayu salib, itulah makna “menjual seluruh milikNya”.

Baiklah selalu kita ingat bahwa harga mutiara indah (kerajaan sorga) itu telah dibeli/dibayar lunas oleh YESUS. Umat kerajaan yang kepadanya Bapa berkenan memberikan kerajaan sorga SAMA SEKALI TIDAK MEMBAYAR APAPUN UNTUK MENERIMA KERAJAAN SORGA (Lukas 12:32). Kalau demikian, mengapa Yesus berkata bahwa orang yang mau ikut Yesus, harus memikul salibnya (Matius 10:38; 16:24). 

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita perlu memiliki konsep yang tepat mengenai ‘kerajaan sorga’ yang telah “dibeli” dan dibayar lunas oleh Yesus di kayu salib. Orang Kristen sulit memahami kerajaan sorga, karena dalam dunia kekristenan sudah umum diterima bahwa ‘percaya Yesus masuk sorga’. Sorga yang dimaksud disini adalah suatu ‘tempat yang menyenangkan’ dimana jalan2nya dari emas, bahwa orang yang percaya Yesus kerjanya hanya bernyanyi saja, bahkan Pdt. Erastus Sabdono yang terkenal itu sampai berpendapat masih ada anjing nanti disorga, disuatu ‘tempat yang menyenangkan itu’.

Konsep “sorga” seperti ini sangat jauh dari pengertian ‘kerajaan sorga’ seperti yang diwahyukan kepada Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu. Perhatikan Wahyu 5:10, demikian, “dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi” (ILT). Istilah ‘kami’ disini adalah umat kerajaan yang disimbolkan sebagai ‘dua puluh empat tua-tua’ dan ‘empat makhluk hidup’ (Wahyu 4:4,6). Pada saat kedatangan Tuhan Yesus, umat kerajaan, dengan tubuh kemuliaan, akan berfungsi sebagai raja2 dan imam2 (menurut aturan Melkisedek) serta melayani di BUMI SAMPAI BUMI BERGERAK MENUJU BUMI BARU, DAN LANGIT BARU JUGA.

Agar umat kerajaan dapat berfungsi sebagai raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek, maka umat kerajaan perlu diproses atau dibentuk Bapa di sorga. Ketika Bapa disorga memproses, mendidik, dan membentuk kita, maka kita akan mengalami banyak kesusahan (Ibrani 12:11, Kis. 14:22). Tetapi kesusahan dan penderitaan kita bukanlah harga yang kita bayar untuk masuk kerajaan sorga, melainkan pembentukkan Bapa agar kita dapat berfungsi sebagai raja2 dan imam2 dalam kerajaan sorga kelak ketika kerajaan sorga ditegakkan dibumi. YESUS MENGUNGKAPKAN PENDERITAAN UMAT KERAJAAN YANG MENGIKUTINYA SEBAGAI “MEMIKUL SALIBNYA”. Jadi, jelas bahwa kita tidak membayar harga apapun untuk masuk kerajaan sorga, sebab harganya sudah dibayar lunas oleh Yesus di kayu salib.

Kita masih membahas sedikit lagi mengenai pelayanan Imam Besar, yaitu Yesus, yang disimbolkan oleh ‘malaikat lain’ dalam Wahyu 8:1-3. Mari kita perhatikan ayat 3 dari Wahyu 8:1-3 ini, “…Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas dihadapan takhta itu “. Perhatikan tindakan simbolik ‘malaikat lain’ ini dimana ia tidak hanya mempersembahkan banyak kemenyan, tetapi juga dengan doa semua orang kudus. Apakah makna dari tindakan simbolik ‘malaikat lain’ ini?

Kita harus melihat beberapa ayat dalam PB terkait fungsi Yesus sebagai Imam Besar kita. Yohanes 17:9 menegaskan, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milik-Mu”. Doa yang dipanjatkan Yesus ini terjadi dimalam terakhir ketika Ia berkumpul bersama para muridNya, dan Yudas yang mengkhianati Dia, tidak bersamaNya lagi. Perhatikan bahwa Yesus berdoa hanya untuk murid2Nya, yaitu orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya. Disini Yesus tegas berkata bahwa Ia tidak berdoa untuk dunia. Siapakah ‘dunia’ yang dimaksud Yesus disini.

Kita harus memberi makna yang tepat kepada istilah ‘dunia’ sesuai konteksnya dalam tulisan2 rasul Yohanes. Jika istilah ‘dunia’ muncul dalam Yohanes 3:16, maka kita tahu bahwa dunia disini berarti semua manusia, yaitu semua orang yang dikasihi Bapa. Jika istilah ‘dunia’ muncul dalam I Yohanes 2:15-16, dimana kita dilarang mengasihi dunia, maka dunia yang dimaksud disini adalah sistem keagamaan. Perhatikan seluruh konteks percakapan Yesus dimalam terakhir bersama para muridNya. Ketika Yesus berkata bahwa dunia membenci Yesus dan murid2Nya, maka yang dimaksud adalah dunia keagamaan, yaitu Yudaisme yang memiliki kitab Taurat (Yohanes 15:25). Jadi, jika kita memperhatikan seluruh konteks percakapan Yesus dimalam terakhir, maka kita tahu bahwa istilah ‘dunia’ yang dimaksud Yesus dalam doaNya adalah dunia keagamaan, yaitu Yudaisme. Karenanya, kita tahu maksud Yesus dalam doaNya diatas bahwa Ia tidak berdoa untuk dunia, yaitu dunia keagamaan (Yudaisme), yang membunuhnya dan membenci murid2Nya.

Hal ini bukan berarti Yesus, sebagai Imam Besar, tidak akan menyelamatkan dunia keagamaan, atau dunia dalam arti semua manusia. Sebab dalam Yohanes 12:32, Yesus tegas berkata bahwa Ia akan menarik SEMUA ORANG datang kepadaNya. Tetapi bahwa, pekerjaan Elohim itu mempunyai tahap-tahapannya atau urut2annya sendiri, sesuai juga seperti yang tertulis dalam I Korintus 15:23-28. Jadi, pada akhirnya Yesus akan menyelamatkan seluruh dunia sebagaimana Ia diberi ‘gelar’ Juruselamat dunia.

Tetapi, dizaman ini, sebagai Imam Besar, Yesus hanya berdoa dan membentuk orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya. Sebagai Imam Besar menurut aturan Melkisedek, Yesus membentuk orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya agar menjadi imam2 juga menurut aturan Melkisedek. Demikianlah pada waktu kedatanganNya, Yesus dapat menjadi Imam Besar menurut aturan Melkisedek diantara para imam, yaitu orang2 yang diberikan Bapa kepadaNya.

Perhatikan doa Yesus selanjutnya dalam Yohanes 17:21, demikian, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, didalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga didalam Kita, SUPAYA DUNIA PERCAYA, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”. Ketika pada kedatanganNya, umat pilihanNya telah dibentuk menjadi imam2 dan raja2, dan Yesus telah menjadi Imam Besar menurut aturan Melkisedek diantara para imam, dan menjadi Raja diatas segala raja, maka tibalah urutan dimana seluruh dunia akan diselamatkan.

Jadi, tindakan simbolik ‘malaikat lain’ mempersembahkan kemenyan dan doa segala orang kudus (imam2 dan raja2) ini adalah mempersembahkan doa yang ‘harum’ kehadapan Bapa untuk penyelamatan dunia. Doa umat pilihanNya (raja2 dan imam2) dilibatkan dalam persembahan “kemenyan” yang berbau harum kehadapan Bapa, oleh Yesus Kristus sebagai Imam Besar.

Kita menutup pengajaran kerajaan sorga dalam Matius 13, dengan suatu pertanyaan serta pernyataan Yesus kepada murid2Nya (ayat 51-52), demikian, “YESUS berkata kepada mereka, ‘Mengertikah kamu semuanya ini?’ Mereka berkata kepadaNya, ‘Ya, Tuhan’. Dan Dia berkata kepada mereka, ‘Karena hal inilah maka setiap ahli kitab yang telah dijadikan murid bagi kerajaan sorga, dia itu seumpama seorang tuan rumah yang mengeluarkan hal-hal yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya” (ILT).

Disini Yesus menegaskan bahwa ‘ahli Taurat’ yang menerima dan memahami pelajaran dari hal kerajaan sorga, diumpamakan seperti tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama. Artinya, murid2 Yesus yang memahami pelajaran Kerajaan Sorga itu seperti “ahli Taurat” yang mengajar dan membagikan “hartanya”, baik yang baru maupun yang lama. Harta murid2 Yesus itu ada didalam bejana tanah liat, yang adalah ‘Kerajaan sorga ada didalam kamu’ (Lukas 17:21). Murid2 Yesus itu mengajarkan pelajaran Kerajaan Sorga dengan suatu pemahaman atau ungkapan ‘yang baru dan yang lama’.

Bangsa Yahudi memahami ungkapan ‘yang baru dan yang lama’, karena beberapa kali muncul dalam kitab2 Perjanjian Lama. Baiklah kita ambil beberapa contoh. Pertama, dalam kasus berkat Yahweh (Imamat 26:10). Kedua, dalam kasus ‘manna’ (Yosua 5:12). Ketiga, dalam kasus ‘kekasih’ (Kidung Agung 7:13). Keempat, kasus perjanjian (Yeremia 31:31; Ibrani 8). Yesus juga menggunakan ungkapan yang baru dan lama ketika Ia mengajar (Matius 9:17; Lukas 5:36-39). Jadi, ungkapan ‘yang baru dan yang lama’ mengandung makna penting dalam pengajaran Kerajaan Sorga. 

Mari kita melihat dua makna penting dalam ungkapan ‘yang baru dan yang lama’ terkait pengajaran Kerajaan Sorga. Pertama, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Setiap pengajar/pemberita Kerajaan Sorga memahami bahwa PL hanyalah simbol, nubuat dan bayangan, sementara PB adalah penggenapan PL atau realitanya, dimana penggenapannya adalah ‘Kristus atau Kerajaan sorga ada didalam batin orang percaya’ (Kolose 1:27; 2:17; Lukas 17:21). Kedua, ungkapan ‘Langit dan Bumi Baru’ (Wahyu 21:1-4). Kita tahu bahwa kitab Wahyu adalah pewahyuan Yesus Kristus yang disampaikan kepada Rasul Yohanes dengan bahasa simbol (Wahyu 1:1). Langit dan Bumi baru itu sesungguhnya adalah simbol dari manusia baru dimana tidak ada lagi akibat/upah dosa yang adalah maut (Roma 6:23; Wahyu 21:4). Karenanya, langit dan bumi pertama (lama), yang diciptakan Elohim dalam Kejadian 1:1 itu sesungguhnya adalah seluruh manusia yang memiliki dimensi “langit” dan dimensi “bumi”, dimensi rohani dan dimensi jasmani. Jadi, rencana Bapa adalah menciptakan manusia (dalam dua dimensi), kemudian melalui suatu proses “kejatuhan”, maka seluruh manusia akan dipulihkan menjadi manusia baru. Inilah pengajaran Kerajaan Sorga yang diberitakan oleh pemberitanya.

Secara umum, dunia kekristenan tidak memahami ungkapan ‘langit dan bumi baru’ dengan mengajarkan neraka kekal dimana sebagian manusia yang tidak dipilih (barangkali mayoritas) dilemparkan kesuatu tempat untuk disiksa selama-lamanya. Demikian juga, dunia kekristenan tidak memahami pengajaran Kerajaan Sorga dengan mencampur-adukkan ibadah model PL-PB, keimaman model PL-PB (Harun vs. Melkisedek), berkat2 Tuhan model PL-PB, bahkan ajaran ‘sorga dongeng’ nun jauh disana, ajaran persepuluhan dan buah sulung, ajaran ‘visible and invisible church’, serta ajaran Izebel, Nikolaus dan Bileam dalam Wahyu 2-3.

Umat kerajaan sudah pasti akan ada diluar ‘sistem (kosmos) kekristenan’ yang sudah dipengaruhi secara mendalam oleh ajaran2 diatas. Sebagaimana Yesus, Yohanes Pembaptis, dan rasul2Nya berada diluar sistem agama Yahudi (Yudaisme), maka demikian juga umat kerajaan.

Sebelum kita masuk kedalam pengajaran kerajaan sorga keempat dalam injil Matius, yaitu Matius 18, baiklah kita perhatikan kasus dimana Yesus bertanya kepada murid2Nya di Kaisarea Filipi tentang siapakah Anak Manusia itu Matius 16:13-20, demikian, “… Simon Petrus berkata, Engkaulah Mesias, Putra Elohim yang hidup!... engkau adalah Petrus, dan diatas batu karang ini Aku akan membangun gerejaKu dan gerbang-gerbang alam maut tidak akan kuat menahannya. Dan Aku akan memberikan kepadamu kunci-kunci kerajaan sorga…”.

Disini kita membatasi pembicaraan kita, dan hanya membahas perkataan Yesus tentang ‘gereja’ dan ‘kerajaan sorga’. Telah kita ketahui bahwa baik Yesus maupun Yohanes Pembaptis, dan juga kedua belas rasul yang diutusNya (Matius 10), memberitakan bahwa kerajaan sorga sudah dekat. Memang Yesus akan membangun gerejaNya, tetapi pemberitaannya atau khabar baik (injil) yang diberitakanNya adalah kerajaan sorga.

Istilah ‘gereja’ hanya muncul 2 kali dalam injil Matius, yaitu pasal 16 dan 18, tetapi istilah ‘kerajaan’ ada sekitar 58 kali. Perhatikan perkataan Yesus diatas, “Aku AKAN membangun gerejaKu”. Artinya, pada saat Yesus berkata, sesungguhnya gereja yang dibangun Yesus belum ada. Tetapi, sebagaimana kita ketahui, bahwa kerajaan sorga sudah hadir dibumi didalam pribadi Yesus Kristus. Ketika Yesus mengusir setan dengan kuasa Elohim, sesungguhnya kerajaan sorga sudah hadir dibumi (Matius 12:28). Gereja baru lahir ketika peristiwa pencurahan Roh Kudus pada hari raya Pentakosta di Yerusalem.

Untuk menghadirkan gereja di muka bumi ini, Yesus harus mati, bangkit dan duduk disebelah kanan Bapa, serta mencurahkan Roh KudusNya kepada murid2. Banyak orang Kristen berbicara tentang Roh Kudus sebagai kuasa Elohim yang menperlengkapi gereja untuk menjadi saksi Yesus saja. Tetapi, sesungguhnya Roh Kudus itu adalah ROH PEMBERI HAYAT. Perhatikan I Korintus 15:45, demikian, “… Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan”. Adam akhir tentu adalah Yesus Kristus, dan ungkapan ‘roh yang menghidupkan’ (Yunani: ’pneuma zoopoieo’) harus diterjemahkan ROH PEMBERI HIDUP (hidup Kristus=’zoe’). Itu sebabnya Yohanes 10:10 menegaskan bahwa Yesus datang untuk memberikan hidupNya, yaitu ‘zoe’, dan supaya murid2Nya memiliki ‘zoe’ secara berkelimpahan. Artinya hidup ‘zoe’ ini perlu bertumbuh, karena memang hidup ‘zoe’ ini ketika diberikan masih berupa “benih”. Benih hidup ‘zoe’ perlu bertumbuh agar kita dapat mengenal Elohim yang benar serta mengenal Yesus Kristus yang diutusNya (Yohanes 17:3).

Sekarang, mari kita masuk kepada tema kita, yaitu kerajaan sorga. Perumpamaan penabur yang telah kita bahas sesungguhnya adalah perumpamaan yang menggambarkan Yesus yang menabur hidup ‘zoe’. Ada dua jenis tanah, yaitu yang berbatu dan bersemak duri, dimana benih hidup ‘zoe’ tidak bertumbuh dan menghasilkan buah. Kedua jenis tanah ini menggambarkan orang Kristen yang telah lahir baru, karena telah menerima benih hidup Kristus (‘zoe’). Kita akan lihat kelak bahwa seluruh pengajaran kerajaan sorga dalam injil Matius membuktikan bahwa TIDAK SEMUA ORANG KRISTEN LAHIR BARU YANG DITERIMA KELAK DALAM KERAJAAN SORGA.

Sayangnya, dalam dunia kekristenan, umumnya, telah dipercaya ungkapan ‘PERCAYA YESUS MASUK SORGA’. Konsep ‘percaya Yesus, masuk sorga’, sesungguhnya sama sekali tidak ada didalam kitab2 PB, apalagi “sorga dongeng” nun jauh disana. Yang benar adalah PERCAYA YESUS MENDAPAT HIDUP ZOE. Didalam injil Yohanes banyak sekali ungkapan percaya Yesus mendapat hidup kekal (‘zoe’). Apakah benih hidup ‘zoe’ itu bertumbuh atau tidak, hal ini adalah persoalan lain.

Lagipula, orang Kristen lahir baru tidak akan dievakuasi (diangkut) dari bumi menuju “sorga nun jauh disana”. Yang diberitakan dalam kitab2 PB adalah kerajaan sorga akan ditegakkan dimuka bumi ini untuk membebaskan ciptaan, dan hanya mereka yang kepadanya Bapa disorga berkenan memberikan kerajaan sorga, akan ambil bagian didalamnya (Lukas 12:32, Roma 8:19-21).

Mari kita lanjutkan cerita dimana Yesus bertanya kepada murid2Nya di Kaisarea Filipi tentang siapakah Anak Manusia itu. Matius 16:21, menegaskan, “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga”. Ungkapan ‘sejak waktu itu’, berarti sejak waktu Yesus menyatakan identitasNya sebagai Mesias kepada murid2, maka Ia menegaskan bahwa Mesias harus menderita, mati, dan bangkit pada hari ketiga.

Bagi bangsa Yahudi umumnya, Mesias yang menderita bukanlah Mesias yang dinanti-nantikan, sebab mereka menantikan Mesias yang akan membebaskan Israel dari musuh2 sekitarnya, membawa perdamaian bagi dunia, dan tentu membangun Bait Suci. Karenanya, Petrus menarik Yesus kesamping dan menegorNya, agar Elohim menjauhkanNya dari penderitaan (16:22). Jawaban Yesus kepada Petrus mungkin sangat mengejutkannya. Yesus berkata bahwa pikiran manusiawi Petrus adalah Iblis, dan merupakan ‘batu sandungan’ bagi Yesus. Selanjutnya, Yesus memberi ketetapan kepada setiap orang yang mau mengikutiNya, yaitu harus menyangkal diri dan memikul salibnya.

Sebenarnya, pikiran Petrus itu baik secara manusia. Barangkali, didorong oleh kasihnya kepada Yesus, maka ia berharap Yesus terhindar dari penderitaan. Disini kita mendapat suatu pelajaran bahwa pikiran manusia yang terbaik sekalipun dapat merupakan ‘batu sandungan’ bagi setiap orang yang mengikut Yesus. Perihal mengikut Yesus adalah perihal memikirkan apa yang dipikirkan Elohim. Perihal mengikut Yesus adalah perihal menjalankan kehendakNya, apapun yang dipikirkan manusia tentang hal itu. Yesaya 55:8, menegaskan, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN”.

Sesungguhnya, apapun yang dipikirkan manusia, yang dirasakan manusia, dan diputuskan manusia merupakan suatu usaha untuk mempertahankan ‘nyawanya’, atau mempertahankan dirinya sendiri. Barangkali, usaha mempertahankan nama baiknya, reputasinya dihadapan orang lain, hartanya, atau apapun yang sangat berharga baginya. Tetapi justru hal inilah yang merintanginya mengikut Yesus. Itu sebabnya, Yesus tegaskan kepada setiap orang yang mau mengikutiNya, agar mereka tidak mempertahankan dirinya atau mempertahankan ‘nyawanya’. Setiap orang harus menyangkal dirinya demi mengikut Yesus.

Kalau demikian, apakah pemberitaan kerajaan sorga masih dapat disebut khabar baik (injil) kerajaan sorga? Jika mengikut Yesus berarti suatu penyangkalan diri sendiri, dan memikul salib, serta mengalami penderitaan, apakah ini masih disebut khabar baik? Ya, tentu, karena baik atau tidaknya sesuatu harus ditentukan oleh Elohim. Manusia yang sudah terlanjur makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, memang mempunyai kriteria sendiri tentang baik dan jahat. Tetapi sesungguhnya, tidak ada yang baik kecuali Elohim sendiri (Markus 10:18).

Khabar baik (Injil) kerajaan sorga tidak dapat dipisahkan dari penderitaan karena mengikut Yesus. Paulus tegas menyatakan, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah didalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (II Timotius 3:12). Bahkan Paulus mendesak Timotius agar, “ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (II Timotius 2:3). Jika pemberitaan injil bertujuan agar manusia terhindar dari segala penderitaan didunia ini, maka sudah pasti ini bukan injil kerajaan sorga.

Mari kita masuk kedalam bagian keempat dari pengajaran kerajaan sorga, yaitu Matius 18:1-35, tentang pengampunan dan perumpamaan hamba yang berhutang. Seluruh pasal 18 ini, sebenarnya, berbicara tentang persekutuan antara sesama anggota kerajaan, dan secara khusus, menekankan betapa berharganya anggota yang terhilang atau tersesat itu.

Matius 18:1, menegaskan demikian, “Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”. Pertanyaan murid2 ini berbicara mengenai hubungan antara satu anggota dengan anggota lain didalam kerajaan sorga, dan siapa yang terbesar? Yesus menjawab pertanyaan murid2Nya ini dengan beberapa poin pengajaran. Pertama, harus menjadi seperti anak kecil (ayat 2-4). Kedua, jangan menjadi ‘batu sandungan’ bagi anggota lainnya (ayat 5-9). Ketiga, jangan menganggap rendah anggota yang terkecil sekalipun, karena Bapa disorga sangat menghargai anggota terkecil, dan tidak menghendakinya tersesat/terhilang (ayat 10-14). Keempat, jika ada anggota yang berdosa, maka ia harus mendengarkan gereja (ayat 15-20). Kelima, harus mengampuni anggota lain yang berbuat salah dengan sepenuh hati (ayat 21-35). 

Mari kita mulai dengan yang pertama. Ayat 3, menegaskan, “… Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”. Dari ayat ini kita melihat bahwa seseorang harus bertobat dan menjadi seperti anak kecil agar dapat masuk kedalam kerajaan sorga. Mari kita lihat konteks seluruh pasal 18, agar kita dapat memahami apa maksudnya ‘masuk kedalam kerajaan sorga’. Perhatikan istilah ‘dalam’ pada ayat 1. Artinya, murid2 bertanya kepada Yesus mengenai anggota2 yang memang sudah ada didalam kerajaan sorga. Perhatikan juga istilah ‘saudaramu’ pada ayat 15, dan istilah ‘jemaat’ pada ayat 17, serta perkataan Petrus mengenai ‘saudaraku’ yang berbuat salah (ayat 21). Semua ini membuktikan bahwa konteks Matius pasal 18 adalah mengenai hubungan diantara sesama anggota yang sudah ada dalam kerajaan sorga. 

Kalau demikian, apa artinya ungkapan ‘masuk kedalam kerajaan sorga’ pada ayat 3 diatas? Jika kita melihat perumpamaan2 pada pasal 13 yang sudah kita bahas, yaitu perumpamaan ‘penabur’, ‘lalang diantara gandum’, ‘pukat’, maka kita tahu bahwa orang2 kristen yang sudah lahir baru, mereka sudah ada DALAM kerajaan sorga, tetapi pada hari penghakiman kelak, tidak semua orang Kristen yang lahir baru ini akan diterima memerintah dan MASUK kedalam kerajaan sorga yang akan ditegakkan dibumi. Itu sebabnya, orang2 kristen yang sudah ada didalam kerajaan sorga dizaman ini, belum tentu masuk kedalam kerajaan sorga dizaman berikutnya, yaitu zaman kerajaan seribu tahun (Wahyu 20:4).

Pada hari penghakiman kelak ketika Tuhan Yesus datang kembali, maka semua orang Kristen yang telah lahir baru akan dihakimi oleh Tuhan Yesus. Apakah seseorang didapati telah bertobat dan menjadi seperti anak kecil, maka inilah yang menentukan seseorang masuk kedalam kerajaan sorga atau tidak.

Dari uraian diatas, seolah-olah masuk kedalam kerajaan sorga ditentukan oleh perilaku orang kristen, yaitu apakah sudah bertobat dan menjadi seperti anak kecil, atau belum. Tetapi, kita harus melihat seluruh kitab2 PB untuk mendapat pemahaman yang tepat mengenai perkara ini. Seluruh kitab2 PB jelas berbicara mengenai kasih karunia. Paulus bersaksi sekalipun ia bekerja lebih keras dari yang lainnya, tetapi ia tetap berkata bahwa semua ini adalah kasih karunia Tuhan. Lukas 12:32, juga jelas berbicara bahwa, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”. Jadi, Bapa disorga membentuk umat kerajaan sedemikian sehingga mereka dapat bertobat dan menjadi seperti anak kecil, dalam arti sepenuhnya mempercayakan diri kepada pemeliharaan Bapa, dan karenanya dapat masuk kedalam kerajaan sorga.

Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai pertanyaan murid2 kepada Tuhan Yesus, tentang siapakah yang terbesar dalam kerajaan sorga (18:1). Pada ayat 3, yang sudah kita bahas, Yesus tidak langsung menjawab siapa yang terbesar dalam kerajaan sorga. Tetapi, Yesus menegaskan lebih dahulu, bahwa jika seseorang tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, bahkan ia tidak akan masuk kedalam kerajaan sorga, dan memerintah bersamaNya dalam kerajaan seribu tahun dibumi.

Pada ayat ke-4, barulah Yesus menjawab pertanyaan murid2 tentang siapa yang terbesar dalam kerajaan sorga. Terjemahan LAI, menggunakan istilah ‘dan’, sehingga seolah-olah ada dua kriteria yang Yesus katakan pada ayat 4, yaitu pertama, merendahkan diri, dan kedua, menjadi seperti anak kecil. Terjemahan dari teks asli seharusnya berbunyi demikian, ‘merendahkan diri ‘sebagai’ anak kecil’.

Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘merendahkan diri’ disini adalah ‘tapeinoo’, yang berarti merendahkan diri dalam kondisi, dan juga hatinya. Mari kita bahas makna ‘merendahkan diri’ sesuai konteks Matius pasal 18 ini. Telah kita lihat bahwa konteks Matius 18 adalah hubungan diantara sesama anggota dalam kerajaan sorga. Karenanya, merendahkan diri disini bukan saja berarti memang memiliki kerendah-hatian, tetapi juga KONDISINYA dihadapan sesama anggota kerajaan.

Apa makna ‘kondisinya’ dihadapan sesama anggota kerajaan. Sesungguhnya, Alkitab menjelaskan dengan gamblang mengapa gereja jatuh dan menjadi puluhan ribu denominasi seperti yang kita lihat sekarang ini. Penyakitnya adalah kesombongan dari beberapa pemimpin gereja.

Paulus menjelaskan awal mula, atau cikal bakal penyebab kejatuhan gereja didalam Kis. 20:28-30. Konteks bagian ini adalah pembicaraan Paulus kepada para pemimpin (para penatua) gereja di Efesus. Pada ayat 29, Paulus menegaskan bahwa ‘ia tahu’, artinya yang dikatakannya kemudian pasti akan terjadi setelah ia pergi, yaitu akan ada serangan serigala ganas kepada beberapa pemimpin. Serangan serigala ganas ini akan membuat beberapa pemimpin gereja menarik murid2 (anggota kerajaan sorga) dari jalan yang benar, kepada diri mereka sendiri supaya menjadi pengikut mereka (ayat 30).

Apa maksudnya menarik murid2 dari jalan yang benar? Perhatikan sekali lagi tujuan para pemimpin pada ayat 30 ini, yaitu supaya menjadi pengikut mereka. Karenanya, ‘jalan yang benar’ yang dimaksud ayat ini adalah menjadi pengikut Yesus Kristus saja. Para pemimpin gereja tidak boleh menarik murid2 kepada diri mereka sendiri, mereka hanya boleh ‘memperlengkapi’ murid2 saja (Efesus 4:12). Inilah makna ‘kondisi’ beberapa pemimpin dihadapan para anggota kerajaan sorga, yaitu menarik murid2 kepada diri mereka sendiri.

Mari kita terapkan perihal ‘merendahkan diri’ dihadapan sesama anggota kerajaan sorga ini kedalam konteks dunia kekristenan. Kita tahu bahwa dunia kekristenan tidak lain merupakan kelompok murid2 yang sebagian mengikuti pemimpin ini, dan sebagian lagi mengikuti pemimpin itu. Tentu saja kasus ini tidak hanya menjadi tanggung jawab para pemimpin yang menarik murid2, tetapi juga para anggota yang, kadangkala, dengan bangga menyebut pemimpin yang diikutinya. Perilaku anggota gereja ini ditegor Paulus dalam I Korintus 1:10-13.

Paulus tegas menentang perpecahan dalam gereja. Sebab, perpecahan dalam gereja akan menghancurkan keimaman seluruh orang percaya (I Petrus 2:9). Ada kasus dimana Paulus berkata, ‘jadilah pengikutku’. Tetapi, yang dimaksudkannya adalah mengikuti teladan Paulus (I Korintus 11:1). Sayangnya, dalam dunia kekristenan, perihal menarik murid2 ini bukan saja merupakan PRAKTEK yang dilakukan beberapa pemimpin, tetapi telah menjadi AJARAN, yaitu ajaran Nikolaus (Wahyu 2:15). Ajaran Nikolaus adalah suatu ajaran yang membenarkan ‘penaklukkan para pemimpin terhadap anggota lainnya’. Ajaran Nikolaus ini membelah gereja menjadi dua kategori, yaitu imam-umat (Katolik), clergy-laity (Protestan).  Kalau sudah menjadi ‘ajaran’, dan bukan ‘praktek’ saja, maka sudah diajarkan, diterima luas, dibenarkan, dan tidak dipertanyakan lagi.

Apapun alasan pembenaran dari para pemimpin ini, perilaku menarik murid2 kepada diri sendiri adalah perilaku kesombongan, bukan merendahkan diri dihadapan sesama anggota, seperti yang diajarkan Yesus. 

Mari kita masuk kedalam poin kedua dalam pengajaran Kerajaan sorga dalam Matius 18, yaitu jangan menjadi ‘batu sandungan’ bagi anggota lainnya (ayat 5-9). Matius 18:6, menegaskan demikian, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”.

Istilah ‘menyesatkan’ pada ayat diatas berasal dari istilah Yunani, ‘skandalizo’ (kata kerja), yang berarti ‘menyebabkan seseorang berdosa’. Tetapi, kita harus tetap mengingat bahwa konteks seluruh pasal 18 ini adalah mengenai hubungan diantara sesama anggota kerajaan sorga. Karenanya, makna ‘menyesatkan’ adalah membuat sesama anggota kerajaan sorga berbuat dosa. Secara khusus, Yesus menekankan anggota yang disebutNya, “anak-anak kecil yang percaya kepadaNya’.

Perkara terjadinya ‘skandalizo’ ini sangat serius diantara sesama anggota kerajaan sorga. Bahkan, Yesus menegaskan anggota kerajaan sorga yang melakukan ‘skandalizo’, harus ditenggelamkan kedalam laut. Begitu seriusnya perkara ‘skandalizo’, sehingga Yesus berkata jika tangan atau kaki kita menyesatkan, maka harus dipenggal dan dibuang (ayat 8). Demikian juga jika mata kita menyesatkan, maka harus dicungkil (ayat 9). Tentu hal ini jangan ditafsirkan secara ‘harfiah’, tetapi disini Yesus sedang menekankan keseriusan berbuat ‘skandalizo’. 

Matius 18:7, menegaskan bahwa, “… memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya”. Perkataan Yesus ini bersesuaian dengan yang dikatakanNya kepada Yudas, demikian, “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan” (Matius 26:24). Demikian juga, Tuhan telah menetapkan bahwa akan ada penyesatan diantara anggota kerajaan sorga, namun demikian celakalah anggota yang melakukannya.

Kita teringat tentang perumpamaan kerajaan sorga yang sudah kita bahas, yaitu perumpamaan lalang diantara gandum (Matius 13). Ditegaskan bahwa bukan Anak Manusia saja yang menabur benih, tetapi Iblis juga menaburkan benihnya. Yang menarik dalam perumpamaan ini adalah tanaman gandum dan lalang hampir tidak dapat dibedakan pada awalnya. Jadi, anggota kerajaan sorga yang melakukan penyesatan hampir tidak dapat dibedakan dengan yang tidak melakukannya, pada tahap awal. Tetapi, pada kedatanganNya, “Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikatNya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan (‘skandalon’) dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya” (13:41). Sangat serius bagi anggota kerajaan sorga yang melakukan penyesatan, sehingga, ‘akan dicampakkan ke dalam dapur api; disanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi’ (13:42).

Disinilah kita perlu memohon kasih karuniaNya agar kita tidak melakukan ‘skandalon’ atau menjadi ‘batu sandungan’ bagi anggota lainnya dalam kerajaan sorga, baik dalam perilaku kita, maupun dalam pengajaran kita.

Kita teruskan membahas pengajaran kerajaan sorga dalam Matius 18. Telah ditegaskan bahwa ada 5 poin pengajaran kerajaan sorga pada pasal 18 ini. Kita telah membahas 2 poin, dan sekarang akan kita bahas 2 poin lagi sekaligus, yaitu, yang ketiga, jangan menganggap rendah anggota yang terkecil sekalipun, karena Bapa disorga sangat menghargai anggota terkecil, serta tidak menghendakinya tersesat/terhilang (ayat 10-14), selanjutnya, jika ada anggota yang berdosa, maka ia harus mendengarkan gereja (ayat 15-20). 

Mari kita melihat 2 poin ini. Ayat 10-14, mengajarkan pada kita agar tidak menganggap rendah anggota kerajaan yang terkecil, bahkan harus diberi perhatian khusus agar tidak terhilang. Paulus juga mengajarkan kita untuk memberi penghormatan khusus kepada anggota2 Tubuh yang menurut kita kurang terhormat (I Korintus 12:23). Hal ini ditekankan, karena selain Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang terhilang, juga Bapa disorga sangat memperhatikan anggota yang terhilang, bahkan lebih bergembira jika anggota yang terhilang ini ditemukan kembali dari pada kepada anggota yang tidak terhilang.

Pengajaran selanjutnya, yaitu haruslah ditegor saudara kita yang berbuat dosa (ayat 15) dibawah 4 mata. Tujuan dari menegor ini jelas, yaitu agar engkau mendapatkan dia kembali, jika ia mendengar nasihatmu. Jika tidak mendengar, tegoran ini harus dilanjutkan sampai kehadapan jemaat. Poin-nya disini jelas, yaitu jangan sampai saudara kita terhilang. Dalam zaman kemajuan teknologi informasi sekarang ini, maka prosedur menegor “4 mata” tidak perlu dilakukan. Karena siapa saja dapat mengajarkan hal2 yang keliru/menyesatkan di-medsos, dan berdampak kepada banyak orang kristen, khususnya jika ia mempunyai banyak pengikut. Dalam kasus sedemikian, maka anggota kerajaan yang digerakkan Tuhan harus menyatakan kesalahannya didepan publik, dengan maksud menyelamatkan dia dan orang2 yang mendengarkannya.

Dalam dunia kekristenan, umumnya, orang menyamakan ‘menegor/menyatakan kesalahan’ dengan ‘menghakimi’. Menegor atau menyatakan kesalahan sesama anggota kerajaan itu adalah perintah Tuhan. Menyatakan kesalahan itu bukan menghakimi. Perbedaannya adalah, menghakimi itu bukan saja menyatakan kesalahan, tetapi juga menjatuhkan vonis kepada saudara kita. Dalam dunia kekristenan yang telah jatuh ini, menghakimi hanya dapat dilakukan oleh para pemimpin organisasi yang memiliki ‘otoritas jabatan’ terhadap ‘bawahannya’. Kita akan bahas hal ini selanjutnya pada Matius 23, mengenai ‘kursi Musa’, karena Yesus tidak menghendaki adanya ‘hierarki’ (otoritas jabatan) dalam gereja.

Ayat 19, dalam bagian ini menegaskan demikian, “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga”. Ayat ini bukan berbicara mengenai doa pada umumnya, karena konteks ayat ini adalah perihal doa terkait pemulihan saudara kita yang bersalah. Jadi, jika 2 orang anggota kerajaan sorga sepakat mendoakan hal2 apa saja terkait pemulihan saudara yang bersalah, maka Bapa disorga akan mengabulkannya. Demikianlah betapa berharganya dihadapan Bapa disorga, anggota kerajaan sorga yang terhilang.

Kita lanjutkan pengajaran kerajaan sorga dalam pasal 18, dan kita akan bahas poin terakhir, yaitu yang kelima, dimana kita harus mengampuni anggota lain yang berbuat salah dengan sepenuh hati (ayat 21-35).  Poin terakhir ini dimulai ketika Petrus bertanya kepada Yesus sampai berapa kali ia harus mengampuni saudaranya yang berbuat salah. Jawaban Yesus harus sebanyak ‘70x7’ kali, tentu yang dimaksud harus selalu mengampuni. Kemudian Yesus melanjutkan alasan mengapa kita harus selalu mengampuni saudara kita dengan suatu perumpamaan.

Matius 18:23, menyatakan, “Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya”. Didalam perumpamaan2 kerajaan sorga kitab Matius terdapat banyak poin yang menekankan akan adanya ‘perhitungan’ atau ‘penghakiman’ bagi semua anggota kerajaan sorga pada hari terakhir. Sebagai contoh, perumpamaan2 ‘lalang dan gandum’, ‘pukat’, ‘gadis bijaksana dan bodoh’, ‘Talenta’, ‘hamba yang setia dan hamba yang jahat’, dimana semuanya ini mengajarkan pada kita bahwa akan ada perhitungan dihari terakhir. Sebagai akibatnya, tentu ada sebagian anggota kerajaan sorga yang diterima, dan ada yang ditolak. Dalam perumpamaan yang sedang kita bicarakan diatas, maka hal yang menentukan apakah seorang anggota kerajaan sorga diterima atau ditolak kelak, adalah soal apakah ia selalu mengampuni saudaranya dengan segenap hati atau tidak.

Umumnya, dalam dunia kekristenan, ada kesulitan menerima pengajaran kerajaan sorga, dimana anggota kerajaan sorga yang satu dapat saja ditolak, dan anggota lain diterima. Salah satu penyebabnya adalah Jargon2 atau ungkapan2 yang sudah sangat dipercaya, seperti, ‘sekali selamat, tetap selamat’, ‘percaya Yesus, masuk sorga’, dan ungkapan2/ajaran2 lain yang membuat orang Kristen tidak mampu melihat rencana Bapa disorga. Jika oleh anugerah Tuhan, seorang Kristen memahami rencana Bapa disorga, maka ia tidak akan terlalu sulit memahami pengajaran kerajaan sorga yang diberitakan Yesus dan rasul2Nya.

Mari kita mundur dan berbicara sedikit mengenai rencana Bapa disorga agar perumpamaan tentang ‘pengampunan’ diatas dapat lebih dipahami dengan baik. Kejadian 1:26-28, menyatakan kepada kita bahwa fokus rencana Bapa adalah bumi, dan bukan sorga. Rencana Bapa tidak pernah berubah, sebab Ia adalah Elohim yang tidak berubah. RencanaNya adalah agar manusia dapat menaklukkan segala sesuatu yang merayap dibumi. Kita tahu bahwa ‘segala sesuatu yang merayap dibumi’ berbicara soal kerajaan iblis dan roh2 jahatnya. Manusia sebagai individu, tentu tidak dapat menaklukkan kerajaan iblis. Haruslah kerajaan manusia berhadapan dengan kerajaan iblis. Itu sebabnya, Yesus datang sebagai manusia untuk menegakkan kerajaanNya dibumi. Inilah rencana Bapa disorga, yaitu menegakkan kerajaan Yesus (Mesias) dibumi untuk menaklukkan kerajaan iblis. Seluruh kitab2 PB menjelaskan tentang bagaimana rencana Bapa disorga dalam menegakkan kerajaan Mesias dibumi.

Salah satu poin penting bagaimana Bapa disorga menegakkan kerajaan Mesias dibumi adalah melalui ‘perhitungan’ dengan hamba2Nya, atau perhitungan dengan anggota2 kerajaan sorga. Jika ada seorang anggota kerajaan sorga yang ditolak pada ‘hari perhitungan’, maka berarti ia tidak akan mengambil bagian dalam kerajaan Mesias yang akan ditegakkan dibumi. Hal ini tidak berbicara apakah ia selamat atau tidak. Atau, apakah ia akan dilempar ke neraka kekal selama-lamanya, seperti dalam ajaran neraka kekal yang terlanjur dipercaya oleh mayoritas orang Kristen.

Jika ada anggota kerajaan sorga diterima pada hari perhitungan, maka ia akan ikut ambil bagian dalam kerajaan Mesias yang akan ditegakkan dimuka bumi ini. Kerajaan Mesias ini pasti akan menaklukkan kerajaan iblis, sebab Yesus sebagai sang Raja sudah menaklukkan iblis. Semua manusia sebagai tawanan iblis akan dirampas oleh Yesus dan kerajaanNya. Itu sebabnya, Yesus berkata bahwa Ia akan menarik semua orang datang kepadaNya (Yohanes 12:32).

Jadi, dihari perhitungan, yang akan dipersoalkan adalah apakah orang Kristen akan ambil bagian dalam kerajaan Mesias yang akan ditegakkan dibumi ini atau tidak. Semoga penjelasan tentang rencana Bapa ini membuat kita memahami lebih baik perumpamaan tentang pengampunan diatas.

Sebelum kita masuk kedalam bagian terakhir (bagian kelima) pengajaran kerajaan sorga (Matius 23-25), mari kita lihat beberapa kasus atau cerita yang ada. Saat ini kita akan bahas kasus dimana ada seorang muda yang kaya bertanya kepada Yesus mengenai bagaimana memperoleh hidup yang kekal (Matius 19:16-26). Dalam kasus ini ada hal yang sangat penting yang Yesus ajarkan mengenai perbedaan ‘memperoleh hidup kekal’ dan ‘masuk kedalam kerajaan sorga’.

Mari kita membahas lebih dahulu soal ‘memperoleh hidup kekal’. Orang muda ini mulai dengan suatu pertanyaan mengenai perbuatan baik apa yang harus dilakukan supaya memperoleh hidup kekal (ayat 16). Pertanyaan ini sudah pasti keliru, karena tidak mungkin ada manusia yang dengan perbuatan baiknya dapat memperoleh hidup kekal. Itu sebabnya, Yesus mengoreksi pertanyaan ini dengan suatu pernyataan bahwa tidak ada yang baik, kecuali Elohim saja (ayat 17).

Tetapi, untuk mengajarkan orang muda ini bahwa ia tidak dapat memperoleh hidup kekal dengan perbuatan baiknya, maka Yesus melanjutkan dengan suatu syarat untuk memperoleh hidup, yaitu melakukan Hukum Taurat (ayat 17-19). Orang muda ini begitu sombong dan tidak mengenali dirinya sendiri dengan menjawab ‘semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?’ (ayat 20). Yesus langsung membongkar ketidak mampuan orang muda ini dengan suatu pernyataan bahwa ia harus sempurna dan menjual seluruh miliknya serta mengikut Yesus (ayat 21). Disinilah terbongkar ketidak-mampuan orang muda yang kaya ini. Ternyata ia tidak dapat memenuhi syarat yang Yesus ajukan untuk dapat mengikutiNya. Orang muda ini terikat dengan hartanya, dan kemudian ia pergi dengan sedih (ayat 22).

Pelajarannya disini adalah untuk memperoleh hidup kekal (‘zoe’), tidak dapat dengan berbuat baik, melainkan hanya dengan percaya Yesus saja. Pelajaran ini dinyatakan juga melalui pertanyaan orang banyak kepada Yesus dalam Yohanes 6:28-29, demikian, “…Apakah yang harus kami PERBUAT… Jawab Yesus…hendaklah kamu PERCAYA kepada Dia…”. Didalam seluruh Injil Yohanes terdapat banyak pernyataan bahwa dengan percaya mendapat hidup kekal (‘zoe’). Hanya saja ‘zoe’ yang diterima orang percaya masih berupa “benih” dan perlu bertumbuh. Itu sebabnya Yohanes 10:10, menegaskan bahwa kita harus memperoleh ‘zoe’ dengan berkelimpahan, artinya bertumbuh sampai matang dan berbuah.

Kemudian, Yesus melanjutkan pengajaranNya dengan berkata kepada murid2Nya tentang ‘masuk kedalam kerajaan sorga’ (ayat 23). Yesus menegaskan kesulitan bagi orang kaya untuk masuk kedalam kerajaan sorga, sampai ketingkat lebih mudah seekor unta masuk lobang jarum dari pada orang kaya masuk kedalam kerajaan sorga. Poinnya disini jelas bahwa bagi manusia tidak mungkin, tetapi bagi Elohim mungkin (ayat 26).

Sekarang kita masuk kedalam poin penting dalam bagian ini, yaitu perbedaan ‘memperoleh hidup kekal’ dan ‘masuk kedalam kerajaan sorga’. Dalam dunia kekekristenan, umumnya, perihal ‘memperoleh hidup kekal (zoe)’ dan ‘masuk kedalam kerajaan sorga’, disamakan. Ungkapan keliru yang sudah terlanjur dipercaya dalam dunia kekristenan adalah PERCAYA YESUS PASTI MASUK SORGA. Yesus dan rasul2Nya tidak pernah mengajarkan hal ini. Yang benar adalah PERCAYA YESUS MENDAPAT HIDUP ZOE. Apakah hidup zoe itu bertumbuh dan menghasilkan buah, adalah persoalan lain.

Perumpamaan penabur yang sudah kita bahas menjelaskan bahwa orang Kristen yang sudah percaya Yesus dan mendapat hidup zoe (dikategorikan sebagai “tanah berbatu” dan “tanah bersemak duri”) ternyata tidak bertumbuh dan menghasilkan buah. Dan, perumpamaan2 lain tentang kerajaan sorga dalam Injil Matius, bahkan seluruh kitab2 PB juga menjelaskan bahwa TIDAK SEMUA ORANG KRISTEN YANG SUDAH LAHIR BARU PASTI DITERIMA KELAK DALAM KERAJAAN SORGA YANG AKAN DITEGAKKAN SEPENUHNYA DI-BUMI. Yesus akan datang ‘kedua kali’ sebagai Hakim yang adil untuk menghakimi kita semua (gereja). Dihari ‘perhitungan’ inilah semua akan menjadi jelas.

Nampaknya, memang dunia kekristenan telah memberitakan Injil yang lain. Yesus dan rasul2Nya hanya memberitakan satu injil, yaitu injil kerajaan sorga. TIDAK ADA DUA INJIL DALAM PB, HANYA ADA SATU, YAITU KHABAR BAIK (INJIL) KERAJAAN SORGA. Pada kedatanganNya, Yesus serta umat kerajaan akan menegakkan kerajaan sorga SEPENUHNYA di bumi. Dan perluasan kerajaan sorga dimuka bumi ini tidak akan berhenti (Yesaya 9:6). Kerajaan sorga dibumi akan menaklukkan segala sesuatu sehingga bumi bergerak menuju bumi baru dan langit baru juga.

Kita lanjutkan cerita dalam Matius 19, dimana Petrus bertanya kepada Yesus, demikian, “… Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau: jadi apakah yang akan kami peroleh?... Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaanNya, kamu yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (ayat 27-28).

Telah kita bahas cerita sebelumnya mengenai orang muda yang kaya, dimana Yesus menegaskan bahwa sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk kedalam kerajaan sorga. Pernyataan Yesus ini membuat murid2 gempar, dan karenanya, Petrus bertanya apa yang akan kami dapat setelah mengikutiMu. Yesus menegaskan bahwa murid2 akan mendapat upah pada waktu ‘penciptaan kembali’, yaitu duduk diatas 12 takhta serta menghakimi 12 suku Israel.

Mari kita membahas upah yang akan diperoleh murid2 yang mengikuti Yesus. Upah ini jelas diberikan pada waktu ‘penciptaan kembali’. Istilah Yunani yang diterjemahkan ‘penciptaan kembali’ disini adalah ‘palinggenesia’, yang hanya muncul 2x saja didalam PB. Kemunculan lainnya ada didalam Titus 3:5, yang diterjemahkan LAI sebagai ‘kelahiran kembali’.

Konsep yang terkandung dalam istilah ‘palinggenesia’ ini lebih luas dari sekedar ‘kelahiran kembali’ atau ‘penciptaan kembali’. ‘palinggenesia’ juga berarti ‘pemulihan segala sesuatu’ dan juga, ‘berakhirnya zaman (dunia) dan dimulainya yang baru’. Yesus menggunakan istilah ‘palinggenesia’ dalam pengertian dimulainya suatu proses pemulihan total dari kejatuhan ciptaan pertama menuju ciptaan yang baru. Dan proses ini dimulai ketika Ia datang dalam kemuliaanNya (biasa disebut kedatangan ke-2 kali), dan memberikan upah kepada murid2Nya.

Dalam kasus ke-12 rasul, upah mereka adalah duduk diatas 12 takhta dan menghakimi 12 suku Israel. Bagaimana dengan upah murid2 lain yang mengikuti Yesus? Wahyu 20:4, menegaskan, “Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya: kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi…”. Orang2 yang disebut dalam ayat ini adalah para pemenang gereja sepanjang zaman. Perhatikan Wahyu 3:21, demikian, “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku…”. Jadi, para pemenang dalam gerejalah yang akan diserahkan kuasa untuk menghakimi.

Kita harus paham bahwa kuasa untuk menghakimi yang diberikan Yesus kepada para pemenang gereja ada dalam konteks ‘palinggenesia’, yaitu dalam konteks ‘penciptaan kembali’. Jadi, bukan menghakimi dalam arti menjatuhkan vonis atau hukuman kepada seseorang. Perhatikan Yesaya 26:9, demikian, “… sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”. Karenanya, kuasa untuk menghakimi berarti kuasa untuk menjalankan ‘pemulihan segala sesuatu’, sehingga penduduk dunia belajar apa yang benar.

Upah yang diberikan Yesus kepada murid2Nya jelas berdasarkan perbuatan setiap murid. Wahyu 22:12, menegaskan, “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya”. Walaupun demikian, semua ini tetaplah oleh kasih karunia Tuhan. Paulus berkata bahwa ia bekerja lebih keras dari yang lainnya, tetapi bukan aku, tegasnya, melainkan kasih karunia Tuhan (I Korintus 15:10).

Kita masih membahas soal upah mengikut Yesus yang kita kaitkan dengan perihal ‘masuk kedalam kerajaan sorga’. Perkara ini menjadi penting untuk dibahas, karena umumnya, dalam dunia kekristenan ada pendapat yang sudah diterima luas bahwa, orang Kristen lahir baru pasti masuk sorga dan tinggal dihakimi dalam pengadilan Kristus untuk menentukan berapa besar  upah yang akan diterimanya. Dengan kata lain, orang Kristen lahir baru pasti mendapat upah dan masuk kedalam kerajaan sorga. Benarkah pendapat demikian?

Sebelum membahas soal upah ini, kita perlu jelas bagaimana tahapan rencana Bapa disorga dalam menegakkan kerajaan AnakNya dibumi ini. Pertama, kerajaan sorga datang kebumi didalam dan melalui pribadi Yesus Kristus. Pada kedatanganNya, gereja belum lahir, itu sebabnya Yesus berkata, ‘Aku akan mendirikan gerejaKu’. Kedua, melalui kematian, kebangkitan dan kenaikanNya kesorga, maka Roh Kudus (Roh pemberi Hayat ‘zoe’) tercurah kepada 120 orang di Yerusalem. Inilah saat kelahiran gereja, yaitu orang2 yang terpanggil. Gereja menjadi alat dan terpanggil untuk menghadirkan kerajaan sorga dibumi. Ketiga, Kerajaan sorga akan datang/termanifestasi sepenuhnya dibumi pada kedatangan Yesus kedua kali. Disinilah pengadilan Kristus terjadi. Perumpamaan2 yang terkait dengan kedatangan Yesus dalam injil Matius, adalah perumpamaan hamba yang setia dan jahat (Matius 24), perumpamaan gadis bijaksana dan bodoh, dan perumpamaan talenta (Matius 25).   

Mari kita perhatikan perkataan Paulus terkait tema yang sedang kita bahas. I Korintus 3:14-15, demikian, “Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api”. Dari ayat2 ini kita lihat bahwa sebagian orang Kristen yang pelayanannya bertahan melalui ujian api Tuhan, maka ia mendapat upah. Tetapi sebagian lagi yang pelayanannya terbakar api Tuhan, maka ia akan menderita kerugian, walaupun ia sendiri akan diselamatkan seperti dari dalam api. Dengan kata lain, sebagian orang Kristen akan mendapat upah, sebagian lagi gagal mendapat upah. Pemahaman ini sesuai dengan perumpamaan2 yang sudah kita sebutkan diatas (Matius 24-25), bahkan pemahaman ini sesuai dengan pewahyuan kerajaan sorga yang tertulis didalam kitab2 PB.

Karenanya, pendapat bahwa semua orang Kristen lahir baru pasti mendapat upah dan masuk kerajaan sorga yang akan ditegakkan dibumi ini, sama sekali tidak berdasarkan pewahyuan kitab2 PB. Upah bagi orang2 kristen pada kedatangan Yesus adalah memerintah dibumi ini sebagai raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek. Perhatikan Wahyu 5:10, yang berbicara mengenai hal ini, demikian, “dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi”.

Peristiwa dimana orang2 kristen mendapat upah dijelaskan oleh Paulus dalam Roma 8:19-21, demikian, “Sebab kerinduan yang dalam dari makhluk ciptaan menanti dengan sangat penyingkapan anak-anak Elohim… makhluk ciptaan itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan kepada kemerdekaan kemuliaan anak-anak Elohim”. Inilah peristiwa dimana orang2 kristen mendapat upah dan ditampilkan dibumi ini dengan tubuh kemuliaan untuk memerdekakan ciptaan. Inilah juga makna ‘masuk kedalam kerajaan sorga’, bukan dalam pengertian “sorga nun jauh disana”, tetapi dalam pengertian kerajaan sorga yang akan dimanifestasikan sepenuhnya dibumi. Inilah saat dimulainya ‘pemulihan segala sesuatu, atau ‘palinggenesia’, yaitu ‘penciptaan kembali’ yang telah kita bahas.

Kita bahas sedikit lagi mengenai upah mengikut Yesus. Setelah Yesus menjawab pertanyaan Petrus mengenai upah, maka Yesus melanjutkan perkataanNya demikian, “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (Matius 19:30). Kemudian Yesus menjelaskan makna perkataanNya diatas dengan suatu perumpamaan tentang orang2 upahan dikebun anggur (Matius 20:1-16).

Perumpamaan ini menggambarkan perihal kerajaan sorga yang disamakan dengan tuan rumah yang mencari pekerja2 untuk kebun anggurnya. Perumpamaan ini sangat sederhana, dan kita tidak membahas seluruh ceritanya, melainkan kita akan mengambil beberapa poin penting didalamnya.

Pertama, tuan rumah, yang tentunya menggambarkan Bapa disorga, berlaku dengan sangat adil, khususnya terhadap para pekerja yang terdahulu masuk. Hal ini disebabkan sang tuan rumah sudah sepakat mengenai upah sedinar sehari. Kedua, tuan rumah ini tentu bebas menggunakan miliknya sesuai kehendak hatinya (ayat 15). Ini berbicara mengenai kedaulatan Bapa disorga untuk melakukan apapun yang dikehendakiNya. Ketiga, kesalahan para pekerja yang terdahulu masuk adalah bersungut-sungut terhadap keputusan sang tuan rumah. Ada sikap iri hati dari para pekerja yang terdahulu masuk ini. Karena sikap iri hati inilah, maka perumpamaan ini diakhiri dengan suatu kesimpulan, “Demikanlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (ayat 16).

Dalam pengajaran kerajaan sorga, perihal kedaulatan Bapa disorga sangat penting, bahkan dapat dikatakan yang terutama. Kedaulatan Bapa ini menjadi bukti bahwa semuanya adalah kasih karunia Bapa. Tidak ada sedikitpun dalam diri manusia yang dapat dibanggakan. Paulus juga tegas barkata bahwa barangsiapa yang mau bermegah, hendaklah ia bermegah didalam Tuhan, artinya bermegah karena semua perbuatan Tuhan atas diri kita.

Kita akan ambil 2 ayat saja untuk memperjelas hal yang sedang kita bicarakan. Lukas 12:32, menegaskan demikian, “janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”. Lukas 17:9-10, yang berbicara mengenai pelayanan, menegaskan demikian, “Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna: kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan”.

Pengajaran kerajaan sorga, bahkan seluruh kehidupan kita, menjadi hal yang mudah dan sederhana, jika kita dapat melihat bahwa segala sesuatu telah ditentukan Bapa disorga sebelumnya. Mazmur 139:16, juga menegaskan kedaulatan Bapa disorga yang menentukan segalanya, demikian, “mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satu pun dari padanya”.

Dalam dunia kekristenan ada pengajaran mengenai kehendak bebas yang “kebablasan”. Untuk membuktikan bahwa manusia mempunyai tanggung jawab dihadapan Tuhan, maka haruslah ia mempunyai kehendak bebas MUTLAK. Ajaran ‘kehendak bebas mutlak’ ini juga yang melahirkan “dongeng” mengenai kejatuhan Iblis, dari malaikat baik (Lucifer) menjadi iblis yang begitu jahat. Kita tidak membahas semuanya ini disini.

Tetapi, dengan mengajarkan bahwa Bapa disorga menentukan segalanya, kita tidak menyangkal bahwa makhluk apapun pasti memiliki kehendak. Baik malaikat, manusia, binatang, bahkan pohon sekalipun, semua memiliki kehendak. Itu sebabnya Yesus “menegor” pohon ara yang tidak berbuah, karena sekalipun ia hanya sebuah pohon, tetapi ia harus “bertanggung jawab” karena tidak berbuah. Jadi, kita semua harus bertanggung jawab karena memiliki kehendak, tetapi ‘kehendak’ kita ditentukan SEPENUHNYA oleh Bapa disorga.

Jadi, ‘upah’ kita sekalipun, semua ditentukan oleh kedaulatan Bapa disorga. Bahkan apakah kita akan ambil bagian kelak dalam kerajaan sorga yang termanifestasi sepenuhnya dibumi, semua ini juga ditentukan oleh keputusan Bapa disorga. Bagi kita yang percaya sepenuhnya akan kasih Bapa, hal yang kita bicarakan ini tidaklah sulit untuk diterima.

Kita akan membahas cerita mengenai Yesus dan murid2Nya yang masuk kedalam kota Yerusalem, serta ditolak oleh imam2 kepala, dan ahli2 Taurat (Matius 21). Penolakan oleh para pemimpin Yahudi ini tertulis dalam Matius 21:15, demikian, “Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuatNya… dan anak-anak yang berseru… ‘Hosana bagi Anak Daud’ hati mereka sangat jengkel”. Tentu saja tidak semuanya menolak Yesus. Ketika Yesus masuk kota Yerusalem mengendarai seekor keledai, maka orang banyak menyambutnya dan berseru ‘Hosana bagi Anak Daud’. Namun, karena bangsa Yahudi secara keseluruhan diwakili oleh para pemimpinnya yang telah menduduki ‘kursi Musa’, maka penolakan para pemimpin dipandang sebagai penolakan seluruh bangsa Yahudi.

Ada beberapa cerita yang perlu kita perhatikan dalam Matius 21 ini. Pertama, Yesus menyucikan Bait Suci yang telah dijadikan sarang penyamun oleh para pemimpin Yahudi (ayat 13). Kedua, tindakan Yesus “menegor” pohon ara yang tidak berbuah, dimana pohon ara ini, sesungguhnya, merupakan simbol dari bangsa Israel (Yeremia 24:2,5,8). Ketiga, tersingkapnya kebohongan para pemimpin Yahudi ketika bertanya soal otoritas Yesus. Yesus bertanya kepada para pemimpin Yahudi mengenai baptisan Yohanes, apakah dari manusia atau dari sorga? Dan, mereka berbohong, karena takut kepada orang banyak yang menganggap Yohanes seorang nabi (ayat 25-26). Semua cerita ini membuktikan kebusukan para pemimpin agama Yahudi, dan karenanya mereka menolak Yesus sebagai Mesias.

Selanjutnya, Yesus mengatakan 2 perumpamaan, yaitu perumpamaan dua anak, dan perumpamaan penggarap kebun anggur. Sebenarnya, dua perumpamaan ini ditujukan kepada para pemimpin Yahudi yang menolakNya. Perumpamaan dua anak menjelaskan bahwa bangsa Yahudi sebagai anak sulung (Keluaran 4:22) tidak melakukan kehendak Bapa, sedangkan “pemungut cukai dan perempuan sundal”, yang dapat diartikan sebagai gereja, melakukan kehendak Bapa, dan karenanya masuk kedalam kerajaan sorga (ayat 31).

Perumpamaan penggarap kebun anggur juga ditujukan kepada para pemimpin Yahudi yang menolakNya, dan karenanya kerajaan sorga akan diambil dari bangsa Yahudi, dan diberikan kepada suatu bangsa (gereja) yang akan menghasilkan buah kerajaan itu (ayat 43). Sesungguhnya, bangsa Yahudi telah dipercayakan kerajaan sorga, sekalipun berupa ‘simbol’ (kerajaan Daud sebagai simbol kerajaan Mesias). Tetapi, ketika datang ‘realita’ kerajaan sorga dalam pribadi Yesus, mereka menolakNya. Karenanya, kerajaan sorga diambil dari mereka. Sampai saat ini, kerajaan sorga belum diberikan kepada bangsa Yahudi, karena para pemimpinnya tetap menolak Yesus sebagai Mesias mereka.

Penolakan bangsa Yahudi terhadap Yesus sebagai Mesias berdampak sangat luar biasa. Pada tahun 70 M. Bait Suci dihancurkan oleh jenderal Titus, dan sejak saat itu sampai sekarang tidak ada lagi Bait Suci yang merupakan inti dari pelaksanaan perjanjian Musa. Sinagoga2 yang tersebar dimana-mana, tidak dapat menggantikan fungsi Bait Suci bagi bangsa Yahudi. Sinagoga2 hanyalah tempat berkumpul bangsa Yahudi untuk mempelajari Taurat. Tetapi, pelaksanaan upacara2 korban tidak dapat dilakukan di sinagoga2.

Apa pelajarannya bagi gereja yang dipercayakan kerajaan sorga saat ini. Apakah gereja sudah menghasilkan ‘buah kerajaan’ bagi Tuhan Yesus? Apakah gereja sudah menghadirkan kerajaan sorga dibumi? Pertanyaan ini sangat penting bagi gereja.

Kita teruskan pembahasan kita kedalam perumpamaan tentang perjamuan kawin (Matius 22:1-14). Nampaknya, perumpamaan ini masih melanjutkan percakapan Yesus dengan imam2 kepala dan orang2 Farisi dipasal sebelumnya (21:23-46). Yesus memulai perumpamaan ini dengan berkata ‘hal kerajaan sorga’ seumpama seorang raja (Bapa disorga) yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya (Kristus Yesus).

Ditegaskan dalam perumpamaan ini bahwa orang2 yang telah diundang tidak mau datang dengan berbagai alasan. Karenanya, sang raja menyuruh hamba2nya untuk pergi kepersimpangan-persimpangan jalan dan mengundang siapa saja yang dijumpai disana. Setelah ruang perjamuan kawin penuh, maka sang raja masuk untuk bertemu dengan para tamu, dan ia mendapati seorang yang tidak berpakaian pesta. Perlu diingat bahwa kebiasaan di Timur dalam suatu pesta, tuan rumah menyediakan pakaian pesta untuk setiap tamu. Sehingga jika ada tamu yang tidak mau mengenakan pakaian pesta yang telah disediakan tuan rumah, maka hal ini merupakan suatu penghinaan.

Itu sebabnya, sang raja memerintahkan hamba2nya untuk mengikat kaki dan tangannya, serta mencampakkan orang itu kedalam kegelapan yang paling gelap. Kemudian, perumpamaan ini disimpulkan dengan suatu ungkapan, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (22:14).

Perumpamaan ini menjelaskan kepada kita bahwa orang2 yang telah diundang dan tidak mau datang itu adalah bangsa Yahudi secara keseluruhan. Mereka sudah diundang ke perjamuan kawin, karena mereka telah terikat dengan suatu perjanjian dengan Yahweh, yaitu perjanjian Musa. Sementara itu, setiap orang yang diundang dari persimpangan2 jalan dan masuk kedalam ruang perjamuan kawin tentu adalah gereja. Tetapi, tidak semua orang gereja yang telah dipanggil itu dapat menikmati perjamuan kawin, karena hanya sedikit yang dipilih dari antara yang dipanggil.

Pengertian ‘dipanggil’ itu artinya telah diselamatkan, lahir baru, dan menerima ‘benih’ hayat Kristus (‘zoe’). Perhatikan ayat2 dalam Roma 1:7, I Korintus 1:2, Efesus 4;1, yang menegaskan bahwa ‘dipanggil’ berarti dijadikan orang kudus, yaitu telah dipisahkan bagi maksud2Nya. Tetapi, perihal ‘dipilih’ artinya menjadi pemenang untuk memerintah bersama Kristus (Wahyu 17:14). Yesus berkata kepada murid2Nya, demikian, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah…” (Yohanes 15:16). Jadi, dipanggil dan dipilih itu merupakan kasih karunia. “Pakaian pesta” dalam perumpamaan diatas juga adalah pemberian sang tuan rumah. Semuanya merupakan kasih karunia.

Kembali kita lihat disini bahwa tidak semua orang Kristen lahir baru itu akan ambil bagian untuk memerintah bersama Kristus pada saat kedatanganNya. Hanya orang2 yang mendapat kasih karunia untuk dipanggil, dipilih, serta ditetapkan menghasilkan buah, merekalah yang akan memerintah bersama dengan Kristus dalam masa kerajaan seribu tahun dibumi ini.

Mari kita lanjutkan pembahasan kita dengan suatu pertanyaan Yesus kepada orang2 Farisi yang sedang berkumpul, demikian, “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia? Kata mereka kepada-Nya: Anak Daud. Kata-Nya kepada mereka: Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh dibawah kaki-Mu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” (Matius 22:42-45).

Pada ayat2 sebelumnya, Yesus dicobai oleh orang2 Farisi, Saduki, dan ahli2 Taurat, dengan pertanyaan2 mengenai soal ‘membayar pajak kepada Kaisar’, ‘kebangkitan’, dan ‘hukum terutama dalam Hukum Taurat’. Tentu semuanya dijawab Yesus dengan tepat, dan ketika giliranNya bertanya kepada mereka, maka mereka tidak dapat menjawab.

Sebenarnya, pertanyaan Yesus tentang Mesias ini mencoba merubah konsep mereka tentang Mesias. Orang2 Farisi, dan ahli2 Taurat hanya mempunyai pengertian ‘jasmani’ bahwa Mesias itu anak Daud. Karenanya, orang2 Farisi dan ahli2 Taurat mengharapkan kedatangan Mesias yang akan mendirikan kerajaan Israel ‘jasmani’ seperti Daud, membangun Bait Suci ‘jasmani’ seperti Daud (walaupun Salomo yang membangunnya), membebaskan Israel dari musuh2 ‘jasmani’ dan membawa pendamaian bagi Israel diantara bangsa2.

Pengertian ‘jasmani’ seperti ini membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak memahami sifat dasar Perjanjian Musa (PL) yang merupakan simbol, bayangan, dan nubuat saja. Sementara itu, Mesias yang dinantikan Israel akan menggenapi semua simbol, bayangan dan nubuat yang ada. Mesias yang akan datang merupakan ‘realita’ atau ‘wujud’ dari semua simbol, bayangan dan nubuat PL. Kolose 2:16-17, menjelaskannya demikian, “… mengenai makanan, dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus”. Kolose 1:27, juga menegaskan, “… Kristus yang ada di dalam kamu…” (ILT). Jadi, Kristus yang ada didalam batin orang percaya, itu yang merupakan ‘realita’ dari semua simbol, bayangan, dan nubuat PL.   

Perhatikanlah pemahaman orang2 Farisi dan ahli2 Taurat yang menyamakan begitu saja kerajaan Mesias dengan kerajaan Daud. Sementara, Yesus tegaskan bahwa Daud menyebut Mesias itu Tuannya. Ini berarti Mesias “lebih tinggi” dari Daud. Artinya, kerajaan Mesias ada dalam dimensi yang lebih tinggi dari pada dimensi kerajaan Daud. Kerajaan Mesias ada dalam dimensi sorgawi (kerajaan sorga), sementara kerajaan Daud ada dalam dimensi bumi (kerajaan jasmani). Inilah salah satu alasan utama mengapa para pemimpin agama Yahudi (Yudaisme) menolak Yesus sebagai Mesias mereka. Sementara Israel berharap dibebaskan dari musuh2 jasmani, kekaisaran Roma pada waktu itu, tetapi Yesus datang untuk membebaskan Israel dari perbudakan dosa serta iblis dan roh2 jahat.

Bagaimana dengan dunia kekristenan saat ini? Apakah dunia kekristenan juga tidak memahami bahwa Yesus menggenapi seluruh simbol, bayangan, dan nubuat PL? Nampaknya, dunia kekristenan juga tidak jauh berbeda dengan pandangan para ahli agama Yahudi pada waktu itu. Perhatikan baik-baik ibadah dalam dunia kekristenan. Yesus berkata bahwa ibadah itu haruslah dalam roh dan kebenaran (realita). Artinya, ibadah itu adalah hidup sehari-hari yang dipimpin Kristus dalam batin orang percaya.

Entahkah orang percaya, dalam kehidupannya sehari-hari, dipimpin untuk bekerja disini atau disitu, berkumpul dengan sesama orang percaya disini atau disitu, atau berkumpul dengan keluarga sendiri dirumah…  semuanya harus dilakukan atas dasar pimpinan Kristus dalam batin masing2 orang percaya. Inilah realita ibadah dalam roh. Tetapi, ibadah dunia kekristenan telah penuh dengan aturan harus ini dan harus itu… Aturan2 organisasi, aturan2 dari si pemimpin agama itu, juga aturan2 dari PL seperti persepuluhan, buah sulung, janji iman, dan sebagainya… Dalam esensinya, ibadah dunia kekristenan sudah mirip dengan ibadah agama Yahudi yang penuh dengan ritual2, dan aturan2.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ada 5 pembagian atau percakapan/pengajaran kerajaan sorga dalam injil Matius, dimana selebihnya adalah suatu ‘cerita’ atau ‘narasi’ mengenai Tuhan Yesus dan khabar baik injil kerajaan sorga. Perlu kita mengingat ulang 5 bagian ini, yaitu bagian pertama, Matius 5:1 – 7:29, yang biasa disebut khotbah dibukit. Kedua, Matius 9:35 – 11:1, yang berisi tentang ‘penugasan kedua belas rasul’. Ketiga, Matius 13:1-52, tentang tujuh perumpamaan mengenai kerajaan sorga. Keempat, Matius 18:1-35, tentang pengampunan dan perumpamaan hamba yang berhutang, dan keempat bagian ini telah kita bahas semuanya. Saat ini kita masuk kedalam bagian terakhir pengajaran kerajaan sorga, yaitu yang kelima, Matius 23– 25, tentang tegoran kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, serta pengajaran akhir zaman, atau penghakiman terhadap pelayan2 Tuhan.

Mari kita mulai dengan Matius 23:1-12, yang merupakan pembukaan dalam pengajaran kerajaan sorga. Perhatikan Matius 23:1, demikian, “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-muridNya, kataNya”. Dalam pengajaranNya ini, Yesus sedang berbicara kepada 2 kelompok orang, yaitu yang disebut ‘orang banyak’ dan ‘murid2Nya’. Kita harus jelas melihat perbedaan ini, karena isi pengajaran Yesus sangat berbeda kepada dua kelompok orang ini.

Kepada kelompok ‘orang banyak’, Yesus mengajarkan agar mereka mentaati segala sesuatu yang diajarkan oleh ahli2 Taurat dan orang2 Farisi, karena mereka telah menduduki ‘kursi Musa’, hanya jangan turuti perbuatan2 mereka (ayat 2-3).  Selanjutnya, Yesus memberikan alasan mengapa orang banyak jangan meniru perbuatan2 ahli2 Taurat dan orang2 Farisi (ayat 4-7).

Kemudian, mulai ayat 8-12, Yesus berbicara kepada murid2Nya, sebab ayat 8 dimulai dengan kalimat, “Tetapi kamu…”. Jika kita perhatikan baik-baik konteks perikop ini, maka sesungguhnya Yesus sedang berbicara soal ‘kursi Musa’. Kursi Musa inilah yang membuat Yesus menyatakan bahwa orang banyak harus mengikuti pengajaran ahli2 Taurat dan orang2 Farisi, sedangkan kepada murid2Nya, Yesus mengajarkan sesuatu yang lain sama sekali, semata-mata karena tidak ada ‘kursi Musa’. Jika kita memahami dengan baik apa yang dimaksud Yesus dengan ‘kursi Musa’, maka kita akan memahami perikop ini. 

Apakah itu ‘kursi Musa’? Kursi Musa yang dimaksud Yesus jelas berbicara soal ‘otoritas Musa’. Artinya, suatu ‘otoritas agamawi’ yang berlaku hanya dalam konteks Perjanjian Lama (Perjanjian Musa). Itu sebabnya, orang banyak harus mentaati pengajaran ahli2 Taurat dan orang2 Farisi, bagaimanapun buruknya perilaku mereka. Jadi, otoritas Musa yang dimiliki ahli2 Taurat dan orang2 Farisi-lah yang membuat orang banyak harus mentaati ajaran mereka.

Tetapi, diantara murid2 Yesus (gereja), tidak boleh ada “otoritas Musa”. Gereja memiliki otoritasnya sendiri. Pengajaran Yesus kepada murid2Nya disini sebenarnya sangat jelas, yaitu TIDAK BOLEH ADA OTORITAS LAIN SELAIN OTORITAS YESUS. Kita lihat disini bahwa otoritas Yesus atas gereja tidak didelegasikan kepada ‘para Rabi/pengajar gereja’, atau kepada ‘para bapa gereja’, atau kepada ‘para pemimpin gereja’. Perkataan Yesus pada ayat 8, bahwa kamu semua saudara, sesuai konteks, berarti tidak boleh ada “kursi Musa” didalam gereja. Tidak boleh ada otoritas apapun didalam gereja selain otoritas Yesus. YESUS LANGSUNG MENGATUR SETIAP ANGGOTA GEREJA. Dengan kata lain, TIDAK BOLEH ADA JABATAN AGAMAWI APAPUN DIDALAM GEREJA.

Mari kita lanjutkan pembahasan kita mengenai ‘kursi Musa’ dalam Matius 23:1-12. Telah kita tegaskan bahwa ‘kursi Musa’, yaitu jabatan agamawi, atau otoritas agamawi, hanya berlaku dalam konteks Perjanjian Musa (PL), dan tidak berlaku dalam konteks Perjanjian Baru (gereja). Karenanya, didalam gereja tidak boleh ada ‘kursi Musa’, tidak boleh ada ‘jabatan agamawi’, tidak boleh ada ‘otoritas agamawi’, atau otoritas ‘para pemimpin’, selain otoritas Yesus. Yesus langsung mengatur setiap anggota gereja melalui otoritasNya. Yesus tidak pernah mendelegasikan otoritasNya kepada para pemimpin. Istilah otoritas terdelegasi (delegated authority) hanya ada dalam sistem pemerintahan manusia. Tetapi, mengapa dalam gereja saat ini ada istilah ‘otoritas terdelegasi’? Justru inilah yang akan kita bahas saat ini.

Ada 2 poin yang harus kita pahami dengan baik agar kita mengerti pembahasan ini. Pertama, bagaimana Yesus mengatur langsung setiap anggota gereja. Ketika Yesus berkata, ‘Aku akan mendirikan gerejaKu, itu berarti Dia sendiri yang akan membangun gerejaNya. Dia sendiri yang langsung mengatur dan membangun gerejaNya. Tentu saja Yesus menggunakan para pemimpin sebagai alatNya untuk membangun gereja. Itu sebabnya Yesus memberikan para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar untuk MEMPERLENGKAPI gereja, supaya gereja bertumbuh menjadi dewasa (Efesus 4:11-12).

Harus selalu kita ingat bahwa baik rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar TIDAK MEMILIKI OTORITAS APAPUN atas anggota gereja. Jadi, bagaimana caranya Yesus berotoritas langsung atas gerejaNya? Melalui kematian, kebangkitan dan kenaikanNya kesorga, maka Yesus memberikan ‘ROH PEMBERI HAYAT’ untuk mendirikan gerejaNya. Pada hari raya Pentakosta, ketika Roh pemberi Hayat tercurah, disitulah gereja lahir dimuka bumi ini. Karenanya, otoritas Yesus atas gerejaNya kita sebut OTORITAS HAYAT KRISTUS. Hayat Kristus (‘zoe’) langsung memerintah setiap anggota gereja, karena gereja adalah organisme (tubuh Kristus).

Kolose 2:19, menjelaskan kepada kita bagaimana gereja sebagai organisme dapat bertumbuh, demikian, “Dan yang tidak berpegang teguh pada kepala, yang dari pada-Nya seluruh tubuh, melalui sendi-sendi dan urat-urat, karena ditunjang dan diikat bersama, tumbuh dengan pertumbuhan yang dari Elohim” (ILT). Kita lihat dari ayat ini bahwa “sendi2 dan urat2” adalah para pemimpin gereja (sebagai organisme) yang mengikat dan menunjang organisme, sehingga tubuh (organisme) dapat bertumbuh oleh ‘pertumbuhan Elohim’.

Ungkapan Yunani, ‘auxano ho auxesis ho theos’, yang diterjemahkan dengan, ‘tumbuh dengan pertumbuhan yang dari Elohim’ pada ayat kita diatas, sebenarnya berarti ‘may increase with the increase of God’, maksudnya melalui peranan “urat2 dan sendi2”, maka gereja bertumbuh dengan PERTUMBUHAN ELOHIM SEBAGAI HAYAT. Pertumbuhan gereja adalah pertumbuhan Hayat, karena gereja adalah organisme. Jadi, melalui otoritas Hayat dalam organisme, Yesus langsung mengatur gerejaNya. Para pemimpin hanyalah berfungsi sebagai “urat2 dan sendi” yang menunjang dan mempersatukan tubuh. Para pemimpin inilah yang kita sebut para pemimpin organisme, sebagai lawan dari para pemimpin organisasi dalam dunia kekristenan.

Kalau demikian, bagaimana gereja yang awalnya adalah organisme sekarang pecah menjadi puluhan ribu organisasi? Pada poin kedua akan kita bahas hal ini.

Kita masih membahas apakah para pemimpin mempunyai otoritas atas anggota gereja lainnya. Mengapa dalam dunia kekristenan ada istilah ‘otoritas terdelegasi’, seolah-olah sang pemimpin mempunyai otoritas yang dapat didelegasikan kepada bawahannya. Poin pertama sudah kita jelaskan bahwa Yesus mengatur langsung semua anggota gerejaNya melalui otoritas Hayat, yaitu otoritasNya sendiri, karena Yesus adalah Hayat. (I am the ‘zoe’). Itu sebabnya, rasul Yohanes berkata, “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain…” (I Yohanes 2:27). Pengurapan didalam batin semua orang percaya adalah ‘zoe’ (Hayat) yang Yesus berikan. Hayat Kristus dalam batin inilah yang akan mengajari orang Kristen segala sesuatunya. Jadi, melalui HayatNya, Yesus mengatur setiap anggota gereja, karena setiap anggota gereja hidup dipimpin Hayat, atau hidup dipimpin Roh pemberi Hayat.

Kalau demikian, apakah anggota gereja tidak memerlukan para pemimpin? Tentu saja memerlukan para pemimpin, karena Yesus yang memberikan para pemimpin gereja, tetapi hanya untuk MEMPERLENGKAPI setiap anggota gereja, agar semua anggota gereja pada gilirannya membangun tubuh Kristus dengan cara mentaati ‘pengurapan yang didalam batin’ (Efesus 4:12; I Yohanes 2:27). Demikianlah gereja tetap dalam hakekatnya sebagai organisme (Tubuh) yang langsung diatur oleh otoritas Hayat Kristus, sekalipun ada para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar, para penatua/penilik, dan para diaken. Inilah kondisi gereja mula2 yang tertulis dalam Kitab Kisah Para Rasul, dimana ada 70 x ungkapan, ‘dipimpin Roh, bisikan Roh, Roh Kudus melarang’, dan sebagainya. Semua anggota gereja, termasuk para pemimpinnya semata-mata diatur oleh Roh Kudus, bahkan Paulus menyebut dirinya ‘tawanan Roh’.

Sekarang kita masuk kedalam poin kedua, yaitu bagaimana gereja yang awalnya adalah organisme, sekarang pecah menjadi puluhan ribu organisasi/denominasi? Alkitab (PB) menjelaskan dengan gamblang awal mula gereja yang adalah organisme, kemudian pecah menjadi puluhan ribu organisasi, walaupun tentu saja hal ini umumnya tidak diajarkan oleh para pemimpin agama dalam dunia kekristenan. Bahkan, para pemimpin agama Kristen cenderung menutup-nutupinya dengan ajaran palsu ‘visible-invisible church’, atau menyebut bahwa denominasi adalah gereja.

Penyebab awal mengapa gereja (organisme) menjadi puluhan ribu denominasi tertulis dalam Kis. 20:29-30, demikian, “Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka”. Konteks ayat2 ini adalah perpisahan Paulus dengan para penatua gereja di Efesus.

Penyakit awal kejatuhan gereja jelas dari ayat2 ini, yaitu adanya serangan “serigala-serigala ganas” terhadap beberapa pemimpin. Motivasi sang “serigala ganas” ini jelas, yaitu tidak menyayangkan gereja (kawanan), tetapi caranya dengan menyerang para pemimpin gereja yang dapat diserang. Dampak dari serangan “serigala ganas” ini ada dua, yaitu, pertama, menyebabkan para pemimpin mengajarkan AJARAN PALSU, dan kedua, MENARIK murid2 Kristus supaya menjadi pengikut mereka. Murid2 yang tadinya mengikuti jalan yang benar, yaitu mengikuti otoritas Yesus dengan dipimpin Hayat dalam batin masing2 (pengurapan yang dimaksud rasul Yohanes), tetapi kemudian karena DITARIK oleh para pemimpin, maka murid2 menjadi PENGIKUT para pemimpin, dan karenanya Yesus tidak dapat lagi langsung memimpin para murid. Inilah yang terjadi dalam dunia kekristenan. Puluhan ribu denominasi itu bukan lagi gereja yang dibangun Yesus, karena puluhan ribu murid2 mengikuti pemimpin ini atau pemimpin itu, mengikuti aliran ini atau itu, KARENANYA DENOMINASI ITU ADALAH KERAJAAN AGAMAWI YANG DIDIRIKAN PARA PEMIMPIN. Atau, barangkali lebih tepat kalau denominasi itu disebut kerajaan2 para pemimpin dengan para pengikutnya masing2.

Kita masih terus membicarakan Matius 23:1-12, terkait ‘kursi Musa’, tetapi nampaknya, kita harus menyimpang sedikit dan berbicara mengenai ‘berkat Bapa disorga’. Mengapa demikian? Karena berbicara mengenai ‘kursi Musa’ berarti berbicara tentang para pemimpin agama, baik para pemimpin agama Yahudi, maupun para pemimpin agama dalam dunia kekristenan.

Banyak tegoran2 Yesus kepada para pemimpin agama Yahudi pada pasal 23, umumnya, dapat juga diterapkan, dalam beberapa kasus, kepada para pemimpin agama dalam dunia kekristenan. Dan sudah merupakan pandangan umum dalam dunia kekristenan, bahwa berkat2 Tuhan dijadikan bukti bahwa jalan hidup seseorang itu berkenan dihadapan Tuhan. Sering kita mendengar kalimat2 seperti, ‘buktinya dia diberkati, sambil menunjukkan bukti2nya tentu…. Itu tandanya dia berkenan dihadapan Tuhan’. Persoalan inilah yang membuat kita harus berbicara lebih dahulu tentang ‘berkat Tuhan’ sebelum lanjut kepada pembahasan ‘kursi Musa’.

Sesungguhnya, semua manusia sudah diberkati oleh Bapa disorga. Yohanes 3:16, menegaskan, bahwa begitu besar kasih Bapa akan seluruh dunia sehingga Ia memberikan anakNya yang tunggal untuk menghapus dosa dunia. Yesus tidak hanya menghapus dosa orang Kristen, tetapi juga dosa dunia (I Yohanes 2:2). Itu sebabnya, Yohanes Pembaptis berkata, bahwa Yesus adalah Anak Domba Elohim yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). Jika Bapa disorga sudah begitu mengasihi dunia ini, mana mungkin Ia juga mengutuki orang2 didunia ini? Sesungguhnya, Bapa disorga sudah memberkati semua orang didunia ini, tetapi berkat Bapa ini jangan dijadikan bukti bahwa Bapa berkenan akan jalan hidup semua manusia didunia ini.

Bapa disorga adalah Bapa yang memberkati. Perhatikan fakta2 berikut. Ishak diberkati, tetapi Ismael juga diberkati (Kejadian 17:20). Yakub diberkati, tetapi Esau juga diberkati (Ibrani 11:20). Baik Ismael maupun Esau sama-sama diberkati Bapa disorga, namun demikian, Bapa disorga hanya berkenan membuat perjanjianNya dengan Ishak, dan memilih Yakub bukan Esau. Jadi, berkat Bapa tidak dapat dijadikan bukti bahwa Bapa berkenan akan jalan hidup seseorang.

Mari kita melihat suatu contoh bapa jasmani, yaitu Yakub yang memberkati semua anak-anaknya di-akhir hidupnya (Kejadian 49). Ayat 28, menegaskan, “… tiap-tiap orang diberkatinya dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka masing-masing”. Ketika Yakub di-akhir hidupnya memberkati semua anak2nya, apakah ini merupakan bukti bahwa semua anak2nya telah berkenan kepadanya? Tentu tidak… Demikian juga Bapa disorga yang adalah Bapa segala roh, tentu memberkati semua manusia semata-mata karena Ia adalah Bapa yang penuh kasih.

Apakah dunia kekristenan diberkati Bapa disorga? Tentu saja… jangankan dunia kekristenan, dunia secara umum saja sangat dikasihi Bapa dan diberkati Bapa, apalagi dunia kekristenan. Tetapi, apakah semua anak2Nya dalam dunia kekristenan telah berjalan menurut cara yang berkenan kepada Bapa? Justru hal ini yang perlu kita renungkan, bahwa berkat Bapa disorga atas kehidupan setiap orang Kristen, sama sekali bukan merupakan bukti bahwa Bapa berkenan akan jalan hidupnya. Berkat Bapa hanya membuktikan bahwa Ia adalah Bapa yang penuh kasih.

Dalam perumpamaan anak yang hilang, baik anak yang bungsu, maupun anak yang sulung sama-sama dikasihi Bapa. Pengertian seperti ini agak sulit bagi orang Kristen umumnya. Para pemimpin agama dalam dunia kekristenan, biasanya, suka menyatakan bahwa jika engkau memberi sepersepuluh, maka engkau diberkati secara finansial. Jika rajin kebaktian, maka iman akan bertumbuh. Jika banyak berdoa, maka banyak berkat. Dan sebagainya… Prinsip JIKA-MAKA ini memang prinsip agamawi, baik dalam agama Yahudi, maupun dalam kekristenan yang telah jatuh menjadi agama ini.

Prinsip Perjanjian Baru bukan prinsip JIKA-MAKA, tetapi SUDAH-KARENANYA. Kita sudah diberkati, karenanya baiklah kita menjadi berkat. Kita sudah garam dan terang, karenanya baiklah kita berperilaku sebagaimana identitas kita yang adalah garam dan terang. Jika semua penjelasan ini dapat membuat kita paham bahwa berkat Bapa tidak dapat dijadikan bukti perkenan Bapa, maka kita siap melanjutkan pembahasan kita mengenai ‘kursi Musa’.

Nampaknya, kita masih perlu berbicara sedikit lagi mengenai ‘berkat Bapa disorga’ sebelum lanjut kepada pembahasan ‘kursi Musa’. Hal ini disebabkan, umumnya, ada pemahaman diantara orang Kristen, bahwa ‘segala kenikmatan dunia ini berasal dari iblis, karena iblis adalah penguasa dunia’. Kalimat ini benar separuh saja. Memang iblis adalah penguasa dunia, dalam arti penguasa ‘kosmos’ (sistem), tetapi langit dan bumi adalah milik Bapa disorga. Karenanya, segala kenikmatan apapun yang dapat dirasakan manusia didunia ini berasal dari Bapa disorga, atau merupakan ‘berkat Bapa disorga’.

Pengkhotbah 2:25, menegaskan, “Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan diluar Dia?”. Ayat ini menegaskan bahwa kenikmatan yang dirasakan seseorang ketika ia makan, itu berasal dari Tuhan, itulah berkat Bapa disorga. Namun, jika ia mencuri makanan yang dinikmatinya, maka disini iblis bekerja sebagai penguasa ‘kosmos’, dan tentu kedagingan (manusia lama) dari si-pencuri itu yang memberi kesempatan iblis bekerja. Jadi, iblis tidak bisa memberikan ‘kenikmatan’ kepada manusia, sebab iblis itu hanyalah ‘pendusta dan pembunuh manusia’.

Dalam dunia kekristenan sudah hampir diterima dan dianggap kebenaran, bahwa iblis itu tadinya malaikat baik yang namanya Lucifer, kemudian ia memberontak kepada Tuhan dan menjadi iblis yang begitu jahat. Bahkan, konon, dongeng ini ditambah lagi dengan menyatakan bahwa iblis menarik sepertiga malaikat baik disorga untuk mengikutinya.

Agar kita memahami berkat Bapa disorga, kita perlu mengetahui dengan benar siapakah iblis itu sebenarnya. Yesus sudah tegas menyatakan dalam Yohanes 8:44, bahwa iblis adalah pembunuh manusia SEJAK SEMULA, dan ia adalah bapa segala dusta. Jadi, iblis itu bukan awalnya baik, kemudian menjadikan dirinya sendiri jahat. I Yohanes 3:8, juga menyatakan, bahwa iblis berbuat dosa DARI MULANYA.

Kalau demikian, siapa yang menciptakan iblis, yang memang sudah sebagai pendusta dan pembunuh manusia sejak semula? Perhatikanlah Kejadian 3:1, yang menyatakan bahwa ‘ular’ itu dijadikan oleh Bapa disorga. Ular disini dapat berbicara, cerdik, dan menggodai Hawa. Tentu ini bukan ular jasmani yang kita kenal dikebun binatang. Kitab Wahyu, dengan bahasa simbol, menjelaskan bahwa ‘ular’ atau ‘naga’ itu adalah iblis (Wahyu 12:9; 20:2). Jadi, ular di Kitab Kejadian 3:1, itu adalah simbol dari iblis, dan ia DIJADIKAN OLEH BAPA DISORGA. Bapa disorga menciptakan makhluk yang namanya iblis, sebagai alatNya untuk memproses manusia agar serupa dan segambar denganNya.

Banyak orang Kristen tidak bisa mengerti mengapa Bapa yang penuh kasih itu, dapat menciptakan iblis yang begitu jahat. Karenanya, para Teolog mulai membuat dongeng mengenai kejatuhan iblis, dengan mencomot ayat2 dalam Yesaya 14, dan juga Yehezkiel 28, yang konteksnya sebenarnya berbicara mengenai raja Babel, dan raja Tirus. Siapapun dapat membuat cerita/dongeng yang dramatis, jika caranya dengan mencomot2 ayat Alkitab diluar konteks.

Maksud para Teolog ini baik, yaitu mencoba menghindarkan tanggung jawab atas adanya kejahatan di-alam semesta ini. Kejahatan, malapetaka, bencana atau apapun juga yang menyengsarakan manusia, bukan berasal dari Bapa disorga yang penuh kasih, demikian kata mereka. Sementara Yesaya 45:6-7, demikian juga Amos 3:6, menegaskan bahwa baik malapetaka, nasib malang, kegelapan, semua berasal, dan dilakukan oleh Bapa disorga.

Para Teolog ini tidak berhenti dengan dongeng mereka, kemudian mereka membuat doktrin kehendak bebas mutlak. Konon, katanya, karena Bapa disorga sudah memberikan kehendak bebas mutlak kepada para malaikat, maka iblis dengan kehendak bebasnya berontak kepada Bapa disorga. Doktrin kehendak bebas mutlak ini sungguh mengerikan. Bagaimana kalau tiba2 ada lagi malaikat yang memberontak mengikuti iblis. Bagaimana kalau kita tiba2 dipukul kepalanya dari belakang oleh iblis, dan Bapa disorga tidak bisa menolong kita, sebab Ia telah memberi kehendak bebas mutlak kepada iblis. Doktrin kehendak bebas mutlak ini sangat menghina kedaulatan Bapa disorga. Umat kerajaan hanya percaya bahwa segala sesuatu BERASAL DARI DIA, OLEH DIA, Dia-lah yang menyebabkan segala sesuatu terjadi, dan KEPADA DIA, kepada kemuliaanNya, kepada maksud2Nya.

Kita bisa berbicara panjang lebar mengenai hal ini. Tetapi untuk saat ini, cukuplah kita paham bahwa segala berkat, kenikmatan atau apapun yang didapat dan dirasakan manusia, semua berasal dari Bapa, dan adalah berkat Bapa disorga. Para pemimpin agama Yahudi sudah sangat diberkati Bapa disorga. Segala kenikmatan yang didapat orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, karena uang, jabatan, dan hormat manusia, semua berasal dari Bapa dan adalah berkat Bapa bagi mereka. Hanya saja bagaimana mereka dapat memperoleh uang, jabatan, hormat manusia, melalui ‘kosmos’ (dunia keagamaan) mereka, inilah yang akan kita persoalkan kemudian.

Telah kita tegaskan bahwa gereja memerlukan para pemimpin, tetapi para pemimpin ini sama sekali tidak mempunyai “kursi Musa”, atau otoritas apapun atas anggota lainnya. Saat ini kita akan melihat kedalam sejarah gereja bagaimana “kursi Musa” ini sampai masuk kedalam gereja.

Sejarah mencatat seorang bernama Ignatius (tahun 117 M) dipandang sebagai yang pertama mengajarkan perbedaan antara para penatua (Yun:’presbuteros’), dan bishop (Yun:’episkopos’) Ignatius ini seorang pemimpin gereja di Antiokhia (Siria), mati martir dibawah kaisar Trajan. Ia menulis surat-surat dalam perjalanannya ke Roma untuk mati martir disana. Kita akan mengutip bagian-bagian dari suratnya yang mengungkapkan sesuatu yang sangat tersembunyi didalam kedagingan manusia yaitu keinginan untuk berkuasa, atau suatu sikap meninggikan diri diatas umat Tuhan.

Kita akan mengutip bahasa Inggrisnya, agar dapat melihat arti yang lebih jelas. Dalam buku ‘The Apostolic Fathers’ (1956) oleh J.B Lightfoot, ada tertulis demikian: - Plainly therefore we ought to regard the bishop as the Lord himself (hal 65). Selanjutnya, - Therefore as the Lord did nothing without the Father, (being united with him), either by himself or by the Apostles, so neither do ye anything without the bishop and the presbyters (hal 70). Kemudian, - … submitting yourselves to your bishop and presbytery, ye may be sanctified in all things (hal 64). Perhatikan kutipan2 berikut ini, - Be obedient to the bishop (hal 72). -he that doeth aught without the bishop and presbytery and deacons, this man is not clean in his conscience (hal 74). - Do ye all follow your bishop, as Jesus Christ followed the Father, and the presbytery as the Apostles (hal 84). -he that doeth aught without the knowledge of the bishop rendereth service to the devil (hal 84).

Dalam buku ‘The History Of Christianity’, 1990, Lion Publishing, hal 83, Ignatius bersikeras bahwa harus ada satu orang ‘bishop’ yang memimpin tiap jemaat, supaya mencegah perpecahan dalam jemaat, dan menjamin kepercayaan2 yang benar dapat terpelihara. Ignatius adalah seorang pemimpin yang mengikut Tuhan sampai mati martir di Roma, tetapi melalui pengajarannya ini Tubuh Kristus jatuh kedalam pemerintahan manusia dengan segala hierarki dan organisasinya. Ketika gerakan yang dimulai Tuhan Yesus dan rasul-rasulNya sebagai organisme, namun telah menjadi organisasi yang kokoh, maka dimulailah suatu zaman dalam sejarah gereja, yang biasa disebut zaman kegelapan gereja.

Maksud Ignatius memang baik, sebab ia ingin agar setiap jemaat terpelihara dari ajaran2 sesat, jika ada satu orang ‘bishop’ yang memimpin. Tetapi persoalannya, apakah Alkitab mengajarkan satu orang pemimpin ditinggikan diatas yang lainnya, atau satu orang pemimpin memiliki otoritas atas jemaat?

Mari kita ambil satu contoh saja, bahwa para penatua (Yun:’presbuteros’), dan bishop (Yun:episkopos’), sama sekali tidak dibedakan, dan dipakai secara bergantian. Dalam Titus 1:5-7, ada tertulis demikian, “… supaya engkau menetapkan penatua-penatua (presbuteros) disetiap kota… Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik (episkopos) jemaat…” (LAI). Jelas terlihat disini bahwa ‘presbuteros’ itu sama dengan ‘episkopos’. Kedua istilah ini merujuk kepada satu orang saja. ‘Presbuteros’ berarti orang yang dewasa, sedangkan ‘episkopos’ menunjukkan fungsinya sebagai ‘overseer’ atau ‘pelihat’. Jadi, seorang pemimpin jemaat itu haruslah seorang dewasa, dan dapat melihat secara rohani “serigala-serigala ganas” yang akan menyerang jemaat.

Jadi jelaslah bahwa pandangan Ignatius bahwa harus ada satu orang ‘bishop’ yang memimpin para penatua telah melanggar firman Tuhan. Pelanggaran ini terus berlanjut sehingga diantara uskup (bishop) tiap kota harus ada Uskup Agung, diantara Uskup Agung harus ada seorang Kardinal, dan diantara Kardinal harus ada seorang Paus. Demikianlah “kursi Musa” masuk kedalam gereja, sehingga datanglah zaman kegelapan gereja, dimana hierarki atau sistem pemerintahan manusia menguasai gereja.

Kita lanjutkan perikop kita mengenai ‘kursi Musa’ (Matius 23:1-12), dan menutupnya dengan merenungkan kesimpulan dari perikop ini pada ayat terakhir, yaitu, “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (ayat 12). Dalam memahami Alkitab, prinsip konteks teramat sangat penting untuk diperhatikan. Karena kalau tidak, maka seseorang dapat saja menafsirkan ayat diatas perihal ‘meninggikan diri’ ini, terkait dengan tutur kata seseorang, atau terkait dengan penampilannya yang ramah dan bersahabat, atau terkait dengan segala sesuatu yang membuat orang menilai bahwa dia rendah hati dan tidak meninggikan diri. Penafsiran seperti ini sangat keliru. Yesus tidak berbicara sama sekali tentang perkataan seseorang, atau penampilan seseorang, atau bahkan pelayanan seseorang, kaya atau miskinnya seseorang, atau banyaknya pengikut seseorang, dan sebagainya.

Nampaknya kita perlu berbicara sedikit mengenai pengertian ‘konteks’. Konteks itu berasal dari dua istilah Latin, yaitu, ‘con’ (bersama) dan ‘textus’ (terjalin), artinya sesuatu yang terjalin bersama. Kalau pengertian ini diterapkan kepada literatur, maka pengertian konteks adalah adanya ‘alur berpikir’ (connection of thoughts) dalam suatu karya atau tulisan. Alur berpikir inilah yang harus ditemukan agar seseorang jangan menafsirkan suatu ayat, atau bahkan suatu kata (istilah) dalam tulisan diluar konteksnya. Alur berpikir pada perikop kita diatas adalah jelas mengenai ‘kursi Musa’. ‘Kursi Musa’ disini jelas juga berbicara soal OTORITAS PEMIMPIN, karena Yesus memerintahkan ‘orang banyak’ agar taat kepada pengajaran ahli2 Taurat dan orang2 Farisi yang sudah duduk di ‘kursi Musa’. Otoritas pemimpin inilah yang menjadi ‘alur berpikir’ perikop kita. Jadi, Yesus sedang berbicara soal otoritas pemimpin.

Telah juga kita bahas bahwa didalam gereja tidak ada ‘kursi Musa’ (ayat 8-10). Jadi, ketika Yesus berbicara soal ‘meninggikan diri’, maka hal ini semata-mata terkait dengan soal ‘kursi Musa’ atau soal otoritas pemimpin. Ada dua jenis otoritas pemimpin yang diuraikan dalam perikop kita. Pertama, otoritas para ahli Taurat dan orang2 Farisi, serta kedua, mengenai otoritas para pemimpin gereja.

Otoritas para ahli Taurat dan orang2 Farisi atas ‘orang banyak’ jelas adalah otoritas jabatan, atau ‘hierarki’ atau otoritas yang dimiliki karena ‘jenjang seseorang dalam suatu hierarki’. Otoritas jenis ini tidak boleh ada dalam gereja. Itulah maksud Yesus ketika Ia berkata pada murid2Nya, bahwa tidak boleh ada seorangpun dari murid2Nya yang disebut pemimpin, rabi, atau bapa. Semua murid Yesus adalah saudara, dalam arti tidak boleh ada otoritas jabatan, otoritas ‘jenjang’ atau otoritas ‘hierarki’. Bagi orang yang memperhatikan konteks, baik konteks dalam perikop, maupun konteks Perjanjian (PL dan PB), maka pengertian seperti diuraikan diatas sangatlah mudah dipahami.   

Kalau demikian, apa maksud Yesus ketika Ia mengatakan, bahwa siapa yang meninggikan diri, akan direndahkan, dan siapa yang merendahkan diri, akan ditinggikan? Jelas maksud Yesus bahwa SIAPA DARI ANTARA PEMIMPIN GEREJA YANG MEMILIKI KURSI MUSA MAKA PEMIMPIN INI SEDANG MENINGGIKAN DIRINYA.

Para pemimpin gereja yang memiliki “kursi Musa” pasti akan direndahkan Yesus. Tetapi semua ini akan terjadi di pengadilan Kristus, dimana saatnya gereja akan dihakimi Yesus. Inilah pengertian yang gamblang dari Matius 23:1-12.

Saat ini kita akan membandingkan Matius 23:1-12, mengenai ‘kursi Musa’ yang telah kita bahas, dengan Matius 20:20-28, mengenai permintaan ibu Yakobus dan Yohanes. Alasan mengapa kita membandingkan kedua perikop ini adalah keduanya berbicara soal “kursi”. Yang pertama soal “kursi Musa”, yang kedua soal “kursi kerajaan sorga”.

Perhatikan permintaan ibu Yakobus dan Yohanes, demikian, “Kata Yesus: apa yang kaukehendaki? Jawabnya: Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagidi sebelah kiri-Mu” (20:21). Duduk didalam kerajaan Yesus tentu berbicara soal kursi kerajaan sorga. Jelas bahwa konsep ibu Yakobus dan Yohanes ini mengenai soal ‘kursi kerajaan sorga’ sangatlah jasmani. Barangkali, ia membayangkan kerajaan Yesus sama persis dengan kerajaan Daud, dimana disebelah kiri dan kanan kursi Daud terdapat orang2 dekatnya. Barangkali, ia juga membayangkan jika kedua anakku ini kelak mendapat kekuasaan dan otoritas untuk memerintah, maka akupun mendapat kemuliaan karenanya.

Kita akan lihat kelak bahwa pengertian ibu Yakobus dan Yohanes ini sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan pengertian yang umumnya ada dalam diri para pemimpin dunia kekristenan. Mari kita langsung buktikan pendapat kita ini. Bukankah jabatan2 organisasi, atau jenjang2 dalam hierarki dunia kekristenan, umumnya, diperebutkan oleh para pemimpin? Coba perhatikan alasan2 perpecahan yang umumnya ada dalam dunia kekristenan, bukankah itu karena perebutan jabatan diantara para pemimpinnya? Dan memang perpecahan dalam dunia kekristenan akan terus berlangsung selama ada “kursi Musa”. Masing2 pemimpin ingin dan suka mendapat jabatan atau “kursi” tertinggi? Mengapa demikian? Tentu, karena duduk di “kursi Musa” itu akan mendapatkan uang, fasilitas dan juga hormat dari orang banyak.

Baiklah kita melihat tiga poin jawaban Yesus dalam soal ini. Pertama, gereja tidak sama dengan pemerintahan bangsa2 (20:25). Didalam gereja yang adalah organisme, semua adalah saudara, dan otoritas yang berlaku adalah otoritas Hayat dari organisme itu, yaitu otoritas Yesus sendiri, karena Yesus adalah Hayat gereja (I am the ‘zoe’). Jadi, didalam gereja tidak boleh ada “kursi Musa”. Barangkali, ada beberapa pemimpin gereja yang beralasan dengan menyatakan bahwa jabatan2/hierarki/organisasi itu hanyalah alat saja. Benar, memang organisasi itu hanyalah alat saja… tetapi bukan alat ditangan Tuhan Yesus, melainkan alat ditangan pemimpin, yang adalah manajer dari organisasi itu. Memang ‘pengorganisasian’ merupakan salah satu tugas manajer. Tetapi sekali lagi, tidak boleh ada manajer dalam gereja, semua saudara. Tuhan Yesus tidak membutuhkan organisasi untuk mengatur gerejaNya. Tuhan Yesus mengatur setiap anggota gerejaNya langsung melalui HayatNya sendiri.

Kedua, para pemimpin gereja adalah orang bebas yang menjadi hamba bagi anggota2 gereja lainnya (20:26-27). Seharusnya tidak perlu lagi dijelaskan perbedaan antara hamba dengan manajer. Semua orang sudah mengerti.

Ketiga, Yesus sebagai Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, tetapi melayani dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan banyak orang. Inilah yang menjadi contoh bagi kita yang mengikuti Yesus.

Sebagai penutup bagian ini, mari kita perhatikan ayat 23, demikian, “…. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya”. Bapa disorga telah menyediakan dan mempersiapkan orang2 yang akan “duduk dalam kursi” kerajaan sorga. Lukas 12:32, menegaskan, “janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”. 

Sebelum kita membahas tegoran2 Yesus kepada para pemimpin agama Yahudi dalam Matius 23:13-36, baiklah kita merumuskan lebih dahulu pembahasan kita sejauh ini mengenai perbedaan antara “kursi Musa” dan “kursi kerajaan sorga”. Para pemimpin agama Yahudi yang duduk di “kursi Musa”, jelas memiliki otoritas atas orang banyak, sehingga harus ditaati pengajarannya. Sementara itu, orang2 kristen yang dipersiapkan Bapa untuk duduk di “kursi kerajaan sorga”, adalah hamba2 (‘doulos’=hamba atau budak, Matius 20:27). Pengertian ‘doulos’ diayat ini artinya hamba kepada umat Tuhan, bukan hamba dihadapan Tuhan. Artinya, “kursi kerajaan sorga” adalah “kursi” hamba, sehingga mereka yang dipersiapkan Bapa disorga untuk duduk dikursi itu adalah mereka yang tidak memiliki otoritas apapun atas umat Tuhan. Mereka tidak menarik umat Tuhan kepada diri mereka sendiri agar menjadi pengikut mereka, dan ber-otoritas atasnya.

Bagi orang yang mendapat kasih karunia untuk duduk “dikursi kerajaan sorga”, tentu paham bahwa dunia kekristenan adalah gereja mula2 yang jatuh karena masuknya “kursi Musa”. Para pemimpin agama dalam dunia kekristenan adalah mereka yang duduk “dikursi Musa”. Semua kita memahami bahwa mereka yang duduk di “kursi Musa” bukanlah hamba2 (‘doulos’) kepada umat Tuhan. Mereka adalah para manajer yang mengatur umat Tuhan dengan otoritas yang mereka dapat karena duduk “dikursi Musa”. Otoritas para pemimpin agama Kristen atas umat Tuhan, jelas otoritas illegal. Tetapi saat ini, sudah diterima luas dalam dunia kekristenan, bahkan sudah menjadi ajaran. Sesungguhnya, inilah ajaran palsu Izebel yang dijelaskan dalam Wahyu 2-3, dimana Izebel merampas otoritas raja Ahab, suaminya, dalam kasus kebun anggur Nabot. Jadi, para pemimpin agama Kristen ini “merampas” otoritas Yesus atas umatNya.

Sekarang kita siap untuk membahas tegoran2 Yesus kepada para pemimpin agama Yahudi ini (Matius 23:13-36). Mengapa kita harus membahas lebih dahulu mengenai “kursi Musa” yang masuk kedalam gereja, adalah karena tegoran2 Yesus disini memang ditujukan kepada para pemimpin agama. Sejauh mana tegoran2 Yesus ini dapat diterapkan kepada para pemimpin agama dalam dunia kekristenan, tentu kita serahkan sepenuhnya kepada Yesus yang kelak akan menghakimi kita semua. Tetapi bagian kita adalah menggali dan menyampaikan apa yang tertulis dalam Alkitab.

Ada 8 tegoran Yesus yang dimulai dengan ungkapan, ‘celakalah kamu… hai kamu orang-orang munafik’, dimana hanya di ayat 16 saja, tidak terdapat ungkapan, ‘kamu orang-orang munafik’. Jadi, ada 7 x Yesus menggunakan istilah ‘munafik’ kepada para pemimpin agama Yahudi. Mari kita lihat apa maksud Yesus dengan istilah ‘munafik’ ini. Istilah Yunani untuk ‘munafik’ ini adalah ‘hupokrites’, yang artinya, menjalankan suatu peran yang bukan dirinya sendiri, atau biasa kita sebut ‘berpura-pura’. Kita akan menyatakan 3 kepura-puraan para pemimpin agama Yahudi ini. Pertama, mereka pura2 rohani, yaitu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang (23:14). Kedua, pura-pura bersih, dengan membersihkan bagian luar, sementara didalamnya penuh rampasan dan kerakusan (23:25). Ketiga, pura-pura benar, sehingga nampaknya benar dimata orang, tetapi disebelah dalam penuh kemunafikan dan kedurjanaan (23:28). Tuhan Yesus mengumpamakan kepura-puraan para pemimpin agama ini sama seperti ‘kuburan’. Diluarnya bagus tetapi didalamnya penuh tulang-belulang dan pelbagai jenis kotoran (23:27).

Telah kita bahas salah satu ciri utama dari para pemimpin agama Yahudi ini, yaitu kemunafikan atau kepura-puraan. Mereka pura2 rohani, yaitu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang (23:14), pura-pura bersih, dengan membersihkan bagian luar, sementara didalamnya penuh rampasan dan kerakusan (23:25), pura-pura benar, sehingga nampaknya benar dimata orang, tetapi disebelah dalam penuh kemunafikan dan kedurjanaan (23:28). Sikap atau perilaku mereka yang munafik dan berpura2 ini tentu menyebabkan pengajaran mereka juga bersifat ‘luaran’, dan tidak bersifat ‘batiniah’.

Kita akan ambil satu contoh pengajaran para pemimpin agama Yahudi ini yang bersifat ‘luaran’, atau yang mementingkan hal2 ‘luaran’. Perhatikan Matius 23:23, demikian, “…sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan”. Para pemimpin agama Yahudi ini sangat mementingkan ritual persepuluhan, tetapi kondisi batin seseorang dimana seharusnya terdapat belas kasihan, keadilan dan kesetiaan, diabaikan. Pengajaran dan perilaku para pemimpin agama Yahudi yang mementingkan ritual2 dan hal2 ‘luaran’, memang sesuai dengan motivasi dan maksud perbuatan mereka, yaitu agar dilihat orang (ayat 5). 

Perilaku dan pengajaran mereka yang bersifat ‘luaran’ ini, seperti membersihkan sebelah luar dari cawan dan pinggan, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan (ayat 25). Sesungguhnya, Tuhan sangat memperhatikan kondisi batin dan hati seseorang. Orang2 kudus dalam konteks Perjanjian Lama adalah orang2 yang memiliki iman dan kasih kepada Yahweh, dan mereka mengekspresikan iman dan kasihnya dengan mentaati Hukum Taurat. Orang2 kudus zaman PL, bukanlah orang2 yang mentaati Hukum Taurat tanpa memiliki iman dan kasih. Sebab, dalam setiap zaman Elohim selalu mencari iman. Orang2 kudus disetiap zaman adalah orang2 yang beriman. Tetapi, orang2 Farisi dan ahli2 Taurat zaman Yesus hanya mementingkan bentuk2 ibadah ‘luaran’, dan mengabaikan perkara2 batiniah sama sekali. Inilah yang menjadi ciri utama perilaku dan pengajaran orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, yaitu bersifat ‘luaran’ dan mengabaikan hal2 yang ‘batiniah’.

Mari kita terapkan persoalan ini kedalam konteks dunia kekristenan. Yesus berkata bahwa ibadah itu haruslah dalam ‘roh dan kebenaran’ (Yohanes 4). Ibadah dalam roh, artinya, ibadah itu haruslah bersifat ‘batiniah’. Paulus sudah menubuatkan bahwa pada akhir zaman orang Kristen akan menjalankan ibadah mereka secara lahiriah, tetapi pada hakekatnya memungkiri kekuatan ibadah itu (II Timotius 3:5). Banyak orang menjalankan ‘bentuk2 ibadah’ seperti datang kegedung gereja tertentu, memberikan persembahan tertentu, melakukan ritual2 tertentu, tetapi kondisi batinnya kosong, dan tidak ada roh yang bernyala-nyala untuk Tuhan.

Selanjutnya, ibadah dalam ‘kebenaran’, atau ibadah dalam ‘realita’ itu artinya ibadah bukan dalam simbol2, ritual2 dan bayangan2, seperti ibadah dalam konteks PL. Semua aturan2 makanan, minuman, hari raya, bulan baru, sabat dan yang lainnya dalam konteks PL hanyalah merupakan bayangan saja, sedang realita-nya adalah Kristus didalam batin (Kolose 2:16-17).

Jadi, ibadah dalam roh dan kebenaran itu adalah ibadah dalam arti mengikuti pimpinan Kristus didalam batin, dalam kehidupan kita sehari-hari. Ibadah Kristen itu tidak bersifat ritual, lahiriah, ataupun ibadah yang penuh aturan harus ini dan itu seperti dalam konteks PL. Tetapi, mari kita renungkan ciri2 utama pengajaran para pemimpin agama dalam dunia kekristenan, apakah sudah bersifat batiniah, ataukah lahiriah?

Saat ini kita akan membahas ciri kedua dari para pemimpin agama Yahudi ini, yaitu kebutaan. Tentu maksud Yesus bukan kebutaan jasmani, tetapi kebutaan rohani, sehingga tidak “melihat” perkara2 Elohim.

Mari kita lihat kebutaan para pemimpin agama Yahudi ini. Pertama, kebutaan mereka membuat mereka tidak tahu mana yang lebih penting, dan mana yang tidak. (23:16-22). Mereka tidak memahami bahwa Bait Suci lebih penting dari emas Bait Suci (ayat 16-17). Mereka juga tidak memahami bahwa Mezbah lebih penting dari pada persembahan yang diatasnya (ayat 18-19).

Kedua, kebutaan mereka menyebabkan mereka menepis “nyamuk” dan menelan “unta” dari dalam minuman mereka (ayat 23-24). Telah kita bahas bahwa mereka menjalankan hukum persepuluhan, tetapi mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Ada beberapa pemimpin agama dalam dunia kekristenan yang “mencomot” ayat ini untuk membuktikan bahwa Yesus memerintahkan hukum persepuluhan kepada gerejaNya. Para pemimpin ini sama sekali tidak “melihat” konteks suatu ayat. Pada ayat ini, jelas Yesus sedang berbicara kepada para pemimpin agama Yahudi yang terkait dengan Perjanjian Musa, dan bukan sedang berbicara kepada murid2Nya (gereja) yang terkait dengan Perjanjian Baru. Mengapa perkara yang begitu “menyolok mata” ini tidak mampu mereka lihat?

Ketiga, kebutaan orang2 Farisi dan ahli2 Taurat menyebabkan mereka membersihkan sebelah luar dari cawan dan pinggan, sementara didalamnya terabaikan (ayat 25-26). Penyakit para pemimpin agama ini adalah suka akan kehormatan manusia, lebih dari kehormatan Elohim, sehingga perbuatan mereka bertujuan supaya dilihat orang.

Baiklah kita bahas lebih jauh lagi mengenai kebutaan rohani ini. Gereja di Laodikia juga buta, sehingga mereka menganggap diri kaya, dan tidak kekurangan apa2, sementara faktanya mereka buta (Wahyu 3:17,18). Penyakitnya karena “mata” mereka tidak diolesi “minyak” Roh Kudus. Kita lihat lagi kasus nabi Bileam, dimana penglihatan keledai lebih tajam dari pada penglihatannya. Keledai sudah melihat Malaikat Tuhan, sementara Bileam, yang mencintai upah, tidak melihatnya. Orang2 Farisi dan ahli2 Taurat juga disebut “menelan rumah janda-janda”, yang tentunya berbicara soal mengambil uang dari kaum lemah, barangkali melalui persepuluhan, pajak Bait Suci, atau yang lainnya, sementara mereka hidup berkelimpahan. (ayat 14). Memang orang2 Farisi itu hamba2 uang (Lukas 16:14). Nampaknya, cinta uang, atau suka menerima upah dari pelayanan, akan membuat para pemimpin menjadi buta. Nabi yang seharusnya menjadi ‘pelihat’, dan juga para pemimpin gereja (‘episkopos’=overseer=pelihat), yang seharusnya dapat melihat serangan2 “serigala ganas” atas kawanan domba, menjadi buta dan tumpul karena mencintai upah dari pelayanannya.

Satu lagi hal yang perlu kita tambahkan disini bahwa kunci agar dapat melihat diri sendiri, atau melihat kondisi umat Tuhan adalah melihat Tuhan (Yesaya 6:1,5). Disini, Yesaya mendapat kasih karunia Tuhan untuk melihatNya. Semua orang lahir sebagai orang “buta”. Semoga kita mendapat kasih karuniaNya untuk melihat Tuhan, dan karenanya, dapat mengenal diri kita dan mengenal kondisi umat Tuhan.

Mari kita membahas karakteristik berikutnya dari para pemimpin agama Yahudi ini yang tertulis dalam Matius 23:33, demikian, ”Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?”. Yesus menyebut para pemimpin agama Yahudi yang “duduk “dikursi Musa” ini sebagai ular2 dan keturunan ular beludak, serta tidak dapat meluputkan diri dari hukuman neraka.

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami disini agar kita dapat meng-aplikasikan perkataan Yesus kepada kondisi kita saat ini. Sebab, jika tidak ada kait-mengaitnya perkataan Yesus bagi kita saat ini, apa gunanya perkataan Yesus ini ditulis dalam Alkitab? Perkataan Yesus ini pasti dapat diterapkan kepada dunia kekristenan, namun kita harus lebih dahulu paham apa maksud Yesus berkata demikian.

Pertama, kita harus paham bahwa Yesus tidak sedang menghina para pemimpin agama Yahudi. Yesus tidak pernah menghina seorang manusiapun, karena Ia mengasihi semua orang sebagaimana Bapa disorga. Kedua, kita harus paham bahwa ular yang dimaksud Yesus jelas bukan ular jasmani yang sering kita lihat dikebun binatang, sebab ditegaskan bahwa para pemimpin agama Yahudi yang adalah manusia ini disebut sebagai keturunan ular. Ketiga, karenanya, orang2 Farisi dan ahli2 Taurat yang disebut Yesus sebagai keturunan ular, mengungkapkan suatu kebenaran, atau realita, atau apa adanya sesuatu. Jadi, memang benar bahwa para pemimpin agama Yahudi ini keturunan ular beludak.

Kalau demikian, siapakah ular yang dimaksud Yesus disini? Yohanes 8:44, tegas menyatakan bahwa iblislah yang menjadi bapa dari para pemimpin agama Yahudi ini, sekaligus Yesus jelaskan identitas iblis ini, yaitu pembunuh manusia sejak semula, dan bapa segala dusta. Terbukti bahwa Yesus dibunuh oleh para pemimpin agama Yahudi. Yesus tidak dibunuh oleh Pontius Pilatus dan tentara Roma pada waktu itu. Mereka ini hanya alat ditangan Mahkamah Agama Yahudi yang diketuai oleh Imam Besar Kayafas, sebab Mahkamah Agama Yahudi tidak mendapat izin dari penguasa Roma pada waktu itu untuk membunuh seseorang yang dianggap penyesat. 

Sekarang kita masuk kedalam pertanyaan yang sangat penting, yaitu apa yang dilakukan iblis kepada para pemimpin agama Yahudi ini? Mari kita lihat dahulu kasus dimana Yesus menegor Petrus dengan ucapan, ‘Enyahlah iblis’ (Matius 16:23). Diayat ini juga Yesus memberi alasan mengapa Ia berkata demikian kepada Petrus, yaitu ‘engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Elohim, melainkan apa yang dipikirkan manusia’. Kita tahu bahwa motivasi dari perbuatan Petrus ini disebabkan ia merasa sayang jika Yesus harus dibunuh oleh tua2, imam2 kepala dan ahli2 Taurat. Jadi, Petrus memikirkan yang baik tentang Yesus, hanya itu merupakan pikiran manusia. Disinilah iblis menabur “benih” pikiran baik manusiawi kepada Petrus, dan itu justru bertentangan dengan kehendak Bapa disorga.

Jadi, iblis menaburkan “benihnya” kepada para pemimpin agama Yahudi ini, entahkan itu pikiran baik manusiawi, atau kebencian, atau apapun itu juga. Yang jelas tujuan dari iblis ini adalah mendustai untuk membunuh manusia, karena itulah identitasnya.

Sebelum kita terapkan pembahasan kita kedalam dunia kekristenan, mari kita mengingat perumpamaan ‘Lalang diantara Gandum’ yang sudah kita bahas, dimana iblis menaburkan benihnya juga. Kita lihat bahwa baik lalang maupun gandum ada didalam kerajaan sorga, dan Tuhan membiarkan mereka tumbuh bersama-sama.  Hanya pada waktuNya, pada kedatangan Kristus, Tuhan akan memisahkan lalang dari antara gandum.

Dalam dunia kekristenan terdapat “benih lalang” yang ditabur iblis, dan juga “benih gandum” yang ditabur Yesus. Wahyu 2-3 menjelaskan kepada kita “benih” yang ditabur iblis adalah ajaran palsu Izebel, Bileam dan Nikolaus yang sudah diterima luas oleh dunia kekristenan. Pada waktu kedatangan Yesus, “lalang” ini akan dicampakkan kedalam dapur api, dimana terdapat ratapan dan kertakan gigi (Matius 13:42). Saat ini memang belum waktunya bagi orang Kristen untuk mengetahui siapa “lalang” dan siapa “gandum”, yang jelas baik “lalang” maupun “gandum” adalah orang kristen lahir baru dan menjadi anggota kerajaan sorga. Semua ada diladangnya Tuhan. Pada kedatangan Kristus kelak, semua menjadi jelas.

Setelah Yesus selesai menegor para pemimpin agama Yahudi, maka Ia menegaskan, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu.... Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39). Disini, Yesus menegaskan bahwa “rumah” bangsa Yahudi ditinggalkan sunyi, sampai pada akhirnya mereka menyambut Dia yang datang dalam nama Tuhan. Karena bangsa Yahudi secara keseluruhan, telah menolak Yesus sebagai Mesias, maka Ia meninggalkan Bait Suci dan mulai mengajarkan beberapa hal kepada murid2Nya. PengajaranNya ini biasa disebut khotbah tentang akhir zaman (Matius 24-25).

Pengajaran Yesus didasarkan atas pertanyaan murid2 demikian, “…Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Matius 24:3). Pengajaran Yesus dalam pasal 24-25 ini sesungguhnya berbicara mengenai bangsa Yahudi, mengenai bangsa-bangsa, dan juga mengenai kedatanganNya.

Kita mulai membahas mengenai kedatanganNya. Dalam dunia kekristenan telah sangat popular istilah atau ungkapan ‘kedatangan Yesus kedua kali’. Dari ungkapan ini terlihat suatu konsep kedatangan Yesus ‘secara jasmani’. Pertama kali Yesus datang secara jasmani 2000 tahun yang lalu yang tentunya terlihat oleh mata jasmani, kemudian Yesus akan datang lagi “kedua kalinya” secara jasmani, dan juga terlihat oleh mata jasmani. Sesungguhnya, dalam kitab2 PB tidak pernah ada ungkapan ‘kedatangan kedua kali’, atau ‘kedatangan Yesus kedua kali’. Pemahaman “jasmani” seperti ini membuat kita kehilangan makna dan esensi dari kedatangan Yesus. Kami telah menulis tentang topik kedatangan Tuhan, dan disini kita hanya kan melihat sekilas saja agar memahami esensi dari kedatangan Yesus.

Ada 6 istilah Yunani yang diterjemahkan ‘kedatangan’ dalam kitab2 PB. Keenam istilah Yunani itu adalah, pertama, PAROUSIA. Istilah ini muncul 24 kali dalam PB dan ia berasal dari kata kerja PAREMI, yang berarti ‘to be present’ (hadir). Kata bendanya berarti kehadiran (presence). PAROUSIA tidak pernah menunjukkan tindakan datang atau tibanya seseorang, tetapi menunjukkan kehadiran seseorang yang sudah datang. Penggunaan istilah PAROUSIA didalam PB juga tidak pernah terkait dengan kedatangan Tuhan secara fisik. Jadi, istilah Parousia berarti kehadiran. Dimana 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaNya, disitu Tuhan ada. Itulah KEHADIRANNYA. Itulah KEDATANGANNYA.

Istilah Yunani kedua, APOKALUPSIS. Istilah ini berasal dari kata kerja APOKALUPTO yang berarti ‘menyingkapkan’, yang menegaskan adanya suatu pewahyuan. Hal ini berarti suatu penyingkapan dari seseorang yang tadinya terselubung.

Istilah Yunani ketiga adalah EPIPHANEIA. Istilah ini muncul sebanyak 6 kali dalam PB. Istilah ini berasal dari kata kerja yang berarti ‘membawa kepada terang’ atau ‘tersingkap’. Kata bendanya berarti ‘manifestasi’. Istilah ini digunakan untuk mengungkapkan kemuliaan dan kemegahan yang termanifestasi oleh kedatangan Tuhan.

Istilah Yunani keempat, PHANEROO. Istilah ini berarti membuat nyata atau menjadi nampak. Namun bukan berarti kehadiran yang terlihat mata, tetapi suatu persepsi.  

Istilah Yunani berikutnya adalah ERCHOMAI. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan tindakan actual dari suatu kedatangan. Istilah ini tidak sama artinya dengan PAROUSIA yang berarti kehadiran seseorang yang telah datang. ERCHOMAI digunakan dalam Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang (SUATU TINDAKAN DATANG) dengan awan-awan…”.

Istilah Yunani keenam adalah HEKO. Kata ini menekankan kedatangan pada suatu tempat tertentu. Kata ini terdapat dalam Wahyu 2:25, “Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku DATANG”.

Sudah tentu bahwa keenam istilah Yunani ini bukan berarti ada enam jenis berbeda dari kedatangan Tuhan, tetapi penggunaan yang berbeda dari istilah ini membuat kita memahami makna yang dimaksud suatu teks yang berbicara tentang kedatangan Tuhan. Untuk saat ini cukuplah kita pahami bahwa kedatangan Tuhan itu TIDAKLAH HARUS BERBENTUK KEDATANGAN SECARA FISIK.

Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai kedatangan Tuhan. Telah kita bahas dari 6 istilah Yunani, bahwa kedatanganNya tidaklah harus merupakan kedatangan secara fisik. Mari kita melihat satu contoh yang berbicara mengenai kedatanganNya dalam kitab Matius yang merupakan bagian dari pembahasan kita, yaitu Matius 24:27, demikian, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia”.

Ayat diatas ini seolah-olah mengatakan bahwa kedatangan Anak Manusia itu seperti suatu kejadian mendadak dilangit jasmani, dimana kedatanganNya terjadi seperti kilat memancar dari timur ke barat. Tidak demikian maksud ayat ini. Kunci pemahaman ayat ini terletak pada istilah Yunani yang diterjemahkan “kilat memancar”, yaitu ASTRAPE. Strong’s mendefinisikannya sebagai, a flash of lightning, brightness, luster, dimana ASTRAPE berasal dari kata ASTRAPTO yang berarti lightning; by analogy, glare. Para ahli memahami istilah Yunani ini sebagai ‘sinar terang’ dari suatu sumber terang, dan bukan cahaya kilat yang mendadak memancar dari suatu lokasi ke lokasi lainnya. Jika kedatangan Tuhan seperti kilat memancar, yang berarti hanya terjadi di suatu lokasi tertentu saja, maka hal ini bertentangan dengan ayat lainnya yang mengatakan bahwa ‘setiap mata akan memandang Dia’.

Sebelum kita mengambil kesimpulan pemahaman ayat kita diatas, mari kita renungkan cahaya apa yang memancar dari timur ke barat? Bukankah ini cahaya matahari… dan kita tahu bahwa Tuhan adalah matahari bagi kita (Mazmur 84:12). SinarNya menerangi roh, jiwa dan tubuh kita sehingga roh, jiwa, dan tubuh kita terpelihara sempurna…

Jadi, ayat ini harus diterjemahkan, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah KEHADIRAN (Parousia) Anak Manusia”. Artinya, KEHADIRANNYA seperti cahaya matahari yang semakin terang menyinari seluruh keberadaan kita. Jadi, kehadiran (parousia) Tuhan itu berlangsung terus menerus didalam diri kita sampai seluruh keberadaan kita diresapi total olehNya.

Disini sekali lagi kita melihat konsep kedatangan Tuhan tidaklah secara jasmani. Kedatangan Tuhan adalah perkara batiniah. Jika pengertian kita tentang kedatangan Tuhan itu adalah kedatangan Yesus dari langit yang dapat dilihat oleh mata jasmani, maka kita sudah kehilangan banyak pengertian yang benar tentang kedatanganNya. Sudah waktunya kita melihat ESENSI dari kedatangan Tuhan, yaitu terjadi secara Roh didalam batin kita.

Jadi sesungguhnya, kedatangan Tuhan itu bersifat progresif, artinya terus menerus dan berkemajuan, semakin dalam dan semakin dalam sampai seluruh rencana Bapa digenapi, yaitu Langit dan Bumi yang baru. Tuhan sudah datang, sedang datang dan akan datang. Dimana 2-3 orang berkumpul didalam namaNya, disitu Tuhan hadir (Parousia).

Dengan menyatakan bahwa kedatangan Tuhan terjadi secara batiniah didalam roh kita, tidaklah berarti bahwa kedatanganNya yang merupakan ‘kesudahan dunia’ merupakan sesuatu yang hanya terjadi di alam roh saja. Selanjutnya, kita akan membahas apa yang terjadi dibumi ini pada saat kedatanganNya, sebagaimana dijelaskan dalam Matius 24 ini.

Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai kedatangan Tuhan. Telah kita bahas dari 6 istilah Yunani, bahwa kedatanganNya tidaklah harus merupakan kedatangan secara fisik. Mari kita melihat satu contoh yang berbicara mengenai kedatanganNya dalam kitab Matius yang merupakan bagian dari pembahasan kita, yaitu Matius 24:27, demikian, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia”.

Ayat diatas ini seolah-olah mengatakan bahwa kedatangan Anak Manusia itu seperti suatu kejadian mendadak dilangit jasmani, dimana kedatanganNya terjadi seperti kilat memancar dari timur ke barat. Tidak demikian maksud ayat ini. Kunci pemahaman ayat ini terletak pada istilah Yunani yang diterjemahkan “kilat memancar”, yaitu ASTRAPE. Strong’s mendefinisikannya sebagai, a flash of lightning, brightness, luster, dimana ASTRAPE berasal dari kata ASTRAPTO yang berarti lightning; by analogy, glare. Para ahli memahami istilah Yunani ini sebagai ‘sinar terang’ dari suatu sumber terang, dan bukan cahaya kilat yang mendadak memancar dari suatu lokasi ke lokasi lainnya. Jika kedatangan Tuhan seperti kilat memancar, yang berarti hanya terjadi di suatu lokasi tertentu saja, maka hal ini bertentangan dengan ayat lainnya yang mengatakan bahwa ‘setiap mata akan memandang Dia’.

Sebelum kita mengambil kesimpulan pemahaman ayat kita diatas, mari kita renungkan cahaya apa yang memancar dari timur ke barat? Bukankah ini cahaya matahari… dan kita tahu bahwa Tuhan adalah matahari bagi kita (Mazmur 84:12). SinarNya menerangi roh, jiwa dan tubuh kita sehingga roh, jiwa, dan tubuh kita terpelihara sempurna…

Jadi, ayat ini harus diterjemahkan, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah KEHADIRAN (Parousia) Anak Manusia”. Artinya, KEHADIRANNYA seperti cahaya matahari yang semakin terang menyinari seluruh keberadaan kita. Jadi, kehadiran (parousia) Tuhan itu berlangsung terus menerus didalam diri kita sampai seluruh keberadaan kita diresapi total olehNya.

Disini sekali lagi kita melihat konsep kedatangan Tuhan tidaklah secara jasmani. Kedatangan Tuhan adalah perkara batiniah. Jika pengertian kita tentang kedatangan Tuhan itu adalah kedatangan Yesus dari langit yang dapat dilihat oleh mata jasmani, maka kita sudah kehilangan banyak pengertian yang benar tentang kedatanganNya. Sudah waktunya kita melihat ESENSI dari kedatangan Tuhan, yaitu terjadi secara Roh didalam batin kita.

Jadi sesungguhnya, kedatangan Tuhan itu bersifat progresif, artinya terus menerus dan berkemajuan, semakin dalam dan semakin dalam sampai seluruh rencana Bapa digenapi, yaitu Langit dan Bumi yang baru. Tuhan sudah datang, sedang datang dan akan datang. Dimana 2-3 orang berkumpul didalam namaNya, disitu Tuhan hadir (Parousia).

Dengan menyatakan bahwa kedatangan Tuhan terjadi secara batiniah didalam roh kita, tidaklah berarti bahwa kedatanganNya yang merupakan ‘kesudahan dunia’ merupakan sesuatu yang hanya terjadi di alam roh saja. Selanjutnya, kita akan membahas apa yang terjadi dibumi ini pada saat kedatanganNya, sebagaimana dijelaskan dalam Matius 24 ini.

Kita melanjutkan ministri malaikat ketujuh yang menumpahkan cawannya ke angkasa (Wahyu 16:17-21), dimana ministri ini terkait penghakiman ‘Babel”. Sesungguhnya, penjelasan ministri malaikat ketujuh terkait ‘Babel’ ini terus berlanjut sampai pasal 18, dan ditutup oleh ‘nyanyian kemenangan di sorga’ dalam Wahyu 19:1-5. Mengapa demikian panjang? Sebab, setelah penghakiman ‘Babel’ selesai, maka ‘pernikahan Anak Domba’ dapat terlaksana. Mempelai Kristus sejati perlu dipersiapkan, dan dinyatakan. (19:7). Karena, setelah terjadi ‘pernikahan Anak Domba’, maka kerajaan Kristus (kepala dan Tubuh) mulai menghakimi dan berperang dalam kebenaran untuk memulihkan segala sesuatu (19:11-16). Ministri kerajaan Kristus inilah yang akhirnya menghadirkan Langit dan Bumi Baru, dimana tidak ada lagi ‘maut’ yang merupakan upah dosa (21:4).

Mari kita masuk kedalam ‘penghakiman Babel’ ini. Wahyu 17:1, menegaskan, “Dan datanglah satu dari ketujuh malaikat yang membawa ketujuh cawan itu dan dia berbicara denganku, seraya mengatakan kepadaku, Marilah, aku akan menunjukkan kepadamu penghakiman atas pelacur besar yang duduk di atas air yang banyak” (ILT). Siapakah ‘pelacur besar’ yang akan dihakimi? Wahyu 17:18, menegaskan bahwa perempuan yang dilihat oleh rasul Yohanes adalah ‘kota besar’, dan ‘kota besar’ itu adalah ‘Babel’ (18:2). Jadi, ‘perempuan pelacur’ itu ADALAH ‘kota besar’, yaitu Babel.

Kita harus tetap mengingat bahwa kota Babel yang dijelaskan dalam Kejadian 10-11, adalah kota jasmani yang memang benar2 ada dalam sejarah. Sementara, ‘kota Babel’ yang tertulis dalam kitab Wahyu adalah ‘simbol’. Kita dapat mengetahui makna dari suatu simbol itu dengan memperhatikan sejarahnya. Babel adalah salah satu dari kota kerajaan yang dibangun Nimrod (Kejadian 10:8-10). Nimrod adalah orang yang pertama kali berkuasa dibumi dan, “ia seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN…” (Kejadian 10:9). 

Banyak orang mengira bahwa Nimrod ini seorang yang melayani dan hidup DIHADAPAN Tuhan (Kej. 10:9). Tetapi kita telah tahu bahwa Strong’s Concordance mengungkapkan fakta mengenai istilah Ibrani PANIM yang diterjemahkan DIHADAPAN mempunyai arti yang sangat bervariasi. Dalam Kej.10:9 seperti misalnya Bil. 16:2, istilah Ibrani PANIM yang diterjemahkan DIHADAPAN juga memiliki arti literal MEMBERONTAK. Dan didalam Jewish Encyclopedia, nama Nimrod berarti ia yang membuat semua orang memberontak melawan Tuhan. Terjemahan Alkitab ILT (Indonesian Literal Translation) membuat catatan kaki untuk terjemahan DIHADAPAN, yaitu TEGAR MENENTANG. Dapat disimpulkan bahwa Nimrod ini adalah seorang yang memberontak dan tegar menentang Tuhan, dan Nimrod mendirikan kerajaan sendiri dimana salah satunya adalah Babel.

Perempuan pelacur dan kota Babel yang dilihat rasul Yohanes memiliki makna yang sama. Kedua simbol ini sama-sama merujuk kepada gereja, tetapi gereja yang akan dihakimi. Gereja yang mendapat simbol ‘perempuan pelacur’ atau ‘kota Babel’ ini dihakimi, agar mempelai sejati Anak Domba dapat tampil.

Telah kita tegaskan bahwa esensi kedatangan (Parousia=kehadiran) Tuhan Yesus terjadi secara ‘Roh didalam batin kita’. Ini tidak berarti kehadiranNya hanya mempengaruhi alam roh saja. Saat ini kita akan membahas kedatangan Tuhan Yesus yang tertulis dalam Matius 24:29-30, demikian, “Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya”.

Kedatangan Tuhan Yesus disini sama artinya dengan kesudahan dunia (24:3). Tetapi kita perlu memahami makna dari ‘kesudahan dunia’, sebab jika tidak, maka kita akan membayangkan adanya kehancuran total dari bumi kita ini. Bayangkan jika bintang-bintang berjatuhan dari langit, seperti ayat kita diatas, matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, maka tentu kita membayangkan bumi akan hancur total. Tidak demikian maksud ayat2 kita diatas.

Kita perlu melihat tulisan2 rasul Yohanes terkait dengan makna ‘kesudahan dunia’, karena tulisan2 rasul Yohanes memakai istilah ‘dunia’ dengan suatu makna Teologis yang sangat penting. Istilah ‘dunia’ (Yunani: ’kosmos’), berarti suatu sistem. Didalam kamus2, sistem berarti kelompok dari berbagai sesuatu, yang bekerja bersama-sama dalam suatu aturan tertentu. Didalam dunia saat ini, ada sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, dan juga sistem agama. Semua sistem ini terkait satu dengan lainnya, karena sesungguhnya penguasa dari sistem ini adalah iblis (Yohanes 12:31; 14:30; 16:11; I Korintus 2:6,8; Efesus 2:2; 6:12).

Kalau demikian, apakah maknanya kesudahan dunia? Kesudahan dunia berarti kesudahan dari sistem yang dikuasai oleh iblis, dan diganti dengan suatu sistem yang lainnya. Perhatikan ayat2 dalam kitab Wahyu berikut ini. Wahyu 3:21, “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku…”. Wahyu 5:10, “dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi” (ILT). Wahyu 20:4, “Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi…”. Dari ayat2 ini, dapat kita ketahui bahwa kesudahan dunia (kesudahan sistem) berarti sistem lama yang saat ini dikuasai iblis, diambil alih oleh para pemenangNya, dimana para pemenangNya berfungsi sebagai imam2 dan raja2. Yesus sebagai Raja diatas segala raja, dan Imam Besar menurut aturan Melkisedek, yang memimpin imam2. Demikianlah makna ‘kesudahan dunia’ dimana sistem lama yang dikuasai iblis, diganti dengan sistem yang baru yang dikuasai Yesus dan para pemenangNya.

Karenanya, makna bintang-bintang berjatuhan dari langit, seperti ayat kita diatas, matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, jangan dipahami secara harfiah. Bintang2, matahari, dan bulan adalah simbol dari penguasa dunia (sistem) lama. Sistem yang lama digoncangkan pada saat kedatangan Tuhan Yesus. Dan ditegaskan juga bahwa Anak Manusia datang di atas awan-awan. Diseluruh Alkitab, jika istilah ‘awan’ muncul dalam bentuk tunggal, maka itu menunjuk kepada awan kemuliaan Tuhan, tetapi jika muncul dalam bentuk jamak, maka awan2 berarti saksi2 Tuhan atau orang2 kudus. Jadi, kedatangan Tuhan Yesus terjadi didalam dan melalui para pemenangNya. Inilah makna ‘Anak Manusia datang di atas awan-awan’. Peristiwa kedatangan Tuhan Yesus ini dijelaskan Paulus dalam Roma 8:19-21.

Telah kita lihat bahwa kedatangan Tuhan Yesus (biasa disebut “kedua kali”), atau kesudahan dunia, itu berarti digantinya sistem lama yang dikuasai iblis, dengan sistem baru dimana Yesus dan gereja pemenangNya akan menjalankan fungsi raja2 dan imam2 dibumi. Perhatikan Wahyu 11:15, demikian, “Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan ‘Dia’ yang diurapiNya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya”. Terjemahan LAI menggunakan huruf besar ‘Dia’, seolah-olah menunjuk kepada Yesus Kristus. Tetapi sebenarnya harus menggunakan huruf kecil ‘dia’, yang menunjuk kepada gereja pemenang. Hal ini sesuai dengan ayat2 lain dalam kitab Wahyu yang menyatakan bahwa Yesus dan gereja pemenang akan memerintah dizaman berikut.

Saat ini kita akan memperhatikan perkataan Yesus atau nubuat Yesus menjelang kedatanganNya. Pertama, bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi (24:7). Bagi bangsa Yahudi, akan terjadi kehancuran kota Yerusalem dan Bait Suci, yang telah digenapi tahun 70 M. Dan, Injil kerajaan harus diberitakan keseluruh dunia sebagai kesaksian bagi bangsa-bangsa (24:14). 

Kedua, Yesus menegaskan bahwa kedatangan Anak Manusia akan bersesuaian dengan apa yang terjadi pada zaman Nuh (24:37-42). Bagi para penganut ajaran ‘rapture’ (keterangkatan), bagian firman Tuhan ini merupakan bukti bahwa pada saat kedatanganNya, orang2 kudus akan “diangkat” untuk bertemu Tuhan, dan orang2 jahat “ditinggalkan” dibumi.

Tetapi, jika kita perhatikan dengan baik bagian firman Tuhan ini, maka justru sebaliknyalah yang terjadi. Yang “diangkat” dari bumi oleh air bah adalah orang2 jahat, sementara Nuh dan seisi rumahnya diselamatkan dari air bah dan kembali kebumi, karena bumi memang merupakan bagian atau warisan bagi orang2 yang lemah lembut (Matius 5:5).

Ketiga, Yesus menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang tahu kapan Anak Manusia akan datang, dalam arti kapan kesudahan dunia terjadi, karenanya Yesus menasihatkan kita untuk siap sedia, sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kita duga (24:44). Bagaimana caranya kita bersiap sedia? Dengan berlaku sebagai hamba yang setia dan bijaksana, dan selalu menjalankan tugasnya untuk memberikan makanan kepada umat Tuhan. Setia disini merupakan sikap kepada Tuhan, sedangkan bijaksana merupakan sikap kepada umat Tuhan. 

Yesus juga mengingatkan hamba2 yang jahat, dimana mereka memukul hamba2 lain, serta makan minum bersama pemabuk2. Memukul disini tentu tidak harus berarti memukul secara fisik, tetapi memperlakukan sesama hamba Tuhan dengan curang. Makan, minum merupakan sesuatu yang normal, tetapi jika makan, minum bersama2 pemabuk, ini berarti menjalankan gaya hidup hedon. Hamba2 Tuhan yang dipengaruhi ajaran kemakmuran sudah pasti menyukai ‘hedonisme’, yaitu pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan hidup. Yesus mengingatkan kepada hamba yang jahat ini bahwa pada saat kedatanganNya, Ia akan membuat dia senasib dengan orang2 munafik (24:51).

Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai apa yang akan terjadi pada saat kedatanganNya kebumi. Kita tahu bahwa tujuan kedatangan Yesus kebumi adalah untuk menegakkan kerajaanNya. Itu sebabnya Yesus hanya memberitakan khabar baik kerajaanNya (kerajaan sorga), dan mengajarkan kita berdoa, supaya kerajaanNya datang kebumi ini. Matius 25:1 menegaskan, “Pada waktu itu…”. Artinya, pada saat kedatanganNya, maka perihal kerajaan sorga yang akan ditegakkan dibumi, akan seperti ‘gadis2 bijaksana dan bodoh’, juga seperti ‘hamba2 yang dipercayakan talenta’, dan ‘penyeleksian (adanya seleksi) bangsa2 dibumi’.

Mari kita mulai dengan membahas ‘gadis2 bijaksana dan bodoh’. Tentu, cerita ini berbentuk perumpamaan. Menggambarkan siapakah gadis2 didalam perumpamaan ini? Gadis2 ini tentu menggambarkan orang2 kudus yang sudah percaya Yesus dan lahir baru. Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan disini. Pertama, didalam Alkitab, gadis (perawan) selalu menggambarkan orang percaya. Orang2 berdosa tidak pernah digambarkan sebagai perawan2. Kedua, orang2 berdosa tidak mungkin menanti-nantikan kedatangan Tuhan Yesus, sebagaimana gadis2 ini. Ketiga, orang2 berdosa tidak memiliki pelita (terang), atau juga minyak (Roh Kudus). Keempat, orang2 berdosa tidak mungkin mendengar suara yang berkata ‘mempelai datang’, apalagi pergi menyongsongNya seperti yang dilakukan oleh semua gadis dalam perumpamaan ini. Jadi, sudah jelas bahwa semua gadis ini menggambarkan orang2 kudus yang sudah lahir baru. Yang membedakannya hanyalah sebagian bijaksana, dan sebagian lagi bodoh.  

Apa yang membedakan orang2 kristen sejati ini (gadis2), sehingga yang satu disebut bijaksana, sedangkan yang lainnya disebut bodoh? Ayat 3 menjelaskan bahwa gadis2 ‘bodoh’ membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak. “Pelita” disini berbicara perihal roh manusia (Amsal 20:27), dan “minyak” tentu berbicara tentang Roh Kudus. Gadis2 bodoh ini tidak mempersiapkan minyak agar pelitanya terus menyala, sementara menantikan Mempelai laki-laki, sedangkan gadis2 bijaksana mempersiapkan minyak, sehingga pada saat kedatangan Mempelai laki-laki, maka pelita mereka tetap bernyala.

Kalau demikian, dari cerita diatas, bagaimana kita membedakan orang2 kristen ‘bodoh’ dan orang2 kristen ‘bijaksana’ yang sedang menantikan kedatangan Tuhan Yesus? Perhatikanlah bahwa perbedaannya hanyalah soal apakah “pelitanya” terus menyala atau tidak. Orang2 kristen bijaksana selalu “menyediakan/membiarkan” Roh Kudus bekerja dalam rohnya, sehingga rohnya selalu bernyala-nyala untuk Tuhan. Sedangkan orang2 kristen bodoh, memang rohnya menyala-nyala juga pada awalnya, tetapi tidak bertahan lama. Dengan berjalannya waktu, orang2 kristen bodoh pada akhirnya “redup”, dan rohnya tidak bernyala-nyala lagi bagi Tuhan.

Sekarang kita masuk kedalam pertanyaan yang sangat penting, yaitu bagaimana caranya agar roh orang kristen selalu bernyala-nyala bagi Tuhan. Mari kita lihat contoh gereja mula-mula, sebab gereja mula-mula ditulis didalam Kitab Kisah Para Rasul, agar menjadi contoh bagi kita. Didalam kitab Kisah Para Rasul yang hanya 28 pasal saja, ada tertulis ungkapan2 seperti ‘mendengar suara Roh’, ‘Roh berbisik’, ‘dipimpin Roh’, “Roh melarang’ dan sebagainya; ungkapan2 seperti ini ada sebanyak 70 kali. Artinya, SEMUA orang Kristen mula2, baik para pemimpinnya, maupun anggota2nya dipimpin oleh Roh Kudus. Itu sebabnya, semua anggota gereja mula2 selalu bernyala2 bagi Tuhan.

Mari kita lihat kondisi dunia kekristenan. Tentu kita menyadari bahwa ada banyak orang2 kristen “ktp” dalam dunia kekristenan yang belum lahir baru. Namun, kita tidak membicarakan orang2 kristen “ktp” ini. Yang kita bicarakan adalah orang2 kristen lahir baru (“gadis-gadis”) dalam dunia kekristenan. ESENSI dari kejatuhan dunia kekristenan adalah PERAMPASAN otoritas Roh Kudus atas SELURUH anggota gereja oleh PARA PEMIMPINNYA (Kis. 20:30). Ketika otoritas Roh Kudus atas seluruh anggota gereja dirampas, maka tidak lagi seluruh anggota gereja MENDENGARKAN suara Roh Kudus LANGSUNG. Tidak dapat lagi semua anggota gereja dipimpin Roh Kudus, sebagaimana gereja mula-mula. Sebagian orang2 kristen mendengarkan dan mengikuti pemimpin ini, sebagian lagi mengikuti pemimpin itu. Para pemimpin ini telah membuat “kotak2” denominasi, sehingga anggota2nya tidak dapat lagi langsung dipimpin dan mendengar suara Roh Kudus. Perilaku para pemimpin dalam dunia kekristenan ini menyebabkan timbulnya orang2 kristen “bodoh” yang rohnya tidak lagi menyala-nyala bagi Tuhan. “Pelita” orang Kristen bodoh ini padam karena kehabisan “minyak” Roh Kudus, sebab yang diikutinya bukan lagi Roh Kudus, tetapi pemimpinnya. Demikianlah kondisi dunia kekristenan sepanjang zaman gereja.

Tetapi, oleh kasih karuniaNya, umat kerajaan ada diluar dunia kekristenan, sehingga dapat mengikuti pimpinan Roh Kudus kemana saja Roh Kudus menghendakinya. Pada saat kedatanganNya, Yesus akan menilai kita semua, termasuk para pemimpin gereja yang merampas otoritas Roh Kudus atas umatNya.

Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai apa yang akan terjadi pada saat kedatanganNya. Matius 25:14, menegaskan, “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian keluar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka”. Diceritakan dalam perikop ini bahwa ada tiga hamba Tuhan yang dipercayakan 5 Talenta, 2 Talenta, dan 1 Talenta (Matius 25:14-30). Banyaknya Talenta yang diberikan Tuhan kepada tiga hambaNya ini sudah sesuai dengan kemampuan masing2. Jadi, seharusnya ketiga hamba ini dapat mengembangkan Talentanya sebagaimana yang Tuhan inginkan.

Kemudian, hamba yang dipercayakan 5 Talenta ini menjalankan uang Tuannya dan memperoleh laba 5 Talenta. Demikian juga hamba yang dipercayakan 2 Talenta memperoleh laba 2 Talenta. Tetapi, hamba yang dipercayakan 1 Talenta ini tidak mengembangkan uang Tuannya. Selanjutnya, ketika tiba ‘hari perhitungan’, maka baik hamba yang dipercayakan 5 Talenta dan yang dipercayakan 2 Talenta mendapat pujian yang sama dari tuan mereka, yaitu ‘hamba yang baik dan setia’. Tetapi, kepada hamba yang dipercayakan 1 Talenta, karena tidak mengembangkan uang Tuannya, maka ia disebut hamba yang jahat, malas, dan tidak berguna (ayat 26,30).

Bagaimana kita dapat menerapkan cerita mengenai 3 hamba Tuhan yang dipercayakan Talenta oleh Tuannya ini? Ada satu ungkapan yang dapat membuka pengertian kita, yaitu, ‘perkara besar’ (ayat 21, 23). Kita harus tahu bahwa orang Kristen disebut “gadis/mempelai wanita” karena terkait dengan Yesus dalam hal Hayat/Life (‘zoe’). Tetapi, orang Kristen disebut “hamba” karena terkait dengan Yesus dalam hal ‘pelayanan/pekerjaan Kristus/ministry’. Jadi, ‘perkara besar’ yang dimaksud dalam ayat 21 dan 23, yang akan dipercayakan sang Tuan kepada hamba 5 talenta dan 2 Talenta ini adalah suatu pelayanan/ministry/tanggung jawab yang diberikan sang Tuan ketika Ia datang kembali.

Jadi, ketika Tuhan Yesus datang kembali, maka Ia akan memberikan pekerjaan/pelayanan besar dizaman berikut kepada hamba2Nya yang dinilaiNya baik dan setia. Mari kita melihat Wahyu 1:6; 5:10, untuk memahami pekerjaan/pelayanan apa yang akan dikerjakan dizaman berikut. Wahyu 1:6, “serta menjadikan kita raja-raja dan imam-imam bagi Elohim dan BapaNya…” (ILT). Wahyu 5:10, “dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja dan imam-imam bagi Elohim kami, dan kami akan memerintah di atas bumi” (ILT). Karenanya, ketika Yesus datang kembali, maka Ia bersama hamba2Nya akan menegakkan kerajaanNya di bumi, dan hamba2Nya akan berfungsi sebagai raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek, sebagaimana Yesus juga menjadi Imam Besar menurut aturan Melkisedek. 

Artinya, Tuhan Yesus datang bukan untuk membawa kita kesuatu “tempat yang menyenangkan” yang umumnya dalam dunia kekristenan disebut “sorga”, dimana ada rumah2 bagus, jalan dari emas, kerjanya nyanyi2 saja. Tetapi, Yesus datang untuk memberikan suatu pelayanan yang besar sebagai raja2 dan imam2 untuk menaklukkan bumi, sehingga bumi bergerak menuju bumi baru, dan tentu langit baru juga. Inilah konsep sorga berbentuk kerajaan seperti diwahyukan Yesus kepada Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu.

Nampaknya, orang2 kristen dengan konsep “sorga” seperti yang selama ini ia dengar dalam dunia kekristenan akan membuatnya tidak siap untuk berfungsi sebagai raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek dizaman berikut. Orang kristen ini akan menjadi seperti “hamba 1 Talenta” yang disebut Tuannya ‘tidak berguna’, bukan karena ia tidak memiliki jabatan tinggi atau gelar Teologi, tetapi karena ia tidak mengembangkan anugerah Tuhan agar berfungsi sebagai raja2 dan imam2 menurut aturan Melkisedek.

Kita masuk kepada bagian terakhir pembahasan mengenai kedatanganNya dalam Matius 24-25, yaitu mengenai penghakiman bangsa-bangsa (Matius 25:31-46). Matius 25:31-32, tertulis demikian, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan dihadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing”.

Pada ayat ini dinyatakan Yesus akan datang dalam kemuliaanNya bersama semua malaikat. Sesungguhnya, bukan saja para malaikat yang bersamaNya, tetapi kita yang dipilihNya juga ikut bersamaNya, seperti ditegaskan dalam Kolose 3:4, demikian, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan”. Kita akan menyatakan diri dalam kemuliaan bersama Kristus Yesus.

Peristiwa kita menyatakan diri bersama dengan Kristus dalam kemuliaan inilah yang dibicarakan oleh Paulus dalam surat Roma dengan ungkapan ‘glorification by faith’, atau pemuliaan oleh iman. Perhatikan Roma 8:17,23, demikian, “Dan karena anak-anak, maka ahli waris juga, benar-benar ahli waris Elohim dan sesama pewaris dengan Kristus – jika kita menderita bersama, maka kita juga dapat dimuliakan bersama… sungguh-sungguh menantikan adopsi sebagai anak, yaitu penebusan tubuh kita”. Ayat2 ini menyatakan bahwa ketika Yesus datang dalam kemuliaanNya, maka kita juga sebagai sesama pewaris denganNya, ikut menyatakan diri bersamaNya dalam tubuh kemuliaan.

Kita harus menyadari ketika Yesus datang kembali, maka bumi masuk kedalam suatu zaman baru yang biasa disebut zaman kerajaan seribu tahun (Wahyu 20:4). Dalam kerajaan seribu tahun, ada tiga realm/alam/kondisi yang ada. Pertama, alam bumi, dimana berkat Elohim dinyatakan dalam Kejadian 1:28-30. Kedua, alam atau kondisi bangsa Israel, dimana bangsa Israel yang diselamatkan akan memerintah seluruh bumi (Yesaya 60:10-12; Zakharia 14:16-18). Ketiga, alam sorgawi, dimana kerajaan sorga dinyatakan sepenuhnya dibumi, dan gereja pemenang menjadi imam2 dan raja2 dalam kerajaan seribu tahun.

Sekarang, mari kita masuk kedalam perikop kita yang membahas penghakiman bangsa-bangsa. Dalam Matius 25:31-46, diceritakan bagaimana bangsa2 (pribadi lepas pribadi) akan dipisahkan menjadi 2 kategori, yaitu domba dan kambing. Domba2 adalah mereka yang berbuat baik kepada saudara Yesus yang paling hina, sedangkan kambing2 adalah mereka yang tidak berbuat baik kepada saudara2 Yesus. Kita harus menyadari bahwa penghakiman ini bukanlah penghakiman terakhir (takhta putih yang besar) seperti tertulis dalam Wahyu 20:11, yang terjadi setelah zaman kerajaan seribu tahun. Penghakiman bangsa-bangsa dalam perikop kita terjadi sebelum masa kerajaan seribu tahun.

Penghakiman atas bangsa-bangsa sebelum masa kerajaan seribu tahun terjadi pada bangsa-bangsa yang masih hidup dengan tubuh jasmani mereka pada kedatangan Yesus, dan penghakiman ini akan menentukan siapa saja yang akan masuk sebagai ‘penduduk’ bumi dalam zaman kerajaan seribu tahun. Orang2 yang termasuk kategori ‘domba-domba’ adalah, “… kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (25:34). Penduduk kerajaan seribu tahun masih hidup dalam tubuh jasmani, dan karenanya mereka hidup dalam alam bumi, dan mendapat berkat Elohim dalam Kejadian 1:28-30. Demikianlah kondisi bumi pada saat kedatangan Yesus “kedua kali”.

Kita telah mengakhiri kelima pengajaran kerajaan sorga yang tertulis dalam kitab Matius ini. Mari kita lihat kembali ke-5 pembagian ini, dimana pada akhir dari tiap2 bagian ini terdapat ungkapan, ‘setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran atau percakapan ini…’. Bagian pertama, Matius 5:1 – 7:29, yang menjelaskan hukum kerajaan sorga, dan penghakiman pelayan2 Tuhan pada hari terakhir. Kedua, Matius 9:35 – 11:1, yang berisi tentang ‘penugasan kedua belas rasul’ untuk mencari domba2 yang hilang dari keluarga Israel. Ketiga, Matius 13:1-52, tentang tujuh perumpamaan mengenai kerajaan sorga. Keempat, Matius 18:1-35, tentang pengampunan dan perumpamaan hamba yang berhutang, dimana tekanan pengajaran disini adalah keberhargaan domba2 yang tersesat/terhilang. Kelima, Matius 23:1 – 25:46, tentang hukum kerajaan sorga, khususnya otoritas “kursi Musa”, tegoran kepada orang2 Farisi dan ahli2 Taurat, serta pengajaran akhir zaman, dimana para pelayan Tuhan akan dihakimi.

Jika kita memperhatikan kelima bagian pengajaran kerajaan sorga dalam kitab Matius, maka kita melihat adanya suatu pola ‘paralel khiastik’ (‘He gave us stories’, oleh: Richard L. Pratt, hal: 247) Penulis kitab Matius sengaja menyusun kelima pengajaran kerajaan sorga dengan struktur khiastik agar memberi efek tertentu. Kelima bagian pengajaran ini dapat digambarkan seperti huruf A-B-C-B’-C’. Artinya, terjadi “pengulangan” pada bagian 1 dan 5, demikian juga pada bagian 2 dan 4, dan pada bagian 3 (tengah) merupakan ‘sentral’ dari pengajaran kerajaan sorga. Inilah makna pola ‘paralel khiastik’.

Barangkali, kita perlu membandingkan 5 kitab Musa, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan, yang juga sengaja ditulis dengan pola ‘paralel khiastik’. Kita tentu tidak membahas lebih jauh hal ini. Bagi sdr yang berminat, dapat mendengar uraian dalam channel ‘Verbum Veritatis’ dengan judul ‘Leviticus’. Disana ditegaskan bahwa “puncak” pewahyuan kitab2 Musa ini ada dikitab Imamat, khususnya Imamat 16, dimana dijelaskan tentang ‘Hari Raya Penebusan’ yang dilakukan oleh Imam Besar sekali setahun saja.

Nampaknya, memang penulis injil Matius sengaja membandingkan Yesus, sebagai perantara PB, dan Musa sebagai perantara PL. Dalam Imamat 16, Imam Besar Harun masuk keruang Maha Kudus membawa darah binatang untuk mengadakan pendamaian bagi seluruh Israel, demikian juga Yesus, sebagai Imam Besar aturan Melkisedek, masuk kedalam Kemah Sejati membawa darahNya sendiri kehadirat Bapa disorga untuk mengadakan pendamaian bagi seluruh manusia.

Mari kita perhatikan struktur ‘khiastik’ pada kelima bagian pengajaran kerajaan sorga dalam injil Matius. Bagian pertama merupakan “pengulangan” bagian kelima, yaitu menjelaskan hukum kerajaan sorga, dan penghakiman terakhir para pelayan kerajaan sorga. Bagian kedua dan keempat, membahas anggota2 kerajaan sorga yang terhilang, artinya menekankan betapa berharganya anggota kerajaan sorga yang tersesat. Bagian ketiga, yang merupakan sentral pengajaran kerajaan sorga, dijelaskan melalui 7 perumpamaan.

Seperti yang telah kita bahas, ketujuh perumpamaan kerajaan sorga ini menekankan akan adanya penyesatan didalam kerajaan sorga; bahwa tidak semua orang Kristen lahir baru, termasuk para pemimpinnya, akan ambil bagian kelak dalam manifestasi penuh kerajaan sorga dibumi, pada saat kedatangan Yesus. Semua pengajaran kerajaan sorga pada bagian ketiga ini justru merupakan “puncak” atau sentral pengajaran kerajaan sorga. 

Didalam dunia kekristenan sudah sangat terkenal dan dipercaya mayoritas bahwa ‘percaya Yesus pasti masuk sorga’, yaitu “sorga” nun jauh disana yang merupakan tempat indah (“Rumah Bapa”), dimana orang Kristen akan memuji2 Tuhan selama-lamanya. Dongeng seperti ini sama sekali tidak ada didalam kitab Matius. Tetapi, umat kerajaan yang mendapat kasih karuniaNya untuk ambil bagian dalam kerajaan sorga yang akan ditegakkan ‘sepenuhnya’ dibumi, tentu akan berjaga2 serta menanti-nantikan kedatangan kerajaan Yesus dibumi.

Saat ini kita masuk kedalam pasal 20, setelah pewahyuan Yesus Kristus dibukakan dalam pasal 19, bahwa Yesus dengan para pemenangNya akan berperang untuk menaklukkan segala sesuatu. Kita akan bahas Wahyu 20:1-3, demikian, “Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya”.

Kita lihat disini bahwa Iblis dilemparkan kedalam ‘jurang maut’ agar tidak menyesatkan bangsa-bangsa. Ungkapan ‘jurang maut’ diterjemahkan dari istilah Yunani, ‘abussos’, yang artinya, ‘bottomless pit’ atau ‘lubang tak berdasar’. Karena lubang ini tidak mempunyai ‘dasar’, maka Iblis tidak mendapat ‘pijakan/pondasi/ground’ untuk beraktifitas. Itu sebabnya ia tidak dapat menyesatkan bangsa-bangsa.

Mari kita ambil contoh bagaimana Iblis tidak dapat beraktifitas atau berbuat sesuatu, karena tidak mendapat ‘pijakan/pondasi/ground’ dalam kehidupan Yesus. Yohanes 14:30, menegaskan demikian, “… penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diriKu”. Sekalipun memang iblis bekerja melalui Yudas, Mahkamah Agama Yahudi, dan banyak orang lainnya yang ambil bagian dalam penyaliban Yesus, namun terhadap Yesus sendiri, Iblis tidak dapat berbuat apa-apa. Mengapa? Karena didalam Diri Yesus, Iblis tidak mendapat ‘pijakan’ untuk menyerangNya.

Didalam Diri Yesus tidak terdapat sedikitpun ‘celah’ atau dosa apapun yang menyebabkan Iblis mendapat ‘pijakan’ untuk berbuat sesuatu. Hal ini berbeda dalam kasus Ayub. Perhatikan Ayub 3:25, demikian, “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku”. Disini kita melihat bahwa dalam diri Ayub terdapat ketakutan dan kecemasan akan perkara2 yang pada akhirnya menimpa dirinya. Ketakutan dan kecemasan Ayub menjadi suatu ‘pijakan’ atau ‘ground’ yang menyebabkan Iblis dapat menyerangnya.  

Tetapi, kita jangan cepat2 menyimpulkan bahwa Iblis memiliki kebebasan untuk menyerang siapapun yang dikehendakinya. Iblis dapat menyerang Ayub dan keluarganya karena memang Bapa disorga memiliki rancangan bagi Ayub, yaitu agar Ayub mengenal Dia dengan benar (Ayub 42:5). Iblis hanyalah ‘budak’ atau ‘alat’ saja ditangan Bapa disorga untuk memproses Ayub. Iblis tidak bebas menyerang Ayub kecuali sudah diizinkan Bapa disorga (Ayub 1:12; 2:6).

Pada ayat kita diatas, Iblis hanya diikat selama seribu tahun. Kemudian, ia dibebaskan untuk sedikit waktu lamanya, karena Bapa disorga memiliki rencana tertentu baginya. Iblis diikat selama seribu tahun karena pada masa seribu tahun ini Kristus dan para pemenangNya akan memerintah sebagai raja2 dan imam2 dibumi (Wahyu 20:4).

Kita lihat bahwa terhadap Kristus dan para pemenangNya, Iblis tidak dapat berbuat apa-apa selama seribu tahun. Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini? Apakah Iblis dapat berbuat sesuatu untuk menyerang kehidupan kita sekarang? Oleh kasih karuniaNya, saat ini juga, kita dapat berkata seperti Yesus, bahwa Iblis tidak dapat berbuat apa-apa dalam kehidupan kita. Yang dapat terjadi atas hidup kita sekarang hanyalah kehendak dan rancanganNya. Bagi kita, IBLIS SEOLAH-OLAH TIDAK ADA. Semua yang terjadi atas hidup kita adalah kehendak Bapa, itu sebabnya semua baik, amin.

Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai perjamuan malam antara Yesus dan murid2Nya dalam Matius 26:26-29, demikian, “Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-muridNya dan berkata: Ambillah, makanlah, inilah tubuhKu. Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku”.

Pada malam terakhir Yesus merayakan Paskah bersama murid2Nya. Ayat kita diatas menegaskan bahwa pada saat mereka sedang makan (makan Paskah), tiba2 Yesus melakukan tindakan simbolik mengenai kematianNya. Ia mengambil roti dan membagi-bagikannya kepada murid2Nya dan berkata inilah tubuhKu. Kemudian, Ia mengambil cawan dan memerintahkan murid2Nya untuk minum dari pada cawan itu, dan berkata Inilah darahKu, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang. Kita lihat disini bahwa Yesus merayakan Paskah, dan sekaligus menggenapinya.

Ada dua hal yang perlu kita renungkan dalam peristiwa ini. Pertama, Yesus menyebut mengenai darah perjanjian. Tentu yang dimaksud disini adalah Perjanjian Baru yang dimeteraikan oleh darahNya sendiri, seperti tertulis, “… Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku…” (I Korintus 11:25). Kedua, Yesus tidak akan meminum hasil pokok anggur lagi sampai Ia meminum yang baru bersama-sama murid2Nya didalam Kerajaan BapaNya. Kedua hal ini saling terkait, dan saat ini kita akan melihat keterkaitannya.

Apakah makna Perjanjian Baru yang Yesus buat dengan murid2Nya? Perhatikan Ibrani 8:10-12, demikian, “… YAHWEH berfirman, untuk memberikan hukum-hukumKu ke dalam akal budi mereka dan Aku akan menuliskannya pada hati mereka dan Aku akan menjadi Elohim bagi  mereka, dan mereka akan menjadi umat bagiKu.… Sebab semua orang, dari yang kecil diantara mereka hingga yang besar diantara mereka, akan mengenal Aku… Aku sekali-kali tidak akan lagi mengingat dosa-dosa mereka…” (ILT). Kita lihat disini bahwa Perjanjian Baru yang Yesus buat dengan murid2Nya sangat bersifat batiniah. Hukum Taurat dalam PL yang tertulis pada loh2 batu, sekarang dituliskanNya kedalam hati orang2 percaya. Karenanya, kita akan mengenal Dia secara batiniah, dan dosa2 kita juga tidak akan diingatNya lagi. Kita tidak diatur lagi oleh hukum2 atau aturan2 luaran, seperti harus beribadah digedung ini atau itu, harus membayar persepuluhan/buah sulung/janji iman ini atau itu. Kita beribadah dalam roh dan realita, serta dipimpin oleh hukum didalam batin kita. Kita menjadi umat bagi Elohim, dan menjadi warga kerajaanNya (II Tesalonika 1:5).

Yesus berjanji kepada murid2Nya bahwa Ia akan meminum lagi hasil pokok anggur yang baru didalam kerajaan BapaNya. Apakah makna dari hal ini? Artinya, Yesus akan datang kembali (biasa disebut kedua kali), dan menegakkan kerajaanNya dibumi, dimana kita yang percaya akan ambil bagian didalamnya. Kita yang mengikuti pimpinan hukum2Nya dalam batin kita, kelak, ketika Tuhan Yesus datang kembali, akan “minum” bersama-sama dengan Tuhan Yesus didalam kerajaan BapaNya.

Kita lanjutkan pembahasan kita mengenai peristiwa penyaliban Yesus dan maknanya. Mari kita lebih dahulu melihat 2 fakta mengenai penyalibanNya. Pertama, Yesus disalibkan karena Ia memilih kehendak Bapa disorga. Ditaman Getsemani, Yesus berdoa dan bergumul untuk memastikan kehendak BapaNya. Ada cawan penderitaan, dan juga ada kehendak Bapa disorga. Tentu Yesus mengungkapkan kehendakNya agar jika mungkin cawan penderitaan ini berlalu. Tetapi, setelah 3 kali berdoa, Yesus memahami bahwa cawan penderitaan ini adalah kehendak Bapa bagiNya (Yesaya 53:10). Itu sebabnya, dalam Yohanes 18:11, Yesus berkata, “…bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?”.

Kedua, Yesus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Sanhedrin, Mahkamah Agama Yahudi (Matius 26:57-66). Dan, karena Mahkamah Agama Yahudi tidak diberi hak oleh penguasa Roma pada waktu itu untuk menghukum mati seseorang, maka Mahkamah Agama Yahudi terpaksa membawa Yesus kepada Pontius Pilatus untuk meminta izin. Sebenarnya, Pontius Pilatus hendak membebaskan Yesus, karena ia tahu bahwa Yesus diserahkan karena dengki (Matius 27:18). Dan sebagai usaha Pontius Pilatus untuk membebaskan Yesus, maka ia memberi pilihan kepada orang banyak apakah mereka mau memilih Yesus atau Barabas. Tetapi, oleh hasutan imam2 kepala dan tua-tua, maka orang banyak memilih agar Barabas yang dibebaskan (Matius 27:20). Jadi, Yesus dibunuh oleh para pemimpin agama Yahudi, hanya saja pelaksananya itu tentara Romawi. Pengakuan Iman Rasuli yang berbunyi, ‘yang menderita dibawah pemerintahan Pontius Pilatus’, sesungguhnya, telah menyembunyikan suatu fakta yang penting bahwa Yesus disalibkan oleh para pemimpin agama Yahudi, atau umat Tuhan yang terkait Perjanjian Musa.  

Sekarang kita akan membahas makna dari kedua fakta diatas. Matius 16:24, menegaskan, “… setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya…”. Bagaimana kita dapat menyangkal diri dan memikul salib kita? Pergumulan Yesus di Taman Getsemani mengajarkan kita agar selalu memilih kehendak Bapa disorga, dan belajar menanggung akibatnya, yaitu “salib kita”. Inilah makna “memikul salib” bagi kita, yaitu oleh kasih karuniaNya kita dimampukan untuk selalu memilih kehendak Bapa dalam kehidupan kita sehari-hari.

Selanjutnya, telah kita lihat bahwa agama Yahudi telah menyalibkan Yesus. Apakah memang agama selalu bertentangan dengan Yesus? Apakah Yesus datang untuk menegakkan agama Kristen? Darimana sebenarnya asalnya agama itu? Mari kita melihat fakta bahwa Yesus datang untuk memberikan HayatNya (‘zoe’) kepada barang siapa yang percaya (Yohanes 10:10). Jenis hidup ‘zoe’ (Hayat Kristus) disimbolkan oleh Pohon Kehidupan di Taman Eden. Yesus berkata barang siapa yang makan Aku, ia mempunyai ‘zoe’ didalam dirinya. Jadi, Pohon Kehidupan itu melambangkan hidup ‘zoe’ yang diberikan Yesus bagi kita.

Kalau demikian, melambangkan apakah Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat itu? Sejak Adam dan Hawa makan buah Pohon Pengetahuan Baik-Jahat ini, maka sejak itulah manusia dipimpin oleh pengetahuannya akan baik dan jahat. Agama adalah usaha manusia untuk mendekat kepada Tuhan, namun dengan dipimpin oleh pengetahuannya tentang yang baik dan jahat. Orang2 kudus dalam konteks PL sebenarnya bukanlah orang2 yang beragama, dalam pengertian diatas. Orang2 kudus PL adalah orang2 yang beriman, dan mengekspresikan imannya dengan ketaatan kepada Hukum Taurat. Hal ini berbeda dengan ahli2 Taurat dan orang2 Farisi yang menyalibkan Yesus. Ahli2 Taurat dan orang2 Farisi adalah orang2 beragama, tetapi bukanlah seperti orang2 kudus zaman PL.

Sekarang kita masuk kedalam pertanyaan penting, yaitu apakah kekristenan telah menjadi agama? Jika kita mendapat kasih karuniaNya, maka kita akan tahu bahwa kekristenan telah menjadi agama, yaitu agama Kristen. Tentu agama Kristen tidak menyalibkan Yesus secara fisik, tetapi Roh Yesus sangat dirintangi oleh ritual2 agamawi, aturan2 manusiawi, ajaran2 palsu Izebel, Nikolaus, Bileam, dan juga aturan2 agamawi yang dibuat para pemimpinnya.

Kita masuk kedalam pasal terakhir kitab Matius, dan membahas kebangkitan Yesus. Matius 28:6, menegaskan, “Ia tidak ada disini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakanNya…”. Kebangkitan Yesus adalah suatu fakta penting, karena jika, “… Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (I Korintus 15:14). Dari ayat ini kita dapat melihat bahwa kebangkitan Kristus merupakan dasar dari pemberitaan Injil, dan juga dasar dari iman Kristen. Tanpa kebangkitan Kristus, maka baik pemberitaan injil maupun kepercayaan Kristen menjadi sia-sia.

Tetapi, kita jangan hanya percaya kepada ‘fakta sejarah’ dari kebangkitan Kristus. Kita harus memahami apa yang dikatakan ‘firman Tuhan’ tentang kebangkitan Kristus, karena iman timbul bukan dari ‘fakta sejarah’, tetapi iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan. Baiklah kita membahas I Korintus 15, yang berbicara mengenai kebangkitan Kristus.

Latar belakang dari I Korintus 15 adalah adanya beberapa orang jemaat Korintus yang tidak percaya kebangkitan orang mati. Paulus tegaskan bahwa jika tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi yang benar adalah Kristus dibangkitkan sebagai ‘buah sulung’ (ayat 20). Para petani di Palestina paham bahwa jika ada tuaian ‘buah sulung’, maka akan ada tuaian2 berikutnya. Itu berarti akan ada lagi kebangkitan2 yang lainnya. 

Mari kita perhatikan I Korintus 15:22-23, demikian, “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya”. Ditegaskan disini bahwa SEMUA orang akan dibangkitkan, hanya ada urutannya masing-masing. Alasan semua orang akan dibangkitkan jelas tertulis disini, yaitu semua mati didalam Adam, maka semua orang juga akan dihidupkan kembali dalam Kristus. Jadi, disini berbicara soal kekepalaan (headship).

Dalam dunia kekristenan, umumnya, orang tidak percaya bahwa semua orang akan dihidupkan kembali dalam Kristus. Jika kita tidak percaya bahwa semua orang akan dibangkitkan dalam Kristus, maka hal ini membuat Adam ‘lebih berkuasa’ dari pada Kristus. Tetapi yang benar adalah kasih karunia Elohim jauh lebih besar dari pada pelanggaran Adam, karenanya semua orang akan dibangkitkan sesuai dengan urutannya (Roma 5:15).

Alasan lain mengapa pada akhirnya semua orang akan dibangkitkan dalam Kristus adalah karena ‘musuh’ terakhir akan dibinasakan, yaitu maut (I Korintus 15:26). Sementara itu, maut merupakan upah dosa (Roma 6:23). Karenanya, tidak akan ada lagi “bekas-bekas” dosa di alam semesta ini. Semua manusia pada akhirnya akan dibangkitkan dan mendapatkan tubuh kemuliaan. Sayangnya, mayoritas orang Kristen percaya bahwa upah dosa adalah neraka kekal, dalam pengertian selama-lamanya berada di alam maut. Mereka tidak percaya bahwa Kristus telah mengalahkan maut.

Namun, umat pilihanNya percaya bahwa pada akhirnya semua manusia akan dibangkitkan dan mendapat tubuh kemuliaan, sehingga Bapa dapat menjadi SEMUA dalam SEMUA (I Korintus 15:28). Bapa disorga dapat mengekspresikan seluruh kemuliaanNya didalam dan melalui SEMUA manusia.

Kita akan membahas perintah untuk memberitakan Injil Kerajaan, yaitu menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus, dan hal ini biasa disebut Amanat Agung yang tertulis dalam Matius 28:18-20, demikian, “… KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu… dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Ada beberapa hal yang perlu kita bahas dari ‘Amanat Agung’ ini.

Pertama, dasar dari perintah Yesus kepada murid2Nya ini adalah karena segala kuasa (otoritas) disorga dan dibumi telah diberikan kepada Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen berpendapat bahwa keselamatan manusia tergantung ‘respon’ mereka terhadap injil. Pendapat ini sangat aneh. Bagaimana mungkin manusia dapat memberi ‘respon’ jika ia sudah mati dalam dosa. Orang ‘mati’ tidak mungkin mendengar atau memberi respon terhadap suara apapun. Yang benar adalah keselamatan itu TERGANTUNG OTORITAS YESUS.

Jika Yesus sudah berkata kepada seseorang, ‘ikutlah Aku’, maka orang itu pasti bangkit dan mengikut Yesus. Ketika Yesus berkata kepada murid2Nya, ‘ikutlah Aku’, maka mereka langsung bangkit dan mengikut Yesus (Matius 4:19; 9:9). Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menolak panggilan Yesus, mengapa? Karena Yesus memiliki otoritas.

Umumnya, para penginjil suka mengutip Wahyu 3:20, untuk menegaskan bahwa keselamatan tergantung respon manusia. Diceritakan bahwa Yesus “mengetok” setiap pintu hati manusia, dan siapa yang memberi respon, maka akan mendapat keselamatan. Pemberitaan seperti ini sangat menghina otoritas Yesus. Digambarkan bahwa Yesus seperti “pengemis” yang mengetok setiap pintu hati manusia untuk dapat “makan bersama”. Sesungguhnya, Wahyu 3:20, sama sekali tidak membahas soal pemberitaan injil. Pada ayat itu, Yesus sedang berbicara kepada gereja di Laodikia yang sudah tidak memiliki persekutuan (‘koinonia’) denganNya lagi.

Yang benar adalah keselamatan tergantung otoritas Yesus. Dalam Yohanes 12:32, ada tertulis, “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu”. Ayat ini berbicara soal otoritas Yesus. Yesus sudah tegaskan bahwa Ia akan menarik semua orang untuk datang padaNya. Jika ternyata tidak semua orang datang pada Yesus, maka hanya ada dua kemungkinan, yaitu Yesus tidak mampu dan tidak memiliki otoritas untuk menarik semua orang, atau Ia berdusta. Susungguhnya, semua orang akan datang pada Yesus, tetapi sesuai dengan urutannya, seperti telah kita bahas (I Korintus 15).

Kedua, banyak orang Kristen berpendapat bahwa ungkapan, ‘Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman’, berarti kasih karunia atau ‘penginjilan’ berhenti pada kedatangan Yesus kembali (biasa disebut ‘kedua kali’). Pandangan seperti ini dilakukan dianut oleh orang2 kristen yang percaya kepada ajaran neraka kekal, dalam arti sebagian orang yang tidak dipanggil Yesus akan disiksa selama-lamanya di neraka. Saat ini, kita tidak membahas ungkapan Yunani, ‘heos sunteleia ho aion’, yang diterjemahkan ‘sampai kepada akhir zaman’. Bagi sdr yang serius dan berminat, dapat mempelajari buku Louis Abbot, ‘An Analytical Study of Words’ di internet.

Dalam tulisan ini, kita akan merenungkan dua ayat saja terkait hal diatas, yaitu Efesus 1:10, dan Wahyu 22:17. Efesus 1:10, menegaskan bahwa pada dispensasi kepenuhan waktu, Elohim akan mempersatukan segala sesuatu, baik yang disorga, maupun yang dibumi, didalam Kristus. Wahyu 22:17, juga menegaskan, bahwa “air kehidupan” tetap ditawarkan dengan cuma2 pada dispensasi Langit dan Bumi Baru.

Elohim selalu menggunakan “alat” untuk mencapai tujuanNya, dan “alat” itu adalah gereja pemenang. Karenanya, gereja pemenang bersukacita, karena kelak setiap lutut bertelut dan lidah mengaku Yesus adalah Tuhan. Amin.    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     

 

 

   

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

        

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

   

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

  

Comments

Popular posts from this blog

Kerajaan Sorga Menurut Kitab Wahyu.

Jabatan Dalam Gereja